Anda di halaman 1dari 10

1.

Bidang Hodge atau Hodge’s planes adalah bidang yang diperlukan untuk


menentukan sampai di mana bagian terendah janin turun dalam panggul pada
persalinan. Terdapat empat jenis bidang Hodge.

Bidang Hodge I
Bidang yang dibentuk pada lingkaran pintu atas panggul dengan bagian atas
simfisis dan promontonum

Bidang Hodge II
Bidang yang sejajar dengan Hodge I terletak setinggi bagian bawah simfisis

Bidang Hodge III


Bidang yang sejajar dengan bidang-bidang Hodge I dan II terletak setinggi spina
iskiadika kanan dan kiri

Bidang Hodge IV
Bidang yang sejajar dengan bidang-bidang Hodge 1,11, dan III terletak setinggi
oskoksigis

2. Moulage (moulase) kepala janin Moulage atau moulase adalah suatu keadaan dimana
adanya celah antara tulang kepala janin yang memungkinkan terjadinya penyisipan
(tumpang tindih) antar bagian tulang (overlapping) sehingga kepala janin dapat
mengalami perubahan bentuk dan ukuran. (Marmi, 2016)
Penyusupan Tulang Kepala Janin (Molase/Molding).
Pencatatan penyusupan antar tulang kepala janin berada tepat di bawah kolom air
ketuban, pemeriksaan ini dilakukan setiap 4 jam sekali. Pencatatan penemuan
menggunakan lambang-lambang berikut ini:

0: Sutura terpisah

1: Tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan

2: Sutura tumpang tindih tetapi masih dapat diperbaiki

3: Sutura tumpang tindih dan tidak dapat diperbaiki

Molase merupakan indikator yang memberikan gambaran kepada petugas medis


dalam mengetahui seberapa sanggup kepala bayi menyesuaikan diri dengan
tulang panggul ibu. Semakin besar nilai tumpang tindih antara tulang kepala
menunjukan risiko disproporsi kepala panggul (CPD).
3. Pengertian partograf

Partograf adalah alat yang dirancang untuk memberikan gambaran

terus menerus pada tenaga kerja dan telah terbukti meningkatkan hasil

bila digunakan untuk memonitor dan pengelolaan persalinan oleh

tenaga kesehatan (Yisma, Dessalegn, Astatkie, Fesseha, 2013).

Partograf adalah catatan grafik kemajuan persalinan untuk

memantau keadaan ibu dan janin, untuk menemukan adanya

persalinan abnormal (JNPK-KR, 2008a).

Partograf digunakan untuk semua ibu dalam fase aktif kala satu

persalinan. Partogaf dapat digunakan dalam persalinan fisiologis

maupun patologis, baik di rumah, puskesmas, klinik bidan swasta atau

rumah sakit. Dalam menggunakan partograf secara rutin oleh semua

penolong persalinan ( spesialis obstetri, bidan, residen dll) (JNPK-KR,

2008b).

a. Tujuan penggunaan partograf

Tujuan penggunaan partograf adalah:

1) Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai

pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam

2) Mendeteksi apakah persalinan berjalan normal. Dengan demikian

juga dapat mendetksi secara dini kemungkinana terjadinya partus

lama.

3) Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu, bayi,

grafik kemajuan persalinan, bahkan dan mendikamentosa yang

diberikan, pemeriksaan laboratorium, membuat keputusan klin ik

dan asuhan atau tindakan yang diberikan dimana semua tindakan

dicatat secara rinci pada status atau rekam medik ibu bersalin dan

bayi baru lahir (JNPK-KR, 2008a).

b. Manfaat partograf

Manfaat dari penggunaan partograf adalah:


1) Mencatat kemajuan persalinan.

2) Mencatat kondisi ibu dan janin.

3) Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran

4) Menggunakan informasi yang tercatat untuk identifikasi dini

penyulit persalinan.

5) Menggunakan informasi yang ada untuk membuat keputusan

klinik yang sesuai dan tepat waktu (JNPK-KR, 2008b).

c. Penerapan/ Pengisian Partograf

Penerapan/ pengisian partograf diisi sesuai dengan isian lembar

partograf, meliputi:

1) Pencatatan selama fase laten persalinan

Fase dalam persalinan terdiri dari dua fase, yaitu fase laten (

pembukaan serviks kurang dari 4 cm) dan fase aktif ( pembukaan

serviks dari 4 sampai 10 cm ).

Selama fase laten, semua asuhan, pemeriksaan harus dicatat. Hal

ini harus dicatat secara terpisah, baik dicatatan kemajuan

persalinan maupun buku KIA atau KMS ibu.

