Anda di halaman 1dari 221

PERTEMUAN 1:

KONSEP DASAR ILMU EKONOMI

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:
1.1 Menjelaskan ruang lingkup ilmu ekonomi.
1.2 Menganalisis definisi dan perkembangan singkat ilmu ekonomi.
1.3 Menganalisis kebutuhan masyarakat.
1.4 Menjelaskan sifat-sifat teori ekonomi.
1.5 Membedakan mikro ekonomi dan makro ekonomi.
1.6 Mengenal pelaku-pelaku kegiatan ekonomi.

B. URAIAN MATERI
Tujuan pembelajaran 1.1:
Menjelaskan ruang lingkup ilmu ekonomi.

RUANG LINGKUP ILMU EKONOMI

Salah satu perkataan yang mungkin sering kita ucapkan waktu masih
kecil (bahkan mungkin sampai saat ini) adalah ”saya ingin/minta” makan.
Seperti halnya orang lain tentu anda juga menginginkan barang atau jasa
tertentu, seperti makan, pakaian, perumahan, kesehatan dan rekreasi. Karena
uang/pendapatan anda mungkin tidak mencukupi untuk memenuhi semua
kebutuhan/keinginan tersebut, terpaksa saudara harus membuat pilihan mana
yang terlebih dahulu dipenuhi. Seperti halnya anda, negara juga menghadapi
masalah pilihan tersebut karena ketidakmampuannya menyediakan barang dan
jasa yang diinginkan/dibutuhkan masyarakat. Keinginan/kebutuhan saudara,
dan juga masyarakat, dapat dipenuhi melalui upaya mental dan fisik. Ilmu
ekonomi pada dasarnya mempelajari tentang upaya manusia baik sebagai
individu maupun masyarakat dalam rangka melakukan pilihan penggunaan

1
sumberdaya yang terbatas guna memenuhi kebutuhan (yang pada dasarnya
tidak terbatas) akan barang dan jasa.
Pada dasarnya semua orang terlibat dalam kegiatan ekonomi, jadi
setiap orang perlu mempelajari ilmu ekonomi baik secara formal maupun non
formal. Di Universitas/Pendidikan Tinggi, pengajaran ilmu ekonomi dibagi 3
yaitu:
a. Ilmu ekonomi teori atau ilmu ekonomi murni antara lain:
- Pengantar Ekonomi
- Teori Ekonomi Makro
- Teori Ekonomi Mikro
b. Ilmu Ekonomi Terapan antara lain:
- Ekonomi Internasional
- Ekonomi Pertanian
- Ekonomi Tehnik
- dll
c. Kelompok yang bersifat penunjang antara lain:
- Matematika
- Statistika

Dalam kehidupan sehari-hari teori terkadang tidak sama dengan praktek


karena teori adalah prinsip, hukum, dalil, atau kaedah yang bersifat sangat
umum.

2
Tujuan pembelajaran 1.2:
Menganalisis definisi dan perkembangan singkat ilmu ekonomi.

DEFINISI DAN PERKEMBANGAN SINGKAT ILMU


EKONOMI

Ilmu ekonomi merupakan suatu bidang ilmu pengetahuan yang sangat


luas cakupannya. Definisi ilmu ekonomi setiap ekonom pada dasarnya sama,
yaitu meliputi scarcity (kelangkaan), kemakmuran dan kepuasan.
Sebagai suatu bidang ilmu pengetahuan, perkembangannya bermula
sejak tahun 1776, setelah Adam Smith (ekonom Inggris) menerbitkan buku
berjudul “An Into the Nature and Causes of the Wealth of Nation”. Menurut
Profesor P. A. Semuelson, ilmu ekonomi adalah :
“Suatu studi mengenai individu-individu dan masyarakat membuat
pilihan, dengan atau tanpa penggunaan uang, dengan menggunakan
sumber-sumber daya yang terbatas, tetapi dapat digunakan dalam
berbagai cara untuk menghasilkan berbagai jenis barang dan jasa serta
mendistribusikannya untuk kebutuhan konsumen, sekarang dan di
masa datang, kepada berbagai individu dan golongan masyarakat”.

Dengan demikian persoalan pokok yang diterangkan dalam analisis


ekonomi pada hakekatnya bertujuan untuk menjawab pertanyaan: bagaimana
caranya menggunakan sumber-sumber daya atau pendapatan tertentu agar
penggunaan tersebut dapat memberikan kepuasan dan kemakmuran yang
maksimum kepada individu dan masyarakat.

Economics is the study of how individuals and societies choose to use the
scarce resources that nature and previous generations have provided

Perkembangan ilmu ekonomi sudah dimulai oleh Aristoteles (350 SM)


dan baru menjadi disiplin ilmu tersendiri sejak tahun 1776 dengan pelopor
Adam Smith. Sedang ilmu ekonomi mikro yang kita kenal sekarang dirintis

3
pengembangannya oleh Alfred Marshal dalam tahun 1870-an dengan
bukunya: "Principle of Economics".
Dari definisi di atas dapat dikutip kesimpulan: Pertama, Sumber
pemuas manusia itu terbatas adanya, sebab kebutuhan itu sendiri relatif
jumlahnya. Tidak ada manusia yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri
tanpa bantuan orang lain.
Kedua, bagaimana cara yang terbaik untuk menetapkan pikiran
diantara berbagai alternatif yang ada dengan mengamati aktivitas dan interaksi
di antara “Economic Agents “ ( yaitu konsumen, produsen, dan pemerintah ).

Tujuan pembelajaran 1.3:


Menganalisis kebutuhan masyarakat.

KEBUTUHAN MASYARAKAT

Apabila kita amati kegiatan di pagi hari, kita melihat hampir seluruh
warga masyarakat berangkat menuju tempat kerja untuk mencari nafkah guna
memenuhi kebutuhan keluarganya. Pegawai menuju ke kantor, pedagang ke
pasar, ke toko atau siap menjajakan dagangannya, petani membajak sawah, dan
banyak lagi kegiatan masyarakat lain.
Mereka sibuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Untuk hidup pantas, memang banyak sekali yang kita butuhkan. Tentunya tidak
hanya makanan, pakaian, tempat tinggal, masih banyak lagi yang lain,
misalnya: buku, obat-obatan, alat transportasi, TV dan lain-lain.
Kebutuhan masyarakat adalah keinginan masyarakat untuk
mengkonsumsi barang dan jasa. Dimana keinginan untuk memperoleh barang
dan jasa dapat dibedakan 2 bentuk, yaitu:
1. Keinginan yang disertai oleh kemampuan untuk membeli (permintaan
efektif).
2. Keinginan yang tidak disertai oleh kemampuan untuk membeli.

4
Kebutuhan manusia banyak dan beraneka ragam, bahkan tidak hanya
beraneka ragam tetapi bertambah terus tidak ada habisnya sejalan dengan
perkembangan peradaban dan kemajuan ilmu dan teknologi. Satu kebutuhan
telah Anda penuhi, tentu akan datang lagi kebutuhan yang lainnya. Namun
demikian, kita dapat menggolongkan kebutuhan-kebutuhan sebagaimana bagan
berikut ini:
1) Kebutuhan menurut intensitasnya
Kebutuhan ini dipandang dari urgensinya, atau mendesak tidaknya
suatu kebutuhan. Kebutuhan ini dikelompokkan menjadi tiga: kebutuhan
primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tertier.
a. Kebutuhan Primer : kebutuhan ini mutlak harus dipenuhi agar kita
tetap hidup, seperti kebutuhan akan makanan, pakaian, tempat tinggal,
dan sebagainya.
b. Kebutuhan Sekunder : kebutuhan ini disebut juga kebutuhan kultural,
kebutuhan ini timbul bersamaan meningkatnya peradaban manusia
seperti: pendidikan, tamasya, olah raga, dan sebagainya..
c. Kebutuhan Tertier : kebutuhan ini ditujukan untuk kesenangan manusia,
seperti kebutuhan akan perhiasan, mobil mewah, rumah mewah, dan
sebagainya.

Dewasa ini banyak barang yang semula dipandang mewah, sekarang


telah digolongkan menjadi kebutuhan sekunder, seperti: pesawat TV,
telepon, dan komputer. Demikian juga untuk pendidikan dan kesehatan telah
digolongkan menjadi kebutuhan primer, mengingat kebutuhan ini sangat
mendesak dan penting bagi kehidupan manusia.
2) Kebutuhan menurut sifatnya
Kebutuhan ini dibedakan menurut dampak atau pengaruhnya terhadap
jasmani dan rohani.
a. Kebutuhan jasmani, contohnya: makanan, pakaian, tempat tinggal, dan
sebagainya.
b. Kebutuhan rohani, contohnya: musik, menonton bola, ibadah, dan
sebagainya.

5
3) Kebutuhan menurut waktu
Kebutuhan ini dibedakan menurut waktu sekarang dan waktu masa
yang akan datang. Kebutuhan sekarang, adalah kebutuhan yang harus
dipenuhi sekarang juga, seperti: makan di saat lapar, atau obat-obatan pada
saat sakit. Kebutuhan masa depan, yaitu pemenuhan kebutuhan yang dapat
ditunda untuk waktu yang akan datang, misalnya: tabungan hari tua,
asuransi kesehatan, dan sebagainya.
4) Kebutuhan menurut wujud
Kebutuhan ini meliputi kebutuhan material, yaitu kebutuhan berupa
barang-barang yang dapat diraba dan dilihat. Misalnya: buku, sepeda, radio,
dan sebagainya.
5) Kebutuhan menurut subyek
Kebutuhan ini dibedakan menurut pihak-pihak yang membutuhkan.
Kebutuhan ini meliputi:
a. Kebutuhan individu, yaitu kebutuhan yang dapat dilihat dari segi orang
yang membutuhkan, misalnya: kebutuhan petani berbeda dengan
kebutuhan seorang guru.
b. Kebutuhan masyarakat, disebut juga kebutuhan kolektif atau
kebutuhan bersama, yaitu alat pemuas kebutuhan yang digunakan
bersama, misalnya: telepon umum, jalan umum, WC umum, rasa aman,
dan sebagainya.

Adapun jenis barang dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok,


antara lain:
1) Barang Ekonomi
Barang yang memerlukan usaha untuk memperolehnya (contoh : beras,
makanan, barang hasil industri). Barang ekonomi juga dapat dibedakan
barang konsumsi (contoh : makanan, pakaian, sepeda motor dll) dan barang
modal (contoh : mesin, peralatan, bengkel, bangunan dll).
2) Barang Cuma-Cuma
Barang yang dapat dinikmati tanpa melakukan kegiatan produksi
(contoh: udara, sinar matahari, air hujan dll).

6
Tujuan pembelajaran 1.4:
Menjelaskan sifat-sifat teori ekonomi.

SIFAT-SIFAT TEORI EKONOMI

Setiap teori mempunyai 4 unsur penting, yaitu:


1) Variabel-Variabel
Variable adalah suatu faktor atau besaran yang nilainya dapat
mengalami perubahan dan merupakan unsur yang penting dalam setiap teori.
sifat variabel dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :
a. Variabel endogen, yaitu variabel yang sifatnya diterangkan dalam teori
tersebut.
b. Variabel eksogen, adalah variabel yang mempengaruhi variabel endogen,
tetapi ia ditentukan oleh faktor-faktor yang berada di luar teori tersebut.
2) Asumsi
Membuat asumsi atau pemisalan-pemisalan merupakan salah satu
syarat penting dalam membuat teori dalam ilmu sosial, karena tanpa asumsi
sangat sulit untuk menjelaskan sifat-sifat perhubungan diantara berbagai
variabel. Dengan demikian teori harus membuat penyederhaan atas kejadian
yang sebenarnya dalam masyarakat, penyederhaan tersebut dilakukan dengan
membuat pemisalan/asumsi. Pemisalan tersebut dikenal dengan ceteris
paribus (bahasa latin : hal-hal lain tidak mengalami perubahan)
3) Hipotesis
Hipotesis yaitu suatu pernyataan yang menggambarkan keadaan yang
pada umumnya, dengan demikian tidak seratur persen benar, akan terdapat
sifat hubungan diantara variabel yang berbeda dengan hipotesis yang dibuat.
Hipotesis juga suatu pernyataan mengenai bagaimana variabel-variabel yang
dibicarakan berkaitan satu sama lain. Sifat hubungan ini dibedakan menjadi 2
golongan, yaitu:
a. Hubungan langsung, yaitu keadaan dimana perubahan nilai-nilai variabel
yang dibicarakan bergerak ke arah yang bersamaan.

7
b. Hubungan terbalik, yaitu apabila nilai-nilai variabel yang dibicarakan
bergerak ke arah yang bertentangan.
4) Membuat Ramalan
Teori ekonomi dapat pula meramalkan keadaan yang akan berlaku.
Peramalan tersebut dapat digunakan sebagai landasan dalam merumuskan
langkah-langkah untuk memperbaiki keadaan dalam perekonomian.

Tujuan pembelajaran 1.5:


Membedakan mikro ekonomi dan makro ekonomi.

MIKRO EKONOMI DAN MAKRO EKONOMI

1) Teori Mikro ekonomi


Suatu bidang dalam ilmu ekonomi yang menganalisis mengenai
bagian-bagian kecil dari keseluruhan kegiatan perekonomian dan isu pokok
yang dianalisis adalah bagaimana caranya menggunakan faktor-faktor produksi
yang tersedia secara efisien agar kemakmuran masyarakat dapat
dimaksimumkan.
Ilmu ekonomi mikro (sering juga ditulis mikroekonomi) adalah
cabang dari ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku konsumen dan
perusahaan serta penentuan harga-harga pasar dan kuantitas faktor input,
barang, dan jasa yang diperjualbelikan. Ekonomi mikro meneliti bagaimana
berbagai keputusan dan perilaku tersebut mempengaruhi penawaran dan
permintaan atas barang dan jasa, yang akan menentukan harga; dan bagaimana
harga, pada gilirannya, menentukan penawaran dan permintaan barang dan jasa
selanjutnya. Individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi
secara optimal, bersama-sama individu lainnya di pasar, akan membentuk suatu
keseimbangan dalam skala makro; dengan asumsi bahwa semua hal lain tetap
sama (ceteris paribus).
Salah satu tujuan ekonomi mikro adalah menganalisa pasar beserta
mekanismenya yang membentuk harga relatif kepada produk dan jasa, dan
alokasi dari sumber terbatas diantara banyak penggunaan alternatif. Ekonomi

8
mikro menganalisa kegagalan pasar, yaitu ketika pasar gagal dalam
memproduksi hasil yang efisien; serta menjelaskan berbagai kondisi teoritis
yang dibutuhkan bagi suatu pasar persaingan sempurna. Bidang-bidang
penelitian yang penting dalam ekonomi mikro, meliputi pembahasan mengenai
keseimbangan umum (general equilibrium), keadaan pasar dalam informasi
asimetris, pilihan dalam situasi ketidakpastian, serta berbagai aplikasi ekonomi
dari teori permainan. Juga mendapat perhatian ialah pembahasan mengenai
elastisitas produk dalam sistem pasar.
Analisis dalam teori ekonomi mikro dibuat berdasarkan pemikiran
bahwa :
a. Kebutuhan dan keinginan manusia adalah tidak terbatas.
b. Kemampuan faktor-faktor produksi menghasilkan barang dan jasa untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat adalah terbatas.

Gambar 1-1: Distribusi Sumber Daya

2) Teori Makrokonomi
Suatu bidang dalam ilmu ekonomi yang menganalisis mengenai
keseluruhan kegiatan perekonomian. Analisis bersifat umum dan tidak
memperhatikan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh unit-unit kecil dalam
perekonomian.
Ekonomi makro membahas aktivitas ekonomi secara keseluruhan,
terutama mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, berbagai
kebijakan perekonomian yang berhubungan, serta dampak atas beragam
tindakan pemerintah (misalnya perubahan tingkat pajak) terhadap hal-hal
tersebut.

9
Jadi dalam teori ekonomi makro:
a. Analisis kegiatan pembeli (konsumen) yang dianalisis bukan perilaku
seorang pembeli, tetapi keseluruhan pembeli yang ada dalam
perekonomian.
b. Analisis perilaku produsen yang dianalisis bukan perilaku seorang
produsen, tetapi kegiatan keseluruhan produsen yang ada dalam
perekonomian.

Tujuan Pembelajaran 1.6:


Mengenal pelaku-pelaku kegiatan ekonomi.

PELAKU-PELAKU KEGIATAN EKONOMI

1) Rumah Tangga
Rumah tangga adalah pemilik berbagai faktor produksi yang tersedia
dalam perekonomian, sektor ini menyediakan tenaga kerja dan tenaga
usahawan, barang-barang model, kekayaan alam dan harta tetap lainnya.
2) Perusahaan
Perusahaan adalah organisasi yang dikembangkan oleh seorang atau
sekumpulan orang dengan tujuan untuk menghasilkan berbagai jenis barang
dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Kegiatan mereka dalam perekonomian
ialah mengorganisasikan faktor-faktor produksi sedemikian rupa sehingga
kebutuhan rumah tangga berupa barang dan jasa dapat diproduksi dengan
sebaik-baiknya.
3) Pemerintah
Pemerintah adalah badan-badan pemerintah yang bertugas untuk
mengatur kegiatan ekonomi, termasuk didalamnya adalah departemen
pemerintah, badan yang mengatur penanaman modal, bank sentral, pemerintah
daerah, angkatan bersenjata dan sebagainya.

10
C. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan ilmu ekonomi!
2. Jelaskan secara singkat sejarah ilmu ekonomi!
3. Jelaskan perbedaan ilmu ekonomi mikro dan makro!
4. Kelompokkan jenis kebutuhan anda sehara-hari!
5. Beri contoh pelaku ekonomi yang ada disekitar anda!

D. DAFTAR PUSTAKA
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha.
Yogyakarta: CV Andi Offset.
Lipsey, R. G, dkk. 1987. Economics 8th Edition. Mc Graw Hill, Inc. (L)
Mandala Manurung & Pratama Raharja. 2000. Teori Ekonomi Mikro Suatu
Pengantar Edisi Kedua. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI.
Mankiw, N. Gregory. 2000. Teori Makro Ekonomi Edisi Kelima. Jakarta:
Erlangga.
Mankiw N, Gregory. 2003. Pengantar Ekonomi Edisi Kedua Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Murni, asfia. 2013. Ekonomika Makro Edisi Revisi. Bandung: Refika Aditama.
Nicholson, Walter. 2004. Mikro Ekonomi Intermediate dan aplikasinya Edisi
Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Nopirin. 2000. Pengantar Ekonomi Makro dan Mikro. Yogyakarta : BPFE
UGM.
Parkin, Michael. 2008. Economics 8th Edition. Perason Education, Inc (P)
Samuelson P.A and Nordhaus W.D., Economics, Eighteenth Edition,
Mc.Graw Hill Company, Irwin 2001
Sudarso. 2010. Pengantar Ekonomi Makro, Jakarta: Badan Penerbit P4M
STIE IPWIJA.
Suherman Rosyidi, 1984, Pengantar Teori Ekonomi, Edisi Pertama Jakarta -
Erlangga.
Sukirno, Sadono. 1994. Pengantar Teori Ekonomi, Edisi Pertama Jakarta, FE
UI.

11
Sukirno, sadono. 1998. Pengantar Teori Mikroekonomi Edisi Kedua. Jakarta:
PT Raja Grafindo.
Sukirno, Sadono. 2002. Pengantar Teori Makroekonomi Edisi Ketiga. Raja
Grafindo Persada.

12
PERTEMUAN 2:
MASALAH POKOK EKONOMI

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:
1.7 Menganalisis permasalahan pokok ekonomi.
1.8 Menganalisis sistem perekonomian.
1.9 Mengganalisis pola kegiatan perekonomian

B. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Menganalisis permasalahan pokok perekonomian.

MASALAH POKOK PEREKONOMIAN

Manusia secara individu dan secara bersama menghadapi banyak


masalah ekonomi. Masalah ekonomi muncul karena pertemuan antara
kebutuhan manusia yang tidak terbatas melawan sumber daya yang terbatas.
Yang intinya, masalah ekonomi adalah bagaimana menggunakan sumber-
sumber ekonomi yang terbatas jumlahnya untuk memenuhi kebutuhan sebaik-
baiknya.
Masalah pokok ekonomi yang terjadi adalah masa kelangkaan atau
kekurangan sebagai akibat dari ketidak seimbangnya antara kebutuhan
masyarakat yang relatif tidak terbatas dengan faktor-faktor produksi yang
tersedia dalam masyarakat yang relatif terbatas jumlahnya. Berdasarkan
teorinya, masalah-masalah dalam ekonomi sejatinya dibagi menjadi dua yaitu
masalah pokok ekonomi klasik dan masalah yang ada di dalam ekonomi
modern.

13
Masalah Pokok Ekonomi Klasik
Pada tahun 1870 berkembang teori ekonomi klasik yang di perintis
oleh Adam Smith. Para penganut teori tersebut mengutarakan bahwa
permasalahan ekonomi adalah satu kesatuan proses yang terdiri dari produksi,
distribusi, konsumsi.
Menurut teori klasik, tiga masalah pokok ekonomi meliputi masalah
produksi, masalah distribusi, dan masalah konsumsi. Ketiganya akan dijelaskan
secara singkat sebagai berikut:
1. Masalah Produksi
Produksi adalah menghasilkan barang atau jasa yang ditujukan untuk
memenuhi kebutuhan manusia. Masalah produksi berkaitan erat dengan
produk (barang dan jasa) apa yang akan diproduksi. Untuk siapa barang itu
diproduksi dan menggunkan berapa tenaga kerja. Proses untuk memproduksi
barang/jasa memerlukan sumber-sumber ekonomi, baik sumber daya alam,
sumber daya manusia, maupun sumber daya modal serta keterampilan
pengusaha (entrepreneurship).
2. Masalah Distribusi
Distribusi adalah menyalurkan barang/jasa hasil produksi kepada
konsumen. Masalah distribusi adalah bagaimana cara menyalurkan barang dan
jasa dari produsen sampai ke konsumen. Distribusi dapat dilakukan dengan
dua cara, yaitu sebagai berikut.
a) Distribusi langsung, artinya menyalurkan barang dari produsen langsung
kepada konsumen tanpa melewati perantara. Contohnya seorang penjual
martabak memproduksi sendiri dan langsung menjual dagangannya kepada
pembeli (konsumen).
b) Distribusi tidak langsung, artinya menyalurkan barang dari produsen
kepada konsumen melalui perantara. Misalnya melalui pedagang besar
(grosir), pedagang kecil (retailer), agen, makelar, komisioner, eksportir,
importir, dan penyalur-penyalur yang lainnya.

14
3. Masalah Konsumsi
Konsumsi adalah menggunakan atau memanfaatkan barang yang
dihasilkan oleh produsen. Setiap kepentingan manusia dan masyarakat didesak
oleh kebutuhan-kebutuhan atau kepentingannya dalam menentukan jenis
barang-barang dan jasa
Untuk melakukan kegiatan konsumsi dipengaruhi oleh dua faktor,
yaitu:
a) faktor intern, meliputi sikap, kepribadian, motivasi diri, pendapatan
seseorang, selera, dan watak (karakter).
b) faktor ekstern, meliputi kebudayaan, adat istiadat, lingkungan masyarakat,
status sosial, keluarga, dan pemerintah.

Seiring perkembangan zaman, semakin modern masyarakat maka


kebutuhannya semakin banyak dan kompleks. Kegiatan ekonomi dalam suatu
masyarakat modern meliputi berbagai jenis kegiatan produksi, konsumsi dan
perdagangan. Sehingga masalah ekonomi dapat dibagi tiga persoalan pokok,
yaitu:
1. Barang dan jasa apa yang akan dihasilkan (what).
Masalah pokok pertama yang penting dalam ekonomi adalah
bagaimana produsen dapat menentukan barang dan jasa apa yang diproduksi.
Selain itu, banyaknya jumlah produk juga harus diperhitungkan. Selain
jumlah sumber daya yang terbatas, kesalahan penentuan apa yang akan
diproduksi bisa mengakibatkan kerugian, bahkan kebangkrutan bagi produsen,
serta dapat pula merugikan masyarakat karena adanya barang dan jasa yang
menumpuk tidak terpakai. Ini merupakan pemborosan sumber daya. Masalah
ini menyangkut persoalan jenis dan jumlah barang/ jasa yang perlu diproduksi
agar sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat.

15
Sebelum membuat keputusan dalam menentukan apa yang akan
diproduksi, maka suatu negara terutama para produsennya harus
mempertimbangkan dua hal berikut ini:
a) Memastikan jenis barang dan jasa apa saja yang sebenarnya dibutuhkan
masyarakat.
b) Menentukan dan memastikan bagaimana tingkat ketersediaan sumber daya
untuk memproduksi barang atau jasa yang diperlukan.

2. Bagaimana barang dan jasa tersebut dihasilkan (how).


Apabila produsen sudah menentukan apa yang akan diproduksi,
langkah berikutnya adalah memikirkan bagaimana cara memproduksinya.
Cara memproduksi sangat berkaitan dengan cara mengombinasikan sumber
daya atau faktor produksi yang dibutuhkan untuk memproduksi barang dan
jasa. Untuk menentukan cara produksi mana yang sesuai, produsen perlu
mempertimbangkan aspek efisiensi atau penghematan.
Dengan memilih cara produksi yang paling hemat, maka barang dan
jasa yang dihasilkan tersebut bisa dipasarkan dengan harga yang relatif murah.
Adapun usaha penghematan proses produksi bisa dilakukan dengan beberapa
langkah, misalnya memilih atau mencari bahan baku yang berharga lebih
murah tetapi tetap baik mutunya. Disamping itu, hal lain yang mungkin perlu
pertimbangkan adalah penentuan penggunaan mesin-mesin modern. Jika
permintaan sedikit atau kapasitas masih kecil, maka penggunaan mesin
modern tentu belum diperlukan.
Efektifitas dan efesiensi dalam proses produksi juga berkaitan dengan
spesialisasi (pembagian kerja). Lalu, perlukah spesialisasi (pembagian kerja)
dalam berproduksi? Ada juga kebijakan untuk menggunakan cara produksi
padat karya (labour intensive). Apakah tidak sebaiknya menggunakan cara
produksi yang padat karya (labour intensive) untuk mengurangi jumlah
pengangguran? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang harus dijawab
produsen untuk memilih cara berproduksi.

16
Beberapa pertimbangan dan pertanyaan mendasar dalam membuat
proses produksi lebih baik, antara lain: Apakah cara produksi yang digunakan
bisa menyebabkan pencemaran lingkungan? Sudahkah melakukan analisis
tentang dampak produksi terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut juga harus dijawab produsen saat menentukan
cara berproduksi. Ilmu ekonomi memandang teknologi sebagai faktor penting
dalam proses produksi. Namun, masih banyak faktor penting yang harus
dipertimbangkan, seperti skala produksi, kemampuan manajerial, iklim,
kemampuan finansial, dan sikap mental.
3. Untuk siapa barang dan jasa tersebut dihasilkan (for whom).
Masalah ini bukan hanya menyangkut kepada pihak siapa saja barang
produksi tersebut dipasarkan, tetapi siapa saja yang akan ikut menikmati
hasilnya. Dalam kegiatan produksi, ternyata masih banyak pihak lain yang
diuntungkan. Dengan adanya kegiatan produksi, para pekerja akan menerima
upah, para pemilik bahan baku akan menerima uang penjualan bahan baku,
pemilik modal akan menerima bunga modal, pihak pemilik gedung dan tanah
akan menerima uang sewa, dan pengusaha akan menerima laba dari penjualan
produknya.
Jadi, yang dimaksud dengan “untuk siapa barang dan jasa diproduksi”
sangat berkaitan dengan siapa saja yang akan menikmati pendapatan dan hasil
dari kegiatan produksi. Hal ini juga terkait bagaimana cara mendistribusikan
hasil atau pendapatan tersebut secara adil agar tidak terjadi kesenjangan dan
kecemburuan antarpemilik faktor produksi. Di Indonesia sendiri, pembagian
pendapatan itu sudah diatur dalam sebuah regulasi yang mengatur cara
mengupah tenaga kerja hingga bisa dianggap adil. Salah satu aturan tersebut
adalah penetapan UMR (upah minimum regional) di setiap daerah.
Dari ketiga masalah pokok dalam ekonomi modern tersebut dapat
dirangkum menjadi satu masalah inti yang disebut inti masalah ekonomi.
Adapun masalah inti dalam ekonomi modern adalah bagaimana cara
memenuhi kebutuhan masyarakat yang tidak terbatas dengan menggunakan
sumber daya yang serba terbatas. Dalam upaya memecahkan masalah-masalah
tersebut, kita dapat melakukan berbagai cara, antara lain: menyesuaikan

17
kebiasaan/tradisi; insting; dan komando (paksaan/perintah). Sementara itu
bagi masyarakat modern, pemecahan masalah mengandalkan mekanisme
harga di pasar. Adapun mekanisme harga itu sendiri adalah proses yang
berjalan atas dasar daya tarik-menarik antara konsumen dengan produsen yang
bertemu di pasar.
Gerak harga yang terjadi di pasar akan dapat memecahkan ketiga
masalah pokok ekonomi di masyarakat, dengan jalan sebagai berikut.
a) Masalah What
Ada dan berapa banyak barang yang akan diproduksi sangat
dipengaruhi oleh permintaan masyarakat. Jika permintaan masyarakat
meningkat, maka harga akan cenderung naik dan produsen memperoleh
keuntungan, sehingga akan memperbesar produksinya. Sebaliknya jika
permintaan masyarakat menurun, maka harga akan cenderung turun,
sehingga keuntungannnya sedikit dan produsen akan mengurangi
produksinya.
b) Masalah How
Bagaimana sumber-sumber ekonomi (faktor-faktor produksi) yang
tersedia harus dipergunakan untuk memproduksi barang-barang,
tergantung pada gerak harga faktor produksi tersebut. Bila harga faktor
produksi naik, maka produsen akan menghemat penggunaan faktor
produksi tersebut dan menggunakan faktor produksi yang lain. Jadi gerak
harga faktor produksi menentukan kombinasi yang digunakan produsen
dalam produksinya.
c) Masalah for Whom
Untuk siapa barang-barang tersebut diproduksi, sangat dipengaruhi
oleh distribusi barang tersebut. Barang hasil produksi dijual kepada
konsumen. Konsumen membayar harga barang tersebut dari
penghasilannya atas penggunaan faktor-faktor produksi. Jadi gerak harga
barang dan harga faktor produksi akan menentukan distribusi barang yang
dihasilkan.

18
Tujuan pembelajaran 1.2:
Menganalisis sistem perekonomian.

SISTEM PEREKONOMIAN
Setiap negara menghadapi masalah ekonomi di atas, hanya saja cara
pemecahannya berbeda, tergantung sistem ekonomi yang dianut oleh negara
tersebut. Pada dasarnya sistem ekonomi dapat diklasifikasikan menjadi:
b. Sistem ekonomi tradisional
Dalam sistem ini kehidupan ekonomi didasarkan pada adat, tradisi,
kebiasaan dan agama. Biasanya negara yang menganut sistem seperti ini
sifatnya turun temurun. Masalah yang dipecahkan dengan menggunakan dasar
pola yang telah dijalankan masa lalu. Misalnya, tanah pertanian yang ditanami
tanaman seperti yang selalu ditanam masa lalu secara turun temurun.
c. Sistem komando (sosialis-komunis)
Dalam sistem ini masalah ekonomi yang ada (what, how dan for whom)
dipecahkan oleh penguasa pusat atau pemerintah. Pemerintah pusat dalam hal
ini menentukan alokasi penggunaan sumberdaya, penentuan jenis dan jumlah
barang yang diproduksi. Individu tidak mempunyai hak dan kebebasan dalam
penggunaan sumberdaya.
d. Sistem ekonomi pasar
Dalam sistem ini, keputusan dalam penggunaan sumberdaya ditentukan
sendiri oleh individu atau produsen, karena hak milik individu diakui. Produsen
akan menggunakan sumberdaya seefisien mungkin sehingga biaya yang
digunakan serendah-rendahnya untuk menghasilkan sejumlah tertentu barang.
e. Sistem campuran
Dalam sistem ini ada unsur sistem komando (terpusat), yaitu ada
campur tangan pemerintah dan sistem ekonomi pasar. Memang tidak ada satu
sistem yang murni komando atau murni sistem ekonomi pasar. Yang banyak
dijumpai, terutama di negara berkembang adalah sistem campuran. Indonesia
pada dasarnya juga menggunakan sistem ekonomi campuran, yang sering
dikenal dengan sistem ekonomi pancasila atau merupakan sistem skonomi
pasar terkendali. Dalam hal ini sistem ekonomi Indonesia ada kepemilikan

19
kekayaan oleh swasta/pribadi tetapi dalam rangka memenuhi fungsi sosial.
Artinya hak pemilik perorangan diakui tetapi tidak boleh dilepaskan dari fungsi
sosialnya, harus digunakan untuk kesejahteraan bersama. Sistem ekonomi
Indonesia berdasarkan UUD pasal 33 ayat 1, 2 dan 3 serta Pancasila.

Tujuan pembelajaran 1.3:


1.3 Mengganalisis pola kegiatan perekonomian

POLA KEGIATAN PEREKONOMIAN


Perekonomian dibedakan menjadi dua, yaitu perekonomian subsisten
dan perekonomian uang. Dalam perekonomian subsisten, perdagangan
dilakukan secara barter yaitu perdagangan dengan cara menukar barang dengan
barang. Dalam perekonomian uang, alat yang digunakan dalam tukar menukar
(perdagangan) ialah uang. Seseorang tidak perlu menghasilkan semua barang
yang mereka inginkan, yang perlu dilakukan ialah spesialisasi dalam
memproduksi barang-barang sehingga dapat dihasilkan dengan cara yang
paling efisien. Uang digunakan sebagai alat untuk tukar menukar yang akan
melancarkan perdagangan. Dan perdagangan yang bertambah lancar akan
memberikan perangsang kepada masyarakat untuk meningkatkan spesialisasi
dalam pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan keahlian mereka. Spesialisasi
ini akan mempercepat perkembangan ekonomi.
1. Perekonomian subsisten
a. Produksi dan perdagangan dalam perekonomian subsisten
Salman husin menyatakan bahwa sebelum melihat sifat utama dari
kegiatan perekonomian modern secara mendalam, ada baiknya perhatikan
dahulu kegiatan ekonomi masyarakat yang relatif pimitif (tradisional), yaitu
sebagai berikut.
a) Produksi untuk memenuhi kebutuhan sendiri
Dalam perekonomian primitif (perekonomian subsistem), unit
produksi dilakukan oleh keluarga petani tradisional yang menggunakan
cara dan alat bercocok tanam yang masih sederhana. Kegiatan ekonomi
yang penting lainnya adalah berburu dan menangkap ikan.

20
Tingkat produktivitas relatif rendah dan tingkat produksi hanya
kehidupan yang sederhana. Jarang sekali terdapat kelebihan (surplus)
produksi yang dapat dijual di pasar. Kegiatan menghasilkan barang
industri sangat terbatas. Dalam perekonomian subsisten, kegiatan
perdagangan sudah berlaku, tetapi dalam skala yang terbatas.
b) Perdagangan barter
Perdagangan barter adalah perdagangan secara pertukaran
barang dengan barang. Dalam perdagangan barter harus ada dua
keinginan yang bersesuaian (double coincidence of wants atau
kesesuaian ganda dari keinginan). Misalnya, seorang ingin menukar
barang yang dihasilkannya dengan barang lain, dan orang yang
memproduksi barang yang diingini oleh orang yang pertama. Syarat ini
menyebabkan perdagangan barter tidak dapat dilaksanakan seperti
perdagangan dalam perekonomian modern yang menggunakan uang
sebagai alat perantara tukar-menukar.
c) Pola perdagangan perekonomian subsisten
Pada jenis ini, barter tidak banyak lagi dilakukan. Uang telah
digunakan sebagai alat perantara tukar-menukar. Dengan uang, cara
memperoleh suatu barang menjadi lebih sederhana. Para petani,
misalnya, menjual hasil produksinya di pasar, dan uang yang
diperolehnya dapat digunakan untuk membeli barang yang
dibutuhkannya. Dengan demikian, “kesesuaian ganda dari keinginan”
bukan lagi syarat yang perlu untuk mewujudkan perdagangan.
2. Perekonomian uang
a. Definisi Uang
Secara etimologi, definisi uang (Al-Naqdu) yaitu tunai, lawan tunda,
yakni memberikan bayaran segera. Definisi uang dalam istilah Fuqaha, uang
adalah apa yang digunakan manusia sebagai standar ukuran nilai harga dan
media transaksi pertukaran.
Definisi uang menurut para ahli Ekonomi, masih belum ada kata
sepakat tentang definisi uang yang spesifik. Definisi-definisi mereka berbeda-
beda disebabkan perbedaan cara pandang mereka terhadap hakikat uang.

21
1) Menurut Dr. Fuad Dahman, definisi-definisi uang yang diajukan sangat
banyak dan berbeda-beda. Semakin bertambah seiring perbedaan para
penulis dalam memandang hakikat uang dan perbedaan pengertiannya
dalam pandangan mereka.
2) Menurut Dr. Muhammad zaki Syafi’i mendefinisikan uang sebagai:
“Segala sesuatu yang diterima khalayak untuk menunaikan kewajiban-
kewajiban.”
3) J.P Coraward mendefinisikan uang sebagai: “segala sesuatu yang diterima
secara luas sebagai media pertukaran, sekaligus berfungsi sebagai standar
ukuran nilai harga dan media penyimpana kekayaan.”
4) Boul dan Gandlre berkata: “Uang mencakup seluruh sesuatu yang diterima
secara luas sebagai alat pembayaran, diakui secara luas sebagai alat
pembayaran utang-utang dan pembayaran harga barang dan jasa.”
5) Dr. Nazhim al-Syamry berkata: “Setiap sesuatu yang diterima semua pihak
dengan legalitas tradisi (‘Urf) atau undang-undang, atau nilai sesuatu itu
sendiri, dan mampu berfungsi sebagai media dalam proses transaksi
pertukaran yang beragam terhadap komoditi dan jasa, juga cocok untuk
menyelesaikan utang-piutng dan tanggungan, adalah termasuk dalam
lingkup uang.”
6) Menurut Dr. Sahir Hasan, “Uang adalah pengganti materi terhadap segala
aktivitas ekonomi, yaitu media atau alat yang memberikan kepada
pemiliknya daya beli untuk memenuhi kebutuhannya, juga dari segi
peraturan perundangan menjadi alat bagi pemiliknya untuk memenuhi
segala kewajibannya.”
Dari sekian definisi yang diutarakan, kita bisa membedakan dalam tiga
segi:
Pertama, definisi uang dari segi fungsi-fungsi ekonomi sebagai standar
ukuran nilai, media pertukaran, dan alat pembayaran yang tertunda (deferred
payment). Kedua, definisi uang dengan melihat karakteristiknya, yaitu segala
sesuatu yang diterima secara luas oleh tiap-tiap individu. Ketiga, defiisi uang
dari segi peraturan perundangan sebagai segala sesuatu yang memiliki
kekuatan hukum dalam menyelesaikan tanggungan kewajiban.

22
b. Ciri-ciri Perekonomian Uang
Suatu perekonomian yang menggunakan uang sebagai perantara dalam
kegiatan tukar menukar (perdagangan) di kenal sebagai perekonomian uang.
Dalam perekonomian subsisten uang tidaklah terlalu penting peranannya
karena kegiatan perdagangan masih sangat terbatas. Sedangkan negara-negara
maju seperti Amerika Serikat dan Jepang uang penting sekali peranannya.
Secara umum dapt dikatakan bahwa Kemajuan Perekonomian akan
menyebabkan peranan uang menjadi semakin penting dalam perekonomian.
Mengapa uang menjadi bertambah penting peranannya apabila perekonomian
menjadi bertambah maju? Alasannya adalah karena makin maju suatu
perekonomian maka makin penting peranan kegiatan perdagangan dalam
perekonomian tersebut.
c. Spesialisasi perdagangan
Perdagangan di dalam suatu perekonomian uang, yang perlu dilakukan
adalah melakukan spesialisasi dalam memproduksi barang-barang sehingga
dapat dihasilkan dengan cara yang paling efisien. Dalam spesialisasi
perdagangan dapat disimpulkan bahwa: (i) wujudnya uang sebagai alat untuk
tukar menukar akan melancarkan perdagangan; dan (ii) perdagangan yang
bertambah lancar akan memberikan perangsang kepada masyarakat untuk
meningkatkan spesialisasi dalam pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan
keahlian mereka.
Spesialisasi berkembang sebagai akibat penggunaan uang dan sebagai
akibat perkembangan perdagangan. Spesialisasi penting untuk perkembangan
ekonomi disebabkan oleh beberapa sumbangannya berikut:
1) Mempertinggi efisiensi penggunaan faktor produksi
Dalam spesialisasi seseorang pekerja atau tenaga ahli akan
digunakan pada kegiatan sesuai dengan keahliannya. Ia tidak perlu lagi
mengerjakan semua pekerjaan yang diperlukan untuk memenuhi segala
kebutuhannya. Ini berarti bahwa suatu daerah atau negara tidak perlu lagi
menghasilkan seluruh barang yang dibutuhkannya tetapi cukup melakukan
spesialisasi dalam kegiatan yang paling menguntungkan negara atau
wilayah tersebut.

