Anda di halaman 1dari 25

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Grand Theory

2.1.1 Teori Agensi (Agency Theory)

Teori agensi adalah suatu teori yang berfungsi untuk memberikan

penjelasan atas keterkaitan antara principal (pemilik modal) dan agent

(manajemen) yang diciptakan supaya dapat mencapai tujuan perusahaan secara

optimal. Jensen dan Meckling (1976) mengemukakan jika keterkaitan antara

prinsipal dengan agen diawali saat principal menyewa agent untuk melaksanakan

suatu jasa demi kepentingan principal yang disertai adanya delegasi kewenangan

untuk mengambil keputusan pada agent.

Sementara itu, kinerja agent tidak banyak diketahui oleh principal

(pemilik modal). Semua informasi mengenai lingkungan kerja, dan kapasitas diri

secara detail diketahui oleh para manajer. Hal tersebut menimbulkan kesenjangan

informasi antara manajer dengan pemilik modal. Perbedaan kepentingan antara

keduanya dapat mengakibatkan munculnya permasalahan dalam keagenan atau

dapat disebut sebagai agency problem. Menurut Lubis (2014), munculnya asimetri

informasi dapat disebabkan karena agency problem.

Asimetri informasi adalah tidak seimbangnya kepemilikan informasi yang

diakibatkan ketidaksamaan distribusi informasi tersebut antara principal dan

agent. Pengaruh asimetri informasi dapat menyebabkan moral hazard yaitu

masalah saat agen tidak melakukan sesuai dengan kontrak kesepakatan kerja.

10
11

Namun, pengaruh lain yang didapatkan adalah adverse selection yaitu suatu

kondisi principal tidak bisa memperoleh kebenaran informasi dari keputusan yang

diambil oleh manajemen perusahaannya atau informasi tersebut merupakan

kelalaian yang disengaja. Pada teori agensi, seseorang yang dapat menengahi

antara principal dan agent adalah auditor independen. Auditor independen

bertugas untuk meminimalkan biaya keagenan yang muncul akibat perilaku agen

yang mengutamakan kepentingan pribadi. Selain itu, teori keagenan juga dapat

berfungsi untuk memberikan bantuan kepada komite audit agar dapat mempelajari

konflik kepentingan yang ada antara manajemen dan pemilik perusahaan. Hal

tersebut dilakukan dengan harapan tidak terjadinya penyusunan laporan keuangan

yang curang sehingga dapat mengakibatkan audit delay yang lama.

2.1.2 Teori Kepatuhan

Teori kepatuhan adalah teori yang diusulkan pada bidang sosiologi dan

psikologi dengan memberikan penekanan pada proses sosialisasi yang

memberikan pengaruh pada tindakan patuh seseorang. Pada teori ini, kepatuhan

pada hukum dapat dilihat dari 2 sudut pandang sosiologi yaitu 1) sudut pandang

normatif dapat dikaitkan dengan kepentingan pribadi yang berlawanan dengan

moral. Sedangkan 2) sudut pandang instrumental dapat dikaitkan dengan

berbagai tanggapan yang didorong oleh kepentingan pribadi atas perbedaan

insentif dan perilaku yang dikaitkan dengan sanksi. (Rahmawati, 2014).

Seseorang akan patuh terhadap hukum jika beranggapan bahwa tindakan

yang seseorang lakukan telah sesuai dengan berbagai norma yang orang tersebut

anut. Normative commitment through morality (Komiten normatif melalui


moralitas personal) artinya patuh terhadap hukum yang berlaku dianggap sebagai

sesuatu yang harus dilakukan, sedangkan normative commitment through

legitimacy (komitmen normatif melalui legitimasi) artinya patuh terhadap

peraturan disebabkan adanya ketentuan hukum yang dapat memaksa seseorang

untuk berperilaku sesuai dengan ketentuan tersebut (Rahmawati, 2015).

Merujuk pada sudut pandang normatif, maka telah menjadi keharusan jika

akuntansi membutuhkan teori kepatuhan ini karena secara eksplisit dalam

penyampaian laporan keuangan berkala yang diatur dalam keputusan POJK

No.29/PJOK.04/2016, disebutkan jika masing-masing dari perusahaan diwajibkan

untuk peraturan yang telah diberlakukan terutama dalam hal penyampaian dengan

financial report perusahaan harus dapat disampaikan dengan tepat waktu kepada

OJK. Hal tersebut menjadi sesuatu yang tidak dapat terelakkan karena menjadi

syarat mutlak untuk dapat melakukan pemenuhan tanggung jawab kepada

perusahaan dengan berprinsip pada pengungkapan informasi yang sesuai dengan

deadline (Rahmawati, 2015).

Teori kepatuhan dapat memotivasi berbagai perusahaan untuk dapat patuh

pada ketentuan yang telah ditetapkan agar dapat menyampaikan laporan keuangan

dengan tepat waktu. Disamping itu, hal tersebut adalah kewajiban perusahaan

untuk menerbitkan financial report perusahaan agar dapat memberi informasi

yang memadai bagi penggunanya.


