Anda di halaman 1dari 12

Tugas Pribadi

Dosen Pengampu :

NEGARA DAN INSTITUSI POLITIK

Nama : M. Ryansyah Zandra


NIM:

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS RIAU
2021
1. Jelaskan pengertian negara dan institusi politik !
Jawab:
a. Pengertian Negara
Istilah Negara merupakan terjemahan dari beberapa kata asing, state (Inggris), staat
(Belanda dan Jerman), etat (Perancis). Secara terminologi, Negara dapat diartikan
sebagai organisasi tertinggi diantara satu kelompok masyarakat yang memiliki citacita
untuk bersatu, hidup dalam satu kawasan, dan mempunyai pemerintahan yang berdaulat
1
Menurut Harold J. Laski pengertian dari Negara adalah suatu masyarakat yang
diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan mengikat yang
secara sah lebih agung daripada individu atau kelompok yang merupakan bagian dari
masyarakat. Menurut Mahfud M.D., Suatu Negara harus memiliki tiga unsur penting
yakni, rakyat, wilayah, dan pemerintah. Ditunjang dengan unsur adanya pengakuan dari
dunia internasional sebagai bentuk dari unsur deklaratif. Adapun pokok-pokok unsur
Negara diantaranya sebagai berikut2 :
a. Rakyat
Rakyat dalam pengertian keberadaan suatu negara adalah sekumpulan manusia yang
dipersatukan oleh rasa persamaan dan bersama-sama mendiami suatu wilayah Negara.
b. Wilayah
Wilayah merupakan unsur negara yang harus terpenuhi dengan batasan-batasan
territorial yang jelas. Secara umum, wilayah yang dimaksud yakni terdiri dari daratan,
perairan, dan udara.
c. Pemerintah
Pemerintah adalah alat kelengkapan negara yang bertugas memimpin organisasi negara.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut dijumpai bentuk-bentuk Negara dan pemerintah.
Pada umumnya, nama sebuah Negara identik dengan model pemerintahan yang
berbeda-beda untuk menjalankannya.
d. Pengakuan Negara Lain

1
Ubaedillah&Abdul Rozak, Pendidikan Kewarganegaraan, Pancasila, Demokrasi,HAM, dan
Masyarakat Madani, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Bekerjasama dengan PT. Prenada Media
Group, Cet. 8, 2015), h. 120

2
Ubaedillah & Abdul Rozak, Pendidikan Kewarganegaraan…., h. 121
Unsur dari pengakuan negara lain hanyalah bersifat menerangkan tentang adanya
negara. Dalam hal ini, ada dua macam pengakuan suatu negara, yakni: pengakuan
secara de facto dan pengakuan de jure. Arti dari pengakuan de facto itu sendiri ialah
pengakuan atas fakta adanya negara, pengakuan ini didasari adanya wilayah, rakyat, dan
pemerintah. Sedangkan pengakuan de jure ialah pengakuan akan sahnya suatu negara
atas dasar pertimbangan yang yuridis menurut hukum.
Selain pengertian diatas, beberapa pengertian negara berdasarkan penndapat
para ahli sebagai berikut:

- Roger H. Soltau “Negara adalah agen (agency) atau kewewenangan (authority) yang
mengatur atau mengandalikan persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat”.
- Harold J. Laski ”Negara adalah suatu masyarakat yang diintegrasikan karena
mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan yang secara sah lebih berkuasa
daripada individu atau kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat”.3
- Max Weber “Negara adalah suatu masyarakat yang mempunyai monopoli dalam
penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam sesuatu wilayah”.4
- Konvensi Montevidio tahun 1933 “Negara merupakan kawasan teritorial yang
didalamnya terdapat kumpulan penduduk yang mendiaminya, memiliki kedaulatan
untuk menjalankan pemerintahan, dan keberadaannya diakui oleh negara lain”.
- Menurut Prof. Miriam Budihardjo “Negara adalah organisasi yang dalam sesuatu
wilayah dapat memaksakan kekuasaannya secara sah terhadap semua golongan
kekuasaan lainnya dan yang dapat menetapkan tujuan-tujuan dari kehidupan itu.”
- Dr. Wiryono Projodikoro, SH.”Negara adalah suatu organisasi di atas kelompok atau
beberapa kelompok manusia yang bersama – sama mendiami suatu wilayah (teritori)
tertentu, dengan mengakui adanya suatu pemerintahan yang mengurus tata tertib dan
keselamatan sekelompok atau beberapa kelompok manusia tadi”
- Pengertian Negara Menurut Karl Marx “Negara adalah alat kelas yang berkuasa ( kaum
borjuis / kapitalis) untuk menindas atau mengeksploitasi kelas yang lain (proletariat /
buruh)”

3
Harold J. Laski. The State in Theory and Practice. (New York: The Viking Press, 1947), hlm. 8-
9.
4
H. Gerth dan C. W. Mills, eds., from Max Weber: Essays in Sociology (New York: Oxford
University Press, 1958), hlm. 78.
Empat Sudut Pengertian Negara
Pengertian dari sebuah negara dapat ditinjau berdasarkan empat sudut berbeda,
yang terdiri dari sebagai berikut.
1. Negara sebagai organisasi kekuasaan
Sudut pandang sebuah negara yang pertama adalah negara sebagai organisasi
kekuasaan. Hal ini dikarenakan negara merupakan alat yang digunakan oleh
sekelompok individu yang memiliki kekuasaan untuk mengatur hubungan antar
individu lainnya yang berada di dalam kehidupan masyarakat di suatu wilayah tersebut.
Hal ini dikemukakan juga pada pengertian negara menurut Logemann dan Harold J.
Laski. Logemann sendiri menyatakan bahwa sebuah negara merupakan organisasi
kekuasaan yang memiliki tujuan untuk mengatur masyarakat yang ada di dalamnya
menggunakan kekuasaan tersebut.
Negara yang dijadikan sebagai organisasi kekuasaan juga pada hakekatnya merupakan
sebuah tata kerja sama dalam membuat individu yang ada di dalam sebuah wilayah
tertentu untuk berbuat maupun bersikap sesuai dengan kehendak yang telah dibuat oleh
negara tersebut.
2. Negara sebagai organisasi politik
Sudut pandang sebuah negara yang kedua adalah negara sebagai organisasi politik.
Negara dianggap sebagai sebuah asosiasi yang memiliki fungsi untuk menjaga
ketertiban pada masyarakat yang ada di dalamnya menggunakan sistem hukum yang
telah dijalankan oleh sistem pemerintahan yang ada dan sifat dari kekuasaannya
memaksa. Berdasarkan sudut pandang organisasi politik, sebuah negara merupakan
bentuk integrasi dari kekuasaan politik maupun sebuah organisasi pokok dari kekuasaan
politik yang berlaku.
Sebagai organisasi politik sendiri, sebuah negara memiliki fungsi sebagai alat yang
digunakan masyarakat yang memiliki kekuasaan agar dapat mengatur terbentuknya
hubungan antar individu serta menertibkan dan mengendalikan berbagai gejala
kekuasaan yang mungkin akan muncul pada kehidupan masyarakat. Hal ini juga dapat
kita lihat melalui pendapat Roger H. Soltau dan Robert M Mac Iver yang berasal dari
bukunya The Modern State. Di dalam buku tersebut, Robert M Mac Iver
mengemukakan bahwa sebuah negara merupakan persekutuan manusia atau asosiasi
yang menyelenggarakan penertiban terhadap suatu masyarakat yang ada di dalam
sebuah wilayah dengan dasar sistem hukum yang dijalankan oleh pemerintah dan
memiliki sifat kekuasaan yang memaksa. Robert M Mac Iver juga menyatakan bahwa,
walaupun sebuah negara merupakan bentuk dari persekutuan manusia, akan tetapi
sebuah negara memiliki ciri khas nya masing-masing yang membedakannya dengan
negara lain ataupun persekutuan manusia lainnya. Ciri khas dari negara tersebut dapat
dilihat melalui kedaulatan serta keanggotaan sebuah negara yang pada umumnya
memiliki sifat mengikat serta memaksa.
3. Negara sebagai organisasi kesusilaan
Sudut pandang sebuah negara yang ketiga adalah negara sebagai organisasi kesusilaan.
Negara dianggap sebagai sebuah bentuk jelmaan dari keseluruhan individu yang ada di
dalamnya. Hal ini juga dapat kita lihat melalui pandangan Friedrich Hegel yang
menyatakan bahwa negara merupakan sebuah organisasi kesusilaan yang terbentuk
sebagai sintesa antara kemerdekaan universal bersama serta kemerdekaan bagi individu.
Negara juga merupakan sebuah organisme dimana setiap individu di dalamnya dapat
menjelma menjadi dirinya, karena negara merupakan bentuk jelmaan dari seluruh
individu, dengan begitu sebuah negara memiliki kekuasaan yang paling tinggi dan tidak
ada kekuasaan lain yang lebih tinggi dari negara.
Selain itu, adanya pemilihan umum diadakan di negara Indonesia bukanlah karena
sebuah bentuk jelmaan dari keinginan mayoritas dari masyarakat yang ada secara
perseorangan namun secara universal dan kehendak kesusilaan. Berdasarkan pendapat
Hegel tersebut, maka dapat diartikan sebuah negara yang merupakan organisasi
kesusilaan, dipandang dapat mengatur tata tertib setiap kehidupan masyarakat yang ada
di dalamnya. Selain itu berarti menandakan bahwa negara mengatur kehidupan
bermasyarakat serta bernegara setiap individunya dan individu yang ada di dalamnya
tidak dapat berbuat semaunya sendiri.

