Anda di halaman 1dari 62

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL TRIMESTER I


DENGAN EMESIS GRAVIDARUM DI PMB
EVI KURNIAWATI, AM.KEB

Oleh :

Neli Hartati
NIM. PO71242210012

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAMBI


JURUSAN KEBIDANAN
2021

i
LEMBAR PENGESAHAN

Telah disahkan “Laporan Kasus Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan” guna
memenuhi tugas Stase Kehamilan program studi profesi Bidan Poltekkes Kemenkes
Jambi tahun 2021

Jambi, Oktober 2021

Mahasiswa

Neli Hartati
PO.71242210012

Mengetahui :

Perseptor Akademik Perceptor Klinik

(Taty Nurti, S.Pd, (Evi Kurniawati,


M.Kes) Am.Keb)

ii
DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ..................................................................................................i


Kata Pengantar...........................................................................................................ii
Daftar Isi.....................................................................................................................iii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...........................................................................................1
B. Rumusan Masalah......................................................................................4
C. Tujuan........................................................................................................4
D. Manfaat .....................................................................................................5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


A.Konsep dasar Kehamilan............................................................................5
B. Manajemen Kebidanan..............................................................................26
B. Evidence Based Midwivery.......................................................................29

BAB III. TINJAUAN KASUS


A. Tinjauan Kasus.........................................................................................37

BAB IV PEMBAHASAN
Analisis Kasus dengan kajian teori jurnal/EBM............................................43

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................47
B. Saran..........................................................................................................48

DAFTAR PUSTAKA

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus Asuhan Kebidanan Kehamilan

Pada Ny. F di PMB Evi Kurniawati, Am.Keb.

Penulisanan laporan ini dalam rangka menerapkan tugas praktik klinik

kebidanan stase Kehamilan yang merupakan salah satu mata kuliah atau kurikulum

yang harus dilalui dalam proses pendidikan profesi kebidanan. Dalam penyusunan

laporan ini penulis banyak mendapatkan bantuan, bimbingan serta pengarahan dari

berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan

terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Hj. Suryani, S.Pd, M.PH selaku Kepala Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes

Jambi sekaligus Dosen pembimbing Institusi

2. Lia Artika Sari, M.Keb selaku Ketua Prodi Profesi Bidan Poltekkes Kemenkes

Jambi

3. Taty Nurti, S.Pd, M.Kes selaku Pembimbing Institusi Poltekkes Kemenkes Jambi

4. Evi Kurniawati, Am.Keb selaku pembimbing lahan praktik (CI) di PMB Evi

Kurniawati, Am.Keb.

5. Kakak-kakak bidan dan perawat serta rekan-rekan yang telah memberi banyak

masukan dalam laporan ini yang telah memberikan masukan dan pengarahan

kepada penulis sehingga laporan ini diselesaikan dengan baik.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari

kesempurnaan dengan demikian penulis sangat mengharapkan petunjuk dan saran

iv
serta kritik dari dosen pembimbing. Akhir kata semoga hasil laporan ini memberikan

manfaat yang berguna bagi yang membutuhkannya.

Jambi, Oktober 2021

Penulis

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehamilan merupakan kondisi yang fisiologis, ibu hamil adalah ibu yang

sehat. Perubahan yang terjadi, pada umumnya berhubungan dari perubahan

hormonal selama kehamilan. Beberapa ibu menyatakan bahwa ada perubahan

yang nyata dalam dirinya, bertambah besar perutnya, mual-muntah, tidak enak

makan, cepat merasa lelah, dan lain sebagainya. Semua perubahan dan keluhan

itu masih relatif dapat ditoleransi oleh ibu hamil, sehingga ibu tetap dapat

melakukan aktivitas sehari-sehari dengan mandiri. Tetapi, sebagian dari ibu

hamil merasakan ketidak nyamanan dalam skala yang cukup besar, misalnya

mual muntah hebat, nyeri kepala, dan badannya menjadi bengkak (Rohmah,

2010: 46).

World Health Organization menyatakan angka kejadian emesis gravidarum

sedikitnya 15% dari semua wanita hamil. Emesis gravidarum terjadi diseluruh

dunia dengan angka kejadian yang beragam yaitu 1-3% dari seluruh kehamilan

di 3 Indonesia,0,9% di Swedia, 0,5% di California,1,9% di Turki, dan di

Amerika Serikat prevalensi emesis gravidarum sebanyak 0,5%-2% (WHO,

2015).

Kejadian mual muntah di Indonesia dari hasil observasi didapatkan hasil

24,7% dari 2.203 ibu hamil yang ada. Angka kejadian mual muntah yang terjadi

di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan dengan angka kejadian yang terjadi

di dunia. Angka kejadian mual muntah ini terjadi pada 60-80% primigravida dan

40- 60% multigravida (Kemenkes. RI, 2019:197).

1
Data dari PMB Evi Kurniawati, Am.Keb dari bulan September – Oktober

Tahun 2021 terdapat 38 ibu hamil, ibu hamil yang ANC di trimester 1 ada 12

orang yang mengalami Emesis Gravidarum ada 8 orang (66%).

Emesis gravidarum pada kehamilan ini dapat terjadi oleh pengaruh dari

kadar eksterogen dan progesterone didalam tubuh (Wiknjosastro, 2012:77).

Faktor yang mempengaruhi terjadinya emesis gravidarum yaitu psikologi,

lingkungan, sosial, budaya dan ekonomi, faktor psikologi terdiri dari stres,

dukungan suami dan keluarga (Prawirohardjo, 2018:214).

Emesis gravidarum ini dapat mengakibatkan pengeluaran asam lambung

yang berlebihan sehingga mual dan muntah yang dialami akan terlampau sering

dan menimbulkan gangguan kesehatan yang mengarah kepada pengaruh status

gizi ibu hamil (Winkjosastro, 2012:78). Status gizi pada ibu hamil sangat

penting bagi kesehatan janin dan kandungannya, sehingga ibu hamil dengan

status gizi yang kurang dapat mengakibatkan perkembangan janin tidak normal

(Sulystiawati, 2018:33). Emesis gravidarum yang berlebihan dapat

mengakibatkan asupan nutrisi berkurang pada trimester I kehamilan yang

berdampak pada kelahiran bayi prematur, kematian janin, dan kelainan pada

sistem syaraf pusat sedangkan pada trimester II dan III dapat mengakibatkan

perkembangan janin terganggu dan berat bayi lahir menjadi rendah (Suririna,

2013:52).

Kondisi mual muntah ini dapat diatasi dengan cara mengkonsumsi makanan

dalam jumlah sedikit tapi sering, hindari makanan yang banyak mengandung

minyak atau lemak juga makanan yang berbumbu terlalu tajam karena dapat

menyebabkan rasa mual bertambah, serta hindari minum kopi dan minuman lain

yang mengandung kafein karena akan meningkatkan asam lambung sehingga

2
menyebabkan perut kembung dan rasa mual. Selain itu makanan hendaknya

diberikan dalam bentuk kering, cairan diberikan dalam bentuk terpisah untuk

menghindari muntah (Sulistyoningsih, 2011: 21).

Pemenuhan kebutuhan cairan dapat dilakukan dalam bentuk lain seperti sari

buah, kaldu ataupun cairan elektrolit tanpa kafein. Salah satu indikator

tercukupinya kebutuhan zat gizi ibu hamil dapat diketahui dari pertambahan

berat badan ibu setiap bulan. Selama ibu tidak menderita penyakit yang

mengharuskan berdiet, tidak ada pantangan makanan bagi ibu hamil. Prinsip

umum yang perlu diperhatikan dalam memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil

adalah menu seimbang, porsi kecil tapi sering, menghindari makan yang

berbumbu terlalu merangsang dan tinggi lemak, mengutamakan konsumsi bahan

makanan segar serta cukup serat (Sulistyoningsih, 2011: 23).

Berdasarkan dari uraian di atas maka penulis menyusun laporan kasus

dengan judul ”Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Trimester I dengan Emesis

Gravidarum di PMB Evi Kurniawati, Am.Keb”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah dalam permasalahan

ini yaitu bagaimanakah gambaran asuhan kebidanan pada ibu hamil trimester I

dengan Emesis Gravidarum di PMB Evi Kurniawati, Am.Keb.

3
C. Tujuan Masalah

1. Tujuan Umum

Diperolehnya gambaran tentang asuhan kebidanan pada ibu hamil

trimester I dengan emesis gravidarum di PMB Evi Kurniawati, Am.Keb

dengan menggunakan manajeman kebidanan.

2. Tujuan Khusus

a. Diperolehnya gambaran pengkajian data pada ibu hamil

b. Diperolehnya gambaran diagnosa kebidanan pada ibu hamil

c. Diperolehnya gambaran masalah potensial yang mungkin terjadi pada ibu

hamil

d. Diperolehnya gambaran perlunya tindakan segera secara mandiri,

kolaborasi, dan rujukan pada ibu hamil

e. Diperolehnya gambaran perencanaan asuhan yang efektif berdasarkan

kebutuhan pada ibu hamil

f. Diperolehnya gambaran evaluasi hasil asuhan yang telah diberikan pada

ibu hamil

D. Manfaat

1. Bagi PMB Evi Kurniawati, Am.Keb

Sebagai bahan masukan dan informasi kepada PMB Evi Kurniawati,

Am.Keb untuk lebih meningkatkan pelayanan kesehatan terutama bagi ibu

hamil.

4
2. Bagi Pendidikan

Hasil laporan ini diharapkan menjadi sumbangan ilmiah dan bahan

bacaan untuk mahasiswa kebidanan lainnya yang berkenaan dengan

kehamilan

3. Bagi mahasiswa

Hasil laporan ini diharapkan menambah wawasan mahasiswa

mengenai pentingnya pelayanan antenatal care serta pemberian asuhan

sesuai dengan kebutuhan ibu hamil.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kehamilan

1. Definisi

Kehamilan adalah keadaan yang diawali dengan bertemunya sel

sperma dan ovum kemudian membentuk zigot, dalam proses selanjutnya

zigot akan berubah menjadi morulla, blastula, blastokist, yang akan

melakukan nidasi pada endometrium. Kemudian hasil konsepsi (janin dan

plasenta) akan tumbuh dan berkembang sampai aterim dan di akhiri

persalinan (Romauli, 2011: 76).