23
2) Mempertinggi efisiensi produksi
Efisiensi memproduksi yang semakin tinggi tersebut dikenal
sebagai “economies of scale” atau skala ekonomi. Maksudnya, apabila
produksi ditingkatkan, misalnya menjadi dua kali lipat, biaya produksi
tidak akan meningkat sebesar peningkatan produksi yang berlaku.
3) Mendorong perkembangan teknologi
Spesialisasi menyebabkan pasaran berbagai barang menjadi
bertambah luas. Untuk kegiatan-kegiatan tertentu, hal tersebut berarti
produksi harus ditambah dengan cepat. Untuk memenuhi kebutuhan ini
para pengusaha akan berusaha menggunakan teknologi produksi yang
lebih baik dan lebih tinggi produktivitasnya

C. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
6. Analisis masalah perekonomian di tempat tinggal anda masing-masing!
7. Bagaimana peran pemerintah untuk mengatasi permasalahan ekonomi pada
soal no 1?
8. Jelaskan kelebihan dan kelemahan sistem ekonomi!
9. Jelaskan pentingnya uang dalam perekonomian uang!
10. Gambarkan bentuk spesialisasi dalam suatu produksi barang sehingga efisien!

D. DAFTAR PUSTAKA
Ahmad. 2005. Mata Uang Islami. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Fatoni Siti Nur. 2014. Pengantar Ilmu Ekonomi. Bandung: Pustaka Setia Hasan.
Paul A.Samuelson dan William D.Nordhaus. 1992. Economics, Fourteenth
Edition, McGraw-Hill., Inc, Singapore.
Prathama Rahardja dan Mandala Manurung. 2004. Teori Ekonomi Mikro: suatu
pengantar, Buku Seri Teori Ekonomi, Edisi ketiga. Jakarta: Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.
R. Abdul Maqin dan Lili Masli. 2002. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Bandung:
Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan Bandung.

24
Sukirno, Sadono. 2002. Pengantar Teori Mikro Ekonomi, Edisi Ketiga. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Sukirno, Sadono. 2005. Mikro Ekonomi teori pengantar/Sadono Sukirno- Ed 1, -
21. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sukirno Sadono. 2013. Mikroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.

25
PERTEMUAN 3:
KONSEP PERMINTAAN

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:
1.1 Menganalisis teori permintaan.
1.2 Mendeskripsikan jenis-jenis permintaan.
1.3 Memahami dan mengaplikasikan skedul permintaan dan kurva permintaan.
1.4 Memahami dan mengaplikasikan fungsi permintaan

B. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Menganalisis teori permintaan

TEORI PERMINTAAN
Kita mulai pembahasan mengenai pasar dengan meneliti perilaku
pembeli. Pada pembahasan ini, kita akan membahas apa yang menentukan
kuantitas yang diminta (quantity demanded) terhadap sebuah barang, yaitu
jumlah barang yang ingin dan mampu dibeli oleh pembeli. Sedangkan
permintaan dapat diartikan sebagai sejumlah kuantitas suatu barang tertentu di
mana seorang konsumen ingin dan mampu membelinya pada berbagai tingkat
harga tertentu, dengan asumsi faktor lain dianggap tetap (cateris paribus).
Hukum permintaan (the law of demand) pada hakikatnya merupakan
suatu hipotesis yang menyatakan hubungan antara barang yang diminta dengan
harga barang tersebut, dimana hubungan tersebut beranding terbalik, yaitu
ketika harga meningkat atau naik maka jumlah barang yang diminta akan turun
dan sebaliknya apabila harga turun jumlah barang yang diminta meningkat.

26
Untuk lebih memfokuskan pemikiran kita mengenai pembahasan ini,
kita andaikan barang tertentu misalnya, es krim.
a. Faktor yang menentukan permintaan individu
Coba pertimbangkan permintaan anda sendiri terhadap es krim.
Selanjutnya muncul pertanyaan, bagaimana cara anda menentukan berapa
jumlah es krim yang akan dibeli per hari atau bahkan per bulan? Faktor
apa saja yang dapat memepengaruhi keputusan anda tersebut? Inilah
beberapa jawaban yang mungkin dapat anda berikan.
Harga barang itu sendiri (Px). Jika harga es krim meningkat menjadi
$20 per mangkuk, anda akan membeli lebih sedikit es krim. Anda
mungkin akan beralih membeli Yogurt beku. Begitu pula sebaliknya.
Sehingga, hubungan diantara harga dengan kuantitas yang diminta
berhubungan negatif (-).
Pendapatan konsumen (I). Apa yang akan terjadi terhadap permintaan
anda akan es krim ketika anda kehilangan pekerjaan sehingga
menyebabkan pendapatan anda menurun? Maka kemungkinan besar yang
akan terjadi adalah permintaan anda terhadap es krim pun akan turun.
Apakah ketika pendapatan sesorang meningkat menyebabkan permintaan
terhadap suatu barang meningkat secara keseluruhan? Maka untuk
menjawab pertanyaan tersebut anda harus mengetahui sifat dari suatu
barang. Ada tiga jenis barang disini, antara lain sebagai berikut. Jika
permintaan terhadap sebuah barang berkurang ketika pendapatan
berkurang, maka barang tersebut dinamakan barang normal (normal
good). Tidak semua barang bersifat barang normal. Contoh barang normal
adalah barang kebutuhan pokok. Apabila pendapatan menurun tetapi
permintaan terhadap suatu barang justru meningkat, barang tersebut
dinamakan barang inferior (inferior good). Contoh barang inferior adalah
kendaraan umum. Sementara itu, apabila permintaan terhadap suatu
barang meningkat drastis ketika pendapatan seseorang meningkat, maka
barang tersebut dinamakan barang superior (superior good). Contoh
barang inferior adalah barang mewah.

27
Harga barang lain yang terkait (Py). Apabila penurunan harga suatu
barang menurunkan permintaan terhadap barang lain, maka kedua barang
tersebut dinamakan barang substitusi (substituties). Misalnya harga
Yogurt dingin menurun. Konsumen akan lebih memilih mengkonsumsi
Yogurt dingin apabila harga es krim meningkat. Karena konsumen
beranggapan bahwa Yogurt memenuhi keinginan yang serupa. Jika
penurunan harga sebuah barang meningkatkan permintaan barang lainnya,
maka keduanya dinamakan barang komplemen/ komplementer
(complement). Misalnya permintaan sepeda motor turun apabila harga
bensin meningkat.
Selera konsumen (S). Penentu yang paling jelas dari permintaan
konsumen adalah selera. Apabila anda suka es krim, maka anda akan
membeli es krim lebih banyak. Bisanya para ekonom tidak mencoba
menjelaskan tentang selera konsumen. Karena selera konsumen lebih
menekankan kepada kekuatan psikologis dan historis yang ranah
pembahasannya di luar bidang ilmu ekonomi. Akan tetapi, ekonom masih
tetap meneliti dan menggali apa yang akan terjadi dengan permintaan
konsumen apabila selera mengalami perubahan.
Eskpektasi konsumen (E). Yang dimaksud ekspektasi disini adalah
harapan, ramalan, atau dugaan mengenai masa yang akan datang. Tentu ini
mempengaruhi permintaan konsumen terhadap barang dan jasa yang akan
dibelinya saat ini. Apabila konsumen meramalkan bahwa harga es krim
akan turun keesokan harinya, maka konsumen tersebut mungkin kurang
bersedia untuk memebeli es krim berdasarkan harga yang berlaku hari ini.
Dengan demikian, persamaan fungsi permintaan dapat ditulis:
Qd = F(Px, Py, I, S, E)

Tujuan pembelajaran 1.2:


Mendeskripsikan jenis-jenis permintaan

28
JENIS-JENIS PERMINTAAN
Secara sederhana maka dalam definisi permintaan terdapat tiga poin
penting yang melekat yaitu poin pertama adalah jumlah produk (barang atau
jasa) yang diminta, yang kedua adanya tingkat harga dan yang ketiga terjadi
dalam periode waktu tertentu. Permintaan dapat dikelompokkan berdasarkan
daya beli dan Jumlah konsumen.
1. Jenis Permintaan berdasarkan daya Beli
Jenis permintaan berdasarkan daya beli terdiri dari tiga macam,
yaitu permintaan absolut, permintaan potensial, dan permintaan efektif
secara lebih lengkap tentang jenis permintaan dapat dipahami dalam uraian
berikut ini:
1) Permintaan absolut
Merupakan permintaan yang tidak disertai daya beli atau permintaan
yang tidak disertai dengan kemampuan membeli. Jadi, hanya sekedar
menginginkan tapi tidak mampu membeli.
Contoh permintaan absolut misalnya Almeera menginginkan mobil,
akan tetapi dia tidak mempunyai uang untuk membeli mobil seperti
yang diinginkannya.
2) Permintaan potensial
Merupakan permintaan yang disertai daya beli, tetapi belum digunakan
untuk membeli barang atau jasa yang diinginkan. Contoh permintaan
potensial, Cahaya mempunyai uang Rp 15.000.000 dan dia
mempunyai keinginan untuk memiliki sepeda motor, sehingga Cahaya
pada hari minggu pergi ke deler untuk membeli sepeda motor, namun
setelah sampai dideler dan melihat-lihat sepeda motor yang dijual
disana ternyata tidak ada sepeda motor seperti yang diinginkan Cahaya
sehingga Cahaya tidak jadi membeli sepeda motor.

3) Permintaan efektif
Merupakan permintaan yang disertai daya beli dan sudah digunakan
untuk membeli barang atau jasa yang diinginkan.
Contoh permintaan efektif, misalnya Zahra merasa sangat lapar

29
sehingga pada saat jam istirahat disekolahnya Zahra memutuskan
membeli kue dikantin sekolah dengan uang saku yang dimilikinya.

2. Jenis Permintaan berdasarkan jumlah peminta


Jenis permintaan berdasarkan jumlah peminta atau jumlah
konsumen terdiri dari dua jenis yaitu permintaan individu atau permintaan
perorangan dan permintaan kolektif atau permintaan pasar, secara lebih
detail tentang jeis permintaan individu dan permintaan pasar dapat dibaca
dalam paparan dibawah ini:
1) Permintaan individu
Permintaan individu merupakan permintaan yang berasal dari
seseorang atau permintaan yang berasal dari masing-masing personal.
2) Permintaan kolektif atau permintaan pasar
Permintaan kolektif atau permintaan pasar adalah permintaan yang
merupakan kumpulan dari permintaan individu atau permintaan yang
dilakukan oleh sekelompok individu atau masyarakat secara
keseluruhan dalam waktu yang sama. Selengkapnya penjelasan
mengenai permintaan individu dan pasar dapat digambarkan pada tabel
3-1.
Sejauh ini pembahasan kita hanya mengenai permintaan individu
untuk sebuah produk barang atau jasa. Untuk memahami bagaimana
pasar bekerja, kita juga perlu memahami permintaan pasar (market
demand), yaitu total kuantitas yang diminta oleh semua pembeli.

Tabel 3-1 Skedul Permintaan Perorangan dan pasar

Harga Mark Juana Pasar


Barang X
($)
0,00 3 4 7
1,00 2 3 5
2,00 1 2 3
3,00 0 1 1

30
Tujuan pembelajaran 1.3:
Skedul permintaan dan kurva permintaan

SKEDUL PERMINTAAN DAN KURVA PERMINTAAN


Bayangkan bahwa semua variabel yang mempengaruhi permintaan
dianggap konstan (cateris paribus). Kecuali satu faktor, yaitu harga barang itu
sendiri. Mari kita bahas bagaimana harga tersebut dapat mempengaruhi
kuantitas barang yang diminta.
Gambar 3-2 berikut menjelaskan tentang permintaan seorang
konsumen. Harga barang berada dalam sumbu vertikal, dan kuantitas barang
berada pada sumbu horisontal. Garis kemiringan ke bawah menghubungkan
harga dan kuantitas barang yang diminta, yang disebut sebagai kurva
permintaan (demand curve).
Tabel 3-2 Skedul Permintaan Barang X
Harga Barang X ($) Kuantitas barang X yang diminta (Unit)
0,00 3
1,00 2
2,00 1
3,00 0

Gambar 3-1 Kurva Permintaan Barang X

Harga

3,00

2,00

1,00

Kuantitas
0 1 2 3

31
Pergeseran kurva permintaan
Setiap perubahan yang dapat meningkatkan kuantitas yang dibeli konsumen pada suatu
tingkat harga tertentu akan menggeser kurva permintaan ke kanan. Sebaliknya apabila perubahan
harga justru mengurangi permintaan individu, maka kurva permintaan akan bergeser ke kiri.

Gambar 3-2 Pergeseran Kurva Permintaan


Harga
Kenaikan
permintaan

Penurunan
permintaan

Kuantitas
0

Tujuan pembelajaran 1.4:


Memahami dan mengaplikasikan fungsi permintaan

FUNGSI PERMINTAAN
Fungsi permintaan adalah suatu fungsi yang menunjukkan hubungan
antara kuantitas barang atau jasa yang diminta oleh konsumen dengan harga
barang atau jasa tersebut. fungsi permintaan juga menunjukkan hubungan
antara jumlah suatu barang yang diminta dengan faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Fungsi permintaan merupakan kajian matematis yang
digunakan untuk menganalisa perilaku konsumen dan harga barang atau jasa
tersebut.

32
Fungsi permintaan mengikuti hukum permintaan yaitu apabila harga
suatu barang naik maka permintaan akan barang tersebut juga menurun dan
sebaliknya apabila harga barang turun maka permintaan akan barang tersebut
meningkat. Dengan demikian, hubungan antara harga dan jumlah barang yang
diminta oleh konsumen memiliki hubungan yang terbalik, sehingga gradien
dari fungsi permintaan (b) akan selalu negatif.
Fungsi permintaan apabila dinyatakan dalam bentuk matematis dapat
ditulis:
Qd = F(Px, Py, I, S, E)
Dari fungsi di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi permintaan
merupakan sebuah representasi yang menyatakan bahwa kuantitas yang
diminta tergantung pada harga barang itu sendiri, harga barang lain,
pendapatan, selera dan ekspektasi.
Bentuk fungsi permintaan adalah:

Q=a–bP

Keterangan :
Q= Jumlah barang yang diminta
P= Harga barang per unit
a= Konstanta (Berupa angka)
b= Slope (Angka/Nilai yang selalu bersama
dengan variabel P)

Untuk menentukan fungsi permintaan, dapat dirumuskan:


Rumus tersebut boleh
Syarat harga tertinggi dibolak balik. Selama tidak
jika Q = 0 merubah tanda meskipun
Syarat barang bebas jika berpindah ruas.
P=0

33
Keterangan:
Q : jumlah barang yang diminta
P : harga barang
P1 : harga awal atau harga mula-mula
P2 : harga setelah mengalami kenaikan atau penurunan
Q1 : jumlah permintaan awal
Q2 : jumlah permintaan setelah mengalami kenaikan atau penurunan

C. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
11. Analisis proses terjadinya permintaan!
12. Hukum permintaan (the law of demand) berlaku dengan asumsi faktor lain
dianggap tetap (cateris paribus). jelaskan alasannya!
13. Amati disekitar tempat tinggal anda masing-masing, lalu kelompokkan barang
berdasarkan jenisnya (normal, inferior dan superior)!
14. Bagaimana pengaruh perubahan harga barang substitusi dan komplementer
terhadap jumlah barang yang diminta?
15. Perhatikan data berikut:
Harga ($) Jumlah Permintaan (Unit)
10 200
20 150
Apabila harga yang tertera pada soal dikalikan dengan dua angka terakhir NIM
anda, maka tentukan:
a. Fungsi permintaan
b. Harga tertinggi
c. Apabila sepatu yang dibeli sebanyak 100 unit, berapa tingkat harganya?
d. Apabila tingkat harga sepatu $25, berapa jumlah permintaan sepatu?
e. Kurva permintaan

34
D. DAFTAR PUSTAKA
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Mai, Candra dan Fitria Amalia. 2011. Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Esis.
Mankiw N, Gregory. 2003. Pengantar Ekonomi Edisi Kedua Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Nicholson, Walter. 2004. Mikro Ekonomi Intermediate dan aplikasinya Edisi
Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Nuraini, Ida. 2001. Pengantar Ekonomi Mikro. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang.
Sukirno Sadono. 2013. Mikroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Sumarsono, Sonny. 2012. Pengantar Ekonomi Mikro. Jember: Laboratorium
Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Jember.
Sunarwo, Hendri. 2013. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta: Caps.

35
PERTEMUAN 4:
KONSEP PENAWARAN

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:
1.1 Menganalisis teori penawaran.
1.2 Memahami dan mengaplikasikan skedul penawaran dan kurva penawaran.
1.3 Memahami dan mengaplikasikan fungsi penawaran.
1.4 Memahami dan mengaplikasikan penentuan harga dan jumlah yang
diperjualbelikan.

B. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Menganalisis teori penawaran

PENGERTIAN PENAWARAN
Permintaan dan penawaran adalah dua kata yang senantiasa digunakan
oleh para ahli ekonomi. Hal tersebut disebabkan karena kekuatan permintaan
dan penawaran yang membuat ekonomi pasar bekerja dengan baik. Keduanya
menentukan jumlah barang yang dihasilkan dan sekaligus menentukan harga
barang itu. Apabila anda ingin mengetahui suatu kejadian atau kebijakan
dalam mempengaruhi perekonomian, maka anda harus terlebih dahulu
membayangkan bagaimana pengaruhnya terhadap penawaran dan permintaan.
Sebelumnya kita sudah membahas tentang permintaan yang
merupakan egiatan ekonomi dari sudut konsumen. Sekarang kita belajar
tentang penawaran. Penawaran datang dari produsen/penjual sebagai pihak
yang menyediakan barang dan jasa dalam perekonomian. Dari sudut pandang
produsen, jumlah barang yang dijual pada umumnya berhubungan positif

36
dengan harga barang tiersebut, artinya semakin tinggi harga suatu barang,
tentu saja sesnaidn banyak barang yang akan dijual oleh produsen.
Sebaliknya, semakin rendah harga suatu barang, maka jumlah barang
yang akan dijual oleh produsen akan semakin sedikit. Dari penjelasan tersebut
dapat ditarik kesimpulan bahwa penawaran (supply) adalah jumlah barang
atau jasa yang akan dijual (ditawarkan) pada tingkat harga tertentu.
Dalam teori ekonomi, penawaran dapat diartikan sebagai keseluruhan
jumlah barang dan jasa yang ditawarkan dalam berbagai kemungkinan harga
yang berlaku di pasar dalam satu periode. Dari pemahaman tersebut, terdapat
dua variabel ekonomi yaitu jumlah barang dan jasa yang ditawarkan atau
dijual dan tingkat harga barang dan jasa itu sendiri. Dalam pendekatan ini
variabel waktu diabaikan atau dianggap konstan.
Variabel jumlah barang dan tingkat harga dalam konsep penawaran ini
menunjukkan adanya saling keterkaitan satu dengan lainnya. Variabel harga
merupakan variabel yang mempengaruhi jumlah barang dan jasa yang
ditawarkan, biasa disebut sebagai variabel bebas, atau independent variabel.
Sedangkan jumlah barang dan jasa merupakan variabel yang dipengaruhi oleh
tingkat harga, biasa disebut variabel terikat atau dependent variabel.

FAKTOR YANG MENENTUKAN PENAWARAN INDIVIDU


Sekarang kita beralih ke sisi lain dari pasar, yaitu meneliti tentang
perilaku para pejual. Kuantitas yang ditawarkan (quantity supplied)
merupakan sejumlah barang dan jasa yang tersedia dan mampu dijual oleh
para penjual. Selanjutnya, untuk lebih memfokuskan pemikiran kita tentang
penawaran mari kita ambil contoh pasar es krim dan melihat faktor-faktor
yang menentukan besarnya kuantitas yang ditawarkan.
Harga barang itu sendiri (Px). Harga es krim menjadi satu faktor
yang menentukan besarnya jumlah yang ditawarkan konsumen. Apabila harga
es krim tinggi, menjual es krim tentu sangat menguntungkan, sehingga
kuantitas es krim yang ditawarkan pun akan besar. Demikian sebaliknya
apabila harga es krim turun, bisnis tentu akan kurang menguntungkan.
Sehingga konsumen banyak yang menghentikan produksinya.

37
Karena kuantitas yang ditawarkan meningkat ketika harga meningkat
dan menurun apabila harga juga mengalami penurunan, maka dapat
disimpulkan bahwa antara harga dan kuantitas yang ditawarkan berhubungan
positif. Ini dinamakan hukum penawaran (law of supply). Dengan asumsi hal
lainnya tetap, ketika harga barang meningkat, maka kuantitas yang ditawarkan
pun akan meningkat.
Harga input (Pi). Apabila salah satu atau lebih harga input untuk
membuat es krim meningkat, maka memproduksi es krim dirasa kurang
menguntungkan, tentu perusahaan tersebut akan menawarkan lebih sedikit es
krim. Dengan demikian, kuantitas barang yang ditawarkan berhubungan
negatif (negatively related) dengan harga input untuk membuat barang
tersebut.
Teknologi (T). teknologi untuk memproses input menjadi es krim juga
merupakan salah satu penentu dari kuantitas yang ditawarkan. Penemuan
mekanisasi mesin pengolah es krim, dapat mengurangi jumlah pekerja yang
tentu sangat membutuhkan untuk membuat es krim. Melalui penurunan biaya
perusahaan, perkembangan teknologi tentu akan menaikkan kuntitas es krim
yang ditawarkan.
Ekspektasi (E). Tentunya kuantitas es krim yang ditawarkan
tergantung pada pada eskpektasi atau harapan terhadap masa depan. Misalnya,
produsen berharap bahwa harga es krim di masa yang akan datang akan
meningkat, maka produsen akan menyimpan sejumlah es krim yang
diproduksi saat ini di dalam gudang penyimpanan dan tentu hal ini akan
mengurangi penawaran ke pasar pada saat ini.

Tujuan pembelajaran 1.2:


Memahami dan mengaplikasikan skedul penawaran dan kurva penawaran.

Skedul penawaran dan kurva penawaran


Seperti halnya permintaan, bayangkan bahwa semua variabel yang
memepengaruhi penawaran dianggap konstan (cateris paribus). Kecuali satu

38
faktor, yaitu harga barang itu sendiri. Mari kita bahas bagaimana harga
tersebut dapat mempengaruhi kuantitas barang yang ditawarkan.
Gambar 4-1 berikut menjelaskan tentang penawaran seorang
konsumen. Harga barang berada dalam sumbu vertikal, dan kuantitas barang
yang ditawarkan berada pada sumbu horisontal. Garis kemiringan dari kiri
bawah ke kanan atas menghubungkan harga dan kuantitas barang yang
diminta, yang disebut sebagai kurva penawaran (supply curve).
Tabel 4-1 Skedul Penawaran Barang X
Harga Barang X ($) Kuantitas barang X yang
ditawarkan (Unit)
0,00 0
1,00 1
2,00 2
3,00 3

Gambar 4-1 Kurva Penawaran Barang X

Harga

3,00

2,00

1,00

Kuantitas
0 1 2 3

Penawaran pasar versus penawaran individu


Seperti halnya permintaan pasar yang merupakan penjumlahan dari
permintaan individu, penawaran pasar juga merupakan penjumlahan dari
penawaran dari seluruh penjual yang ada di pasar terhadap suatu produk
barang/jasa.
Tabel 4-2 memperlihatkan apa yang akan terjadi dengan kuantitas
yang ditawarkan apabila harga berubah dan faktor yang lain dianggap konstan.

39
Tabel 4-2 Skedul Penawaran Individu dan Pasar
Harga Barang X Produsen A Produsen B Pasar
($)
0,00 0 0 0
1,00 1 2 3
2,00 2 4 6
3,00 3 6 9

Pergeseran kurva penawaran


Misalnya salah satu faktor yang mempengaruhi penawaran
berubah. Anggap harga gula naik. Apa yang akan terjadi dengan
kuantitas yang ditawarkan? Karena gula merupakan input dalam
produksi es krim, maka kenaikan harga gula akan menyebabkan
penjualan es krim akan lebih merugikan. Sehingga para produsen es
krim akan mengurangi produksinya. Pada saat harga tertentu, produsen
es krim akan bersedia untuk menjual kuantitas es krim yang lebih kecil.
Jadi, kurva penawaran es krim akan bergeser ke kiri. Begitu pula
sebaliknya. Seperti diperlihatkan oleh gambar 4-2 berikut.

Gambar 4-2 Pergeseran Kurva Penawaran


Harga

Kenaikan
penawaran

Penurunan
penawaran

Kuantitas
0

40
Tujuan pembelajaran 1.3:
Memahami dan mengaplikasikan fungsi penawaran

FUNGSI PENAWARAN
Dari penjelasan sebelumnya, fungsi penawaran apabila dinyatakan
dalam bentuk matematis dapat ditulis:
Qs = F(Px, Pi, T, E)
Dari fungsi di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi penawaran merupakan
sebuah representasi yang menyatakan bahwa kuantitas yang ditawarkan
tergantung pada harga barang itu sendiri, harga input, teknologi dan
ekspektasi.
Bentuk Fungsi Penawaran

Q = a + bp

Keterangan :
Q= Jumlah barang yang ditawarkan
P= Harga barang per unit
a= Konstanta (Berupa angka)
b= Slope (Angka/Nilai yang selalu bersama
dengan variabel P)

Untuk menentukan fungsi permintaan, dapat dirumuskan:


Rumus tersebut boleh
Syarat harga terendah dibolak balik. Selama tidak
jika Q = 0 merubah tanda meskipun
Syarat barang bebas jika berpindah ruas.
P=0

Keterangan:
Q : jumlah barang yang ditawarkan
P : harga barang
P1 : harga awal atau harga mula-mula
P2 : harga setelah mengalami kenaikan atau penurunan

41
Q1 : jumlah penawaran awal
Q2 : jumlah penawaran setelah mengalami kenaikan atau penurunan

Tujuan pembelajaran 1.4:


Memahami dan mengaplikasikan penentuan harga dan jumlah yang
diperjualbelikan.

PENENTUAN HARGA DAN JUMLAH YANG


DIPERJUALBELIKAN
Kita sudah membahas permintaan dan penawaran secara terpisah,
maka kita menggabungkan keduanya untuk melihat bagaimana keduanya
menentukan harga dan jumlah yang diperjualbelikan. Perlu diketahui, bahwa
harga pasar merupakan harga harga yang disepakati oleh pihak penjual dan
pembeli. Harga pasar dan jumlah barang yang diperjual belikan sangat
ditentukan oleh permintaan dan penawaran barang tersebut.
Masalah harga berhubungan dengan barang ekonomis, sebab barang
ekonomis adanya langkah dan berguna dan untuk memperolehnya diperlukan
pengorbanan uang dengan bantuan harga. Harga adalah perwujudan nilai tukar
atas suatu barang atau jasa yang dinyatakan uang. Oleh karena itu harga
merupakan nilai tukar obyektif atas barang/jasa dan nilai tukar obyektif itu
sendiri adalah harga pasar atau harga keseimbangan. Harga pasar tidak
terbentuk secara otomatis akan tetapi melalui suatu proses mekanisme pasar
yakni tarik menarik antara kekuatan pembeli dengan permintaannya dan
kekuatan penjual dengan.penawarannya.
Analisis mengenai permintaan dan penawaran ini dapat
menggambarkan mekanisme pasar bekerja. Apabila tanpa campur tangan
pemerintah, maka harga dan jumlah barang yang diperjualbelikan akan
mencapai kondisi keseimbangan dengan sendirinya.
Pada analisis penentuan harga, adalah hal yang penting untuk
menentukan jangka waktu yang diperlukan oleh tanggapan penawaran (supply
response) terhadap perubahan kondisi permintaan. Dalam hal ini kita akan

42
membagi kedalam tiga jangka waktu yaitu jangka waktu sangat pendek,
jangka pendek dan jangka panjang.
Pada periode jangka sangat pendek tidak akan terjadi tanggapan
penawaran, kuantitas yang ditawarkan secara absolut tetap. Pada jangka
pendek, perusahaan dapat mengubah kuantitas yang ditawarkan, tetapi tidak
ada perusahaan baru yang dapat memasuki pasar. Sedangkan pada jangka
panjang perusahaan dapat mengubah kuantitas yang ditawarkannya dan
perusahaan perusahaan baru dapat sepenuhnya memasuki industri, hal ini
menghasilkan tanggapan penawaran yang fleksibel.
Dengan demikian, harga suatu barang atau jasa sangat tergantung
kepada bentuk pasar yang dihadapi. Ada dua bentuk pasar dalam ekonomi,
yaitu pasar persaingan sempurna (perfect competition) dan pasar persaingan
tidak sempurna(inperfect competition). Untuk lebih dalam pembahasan
mengenai pasar akan dibahas pada penjelasan lain tentang bentuk-bentuk
pasar.

C. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
1. Dalam hukum penawaran, bagaimana hubungan antara harga dengan jumlah
barang yang ditawarkan?
2. Kalau anda berada pada posisi produsen saat ini. Contohkan bagaimana
ekspektasi anda tentang ekonomi dimasa mendatang!
3. Mengapa teknologi sangat berpengaruh dalam kegiatan penawaran di era
sekarang ini?
4. Perhatikan data berikut:
Harga ($) Jumlah Penawaran (Unit)
20 200
25 250
Apabila harga yang tertera pada soal dikalikan dengan dua angka terakhir NIM
anda, maka tentukan:
a. Fungsi penawaran
b. Harga terendah
c. Apabila sepatu yang dijual sebanyak 185 unit, berapa tingkat harganya?

43
d. Apabila tingkat harga sepatu $85, berapa jumlah penawaran sepatu?
e. Kurva penawaran
5. Mengapa harga suatu barang atau jasa sangat tergantung kepada bentuk pasar
yang dihadapi?

D. DAFTAR PUSTAKA
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Fatoni Siti Nur. 2014. Pengantar Ilmu Ekonomi. Bandung: Pustaka Setia.Hasan
Mankiw N, Gregory. 2003. Pengantar Ekonomi Edisi Kedua Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Nicholson, Walter. 2004. Mikro Ekonomi Intermediate dan aplikasinya Edisi
Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Sukirno Sadono. 2013. Mikroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.

44
PERTEMUAN 5:
KESEIMBANGAN PASAR

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:
1.1 Memahami dan mengaplikasikan pengaruh perubahan permintaan dan
penawaran terhadap keseimbangan.
1.2 Menganalisis surplus produsen dan konsumen
1.3 menghitung keseimbangan pasar setelah pajak dan subsidi

B. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Memahami dan mengaplikasikan pengaruh perubahan permintaan dan
penawaran terhadap keseimbangan

PERUBAHAN PERMINTAAN DAN PENAWARAN


TERHADAP KESEIMBANGAN
Ekuilibrium (equilibrium) merupakan suatu kondisi apabila penawaran
dan permintaan berada pada keadaan yang seimbang. Kuantitas ekuilibrium
(equilibrium quantity) merupakan jumlah atau kuantitas yang ditawarkan dan
diminta pada saat harga berada dalam kondisi ekuilibrium permintaan dan
penawaran. Harga ekuilibrium kadang kala disebut sebagai (market clearing
price). Karena pada harga ini, setiap orang yang ada di pasar terpuaskan.
Pembeli dapat memebeli semua barang yang ingin dibeli. Demikian halnya
dengan penjual pun dapat menjual semua barang yang ingin dijual.
Untuk lebih memperjelas pemahaman mengenai ekuilibrium, maka
perhatikan contoh tabel 5-1 di bawah ini. Dalam tabel tersebut

45
menggambarkan tentang sejumlah permintaan dan penawaran pada suatu
tingkat harga tertentu.
Tabel 5-1 Skedul Permintaan dan Penawaran
Harga Kuantitas yang Dibeli Kuantitas yang Ditawarkan
Barang X (Unit) (Unit)
($)
0,00 4 0
1,00 3 1
2,00 2 2
3,00 1 3

Dari tabel tersebut memperlihatkan kondisi permintaan dan


penawaran. Pada harga $ 2,00 per buah, kuantitas yang diminta dan yang
ditawarkan tepat sama yaitu sebanyak 2 unit. Dari tabel di atas juga dapat
digambarkan dalam kurva 5-1 berikut.

Gambar 5-1 Kurva Ekuilibrium Permintaan dan penawaran Barang X

Harga
Demand (D) Supply (S)

3,00

2,00

Ekuilibrium
1,00

Kuantitas
0 1 2 3

Penentuan Keseimbangan secara Matematis


Keseimbangan akan tercapai apabila:

Qd = Qs Atau Pd = Ps

46
Tujuan pembelajaran 1.2:
Menganalisis surplus produsen dan konsumen

SURPLUS PRODUSEN DAN KONSUMEN


Seluruh tindakan penjual dan pembeli akan bergerak kea rah
keseimbangan permintaan dan penawaran. Untuk melihat mengapa hal ini
dapat terjadi di pasar, maka perhatikan contoh berikut apabila harga yang
berlaku tidak sama dengan harga keseimbangan.
Pertama, misalnya harga pasar berada di atas harga keseimbangan.
Seperti ditujukan oleh panel (a) gambar 5-2. Harga pasar $ 3,00 per buah
menyebabkan kuantitas yang ditawarkan sebanyak 3 unit melebihi permintaan
yang hanya 1 unit. Keadaan ini dinamakan surplus (surplus) barang. Di mana
penjual tidak dapat menjual seluruh barang yang ingin mereka jual. Sebagai
contoh, pada saat terjadi surplus di pasar es krim, lemari pendingin penjual es
krim penuh oleh es krim yang tidak terjual. Dengan demikian, penjual akan
bereaksi terhadap kelebihan penawaran ini dengan memotong harga es
krimnya. Harga es krim pun akan turun sampai mencapai kondisi ekuilibrium.
Kedua, misalkan bahwa harga pasar berada di bawah harga
ekuilibrium, seperti ditujukan oleh panel (b) gambar 5-2. Dalam kasus ini,
harga barang $ 1,00 per buah jumlah yang ditawarkan hanya sebanyak 1 unit,
dan kuantitas yang diminta melebihi yang ditawarkan. Jumlah yang diminta
sebanyak 3 unit. Dengan demikian, terdapat kekurangan (shortage) barang.
Para pembeli pun tidak dapat membeli semua barang yang diinginkan pada
harga yang berlaku. Pada saat kekurangan terjadi, para pembeli harus
melakukan antrian yang panjang hanya untuk mendapatkan es krim. Karena
terjadi banyak pembeli, maka penjual pun melakukan reaksi dengan
menaikkan harga tanpa kehilangan penjualan. Saat harga naik, pasar pun akan
bergerak kea rah ekuilibrium.

47
Gambar 5-2 Kurva Pasar yang tidak Berada dalam Ekuilibrium
(a) Kelebihan penawaran

Harga
Surplus

3,00

2,00

Ekuilibrium
1,00

Kuantitas
0 1 2 3

Kuantitas Kuantitas
yang diminta yang
ditawarkan

(b) Kelebihan permintaan

Harga

3,00

2,00

Ekuilibrium
1,00

Kekurangan

Kuantitas
0 1 2 3

Kuantitas Kuantitas
yang yang diminta
ditawarkan

48
Dengan demikian, aktivitas dari banyak penjual maupun pembeli
secara otomatis dapat mendorong harga kepada kondisi ekuilibrium.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pada kondisi ekuilibrium semua
penjual dan pembeli terpuaskan, tidak ada tekanan ke atas maupun ke
bawah terhadap harga. Namun demikian, pada sebagian besar pasar,
surplus dan kekurangan hanya bersifat sementara karena nantinya harga
akan bergerak kearah ekuilibrium kembali. Fenomena itu begitu kuat,
sehingga kadang-kadang disebut sebagai hukum permintaan dan
penawaran (law of supply and demand). Harga barang pun akan
menyesuaikan diri untuk membawa penawaran dan permintaan pada
tingkat keseimbangan. Seberapa cepat ekuilibrium dapat tercapai, ini akan
berbeda antara pasar yang satu dengan lainnya, tergantung pada seberapa
cepat harga menyesuaikan diri.

Tujuan pembelajaran 1.3:


Menghitung keseimbangan pasar setelah pajak dan subsidi

PENGARUH PAJAK
Pajak penjualan merupakan pajak yang dipungut oleh pemerintah pada
saat terjadi penjualan suatu produk. Pajak penjualan ini dapat berbentuk suatu
persentase tertentu yang dikenakan untuk setiap unit produk yang dijual oleh
produsen. Seperti yang kita tahu, bahwa besarnya pajak penjualan tidak
sepenuhnya ditanggung oleh pihak penjual, akan tetapi sebagian juga ditanggung
oleh pembeli. Dengan adanya pajak penjualan ini, maka menyebabkan harga jual
dari produk di pasar menjadi lebih tinggi. Secara otomatis adanya pajak penjualan
akan berpengaruh terhadap keseimbangan pasar yang baru.

49
Keseimbangan setelah Pajak
Pajak selalu menambah harga barang yang ditawarkan. Seperti yang dapat
kita lihat berikut ini.
Keseimbangan Sebelum Pajak (tax)

Pd = Ps Menghasilkan ME = (P,Q)

Keseimbangan Setelah Pajak (t/tax)

Pd = Ps + tax (t) Menghasilkan ME' = (Pt,Qt)

Di mana:
Pd : Fungsi permintaan
Ps : Fungsi penawaran
tax (t) : besarnya pajak per unit
ME : Keseimbangan pasar awal (market equilibrium)
ME' : Keseimbangan pasar setelah mengalami perubahan dengan adanya pajak
P : Harga awal (mula-mula) sebelum mengalami perubahan
Q : Kuantitas awal (mula-mula) sebelum mengalami perubahan
Pt : Harga setelah setelah mengalami perubahan dengan adanya pajak
Qt : Kuantitas setelah setelah mengalami perubahan dengan adanya pajak

Secara grafis pengaruh pajak terhadap keseimbangan pasar dapat digambarkan


oleh kurva 5-3 sebagai berikut.

50
Gambar 5-3 Kurva Pengaruh Pajak terhadap Keseimbangan Pasar

P Demand (D)
St
(Qt,Pt)
S
Pt

P (Q,P)

Qd,Qs
0 Qt Q

Keterangan:
P : Harga awal (mula-mula) sebelum mengalami perubahan
Pt : Harga setelah setelah mengalami perubahan dengan adanya pajak
Q : Kuantitas awal (mula-mula) sebelum mengalami perubahan
Qt : Kuantitas setelah setelah mengalami perubahan dengan adanya pajak
Qd : Kuantitas permintaan (quantity of demand)
Qs : Kuantitas penawaran (quantity of supply)
D : Kurva permintaan
S : Kurva penawaran awal (mula-mula) sebelum mengalami perubahan
St : Kurva penawaran setelah mengalami perubahan dengan adanya pajak

51
Contoh:
1. PT jarum telah merumuskan persamaan permintaan dan penawaran rokok,
yaitu:
 P = 1500 - Q dan fungsi penawaran P = 0,5Q + 300.
 Terhadap produk ini pemerintah mengenakan pajak sebesar Rp 200
per unit.
Dengan menggunakan data di atas, maka jawablah pertanyaan berikut.
a. Berapa harga dan jumlah keseimbangan pasar sebelum dan sesudah kena
pajak ?
b. Berapa besar pajak per unit yang ditanggung oleh konsumen ?
c. Berapa besar pajak per unit yang ditanggung oleh produsen ?
d. Berapa besar penerimaan pajak total oleh pemerintah ?
e. Gambarkan Kurva keseimbangan sebelum dan setelah adanya pajak!