4. Negara sebagai integrasi antara pemerintah serta rakyat


Sudut pandang sebuah negara yang keempat adalah negara sebagai integrasi antara
pemerintah dan rakyat. Negara dianggap sebagai sebuah kesatuan bangsa, sedangkan
seorang individu yang ada di dalamnya dianggap sebagai bagian integral dari negara.
Setiap individu tersebut memiliki kedudukan serta fungsi dalam menjalankan sebuah
negara. Prof. Soepomo mengemukakan mengenai tiga teori mengenai pengertian dari
sebuah negara, sebagai berikut.
Teori perseorangan atau individualistik, yang menyatakan bahwa negara merupakan
sebuah masyarakat hukum yang tersusun berdasarkan perjanjian yang terjadi antar
individu yang berkumpul menjadi anggota dalam masyarakat. Selain itu, kegiatan
sebuah negara juga diarahkan dalam perwujudan kepentingan serta kebebasan pribadi.
Penganjur teori perseorangan ini diajarkan oleh beberapa ahli yang terdiri dari Thomas
Hobbes, John Locke, Jean Jacques Rousseau, Herbert Spencer, serta Harold J. Laski.
Teori Golongan atau kelas, yang menyatakan bahwa negara merupakan sebuah alat
yang digunakan dari sebuah golongan atau kelas yang memiliki kedudukan ekonomi
yang paling kuat dalam rangka untuk menindas golongan lain yang memiliki kedudukan
atau tingkatan ekonomi yang lebih rendah. Penganjur teori golongan ini diajarkan oleh
beberapa ahli yang terdiri dari Karl Marx, Friedrich Engels, dan Lenin.
Teori Integralistik atau persatuan, yang menyatakan bahwa negara merupakan sebuah
susunan masyarakat yang integral, negara juga dianggap sebagai susunan erat yang ada
pada segala golongan di dalamnya. Semua bagian yang ada pada negara yang terdiri
dari seluruh anggota masyarakat di dalamnya merupakan bentuk dari persatuan
masyarakat yang organis. Negara Integralistik juga bisa diartikan sebagai negara yang
mengedepankan kepentingan umum sebagai satu kesatuan dan memberikan pemahaman
terhadap perseorangan serta golongan. Penganjur teori integralistik ini diajarkan oleh
beberapa ahli yang terdiri dari Benedictus de Spinoza, F. Hegel, dan Adam Muller.
Kesimpulannya, “negara adalah suatu wilayah yang memiliki penduduk dengan
kekuasaan yang diatur pemerintah yang berdaulat, kewenangan untuk menjalankan
aturan hukum dan memberi jaminan hak warga negara, dan diakui oleh negara lain”.

