Anda di halaman 1dari 2

Nama : Danar Gusti Aprido

NIM : 030917338

TT 2 Manajemen Perubahan

1. •Proses Mencairkan (Unfreezing) Prilaku individu menurut lewin dapat menjadi


penggerakataupun penghambat perubahan (Lewin dalam Burnes, 2004). Dalam kondisi ini
memungkinkan organisasi menghadapi karyawan yang sulit mengkonfirmasi sistem
dalamtahap unfreezing tersebut sehingga menolak perubahan (Cummings & Worley,
2005).Dengan demikian pada tahapan ini focus utama adalah bagaimana menjaga
prilakuorganisasi berada pada kondisi saat ini. Banyak organisasi mengalami kegagalan
dalam melakukan perubahan pada tahap awal karena organisasi mengabaikan pentingnya
perilaku dan kepercayaan karyawan yang menjadi sumber utama kesuksesan perubahan
organisasi (Schein, 1999).

• Perubahan (Movement) Model Lewin lebih menekankan perubahan sebagai proses transisi


dan bukan aktivitas. Tahap kedua pada model ini terjadi pada saat organisasi melakukan
perubahan atau transisi. Pola pikir individu-individu organisasi dalam tahap ini sudah
berubah dari pola pikir yang lama dan sudah memiliki motivasi serta siap untuk perubahan
yang berlaku. Dalam tahap ini penting bagi organisasi untuk dapat mengurangi rasa takut,
kekhawatiran serta ketidakyakinan individu didalamnya akan perubahan yang akan
dilakukan. Karena tidak mudah dan bukan waktu yang tepat bagi anggota organisasi untuk
mempelajari dan memahami perubahan sehingga perlu diberikan waktu untuk mengerti,
memahami dan berdiri bersama-sama anggota organisasi menghadapi perubahan.

• Membekukan Kembali (Refreezing)Tahapan ini lebih kepada membangun stabilitas begitu


perubahan telah sepenuhnya ditegakkan dan tertanam dalam individu-individu di organisasi.
Disini perubahan telah diterima secara sepenuhnya dan menjadi norma serta status quo
yang baru untuk dijadikan standar kerja. Individu-individu pada kondisi ini membentuk
hubungan baru dan sudah merasa nyaman dengan rutinitas baru mereka. Model Lewin
pada tahap ini mengindikasikan bahwa organisasi harus distabilisasi dan dilembagakan
dalam bentuk yang baru setelah tahap pergerakan atau “movement”. Status quo yang baru
dalam kondisi ini harus diperkuat secara institusional serta proses institusionalisasi
perubahan inilah yang merupakan langkah akhir yang menentukan keberhasilan
keberlanjutan perubahan (Kotter, 1995)

2. Pemimpin pada dasarnya dibagi menjadi dua titik pemimpin superior yang kerjanya hanya
memberi perintah, selalu menyalahkan dan menjaga jarak dengan anak buahnya. Ada juga
pemimpin sebagai coach dan mentor yang lebih banyak mendengarkan masukan dari anak
buahnya, fokus pada solusi dan selalu memegang komitmen. Untuk membangun
keterampilan dasar sebagai coach dan mentor sebenarnya cukup mudah dan bisa dipelajari.
Prinsipnya, hanya perlu melihat bahwa setiap orang memiliki potensi dan sumberdaya dalam
dirinya. Dengan prinsip tersebut, setiap orang pasti bisa sukses asalkan dia
menyadari potensi yang dimilikinya. Pemimpin harus bisa melihat hal tersebut dan
memanfaatkannya untuk keberhasilan perusahaan

3. Transformasi dapat terjadi karena oleh dua hal yaitu lingkungan internal organisasi dan
faktor dari lingkungan eksternal organisasi. Transformasi pada lingkungan internal organisasi
dilakukan dengan menanamkan mindset ke masing-masing individu agar skill, nilai-nilai,
sikap dan perilaku karyawan menjadi lebih siap dan kompeten menghadapi perubahan
eksternal. Selain itu, juga dengan melakukan perubahan pada struktur dan sistem di
dalamnya sistem imbalan, sistem pelaporan, desain kerja, dan sebagainya uang semuanya
berbasis kinerja. Adapun gaya kepemimpinan yang bersifat membina organisasi kearah iklim
yang berbasis good corporate governance. Yaitu praktik pengelolaan perusahaan secara
amanah dan prudensial dengan mempertimbangkan keseimbangan pemenuhankepentingan
seluruh stakeholders. Contoh kepemimpinan tranformasional terkini dilakukan Faizal
Rochmad Djoemadi, DirekturUtama Pos Indonesia yang meraih Penghargaan CEO Terbaik
Driving Transformation 2021dalam ajang Anugerah BUMN 2021. Dalam kemepimpinan
transformasionalnya, yaitu menggerakkan PT POS di era pandemi antara lain dengan cara
melakukan transformasi model bisnis dan mengembangkan digitalisasi secara massif dan
cepat. Dalam tiga tahun ke depan, tujuh program transformasi yang dicanangkan adalah
transformasi bisnis, transformasi produk danchanel, transformasi proses, transformasi
teknologi, transformasi human capital, transformasi budaya dan transformasi organisasi.
Ketujuh program transformasi tersebut menurutnya sangatdiperlukan untuk mewujudkan
Visi Pos Indonesia “Menjadi Postal Operator Penyedia Jasa Kurir, Logistik dan Keuangan
Paling Kompetitif”.