Anda di halaman 1dari 4

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan Wakil Wali Kota Bandung Oded M.

Danial mendapat
kritik tajam tentang kinerjanya selama masa pemerintahan yang hampir dua tahun berlalu.

Beberapa hari yang lalu, pengamat politik dan pemerintahan dari Pusat Studi Politik dan
Keamanan (PSPK) Unpad Muradi menilai pasangan pimpinan Bandung ini harus lebih
memperhatikan pengendalian dan integrasi birokrasi serta beberapa masalah pokok lainnya
dalam menjalankan pemerintahan di Kota Bandung.

Hal ini dilontarkan berdasarkan survei Lingkar Studi Informasi dan Demokrasi (eLSID).

Wali kota yang akrab disapa Emil ini mengungkapkan reformasi birokrasi harus diukur
secara fair dari seberapa banyak perubahan dari negatif ke positif, lambat menjadi cepat dan
buruk menjadi baik. Emil mengklaim hal seperti ini hadir pada berbagai bidang mulai dati
pendidikan, kesehatan dan lainnya.

"Seperti di bidang pendidikan, penerimaan peserta didik baru (PPDB) online dapat
memotong birokrasi dan pungli yang jika ditotal bisa mencapai hampir Rp30 miliar. Ini salah
satu contoh yang harus diapresiasi sebagai reformasi birokrasi," katanya.

Pada bidang kesehatan menurutnya bagaimana sistem e-SMS dilakukan sebagai model
inovatif untuk menggantikan antrian secara manual pada sebuah rumah sakit umum di Kota
Bandung.

Menurutnya, reformasi birokrasi bukan seberapa banyak kepala dinas dan wali kota kongkow
dan bukan banyaknya gonta ganti kepala dinas, tetapi merupakan sesuatu yang terukur secara
ilmiah.

Rotasi mutasi kepala dinas menurutnya terus dilakukan untuk meningkatkan kinerja SKPD
masing-masing dan jabatan kepala dinas juga diberikan dengan dilelang seperti halnya
Kepala Dinas Pendidikan yang merupakan salah satu Dosen UPI dan bersaing dengan PNS
lainnya.

"Dalam waktu dekat juga kita akan tindak tegas jumlah cafe/restauran di Kota Bandung
karena jumlahnya tidak sebanding dengan penerimaan pajak dari restauran/cafe tersebut.
Mereka yang memiliki izin dan membayar pajak akan kita registrasi dan beri plakat,
sementara sisanya akan kita sikat."

BANDUNG, TRIBUN - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil memandang ada tiga lingkaran
permasalahan yang melingkupi Kota Bandung. Ketiga masalah tersebut, yakni visi kota,
reformasi birokrasi dan perilaku masyarakat. Menyelesaikan masalah yang tidak
menggunakan banyak anggaran, yakni reformasi birokrasi.

Ridwan mengatakan komunikasi dengan jajaran Pemkot maupun warga tidak boleh putus.
Twitter pun menjadi media efektif baginya untuk koordinasi. Warga bisa melapor dengan
mudah melalui media sosial. Misalnya, laporan warga adanya gepeng di suatu tempat,
dilaporkan melalui media sosial. Pengerahan Satpol PP pun melalui media sosial.

"Kenapa harus pakai media sosial, karena di Bandung tingkat melek medianya tinggi," ujar
Ridwan saat menerima rombongan Tribun Jabar di rumah dinas Pendopo, Alun-alun, Kamis
malam (7/11).
Soal korupsi, Pemkot Bandung berkomitmen dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Ridwan mengatakan, undian makan siang dengan 6 PNS setiap Rabu menjadi salah satu
solusi mengetahui permasalahan birokrasi. Dari sesi curhat dengan para PNS di tingkat
bawah ini, bisa saja dicuatkan permasalahan di instansinya dan bisa juga muncul sosok
whistleblower.

"KPK ini sedang melakukan eksperimen di Kota Bandung. Mereka ingin mengawal
kepemimpinan kami secara komprehensif dari awal. Dana bantuan sosial yang mudah
diselewengkan kami kurangi," kata Ridwan. (*)

Berdasarkan hasil Survei Sosial Kemasyarakat yang dilakukan Lingkar Studi Informasi dan
Demokrasi (LSID), sejak tanggal 12 - 17 April 2015 kepada 410 responden tersebar.

Hasilnya menunjukan tingkat harapan masyarakat kepada kepemimpinan Wali Kota


Bandung, Ridwan Kamil dan Wakil Wali Kota Bandung Oded Muhammad Danial, menurun
dari 93 persen menjadi 69 persen pasca dilantik hingga saat ini.

"Harapan masyarakat terhadap Ridwan Kamil itu lebih besar dari harapan masyarakat Jakarta
terhadap Jokowi pada saat itu. Ridwan Kamil 93 persen saat saya melakukan survei 2013,
Namun hari ini menurun menjadi 69 persen. Nah itu harus dievaluasi oleh Ridwan Kamil
mengapa bisa seperti itu," ungkap Dedi Barnadi, peneliti Lingkar Studi Informasi dan
Demokrasi (LSID) kepada wartawan saat ditemui usai acara Hasil Survei Sosial
Kemasyarakatan, Rabu (27/5/2015).

Dikatakannya, memang awalnya ekspektasi masyarakat dan harapannya itu sangat tinggi,
namun ketika perjalanan pemerintahan selama dua tahun mengalami penurunan. Apakah
tidak ada evaluasi dari mereka?

"Makanya Ridwan Kamil harus melakuakan survei. Ini kan kita dari luar, khawatirnya
disebut tidak obyektif. Saya hanya memberitahukan bahwa pemerintah kota itu wajib
melakukan survei kepuasan masyarakat berkala setiap tahun, sesuai dengan Peraturan
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi (Permen PAN-RB) nomor 16
tahun 2014," katanya.

