Anda di halaman 1dari 9

APLIKASI PENGELOLAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN

PENDEKATAN KOMPHERENSIF PADA FASE PERSIAPAN &


MITIGASI

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 3

1. DEAH KARINA SAPUTRI SKP. 20.02.072P


2. DESSY TRIANI SKP. 20.02.073P

S1 KEPERAWATAN NON REGULER


STIKKES MITRA ADIGUNA
PALEMBANG
2021
BAB I

LATAR BELAKANG

Bencana alam atau musibah yang menimpa masyarakat dapat datang secara
tiba-tiba, sehingga masyarakat yang berada di lokasi musibah bencana, tidak sempat
melakukan antisipasi pencegahan terhadap musibah tersebut. 87% wilayah Indonesia
adalah rawan bencana alam, atau sebanayak 383 dari 440 kabupaten atau kotamadya
merupakan daerah rawan bencana alam. Pemerintah Indonesia secara resmi dan legal
menangani pengelolaan bencana dengan membentuk Badan Koordinasi Nasional
(Bakornas) yang bertugas merumuskan dan menetapkan kebijakan,
mengkoordinasikan pelaksanaan serta memberikan standard dan pengarahan terhadap
upaya penanggulangan bencana di Indonesia.

Penanggulangan Bencana di Indonesia berdasarkan Undang-undang RI Nomor


24 Tahun 2007 menjelaskan beberapa tahapan yang perlu diperhatikan dalam
penanganan bencana yaitu, Kesiapsiagaan (Preparedness), Mitigasi (Mitigation),
Tanggap darurat (Response), Rehabilitasi / pemulihan ( Rehabilitation / Recovery),
dan Rekonstruksi (Reconstruction). Dalam penanganan bencana di Indonesia
diperlukan sinergi dan koordinasi dari berbagai pihak misalnya, pemerintah,
masyarakat, para relawan dan lembaga swadaya masyarakat bahkan dengan
masyarakat internasional. Maka kami tertarik membahas tentang aplikasi
penanggulangan bencana melalui pendekatan komphrensif dengan berfokus pada fase
persiapan dan mitigasi.
BAB II

PEMBAHASAN

Adapun definisi bencana menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 24


tahun 2007 tentang penanggulangan bencana yang mengatakan bahwa bencana adalah
peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau non-alam
maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa bencana adalah suatu keadaan yang tiba-
tiba mengancam kehidupan masyarakat karena faktor alam dan/atau non alam maupun
faktor manusia sehingga mengakibatkan korban jiwa, kerusakan lingkungan yang
melebihi kemampuan masyarakat untuk mengatasinya sendiri.
Siklus bencana dapat dibagi menjadi tiga fase yaitu fase pra bencana, fase
bencana dan fase pasca bencana. Fase pra bencana adalah masa sebelum terjadi
bencana. Fase bencana adalah waktu/saat bencana terjadi. Fase pasca bencana adalah
tahapan setelah terjadi bencana. Semua fase ini saling mempengaruhi dan berjalan
terus sepanjang masa. Siklus bencana ini menjadi acuan untuk melakukan
penanggulangan bencana yang bisa dibagi menjadi beberapa tahap seperti gambar
dibawah ini.
Penanganan bencana bukan hanya dimulai setelah terjadi bencana. Kegiatan
sebelum terjadi bencana (pra-bencana) berupa kegiatan pencegahan, mitigasi
(pengurangan dampak), dan kesiapsiagaan merupakan hal yang sangat penting untuk
mengurangi dampak bencana. Saat terjadinya bencana diadakan tanggap darurat dan
setelah terjadi bencana (pasca-bencana) dilakukan usaha rehabilitasi dan
rekonstruksi.Berikut rincian tentang kegiatan penanggulangan bencana sesuai siklus
bencana.

 Kesiapsiagaan (Preparedness)

Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui


pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna

 Mitigasi (Mitigation)

Serangkaian kegiatan untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan


fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana

 Tanggap darurat (Response)

Serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk
menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelematan
dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan,
pengurusan pengungsi, penyelematan serta pemulihan prasarana dan sarana

 Rehabilitasi/ Pemulihan

Perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai
tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk
normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan
masyarakat pada wilayah pasca bencana

 Rekonstruksi (Recontruction)

Pembangunan kembali semua prasarana dan sarana kelembagaan pada wilayah pasca
bencana, baik tingkat pemerintah maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh
dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial, budaya, tegaknya hukum dan
ketertibana, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan
bermasyarakat pada wilayah pasca gempa
Manajemen Bencana Pada Fase Planning, Preparedness & Mitigation, 

Persiapan, perencanaan, respon dan pemulihan dalam managemen bencana


dalam sistem ekologikal ini adalah proses yang harusnya terjadi didalam setiap level
mulai dari individu, keluarga, tempat kerja, komunitas, desa, pemerintah lokal, negara
dan international.
Model ekologi merupakan system yang dinamis dimana segala tingkatan yang
berperan saling berikatan dan berhubungan. Model ekologi manajemen bencana
menegaskan  bahwa pelaksanaan majaemen bencana dalam tiap fasenya merupakan
siklus yang sistematik dan saling berkaitan antara berbagai level organisasi sehingga
hal ini sangat penting untuk dapat mengenali bahwa masing-masing tingkatan
mempunyai peran yang sama – sama penting