Kehamilan adalah masa perubahan anatomis dan fisiologis yang

mendalam. Selain itu organ reproduksi, semua sistem fisiologis ibu membuat

adaptasi yang diperlukan untuk mendukung perkembangan janin dan, pada

saat yang sama, mempertahankan homeostasis ibu (King, et all, 2019:1061).

Kehamilan trimester pertama adalah kehamilan pada masa 0 – 12

Minggu. Pada masa trimester pertama ini terdapat 3 periode penting

pertumbuhan bayi di dalam rahim. Ketiga masa pertumbuhan bayi tersebut

yakni :

a. Masa Germinal, yaitu masa antara Minggu ke-0 sampai Minggu ke-3.

b. Masa Embrio, yaitu masa antara Minggu ke-3 sampai Minggu ke-8.

c. Masa Fetus, yakni masa antara Minggu ke-9 sampai Minggu ke-12

1. Tanda dan Gejala Kehamilan


a. Tanda presumtif kehamilan
1) Amenore (terlambat datang bulan)

6
Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadinya pembentukan
folikel de Graff dan ovulasi di ovarium. Gejala ini sangat penting
karena umumnya wanita hamil tidak dapat haid lagi selama
kehamilan, dan perlu diketahui hari pertama haid terrakhir untuk
menentukan tuanya kehamilan dan tafsiran persalinan.
2) Mual muntah
Umumnya tejadi pada kehamilan muda dan sering terjadi pada pagi
hari. Progesteron dan estrogen mempengaruhi pengeluaran asam
lambung yang berlebihan sehingga menimbulkan mual muntah.
3) Ngidam
Menginginkan makanan/minuman tertentu, sering terjadi pada bulan-
bulan pertama kehamilan tetapi menghilang seiring tuanya
kehamilan.
4) Sinkope atau pingsan
Terjadi sirkulasi ke daerah kepala (sentral) menyebabkan iskemia
susunan saraf dan menimbulkan sinkope/pingsan dan akan
menghilang setelah umur kehamilan lebih dari 16 minggu.
5) Payudara tegang
Pengaruh estrogen, progesteron, dan somatomamotropin
menimbulkan deposit lemak, air, dan garam pada payudara
menyebabkan rasa sakit terutama pada kehamilan pertama.
6) Anoreksia nervousa
Pada bulan-bulan pertama terjadi anoreksia (tidak nafsu makan), tapi
setelah itu nafsu makan muncul lagi.
7) Sering kencing
Hal ini sering terjadi karena kandung kencing pada bulan-bulan
pertama kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai membesar. Pada
triwulan kedua umumnya keluhan ini hilang karena uterus yang
membesar keluar rongga panggul.
8) Konstipasi/obstipasi
Hal ini terjadi karena tonus otot menurun disebabkan oleh pengaruh
hormone estrogen.
9) Epulis

7
Hipertrofi gusi disebut epulis dapat terjadi pada kehamilan.
10) Pigmentasi
Terjadi pada kehamilan 12 minggu keatas
a) Pipi :
 Cloasma gravidarum
 Keluarnya melanophore stimulating hormone hipofisis
anterior menyebabkan pigmentasi yang berlebihan pada
kulit.
b) Perut
 Striae livide
 Striae albican
 Linea alba makin menghitam
c) Payudara            : hipepigmentasi areola mamae
11) Varises atau penampakan pembuluh vena
Karena pengaruh estrogen dan progesteron terjadi penampakan
pembuluh darah vena. Terutama bagi mereka yang mempunyai
bakat. Penampakan pembuluh darah itu terjadi disekitar genitalia
eksterna, kaki dan betis erta payudara.
b. Tanda Kemungkinan (Probability Sign)
1) Pembesaran Perut
Terjadi akibat pembesaran uterus. Hal ini terjadi pada bulan keempat
kehamilan.
2) Tanda Hegar
Tanda Hegar adalah pelunakan dan dapat ditekannya isthmus uterus.
3) Tanda Goodel
Pelunakan serviks
4) Tanda Chadwiks
Perubahan warna menjadi keunguan pada vulva dan mukosa vagina
termasuk juga porsio dan serviks.
5) Tanda Piskacek
Pembesaran uterus yang tidak simetris. Terjadi karena ovum
berimplantasi pada daerah dekat dengan kornu sehingga daerah
tersebut berkembang lebih dulu.

8
6) Kontraksi Braxton Hicks
Peregangan sel – sel otot uterus, akibat meningkatnya actomycin
didalam otot uterus. Kontraksi ini tidak beritmik, sporadis, tidak
nyeri, biasanya timbul pada kehamilan 8 minggu.
7) Teraba Ballotement
Ketukan yang mendadak pada uterus menyebabkan janin bergerak
dalam cairan ketuban yang dapat dirasakan oleh tangan pemeriksa.
8) Pemeriksaan tes biolgis kehamilan (planotest) positif
Pemeriksaan ini adaah untuk mendeteksi adanya hCG yang
diproduksi oleh sinsitotrofoblas sel selama kehamilan. Hormon ini
disekresi diperedaran darah ibu (pada plasma darah), dan diekskresi
pada urine ibu.
c. Tanda Pasti (Positive Sign) (Hani, dkk, 2010:72-75)
1) Gerakan janin dalam rahim
Gerakan janin ini harus dapat diraba dengan jelas oleh pemeriksa.
Gerakan ini baru dapat dirasakan pada usia kehamilan sekitar 20
minggu.
2) Denyut jantung janin
Dapat didengar pada usia 12 minggu dengan menggunakan alat fetal
electrocardiograf ( misalnya doppler)
3) Bagian bagian janin
Bagian besar janin (kepala dan bokong) serta bagian kecil janin
(lengan dan kaki) dapat diraba dengan jelas pada usia kehamilan
lebih tua (trimester akhir)
4) Kerangka janin
Kerangka janin dapat dilihat dengan foto rontgen maupun USG

9
2. Perubahan Fisiologis Ibu Hamil (Sarwono,2007:94-100)
a. Uterus

Uterus bertambah besar semula 30 gram menjadi 1000 gram, pembesaran ini
dikarenakan hipertropi oleh otot-otot rahim, dan membesar 5 kali dari ukuran normal
pada kehamilan 38 minggu (king, et all, 2019:1063).

b. Vagina
1) Elastisitas vagina bertambah
2) Getah dalam vagina biasannya bertambah, reaksi asam PH :3,5-6
3) Pembuluh darah  dinding vagina bertambah, hingga waran selaput
lendirnya berwarna kebiru- biruan (Tanda chadwick).
c. Ovarium (Indung Telur)
Ovulasi terhenti, masih terdapt corpus luteum graviditatis sampai
terbentuknya uri yang mengambil alih pengeluaran estrogen dan
progesteron.
d. Kulit
Terdapat hiperpigmentasi antara lain pada areola normal, papila normal,
dan linea alba.

10
e. Dinding perut
Pembesaran rahim menimbulkan peregangan dan menyebabkan
perobekan selaput elestis di bawah kulit sehingga timbul strie
gravidarum.
f. Payudara
Biasanya membesar dalam kehamilan, disebabkan hipertropi dari alveoli
puting susu biasanya membesar dan berwarna lebih tua. Areola mammae
melebar dan lebih tua warnannya.
Alveoli mengembang dan berkembang biak di ujung lobulus payudara;
lobulus juga berproliferasi. Menjelang pertengahan kehamilan, sel-sel
epitel alveolus berubah menjadi sekretorik epitel, yang merupakan tahap
pertama laktogenesis. Menjelang akhir kehamilan, alveolus
mengeluarkan kolostrum tetapi terutama diam sekunder untuk
penghambatan oleh progesteron, salah satu hormon kehamilan utama
(King, et all, 2019:1064).
g. Sistem Respirasi
Wanita hamil tekadang mengeluh sering sesak nafas, yang sering
ditemukan pada kehamilan 3 minggu ke atas. Hal ini disebabkan oleh
usus yang tertekan kearah diafragma akibat pembesaran rahim, kapasitas
paru meningkat sedikit selama kehamilan sehingga ibu akan bernafas
lebih dalam. Sekitar 20-25%.
h. Sistem urinaria
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kemih tertekan oleh uterus
yang membesar, dimana kebutuhan nutrisi makin tinggi untuk
pertumbuhan janin dan persiapan pemberian ASI.
2. Perkembangan Kehamilan Trimester I

Masa ini disebut masa organogenesis, dimana dimulainya

perkembangan organ-organ janin. Apabila terjadi cacat pada bayi nantinya,

pada masa inilah penentuannya. Jadi pada masa ini ibu sangat membutuhkan

cukup asupan nutrisi dan juga perlindungan dari trauma. Pada masa ini uterus

mengalami perkembangan pesat untuk mempersiapkan plasenta dan

11
pertumbuhan janin. Selain itu juga mengalami perubahan adaptasi dalam

psikologinya.