B. Pengertian Institusi politik


Kata institusi berasal dari bahasa Latin, instituere yang memiliki makna sesuatu
yang diwujudkan atau dibangun. Ini berarti bahwa institusi adalah satu corak kegiatan
atau aktivitas manusia yang berwujud dan berkelanjutan. Istilah Institusi begitu populer
di kalangan sarjana sains politik, karana institusi menjadi pusat kepada segala tindak
tanduk manusia. Pandangan mengenai institusi dipelopori oleh ahli sosiologi yang
kemudian istilah ini diadaptasi dan digunakan oleh ahli sains politik untuk menjelaskan
kegiatan politik.
Konsep Institusi politik diartikan sama dengan lembaga negara, secara
terminologis memiliki banyak istilah. Kepustakaan Inggris, sebutan lembaga negara
menggunanakan istilah “political Institution”, sedangkan dalam kepustakaan Belanda
dikenal dengan istilah “staat organen”. Sementara itu, bahasa Indonesia menggunakan
istilah “lembaga negara, badan negara, atau organ negara”. Istilah institusi, dari
bahasa Latin, instituere, artinya sesuatu yang diwujudkan. Maksudnya, institusi adalah
kegiatan manusia yang berwujud.
Institusi politik merupakan bentuk dari proses-proses sosial yang mengatur
susunan masyarakat. Ini menggambarkan bahwa kepentingan kumpulan manusia
tertentu dijaga dan dipertahankan oleh mereka melalui proses penyertaan dan
keterlibatan politik.
Dalam sistem pemerintahan negara terdapat tiga institusi politik utama yaitu
Legislatif, Eksekutif dan Kehakiman. Namun, fungsi beberpaa institusi politik lain juga
memainkan peran dalam pemerintahan sebuah negara. Antara lain partai politik,
birokrasi, dan kelompok kepentingan.

