Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

PERCOBAAN II

EKSTRAKSI MASERASI

Nama : Elfani Nur Sita Augustina

NPM : 194101484010084

Tanggal Praktikum : 26 November 2021

LABORATORIUM BIOLOGI DAN FARMAKOLOGI

PRODI DII FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ISFI

BANJARMASIN

TA. 2020 – 2021


PERCOBAAN II

EKSTRAKSI MASERASI

A. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu memahami prinsip ekstraksi maserasi
2. Mahasiswa mampu menghitung randemen ekstrak

B. DASAR TEORI
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat dari campurannya dengan
menggunakan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang
diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Secara garis besar, proses pemisahan
secara ekstraksi terdiri dari tiga langkah dasar yaitu :
1. Penambahan sejumlah massa pelarut untuk dikontakkan dengan sampel, biasanya
melalui proses difusi.
2. Zat terlarut akan terpisah dari sampel dan larut oleh pelarut membentuk fase
ekstrak.
3. Pemisahan fase ekstrak dengan sampel (Wilson, et al., 2000).
Tujuan ekstraksi bahan alam adalah untuk menarik komponen kimia yang terdapat
pada bahan alam. Bahan-bahan aktif seperti senyawa antimikroba dan antioksidan yang
terdapat pada tumbuhan pada umumnya diekstrak dengan pelarut. Pada proses ekstraksi
dengan pelarut, jumlah dan jenis senyawa yang masuk kedalam cairan pelarut sangat
ditentukan oleh jenis pelarut yang digunakan dan meliputi dua fase yaitu fase pembilasan
dan fase ekstraksi. Pada fase pembilasan, pelarut membilas komponen-komponen isi sel
yang telah pecah pada proses penghancuran sebelumnya. Pada fase ekstraksi, mula-mula
terjadi pembengkakan dinding sel dan pelonggaran kerangka selulosa dinding sel
sehingga pori-pori dinding sel menjadi melebar yang menyebabkan pelarut dapat dengan
mudah masuk kedalam sel. Bahan isi sel kemudian terlarut ke dalam pelarut sesuai
dengan tingkat kelarutannya lalu berdifusi keluar akibat adanya gaya yang ditimbulkan
karena perbedaan konsentrasi bahan terlarut yang terdapat di dalam dan di luar sel (Voigt,
1995).
Ekstraksi secara umum dapat digolongkan menjadi dua yaitu ekstraksi padat cair
dan ekstraksi cair-cair. Pada ekstraksi cair-cair, senyawa yang dipisahkan terdapat dalam
campuran yang berupa cairan, sedangkan ekstraksi padat-cair adalah suatu metode
pemisahan senyawa dari campuran yang berupa padatan (Anonim, 2012).
Proses ekstraksi membutuhkan pelarut pengekstraksi yang sesuai. Pelarut akan
menembus ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan
karena perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan di luar sel maka
larutan yang terpekat di desak keluar. Peristiwa tersebuy berulang sehingga terjadi
keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. FI edisi III
menetapkan bahwa sebagai pelarut pengekstraksi adalah air,etanol, dan eter.
Maserasi merupakan proses perendaman sampel menggunakan pelarut organik
pada temperatur ruangan. Proses ini sangat menguntungkan dalam isolasi senyawa bahan
alam karena dengan perendaman sampel tumbuhan akan terjadi pemecahan dinding dan
membran sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel, sehingga metabolit
sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik dan ekstraksi
senyawa akan sempurna karena dapat diatur lama perendaman yang dilakukan. Pemilihan
pelarut untuk proses maserasi akan memberikan efektivitas yang tinggi dengan
memperhatikan kelarutan senyawa bahan alam dalam pelarut tersebut. Secara umum
pelarut metanol merupakan pelarut yang banyak digunakan dalam proses isolasi senyawa
organik bahan alam karena dapat melarutkan seluruh golongan metabolit sekunder.
Maserasi merupakan metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut diam atau
dengan adanya pengadukan beberapa kali pada suhu ruangan. Metoda ini dapat dilakukan
dengan cara merendam bahan dengan sekali-sekali dilakukan pengadukan. Pada
umumnya perendaman dilakukan selama 24 jam, kemudian pelarut diganti dengan
pelarut baru. Maserasi juga dapat dilakukan dengan pengadukan secara sinambung
(maserasi kinetik). Kelebihan dari metode ini yaitu efektif untuk senyawa yang tidak
tahan panas (terdegradasi karena panas), peralatan yang digunakan relatif sederhana,
murah, dan mudah didapat. Namun metode ini juga memiliki beberapa kelemahan yaitu
waktu ekstraksi yang lama, membutuhkan pelarut dalam jumlah yang banyak, dan adanya
kemungkinan bahwa senyawa tertentu tidak dapat diekstrak karena kelarutannya yang
rendah pada suhu ruang (Sarker, S.D., et al, 2006).

C. ALAT DAN BAHAN


Alat :
- Timbangan analitik
- Elenmayer
- Alat maserator
- Gelas ukur
- Gelas kimia
- Corong kaca
Bahan :
- Serbuk simplisia
- Kertas perkamen
- Etanol 70%
- Kertas Saring
D. CARA KERJA

Wadah maserator yang telah Timbang 100g serbuk yang


dibersihkan dan dikeringkan d akan di maserasi dan rendam
tutup dgn kertas coklat dgn pelarut etanol 70%
sebanyak 1L (atau hingga
pelarut setinggi +2cm diatas
serbuk)

Saring rendaman dgn kain Aduk-aduk rendaman dan


flannel dilanjut dgn tutup maserator lalu diamkan
menggunakan kertas saring hingga 24 jam
lalu tamping filtrate dlm
wadah dan ampas kembali di
maserasi dg pelarut

Larutkan maserasi sekurang-


Uapkan filrat sampai di
kurangnya 2x pengulangan
peroleh ekstrak kental
(hingga wrn pelarut menjadi
jernih) Tampung filtrate dan
masukan kedalam wadah
tertutup rapat

Anda mungkin juga menyukai