Segera setelah terjadi  peningkatan hormon estrogen dan progesteron


dalam tubuh maka akan segera muncul  berbagai ketidaknyamanan
secara fisiologis pada ibu misalnya mual muntah , keletihan dan
pembesaran pada payudara. Hal ini akan memicu perubahan psikologi
seperti berikut ini.
1) Ibu akan membenci kehamilannya, merasakan kekecewaan,
penolakan, kecemasan dan kesedihan
2) Mencari tahu secara aktif apakah memang benar – benar hamil
dengan memperhatikan perubahan pada tubuhnya dan seringkali
memberitahukan orang lain apa yang dirahasiakannya
3) Hasrat melakukan seks berbeda – beda pada setiap wanita. Ada yang
meningkat libidonya, tetapi ada juga yang mengalami penurunan.
Pada wanita yang mengalami penurunan libido, akan menciptakan
suatu kebutuhan untuk berkomunikasi secara terbuka dan jujur
dengan suami.
4) Bagi calon suami sebagai calon ayah akan timbul kebanggan, tetapi
bercampur dengan keprihatinan akan kesiapan untuk mencari nafkah
bagi keluarga.
Menurut Maulana (2018: 21), kondisi tubuh setiap kehamilan

trimester pertama yaitu antara lain:

a. Badan terasa lemah

Trimester ini memang identik dengan berbagai keluhan. Ibu tidak

sendirian karena banyak juga calon ibu yang senasib. Lagi pula gampang

untuk mengatasinya.

b. Mual dan muntah

Diduga terjadi akibat hormon kehamilan. Untuk mengatasinya,

makanlah dalam porsi kecil tapi sering, banyak-banyak minum (air jahe

12
hangat, air putih), siapkan cemilan di dekat ibu, hindari bau yang tidak

sedap, hindari makanan yang berlemak, pelan-pelan bangkit dari tidur

dan duduk serta menyikat gigi setelah muntah.

c. Pusing

Penyebabnya belum pasti, namun jika ibu sampai pusing seger

beristirahat. Berhati-hati saat mengubah posisi tubuh (misalnya dari

duduk ke berdiri), serta siapkan cemilan sehat diatas atau dekat tempat

tidur agar kadar gula darah tetap stabil.

d. Sering buang air kecil

Membesarnya rahim ibu akan menekan dan menurunkan

kapasitas kandung kemih. Padahal saat hamil ibu cenderung minum lebih

banyak, sehingga ginjal lebih banyak memproduksi urin. Tidak heran bila

ibu bolak-balik ke toilet. Untungnya gangguan ini akan berkurang begitu

memasuki trimester kedua.

e. Cepat lelah
Tubuh ibu memang sedang bekerja ekstra keras untuk

menyiapkan diri dalam menampung janin. Disamping itu, tubuh juga

sedang belajar menyesuaikan diri terhadap tuntutan fisik dan emosi yang

masih naik turun. Jadi jangan heran kalau ibu mudah lelah. Cara

mengatasinya adalah istirahat secukupnya, berolahraga untuk

meningkatkan daya tahan tubuh, mengkonsumsi makanan yang bergizi

seimbang (kurang protein atau zat besi membuat cepat lelah), serta

minum susu hangat menjelang tidur, dan coba untuk selalu berpikir

positif.

f. Sembelit

13
Tubuh ibu memproduksi hormon dalam jumlah yang berlebih.

Salah satu akibatnya adalah kerja usus jadi lambat dan kurang efesien.

Tidak heran jika ibu sulit buang air besar. Cara mengatasinya yaitu

dengan banyak mengkonsumsi makanan tinggi serat (sayur dan buah-

buahan) serta banyak minum (air dan jus buah). Yogurt boleh juga

dikonsumsi agar merangsang kerja usus agar lebih aktif.

3. Perubahan Kehamilan

a. Perubahan Fisiologi

Perubahan fisiologi dibagi menjadi perubahan yang dapat

dilihat dan perubahan yang tidak dapat dilihat. Perubahan yang dapat

dilihat meliputi (Maulana, 2018: 87)

1. Perubahan pada kulit

Terjadi hiperpigmentasi yaitu kelebihan pigmen ditempat

tertentu. Pada wajah, pipi dan hidung mengalami hiperpimentasi

sehingga menyerupai topeng. Pada areola mamae dan putting

susu, daerah yang berwarna hitam di sekitar puting susu akan

menghitam. Pada area supra pubis terdapat garis hitam yang

memanjang dibandingkan sebelumnya, munculnya garis baru

yang memanjang ditengah atas pusat (linea nigra). Pada perut,

selain hiperpigmentasi terjadi striae gravidarum yang merupakan

garis pada kulit, terdapat dua jenis striae gravidarum yaitu striae

livida (garis yang berwarna biru) dan striae albikan (garis

berwarna putih). Hal ini karena pengaruh melanophore

stimulating hormone lobus hipofisis anterior dan pengaruh

kelenjar suprarenalis.

14
2. Perubahan kelenjar

Kelenjar gondok membesar sehingga leher ibu berbentuk

seperti leher pria. Perubahan ini tidak selalu terjadi pada wanita

hamil.

3. Perubahan payudara

Perubahan ini pasti terjadi pada wanita hamil karena

semakin dekat dengan persalinan payudara menyiapkan diri untuk

memproduksi makanan pokok untuk bayi setelah lahir. Perubahan

yang terlihat pada payudara adalah :

a. Payudara membesar, tegang dan sakit

b. Vena di bawah kulit ibu membesar dan terlihat jelas

c. Hiperpigmentasi pada areola dan puting susu

d. Payudara ibu mengeluarkan cairan apabila dipijat

4. Perubahan alat kelamin luar

Alat kelamin luar tampak hitam kebiruan karena adanya

kongesti pada peredaran darah. Kongesti dikarenakan karena

pembuluh darah membesar, darah yang menuju uterus sangat

banyak, sesuai dengan kebutuhan uterus untuk membesarkan dan

memberi makanan janin.

5. Perubahan pada alat pencernaan

Alat pencernaan lebih kendur, peristaltik kurang baik,

terjadi hipersekresi kelenjar dalam alat pencernaan sehingga

menimbulkan rasa mual, muntah, hipersalivasi dan lain-lain.

6. Perubahan pada peredaran darah dan pembuluh darah

15
a. Perubahan pada volume darah yang semakin meningkat karena

jumlah serum lebih besar sari pada pertumbuhan sel darah

sehingga terjadi pengenceran darah (hemodilusi).

b. Selama hamil jantung memompa untuk dua orang yaitu ibu

dan janin. Bertambahnya cairan darah menambah volume

darah, tetapi kepekatan darah berkurang dan pembuluh darah

membesar. Oleh karena itu kerja jantung bertambah berat.

7. Perubahan perkemihan

Ureter tertekan oleh uterus apabula uterus keluar dari

rongga panggul. Sehingga pada bulan kedua kehamilan ibu lebih

sering berkemih karena ureter lebih antefleksi dan membesar.

b. Perubahan Psikologis

Menurut teori Rubin, perubahan psikologi yang sering terjadi

pada trimester I meliputi ambivalen, takut, fantasi dan khawatir.

Pada trimester II perubahan meliputi perasaan lebih nyaman serta

kebutuhan mempelajari perkembangan dan pertumbuhan janin

meningkat, kadang tampak egoisentris dan berpusat pada diri

sendiri. Pada trimester III perubahan yang terjadi meliputi memiliki

perasaan aneh, sembrono, lebih introvert dan merefleksikan

pengalaman masa lalu (Maulana, 2018: 87).

4. Kebutuhan Dasar Ibu Hamil Sesuai dengan Tahap Perkembangan

a. Kebutuhan Oksigenasi

Kebutuhan oksigen wanita hamil meningkat sehingga untuk

memenuhi kebutuhannya itu wanita hamil selalu bernapas lebih

dalam dan bagian bawah toraksnya juga melebar kesisi. Pada

16
kehamilan 32 minggu atau lebih, usus-usus tertekan oleh uterus yang

membesar kearah diafragma sehingga diafragma sulit untuk

bergerak. Akibatnya, tidak jarang wanita hamil mengeluh sesak

napas dan pendek napas.

17
b. Nutirsi

Dalam masa kehamilan kebutuhan zat-zat meningkat. Hal ini

diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang janin,

pemeliharaan kesehatan ibu, dan persediaan laktasi baik untuk ibu

maupun janin. Kekurangan nutrisi dapat mengakibatkan anemia,

abortus, partus prematurus, inersia uteri, perdarahan pascapersalinan,

sepsis puerperalis, dan lain-lain. Kelebihan nutrisi karena dianggap

makan untuk dua orang dapat berakibat kegemukan, pre-eklampsia,

janin besar, dan lain-lain.

c. Metabolisme Basal

Metabolisme basal meningkat karena hal-hal berikut :

a. Pertumbuhan janin, plasenta, dan jaringan pada tubuh.

b. Peningkatan aktivitas kelenjar-kelenjar endokrin.

c. Keaktifan jaringan protoplasma janin sehingga

meningkatkan kebutuhan kalor.

d. Eliminasi

Akibat pengaruh hormone progesterone otot-otot tractus

digestivus tonusnya menurun, akibatnya motilitas saluran

pencernaan berkurang dan menyebabkan obstipasi. Untuk mengatasi

hal itu, ibu hamil dianjurkan minum 8 gelas, wanita sebaiknya diet

yang mengandung serat, latihan atau senam hamil dan tidak

dianjurkan memberikan obat-obat perangsang dengan laxan.

e. Mobilisasi dan body mekanik

Secara anatomi ligament semdi putar dapat meningkatkan

pelebaran dan pembesaran rahim pada ruang abdomen. Nyeri pada

18
ligament ini terjadi karena pelebaran dan tekanan pada ligament

karena adanya pembesaran rahim.

f. Exercise atau senam hamil

Ibu hamil perlu menjaga kesehatan tubuhnya dengan cara

berjalan di pagi hari, renang, olahraga ringan dan senam hamil

(Kusmiyati dkk, 2014: 44).

B. Emesis Gravidarum

1. Pengertian

Emesis gravidarum atau rasa mual dan muntah biasanya terjadi pada

masa 3 bulan awal kehamilan trimester pertama kehamilan (Suririnah, 2013:

52).

2. Waktu Terjadinya Emesis gravidarum

Emesis gravidarum umumnya terjadi pada trimester pertama

kehamilan. Ada wanita hamil yang mual-mual dan diikuti dengan muntah,

namun ada juga yang hanya merasa mual. Rasa mual biasanya muncul saat

kehamilan memasuki minggu ke-6, tetapi bisa juga timbul lebih awal pada

minggu ke-4 (Revina, 2014: 59).