2.2 Variabel-variabel Penelitian

2.2.1 Audit Delay

Auditing merupakan suatu bentuk pemeriksaan yang dilaksanakan dengan

sistematis dan kritis oleh seseorang yang independen terhadap financial report

yang telah disusun di suatu perusahaan disertai berbagai bukti dan catatan

pendukung lainnya, untuk dapat dijadikan sebagai dasar dalam penentuan opini

wajar atau tidaknya suatu financial report perusahaan (Agoes, 2012). Menurut

Dyer and McHugh (1975), Audit delay (keterlambatan laporan audit) adalah suatu

interval yang terbuka dari jumlah hari pada akhir tanggal pencatatan laporan

keuangan yang ditanda tangani oleh auditor. Pendapat dari Lawrance and Bryan

(1988) audit delay adalah waktu dalam satuan hari yang diperlukan oleh auditor

agar dapat menyelesaikan proses auditnya, yang ditentukan dengan menghitung

tanggal dari tutup buku perusahaan sampai tanggal penerbitan laporan audit.

Audit delay merupakan total hari yang diperoleh dari penutupan tahun buku

perusahaan sampai adanya penandatanganan laporan keuangan audit yang

menjadi akhir dari prosedur pekerjaan lapangan (Haryani dan Wiratmaja, 2014).

Total rentang hari tersebut merupakan waktu yang digunakan untuk melakukan

pemeriksaan pada laporan keuangan perusahaan.

Terdapat tiga kriteria keterlambatan waktu penyampaian laporan keuangan

menurut Dyer and McHugh dalam Rahmawati (2014) yaitu:

1. Preliminary lag: Rentang waktu dalam satu hari yang diperoleh antara

tanggal financial report perusahaan sampai tanggal penerimaan

laporan terakhir preliminary oleh bursa saham.


2. Auditor’s report lag: Rentang waktu dalam satu hari yang diperoleh

sejak penandatanganan financial report hingga tanggal

penandatanganan audit report.

3. Total lag: Rentang waktu dalam satu hari yang diperoleh sejak tanggal

financial report sampai audit report dipublikasikan oleh BEI.

Ketepatan informasi yang diterbitkan dipengaruhi oleh audit report lag

atau audit delay yang akan menimbulkan pengaruh atas tidak pastinya keputusan

yang didasarkan informasi yang telah diterbitkan (Kartika, 2009). Satu dari

beberapa syarat harga suatu entitas bisa melakukan transaksi di pasar modal

adalah financial report entitas tersebut harus telah diterbitkan dan diperiksa oleh

akuntan publik (Pitaloka dan Suzan, 2015). Financial report yang telah diaudit

dan diterbitkan dengan tepat waktu sangat berperan penting terutama bagi

perusahaan yang telah go public.

Peraturan tentang Laporan Tahunan Emiten atau Perusahaan yang diatur

melalui POJK pasal 7 ayat (1) No. 29/PJOK.04/2016, mengemukakan jika

perusahaan yang telah go public diwajibkan memberikan annual report kepada

OJK selambat-lambatnya 120 hari atau akhir bulan keempat sesudah tahun buku

perusahaan ditutup. Jika perusahaan mengalami keterlambatan dalam memberikan

annual report maka sesuai pasal 19 perusahaan tersebut dapat dikenakan sanksi.

Pemberian annual report yang terlambat akan direspon negatif oleh para investor.

Sebaliknya, pemberian annual report yang tepat waktu dapat menentukan kualitas

penyajian informasi yang ada pada annual report perusahaan tersebut. Informasi
yang ada harus segera disampaikan untuk mencegah hilangnya kemampuan

informasi tersebut dalam pengambilan keputusan investasi.

2.2.2 Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan adalah suatu nilai penentu bagi besar kecilnya suatu

entitas yang dapat diukur dengan total aktiva, jumlah karyawan, total penjualan,

dan total ekuitas yang menjadi suatu ukuran dalam konteks produk organisasi dan

tuntutan pelayanan (Riyanto, 2008). Total aktiva yang besar pada perusahaan

memperlihatkan jika perusahaan tersebut telah dewasa, di mana pada tahap

tersebut perusahaan arus kas bernilai positif dan berprospek yang cukup baik serta

waktu yang lebih stabil untuk menciptakan laba daripada perusahaan yang

mempunyai total aset yang lebih kecil.

Besar kecilnya suatu perusahaan dapat diperlihatkan dengan ukuran

perusahaan. Hal tersebut dapat terlihat dari jumlah karyawan, total penjualan,

total aset, dan lain-lain. Besarnya suatu perusahaan mengindikasikan

pengendalian perusahaan yang lebih efektif dan dapat mempermudah auditor saat

melakukan pemeriksaan pada financial report perusahaan tersebut (Pourali et al.,

2013). Pemerintah, BAPEPAM, dan investor akan lebih mengawasi perusahaan

yang berukuran besar karena audit report lag dapat diminimalkan oleh perusahaan

tersebut (Widyastuti dan Astika, 2017). Ukuran perusahaan dapat diklasifikasikan

ke dalam tiga jenis menurut Febrianty dalam Innayati dan Susilowati (2015) yaitu:

1. Large firm (perusahaan besar) yaitu perusahaan dengan penjualan per

tahun di atas Rp 50 Milyar dan kekayaan bersih termasuk bangunan dan

tanah di atas Rp 10 Milyar.


2. Medium firm (perusahaan menengah) yaitu perusahaan dengan penjualan

per tahun antara Rp 1 Milyar - Rp 50 Milyar dan kekayaan bersih

termasuk bangunan dan tanah antara Rp 1 Milyar – Rp 10 Milyar.