1.      Fase Pra Bencana

a.      Pre-event planning elements, Preparedness Elements & Mitigation

Menurut model ekologi, pada tahapan/fase preparedness, diperlukan kesiapan


dan perencanaan yang adekuat dengan melibatkan seluruh lapisan komponen
masyarakat yang terlibat sehingga akan terjadi saling interaksi dan komunikasi untuk
mengendalikan, mengontrol dan mengurangi dampak dari bahaya-bahaya bencana.
Berdasarkan hal tersebut, penyusunan rencana untuk penyiagaan seluruh unsur terkait
maupun instansi dalam menghadapi bencana harus dilakukan, mulai dari penyamaan
persepsi pada setiap unit kerja yang terlibat pada penyusunan  SOP / panduan dalam
menghadapi bencana, melakukan pemetaan (mapping) untuk potensi bencana yg
mengancam, potensi SDM, data fasilitas & sumbernya serta menyusun perencanaan
dalam bentuk dokumen tertulis dan protap-protap , program sosialisasi dan pelatihan
(Strasser, 2008).
Sebagai bagian dari perencanaan, pengenalan akan potensi bahaya menjadi
penting untuk dikenali. Bahaya ini mungkin meliputi bahaya alam, teknologi atau
akibat manusia. Individu atau komunitas tertentu mungkin lebih rentan terhadap
bahaya tertentu dan ini menjadi bagian dalam proses perencanaan (Landesman, 2001).
Pendekatan akan bahaya dalam managemen bencana adalah kerangka kerja dalam
fase persiapan bencana. Perencanaan bencana merupakan pendekatan terhadap
berbagai potensi bencana yang memiliki keunikan sendiri sehingga perencanaan
bencana yang komprehensif diperlukan (American Res Cross, 2004).
Elemen pentimg dalam fase preparedness disini adalah mitigasi yaitu usaha-
usaha yang dilakukan untuk mencegah, mengurangi dan meminimalkan berbagai
elemen yang berpotensi menimbulkan bahaya (Federal Emergency Managemen
Agency, 2007). Pencegahan ialah langkah-langkah yang dilakukan untuk
menghilangkan sama sekali atau mengurangi secara drastis akibat dari ancaman
melalui pengendalian dan pengubah suaian fisik dan lingkungan. Tindakan-tindakan
ini bertujuan untuk menekan penyebab ancaman dengan cara mengurangi tekanan,
mengatur dan menyebarkan energi atau material ke wilayah yang lebih luas atau
melalui waktu yang lebih panjang (Smith, 1992).
Pengamanan logistik kebencanaan perlu dilakukan sebagai upaya mengurangi
bahaya. Persiapan seperti hal komunikasi, jalur perintah dan kontrol yang selama ini
menjadi area dari pemerintah penting juga untuk dilaksanakan dalam setiap lapisan di
model ekologikal ini. Terakhir, pelatihan, simulasi bencana adalah hal penting dalam
elemen perencanaan. Pelajaran penting dapat diambil dari latihan diatas adalah untuk
mengethui akan adanya kekurangan dalam rencana yang telah dibuat (Strasser, 2008).

Dalam hal sosialisasi siaga bencana, dibutuhkan kerja sama yang baik antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bahkan sampai ke masyarakat atau kawasan
yang rawan bencana. Indonesia merupakan negeri rawan bencana sehingga perlu
dibentuk bangsa yang mampu merespons bencana dengan benar. Kerugian yang
ditimbulkan karena bencana alam dapat dikurangi dengan penyelenggaraan
penanggulangan bencana yang dilakukan secara komprehensif yang mencakup
pendekatan yang bersifat pencegahan, pengurangaan  risiko, tindakan kesiapsiagaan
tanggap bencana, serta upaya pemulihan. Disamping itu, pendekatan yang
mengedepankan pentingnya partisipasi dari semua tingkat pemerintahan, baik
pemerintah pusat dan daerah, mengambil peran yang aktif dalam menciptakan
manajemen bencana yang efektif. Pengalaman menunjukkan bahwa kehancuran
akibat bencana dapat secara drastis dikurangi jika semua orang lebih siap menghadapi
bencana .Kesiapsiagaan merupakan hal yang penting dan harus dibangun pada setiap
tingkat kelompok di masyarakat. Dalam hal ini partisipasi publik dan pemangku
kepentingan  (stakeholders) dalam penanganan bencana (Noor I, 2009).
Menurut Sudiharto (2011), peningkatan fungsi sistem deteksi dan peringatan
dini merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk penanganan dan
pengurangan bencana. Penyusunan disaster plan di level propinsi dan pembentukan
infrastruktur yang bersifat fungsional harus dilaksanakan. Disaster plan ini tidak
hanya terbatas pada emergency medik, tapi mencakup pula sistem komunikasi dan
telematika, logistik kesehatan, pencegahan penyakit menular dan berbagai kegiatan
spesifik lainnya. Selain itu, infrastruktur yang minimal pada saat bencana dan pasca
bencana, anggota tim sebaiknya tidak terbatas pada sistem birokrat. Unit birokrasi
disiapkan terbatas pada situasi normal. Perlu adanya campur tangan antara tenaga
struktural di birokrasi kesehatan, fungsional dan pihak-pihak lain yang kompeten
dalam bencana.