Ada wanita hamil yang terbebas dari gejala mual-mual dan muntah

setelah melewati 14 minggu. Ada pula yang butuh waktu sekitar sebulan

untuk terbebas dari emesis gravidarum, meski mungkin nanti akan dialami

lagi selama masa kehamilan. Bahkan ada juga wanita yang terus menerus

mengalami mual dan muntah sepanjang kehamilan sampai persalinan

(Revina, 2014: 59).

19
3. Penyebab

Menurut Revina (2014:54), Emesis gravidarum terjadi karena adanya

berbagai perubahan dalam tubuh selama hamil, yaitu:

a. Meningkatnya sejumlah hormon secara drastis pada awal kehamilan

seperti estrogen dan hCG yaitu hormon yang diproduksi plasenta selama

masa kehamilan dalam tubuh. Intensitas mual dan muntah cenderung

meningkat seiring dengan melonjaknya kadar hCG. Wanita hamil yang

memiliki kadar hCG lebih tinggi, ketika mengandung anak kembar, juga

cenderung mengalami intensitas emesis gravidarum yang lebih tinggi.

b. Indera penciuman menjadi lebih sensitif. Makanan-makanan tertentu

yang memiliki aroma kuat dapat tercium dari jarak cukup jauh dan bisa

langsung membuat merasa mual.

c. Kondisi emosional juga bisa memperparah emesis gravidarum, misalnya

jika sedang stres.

4. Akibat

Emesis gravidarum dianggap sebagai gejala yang normal, tapi bukan

berarti bisa diremehkan. Mual dan muntah akan menimbulkan kelelahan dan

menurunkan kondisi fisik, yang tentu saja tidak baik bagi kehamilan (Revina,

2014:60).

Intensitas emesis gravidarum tergolong ringan hingga sedang, maka

tidak akan berpengaruh buruk pada kesehatan janin. Sedangkan gejala mual-

mual dan muntah yang berlangsung terus menerus dengan intensitas tinggi,

ada kemungkinan menimbulkan risiko yang lebih tinggi pada kesehatan janin

(Revina, 2014: 61).

20
Dalam kondisi yang ringan, mual saat hamil biasanya tidak akan

menyebabkan komplikasi apa pun pada bayi. Namun, dalam kasus yang

cukup parah seperti pada hiperemesis gravidarum, akan mengalami berbagai

komplikasi seperti ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh, dehidrasi,

depresi dan kecemasan ekstrem, malnutrisi pada janin akibat berat badan ibu

yang terus menurun. Morning sickness bisa sangat menganggu dan

memengaruhi ibu dalam banyak hal. Pasalnya, kondisi ini menaikkan tingkat

stres, termasuk menambah kecemasan dan depresi. Akibatnya, hal ini kerap

menghambat wanita dalam bekerja, bersosialisasi, dan melakukan

serangkaian kegiatan harian lainnya (Suririnah, 2018: 29).

5. Cara Mengatasi

Terapi komplementer dikenal dengan terapi tradisional yang

digabungkan dalam pengobatan modern. Komplementer adalah penggunaan

terapi tradisional ke dalam pengobatan modern (Andrews et al., 2011: 112).

Terminologi ini dikenal sebagai terapi modalitas atau aktivitas yang

menambahkan pendekatan ortodoks dalam pelayanan kesehatan (Crips &

Taylor, 2011: 12). Terapi komplementer juga ada yang menyebutnya dengan

pengobatan holistik. Pendapat ini didasari oleh bentuk terapi yang

mempengaruhi individu secara menyeluruh yaitu sebuah keharmonisan. Teori

keperawatan yang ada dapat dijadikan individu untuk mengintegrasikan

pikiran, badan, dan jiwa dalam kesatuan fungsi (Smith et al., 2014: 71).

Beberapa yang berhasil dibuktikan secara ilmiah misalnya terapi

sentuhan untuk meningkatkan relaksasi, menurunkan nyeri, mengurangi

kecemasan, mempercepat penyembuhan luka, dan memberi kontribusi positif

pada perubahan psikoimunologik. Peningkatan penggunaan cara tradisional,

21
seperti akupresur, aromaterapi dan senam olah pernapasan mungkin

disebabkan meningkatnya pelatihan ketrampilan teknik pengobatan tersebut

sebagai pengobatan alternatif untuk kemandirian hidup sehat.

Menurut Revina (2014:62), emesis gravidarum merupakan gejala

yang umum meskipun demikian bukan berarti harus membiarkannya saja.

Mual dan muntah yang dialami akan mempengaruhi pada perkembangan

janin sehingga harus mempunyai cara untuk mengatasi emesis gravidarum

yang terjadi, berikut cara-caranya:

a. Makan dengan porsi kecil.

Pada saat sedang hamil di trimester pertama gangguan dari

emesis gravidarum akan mempengaruhi pada asupan nutrisi sehingga

jika dibiarkan akan mengganggu perkembangan janin, yang harus

dilakukan adalah dengan membuat  jadwal makan. Pada saat kehamilan

usahakan makan dengan jumlah yang sedikit tetapi terjadwal sehingga

pencernaan dapat menerimanya. Pilih makanan dengan nutrisi yang

dibutuhkan untuk memberikan manfaat lebih selama kandungan apalagi

di trimester pertama untuk memperkuat janin.

b. Bangun pagi dengan jeda istirahat terlebih dahulu.

Bangun pagi hendaknya tidak beranjak dari tempat tidur ada

baiknya untuk duduk beberapa menit dan bangun secara perlahan.

Beberapa wanita yang sedang hamil melakukan cara mengatasi emesis

gravidarum dengan menyediakan beberapa biskuit sebelum beranjak di

tempat tidurnya untuk mengurangi mual yang berlebih di pagi hari.

Sehingga memberikan jeda istirahat terlebih dahulu.

22
c. Menghindari makanan pedas dan berlemak.

Meskipun dirasa sudah membaik ketika siang hari bukan berarti

dapat memberikan asupan makanan tanpa kontrol disiang hari, mengingat

selama masa kehamilan sangat diperlukan pemilihan makanan yang

justru akan menimbulkan beberapa gangguan kesehatan. Makanan pedas

dan berlemak selain menggangu pencernaan juga akan menggangu

karena memicu emesis gravidarum. Perbanyak minum air putih sehingga

terhindar dari dehidrasi pada saat kehamilan.

Menurut King, et all (2019:1264), ada beberapa tips untuk membantu

mengatasi emesis gravidarum selama awal kehamilan :

a. Makan dalam jumlah sedikit tapi sering, jangan makan dalam jumlah

atau porsi besar hanya akan membuat bertambah mual. Berusahalah

makan sewaktu dapat makan, dengan porsi kecil tapi sering.

b. Makan makanan yang tinggi karbohidrat dan protein yang dapat untuk

membantu mengatasi rasa mual. Banyak mengkonsumsi buah, sayuran,

makanan yang tinggi karbohidrat seperti roti, kentang, dan biscuit.

c. Pagi hari sewaktu bangun tidur jangan langsung terburu-buru terbangun,

cobalah duduk dahulu dan baru perlahan berdiri bangun. Bila merasa

sangat mual ketika bangun tidur pagi siapkanlah snack atau biskuit

didekat tempat tidur, dan dapat memakannya dahulu sebelum mencoba

untuk berdiri.

d. Hindari makanan yang berlemak, berminyak dan pedas yang akan

memperburuk rasa mual.

23
e. Minum yang cukup untuk menghindari dehidrasi akibat muntah.

Minumlah air putih, ataupun jus. Hindari minuman yang mengandung

kafein dan karbonat.

f. Vitamin kehamilan kadang memperburuk rasa mual, tapi tetap

memerlukan folat untuk kehamilan ini. Bila mual muntah sangat hebat,

konsultasikan ke dokter sehingga dapat diberikan saran terbaik untuk

vitamin yang akan konsumsi, dan dokter mungkin akan memberikan obat

untuk mual bila memang diperlukan.

g. Vitamin B 6 efektif untuk mengurangi rasa mual pada ibu hamil. 

Sebaiknya konsultasikan dahulu dengan dokter untuk pemakaiannya.

h. Pengobatan tradisional : Biasanya orang menggunakan jahe dalam

mengurangi rasa mual pada berbagai pengobatan tradisional. Pada

beberapa wanita hamil ada yang mengkonsumsi jahe segar atau permen

jahe untuk menbantu mengatasi rasa mualnya dan juga dengan

melakukan terapi akupresur.

i. Istirahat dan relaksasi akan sangat membantu mengatasi rasa mual

muntah, karena bila stress hanya akan memperburuk rasa mual. Cobalah

beristirahat yang cukup dan santai, dengarkan musik, membaca buku

bayi atau majalah.

24
Gambar 2.1
Pathway Emesis Gravidarum

Faktor Biologis
Faktor Psiologis

Stress

Menginduksi ovarium memproduksi


esterogen dan progesteron

Tekanan darah dan


denyut jantung

Sumber: Suririnah (2013)

25
Gambar 2.2
Mind Mapping Emesis Gravidarum

Sumber: Suririnah (2013), Revina (2014), Maulana (2018), King, et all (2019)

26
C. Tinjauan Umum Tentang Manajemen Asuhan Kebidanan

1. Pengertian manajemen kebidanan

Manajemen kebidanan adalah satu metode pendekatan pemecahan

masalah yang digunakan oleh bidan dalam proses pemecahan masalah dalam

pemberian pelayanan asuhan kebidanan, atau merupakan proses pemecahan

masalah yang digunakan oleh bidan serta merupakan metode yang

terorganisir melalui tindakan logika dalam memberi pelayanan.

2. Tahapan dalam manajemen kebidanan menurut Helen Varney

Proses manajemen kebidanan terdiri dari 7 langkah asuhan kebidanan

yang dimulai dengan pengumpulan data dasar yang diakhiri dengan evaluasi.