Langkah Penyelesian:
a. Keseimbangan pasar sebelum kena pajak:
Pd = Ps
Di mana:
Pd : Fungsi permintaan
Ps : Fungsi Penawaran

b. Keseimbangan pasar dengan perhitungan pajak menjadi:

Pd = Ps' Dengan Ps‘ = Ps + tax (t)

Di mana:
Ps' : Fungsi penawaran yang berubah setelah adanya pajak
tax (t) : Besarnya pajak per unit

c. Pajak yang ditanggung konsumen (tk)

Di mana:
tk = (PE' - PE)

52
tk : pajak yang ditanggung konsumen
PE : Harga ekuilibrium sebelum pajak
PE' : Harga ekuilibrium setelah pajak

d. Pajak yang dibayar produsen (tp)

tp = t - tk

Di mana:
tp : Pajak yang ditanggung produsen
t : Pajak per unit

e. Pajak yang diterima pemerintah (T)

T = t x QE‘

Di mana:
T : Pajak yang diterima pemerintah
t : Pajak per unit
QE‘ : Kuantitas ekuilibrium setelah pajak

Pengaruh Subsidi
Subsidi merupakan bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepada para
produsen untuk meringankan beban biaya produksi perusahaan. Adanya subsidi
dapat membuat biaya produksi lebih kecil dari sebelumnya, sehingga hal ini
berdampak langsung terhadap keseimbangan pasar. Dampak subsidi merupakan
kebalikan dari pengenaan pajak penjualan yang dibebankan pemerintah. Dengan
demikian, adanya subsidi akan selalu megurangi harga barang yang ditawarkan
atau hanya mempengaruhi fungsi penawaran, sedang fungsi permintaannya tetap.

1. Keseimbangan Setelah Subsidi

53
Adanya subsidi selalu mengurangi harga barang yang ditawarkan. Seperti
yang dapat kita lihat berikut ini.

Keseimbangan Sebelum Subsidi (S)

Pd = Ps Menghasilkan ME = (P,Q)

Keseimbangan Setelah Subsidi (S)

Pd = Ps - subsidi (s) Menghasilkan ME' = (Ps,Qs)

Di mana:
Pd : Fungsi permintaan
Ps : Fungsi penawaran
Subsidi (s) : besarnya subsidi per unit
ME : Keseimbangan pasar awal (market equilibrium)
ME' : Keseimbangan pasar setelah mengalami perubahan dengan
adanya subsidi
P : Harga awal (mula-mula) sebelum mengalami perubahan
Q : Kuantitas awal (mula-mula) sebelum mengalami perubahan
Pt : Harga setelah setelah mengalami perubahan dengan adanya
subsidi
Qt : Kuantitas setelah setelah mengalami perubahan dengan adanya
subsidi

54
Pengaruh adanya subsidi juga dapat digambarkan secara grafis oleh gambar 5-4
berikut ini.
Gambar 5-4 Kurva Pengaruh Subsidi terhadap Keseimbangan Pasar

P Demand (D)
Ss
(Qs,Ps)
S
Ps

P (Q,P)

Qd,Qs
0 Qs Q

Keterangan:
P : Harga awal (mula-mula) sebelum mengalami perubahan
Ps : Harga setelah setelah mengalami perubahan dengan adanya subsidi
Q : Kuantitas awal (mula-mula) sebelum mengalami perubahan
Qs : Kuantitas setelah setelah mengalami perubahan dengan adanya subsidi
Qd : Kuantitas permintaan (quantity of demand)
Qs : Kuantitas penawaran (quantity of supply)
D : Kurva permintaan
S : Kurva penawaran awal (mula-mula) sebelum mengalami perubahan

Ss : Kurva penawaran setelah mengalami perubahan dengan adanya


subsidi

55
Contoh soal:
1. Informasi fungsi permintaan dan penawaran adalah:
 P = 3000 - Q dan fungsi penawaran P = 0,10Q + 1000.
 Besarnya subsidi yang diberikan pemerintah sebesar Rp 500 per unit.
Dengan menggunakan informasi di atas, maka jawablah pertanyaan berikut.
a. Carilah keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sebelum dan sesudah
ada subsidi!
b. Berapa total subsidi yang dinikmati konsumen?
c. Berapa total subsidi yang dinikmati produsen?
d. Berapa total subsidi yang ditanggung pemerintah?
e. Gambarkan Kurva keseimbangan sebelum dan setelah adanya subsidi!

Langkah Penyelesian:
a. Keseimbangan pasar sebelum kena subsidi:
Pd = Ps
Di mana:
Pd : Fungsi permintaan
Ps : Fungsi Penawaran

b. Keseimbangan pasar dengan perhitungan subsidi menjadi:

Pd = Ps' Dengan Ps‘ = Ps - subsidi (s)

Di mana:
Ps' : Fungsi penawaran yang berubah setelah adanya subsidi
subsidi (s) : Besarnya subsidi per unit

c. Subsidi yang dinikmati konsumen (sk)

sk = (PE -PE')
Di mana:

56
sk : Subsidi yang ditanggung konsumen
PE : Harga ekuilibrium sebelum subsidi
PE' : Harga ekuilibrium setelah subsidi

d. Subsidi yang dinikmati produsen (sp)

sp = s - sk

Di mana:
sp : Subsidi yang ditanggung produsen
s : Subsidi per unit

e. Subsidi yang ditanggung pemerintah (S)

S = s x QE‘

Di mana:
S : Subsidi yang ditanggung pemerintah
s : Subsidi per unit
QE‘ : Kuantitas ekuilibrium setelah subsidi

C. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
1. Berikan gambaran tentang market clearing price!
2. Apabila diketahui PT Jhonson dalam hal ini terhadap produknya Baygon
merumuskan fungsi permintaan P = 2000 - Q dan fungsi penawaran P = 0,20Q
+ 250. Maka tentukan keseimbangan (equilibrium)!
3. Apa yang terjadi apabila terjadi surplus permintaan dan penawaran?
4. Mengapa pada sebagian besar pasar, surplus dan kekurangan hanya bersifat
sementara?
5. Perhatikan data berikut:

57
Harga ($) Jumlah Permintaan (Unit) Jumlah Penawaran (Unit)
30 4.000 2.000
40 1.500 3.000
Apabila harga yang tertera pada soal dikalikan dengan tiga angka terakhir
NIM anda dan besarnya subsidi sebesar $50/unit, maka tentukan:
a. Keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sebelum dan sesudah ada
subsidi
b. Total subsidi yang dinikmati konsumen
c. Total subsidi yang dinikmati produsen
d. Total subsidi yang ditanggung pemerintah
e. Kurva sebelum dan setelah subsidi

D. DAFTAR PUSTAKA
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Fatoni Siti Nur. 2014. Pengantar Ilmu Ekonomi. Bandung: Pustaka Setia.Hasan
Joesron, Tati Suharti dan M. Fathorrazi. 2012. Teori Ekonomi Mikro. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Mankiw N, Gregory. 2003. Pengantar Ekonomi Edisi Kedua Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Nicholson, Walter. 2004. Mikro Ekonomi Intermediate dan aplikasinya Edisi
Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Sadjono, Sigit. 2010. Pengantar Teori Ekonomi Mikro. Surabaya: Tiga N.
Sukirno Sadono. 2013. Mikroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.

58
PERTEMUAN 6:
ELASTISITAS PERMINTAAN

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:
1.4 Memahami konsep elastisitas permintaan.
1.5 Menghitung elastisitas permintaan.
1.6 Menganalisis manfaat dari menaksir elastisitas permintaan

B. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Memahami konsep elastisitas permintaan.

DERAJAT KEPEKAAN PERMINTAAN (ELASTISITAS


PERMINTAAN)
Pada bagian sebelumnya sudah diperkenalkan konsep permintaan dan
penawaran. Di setiap pasar kompetitif (pasar di mana banyak pembeli dan
penjual yang saling bersaing), perilaku penjual dapat dicerminkan oleh kurva
penawaran yang lerengnya semakin meningkat (upward-sloping), sedangkan
perilaku pembeli diwakili oleh kurva permintaannya yang lerengnya semakin
menurun (downward-sloping). Harga barang senantiasa meneysuaikan diri
guna menyeimbangkan kuantitas barang yang ditawarkan dan kuantitas yang
diminta.
Untuk mengaplikasikan analisis dasar di atas, lebih dahulu kita harus
menguasai satu perangkat lagi, yakni konsep elastisitas (elasticity). Pada
dasarnya elastisitas dapat diartikan sebagai ukuran seberapa jauh para pembeli
maupun penjual bereaksi terhadap kondisi yang terjadi di pasar. Konsep
elastisitas ini akan memungkinkan kita menganalisis penawaran dan
permintaan secara lebih mendalam.

59
PENGERTIAN ELASTISITAS PERMINTAAN
Ketika kita membahas determinan-determinan (faktor penentu atau
berbagai hal yang mempengaruhi) permintaan, kita telah mengetahui bahwa
biasanya seorang pembeli akan meminta lebih banyak barang ketika harga
turun, atau ketika pendapatan bertambah, atau ketika harga barang substitusi
atau penggantinya naik, atau jika harga barang komplemen/pelengkap turun.
Pembahasan kita hanya bersifat kualitatif bukan secara kuantitatif. Artinya,
kita hanya membicarakan arah perubahannya saja (naik atau turun). Tetapi
tidak memerinci seberapa banyak kenaikan atau penurunananya. Untuk
menghitung sejauh mana permintaan bereaksi terhadap perubahan determinan-
determinannya kita harus memahami satu konsep ekonomi, yaitu tentang
elastisitas.
Elastisitas permintaan mengukur seberapa besar kepekaan perubahan
jumlah permintaan barang terhadap perubahan harga. Ketika harga sebuah
barang turun, jumlah permintaan terhadap barang tersebut biasanya naik
semakin rendah harganya, semakin banyak benda itu dibeli. Elastisitas
permintaan ditunjukan dengan rasio persen perubahan jumlah permintaan dan
persen perubahan harga.

FAKTOR PENENTU ELASTISITAS HARGA DARI


PERMINTAAN

Beberapa azaz umum yang dapat kita kedepankan sebagai hal-hal yang
menentukan elastisitas harga dari permintaan, antara lain sebagai berikut.
a. Kebutuhan versus kemewahan
Permintaan atas barang-barang kebutuhan pokok umumnya
inelastis, sedangkan permintaan atas barang mewah lazimnya elastis.
Karena itu, walaupun ongkos dokter melonjak, permintaan akan jasa
dokter tidak akan melonjak drastis. Mungkin, kita hanya akan mengurangi
frekuensi kita ke dokter, tidak sesering sebelumnya.
b. Ketersediaan substitusi

60
Barang-barang yang substitusinya banyak cenderung memiliki
permintaan yang elastis, karena konsumen mudah meninggalkannya untuk
mengganti ke barang substitusi tersebut. Sebagai contoh, margarin dan
mentega mudah dipertukarkan. Karena itu jika harga mentega naik,
sedangkan harga margarine tetap, konsumen akan mengganti konsumsi
menteganya dengan margarin sehingga permintaan mentega pun turun
drastis.
c. Definisi pasar
Elastisitas permintaan di setiap pasar juga tergantung pada batas
pasarnya. Sebagai contoh, jika pasarnya kecil atau terbatas, permintaan
akan cenderung lebih elastis ketimbang jika pasarnya besar karena dalam
pasar yang kecil konsumen lebih mudah menemukan barang substitusi.
d. Rentang waktu
Dalam rentang waktu yang lebih panjang, permintaan berbagai
barang cenderung elastis. Kalau harga bensin naik, permintaan bensin
hanya turun sedikit pada bulan-bulan pertama. Namun pada waktu-waktu
selanjutnya, orang akan membeli mobil yang lebih hemat bensin, berganti
ke kendaraan umum, atau pindah rumah ke tempat yang lebih dekat
dengan kantor. Dalam beberapa kuantitas permintaan bensin akan turun
drastis.

Tujuan pembelajaran 1.2:


Menghitung elastisitas permintaan.

MACAM ELASTISITAS PERMINTAAN

61
1. Elastisitas Harga (barang sendiri) atau lengkapnya elastisitas harga dari
permintaan atau elastisitas permintaan terhadap harga.
Elastisitas harga dari permintaan (price elastisity of demand) adalah
ukuran yang menunjukkan seberapa banyak jumlah yang diminta atas suatu
barang berubah mengikuti perubahan harga barang tersebut. Ukuran ini
dinyatakan sebagai persentase perubahan kuantitas yang diminta dibagi
persentase perubahan harga.
1) Penghitungan Elastisitas Harga dari Permintaan

Elastisitas harga dari permintaan (Edx) =

Sebagai contoh, umpamakan saja suatu ketika terjadi kenaikan harga segelas
es krim sebesar 10 persen sehingga menyebabkan konsumsi es krim anda pun
turun 20 persen. Kita kalkulasikan terlebih dahulu elastisitas harga dari
permintaan sebagai berikut:

Elastisitas harga dari permintaan =

Dalam contoh ini, elastisitasnya sama dengan 2. Angka ini menunjukkan bahwa
perubahan kuantitas yang diminta dua kali lebih besar daripada perubahan
harganya.
Dalam contoh di atas, persentase perubahan harga harganya adalah +10
persen (mencerminkan peningkatan), sedangkan persentase kuantitas yang
diminta -20 persen (mencerminkan penurunan). Oleh karena itu, angka elastisitas
kadang-kadang dinyatakan sebagai bilangan negatif. Namun, kita mengikuti
praktek umum yang berlaku dalam penyebutan besaran elastisitas, yakni tanda
negatifnya dihilangkan begitu saja sehingga yang ditampilkan adalah bilangan
positif (dalam matematika, angka ini seperti disebut sebagai angka/nilai absolut).
Dengan konvensi ini, semakin besar elastisitas harganya, kuantitas yang diminta
semakin responsive terhadap perubahan harganya.

62
Kalau anda mencoba menghitung elastisitas harga dari permintaan antara
dua titik pada kurva permintaan, anda akan langsung dihadapkan pada persoalan
yang menjengkelkan: elastisitas dari titik A ke titik B tampak berbeda dari
elastisitas dari titik B ke titik A. sebagai contoh, silahkan simak angka-angka
berikut:
Titik A: Harga: $4 Kuantitas: 120
Titik B: Harga: $6 Kuantitas: 80
Jika terjadi perubahan dari titik A ke titik B, itu berarti harganya meningkat 50
persen, sedangkan kuantitas yang diminta turun 33 persen. Itu berarti, elastisitas
harga dari permintaan sebesar 33/50 = 0,66. Tetapi, seandainya kita bertolak dari
titik B ke titik A, maka harga turun 33 persen, sedangkan kuantitas yang diminta
naik 50 persen, sehingga elastisitas harga dari permintaannya terhitung 50/33 =
1,5.
Untuk menghindari persoalan yang membingungkan itu, kita dapat
menerapkan metode nilai tengah (midpoint method) dalam penghitungan
elastisitas. Metode nilai tengah dapat dinyatakan dengan rumus elastisitas harga
dari permintaan antara dua titik berikut ini, dengan notasi (Q1, P1) dan (Q2, P2):

Elastisitas harga dari permintaan (Edx) =

63
2) Variasi Kurva Permintaan
a. Permintaan inelastis sempurna: elastisitas sama dengan 0
Gambar 6.1 Kurva Permintaan Inelastis Sempurna

Harga
Permintaan

$5
4
1. Suatu
kenaikan
harga

0 100 Kuantitas

2. . . . Tidak mengubah kuantitas yang diminta.

b. Permintaan inelastis: elastisitas kurang dari 1


Gambar 6.2 Kurva Permintaan Inelastis

Harga

$5

4
1. kenaikan Permintaan
harga sebesar
22 persen

0 90 100 Kuantitas
2. . . . Mengakibatkan perubahan kuantitas yang diminta sebesar 11 persen.

64
c. Permintaan elastis uniter: elastisitas sama dengan 1
Gambar 6.3 Kurva Permintaan elastis uniter

Harga

$5

4
1. kenaikan Permintaan
harga sebesar
22 persen

0 80 100 Kuantitas
2. . . . Mengakibatkan penurunan kuantitas yang diminta sebesar 22 persen.

d. Permintaan elastis: elastisitas lebih dari 1


Gambar 6.4 Kurva Permintaan Elastis

Harga

$5

4 Permintaan
1. Kenaikan
harga sebesar
22 persen.

0 50 100 Kuantitas

2. . . .Mengakibatkan penurunan kuantitas yang diminta sebesar 67 persen.

e. Permintaan elastis sempurna: elastisitas tidak terbatas

65
Gambar 6.5 Kurva Permintaan Elastis Sempurna

Harga

1. Jika harga lebih dari $4


kuantitas yang diminta nol.

$4 Permintaan

2. Jika harganya persis $4,


konsumen akan membeli
dalam jumlah berapapun.

0 Kuantitas
3. Jika harga kurang dari $4,
kuantitas yang diminta tidak terbatas

2. Elastisitas Silang dari Permintaan (Cross Price Elasticity of Demand)


Elastisitas harga silang yaitu kecenderungan perubahan permintaan
suatu barang tertentu disebabkan terjadi perubahan harga barang lain. Atau
dengan kata lain dapat diartikan sebagai derajat kepekaan permintaan barang
X terhadap perubahan harga barang lain.
Secara matematis sbb :
Qdx / Qx Qdx Py
ec  atau  
Py / Py Py Qx

Dimana :
Qx : Kuantitas barang X
Py : Harga barang lain
∆Py : perubahan harga barang lain.

Elastisitas silang dapat menunjukkan hubungan 2 macam barang (komoditi) yang


sifatnya;
 Substitusi, dengan Ec > 0. daging sapi vs daging ayam.
 Komplementer, dengan Ec < 0.  bbm dg mobil

66
 Barang yang tidak saling berhubungan (netral)

3. Elastisitas Pendapatan
Elastisitas pendapatan yaitu Kecenderungan perubahan permintaan yang
disebabkan oleh perubahan pendapatan masyarakat. Dapat disimpulkan pula
elastisitas pendapatan merupakan derajat kepekaan permintaan barang X terhadap
perubahan pendapatan atau anggaran belanja konsumen.
Secara matematis elastisitas titik pendapatan sebagai berikut.
Qdx / Qx Qdx I
eI  atau  
I / I I Qx
Dimana :
Qx : Kuantitas barang X
I : Income atau Pendapatan konsumen
∆I : Perubahan pendapatan konsumen

Misalnya, jika penghasilan konsumen meningkat 10% permintaan barang X


meningkat sebesar 15%. Koefisien elastisitas pendapatan terhadap permintaan
barang X adalah:
%Qd 15%
eI    1,5
%I 10%

bila EI > 0 : barang normal


bila EI < 0 : barang inferior
bila EI < 1 : barang-barang kebutuhan pokok
bila EI > 1 : barang-barang tidak pokok (barang mewah)

67
Tujuan pembelajaran 1.3:
Menganalisis manfaat dari menaksir elastisitas permintaan

MANFAAT DARI MENAKSIR ELASTISITAS PERMINTAAN


Secara teori (dan juga praktik) terdapat beberapa manfaat dari mengetahui
nilai Elastisitas Permintaan suatu barang. Manfaat itu misalnya untuk kebijakan
impor, pajak dan penjualan produk baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun
swasta.
1. Kebijakan Impor
Dalam hal ini pemerintah yang berkepentingan mengendalikan impor,
dimana seandainya suatu negara mengimpor suatu barang yang tingkat
elastisitasnya diketahui maka akan dapat diambil suatu kebijakan akan
melanjutkan mengimpor ataukah akan berhenti.
Seandainya elastisitas barang impor tersebut bersifat elastis (yang
berarti jika harganya naik maka permintaan akan turun lebih besar dari
persentase (%) kenaikan harganya) maka pemerintah akan berusaha agar
barang impor tersebut tersedia dalam jumlah yang cukup dan akan berusaha
mempertahankan kurs valuta mata uangnya relatif stabil (atau sebisa mungkin
menghentikan impor barang tersebut).
Sebaliknya apabila bersifat inelastis (yaitu apabila kenaikan harga
diikuti oleh penurunan permintaan yang persentasenya lebih kecil dari
persentase kenaikan harga) maka kebijakan pemerintah adalah
mempertahankan jumlah impor tersebut dan berusaha memperkenalkan
produksi (produk substitusi) dalam negeri.
2. Perpajakan
Apabila diketahui bahwa permintaan atas suatu produk bersifat
elastis, maka pemerintah relatif tidak akan meningkatkan pungutan pajak atas
barang tersebut, sebaliknya jika bersifat inelastis maka pemerintah cenderung
akan meningkatkan pungutan pajak atas barang yang dimaksud.
Bagi kalangan pebisnis, mengetahui nilai elastisitas permintaan bila
bersama-sama elastisitas penawaran akan membantu strategi penggeseran

68
beban pajak (sebab tidak semua atau sebagian besar beban pajak yang
dikenakan oleh pemerintah akan dibebankan kepada konsumen).
3. Kebijakan/Strategi Penetapan Harga atas Barang
Produsen dalam rangka meningkatkan hasil penjualan akan berusaha
menempuh dengan cara semaksimal mungkin agar keuntungan tercapai. Salah
satu strategi yang digunakan adalah kebijakan harga.
Secara teori, apabila suatu produk bersifat elastis, maka kebijakan
menaikkan harga merupakan langkah yang kurang tepat karena akan
menurunkan penerimaan. Sebaliknya bila bersifat inelastis, maka menaikkan
harga pada tingkat yang moderat/wajar akan meningkatkan penerimaan.
Adapun ringkasan hubungan elastisitas permintaan terhadap strategi
penetapan harga produk adalah sebagai berikut:
a. Apabila permintaan bersifat elastis, maka menurunkan harga jual akan
cenderung menaikkan tingkat pendapatan (dalam batas penurunan harga
masih menguntungkan) .
b. Apabila permintaan bersifat inelastis, maka maka menaikkan harga jual
akan cenderung menaikkan tingkat pendapatan (dalam batas kenaikan
harga tidak menyebabkan permintaan = 0) .
c. Apabila permintaan bersifat elastis uniter menaikkan atau menurunkan
harga adalah tindakan yang mubazir, karena penerimaan relatif tidak
berubah.

69
C. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
6. Jelaskan faktor penentu elastisitas harga dari permintaan!
7. Kuantitas steak yang diminta konsumen naik dari 5 pon (Q1) menjadi 10 pon
(Q2) ketika harga turun dari $3 menjadi $2. Dengan menggunakan metode nilai
tengah, hitunglah elastisitas harga dari permintaan steak tersebut!
8. Diketahui permintaan pasar es krim yang dari titik A sampai E ditunjukkan
dalam tabel seperti di bawah ini:
Titik Px ($) Qx
A 60 0
B 50 100
C 40 150 Keterangan : Harga (P) + tiga
D 30 200
E 20 250 angka terakhir NIM anda
a. Tentukan elastisitas dari titik A-B, B-C, C-D, dan D-E!
b. Lengkapi jawaban saudara dengan grafik!
9. Apabila harga tiket bus Rp 40.000, maka harga tiket KA dengan jurusan yang
sama berada dibawah harga tiket bus. Dan permintaan rata-rata tiket KA
tersebut sebanyak 2000. Jika harga tiket bus naik menjadi Rp 45.000,
sementara harga tiket KA tetap, maka permintaan tiket KA tersebut akan
mengalami kenaikan menjadi 2300. Berapakah besarnya koefisien elastisitas
silangnya?
10. Dari manfaat menaksir elastisitas permintaan, apakah sudah optimal (studi
kasus di Indonesia)

D. DAFTAR PUSTAKA
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Fatoni Siti Nur. 2014. Pengantar Ilmu Ekonomi. Bandung: Pustaka Setia.Hasan
Joesron, Tati Suharti dan M. Fathorrazi. 2012. Teori Ekonomi Mikro. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Mankiw N, Gregory. 2003. Pengantar Ekonomi Edisi Kedua Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Nicholson, Walter. 2004. Mikro Ekonomi Intermediate dan aplikasinya Edisi
Kedelapan. Jakarta: Erlangga.

70
Putong, Iskandar. 2013. Economics: Pengantar Mikro dan Makro: Edisi 5.
Jakarta: Mitra Wacana Media.
Sadjono, Sigit. 2010. Pengantar Teori Ekonomi Mikro. Surabaya: Tiga N.
Sukirno Sadono. 2013. Mikroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.

71
PERTEMUAN 7:
ELASTISITAS PENAWARAN

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:
1.7 Memahami konsep elastisitas penawaran.
1.8 Menghitung elastisitas penawaran.
1.9 Menganalisis manfaat elastisitas penawaran.

B. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Memahami konsep elastisitas penawaran.

PENGERTIAN ELASTISITAS PENAWARAN


Berbagai persoalan yang bersifat ekonomi selalu muncul dalam
kehidupan sehari-hari baik untuk individu, perusahaan maupun masyarakat
secara keseluruhan. Persoalan ekonomi mendorong individu atau perusahaan
atau masyarakat untuk membuat keputusan terbaik dengan cara menentukan
skala prioritas. Atas dasar prinsip atau skala prioritas, setiap individu,
perusahaan atau masyarakat diharuskan memiliki kemampuan untuk mengelola
resourses untuk pemenuhan kebutuhan akan suatu produk atau jasa dan
menghindari kelangkaan. Oleh karena itu, setiap individu, masyarakat atau
perusahaan selaku produsen dan para pelaku ekonomi lainnya harus
mengetahui berbagai konsep dan teori dalam ilmu ekonomi agar prinsip-prinsip
ekonomi untuk mencapai kesejahteraan dapat dirasakan oleh berbagai pihak.
Dalam kegiatan ekonomi sebagai makhluk ekonomi yang bersifat
sosial karena masih membutuhkan makhluk atau orang lain dalam pemenuhan
kebutuhan hidup sehari-hari, dimasyarakat kita sering mendengar berbagai
istilah ekonomi. Sebagai contoh pengaruh antara penawaran barang atau jasa

72
dan harga, mungkin kita sering mendengar adanya istilah penawaran dan
permintaan. Istilah penawaran dan permintaan biasanya sering kita temui dalam
kegiatan ekonomi yang bersifat jual beli atau perdagangan. Dalam
perdagangan, kita juga mengenal yang namanya harga. Harga dalam kegiatan
ekonomi jual beli atau perdagangan memiliki pengaruh yang cukup besar
terhadap perubahan permintaan dan penawaran. Pengaruh perubahan harga
terhadap permintaan dan penawaran dalam kegiatan ekonomi jual beli atau
perdagangan inilah yang dikenal dengan elastisitas. Jadi, konsep ekonomi
elastisitas ialah konsep dimana pengaruh perubahan harga cukup memberikan
pengaruh yang signifikan terhadap perubahan jumlah atau kuantitas dari
permintaan dan penawaran suatu produk atau barang-barang.
Elastisitas harga dari penawaran (price elastisity of supply) mengukur
seberapa banyak kuantitas yang ditawarkan atas suatu barang mengikuti
perubahan harga barang tersebut. Dalam ilmu ekonomi, elastisitas
penawaran didefinisikan sebagai ukuran kepekaan jumlah penawaran suatu
barang dengan harga barang itu sendiri. Elastisitas penawaran mengukur
persentase perubahan jumlah penawaran yang terjadi akibat persentase
perubahan harga. Sebagai contoh, jika harga sebuah barang naik 10%, jumlah
penawarannya naik 20%, maka koefesien elastisitas permintaannya adalah
20%/10% = 2.

Jumlah barang yang ditawarkan, dalam jangka pendek, berbeda dengan


jumlah barang yang diproduksi, karena sebuah perusahaan biasanya tidak
langsung menawarkan semua produknya ke konsumen, melainkan menyimpan
sebagian produknya untuk dijual dikemudian hari (atau biasa disebut
sebagai stok barang). Meskipun demikian, dalam jangka panjang, jumlah
barang yang ditawarkan dianggap sama dengan jumlah barang yang
diproduksi.

Elastisitas penawaran juga menggambarkan derajat kepekaan fungsi


penawaran terhadap perubahan yang terjadi pada variabel-variabel yang
mempengaruhinya. Penawaran atas suatu barang dikatakan elastis jika
perubahan harga menyebabkan perubahan yang cukup besar pada kuantitas
yang ditawarkan. Sebaliknya, penawaran dikatakan tidak elastis atau inelastis

73
apabila kuantitas yang ditawarkan itu sedikit saja berubah ketika harganya
berubah. Secara prinsip pengukuran ratio perubahan yang terjadi dalam
elastisitas penawaran akan sama dengan metode pengukuran dalam elastisitas
permintaan.

Faktor Penentu Elastisitas Penawaran


Dua faktor yang peting dalam menentukan elasisitas penawaran
berbagai barang, yaitu :
a. Sifat Perubahan Biaya Produksi
Penawaran akan tidak bersifat elastis apabila kenaikan penawaran hanya
dapat dilakukan dengan mengeluarkan biaya yang sangat tinggi. Bila biaya
tambahan yang dikeluarkan tidak terlalu tinggi, penawaran akan bersifat
elastis.
b. Jangka Waktu Analisis
Dalam menganalisis pengaruh waktu kepada elastisitas penawaran,
dibedakan atas 3 jenis jangka waktu, yaitu :
a) Masa sangat singkat, yaitu : masa waktu dimana para penjual tidak
dapat merubah penawarannya (penawaran bersifat tidak elastis
sempurna).
b) Jangka Pendek, dimana kapasitas alat-alat produksi yang ada tidak
dapat ditambah, kenaikan produksi dilakukan dengan cara
menggunakan faktor-faktor produksi secaa lebih intensif. (penawaran
bersifat tidak elastis)
c) Jangka Panjang, produksi dan jumlah barang yang ditawarkan dapat
dengan mudah ditambah dalam jangka panjang (penawaran bersifat
elastis)
Adapun beberapa faktor lain yang bisa mempengaruhi elastisitas
penawaran, yaitu:
1. Kemampuan penjual/produsen merubah jumlah produksi
Ini berkaitan dengan biaya dan kapasitas produksi. Penawaran akan
cenderung tidak elastis apabila salah satu dari berbagai hal berikut terjadi:

74
a) Biaya produksi untuk menaikkan jumlah penawaran besar. Misalnya
jika produksi saat ini telah mencapai skala ekonomis dan biaya rata-
rata minimal, maka penambahan satu unit produksi akan menambah
biaya rata-rata dan mengakibatkan produksi berada dalam skala tidak
ekonomis.
b) Atau kapasitas produksi telah terpakai penuh, sehingga penambahan
kapasitas akan memerlukan pabrik/mesin baru, misalnya, yang
membutuhkan investasi besar.Sementara penawaran akan cenderung
elastis jika yang terjadi adalah sebaliknya.
2. Stok persediaan
Semakin besar persediaan, semakin elastis persediaan. Ini karena
produsen dapat segeramemenuhi kenaikan permintaan dengan persediaan
yang ada.
3. Kemudahan substitusi faktor produksi/input
Semakin tinggi mobilitas mesin (atau kapital lainnya) dan tenaga
kerja, semakin elastis penawaran. Semakin elastis mobilitas kapital dan
tenaga kerja, semakin mudah produsenmemenuhi perubahan permintaan
yang terjadi. Ini karena kapital dan tenaga kerja lebih fleksibel,sehingga
dapat ditambah atau dikurangi sewaktu-waktu dibutuhkan.

75
Tujuan pembelajaran 1.2:
Menghitung elastisitas penawaran.

Derajat Kepekaan Penawaran (Elastisitas Penawaran)


Koefisien Elastis Penawaran, dihitung dengan menggunakan rumus :
Persentase perubahan jumlah barang yang ditawarkan
Es = ----------------------------------------------------------------------
Persentase perubahan harga

Elastisitas Titik (point elasticity)


Qs P1
ES = ------- x --------
P Qs1

Seperti halnya elastisitas permintaan, kita dapat menerapkan metode nilai


tengah (midpoint method) dalam penghitungan elastisitas penawaran. Metode nilai
tengah dapat dinyatakan dengan rumus elastisitas harga dari penawaran antara dua
titik berikut ini, dengan notasi (Q1, P1) dan (Q2, P2):

Elastisitas harga dari penawaran (Esx) =

76
Variasi kurva penawaran
a. Penawaran inelastis sempurna: elastisitas sama dengan 0
Gambar 7-1 Kurva Penawaran Inelastis Sempurna

Harga
Penawaran

$5

4
1. Suatu
kenaikan
harga

0 100 Kuantitas

2. . . . Tidak mengubah kuantitas yang ditawarkan.

b. Penawaran inelastis: elastisitas kurang dari 1


Gambar 7-2 Kurva Penawaran Inelastis

Figure 6 The Price Elasticity of Supply

Harga

Penawaran
$5

4
1. Kenaikan
harga sebesar
22 persen . . .

0 100 110 Kuantitas

2. . . . Mengakibatkan kenaikan kuantitas yang ditawarkan sebesar 10 persen.

Copyright©2003 Southwestern/Thomson Learning

77
c. Penawaran elastis uniter: elastisitas sama dengan 1
Gambar 7-3 Kurva Penawaran Elastis Uniter

Figure 6 The Price Elasticity of Supply

Harga

Penawaran
$5

4
1. Kenaikan
harga sebesar
22 persen

0 100 125 Kuantitas


2. . . . Mengakibatkan kenaikan kuantitas yang ditawarkan sebesar 22 persen.

Copyright©2003 Southwestern/Thomson Learning

d. Penawaran elastis: elastisitas lebih dari 1


Gambar 7-4 Kurva Penawaran Elastis

Figure 6 The Price Elasticity of Supply

Harga

Penawaran

$5

4
1. Kenaikan
harga sebesar
22 persen . . .

0 100 200 Kuantitas

2. . . Mengakibatkan kenaikan kuantitas yang ditawarkan sebesar 67 persen.


.

Copyright©2003 Southwestern/Thomson Learning

78
e. Penawaran elastis sempurna: elastisitas tidak terbatas
Gambar 7-5 Kurva Penawaran Elastis Sempurna

Figure 6 The Price Elasticity of Supply

Harga

1. Jika harga lebih dari


$4, kuantitas penawarannya
tidak terbatas.

$4 Penawaran

2. Jika harganya persis,


$4, produsen akan menjual
dalam jumlah berapa pun

0 Kuantitas
3. Jika harga kurang dari $4,
kuantitas yang ditawarkan nol.

Copyright©2003 Southwestern/Thomson Learning

Namun, dalam dunia nyata, elastisitas yang terjadi hanya ada dua macam
yaitu inelastis sempurna dan inelastis. Hal tersebut dikarenakan supply atau
penawaran terkait erat dengan fungsi produksi. Salah satu unsur utama dalam
fungsi produksi yang akhirnya mempengaruhi kurva penawaran adalah biaya
produksi. Apabila biaya produksi untuk barang rendah, maka akan
menguntungkan bagi produsen untuk menawarkan dalam jumlah yang banyak.
Apabila biaya produksi tinggi, perusahaan akan memproduksi sedikit. Biaya
produksi sendiri sangat ditentukan oleh harga input, seperti tenaga kerja, energi
atau mesin yang jelas mempunyai pengaruh sangat kuat terhadap biaya untuk
memproduksi suatu tingkat produksi tertentu. Sehingga dalam jenis
elastisitas supply, hanya ada 2 jenis yang mungkin terjadi dalam dunia nyata.
Sebab, seberapa pun besar tingkat perubahan harga tidak akan banyak
mempengaruhi jumlah barang ditawarkan dikarenakan sebuah proses
penambahan produk memerlukan penambahan biaya produksi yang juga besar
dan biaya produksi tersebut tidak dapat dipenuhi dengan mudah sehingga tidak
akan mempengaruhi prosentase perubahan jumlah produk seperti digambarkan
pada kurva inelastis sempurna, kalaupun dapat dipenuhi prosentase perubahan
jumlah produk yang ditawarkan tidak akan terlalu besar dan relatif lebih rendah
dari presentase perubahan harga, seperti yang tergambar dalam kurva inelastis.

79
Tujuan pembelajaran 1.3:
Menganalisis manfaat elastisitas penawaran

MANFAAT ELASTISITAS PENAWARAN


Manfaat penghitungan elastisitas penawaran lebih banyak untuk
kepentingan produsen. Dengan mengetahui seberapa elastis penawaran terhadap
harga, maka produsen bsa mengetahui beberapa hal berikut:
1. Perusahaan sehat atau tidak
Semakin elastis, itu artinya respon penawaran terhadap perubahan harga
semakin cepat. Dan semakin baik atau cepatnya respon penawaran terhadap
perubahan harga bisa menjadi salah satu indikator bahwa perusahaan tersebut
sehat.
2. Kebijakan apa yang akan dibuat untuk periode mendatang
Karena elastisitas penawaran lah perusahaan bisa mengetahui kebijakan apa
yang kira-kira akan dilakukan pada periode mendatang. Misalnya, saat ini
perusahaan berada pada posisi inelastis. Maka, untuk membuat perusahaan
menjadi elastis penawarannya, perusahaan mengambil beberapa kebijakan di
antaranya memperbaharui teknologi, mengganti manusia dengan mesin untuk
efektivitas, melakukan sistem kontrak untuk pegawai demi penghematan dan
lain-lain.
3. Apa yang perlu diperbaiki
Perusahaan juga bisa mengetahui apa saja yang perlu diperbaiki dari hasil
analisa elastisitas penawaran. Sama ketika dokter mendiagnosa penyakit. Pun
dengan perusahaan. Mengapa penawaran di perusahaan tersebut sama sekali
tidak sensitif. Ternyata karena perusahaan tersebut masih baru saja berdiri
sehingga belum bisa mengikuti arus eksternal karena internal sendiri masih
banyak yang harus dibenahi.
Elastisitas penawaran memiliki prinsip yang sama dengan permintaan.
Bedanya, elastisitas permintaan dari sisi konsumen, sedangkan elastisitas
penawaran dari sisi produsen.

80
C. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:

1. Dalam jangka panjang, jumlah barang yang ditawarkan dianggap sama dengan
jumlah barang yang diproduksi. Jelaskan mengapa demikian!

2. Jelaskan faktor penentu elastisitas penawaran dari sisi jangka waktu analisis
dilengkapi dengan contoh kasus!

3. Diketahui penawaran pasar es krim yang dari titik A sampai E ditunjukkan


dalam tabel seperti di bawah ini:
Titik Px ($) Qx Keterangan: Harga (P)
A 60 0 Dikalikan (X) dua angka
B 50 100 terakhir NIM saudara
C 40 150
D 30 200
E 20 250
Tentukan elastisitas dari titik A-B, B-C, C-D, dan D-E!
c. Tentukan elastisitas dari titik A-B, B-C, C-D, dan D-E!
d. Lengkapi jawaban saudara dengan grafik!
14. Anggap peningkatan harga susu dari $2,85 ke $3,15 satu galonnya
meningkatkan jumlah yang diproduksi para petani, dari 9.000 ke 11.000
galon setiap bulan. Dengan menggunakan metode nilai tengah, hitunglah
elastisitas harga dari penawaran susu tersebut!
15. Dari ketiga manfaat elastisitas penawaran, berilah contoh masing-masing
(studi kasus di Indonesia)!

4. DAFTAR PUSTAKA
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Gaspersz, Vincent. 1999. Ekonomi Manajerial : Pembuatan Keputusan Bisnis
Edisi Revisi dan Perluasan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Gilarso, T. 2003. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro Edisi Revisi. Yogyakarta :
Kanisius.
Mankiw, Gregory. 2002. Principles of Economics: Pengantar Ekonomi
Mikro. Jakarta : Penerbit Salemba Empat

81
Mankiw N, Gregory. 2003. Pengantar Ekonomi Edisi Kedua Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Nicholson, Walter. 2004. Mikro Ekonomi Intermediate dan aplikasinya Edisi
Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Sukirno, Sadono. 2010. Pengantar Teori Ekonomi Mikro. Jakarta : Lembaga
Penerbit FE UI.
Sukirno Sadono. 2013. Mikroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.

