Anda di halaman 1dari 69

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN NORMAL PADA NY. S G2P1A0


HAMIL 39-40 MINGGU DI VK RSUD HAMBA MUARA BULIAN
TAHUN 2021

Disusun Oleh :

MARISASANTI PUTRI
PO71242210024

Dosen Pembimbing:

ROSMARIA, M.Keb

PROGRAM STUDI PROFESI BIDAN


POLITEKNIK KESESEHATAN KEMENKES JAMBI

TAHUN 2021
LEMBAR PENGESAHAN

Telah disahkan “Laporan Kasus Asuhan Kebidanan Persalinan Normal” guna


memenuhi tugas Stase Asuhan Kebidanan Pada Persalinan Normal Program Studi
Profesi Bidan Poltekkes Kemenkes Jambi tahun 2021.

Jambi, November 2021

Mengetahui :

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

(Rosmaria, M.Keb) (Rosnani, SST)

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan Laporan ini. Laporan in dibuat dalam memenuhi tugas
Praktik Asuhan Kebidanan Persalinan, dimana penulis mengambil laporan kasus
yaitu asuhan persalinan Normal Pada Ny. S G2P1A0 h 39-40 minggu di Rumah
Sakit Haji Abdul Majid Batoe Muara Bulian”. Asuhan Kebidanan Kompherensif
persalinan ini dibuat untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman tentang
mata kuliah pada Progam Studi Profesi Bidan Poltekkes Kemenkes Jambi Tahun
Akademik 2021/2022.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak
yang telah memberikan kontribusi dalam penyelesaian laporan kasus ini yaitu
kepada:

1. Hj.Suryani, S.Pd, MPH selaku Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes Jambi


2. Lia Artika Sari M.Keb selaku Kaprodi Profesi Bidan Poltekkes Jambi
3. Rosmaria, M.Keb selaku Pembimbing Asuhan Kebidanan Persalinan
Normal
4. Rosnani, SST selaku pembimbing lahan pada saat praktik
5. Bapak dan ibu dosen yang tidak dapat disebut satu persatu yang telah
memberikan ilmunya.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan laporan kasus ini masih banyak
terdapat kekurangan dan memerlukan penyempurnaan lebih lanjut untuk itulah
kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari semua pihak demi
kesempurnaan tugas ini.

Akhirnya kami berharap semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat


khususnya bagi teman-teman dan pembaca umumnya. Aamiin

Jambi, November 2021

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................i

KATA PENGANTAR...........................................................................................ii

DAFTAR ISI..........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1

A. Latar Belakang...........................................................................................1
B. Rumusan Masalah......................................................................................3
C. Tujuan........................................................................................................3
D. Manfaat......................................................................................................4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................5

A. Konsep Dasar Teori Persalinan......................................................................5


B. Metode Pendokumentasian..........................................................................29
C. Teori EBM....................................................................................................30

BAB III TINJAUAN KASUS..............................................................................32

A. Format Pendokumentasian.............................................................................32
B. Asuhan Kebidanan Persalinan........................................................................32
BAB IV PEMBAHASAN....................................................................................55

BAB V PENUTUP................................................................................................59

A. KESIMPULAN...........................................................................................59
B. SARAN.......................................................................................................59
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Persalinan merupakan suatu peristiwa yang sangat penting
dalam kehidupan wanita. Proses persalinan memiliki arti yang
berbeda disetiap wanita, dengan belum adanya pengalaman akan
memunculkan kecemasan dan ketakutan yang berlebih selama
proses persalinan. Keadaan ini sering terjadi pada wanita yang
pertama kali melahirkan (Wijaya dkk, 2014). Persalinan
merupakan suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan
plasenta) yang cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan
melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan ataupun
tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Sulistyowati & Nugraheny,
2013).
Persalinan adalah proses dimana bayi, Plasenta, dan selaput
ketuban keluar dari uterus ibu bersalin. Persalinan yang normal
terjadi pada usia kehamilan cukup bulan/ setelah usia kehamilan
37 minggu atau lebih tanpa penyulit. Pada akhir kehamilan ibu
dan janin mempersiapkan diri untuk menghadapi proses
persalinan. Janin bertumbuh dan berkembang dalam proses
persiapan menghadapi kehidupan di luar Rahim. Ibu menjalani
berbagai perubahan fisiologis selama masa hamil sebagai
persiapan menghadapi proses persalinan dan untuk berperan
sebagai ibu. Persalinan dan kelahiran adalah akhir kehamilan dan
titik di mulai nya kehidupan di luar Rahim bagi bayi baru lahir.
Persalinan dimulai sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan
perubahan pada serviks yang membuka dan menipis dan berakhir
dengan lahirnya bayi beserta plasenta secara lengkap. Pengalaman
persalinan bisa dialami oleh ibu pertama kali (primi), maupun
kedua atau lebih (multi). (Fauziah, 2015)
Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)
tahun 2012 menunjukkan peningkatan AKI yang signifikan yaitu
menjadi 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. AKI
kembali menujukkan penurunan menjadi 305 kematian ibu per
100.000 kelahiran hidup berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar
Sensus (SUPAS) tahun 2015. Untuk Angka Kematian Neonatus
(AKN) pada tahun 2012 sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup dan
Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 menunjukkan
AKB sebesar 22,23 per 1.000 kelahiran hidup (Kemenkes RI,
2016). Hasil laporan dari fasilitas pelayanan kesehatan terdapat
jumlah kematian ibu di Provinsi Jambi tahun 2014 adalah 53
kasus dengan jumlah kelahiran hidup sebanyak 70.223 kelahiran
hidup. Jika diproyeksikan angka kematian ibu di Provinsi Jambi
tahun 2014 adalah 75 per 100.000 kelahiran hidup (Dinkes Jambi,
2015).
Keberhasilan upaya kesehatan ibu, di antaranya dapat dilihat
dari indikator Angka Kematian Ibu (AKI). AKI adalah jumlah
kematian ibu selama masa kehamilan, persalinan dan nifas yang
disebabkan oleh kehamilan, persalinan, dan nifas atau
pengelolaannya tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti
kecelakaan atau terjatuh di setiap 100.000 kelahiran hidup.
Penyebab terbesar kematian ibu selama tahun 2010-2015 masih
sama yaitu perdarahan, sedangkan partus lama merupakan
penyumbang kematian ibu terendah. Penyebab lain-lain juga
berperan cukup besar dalam menyebabkan kematian ibu secara
tidak langsung, seperti kondisi penyakit kanker, ginjal, jantung,
tuberculosis atau penyakit lain yang diderita ibu (Kemenkes RI,
2013 ; 2016).
Upaya percepatan penurunan AKI dapat dilakukan dengan
menjamin agar setiap ibu mampu mengakses pelayanan kesehatan
ibu yang berkualitas, seperti pelayanan kesehatan ibu hamil,
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas
pelayanan kesehatan, perawatan pasca persalinan bagi ibu dan
bayi, perawatan khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi,
kemudahan mendapatkan cuti hamil dan melahirkan, dan
pelayanan keluarga berencana.
Peran seorang suami dalam proses persalinan sering
dihiraukan, salah satunya dikarenakan factor adat istiadat dan
kebijakan rumah sakit yang kurang mendukung (Gebrehiwotet al,
2012). Proses persalinan merupakan suatu keadaan yang
menegangkan, seorang ibu membutuhkan dukungan yang kuat,
salah satunya adalah dukungan dari seorang suami. Hal ini
diperlihatkan dalam jurnal penelitian tentang pengalaman ibu yang
di dampingi suami saat proses persalinan. Manfaat kehadiran
suami selama proses persalinan menurut persepsi ibu yaitu suami
dapat memberikan perasaan tenang serta menguatkan psikis ibu
karena suami dianggap dapat memberikan dukungan dan
semangat, menambah kedekatan emosi suami-istri karena suami
menyaksikan perjuangan ibu dalam melahirkan buah hati mereka,
suami selalu ada saat dibutuhkan, ibu merasa nyaman dan ada
energy lebih ketika suami mendampingi. Ibu merasa tidak sendiri
ketika melahirkan dikarenakan ada yang mendampingi,
memberikan dukungan serta memberikan semangat (Astutidkk,
2012).
Untuk itu peran bidan sangat penting khususnya dalam
menurunkan AKI. Bidan diharapkan mampu mendukung usaha
peningkatan derajat kesehatan masyarakat, yakni melalui
peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, terutama dalam
perannya mendukung pemeliharaan kesehatan ibu saat hamil
sampai proses bersalin (Hidayat & Sulistiyanti, 2010).
Dilatasi serviks adalah pelebaran muara dan saluran serviks,
yang terjadi pada kala I persalinan. Diameter meningkat dari 1 cm
sampai dilatasi lengkap (sekitar 10 cm) agar janin aterm dapat
dilahirkan. Apabila dilatasi serviks sudah lengkap menandai akhir
kala I persalinan dan masuk kepada kala II persalinan. Dilatasi
serviks terjadi karena komponen muskulofibrosa tertarik dari
serviks kea rah atas, akibat kontraksi uterus yang kuat. Tekanan
yang ditimbulkan cairan amnion selama ketuban utuh atau
kekuatan yang timbul akibat tekanan bagian presentasi juga
membantu serviks berdilatasi (Fauziah, 2015).
Laporan kasus ini akan dibahas mengenai Asuhan Kebidanan
Persalinan Normal pada Ny. S umur 33 tahun G2P1A0H1 Umur
Kehamilan 39-40 minggu di VK Zaal Kebidanan RSUD HAMBA.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana Asuhan Kebidanan Fisiologis Persalinan pada Ny.
S umur 33 tahun G2P1A0H1 Umur Kehamilan 39-40 minggu di
VK Zaal Kebidanan RSUD HAMBA.

C. Tujuan
1. Umum
Mampu menerapkan teori, konsep dan prinsip kebidanan dalam
memberikan asuhan kebidanan pada persalinan fisiologis dengan
pendekatan SOAP.
2. Khusus
a. Melaksanakan pengkajian data subjektif pada ibu bersalin
b. Melaksanakan pengkajian data objektif pada ibu bersalin
c. Merumuskan diagnosa berdasarkan data subjektif dan objektif
d. Melakukakan penatalaksanaan yang sesuai dengan kebutuhan ibu
bersalin dengan pendekatan holistik berdasarkan evidence based
practice.

D. Manfaat
1. Bagi Penulis
Dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan penulis
dalam memberikan asuhan pada ibu bersalin normal.
2. Bagi Institusi
Hasil studi kasus ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber
referensi khususnya tentang asuhan kebidanan pada ibu bersalin
normal.
3. Bagi Lahan Praktik
Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan studi
banding dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu bersalin
normal.
4. Bagi Profesi Bidan
Sebagai bahan teoritis maupun aplikatif bagi profesi bidan
dalam asuhan komprehensif pada ibu bersalin normal.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Teori Persalinan


1. Pengertian
Menurut (Manuaba 2010) persalianan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang
telah cukup bulan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan bantuan atau dengan
kekuatan sendiri. Persalinan adalah suatu proses membuka dan menipisnya serviks sehingga
janin turun ke dalam jalan lahir (Saifuddin, A 2009). Persalinan adalah rangkaian proses
pengeluaran hasil konsepsi cukup bulan yang dimulai dari membuka dan menipisnya serviks
melalui jalan lain dengan bantuan maupun tenaga ibu sendiri. Beberapa pengertian dari
persalinan adalah sebagai berikut:
a. Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun ke dalam jalan
lahir. Kelahiran adalah proses di mana janin dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir
(Sarwono,2008).
b. Persalinan (partus = labor) adalah proses pengeluaran produk konsepsi yang viabel melalui
jalan lahir biasa (Mochtar,2012).
Dilatasi serviks adalah pelebaran muara dan saluran serviks, yang terjadi pada kala I
persalinan. Diameter meningkat dari 1 cm sampai dilatasi lengkap (sekitar 10 cm) agar janin
aterm dapat dilahirkan. Apabila dilatasi serviks sudah lengkap menandai akhir kala I persalinan
dan masuk kepada kala II persalinan. Dilatasi serviks terjadi karena komponen muskulo fibrosa
tertarik dari serviks kea rah atas, akibat kontraksi uterus yang kuat. Tekanan yang ditimbulkan
cairan amnion selama ketuban utuh atau kekuatan yang timbul akibat tekanan bagian presentasi
juga membantu serviks berdilatasi (Fauziah, 2015).
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa persalinan adalah
proses pengeluaran(kelahiran) hasil konsepsi yang dapat hidup di luar uterus melalui vagina ke
dunia luar. Proses tersebut dapat dikatakan normal atau spontan jika bayi yang dilahirkan
berada pada posiisi letak belakang kepala dan berlangsung tanpa bantuan alat-alat atau
pertolongan, serta tidak melukai ibu dan bayi. Pada umumnya proses ini berlangsung dalam
waktu kurang dari 24 jam.
Nyeri persalinan dapat dikendalikan dengan 2 metode yaitu farmakologis dan
nonfarmakologis. Metode penghilang rasa nyeri secara farmakologis adalah metode penghilang
rasa nyeri dengan menggunakan obat-obat kimiawi, sedangkan metode non farmakologis adalah
metode penghilang rasa nyeri secara alami tanpa menggunakan obat-obat kimiawi yaitu teknik
relaksasi, yang merupakan tindakan eksternal yang mempengaruhi respon internal individu
terhadap nyeri. Manajemen nyeri dengan tindakan relaksasi mencakup relaksasi nafas dalam,
(Judha, 2012)
2. Tanda Gejala
a. Tanda awal terjadinya persalinan
Menurut Johariyah & Ema Wahyu Ningrum (2012), sebelum terjadi persalinan
sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki kala pendahuluan (prepatory
stage of labor), dengan tanda–tanda sebagai berikut :
1) Lightening atau settling atau dropping Yaitu
kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida, pada
multigravida tidak begitu kelihatan.
2) Perut kelihatan melebar, fundus uteri
menurun.
3) Perasaan sering atau susah buang air kecil
(polakisuria) karena kandung kemih tertekan bagian terbawah janin.
4) Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh
adanya kontraksi–kontraksi lemah dari uterus, kadang–kadang di sebut “fase labor pains
“.
5) Serviks menjadi lembek, mulai mendatar dan
sekresinya bertambah serta bisa bercampur dengan darah (bloody show).
b. Tanda-tanda persalinan
Menurut Ai Yeyeh (2009), sebelum terjadinya persalinan didahului dengan tanda-
tanda sebagai berikut:
1) Kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi yang semakin
pendek.
2) Dapat terjadi pengeluaran pervaginam yaitu pengeluaran lendir atau pengeluaran lendir
bercampur darah.
3) Dapat juga disertai ketuban pecah.
4) Pada pemeriksaan dalam terdapat perubahan serviks yaitu:
a) Pelunakan serviks
b) Pendataran serviks
c) Terjadinya pembukaan serviks