Tahapan dalam proses manajemen asuhan kebidanan ada 7 langkah yaitu :

a. Pengkajian dalam pengumpulan data dasar yang lengkap untuk menilai

keadaan klien. Yang termasuk data dasar adalah riwayat kesehatan klien,

pemeriksaan fisik, dan catatan riwayat kesehatan yang lalu dan sekarang,

pemeriksaan laboratorium. Semua data tersebut di atas harus memberikan

informasi yang saling berhubungan dari semua sumber dan

menggambarkan kondisi ibu yang sebenarnya.

b. Identifikasi diagnose/masalah actual.

Menginterprestasikan data secara spesifik mengenai diagnose dan

masalah. Kata diagnose dan masalah selalu digunakan namun keduanya

mempunyai pengertian yang berbeda. Masalah lebih sering berhubungan

dengan apa yang dialami oleh seseorang, menguraikan suatu kenyataan

yang ia rasakan sebagai suatu masalah. Sedangkan diagnose lebih sering

diidentifikasi oleh bidan yang berfokus pada apa yang dialami oleh klien.

27
c. Antisipasi diagnosa/masalah potensial

Dari kumpulan masalah dan diagnosa, identifakasi faktor-faktor potensial

yang memerlukan antisipasi segera tindakan pencegahan jika

memungkinkan atau waspada sambil menunggu dan mempersiapkan

pelayanan untuk segala sesuatu yang mungkin terjadi.

d. Evaluasi perlunya tindakan segera/kolaborasi

Proses manajemen kebidanan dilakukan secara terus menerus selama

klien dalam perawatan bidan. Proses terus menerus ini menghasilkan data

baru segera dinilai. Data yang muncul dapat menggambarkan suatu

keadaan darurat dimana bidan harus segera bertindak untuk

menyelamatkan klien.

e. Rencana asuhan kebidanan

Rencana tindakan konfrehensif bukan hanya meliputi kondisi klien serta

hubungannya dengan masalah yang dialami klien akan tetapi meliputi

antisipasi dengan bimbingan terhadap klien, serta konseling, bila perlu

mengenai ekonomi, agama, budaya, atau masalah psikologis. Rencana

tindakan harus disetujui klien, oleh sebab itu harus didiskusikan dengan

klien. Semua tindakan yang diambil harus berdasarkan rasional yang

relevan dan diakui kebenarannya serta situasi dan kondisi tindakan harus

dianalisa secara teoritis.

f. Pelaksanaan asuhan kebidanan (Implementasi)

Pelaksanaan rencana asuhan kebidanan (Implementasi) dilaksanakan oleh

bidan dan sebagian dilaksanakan oleh ibu sendiri, dan anggota tim

kesehatan lainnya berdasarkan rencana yang ditetapkan.

28
g. Evaluasi asuhan kebidanan

Langkah akhir kebidanan adalah evaluasi, namun sebenarnya evaluasi ini

dilakukan pada setiap langkah kebidanan. Pada tahap evaluasi bidan harus

mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan kebidanan yang diberikan

kepada klien. (Varney, 2019:1958).

Tabel 2.1
Perbandingan Pendokumentasian Kebidanan

7 5 S
Langkah Lan O
Varney gkah A
Ko P
mpe No
tensi tes
Bida
n
Data Data Su
bje
kti
f
Ob
jek
tif
Diagnos Asse As
a/ sme ses
Masalah nt me
Antisipa Diag nt
si nosa
Masalah
Potensial
/Diagnos
a
Potensial
Menetap
kan
Kebutuh
an
Segera
untuk
Konsulta
si,
Kolabor
asi
Perencan Pere Pl
aan ncan an:
aan Ko
Implem Imp ns

29
entasi lem ult
enta asi
si Te
Evaluas Eva s
La
i luas
bo
i rat
ori
um
Ru
ju
ka
n
Ed
uk
asi
/K
on
sel
in
g
Fo
llo
w
Up
Sumber: Salma, 2016:173

D. Penilaian dan Penatalaksanaan Emesis Gravidarum Pada Ibu Hamil

Menurut King, et all (2019:1267) data fokus manajemen dan penilaian awal

penatalaksanaan terhadap emesis gravidarum adalah sebagai berikut:

1. Riwayat pada kehamilaan saat ini

a. Sakit perut (gangguan GI)

b. Darah dalam muntahan (ulkus peptikum atau esofagitis dari muntah

berulang)

c. Frekuensi episode mual, muntah, dan muntah (skor PUQE untuk

menentukan tingkat keparahan)

d. Riwayat diet (menentukan tingkat keparahan NVP)

e. Eliminasi (frekuensi, jumlah, konstipasi, diare)

f. Paparan infeksi virus atau kontaminasi makanan

30
g. Riwayat gangguan makan

h. Riwayat penyakit kronis yang berhubungan dengan mual/muntah

i. Obat-obatan (misalnya, obat-obatan yang menyebabkan mual seperti

suplemen zat besi)

2. Pemeriksaan Fisik

a. Berat Badan (bandingkan dengan berat badan sebelumnya untuk

menentukan tingkat keparahan NVP)

b. Tanda-tanda vital dengan tekanan darah (tanda-tanda infeksi)

c. Turgor kulit, kelembaban membran mukosa (tanda dehidrasi untuk

menentukan beratnya NVP)

d. Palpasi abdomen untuk organomegali, nyeri tekan, distensi (gangguan GI)

e. Bunyi usus (gangguan GI)

f. Penilaian ukuran uterus (singkirkan kehamilan ganda atau mola

hidatidosa)

3. Tes Laboratrium

a. Tes darah lengkap (tanda dehidrasi atau infeksi)

b. Urinalisis dan dipstick urin untuk berat jenis dan keton (dehidrasi

menunjukkan peningkatan keparahan NVP)

c. BUN dan elektrolit (ketidakseimbangan elektrolit menunjukkan

peningkatan keparahan NVP)

d. Tes fungsi hati (singkirkan hepatitis, pankreatitis, dan kolestasis)

e. TSH dan T4 (menyingkirkan penyakit tiroid)

31
4. USG

Konfirmasi kehamilan dan singkirkan kehamilan ganda dan/atau mola

hidatidosa

Dalam mengevaluasi ibu hamil dengan emesis pertama dikesampingkan

diagnosis banding dan kemudian untuk menetapkan tingkat keparahan gangguan,

yang dikategorikan ringan, sedang, atau berat. Untuk menentukan tingkat

keparahan mual dan muntah menggunakan skor PUQE (King, et all, 2019:1267).

Komponen penting dari evaluasi ini adalah penilaian tentang bagaimana

gejalanya mengganggu kemampuan ibu hamil untuk mempertahankan dan

terlibat dalam aktivitas sehari-hari. Indeks PUQE didasarkan hanya pada tiga

pertanyaan dan mudah digunakan dalam praktik (King, et all, 2019:1268).

Tabel 2.2
Indeks PUQE

1. Dalam sehari berapa rata-rata ibu merasa mual dan sakit perut
>6 4-6 2-3 Tidak
≤ 1 sama sekali
jam jam jam jam (1
(5 (4 (3 (2 poi
poi poi poi poi n)
n) n) n) n)
2. Berapa kali ibu mengalami muntah dalam sehari
5-6 3-4 1-2 Tid
atau (4 (3 (2 ak
lebi poi poi poi ada
n) n) n) (1
(5 poi
poi n)
n)
3. Berapa kali ibu muntah-muntah atau batuk kering tanpa membawa apa-apa
(darah) dalam sehari
5-6 3-4 1-2 Tid
atau (4 (3 (2 ak
lebi poi poi poi ada
n) n) n) (1
(5 poi
poi n)
n)
Score :

32
1. Mual ringan jika total skore ≤ 6
2. Mual sedang jika total skore 7-12
3. Mual sedang jika total skore ≥ 13
Sumber: King, et all (2019:1268)

33
E. Teori Evidence Based Midwifery (EBM)

1. Pengertian

Evidence based artinya berdasarkan bukti. Artinya tidak lagi

berdasarkan pengalaman atau kebiasaaan semata.

Evidence based midwifery adalah pemberian informasi kebidanan

berdasarkan bukti dari penelitian yang bisa dipertanggung jawabkan (Gray,

1997).

Praktik kebidanan sekarang lebih didasarkan pada bukti ilmiah hasil

penelitian dan pengalaman praktik dari para praktisi dari seluruh penjuru

dunia. Rutinitas yang tidak terbukti manfaatnya kini tidak dianjurkan lagi

(Jayanti, 2020: 31).

2. Manfaaat Evidence based Midwifery dalam Praktik Kebidanan

Dengan pelaksanaan praktik asuhan kebidanan yang berdasarkan

evidence based tersebut tentu saja bermanfaat membantu mengurangi angka

kematian ibu hamil dan risiko-risiko yang dialami selama persalinan bagi ibu

dan bayi serta bermanfaat juga untuk memperbaiki keadaan kesehatan

masyarakat.

3. Kategori Evidence Based Menurut World Health Organization (2017:31)

Menurut WHO, Evidence based terbagi sebagai berikut:

a. Evidenve-based Medicine adalah pemberian informasi obat-obatan

berdasarkan bukti dari penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan.

Temuan obat baru yang dapat saja segera ditarik dan peredaran hanya

dalam waktu beberapa bulan setelah obat tersebut dipasarkan, karena di

populasi terbukti memberikan efek samping yang berat pada sebagian

penggunanya.

34
b. Evidence-based Policy adalah satu sistem peningkatan mutu pelayanan

kesehatan dan kedokteran (Clinical Governance): suatu tantangan profesi

kesehatan dan kedokteran di masa mendatang.

c. Evidence based Midwifery adalah pemberian informasi kebidanan

berdasarkan bukti dari penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan.

d. Evidence based report adalah mgmpakan bentuk penulisan laporan kasus

yang baru berkembang, memperlihatkan bagaimana hasil penelitian dapat

diterapkan pada semua tahapan penatalaksanaan pasien.