Dalam fase laten, kondisi ibu dan bayi yang perlu dicatat adalah:

a) Denyut jantung janin setiap ½ jam

b) Frekuensi dan lama kontraksi uterus setiap ½ jam

c) Nadi setiap ½ jam

d) Pembukaan serviks setiap 4 jam

e) Penurunan bagian terbawah janin setiap 4 jam

f) Tekanan darah dan temperatur setiap 4 jam

g) Protein urin, aseton, protein setiap 2 sampai 4 jam

h) Makan dan minum terakhir

Jika ditemui gejala dan penyulit, penilaian kondisi ibu dan janin

harus lebih sering dilakukan. Bila tidak ada penyulit, ibu

diperbolehkan pulang dahulu, dengan instuksi untuk kembali


apabila kontraksi menjadi teratur, makin kuat dan frekuensi

meningkat. Lakukan rujukan ke fasilitas kesehatan apabila fase

laten berlangsung lebih dari 8 jam (JNPK-KR, 2008b).

2) Pencatatan selama fase aktif persalinan

Halaman partograf menginstruksikan observasi dimulai pada fase

aktif persalinan dan menyediakan lajur dan kolom untuk

mencatat hasil-hasil pemeriksaan selama fase aktif persalianan,

yaitu:

a) Informasi ibu

(1) Nama, umur ibu, nama dan umur suami

(2) Gravida, para, abortus

(3) Nomor catatan medik

(4) Tanggal dan waktu mulai dirawat

(5) Waktu pecahnya ketuban

(6) Mulai kenceng-kenceng teratur

b) Warna dan adanya air ketuban

Nilai kondisi air ketuban setiap kali melakukan pemeriksaan

dalam, dengan menggunakan lambang-lambang sebagai

berikut:

(1) U= selaput ketuban utuh

(2) J= selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban jernah

(3) M= selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban

bercampur mekonium

(4) D= selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban

bercampur darah

(5) K= selaput ketuban sudah pecah tetapi air ketuban tidak

mengalir (kering)
Apabila terdapat mekonium, bidan harus memantau DJJ

unutk mengenali gawat janin. Apabila DJJ <100 atau >180

kali per menit, ibu harus segera dirujuk.

c) Penyusupan (molase) tulang kepala janin

Penyusupan merupakan indikator sejauh mana kepala janin

dapat menyesuaikan diri terhadap bagian keras tunggal

panggul ibu. Semakin besar derajat penyusupan, menunjukkan

resiko disproporsi kepala panggul (CPD). Apabila ada dugaan

CPD, maka segera lakukan pertolongan pertama dan rujuk.

(1) 0= tulang-tulang kepala janin dapat dipisah, sutura dengan

mudah dapat dipalpasi

(2) 1= tulang-tulang kepala janin hanya saling bersinggungan

(3) 2= tulang-tulang kepala janin tumpang tindih tetapi dapat

dipisahkan

(4) 3= tulang-tulang kepala janin tumpang tindih tetapi tidak

dapat dipisahkan

d) Kemajuan persalinan

Kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk pencatatan

dilatasi serviks. Angka 0 sampai 10. Pada kolom dan kotak

yang mencatat penurunan kepala tercantum 1 sampai 5. Setiap

kotak segi empat atau kubus menunjukkan waktu 30 menit

untuk pencatatan waktu pemeriksaan, DJJ, kontraksi uterus

dan frekuensi nadi ibu.


(1) Pembukaan serviks

(a) Pilih angka pada tepi kiri luar kolom pembukaan

serviks pada fase aktif persalinan sesuai hasil

pemeriksaan dalam.

(b) Untuk pemeriksaan pertama pada fase aktif, hasil

pemeriksaan ( pembukaan serviks ) dicantumkan pada

garis waspada

(c) Hubungkan tanda “X” pada setiap pemeriksaan garis

utuh

(2) Penurunan bagian terbawah janin

Pemeriksaan penurunan kepala menunjukkan seberapa

jauh bagian terbawah janin memasuki rongga panggul.

Pada persalinan normal, pembukaan serviks diikuti dengan

penurunan kepala janin. Tapi ada saatnya penurunan

kepala baru terjadi saat pembukaan 7 cm. Penurunan

kepala diberi lambang “ O “, kemudian hubungkan dengan

garis utuh.

(3) Garis waspada

Garis waspada dimulai pada saat pembukaan 4 cm dan

berakhir pada titik dimaan pembukaan lengkap. Jika

pembukaan serviks mengarah kekanan garis waspada

(pembukaan kurang dari 1 cm per jam) maka

pembukaan serviks melampaui garis bertindak, maka

perludilakukan tindakan untuk menyelesaikan persalinan,

sebaiknya ibu sudah di fasilitas rujukan sebelum garis

bertindak dilampaui.