82
PERTEMUAN 8:
TEORI PERILAKU KONSUMEN
(PENDEKATAN KARDINAL)

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:
1.1 Mendeskripsikan konsep perilaku konsumen.
1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen.
1.3 Mendeskripsikan pendekatan kardinal

B. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Menganalisis konsep perilaku konsumen

KONSEP PERILAKU KONSUMEN


Dalam perekonomian ada tiga pelaku penting, yaitu produsen,
konsumen dan distributor. Namun dalam ulasan kali ini kita akan membahas
tentang satu pelaku yang memiliki peran penting dalam jalannya perekonomian
suatu negara yaitu konsumen. Konsumen adalah pelaku ekonomi yang
melakukan kegiatan konsumsi. Dimana mereka membeli atau menggunakan
suatu produk baik barang ataupun jasa. Dalam melakukan kegiatan atau
aktivitasnya pasti akan nampak tentang perilaku yang dilakukannya, perilaku
ini lebih dikenal dengan perilaku konsumen.
Ketika kita masuk ke sebuah supermarket, kita akan menemukan
ribuan jenis barang yang dapat kita dibeli. Tentu saja karena pendapatan
terbatas, kita tidak dapat membeli semua barang yang kita inginkan. Oleh
sebab itu, kita harus mempertimbangkan harga berbagai barang yang ada. Dan
membeli sesuai dengan jumlah pendapatan yang dimiliki dalam upaya untuk
memaksimumkan kepuasannya.

83
Perilaku konsumen adalah perilaku yang konsumen tunjukkan dalam
mencari menukar, menggunakan, menilai, mengatur barang atau jasa yang
mereka anggap untuk memuaskan kebutuhan mereka. Definisi lainnya adalah
bagaimana konsumen mau mengeluarkan sumber dayanya yang terbatas,
seperti: uang, waktu, tenaga untuk mendapatkan barang atau jasa yang
diinginkan demi kepuasan mereka.
Perilaku konsumen berlaku pada beberapa tahap, yaitu pada tahap
awal sebelum pembelian, saat pembelian dan setelah pembelian. Sebelum
melakukan pembelian para konsumen menggali informasi tentang produk yang
mereka inginkan.sedangkan pada tahap pembelian, konsumen akan melakukan
transaksi dengan produsen, membayar produknya. Dan pada tahap setelah
pembelian, konsumen menggunakan dan menikmati produk yang dibelinya,
melakukan evaluasi serta melepas atau membuang produknya ketika mereka
sudah bosan.
Dilihat dari pengkonsumsian suatu produk perilaku konsumen
dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Perilaku konsumen rasional
Suatu kegiatan konsumsi bisa dikatakan rasional jika beberapa hal di
bawah ini diperhatikan:
a. Produk tersebut bisa memberikan kepuasan dan nilai guna yang
optimal.
b. Produk tersebut memang benar-benar dibutuhkan oleh konsumen.
c. Kualitas atau mutu produk tersebut terjamin atau baik.
d. Harga suatu produk sesuai dan setara dengan kemampuan yang
dimiliki oleh konsumen.
2. Perilaku konsumen irasional
Perilaku irasional adalah kebalikan dari perilaku rasional. Suatu perilaku
yang dilakukan oleh konsumen bisa dikatakan irasional apabila konsumen
melakukan pembelian produk tanpa memperkirakan kegunaan dari produk
tersebut, contoh perilaku irasional antara lain:
a. Tertarik dan terpukau pada promosi dan iklan dari suatu produk baik
melalui media cetak, elektronik atupun sosial.

84
b. Merk yang dimiliki hanya merk terkenal.
c. Mengutamakan gengsi atau prestise
Pertanyaan yang muncul bagaimana mengukur kepuasan
individu/konsumen. Para ekonom merumuskan model preferensi individu
dengan menggunakan konsep kepuasan (utility), yang menunjukkan kepuasan
yang diterima oleh seorang akibat kepuasan dalam aktivitas ekonomi yang
dibuatnya.
Untuk mengukur kepuasan individu dapat digunakan dua pendekatan,
yakni: (1) pendekatan marginal utility (kardinal) dan (2) pendekatan
indifference curve (ordinal). Pada pembahasan ini kita fokuskan pada
pendekatan pendekatan marginal utility (kardinal).

Tujuan pembelajaran 1.2:


Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU


KONSUMEN
Untuk memahami perilaku konsumen bergantung pada psikologi dan
sosiologi. Hasilnya berfokus pada empat bidang yang menjadi pengaruh utama
terhadap perilaku konsumen: psikologis, pribadi, sosial, dan budaya.
a. Pengaruh psikologis mencakup motivasi, presepsi, kemampuan belajar,
dan sikap perseorangan.
b. Pengaruh pribadi mencakup gaya hidup, kepribadian, dan status ekonomi.
c. Pengaruh sosial mencakup keluarga, pendapat pemimpin (orang yang
pendapatnya diterima oleh orang lain), dan kelompok referensi lainya
seperti teman, rekan sekerja, dan rekan seprofesi.
d. Pengaruh budaya mencakup budaya (“cara hidup” yang membedakan satu
kelompok besar dengan kelompok lainya), subkultur (kelompok yang
lebih kecil, seperti kelompok etnis yang memilliki nilai-nilai bersama),
dan kelas sosial (kelompok-kelompok berdasarkan peringkat budaya
menurut kriteria seperti latar belakang, pekerjaan, dan pendapatan.

85
Walaupun seluruh faktor itu dapat berdampak besar pada
pilihan konsumen, dampk faktor-faktor itu terhadap pembelian aktual
beberapa produk menjadi sangat lemah atau dapat diabaikan. Beberapa
konsumen, misalnya, memperlihatkan loyalitas terhadap merek (Brand
Loyalty) tertentu, yang berarti mereka secara rutin membeli produk-produk
karena mereka puas atas kinerja merek produk itu.

Tujuan pembelajaran 1.3:


Mendeskripsikan pendekatan kardinal

PENDEKATAN NILAI GUNA (KARDINAL)


Pendekatan konsumen Kardinal adalah daya guna dapat diukur dengan
satuan uang atau utilitas, dan tinggi rendahnya nilai atau daya guna tergantung
kepada subyek yang menilai. Pendekatan ini juga mengandung anggapan
bahwa semakin berguna suatu barang bagi seseorang, maka akan semakin
diminati. Semakin besar jumlah barang yang dapat dikonsumsi maka semakin
tinggi tingkat kepuasannya. Konsumen yang rasional akan berusaha
memaksimalkan kepuasannya pada tingkat pendapatan yang dimilikinya.
Besarnya nilai kepuasan akan sangat bergantung pada individu (konsumen)
yang bersangkutan.

Pendekatan kardinal memberikan penilaian bersifat subyektif akan


pemuasan kebutuhan dari suatu barang, artinya tinggi rendahnya suatu barang
tergantung sudut pandang subyek yang memberikan penilaian tersebut, yang
biasanya berbeda penilain dengan orang lain.
Pendekatan ini merupakan gabungan dari beberapa pendapat para ahli
ekonomi aliran subyektif dari Austria seperti: Karl Menger, Hendrik Gossen,
Yeavon, dan Leon Walras. Menurut pendekatan ini daya guna dapat diukur
dengan satuan uang atau util, dan tinggi rendahnya nilai atau daya guna
bergantung kepada subyek yang menilai.
Dalam pendekatan kardinal terdapat satu landasan hukum yaitu hukum
Gossen.

86
a. Hukum Gossen I: menyatakan bahwasannya kepuasan konsumen akan
menurun ketika kebutuhan mereka dipenuhi terus-menerus.
b. Hukum Gossen II: menyatakan bahwasannya seorang konsumen akan
terus menerus memnuhi kebutuhannya sampai mencapai intensitas yang
sama. Maksud dari intensitas yang sama adalah rasio antara marginal
utility dan harga dari produk yang satu dengan rasio marginal utility dan
harga produk yang lainnya.

Hipotesis utama dari pendekatan kardinal ini adalah nilai guna


marginal yang semakin turun, menunjukkan bahwa nilai guna yang diperoleh
oleh konsumen akan semakin menurun ketika mereka terus dan terus
menambah konsumsinya atas produk tersebut. Berbicara tentang nilai guna
marginal pasti ada kaitannya dengan bagimana pemaksimuman nilai guna
yang dirasakan oleh konsumen.
Dalam pendekatan kardinal ini terdapat beberapa asumsi, antara lain:
a. Daya atau nilai guna diukuur dengan parameter satuan harga atau utilitas.
b. Konsumen bersifat rasional, dimana mereka akan memnuhi kebutuhan
hidupnya sesuai dengan batas kemampuan pendapatannya.
c. Konsumen akan mengalami penurunan utilitas ketika terus menerus
melakukan konsumsi terhadap produk tersebut (diminishing marginal
utility) yaitu semakin banyak sesuatu barang yang dikonsumsikan maka
tambahan kepuasan (marginal utylity) yang diperoleh dari setiap satuan
tambahan yang dikonsumsikan akan menurun.
d. Konsumen memiliki jumlah pendapatan yang tetap.
e. Daya atau nilai guna dari uang tetap atau konstan.
f. Total utility bisa bersifat melengkapi (additive) atau berdiri sendiri
(independent).
g. Produk yang dikonsumsi normal dan periodenya konsumsinya berdekatan.

Dengan berbagai asumsi tersebut pendekatan kardinal mampu


menyusun sebuah formulasi fungsi permintaan secara baik. Namun meski
begitu pendekatan ini memiliki beberapa kelemahan, diantaranya:

87
a. Daya guna yang dipandang hanya dari segi subjektif membuat tidak
adanya alat ukur yang tepat dan sesuai dengannya.
b. Memiliki konsep constan marginal utility of money, yang membuat
anggapan nilai uang akan menurun ketika jumlah uang semakin banyak.
c. Konsep diminishing marginal utility merupakan permasalah yang sangat
sukar dari segi psikologis dan sulit diterima sebagai aksioma.

Konsumen dapat mencapai kondisi equilibrium atau mencapai


kepuasan yang maksimum apabila dalam membelanjakan pendapatannya
mencapai kepuasan yang sama pada berbagai tingkat barang. Tingkat
kepuasan konsumen terdiri dari dua konsep, yaitu kepuasan total (total utility)
dan kepuasan tambahan (marginal utility).
Utility adalah kepuasan yang diperoleh dalam mengkosumsi barang
dan jasa. Total Utility adalah kepuasan total dalam mengkonsumsi sejumlah
barang dan jasa. Marginal utility dalah tambahan kepuasan yang diperoleh
dalam menambah satu satuan barang/jasa yang dikonsumsi.
Berikut ini adalah perbedaan antara kepuasan total dan kepuasan
marginal (tambahan) yang diperoleh konsumen saat mengkonsumsi apel yang
disajikan lewat contoh nomerik tabel 8.1.

Tabel 8.1 Total Utility dan Marginal Utility


Jumlah Apel Total Utility (TU) Marginal Utility (MU)

0 0 …

1 12 12

2 18 6

3 22 4

4 24 2

5 24 0

6 22 -2

Tabel 8-1 menunjukkan bahwa kepuasan total individu terus bertambah sampai
apel ke-4. Pada sisi lain, Marginal Utility (MU) bertambah dalam posisi menurun hingga

88
unit ke-5, Marginal Utility (MU) adalah nol. Dengan demikian TotalUtility (TU) sudah
maksimal. Pada posisi tersebut, individu sudah jenuh sehingga disebut sebagai titik jenuh.

Demikian halnya yang ditunjukkan oleh tabel 8.2 dan gambar 8.1 berikut.
Tabel 8-2 Total Utility and Marginal Utility of Trips to the Club Per Week
Trips to Club Total Utility Marginal Utility

1 12 12

2 22 10

3 28 6

4 32 4

5 34 2

6 34 0

Tabel 8-2 menunjukkan bahwa kepuasan total terus bertambah sampai trip ke-5.
Pada sisi lain, Marginal Utility (MU) bertambah dalam posisi menurun hingga trip ke-6,
Marginal Utility (MU) adalah nol. Dengan demikian TotalUtility (TU) sudah maksimal.
Pada posisi tersebut, individu sudah jenuh sehingga disebut sebagai titik jenuh. Tabel 8-2
dapat dijabarkan lebih lanjut dalam gambar 8-1.

89
Gambar 8-1 Total Utility and Marginal Utility of Trips to the Club Per Week

Kepuasan Total Maksimum tercapai bila:


TU TU
MU X  MU Y 
X Y
MU X
1
dan Px = MUx, atau
PX

Perhatikan bahwa dengan pendekatan Marginal Utility ini, kurva Marginal Utility
(yang diukur dengan uang) tidak lain adalah Kurva Permintaan Konsumen, karena

90
menunjukkan tingkat pembeliannya (atau jumlah yang ia minta) pada berbagai tingkat
harga.
Pertanyaan yang muncu bahwa apakah kepuasan dapat dihitung secara pasti,
jewabannya tentu tidak. Oleh karena itu, metode cardinal dewasa ini sudah tidak umum
lagi digunakan dalam mengukur kepuasan konsumen dalam ilmu ekonomi modern
dewasa ini.

ASUMSI UTILITY
Dalam menentukan preferensi individu digunakan beberapa asumsi, antara lain:
Asumsi perbandingan. Dalam hal ini, setiap dua keranjang (bundle) yang
berbeda, masing-masing berisi barang A dan B, dan kedua barang tersebut dibandingkan
semacam preferensi dari individu. Setiap perbandingan semacam itu pasti mengarah pada
salah satu alternative, yaitu (1) keranjang A lebih disukai dari keranjang B atau (2)
keranjang B lebih disukai daripada atau (3) A dan B sama saja. Asumsi inii merupakan
gambar ideal dari keadaan yangs ebenarnya, dimana kita menganggap bahwa individu
tidak pernah mengatakan bahwa, “Saya sesungguhnya tidak dapat membandingkan antara
A dan B.” ia juga dianggap tidak pernah mengatakan bahwa dua per tiga waktu saya
menyukai A dan sepertiga waktu menyukai B.
Asumsi transivitas. Misalkan ada tiga keranjang barang, yaitu A, B, dan C.
apabila barang A lebih disukai daripada barang B dan B lebih disukai daripada barang C.
maka tentulah barang A lebih disukai dari barang C. demikian halnya barang A tidak
berbeda dengan barang B, barang B tidak berbeda dengan barang C, maka pastilah barang
A tidak berbeda dengan barang C.
Lebih banyak lebih baik (more is better). Dalam hal ini seseorang lebih
menyukai barang yang lebih banyak daripada sedikit. Pada dasarnya untuk barang
normal, lebih banyak barang berarti lebih bermanfaat, meskipun tambahan manfaat
semakin kecil. Asumsi ini mengabaikan barang jelek seperti polusi udara, sampah, dan
lainnya yang tentunya tidak diinginkan oleh konsumen.

91
C. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
1. Bagaimanakah pendekatan kardinal menjelaskan perilaku konsumen?
2. Bagaimanakah konsumen dalam pendekatan kardinal mencapai tingkat
kepuasan yang maksimum?
3. Jelaskan perbedaan antara nilai guna total dan marginal dalam sebuah
contoh ilustrasi yang pernah anda alami dalam kehidupan sehari-hari!
4. Lengkapi jawaban no 3 dengan kurva nilai guna total dan marginal!
5. Jelaskan kelebihan pendekatan kardinal dilengkapi dengan contoh!

D. DAFTAR PUSTAKA
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Eko Suprayitno. 2008. Ekonomi Mikro Perspektif Islam. Malang: UIN-
MALANG PRESS.
Lukman. 2007. Pengantar Teori Mikro Ekonomi. Jakarta: UIN Jakarta Press.
Gilarso, T. 2003. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro Edisi Revisi. Yogyakarta :
Kanisius.
Mankiw, Gregory. 2002. Principles of Economics: Pengantar Ekonomi
Mikro. Jakarta : Penerbit Salemba Empat
Mankiw N, Gregory. 2003. Pengantar Ekonomi Edisi Kedua Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Sukirno Sadono. 2013. Mikroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.

92
PERTEMUAN 9:
TEORI PERILAKU KONSUMEN
(PENDEKATAN ORDINAL)

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:
1.1 Memahami dan mengaplikasikan pendekatan indifference curve
(ordinal).
1.2 Memahami dan mengaplikasikan keterbatasan anggaran.
1.3 Memahami dan mengaplikasikan keseimbangan konsumen.

B. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Memahami dan mengaplikasikan pendekatan indifference curve (ordinal).

PENDEKATAN INDIFFERENCE CURVE (ORDINAL)


Dewasa ini, para ahli ekonomi menolak gagasan tentang utilitas yang
dapat diukur dengan angka-angka terhadap barang yang dikonsumsi sehari-
hari. Kini telah dikembangkan pendekatan baru untuk menjelaskan prinsip
memaksimumkan utilitas oleh seorang konsumen dengan pendapatan yang
terbatas. Teori ini dikenal dengan teori utilitas ordinal, yang menyatakan bahwa
utilitas tidak dapat dihitung, melainkan hanya dapat dibandingkan. Jadi,
menurut teori ini yang berlaku adalah apakah seorang konsumen lebih
menyukai kombinasi barang tertentu daripada kombinasi barang lainnya.
Dalam teori utilitas ordinal digunakan pendekatan kurva utilitas sama
(indifference curve) dan garis anggaran (budget line).

93
Pendekatan indifference curve (ordinal) yaitu besarnya nilai guna bagi
seorang konsumen tidak perlu diketahui. Jadi pendekatan nilai guna adalah
tingkat kepuasan seseorang dapat mengkonsumsi barang atau jasa tidak dapat
diukur dengan uang atau angka tetapi dapat dikatakan lebih tinggi atau lebih
rendah (ke1, ke2, ke3, dan seterusnya).
Asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut.
a. Konsumen akan selalu memilih kombinasi barang yang akan dikonsumsi
yang akan mendatangkan kepuasan maksimum.
b. Konsumen dianggap mempunyai informasi yang sempurna atas uang yang
tersedia baginya serta informasi tentang harga pasar.
c. Konsumen perlu mempunyai preferensi yang disusun atas besarnya nilai
guna, walaupun besarnya nilai guna itu secara absolute tidak perlu
diketahui.

Oleh karena itu kemudian muncul pendekatan ordinary yang


menunjukkan tingkat kepuasan mengkonsumsi barang dalam model kurva
indifferent. Pendekatan ordinal berdasarkan pembandingan sesuatu barang
dengan barang yang lain, lalu memberikan urutan dari hasil pembandingan
tersebut. Contoh penggunaan metode ordinal antara lain dalam suatu lomba
atau kejuaraan, pengukuran indeks prestasi dan pengukuran yang sifatnya
kualitatatif misalnya bagus, sangat bagus, paling bagus.
Kelemahan pendekatan kardinal terletak pada anggapan yang
digunakan bahwa kepuasan konsumen dari mengkonsumsi barang dapat
diukur dengan satuan kepuasan. Pada kenyataannya pengukuran semacam ini
sulit dilakukan. Pendekatan ordinal mengukur kepuasan konsumen dengan
angka ordinal (relatif). Tingkat kepuasan konsumen dengan menggunakan
kurva indiferens (kurva yg menunjukkan tingkat kombinasi jumlah barang
yang dikonsumsi yang menghasilkan tingkat kepuasan yang sama).

94
KURVA INDEFFERENT (INDEFFERENT CURVE)
Kurva indiferen digagas pertama kali oleh ekonom kelahiran Irlandia,
Francis Edgeworth (1845-1926) dan ekonom kelahiran Italia, Vilfredo Pareto
(1848-1923). Mereka berdua menyatakan bahwa pendekatan ordinal
seharusnya membentuk basis analisis ekonomi ketimbang pendekatan kardinal.
Edgeworth dan juga Pareto mengembangkan perangkat analisis yang sekarang
disebut kurva indeferen (indifference curve).
Kurva indefferent merupakan kurva yang menunjukkan kombinasi
konsumsi dua macam barang dari seorang konsumen yang memberikan tingkat
kepuasan yang sama. Dengan kata lain kurva indiferen adalah kurva yang
menggambarkan kombinasi beberapa barang yang sama-sama disukai oleh
konsumen, yaitu tidak ada pilihan untuk satu kombinasi dengan barang lain
karena semuanya memiliki tingkat utilitas yang sama (atau jumlah utilitas yang
sama) untuk konsumen. Dalam teori ini terdapat asumsi yang menyatakan
bahwa konsumen dapat memilih kombinasi konsumsi tanpa harus mengatakan
bagaimana ia memilihnya.

A
Y1

Y2 B

 D C
Y3 IC

0 X1 X2 X3
Gambar 9-1 Kurva Indifferen

95
Gambar 9-1 menunjukkan kurva indifferen yang digambarkan oleh IC
meliputi berbagai kombinasi barang X dan Y yang memberikan kepuasan sama
bagi konsumen. Misalkan, barang X adalah makanan dan barang Y pakaian.
Kurva tersebut menunjukkan bahwa seseorang akan memperoleh kepuasan
sama dengan mengkonsumsi X1 makanan dan Y1 pakaian (titik A) dengan X2
makanan dan Y2 pakaian (titik B), dan X3 makanan dan Y3 pakaian (titik C).
titik pada IC semua memberikan kepuasan yang sama bagi seseorang, dan tidak
memiliki alasan khusus untuk memilih di IC daripada titik lainnya.
Sebaliknya kombinasi makanan dan pakaian yang terletak di bawah
atau di sebelah kiri IC pada sisi lain, kurang disukai oleh seseorang kerena
menawarkan kepuasan yang lebih rendah, titik D menawarkan jumlah kedua
barang tersebut lebih rendah. Jadi D juga lebih tidak disukai disbanding titik A,
B dan C yang ada di kurva garis Indefferent Curve (IC).
Beberapa ciri dari Kurva indefferent (Indefferent Curve) adalah sebagai
berikut.
a. Kurva indeferent mempunyai kemiringan negatif (dari kiri atas ke kanan
bawah). Hal ini menunjukkan apabila dia ingin mengkonsumsi barang X lebih
banyak maka harus mengorbankan konsumsi terhadap barang Y.
b. Kurva indeferent yang lebih tinggi kedudukannya menunjukkan tingkat
kepuasan yang semakin tinggi. Ketika kurva bergeser ke kanan akan
menunjukkan kombinasi barang X dan Y yang bisa dikonsumsi oleh seseorang
semakin banyak. Hal inilah yang menyebabkan semakin bertambahnya
kepuasan dengan pergeseran kurva ke kanan.
c. Kurva indeferent tidak pernah berpotongan dengan kurva indefferent lainnya.
Ini berakitan dengan asumsi bahwa masing-masing kurva indiferent
menunjukkan tingkat kepuasan yang sama. Dengan pengertian apabila A = B
dan A = C maka otomatis C = B padahal yang terjadi tidak demikian.
d. Kurva indefferent cembung ke titik asal ( titik 0 ). Derajat penggantian antar
barang konsumsi semakin menurun. Hal ini masih berkaitan dengan hukum
Gossen, di mana apabila pada titik tertentu semakin banyak mengkonsumsi
barang X akan mengakibatkan kehilangan atas barang X tidak begitu berarti
dan sebaliknya atas barang Y.

96
Tujuan pembelajaran 1.2:
Memahami dan mengaplikasikan keterbatasan anggaran.

KETERBATASAN ANGGARAN

Dalam memaksimalkan kepuasannya, konsumen terkendala oleh


jumlah pendapatan yang dimiliki. Kita akan melihat bagaimana keterbatasan
anggaran pendapatan dalam membatasi pilihan konsumen. Kita ambil contoh
Diva seorang pegawai negeri sipil yang mempunyai pendapatan (I) tetap setiap
bulan, yang dapat dibelanjakan untuk pangan dan lainnya. Untuk konsumsi
pangan, diberi symbol X dan untuk konsumsi barang lainnya diberi symbol Y.
harga masing-masing barang tersebut diberi symbol Px dan Py. Kondisi tersebut
dapat dirumuskan sebagai berikut.
I = X. Px + Y. Py
Misalkan Diva mempunyai pendapatan Rp 6.000.000 per bulan, harga
pangan adalah 10.000 sementara harga lainnya adalah Rp 20.000 maka tabel 6-
3 menunjukkan berbagai kombinasi pangan dan lainnya yang dapat dibeli
setiap bulannyadengan pendapatan Rp 6.000.000.
Tabel 9-1 Keranjang Produk garis Anggaran
Keranjang Pangan (X) Lainnya (Y) Pendapatan (I)

A 600 0 6.000.000

B 400 100 6.000.000

C 200 200 6.000.000

D 0 300 6.000.000

97
Y

D
300

C
200

100 Dapat Diperoleh


B

A
X
0 100 200 300 400 500 600

Gambar 9-2 garis Anggaran Diva

Gambar 9-2 menunjukkan bahwa kombinasi makanan (X) dan lainnya


(Y), yang dibeli individu ditunjukkan oleh segitiga OAD. Dengan sumsi bahwa
individu lebih suka lebih banyak barang daripada sedikit, maka batas luar
segitiga ini merupakan kendalal yang relevan menunjukkan seluruh pendapatan
yang tersedia untuk dibelanjakan pada barang X dan Y. slope dari batas
anggaran yang berbentuk segitiga ini ditentukan oleh –Px/Py, dalam hal ini -
100/200 = -1/2.
Kemiringan garis anggaran –Px/Py adalah perbandingan negatif dari
harga dua jenis barang. Besarnya kemiringan menunjukkan tingkat di mana
kedua barang dapat dipertukarkan satu sama lain, tanpa mengubah jumlah uang
yang harus dibelanjakan.

98
Tujuan pembelajaran 1.3:
Memahami dan mengaplikasikan keseimbangan konsumen.

KESEIMBANGAN KONSUMEN
Untuk mengetahui bagaimana konsumen mengalokasikan
pendapatannya di antara dua produk, perlu digabungkan pengertian tentang apa
yang ingin diperbuat dan apa yang dapat diperbuat oleh konsumen. Ini
dilakukan dengan menggabungkan peta indiferen dan kurva garis anggaran
konsumen. Penggabungan peta indiferen dan kurva garis anggaran konsumen
tampak pada kurva 9-3 berikut.

Kurva 9-3 Keseimbangan Konsumen

Berdasarkan kurva 9-3, dalam garis anggaran dapat diletakkan AB di


atas peta indiferen konsumen. Perhatikan posisi di kanan atas garis AB
menunjukkan kombinasi barang yang tidak dapat dibeli dengan anggaran yang
dimiliki. Adapun posisi di kiri bawah garis AB menggambarkan kombinasi
barang yang harga belinya lebih rendah dari pendapatan sehingga tidak masuk

99
hitungan karena diasumsikan bahwa anda akan membelanjakan seluruh
pendapatan sebesar Rp 500.000,00. Jadi posisi manakah yang akan anda pilih?
Oleh karena anda ingin memaksimumkan utilitas, anda ingin mencapai
kurva indiferen tertinggi yang dapat dicapai. Dengan mengamati kurva 9-3, anda
akan mencapai utilitas maksimum pada saat garis anggaran menyinggung kurva
indiferen tertinggi yang dapat dicapai. Keadaan ini disebut dengan
keseimbangan konsumen. Dari kurva 9-3, kombinasi barang yang paling disukai
dan dapat dicapai dengan anggaran yang ada terletak pada titik E. Pada titik E
tersebut, Anda akan mencapai utilitas maksimum dengan anggaran terbatas.
Artinya, anda dalam mencapai utilitas maksimum dibatasi oleh tingkat
pendapatan anda. Keterbatasan di sini merupakan satu kenyataan bahwa
seseorang tidak akan dapat mengkonsumsi barang yang nilainya melebihi
pendapatannya.

C. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
2. Bagaimana seorang konsumen memaksimalkan kepuasannya, gambarkan
dengan kurva indiferen dan kurva anggaran dalam satu grafik untuk
menjawab pertanyaan ini!
3. Jelaskan kenapa dua kurva indiferen tidak boleh saling berpotongan.
Asumsi apa yang dilanggar apabila kedua kurva tersebut berpotongan?
4. Misalkan Diva mempunyai uang Rp 400.000, yang mau digunakan untuk
membeli manga dan anggur. Harga manga Rp 20.000 per kg sementara
anggur Rp 40.000 per kg.
a. Jika Diva hanya membeli manga, berapa banyak manga yang dapat
dibeli?
b. Apabila Diva hanya membeli Anggur berapa banyak anggur yang
dapat dibeli?
c. Apabila Diva mengurangi konsumsi 1 kg anggur, berapa banyak
tambahan manga yang dapat dibeli?
d. Gambarkan kurva kendala anggaran Diva tersebut dengan
menunjukkan titik-titik pada pertanyaan di atas!

100
5. Kapan tercapainya keseimbangan ekonomi menurut pendekatan ordinal?
6. Analisis studi kasus di bawah ini!
PERILAKU KONSUMEN INDUSTRI TELEKOMUNIKASI

Mengganti nomor dan hand phone (HP) sudah menjadi hal biasa.
Alasannya bisa bermacam-macam. Untuk HP, pergantian dilakukan karena
alasan hilang atau sekadar ingin mengganti model baru agar bisa dikatakan
canggih. Sedangkan pergantian nomor, bisa karena ingin sekadar
menelpon lebih hemat. Mengingat, di beberapa outlet penjualan harga
nomor perdana lebih murah di bandingkan harga isi ulang untuk nilai
pulsa yang sama.

Perilaku konsumen di industri telekomunikasi ini memang menarik


untuk dipahami. Karena industri ini memiliki nilai pasar yang sangat
besar. Pemain yang terlibat di industri ini pun terbilang banyak. Mulai dari
operator telekomunikasi, perusahaan penyedia HP, sampai dengan outlet
yang jumlahnya sangat banyak. Untuk itu, mengetahui bagaimana
sebenarnya perilaku konsumen dalam industri ini sangat penting. Misalnya
dengan mengetahui alasan sebenarnya konsumen mengganti HP. Atau
berapa rata-rata konsumen mengalokasikan dananya untuk pembelian
pulsa. Dan juga, banyak hal lainnyayang diperlukan untuk membuat
strategi yang lebih ampuh agar dapat memenangi pertarungan yang
semakin ketat.

Dalam Indonesian Consumer Profile (ICP) 2008 dengan responden


SES A dan B, terlihat bahwa 23,3% (tertinggi) responden mengganti HP
sebanyak 2 kali sejak pertama kali memiliki.Yang menarik, sebesar 14,4%
responden mengganti HP-nya sebanyak lebih dari 5 kali. Sebuah fenomena
yang menarik.

Lalu, apa alasannya? Responden (46,7%, tertinggi) mengakui bila


pergantian HP dilakukan dengan alasan ingin mengganti
model baru.Yang menarik, mayoritas responden (92,6%) ingin mengganti
HP model baru dengan melakukan pembelian HP bekas, bukan HP baru.

101
Untuk pulsa isi ulang, sebesar 97,6 persen responden melakuan
pengisian di Outlet. Hal ini sangat wajar, karena kemudahan akses.
Dimana lokasi outlet sangat mudah ditemui dimana-mana. Tentunya, akan
banyak sekali perilaku konsumen di industri ini yang menarik untuk
diketahui. Lebih detail, kita dapat menemukannya dalam ICP 2008 yang
memang memuat perilaku konsumen dalam industri ini. Dengan begitu,
maka kita akan memiliki modal besar untuk menjadi pemenang di industri
telekomunikasi yang memiliki nilai pasar sangat menggiurkan
Sumber : KOMPAS, SELASA, 20 OKTOBER 2009

D. DAFTAR PUSTAKA
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Gilarso, T. 2003. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro Edisi Revisi. Yogyakarta :
Kanisius.
Sudarman, Ari. 2000. Teori Ekonomi Mikro Buku 1. Yogyakarta: BPFE.
Sukirno Sadono. 2013. Mikroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Widjajanta, B. dan A. Widyaningsih. 2009. Mengasah Kemampuan Ekonomi 1:
Untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas/Mandrasah Aliyah Program Ilmu
Pengetahuan Sosial. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan
Nasional.

102
PERTEMUAN 10:
PERILAKU PRODUSEN

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:

1.1 Menganalisis konsep produksi


1.2 Menganalisis dan mengaplikasikan faktor-faktor produksi.
1.3 Menganalisis dan mengaplikasikan fungsi produksi.
1.4 Menganalisis dan mengaplikasikan teori produksi dengan satu faktor yang berubah.

B. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Menganalisis dan mengaplikasikan konsep produksi.

KONSEP PRODUKSI
Sekarang tiba waktunya untuk mengalihkan perhatian kepada persoalan
penawaran, yaitu melihat dan mempelajari sikap para produsen dalam
menawarkan barang yang diproduksinya. Untuk melihat seluk-beluk kegiatan
perusahaan dalam memproduksi dan menawarkan barangnya diperluas analisis
ke atas berbagai aspek kegiatan memproduksinya. Pertama-tama harus
dianalisis sampai di mana faktor-faktor produksi akan digunakan untuk
menghasilkan barang yang diproduksikan. Sesudah itu perlu pula dilihat biaya
produksi untuk menghasilkan barang-barang tersebut. Dan akhirnya perlu dianalisis
bagaimana seorang pengusaha akan membandingkan hasil penjualan produksinya dengan
biaya produksi yang dikeluarkan, untuk menentukan tingkat produksi yang akan memberikan
keuntungan yang maksimum kepadanya. Berbagai aspek dari kegiatan perusahaan ini
tidaklah dapat dibahas secara lengkap di dalam satu bagian dalam pembahasan ini.

103
Diperlukan bagian untuk menguraikannya. Pada bagian ini analisis dibatasi pada fungsi
produksi, teori produksi dengan satu faktor dan dua faktor yang berubah.
Teori produksi menyebutkan bahwa kepuasan produsen diperoleh
dengan memaksimumkan keuntungan produksi (maksimation of profit).
 Proses produksi : rangkaian dari kegiatan-kegiatan produksi.
 Proses distribusi : rangkaian dari kegiatan-kegiatan distribusi
 Proses konsumsi : rangkaian dari kegiatan-kegiatan konsumsi
 Kegiatan produksi : kegiatan menciptakan/meningkatkan kefaedahan

Produksi : Proses mempergunakan unsur-unsur produksi dengan maksud


menciptakan faedah untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Kebutuhan manusia ada dua: barang-barang dan jasa.
Barang : Alat penemuan kebutuhan manusia yang tampak.
Jasa : Alat penemuan kebutuhan manusia yang tidak tampak tapi dapat
dirasa.
Barang ekonomi : Barang-barang yang diperoleh dengan mengorbankan sesuatu.
Dalam ilmu ekonomi, teori produksi dalam analisis dibedakan pada dua
pendekatan, yaitu:

104
1) Teori Produksi dengan Satu Faktor Berubah

Teori produksi menggambarkan tentang hubungan antara tingkat


produksi suatu barang dengan jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk
menghasilkan berbagai tingkat produksi barang tersebut. Dengan demikian
dalam analisis faktor-faktor lainnya dianggap tetap.
2) Teori Produksi dengan Dua Faktor Berubah

Teori produksi menggambarkan tentang hubungan antara tingkat


produksi suatu barang dengan dua jenis faktor produksi (tenaga kerja dan
modal) dapat diubah yang digunakan untuk menghasilkan berbagai tingkat
produksi yang tersebut.

Pada prinsipnya kegiatan produksi yang dilakukan oleh produsen-


produsen dalam pendekatannya dibagi 3 bagian :
a. Jangka pendek (short run) : (1). Waktunya cukup pendek sehingga ada faktor
input tetap (fixed input), (2). teknologi yang digunakan tidak berubah
(konstan), (3). satu siklus produksi dapat diselesaikan.
b. Jangka panjang (long run) : (1). Tidak ada input tetap lagi, hanya input
variabel (variable input) saja yang ada, (2). Teknologi konstan.
c. Jangka sangat panjang (very long run) : teknologi berubah, dan biasanya
tidak hanya membicarakan satu fungsi produksi saja.

Tujuan pembelajaran 1.2:


Menganalisis dan mengaplikasikan faktor-faktor produksi.

FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI
Faktor-faktor produksi (sumber-sumber daya) adalah benda-benda yang
disediakan oleh alam atau diciptakan oleh manusia yang dapat digunakan untuk
memperoduksi barang-barang dan jasa-jasa. Faktor-faktor produksi yang
tersedia dalam perekonomian akan menentukan sampai dimana suatu negara

105
dapat menghasilkan barang dan jasa. Faktor produksi yang tersedia dalam
perekonomian dibedakan dalam 4 jenis, yaitu:
1) Tanah dan Sumber Alam
Faktor produksi yang disediakan alam, meliputi : tanah, berbagai jenis
barang tambang, hasil hutan dan sumber alam lainnya yang dapat dijadikan
modal. Kekayaan alam meliputi : (1) tanah dan keadaan iklim; (2) kekayaan
hutan; (3) kekayaan di bawah tanah (bahan pertambangan); (4) kekayaan air,
sebagai sumber tenaga penggerak, untuk pengangkutan, sebagai sumber bahan
makanan (perikanan), sebagai sumber pengairan dan lain-lain.
Keadaan alam, khusus tanah dipengaruhi oleh: luas tanah, mutu tanah
dan keadaan iklim. Sumber-sumber alam merupakan dasar untuk kegiatan
disektor pertanian, kehewanan, perikanan dan di sektor pertambangan. Sektor-
sektor itu lazim disebut produksi primer (industri pabrik dipandang sebagai
produksi sekunder).
2) Tenaga Kerja
Tenaga kerja adalah semua yang bersedia dan sanggup bekerja.
Golongan ini meliputi yang bekerja untuk kepentingan sendiri, baik anggota-
anggota keluarga yang tidak menerima bayaran berupa uang maupun mereka
yang bekerja untuk gaji dan upah. Juga yang menganggur, tetapi yang
sebenarnya bersedia dan mampu untuk bekerja.
Berdasarkan umur tenaga kerja dibagi tiga:
a. Penduduk dibawah usia kerja : dibawah 15 tahun
b. Golongan antara 15 - 64 tahun
c. Golongan yang sebenarnya sudah melebihi umur kerja, diatas 65 tahun.

Faktor produksi berupa tenaga kerja ini adalah manusia/SDM yang


mempunyai keahlian dan ketrampilan yang dibedakan 3 golongan, yaitu:
a. Tenaga kerja kasar, adalah tenaga yang tidak berpendidikan atau
berpendidikan rendah dan tidak memiliki keahlian dalam suatu bidang
pekerjaan (contoh: tukang sapu jalan, kuli bangunan dan lain-lain).

106
b. Tenaga kerja terampil, adalah tenaga kerja yang memiliki keahlian dari
pelatihan atau pengalaman kerja (contoh: montir mobil, tukang kayu,
perbaikan TV dan lain-lain).
c. Tenaga kerja terdidik, adalah tenaga kerja yang memiliki pendidikan
cukup tinggi dan ahli dalam bidang tertentu (contoh: dokter, akuntan,
insinyur dan lain-lain).

3) Modal
Faktor produksi berupa benda yang diciptakan manusia akan
digunakan untuk memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang mereka
butuhkan (contoh: bangunan pabrik, mesin-mesin dan peralatan pabrik, alat-
alat angkutan dan lain-lain). Setiap waktu ada persediaan barang-barang yang
ditanam di gudang-gudang atau toko-toko dan sudah siap untuk dijual. Semua
bahan-bahan mentah dan barang-barang selesai yang ada dalam persediaan
tadi disebut stock (inventory).

4) Keahlian Keusahawanan (pengelolaan)


Faktor produksi ini berbentuk keahlian dan kemampuan usaha untuk
mendirikan dan mengembangkan keterampilan berupa benda yang diciptakan
manusia dan digunakan untuk memproduksi barang-barang dan jasa-jasa
yang mereka butuhkan. Keahlian keusahawanan meliputi kemahirannya
mengkoordinasi berbagai sumber atau faktor produksi tersebut secara efektif
dan efisien, sehingga usahanya berhasil dan berkembang serta dapat
menyediakan barang dan jasa untuk masyarakat. Tugas pengelolaan adalah
untuk mengatur ketiga faktor produksi di atas untuk kerjasama dalam proses
produksi. Peranan pengelolaan (skills), yaitu memimpin usaha-usaha yang
bersangkutan, mengatur organisasinya dan menaikkan mutu tenaga manusia
untuk mempergunakan unsur-unsur modal dan alam dengan sebaik-baiknya.
Pengertian skills meliputi :

a. Managerial skills atau entrepreneurial skills.