3. Faktor-faktor persalinan
Menurut Indrayani (2013) ada 5 faktor yang mempengaruhi persalinan yaitu 3 faktor
utama dan 2 faktor lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan tersebut adalah:
a. Jalan lahir (Passage way)
Passage way merupakan jalan lahir dalam persalinan berkaitan keadaan segmen atas
dan segmen bawah rahim pada persalinan.
1) Jalan lahir lunak
Jalan lahir lunak yang berperan pada persalinan adalah segmen bawah rahim, servik
uteri dan vagina, otot–otot, jaringan ikat dan ligament yang menyokong alat-alat
urogenital juga sangat berperan pada persalinan.
Saat persalinan dimulai, kontraksi uterus menyebabkan korpus uteri berubah
menjadi 2 bagian, yakni bagian atas yang tebal dan berotot dan bagian bawah yang
berotot pasif dan berdinding tipis. Segmen bawah secara bertahap membesar karena
mengakomodasi isi dalam uterus, sedangkan bagian atas menebal dan kapasitas
akomodasi menurun. Kontraksi korpus uteri menyebabkan janin tertekan kebawah,
terdorong kearah serviks. Serviks kemudian menipis dan berdilatasi (terbuka) sehingga
memungkinkan bagian terbawah janin memasuki vagina.
2) Jalan lahir keras
Jalan lahir keras terdiri dari tulang-tulang panggul.Tulang pangggul terdiri dari 4
buah tulang yaitu 3 tulang pangkal paha (os coxae), 1 tulang kelangkang (os sacrum)
dan 1 tulang tungging (os coccygeus).
3) Bidang Hodge
a) Hodge I, membentang dari pinggir atas simfisis hingga ke promontorium (sama
dengan pintu atas panggul)
b) Hodge II, sejajar Hodge I, melalui pinggir bawah simfisis.
c) Hodge III, sejajar Hodge I dan II setinggi dari spina ischiadika kiri dan kanan.
d) Hodge IV, sejajar Hodge I, II dan III terletak setinggi ujung os coccygis.
b. Janin (Passenger)
Janin atau passanger bergerak sepanjang jalan lahir akibat interaksi beberapa faktor,
diantaranya: ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap dan posisi janin karena plasenta
dan air ketuban juga harus melewati jalan lahir, maka dianggap sebagai baian dari
passanger yang menyertai janin. Namun plasenta dan air ketuban jarang menghambat
proses persalinan pada kehamilan normal.Istilah- istilah yang dipakai untuk kedudukan
janin dalam rahim adalah :
1) Sikap (Habitus)
Sikap menunjukkan hubungan bagian–bagian janin dengan sumbu janin, biasanya
terhadap tulang punggungnya. Janin umumnya dalam sikap fleksi dimana kepala, tulang
punggung dan kaki dalam keadaan fleksi serta lengan bersilang di dada
2) Letak janin (Situs)
Yaitu bagaimana suatu janin terhadap sumbu ibu, misalnya letak lintang dimana
sumbu janin tegak lurus pada sumbu ibu, letak membujur dimana sumbu janin sejajar
dengan sumbu ibu, ini bisa letak kepala atau letak sungsang (bokong).
3) Presentasi
Presentasi digunakan untuk menentukan bagian janin yang ada di bagian bawah
rahim yang di jumpai pada palpasi atau pada pemeriksaan dalam. Misalnya presentasi
kepala, presentasi bokong, presentasi bahu dan lain – lain.
4) Posisi
Posisi merupakan indikator untuk menetapkan arah bagian terbawah janin apakah
sebelah kanan, kiri, depan atau belakang terhadap sumbu ibu. Misalnya pada letak
kepala ubun- ubun kecil kiri depan.
c. Kekuatan mendorong janin (Power)
Kekuatan yang mendorong janin keluar (power) terdiri dari:
1) His (kontraksi otot uterus)
His merupakan kontraksi otot rahim pada persalinan pada persalinan yang terdiri
dari kontraksi otot dinding perut, kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan
dan kontraksi ligamentum rotundom.Kontraksi rahim bersifat berkala dan yang harus di
perhatikan adalah lamanya kontraksi, kekuatan kontraksi, interval kontraksi, frekuensi
kontraksi.Pembagian his dan sifat-sifatnya sebagai berikut :
a) His pendahuluan, his tidak kuat, tidak teratur dan menyebabkan “show” (cairan
lendir bercampur darah).
b) His pembukaan, his pembukaan serviks sampai terjadi pembukaan lengkap 10 cm,
mulai kuat, teratur dan sakit.
c) His pengeluaran/his mengedan (kala dua), sangat kuat, teratur, simetris,
terkoordinasi dan lama, his untuk mengeluarkan janin, koordinasi bersama antara:
his kontraski otot perut, kontraksi diafragma dan ligamen.
d) His pelepasan uri (kala III)
Kontraksi sedang untuk melepaskan dan melahirkan plasenta.
e) His pengiring (kala IV)
Kontraksi lemah, masih sedikit nyeri, pengecilan rahim dalam beberapa rahim
dalam beberapa hari.
f) His palsu
His palsu adalah kontraksi uterus yang tidak efisien atau spasme usus, kandung
kencing dan otot-otot dinding perut yang terasa nyeri dan timbul beberapa hari
sampai satu bulan sebelum kehamilan cukup bulan.

Tabel 2.1 Perbedaan His Persalinan dan His Palsu


His persalinan His palsu
Interval teratur Tidak teratur
Makin lama intervalnya makin pendek Tidak berubah
Lama dan kekuatannya bertambah Tidak berubah
Rasa nyeri mulai di belakang dan menjalar Rasa nyeri terutama di
ke depan depan
Jalan-jalan menaikkan intensitasnya Tidak berubah
Ada hubungan antara derajat pengerasan Tidak ada hubungan
uterus dengan intensitas rasa nyeri
Seringkali ada lendir darah Tidak ada
Cervik mendatar dan membuka Tidak ada perubahan servik
Bagian terendah janin turun Tidak turun
Pada waktu tidak ada his kepala terfiksasi Kepala tetap bebas
Sedative tidak menghentikan his Sedative yang efisien
sungguhan menghilangkan his palsu
Sumber : Indrayani, 2013.
2) Kekuatan mengedan
Setelah pembukaan lengkap dan setelah ketuban pecah tenaga yang mendorong anak
keluar selain his, terutama di sebabkan oleh kontraksi otot dinding perut yang
mengakibatkan peninggian tekanan intra abdominal.
Tenaga ini serupa dengan tenaga mengejan waktu buang air besar tapi lebih kuat
lagi.Tenaga mengejan hanya dapat berhasil kalau pembukaan sudah lengkap dan paling
efektif sewaktu kontraksi rahim.
d. Position (posisi)
Posisi ibu mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi persalinan.Posisi tegak
memberi sejumlah keuntungan.Mengubah posisi membuat rasa letih hilang, memberi rasa
nyaman dan melancarkan sirkulasi darah.Posisi tegak meliputi posisi berdiri,
berjalan,duduk,jongkok.Posisi tegak memungkinkan gaya gravitasi untuk penurunan
bagian terendah janin.Kontraksi uterus lebih kuat dan lebih efisien untuk membantu
penipisan dan dilatasi serviks sehingga persalinan lebih cepat. Posisi tegak dapat
mengurangi insidensi penekanan tali pusat.
Macam-macam posisi meneran diantaranya:
1) Duduk atau setengah duduk: posisi ini memudahkan bidan dalam
membantu kelahiran kepala janin dan memperhatikan keadaan perineum
2) Merangkak: posisi merangkak sangat cocok untuk persalinan dengan rasasakit
pada punggung, mempermudah janin dalam melakukan rotasi serta peregangan
pada perineum berkurang.
3) Jongkok atau berdiri: posisi jongkok atau berdiri memudahkan penurunan kepala
janin, memperluas panggul sebesar 28% lebih besar pada pintu bawah panggul,
dan memperkuat dorongan meneran. Namun posisi ini berisiko memperbesar
terjadinya laserasi (perlukaan) jalan lahir.
4) Berbaring miring: posisi berbaring miring dapat mengurangi penekanan pada vena
cava inverior, sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya hipoksia janin
karena suply oksigen tidak terganggu, dapat memberi suasana rileks bagi ibu yang
mengalami kecapekan, dan dapat mencegah terjadinya robekan jalan lahir.
5) Hindari posisi telentang (dorsal recumbent): posisi ini dapat mengakibatkan:
hipotensi (beresiko terjadinya syok dan berkurangnya suply oksigen dalam
sirkulasi utero placenter, sehingga mengakibatkan hipoksia bagi janin), rasa nyeri
yang bertambah, kemajuan persalinan bertambah lama, ibu mengalami gangguan
untuk bernafas, buang air kecil terganggu, mobilisasi ibu kurang bebas, ibu kurang
semangat, dan dapat mengakibatkan kerusakan pada syaraf kaki dan punggung.
e. Psikologi Ibu
Tingkat kecemasan wanita selama bersalin akan meningkat, oleh karena itu
dukungan psikologis dari orang-orang terdekat akan membantu proses persalinan
yang sedang berlangsung. Tindakan mengupayakan rasa nyaman dengan menciptakan
suasana nyaman, memberikan sentuhan dan massase punggung.

4. Tahapan
Menurut JNP-KR (2012;38) proses persalinan teridi dari 4 kala, yaitu:
a. Kala I (Kala Pembukaan)
Kala I dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang teratur dan meningkat (frekuensi dan
kekuatannya) hingga serviks membuka lengkap (10cm). Lama kala I untuk primigravida
adalah 12 jam, pada multi gravida adalah 8 jam. Proses membukanya serviks disebabkan
oleh his pesalinan/kontraksi. Tanda dan gejala kala I:
1) His sudah teratur, frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit
2) Penipisan dan pembukaan serviks
3) Keluar cairan dari vagina dalam bentuk lendir bercampur darah
Kala I persalinan terdiri atas 2 fase, yaitu:
1) Fase laten
Dimulai sejak adanya kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan
serviks secra bertahap, berlangsung hingga pembukaan serviks kurang dari 4 cm,
umumnya fase laten berlangsung antara 6-8 jam.Prosedur dan diagnostik :
Untuk menentukan apakah persalinan sudah pada waktunya, menurut Saifuddin (2010)
maka:
a) Tanyakan riwayat persalinan :
Permulaan timbulnya kontraksi; pengeluaran pervaginam seperti lendir, darah, dan
atau cairan ketuban; riwayat kehamilan; riwayat medik; riwayat sosial; terakhir kali
makan dan minum; masalah yang pernah ada.
b) Pemeriksaan Umum :
Tanda vital, BB, TB, oedema; kondisi puting susu; kandung kemih.
c) Pemeriksaan Abdomen :
Bekas luka operasi; tinggi fundus uteri; kontraksi; penurunan kepala; letak janin;
besar janin; denyut jantung janin.
d) Pemeriksaan vagina :
Pembukaan dan penipisan serviks; selaput ketuban penurunan dan molase; anggota
tubuh janin yang sudah teraba.
e) Pemeriksaan Penunjang :
Urine: warna, kejernihan, bau, protein, BJ, dan lain-lain; darah: Hb, BT/CT, dan
lain-lain.
f) Perubahan psikososial
Perubahan prilaku; tingkat energi; kebutuhan dan dukungan.
2) Fase aktif
Frekuensi dan lama kontraksi akan meningkat secara bertahap (kontraksi dikatakan
adekuat jika terjadi 3 kali atau lebih dalam 10 menit dan berlangsung selama 40 detik
atau lebih). Pembukaan serviks dari 4 cm hingga 10 cm, his lebih kuat dan serviks
membuka lebih cepat dengan kecepatan rata-rata 1 cm/jam (primigravida) atau lebih 1
cm hingga 2 cm pada multipara serta terjadi penurunan bagian terbawah janin.
Menurut Indrayani (2013) fase aktif dibedakan menjadi:
a) Fase akselerasi
Dari pembukaan serviks 3cm menjadi 4 cm, umumnya berlangsung selama 2
jam. Fase ini merupakan fase persiapan menuju fase berikutnya.
b) Fase dilatasi maksimal
Fase ini merupakan waktu ketika dilatasi serviks meningkat dengan cepat dari
pembukaan 4 cm menjadi 9 cm selama 2 jam. Normalnya pembukaan servik pada
fase ini konstan yaitu 3 cm/jam untuk multipara dan 1-2 cm untuk primipara.
c) Fase deselerasi
Fase ini merupakan akhir fase dimana dilatasi serviks dari 9 cm menuju
pembukaan lengkap (10 cm).dilatasi serviks pada fase ini terjadi lambat, rata-rata 1
cm/jam namun pada multipara lebih cepat.
Pemantauan kala 1 fase aktif persalinan :
Penggunaan Partograf
Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan. Tujuan utama
dari penggunaan partograf adalah untuk :
a) Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan
serviks melalui pemeriksaan dalam.
b) Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan demikian,
juga dapat melakukan deteksi secara dini setiap kemungkinan terjadinya partus
lama.
Halaman depan partograf untuk mencatat atau memantau:
A. Kesejahteraan janin
Denyut jantung janin (setiap ½ jam), warna air ketuban (setiap pemeriksaan dalam),
penyusupan sutura (setiap pemeriksaan dalam).
B. Kemajuan persalinan
Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus (setiap ½ jam), pembukaan serviks (setiap 4
jam), penurunan kepala (setiap 4 jam).
C. Kesejahteraan ibu
Nadi (setiap ½ jam), tekanan darah dan temperatur tubuh (setiap 4 jam), prodeksi
urin, aseton dan protein (setiap 2 sampai 4 jam), makan dan minum.
b. Kala II (Kala pengeluaran)
Batasnya dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10cm) dan berakhir dengan
lahirnya bayi. Kala II juga disebut kala pengeluaran janin, dimulai dengan pembukaan
lengkap dan berakhir dengan lahirnya seluruh tubuh janin.Wanita merasa hendak buang air
besar karena tekanan pada rektum. Perineum menonjol dan menjadi besar karena anus
membuka. Labia menjadi membuka dan tidak lama kemudian kepala janin tampak pada
vulva pada waktu his.
Pada primigravida kala II berlangsung 1,5-2 jam, pada multi 0,5-1 jam(JNPK – KR,
2008).Tanda dan gejala kala II :
1) Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
2) Perineum terlihat menonjol.
3) Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan atau vaginanya.
4) Ibu meraakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan atau vaginanya.
5) Vulva-vagina dan sfingter ani terlihat membuka.
6) Peningkatan pengeluaran lendir dan darah.
c. Kala III
Setelah bayi lahir, tempat perlekatan plasenta menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran
plasenta tidak berubah maka plasenta akan terlipat, menebal dan kemudian terlepas dari
dinding uterus. Setelah lepas plasenta akan turun kebagian bawah uterus atau kedalam
vagina.
Dalam waktu 5-15 menit seluruh plasenta terlepas, terdorong kedalam vagina dan akan
lahir spontan atau dengan sedikit terdorong dari atas simfisi atau fundus uteri seluruh
proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir.
1) Tanda-tanda lepasnya plasenta
a) Perubahan bentuk dan tinggi fundus. Setelah uterus bekontraksi dan plasenta
terdorong ke bawah, uterus berbentuk segitiga dan fundus berada diatas pusat.
b) Tali pusat memanjang. Tali pusat terlihat menjulur kaluar melalui vulva.
c) Semburan darah tiba-tiba dan singkat.
2) Manajemen aktif kala III
a) Memberikan oksitosin
Oksitosin merangsang uterus berkontraksi yang juga mempercepat pelepasan
plasenta. Pemberian oksitosin 10 unit IM pada 1/3 bagian atas paha bagian luar
dilakukan dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir
b) Melakukan peregangan tali pusat terkendali (PTT)
PTT mempercepat kelahiran plasenta begitu sudah terlepas.
c) Massase uterus
Segera setelah plasenta dan selaputnya dilahirkan, massase fundus uteri agar
menimbulkan kontraksi.Hal ini dapat mengurangi pengeluaran darah dan mencegah
perdarahan postpartum.

