Anda di halaman 1dari 11

SASARAN DAN PENETAPAN MATERI KEGIATAN PENYULUHAN

Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Dasar-dasar Penyuluhan

Dosen Pengampu :
Dra. Rini Laili Prihatini, M.Si

Penyusun :
Neli (11190520000044)
L.Mutammimah (11190520000045)
Aulia Putri (11190520000066)

PRODI BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM


FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2020
BAB I
Pendahuluan
1. Latar Belakang
Penyuluh sebagai salah satu pihak yang penting dalam memajukan berbagai
bidang di Indonesia harus memiliki pemahaman tentang sasaran dan materi penyuluhan
yang baik agar dapat diterima oleh khalayak sasaran. Penyuluhan merupakan upaya-
upaya yang dilakukan untuk mendorong terjadinya perubahan perilaku pada individu,
kelompok, komunitas, ataupun masyarakat agar mereka tahu, mau, dan mampu
menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.
Penyuluhan yang baik sangat dipengaruhi oleh sasaran dan materi pembelajaran
penyuluhan yang disampaikan kepada khalayak sasaran. Penyuluh yang mampu
mengetahui kondisi khalayak sasaran dan materi pembelajaran penyuluhan dengan baik
akan memiliki kemampuan dalam meningkatan pengetahuan dan keterampilan
khalayak sasaran dalam mengadopsi proses pembelajaran penyuluhan tersebut,
sehingga mereka dapat menerapkannya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Maka dari itu, penting untuk seorang penyuluh mempelajari keduanya (khalayak
sasaran dan Materi Penyuluhan).

2. Rumusan Masalah
1. Apa perbedaan antara Sasaran dan Tujuan?
2. Apa hubungan antara Penyuluhan, Penyuluh dan Khalayak Sasaran?
3. Apa yang dimaksud dengan Materi pada Kegiatan Penyuluhan?
4. Apa saja hal-hal yang harus diperhatikan saat melakukan penyuluhan?
BAB II
Pembahasan
1. Sasaran dan Tujuan
Dalam KBBI, kata Sasaran memiliki banyak arti, yaitu: (1) bulan-bulanan, yang
disasarkan, hasil menyasar; (2) sesuatu yang menjadi tujuan (yang dikritik, dimarahi,
dan sebagainya); (3) bagian tubuh di atas garis khayal pada pusar sampai batas telinga,
tidak termasuk lengan dan bahu. Sasaran berbeda dengan tujuan. Tujuan berarti hal
yang ingin dituju. Tujuan lebih sebagai kata sifat atau penyemangat. Hal ini
dikarenakan tujuan lebih abstrak dibandingkan dengan sasaran. Pendefinisian pada
tujuan juga bersifat normatif dan periode waktunya lebih umum. Sehingga tingkat
keterukuran dari tujuan lebih tidak terukur. Dan kelompok targetnya pun menjadi tidak
spesifik. Karena ke-abstrakan dari tujuan, maka dibuatlah sasaran yang ingin dicapai.
Sasaran adalah tingkat-tingkat atau tahapan-tahapan untuk mencapai tujuan. Apabila
pada tujuan tingkat keabstakannya lebih abstrak, maka pada sasaran tingkat
keabstrakannya lebih konkret. Cara pendefinisian pada sasaran pun bersifat operasional
dan periode waktunya lebih spesifik.
Pada Bidang Penyuluhan, sasaran dan tujuan pun berbeda. Kita ambil contoh
saat kita akan melakukan penyuluhan tentang kebersihan (cuci tangan) di Sekolah
Dasar. Tujuan dari penyuluhan ini adalah memberi kesadaran kepada siswa-siswi agar
rajin mencuci tangan di kondisi pandemi seperti ini walaupun berada di sekolah. Dan
sasaran penyuluhannya adalah dimulai sejak penyuluh memberi materi kepada guru,
dan selanjutnya saat guru menyampaikan materi kepada siswa-siswi. Dapat kita
simpulkan bahwa tujuan adalah sesuatu yang akan kita tuju, sedangkan sasaran adalah
tahapan untuk mencapai tujuan tersebut. Pada bidang ini, individu atau masyarakat
yang akan menjadi objek penyuluhan disebut dengan Khalayak Sasaran.