Kemampuan untuk mempergunakan kesempatan-kesempatan yang ada
dengan sebaik-baiknya.
b. Technological skills

107
Berhubungan dengan keahlian yang khusus bersifat ekonomis teknis yang
diperlukan untuk kegiatan ekonomi dan produksi.
c. Organizational skills
Kecerdasan untuk mengatur berbagai usaha. Hal ini bertalian dengan hal-
hal didalam lingkungan sebuah perusahaan (hal-hal intern dari perusahaan)
maupun dengan kegiatan-kegiatan di dalam rangka masyarakat seperti
usaha menyusun koperasi, bank-bank dan sebagainya.

Tujuan pembelajaran 1.3:


Menganalisis dan mengaplikasikan fungsi produksi.

FUNGSI PRODUKSI
Fungsi produksi, yaitu suatu hubungan mathematis yang
menggambarkan suatu cara dimana jumlah dari hasil produksi tertentu
tergantung dari jumlah input tertentu yang digunakan. Suatu fungsi produksi
memberikan keterangan mengenai jumlah output yang mungkin diharapkan
apabila input-input dikombinasikan dalam suatu cara yang khusus. Macam-
macam kombinasi ini banyak macamnya. Macam hasil produksi dan
banyaknya hasil produksi yang akan diperoleh tergantung pada (merupakan
fungsi dari pada) macam dan jumlah input yang digunakan.
Fungsi produksi umumnya ditulis sebagai Y = f (X), dimana Y
menunjukkan hasil produksi; f sebelum tanda kurung menyatakan :
"tergantung" yaitu "suatu fungsi dari"; dan huruf X menunjukkan suatu input
yang digunakan. Apabila jumlah input yang digunakan lebih dari 1 maka
fungsi produksi tersebut dapat dituliskan : Y = f(X1, X2, ...., Xn); dimana X1,
X2, ..., Xn merupakan jenis input yang digunakan.
Asumsi-asumsi dari fungsi produksi tersebut adalah :
 Fungsi produksi bersifat kontinyu
 Fungsi produksi bernilai tunggal dari masing-masing variabel di dalamnya
 Derivasi I dan II fungsi ini tetap kontinyu
 Fungsi produksi harus relevan (bernilai positip) baik untuk input X
maupun output Y

108
 Penggunaan tehnologi adalah maksimal pada tingkatnya.
JENIS-JENIS FUNGSI PRODUKSI
b. Constant return, hubungan yang menunjukkan jumlah hasil produksi
meningkat dengan jumlah yang sama untuk setiap kesatuan tambahan
input.

Gambar 10.1 Kurva Constant Returns

b. Increasing return: hubungan dimana kesatuan tambahan input menghasilkan


suatu tambahan hasil produksi yang lebih besar dari kesatuan-kesatuan
sebelumnya.

Gambar 10.2 Kurva Increasing Returns


c. Decreasing return: hubungan yang mana kesatuan-kesatuan tambahan input
menghasilkan suatu kenaikan hasil produksi yang lebih kecil dari kesatuan-
kesatuan sebelumnya.

Gambar 10.3 Kurva Decreasing Returns


Returns

109
Tujuan pembelajaran 1.4:
Menganalisis dan mengaplikasikan teori produksi dengan satu faktor yang berubah

TEORI PRODUKSI DENGAN SATU FAKTOR YANG BERUBAH


Teori produksi yang sederhana menggambarkan tentang hubungan di antara tingkat
produksi suatu barang dengan jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan
berbagai tingkat pada produksi barang tersebut. Dalam analisis tersebut dimisalkan bahwa
faktor-faktor produksi lainnya adalah tetap jumlahnya, yaitu modal dan tanah jumlahnya
dianggap tidak mengalami perubahan. Juga teknologi dianggap tidak mengalami perubahan.
Satu-satunya faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya adalah tenaga kerja.
Hukum Hasil Lebih Yang Semakin Berkurang
Hukum hasil lebih yang semakin berkurang menyatakan bahwa apabila
faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya terus menerus ditambah
sebanyak satu unit, pada mulanya produksi total akan semakin banyak
pertambahannya, tetapi sesudah mencapai suatu tingkat tertentu produksi
tambahan akan semakin berkurang dan akhirnya mencapai nilai negative. Sifat
pertambahan produksi seperti ini menyebabkan. Bagaimana perusahaan akan
meminimumkan biaya dalam usaha nya untuk mencapai suatu tingkat produksi tertentu dapat
ditunjukan.

KURVA PRODUKSI SAMA ( ISOQUANT )


Misalkan seorang pengusaha ingin memproduksi suatu barang sebanyak 1000 unit.
Untuk memproduksi barang tersebut ia menggunakan tenaga kerja dan modal yang
penggunaannya dapat dipertukarkan. Dalam tabel 10.1 digambarkan empat gabungan tenaga
kerja dan modal yang akan menghasilkan produksi sebanyak 1000 unit.
TABEL 10.1 Gabungan Tenaga Kerja dan Modal untuk Menghasilkan 1000 Unit Produksi
Gabungan Tenaga Kerja Modal
A 1 6
B 2 3
C 3 2
D 4 1

Gabungan A menunjukkan bahwa 1 unit tenaga kerja dan 6 unit modal dapat
menghasilkan produksi yang diinginkan tersebut. Gabungan B menunjukkan bahwa yang

110
diperlukan adalah unit tenaga kerja dan 3 unit modal. Gabungan C menunjukkan bahwa
yang diperlukan adalah tenaga kerja dan 2 unit modal. Akhirnya gabungan D menunjukkan
bahwa yang diperlukan adalah 6 unit tenaga kerja dan 1 unit modal.

Gambar 10.4 Kurva Produksi Sama

Modal

6 A

B D = 4.000 unit
3

C C = 3.000 unit
2

D B = 2.000 unit
1
A = 1.000 unit
0
Tenaga Kerja
1 2 3 6

Kurva IQ dalam gambar 10.4 dibuat berdasarkan gabungan tenaga kerja dan modal
yang terdapat dalam tabel 8.1. Kurva tersebut dinamakan kurva produksi sama atau isoquant. Ia
menggambarkan gabungan tenaga kerja dan modal yang akan menghasilkan satu tingkat
produksi tertentu. Dalam contoh yang dibuat tingkat produksi terebut adalah 1000 unit. Di
samping itu didapati kurva IQ 1, IQ2, dan IQ3 yang terletak di atas kurva IQ. Ketiga kurva-
kurva lain tersebut menggambarkan tingkat produksi yang berbeda-beda, yaitu berturut-turut
sebanyak 2000 unit, 3000 unit, dan 4000 unit ( semakin jauh dari titik 0 letaknya kurva, semakin
tinggi tingkat produksi yang ditunjukkan). Masing-masing kurva yang baru tersebut
menunjukkan gabungan-gabungan tenaga kerja dan modal yang diperlukan untuk menghasilkan
tingkat produksi yang ditunjukkannya.

111
GARIS BIAYA SAMA ( ISOCOST)
Untuk menghemat biaya produksi dan memaksimumkan keuntungan, perusahaan
harus meminimumkan biaya produksi. Untuk membuat analisis mengenai peminimuman biaya
produksi perlulah dibuat garis biaya sama atau isocost. Garis ini menggambarkan gabungan
faktor-faktor produksi yang dapat diperoleh dengan menggunakan sejumlah biaya tertentu.
Untuk menentukan garis biaya sama data berikut diperlukan :
Harga faktor-faktor produksi yang digunakan.
Jumlah uang yang tersedia untuk membeli faktor-faktor produksi.

Gambar 10.5 Garis Biaya Sama ( Isocost)

6 TC3

5 TC2

TC2

4 TC

0
4 8 10 12 14
10

Tenaga Kerja

Contoh yang dibuat diatas misalkan upah tenaga kerja adalah Rp. 10.000 dan biaya
modal per unit dan biaya modal per unit adalah Rp. 20.000; sedangkan jumlah uang yang
tersedia Rp. 80.000. Garis TC dalam Gambar 10.5 menunjukan gabungan -gabungan tenaga
kerja dan modal yang dapat diperoleh dengan menggunakan Rp. 80.000 apabila upah tenaga
kerja dan biaya modal per unit adalah seperti yang dimisalkan di atas. Uang tersebut, apabila
digunakan untuk memperoleh “modal” saja akan memperoleh 80.000/20.000 = 4 unit, dan kalau
digunakan untuk memperoleh tenaga kerja saja akan memperoleh 80.000/10.000 = 8 unit.
Seterusnya titik A pada TC menunjukkan dana sebanyak Rp. 80.000 dapat digunakan untuk
memperoleh 2 unit modal dan 4 pekerja. Dalam Gambar 8.2 ditunjukkan beberapa garis biaya

112
sama yang lain yaitu TC1, TC2, dan TC3. Garis-garis itu menunjukkan garis biaya sama apabila
jumlah uang yang tersedia adalah Rp. 100.000, Rp. 120.000, dan Rp. 140.000.

C. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
1. Peningkatan produksi bisa dilakukan secara kuantitatif maupun kualitatif.
Jelaskan alasan dilakukannya peningkatan hasil produksi!
2. Sebutkan tahap-tahap yang ada dalam hukum hasil lebih yang semakin
berkurang dalam menyatakan hubungan antara tingkat produksi, dengan
jumlah tenaga kerja yang digunakan!
3. Hukum hasil lebih yang semakin berkurang berlaku manakala perusahaan
kurang menggunakan tenaga ahli dan tenaga kerja terdidik. Benarkah
pernyataan tersebut? Jelaskan alasan anda!
4. Suatu perusahaan usaha tani mempunyai pilihan kombinasi barang modal dan
tenaga kerja seperti ditunjukkan dalam tabel berikut untuk menghasilkan 100
ton beras.
Modal (Unit) Tenaga Kerja (Unit)
1 120
2 70
3 40
4 25
5 15

f. Upah tenaga kerja Rp 1.000 x dua angka terakhir NIM dan harga modal
seunit adalah Rp 2.000 x dua angka terakhir NIM. Hitunglah biaya yang
harus dibelanjakan perusahaan untuk menggunakan kombinasi tenaga
kerja dan barang-barang modal di atas. Yang manakah kombinasi modal
dan tenaga kerja yang paling murah?
g. Gambarkan kurva isoquant dan isoqost dari jawaban anda!
5. Peredaran gula ilegal semakin menjamur di Indonesia. Tentu saja. Siapa yang
tidak tertarik bermain dengan “si manis”? Komoditas ini mendatangkan
keuntungan sangat besar. Dengan bea masuk resmi saja, importir gula dapat
meraup untung hingga Rp200 per kilogram. Belum lagi, apabila didatangkan
melalui cara ilegal, ‘pemain’ bisnis gula dapat untung hingga Rp700,- per kg.

113
Akhirnya sudah bisa ditebak. Negara ditaksir menanggung kerugian hingga
triliunan rupiah setiap bulan. Tim Sigi SCTV mencoba menelisik lika-liku
penyelundupan gula ke Indonesia, baru-baru ini. Pada saat daerah lain di
Indonesia kesulitan karena gula pasir langka di pasaran, penduduk Kalimantan
Barat justru tenang-tenang saja. Hal ini karena pasokan gula pasir sangat
melimpah dan harganya juga relatif murah. Bagaimana bisa begitu?
Kalimantan Barat ternyata dibanjiri oleh gula impor asal Malaysia dan
Thailand. Penduduk di provinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia,
ini nyaris tidak dapat memperoleh pasokan gula pasir dari Pulau Jawa sebagai
sentra penghasil gula nasional. Sumber. www.liputan 6.com
a. Mengapa orang tertarik untuk mendatangkan gula secara ilegal?
b. Mengapa gula gampang diselundupkan ke Indonesia?
c. Menurut kalian cara apa saja yang dapat dilakukan untuk mencegah
terjadinya penyelundupan gula?

D. DAFTAR PUSTAKA
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Alam, S. 2007. EKONOMI. Jakarta: Erlangga.
Gilarso, T. 2003. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro Edisi Revisi. Yogyakarta :
Kanisius.
Mai, Candra dan Fitria Amalia. 2011. Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Esis.
Sudarman, Ari. 2000. Teori Ekonomi Mikro Buku 1. Yogyakarta: BPFE.
Sukirno, Sadono. 2011. Mikro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Sukirno Sadono. 2013. Mikroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.

114
PERTEMUAN 11:
BIAYA PRODUKSI

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:
1.1. Menganalisis teori biaya produksi.
1.2. Menghitung dan mengaplikasikan biaya produksi.
1.3. Menganalisis biaya peluang (opportunity cost).

B. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Menganalisis teori biaya produksi

TEORI BIAYA PRODUKSI

Pada bagian ini akan membahas tentang keputusan seorang produsen


di dalam memilik kombinasi faktor produksi (tenaga kerja; tanah, mesin, bahan
bakar dan lain sebagainya) dan teknologi yang digunakan untuk menghasilkan
produk dengan biaya serendah mungkin (least cost combination). Cara
produksi atau metode yang digunakan dengan biaya serendah mungkin
kadangkala berbeda-beda apabila jumlah yang dihasilkan juga berubah.
Misalnya, untuk menghasilkan 10 lemari akan berbeda caranya dengan
menghasilkan 1.000 lemari. Pada saat produksi lemari hanya 10, mungkin akan
lebih murah apabila menggunakan tenaga tukang kayu (dikerjakan secara
manual dengan tangan), sedangkan untuk membuat 1.000 lemari akan lebih
murah apabila menggunakan mesin. Dengan menggunakan mesin sederhana
untuk membuat 10 lemari meskipun sedikit mengurangi tukang kayu. Semakin
canggih teknologi yang dipakai, maka akan lebih sedikit jumlah tenaga kerja

115
yang digunakan meskipun tetap penggunaan tenaga kerja dibutuhkan untuk
melayani mesin tersebut.
Dengan kata lain, satu faktor produksi pada umumnya dapat digantikan
dengan yang lain, tetapi apakah produsen akan melakukan penggantian atau
tidak bergantung tingginya biaya tenaga kerja relatif terhadap mesin.
Kombinasi dua faktor produksi atau lebih tidak selamanya tetap, dipengaruhi
oleh teknologi juga.
Upaya untuk mencari biaya terendah untuk tingkat/jumlah produksi
terssebut tidak hanya berlaku bagi perusahaan yang mencari untung, akan
tetapi hal ini juga berlaku bagi kegiatan lain yang sifatnya tidak mencari untung
(nonprofit organization), seperti pendidikan, badan pemerintah atau bahkan
organisasi keagamaan. Dapat disimpulkan bahwa prinsip least cost
combination sangat luas sekali penggunaannya.

Tujuan pembelajaran 1.2:


Menghitung dan mengaplikasikan biaya produksi.

BIAYA PRODUKSI
Biaya produksi dapat didefinisikan sebagai semua pengeluaran yang
dilakukan oleh produsen untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan
mentah yang akan digunakan untuk menghasilkan barang yang diproduksi oleh
produsen tersebut.
Biaya produksi yang dikeluarkan oleh produsen dapat dibedakan
menjadi dua jenis, antara lain biaya eksplisit dan biaya tersembunyi (input
cost). Ongkos eksplisit merupakan pengeluaran perusahaan yang berupa
pembayaran dengan uang untuk mendapatkan faktor-faktor peoduksi dan bahan
mentah yang dibutuhkan untuk kegiatan produksi. Sedangkan biaya
tersembunyi (input cost) merupakan taksiran pengeluaran atas faktor-faktor
produksi yang dimiliki oleh perusahaan itu sendiri. Pengeluaran tersebut antara
lain pembayaran untuk keahlian keusahawanan produsen tersebut, modal
sendiri yang digunakan dalam perusahaan, dan bangunan perusahaan yang
dimilikinya. Cara menaksir biaya tersebut adalah dengan menaksir pengelaran

116
seperti itu dengan melihat pendapatan yang paling tinggi diperoleh apabila
produsen itu bekerja di perusahaan lain, modalnya dipinjamkan atau
diinvestasikan dalam kegiatan lain, dan bangunan disewakan kepada pihak lain.
Analisis biaya produksi perusahaan dibedakan dalam dua jangka,
yaitu:
a. Biaya Produksi Dalam Jangka Pendek
Jangka pendek merupakan jangka waktu di mana sebagian faktor
produksi tidak dapat ditambah jumlahnya.
b. Biaya Produksi Dalam Jangka Panjang
Jangka panjang merupakan jangka waktu di mana semua faktor
produki yang digunakan dapat mengalami perubahan. Apabila jumlah
suatu faktor produksi yang digunakan selalu berubah-ubah, maka biaya
produksi yang dikeluarkan juga berubah-ubah. Sebaliknya apabila jumlah
faktor produksi yang digunakan tetap, maka biaya produksi yang
digunakan untuk memperolehnya juga tetap nilainya. Dengan demikian
keseluruhan jumlah biaya produksi yang dikeluarkan produsen dapat
dibedakan menjadi biaya tetap dan biaya yang selalu berubah-ubah.
Analisis kita mengenai biaya produksi juga akan memperhatikan
tentang (i) biaya produksi rata-rata, yang meliputi: biaya produksi total
rata-rata, biaya produksi tetap rata-rata, dan biaya produksi berubah rata-
rata; dan (ii) biaya produksi marginal, yaitu tambahan biaya produksi yang
harus dikeluarkan untuk menambah satu unit produksi. Berikut lebih rinci
penjelasan mengenai biaya produksi.
1. Biaya total (Total Cost / TC). Biaya total merupakan keseluruhan
jumlah biaya produksi yang dikeluarkan(. Biaya total dapat diperoleh
dari menjumlahkan antara biaya tetap total (Total Fixed Cost / TFC)
dan biaya berubah total (Total Variabel Cost / TVC). Dengan
demikian biaya total dapat dihitung dengan menggunakan rumus
berikut.
TC = TFC + TVC
2. Biaya tetap total (Total Fixed Cost / TFC). Biaya tetap total adalah
keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi

117
yang jumlahnya tidak dapat diubah jumlahnya. Misalnya, supaya
perusahaan aman produsen menggaji tenaga keamanan, supaya
perusahaan tidak gelap gulita meskipun tidak ada kegiatan produksi
maka produsen tetap mengeluarkan biaya listrik kantor, supaya
perusahaan tetap bersih perusahaan mengeluarkan honor tenaga
kebersihan. Besarnya TFC tidak dipengaruhi oleh banyak sedikitnya
jumlah produksi. Dengan demikian, ada kegiatan produksi ataupun
tidak ada kegiatan produksi seorang produsen tetap mengeluarkan TFC.
3. Biaya berubah total (Total Variabel Cost / TVC). Biaya berubah total
merupakan keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh
faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya. Contoh biaya tetap
adalah tenaga kerja bagian produksi yang besarnya tergantung
banayaknya tenaga kerja yang digunakan, biaya bahan baku besarnya
dipengaruhi oleh benyaknya bahan baku yang digunakan untuk kegiatan
produksi, dan biaya listrik pabrik yang berkaitan dengan seberapa
banyak mesin yang digunakan. Semakin banyak produksi dan
penggunaa mesin, maka semakin banyak pula besarnya TVC.
4. Biaya tetap rata-rata (Average fixed cost / AFC). Apabila biaya tetap
total (TFC) untuk memproduksi sejumlah tertentu (Q) dibagi dengan
jumlah produksi yang dihasilkan, maka nilai yang diperoleh merupakan
biaya tetap rata-rata (Average fixed cost / AFC). Dengan demikian
rumus untuk menghitung biaya tetap rata-rata adalah sebagai berikut.
TFC
AFC 
Q
5. Biaya berubah rata-rata (Average variabel cost / AVC). Apabila
biaya berubah total (TVC) untuk memproduksi sejumlah tertentu (Q)
dibagi dengan jumlah produksi yang dihasilkan, maka nilai yang
diperoleh merupakan biaya berubah rata-rata (Average variabel cost /
AVC). Dengan demikian rumus untuk menghitung biaya tetap rata-rata
adalah sebagai berikut.
TVC
AVC 
Q

118
6. Biaya total rata-rata (average cost / AC). Apabila biaya (TC) untuk
memproduksi sejumlah tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi
tersebut, maka nilai yang diperoleh adalah biaya total rata-rata (Average
cost / AC). Dengan demikian rumus untuk menghitung biaya total rata-
rata adalah sebagai berikut.
TC
AC  atau AC = AFC + AVC
Q
7. Biaya marginal (marginal cost / MC). Kenaikan ongkos produksi
yang dikeluarkan utntuk menambah satu unit output tertentu dinamakan
biaya marginal. Dengan demikian, biaya produksi marginal dapat dicari
dengan menggunakan rumus berikut.
MCn = TCn – TCn-1

Di mana MCn adalah biaya marginal produksi ke-n, TCn adalah biaya
total pada waktu jumlah produksi adalah n, dan TCn-1 adalah ongkos
produksi total pada waktu jumlah produksi n-1. Lebih mudah dipahami,
jumlah produksi n adalah jumlah produksi saat ini. Sedangkan jumlah
produksi n-1 adalah jumlah produksi sebelumnya. Persamaan yang
sering banyak digunakan untuk menghitung biaya marginal adalah:
MCn = ΔTC/ΔQ
Di mana:
MCn : Biaya marginal produksi ke-n
ΔTC : Pertambahan jumlah produksi total
ΔQ : Pertambahan jumlah produksi

119
BENTUK KURVA BIAYA PRODUKSI JANGKA PENDEK
Gambar 11.1 Kurva Biaya Produksi Jangka Pendek

TC

TVC

TFC

Kurva TFC bentuknya adalah horizontal karena nilainya tidak berubah


walau berapa pun banyaknya barang yang diproduksi. Sedangkan kurva TVC
bermula dari titik nol (0) dan semakin lama semakin bertambah tinggi. Hal ini
menggambarkan bahwa (i) waktu tidak ada produksi TVC = 0, dan (ii) semakin
besar produksi semakin besar pula nilai biaya produksi total (TVC). Sedangkan
kurva TC menggambarkan hasil penjumlahan kurva TFC dan TVC. Oleh sebab
itu, kurva TV bermula dari pangkal TFC, dan kalau ditarik garis tegak di antara
TVC dan TC panjang garis itu adalah sama dengan jarak di antara kurva TFC
dengan sumbu datar.

SYARAT PEMAKSIMUMAN KEUNTUNGAN


Biaya marginal memegang peranan yang sangat penting di dalam
pertimbangan seorang produsen ketika akan menentukan jumlah produksi yang
perlu dihasilkan. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tujuan dari seorang
produsen adalah untuk memaksimumkan keuntungan. Dua cara yang dapat
digunakan utnuk menentukannya, yaitu:
1. Dengan memproduksi barang pada tingkat di mana perbedaan di antara
penjualan total dengan biaya total adalah yang paling maksimum.

120
Keuntungan adalah perbedaan di antara hasil penjualan total dengan biaya
total. Dengan demikian, keuntungan maksimum apabila perbedaan di antara
dua faktor di atas mencapai maksimum.
2. Dengan memproduksi barang pada tingkat di mana hasil penjualan marginal =
biaya marginal (MR = MC).
Misalkan seorang pengusaha sudah memproduksi 10 unit produksinya, dan
memikirkan untuk menaikkan produksi satu unit lagi. Biaya tambahan
(marginal cost / MC) yang ahrus dikeluarkan adalah Rp 900 dan hasil
penjualannya akan bertambah sebanyak Rp. 1.300. karena ia ingin
memaksimumkan keuntungan, produksi akan ditambah satu unit lagi. Langkah
ini menyebabkan keuntungannya bertambah sebanyak (Rp. 1300 - Rp 900)
yaitu Rp 400.
Sekarang dimisalkan produsen tersebut telah memproduksi 15 unit, dan
memikirkan untuk menambah produksi satu unit lagi. Biaya produksi
tambahan adalah Rp. 900. Produksi tambahan menambah hasil penjualan
sebanyak Rp. 900, apakah tindakan pengusaha? Tidak ada salahnya kalau
pengusaha itu meneruskan rencananya, tetapi untungnya tidak akan bertambah
atau berkurang, karena biaya produksi tambahan yang dibayarkannyabadalah
sama dengan tambahan hasil penjualan yang diperolehnya.
Keadaan di mana biaya produksi marginal adalah sama dengan hasil penjualan
marginal, tingkat produksi yang dicapai adalah tingkat produksi yang akan
menghasilkan keuntungan yang paling maksimum.

Tujuan pembelajaran 1.3:


Menganalisis Menganalisis biaya peluang (opportunity cost).

BIAYA PELUANG
Walaupun biaya peluang (opportunity cost) terkadang sulit untuk
dihitung, efek dari biaya peluang sangatlah universal dan nyata pada tingkat
perorangan. Bahkan, prinsip ini dapat diaplikasikan kepada semua keputusan,
dan bukan hanya bidang ekonomi. Sejak kemunculannya dalam karya seorang

121
ekonom Jerman bernama Freidrich von Wieser, sekarang biaya peluang dilihat
sebagai dasar dari teori nilai marjinal.
Biaya peluang merupakan salah satu cara untuk melakukan perhitungan
dari sesuatu biaya. Bukan saja untuk mengenali dan menambahkan biaya ke
proyek, tetapi juga mengenali cara alternatif lainnya untuk menghabiskan suatu
jumlah uang yang sama. Keuntungan yang akan hilang sebagai akibat dari
alternatif terbaik lainnya; adalah merupakan biaya peluang dari pilihan
pertama.
Sebuah contoh umum adalah seorang petani yang memilih mengolah
pertaniannya dibandingkan dengan menyewakannya ke tetangga. Maka, biaya
peluangnya adalah keuntungan yang hilang dari menyewakan lahan tersebut.
Dalam kasus ini, sang petani mungkin mengharapkan untuk mendapatkan
keuntungan yang lebih besar dari pekerjaan yang dilakukannya sendiri. Begitu
juga dengan memasuki universitas dan mengabaikan upah yang akan diterima
jika memilih menjadi pekerja, yang dibanding dengan biaya pendidikan, buku,
dan barang lain yang diperlukan (sebagai biaya total dari kehadirannya di
universitas). Contoh lainnya ialah biaya peluang dari melancong ke Bahamas,
yang mungkin merupakan uang untuk pembayaran cicilan rumah.
Perlu diingat bahwa biaya peluang bukanlah jumlah dari alternatif yang
ada, melainkan lebih kepada keuntungan dari suatu pilihan alternatif yang
terbaik. Biaya peluang yang mungkin dari keputusan sebuah kota membangun
rumah sakit di lahan kosong, merupakan kerugian dari lahan untuk gelanggang
olahraga, atau ketidakmampuan untuk menggunakan lahan menjadi sebuah
tempat parkir, atau uang yang bisa didapat dari menjual lahan tersebut, atau
kerugian dari penggunaan-pengguaan lainnya yang beragam, tapi bukan
merupakan agregat dari semuanya (ditotalkan). Biaya peluang yang
sebenarnya, merupakan keuntungan yang akan hilang dalam jumlah terbesar
diantara alternatif-alternatif yang telah disebutkan tadi.
Satu pertanyaan yang muncul dari ini ialah bagaimana menghitung
keuntungan dari alternatif yang tidak sama. Kita harus menentukan sebuah nilai
uang yang dihubungkan dengan tiap alternatif untuk memfasilitasi
pembandingan dan penghitungan biaya peluang, yang hasilnya lebih-kurang

122
akan menyulitkan untuk dihitung, tergantung dari benda yang akan kita
bandingkan. Contohnya, untuk keputusan-keputusan yang melibatkan dampak
lingkungan, nilai uangnya sangat sulit untuk dihitung karena ketidakpastian
ilmiah. Menilai kehidupan seorang manusia atau dampak ekonomi dari
tumpahnya minyak di Alaska, akan melibatkan banyak pilihan subyektif
dengan implikasi etisnya.

C. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
1. Jelaskan mengapa kenaikan biaya produksi dapat menyebabkan inflasi?
2. Apa yang harus dilakukan produsen apabila kasus soal no 1 terjadi (studi
kasus di Indonesia)?
3. Supaya terjadi keseimbangan maksimum seorang produsen harus berada
dalam posisi MR > MC. Benarkah pernyataan tersebut? Berikan alasannya!
4. Perhatikan data berikut:

Tenaga Produksi Fixed Variable Price Total Total Marjinal Marjinal


Kerja Total Cost Cost (P) Cost Revenue Cost Revenue
(L) (Q) (FC) (VC) (TC) (TR) (MC) (MR)

0 0 3000 0 5

1 100 3000 1000 5

2 200 3000 2000 5

3 300 3000 3000 5

4 400 3000 4000 5

5 500 3000 5000 5

Dengan mengalikan FC, VC, dan P dengan tiga angka NIM terakhir masing-
masing, maka jawablah pertanyaan berikut:
a.Tentukan nilai TC, TR, MC dan MR! (lengkapi dengan kurvanya)
b.Apakah produksi tersebut mengalami laba/rugi? Jelaskan!
5. Sebuah pabrik Sandal dengan Merk " Idaman" mempunyai biaya tetap (FC) =
2.000.000; biaya untuk membuat sebuah sandal Rp 500; apabila sandal
tersebut dijual dengan harga Rp 1.000, maka:

123
Ditanya:
a. Fungsi biaya total (C), fungsi penerimaan total ( TR) dan Variable Cost.
b. Pada saat kapan pabrik sandal mencapai BEP.
c. Untung atau rugikah apabila memproduksi 9.000 unit.

D. DAFTAR PUSTAKA
Abdulrasul, Agung. 2013. Ekonomi Mikro. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Aicholas, Walter. 1995. Teori Mikro Ekonomi. Jakarta Barat: Bima Pusara
Aksara.
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Gilarso, T. 2003. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro Edisi Revisi. Yogyakarta :
Kanisius.
Mai, Candra dan Fitria Amalia. 2011. Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Esis.
Rosyidi, Suherman. 2005. Pengantar Teori Ekonomi. Surabaya: PT Raja
grafindo Persada.
Salvatore, Dominick. 1994. Mikro Ekonomi. Jakarta: Erlangga.
Sudarman, Ari. 2000. Teori Ekonomi Mikro Buku 1. Yogyakarta: BPFE.
Sukirno, Sadono. 2008. Mikro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada
Sumarsono, Sonny. 2012. Pengantar Ekonomi Mikro. Jember: Laboratorium
Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Jember.
Sunarwo, Hendri. 2013. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta: Caps.

124
PERTEMUAN 12:
PASAR PERSAINGAN SEMPURNA

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:

1.1 Mengidentifikasi karakteristik persaingan sempurna.


1.2 Menganalisis kelebihan dan kelemahan dalam persaingan sempurna.
1.3 Menganalisis dan mengaplikasikan pemaksimum keuntungan.

B. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Mengidentifikasi karakteristik persaingan sempurna.

PENGERTIAN PASAR PERSAINGAN SEMPURNA


Pasar secara sederhana merupakan tempat pertemuan antara penjual dan
pembeli untuk melakukan transaksi jual-beli barang dan jasa. Adapun pasar
menurut kajian Ilmu Ekonomi memiliki pengertian sebagai suatu tempat atau
proses interaksi antara permintaan (pembeli) dan penawaran (penjual) dari
suatu barang/jasa tertentu, sehingga akhirnya dapat menetapkan harga
keseimbangan (harga pasar) dan jumlah yang diperdagangkan. Jadi setiap
proses yang mempertemukan antara pembeli dan penjual, maka akan
membentuk harga yang disepakati antara pembeli dan penjual.
Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat pasar dalam bentuk
fisik seperti pasar barang (barang konsumsi). Aktivitas usaha yang dilakukan di
pasar pada dasarnya akan melibatkan dua subyek pokok, yaitu produsen dan
konsumen. Kedua subyek tersebut masing-masing mempunyai peranan yang
sangat besar terhadap pembentukan harga barang di pasar. Dalam pembahasan
ini kita fokuskan pada pembahasan pasar persaingan sempurna.
Persaingan sempurna merupakan struktur pasar yang paling ideal
karena dianggap sistem pasar ini adalah struktur pasar yang akan menjamin

125
terwujudnya kegiatan memproduksi barang atau jasa yang tinggi (optimal)
efisiensinya. Perekonomian merupakan pasar persaingan sempuma. Akan tetapi
dalam prakteknya tidaklah mudah untuk menentukan jenis industri yang
struktur organisasinya digolongkan kepada persaingan sempurna yang murni,
yaitu yang ciri-cirinya sepenuhnya bersamaan dengan dalam teori. Yang ada
adalah yang mendekati ciri-cirinya, yaitu struktur pasar dari berbagai kegiatan
disektor pertanian. Namun demikian, walaupun pasar persaingan sempurna
yang murni tidak wujud di dalam praktek.
Pasar persaingan sempurna dapat didefinisikan sebagai struktur pasar
atau industri dimana terdapat banyak penjual dan pembeli. Dan setiap penjual
ataupun pembeli tidak dapat mempengaruhi keadaan di pasar. Contoh pasar
persaingan sempurna antara lain pasar di bursa efek atau pasar modal atau
pasar uang.

CIRI-CIRI PASAR PERSAINGAN SEMPURNA


d. Setiap perusahaan adalah “pengambil harga”
Sebagai pengambil harga artinya suatu perusahaan yang ada di dalam
pasar tidak dapat menentukan atau merubah harga pasar. Adapun perusahaan di
dalam pasar tidak akan menimbulkan perubahan ke atas harga pasar yang
berlaku. Harga barang di pasarditentukan oleh interaksi diantara keseluruhan
produsen dan keseluruhan pembeli.
h. Setiap perusahaan mudah keluar atau masuk
Mudah keluar masuk pasar artinya sekiranya perusahaan mengalami
kerugian, dan ingin meninggalkan industri tersebut, langkah ini dengan mudah
dilakukan. Sebaliknya apabila ada produsen yang ingin melakukan kegiatan di
industri tersebut. Produsen tersebut dapat dengan mudah melakukan kegiatan
tersebut.

126
i. Setiap perusahaan menghasilkan barang yang sama
Artinya bahwa barang yang dihasilkan berbagai perusahaan tidak
mudah untuk dibeda-bedakan. Pembeli tidak dapat membedakan yang mana
dihasilkan oleh produsen A atau B.
j. Banyak perusahaan dalam pasar
Artinya karena jumlah perusahan sangat banyak dan relatif kecil jika
dibandingkan dengan jumlah produksi dalam industri tersebut. Menyebabkan
kenaikan atau penurunan harga, sedikitpun tidak mempengaruhi harga yang
berlaku dalam pasar tersebut.
k. Pembeli mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang keadaan di
pasar
Artinya bahwa pembeli mengetahui tingkat harga yang berlaku dan
perubahanperubahan ke atas harga tersebut. Sehingga produsen tidak dapat
menjual barangnya dengan harga yang lain lebih tinggi dan pada yang berlaku
di pasar.

Tujuan pembelajaran 1.2:


Menganalisis kelebihan dan kelemahan dalam persaingan sempurna.

Kelebihan dan Kelemahan Persaingan Sempurna


a. Kelebihan pasar persaingan sempurna
 Pembeli sangat mengetahui harga pasar sehingga sangat kecil terjadi
kerugian atau kekecewaan.
 Konsumen merasa sejahtera, karena bebas memasuki pasar.
 Terdapat persaingan murni, karena barang yang diperjualbelikan
homogen.
 Harga cenderung stabil, karena keadaan pasar dapat diketahui
sebelumnya.
 Mudah memilih atau menentukan barang yang diperjualbelikan.
 Barang yang diproduksi dapat diperoleh dengan ongkos yang serendah-
rendahnya.
b. Kelemahan / kekurangan pasar persaingan sempurna

127
 Persaingan sempurna tidak mendorong inovasi.
 Persaingan sempurna adakalanya menimbulkan biaya sosial.
 Membatasi pilihan konsumen.
 Biaya produksi dalam persaingan sempurna mungkin lebih tinggi.
 Distribusi pendapatan tidak selalu merata.

Tujuan pembelajaran 1.1:


Menganalisis dan mengaplikasikan pemaksimum keuntungan jangka
pendek.

Macam-Macam Penerimaan
a. Total Penerimaan (Total Revenue)
Total Revenue di singkat TR atau juga bisa disebut dengan total
penerimaan yaitu penerimaan dari hasil penjualan.
TR = P x Q
b. Penerimaan Rata-rata (Avarage Total Revenue)
Average Total Revenue yang disingkat AR atau yang lebih dikenal
sebagai penerimaan rata-rata yaitu adalah rata-rata penerimaan dari per satuan
produk yang dijual atau yang dihasilkan, dan yang diperoleh dengan jalan
membagi hasil total penerimaan dengan jumlah satuan barang yang dijual.
Dengan demikian rumus untuk menghitung penerimaan rata-rata adalah
sebagai berikut.
TR
ATR 
Q
c. Penerimaan Marginal (Marginal Revenue)
Marginal Revenue yang disingkat MR atau juga bisa disebut dengan
penerimaan marginal adalah suatu penambahan penerimaan atas TR sebagai
akibat penambahan satu unti output.
MRn = TRn – TRn-1

Di mana MRn adalah penerimaan marginal produksi ke-n. TRn adalah


penerimaan total pada waktu jumlah produksi adalah n, dan TRn-1 adalah

128
penerimaan total pada waktu jumlah produksi n-1. Lebih mudah dipahami,
jumlah produksi n adalah jumlah produksi saat ini. Sedangkan jumlah produksi
n-1 adalah jumlah produksi sebelumnya. Persamaan yang sering banyak
digunakan untuk menghitung biaya marginal adalah:
MRn = ΔTR/ΔQ
Di mana:
MRn : Penerimaan marginal produksi ke-n
ΔTR : Pertambahan penerimaan total
ΔQ : Pertambahan jumlah produksi

KEUNTUNGAN MAKSIMUM
a. Permintaan dan Hasil Jualan
Didalam menganalisis usaha sesuatu perusahaan untuk memaksimumkan
keuntungan ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu:
 Biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan
 Hasil penjualan dari barang yang dihasilkan perusahaan itu.
b. Permintaan Pasar dan Perusahaan
Hasil penjualan marginal, rata-rata dan total, terbagi menjadi beberapa
bagian yaitu diantaranya adalah:
 Hasil pendekatan total
 Hasil pendekatan marginal
 Hasil pendekatan rata-rata
Pendekatan Total
Q P TR TC LABA
MAKSIMUM
0 30 0 50 -50
10 30 300 400 -100
20 30 600 600 0
30 30 900 825 75
40 30 1200 1100 100
50 30 1500 1300 200
60 30 1800 1500 300
70 30 2100 2000 100
80 30 2400 2500 -100

Tabel 12.1 Mencari Keuntungan Maksimum dengan Pendekatan Total

129
Gambar 12.1 Kurva Mencari Keuntungan Maksimum dengan Pendekatan Total

Pendekatan Marginal
Q TR TC AC MR MC LABA
MAKSIMUM
0 0 50
30 35
10 300 400 40
30 20
20 600 650 32,5
30 22,5
30 900 875 29,2
30 15
40 1200 1025 25,6
30 20
50 1500 1225 24,5
30 30 Keuntungan
60 1800 1525 25,4 Maksimum
30 40
70 2100 1925 27,5
30 50
80 2400 2425 30,3

Tabel 12.2 Mencari Keuntungan Maksimum dengan Pendekatan Marginal

130
Gambar 12.2. Kurva Mencari Keuntungan Maksimum dengan Pendekatan Marginal

Contoh soal:
Dari kurva di atas, misalnya diketahui:
Harga di pasar (P) = $30.
Average Cost (AC) = $22,5
Kuantitas (Q) = 55
Maka berapa keuntungan/kerugian yang diterima oleh produsen?

Jawaban:
Dari data diketahui bahwa P > AC menunjukkan produsen mengalami
keuntungan. Syarat keseimbangan masimum MR = MC. Maka cara mengetahui
keuntungan maksimum berikut langkahnya.
a. Langkah 1 mencari besarnya total penerimaan (Total Revenue/TR)
TR = P x Q
TR = 30 x 55
TR = 1.650
b. Langkah 2 mencari besarnya (Total Cost/TC)
TC
C 
Q

131
TC
22,5 
55
TC = 1.237,5
c. langkah 3 menentukan laba maksimum
TR > TC = laba (Л)
laba (Л) = TR – TC
laba (Л) = 1.650 - 1.237,5
laba (Л) = 412,5
jadi segi empat yang diarsir dari kurva di atas dapat diketahui bahwa
laba/keuntungan yang diterima produsen sebesar 412,5.