d. Kala IV (Kala pengawasan)


Kala IV dimulai dari lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama postpartum. Kala IV ialah
kala yang membutuhkan perhatian yang sangat ketat selama 2 jam postpartum. Pada kala
ini ibu akan mengalami kehilangan darah, kehilangan darah pada persalinan biasanya
desebabkan oleh luka bekas perlekatan plasenta atau adanya robekan pada serviks dan
perineum, rata-rata dalam batas normal jumlah perdarahan adalah 250 ml atau ada juga
yang mengatakan jumlah perdarahan 100-300 ml merupakan batasan normal untuk proses
persalinan normal (Indrayani, 2013).
Setelah plasenta lahir, kontraksi rahim tetap kuat dengan amplitudo 60 sampai 80
mmHg, kekuatan kontraksi ini tidak diikuti oleh interval pembuluh darah tertutup rapat dan
terjadi kesempatan membentuk trombus. Melalui kontraksi yang kuat dan pembentukan
trombus terjadi penghentian pengeluaran darah postpartum. Kekuatan his dapat dirasakan
ibu saat menyusui bayinya karena pengeluaran oksitosin oleh kelenjar hipofise posterior
(Manuaba, 2010). Tanda dan gejala kala IV: bayi dan plasenta telah lahir, tinggi fundus
uteri 2 jari bawah pusat.

5. Mekanisme Persalinan
Denominator atau petunjuk adalah kedudukan dari salah satu bagian dari bagian depan
janin terhadap jalan lahir. Hipomoklion adalah titik putar atau pusat pemutaran.
No. Mekanisme Persalinan Keterangan
1. Engagement (fiksasi) = masuk Ialah masuknya kepala dengan lingkaran terbesar
(diameter biparietal) melalui PAP

Gambar Engagement
2. Descensus = penurunan Ialah penurunan kepala lebih lanjut kedalam panggul.
Faktor-faktor yang mempengaruhi descensus antara
lain tekanan air ketuban, dorongan langsung fundus
uteri pada bokong janin, kontraksi otot-otot abdomen,
ekstensi badan janin.

Gambar Penurunan kepala


3. Fleksi Ialah menekannya kepala dimana dagu mendekati
sternum sehingga lingkaran kepala menjadi mengecil
 suboksipito bregmatikus (9,5 cm). Fleksi terjadi
pada waktu kepala terdorong his ke bawah kemudian
menemui jalan lahir. Pada waktu kepala tertahan
jalan lahir, sedangkan dari atas mendapat dorongan,
maka kepala bergerak menekan ke bawah.

Gambar Fleksi
4. Putaran Paksi Dalam (internal rotation) Ialah berputarnya oksiput ke arah depan sehingga
ubun -ubun kecil berada di bawah symphisis (HIII).
Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain
perubahan arah bidang PAP dan PBP, bentuk jalan
lahir yang melengkung, kepala yang bulat dan
lonjong.

Gambar Putaran paksi dalam


5. Ekstensi Ialah mekanisme lahirnya kepala lewat perineum.
Faktor yang menyebabkan terjadinya hal ini ialah
lengkungan panggul sebelah depan lebih pendek dari
pada yang belakang. Pada waktu defleksi, maka
kepala akan berputar ke atas dengan suboksiput
sebagai titik putar (hypomochlion) dibawah
symphisis sehingga berturut-turut lahir ubun-ubun
besar, dahi, muka dan dagu.
Gambar Ekstensi

6. Putaran paksi luar (external rotation) Ialah berputarnya kepala menyesuaikan kembali
dengan sumbu badan (arahnya sesuai dengan
punggung bayi).
Gambar Putaran paksi Luar

7. Expulsi Lahirnya seluruh badan bayi.

Gambar Ekspulsi
Gambar Mekanisme Persalinan Letak Belakang Kepala(Sarwono, 2008)

6. Pengurangan Nyeri Persalinan


Nyeri persalinan disebabkan adanya regangan segmen bawah rahim, Farer (2011).
Intensitas nyeri sebanding dengan kekuatan kontraksi dan tekanan yang terjadi, nyeri bertambah
ketika mulut rahim dalam dilatasi penuh akibat tekanan bayi terhadap struktur panggul diikuti
regangan dan perobekan jalan lahir. Nyeri persalinan unik dan berbeda pada setiap individu
karena nyeri tidak hanya dikaitkan dengan kondisi fisik semata, tetapi berkaitan juga dengan
kondisi psikologis ibu pada saat persalinan
a. Konsep Nyeri
1) Defenisi Nyeri
Nyeri adalah sensasi yang sangat tidak menyenangkan dan sangat individual
yang tidak dapat dibagi dengan orang lain (Kozier dan Erb, 2009). Intensitas nyeri
adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran
intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam
intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua
orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan 15 pendekatan objektif yang paling
mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri.
Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti
tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007: 73). Beberapa hal yang harus dikaji
untuk menggambarkan nyeri seseorang antara lain:

2) Intensitas Nyeri
Minta individu untuk membuat tingkatan nyeri pada skala verbal, misal :
tidak nyeri, sedikit nyeri, nyeri sedang, nyeri berat, hebat atau sangat nyeri, atau
dengan membuat skala nyeri yang sebelumnya bersifat kualitatif menjadi bersifat
kuantitatif dengan menggunakan skala 0–10 yang bermakna 0 = tidak nyeri, dan
10
= nyeri sangat hebat. (Price, 2006: 1065)
3) Karakteristik Nyeri
Karakteristik nyeri dapat dilihat atau diukur berdasarkan lokasi nyeri, durasi
nyeri (menit, jam, hari atau bulan), irama/periodenya (terus menerus, hilang
timbul, periode bertambah atau berkurangnya intensitas) kualitas (nyeri seperti
ditusuk, terbakar, sakit nyeri dalam atau superficial, atau bahkan seperti
digencet). (Tamsuri, 2007: 73).
a) Skala Atau Pengukuran Nyeri
b) Skala Deskripsi Intensitas Nyeri Sederhana

Gambar 2.1 Skala Deskripsi Intensitas Nyeri Sederhana 16

Keterangan :

1 : Tidak nyeri

1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.

4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat


menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti
perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapatmengikuti
perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi
nyeri, tidak

dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas


panjang dan distraksi

10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.

c) Skala Nyeri Muka

Gambar 2.2 Skala Nyeri Muka


b. Managemen Nyeri
1) Managemen Farmakologi
Managemen farmakologi merupakan suatu pendekatan yang digunakan untuk
menghilangkan nyeri dengan menggunakan obat-obatan. Obat merupakan bentuk
pengendalian nyeri yang paling sering diberikan oleh perawat dengan kolaborasi
dengan dokter. Terdapat tiga kelompok obat nyeri yaitu:
a) Analgetik non opioid – Obat Anti Inflamasi Non Steroid(OAISN)
Efektif untuk penatalaksanaan nyeri ringan sampai sedang terutama
asetomenofn (Tylenol) dan OAISN dengan ef anti peritik, analgetik dan anti
iflamasi, Asam asetilsalisilat (aspirin) dan Ibuprofin (Morfin, Advil) merupakan
OAINS yang sering digunakan untuk mengatasi nyeri akut derajat ringan. OAINS
menghasilkan analgetik dengan bekerja ditempat cedera melalui inhibisi sintesis
prostaglandin dari prekorsor asam arokidonat. Prostaglandin mensintesis nosiseptor
dan bekerja secara sinergis dengan prodok inflamatorik lain di tempat cedera,
misalnya bradikinibin dan histamin untuk menimbulkan hiperanalgetik. Dengan
demikian OAINS mengganggu mekanisme transduksi di nosiseptor aferen primer
dengan menghambat sintesis prostaglandin.
b) Analgesia opioid
Merupakan analgetik yang kuat yang bersedia dan digunakan dalam
penatalaksanaan nyeri dengan skala sedang sampai dengan berat. Obat-obat ini
merupakan patokan dalam pengobatan nyeri pasca operasi dan nyeri terkait kanker.
Morfin merupakan salah satu jenis obat ini yang digunakan untuk mengobati nyeri
berat. Berbeda dengan OAINS yang bekerja diperifer, Morfin menimbulkan efek
analgetiknya di sentral. Morfin menimbulkan efek dengan mengikat reseptor opioid
di nukleus modulasi di batang otak yang menghambat nyeri pada sistem assenden.
c) Adjuvan / Koanalgetik
Merupakan obat yang memiliki efek analgetik atau efek komplementer dalam
penatalaksanaan nyeri yang semula dikembangkan untuk kepentingan lain. Contoh
obat ini adalah Karbamazopin (Tegretol) atau Fenitoin (Dilantin) (Price & Wilson,
2006).
2) Managemen Non-Farmakologi
Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam mengatasi (memanajemen) nyeri saat
persalinan, yaitu salah satunya dengan memberikan terapi non farmakologis.Terapi
nonfarmakologis yaitu terapi yang digunakan yakni dengan tanpa menggunakan obat-
obatan, tetapi dengan memberikan berbagai teknik yang setidaknya dapat sedikit
mengurangi rasa nyeri saat persalinan tiba. Beberapa hal yang dapat dilakukan ialah:
a) Distraksi
Distraksi adalah memfokuskan perhatian pasienpada sesuatu selain nyeri. Ada
empat tipe distraksi, yaitu distraksi visual, misalnya membaca atau menonton
televisi, Distraksi auditory, misalnya mendengarkan musik, Distraksi taktil,
misalnya menarik nafas dan massase, Distraksi kognitif, misalnya bermain puzzle.
b) Hypnosis-diri
Hypnosis-diri dengan membantu merubah persepsinyeri melalui pengaruh
sugesti positif. Hypnosis-diri menggunakan sugesti dari dan kesan tentang perasaan
yang rileks dan damai. Individu memasuki keadaan rileks dengan menggunakan
bagian ide pikiran dan kemudian kondisikondisi yang menghasilkan respons tertentu
bagi mereka (Edelman & Mandel, 1994). Hypnosis-diri sama seperti dengan
melamun. Konsentrasi yang efektif mengurangi ketakutan dan sters karena individu
berkonsentrasi hanya pada satu pikiran. Selain itu juga mengurangi persepsi nyeri
merupakan salah satu sederhana untuk meningkatkan rasa nyaman ialah membuang
atau mencegah stimulasi nyeri. Hal ini terutama penting bagi klien yang imobilisasi
atau tidak mampu merasakan sensasi ketidaknyamanan. Nyeri juga dapat dicegah
dengan mengantisipasi kejadian yang menyakitkan, misalnya seorang klien yang
dibiarkan mengalami konstipasi akan menderita distensi dan kram abdomen. Upaya
ini hanya klien alami dan sedikit waktu ekstra dalam upaya menghindari situasi
yang menyebabkan nyeri (Mander, 2003).
c) Stimulas Kutaneus
Terapi stimulasi kutaneus adalah stimulasi kulityang dilakukan untuk
menghilangkan nyeri massase, mandiair hangat, kompres panas atau dingin dan
stimulasi saraf elektrik transkutan (TENS) merupakan langkah-langkah sederhana
dalam upaya menurunkan persepsi nyeri. Cara kerja khusus stimulasi kutaneus
masih belum jelas. Salah satu pemikiran adalah cara ini menyebabkan pelepasan
endorfin, sehingga memblog transmisi stimulasi nyeri.
Teori Gate-kontrol mengatakan bahwa stimulasi kutaneus mengaktifkan
transmisi tersebut saraf sensori A-Beta yang lebih besar dan lebih cepat. Proses ini
menurunkan transmisi nyeri melalui serabut dan delta-A berdiameter kecil. Gerbang
sinaps menutup transmisi impuls nyeri. Bahwa keuntungan stimulasi kutaneus
adalah tindakan ini dapat dilakkan dirumah, sehingga memungkinkan klien dan
keluarga melakukan upaya kontrol gejala nyeri dan penanganannya. Penggunaan
yang benar dapat mengurangi persepsi nyeri dan membantu mengurangi ketegangan
otot. Stimulasi kutaneus jangan digunakan secara langsung pada daerah kulit yang
sensitif (misalnya luka bakar, luka memar, cram kulit, inflamasi dan kulit dibawah
tulang yang fraktur) (Mander,2004).

