Anda di halaman 1dari 6

.

         Pada umumnya masyarakat menganggap Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau
birokrat  sebagai pekerja yang digaji rendah oleh Negara (kecuali para pejabatnya yang
mendapat tambahan pendapatan dari tunjangan jabatan yang dimiliki), memiliki etos
kerja yang rendah,  sistem perekrutan pegawai dilandasai dengan KKN (Korupsi,
Kolusi, dan Nepotisme),  bidang pekerjaannya terkadang tidak sesuai dengan keahlian
yang dimiliki, minta dilayani masyarakat dan bukannya melayani masyarakat, atau tidak
bekerja penuh waktu karena pekerjaannya terlampau sedikit.  Untuk lebih memperkaya
wacana bagi mahasiswa mengenai materi yang disampaikan di Modul 5 tentang
Birokrasi, pada Kegiatan Belajar 5 mengenai Kelemahan dan Problema dalam Birokrasi
maka berikut ini dijelaskan permasalahan suap dan korupsi, dimana kedua istilah
tersebut sering melekat pada kinerja birokrat.

HAKIKAT SUAP DAN KORUPSI

         Tidak ada yang tahu persis kapan istilah suap digunakan sebagai hal yang
berkaitan dengan korupsi.  Jika ditilik dari kamus bahasa Indonesia, maka suap dapat
berarti memasukkan sesuatu yang dilakukan seseorang ke dalam mulut orang lain. Jadi
tidak ada istilah suap yang digunakan untuk diri sendiri.  Contohnya, seorang ibu
menyuapi anaknya dengan bubur kacang hijau. Tidak ada kalimat seperti,� saya
menyuapi mulut saya dengan nasi, dengan menggunakan tangan saya sendiri�. 
Selain arti suap di atas ada lagi arti suap yang lain yang sama artinya dengan sogok. 
Kata sogok juga sebenarnya dapat berarti melakukan sesuatu kegiatan dengan
menggunakan alat (misalnya kayu) untuk meraih, menjatuhkan, atau menggeser suatu
benda.  Contohnya, seorang anak kecil menyogok sebuah layang-layang dengan
sebilah bambu    yang terkait di ranting sebuah pohon agar layang-layang tersebut
dapat jatuh dan diambil. Namun dalam perkembangannya ke dua istilah tersebut
digunakan dalam hubungannya dengan seseorang yang melakukan tindak korupsi.

1
        Istilah suap yang berasal dari bahasa Inggris �to bribe�  yang berarti menyuap
atau menyogok. Suap-menyuap bersama-sama dengan penggelapan dana-dana public
(embezzlement of public funds) sering disebut sebagai inti atau bentuk dasar  dari
tindak pidana korupsi. 

         Korupsi sendiri berasal dari kata �to corrupt� yang berarti membusukkan,
merusakkan atau membinasakan, atau dijelaskan sebagai suatu perusakan integritas,
kebajikan atau asas-asas moral (an impairment of integrity, virtue, or moral principles).

         Tindakan korupsi termasuk suap menyuap dianggap sebagai tindakan kriminal,
sebagai suatu kejahatan yang  tidak lagi dipandang sebagai kejahatan biasa atau
konvensional tapi sudah menjadi kejahatan luar biasa (extraordinary crime).  Korupsi
mempunyai karakter yang sangat kriminogin yang dapat menjadi faktor pemicu
munculnya kejahatan yang lain, atau bersifat viktimogin, yaitu secara potensial dapat
merugikan pelbagai dimensi kepentingan, terutama menyangkut kepentingan
masyarakat umum.

         Dampak yang diakibatkan oleh tindak korupsi sangatlah besar dimana dalam
jumlah besar secara siginifikan dapat menimbulkan ancaman terhadap stabilitas dan
keamanan masyarakat, dapat merusak institusi serta nilai-nilai demokrai, nilai-nilai etika
dan keadilan, diskriminatif serta mengganggu jalannya etika dan kompetisi kerja yang
jujur, mencederai pembangunan  serta merusak tegaknya sistem hukum.