PEMAKSIMUMAN JANGKA PENDEK


Dalam bagian ini secara serentak akan ditunjukan contoh angka tentang
biaya produksi, hasil penjualan dan penentuan keuntungan. Dalam contoh ini akan
ditunjukan (i) cara menghitung biaya total, biaya rata-rata dan biaya marginal, (ii)
cara menghitung hasil penjualan total, penjualan rata-rata dan penjualn marginal,
dan (iii) menunjukan caranya sesuatu perusahaan menentukan tingkat produksi
yang akan memaksimumkan keuntungan.
Sebelum hal-hal yang dinyatakan diatas ditunjukan dan diterangkan, akan
dirumuskan dua cara untuk menentukan pemaksimuman keuntungan oleh suatu
perusahaan.
Syarat Pemaksimuman Keuntungan
Di dalam jangka pendek, pemaksimuman untung oleh suatu perusahaan
dapat diterangkan dengan dua cara berikut:
 Membandingkan hasil penjuala total dengan biaya total
 Menunjukan keadaan dimana hasil penjualan marginal sama dengan biaya
marginal.
Dalam cara pertama keuntungan ditentukan dengan menghitung dan
membandingkan hasil penjualan total dengan biaya total. Keuntungan adalah
perbedaan antara hasil penjualan total yang diperoleh dengan biaya total yang
dikeluarkan. Keuntungan akan mencapai maksimum apabila perbedaan antara

132
keduanya adalah maksimum. Maka dengan cara yang pertama ini keunntungan
yan maksimum akan dicapai apabila perbedaan nilai antra hasil penjualan total
dengan biaya total adalah yang paling maksimum.
Cara yang kedua adalah dengan menggunakan bantuan kurva atau data
biaya rata-rata dan biaya marginal. Pemaksimuman keuntungan dicapai pada
tingkat produksi dimana hasil penjualan marginal (MR) sama dengan biaya
marginal (MC) atau MR=MC. Suatu perusahaan akan menambah keuntungan
apabila menambah produksi pada ketika MR>MC yaitu hasil penjualan marginal
(MR) melebihi biaya marginal (MC). Dalam keadaan ini pertambahan produksi
dan penjualan akan menambah keuntungan. Dalam keadaan sebaliknya, yaitu
apabila MR < MC, mengurangi produksi dan mpenjualan akan menambah untung.
Maka keuntungan maksimum dicapai dalam keadaan dimana MR=MC berlaku.

C. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
1. Mengapa kurva permintaan perusahaan dalam pasar persaingan sempurna
berbentuk horisontal?
2. Didalam pasar persaingan sempurna, pasar tidak berkembang karena
kurangnya inovasi. Benarkah pernyataan tersebut? Berikan alasannya!
3. Jika harga produk yang dihasilkan perusahaan di pasar persaingan sempurna
lebih kecil daripada biaya rata-rata, tetapi harga produk lebih besar daripada
biaya variabel rata-rata. Apa saran anda kepada perusahaan tersebut. Lebih
baik menutup usahanya atau tetap berproduksi? Jelaskan disertai argumentasi!
4. Dalam pasar persaingan sempurna, distribusi pendapatan tidak selalu merata.
Jelaskan mengapa demikian disertai peran pemerintah meminimalisir
permasalahan tersebut!
5. Diketahui data sebagai berikut:
Harga (P) = $50
Total Variabel Cost (TVC) = $10
Total Fixed Cost (TFC) = $15
Kuantitas (Q) = 20

133
Dengan mengalikan besarnya P, TVC, TFC dan Q di atas dengan tiga angka
NIM terakhir masing-masing maka tentukan:
a. Besarnya TR, TC dan AC
b. Besarnya keuntungan atau kerugian perusahaan
c. Kurva keuntungan atau kerugian perusahaan

D. DAFTAR PUSTAKA
Abdulrasul, Agung. 2013. Ekonomi Mikro. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Gilarso, T. 2003. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro Edisi Revisi. Yogyakarta :
Kanisius.
Mai, Candra dan Fitria Amalia. 2011. Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Esis.
Nuraini, Ida. 2001. Pengantar Ekonomi Mikro. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang.
Rosyidi, Suherman. 2005. Pengantar Teori Ekonomi. Surabaya: PT Raja grafindo
Persada.
Sukirno, Sadono.2005.Mikroekonomi Teori Pengantar (edisi ketiga). Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada.
Sumarsono, Sonny. 2012. Pengantar Ekonomi Mikro. Jember: Laboratorium
Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Jember.
Sunarwo, Hendri. 2013. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta: Caps.

134
PERTEMUAN 13:
PASAR MONOPOLI

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:

1.1 Mengidentifikasi ciri-ciri pasar monopoli.


1.2 Menganalisis penyebab munculnya monopoli.
1.3 Menganalisis dan mengaplikasikan keputusan output dan harga.
1.4 Menganalisis kebijakan pemerintah tentang monopoli.

B. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Mengidentifikasi ciri-ciri pasar monopoli.

PENGERTIAN PASAR MONOPOLI


Dalam pasar persaingan sempurna, sejumlah besar penjual dan pembeli
suatu produk memastikan bahwa tidak satupun penjual atau pembeli dapat
mempengaruhi harga. Dalam hal ini, kekuatan penawaran dan permintaan yang
menentukan harga. Produsen secara sendiri-sendiri menerima harga sebagai dasar
menentukan berapa banyak yang harus mereka produksi. Demikian halnya
konsumen mengambil harga pasar dalam mempertimbangkan beberapa barang
atau jasa yang dibeli.
Pada sisi lain, pasar monopoli adalah bentuk pasar yang bertolak belakang
dengan pasar persaingan sempurna. Monopoli adalah suatu bentuk pasar di mana
hanya terdapat satu perusahaan yang menjual barang atau jasa di pasar, serta
barang atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut tidak memiliki barang
pengganti yang dekat.

Pada bagian ini kita akan menganalisis perilaku seorang monopoli karena
monopoli adalah satu-satunya produsen atas suatu produk, dan kurva permintaan

135
yang dihadapinya adalah kurva permintaan pasar. Kurva permintaan pasar dalam
hal ini menghubungkan harga yang diterima oleh pelaku monopoli dengan jumlah
produk yang akan ditawarkan untuk dijual. Jadi bagian ini akan melihat
bagaimana pemain monopoli dapat memanfaatkan pengendalian harga dan jumlah
yang memaksimalkan keuntungan, berbeda dengan yang seharusnya terjadi pada
pasar persaingan sempurna.
Pada umumnya, jumlah produk yang ditawarkan oleh perusahaan
monopoli lebih sedikit dan harganya lebih tinggi disbanding dengan jumlah dan
harga pada pasar persaingan sempurna. Oleh karena itu, dalam konteks monopoli
masyarakat akan terbebani biaya karena lebih sedikit konsumen membeli produk
tertentu, dan konsumen membeli dengan harga yang lebih mahal. Hal itulah yang
menyebabkan pada beberapa negara membuat undang-undang anti monopoli yang
melarang perusahaan untuk melakukan monopoli pada sebagian besar pasar.

CIRI-CIRI PASAR MONOPOLI


Pasar monopoli memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan pasar persaingan
sempurna. Berikut ini adalah ciri-ciri perusahaan monopoli.
a. Pasar monopoli adalah industri satu perusahaan.
Artinya bahwa barang-barang atau jasa yang dihasilkan tidak dapat dibeli dari
tempat lain. Para pembeli tidak punya pilihan lain, kalau mereka
menginginkan barang tersebut, maka mereka harus membeli dari perusahaan
tersebut, maka mereka harus membeli dari perusahaan tersebut. Para pembeli
tidak dapat berbuat suatu apapun di dalam menentukan syarat jual beli.
b. Tidak mempunyai barang pengganti yang “mirip”.
Artinya barang yang dihasilkan perusahaan tidak dapat digantikan oleh barang
lain yang ada dalam perekonomian, begitu pula dengan kegunaannya.
c. Sangat sulit bagi perusahaan lain untuk masuk dalam industri.
Artinya keuntungan yang diperleh perusahaan monopoli tidak mendorong
perusahaan lain untuk ikut dalam industri tersebut disebabkan karena banyak
hambatan yang cukup kuat. Ciri ini merupakan sebab utama yang
menyebabkan perusahaan memiliki kekuatan monopoli. Apabila ciri ini tidak

136
ada, maka tidak aka nada perusahaan monopoli karena tanpa adanya halangan
yang besar, maka perusahaan lain akan turut dalam industri tersebut.
d. Menguasai penentuan harga.
Artinya karena perusahaan monopoli merupakan satu-satunya penjual didalam
pasar, maka penentuan harga dapat dikuasai.
e. Mempromosikan penjualan secara iklan kurang diperlukan.
Artinya karena perusahaan monopoli merupakan satu-satunya perusahaan di
dalam industri, maka perusahaan tersebut tidak perlu melakukan promosi
penjualan secara iklan.

Tujuan pembelajaran 1.2:


Menganalisis penyebab munculnya monopoli.

PENYEBAB MUNCULNYA MONOPOLI


Penyebab munculnya perusahaan monopoli adalah karena hambatan
masuk dalam industri. Hambatan untuk masuk ini muncul karena tiga hal, yaitu
sebagai berikut.
a. Penguasaan sumber daya
cara paling mudah bagi perusahaan untuk melakukan monopoli adalah
dengan menguasai sumber daya pokok. Dalam kodisi ekonomi dewasa ini
dengan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh banyak orag, di mana banyak
barang yang diperdagangkan secara internasional, maka ruang lingkup alamiah
dari pasar adalah seluruh dunia. Oleh karena itu, hanya sedikit perusahaan yang
memiliki sumber daya yang tidak tergantikan.
b. Monopoli yang diciptakan oleh perusahaan
Dalam banyak kasus, moopoli terjadi karena pemerintah telah
memberikan hak eksklusif kepada seseorang atau kepada suatu perusahaan untuk
menjual barang atau asa. Tidak jarang monopoli timbul karena pengaruh politik
yang dimiliki calon pelaku monopoli. Pada masa lalu, raja-raja memberikan izin
khusus untuk berbisnis hanya kepada teman dan sekutu mereka. Di samping itu,
pemerintah juga dapat memberikan apabila dipandang sesuai dengan keinginan
publik. Hak paten dan hak cipta merupakan dua contoh penting tentang

137
bagaimana pemerintah menciptakan monopoli dalam upaya untuk memenuhi
kebutuhan publik.
Monopoli karena hak paten dan hak cipta memiliki dampak positif dan
negatif. Sisi positif atas hak paten dan hak cipta adalah adanya insentif yang lebih
tinggi utuk mendorong kreativitas. Sementara sisi negatif muncul akibat yang
ditentukan monopoli tersebut mungkin memberatkan konsumen.
Di Indonesia, Perusahaan Listrik Negara (PLN) adalah satu bentuk
perusahaan monopoli yang diciptakan oleh negara. Perusahaan-perusahaa lain
sangat sulit untuk memasuki industri listrik karena adanya hambatan (barrier to
entry) dimana PLN diberi hak monopoli berdasarkan Undang-Undang.
c. Monopoli alamiah
Monopoli alamiah terjadi apabila suatu perusahaan dapat menyediakan
barang atau jasa pada seluruh pasar yang membutuhkannya dengan biaya yang
lebih rendah dari perusahaan lain yang ada disekitarnya. Sebagai contoh monopoli
alamiah adalah Perusahaa Air Minum Daerah (PDAM). Untuk mendistribusikan
air bersih kepada penduduk kota, suatu perusahaan harus membangun jaringan
pipa pada seluruh wilayah yang ada dalam kota itu. Masing-masing perusahaan
harus menanggung biaya tetap berupa pembangunan jaringan pipa air. Oleh
karena itu, biaya total rata-rata atas penyediaan air ini akan minimal apabila hanya
ada satu perusahaan yang melayani kebutuhan air pada satu kota.

Tujuan pembelajaran 1.3:


Menganalisis dan mengaplikasikan keputusan output dan harga.

KEPUTUSAN OUTPUT DAN HARGA


Walaupun pelaku monopoli adalah satu-satunya produsen dalam pasar,
tidaklah berarti bahwa pelaku monopoli dapat menentukan harga sesuai dengan
keinginanya. Hal tersebut disebabka karena tujuan perusahaan, yaitu
memaksimalkan keuntungan. Dalam memaksimalkan laba, pertama-tama
perusahaan monopoli harus menghitung biaya-biaya produksi mereka dan
karakteristik atas permintaan pasar dari produknya. Pengetahuan tentang biaya

138
dan karakteristik pasar merupakan faktor yang sangat menentukan keputusan
ekonomi suatu pelaku monopoli.

PENDAPATAN MONOPOLI
Misalkan suatu kota yang hanya memiliki satu produsen yang
menyediakan air bersih. Tabel 13.1 menunjukkan bahwa pendapatan pelaku
monopoli penyediaan air tergantung dari jumlah air yang disalurkannya kepada
konsumen.
Tabel 13.1 Pendapatan Total, Rata-rata, dan Marjinal Pelaku Monopoli
Jumlah air Harga Pendapatan Pendapatan Pendapatan
total rata-rata marjinal
0 kubik 30.000 0 - -
1 28.000 28.000 28.000 28.000
2 26.000 52.000 26.000 24.000
3 24.000 72.000 24.000 20.000
4 22.000 88.000 22.000 16.000
5 20.000 100.000 20.000 12.000
6 18.000 108.000 18.000 8.000
7 16.000 112.000 16.000 4.000
8 14.000 112.000 14.000 0
9 12.000 108.000 12.000 -4.000
10 10.000 100.000 10.000 -8.000
11 8.000 88.000 8.000 -12.000

Tabel 13.1 menunjukkan bahwa kolom pertama dan kedua (jumlah barang
dan harga) menunjukkan skedul permintaan atas pelaku monopoli. Apabila pelaku
monopoli hanya menjual 1 kubik air, harganya adalah Rp. 28.0000,- namun
apabila memproduksi 2 kubik maka harganya harus diturunkan menjadi Rp.
26.000,- Supaya kedua kubik air tersebut laku terjual, dan seterusnya. Apabila kita
membuat grafik pada angka – angka yang ada pada kolom 1 dan 2, maka kita akan
mendapatkan suatu kurva permintaan yang menurun sebagaimana kurva
permintaan pada sebelumnya.
Kolom ke 3 pada tabel 13.1 menunjukkan pendapatan total perusahaan
monopoli. Jumlah ini sama dengan jumlah barang yang dijual (kolom 1) dikali
harga barang yang dijual (kolom 2). Kolom ke 4 merupakan pendapatan rata-rata
pelaku monopoli. Pendapatan rata – rata perusahaan monopoli dihitung dengan
cara membagi kolom total pendapatan (kolom 3) dibagi dengan kolom jumalah

139
(kolom 1). Pendapatan rata- rata suatu produk selalu sama dengan harga barang.
Hal seperti ini juga berlaku untuk perusahaan monopoli.
Kolom terakhir adalah kolom penerimaan marjinal (kolom 5) perusahaan
monopoli, yaitu jumlah pendapatan yang diterima perusahaan monopoli atas
setiap tambahan satu unit barang yang dijual. Untuk menghitung pendapatan
marjinal, kita mengambil perubahan pada pendapatan total apabila jumlah
penjualan meningkat satu unit. Misalnya ketika perusahaan memproduksi 2 kubik
air, pendapatan totalnya adalah Rp. 52.000,- , naiknya produksi menjadi 3, maka
penerimaan total menjadi Rp. 72.000,-, jadi pendapatan marjinal adalah
Rp.72.000-Rp.20.000 = Rp.20.000.
Tabel 13.1 sangat penting untuk menjelaskan dasar perilaku perusahan
monopoli. Terlihat bahwa pendapatan marjinal pelaku monopoli selalu lebih kecil
dari harga barang yang dijualnya. Pendapatan marjinal untuk perusahaan
monopoli sangat berbeda dengan pendapatan marjinal perusahaan bersaing.
Ketika suatu perusahaan monopoli meningkatkan volume penjualannya, terdapat
dua dampak pada pendapatan total (PxQ), yaitu (1) efek output (lebih banyak
barang yang dijual sehingga Q lebih besar) dan (2) efek harga (harga akan turun
jadi P lebih rendah dari sebelumnya).

MAKSIMALISASI KEUNTUNGAN
Kita telah mempelajari pendapatan perilaku monopoli, maka selanjutnya
pada bagian ini kita akan membahas tentang bagaimana perusahaan monopoli
memeksimalkan keuntungan. Untuk memaksimalkan output suatu perusahaan,
kita telah jelaskan bada bagian 11 bahwa maksimalisasi keuntungan dapat dicapai
apabila penerimaan marjinal sama dengan biaya marjinal (MR = MC). Konsep ini
pula yang digunakan oleh perusahaan monopoli dalam memaksimalkan
keuntungan.

140
Gambar 13.1 Kurva Maksimalisasi Keuntungan Perusahaan Monopoli

141
Tujuan pembelajaran 1.4:
Menganalisis kebijakan pemerintah tentang monopoli.

KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG MONOPOLI


Para pembuat kebijakan dapat menjawab masalah dalam perusahaan
monopoli ini dengan menggunakan 1 dari 4 cara berikut: (1) mencoba membuat
industri monopoli agar lebih kompetitif, (2) mengatur perilaku monopoli, (3)
mengubah status monopoli swasta menjadi perusahaan publik atau negara dan (4)
tidak melakukan apa – apa.
Membuat Monopoli lebih Kompetitif melalui Undang-undang.
Misalkan ada 2 atau 3 perusahaan bermaksud melakukan merger atau
menggabungkan perusahaan dalam upaya untuk menjadi perusahaan monopoli,
maka pemerintah harus melakukan pemeriksaan dengan seksama. Department
kehakiman dapat saja membatalkan merger kedua perusahaan tersebut. Hal
tersebut akan membuat produk yang dihasilkan tidak bersaing dan hasilnya
mengurangi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Apabila ditemukan
seperti itu, maka department kehakiman dapat membawa kasus itu ke pengadilan
dan apabila keputusan pengadilan setuju, maka kedua perusahaan tersebut
dilarang menggabungkan diri.
Mengatur Perilaku Monopoli
Cara lain yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah
yang disebabkan oleh monopoli mengatur perusahaan monopoli. Penyelesaian
umumnya dilakukan oleh pemerintah dalam menangani monopoli alamiah, seperti
perusahaan listrik dan air. Pemerintah umumnya tidak mengizinkan untuk
megenakan harga sesuai dengan kehendak perusahaan. Jadi umnya harga diatu
oleh pemerintah.
Kepemilikan Publik
Kebijakan ketiga yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi
masalah monopoli adalah dengan kepemilikan publik. Dalam konteks ini,
perusahaan-perusahaan monopoli yang dilakukan oleh swasta diambil alih
kepemilikannya oleh pemerintah atau negara, di Indonesia dikenal dengan istilah
dinasionalisasi.

142
Pemerintah tidak Melakukan Apa-apa
Tiga jenis kebijakan yang dijelaskan untuk mengatasi masalah akibat
monopoli memiliki kelemahan masing – masing. Hasilnya adanya sebagian
ekonom berpendapat bahwa ada kalanya pemerintah lebih baik tidak melakukan
tindakan apa – apa. Suatu teorema popular dalam ekonomi meyatakan bahwa
perekonomian yang kompetitif akan menghasilkan pendapatan yang sebesar –
besarnya dari sumber daya yang ada.

C. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
1) Dalam pasar monopoli perusahaan tidak dapat menetapkan harga tertinggi
akan tetapi dapat melakukan diskriminasi harga. Setujukah dengan pernyataan
tersebut disertai argument anda?
2) Mempromosikan penjualan secara iklan kurang diperlukan dalam pasar
monopoli. Bagaimana cara perusahaan menaikkan hasil penjualannya?
3) Dari berbagai peran pemerintah dalam pasar monopoli, sudah efektifkah peran
pemerintah? Studi kasus di Indonesia!
4) Sebuah perusahaan monopoli mempunyai data hubungan antara tingkat harga
dengan jumlah barang yang dimingta serta biaya yang dikeluarkan seperti
terlihat dalam tabel:
Jumlah diminta (unit) Harga (ribuan rupiah) Biaya total (jutaan rupiah)
240 1 22
200 2 18
160 3 14
120 4 10
80 5 6
20 6 2

Berdasarkan informasi tersebut, dengan mengalikan jumlah yang diminta,


harga, dan biaya total dengan tiga angka NIM terakhir masing-masing maka
hitunglah:
a. Jumlah penjualan total (TR), hasil penjualan marjinal (MR), dan hasil
penjualan rata-rata (AR), kemudian gambar ketiga jenis penjualan
tersebut!

143
b. Besarnya keuntungan perusahaan monopoli tersebut pada berbagai tingkat
harga yang ada!
5) Analisa kasus berikut:
PT Telkom Melanggar
UU Perlindungan Konsumen
Sang Saka – Hampir seluruh konsumen Indonesia saat ini semakin tidak
berdaya karena PT Telekomunikasi Indonesia Tbk sebagai penyedia fasilitas
telekomunikasi ternyata selama ini tetap saja melakukan monopoli dan
manipulasi dalam menjalankan bisnisnya.

Lebih menyedihkan lagi, ada beberapa produk dari PT Telkom yang juga
semakin “menyiksa” dan “memeras” sebagian besar kosumen/pelanggannya.
Otomatis tindakan yang melanggar serta tidak sesuai dengan suasana
globalisasi masih saja dilakukan secara nyata tetapi terlihat wajar
ibarat siluman. Apalagi PT Telkom sudah “dianggap” sebagai perusahaan
publik dan telah lama tercetak global submit alias tercokol sahamnya
di electronic board milik NYSE (New York Stock Exchange), salah satu pasar
bursa paling bergengsi dan berpengaruh di dunia.

Menangis rasanya melihat salah satu perusahaan BUMN yang diandalkan oleh
bangsa dan negara telah menjadi perusahaan yang sesungguhnya bobrok,
kacau, dan menjadi ajang “mencari duit panas raksasa” oleh para petinggi PT
Telkom maupun “orang-orang” di pemerintahan (pusat maunpun daerah) yang
berkaitan langsung dengan aktivitas bisnis dan industri PT Telkom itu sendiri.
Sang Saka telah banyak melakukan penelitian bahwa PT Telkom masih
dianggap tetap melakukan praktek monopoli. Setelah PT Telkom tidak
diberikan “hak-hak istimewa” oleh pemerintah pusat dalam bisnis
telekomunikasi seiring dengan bertambahnya intensitas arus menuju pasar
bebas, tetap saja PT Telkom masih menjadipemain tunggal dalam bisnis
jaringan telepon permanen atau dikenal sebagai PSTN (public switch
telephony network).

144
PT Indosat saja masih mikir panjang untuk terlibat dalam pengadaan PSTN
karena memang biaya investasi per-unitnya sangat mahal. Artinya, para
pelanggan (konsumen) telepon permanen yang baru akan tetap memilih
jaringan PSTN milik PT Telkom, karena sekarang masih merupakan penyedia
satu-satunya dalam ruang bisnis telekomunikasi di Indonesia. Hal krusial
seperti ini merupakan hasil/dampak negatif selama 40 tahun lebih usaha
monopoli bisnis telekomunikasi PT Telkom sebelum era globalisasi (terutama
ketika Dinasti Soeharto berkuasa). Akibat terbiasa menikmati usaha monopoli
selama berpuluh-puluh tahun tersebut, orientasi bisnis PT Telkom tetap saja
akan mengarah kepada strategi monopoli baru,pencuri start dan pemain
licik yang “unggul”.

Tidak beraninya beberapa perusahaan kompetitor saat ini, seperti PT Indosat,


PT Ratelindo, PT Komselindo dalam investasi jaringan telepon permanen
tersebut menjadi indikator paling nyata, bahwa PT Telkom justru
akan senang serta berupaya keras untuk menghambat saingan-saingat tersebut.
PT Telkom akan tetap berusaha untuk menjalankan hakekat monopoli tetapi
dengan cara yang sangat berbeda tetapi licik, misalnya,
memberikan persuasi kepada publik umum dengan beberapa motto tertentu,
seperti kenaikkan tarif berarti perluasan jaringan, atau seperti “commited to
you” (C2U).

Memang jika tidak ada saingan, PT Telkom dipersilakan terus menjalankan


bisnisnya. Namun PT Telkom harus fair dan melindungi para pelangganya.
Tetapi sangat terbelakang (berpikir sempit), jika PT Telkom akhirnya
seenaknya menentukan tarif telepon, dan sengaja melakukan korupsi/kolusi
bisnis telekomunikasi dengan memanipulasi jaringannya, sehingga kantong
para pelanggannya “diperas” meski dengan cara yang tidak disadari oleh
pelangganya.

Paling Nyata

145
Contoh saat ini yang paling nyata adalah kasus manipulasi jaringan
PSTN dalam layanan akses internet. Jangan dibantah lagi, ketika hasil
survei Sang Saka membuktikan bahwa produk layanan akses internet
TelkomNet Instant berbasis dial-up adalah produk sampah (used junkies) bagi
seluruh pelanggan internet PT Telkom.

Bayangkan, jumlah pelanggan telepon permanen (basis PSTN PT Telkom)


saat ini adalah 7,5 juta lebih unit SST. Hasil penyilidikanSang
Saka memperlihatkan, bahwa selama beberapa tahun belakangan, pemakai
TelkomNet Instant mengalami lacking(perlambatan) atau penurunan drastis
kecepatan akses (bandwidth). Sebagian besar pelanggan mengeluh dan kesal
karena jaringan PSTN PT Telkom yang katanya tercanggih di Indonesia,
ternyata menghasilkan produk yang tidak berkualitas dan memuaskan. Seperti
diketahui, tarif TelkomNet Instant permenitnya adalah Rp 165. Jika
ada minimal 2 juta pelanggan yang mengakses dial-up TelkomNet Instant
selama 2 jam (1 jam efektif, 1 jam macet/lambat) maka PT Telkom akan
mendapatkan dana panas dalam setahun kalkulasinya adalah Rp 165 X 60
menit X 365 hari X 2 juta = Rp 7,227 triliun. Itu baru perhitungan minimal.
Data elektronik yang didapatkan Sang Saka dari EDRD (electronic destination
results data) yang terlacak oleh backbone salah satu perusahaan ISP (internet
service provider) terkenal dari AS, memperlihatkan ternyata ada sekitar 2,78
juta lebih yang mengakses Telkom Net Instant pada tahun 2002. Berarti lebih
dari Rp 10 triliun akan didapatkan PT Telkom dari hasil manipulasi sistem
jaringannya. Sepertinya banyak orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan
rakus dalam tubuh internal PT Telkom yang melakukan tindakan sangat tidak
etis tersebut, sebab kondisi para konsumen dan ekonomi Indonesia masih
megap-megap.
Dengan metoda bisnis yang sesat tetapi terlihat canggih tersebut berarti PT
Telkom telah melakukan tiga tindakan yang memalukan banyak pihak baik
publik nasional maupun luar negeri, yakni monopoli, manipulasi, dan
melecehkan para pelanggan (knsumen). Lebih ngeri lagi, para konsumen
pemakai PT Telkom seperti tidak menyadari “tindakan cerdik tapi licik

146
tersebut”. Artinya beberapa pun tagihan telepon yang keluar, harus
dibayar oleh para konsumen. Indikasi monopoli dan manipulasi tersebut,
menjadikan PT Telkom sesungguhnya melakukan tindakan lebih dari sekedar
melanggar UU Perlindungan Konsumen Indonesia yang telah disepakati –
juga menjadi tanggung-jawab Departemen Perhubungan serta Departemen
Perindustrian dan Perdagangan tersebut – tetapi juga melanggar hukum
bisnis, hakekat globalisasi, dan pasar bebas. Sang Saka takut dan khawatir
jika masalah ini tidak ditanggapi oleh para petinggi PT Telkom maupun
pemerintah pusat, maka dipastikan pihak internasional akan merespons kasus
ini, dan bisa jadi menjadi topik masalah serta antipati publik yang besar kelak.
Apakah PT Telkom tidak merasa kasihan melihat para pelanggannya yang
tertatih-tatih hidupnya untuk mendapatkan penghasilan agar tagihan
teleponnya tetap terbayar?

Seharusnya problem ini juga menjadi tanggung-jawab Dirut PT Telkom,


Kristiono, serta para direksinya terutama Direktur Jasa Bisnis dan Teknologi,
Garuda Sugardo, yang pasti mengetahui seluk beluk tindakan negatif tersebut.
Apabila Dirut dan staff direksinya memang merasa kecolongan, mereka tetap
harus menjadi pihak yang menanggung responsibilitas penuh, karena di
pundak merekalah seluruh aspek aktivitas teknologi dan kebijakan bisnis
dijalankan. Percuma PT Telkom memiliki motto Commited 2 U, tetapi secara
internal mempunyai kapasitas SDM penipu dan networking-nya sangat
menyedihkan bahkan tidak bermutu.
Sumber: restufahtiaekarani.blogspot.com/2015

D. DAFTAR PUSTAKA
Abdulrasul, Agung. 2013. Ekonomi Mikro. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Mai, Candra dan Fitria Amalia. 2011. Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Esis.

147
Murni, Asfia. 2013. Ekonomika Mikro Edisi Kedua. Bandung: PT Refika
Aditama.
Nicholson, Walter. 2004. Mikro Ekonomi Intermediate dan aplikasinya Edisi
Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Nopirin. Pengantar Ilmu Ekonomi Makro dan Mikro. 2000. Yogyakarta: BPFE
UGM.
Nuraini, Ida. 2001. Pengantar Ekonomi Mikro. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang.
Putong, Iskandar. 2000. Pengantar Ekonomi Mikro & Makro. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Rosyidi, Suherman. 2005. Pengantar Teori Ekonomi. Surabaya: PT Raja
grafindo Persada.
Sukirno Sadono. 2013. Mikroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Sumarsono, Sonny. 2012. Pengantar Ekonomi Mikro. Jember: Laboratorium
Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Jember.
Sunarwo, Hendri. 2013. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta: Caps.

148
PERTEMUAN 14:
PASAR OLIGOPOLI

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:

1.1 Mengidentifikasi karakteristik pasar oligopoli.


1.2 Menganalisis hubungan antara perusahaan-perusahaan dalam pasar oligopoli.
1.3 Mengidentifikasi macam macam pasar oligopoli.
1.4 Mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan pasar oligopoli.
1.5 Menganalisis dan mengaplikasikan model kurva permintaan terpatah (kingked
demand curve model).

B. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Mengidentifikasi karakteristik pasar oligopoli.

PENGERTIAN PASAR OLIGOPOLI


Pada bagian sebelumnya anda sudah belajar tentang berbagai jenis pasar,
mulai dari pasar persaingan sempurna dan monopoli Pembahasan selanjutnya
adalah tentang pasar oligopoli.
Teori oligopoli memiliki sejarah yang cukup panjang. Istilah oligopoly
pertama kali digunakan oleh Sir Thomas Moore dalam karyanya pada tahun1916,
yaitu “Utopia” 11. Dalam karya tersebut dikatakan bahwa harga tidak harus
berada pada tingkat kompetisi ketika perusahaan di pasar lebih dari satu.
Sedangkan Teori Oligopoli pertama kali diformalkan oleh Augustin Cournot pada
tahun 1838 melalui karyanya “Researches sur les priciples mathematiques de la
theorie des richesses”. Lima puluh tahun kemudian, teori tersebut dibantah oleh
Bertrand . Meskipun menuai banyak kritik, namun hingga kini teori Cournot tetap
dianggap sebagai benchmark bagi teori-teori oligopoli lainnya.

149
Istilah Oligopoli berasal dari bahasa Yunani, yaitu: Oligos Polein yang
berarti: yang menjual sedikit atau beberapa penjual. Beberapa penjual dalam
konteks ini, maksudnya di mana penawaran satu jenis barang di kuasai oleh
beberapa perusahaan, beberapa dapat berarti paling sedikit 2 dan paling banyak 10
atau 15 perusahaan.
Pasar oligopoli adalah suatu bentuk persaingan pasar yang didominasi oleh
beberapa produsen atau penjual dalam satu wilayah area. Pasar Oligopoli adalah
suatu pasar dimana terdapat beberapa produsen yang menghasilkan barang-barang
yang saling bersaingan. Ini merupakan sifat utama dari pasar oligopoli Pasar
Oligopoli merupakan salah satu jenis dari pasar persaingan tidak sempurna.
Dimana pasar Oligopoli merupakan pasar yang hanya terdapat beberapa
perusahaan atau penjual yang memproduksi barang sejenis.
Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memosisikan dirinya sebagai
bagian yang terikat dengan permainan pasar, di mana keuntungan yang mereka
dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha
promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga, dan sebagainya
dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.
Praktik oligopoli umumnya dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menahan
perusahaan-perusahaan potensial untuk masuk ke dalam pasar, dan juga
perusahaan-perusahaan melakukan oligopoli sebagai salah satu usaha untuk
menikmati laba normal di bawah tingkat maksimum dengan menetapkan harga
jual terbatas, sehingga menyebabkan kompetisi harga di antara pelaku usaha yang
melakukan praktik oligopoli menjadi tidak ada.
Struktur pasar oligopoli umumnya terbentuk pada industri-industri yang
memiliki capital intensive yang tinggi, seperti, industri semen, industri mobil, dan
industri kertas. Dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1999, oligopoli
dikelompokkan ke dalam kategori perjanjian yang dilarang, padahal umumnya
oligopoli terjadi melalui keterkaitan reaksi, khususnya pada barang-barang yang
bersifat homogen atau identik dengan kartel, sehingga ketentuan yang mengatur
mengenai oligopoli ini sebaiknya digabung dengan ketentuan yang mengatur
mengenai kartel.

150
FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERBENTUKNYA PASAR
OLIGOPOLI
1. Efisiensi Skala Besar (Efficiency Of Big Scale)
Dalam dunia nyata, perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam
industri mobil, semen, kertas, pupuk, dan peralatan mesin, umumnya
berstruktur oligopoly. Tekhnologi padat modal (capital intensive) yang
dibutuhkan dalam proses produksi menyebabkan efisiensi (biaya rata-rata
minimum) baru tercapai bila output diproduksi dalamskala sangat besar.
Keadaan diatas merupaka hambatan untuk masuk (barriers to entry) bagi
perusahaan pesaing. Tidak mengherankan jika dalam pasar oligopoly hanya
terdapat sedikit produsen.
B. Kompleksitas Manajemen
Berbeda dengan tiga struktur pasar lainnya (persaingan sempurna,
monopoli,dan pasar monopolistik), struktur pasar oligopoli ditandai dengan
kompetisi harga dan non harga. Perusahaan juga harus cermat
memperhitungkan setiap keputusan agar tidak menimbulkan reaksi yang
merugikan dari perusahaan pesaing. Karena dalam industri oligopoli,
kemampuan keungan yang besar saja tidak cukup sebagai modal untuk
bertahan dalam industri. Perusahaan juga harus mempunyai kemampuan
manajemen yang sangat baik agar mampu bertahan dalam struktur industri
yang persaingannya lebih kompleks. Tidak banyak perusahaan yang memilki
kemampuan tersebut, sehingga dalam pasar oligopoli akhirnya hanya terdapat
sedikit produsen.

KARAKTERISTIK PASAR OLIGOPOLI


Ada beberapa karakter pasar oligopoli, antara lain adalah sebagai berikut.
a. Hanya Sedikit Perusahaan dalam Industri (Few Number of Firms)
Secara teoristis sulit sekali untuk menetapkan berapa jumlah perusahaan di
dalam pasar, agar dapat dikatakan oligopoli. Namun untuk dasar analisis
biasanya jumlah perusahaan diasumsikan kurang dari sepuluh. Dalam kasus
tertentu hanya terdapat dua perusahaan (duopoli). Kekuatan perusahaan-
perusahaan dalam industri dapat diukur dengan menghitung rasio konsentrasi

151
(concentration ratio). Rasio konsentrasi menghitung berapa persen output
dalam pasar oligopoli dikuasai oleh perusahaan-perusahaan yang dominan
(empat sampai dengan delapan perusahaan). Jika rasio konsentrasi empat
perusahaan (four firms concentration ratio atau CR4) adalah 60%, berarti 60%
output dalam industri dikuasai oleh empat perusahaan terbesar. CR4 yang
semakin kecil mencerminkan struktur pasar yang semakin bersaing sempurna.
Pasar suatu industri dinyatakan berstruktur oligopolistik apabila CR4 melebihi
40%. Dapat juga diukur delapan perusahaan (CR8) atau jumlah lainnya. Jika
CR8 80, berarti 80% penjualan output dalam industri dikuasai oleh delapan
perusahaan terbesar.

b. Produk Homogen atau Terdiferensiasi (Homogen or Diferentiated


Product)
Dilihat dari sifat output yang dihasilkan, pasar oligopoli merupakan
peralihan antara persaingan sempurna dengan monopoli. Perbedaan sifat
output yang dihasilkan akan mempengaruhi perilaku perusahaan dalam
mencapai kondisi optimal (laba maksimum). Jika dalam pasar persaingan
sempurna perusahaan mengatur jumlah output (output strategy) untuk
meningkatkan laba, dalam pasar monopoli hanya satu perusahaan yang
mampu mengendalikan harga dan output, maka dalam pasar oligopoli bentuk
persaingan antar perusahaan adalah persaingan harga (pricing strategy) dan
non harga (non pricing strategy). Contoh pasar oligopoli yang menghasilkan
produk diferensiasi adalah industri mobil, rokok, film kamera. Sedangkan
yang menghasilkan produk homogen adalah industri baja, pipa, paralon, seng
dan kertas.
Penggolongan ini mempunyai arti penting dalam menganalisis pasar
yang oligopolistik. Semakin besar tingkat diferensinya, perusahaan makin
tidak tergantung pada kegiatan perusahaan-perusahaan lainnya. Berarti
oligopoli dengan produk diferensiasi dapat lebih mudah memprediksi reaksi-
reaksi dari perusahaan-perusahaan lawan.
Di luar unsur modal, rintangan untuk masuk ke dalam industri
oligopoli yang menghasilkan produk homogen lebih sedikit, karena pada

152
industri oligopoli dengan produk diferensiasi sangat berkaitan dengan loyalitas
konsumen terhadap produk (merek) tertentu.

c. Pengambilan Keputusan Yang Saling Mempengaruhi (Interdependence


Decisions)
Keputusan perusahaan dalam menentukan harga dan jumlah output
akan mempengaruhi perusahaan lainnya, baik yang sudah ada (existing firms)
maupun yang masih di luar industri (potensial firms). Karenanya guna
menahan perusahaan potensial untuk masuk industri, perusahaan yang sudah
ada menempuh strategi menetapkan harga jual terbatas (limiting prices) yang
membuat perusahaan menikmati laba super normal di bawah tingkat
maksimum.

d. Kompetisi Non Harga (Non Pricing Competition)


Dalam upayanya mencapai kondisi optimal, perusahaan tidak hanya
bersaing dalam harga, namun juga non harga. Adapun bentuk-bentuk
kompetisi non harga antara lain dapat berupa sebagai berikut:
1) Pelayanan purna jual serta iklan untuk memberikan informasi
2) Membentuk citra yang baik terhadap perusahaan dan merek
3) Mempengaruhi perilaku konsumen

Keputusan investasi yang akurat diperlukan agar perusahaan dapat


berjalan dengan tingkat efisiensi yang sangat tinggi. Tidak tertutup kemungkinan
perusahaan melakukan kegiatan intelijen industri untuk memperoleh informasi
(mengetahui) keadaan, kekuatan dan kelemahan pesaing nyata maupun potensial.
Informasi-informasi ini sangat penting agar perusahaan dapat memprediksi reaksi
pesaing terhadap setiap keputusan yang diambil.