d) Massase
Masasse adalah melakukan tekanan tangan padajaringan lunak, biasanya otot,
atau ligamentum, tanpa menyebabkan gerakan atau perubahan posisi sendi untuk
meredakan nyeri, menghasilkan relaksasi, dan / atau memperbaiki sirkulasi. Masase
adalah terapi nyeri yang paling primitive dan menggunakan refleks lembut manusia
untuk menahan, menggosok, atau meremas bagian tubuh yang nyeri (Smeltzer &
Bare, 2002).

e) Terapi Hangat dan Dingin


Terapi hangat dan dingin bekerja denganmenstimulasi reseptor tidak nyeri (non-
nosiseptor). Terapi dingin dapat menurunkan prostaglandin yang memperkuat
sensitifitas reseptor nyeri. Agar efektif es harus diletakkan di area sekitar
pembedahan. Penggunaan panas dapat meningkatkan aliran darah yang dapat
mempercepat penyembuhan dan penurunan nyeri (Smeltzer & Bare, 2002).

f) Relaksasi pernafasan
Relaksasi pernafasan yang merupakan suatu bentukasuhan keperawatan, yang
dalam hal ini perawat mengajakan pada klien bagaimana cara melakukan
pernafasan, nafas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana
menghembuskan nafas secara perlahan. Selain dapat menurunkan intensitas nyeri,
teknik relaksasi pernafasan juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan
meningkatkan oksigenasi darah (Smeltzer & Bare, 2002). Menurut kegunaanya
teknik relaksasi pernafasan dianggap mampu meredakan nyeri, prosesnya menarik
nafas lambat melalui hidung (menahan inspirasi secara maksimal) dan
menghembuskan nafas melalui mulut secara perlahan-lahan.

7. Perubahan psikologis
a. ibu merasa ketakutan sehubungan dengan dirinya sendiri yaitu takut jika terjadi bahaya atas
dirinya pada saat persalinan, takut tidak dapat memenuhi kebutuhan anaknya.
b. ketakutan yang dihubungkan dengan pengalaman yang lalu, misal: mengalami kesulitan
pada persalinan yang lalu.
c. ketakutan karena anggapan sendiri bahwa persalinan itu merupakan hal yang
membahayakan.
d. disamping adanya perasaan takut, terjadi pula perasaan gembira akan segera melihat wajah
anaknya yang dinantikan.

8. Penatalaksanaan
Menurut JNPK-KR (2012, hal. 180) untuk melakukan asuhan persalinan normal
dirumuskan 60 langkah asuhan yaitu sebagai berikut:
I. Mengenali Gejala dan Tanda Kala Dua
1. Mendengarkan dan melihat tanda Kala Dua persalinan
 Ibu merasa ada dorongan kuat dan meneran
 Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rectum dan
vagina
 Perineum tampak menonjol
 Vulva dan sfingter ani membuka
II. Menyiapkan Pertolongan Persalinan
2. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk
menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi segera pada ibu dan
bayi baru lahir.
Untuk asuhan bayi baru lahir atau resusitasi, siapkan:
 Tempat datar, rata, bersih, kering, dan hangat.
 Tiga handuk/kain bersih dan kering (termasuk ganjal bahu bayi).
 Alat penghisap lender.
 Lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh bayi.
Untuk ibu:
 Menggelar kain di perut bawah ibu
 Menyiapkan oksitosin 10 unit
 Alat suntik steril sekali pakai di dalam partus set
3. Pakai celemek plastic atau dari bahan yang tidak tembus cairan
4. Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan yang dipakai, cuci tangan
dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan tangan dengan
tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering
5. Pakai sarung tangan DTT pada tangan yang akan digunakan untuk periksa
dalam
6. Masukkan oksitosin ke dalam tabung suntik (gunakan tangan yang memakai
sarung tangan DTT atau steril dan pastikan tidak terjadi kontaminasi pada
alat suntik)
III. Memastikan Pembukaan Lengkap Dan Keadaan Janin
7. Membersihkan vulva dan perineum, menyeka dengan hati-hati dari
anterior(depan) ke posterior(belakang) menggunakan kapas atau kasa yang
dibasahi air DTT
 Jika introitus vagina, perineum atau anus terkontaminasi tinja,
bersihkan dengan seksama dari arah depan ke belakang.
 Buang kapas atau kasa pembersih (terkontaminasi) dalam wadah yang
tersedia
 Jika terkontaminasi, lakukan dekontaminasi, lepaskan dan rendam
sarung tangan tersebut dalam larutan klorin 0,5% −> langkah #13.
Pakai sarung tangan DTT atau steril untuk melaksanakan langkah
lanjutan
8. Lakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap
 Bila selaput ketuban masih utuh saat pembukaan sudah lengkap maka
lakukan amniotomi
9. Dekontaminasi sarung tangan (celupkan tangan yang masih memakai
sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, lepaskan sarung tangan dalam
keadaan terbalik, dan rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit).
Cuci kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan
10. Periksa denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi uterus mereda
(relaksasi) untuk memastikan DJJ masih dalam batas normal (120-
160x/menit)
 Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal
 Mendokumentasikan hasil-hasil periksa dalam, DJJ, semua temuan
pemeriksaan dan asuhan yang diberikan ke dalam partograf
IV. Menyiapkan Ibu Dan Keluarga Untuk Membantu Proses Persalinan
11. Beritahukan pada ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin
cukup baik, kemudian bantu ibu menemukan posisi yang nyaman dan sesuai
dengan keinginannya.
 Tunggu hingga timbul kontraksi atau rasa ingin meneran, lanjutkan
pemantauan kondisi dan kenyamanan ibu dan janin (ikuti pedoman
penatalaksanaan fase-aktif) dan dokumentasikan semua temuan yang
ada
 Jelaskan pada anggota keluarga tentang peran mereka untuk
mendukung dan memberi semangat pada ibu dan meneran secara benar
12. Minta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran jika ada rasa ingin
meneran atau kontraksi yang kuat. Pada kondisi itu, ibu diposisikan
setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan dan pastikan ibu merasa
nyaman.
13. Laksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ingin meneran atau
timbul kontraksi yang kuat:
 Bimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan efektif
 Dukung dan beri semangat pada saat meneran dan perbaiki cara
meneran apabila caranya tidak sesuai
 Bantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya (kecuali
posisi berbaring terlentang dalam waktu yang lama)
 Anjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi
 Anjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat untuk ibu
 Berikan cukup asupan cairan peroral (minum)
 Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai
 Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera lahir setelah
pembukaan lengkap dan dipimpin meneran ≥ 120 menit (2 jam) pada
primigravida atau ≥ 60 menit (1 jam) pada multigravida
14. Anjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok, atau mengambil posisi yang
nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam selang
waktu 60 menit
V. Persiapan Untuk Melahirkan Bayi
15. Letakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut bawah ibu, jika
kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6cm
16. Letakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian sebagai alas bokong ibu
17. Buka tutup partus set dan periksa kembali kelengkapan peralatan dan bahn
18. Pakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan
VI. Pertolongan Untuk Melahirkan Bayi
Lahirnya Kepala
19. Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka vulva maka
lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi dengan kain bersih dan
kering, tangan yang lain menahan belakang kepala untuk mempertahankan
posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan ibu meneran secara
efektif atau bernafas cepat dan dangkal
20. Periksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat (ambil tindakan yang sesuai
jika hal itu terjadi), segera lanjutkan proses kelahiran bayi.
Perhatikan!
 Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan lilitan lewat bagian
atas kepala bayi
 Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat di dua tempat
dan potong tali pusat di antara dua klem tersebut
21. Setelah kepala lahir, tunggu putaran paksi luar yang berlangsung secara
spontan
Lahirnya Bahu
22. Setelah putaran paksi luar selesai, pegang kepala bayi secara biparental.
Anjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakkan
kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul di bawah arkus
pubis dan kemudian gerakkan kearah atas dan distal untuk melahirkan bahu
belakang
Lahirnya Badan dan Tungkai
23. Setelah kedua bahu lahir, geser tangan bawah untuk menopang kepala dan
bahu. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang lengan dan
siku sebelah atas
24. Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas berlanjut ke
punggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang kedua mata kaki (masukkan
telunjuk diantara kedua kaki dan pegang kedua kaki dengan melingkarkan
ibu jari pada satu sisi dan jari-jari lainnya pada sisi yang lain agar bertemu
dengan jari telunjuk)
VII Asuhan Bayi Baru Lahir
25. Lakukan penilaian (selintas):
 Apakah bayi cukup bulan?
 Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernafas tanpa kesulitan?
 Apakah bayi bergerak dengan aktif?
Bila salah satu jawaban “TIDAK”, lanjut ke langkah resusitasi pada bayi
baru lahir dengan asfiksia
Bila semua jawaban “YA”, lanjut ke-30
26. Keringkan tubuh bayi
Keringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya
(kecuali kedua tangan) tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah
dengan handuk/kain yang kering. Pastikan bayi dalam posisi dan kondisi
aman diperut bagian bawah ibu
27. Periksa kembali uterus untuk memastikan hanya satu bayi yang lahir (hamil
tunggal) dan bukan kehamilan ganda (gemelli)
28. Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus berkontraksi baik
29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin 10 unit
(intramuskuler) di 1/3 distal lateral paha (lakukan aspirasi sebelum
menyuntikkan oksitosin)
30. Setelah 2 menit sejak bayi (cukup bulan) lahir, pegang tali pusat dengan
satu tangan pada sekitar 5 cm dari pusar bayi, kemudian jari telunjuk dan
jari tengah tangan lain menjepit tali pusat dan geser hingga 3 cm proksimal
dari pusar bayi. Klem tali pusat pada titik tersebut kemudian tahan klem ini
pada posisinya, gunakan jari telunjuk dan tengah tangan lain untuk
mendorong isi tali pusat kearah ibu (sekitar 5 cm) dan klem tali pusat pada
sekitar 2 cm distal dari klem pertama.
31. Pemotongan dan pengikatan tali pusat
 Dengan satu tangan, pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut
bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat di antara 2 klem tersebut
 Ikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian
lingkarkan lagi benang tersebut dan ikat tali pusat dengan simppul
kunci pada sisi lainnya
 Lepaskan klem dan masukkan dalam wadah yang telah disediakan
32. Letakkan bayi tengkurap di dada ibu untuk kontak kulitibu-bayi. Luruskan
bahu bayi sehingga dada bayi menempel di dada ibunya. Usahakan kepala
bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari putting
susu atau areola mamae ibu
 Selimuti ibu-bayi dengan kain kering dan hangat, pasang topi di kepala
bayi
 Biarkan bayi melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit
1 jam
 Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusu dini
dalam waktu 30-60 menit. Menyusu untuk pertama kali akan
berlangsung sekitar 10-15 menit. Bayi cukup menyusu dari satu
payudara
 Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah
berhasil menyusu
VII Manajemen Aktif Kala Tiga Persalinan (MAKIII)
I
33. Pindahkan klem tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva
34. Letakkan satu tangan diatas kain pada perut bawah ibu (diatas simfisis),
untuk mendeteksi kontraksi. Tangan lain memegang klem untuk
menegangkan tali pusat
35. Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat ke arah bawah sambil
tangan yang lain mendorong uterus kearah belakang-atas (dorso-kranial)
secara hati-hati (untuk mencegah inversion uteri). Jika plasenta tidak lahir
setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan tunggu hingga
timbul kontraksi berikutnya dan ulangi kembali prosedur diatas.
 Jika uterus tidak segera berkontraksi , minta ibu, suami atau anggota
keluarga untuk melakukan stimulasi putting susu

