Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN LENGKAP

PERCOBAAN III

TITRASI REDOKS

NAMA : Sakinah
STAMBUK : A251 20 021
KELAS :B
KELOMPOK :3
ASISTEN : MOH. RAIS PERDANA PUTRA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN


ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TADULAKO

2021

PERCOBAAN III
TITRASI REDOKS

I. Tujuan percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu pembakuan larutan KmnO4 dengan
menggunakan natrium oksalat.

II. Dasar teori

Titrasi redoks merupakan analisis titrimetri yang didasarkan pada reaksi


redoks. Pada titrasi redoks sampel yang di analisis dititrasi dengan suatu indikator
yang bersifat sebagai reduktor atau oksidator, tergantung sifat dari analit sampel
dan reaksi yang diharapkan terjadi dalam analisis. Titik ekuivalen pada titrasi
redoks tercapai pada saat jumlah ekuivalen dari oksidator telah setara dengan
jumlah ekuivalen dari reduktor. Beberapa contoh dari titrasi redoks antara lain
titrasi permanganometri dan titrasi iodometri atau iodimetri. Titrasi iodometri
menggunakan larutan iodium (I2) yang merupakan suatu oksidator sebagai larutan
standar. Larutan iodium dengan konsentrasi tertentu dan jumlah berlebih
ditambahkan kedalam sampel, sehingga terjadi reaksi antara sampel dengan
iodium yang merupakan suatu oksidator sebagai larutan standar. Larutan iodium
dengan konsentrasi tetentu dan jumlah berlebih ditambahkan kedalam sampel,
sehingga terjadi reaksi antara sampel dengan iodium. Selanjutnya sisa iodium
yang berlebih dihitung dengan cara menitrasinya dengan larutan standar yang
berfungsi sebagai reduktor (Karyadi, 1994).

Suatu reaksi redoks dapat terjadi apabila suatu pengoksidasian bercampur dengan
zat yang dapat tereduksi. Dari percobaan masing-masing dapat ditentukan
pereaksi dan hasil reaksi serta koefisiennya masing-masing (Syukri, 1999).

Reduksi-oksidasi adalah proses perpindahan elektron dari suatu oksidator ke


reduktor. Reaksi reduksi adalah reaksi penangkapan elektron atau reaksi
terjadinya penurunan bilangan oksidasi. Sedangkan reaksi oksidasi adalah
pelepasan elektron atau reaksi penurunan dan kenaikan bilangan oksidasi.
Jika suatu logam di masukkan kedalam larutan yang mengandung ion logam lain,
ada kemungkinan terjadi reaksi redoks misalnya : Ni(s) + Cu2+(l) Ni2+(s)

+ Cu(s)

Artinya logam Ni dioksidasi menjadi Ni2+ dan Cu2+direduksi menjadi logam Cu


(Syukri, 1999).

Demikian pula, peristiwa redoks tersebut terjadi pada logam lain seperti besi,
sepotong besi yang tertutup lapisan air yang mengandung oksigen akan
mengalami korosi (Arsyad, 2001).

Dalam kehidupan sehari-hari korosi dikenal dengan besi berkarat yaitu


terbentuk senyawa Fe2O3 . H2O, dalam berbagai industri dibutuhkan cukuo besar
dana untuk mengatasi kerugian yang disebabkan oleh korosi. Proses korosi pada
dasarnya merupakan proses elektrolisis yaitu reaksi antara logam dengan zat lain
yang menyentuh permukaan sehingga membentuk oksida logam. Besi bertindak
sebagai anoda, permukaan logam dioksidasi dengan reaksi berikut :

Fe2+(s) + 2e- Fe(s)

1
Dan reaksi yang terjadi pada karbon sebagai katoda yaitu : O + H2O(g) + 2e-
2 2(g)

2OH-(aq)

Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya koreksi, salah satunya dengan
menutup permukaan logam dengan zat lain agar tidak terjadi kontak langsung
dengan lingkungan, seperti memberi Cu, mengoleskan minyak atau OH, atau
dengan cara melapisi logam dengan logam lain yang lebih mudah teroksidasi,
misalnya magnesium (Mg). Elektron yang dibutuhkan oleh oksigen diambil dari
magnesium bukan dari logam yang dilindungi. Suatu proses reduksi dan oksidasi
yang berlangsung secara spontan merupakan pengertian lain dari redoks. Dalam
artian selama berlangsungnya oksidasi, oksidatornya sendiri akan tereduksi pula
(Vogel, 1985).
III. Alat dan bahan
III.1 Alat
1. kaca arloji 2 buah
2. gelas kimia 200 mL 2 buah
3. erlenmeyer 3 buah
4. pipet volum 1 buah
5. termometer 1 buah
6. penangas listrik 1 buah
7. karet penghisap 1 buah
8. buret 1 buah
9. statif dan klem 1 buah
10. batang pengaduk 1 buah
11. spatula 1 buah
III.2 bahan
1. KmnO4 0,1 N
2. Natrium oksalat (Na2C2O4)
3. Larutan H2SO4 1,5 N
IV. Prosedur kerja