3. Small firm (perusahaan kecil) yaitu perusahaan dengan penjualan per tahun

minimal Rp 1 Milyar dan kekayaan bersih terbanyak tidak termasuk

bangunan dan tanah Rp 200 juta.

Ukuran perusahaan dapat menjadi suatu fungsi yang dapat menjadi

penentu dalam penyusunan laporan keuangan suatu perusahaan sebab jika

perusahaan berukuran besar maka perusahaan tersebut akan semakin cepat

menyelesaikan laporan keuangan tersebut. Selain itu, banyaknya sumber

informasi yang dimiliki perusahaan dan sistem kendali internal yang sangat

membantu untuk meminimalkan kesalahan penyusunan pada annual report dan

mempermudah akuntan publik untuk melakukan pemeriksaan pada financial

report perusahaan (Armansyah dan Kurnia, 2015). Kesimpulannya, ukuran

perusahaan yang sangat dimungkinkan untuk memberikan pengaruh pada

kecepatan waktu penyelesaian audit.

Ukuran perusahaan dapat diproksikan dengan log natural total aset.

Alasan peneliti mempergunakan total aset sebagai proksi dari ukuran perusahaan

adalah total aset lebih representatif dan stabil untuk memperlihatkan ukuran

perusahaan daripada penggunaan proksi lain.

2.2.3 Umur Perusahaan

Umur perusahaan adalah waktu sejak perusahaan yang didirikan untuk

hidup (Poerwadarminta, 2003). Pada UU No.8/1997, perusahaan didefinisikan


sebagai suatu usaha dengan aktivitas tetap dan kontinu untuk mendapatkan

keuntungan di mana dapat dilakukan oleh badan usaha ataupun orang perorangan

yang berlokasi di Indonesia. Berdasarkan kedua definisi tersebut, maka dapat

umur perusahaan adalah lamanya waktu bagi perusahaan untuk terus hidup sejak

mulai didirikan hingga melakukan operasional sampai dengan waktu penelitian.

Umur perusahaan juga dapat diartikan sebagai lamanya waktu perusahaan untuk

berdiri, bertahan, dan berkembang. Umur perusahaan di dapat dari menghitung

tahun pada akta pendirian perusahaan hingga tahun yang digunakan pada

penelitian.

Menurut Jeva N dan Ratnadi (2015), umur perusahaan adalah satu dari

beberapa atribut perusahaan yang menggambarkan seberapa lama perusahaan

dapat eksis dan mampu menghadapi kesulitan dan tantangan yang dapat

mengancam kehidupan perusahaan, serta dapat melihat adanya peluang yang

dapat digunakan untuk pengembangan usahanya. Investor dapat melihat reputasi

dan kredibilitas perusahaan dari lama tidaknya suatu perusahaan itu berdiri.

Investor akan lebih mempercayai perusahaan yang telah lama berdiri karena

investor menganggap kinerja perusahaan tersebut telah baik (Setiawan dan

Widyawati, 2014).

Audit delay diduga dipengaruhi oleh faktor umur perusahaan. Hal tersebut

disebabkan perusahaan yang telah lama beroperasi tidak memberikan jaminan atas

kecepatan dan ketepatan waktu yang digunakan untuk menyelesaikan laporan

keuangan karena adanya sifat yang kompleks dari laporan keuangan tersebut

(Amani dan Waluyo, 2016)


2.2.4 Dewan Komisaris Independen

Menurut KNKG (2006), dewan komisaris independen adalah orang yang

menjabat sebagai dewan komisaris yang tidak tergabung ke dalam pemegang

saham pengendali, anggota dewan komisaris, dan manajemen pada suatu

perusahaan dan tidak memiliki keterkaitan bisnis ataupun keterkaitan lainnya

yang berpengaruh terhadap kemampuan yang dimiliki orang tersebut agar dapat

tindak hanya untuk kepentingan perusahaan atau dapat bertindak secara

independen.

Dewan komisaris independen adalah orang yang menjabat sebagai dewan

komisaris dari eksternal perusahaan yang tidak tergabung ke dalam dewan direksi,

manajemen ataupun shareholder yang dapat berpengaruh terhadap sifat

independen yang dimilikinya (Kuslihaniati, 2016). Dewan komisaris independen

sebagai pengawas perusahaan dituntut untuk dapat melakukan penolakan terhadap

intervensi atau pengaruh dari pihak-pihak yang berkepentingan ataupun pemegang

saham utama pada masing-masing proses transaksi dan saat bertugas dengan

komitmen penuh terhadap kewajibannya. Komisaris independen juga dapat

menyatakan segala bentuk keputusan yang diambil khususnya mengenai

perlindungan pihak lain yang terkait dan pemegang saham minoritas (S,

Abukosim et al. 2013). Pasal 20 ayat 3 POJK No.33/PJOK/2014 mengemukakan

jika dewan komisaris independen minimal harus berjumlah 30% dari semua

anggota dewan komisaris.