Mengeluarkan Plasenta
36. Bila pada penekanan bagian bawah dinding depan uterus kearah dorsal
ternyata diikuti dengan pergeseran tali pusat kearah distal maka lanjutkan
dorongan kearah kranial hingga plasenta dapat dilahirkan.
 Ibu boleh meneran tetapi tali pusat hanya ditegangkan (jangan ditarik
secara kuat terutama jika uterus tak berkontraksi) sesuai dengan sumbu
jalan lahir (kearah bawah-sejajar lantai-atas)
 Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak
sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta
 Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat:
1. Ulangi pemberian oksitosin10 unit IM
2. Lakukan kateterisasi (gunakan teknik aseptic) jika kandung kemih
penuh
3. Minta keluarga untuk menyiapkan rujukan
4. Ulangi tekanan dorso-kranial dan penegangan tali pusat 15 menit
berikutnya
Jika plasenta tak lahir dalam 30 menit sejak bayi lahir atau terjadi
perdarahan maka segera lakukan tindakan plasenta manual
37. Saat palsenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan kedua
tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban terpilin kemudian
lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang telah disediakan.
 Jika selaput ketuban robek, pakai sarung tangan DTT atau steril untuk
melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jari-jari tangan
atau klem ovum DTT atau steril untuk mengeluarkan selaput yang
tertinggal
Rangsangan Taktil (Massase) Uterus
38. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan massase uterus,
letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan massase dengan gerakan
melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus teraba keras)
a. Lakukan tindakan yang diperlukan (Kompresi Bimanual Internal,
Kompresi Aorta Abdominis, Tampon Kondom-Kateter) jika uterus
tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah rangsangan taktil/massase
IX. Menilai Perdarahan
39. Periksa kedua sisi palsenta (maternal-fetal) pastikan plasenta telah
dilahirkan lengkap. Masukkan plasenta ke dalam kantong plastik atau
tempat khusus
40. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Lakukan
penjahitan apabila terjadi laserasi yang luas dan menimbulkan perdarahan.
Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif, segera lakukan
penjahitan
X. Asuhan Pasca Persalinan
41. Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan
pervaginam
42. Celupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kedalam larutan
klorin 0,5%, bersihkan noda darah dan cairan tubuh kemudian celupkan ke
dalam air bersih, keringkan tangan dengan handuk pribadi yang bersih dan
kering
Evaluasi
43. Pastikan uterus berkontraksi dengan baik serta kandung kemih kosong
44. Ajarkan ibu/keluarga cara melakukan massase uterus dan menilai kontraksi
45. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah
46. Memeriksa nadi ibu dan pastikan keadaan umum ibu baik
47. Pantau keadaan bayi dan pastikan bahwa bayi bernafas dengan baik (40-
60x/menit)
a. Jika bayi sulit bernafas, merintih, atau retraksi, diresusitasi dan segera
merujuk ke rumah sakit
b. Jika bayi bernafas terlalu cepat atau sesak nafas, segera rujuk ke RS
rujukan
c. Jika kaki teraba dingin, pastikan ruangan hangat. Lakukan kembali
kontak kulit ibu-bayi dan hangatkan ibu-bayi dalam satu selimut
Kebersihan dan Keamanan
48. Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin0,5% untuk
dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah didekontaminasi
49. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai
50. Bersihkan ibu dari paparan darah dan cairan tubuh dengan menggunakan
air. Bersihkan cairan ketuban, lender dan darah di ranjang atau disekitar ibu
berbaring. Bantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering
51. Pastikan ibu merasa nyaman. Bantu ibu memberikan ASI. Anjurkan
keluarga untuk memberi ibu minuman dan makanan yang diinginkannya
52. Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin0,5%
53. Celupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5%, balikkan bagian
dalam keluar dan rendam dalam larutan klorin 0,5% selam 10 menit
54. Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian keringkan
tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering
55. Pakai sarung tangan DTT atau steril untuk melakukan pemeriksaan fisik
bayi
56. Dalam satu jam pertama, beri salep/tetes mata profilaksis infeksi, vitamin
K1 1mg IM di paha kiri bawah lateral, pemeriksaan fisik bayi baru lahir,
pernafasan bayi (normal 40-60x/menit) dan temperature tubuh (normal
36,5-37,5℃) setiap 15 menit
57. Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi
Hepatitis B dipaha kanan bawah lateral. Letakkan bayi di dalam jangkauan
ibu agar sewaktu-waktu dapat disusukan
58. Lepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan rendam didalam
larutan klorin 0,5% selama 10 menit
59. Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian keringkan
tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering
Dokumentasi
60. Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda vital dan
asuhan Kala IV Persalinan
Sumber: JNPK-KR (2012;180).

B. Metode Pendokumentasian
Metode pendokumentasian yang dilakukan dalam asuhan kebidanan adalah metode
SOAP, yang merupakan catatan yang bersifat sederhana, jelas, logis dan singkat. SOAP
merupakan singkatan dari :
1. S= Subyektif yang menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien yang
digali melalui anamnesa terhadap klien dan keluarga. Pendokumentasian ini termasuk langkah
satu dari tujuh langkah Varney. (Varney, 2007)
2. O= Obyektif menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan khusus
dan pemeriksaan penunjang dalam data focus untuk mendukung analisis sebagai langkah satu
dari tujuh langkah Varney. (Varney, 2007)
3. A=Analisis menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data
subyektif dan obyektif dalam suatu identifikasi masalah dan masalah utamanya maka bidan
merumuskan dalam suatu pernyataan yang mencakup kondisi, masalah, penyebab dan prediksi.
Prediksi meliputi masalah potensial dan prognosis.
4. P= Penatalaksanaan menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan, tindakan dan evaluasi
berdasarkan analisis. enatalaksanaan sebagai tindak lanjut untuk mengatasi masalah utama dan
masalah potensial yang telah dirumuskan dalam analisis. Penatalaksanaan merupakan langkah
lima, enam dan tujuh Varney. (Varney, 2007)
Asuhan kebidanan dengan metode SOAP merupakan metode atau bentuk pendekatan yang
digunakan bidan dalam memberikan asuhan kebidanan, sehingga langkah-langkah dalam manajemen
kebidanan merupakan alur pikir bidan dalam pemecahan masalah dan mengambil keputusan klinis.

C. Teori EBM
Wanita mengalami stres, rasa takut dan cemas saat melahirkan. Tingkat kecemasan wanita
hamil meningkat selama persalinan dan membuatnya sulit untuk rileks. Kecemasan dapat
menyebabkan ketegangan pada otot-otot dasar panggul, yang merupakan peran kunci dalam
persalinan, dan ketegangan otot ini meningkatkan rasa sakit. Selama persalinan, rasa sakit yang
berlebihan menyebabkan meningkatnya rasa takut, membuat wanita lebih sensitif terhadap rasa
sakit. Konsep siklus rasa takut-tegang-sakit muncul. Memutus siklus ini sangat penting untuk
memiliki pengalaman persalinan yang positif. Selain itu, kecemasan menyebabkanpelepasan
hormon stres, yang menyebabkan pelepasankortisol pada sirkulasi umum. Tingkat kortisol yang
tinggi menyebabkan penurunanaliran darah arteri uterus, yang membuat kontraksi berhenti atau
lambat. Penurunan efisiensi kontraksi uterus akan terjadi sehingga memperpanjang durasi
persalinan.
Pada penelitian Cicek dan Basar (2017) dilakukan penelitian efek latihan pernapasan pada
tingkat kecemasan ibu hamil dengan menggunakan skala penilaian kecemasan STAI. Penelitian
tersebut menggunakan teknik RCT yang dilakukan pada grup eksperimen dan kontrol dengan
jumlah masing-masing 35 orang. Pada grup eksperimen diberikan latihan pernapasan dari kala I
masa laten. Tingkat kecemasan ibu hamil dievaluasi sebanyak 3 kali. Hasil penelitian tersebut
menyebutkan bahwa latihan pernapasan dapat mengurangi rasa cemas ibu hamil pada masa
persalinan. Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan untuk mengajarkan latihan pernapasan
agar kecemasan ibu hamil dapat berkurang.
KONTROL HIS
Nama Ibu: Ny. S
Umur: 33 Tahun
Alamat: RT. 17 Teratai
Tgl/Ja DJ Ketuba Pembuka Penurun His T/D N S RR Urin
m J n an an e
Kepala
19-11- 138 Utuh 6 cm H III 3x10’/ 110/70 80 36,0 20 100
2021/ 40’’

14.00
Wib

138 Utuh 9 cm H III 4x10’/ 110/70 82 36,3 21 -


14.30
40’’
Wib

146 Jernih 10 cm H IV 5x10’/ 110/80 86 36,4 23


(lengkap) 54’’ -
14.45
Wib
Evaluasi nyeri

Evaluasi: Pada saat kontraksi pukul 14.00 wib dilakukan asuhan sayang ibu pada kala
I untuk mengurangi rasa nyeri dilakukan 3x massage counter pressure selama
his berlangsung dan dalam waktu 10 menit dan ibu merasa rasa nyeri
berkurang setelah dilakukan counterpressur dengan skalanyeri awal 9 (Nyeri
berat) berubah menjadi 6 (Nyeri sedang) .

Evaluasi: Pada saat kontraksi pukul 14.30 wib dilakukan asuhan sayang ibu pada kala
I untuk mengurangi rasa nyeri dilakukan 4x massage counter pressure selama
his berlangsung dan dalam waktu 10 menit dan ibu merasa rasa nyeri
berkurang setelah dilakukan counterpressur dengan skalanyeri awal 6 (Nyeri
berat) berubah menjadi 5 (Nyeri sedang) .

Evaluasi: Pada saat kontraksi pukul 14.45 wib dilakukan asuhan sayang ibu pada kala
I untuk mengurangi rasa nyeri dilakukan 5x massage counter pressure selama
his berlangsung dan dalam waktu 10 menit dan ibu merasa rasa nyeri
berkurang setelah dilakukan counterpressur dengan skalanyeri awal 5 (Nyeri
sedang) berubah menjadi 3 (Nyeri ringan
BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN FISIOLOGIS PADA NY. S


UMUR 33 TAHUN G2P1A0 USIA KEHAMILAN 39-40 MINGGU
DI VK KEBIDANAN RSUD HAMBA

PENGKAJIAN :
Tanggal :19 November 2021 Jam : 13.30 WIB
IDENTITAS PASIEN:

Identitas Pasien Penanggung Jawab


Status : Suami
1. Nama : Ny. S 1. Nama : Tn. H
2. Umur : 33 tahun 2. Umur : 34 tahun
3. Agama : Islam 3. Agama : Islam
4. Pendidikan :SMA 4. Pendidikan : DIII
5. Pekerjaan : IRT 5. Pekerjaan : Honorer
6. Suku bangsa: Batak/Indonesia 6. Suku Bangsa: Batak/ Indonesia
7. Alamat :Teratai RT 17 7. Alamat : Teratai RT 17

KALA I (Tanggal Pengkajian, Jam: 19 November 2021, 13.30 WIB )


A. DATA SUBJEKTIF
1. Alasan masuk kamar bersalin :
Ibu merasa kencang-kencang disertai nyeri pada perut bagian bawah dan keluar lendir darah. Ibu
mengatakan hamil anak ke 2
2. Keluhan Utama :
ibu merasakan kencang-kencang yang teratur pada bagian bawah perutnya sejak tanggal 19
November 2021 pukul 03.00 WIB
3. Tanda-tanda persalinan
a. Kontraksi sejak : 19 November 2021, 03.00 WIB
b. Lokasi ketidaknyamanan : di perut bagian bawah
c. Pengeluaran pervaginam : lendir darah sudah ada sejak jam 06.00 WIB
4. Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir : 10 kali/12 jam
5. Riwayat sebelum masuk kamar bersalin : ibu mengatakan tidak pernah dirawat di rumah sakit
selama hamil.
6. Riwayat Perkawinan
a. Kawin : 1 kali
b. Pernikahan ke- :1
c. Umur saat menikah : 27 tahun
d. Lamanya pernikahan : 6 tahun
7. Riwayat Menstruasi
a. Menarche usia : 13 tahun
b. Siklus : teratur
c. Lama : 5-6 hari
d. Sifat darah : encer
e. Bau : khas/amis
f. Flour albous : tidak
g. Disminorhee : Ya
h. Banyaknya : 2-3 kali ganti pembalut/hari.
8. HPMT : 13-02-2021
HPL : 20-11-2021
UK : 39-40 minggu
9. Riwayat Kehamilan ini:
a. Riwayat ANC :10 kali kunjungan
No. Trimester Freku Keluhan Terapi Oleh
ensi
1. I 2x Mual, KIE makan makanan bergizi, Bidan
pusing makan sedikit tapi sering,
istirahat cukup, anjuran
membaca buku KIA, anjuran
melakukan pemeriksaan
laboratoriumdi Puskesmas.
Pemberian B6 1x1 dan
folaxin 1x1
2. II 1x Tidak KIE makan makanan yang Bidan
ada bergizi, istirahat cukup,
keluhan anjuran mengisi P4K.
Pemberian SF 1x1, Kalk 1x1.
3. III 2x Pegel- KIE tanda-tanda persalinan Bidan
pegel di dan KIE persiapan persalinan
pinggang Kalk 1x1, SF 1x1

b. Obat-obatan/jamu yang dikonsumsi selama hamil : ibu mengatakan minum obat mual dari dokter
pada hamil muda.
c. Imunisasi TT : lengkap
10. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang Lalu
Ham Persalinan Nifas
il Tgl UK Jenis Penol Komplikasi J BB Perdara Lakt Komplik
ke- Lahir Persalin ong Ibu Bayi K Lahi han asi asi
an r
1 2018 ater spontan Bidan Tidak Tidak L 3300 normal Ya Tidak
m ada ada gra ada
m
2 Hamil
ini

11. Riwayat Kontrasepsi yang Digunakan


Ibu mengatakan menggunakan KB suntik selama 3 tahun setelah anak pertama lahir.
12. Riwayat Kesehatan
a. Penyakit yang pernah/sedang diderita: Ibu mengatakan sebelum menikah dan sebelum hamil
tidak pernah/sedangmenderita penyakit kuning, gula, tekanan darah tinggi, sakit jantung, sakit
ginjal, batuk lama,sesak nafas, sakit yang berhubungan dengan kemaluan dan payudara.
b. Penyakit yang pernah/ sedang diderita keluarga: Ibu mengatakan keluarganya tidak ada yang
pernah/sedang menderita penyakit kuning, gula, tekanan darah tinggi, sakit jantung, sakit ginjal,
batuk lama,sesak nafas, sakit yang berhubungan dengan kemaluan dan payudara.
c. Riwayat operasi: ibu mengatakan tidak pernah menjalani operasi apapun sebelumnya.
d. Riwayat kembar, cacat genetik: ibu tidak memiliki anggota keluarga yang kembar, dan tidak
memiliki keturunan cacat genetik pada keluarga.
e. Riwayat alergi: ibu mengatakan memiliki alergi udara dingin.
13. Kebutuhan Fisik
a. Nutrisi :
Makan terakhir (tanggal 19 November 2021, jam 11.00 WIB)Porsi 1 potong
Minum terakhir (tanggal 19 November 2021, jam 12.30 WIB) Porsi 1 gelas
Jenis makanan/minuman : roti, air putih
b. Eliminasi :
1) BAK terakhir (tanggal 19 November 2021, jam 11.30 WIB)
Sifat : cair
Jumlah : ± 20 cc
Warna : kuning jernih
Bau : khas
Keluhan : tidak ada

2) BAB terakhir (tanggal 19 November 2021, jam 05.00 WIB)


Sifat : lembek
Jumlah : banyak
Warna : kekuningan
Bau : khas
Keluhan : tidak ada
c. Istirahat (tidur tanggal 19 November 2021)
Tidur malam : lama ± 6 jam
d. Personal hygiene
Mandi terakhir tanggal 19 November 2021 : jam 06.00WIB
Ganti pakaian : 2 x/hari
Gosok gigi : 2 x/ hari
Keramas : 3 x/minggu
14. Keadaan Psiko, Sosio dan Spiritual (kesiapan menghadapi proses persalinan)
a. Pemilihan penolong dan tempat persalinan : sejak awal kehamilan sudah menentukan untuk
bersalin di RSUD HAMBA.
b. Pendamping persalinan : ibu didampingi oleh suami karena merasa lebih nyaman dan tenang
saat didampingi orang terdekat seperti keluarga.
c. Transportasi : Saat datang ibu diantar dengan mobil.
d. Calon pendonor darah : suami ibu yang golongan darahnya sama yaitu O.
e. Dana : Ibu telah terdaftar sebagai anggota kepesertaan BPJS Kesehatan dan juga telah
menyiapkan dana lainnya apabila memerlukan biaya tambahan yang tidak terduga.
f. Tanggapan ibu dan keluarga terhadap proses persalinan yang dihadapi: ibu dan keluarga sabar
dan antusias menantikan kelahiran bayinya.
g. Pengetahuan tentang proses persalinan : ibu mengetahui tentang proses persalinan dari
bidandanpengalamananak yang pertama.