Adapun prosedur kerja pada percobaan ini yaitu :

1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Menimbang 0,2 gram natrium oksalat dan memasukkan ke dalam 3 buah
erlenmeyer
3. Menambahkan 25 mL asam sulfat 1,5 N ke masing-masing erlenmeyer
4. Memanaskan erlenemyer 1 dan 2 yang telah berisi larutan dengan temperatur
80˚C - 90˚C dengan menggunakan penangas listrik
5. Memasukkan KMnO4 ke dalam buret
6. Melakukan titrasi pada erlenmeyer 1 sampai larutan berubah menjadi warna
merah muda selama 20 detik
7. Mengulangi perlakuan nomor 1-4 untuk erlenmeyer 2
8. Mengulangi perkaluan nomor 1-3 untuk erlenmeyer 3
9. Memasukkan 25 mL asam sulfat 1,5 N dan menitrasi sampai warna larutan
menjadi merah muda (mirip larutan di atas)
V. Hasil pengamatan

Adapun hasil pengamatan pada percobaan ini yaitu :

No. Volume Na2C2O4 Volume KMnO4


1. 25 Ml 32 mL
2. 25 mL 48,6 mL
3. 25 mL 0,3 mL

VI. Reaksi-reaksi
Reaksi-reaksi yang terdapat dalam percobaan ini, yaitu :

a. Reaksi pembuatan KMnO4

4KMnO4 + H2O 4KOH + 4MnO4 + 3O2

(kalium permanganat) (aquades) (kalium hidroksida) (mangan hidroksida) (oksigen)

b. Reaksi Pembakar dengan Natrium Oksalat

5Na2C2O4 + 2KMnO4 + 8H2SO4 2MnSO4 + 5Na2SO4 + K2SO4 +

(natrium oksalat) (kalium permanganat) (asam sulfat) (mangan II sulfat) (disodium sulfat) (kalium

10CO2 + 8H2O

sulfat) (karbon dioksida) (aquades)

c. Reaksi antara asam sulfat dan kalium permanganat

4KMnO4 + 6H2SO4 4MnSO4 + 2K2SO4 + 5O3 + 6H2O

(kalium permanganat) (asam sulfat) (mangan II sulfat) (kalium sulfat) (oksigen) (aquades)

VII.Perhitungan
Adapun perhitungan dari percobaan ini yaitu :
Diketahui :
V1 Na2C2O4 = 25 ml
V2 Na2C2O4 = 25 ml
V3 Na2C2O4 = 25 ml
V1 KMnO4 = 32 ml
V2 KMnO4 = 48,6 ml
V3 KMnO4 = 0,3 ml
N KMnO4 = 0,1 N
Ditanya : N Na2C2O4 = ……?
Penyelesaian :
Titrasi Na2C2O4 dan H2SO4 dengan KMnO4
V 1+ V 2+V 3
V́ N a2 C 2 O 4=
3
25 ml+ 25 ml+25 ml
¿
3
¿ 2 5 ml

V 1 +V 2 +V 3
V́ K MnO 4=
3
32 ml+ 48,6 ml+ 0,3 ml
¿
3
¿ 27 ml

Sehingga :
N N a2 C 2 O 4 ∙ V N a2 C 2 O 4=N K MnO 4−V K MnO4
N N a2 C 2 O 4 ∙ 25 ml=0,1 N −27 ml
N N a2 C 2 O 4=0,108 N

VIII. Pembahasan
Titrasi redoks merupakan analisis yang didasarkan pada reaksi redoks. Pada
titrasi redoks, sampel yang dianalisis titrasi dengan suatu indikator yang bersifat
sebagai reduktor atau oksidator, tergantung sifat dari analit sampel dan reaksi
yang diharapkan terjadi dalam analisis. Titik ekuivalen pada titrasi redoks tercapai
saat jumlah ekuivalen dari oksidator telah setara dengan jumlah ekuivalen dari
reduktor. Beberapa contoh dari titrasi redoks antara lainnya adalah titrasi
permanganometri dan titrasi iodimetri atau iodometri titik titrasi iodometri
menggunakan larutan iodium (I²) yang merupakan suatu oksidator sebagai larutan
standar titik larutan dengan konsentrasi tertentu dan jumlah berlebih ditambahkan
ke dalam sampel sehingga terjadi reaksi antara sampel dengan iodium selanjutnya
sisa iodium yang berlebih dihitung dengan cara mentitrasinya dengan larutan
standar yang berfungsi sebagai reduktor (Karyadi, 1994).