Syarat yang harus dipenuhi agar dapat menjadi dewan komisaris

independen adalah :
1. Berintegritas, bermoral, dan berakhlak baik

2. Memiliki kecakapan untuk bertindak sesuai dengan ketentuan yang ada.

3. Selama 5 tahun terakhir:

a. tidak pernah mengalami pailit,

b. tidak pernah dinyatakan bersalah atas kepailitan yang terjadi pajak

perusahaan karena menjabat sebagai anggota dewan komisaris atau

direksi perusahaan,

c. tidak pernah menjalani hukuman yang disebabkan oleh tindakan

pidana karena telah menjadikan keuangan negara merugi ataupun hal

lain yang terkait dengan keuangan perusahaan.; dan

d. tidak pernah menjabat sebagai anggota dewan komisaris atau direksi

dengan penilaian:

1) Pernah tidaknya melaksanakan RUPS (Rapat Umum Pemegang

Saham) tahunan.

2) Pernah tidaknya memberi pertanggungjawaban yang dibuatnya

kepada RUPS

3) Pernah tidaknya menjadikan perusahaan mendapatkan izin,

pendaftaran, dan persetujuan OJK tetapi tidak dapat melakukan

pemenuhan atas kewajiban untuk melakukan penyampaian

laporan keuangan pada OJK.

4. Berkomitmen kuat untuk tetap taat terhadap peraturan yang berlaku.

5. Berpengetahuan dan memiliki kompetensi yang diperlukan bagi

perusahaan.
6. Tidak memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam pencernaan,

pengawasan, pengendalian dan memimpin suatu perusahaan selama 6

bulan terakhir terkecuali diangkatnya kembali sebagai komisaris

independen pada perusahaan.

7. Tidak memiliki saham langsung ataupun tidak pada perusahaan tersebut

8. Tidak tergabung dalam pemegang saham utama, anggota direksi, dan

anggota dewan komisaris pada perusahaan tersebut.

9. Tidak memiliki keterkaitan usaha baik langsung ataupun tidak dengan

perusahaan tersebut.

2.2.5 Kualitas Audit

Menurut Akmal (2006), Kualitas audit adalah suatu pencapaian yang

diperoleh suatu perusahaan sebagai bentuk kepuasan yang dapat menimbulkan

keinginan yang kuat untuk melakukan penilaian terhadap aktivitas perusahaan.

Sedangkan menurut Watkins et al. (2004), kualitas audit merupakan sesuatu yang

dimungkinkan bagi auditor untuk memperoleh temuan dan melaporkan kesalahan

penyajian material pada financial report perusahaan. Menurut SPAP (Standar

Profesi Akuntan Publik), kualitas hasil audit dapat dikatakan baik jika

pelaksanaan audit telah memenuhi standar dan ketentuan audit.

Kualitas audit adalah sebuah kemungkinan bagi auditor untuk memperoleh

temuan dan melaporkan pelanggaran atas sistem akuntansi yang dilakukan oleh

perusahaan klien. KAP (Kantor Akuntan Publik) adalah alat yang digunakan

untuk melakukan penilaian terhadap kualitas audit perusahaan. Umumnya, KAP

yang tergabung dengan KAP internasional akan memperoleh insentif yang lebih
tinggi dan sumber daya yang lebih banyak sehingga pelaksanaan tugas audit

menjadi lebih efektif dan efisien, serta fleksibilitas yang cukup luas walaupun

jadwal audit yang lebih padat.

KAP adalah institusi yang mendapatkan izin sebagai tempat para akuntan

publik untuk melaksanakan tugasnya. Jasa akuntan publik sangat sering

digunakan oleh perusahaan yang terdaftar di BEI untuk melakukan proses audit

sesuai dengan ketentuan yang ada. KAP besar umumnya memiliki reputasi yang

baik agar menambah citra baik perusahaan karena proses audit dapat dilakukan

dengan cepat. KAP dapat dibedakan ke dalam dua golongan yaitu KAP non big

four dan KAP big four. KAP big four yang ada di Indonesia antara lain:

1. KAP Price Waterhouse Coopers (PWC)

2. KAP Klynfeld Peat Marwick Goedelar (KPMG)

3. KAP Ernst & Young

4. KAP Deloitte Touche Tohmatsu

KAP big four mempunyai kelebihan dalam hal efektivitas dan efisiensi

waktu pengerjaan audit karena adanya auditor yang lebih berpengalaman,

teknologi canggih, fasilitas audit yang memadai, dan lebih banyak memiliki staf

audit (Iyoha, 2012). Disamping itu, KAP big four lebih termotivasi untuk

menyelesaikan audit dengan cepat agar dapat mempertahankan reputasi baiknya.

2.2.6 Rasio Debt to Equity

Fahmi (2012) dalam Tumonggor, dkk. (2017) mendefinisikan debt to

equity ratio adalah suatu penilaian yang dipergunakan untuk penganalisisan

financial report perusahaan yang memperlihatkan seberapa besar ketersediaan


jaminan bagi kreditor. Untuk memperoleh rasio ini dilakukan dengan cara total

kewajiban dibagi total ekuitas. Manfaat rasio ini adalah untuk melihat

ketersediaan dana bagi kreditor dan ketersediaan modal sendiri sebagai jaminan

bagi dana pinjaman perusahaan.

Kasmir (2014) menyatakan bahwa Debt to Equity Ratio adalah suatu

perhitungan untuk mengukur hutang terhadap ekuitas perusahaan. Agar dapat

menghitungnya, seluruh hutang dan ekuitas yang dimiliki perusahaan harus

dijumlahkan kemudian di dibentuk ke dalam perhitungan pembagian. Rasio ini

dipergunakan untuk melihat ketersediaan dana yang menjadi alasan bagi kreditor

untuk dapat meminjamkan dananya kepada perusahaan. Dalam makna lain,

fungsi rasio ini adalah untuk melihat setiap nominal rupiah dari modal sendiri

yang bisa menjadi jaminan hutang perusahaan.