"Masyarakat merupakan unsur yang sangat penting dalam logika pembangunan. Agar
perjalanan atas upaya pembangunan dapat mengentaskan kemiskinan serta mewujudkan misi
sejahtera dan keadilan, pembangunan juga harus melandasi pembangunan demokrasi.
Sehingga, agenda pembangunan bukan milik pemerintah semata melainkan milik bersama,"
tuturnya

Berikut ini beberapa pertanyaan dan hasil Survei Sosial Kemasyarakatan.

soal keyakinan (menurun), harapan (menurun), masalah sampah (cukup baik) soal denda
(tidak baik), masalah banjir (cukup baik), pemerataan pembangunan (tidak merata),
pelayanan publik SKPD (puas), janji politik (cukup percaya), program trotoar granit (tidak
setuju), papan reklame (sangat mengganggu), pedagang kaki lima (pkl) (belum), perubahan
tingkat kemacetan (kurang baik), pembenahan transportasi umum (biasa saja), penataan pasar
tradisional (kurang baik), pelayanan kesehatan (cukup baik), penyerapan tenaga kerja (cukup
baik),
Sedangkan yang menjadi prioritas masyarakat terhadapa pasangan Ridwan Kamil dan Oded
M. Danial.

Pertama adalah soal kemacetan, pelayanan publik, pengurusan dokumen, masalah kebersihan,
banjir, penertiban preman, pembangunan infrastruktur, pebaikan drainase, penertiban pkl,
tersedianya lapangan pekerjaan, pebaikan pasar tradisional, pendidikan murah, perbaikan
transportasi dan perbaikan taman (tidak menjadi prioritas warga). 

Menurut pantauan Indonesian Corruption Watch (ICW), permasalahan Kota Bandung sudah
semakin kronis. ICW menilai, permasalahan Kota Bandung saat ini terfokus pada empat hal,
seperti kemacetan, tata ruang yang karut marut, hutan kota yang hilang, dan krisis
air. Padahal, data ICW menunjukan 81 persen APBD Kota Bandung digunakan untuk
pembangunan fisik infrastruktur (konstruksi).

Anggota Badan Pekerja ICW, Selly Martini mengatakan bahwa kondisi Kota Bandung
diperburuk  sistem birokrasi yang korup dan penegak hukum yang korup. Bahkan Bandung
masuk pada kategori kota terburuk dalam hal birokrasi, dan masuk dalam 16 terburuk versi
survei integritas pelayanan publik KPK.

“Saat ini birokrasi di Kota Bandung sangat buruk, ditambah dengan para pemimpin yang
tidak amanah serta akses terhadap informasi sangat terbatas,” tegas Selly, Jumat (4/10).

Lebih lanjut pihaknya berharap, pemerintah bisa transparan, misalnya dokumen PABD bisa
diakses hingga tingkat kelurahan, sepertihalnya di Jakarta. (LIN)

Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran bekersama dengan
Lingkar Studi Informasi dan Demokrasi (LSID) meyelenggarakan Survey Sosial
Kemasyarakatan dengan tema "Penilaian Kepuasan Masyarakata Terhadap Kinerja Ridwan
Kamil dan Oded".

Bertempat di Hotel Amaroosa, Rabu (27/5/2015), hasil survei akan disampaikan oleh Dedi
Barnadi, peneliti dari eLSID serta Dr. Muradi dari PSPK Unpad. Kemudian agar hasil
membaca survei ini komprehensif, menghadirkan pula Dr. Arief Anshory Yusuf dari CEDS
Unpad dan Mokhamad Ikhsan dari Perkumpulan Inisiatif.

Latar belakang serta landasan dilaksanakan kegiatan ini adalah sarana pengawasan publik
terhadap kinerja pemerintah. Selain itu dalam peraturan yang pemerintah buat untuk
mengaktualisasikan salah satu prinsip good govermance yakni adanya keterbukaan informasi
publik atas penyelenggaraan suatu pemetintahan.

Dalam Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi (Permen
PAN-RB) No.16 Tahun 2014 mengenai Pedoman Survei Kepuasan Masyarakat Terhadap
Penyelenggaraan Pelayanan Publik.

Dalam Permen tersebut salah satu pasalnya, yakni pasal 2 angka (1) menyebutkan bahwa
penyelenggaraan pelayanan publik wajib melakukan Survei Kepuasan Masyarakat secara
berkala minimal satu tahun sekali. Namun, selama ini Rudwan Kamil dan Oded Muhammad
Danial belum melaksanakan Survei Kepuasan Masyarakat sebagai mana yang diamanatkan
dalam Permen tesebut.
Penilaian Kepuasan Masyarakat merupakan indikator yang penting dalam pembangunan
suatu wilayah. Masyarakat merupakan unsur yang sangat penting dalam logika
pembangunan.

Agar perjalanan atas upaya pembangunan dapat mengentaskan kemiskinan serta mewujudkan
misi sejahtera dan keadilan, pembangunan juga harus melandasi pembangunan demokrasi.
Sehingga, sejatinya agenda pembangunan bukan milik pemerintah semata melainkan milik
bersama.

Survei adalah alat yang diusahakan dapat menangkap realitas politik dan pemerintah yang
tengah terjadi dibenak publik dalam memperoleh pelayanan dan penyelenggaraan pelayanan
publik. Pilkada tahun 2013 di Kota Bandung telah membangkitkan optimisme dan
voluntarisme yang muncul atas sosok Ridwan Kamil (Emil) dan Oded dengan harapan baru,
Kota Bandung dibawah kendali mereka akan lebih baik dari pemerintah yang sebelumnya.