4. Sumber Evidence Based

Sumber EBM dapat diperoleh melalui bukti publikasi jurnal dari

internet maupun berlangganan baik hardcopy seperti majalah, bulletin, atau

CD. Situs internet yang ada dapat diakses, ada yang harus dibayar namun

banyak pula yang public domain

5. Evidece Based Midwifery pada kasus

a. Ulfika (2019) mengenai asuhan kebidanan pada ibu hamil trimester I

dengan emesis gravidarum

Kehamilan merupakan proses penyatuan spermatozoa dan

ovum kemudian dilanjutkan dengan implantasi pada uterus

(Saifuddin, 2009:44). Ketidaknyamanan yang dirasakan oleh ibu

hamil berbeda-beda pada setiap trimester kehamilannya. Salah satu

keluhan yang sering dirasakan dalam kehamilan adalah mual

muntah. Mual muntah terjadi 60-80% pada primigravida dan 40-

60% multigravida. Rasa mual dan muntah tanpa penyebab yang

35
jelas kemungkinan termasuk gejala pada awal kehamilan, yang

disebut dengan emesis gravidarum (Madjunkova et. al, 2013).

Emesis Gravidarum adalah gejala mual yang disertai dengan

muntah yang terjadi pada awal kehamilan (Ulfika, 2019:4).

Penyebab emesis gravidarum adalah meningkatnya hormon

Estrogen, Progesteron dan Human Chorionic Gonodothropine

(HCG). Pola makan yang buruk sebelum maupun pada minggu-

minggu awal kehamilan, kurang tidur atau kurang istirahat dan

stress juga menjadi faktor penyebab emesis gravidarum ( Neil,

2010:12).

Penanganan mual muntah yaitu memilih makan yang tidak

memicu munculnya mual muntah, memilih makanan yang tidak

berlemak, makanlah sedikit tetapi sering (Walyani, 2015:89).

Adapun penanganan terapi farmakologis dan non farmakologis.

Terapi non farmakologis yang dapat digunakan untuk mencegah dan

mengurangi mual muntah adalah aromaterapi. Aromaterapi adalah

minyak tumbuhan yang harum dan mempunyai konsentrasi tinggi

dan mudah mengalami penguapan. Adapun macam-macam minyak

yang digunakan sebagai aromaterapi yaitu lemon, pepermint, bunga

lavender, bunga mawar, jahe. Lemon minyak esensial (Citruslemon)

adalah salah satu yang paling banyak digunakan untuk mencegah

mual muntah. Karena kulit lemon mengandung lemonen yang dapat

mencegah mual. Menurut sebuah studi, 40% wanita telah

36
menggunakan aroma lemon untuk meredakan mual dan muntah, dan

26,5% dari mereka telah dilaporkan sebagai cara yang efektifitas

untuk mengontrol gejala mual muntah (Kia et. al, 2014:10).

b. Tomiatun (2019) mengenai Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Trimester

1 Dengan Emesis Gravidarum Menggunakan Wedang Jahe Di Bpm Lely

Marlina Bergas

Perasaan mual dan muntah sering dialami ibu yang sedang hamil.

Wanita hamil akan mengalami proses penyesuaian tubuh terhadap

kehamilan. Mual dan muntah pada kehamilan disebut dengan emesis

gravidarum. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi ada yang timbul

setiap saat dan malam hari (Winkjosastro, 2007:39). Setiap wanita hamil

akan memiliki derajat mual yang berbeda-beda, ada yang tidak terlalu

merasakan apa-apa, tetapi ada juga yang merasa mual dan ada yang

merasa sangat mual dan ingin muntah setiap saat (Maulana, 2018:79).

Muntah yang lebih dari sepuluh kali sehari atau mual terus menerus yang

terjadi selama 20 minggu terakhir kehamilan ini akan berlanjut menjadi

emesis gravidarum sehingga tubuh ibu menjadi lemah, muka pucat, dan

frekuensi buang air kecil menurun drastis. Mual dan muntah yang

berlebihan juga menyebabkan cairan tubuh semakin berkurang dan terjadi

hemokonsentrasi yang dapat memperlambat peredaran darah sehingga

dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin (Hidayati, 2009:12).

Emesis gravidarum disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

faktor predisposisi seperti primigravida, hidramnion, kehamilan ganda,

mola hidatidosa dan faktor psikologis seperti rumah tangga yang retak,

hamil yang tidak diinginkan, takut terhadap kehamilan dan persalinan,

37
takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, kehilangan pekerjaan

(Suparyanto, 2011). Mual dan muntah terus menerus dapat menyebabkan

dehidrasi, hiponatremia, penurunan klorida urin, selanjutnya terjadi

hemokonsentrasi yang mengurangi perfusi darah ke jaringan dan

menyebabkan tertimbunnya toksik. Pemakaian cadangan karbohidtrat dan

lemak menyebabkan oksidasi lemak tidak sempurna hingga terjadi

ketosis. Hipokalemia akibat muntah dan elserasi yang berlebihan

selanjutnya menambah frekuensi muntah dan merusak hepar. Selaput

lendir esofagus dan lambung dapat robek (Sindrom Mallory-Weiss)

sehingga terjadi perdarahan gestasionale (Nenk, 2010).

Tenaga kesehatan atau bidan hendaknya selalu memberikan

penjelasan dan motivasi mengenai yang dirasakan ibu hamil tentang mual

muntahnya, termasuk di dalamnya tentang emesis gravidarum mengenai

penyebab, gejala dan dampaknya. Dengan maksud menambah

pengetahuan ibu hamil. Juga tentang ibu hamil yang terkena emesis

gravidarum. Makan jangan sekaligus banyak, tetapi dalam porsi sedikit

tapi sering, ibu di sarankan tidak terlalu terbebani adanya masalah rumah

tangga dan Mengoptimalkan akses informasi dan akses pelayanan

kesehatan sehingga mempermudah masyarakat dalam memcari informasi

yang butuhkan.

c. Nausea and Vomiting of Pregnancy-What’s New? (Bustos, 2017)

Saat ini, terapi untuk NVP tergantung pada tingkat keparahan

gangguan dan difokuskan untuk memperbaiki gejala sambil

meminimalkan risiko pada ibu dan janin. Terapi berkisar dari perubahan

38
pola makan, rehidrasi cairan intravena (termasuk elektrolit, vitamin

termasuk thiamin), pengobatan farmakologis, dan rawat inap.

American College of Obstetrics and Gynecology

merekomendasikan jahe sebagai intervensi nonfarmakologis untuk

mengobati NVP dan kombinasi piridoksin hidroklorida oral dan

doksilamin suksinat sebagai lini pertama pengobatan farmakologis untuk

NVP.

d. Interventions for nausea and vomiting in early pregnancy (Matthews, et

all, 2015)

Empat puluh satu percobaan yang melibatkan 5449 wanita,

memenuhi kriteria inklusi. Percobaan ini mencakup banyak intervensi,

termasuk akupresur, akustimulasi, akupunktur, jahe, chamomile, minyak

lemon, minyak mint, vitamin B6 dan beberapa obat antiemetik. Tidak ada

studi termasuk intervensi diet dan gaya hidup lainnya. Bukti mengenai

efektivitas akupresur P6, akupresur auricular (telinga) dan akustimulasi

titik P6 terbatas. Akupunktur (P6 atau tradisional) tidak menunjukkan

manfaat yang signifikan bagi wanita dalam kehamilan. Penggunaan

produk jahe mungkin bermanfaat bagi wanita, tetapi bukti efektivitasnya

terbatas dan tidak konsisten, meskipun tiga penelitian terbaru mendukung

jahe daripada plasebo. Hanya ada bukti terbatas dari uji coba untuk

mendukung penggunaan agen farmakologis termasuk vitamin

B6, Doxylamine-pyridoxoine dan obat anti-emetik lainnya untuk

meredakan mual dan muntah ringan atau sedang. Ada sedikit informasi

tentang hasil yang merugikan ibu dan janin dan hasil psikologis, sosial

atau ekonomi.

39
40
e. The Effectiveness of Ginger in the Prevention of Nausea and Vomiting

during Pregnancy and Chemotherapy (Late, 2020)

Jahe adalah ramuan kuno yang digunakan secara luas dalam

sejarah karena banyak khasiat obat alami dan terutama sebagai

antiemetik. Bukti terbaik yang tersedia menunjukkan bahwa jahe adalah

pengobatan yang efektif dan murah untuk mual dan muntah serta

aman. Mengingat keterjangkauan sediaan jahe dengan bahan aktif yang

diketahui, akan menarik untuk melakukan studi praklinis untuk

memahami kemanjuran konstituen jahe utama, termasuk gingerol dan

shogaol. Studi penemuan dosis menggunakan ekstrak standar yang

bervariasi juga harus dilakukan untuk secara akurat menentukan dosis

efektif dan persiapan jahe. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan untuk

mengoptimalkan desain uji klinis untuk meningkatkan kemanjuran jahe

dalam mual dan muntah.

f. Literatur Review Terapi Nonfarmakologis Untuk Mengurangi Mual

Muntah Pada Ibu Hamil (Abriyani, 2020)

Menurut hasil review literatur, sebagian besar terapi

nonfarmakologis efektif dalam mengurangi mual muntah dalam

kehamilan, di antaranya jahe, aroma terapi lemon, mint dan sirup delima

dapat direkomendasikan untuk mengurangi mual muntah dalam

kehamilan.

41
BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL TRIMESTER I DENGAN

EMESIS GRAVIDARUM DI PMB EVI KURNIAWATI, AM.KEB

PENGKAJIAN

Tanggal Pengkajian : 20 Oktober 2021

IDENTITAS PASIEN

BIODATA
1. Nama : Ny. F 1. Nama : Tn. A

2. Umur : 35 tahun 2. Umur : 36 tahun

3. Agama : Islam 3. Agama : Islam

4. Pendidikan : SMA 4. Pendidikan : SMP

5. Pekerjaan : IRT 5. Pekerjaan : Buruh

6. Alamat : RT 10 Mendalo Darat 6. Alamat : RT 10 Mendalo Darat

A. DATA SUBYEKTIF

1. Alasan Kunjungan : Ibu ingin memeriksakan kehamilan dan ibu merasa

mual, muntah dan pusing.