Brigham dan Houston (2006) dalam Irayanti dan Tumbel (2014) Debt to

Equity Ratio (DER) adalah hasil bagi antara jumlah kepemilikan utang dengan

jumlah kepemilikan modal perusahaan. Tingginya rasio DER akan

memperlihatkan besaran modal yang dipergunakan untuk membiayai operasional

perusahaan. Tingginya rasio DER akan menjadikan perusahaan tidak lampu

untuk melunasi seluruh hutang perusahaan. Rumus untuk mencari debt to equity

ratio sebagai berikut: DER = Total hutang/Modal Sendiri.

2.2.7 Profitabilitas

Menurut Harahap (2015), profitabilitas adalah kemampuan yang dimiliki

oleh suatu entitas dalam menciptakan laba melalui penggunaan semua

kemampuan dan sumber daya yang dimiliki (jumlah cabang, jumlah karyawan,
modal, kas, aktivitas penjualan, dan lain-lain). Profitabilitas dapat diproksikan

sebagai ROI (Return On Investment), Capital Turn Over, dan Profit Margin.

Sedangkan Rahmawati (2015) mendefinisikan profitabilitas sebagai indikator

bagi kinerja manajemen dalam melakukan pengelolaan kekayaan perusahaan

dengan melihat perolehan laba yang telah dicapainya. Penilaian terhadap

profitabilitas dapat dilihat dari harga saham, modal kerja, aset, dan tingkat

penjualan.

Rasio profitabilitas juga dapat didefinisikan sebagai efektivitas dari semua

kemampuan manajemen untuk memperoleh laba bagi entitas. Adalah hasil dari

berbagai keputusan dan kebijakan manajemen perusahaan dalam penggunaan

sumber-sumber pendanaan bagi perusahaan (Rahmawati, 2015).

2.2.8 Subsidiary Dari Perusahaan Multinasional

Che-Ahmad dan Abidin (2008) menyatakan jika adanya subsidiaries (anak

perusahaan) merupakan faktor penentu yang dapat memberikan pengaruh

terhadap audit delay pada sejumlah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek

Malaysia. Menurut PSAK 15, anak perusahaan adalah perusahaan yang di kontrol

oleh perusahaan induk. Subsidiary adalah perusahaan yang di kontrol secara

penuh oleh perusahaan induk karena anak perusahaan memperoleh modal dari

perusahaan lain (Ismaya dan Winarno,2006).

Kennedy et al. (2012) mengemukakan jika anak perusahaan yang bersifat

multinasional memiliki kecenderungan untuk melakukan penyelesaian proses

audit dengan lebih cepat. Agar dapat dilakukan konsolidasi, perusahaan harus

sesegera mungkin untuk mempersiapkan rekening pada akhir periode akuntansi.


Jadi, peranan anak perusahaan dalam mempercepat proses audit bagi perusahaan

induk sangatlah penting. Karim dan Ahmed (2005) menemukan audit delay pada

perusahaan multinasional dapat dipersingkat melalui KAP big five.

2.2.9 Tahun Tutup Buku Perusahaan

Sesuai dengan pernyataan Ahmad dan Abidin (2008) dalam Apriayanti

dan Santosa (2014), tahun tutup buku perusahaan adalah periode akhir bagi

perusahaan untuk menyelenggarakan pencatatan akuntansinya pada tahun tertentu.

Terdapat perbedaan antara tahun tutup buku di berbagai negara. Di Indonesia

tahun tutup buku perusahaan mempergunakan akhir tahun Masehi atau bulan

Desember.

Audit delay diduga dipengaruhi oleh bulan tutup buku perusahaan.

Disamping adanya syarat tertentu yang diberlakukan oleh pemerintah, syarat

utama yang harus dipenuhi adalah ketepatan waktu penyelesaian laporan

keuangan. Waktu tutup buku perusahaan pada satu negara yang saling berdekatan

dapat menimbulkan masalah pada waktu penyelesaian audit. Dampak tersebut

akan dialami oleh KAP yang menerima client dari berbagai perusahaan. Periode

ini sering disebut sebagai musim sibuk audit (Ansah, 2000 dalam Afif, 2011).

Permasalahan yang sering dialami oleh saat periode ini berlangsung adalah

keterbatasan jadwal audit dan personal audit yang dapat bertugas untuk

menyelesaikan setiap pekerjaan audit.


2.2.10 Opini Audit

Menurut Lestari (2010) dalam Wariyanti (2017) pernyataan opini yang

disampaikan oleh auditor berdasar pada temuan dan standar auditing yang telah

ditentukan. Auditor selaku pihak yang memiliki independensi dalam pelaksanaan

proses audit financial report perusahaan, akan menyampaikan pendapat terhadap

wajar tidaknya financial report perusahaan yang telah dilakukan proses audit.