B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum : baik
b. Kesadaran : composmentis

c. Tanda – Tanda Vital


Tekanan Darah : 120/60 mmHg
Suhu : 36,50C
Respirasi : 21 x/menit
Nadi : 89 x/menit
d. Berat Badan:
Sebelum hamil : 49 kg
Setelah hamil : 58 kg
e. Tinggi badan : 147 cm
f. IMT : 24,3 (normal)
g. LILA : 24.5 cm
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala :
Rambut hitam, tidak mudah rontok, tidak ada ketombe, Muka tidak ada odema dan cloasma,
Sklera mata putih, konjungtiva tidak pucat. Hidung bersih, tidak ada pengeluaran sekret
abnormal, ataupun sinusitis. Mulut bersih, lidah tidak kotor, gusi sehat, tidak ada caries gigi.
Telinga bersih, tidak ada pengeluaran serumen berlebih.
b. Leher :
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar getah bening, dan vena jugularis eksterna
c. Dada (payudara):
Bentuk simetris, aerola hitam, putting susu menonjol, colostrum sudah keluar, tidak ada massa/
benjolan
d. Abdomen
1) Inspeksi
Bentuk bulat, tidak ada bekas luka, tidak ada striae gravidarum, linea nigra, gerakan janin
aktif.
2) Palpasi
a) Leopold 1 : bagian fundus teraba teraba bulat, lunak, tidak melenting
b) Leopold 2 :
Kanan : teraba keras memanjang seperti papan, ada
tahanan
Kiri : teraba bagian kecil janin
c) Leopold 3 : bagian bawah teraba bulat, keras, tidak dapat digoyangkan
d) Leopold 4 : bagian bawah sudah masuk pintu atas panggul (PAP) dan perlimaan 2/5
e) Osborn Test : tidak dilakukan
f) TFU Mc.Donald : 28 cm
Taksiran Berat Janin: ± 2635 gram
3) Auskultasi :
Punctum maksimum : di bawah pusat bagian kanan ibu.
DJJ : frekuensi 138 kali/menit, irama teratur
4) His : frekuensi 3 kali/10 menit, durasi 40 detik, intensitas kuat
5) Palpasi supra pubik : kandung kemih kosong
e. Ekstremitas
Atas : tidak ada oedema, kuku tidak pucat.
Bawah : tidak ada oedema maupun varices, kuku tidak pucat, reflex patella +/+
f. Genetalia Eksterna dan Anus
1) Vagina : sudah keluar lendir darah, tidak ada pembesaran pada kelenjar bartolini dan
skene, tidak ada luka parut di perineum.
2) Anus : tidak hemoroid.
3) Pemeriksaan Dalam
a) Indikasi : adanya tanda persalinan
b) Tujuan : untuk mengetahui lebar pembukaan
c) Hasil : jam 14.00 WIB
Pembukaan : 6 cm
Portio : lunak
Kantung Ketuban : (+)
Presentasi : Kepala
Pengeluaran : Lendir darah
Hodge : III
Moulase : tidak
3. Pemeriksaan laboratorium
Pada tanggal 19 November 2021 dilakukan pemeriksaan
Hb : 13,4 gr/dl.
Golongan Darah :O
HBsAg : (-) Negatif
HIV : (-) Negatif
Syphilis :(-) Negatif
Reduksi Urine : (-) Negatif
Protein Urine : (-) Negatif

C. ANALISA
Diagnosa kebidanan :
Ny.S usia 33 tahun G2P1A0 UK 39-40 minggu, inpartu kala I fase aktif Janin Tunggal Intra Uterin
Preskep
Masalah : tidak ada

D. PENATALAKSANAAN
1. Memberitahukan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan kepada ibu dan keluarga bahwa ibu sudah
dalam proses persa keadaan umum ibu dan janin baik , Tekanan Darah: 120/60 mmHg, Suhu: 36,5˚C
Respirasi: 21 x/menit, Nadi: 89 x/menit. Pada pemeriksaan perut ibu didapatkan hasil pada fundus
teraba lunak dan tidak melenting, punggung kanan, presentasi kepala dan sudah masuk panggul 3/5,
DJJ (+) 138 x/menit. Pada pemeriksaan dalam yang dilakukan didapatkan hasil pembukaan 6 cm,
portio lunak, ketuban (+), UUK, lendir darah.
Rasionalisasi: dengan memberitahu ibu hasil pemeriksaan yang telah dilakukan agar ibu mengetahui
keadaan ibu dan janin yang ada dalam kandungannya serta mengetahui apakah ibu sudah masuk
persalinan atau belum saat ini sehingga kekhawatirannya akan berkurang.
Evaluasi : ibu dan keluarga merasa lega atas kemajuan persalinan.

2. Memberitahu suami dan keluarga yang mendampingi untuk selalu mendukung dan memenuhi
kebutuhan ibu dalam melewati fase-fase persalinan.
Rasionalisasi: dukungan yang baik akan membantu ibu menurunkan rasa nyeri yang diderita. Dalam
kondisi relaks, tubuh akan memproduksi hormon bahagia yang disebut endorphin yang akan
menekan hormon stressor, sehingga rasa nyeri yang dirasakan akan berkurang. Dukungan diberikan
oleh suami akan membuat ibu lebih nyaman dan lebih menikmati setiap perjalanan persalinan,
semakin ibu menikmati proses persalinan maka ibu akan merasa lebih relaks akibatnya ibu tidak
lagi terfokus pada rasa nyeri persalinan, sehingga nyeri persalinan tidak lagi terasa (Hilmansyah,
2011).
Evaluasi : Suami dan keluarga selalu mendampingi ibu dan memenuhi kebutuhan yang diperlukan
oleh ibu seperti menemani ke kamar mandi, memenuhi asupan nutrisi ibu dan lain sebagainya.

3. Mengajarkan ibu teknik relaksasi (pernapasan dalam) saat ada kontraksi untuk mengurangi rasa
nyeri dengan menarik nafas panjang dari hidung dan mengeluarkan dari mulut.
Rasionalisasi : Dengan menarik nafas dalam-dalam pada saat ada kontraksi dengan menggunakan
pernapasan dada melalui hidung akan mengalirkan oksigen ke darah yang kemudian dialirkan
keseluruh tubuh akan mengeluarkan hormon endorphin yang merupakan penghilang rasa sakit yang
alami didalam tubuh (Winny, 2015).
Evaluasi : ibu dapat melakukan teknik relaksasi (pernapasan dalam) rasa nyeri berkurang
sehingga rasa cemas dapat diminimalkan.

4. Memberikan terapi counterpresure kepada ibu


Rasionalisasi : Penekanan pada daerah lumbal secara kontinu menjadikan sensasi nyeri yang
dialami responden saat persalinancenderung mengalami penurunan, tindakan massase
counterpressure lebih dapat dikontrol terutama mengenai tekanan yang harus diberikan kepada ibu
bersalin.
Evaluasi : ibu sudah dilakukan counterpresure, rasa nyeri berkurang, sehingga rasa cemas ibu
dapat diminimalkan

5. Mengajarkan kepada pendamping persalinan yaitu suami dan keluarga untuk melakukan pijatan pada
bagian punggung bawah dan sacrum.
Rasionalisasi : Teknik ini dapat membantu mengurangi nyeri pinggang persalinan akibat kontraksi
uterus dan memberikan kenyamanan pada ibu selama persalinan.
Evaluasi : suami melakukan pijatan pada bagian punggung bawah ibu saat ibu merasakan
nyeri dan ibu tampak lebih nyaman.

6. Menganjurkan ibu untuk miring kiri untuk mempercepat penurunan kepala.


Rasionalisasi : posisi miring kiri menurunkan tekanan uterus pada vena kava dapat menghindari
terjadinya hipoksia pada janin, menciptakan pola kontraksi uterus yang efisien, meningkatkan
dimensi pelvis, memudahkan
pengamatan janin, memberikan paparan perineum yang baik, menyediakan daerah yang bersih untuk
melahirkan dan menimbulkan perasaan yang nyaman bagi ibu
Evaluasi : ibu bersedia untuk miring kiri.

7. Menganjurkan ibu untuk makan nasi dan minum teh manis jika tidak ada kontraksi.
Rasionalisasi : pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu untuk memberi makanan ringan dan cairan yang
cukup selama persalinan memberikan lebih banyak energi dan mencegah dehidrasi. Apabila
dehidrasi terjadi dapat memperlambat atau membuat kontraksi menjadi tidak teratur dan kurang
efektif.
Evaluasi : ibu tidak ingin makan apapun, dan bersedia minum teh hangat.

8. Menyiapkan tempat, alat-alat partus, dan obat untuk menolong persalinan.


a. Partus Set : sepasang handscoon steril, klem tali pusat 2 buah (untuk mengeklem tali pusat ketika
akan dipotong), gunting tali pusat 1 buah (untuk memotong tali pusat bayi sesaat setelah lahir),
gunting episiotomy 1 buah (tidak harus digunakan, hanya digunakan bila keadaan terdesak),
kateter nelaton 1 buah (tidak harus digunakan, apabila ibu tidak dapat berkemih secara spontan),
benang tali pusat/ clem cord (untuk menali tali pusat setelah dipotong), dan sputit 3 cc 1 buah
(digunakan untuk injeksi oksitosin).
b. Hecting Set : sepasang handscoon steril, nald fuder 1 buah, pinset anatomi 1 buah, pinset cirurgy
1 buah, nail heachting otot dan kulit, benang vikril ukuran 2,0, 1 gunting benang dan 1 buah
spuit 10 cc (digunakan untuk injeksi lidokain).
c. Resusitasi Set : 2 bedong bayi, penghisap lendir DeLee, alat ventilasi (sungkup atau balon),
Lampu sorot 60 watt (digunakan untuk penerangan dan untuk menghangatkan tempat resusitasi
oleh karena itu lampunya dinyalakan ketika persalinan akan dimulai), 1 meja resusitasi, dan
sarung tangan.
d. Obat-obaan : Oksitosin 10 IU 1 ampuls (digunakan ketika placenta akan lahir untuk merangsang
agar cepat keluar), lidokain 2% 1 ampuls (digunakan sebagai anatesi ketika akan dilakukan
episiotomi daa penjahitan), vit K 1 ampuls (untuk mencegah terjadinya perdarahan pada bayi),
vaksin Hb 0
Rasionalisasi : persiapan alat agar dapat melakukan tindakan segera dan antisipasi terhadap
persalinan spontan.
Evaluasi : tempat, alat-alat partus dan obat sudah disiapkan.

9. Observasi keadaan ibu dan janin serta kemajuan persalinan berupa observasi DJJ dan kontraksi
(HIS) tiap 30 menit, pemeriksaan dalam tiap 4 jam, nadi dan pernafasan tiap 30 menit, tekanan darah
dan suhu tiap 4 jam.
Rasionalisasi : pemantauan dilakukan secara berkala agar dapat mengetahui kemajuan persalinan
dan kesejahteraan ibu dan janin
Evaluasi : hasil observasi DJJ 134 x/ menit, his 5 x 10 menit, 40 detik.
KONTROL HIS
Nama Ibu : Ny. S
Umur: 33 Tahun
Alamat: RT. 17 Teratai
Tgl/Ja DJ Ketuba Pembuka Penurun His T/D N S RR Urin
m J n an an e
Kepala
19-11- 138 Utuh 6 cm H III 3x10’/ 110/70 80 36,0 20 100
2021/ 40’’

14.00
Wib

138 Utuh 9 cm H III 4x10’/ 110/70 82 36,3 21 -


14.30
40’’
Wib

146 Jernih 10 cm H IV 5x10’/ 110/80 86 36,4 23


(lengkap) 54’’ -
14.45
Wib

Evaluasi nyeri

Evaluasi: Pada saat kontraksi pukul 14.00 wib dilakukan asuhan sayang ibu pada kala I
untuk mengurangi rasa nyeri dilakukan 3x massage counter pressure selama his
berlangsung dan dalam waktu 10 menit dan ibu merasa rasa nyeri berkurang
setelah dilakukan counterpressur dengan skalanyeri awal 9 (Nyeri berat) berubah
menjadi 6 (Nyeri sedang) .

Evaluasi: Pada saat kontraksi pukul 14.30 wib dilakukan asuhan sayang ibu pada kala I
untuk mengurangi rasa nyeri dilakukan 4x massage counter pressure selama his
berlangsung dan dalam waktu 10 menit dan ibu merasa rasa nyeri berkurang
setelah dilakukan counterpressur dengan skalanyeri awal 6 (Nyeri berat) berubah
menjadi 5 (Nyeri sedang) .

Evaluasi: Pada saat kontraksi pukul 14.45 wib dilakukan asuhan sayang ibu pada kala I
untuk mengurangi rasa nyeri dilakukan 5x massage counter pressure selama his
berlangsung dan dalam waktu 10 menit dan ibu merasa rasa nyeri berkurang
setelah dilakukan counterpressur dengan skalanyeri awal 5 (Nyeri sedang)
berubah menjadi 3 (Nyeri ringan) .
CATATAN PERKEMBANGAN I

Tanggal : 19 November 2021


Jam : 14.45 WIB

A. DATA SUBJEKTIF :
Ibu mengatakan kencang kencang semakin sering, perut bagian bawah semakin
nyeri, keluar air-air seperti pipis dan rasa ingin buang air besar.