2. Riwayat Menstruasi

Menarche : ± 15 tahun

Siklus : normal (± 28 hari)

Lama : ± 6-7 hari

Konsistensi : Cair

Banyaknya : 2 – 3 kali ganti pembalut/hari

42
Masalah Lain : Tidak ada

a. Riwayat Kehamilan sekarang :

1) G3P2A0

2) Usia kehamilan : 7–8 minggu

3) HPHT : 29 – 08 - 2021

4) HPL : 08 – 06 - 2021

5) Gerak janin :-

6) Keluhan

a) Trimester I : Mual dan muntah pagi hari dan kadang pada

malam hari, sakit kepala

b) Trimester II :-

c) Trimester III :-

3. Riwayat penyakit / operasi yang lalu : Tidak ada

4. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada

5. Riwayat yang berhubungan dengan masalah kesehatan reproduksi : Tidak ada

6. Riwayat Keluarga Berencana

Metode KB yang pernah dipakai : Suntik

Lama : 2 Tahun

Komplikasi / Masalah : Tidak ada

B. Data Obyektif

1. Pemeriksaan Fisik:

a. Keadaan Umum:

1) Sikap Tubuh : Normal

2) Tekanan Darah : 110/80 mmHg

43
3) Nadi : 82 kali/menit

4) BB Sebelum/ Sekarang : 45 kg/ 45kg Suhu /T: 36,0 °C

Rambut : Bersih

Mata : Seklera tidak ikterus, konjungtiva tidak pucat, penglihatan

jelas

Muka : Tidak tampak kelainan

Telinga : Tidak tampak kelainan

Leher : Tidak tampak kelainan

Payudara : Simetris

Puting susu : Menonjol

Areola mamae : Bersih

Jantung : Bunyi jelas teratur

Paru-Paru : Bunyi nafas bersih

2. Skor PUQE

a. Mual pada pagi dan malam hari < dari 1 jam = 2 poin

b. Muntah 1-2 kali dalam sehari = 2 poin

c. Tidak ada muntah atau batuk dalam sehari = 1 poin

Total 5 poin, maka ibu masuk dalam kategori emesis ringan

C. Analisis

Diagnosa Kebidanan : G3P2A0 hamil 7–8 minggu

Masalah : Ibu merasa mual dan pusing

Kebutuhan segera: tidak ada

D. Pelaksanaan

44
Tanggal : 20 Oktober 2021

1. Lakukan informed concent

Rasionalisasi : Melindungi pasien terhadap segala tindakan medis yang

dilakukan tanpa sepengetahuan pasien serta memberikan perlindungan hukum

kepada bidan terhadao akibat yang tidak terduga dan bersifat negatif.

Hasil : Ibu setuju dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik

2. Lakukan anamnesa

Rasionalisai : Mempermudah dalam menentukan tindakan yang akan

dilakukan, mengenali komplikasi serta mempelajari keadaan.

Hasil : Ibu telah dianamnesa

3. Lakukan Pemeriksaan TTV

Rasionalisasi :

TD : Tekanan darah tinggi mengidentifikasi kemungkinan keracunan

kehamilan

N : Takikardi (>110x/i) mengidentifikasi dehidrasi, kelelahan, syok, dan

infeksi

P : Pernapasan yang abnormal seperti dengkuran pernafasan ireguler

mengidentifikasi distress pernafasan

S : Jika hipotermia (<36,5) atau hipertermia (>37,5) mengidentifikasi

adanya infeksi atau kondisi serius lainnya.

Hasil : Ibu telah dilakukan pemeriksaan TTV

45
4. Lakukan Pemeriksaan Fisik

Rasionalisasi :

a. Mengidentifikasi ada atau tidak normalan yang terdapat pada fisik ibu

dan mengenali ada / tidaknya bahaya kehamilan yang mungkin terjadi

b. Membantu menentukan TFU untuk memastikan umur kehamilan, posisi

janin, presentasi, serta menentukan kelainan pada janin

c. Reflek patela yang negatif mengidentifikasi terjadinya penyakit urat

syaraf

Hasil : Ibu telah dilakukan pemeriksaan fisik

5. Beritahukan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan

Rasionalisasi : Dengan memberitahukan hasil pemeriksaan maka bidan selaku

pemberi layanan telah melakukan kewajibannya dan telah memberikan hak

pasien untuk memperoleh informasi mengenai kondisi kesehatannya dalam

hal ini informasi mengenai kehamilannya.

Hasil : Ibu sudah mengetahui tentang keadaannya dan kondisi

kehamilannya.

6. Lakukan konseling cara mengatasi mual dan muntah

Rasionalisai: dengan mengetahui cara menghindari mual dan muntah seperti

makan porsi kecil tapi sering dan menghindari makan makanan yang

berlemak diharapkan dapat mengatasi keluhan ibu dan banyak minum air

putih agar tidak dehidrasi.

Hasil: ibu mengerti dan bersedia akan melakukannya.

7. Lakukan konseling gizi

46
Rasionalisasi : Konseling tentang gizi yang diberikan terutama makanan dan

asupan gizi yang bisa meringankan atau menghilangkan keluhan ibu hamil

dengan tetap memperhatikan gizi seimbang ibu hamil tetap sehat

Hasil : Ibu mengetahui makana yang bergizi pada ibu hamil

8. Lakukan konseling pola istirahat dan tidur.

Rasionalisasi : Pola istirahat dan tidur yang kurang cukup dapat membuat

kondisi ibu hamil tidak baik, dan memperberat masalah yang ibu alami

Hasil : Ibu mengetahui manfaat dan pentingnya menjaga pola tidur

8. Memberi tahu ibu untuk mengkonsumsi minuman jahe untuk mengurangi

rasa mual dan muntah

Rasionalisasi: Jahe memblokir reseptor serotonin dan diinduksi antiemetik

efek di pencernaan dan pusat gugup sistem sehingga dapat mengurangi mual

dan muntah

Hasil : ibu mengerti dan akan mencoba melakukan saran yang diberikan.

9. Berikan vitamin dan obat anti mual

Rasionalisasi : vitamin dan obat anti mual diberikan untuk suplemen vitamin

kepada ibu hamil dan mengurangi rasa mual

Hasil : Ibu telah diberikan vitamin B komleks, kalsium dan obat anti

mual

10. Informasi kunjungan ulang

Rasionalisasi : dengan memberitahu kunjungan ulang ibu dapat mengetahui

jadwal pemeriksaan selanjutnya agar perkembangan kehamilan ibu dapat

dipantau.

Hasil : ibu mengetahui jadwal pemeriksaan kehamilan berikutnya.

47
48
11. Lakukan pendokumentasian.

Rasionalisasi : Pendokumentasian dilakukan agar bidan terlindungi dari

hukum karena dengan mencatat apa yang telah dilakukan terhadap ibu hamil

dengan benar.

Hasil : Mendokumentasikan hasil pemeriksaan.

49
BAB IV

PEMBAHASAN

Berdasarkan kasus yang didapatkan di PMB Evi Kurniawati, Am.Keb

didapatkan data bahwa Ny. F G3P2A0 umur kehamilan 7–8 minggu. Masalah yang

dialami pasien yaitu merasa mual dan sakit kepala. Pelaksanaan yang dilakukan pada

ibu hamil yaitu melakukan informed consent, melakukan anamnesa, melakukan

pemeriksaan tanda-tanda vital, memberitahu hasil pemeriksaan, melakukan konseling

gizi, melakukan konseling tentang pola istirahat dan tidur, melakukan konseling

tanda bahaya kehamilan, memberikan obat anti mual, menginformasikan kepada ibu

jadwal kunjungan ulang dan melakukan pendokumentasian.

Kasus tersebut sejalan dengan penelitian Ulfika (2019:4) mengenai asuhan

kebidanan pada ibu hamil trimester I dengan emesis gravidarum. Dimana

pengumpulan data subyektif yaitu ibu mengatakan bernama Ny.A, umur 26 tahun,

ibu Mengatakan ini kehamilan yang kedua sudah pernah melahirkan dan belum

pernah keguguran, ibu mengeluh sering merasakan mual dan muntah 1 hari 1-3x

sehari dengan cairan. Masalah yang muncul dari kasus emesis gravidarum ini pasien

merasa cemas karena mual muntah yang dialaminya, karena kehamilan yang pertama

tidak mengalami emesis gravidarum, dan masalah tersebut dapat teratasi dengan

memberikan informasi tentang keadaan kehamilanya saat ini, informasi tentang mual

muntah dan memberikan dukungan moril pada ibu. Pengambilan data untuk

penegakan diagnosa adalah dari hasil pengkajian dan penelitian terhadap mual–

muntah sehingga keluhan selama ini dirasakan ibu adalah emesis gravidarum karena

mual muntah yang dialami pasien tidak terjadi terus–menerus. Tidak terdapat

50
kesenjangan antara teori dan dilahan praktik lapangan pada penegakan interpretasi

data.

Selain itu kasus yang didapatkan sejalan dengan penelitian Tomiatun

(2019:2) mengenai Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Trimester I Dengan Emesis

Gravidarum Di BPM Niken Kinesti SST, M.Kes Desa Gabusbanaran Kecamatan

Tembelangkabupaten Jombang, dapat diketahui bahwa Pada kasus ini pengkajian

diperoleh data subyektif ibu hamil Ny. I ibu mengatakan ini kehamilannya yang

pertama dan belum pernah keguguran, ibu mengatakan usianya 24 tahun, ibu

mengatakan HPHT 8 Februari 2015, mengeluh sejak 3 hari yang lalu mual dan

muntah kurang lebih 4-5x/hari pada pagi hari. Berdasarkan diagnosa yang ditegakkan

bidan dalam mencatat rencana kegiatannya maka rencana kegiatan mencakup tujuan

dan langkah-langkah yang akan dilakukan bidan dalam melakukan intervensi dalam

rangka memecahkan masalah termasuk rencana evaluasi. Teori rencana asuhan dari

diagnosa yang akan diberikan adalah melakukan pendekatan kepada ibu dan

keluarga, komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang hamil muda yang selalu

dapat disertai emesis gravidarum, menganjurkan ibu agar tidak terlalu cepat bangun

dari tempat tidur menganjurkan makan dengan porsi kecil, tetapi lebih sering dan

menyarankan ibu untuk tidak mengkonsumsi makanan yang digoreng, mentega,

margarin, minyak dan tidak berbau menyengat.