Tahap-tahap pemberian opini audit harus dapat didasarkan pada kesimpulan yang

diperoleh dari financial report suatu perusahaan (Fachruddin, 2017). Menurut

Halim dan Budisantoso (2014) pemberian opini oleh auditor dapat diwujudkan

dalam 5 jenis opini yaitu: (1) Unqualified Opinion (Pendapat Wajar Tanpa

Pengecualian), (2) Unqualified Opinion Report With Explanatory Language

(Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan Tambahan Bahasa Penjelasan), (3)

Pendapat Wajar dengan Pengecualian, (4) Pendapat Tidak Wajar, (5) Disclaimer

Opinion (Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat).

Menurut Elliott dalam Primantara dan Rasmini (2015), lamanya audit

delay suatu perusahaan menyebabkan perusahaan tersebut menerima opini selain

WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Hal tersebut dikarenakan waktu yang

digunakan untuk berdiskusi antara perusahaan dan auditor lebih lama jika

perusahaan memperoleh opini selain WTP. Sebaliknya, waktu yang digunakan

untuk berdiskusi antara perusahaan dan auditor lebih singkat jika perusahaan

memperoleh opini WTP.


2.3 Penelitian Terdahulu

Berikut ini akan dijabarkan hasil pengamatan dari beberapa penelitian

terdahulu yang berkaitan erat dengan penelitian ini, antara lain sebagai berikut:

Tabel 1

Penelitian Terdahulu

Peneliti
No. Variabel Hasil Penelitian
dan Tahun
1. Apriayanti Dependen :  Keterlambatan audit
dan Keterlambatan Audit dipengaruhi oleh opini audit,
Setyarini Independen : ukuran umur perusahaan, audit fees,
Santosa perusahaan, debt equity ukuran kantor audit,
(2014) ratio, profitabilitas, subsidiary dari perusahaan
subsidiary dari multinasional, profitabilitas,
perusahaan dan ukuran perusahaan secara
multinasional, ukuran negatif signifikan
kantor audit, audit fees,  Keterlambatan audit
tipe industri, umur dipengaruhi oleh tipe industri
perusahaan, tahun tutup dan debt equity ratio secara
buku perusahaan dan positif
opini audit  Keterlambatan audit tidak
dipengaruhi oleh Tahun tutup
buku perusahaan
2. Made Tika Dependen : audit delay  audit delay dipengaruhi oleh
Widyastuti Independen : ukuran kompleksitas operasi
dan Ida perusahaan, perusahaan dan ukuran
Bagus Putra kompleksitas operasi perusahaan dan secara positif
Astika perusahaan dan jenis signifikan
(2017) industri  audit delay tidak dipengaruhi
oleh jenis industri secara
negatif
3. Ni Made Dependen : audit report  audit report lag dipengaruhi
Shinta lag oleh umur perusahaan secara
Widhiasari Independen : umur positif signifika
dan I Ketut perusahaan, ukuran  audit report lag tidak
Budiartha perusahaan, reputasi dipengaruhi oleh pergantian
(2016) auditor dan pergantian auditor dan ukuran perusahaan
auditor secara positif signifikan
 audit report lag tidak
dipengaruhi oleh reputasi
auditor secara negatif
4. Muhammad Dependen : audit report  audit report lag dipengaruhi
Faishal dan lag oleh rapat komite audit, dewan
P. Basuki Independen : ukuran komisaris independen dan
Hadiprajitno dewan komisaris, dewan Ukuran dewan komisaris
(2015) komisaris independen, secara negatif signifikan
ukuran komite audit,  audit report lag tidak
rapat komite audit dipengaruhi oleh ukuran
komite audit secara negatif
signifikan
5. Yosua Dependen : audit report  audit report lag dipengaruhi
Martin lag oleh konsentrasi kepemilikan,
Sutikno dan Independen : ukuran reputasi auditor dan opini
P. Basuki perusahaan, dewan auditor secara negatif
Hadiprajitno komisaris independen, signifikan
(2015) ukuran komite audit,  audit report lag tidak
opini auditor, reputasi dipengaruhi oleh ukuran
auditor, pergantian komite audit, dewan komisaris
auditor, konsentrasi independen dan Ukuran
kepemilikan perusahaan negatif signifikan
 audit report lag tidak
dipengaruhi oleh Pergantian
auditor secara positif
signifikan
6. Candra Dependen : audit report  audit report lag dipengaruhi
Jimmi lag oleh Audit tenure secara
Michael dan Independen : negatif signifikan
Abdul audit  Spesialisasi industri auditor
Rohman tenure dan ukuran KAP tidak memperlemah pengaruh
(2017) Moderasi : spesialisasi audit tenure terhadap audit
industri auditor report lag
 audit report lag tidak
dipengaruhi oleh ukuran KAP
secara negatif signifikan
Sumber: berbagai jurnal

2.4 Kerangka Pemikiran Teoritis dan Pengembangan Hipotesis

2.4.1 Kerangka Penelitian Teoritis

Audit delay adalah rentang waktu dalam satuan hari sejak tanggal

penerbitan laporan keuangan hingga tanggal penandatanganan laporan audit.

Ketepatan informasi yang diterbitkan oleh perusahaan dapat dipengaruhi oleh

audit delay yang dapat menjadikan adanya keputusan yang tidak pasti bila
mempergunakan informasi dari hasil penerbitan yang terlambat (Kartika, 2009).