153
Tujuan pembelajaran 1.2:
Menganalisis hubungan antara perusahaan-perusahaan dalam pasar
oligopoly

HUBUNGAN ANTARA PERUSAHAAN DALAM PASAR


OLIGOPOLI
Ada dua macam bentuk hubungan antara perusahaan-perusahaan yang
terdapat di dalam pasar oligopoli yaitu sebagai berikut.
a. Oligopoli dengan kesepakatan (Collusive Oligopoly)
Kesepakatan antara perusahaan dalam pasar oligopoli biasanya berupa
kesepakatan harga dan produksi (kesepakatan ini kadang disebut sebagai
“kolusi” atau “kartel”) dengan tujuan menghindari perang harga yang akan
membawa kerugian bagi masing-masing perusahaan pada kondisi tertentu
(contoh adalah kesepakatan produksi dan harga pada OPEC). Bentuk
persepakatan ini biasanya mengatur tentang banyaknya jumlah produksi yang
boleh dihasilkan oleh masing-masing perusahaan berikut dengan harganya
yang sama juga. Kesepakatan dalam jumlah produksi dapat berupa pembagian
secara merata, yaitu pembagian produksi yang didasarkan pada banyaknya
jumlah permintaan efektif di pasar terhadap jumlah perusahaan yang
menghasilkan produk yang sama.
b. Oligopoli tanpa kesepakatan (Non Collusive Oligopoly)
Persaingan antar perusahaan dalam pasar oligopoli biasanya berupa
perbedaan harga dan jumlah produk yang dihasilkan. Perbedaan harga dan
jumlah produksi (bisa saling berhubungan positif timbal balik) dilakukan
dalam rangka ingin mendapatkan jumlah pembeli yang lebih banyak dari
sebelumnya (dari pesaingnya).
Terdapat beberapa hal yang mungkin terjadi dalam pasar persaingan
ini sehubungan dengan tingkat harga dan jumlah produksi (produk yang
dihasilkan relatif sama) yaitu sebagai berikut.
1) Bila terdapat satu perusahaan yang mencoba memperbanyak jumlah
produksinya agar harga jual produknya relatif lebih murah dibandingkan

154
dengan pesaingnya, maka biasanya langkah ini akan diikuti oleh pesaing
dengan menurunkan harga jual produknya.
2) Bila satu perusahaan mulai menurunkan harga jual produknya tanpa
menambah jumlah produksinya dengan maksud untuk menguasai pangsa
pasar, maka langkahnya akan diikuti oleh perusahaan lain, baik dengan
cara menurunkan harganya semata atau menurunkan harga dengan cara
menjual lebih banyak produknya di pasar.
3) Bila satu perusahaan menaikkan harga jual produknya, baik dengan cara
langsung pada penurunan harga ataupun dengan cara mengurangi jumlah
produksinya, maka perusahaan lain relatif tidak akan mengikutinya.

Tujuan pembelajaran 1.3:


Mengidentifikasi macam macam pasar oligopoli.

MACAM MACAM PASAR OLIGOPOLI


a. Oligopoli murni
Dalam pasar ini perusahaan menjual barang yang homogen. Biasanya banyak
dijumpai dalam industri yang menghasilkan bahan mentah.
Contoh: pasar semen, produsen bensin.
b. Oligopoli diferensial
Biasanya perusahaan dalam pasar menjual barang berbeda corak. Barang
seperti itu umumnya adalah barang akhir.
Contoh: pasar mobil, pasar sepeda motor

Tujuan pembelajaran 1.4:


Mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan pasar oligopoli.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PASAR OLIGOPOLI


a. Kelebihan pasar oligopoli
1) Memberi kebebasan memilih bagi pembeli.
2) Mampu melakukan penelitian dan pengembangan produk.
3) Lebih memperhatikan kepuasan konsumen karena adanya persaingan

155
penjual.
4) Adanya penerapan teknologi baru
b. Kekurangan pasar oligopoli
1) Menciptakan ketimpangan distribusi pendapatan.
2) Harga yang stabil dan terlalu tinggi bisa mendorong timbulnya inflasi.
3) Bisa timbul pemborosan biaya produksi apabila ada kerjasama antar
oligopolis karena semangat bersaing kurang.
4) Bisa timbul eksploitasi terhadap pembeli dan pemilik faktor produksi.
5) Sulit ditembus/dimasuki perusahaan baru.
6) Bisa berkembang ke arah monopoli.

Tujuan pembelajaran 1.5:


Menganalisis dan mengaplikasikan model kurva permintaan terpatah
(kingked demand curve model).

MODEL KURVA PERMINTAAN TERPATAH (KINGKED


DEMAND CURVE MODEL)
Dalam pasar oligopoli, suatu perusahaan apabila mengubah harga
penjualannya, maka perusahaan yang lainnya akan melakukan hal sebagai berikut.
1. Mereka akan ikut menurunkan harga apabila perusahaan lain menurunkan
harga supaya tidak kehilangan pelanggan.
2. Mereka tidak akan ikut menaikkan harga apabila perusahaan lain menaikkan
harga, karena apabila harga tidak berubah mereka akan mendapatkan
tambahan pelanggan.
Oleh karena hal tersebut, maka permintaan yang dihadapi oleh suatu
perusahaan dalam oligopoli adalah suatu kurva yang patah seperti pada kurva 14.1
yang garis biru muda.

156
Gambar 14.1 kurva permintaan terpatah (Kingked Demand Curve Model)

Keseimbangan Asal
Pada kurva Df menggambarkan permintaan suatu perusahaan oligopoli
apabila dimisalkan perusahaan-perusahaan lainnya tidak melakukan perubahan
harga, walaupun perusahaan pertama melakukan perubahan harga. Sedangkan,
kurva Di adalah permintaan yang dihadapi oleh perusahaan oligopoli dimisalkan
melakukan perubahan harga dan perusahaan lainnya mengikuti hal yang sama.
Misalkan titik keseimbangan yang awalnya harga pasar pada titik P, maka jumlah
permintaan yang ditunjukkan oleh titik A, yaitu sebanyak Q.

Efek Penurunan Harga


Apabila perusahaan oligopoli melakukan penurunan harga pada tingkat
penjualan ke titik P1, maka permintaannya semakin bertambah ke tingkat yang
ditunjukkan oleh Q1. Pertambahan yang besar ini disebabkan oleh dua faktor,
yaitu:
1. Langganan perusahaan lain yang menghasilkan barang sejenis membeli
barang yang harganya telah menurun.

157
2. Segolongan konsumen membatalkan konsumsinya ke atas barang pengganti
dan menambah konsumsinya ke atas barang yang mengalami penurunan harga
barang tersebut.

Akan tetapi ketika perusahaan lainnya dalam pasar oligopoli melakukan


hal yang sama yaitu melakukan penurunan harga, maka permintaan akan jatuh ke
tingkat yang ditunjukkan oleh Q2. Pertambahan peningkatan yang relatif sedikit
ini disebabkan karena yang faktor yang pertama tidak terjadi, melainkan pada
faktor yang kedua.

Efek Peningkatan Harga


Jika perusahaan meningkatkan harga pada titik P3 dan perusahaan lain
tidak melakukan peningkatan harga, maka produsen yang meningkatkan harga
akan banyak kehilangan pelanggan. Kemudian, jika tetap melakukan peningkatan
harga, maka jumlah permintaan akan jatuh pada titik Q4. Namun, apabila
perusahaan lain melakukan peningkatan harga juga, maka perusahaan yang
pertama menaikkan harga tidak akan kehilangan pelanggan dan jumlah
permintaan terletak pada titik Q3.

C. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
1. Anda seorang pelaku baru dalam pasar oligopoli. Apa yang akan anda lakukan
supaya produk yang anda hasilkan dapat bersaing dipasaran?
2. Dalam pasar oligopoli, analisis keseimbangan oligopoli tidak menekan
dimensi waktu melainkan kompetisi. Perusahaan seimbang atau tidak bukan
saja dilihat dari kemampuan mengatur harga dan output, tetapi juga
kemampuan memprediksi perilaku pesaing.
a. Jelaskan mengapa demikian!
b. Berilah contoh pasar oligopoli yang sering anda jumpai!
3. Apa yang seharusnya ditempuh oleh pelaku usaha dalam pasar oligopoli
supaya tidak saling merugikan dan bersaing secara sehat?

158
4. Salah satu kelemahan pasar oligopoli adalah Sulit ditembus/dimasuki
perusahaan baru. Bagaimana cara anda untuk bisa masuk ke dalam pasar
tersebut?
5. Banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan dari pasar oligopoli. Jelaskan
dampak negatif tersebut dan berikan argument bagaimana seharusnya upaya
pemerintah untuk meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan!

D. DAFTAR PUSTAKA
Abdulrasul, Agung. 2013. Ekonomi Mikro. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Mai, Candra dan Fitria Amalia. 2011. Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Esis.
Murni, Asfia. 2013. Ekonomika Mikro Edisi Kedua. Bandung: PT Refika
Aditama.
Nopirin. Pengantar Ilmu Ekonomi Makro dan Mikro. 2000. Yogyakarta: BPFE.
Nuraini, Ida. 2001. Pengantar Ekonomi Mikro. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang.
Putong, Iskandar. 2000. Pengantar Ekonomi Mikro & Makro. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Rosyidi, Suherman. 2005. Pengantar Teori Ekonomi. Surabaya: PT Raja
grafindo Persada.
Soeratno. 2003. Ekonomi Mikro Pengantar. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi YKPN.
Sukirno Sadono. 2013. Mikroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Sumarsono, Sonny. 2012. Pengantar Ekonomi Mikro. Jember: Laboratorium
Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Jember.
Sunarwo, Hendri. 2013. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta: Caps.
Tri Kunawangsih Pracoyo dan Antyo Pracoyo. 2006. Aspek Dasar Ekonomi
Mikro. Jakarta: PT Grasindo.

159
PERTEMUAN 15:
PASAR MONOPOLISTIK

E. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:

1.6 Mengidentifikasi karakteristik pasar monopolistik.


1.7 Menganalisis dan mengaplikasikan keseimbangan pada pasar monopolistik.
1.8 Menganalisis persaingan bukan harga pada pasar monopolistik.
1.9 Mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan pasar monopolistik.

F. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Mengidentifikasi karakteristik pasar monopolistik.

KARAKTERISTIK PASAR PERSAINGAN MONOPOLISTIK


Pada pembahasan terdahulu, kita telah membahas bagaimana perusahaan
persaingan sempurna tidak memiliki kekuatan sama sekali dalam mempengaruhi
harga, dan bagaimana perusahaan dalam persaingan sempurna memperoleh
keuntungan maksimal. Kita juga telah membahas bagaimana perusahaan
monopoli dapat memilih harga dan volume output untuk memaksimalkan laba dan
bagaimana perusahaan monopoli memegang kendali harga dan menetapkan harga
atas produknya.
Dalam pembahasan ini, kita akan membahas strukur pasar monopolistik
(monopolistic competition). Teori pasar monopolistik atau biasa dikenal dengan
pasar persaingan monopolistik dikembangkan karena ketidakpuasan terhadap
kekuatan analisis pada pasar persaingan sempurna dan pasar monopoli. Model
pasar monopolistis dikembangkan pada akhir dasawarsa 1920-an dan awal
dasawarsa 1030. Model pasar persaingan monopolistis dikembangkan oleh
seorang ekonom inggris bernama John Robinson dan seorang ekonom Amerika
serikat bernama Edward Chambelain.

160
Pada dasarnya, struktur pasar persaingan monopolistic mirip dengan pasar
persaingan sempurna, di mana dalam industri terdapat banyak perusahaan yang
babas keluar masuk, tetapi produk yang dihasilkan tidak homogen melainkan
terdiferensiasi. Akan tetapi, perbedaan antara satu merk produk dengan produk
lain tidak terlalu jauh. Meskipun produk yang dihasilkan telah terdiferensiasi,
namun antara produk satu dengan yang lain sangat mungkin menjadi saling
substitusi.
Karakteristik ini merupakan ciri yang sangat penting untuk membedakan
antara pasar persaingan monopolistik dengan pasar persaingan sempurna. Berikut
beberapa karakteristik dari pasar persaingan monopoli.
a. Terdapat banyak penjual
Terdapat cukup banyak penjual didalam pasar persaingan monopolistis,
namun demikian ia tidaklah sebanyak seperti dalam pasar persaingan
sempurna. Perusahaan dalam pasaran monopolistis mempunyai ukuran yang
relatif sama besarnya. Keadaan ini menyebabkan produksi sesuatu perusahaan
adalah sedikit kalau dibandingkan dengan keseluruhan produksi dalam
keseluruhan pasar.
b. Barang produksinya bersifat berbeda corak
Produksi perusahaan-perusahaan dalam pasar persaingan monopolis berbeda
coraknya, sehingga secara fisik mudah dibedakan di antara produksi sesuatu
perusahaan dengan produksi perusahaan lainnya. Perbedaan di sini antara lain
bentuk fisik barang, pembungkusannya, bentuk jasa perusahaan setelah
penjualan dan perbedaan dalam cara membayar barang yang dibeli.
c. Perusahaan mempunyai sedikit kekuatan dalam menentukan dan
mempengaruhi harga.
Perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis dapat mempengaruhi harga,
dan ini bersumber dari sifat produksi yang dihasilkannya, yaitu yang bersifat
berbeda corak. Perbedaan ini menyebabkan para pembeli bersifat memilih,
yaitu lebih menyukai produksi sesuatu perusahaan menaikkan harga
barangnya, ia masih dapat menarik pembeli walaupun jumlah pembelinya
tidak sebanyak seperti sebelum kenaikan harga.
d. Pemasukan kedalam industri relatif mudah.

161
Perusahaan yang akan masuk dan menjalankan usaha di dalam pasar
persaingan monopolistis tidak akan banyak mengalami kesukaran, hambatan
yang dihadapi tidaklah seberat seperti di dalam oligopoli dan monopoli.

Berikut adalah contoh pasar persaingan monopolistik. Misalnya kita ambil


contoh pada Penjualan sepeda motor Honda dan Yamaha.
Sepeda motor keluaran Honda = irit
o Matic : Beat, Vario
o Bebek : Supra, Revo
o Sport : Megapro
Sepeda motor keluaran Yamaha = bertenaga
o Matic : Mio, Xeon
o Bebek : Jupiter, Vega
o Sport : Skorpio
Demikian adalah salah satu contoh pasar persaingan monopolistik. Honda
dan Yamaha sama-sama produsen sepeda motor. Akan tetapi kedua perusahaan
tersebut memiliki karakteristik produk yang berbeda. Honda lebih unggul dalam
urusan bahan bakar, karena iritnya bahan bakar yang digunakan. Sedangkan
Yamaha lebih unggul dalam akselerasi. Selanjutnya tergantung pilihan konsumen.

Tujuan pembelajaran 1.2:


Menganalisis dan mengaplikasikan keseimbangan pada pasar monopolistik.

KESEIMBANGAN JANGKA PENDEK PADA PASAR


PERSAINGAN MONOPOLISTIK
Seperti halnya dengan pasar persaingan monopoli, pada pasar persaingan
monopolistik perusahaan menghadapi kurva permintaan dengan kemiringan
negatif (berslop menurun) karena perusahaan dalam pasar persaingan
monopolistik memiliki kekuatan untuk memengaruhi harga. Namun, karena
terdapat banyak produk substitusi yang dekat dengan produk itu, maka kurva
permintaan sangat elastis terhadap perubahan harga.

162
Permintaan yang di hadapi perusahaan dalam pasar persaingan
monopolistik tidaklah elastis sempurna walaupun sangat elastis. Dengan demikian,
Secara grafis, kurva permintaan yang dihadapi perusahaan mempunyai slope
negatif namun tidak securam seperti pada pasar monopoli. Sekilas, kurva
keseimbangan perusahaan pada pasar persaingan monopolistik sama dengan
keseimbangan pada pasar monopoli. Akan tetapi sesungguhnya tidak sama. Bentuk
kurvanya memang serupa, tetapi tidak sama. Perbedaan pokok antara kurva
keseimbangan pada pasar persaingan monopolistik dan pada pasar monopoli
adalah terletak pada kemiringan kurva.

Gambar 15.1 Kurva Keseimbangan Jangka Pendek dalam Pasar Persaingan Monopolistik

Gambar 15.1 A menunjukkan bahwa jumlah output terbaik dalam jangka


pendek perusahaan salam persaingan monopoli adalah Q, yaitu ketika MR = MC.
Untuk dapat menjual pada tingkat output terbaik, yaitu Q, maka perusahaan
mengenakan harga sebesar P yaitu pada titik A pada kurva D. dengan demikian
ATC = C, yaitu titik B pada gambar 15.1 A, maka perusahaan yang berada pada
pasar persaingan monopolistic ini memperoleh laba sebesar PC, dan laba total
sebesar daerah PCAB.
Sama halnya dengan pasar persaingan sempurna maupun monopoli,
perusahaan persaingan monopilistik dapat memperoleh keuntungan, titik impas
apabila P = ATC atau bahkan menderita kerugian. Seperti gambar 15.1 B
perusahaan menderita kerugian. Kondisi ini terlihat bahwa P < ATC. Perusahaan

163
menjual barang (Q) yang dihasilkan seharga P sedangkan ATC = C, yaitu pada titik
B. Berarti total biaya melebihi harga, sehingga perusahaan mengalami kerugian.
Perusahaan dapat memeinimumkan kerugian apabila P > AVC.

KESEIMBANGAN JANGKA PANJANG PADA PASAR


PERSAINGAN MONOPOLISTIK
Apabila perusahaan dalam pasar persaingan monopolistic dalam jangka
pendek dapat memperoleh keuntungan di atas normal, maka perusahaan baru akan
tertarik untuk masuk dalam industri tersebut sehingga jumlah perusahaan dalam
industri bertambah banyak. Hal ini terjadi karena pada pasar persaingan
monopolistik tidak ada hambatan yang berarti bagi masuknya perusahaan akan
semakin mengecil. Semakin banyak perusahaan baru masuk kedalam suatu
industri, semakin besar kapasitas produksi, sehingga dalam jangka panjang
perusahaan hanya memperoleh laba normal.

Gambar 15.2 Kurva Keseimbangan Jangka Panjang dalam Pasar Persaingan Monopolistik
Gambar 15.2 menunjukkan keseimbangan jangka panjang pada pasar
persaingan monopolistic. Produksi yang dihasilkan perusahaan adalah sebesar QL
dengan harga sebesar PL. Pada saat harga sebesar PL sama dengan biaya total
rata-rata, hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan hanya memperoleh
keuntungan normal.
Kaarkteristik perusahaan dalam pasar persaingan monopolistik ketika
memperoleh keuntungan normal, berbeda dengan perusahaan pada pasar

164
persaingan sempurna. Perbedaan itu antara lain: (1) harga dan biaya produksi pada
pasar monopolistic lebih tinggi dan (2) kegiatan produksi dalam pasar persaingan
monopolistik belum mencapai tingkat yang optimal dalam arti bahwa biaya
produksi per unit perusahaan adalah minimal.

Tujuan pembelajaran 1.3:


Menganalisis persaingan bukan harga pada pasar monopolistik.

PERSAINGAN BUKAN HARGA PADA PASAR PERSAINGAN


MONOPOLISTIK
Dewasa ini tingkat persaingan bukan harga dalam merebut pangsa pasar
menjadi suatu yang umum dalam pasar persaingan. Perusahaan-perusahaan
melakukan berbagai usaha daalm merebut konsumen. Berikut beberapa hal yang
dilakukan oleh para perusahaan dalam melakukan persaingan bukan harga.

C. Diferensiasi Produk
Setiap perusahaan dalam persaingan monopolistis akan berusaha untuk
memproduksikan barang yang mempunyai sifat yang khusus, dan yang dapat
dibedakan dengan jelas dari produksi perusahaan- perusahaan lainnya. Maka di
dalam pasar akan terdapat berbagai barang yang dihasilkan suatu industri yang
mempunyai corak, mutu, desain, mode dan merk yang berbeda-beda. Terapatnya
berbagai variasi dari suatu jenis barang adalah sifat istimewa dari pasar
persaingan monopolistis yang tidak terdapat dalam pasar persaingan sempurna.
Dengan demikian diferasiasi produksi dapat menciptakan suatu bentuk kekuasaan
monopoli.
D. Periklanan
Dalam perusahaan modern kegiatan mempersiapkan dan membuat iklan
adalah suatu bagian penting dari usaha untuk memasarkan hasil produksinya.
Tujuan perusahaan-perusahaan melakukan kegiatan pengiklanan adalah sebagai
berikut: (1) memberikan penerangan kepada konsumen-konsumen mengenai
barang yang diproduksikannya; (2) menekankan bahwa barang yang
dihasilkannya adalah merupakan barang yang sangat baik; (3) memelihara
hubungan baik dengan para konsumen.

165
Dari ketiga jenis iklan ini yang biasa di gunakan dalam pasar pesaingan
monopolistik adalah jenis iklan pertama dan kedua. Iklan pertama digunakan
pada waktu perusahaan memperkenalkan hasil-hasil produksinya yang baru.
Sedangkan iklan jenis kedua digunakan perusahaan untuk mempertahankan
kedudukannya di pasar.
E. Merk Dagang
Dalam perkembangan terakhir, paar ekonom mendukung adanya merk
dagang. Hal tersebut disebabkan karena mereka memandang sebagai cara yang
bermanfaat bagi konsumen untuk memastikan bahwa barang yang mereka beli
memiliki kualitas yang tinggi. Erdapat dua pandangan dalam kaitannya tentang
hal ini. Pertama, merek dagang memberikan informasi kepada konsumen
mengenai kualitas barang, ketika kualitas tidak daapt ditentukan dengan mudah
sebelum dilakukan pembelian. Kedua, merk dagang memberi insentif kepada
perusahaan untuk menjaga kualiats produknya, karena dengan merk dagang
mereka mempertaruhkan reputasi perusahaannya.

Tujuan pembelajaran 1.4:


Mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan pasar monopolistik.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PASAR PERSAINGAN


MONOPOLISTIK
Kelebihan pasar persaingan monopolistik antara lain sebagai berikut.
1. Banyaknya produsen di pasar memberikan keuntungan bagi konsumen untuk
dapat memilih produk yang terbaik baginya.
2. Kebebasan keluar masuk bagi produsen, mendorong produsen untuk selalu
melakukan inovasi dalam menghasilkan produknya.
3. Diferensiasi produk mendorong konsumen untuk selektif dalam menentukan
produk yang akan dibelinya, dan dapat membuat konsumen loyal terhadap
produk yang dipilihnya.
4. Pasar ini relatif mudah dijumpai oleh konsumen, karena sebagian besar
kebutuhan sehari-hari tersedia dalam pasar monopolistik.

166
Adapun kekurangan pasar monopolistik adalah sebagai berikut.
1. Pasar monopolistik memiliki tingkat persaingan yang tinggi, baik dari segi
harga, kualitas maupun pelayanan. Sehingga produsen yang tidak memiliki
modal dan pengalaman yang cukup akan cepat keluar dari pasar.
2. Dibutuhkan modal yang cukup besar untuk masuk ke dalam pasar
monopolistik, karena pemain pasar di dalamnya memiliki skala ekonomis
yang cukup tinggi.
3. Pasar ini mendorong produsen untuk selalu berinovasi, sehingga akan
meningkatkan biaya produksi yang akan berimbas pada harga produk yang
harus dibayar oleh konsumen.

C.LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
1. Pada umumnya, perusahaan dengan merk dagang atau produk terkenal tidak
perlu menghabiskan lebih banyak untuk iklan dan menjual produknya juga
dengan lebih murah. Benarkah demikian? Jelaskan alasan anda!
2. Dewasa ini banyak sekali menjamur perusahaan yang keberadaannya
mengancam kelangsungan usaha toko-toko kecil. Misalnya keberadaan
hypermart dan lain-lain.
a. Langkah apa yang seharusnya ditempuh oleh kedua belah pihak supaya
keduanya tidak saling merugikan?
b. Terkait dengan jawaban 2A, bagaimana seharusnya peran pemerintah
supaya keduanya saling berjalan beriringan untuk meningkatkan ekonomi
negara?
3. Jelaskan bagaimana dalam jangka panjang, keuntungan ekonomis terkikis
pada suatu sektor industri bersaing monopolistic!
4. Jelsakan dengan kurva berbagai kemungkinan keseimbangan perusahaan pada
persaingan monopolistik dalam jangka pendek!
5. Tabel berikut ini menunjukkan harga jual produk, biaya produksi total pada
berbagai tingkat produksi, serta permintaan produk dari suatu perusahaan
dalam persaingan monopolistic:
Permintaan (Q) Harga (P) Biaya Produksi Total (TC)
0 12 4

167
1 11 11
2 10 14
3 9 18
4 8 21
5 7 23
6 6 24
7 5 26
8 4 30
9 3 36
10 2 44

Berdasarkan informasi tersebut, dengan mengalikan Q, P, dan TC dengan tiga


angka terakhir NIM masing-masing anda diminta:
a. Hitung hasil penjualan total (TR) pada berbagai tingkat produksi dan
tentukan tingkat produksi yang memaksimalkan keuntungan!
b. Hitung biaya rata-rata (AC), biaya marjinal (MC) penjualan marjinal
(MR), dan hasil penjualan rata-rata (AR)!
c. Gambarkan kurva AC, MC, MR dan AR atas jawaban anda pada
pertanyaan B.

D.DAFTAR PUSTAKA
Abdulrasul, Agung. 2013. Ekonomi Mikro. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Mai, Candra dan Fitria Amalia. 2011. Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Esis.
Murni, Asfia. 2013. Ekonomika Mikro Edisi Kedua. Bandung: PT Refika
Aditama.
Raharja, Pratama dan Manurung Mandala. 2010. Teori Ekonomi Mikro Suatu
Pengantar Edisi Keempat. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Rosyidi, Suherman. 2005. Pengantar Teori Ekonomi. Surabaya: PT Raja
grafindo Persada.
Sarnowo, Henry & Danang Sunyoto. 2011. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro.
Jakarta: CAPS.
Soeratno. 2003. Ekonomi Mikro Pengantar. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi YKPN.
Sukirno, Sadono.2012. Mikro Ekonomi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

168
Sukirno Sadono. 2013. Mikroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Sumarsono, Sonny. 2012. Pengantar Ekonomi Mikro. Jember: Laboratorium
Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Jember.
Sunarwo, Hendri. 2013. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta: Caps.
Tri Kunawangsih Pracoyo dan Antyo Pracoyo. 2006. Aspek Dasar Ekonomi
Mikro. Jakarta: PT Grasindo.

169
PERTEMUAN 16:
PASAR INPUT
(PENENTU UPAH DI PASAR TENAGA KERJA)

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:

1.1 Menganalisis perbedaan upah uang dan upah riel.


1.2 Menganalisis hubungan antara produktivitas dan upah.
1.3 Menganalisis penentuan upah diberbagai bentuk pasar tenaga kerja.

B. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Menganalisis perbedaan upah uang dan upah riel.

PERBEDAAN UPAH UANG DAN UPAH RIEL


Pada pembahasan-pembahasan sebelumnya, kita telah membahas faktor-
faktor yang menentukan permintaan individu akan barang-barang konsumsi dan
penawaran perusahaan akan barang konsumsi tersebut. Pada bab ini akan beralih
mempelajari pasar faktor produksi (pasar input).
Dalam pasar faktor produksi yang bertindak sebagai penjual adalah
pemilik faktor produksi atau biasanya dalam kegiatan ekonomi disebut rumah
tangga, sedangkan pembelinya adalah perusahaan. Jadi, yang diperjualbelikan di
sini adalah input bagi perusahaan untuk melakukan produksi. Oleh karena itu,
pasar faktor produksi disebut pasar input.
Pada dasarnya, harga input juga ditentukan oleh permintaan dan
penawaran. dalam kasus ini, perusahaan berada pada posisi permintaan untuk
penggunaan input dalam memenuhi kebutuhan produksinya. Input-input pada
pasar input disuplai oleh para individu melalui pekerjaan yang mereka lakukan
dan sumberdaya modal yang disediakan oleh tabungan mereka.

170
Pada pembahasan ini dengan lebih mendalam akan dianalisis pembayaran
tenaga kerja, yaitu faktor produksi yang sangat penting artinya dalam kegiatan
memproduksi. Sehingga, nantinya dapat menerangkan lebih lanjut tentang
beberapa aspek penting yang berhubungan dengan upah dalam pengertian teori
ekonomi, yaitu pembayaran yang diperoleh berbagai bentuk jasa yang disediakan
dan diberikan oleh tenaga kerja kepada pengusaha.
Pembayaran kepada tenaga kerja dapat dibedakan kepada dua pengertian:
gaji dan upah. Dalam pengertian sehari-hari gaji diartikan sebagai pembayaran
kepada pekerja tetap dan tenaga kerja profesionel, seperti pegawai pemerintah,
dosen, guru, manager dan akuntan. Pembayaran tersebut biasanya sebulan sekali.
Sedangkan upah dimaksudkan sebagai pembayaran kepada pekerja-pekerja kasar
yang pekerjaannya selalu berpindah-pindah, seperti misalnya pekerja pertanian,
tukang kayu, tukang batu dan buruh kasar.
Di dalam teori ekonomi upah diartikan sebagai pembayaran ke atas jasa-
jasa fisik maupun mental yang disediakan oleh tenaga kerja kepada para
pengusaha. Dengan demikian dalam teori ekonomi tidak dibedakan di antara
pembayaran ke atas jasa-jasa pekerja tetap dan profesionel dengan pembayaran ke
atas jasa-jasa pekerja kasar dan tidak tetap.

PERBEDAAN UPAH UANG DAN UPAH RIEL


Di dalam jangka panjang sejumlah tertentu upah pekerja akan mempunyai
kemampuan yang semakin sedikit di dalam membeli barang-barang dan jasa-jasa
yang dibutuhkannya. Keadaan seperti itu timbul akibat dari kenaikan harga-harga
barang dan jasa tersebut, yang selalu berlaku dari waktu ke waktu. Adanya
kenaikan harga-harga akan menurunkan daya beli dari sejumlah tertentu
pendapatan.
Di dalam jangka panjang kecenderungan yang selalu berlaku adalah
keadaan di mana harga-harga barang maupun upah terus menerus mengalami
kenaikan. Tetapi kenaikan tersebut tidaklah serentak dan juga tingkat
kenaikannya berbeda. Walaupun bagaimanapun hal ini tidak menimbulkan
kesulitan untuk mengetahui sampai di mana kenaikan pendapatan merupakan
suatu gambaran dari kenaikan kesejahteraan yang dinikmati oleh para pekerja.

171
Untuk tujuan tersebut ahli ekonomi membuat perbedaan di antara dua pengertan
upah : upah uang dan upah riil. Upah uang adalah jumlah uang yang diterima
para pekerja dari para pengusaha sebagai pembayaran ke atas tenaga mental atau
fisik para pekerja yang digunakan dalam proses produksi. Upah riil adalah
tingkat upah pekerja yang yang diukur dari sudut kemampuan upah tersebut
membeli barang-barang dan jasa-jasa yang diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan para pekerja.
Contoh di bawah ini akan memperjelas perbedaan di antara pengertian
upah uang dan upah riel. Misalkan di dalam tahun 1980 seorang pekerja di suatu
industri tekstil menerima pendapatan sebanyak Rp 20.000 sebulan. Pada tahun
1990 pekerja itu masih melakukan pekerjaan yang sama dengan mendapat Rp
60.000 sebulan. Diantara tahun 1980-90 dimisalkan harga-harga telah menjadi
dua kali lipat. Dengan demikian, pendapatan pada tahun 1990, kalau diukur dari
kemampuannya membeli barang-barang, nilai rielnya hanyalah Rp 30.000, yaitu
setengah dari upah uang yang diterima. Gambaran yang sederhana ini
menunjukkan upah uang telah naik menjadi tiga kali lipat tetapi upah rielnya
hanyalah naik menjadi satu setengah kali lipat.

CARA MENGHITUNG UPAH RIEL


Dalam prakteknya menghitung upah riel tidaklah sederhana seperti yang
digambarkan dalam contoh di atas. Dalam ekonomi terdapat berbagai jenis barang
dan jasa. Dari tahun- tahun mereka mengalami kenaikan, ada yang mengalami
kenaikan harga yang tinggi dan ada yang kenaikan harganya relatif lambat.
Disamping itu berbagai jenis barang tersebut sangat berbeda kepentingannya
dalam hidup manusia. Ada yang sering dibeli konsumen, seperti makanan,
pakaian, dan sewa rumah. Ada pula yang pembelian keatasnya tidak terlalu sering
dilakukan seperti membeli rumah dan mobi, atau melancong keluar negeri.
Perbedaan ini menimbulkan efek yang berbeda pada kesejahteraan masyarakat
sekiranya harga barang- barang tersebut menjadi bertambah tinggi. Masalah-
masalah yang baru saja diuraikan ini menimbulkan kesulitan dalam usaha unutk
menunjukkan tingkat perubahan harga- harga yang berlaku dalam suatu

172
perekonomian dari tahun ke tahun. Ini selanjutnya menyebabkan upah riil dari
tahun ke tahun sukar untuk di hitung.
Setiap negara biasanya menggambarkan perubahan harga- harga di dalam
perekonomiannya dengan menciptakan indeks kerja, yaitu suatu indeks yang
memberikan gambaran tentang tingkat rata- rata dari perubahan harga-harga dari
waktu ke waktu. Salah satu dari indeks harga tersebut adalah indeks harga barang
konsumen. Indeks harga ini dapat digunakan untuk menaksir upah riil para
pekerja dari tahun ke tahun.
Tabel 16.1 Menghitung Upah Riel Para Pekerja
Tahun (1) Upah uang (2) Indeks Harga (3) Upah Riel (4)
1980 Rp 700 100 100/100 x Rp 700 = Rp 700
1985 1.050 105 100/105 x Rp 1.050 = Rp 1.000
1990 1.800 150 100/150 x Rp 1.800 = Rp 1.200
1993 2.080 160 100/160 x Rp 2.080 = Rp 1.300

Dari angka-angka dalam tabel 16.1 dapat diambil kesimpulan bahwa:


walaupun di antara tahun 1980-93 upah uang telah menjadi hampir tiga kali lipat,
kenaikan upah riel belumlah mencapai dua kali lipat; perbedaan yang besar
tersebut adalah disebabkan oleh kenaikan harga-harga sebesar 60 persen di antara
1980-93.

Tujuan pembelajaran 1.2:


Menganalisis penentuan upah diberbagai bentuk pasar tenaga kerja.

HUBUNGAN ANTARA PRODUKTIVITAS DAN UPAH


Upah riil yang diterima tenaga kerja terutama tergantung kepada
produktivitas dari tenaga kerja tersebut. Data mengenai kenaikan upah di berbagai
Negara, tetama di Negara Negara maju, menunjukkan bahwa terdapat perkaitan
yang erat antara kenaikan upah riil para pekerja dengan kenaikan produktivitas
mereka. Bahwa upah riil sangat tergantung kepada produktivitas dapat
diterangkan dengan menggunakan teori permintaan ke atas faktor produksi.
Produktivas dapat didefinisikan sebagai produksi yang diciptakan oleh
seorang pekerja paa suatu waktu tertentu. Kenaikan produktivitas berarti pekerja
itu dapat menghasilkan lebih banyak barang pada jangka waktu yang saam, atau

173
suatu tungkat produksi tertentu dapat dihasilkan dalam waktu yang lebih singkat.
Upah sangat tergantung pada tingkat produktivitas, semakin tinggi produktivitas
maka semakin tinggi upah yang diterima. Kenaikan prodiuktivitas disebabkan
oleh beberapa faktor, yang terpenting adalah:
a. Kemajuan teknologi memproduksi
b. Pertambahan kepandaian dan keterampilan tenaga kerja
c. Perbaikan dalam organisasi perusahaan dan masyarakat

Produktivitas juga telah menjadi bertambah tingi sebagai akibat langkah


langkah pemerintah memperbaiki infrastruktur-seperti jaringan jalan raya,
pelabuhan dan jaringan telekomunikasi- dan perbaikan peraturan –peraturan yang
mengendalikan, merangsang dan mengawasi kegiatan ekonomi dan perusahaan.
Peraturan yang menjamin persaingan, peraturan yang menyederhanakan pendirian
badan usaha dan mengekspor, dan berbagai peraturan lainnya, memberi
sumbangan yang penting ke atas menaikkan efisiensi dan produktivitas kegiatan
perusahaan.

Tujuan pembelajaran 1.3:


Menganalisis perbedaan upah uang dan upah riel.

PENENTUAN UPAH DIBERBAGAI BENTUK PASAR


TENAGA KERJA
Seperti juga dengan pasar barang, pasar tenaga kerja dapat dibedakan menjadi
beberapa jenis. Penentuan upah di berbagai jenis pasar juga berbeda-beda. Berikut
beberapa bentuk pasar tenaga kerja yang terpenting.

a. Pasar Tenaga Kerja yang Bersifat Persaingan Sempurna


Pasar persaingan sempurna dalam pasaran tenaga kerja berarti di dalam
pasar terdapat banyak perusahaan yang mememerlukan tenaga kerja, dan
tenaga kerja yang ada dalam pasar tidak menyatukan diri di dalam serikat-
serikat buruh yang bertindak sebagai wakil mereka.

174
Dengan demikian permintaan atas tenaga kerja bersifat: semakin
tinggi/rendah upah tenaga kerja, semakin sedikit/banyak permintaan atas
tenaga kerja. Penawaran atas tenaga kerja; semakin tinggi upah, semakin
banyak tenaga kerja yang bersedia menawarkan tenaganya. Jadi upah
ditentukan oleh besar kecilnya permintaan/penawaran tenaga kerja.
b. Pasar Tenaga Kerja Monopsoni
Monopsoni berarti hanya terdapat satu pembeli di pasar sedangkan
penjual jumlahnya banyak. Maka pasar tenaga kerja yang bersifat monopsoni,
seperti telah dinyatakan sebelum ini, berarti di dalam pasar hanya terdapat satu
perusahaan yang akan menggunakan tenaga kerja yang ditawarkan. Pasar
tenaga kerja yang seperti ini terwujud apabila di suatu tempat/daerah tertentu
terdapat satu perusahaan yang sangat besar, dan ia merupakan satu-satunya
perusahaan modern di tempat tersebut.
Dalam pasar ini upah tenaga kerja bertambah tinggi apabila lebih
banyak tenaga yang digunakan. Jadi upah ditentukan oleh pengusaha yang
membayar pekerja tersebut.
c. Pasar Tenaga Kerja Monopoli di Pihak Pekerja
Dengan tujuan agar pekerja memperoleh upah dan fasilitas bukan
keuangan yang lebih baik, maka mereka menyatukan diri di dalam serikat
buruh atau persatuan pekerja. Tindakan seperti itu menyebabkan tenaga kerja
mempunyai kekuasaan monopoli ke atas tenaga kerja yang ditawarkannya.
Di pihak perusahaan kekuasaan monopoli tersebut tidak terdapat. Ini
berarti perusahaan-perusahaan datang ke pasar tenaga kerja tanpa terlebih
dahulu mengadakan persepakatan diantara mereka. Permintaan mereka ke atas
tenaga kerja didasarkan kepada efisiensi perusahaan mereka masing-masing
dan kepentingan mereka masing-masing. Para pekerja dapat menuntut upah
yang mereka inginkan.
Penentuan upah dalam pasar pasar tenaga kerja yang bersifat monopoli
pihak pekerja dibedakan pada tiga keadaan antara lain sebagai berikut.
 Menuntut upah yang lebih tinggi dari yang dicapai pada keseimbangan
permintaan dan penawaran.
 Membatasi penawaran tenaga kerja.

175
 Menjalankan usaha-usaha yang bertujuan menaikan permintaan tenaga
kerja.

d. Pasar Monopoli di Kedua Belah Pihak (monopoli bilateral)


Pasar tenaga kerja monopoli bilateral, yaitu di dalam pasar tenaga
kerja di mana tenaga kerja bersau dalam satu serikat buruh, dan di dalam
pasar hanya terdapat satu perusahaan saja yang menggunakan tenaga kerja.
Di dalam pasar monoposoni upah lebih rendah daripada di pasar persaingan
sempurna, sedangkan di pasar dimana tenaga kerja mempunyai kekuasaan
monopoli, upahnya lebih tinggi dari pasar persaingan sempurna.
Pasar tenaga kerja monopoli bilateral terdapat perbedaan yang nyata
diantara upah yang dituntut serikat buruh dengan upah yang ditawarkan. Jadi
tingkat upah tidak akan bisa ditentukan tetapi biasanya tingkat upah yang
berlaku adalah tingkat dimana antara upah yang dituntut serikat buruh dengan
upah yang ditawarkan perusahaan. Tingkat upah yang berlaku biasanya
adalah di antara W1 dan W2, dan yang mana yang lebih didekatinya
tergantung kepada kekuatan serikat buruh dan perusahaan di dalam
perundingan penentuan upah. Misalnya, apabila serikat buruh merupakan
pihak yang lebih kuat, tingkat upah yang berlaku mendekati W2. Tetapi
apabila perusahaan adalah pihak yang lebih kuat, maka tingkat upah akan
mendekati W1.