2. Penyuluhan, Penyuluh dan Khalayak Sasaran


Penyuluhan merupakan upaya-upaya yang dilakukan untuk mendorong
terjadinya perubahan perilaku pada individu, kelompok, komunitas, ataupun
masyarakat agar mereka tahu, mau, dan mampu menyelesaikan permasalahan yang
dihadapi. Tujuan penyuluhan tidak lain adalah mewujudkan kehidupan manusia yang
berkualitas dan bermartabat.1 Tidak semua elemen masyarakat memahami esensi
penyuluhan, dan lebih mengartikan penyuluhan secara dangkal sebagai sebuah aktivitas
sesaat. Penyuluhan sering digambarkan sebagai aktivitas petugas dari lembaga tertentu
datang ke sebuah pertemuan, berceramah, lalu tanya jawab, dan akhirnya pergi. Di
kalangan awam, hal inilah yang dianggap sebagai sebuah penyuluhan, hanya pada
tataran orang baru “tahu” akan sesuatu. Maka dari itu, menjadi tanggung jawab kita
bersama sebagai insan cendikia di bidang ilmu penyuluhan, untuk bersama-sama
membangun dan mengembangkan citra yang benar dan utuh tentang penyuluhan
sebagai sebuah ilmu dan sebuah gerakan transformasi masyarakat melalui
pengembangan potensi yang dimiliki dengan pendekatan edukasi, melakukan upaya
penyelesaian masalah, menuju tatanan kehidupan yang lebih bermutu dan bermartabat.2
Khalayak adalah kelompok tertentu dalam masyarakat yang menjadi sasaran
Komunikasi. Sasaran adalah sesuatu yang menjadi tujuan. 3 Jadi, khalayak sasaran
adalah sekelompok masyarakat yang dijadikan sasaran guna mencapai target yang
sudah ditentukan. Khalayak sasaran dapat dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu:
(a) perorangan; (b) kelompok; (c) komunitas dan (d) lembaga.
1. Perorangan.
Setiap orang dalam memenuhi kebutuhannya dan dalam hidup bermasyarakat
pasti memiliki permasalahan dan hambatan. Permasalahan dan hambatan tersebut
dapat berkaitan dengan keterbatasan pengetahuan, keahlian, keterampilan,
kemampuan, pola pikir dan sebagainya, yang kesemuanya itu memerlukan bantuan
pihak lain. Bantuan tersebut dapat berupa bimbingan dan konseling, pelayanan
kesehatan, pembinaan mental, agama dan budi pekerti, pelatihan keterampilan,
pembinaan pemanfaatan sumber daya, bimbingan belajar, pelayanan konsultasi dan
pembinaan anak berkelainan dan sebagainya
2. Kelompok.
Kiranya masih banyak kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat yang
memerlukan pembinaan, pendidikan, pelatihan dan penyuluhan guna meningkatkan
kemajuannya. Kelompok ini antara lain kelompok pedagang kaki lima dan

1
Amanah, Siti. (2007). Jurnal Penyuluhan: Makna Penyuluhan dan Transformasi Perilaku Manusia, 3(1), hlm.
63.
2
Amanah, Siti. (2007). Jurnal Penyuluhan: Makna Penyuluhan dan Transformasi Perilaku Manusia, 3(1), hlm.
64.
3
Lihat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, (2003).
kelompok pedagang kecil lainnya, kelompok pengrajin dan industri rumah tangga,
kelompok petani dan peternak tradisional, kelompok pemuda putus sekolah,
kelompok penganggur, kelompok wanita tuna susila, kelompok gelandangan,
kelompok anak jalanan, kelompok usia lanjut, dan sebagainya.
3. Komunitas.
Komunitas dalam arti luas meliputi komunitas pedesaan dan perkotaan yang
secara sosial ekonominya masih tertinggal sehingga masih memerlukan pembinaan,
peningkatan dan pengembangan. Termasuk dalam komunitas ini adalah mereka
yang memiliki potensi namun belum dimanfaatkan atau dikembangkan sehingga
diperlukan bimbingan, pelatihan dan pembinaan guna mencapai kemajuan.
4. Lembaga.
Lembaga-Iembaga yang ada dalam masyarakat diduga masih banyak yang
memerlukan bantuan keahlian, keterampilan dan pembinaan dalam melaksanakan
tugas dan program kerjanya. Bantuan tersebut diperlukan dalam rangka
meningkatkan kinerja lembaga agar dapat berfungsi secara efektif. Lembaga-
Iembaga tersebut antara lain meliputi Lembaga Pendidikan, Lembaga Keagamaan,
Lembaga Sosial Kemasyarakatan, Lembaga Ekonomi, Lembaga Olahraga dan
Lembaga Kesehatan Masyarakat.4
Seorang penyuluh dapat dikatakan juga sebagai agent of change, karena mereka
memberi bantuan kepada khalayak sasaran untuk mendapatkan hidup yang lebih
baik dari sebelumnya. Seperti yang dikatakan oleh Nasution 5 bahwa:
a. Penyuluh merupakan orang yang membantu terlaksananya perubahan sosial
atau suatu inovasi.
b. Seorang penyuluh merupakan indikator yang menentukan keberhasilan dari
penyuluhan sehingga seorang penyuluh harus memiliki kualifikasi
keterampilan berkomunikasi.
c. Sikap penyuluh, merupakan indikator dari keberhasilan penyuluhan karena
sikap merupakan daya tarik dari khalayak sasaran dimana seorang penyuluh
dianggap mampu menyampaikan pesan yang ingin diberikan.
d. Kemampuan pengetahuan penyuluh merupakan indikator keberhasilan,
Menguasai materi merupakan gambaran bahwa penyuluh memiliki