Audit delay yang menjadi penyebab lambatnya penyampaian laporan keuangan

dapat berdampak buruk bagi perusahaan dan KAP sehingga akan bepengaruh

kepada pengambilan keputusan investor. Sejumlah faktor yang diduga dapat

memberikan pengaruh pada audit delay antara lain: ukuran perusahaan, umur

perusahaan, dewan komisaris independen dan kualitas audit.

Audit delay dapat dipercepat melalui ukuran perusahaan yang besar.

Perusahaan yang besar memiliki kecenderungan untuk mempersingkat audit delay

daripada perusahaan kecil. Hal tersebut dikarenakan adanya audit internal yang

baik pada perusahaan berskala besar untuk meminimalkan audit delay yang

terjadi. Pada perusahaan yang besar umumnya telah memiliki sistem kendali

internal yang baik dan efektif agar dapat mempertahankan operasional perusahaan

supaya dapat berjalan dengan lancar dan baik.

Audit delay juga dapat dipercepat melalui lamanya umur suatu

perusahaan. Perusahaan yang telah lama berdiri dapat mempersingkat audit delay

karena perusahaan tersebut lebih banyak berpengalaman dan memiliki sistem

kendali internal yang baik dibandingkan perusahaan yang baru saja berdiri.

Dengan demikian audit delay yang lebih singkat akan dimiliki oleh perusahaan

yang telah lama beroperasi karena proses auditing bisa dilakukan dengan efisien

dan efektif.

Disamping itu, eksistensi dewan komisaris independen juga dapat

memberikan pengaruh terhadap audit delay perusahaan. Hal tersebut dikarenakan

tidak tergabungnya dewan komisaris independen dengan pemegang saham,


dewan direksi, dan manajemen perusahaan sehingga mampu untuk melindungi

berbagai kepentingan shareholder dan adanya sistem kendali internal yang lebih

baik. Persentase yang tinggi pada dewan komisaris independen memperlihatkan

adanya peningkatan pengawasan terhadap perilaku oportunisme para manajer,

mampu mengurangi informasi yang tersembunyi, dan dapat meningkatkan

kualitas pengungkapan informasi pada financial report.

Selanjutnya, kualitas audit dengan proksi KAP diduga mampu

memberikan pengaruh terhadap audit delay. Hal tersebut dikarenakan KAP yang

memiliki ukuran besar lebih berpengalaman untuk menangani audit pada berbagai

perusahaan besar. KAP besar lebih memiliki staf auditor yang berkompeten dan

fasilitas lebih memadai daripada KAP kecil. Hal ini tentu saja akan lebih

membantu auditor dalam menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat sehingga dapat

mempersingkat audit delay. Kerangka berpikir yang dapat dibuat adalah:


Variabel Independen Ukuran Perusahaan
H1 (-)
Umur Perusahaan
H2 (-)

Dewan Komisaris Independen


H3 (-)

Kualitas Audit H4 (-)

Rasio Debt to Equity


Variabel Kontrol

Profitabilitas Audit Delay

Subsidiary dari Perusahaan multinasional

Tahun Tutup Buku Perusahaan

Opini Audit

Gambar 1
Kerangka Pemikiran Faktor - faktor yang Mempengaruhi Audit Delay

2.4.2 Pengembangan Hipotesis

2.4.2.1 Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Audit Delay

Ukuran perusahaan adalah suatu nilai penentu bagi besar kecilnya suatu

entitas yang dapat diukur dengan total aktiva, jumlah karyawan, total penjualan,

dan total ekuitas yang menjadi suatu ukuran dalam konteks produk organisasi dan

tuntutan pelayanan (Riyanto, 2008). Audit delay dapat dipercepat melalui ukuran

perusahaan yang besar. Perusahaan yang besar memiliki kecenderungan untuk

mempersingkat audit delay daripada perusahaan kecil. Hal itu dikarenakan

perusahaan bisa memiliki sistem kendali internal yang baik yang dapat

meminimalkan audit delay yang terjadi sehingga dapat menjaga kelangsungan

hidup perusahaan agar berjalan lancar dan baik. Perusahaan besar akan lebih
diawasi oleh pemerintah, BAPEPAM, dan investor sehingga perusahaan harus

dapat mempertahankan sebaiknya di mata publik dan stakeholder.

Penelitian Apriayanti dan Santosa (2014) dan Pourali et al. (2013)

mengemukakan jika audit delay dipengaruhi oleh ukuran perusahaan secara

negatif. Hipotesis penelitian adalah:

H1 : Ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap audit delay

2.4.2.2 Pengaruh Umur Perusahaan Terhadap Audit Delay

Umur perusahaan adalah waktu sejak perusahaan yang didirikan untuk

hidup (Poerwadarminta, 2003). Pada UU No.8/1997, perusahaan didefinisikan

sebagai suatu usaha dengan aktivitas tetap dan kontinu untuk mendapatkan

keuntungan di mana dapat dilakukan oleh badan usaha ataupun orang perorangan

yang berlokasi di Indonesia. Berdasarkan kedua definisi tersebut, maka dapat

umur perusahaan adalah lamanya waktu bagi perusahaan untuk terus hidup sejak

mulai didirikan hingga melakukan operasional sampai dengan waktu penelitian.

Lamanya suatu perusahaan berdiri dapat mempersingkat audit delaynya

karena semakin lama suatu perusahaan berdiri maka semakin banyak pengalaman

yang dimiliki sehingga sistem internalnya semakin baik dibandingkan dengan

perusahaan yang baru berdiri. Dengan demikian, audit delay akan semakin singkat

karena proses auditing dapat dilakukan dengan efektif dan efisien.