         Tindak pidana korupsi dalam skala besar jelas sangat memiliki potensi merugikan
keuangan dan perekonomian Negara dalam jumlah yang besar pula yang pada
akhirnya dapat mengganggu sumber daya pembangunan dan membahayakan stabilitas
politik suatu Negara.  Tindakan korupsi skala besar bisa pula berarti bersifat multilateral
dan transnasional, seperti tindakan penyuapan yang dilakukan oleh perusahaan asing
yang beroperasi di suatu Negara kepada pejabat-pejabat Negara tersebut(commercial
corruption). 

         Tidak saja dalam aspek perdagangan, tindak pidana korupsi juga merambah
bidang yang lain sehingga menimbulkan bahaya terhadap keamanan umat manusia

2
seperti dalam bidang pendidikan, kesehatan, penyediaan sandang pangan rakyat,
keagamaan, hukum dan fungsi-fungsi pelayanan social lainnya.   Tindakan korupsi
jelas-jelas merusak mental aparatur Negara atau para birokrat.  Untuk memperoleh
kekayaan yang banyak, para aparatur Negara tidak malu-malu dan segan lagi
melanggar  sumpah jabatan serta kode etik pegawai negeri.

         Dari beberapa hal tersebut di atas maka telah muncul dalam pandangan
masyarakat bahwa elemen tindakan koruspi tidak perlu harus mengandung secara
langsung unsur merugikan keuangan atau perekonomian Negara.  Selain tindakan
korupsi maka tindakan yang dianggap sejenis adalah tindakan suap-menyuap.  Suap
menyuap biasanya dilakukan agar tujuan yang diinginkan oleh si penyuap dapat
terlaksana tanpa ada hambatan, baik hambatan waktu maupun prosedur.  Dengan
demikian  mereka yang disuap adalah aparatur Negara yang mempunyai kewenangan
dan kekuasaaan dalah hal perijinan.  Agar ijin bisa diperoleh dengan cepat minimal
sama dengan prosedur yang harus ditempuh, dan supaya tidak dipersulit oleh aparatur
Negara yang mengeluarkan ijin maka dilakukanlah tindakan penyuapan tersebut. 
Kapan munculnya tindakan penyuapan? Siapa yang memulai? Untuk menjawab hal
tersebut sama dengan pertanyaan lebih dulu ada, ayam atau telur.  Dalam kasus
penyuapan, maka biasanya pihak yang dianggap mau disuap akan menyanggah
dengan argumentasi kalau tidak disuap maka tentu aparatur Negara tidak akan
terggoda untuk menerima suap.  Dalam  hal ini dianggap pihak lain yang melakukan
suap terlebih dahulu.  Sebaliknya bagi si penyuap akan ada argumentasi, jika prosedur
perijinan lancar maka tentu tidak  tidak perlu dilakukan penyuapan.  Dalam hal ini si
penyuap menganggap adanya keterpaksaan dalam melakukan penyuapan. 

         Dalam tindakan suap menyuap maka berdampak pada  tindakan penyalahgunaan
kekuasaan, perlakukan pembedaan (diskriminatif) dengan cara memberikan
penanganan secara khusus atau privilese atas dasar keuntungan finansial, pelanggaran
kepercayaan, ketidakjujuran, perekayasaan laporan, bahaya terhadap hak asasi
manusia dan lain sebagainya.

LANGKAH PENANGANAN

3
         Seorang Presiden Bank Dunia pernah mengatakan mengenai masalah suap di
Negara berkembang yang dikatakan sebagai �the cancer of developing countries�
sehingga menyarankan  agar dilakukan langkah penanganan untuk mengatasi dan
menuntaskan permasalahan suap menyuap tersebut. 

         Bangsa Indonesia yang menyatakan diri sedang melakukan  gerakan reformasi
yang dimulai pada tahun 1998 tersebut berusaha mewujudkan pemerintahan yang
bersih dan bebas KKN dengan melalui berbagai  metode dan tindakan pada berbagai
bidang yang terkait. 