B. DATA OBJEKTIF :
1. Pemeriksaan umum :
Keadaan umum : baik
Kesadaran : Compose mentis
2. Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Pernafasan : 23 kali/menit
Nadi : 86 kali/menit
Suhu : 36,4 0 C
3. Pemeriksaan fisik
Abdomen :
His 4 kali / 10 menit, durasi 45 detik. Intensitas kuat. DJJ 146 kali/ menit,
irama teratur.
Kandung kemih kosong.
Genetalia :
Perineum menonjol, vulva dan anus membuka serta ada pengeluaran
darah.
4. Pemeriksaan dalam jam 14.45 WIB
Dilakukan pemeriksaan VT :Pemeriksaan dalam pembukaan 10 cm,
dinding vagina licin, porsio tidak teraba, KK (-), moulase (0), presentasi
belakang kepala, UUK pada jam 14.40 wib.

54
C. ANALISA DATA
Parturien kala II

D. PENATALAKSANAAN
1. Melihat adanya tanda persalinan kala II.
Rasionalisasi : untuk memastikan memang ibu memang sudah siap untuk
dipimpin meneran atau mengedan.
Evaluasi : sudah tampak dorongan meneran, perineum menonjol, dan
vulva membuka.
2. Menjelaskan kepada ibu hasil pemeriksaan yaitu Tekanan Darah :
110/70 mmHg, Suhu : 36,4˚C Respirasi : 23 x/menit, Nadi : 86 x/menit.
Pemeriksaan dalam : portio tipis dan pembukaan 10 cm.
Rasionalisasi : agar ibu mengetahui kondisinya dan bayi dalam
kandungannya serta ibu mengetahui bahwa sudah memasuki proses
pengeluaran bayi.
Evaluasi : ibu mengetahui kondisinya dan bahagia bahwa sebentar lagi
akan bertemu dengan bayinya.
3. Memeriksa lagi alat partus steril, dan menyiapkan diri dengan
memakai APD.
Rasionalisasi : alat partus harus siap agar proses persalinan lancar dan
menyiapkan diri dengan memakai APD untuk melindungi seluruh atau
sebagian tubuh dari paparan darah, semua jenis cairan tubuh dan lainnya.
Evaluasi : alat partus sudah lengkap
4. Mengatur posisi ibu yang membuat ibu merasa nyaman.
Rasionalisasi : posisi yang dirasakan paling nyaman membuat ibu lebih
rileks dan memudahkan proses persalinan.
Hasil : ibu mengambil posisi dorsal recumbent
5. Mengajarkan ibu cara mengedan yang benar.
a. Menutup mulut, jangan mengeluarkan suara agar tidak kelelahan
b. Meletakkan kedua tangan ibu di paha dan tarik paha ibu jika terasa
sakit
c. Mengangkat kepala, tempelkan dagu ke dada sambil melihat perut
ibu.
d. Mengedan seperti BAB keras.

55
e. Melarang ibu mengangkat bokong saat mengedan.
Rasionalisasi : mengedan akan membantu otot rahim mendorong bayi
menuju jalan lahir. Kemampuan seorang ibu untuk mengedan dengan
benar akan menentukan keadaan bayi yang dilahirkan.
Evaluasi : Ibu siap untuk meneran jika ada kontraksi dengan baik.
6. Menganjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi dan
memberikan air minum untuk ibu.
Rasionalisasi : ibu dianjurkan istirahat jika sednag relaksasi untuk
mengurangi kelelahan dan minum untuk mencegah dehidrasi
Evaluasi : ibu istirahat dan minum air putih pada saat tidak kontraksi.
7. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan
yang kuat dan spontan untuk meneran serta tampak kepala 3-4 cm di
depan vulva.
Rasionalisasi : meneran secara berlebihan menyebabkan ibu sulit
bernapas sehingga terjadi kelelahan yang tidak perlu dan meningkatkan
risiko asfiksia pada bayi sebagai akibat turunnya pasokan oksigen
melalui plasenta.
Evaluasi : ibu dapat mengikuti dan kooperatif.
8. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
Rasionalisasi : Untuk menghindari langsung kontak darah dan
perlindungan diri, menggunakan sarung tangan DTT untuk mencegah
terjadinya infeksi yang diakibatkan oleh kuman
Evaluasi : sarung tangan DTT sudah dipakai pada kedua tangan.
9. Melakukan stenan pada saat kepala janin sudah terlihat pada vulva
dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum dengan tangan kanan
dilapisi kain dan satu tangan menahan defleksi kepala. Anjurkan ibu
meneran hingga lahirlah berturut-turut kepala, dahi, hidung, mulut, dagu.
Rasionalisasi : Pada saat melakukan manajemen aktif kala II tujuan
tangan kanan diletakkan diperinium adalah untuk menahan agar tidak
terjadi rupture yang spontan pada perineum, dan tangan kiri menahan
defleksi kepala terlalu cepat
Evaluasi : sudah dilakukan prasat stenan APN 60 langkah.
10. Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin dan tunggu
kepala melakukan putaran paksi luar.

56
Rasionalisasi : Mencek lilitan tali pusat sangat penting dilakukan karena
pada bayi yang terdapat lilitan tali pusat sulit untuk dilahirkan, sebab
dapat mempengaruhi penurunan janin dan kemungkinan terjadi asfiksia
karena lilitan tali pusat yang erat pada leher bayi dapat mempengaruhi
pernafasan bayi.
Evaluasi : tidak terdapat lilitan tali pusat pada leher janin dan kepala
janin selesai melakukan putaran paksi luar..
11. Memegang kepala bayi secara biparietal untuk melahirkan bahu,
menarik lembut kearah bawah dan luar untuk melahirkan bahu lalu
setelah bahu lahir, melakukan sangga susur melahirkan badan dan
tungkai.
Rasionalisasi : Melahirkan bahu bayi secara berhati-hati secara
biparental untuk dapat memudahkan penolong untuk melahirkan bahu
bayi dan Melahirkan badan dan tungkai dengan cara sanggah susur
bertujuan untuk mengendalikan kelahiran siku, tangan, badan dan
tungkai bayi saat melewati perineum agar tidak terjadi rupture yang
berlebihan
Evaluasi : Bahu depan, bahu belakang lahir dan tidak ada distosia bahu,
badan lahir dengan terkendali, bayi lahir spontan pukul 15.00 WIB.
12. Melakukan penilaian selintas seperti apakah bayi segera
menangis, bergerak aktif dan warna kulit kemerahan(Afgar score).
Rasionalisasi : Bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi kelainan dan
dapat mengetahui tindakan segera yang harus dilakukan untuk
menyelamatkan bayi
Evaluasi : bayi langsung menangis, kulit kemerahan dan gerak aktif
13. Mengevaluasi lama persalinan dan jumlah perdarahan.
Rasionalisasi : untuk mengetahui apakah ada komplikasi yang terjadi
selama persalinan
Evaluasi : jumlah pengeluaran darah ±50cc.

57
CATATAN PERKEMBANGAN II

Tanggal : 19 November 2021


Jam : 15.10 WIB
A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan senang karena bayinya sudah lahir dan perutnya masih
merasa mulas
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum : baik
Kesadaran : compose mentis
2. Pemeriksaan fisik
Abdomen :TFU setinggi pusat, teraba keras dan ada
kontraksi. Kandung kemih kosong.
Genetalia : Terdapat semburan darah tiba-tiba, tali pusat
memanjang, plasenta belum lahir.
C. ANALISA DATA
Parturien kala III
D. PENATALAKSANAAN
1. Melakukan palpasi abdomen.
Rasionalisasi : Palpasi abdominal segera setelah bayi lahir Untuk
memastikan janin tunggal, tidak ada bayi lain dalam uterus.
Evaluasi : palpasi telah dilakukan, janin tunggal tidak ada janin kedua.
2. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntikan oksitosin 10 unit secara intra
muscular 1/3 paha luar.
Rasionalisasi : Oksitosin merangsang fundus uteri untuk berkontraksi
denagn kuat dan efektif sehingga dapat memantu pelepasan plasenta dan
mengurangi kehilangan darah
Evaluasi : oksitosin sudah disuntikan 1 menit sesudah bayi lahir.
3. Mengklem tali pusat dengan klem minimal 2-3 cm dari pusat bayi dan
menggunting tali pusat lalu mengganti handuk bayi yang basah dengan
yang kering.
Rasionalisasi : Mengklem dan memotongkan tali pusat agar memutuskan
hubungan bayi dengan plasenta kemudian mengganti handuk bayi yang
58
basah dengan yang kering dan baru agar dapat menjaga kehangatan tubuh
bayi
Evaluasi : Tali pusat telah dijepit, dipotong dan di ikat dengan klem kord.
Bayi telah diletakkan di perut ibu dan diberikan selimut yang baru dan
kering
4. Melahirkan plasenta, yaitu :
a. Memindahkan klem penjepit pada tali pusat sekitar 5-10 cm dari vulva.
b. meletakkan satu tangan diatas perut ibu, ditepi ujung sympisis untuk
mendeteksi, sedangkan tangan lain menegangkan tali pusat.
c. Saat uterus berkontraksi menegangkan tali pusat kearah bawah sambil
tangan lain dorso cranial secara hati-hati.
d. Melihat tanda-tanda plasenta lepas seperti semburan darah, tali pusat
memanjang, uterus membundar.
e. Menunggu timbulnya kontraksi lalu melakukan peregangan tali pusat
f. Saat plasenta plasenta lahir berada didepan vulva, melahirkan plasenta
dengan kedua tangan mencekap plasenta kemudian putar plasenta
searah jarum jam hingga selaput ketuban terpilin (simpun)
Rasionalisasi : Memegang tali pusat lebih dekat ke vulva akan mencegah
avulsi, serta peregangan tali pusat secara perlahan untuk mebantu lahirnya
plasenta, dan satu tangan mendorong uterus ke arah dorso kranial untuk
mencegah terjadinya inversio uteri
Evaluasi : Tali pusat ditegangkan sambil tangan yang satunya dorso
kranial, plasenta lahir lengkap beserta selaputnya pukul 11.30 WIB
5. Melakukan massage pada fundus uteri secara searah.
Rasionalisasi : Massase uterus untuk memastikan uterus tetap berkontraksi
sehingga tidak terjadi perdarahan
Evaluasi : kontraksi uterus baik, fundus teraba keras, TFU 2 jari dibawah
pusat.
6. Mengevaluasi lama persalinan dan jumlah perdarahan.
Rasionalisasi : untuk mengetahui apakah ada komplikasi saat melahirkan
plasenta dan memastikan perdarahan pervaginam normal.
Evaluasi : lama persalinan kala III 15 menit, jumlah pengeluaran darah
±80cc.

59
CATATAN PERKEMBANGAN III

Tanggal : 19 November 2020


Jam : 15.25 WIB

A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan lelah, tetapi senang karena bayi dan ari-arinya telah lahir

B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum : baik
Kesadaran : compose mentis
2. Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 110/80mmHg
Pernafasan : 20 kali/menit
Nadi : 80 kali/menit
Suhu : 36,5oC
3. Pemeriksaan fisik
Abdomen :
Berkontraksi, TFU 2 jari dibawah pusat, dan kandung kemih kosong
Genetalia : Rupture perineum Grade II
(Ada luka laserasi pada mukosa vagina hingga otot perineum).

C. ANALISA DATA
Parturien kala IV dengan laserasi perineum derajat II

D. PENATALAKSANAAN
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan dan asuhan yang akan diberikan
kepada ibu bahwa ada robekan di jalan lahir sehingga perlu dilakukan
penjahitan.
Rasionalisasi : agar ibu mengetahui kondisi kesehatannya
Hasil : Ibu mengerti.

60
2. Menganjurkan ibu BAK bila ingin dan melakukan penjahitan laserasi
perineum derajat 2 pada luka bekas rupture dengan benang vikril, dengan
heating jelujur subkutikuler
Rasionalisasi : untuk menjaga kandung kemih agar tetap kosong sehingga
kontraksi uterus berjalan dengan baik. Penjahitan dilakukan Agar dapat
mempersatukan jaringan yang luka sehingga proses penyembuhan luka
cepat dan menhindari terjadinya infeksi.
Evaluasi : kandung kemih masih kosong dan heacting sudah dilakukan
pada mukosa vagina hingga otot perineum dengan jahitan jelujur.
3. Membersihkan ibu dari sisa-sisa air ketuban, lendir, dan darah serta
memasang popok serta mengganti pakaian ibu dengan pakaian yang bersih
dan kering.
Rasionalisasi : agar ibu merasa nyaman jika dalam keadaan bersih dan
lingkungan yang bersih.
Evaluasi : ibu sudah dibersihkan dan diganti pakaiannya.
4. Melakukan dekontaminasi pada alat persalinan menggunakan larutan
klorin 0,5 % selama 10 menit lalu cuci dengan air sabun dan bilas dengan
air bersih, kemudian alat disterilkan dengan sterilisator.
Rasionalisasi : untuk menurunkan transmisi penyakit dan pencegahan
infeksi pada alat-alat instrument persalinan.
Evaluasi : alat-alat persalinan sudah didekontaminasi.
5. Membuang semua bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah
yang sesuai.
Rasionalisasi : agar mencegah infeksi nosokomial baik kepada klien
maupun petugas kesehatan.
Evaluasi : bahan-bahan telah dibuang sesuai jenis sampah.
6. Menganjurkan ibu cara masase yaitu dengan telapak tangan pada perut ibu
dengan gerakan melingkar hingga uterus berkontraksi (fundus menjadi
keras)
Rasionalisasi : Masase uterus untuk memastikan uterus tetap berkontraksi
sehingga tidak terjadi perdarahan
Evaluasi : Ibu mengerti cara masase uterus dan fundus teraba keras
7. Menganjurkan keluarga untuk memberi ibu minuman dan makanan.

61
Rasionalisasi : pemenuhan makan dan minum perlu karena setelah
melahirkan energi banyak yang terpakai.
Evaluasi : ibu bersedia untuk makan makanan yang telah disediakan dan
minum segelas teh hangat.
8. Mengobservasi tanda-tanda vital, TFU, kontraksi uterus, kandung kemih
dan perdarahan setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan setiap 30 menit
pada 1 jam kedua.
Rasionalisasi : Pemantauan 2 jam pasca persalinan sangat penting sebab
sebagian besar kesakitan dan kematian disebabkan oleh perdarahan dan
eklamsia serta infeksi sehingga perlu dipantau ketat
Evaluasi : terlampir dipartograf
9. Melengkapi partograf.
Rasionalisasi : bukti pendokumentasian yang digunakan sebagai aspek
legal seorang bidan.
Evaluasi : partograf telah dilengkapi dimulai dari pukul 13.30 WIB.