Kegiatan-kegiatan mitigasi termasuk tindakan tindakan non-rekayasa seperti


upaya-upaya peraturan dan pengaturan, pemberian sangsi dan penghargaan untuk
mendorong perilaku yang lebih tepat, dan upaya-upaya penyuluhan dan penyediaan
informasi untuk memungkinkan orang mengambil keputusan yang berkesadaran
(Smith, 1992). Upaya atau kegiatan dalam rangka pencegahan dan mitigasi yang
dilakukan, bertujuan untuk menghindari terjadinya bencana serta mengurangi risiko
yang ditimbulkan oleh bencana. Tindakan mitigasi dilihat dari sifatnya dapat
digolongkan menjadi 2 (dua) bagian, yaitu mitigasi pasif dan mitigasi aktif.

Tindakan pencegahan yang tergolong dalam mitigasi pasif antara lain adalah:
1. Penyusunan peraturan perundang-undangan
2. Pembuatan peta rawan bencana dan pemetaan masalah.
3. Pembuatan pedoman/standar/prosedur
4. Pembuatan brosur/leaflet/poster
5. Penelitian / pengkajian karakteristik bencana
6. Pengkajian / analisis risiko bencana
7. Internalisasi PB dalam muatan lokal pendidikan
8. Pembentukan organisasi atau satuan gugus tugas bencana
9. Perkuatan unit-unit sosial dalam masyarakat, seperti forum
10. Pengarus-utamaan PB dalam perencanaan pembangunan

Sedangkan tindakan pencegahan yang tergolong dalam mitigasi aktif antara lain:

1. Pembuatan dan penempatan tanda-tanda peringatan, bahaya, larangan memasuki


daerah rawan bencana dsb.
2. Pengawasan terhadap pelaksanaan berbagai peraturan tentang penataan ruang,
ijin mendirikan bangunan (IMB), dan peraturan lain yang berkaitan dengan
pencegahan bencana.
3. Pelatihan dasar kebencanaan bagi aparat dan masyarakat.
4. Pemindahan penduduk dari daerah yang rawan bencana ke daerah yang lebih
aman.
5. Penyuluhan dan peningkatan kewaspadaan masyarakat.
6. Perencanaan daerah penampungan sementara dan jalur-jalur evakuasi jika terjadi
bencana.
7. Pembuatan bangunan struktur yang berfungsi untuk mencegah, mengamankan
dan mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana, seperti: tanggul, dam,
penahan erosi pantai, bangunan tahan gempa dan sejenisnya.

Adakalanya kegiatan mitigasi ini digolongkan menjadi mitigasi yang bersifat non-
struktural (berupa peraturan, penyuluhan, pendidikan) dan yang bersifat struktural
(berupa bangunan dan prasarana).
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan & Saran

Dalam penanganan bencana di Indonesia diperlukan sinergi dan koordinasi


dari berbagai pihak misalnya, pemerintah, masyarakat, para relawan dan lembaga
swadaya masyarakat bahkan dengan masyarakat internasional.
Pemerintah seharusnya secara terus menerus dan berkesinambungan
mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pemahaman manajemen
penanggulangan terhadap bencana alam di Indonesia dengan berfokus pada tahap pre
bencana, pada saat bencana dan pada pasca bencana. Pemerintah dan atau instansi
terkait serta para pemuka masyarakat seyogyanya menciptakan suasana yang kondusif
pada saat terjadi bencana seperti sabar, ikhlas, dan tawakal dalam menghadapi
bencana alam dan menghindari atau mengurangi kepanikan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Erita & Dony Mahendra & Adventus MRL. (2019). Buku Materi Pembelajaran
Manajemen Gawat Darurat Dan Bencana. Dipetik Oktober 30, 2021 Dari
http://repository.uki.ac.id/2714/1/BUKUMATERIPEMBELAJARANMANAJE
MENGAWATDARURAT.pdf

Paidi. (2012). Pengelolaan Manajemen Resiko Bencana Alam di Indonesia.


Jurnal Manajemen. Dipetik Oktober 30, 2021 Dari
https://media.neliti.com/media/publications/218658-none.pdf

Peraturan Kepala Badan Nasional Penangulangan Bencana Nomor 4 Tahun 2008


Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penangulangan Bencana.

Sudiharto. 2011. Manajemen Disaster. Badan Penegmbangan dan Pemberdayaan


Sumber Daya Manusia dan Kesehatan. Departemen Kesehatan RI