         Dari sisi hukum maka berbagai substansi hukum telah dibuat untuk memberantas 
KKN serta menciptakan  penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas KKN seperti
TAP MPR No. XI/MPR/1998 dan UU No. 28 Th 1999, UU. No. 31 Th. 1999 jo UU No.
20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, UU No. 15 Tahun 2002
jo UU No. 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, UU No. 30 Tahun
2002 tentang Pembentukan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Selain itu
untuk menunjukkan kesungguhannya dalam melawan korupsi, pemerintah Indonesia
turut menandatangani UN Convention Against Corruption, Vienna, Th. 2003.  Aspek
yang menonjol dalam konvensi ini adalah:

(1) penekanan pada unsur pencegahan,

(2) kriminalitas yang lebih luas,

(3) kerjasama internasional, dan

(4) pengaturan lembaga asset recovery untuk mengembalikan asset yang dilarikan ke
luar negeri.

         Dari segi kebijakan Negara, telah dikeluarkan instruksi Presiden berupa delapan
prioritas dalam upaya pemberantasan korupsi, serta berbagai upaya yang telah
dilakukan Presiden  dalam rangka mengakseleras pemberantasan tindak pidana
korupsi.   Upaya Presiden tersebut harus ditanggapi positif dan harus ditindaklanjuti

4
oleh pejabat atau instansi yang berwenang.  Memang tidak mudah untuk melaksanakan
semua hal yang menyangkut upaya pemberantasan tindak pidana korupsi, karena
pihak yang akan terkena dampak atau yang nantinya akan ditindak karena keterlibatan
dalam kasus korupsi akan berusaha untuk menggagalkan upaya Presiden tersebut.

         Dilihat dari aspek hukum telah dibentuk Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi dimana atas dasar  UU No. 30 Tahun 2002 dimungkinkan pula pembentukan
pengadilan tindak pidana korupsi yang bersifat khusus pengadilan ad hoc.  Selain itu
dibentuk pula komisi kepolisian, komisi kejaksaan, komisi  yudisial untuk mengawasi
perilaku penegak hukum.

        Dari berbagai bentuk tindakan dan upaya pemberantasan  tindak pidana korupsi
tersebut di atas yang telah dilakukan secara maksimal baik di bidang substansi maupun
dari aspek hukumnya dimana apabila upaya tersebut masih di anggap gagal atau
belum berhasil secara memuaskan maka persoalannya adalah cenderung berkaitan
dengan budaya hukum serta kualitas moral sumberdaya manusianya, yang berupa
pandangan, persepsi,sikap, perilaku, maupun falsafah dari para anggota masyarkat
yang kontraproduktif.  Terutama menyangkut budaya hukum dari mereka yang terlibat
dalam penegakan hukum yang nampaknya belum sepenuhnya dapat menyesuaikan diri
dengan semangat reformasi. 

KESIMPULAN

         Korupsi serta suap menyuap atau dalam aspek yang lebih luas dikenal dengan
istilah KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) pada dasarnya dapat dicegah dan
diberantas dengan cara-cara yang luar biasa.  Yang paling pokok adalah  adanya
pemerintahan yang tegas, rekrutmen kepemimpinan dalam berbagai struktur dan

5
bidang yang bersih, strategi pencegahan dan penanggulangan yang menyeluruh dan
sistematis baik dari segi preventif, represif, dan detektif.

         Dilain pihak perlu diberdayakan di bidang lembaga hukum, penegakan kode etik
pegawai  secara tegas baik di lingkungan negeri maupun swasta, serta adanya
partisipasi aktif  dari segala aspek masyarakat  serta perlu dipertimbangkannya
peningkatan kesejahteraan pegawai. 

         Perlu adanya pengawasan dan pengendalian yang ketat terhadap seseorang atau
lembaga yang mempunyai kewenangan  serta monopoli kekuasaan  karena mereka
dianggap sebagai sumber atau munculnya kesempatan untuk melakukan korupsi.

[atas][latihan][home]