2. Jelaskan pengertian negara demokrasi !


Jawab:
Kata demokrasi berasal dari bahasa yunani yaitu “demos” dan “kratos”. Demos
mempunyai arti rakyat sedangkan kratos artinya pemerintahan. Sehingga dapat diartikan
jika demokrasi merupakan pemerintahan yang dilaksanakan dari rakyat, untuk rakyat
dan oleh rakyat.
Kata demokrasi mempunyai ragam makna yang sangat luas. Namun dalam dunia
modern, pengertian demokrasi dapat ditekankan pada makna bahwa kekuasaan tertinggi
dalam urusanurusan politik ada di tangan rakyat. Seperti yang dirumuskan oleh
negarawan Amerika Serikat Abraham Lincoln, menurutnya demokrasi dapat diartikan
dengan bentuk pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. 5Secara literal,
Demokrasi berasal dari bahasa yunani yakni “demos” yang berarti rakyat dan
“kratos/kratien” yang berarti berkuasa (goverment of rule by the people), dengan
pemaknaan kekuasaan tertinggi berada ditangan rakyat dan dijalankan langsung oleh
wakil-wakil yang mereka pilih dibawah sistem pemerintahan yang bebas.6
Menurut Miriam Budiardjo, Konsep demokrasi lahir dari pemikiran mengenai
hubungan negara dan hukum di yunani kuno dan dipraktikkan dalam kehidupan
bernegara antara abad 4 SM-6 M, Akan tetapi konsep demokrasi ini kembali digunakan
pada zaman modern sekurangnya ada dua hal penting pada peristiwa yang mendorong
timbulnya kembali “demokrasi”.
Ada dua latar belakang dalam pemikiran untuk memahami demokrasi yang
harus dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Pemikiran yang pertama adalah ide
dan konsep, artinya bahwa hampir seluruh pemerintahan yang ada di dunia menerima
serta menyerap makna demokrasi secara luas bahkan pemerintahan otoriter pun dengan
menggunakan istilah “demokrasi” untuk mengkarakteristikan aspirasi mereka: seperti
“demokrasi Liberal”, “demokrasi komunis”, “demokrasi rakyat”, demokrasi sosialis”
7
dan lain sebagainya. Pemikiran yang kedua, demokrasi berlaku praktis artinya
demokrasi dapat berlaku dengan mudah dan diperuntukan untuk kesejahteraan rakyat
sebagaimana pengertian dan tujuan demokrasi itu sendiri yakni Pemerintahan dari
rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. 8
Negara demokrasi merupakan suatu negara yang menganut sistem pemerintahan
yang bertujuan menciptakan kedaulatan rakyat sebab kekuasaan serta kedaulatan
dipegang penuh oleh rakyat, dan dijalankan oleh pemerintah untuk menjalankan hak dan
wewenangnya atas nama rakyat. Demokrasi juga dapat diartikan sebagai sebuah sistem
pemerintahan di mana seluruh masyarakat negara memiliki hak serta kesempatan yang
sama atau setara dalam berkontribusi untuk pengambilan keputusan yang berpengaruh
pada nasib hidup orang banyak.

5
Zaini Ahmad, Dasar-Dasar Ilmu Politik. Yogyakarta: UNY Press h. 77
6
Taniredja Tukiran dkk, Pendidikan Kewarganegaraan: Paradigma Terbaru untuk Mahasiswa,
(Bandung: Alfabet, 2013), h. 125
7
Masykuri Abdillah, Demokrasi di Persimpangan Makna, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 2004),
h. 72
8
Zaini Ahmad, Ilmu Politik…. , h. 77.
Bisa dikatakan jika rakyat memiliki kekuasaan tertinggi dalam proses
pengambilan keputusan hingga akhirnya memberikan dampak pada keseluruhan
kehidupan. Maka tidak heran jika sistem demokratis memberikan kesempatan kepada
rakyatnya untuk turut berpartisipasi secara aktif dalam hal penyusunan, perumusan,
pengembangan serta penetapan undang – undang baik secara langsung maupun melalui
perwakilan rakyat.

3. Jelaskan pengertian Negara Monarki Parlementer!


Jawab:
Monarki parlementer adalah bentuk pemerintahan dalam suatu negara yang
dikepalai oleh seorang raja dengan menempatkan parlemen (DPR) sebagai pemegang
kekuasaan tertinggi. Dalam monarki parlementer, kekuasaan, eksekutif dipegang oleh
kabinet (perdanan menteri) dan bertanggung jawab kepada parlemen. Fungsi raja hanya
sebagain kepala negara (simbol kekeuasaan) yang kedudukannya ridak dapat diganggu
gugat. Bentuk monarki parlementer sampai sekarang masih tetap dilaksanakan di negara
Inggris, Belanda, dan Malaysia.