4
Sukidjo, (2000). Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama: Tujuan dan Khalayak Sasaran PPM, 1(1), hlm. 69-70.
5
Zulkarnaen Nasution, (1990). Prinsip-prinsip komunikasi untuk penyuluhan, hlm.7-8.
pengetahuan yang luas terhadap informasi yang disampaikan termasuk
keterampilan komunikasi dalam hal menjawab pertanyaan dari khalayak
sasaran.
e. Karakteristik sosial budaya penyuluh, merupakan indikator keberhasilan
penyuluhan, keadaan latar belakang sosial budaya dapat menentukan
keberhasilan penyuluhan, karena itu penyuluh yang baik sejauh mungkin
memiliki latar belakang sosial budaya yang sesuai dengan keadaan sosial
budaya khalayak sasarannya. Banyak komunikator gagal dalam
berkomunikasi karena tidak mengenal komunikan yang menjadi sasaran
komunikasi, salah satunya latar belakang budaya. Kesamaan merupakan
faktor yang memudahkan penerimaan pesan oleh audiens. Orang lebih
tertarik pada komunikator yang mempunyai banyak kesamaan dengan
audiensnya misalnya hobi, minat, asal suku. Hal itu pun berlaku juga pada
penyuluh dan khalayak sasarannya.

3. Materi pada Kegiatan Penyuluhan


Materi penyuluhan, pada hakikatnya merupakan segala pesan yang ingin
dikomunikasikan oleh seorang penyuluh kepada masyarakat sasaran. Pesan yang
disampaikan dalam proses penyuluhan harus bersifat inovatif yang mampu mengubah
atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan kearah terjadinya pembaharuan
dalam segala aspek kehidupan masyarakat sasaran, demi selalu terwujudnya perbaikan-
perbaikan mutu hidup dan seluruh warga masyarakat yang bersangkutan.6
Rahim membedakan adanya dua tipe pesan selaras dengan pengertian inovasi,
yaitu: Pesan Ideologis dan Pesan Informatif. 7 Pesan Ideologis adalah konsep dasar yang
melandasi dan dijadikan alasan untuk melaksanakan perubahan-perubahan atau
pembangunan yang direncanakan demi terwujudnya perbaikan mutu hidup, contoh:
Pembangunan di Indonesia memilih “Pembangunan manusia seutuhnya dan
pembangunan seluruh masyarakat Indonesia demi terwujudnya masyarakat adil dan
makmur, material dan spiritual berdasarkan Pancasila” sebagai pesan ideologisnya.

