Anda di halaman 1dari 2

1.

Carding termasuk dalam kategori perbuatan yang dilarang dalam Pasal 30 ayat (3)
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
(“UU ITE”):Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses
Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apapun dengan melanggar,
menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengamanan. Pelanggaran terhadap Pasal
30 ayat (3) UU ITE tersebut diancam pidana penjara paling lama 8 tahun dan/atau denda
paling banyak Rp800 juta.[2] Serta berpotensi dijerat menggunakan Pasal 32 ayat (1) UU
ITE yang berbunyi:Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum
dengan cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak,
menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik milik Orang lain atau milik publik.Pelanggaran terhadap Pasal 32
ayat (1) UU ITE di atas dipidana penjara paling lama 8 tahun dan/atau denda paling
banyak Rp2 miliar.[3] hendaknya konrban tidak hanya sekedar menolak tagihan yang
disampaikan oleh pihak bank. Karena pihak bank hanya mengetahui bahwa Anda
pengguna sah dari kartu kredit tersebut. Anda dapat menyampaikan bahwa kartu kredit
Anda bisa jadi terkena kejahatan carding, sehingga tagihan terhadap transaksi tersebut
dapat ditelusuri lebih lanjut, bahwa bukan Anda yang melakukannya.
2. hubungan antara nasabah dengan bank adalah hubungan antara konsumen dan pelaku
usaha yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen (“UU 8/1999”).Bank wajib memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau
penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai
dengan perjanjian. Bank selaku pelaku usaha juga bertanggung jawab memberikan ganti
rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi
barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan.  Ganti rugi dapat berupa
pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara
nilainya, atau perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.  Pemberian ganti rugi tidak
menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih
lanjut mengenai adanya unsur kesalahan.  Akan tetapi, ketentuan ganti rugi tidak berlaku
jika pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan
konsumen Maka, jika salah satu faktor penyebab pembobolan rekening yang Anda alami
adalah kesalahan dari pihak bank, maka Anda berhak atas ganti kerugian dari pihak bank.
3. Beralihnya Hak Milik
Sebelum berbicara peralihan hak milik suatu barang, perlu dipahami dulu bahwa KUH
Perdata mengatur pembagian benda menjadi 2 macam, benda bergerak dan benda tidak
bergerak. suatu benda dapat tergolong dalam golongan benda yang tidak bergerak pertama
karena sifatnya, kedua karena tujuan pemakaiannya, dan ketiga karena memang
demikian ditentukan oleh undang-undang. Subekti juga menjelaskan suatu benda dihitung
termasuk golongan benda yang bergerak karena sifatnya atau karena ditentukan oleh
undang-undang. Suatu benda yang bergerak karena sifatnya ialah benda yang tidak
tergabung dengan tanah atau dimaksudkan untuk mengikuti tanah atau bangunan, jadi
misalnya barang perabot rumah tangga. Tergolong benda yang bergerak karena penetapan
undang-undang ialah surat-surat obligasi negara, dan sebagainya.

Masih bersumber dari artikel yang sama, menurut Frieda Husni Hasbullah dalam


bukunya Hukum Kebendaan Perdata: Hak-Hak Yang Memberi Kenikmatan (hal. 45-48),
sebagaimana disarikan, pentingnya pembedaan benda bergerak dan tidak bergerak
berkaitan dengan salah satunya yaitu levering (penyerahan).
 
Menurut Pasal 612 KUH Perdata, penyerahan benda bergerak dilakukan dengan
penyerahan nyata (feitelijke levering) oleh atas nama pemilik. Dengan sendirinya
penyerahan nyata tersebut adalah sekaligus penyerahan yuridis (juridische levering).
 
Sedangkan menurut Pasal 616 KUH Perdata, penyerahan benda tidak bergerak dilakukan
melalui pengumuman akta yang bersangkutan dengan cara seperti ditentukan dalam Pasal
620 KUHPer antara lain membukukannya dalam register. Dengan berlakunya Undang-
Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (“UUPA”),
maka pendaftaran hak atas tanah dan peralihan haknya menurut ketentuan  Pasal 19
UUPA dan peraturan pelaksananya, karena bukti kepemilikan hak atas suatu bidang tanah
dibuktikan dengan adanya sertifikat tanah.
 
Definisi hak milik dapat kita lihat di Pasal 570 KUH Perdata, yakni:
 
Hak milik adalah hak untuk menikmati suatu barang secara lebih leluasa dan untuk
berbuat terhadap barang itu secara bebas sepenuhnya, asalkan tidak bertentangan
dengan undangundang atau peraturan umum yang ditetapkan oleh kuasa yang berwenang
dan asal tidak mengganggu hak-hak orang lain; kesemuanya itu tidak mengurangi
kemungkinan pencabutan hak demi kepentingan umum dan penggantian kerugian yang
pantas, berdasarkan ketentuan perundang-undangan.
 
Sedangkan cara memperoleh hak milik menurut Pasal 584 KUH Perdata dilakukan sesuai
dengan bunyi berikut:
 
Hak milik atas suatu barang tidak dapat diperoleh selain dengan pengambilan untuk
dimiliki, dengan perlekatan, dengan lewat waktu, dengan pewarisan, baik menurut
undang-undang maupun menurut surat wasiat, dan dengan penunjukan
atau penyerahan berdasarkan suatu peristiwa perdata untuk pemindahan hak milik, yang
dilakukan oleh orang yang berhak untuk berbuat terhadap barang itu.
 
Sehingga dengan kata lain hak milik salah satunya dapat dilakukan dengan penyerahan
berdasarkan suatu peristiwa perdata. Peristiwa perdata yang dimaksud adalah jual beli,
yang dalam hal ini jual beli dapat dilakukan dengan cara kredit/ mencicil.