Praktikum ini bertujuan untuk pembekuan larutan KmnO4 dengan


menggunakan natrium oksalat (Staf pengajar kimia analitik, 2021).

Prinsip dasar dari percobaan ini yaitu salah satu jenis dari redoks yaitu titrasi
dengan menggunakan larutan kalium permanganat yaitu KmnO4 itu mudah terurai
oleh cahaya dan mudah terurai oleh zat organik (Staf pengajar kimia analitik,
2021).

Prinsip kerja dari percobaan ini yaitu dengan menggunakan suatu proses
kuantitatif yaitu metode titrasi dimana pada titrasi ini tidak membutuhkan sebuah
indikator karena larutan KmnO4 yang digunakan sudah berwarna. Jenis titrasi
yang digunakan yaitu titrasi permangantimetri yang merupakan titrasi reaksi
reduksi berlangsung dalam suasana asam maupun basa. Karena KmnO 4
merupakan oksidator kuat yang mampu mengoksidasi zat. Dalam hal ini larutan
Na2C2O4 ditambahkan dengan larutan H2SO4 (Staf pengajar kimia analitik, 2021).

Perlakuan pada percobaan ini yaitu pertama-tama menyiapkan alat dan bahan,
kemudian menimbang 0,2 gram natrium oksalat kedalam 3 erlenmeyer,
menambahkan 25 mL asam sulfat 1,5 N. Kemudian memanaskan erlenmeyer 1
dan 2 yang berisi larutan samoai larutan terasa hangat. Fungsi penambahan asam
sulfat yaitu untuk menggambarkan larutan. Pada saat penambahasan asam sulfat
larutan berwarna bening. Fungsi dilakukan pemanasan yaitu untuk mempercepat
terjadinya suatu reaksi. Pada saat pencampuran larutan pemanasan campuran
larutan berwarna bening. Selanjutnya mentitrasi ke 3 erlenmeyer dengan kalium
permanganat. Larutan kalium permanganat berfungsi sebagai titran dan sekaligus
sebagai indikator pembakuan. Titrasi dilakukan sampai larutan tersebut berwarna
merah muda. Hasil yang di peroleh pada volume KmnO 4 pada erlenmeyer 1 yaitu
32 mL, erlenmeyer 2 adalah 48,6 mL dan erlenmeyer 3 adalah 0,3 mL.

Berdasarkan literatur yang ada, hasil dari titrasi yang kami dapatkan dengan
literatur itu berbeda, pada literatur larutan natrium oksalat dengan asam sulfat
yang di titrasi dengan kalium permanganat menghasilkan warna ungu kecoklatan,
sedangkan hasil warna yang kami peroleh yaitu larutan berwarna merah muda
(Karyadi, 1994).

Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada percobaan ini yaitu ketidak telitian


praktikan dalam melakaukan praktikum dan tidak hati-hati, serta terjadinya
kesalahan pada saat titrasi yaitu tidak mengkalibrasi alat dengan baik dan benar
(Staf pengajar kimia analiti, 2021).

IX. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
larutan KMnO4 merupakan larutan baku sekunder yang perlu di standarisasi
menggunakan Na2C2O4 agar diketahui konsentrasinya. Sedangkan larutan yang
akan di titrasi yaitu H2SO4.

DAFTAR PUSTAKA
Staf Pengajar Kimia Analitik.(2021). Penuntun Praktikum Kimia Analitik. Palu:
Universitas Tadulako.

Karya. (1994). Menentukan Titrasi Redoks. Surabaya: Urania.

Karyadi. (1994). Kimia 2. Jakarta: Balai Pustaka.

Syukri. (1999). Kimia dasar 2. Bandung: ITB.

Vogel. (1985). Analisis AnOrganik Kuantitatif Makro dan Semimikro. Jakarta:


PT.Kalman Media Pusaka.