4. Jelaskan pengertian Negara Monarki Absolut!


Jawab:
Monarki absolut adalah bentuk pemerintahan dalam suatu negara yang dikepalai
oleh seorang (raja, ratu,, syah, atau kaisar) yang kekuasaan dan wewenangnya tidak
terbatas. Perintah raja merupakan wewenang yang hrus dipatuhi oleh rakyatnya. Pada
diri raja terdapat kekuasaan eksekutif, yudikatif, dan legislatif yang menyatu dalam
ucapan dan perbuatannya. Contoh Perancis semasa Louis XIV dengan semboyannya
yang terkenal L’etat C’est Moi (negara adalah saya).

5. Jelaskan Pembagian Kekuasaan Negara


Jawab:
Pembagian kekuasaan merupakan jaminan tegaknya supremasi hukum dalam
kehidupan bernegara serta merupakan suatu yang dipersyaratkan untuk dimuat dalam
konstitusi negara. Dalam ketatanegaraan, pembagian kekuasaan sering dikenal sebagai
konsep “Trias Politica” oleh Montesquieu. Konsep Trias Politica adalah suatu prinsip
normatif bahwa kekuasaan-kekuasaan yang sebaiknya tidak diserahkan kepada orang
yang sama untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak yang berkuasa.9
Artinya bahwa konsep Trias Politica menawarkan suatu konsep mengenai kehidupan
bernegara dengan melakukan pemisahan kekuasaan yang diharapkan akan saling lepas
dalam kedudukan yang sederajat, sehingga dapat saling mengendalikan dan saling
mengimbangi satu sama lain (check and balances). Selain itu diharapkan dapat
membatasi kekuasaan agar tidak terjadi pemusatan kekuasaan pada satu tangan yang
nantinya akan melahirkan kesewenang-wenangan. Menurut Montesquieu, negara yang
menganut paham demokrasi memerlukan pemisahaan kekuasaan negara ke dalam
organ-organ Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif. Kekuasaan Eksekutif bertugas
melaksanakan undang undang, kekuasaan Legistaif bertugas membuat undang-undang
serta kekuasaan Yudikatif bertugas mengadili terhadap pelanggaran atas pelaksanaan
undang undang.10
Terdapat dua istilah yang berhubungan dengan teori pemisahan kekuasaan yang
diutarakan oleh Jhon H Garvey dan T. Alexander Aleinikooff. Kedua istilah tersebut
terjabarkan dalam teori pemisahan kekuasaaan yang mengenal dua bentuk pembagian
kekuasaan yaitu pembagian kekuasaan secara vertikal dan horizontal. Desentralisasi
berhubungan dengan pembagian kekuasaan secara vertikal antara pemerintah pusat dan
daerah atau negara bagian, sedangkan fungsi negara berhubungan dengan pembagian
kekuasaan secara horizontal antara fungsi negara legislatif, eksekutif dan yudikatif.
Teori yang mencakup kedua pembagian kekuasaan baik dalam tatanan pembagian
kekuasaan fungsi negara maupun tatanan pembagian kekuasaan antara pemerintah pusat
dan negara bagian atau pemerintah daerah juga dikemukakan oleh Arthur Maass.
Menurut Arthur Maass pembagian kekuasaan dapat bersifat horizontal disebut sebagai

9
Efi Yulistyowati, dkk, Penerapan Konsep Trias Politica Dalam Sistem Pemerintahan Repulik
Indonesia : Studi Komparatif Atas Undang-Undang Dasar 1945 Sebelum Dan Sesudah
Amandemen, Jurnal Dinamika Sosial Budaya, Volume 18, Nomor 2, Desember 2016, hlm 330