6
Mardikanto, T, (1993). Penyuluhan Pembangunan Pertanian, Sebelas Maret University Press, Surakarta, hlm.
95.
7
Mardikanto, T, (1993). Penyuluhan Pembangunan Pertanian, Sebelas Maret University Press, Surakarta, hlm.
95-96.
Pesan ideologis tersebut, secara terus-menerus dimasyarakatkan dan
ditanamkan ke dalam lubuk hati segenap warga masyarakat, baik sebelum perencanaan
program-program pembangunan maupun proses pelaksanaan pembangunan. Hal ini
dilakukan dengan maksud:
a. Untuk menumbuhkan dan menggerakkan partisipasi masyarakat, serta menjaga
agar pembangunan dapat terus berlangsung, mencapai tujuan yang diharapkan.
b. Agar proses pembangunan dilaksanakan sesuai dengan nilai-nilai kehidupan
yang dijadikan acuan, dan hasilnya dapat dinikmati oleh setiap individu dan
seluruh warga masyarakat secara adil, seimbang, selaras, dan serasi.
Alhasil yang diharapkan lebih lanjut adalah proses pembangunan dapat tetap
berlangsung dalam kerangka pembangunan untuk manusia bukan hanya menjadikan
manusia sebagai objek pembangunan semata, hasil-hasil pembangunan harus benar-
benar mampu memperbaiki mutu hidup masyarakat, dalam arti; meningkatkan
kesejahteraan, mengurangi kemiskinan, meningkatkan pemerataan, dan mengurangi
kesenjangan, memperluas lapangan dan kesempatan kerja, dan menjamin kebebasan
dari segala macam bentuk penindasan.
Pesan informatif ialah segala bentuk informasi yang berkaitan dengan dan
bergantung pada pesan ideologis. Adapun pesan informatif dapat berbentuk: kebijakan
pembangunan, nilai-nilai sosial budaya, dan semua informasi yang berkaitan dengan
tujuan yang ingin dicapai, serta segala macam upaya yang ingin dilaksanakan melalui
kegiatan-kegiatan pembangunan yang direncanakan. Havelock membedakan pesan
informatif adalah 4 macam tipe:
1. Pengetahuan dasar.
2. Hasil riset terapan dan pengembangan.
3. Pengetahuan praktis.
4. Pesan dari penggunanya.8

Tiga pesan yang pertama dari keempat tipe pesan tersebut merupakan pesan
yang ingin disampaikan oleh “sumber” (subsistem pemerintahan/penguasa), sedangkan
pesan terakhir dari keempat tipe tersebut merupakan umpan balik yang disampaikan
oleh “sasaran” penyuluhan.

8
Mardikanto, T, (1993). Penyuluhan Pembangunan Pertanian, Sebelas Maret University Press, Surakarta, hlm.
98-99.
Sejalan dengan beragamnya tipe materi penyuluhan maka sumber informasi
yang dijadikan materi penyuluhan pun beragam. Beragam sumber materi penyuluhan
tersebut dapat dikelompokkan menjadi:

1. Sumber resmi dari Instansi Pemerintahan, baik yang berasal dari Departemen
atau Dinas-dinas terkait, Lembaga Penelitian dan pengembangan, Pusat-pusat
pengkajian, Pusat-pusat Informasi Pengujian Lokal yang dilaksanakan oleh
penyuluh.
2. Sumber resmi dari Lembaga-lembaga Swasta atau Lembaga Swadaya
Masyarakat, yang khusus bergerak di Bidang Penelitian, Pengkajian, dan
Penyebaran Informasi.
3. Pengalaman sasaran (masyarakat) baik dari pengalaman usahanya sendiri atau
hasil dari pengalaman yang dilakukan secara khusus dengan atau tanpa
bimbingan penyuluh.
4. Sumber lain yang dapat dipercaya, misal: informasi dari Perguruan Tinggi, dan
lain-lain.

Berkaitan dengan sifat-sifat materi penyuluhan9 membedakan adanya tiga


macam sifat materi penyuluhan, yaitu:

1. Materi berisikan pemecahan masalah yang sedang dan akan dihadapi.


2. Materi berisikan petunjuk atau rekomendasi yang dilaksanakan.
3. Materi yang bersifat instrumental.

4. Hal–hal yang perlu diperhatikan saat melakukan Penyuluhan


Saat melakukan kegiatan Penyuluhan, kita harus memperhatikan beberapa hal,
yaitu:
1. Keadaan
Hal ini mengenai status pemanfaatan potensi sumberdaya secara umum yang
berkaitan dengan tingkat produktivitas di suatu wilayah.
2. Tujuan