Perasaan mual dan muntah sering dialami ibu yang sedang hamil. Wanita

hamil akan mengalami proses penyesuaian tubuh terhadap kehamilan. Mual dan

muntah pada kehamilan disebut dengan emesis gravidarum. Mual biasanya terjadi

pada pagi hari, tetapi ada yang timbul setiap saat dan malam hari (Winkjosastro,

2007). Setiap wanita hamil akan memiliki derajat mual yang berbeda-beda, ada yang

tidak terlalu merasakan apa-apa, tetapi ada juga yang merasa mual dan ada yang

51
merasa sangat mual dan ingin muntah setiap saat (Maulana, 2018). Muntah yang

lebih dari sepuluh kali sehari atau mual terus menerus yang terjadi selama 20 minggu

terakhir kehamilan ini akan berlanjut menjadi emesis gravidarum sehingga tubuh ibu

menjadi lemah, muka pucat, dan frekuensi buang air kecil menurun drastis. Mual

dan muntah yang berlebihan juga menyebabkan cairan tubuh semakin berkurang dan

terjadi hemokonsentrasi yang dapat memperlambat peredaran darah sehingga dapat

mempengaruhi tumbuh kembang janin (Hidayati, 2009:12).

Selanjutnya penulis memberikan konseling tentang cara mengatasi mual

muntah secara non farmakologi yaitu dengan cara mengkonsumsi air jahe. Jahe

memblokir reseptor serotonin dan diinduksi antiemetik efek di pencernaan dan pusat

gugup sistem sehingga mengurangi rasa mual dan muntah pada kehamilan. Hal ini

sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Late (2020) tentang The Effectiveness

of Ginger in the Prevention of Nausea and Vomiting during Pregnancy and

Chemotherapy dimana diperoleh jahe adalah pengobatan yang efektif dan murah

untuk mual dan muntah serta aman untuk mengurangi keluhan mual dan muntah

pada ibu hamil.

Hasil tersebut sejalan dengan penlitian Bustos (2017:2) yang berjudul Nausea

and Vomiting of Pregnancy-What’s New? Dimana berdasarkan hasil penenlitian

American College of Obstetrics and Gynecology merekomendasikan jahe sebagai

intervensi nonfarmakologis untuk mengobati mual dan muntah dan kombinasi

piridoksin hidroklorida oral dan doksilamin suksinat sebagai lini pertama pengobatan

farmakologis untuk mual dan muntah.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Matthews, et all (2015:19) tentang

Interventions for nausea and vomiting in early pregnancy menyatakan bahwa terapi

non farmakologi akupresur, akustimulasi, akupunktur, jahe, chamomile, minyak

52
lemon, minyak mint dan terapi farmakologi vitamin B6 dan beberapa obat antiemetik

terbukti meredakan mual dan muntah ringan atau sedang.

Hal ini sejalan dengan penelitian Abriyani (2020:532) tentang Literatur

Review Terapi Nonfarmakologis Untuk Mengurangi Mual Muntah Pada Ibu Hamil

dimana hasil literatur diperoleh sebagian besar terapi nonfarmakologis efektif dalam

mengurangi mual muntah dalam kehamilan, di antaranya jahe, aroma terapi lemon,

mint dan sirup delima dapat direkomendasikan untuk mengurangi mual muntah

dalam kehamilan.

Tenaga kesehatan atau bidan hendaknya selalu memberikan penjelasan dan

motivasi mengenai yang dirasakan ibu hamil tentang mual muntahnya, termasuk di

dalamnya tentang emesis gravidarum mengenai penyebab, gejala dan dampaknya.

Dengan maksud menambah pengetahuan ibu hamil. Juga tentang ibu hamil yang

terkena emesis gravidarum. Makan jangan sekaligus banyak, tetapi dalam porsi

sedikit tapi sering, ibu di sarankan tidak terlalu terbebani adanya masalah rumah

tangga dan Mengoptimalkan akses informasi dan akses pelayanan kesehatan

sehingga mempermudah masyarakat dalam memcari informasi yang butuhkan.

53
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah penulis melakukan asuhan kebidanan dengan menggunakan

manajemen kebidanan menurut Varney pada ibu hamil maka penulis dapat

membuat kesimpulan sebagai berikut :

1. Mahasiswa dapat melakukan pengkajian data subjektif dan data objektif

pada Ny F G3P2A0 umur kehamilan 7–8 minggu di PMB Evi

Kurniawati, Am.Keb pada tanggal 20 Oktober 2021.

2. Mahasiswa dapat membuat analisa data yang didapatkan dari pengkajian

data Ny F G3P2A0 umur kehamilan 7–8 minggu di PMB Evi Kurniawati,

Am.Keb pada tanggal 20 Oktober 2021.

3. Mahasiswa dapat membuat analisa potensial masalah yang mungkin terjadi

pada Ny F G3P2A0 umur kehamilan 7–8 minggu di PMB Evi

Kurniawati, Am.Keb pada tanggal 07 Oktober 2020.

4. Mahasiswa dapat membuat tindakan segera yang melakukan penanganan

dan kolaborasi pada Ny F G3P2A0 umur kehamilan 7–8 minggu di PMB

Evi Kurniawati, Am.Keb pada tanggal 20 Oktober 2021.

5. Mahasiswa dapat membuat perencanaan asuhan yang akan diberikan

kepada Ny F G3P2A0 umur kehamilan 7–8 minggu di PMB Evi

Kurniawati, Am.Keb pada tanggal 20 Oktober 2021

6. Mahasiswa dapat melakukan pelaksanaan asuhan yang akan diberikan

kepada Ny F G3P2A0 umur kehamilan 7–8 minggu di PMB Evi

Kurniawati, Am.Keb pada tanggal 20 Oktober 2021.

54
7. Mahasiswa dapat melakukan evaluasi pada hasil asuhan yang diberikan

kepada Ny F G3P2A0 umur kehamilan 7–8 minggu di PMB Evi

Kurniawati, Am.Keb pada tanggal 20 Oktober 2021

B. Saran

1. Bagi PMB Evi Kurniawati, Am.Keb

Diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi lahan peraktek dalam

rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan pelaksanan Asuhan

kebidanan pada Ibu Hamil Trimester I sesuai standar pelayanan.

2. Bagi institusi pendidikan

Diharapkan dapat bermanfaat dan bisa dijadikan sebagai sumber

referensi, sumber bahan bacaan dan bahan pengajaran terutama yang

berkaitan dengan asuhan kebidanan pada Ibu Hamil Trimester I dengan

emesis gravidarum.

3. Bagi mahasiswa

Dapat mengaplikasikan dan melakukan asuhan kebidanan kepada ibu

hamil secara mandiri sesuai dengan teori yang didapatkan selama perkuliahan

berlangsung untuk menerapkan deteksi terhadap kehamilan.

55
DAFTAR PUSTAKA

Andrews PL. Physiology of nausea and vomiting. Br J Anaesth 2011; 69: 2S– 19S.

Astuti, H. P. 2012. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Ibu I (Kehamilan). Yogyakarta :


Penerbit Rohima Press.

Hani, Ummi; Jiarti K; Marjati; dkk.2 010. “Asuhan Kebidanan pada Kehamilan
Fisiologis” . Jakarta: Salemba Medika.

Khumaira. 2012. Ilmu Kebidanan. Yogyakarta : Citra Pustaka

King, et all. 2019. Varney’s Midwifery Sixth Edition. United States of America
Ascend Learning Company

Norma, Nita & Dwi, Mustika, 2013. Asuhan Kebidanan Patologi Teori dan Tinjauan
Kasus Dilengkapi Contoh Askeb. Penerbit Nuha Medika. Yogyakarta.

Manuaba, Ida Bagus Gde.2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga


untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC

Maulana, Mirza. 2018. Panduan lengkap kehamilan. Jogjakarta: Kata Hati.

Revina, 2014. Cara Mengatasi Mual Dan Muntah (Morning Sickness) Selama
Hamil. Dalam http://bidanku.com/cara-mengatasi-morning-sickness. (Diakses
tanggal 23 Januari 2019).

Rohmah, 2010. Pendidikan Prenatal Upaya Promosi Kesehatan Bagi Ibu Hamil.
Jakarta : Gramata Publishing.

Romauli, S, 2011. Buku Ajar Asuhan Kebidanan1 Konsep Dasar Asuhan Kehamilan.
Yogyakarta : Penerbit Nuha Medika.

Tomiatun, 2019. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Trimester I Dengan Emesis
Gravidarum Di BPM Niken Kinesti SST, M.Kes Desa Gabusbanaran
Kecamatan Tembelangkabupaten Jombang

Smith, Borgeat A, Wilder, Saiah M, Rifat K. 2014. Subhypnotic Doses of Propofol


Possess Direct Antiemetic Properties. Anesth Analg

Suririnah, 2013. Tips Mengatasi Mual Muntah Saat Hamil Muda (Morning
Sickness). Dalam http://www.infoibu.com/tipsinfosehat/mualmuntah. htm.
(Diakses tanggal 09 Oktober 2020).

Ulfika. 2019, Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Trimester I Dengan Emesis
Gravidarum.

Varney,Helen.2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Volume I.Jakarta: EGC


Wahyu, Lusia Beribe, 2012. Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Tanda-
Tanda Bahaya Kehamilan Di Puskesmas Plus Bara-Baraya.

57