10
Sunarto, Prinsip Checks And Balances Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia, Jurnal Masalah
Masalah Hukum, Jilid 45, Nomor 2, April 2016, hlm 158-159
capitaldivision of powers, sedangkan pembagian kekuasaan secara vertikal disebut
sebagai areal division of power. Dalam rangka capital division of powers , fungsi
legislatif, eksekutif, dan yudikatif masing-masing diberikan kepada suatu badan. Dalam
rangka areal division of powers, fungsi-fungsi tertentu misalnya moneter dan hubungan
luar negeri diberikan kepada pemerintah pusat, sedangkan fungsi-fungsi lainnya
diberikan kepada negara bagian atau pemerintah daerah 11 . Pemisahan kekuasaan berarti
bahwa kekuasaan negara itu terpisah-pisah dalam beberapa bagian, baik mengenai
orangnya maupun mengenai fungsinya. Sedangkan pembagian kekuasaan berarti bahwa
kekuasaan itu memang dibagi-bagi dalam beberapa bagian, tetapi tidak dipisahkan.
Walaupun ajaran trias politika Montesquieu ini paling berpengaruh dalam penyusunan
konstitusi dan didalam praktek ketatanegaraan di dunia, namun pelaksanaannya secara
murni mendapatkan keberatan. Alasannya adalah sebagai berikut12:
1. Pemisahan mutlak akan mengakibatkan adanya badan kenegaraan yang tidak
ditempatkan di bawah pengawasan suatu badan kenegaraan lainnya. Tidak adanya
pengawasan ini berarti adanya badan kenegaraan untuk bertindak melampaui batas
kekuasaanya dan kerjasama antara badan-badan kenegaraan itu menjadi sulit;
2. Karena ketiga fungsi tersebut masing-masing hanya boleh diserahkan kepada satu badan
kenegaraan tertentu saja atau dengan perkataan lain tidak mungkin diterima sebagai
azas tetap bahwa tiap-tiap badan kenegaraan itu hanya dapat diserahi satu fungsi
tertentu saja, maka hal ini akan menyukarkan pembentukan suatu negara hukum modern
(modern rechstaat) dimana badan kenegaraan yang diserahi fungsi lebih dari satu
macam dan kemungkinan untuk mengkoordinasi beberapa fungsi .

DAFTAR PUSTAKA

11
Edie Toet Hendratno, 2009, Negara Kesatuan, Desentralisasi, Dan Federalisme, Graha Ilmu,
Yogyakarta, h. 83

12
Bachsan Mustafa, 1990, Pokok-Pokok Hukum Administrasi Negara, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, h.4.
Ubaedillah & Abdul Rozak, 2015. Pendidikan Kewarganegaraan, Pancasila,
Demokrasi,HAM, dan Masyarakat Madani, (Jakarta: UIN Syarif
Hidayatullah Bekerjasama dengan PT. Prenada Media Group, Cet. 8,
Amirudin dan Zaini, A.B. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Yogyakarta: UNY Press
Bachsan Mustafa, 1990, Pokok-Pokok Hukum Administrasi Negara, PT. Citra Aditya
Bakti, Bandung
Edie Toet Hendratno, 2009, Negara Kesatuan, Desentralisasi, Dan Federalisme, Graha
Ilmu, Yogyakarta
Efi Yulistyowati, dkk, 2016. Penerapan Konsep Trias Politica Dalam Sistem
Pemerintahan Repulik Indonesia : Studi Komparatif Atas Undang-
Undang Dasar 1945 Sebelum Dan Sesudah Amandemen, Jurnal
Dinamika Sosial Budaya, Volume 18, Nomor 2, Desember 2016
Harold J. Laski. 1947. The State in Theory and Practice. (New York: The Viking Press,
H. Gerth dan C. W. Mills, eds., from Max Weber: 1958. Essays in Sociology (New
York: Oxford University Press,
Masykuri Abdillah, 2004.Demokrasi di Persimpangan Makna, (Yogyakarta: PT. Tiara
Wacana, 2004
Sunarto, Prinsip Checks And Balances Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia, Jurnal
Masalah Masalah Hukum, Jilid 45, Nomor 2, April 2016
Taniredja Tukiran dkk,2013. Pendidikan Kewarganegaraan: Paradigma Terbaru untuk
Mahasiswa, (Bandung: Alfabet, 2013
Pengertian Negara Disertai Fungsi dan Unsur-unsurnya
https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-negara/