(4) Waktu mulainya fase aktif persalinan


Dibagian bawah partograf (pembukaan serviks dan

penurunan kepala) tertera kotak-kotak diberi angka 1-16.

Setiap kotak menyatakan satu jam sejak dimulainya fase

aktif persalinan.

(5) Waktu aktual saat pemeriksaan persalinan

Dibawah lajur kotak untuk waktu mulainya fase aktif.

Tertera kotak untuk waktu aktual pemeriksaan. Setiap

kotak menyatakan satu jam penuh dan berkaitan dengan

dua kotak waktu tiga puluh menit.

e) Kontraksi uterus

Gambar 2.1 Lambang kontraksi uterus


= isi penuh kotak sesuai untuk menyatakan
kontraksi yang lamanya >40 detik

= beri garis –garis dikotak yang sesuai untuk


menyatakan kontraksi yang lamanya 20-40 detik

= beri titik-titik dikotak yang sesuai untuk


menyatakan kontraksi lamanya < 20 detik

(JNPK-KR, 2008b).

f) Obat-obatan dan cairan yang diberikan

(1) Oksitosi

Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai,

dokumentasikan setiap 30 menit jumlah unit oksitosin

yang diberikan per volume cairan intra vena ( IV ) dan

dalam stauan ttesan per menit.

(2) Obat-obatan dan cairan IV

Catat semua pemberian obat-obatan tambahan dan atau

cairan IV dalam kotak sesuai kolom waktunya.

g) Kondisi ibu

(1) Nadi, tekanan darah dan suhu tubuh

Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit, beri tanda ( • ),


nilai tekanan darah ibu setiap 4 jam, beri tanda (

suhu tubuh ibu setiap 2 jam. Catat pada kolom yang sesuai.

(2) Volume urin, protein dan aseton

Ukur dan catat jumlah produksi urin ibu setiap 2 jam

(setiap kali ibu berkemih). Jika memungkinkan, setiap ibu

berkemih lakukan pmeriksaan aseton, protein urin.

(3) Makan dan minum terakhir

Catat porsi dan jenis makan, minum terakhir. Hal ini,

apabila diketahui ibu telah lama tidak makan atau minum

akan menyebabkan kelelahan dan inersia uteri (JNPK-KR,

2008b)

3) Pencatatan pada lembar belakang partograf

a) Data dasar

(1) Tanggal

(2) Nama bidan

(3) Tempat persalinan

(4) Alamat tempat persalinan

(5) Catatan: rujuk, kala I/II/III/IV

(6) Alasan merujuk

(7) Tempat rujukan

(8) Masalah dalam kehamilan/persalinan ini

b) Kala I

(10) Partograf melewati garis waspada: Y/T

(11) Masalah lain


(12) Penatalaksanaan lain

(13) Hasilnya

c) Kala II

(14) Episiotomi: Y/T

(15) Pendampingan saat persalinan

(16) Gawat janin: Y/T


(17) Distosia bahu: Y/T

(18) Masalah lain, penatalaksanaan dan hasilnya

d) Kala III

(19) Inisiasi Menyusui Dini

(20) Lama kala III

(21) Pemberian oksitosin 10 U IM

(22) Pemberian ulang oksitosin (2X)

(23) Penegangan tali pusat terkendali

(24) Massase fundus uteri

(25) Plasenta lahir lengkap: Y/T

(26) Plasenta tidak lahir > 30 menit: Y/T

(27) Laserasi

(28) Jika ada laserasi perineum, derajat: 1/2/3/4

(29) Atonia uteri: Y/T

(30) Jumlah darah yang keluar

(31) Masalah dan penatalaksanaan dan hasilnya

e) Kala IV
(32) Kondisi ibu, KU: , TD: , Nadi: , Suhu: , Respirasi:

(33) Masalah dan penatalaksanaan, hasilnya

Pada kala IV pemantauan dilakukan setiap 15 menit

dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit pada satu

jam berikutnya. Adapun pemantauan meliputi: waktu,

tekanan darah, suhu, respirasi, nadi, TFU, kontraksi

uterus, jumlah urin dan perdarahan.

f) Bayi baru lahir

(34) Berat badan


(35) Panjang badan

(36) Jenis kelamin

(37) Penilaian bayi: baik/ ada penyulit

(38) Bayi lahir: normal/ asfiksia/ cacat bawaan/ hipotermi

(39) Pemberian ASI setelah jam pertama bayi lahir: Y/T

(40) Masalah lain, penatalaksanaan dan hasil (JNPK-KR,

2008b).