Penelitian Apriayanti dan Santosa (2014) mengemukakan jika audit delay

dipengaruhi oleh umur perusahaan secara negatif. Semakin tua umur suatu

perusahaan maka kecepatan publikasi laporan keuangan akan semakin cepat (Jeva

N dan Ratnadi, 2015). Hipotesis penelitian adalah:


H2 : Umur perusahaan berpengaruh negatif terhadap audit delay

2.4.2.3 Pengaruh Dewan Komisaris Independen Terhadap Audit Delay

Menurut KNKG (2006), dewan komisaris independen adalah orang yang

menjabat sebagai dewan komisaris yang tidak tergabung ke dalam pemegang

saham pengendali, anggota dewan komisaris, dan manajemen pada suatu

perusahaan dan tidak memiliki keterkaitan bisnis ataupun keterkaitan lainnya

yang berpengaruh terhadap kemampuan yang dimiliki orang tersebut agar dapat

tindak hanya untuk kepentingan perusahaan atau dapat bertindak secara

independen.

Eksistensi dewan komisaris independen juga dapat memberikan pengaruh

terhadap audit delay perusahaan. Hal tersebut dikarenakan tidak tergabungnya

dewan komisaris independen dengan pemegang saham, dewan direksi, dan

manajemen perusahaan sehingga mampu untuk melindungi berbagai kepentingan

shareholder dan adanya sistem kendali internal yang lebih baik. Segala bentuk

keputusan yang diambil khususnya mengenai perlindungan pihak lain yang terkait

dan pemegang saham minoritas (S, Abukosim et al. 2013). Pasal 20 ayat 3 POJK

No.33/PJOK/2014 mengemukakan jika dewan komisaris independen minimal

harus berjumlah 30% dari semua anggota dewan komisaris. Persentase yang

tinggi pada dewan komisaris independen memperlihatkan adanya peningkatan

pengawasan terhadap perilaku oportunisme para manajer, mampu mengurangi

informasi yang tersembunyi, dan dapat meningkatkan kualitas pengungkapan

informasi pada financial report (Swami dan Latrini, 2013).


Hasil penelitian Faishal dan Hadiprajitno (2015) mengemukakan jika audit

delay dipengaruhi oleh dewan komisaris independen secara negatif. Hal tersebut

sejalan dengan penelitian Swami dan Latrini (2013) mengemukakan jika audit

report lag dipengaruhi oleh dewan komisaris independen secara negatif. Hipotesis

penelitian adalah:

H3 : Dewan komisaris independen berpengaruh negatif terhadap audit delay

2.4.2.4 Pengaruh Kualitas Audit Terhadap Audit Delay

Menurut Akmal (2006), kualitas audit adalah suatu pencapaian yang

diperoleh suatu perusahaan sebagai bentuk kepuasan yang dapat menimbulkan

keinginan yang kuat untuk melakukan penilaian terhadap aktivitas perusahaan.

Sedangkan menurut Watkins et al. (2004), kualitas audit merupakan sesuatu yang

dimungkinkan bagi auditor untuk memperoleh temuan dan melaporkan kesalahan

penyajian material pada financial report perusahaan. Menurut SPAP (Standar

Profesi Akuntan Publik), kualitas hasil audit dapat dikatakan baik jika

pelaksanaan audit telah memenuhi standar dan ketentuan audit.

Kualitas audit lebih memberikan penekanan pada keleluasaan seorang

auditor (De Angelo, 1981). Auditor yang berukuran besar mampu untuk lebih

cepat menyelesaikan tugas audit dibandingkan auditor yang berukuran kecil.

Kualitas audit adalah suatu kecenderungan bagi auditor untuk memperoleh

temuan dan melaporkan kesalahan penyajian material dan auditor berhak untuk

mengompromikan kesalahan penyajian tersebut sebagai hal yang tidak dilaporkan.

Dalam penelitian ini digunakan proksi ukuran KAP.


Menurut Yuliana dan Ardiati (2004), KAP big four mempunyai kelebihan-

kelebihan yaitu prosedur dan sistem audit yang lebih baik, fasilitas yang

mencukupi, kemampuan auditor yang handal, keahlian auditor, dan kompetensi

auditor. Di mana kelebihan-kelebihan tersebut lebih baik daripada KAP big four.

KAP dapat bekerja secara efisien dan efektif. Umumnya, perusahaan yang

menggunakan jasa KAP big four mempunyai audit delay yang singkat daripada

KAP non big four. KAP besar memiliki pengalaman yang banyak karena terbiasa

melaksanakan audit pada berbagai perusahaan besar. Ukuran KAP yang besar

biasanya memiliki fasilitas dan staff auditor ahli yang lebih baik di bandingkan

dengan ukuran KAP yang kecil. Hal ini tentu saja akan lebih membantu auditor

dalam menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat sehingga dapat mempersingkat

audit delay.

Penelitian Apriayanti dan Santosa (2014) mengemukakan jika audit delay

dipengaruhi oleh ukuran KAP secara negatif. Audit delay dapat dipersingkat oleh

KAP yang berafiliasi dengan KAP big four (Setyani, 2015). Hipotesis penelitian

adalah:

H4 : Kualitas audit berpengaruh negatif terhadap audit delay