62
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada kasus Ny.S (33 Th) G2P101 hamil 39-40 minggu dengan inpartu kala I
fase aktif di VK RSUD HAMBA, ibu datang ingin melahirkan di Rumah sakit.
Dilakukan pemeriksaan mulai dari anamnesa, tanda-tanda vital, inspeksi, palpasi,
auslkultasi, perkusi, dalam keadaan normal, pengukuran TFU sesuai dengan usia
kehamilan, DJJ dalam keadaan normal.
Pada kasus Ny.S didapat diagnose bahwa ibu dalam keadaan inpartu dan
sudah mengalami pembukaan dan kontraksi yang adekuat. Menurut teori
Persalinan adalah suatu proses alamiah yang dialami ibu dan mengakibatkan
terjadinya beberapa perubahan kondisi fisiologis pada ibu. Meskipun demikian,
ada beberapa perubahan yang tidak dapat diadaptasi oleh ibu sehingga
menimbulkan suatu masalah. Masalah tersebut bisa terjadi sejak awal kehamilan
hingga akhir proses persalinan. Salah satu masalah yang sering terjadi adalah
masalah yang berkaitan dengan ketidaknyamanan dan kecemasan.
Secara fisiologis seluruh wanita yang melahirkan akan mengalami nyeri
selama proses persalinan dan secara statistik rasa nyeri persalinan tidak dapat
ditoleransi oleh dua dari tiga ibu bersalin. Kondisi nyeri yang tidak terkelola
dengan baik akan menimbulkan berbagai efek bagi ibu maupun janin. Ada banyak
penyebab dari timbulnya nyeri persalinan yaitu adanya pembukaan serviks,
penurunan kepala janin, kontraksi pada rahim dan perubahan lainnya akan
menimbulkan stimulus bagi syaraf nyeri dan akhirnya terjadilah rasa nyeri.
Namun saat ibu mengalami nyeri, banyak faktor yang dapat mempengaruhi nyeri
yang dirasakan dan cara mereka bereaksi terhadapnya. Faktor-faktor ini dapat
meningkatkan atau menurunkan persepsi nyeri pasien, toleransi terhadap nyeri
dan mempengaruhi reaksi terhadap nyeri. Setelah dilakukan pengkajian pada Ny.
S usia 33 tahun G2P1A0 UK 39-40 minggu didapatkan data bahwa Ny. S
mengalami masalah nyeri persalinan yang telah dikeluhkan sejak merasakan
kencang-kencang teratur dan kecemasan menyambut persalinan.
Pemberi asuhan pelayanan harus memperhatikan kenyamanan ibu yang
akan melahirkan, salah satunya adalah penanganan nyeri persalinan. Penolong
persalinan seringkali melupakan untuk menerapkan teknik pengontrolan nyeri, hal
ini akan menyebabkan ibu bersalin memiliki pengalaman persalinan yang buruk,

63
mengalami trauma persalinan yang dapat menyebabkan postpartum blues, maka
sangat penting untuk penolong persalinan memenuhi kebutuhan ibu akan rasa
aman dan nyaman. Upaya untuk menurunkan nyeri pada persalinan dapat
dilakukan baik secara farmakologi maupun non farmakologi.
Manajemen nyeri secara farmakologi lebih efektif dibanding dengan metode
non farmakologi, namun metode farmakologi lebih mahal, dan berpotensi
mempunyai efek samping yang kurang baik. Sedangkan metode non farmakologi
lebih murah, simpel, efektif dan tanpa efek yang merugikan dan dapat
meningkatkan kepuasan selama persalinan, karena ibu dapat mengontrol
perasaannya dan kekuatannya.
Sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Danuatmaja & Meiliasari
(2008) bahwa Metode non-farmakologi sangat beragam yang dapat digunakan
untuk membantu mengurangi rasa nyeri, diantaranya massage/pijatan. Pada
umumnya,ada dua teknik pemijatan yang dapat dilakukan dalam persalinan, yaitu
teknik Back-Effleurage dan Counter-Pressure, yang relatif cukup efektif dalam
mengurangi nyeri daerah pinggang saat persalinan dan relatif aman dikarenakan
tidak menimbulkan efek samping.
Beberapa contoh metode non farmakologi yang dapat digunakan untuk
menurunkan nyeri antara lain teknik relaksasi, imajinasi, pergerakan dan
perubahan posisi, umpan balik biologis, abdominal lifting, effleurage, hidroterapi,
hipnoterapi, homeopati, terapi counter pressure, terapi musik, akupresur,
akupunktur, dan aromaterapi. Massage counter pressure adalah pijatan yang
dilakukan dengan memberikan tekanan yang terus-menerus pada tulang sakrum
pasien dengan pangkal atau kepalan salah satu telapak tangan. Pijatan counter
pressure dapat diberikan dalam gerakan lurus atau lingkaran kecil. Teknik ini
efektif menghilangkan sakit punggung pada persalinan.
Hal ini diperkuat dengan teori yang dikemukakan oleh Lowdemilk, dkk
(2013) Counter-Pressure merupakan tekanan yang menetap yang diberikan oleh
seseorang dengan menekankan kepalan atau bagian bawah telapak tangan ke
daerah sakral. Teknik ini terutama membantu ketika nyeri punggung disebabkan
oleh tekanan oksipital terhadap saraf tulang belakang ketika kepala bayi berada di
posisi posterior. Teknik Counter Pressure merupakan salah satu metode yang
dapat mengurangi nyeri tajam dan memberikan sensasi menyenangkan dan
melawan rasa tidak nyaman pada saat kontraksi atau diantara kontraksi.

64
Penelitian yang dilakukan oleh nadia dkk di Wilayah Kerja Puskesmas
Cirimekar mengenagi pengaruh massage counter pressure terhadap nyeri
persalinan kala I dan kecepatan pembukaan didapat hasil yang menunjukkan
massage counter-pressure secara bermakna dapat mengurangi nyeri persalinan
dengan nilai rata-rata pada kelompok intervensi (2,15) dan kelompok kontrol
(0,25) dengan nilai p value= 0,000 (p<0,05) dapat disimpulkan ada pengaruh
pemberian massage counter-pressure terhadap adaptasi nyeri persalinan kala
I. Nilai rata-rata kecepatan pembukaan pada kelompok intervensi (505,50
menit) dan kelompok kontrol (817,25 menit) dengan nilai p value= 0,000
(p<0,05) sehingga dapat diartikan ada pengaruh pemberian massage counter-
pressure terhadap kecepatan pembukaan persalinan.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Raudatul, dkk pada efektifitas
tehnik counter pressure dan eondorphin massage terhadap nyeri persalinan
kala I pada ibu bersalin di RSUD Ajibarang didapat hasil teknik counter
pressure adalah 2,364 lebih besar dibandingkanrata-rata penurunan
nyeripadateknik endorphin massage yaitu2,273 . Dari hasil uji t didapatkan
pula teknik counter pressure hasilnya lebih besar yaitu 8,480 dibandingkan
pada teknik endorphin massage yaitu 8,333 sehingga dapat disimpulkan
bahwa teknik counter pressure lebih efektif dibandingkan teknik endorphin
massage.
Penelitian ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh
endah, dkk dengan judul “Teknik massage counter pressure terhadap
penurunan intensitas nyeri pada kala I fase aktif pada ibu bersalin di
RSUD.Dr.M,M Dunda Limboto Kabupaten Gorontalo ”Berdasarkan
penelitian didapatkan hasil p value 0,000 < 0,05 yaitu ada pengaruh tehnik
masase counter pressure terhadap penurunan intensitas nyeri Kala I Fase Aktif
pada ibu bersalin. Sehingga didapatkan kesimpulan: Ada pengaruh signifikan
Tehnik massase counter pressure terhadap penurunana intensitas Nyeri Kala I
Fase Aktif pada ibu bersalin di RSUD DrM.M Dunda Limboto Kabupaten
Gorontalo.
Pada kasus ini Ny. S, ibu mau mengikuti tindakan yang dilakukan oleh
bidan, dimana bidan memberikan asuhan sayang ibu untuk mengurangi nyeri
persalinan dengan teknik massage counter pressure. Pengurangan nyeri
persalinan dengan cara non farmakologi adalah Masase Conterpresure dengan

65
melakukan tekanan tangan pada jaringan lunak, biasanya otot, tendon atau
ligamentum, tanpa menyebabkan gerakan atau perubahan posisi sendi untuk
meredakan nyeri, menghasilkan relaksasi dan atau memperbaiki
situasi(Rosalina 2017).
Berdasarkan pembahasan diatas dapat dilakukan kesimpulan bahwa
teknik massage conter pressuere yang dilakukan pada Ny. S pada
persalinanan kala I, dapat berjalan dengan baik, dimana nyeri persalinan yang
ibu rasakan jauh berkurang dibandingkan dengan tidak dilakukan massage
tersebut. Hal ini berarti sejalan dengan beberapa teori dan evedenbest
kebidanan mengenai teknik mengatasi nyeri persalianan dengan metode
Masase Conterpresure .

66
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapat dari asuhan kebidanan pada ibu
bersalin yaitu:
a. Mahasiswi sudah melakukan pengumpulan data dasar pada Ny. S
usia 33 tahun G2P1A0 UK 39-40 di VK RSUD HAMBA Muara
Bulian .
b. Mahasiswi sudah mampu melakukan interpretasi data pada Ny. S
usia 33 tahun G2P1A0 UK 39-40 di VK RSUD HAMBA Muara
Bulian .
c. MahasiswisudahmampumelakukandiagnosapadaNy. S usia 33 tahun
G2P1A0 UK 39-40 di VK RSUD HAMBA Muara Bulian .
d. Mahasiswi sudah mampu mengidentifikasi kebutuhan segera
pada Ny. S usia 33 tahun G2P1A0 UK 39-40 di VK RSUD HAMBA
Muara Bulian .
e. Mahasiswi sudah mampu memberikan asuhan perencanaan pada
Ny.S usia 33 tahun G2P1A0 UK 39-40 di VK RSUD HAMBA Muara
Bulian .
f. Mahasiswi sudah mampu memberikan asuhan pelaksanaan pada
Ny.S usia 33 tahun G2P1A0 UK 39-40 di VK RSUD HAMBA Muara
Bulian .
g. Mahasiswi sudah mampu memberikan asuhan evaluasi pada Ny.S
usia 33 tahun G2P1A0 UK 39-40 di VK RSUD HAMBA Muara
Bulian
B. Saran
1. Bagi Penulis
Diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan penulis
dalam memberikan asuhan pada ibu bersalin normal.
2. Bagi Institusi

67
Diharapkan Hasil studi kasus ini dapat dimanfaatkan sebagai
sumber referensi khususnya tentang asuhan kebidanan pada ibu bersalin
normal.
3. Bagi Lahan Praktik
Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan studi
banding dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu bersalin normal.
4. Bagi Profesi Bidan
Diharapkan dapat menjadi bahan teoritis maupun aplikatif bagi
profesi bidan dalam asuhan komprehensif pada ibu bersalin normal.

68
69
DAFTAR PUSTAKA

Asrinah, dkk. 2010. Konsep Kebidanan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Asri, Dewi. H. dan Cristine Clervo P. 2010. Asuhan Persalinan Normal. Yogyakarta: Nuha
Medika.

Depkes RI (2008). Asuhan Persalinan Normal, JNPK-KR, Jakarta.

Depkes. RI. 2012. Buku Acuan Persalinan Normal. JNP-KR (Jaringan Nasional Pelatihan Klinik
Kesehatan Reproduksi). Jakarta.

Hanum, N.S., 2011. Karakteristik dan Faktor-Faktor Penyebab Kematian Maternal dan
Perinatal. Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
Utara.

Indrayani, dkk.(2013). Asuhan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Trans Info Media. Jakarta.

Johariyah & Ema Wahyu Ningrum. (2012). Asuhan Kebidanan Persalinan & Bayi Baru Lahir.
Trans Info Media. Jakarta.

Manuaba, I.B.G dr. Prof.; Pengantar Kuliah Obstetri : “Ketuban Pecah Dini”; Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta 2009; hal 456-460.

Mochtar R. ;Sinopsis Obstetri Edisi XIV : “Ketuban Pecah Dini”, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta, 2012 : hal 285 – 287.

Rohani, dkk.(2011). Asuhan Kebidanan pada Masa Persalinan. Salemba Medika. Jakarta.

Rukiyah, Ai Yeyeh.(2009). Asuhan Kebidanan II (Persalinan). Trans Info Media. Jakarta.

Varney,H., 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4. Jakarta;EGC.

Winknjosastro, Hanifa. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.

Atun R.M., Surtiningsih. 2016. Efektifitas Tehnik Counter Pressure dan Endorphin Massage
Terhadap Nyeri Persalinan Kala 1 Pada Ibu Bersalin di RSUD Ajibarang. Jurnal Ilmiah
Kesehatan.

Endah Y., Hasnawatty S. P., Suwarni L., 2019. Teknik Massage Counterpressure Terhadap
Penurunan Intensitas Nyeri Kala 1 Fase Aktif Pada Ibu Bersalin di RSUD. Dr. MM. Dunda
Limboto Kabupaten Gorontalo. Jurnal Ilmiah Kesehatan. 17(2): 2549-7006.

Nadia, Ajeng T. E. 2016. Pengaruh MassageCounter-Pressure Terhadap Adaptasi Nyeri


Persalinan Kala 1 dan Kecepatan Pembukaan Pada Ibu Bersalin. JURNAL ilmiah
Kesehatan. 8(2): September 2016.

Rilyani, Arianti L, Wiagi. 2017. Pengaruh Counter Pressure Terhadap Skala Nyeri Persalinan di
Rumah Sakit Daerah May Jend. HM . Ryacudu Kotabumi Lampung Utara. Jurnal
Kesehatan Holistik 2 (4): 257-264
71