9
Mardikanto, T. (1993), Penyuluhan Pembangunan Pertanian, Sebelas Maret University Press, Surakarta,
hlm.105-106.
Hal ini mengenai upaya yang akan ditempuh untuk mengoptimalkan pemanfaatan
potensi sumberdaya secara umum, khususnya yang berkaitan dengan perubahan
pengetahuan, wawasan, sikap dan perilaku pelaku yang menjadi khalayak sasaran.
3. Masalah
Hal ini mengenai faktor-faktor yang menyebabkan belum tercapainya tujuan yang
diharapkan, baik yang bersifat perilaku maupun non perilaku.
4. Sasaran
Hal ini menjalaskan tentang mengenai siapa yang direncanakan untuk mendapat
manfaat dari penyelenggaraan suatu kegiatan/metode penyuluhan.10

10
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia, (2013). Penyuluhan Pertanian, hal. 34-35.
BAB III
Penutup
1. Kesimpulan
Tujuan berarti hal yang ingin dituju. Tujuan lebih sebagai kata sifat atau
penyemangat. Hal ini dikarenakan tujuan lebih abstrak dibandingkan dengan sasaran.
Pendefinisian pada tujuan juga bersifat normatif dan periode waktunya lebih umum.
Karena ke-abstrakan dari tujuan, maka dibuatlah sasaran yang ingin dicapai. Sasaran
adalah tingkat-tingkat atau tahapan-tahapan untuk mencapai tujuan. Apabila pada
tujuan tingkat keabstakannya lebih abstrak, maka pada sasaran tingkat keabstrakannya
lebih konkret. Pada bidang Penyuluhan, individu atau masyarakat yang akan menjadi
objek penyuluhan disebut dengan Khalayak Sasaran.
Penyuluhan merupakan upaya-upaya yang dilakukan untuk mendorong
terjadinya perubahan perilaku pada individu, kelompok, komunitas, ataupun
masyarakat agar mereka tahu, mau, dan mampu menyelesaikan permasalahan yang
dihadapi. Khalayak sasaran adalah sekelompok masyarakat yang dijadikan sasaran
guna mencapai target yang sudah ditentukan. Khalayak sasaran dapat dikelompokkan
menjadi empat jenis, yaitu: (a) perorangan; (b) kelompok; (c) komunitas dan (d)
lembaga. Seorang penyuluh dapat dikatakan juga sebagai agent of change, karena
mereka memberi bantuan kepada khalayak sasaran untuk mendapatkan hidup yang
lebih baik dari sebelumnya
Materi penyuluhan, pada hakikatnya merupakan segala pesan yang ingin
dikomunikasikan oleh seorang penyuluh kepada masyarakat sasaran. Pesan yang
disampaikan dalam proses penyuluhan harus bersifat inovatif yang mampu mengubah
atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan kearah terjadinya pembaharuan
dalam segala aspek kehidupan masyarakat sasaran, demi selalu terwujudnya perbaikan-
perbaikan mutu hidup dan seluruh warga masyarakat yang bersangkutan. Ada dua tipe
pesan yaitu Pesan Ideologis dan Pesan Informatif. Saat melakukan kegiatan
Penyuluhan, kita harus memperhatikan beberapa hal, yaitu: (a) Keadaan, (b) Tujuan,
(c) Masalah dan (d) Sasaran.
Daftar Pustaka

Amanah, Siti. (2007). Jurnal Penyuluhan: Makna Penyuluhan dan Transformasi Perilaku Manusia, 3(1),
hlm. 63.
Amanah, Siti. (2007). Jurnal Penyuluhan: Makna Penyuluhan dan Transformasi Perilaku Manusia, 3(1),
hlm. 64.
Lihat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, (2003).

Sukidjo, (2000). Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama: Tujuan dan Khalayak Sasaran PPM, 1(1), hlm. 69-
70.
Zulkarnaen Nasution, (1990). Prinsip-prinsip komunikasi untuk penyuluhan, hlm.7-8.
Mardikanto, T, (1993). Penyuluhan Pembangunan Pertanian, Sebelas Maret University Press, Surakarta,
hlm. 95.
Mardikanto, T, (1993). Penyuluhan Pembangunan Pertanian, Sebelas Maret University Press, Surakarta,
hlm. 95-96.
Mardikanto, T, (1993). Penyuluhan Pembangunan Pertanian, Sebelas Maret University Press, Surakarta,
hlm. 98-99.
Mardikanto, T. (1993), Penyuluhan Pembangunan Pertanian, Sebelas Maret University Press, Surakarta,
hlm.105-106.
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia, (2013). Penyuluhan Pertanian, hal. 34-35.

Anda mungkin juga menyukai