FAKTOR-FAKTOR YANG MENIMBULKAN PERBEDAAN


UPAH
Anda tentunya menyadari bahwa di antara para pekerja dan di antar
berbagai golongan tenaga kerja terdapat perbedaan upah. Faktor-faktor penting
yang menjadi sumber dari perbedaan upah diantara pekerja-pekerja di dalam suatu
jenis kerja tertentu dan diantara berbagai golongan pekerjaan adalah adalah
sebagai berikut.

176
a. Perbedaan corak permintaan dan penawaran dalam berbagai jenis
pekerjaan. Di dalam suatu pekerjaan di mana terdapat penawaran tenaga
kerja yang cukup besar tetapi tidak banyak permintaannya, upah cenderung
mencapai tingkat yang rendah dan begitupula sebaliknya.
b. Perbedaan dalam jenis-jenis pekerjaan. Kegiatan ekonomi meliputi
berbagai jenis pekerjaan. Ada di antara pekerjaan tersebut merupakan
pekerjaan yang ringan dan sangat mudah dikerjakan. Tetapi ada pula
pekerjaan yang harus dikerjakan dengan mengeluarkan tenaga fisik yang besar
dan adapula pekerjaan yang dilakukan dalam lingkungan yang kurang
menyenangkan. Dengan demikian, penentuan upah diantara berbagai jenis
pekerjaan juga berbeda-beda.
c. Perbedaan kemampuan, keahlian dan pendidikan. Secara lahiriah
segolongan pekerja mempunyai kepandaian, ketekunan, dan ketelitian yang
lebih baik. Sifat tersebut menyebabkan mereka mempunyai produktivitas yang
lebih tinggi. Maka para pengusaha biasanya tidak segan-segan memberikan
upah yang lebih tinggi kepada pekerja yang seperti itu.
d. Terdapatnya pertimbangan bukan keuangan dalam memilih pekerjaan.
Ada tidaknya perumahan yang tersedia, jauh dekatnya kepada rumah pekerja,
apakah ia dikota atau di tempat terpencil, dan adakah pekerja ersebut harus
berpisah dari keluarganya atau tidak sekiranya ia menerima tawaran sesuatu
pekerjaan, adalah ebberapa pertimbangan tambahan yang harus dipikirkan.
Juga harus dipertimbangkan suasana kerja di dalam perusahaan yang
dimasuki. Seseorang seringkali bersedia menerima upah yang lebih rendah
apabila beberapa pertimbangan buka keuangan sesuai dengan keinginanya.
e. Ketidaksempurnaan dalam mobilitas tenaga kerja. Dalam konteks
mobilitas tenaga kerja kalau daalm pasar tenaga kerja terjadi perbedaan upah,
maka tenaga kerja akan mengalir ke pasar tenaga kerja yang upahnya lebih
tinggi. Perpindahan tersebut akan berlangsung sehingga tidak lagi terdapat
perbedaan upah. Pemisalan ini adalah sangat berbeda dengan kenyataan yang
wujud praktek. Upah dari suatu pekerjaan di berbagai wilayah dan bahkan di
dalam suatu wilayah tidak selalu sama. Salah satu faktor yang menimbulkan
perbedaan tersebut adalah ketidaksempurnaan dalam mobilitas tenaga kerja.

177
f. Faktor geografis. Faktor ini merupakan salah satu penyebab yang
menimbulkan ketidaksempurnaan dalam mobilitas tenaga kerja. Ada kalanya
di tempat-tempat tertentu terdapat masalah kekurangan buruh walaupun
tingkat upah lebih tinggi, sedang di tempat lain terdapat pengangguran dan
tingkat upah yang relatif rendah.
g. Faktor institusional. Di pekerjaan-pekerjaan tertentu terdapat organisasi
profesionel yang berusaha membatasi kemasukan tenaga profesionel yang
baru. Tujuannya adalah untuk menjamin supaya pendapatan mereka tetap
berada pada tingkat yang tinggi. Sebagai contoh, Amerika Serikat serikat-
serikat buruh adakalanya menuntuk kepada majikan untuk tidak mengambil
pekerja yang tidak menjadi anggota serikat buruh.

C. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
6. Di negara kita faktor institusional bukan merupakan faktor yang penting
dalam menghambat mobilitas tenaga kerja. Benarkah demikian? Jelaskan
alasannya!
7. Misalkan anda seorang pengusaha salah satu perusahaan.
a. Bagaimana anda memandang peranan dari produktivitas pekerja dalam
menentukan upah riel?
b. Keputusan apa yang akan anda ambil untuk meningkatkan produktivitas
pekerja?
c. Selain dari sisi produktivitas, faktor utama apa yang anda perhatikan
dalam menentukan upah?
8. Perhatikan data berikut ini.
Tahun Upah uang Indeks Harga
2000 $ 1.000 125
2001 1.250 130
2002 1.700 160
Dengan mengalikan upah uang dan indeks harga Q di atas dengan tiga angka
NIM terakhir masing-masing maka tentukan upah riel para pekerja dari tahun
ke tahun!
9. Analisis dampak dari pemberian upah, indeks harga, upah riel dan juga tingkat
kesejahteraan masyarakat!

178
10. Bagaimana seharusnya peran pemerintah dalam menstabilkan tingkat upah
dalam berbagai pasar? Studi kasus perbandingan dua bentuk pasar input yang
menarik perhatian anda!

D. DAFTAR PUSTAKA
Abdulrasul, Agung. 2013. Ekonomi Mikro. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Gilarso. 2001. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta: PT Kanisius
Mai, Candra dan Fitria Amalia. 2011. Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Esis.
Murni, Asfia. 2013. Ekonomika Mikro Edisi Kedua. Bandung: PT Refika
Aditama.
Paul A.Samuelson dan William D.Nordhaus. 1992. Economics, Fourteenth
Edition, McGraw-Hill., Inc, Singapore.
Raharja, Pratama dan Manurung Mandala. 2010. Teori Ekonomi Mikro Suatu
Pengantar Edisi Keempat. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sarnowo, Henry., Sunyoto, Danang. 2013. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro
(Teori & Soal) Edisi Terbaru. Yogyakarta: CAPS (Center for Academic
Publishing Service).
Sukirno, Sadono.2012. Mikro Ekonomi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sumarsono, Sonny. 2012. Pengantar Ekonomi Mikro. Jember: Laboratorium
Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Jember.
Sunarwo, Hendri. 2013. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta: Caps.
Tri Kunawangsih Pracoyo dan Antyo Pracoyo. 2006. Aspek Dasar Ekonomi
Mikro. Jakarta: PT Grasindo.

179
PERTEMUAN 17:
PASAR INPUT
(SEWA EKONOMI, MODAL DAN TINGKAT BUNGA)

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:

1.4 Menganalisis sewa ekonomi.


1.5 Menganalisis modal.
1.6 Menganalisis tingkat bunga.

B. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Menganalisis sewa ekonomi.

Dalam pengertian yang umum pada dasarnya sewa ekonomi dapat


diartikan sebagai harga yang dibayar ke atas penggunaan tanah dan faktor-faktor
produksi lainnya yang jumlah penawarannya tidak dapat ditambah. Ketika
masalah sewa mulai diperhatikan oleh ahli ekonomi, pengertian itu terutama
dikaitkan kepada sewa tanah, yaitu pembayaran yang harus dilakukan oleh petani-
petani ke atas tanah-tanah pertanian yang disewanya dari tuan-tuan pada masa itu.
Seperti dapat dilihat dari definisinya di atas, pengertian sewa meliputi arti yang
lebih luas. Konsep itu meliputi pula “pembayaran kepada faktor-faktor produksi
lainnya yang penawarannya tidak dapat ditamabah”.

DEFINISI LAIN
Segolongan ahli ekonomi mendefinisikan sewa ekonomi secara berikut:
sewa ekonomi adalah bagian pembayaran ke atas sesuatu faktor produksi yang
melebihi dari pendapatan yang diterimanya dari pilihan pekerjaan lain yang
terbaik yang mungkin dilakukannya. Definisi ini mengandung pengertian yang

180
agak berbeda dengan definisi yang telah dibuat terlebih dahulu. Di dalam definisi
ini sesuatu faktor produksi dipandang sebagai mempunyai beberapa kegunaan.
Pendapatan yang dibayar kepada sesuatu faktor produksi dapat dibedakan dalam
dua bagian. Bagian pertama dinamakan pendapatan pindahan atau transfer
earnings, yaitu bagian dari pendapatan tersebut yang digunakan untuk mencegah
faktor produksi tersebut digunakan untuk kegiatan ekonomi yang lain. Bagian
kedua dinamakan sewa ekonomi, yaitu bagian dari pendapatan yang merupakan
perbedaan diantara pendapatan pindahan. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut
dalam bagian yang kemudian dari uraian mengenai sewa ekonomi.

TANAH DAN SEWA EKONOMI


Tanah merupakan faktor produksi yang jumlahnya tidak dapat diubah,
yaitu jumlahnya tidak dapat ditambah atau ikurangi. Yang dapat dilakukan adalah
memperbaiki mutu dari tanah yang tersedia, misalnya dengan menyediakan irigasi
yang baik di tanah-tanah yang digunakan untuk persawahan, dan membuat
proyek-proyek mencegah banjir di tanah-tanah yang sering digenangi air.
Makin tinggi permintaan, makin tinggi pula sewa tanah yang harus dibayar.
Sedangkan permintaan ke atas tanah tergantung kepada sampai dimana besarnya
permintaan barang-barang yang dapat dihasilkan di atas tanah tersebut.
D1
D0
D2
Sewa S

R1 E1

R0 E0 D1

D0
E2
R2
D2

Jumla
h
Gambar 17.1 Kurva Penentuan Sewa Tanah
Berdasarkan kepada produksi yang harus dicapai pada harga tersebut,
keinginan petani untuk menggunakan tanah adalah seperti yang di tunjukkan oleh

181
gambar 17.1 di atas di mana D0 D0. Maka sewa tanah mencapai sebesar R0.
Misalnya secara mendadak, mungkin karena permintaan dari luar negeri yang
bertambah besar, harga jagung mengalami kenaikan yang sangat tinggi. Lebih
banyak orang yang mau menanam jagung. Maka permintaan ke atas tanah
bergeser menjadi D1 D1, sebagai akibatnya sewa tanah naik dari R0 menjadi R1.
Sekiranya keadaan yang sebaliknya yang berlaku, yaitu harga jagaung sangat
merosot, permintaan ke atas tanah untuk di tanami jagung akan merosor juga.
Katakanlah permintaan ke atas tanah menurun dari D0 D0 menjadi D2 D2, sebagai
akibatnya sewa tanah akan turun dari R0 menjadi R2.

SEWA TANAH ADALAH SUATU SURPLUS


Tanah merupakan satu-satunya faktor produksi yang tidak dapat berubah
penawarannya. Tenaga kerja akan selalu bertambah, begitu juga dengan modal
dan keahlian keusahawan. Apabila sewa rumah, bangunan perkantoran dan
bangunan pertokoan mengalami kenaikan yang cukup tinggi maka akan timbul
perangsang kepada para pengusaha untuk menambah penawaran bangunan
tersebut. Sebaliknya, apabila sewa berbagai bangunan tersebut terlalu rendah
kalua dibandingkan dengan modal yang ditanamkan untuk menyediakan
bangunan tersebut, para pemilik modal tidak akan menanamkan modalnya ke
sector bangunan.
Harga sewa tanah tidak dapat melakukan peranan yang sama seperti harga
faktor produksi lainnya. Maksudnya, perubahan sewa tanah tidak akan
menimbulkan pengaruh/efek apapun kepada penawarannya. Sewa tanah bukanlah
suatu pembayaran atau perangsang untuk menjamin agar tanah dapat disesuaikan
jumlah dan penawarannya dengan yang diperlukan dalam berbagai kegiatan
ekonomi. Apakah sewanya nol, atau sedikit, atau sangat tinggi, jumlah tanah yang
tersedia untuk digunakan dalam kegiatan ekonomi tetap sama banyaknya.

SEWA EKONOMI DAN PENDAPATAN PINDAHAN


Dalam menguraikan arti sewa ekonomi telah dinyatakan dua definisi dari
pengertian tersebut. Yang pertama adalah definisi yang sederhana, dan yang
kedua adalah definisi yang telah disempurnakan lagi oleh ahli-ahli ekonomi. Dari

182
definisi tersebut keatas dipandang dari sudut yang seperti itu, pembayaran keatas
penggunaan tanah perlu dibedakan menjadi dua macam pembayaran, yaitu sewa
ekonomi dan pendapatan pindahan.
Dalam pengertiannya yang sudah lebih disempurnakan, sewa ekonomi
juga dinikmati oleh faktor-faktor produksi lain yang penawarannya semakin
bertambah banyak apabila harganya naik. Tenaga kerja, sebagai contoh juga akan
memperoleh sewa ekonomi.
Upah
D S

W E

D=
W1 S MRP

L Jumlah Pekerja

Gambar 17.2 Kurva Sewa Ekonomi yang Diperoleh Tenaga Kerja

Keterangan:
Menggambarkan bahwa tenaga kerja sebelum L (di antara O dan L) bersedian
menerimah upah yang lebih rendah dari W. makin mendekati O kedudukan tenaga
kerja tersebut, maka rendah upah yang di mintanya. Namun demikian, setiap
tenaga kerja tersebut masing-masing memperoleh upah sebanyak W, yang berarti
mereka menerima lebih banyak dari pada yang mereka tuntut.

Tujuan pembelajaran 1.2:


Menganalisis modal.

Pembayaran ke atas modal yang dipinjam dari pihak lain dinamakan bunga. Ia
biasanya dinyatakansebagai persentasi dari modal yang dipinjam, seperti misalnya

183
10 persen, 12 persen atau 15 persen. Bunga yang dinyatakan sebagai persentasi
dari modal dinamakan suku bunga. Pada umumnya persentasi yang dinyatakan
menunjukkan suku bunga dari sejumlah modal di dalam satu tahun. Dengan
demikian kalau dinyatakan suku bunga 15 persen, artinya adalah: modal yang
dipinjamkan memperoleh suku bunga sebanyak 15 persen setahun.

PERANAN MODAL DALAM PEREKONOMIAN


Investasi atau penanaman modal adalah pengeluaran sektor perusahaan
untuk membeli/memperoleh barang-brang modal yang baru yang lebih modern
atau untuk menggantikan barang-barang modal lama yang sudah tidak digunakan
lagi. Untuk melakukan penanaman modal para pengusaha memerlukan dana.
Adakalanya dana ini bersumber dari tabungan perusahaan yaitu dana yang
diperoleh dari keuntungan yang tidak dibagikan. Di samping itu banyak pula
perusahaan yang memperoleh dana tersebut dari meminjam dari pihak lain.

PRODUKTIVITAS MODAL
Permintaan dana modal yang akan digunakan untuk investasi tergantung
kepada produktivitas dari dana modal tersebut. Dengan demikian, seperti juga
dengan tenaga kerja, faktor yang terutama yang menentukan permintaan ke atas
dan modal adalah produktivitasnya. Produktivitas dari modal dihitung dengan cara
menentukan besarnya pendapatan rata-rata tahunan neto (yaitu setelah dikurangi
dengan penyusutan modal yang digunakan) dan dinyatakan sebagai persentasi dari
modal yang ditanamkan. Produktivitas modal tersebut dinamakan tingkat
pengembalian modal atau rate of returns. Di bawah ini digambarkan suatu contoh
sederhana untuk menghitung tingkat pengembalian modal.
Misalkan seorang hartawan atau seorang pemilik modal membeli sebuah
angkot (bus angkutan kota) dengan harga Rp 100 juta dan dalam setahun biaya
operasi yang dikeluarkannya adalah Rp 25 juta. Sejak permulaan dia berniat untuk
menggunakan angkot itu selama setahun. Pada akhir tahun angkot tersebut
dijualkan dengan harga Rp 75 juta. Apabila dalam setahun tersebut seluruh
pembayaran dari penumpang yang diperolehnya adalah sebanyak RP 75 juta,
berapakah tingkat pengembalian modal yang diterimanya?

184
Modal dan biaya pengurusan angkot tersebut adalah Rp 100 juta + Rp 25
juta = Rp 125 juta. Dari jumlah ini pada akhir tahun dia mendapat kembali Rp 75
juta, maka pengeluaran neto berjumlah Rp 125 juta – Rp 75 juta = Rp 50 juta.
Telah dimisalkan sewa penumpang berjumlah Rp 75 juta.
Dengan demikian pendapatan bersih pemilik modal tersebut adalah: Rp 75
juta - Rp 50 juta = Rp 25 juta. Berdasarkan data di atas tingkat pengembalian
modal angkot tersebut dapat ditentukan, yaitu seperti ditunjukkan dalam
perhitungan berikut:
25 Juta
X 100  25 persen
100 Juta

MENENTUKAN TINGKAT PENGEMBALIAN MODAL


Di dalam kegiatan perusahaan yang sebenarnya perhitungan tingkat
pengembalian modal adalah lebih rumit. Kerumitan tersebut timbul sebagai akibat
dari usia barang modal yang panjang, yaitu ia dapat digunakan selama beberapa
tahun, dan bahkan banyak yang penggunaannya dapat dilakukan selama berpuluh-
puluh tahun. Dengan demikian pendapatan yang diperoleh dari suatu imvestasi
pada umumnya meliputi lebih dari satu tahun. Apabila sesuatu barang modal
dapat digunakan dan memberikan pendapatan selama beberapa tahun, tingkat
pengembalian modal dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

X1 X2 X3 Xn A
Nilai Investasi =   ... 
(1  R) (1 R) (1 R) (1 R) (1 R)n
2 3 n

Di mana nilai investasi menunjukkan besarnya investasi yang dilakukan


oleh perusahaan untuk mewujudkan suatu barang modal tertentu (misalnya barang
modal itu adalah pabrik tenun). Dalam persamaan ini dimisalkan seluruh investasi
dilakukan dalam satu tahun pertama. Seterusnya X1, X2, X3 ….. Xn adalah pendapatan
bersih, yaitu hasil penjualan pada tahun 1, 2, 3 setelah dikurangi oleh
biaya produksi dan operasi, perusahaan tersebut ditahun-tahun yang bersamaan.
Umur ekonomi barang modal itu adalah n, dan A nilai barang modal itu pada
akhir tahun n. Nilai R, yang dinyatakan dalam persen, adalah tingkat

185
pengembalian modal perusahaan tersebut. Perusahaan akan dapat mengetahui
nilaiinvestasi yang dilakukannya, dan di samping itu dapat meramalkan X1, X2, X3
….. Xn dan A. dengan demikian nilai R dapat dihitung. Ia dinyatakan sebagai
persentasi dari nilai investasi.

PERMINTAAN TERHADAP DANA MODAL


Berbagai jenis investasi mempunyai pengembalian modal yang berbeda.
Ada yang tingkat pengembalian modalnya tinggi dan ada pula tingkat
pengembalian modalnya rendah. Apabila para pengusaha mengetahui sepenuhnya
berbagai kemungkinan untuk melakukan investasi, mereka akan mendahulukan
investasi yang tingkat pengembalian modalnya tinggi. Baru setelah proyek
tersebut dilaksanakan, mereka akan mengembangkan proyek yang tingkat
pengembalian modalnya lebih rendah. Sampai dimana perusahaan-perusahaan
akan meminta dana modal tergantung kepada suku bunga yang berlaku dalam
perekonomian. Misalkan suku bunga adalah 10 persen. Pada suku bunga ini
adalah tidak menguntungkan kepada perusahaan untuk melakukan investasi yang
tinggi pengembalian modalnya adalah di bawah 10 persen karena keuntungan
yang diperoleh tidak dapat membayar bunga ke atas dana modal yang
dipinjamnya. Dengan demikian pada suku bunga sebesar 10 persen, para
pengusaha akan mengembangkan proyek-proyek yang tingkat pengembalian
modalnya setidak-tidaknya sama dengan suku bunga.

Tujuan pembelajaran 1.3:


Menganalisis tingkat bunga.

Dalam suatu perekonomian tidak semua pendapatan yang diterima


masyarakat akan digunakan untuk pengeluaran konsumsi. Sebagian dari
pendapatan tersebut akan disisihkan oleh penerima pendapatan sebagai tabungan.
Penabungan ini dilakukan untuk beberapa tujuan, seperti untuk membiayai
pengeluarankonsumsi semasa sudah mencapai usia pensiun, untuk mengumpulkan
biaya pendidikan anak-anak padamasa mereka dewasa, dan untuk berjaga-jaga
di dalam menghadapi kesusahan di masa yang akan datang.

186
TEORI-TEORI SUKU BUNGA
a. Teori Suku Bunga Klasik
Menurut kaum klasik, suku bunga menentukan besarnya tabungan maupun
investasi yang akan dilakukan dalam perekonomian yang menyebabkan tabungan
yang tercipta pada penggunaan tenaga kerja penuh akan selalu sama yang
dilakukan oleh pengusaha. beranjak dari teori ekonomi mikro, teori klasik
mengatakan bahwa tingkat bunga merupakan nilai balas jasa dari modal. Dalam
teori klasik, stok barang modal dicampuradukkan dengan uang dan keduanya
dianggap mempunyai hubungan subtitusif. Semakin langka modal, semakin tinggi
suku bunga. Sebaliknya, semakin banyak modal semakin rendah tingkat suku
bunga.
Investasi juga merupakan fungsi dari suku buga. Makin tinggi suku bunga,
keinginan masyarakat untuk melakukan investasi juga semakin kecil. Alasannya,
seorang pengusaha akan menambah pengeluaran investasinya apabila keuntungan
yang diharapkan dari investasi lebih besar dari suku bunga yang harus dibayar
untuk dana investasi tersebut merupakan ongkos untuk penggunaan dana (Cost of
Capital). Makin rendah suku bunga, maka pengusaha akan lebih terdorong untuk
melakukan investasi, sebab biaya penggunaan dana juga makin kecil.

Suku bunga dalam keadaan keseimbangan (artinya ada dorongan untuk


naik atau turun) akan tetapi keinginan masyarakat untuk menabung sama dengan
keinginan masyarakat untuk melakukan investasi.
b. Teori Suku Bunga Keynes
Keynes mempunyai pandangan yang berbeda dengan klasik. Tingkat bunga
itu merupakan suatu fenomena moneter. Artinya, tingkat bunga ditentukan oleh
penawaran dan permintaan uang (ditentukan dalam pasar uang). Uang akan
mempengaruhi kegiatan ekonomi (GNP), sepanjang uang ini mempengaruhi
tingkat bunga. Perubahan tingkat bunga selanjutnya akan mempengaruhi
keinginan untuk mengadakan investasi dengan demikian akan mempengaruhi
GNP. Keynes mengasumsikan bahwa perekonomian belum mencapai full
employment. Oleh karena itu, produksi masih dapat ditingkatkan tanpa mengubah

187
tingkat upah maupun tingkat harga. Dengan menurunkan tingkat bunga, investasi
dapat dirangsang untuk meningkatkan produk nasional. Dengan demikian
setidaknya untuk jangka pendek, kebijaksanaan moneter dalam teori Keynes
berperan untuk meningkatkan produk nasional.
Pertama, Keynes menyatakan bahwa masyarakat mempunyai keyakinan
bahwa ada suatu tingkat bunga yang normal. Jika memegang surat berharga pada
waktu tingkat bunga naik (harga turun) mereka akan menderita kerugian. Mereka
akan menghindari kerugian ini dengan cara mengurangi surat berharga yang
dipegangnya dan dengan sendirinya menambah uang yang dipegang.
Kedua, sehubungan dengan biaya memegang uang kas. Makin tinggi
tingkat bunga, makin besar pula biaya memegang uang kas, sehingga keinginan
memegang uang kas juga semakin rendah sehingga permintaan akan uang kas
naik. Dari kedua penjelasan diatas, dijelaskan adanya hubungan negatif antara
tingkat bunga dengan permintaan akan uang tunai. Permintaan uang ini akan
menetukan tingkat bunga. Tingkat bunga berada dalam keseimbangan apabila
jumlah uang kas yang diminta sama dengan penawarannya.
c. Teori Suku Bunga Hicks
Hicks mengemukakan teorinya bahwa tingkat bunga berada dalam
keseimbangan pada suatu perekonomian bila tingkat bunga ini memenuhi
keseimbangan sektor moneter dan sektor rill. Pandangan ini merupakan gabungan
dari pendapat klasik dan Keynesian, dimana mashab klasik mengatakan bahwa
bunga timbul karena uang adalah produktif artinya bahwa bila seseorang memiliki
dana maka mereka dapat menambah alat produksinya agar keuntungan yang
diperoleh meningkat. Jadi uang dapat meningkatkan produktivitas sehingga orang
ingin membayar bunga. Sedangkan menurut keneysian bahwa uang bisa produktif
dengan metode spekulasi di pasar uang dengan kemungkinan memperoleh
keuntungan, dan keuntungan inilah sehingga orang ingin membayar bunga.
Dari beberapa konsep tentang tingkat bunga, maka dapat kita hubungkan
antara tingkat suku bunga tabungan dengan tingkat bunga kredit, dimana sektor
perbankan menghimpun dana melalui giro, deposito dan tabungan lalu disalurkan
melalui berbagai fasilitas kredit. Jelaslah bahwa penawaran kredit perbankan

188
ditentukan oleh adanya akumulasi modal dalam bentuk deposito dan tabungan
sebagai salah satusumber dana perbankan dalam menyalurkan kredit.
Adanya tabungan masyarakat tidaklah berarti dana hilang dari peredaran,
tetapi dipinjam/dipakai oleh pengusaha untuk membiayai investasi. Penabung
mendapatkan bunga atas tabungannya, sedangkan pengusaha bersedia membayar
bunga tersebut selama harapan keuntungan yang diperoleh dari investasi lebih
besar dari bunga tersebut. Adanya kesamaan antara tabungan dengan investasi
adalah sebagai akibat bekerjanya mekanisme tingkat bunga. Besarnya tingkat
suku bunga yang ditetapkan oleh bank juga dipengaruhi oleh besarnya cost of
money. Tingkat bunga kredit yang ditetapkan untuk seluruh nasabah harus labih
besar dari jumlah cost of money dan biaya operasionalnya.

FAKTOR PENYEBAB PERBEDAAN SUKU BUNGA


Dalam teori, analisis mengenai penentuan suku bunga menganggap bahwa
dalam perekonomian terdapat hanya satu suku bunga. Di dalam kenyataan,
keadaan adalah sangat berbeda, yaitu di dalam perekonomian terdapat beberapa
suku bunga. Seseorang yang menabung uangnya di bank menerima suku bunga
yang berbeda dari seseorang yang meminjam uang dari bank. Suku bunga
pinjaman pemerintah berbeda dengan suku bunga yang dibayar konsumen. Dan
bank mengenakan suku bunga yang berbeda kepada nasabah-nasabahnya.
Perbedaan itu disebabkan beberapa faktor. Yang terpenting diterangkan dibawah
ini.
a. Perbedaan Risiko
Pinjaman pemerintah membayar suku bunga yang lebih rendah dari suku
bunga pinjaman swasta.Walaupun begitu pemerintah masih dapat memperoleh
pinjaman yang diperlukannya karena resiko dari meminjamkan kepada
pemerintah adalah sangat kecil. Salah satu pertimbangan bank-bank di dalam
menentukan suku bunga yang akan dikenakannya adalah risiko dari memberikan
pinjaman tersebut. Kepada usaha yang telah lama berkembang, atau kepada usaha
yang tidak banyak risikonya, mereka bersedia mengenakan suku bunga yang
rendah. Kepada usaha yang sangat tinggi risikonya mereka akan mengenakan
suku bunga yang tinggi.

189
b. Jangka Waktu Pinjaman
Semakin lama sejumlah modal dipinjamkan, semakin besar tingkat bunga
yang harus dibayar. Salah satu sebab dari keadaan ini adalah karena resiko yang
ditanggung peminjam akan menjadi semakin besar apabila jangka waktu
peminjaman bertambah panjang, sebab lain adalah karena pemilik
modalkehilangan kebebasan untuk menggunakan modalnya dalam jangka waktu
yang lebih lama. Di sampingitu para peminjam bersedia membayar tingkat bunga
yang lebih tinggi karena mereka mempunyai waktu yang lebih panjang untuk
mengembalikan pinjamannya.
c. Biaya Administrasi Pinjaman
Jumlah dana yang dipinjam sangat berbeda, sedangkan biaya administrasi
untuk proses pinjaman tidak banyak berbeda. Apakah sesuatu perusahaan
meminjam Rp. 100 juta atau Rp. 10 juta, biaya administrasinya adalah sama.
Maka diukur dari sudut biaya administrasi untuk pinjaman per rupiah, pinjaman
sebesar Rp. 10 juta akan menelan biaya yang lebih tinggi dari pinjaman sebesar
Rp. 100 juta. Dengan demikian, berdasarkan kepada pertimbangan biaya
administrasi, pinjaman yang relative lebih kecil jumlahnya akan membayar suku
bunga yang lebih tinggi.
SUKU BUNGA NOMINAL DAN SUKU BUNGA RIIL
Di dalam meminjamkan uang pemilik modal bukan saja memperhatikan
suku bunga yang diterima, tetapi juga tingkat inflasi (presentasi tahunan kenaikan
harga-harga) yang berlaku. Apabila tingkat inflasi adalahlebih tinggi dari suku
bunga, pemilik modal akan mengalami kerugian dalam meminjamkan
uangnyakarena modal ditambah bunganya, nilai riilnya adalah lebih rendah dari
nilai riil modal sebelumdibungakan.Karena kenaikan harga-harga merupakan
keadaan yang sering berlaku disetiap perekonomian, didalam membicarakan
mengenai suku bunga perlulah dibedakan di antara suku bunga nominal dan
sukubunga riil.
Kalau kita baca di surat kabar atau majalah bahwa suku bunga deposito
berjangka satu tahundi suatu bank adalah 15 persen per tahun, maka suku bunga
ini dinamakan suku bunga nominal. Ia adalah suku bunga yang digunakan sebagai
ukuran untuk menentukan besarnya bunga yang harus dibayar oleh pihak

190
peminjam dana modal. Sedangkan tingkat bunga riil menunjukkan presentasi
kenaikan nilai riil modal ditambah bunga dalam setahun, dinyatakan sebagai
persentasi dari nilai riil modal sebelum dibungakan. Sebagai contoh, kalau pada
waktu yang sama harga-harga naik sebesar 10 persen, nilai riil modal ditambah
bunganya bukan mengalami kenaikan sebesar 15 persen. Kenaikan nilai riil modal
hanyalah sebanyak (15-10) persen atau 5 persen. Dengan demikian suku bunga riil
adalah 5 persen.

h. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
1. Analisis sebuah kasus yang menggambarkan sewa ekonomi lengkapi dengan
contoh kurva!
2. Permintaan dana modal yang akan digunakan untuk investasi tergantung
kepada produktivitas dari dana modal tersebut. Jelaskan mengapa demikian
disertai contoh kasus di Indonesia!
3. Tuan Fendi memiliki sebuah mobil dipergunakan untuk usaha Grab Car
dengan harga Rp 250 juta dan dalam setahun biaya operasi yang
dikeluarkannya adalah Rp 100 juta. Sejak permulaan dia berniat untuk
menggunakan mobil itu selama setahun. Pada akhir tahun mobil tersebut
dijualkan dengan harga Rp 200 juta. Apabila dalam setahun tersebut seluruh
pembayaran dari penumpang yang diperolehnya adalah sebanyak RP 150
juta, berapakah tingkat pengembalian modal yang diterimanya?
4. Analisis kelebihan dan kelemahan dari teori suku bunga yang ada!
5. Ada tiga faktor penyebab perbedaan suku bunga. Jelaskan bagaimana
nasabah mengatasi hal tersebut!

i. DAFTAR PUSTAKA
Abdulrasul, Agung. 2013. Ekonomi Mikro. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Ahmad. 2005. Mata Uang Islami. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Fatoni Siti Nur. 2014. Pengantar Ilmu Ekonomi. Bandung: Pustaka Setia Hasan.

191
Gilarso. 2001. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta: PT Kanisius
Mai, Candra dan Fitria Amalia. 2011. Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Esis.
Murni, Asfia. 2013. Ekonomika Mikro Edisi Kedua. Bandung: PT Refika
Aditama.
Paul A.Samuelson dan William D.Nordhaus. 1992. Economics, Fourteenth
Edition, McGraw-Hill., Inc, Singapore.
Raharja, Pratama dan Manurung Mandala. 2010. Teori Ekonomi Mikro Suatu
Pengantar Edisi Keempat. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sarnowo, Henry., Sunyoto, Danang. 2013. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro
(Teori & Soal) Edisi Terbaru. Yogyakarta: CAPS (Center for Academic
Publishing Service).
Sukirno, Sadono. 2012. Mikro Ekonomi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sumarsono, Sonny. 2012. Pengantar Ekonomi Mikro. Jember: Laboratorium
Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Jember.
Sunarwo, Hendri. 2013. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta: Caps.

192
PERTEMUAN 18:
EKSTERNALITAS DAN KEGAGALAN PASAR

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu:

1.1 Menganalisis konsep eksternalitas.


1.2 Menganalisis solusi perusahaan untuk eksternalitas.
1.3 Menganalisis campur tangan pemerintah atas eksternalitas.
1.4 Menganalisis kegagalan pasar.
1.5 Menganalisis teori penyediaan barang publik.

B. URAIAN MATERI

Tujuan pembelajaran 1.1:


Menganalisis konsep eksternalitas.

PENGERTIAN EKSTERNALITAS
Eksternalitas (eksternality) muncul ketika seseorang terlibat dalam
kegiatan yang mempengaruhi kesejahteraan orang lain, namun tidak membayar
dan atau menerima kompensasi atas dampak tersebut. Apabila dampak yang
ditimbulkan oleh kegiatan itu buruk, maka disebut eksternalitas negatif.
Sebaliknya apabila dampak yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut adalah baik,
maka disebut eksternalitas positif.
Dengan demikian, eksternalitas (ekternality) dapat disimpulkan merupakan
dampak aktivitas satu pelaku ekonomi terhadap kesejahteraan pelaku ekonomi
lainnya, seperti debu beterbangan di udara atau bahan kimia beracun yang muncul
di air minum. Definisi tersebut tidak termasuk pengaruh yang terjadi melalui pasar
jika saya membeli suatu jenis barang yang dijual sebelum anda membelinya, saya
mungkin menyebabkan anda gagal membelinya dan oleh karenanya akan
mempengaruhi akan mempengaruhi kesejahteraan anda. hal tersebut bukanlah
merupakan eksternalitas dalam pengertian kita karena efeknya terjadi dalam

193
tatanan pasar. Kejadian tersebut tidak mempengaruhi kemampuan pasar untuk
mengalokasikan sumberdaya secara efisien. Eksternalitas sesungguhnya dapat
terjadi antara dua pelaku ekonomi.

BENTUK EKSTERNALITAS
Di sini, pertama kali kita mengilustrasikan eksternalitas yang negatif
(merugikan) dan positif (menguntungkan) di antara dua perusahaan. Kemudian
kita membahas eksternalitas antara orang dan perusahaan dan menyimpulkannya
dengan mempelajari eksternalitas antar orang.
a. Eksternalitas antar Perusahaan
Andaikan terdapat dua perusaaan satu memproduksi kecamata, dan
perusahaan yang lain memproduksi arang (hal ini merupakan contoh actual dari
hokum Inggris pada abad 19). Perusahaan yang memproduksi arang dikatakan
mempunyai efek eksternal terhadap produksi kacamata jika output kacamata tidak
hanya tergantung pada jumlah input yang dipilih oleh perusahaan kacamata tetapi
juga pada tingkat produksi arang. Misalkan kedua perusahaan tersebut lokasinya
saling berdekatan, dan perusahaan kacamata berada dalam arah angin dari
perusahaan arang. Dalam kasus ini, output kacamata mungkin tergantung tidak
hanya dari input kacamata yang digunakan perusahaan, tetapi juga pada jumlah
arang yang terbawa oleh udara, yang mempengaruhi ketelitian mesin
penghalusnya. Tingkat polusi, selanjutnya, ditentukan oleh output dari perusahaan
arang. Meningkatnya output arang akan menyebabkan menurunnya jumlah
kacamata yang berkualitas tinggi yang diproduksi meskipun perusahaan kacamata
tidak berkuasa untuk mengendalikan efek negatif ini.
Hubungan antara dua perusahaan mungkin juga saling menguntungkan.
Kebanyakan contoh dari eksternalitas positif agak berbau tradisional. Mungkin
contoh yang paling terkenal, adalah yang diajukan oleh James Meade, yang
melibatkan dua perusahaan, satu memproduksi madu dengan memelihara lebah,
dan perusahaan lain memproduksi apel. Karena makanan lebah ada pada bunga
apel, kenaikan produksi apel akan meningkatkan produktivitas pada industri
madu. Efek yang saling menguntungkan, berupa lebah yang diberi makanan
dengan baik, adalah eksternalitas positif bagi peternak lebah. Begitu juga halnya,

194
lebah menyerbuki apel dan peternak lebah memberikan keuntungan eksternal
kepada para pemilik lahan perkebunan.

b. Eksternalitas antar Perusahaan dan Orang


Aktivitas produksi perusahaan dapat berpengaruh secara langsung
terhadap kesejahteraan individu. Suatu perusahaan yang memproduksi polusi
udara menyebabkan biaya pada individu yang tinggal di dekat perusahaan, dalam
bentuk turunnya tingkat kesehatan dan peningkatan debu serta lumpur. Efek yang
serupa timbul dari perusahaan yang menyebabkan polusi air (contohnya,
perusahaan tambang yang membuang limbah ke danau, mengurangi nilai rekreasi
danau bagi orang yang ingin memancing di sana). Dan memproduksi kebisingan
(bandara yang berlokasi di dekat kota besar). Dalam seluruh kasus tersebut, paling
tidak pada inspeksi pertama, kelihatannya perusahaan tidak akan
memperhitungkan setiap biaya eksternal ini dalam mengambil keputusan
mengenai jumlah yang harus diproduksi.
Tentu saja, orang-orang mengkin juga mempunyai efek eksternal terhadap
perusahaan. Polusi kendaraan bermotor merugikan produktivitas para petani jeruk,
membersihkan sampah dan grafiti merupakan biaya utama bagi pusat pertokoan,
dan kebisingan konser rock malam minggu di kampus mungkin mempengaruhi
penyewa motel. Pada setiap kasus, seperti pada eksternalitas yang ditimbulkan
oleh perusahaan, mungkin tidak ada cara yang sederhana bagi pihak yang terkena
dampak untuk menekan pihak yang mengakibatkan eksternalitas tersebut agar
memperhitungkan seluruh biaya yang timbul akibat kegiatan tersebut.
c. Eksternalitas antar Orang
Akhirnya, aktivitas dari setiap orang mungkin mempengaruhi
kesejahteraan orang lain. Membunyikan radio terlalu keras, merokok, atau
menyetir selama jam-jam sibuk seluruhnya merupakan aktivitas konsumsi yang
mungkin memberikan pengaruh secara negatif atas kepuasan orang lain.
Menanam kebun yang menarik atau menyingkirkan salju dari jalanan, di lain
pihak, memberikan eksternalitas yang menguntungkan. Seringkali, namun
demikian, aktivitas ini tidak akan tercermin dalam transaksi pasar di antara pihak
yang terlibat.

195
Karakteristik Timbal balik dari Eksternalitas
Meskipun contoh-contoh eksternalitas ini menggambarkan suatu pelaku
sebagai penyebab masalah dan pelaku lainnya sebagai korban yang tak berdaya
(atau pihak yang diuntungkan), hal tersebut bukanlah suatu cara yang sangat
berguna untuk menjelaskan masalah tersebut. Berdasarkan definisi eksternalitas
membutuhkan (paling tidak) dua pihak dan salah satunya harus diberlakukan
sebagai “penyebab”. Jika produsen kacamata tidak menempatkan pabriknya di
dekat pabrik pembakaran arang, dia tidak akan terkena efek negatif pada roda
pengasahannya. Jika para individu tidak tinggal di bawah zona penerbangan,
kebisingan akan menjadi masalah kecil. Dan jika anda berada di luar jarak
pendengaran, tidak akan bermasalah apabila orang lain membunyikan radio
dengan keras.
Pengenalan hubungan yang saling timbal balik ini tidak bermaksud untuk
membebaskan para pembuat dari tuntutan, tapi hanya untuk mengklarifikasi sifat
dari masalah tersebut. Dalam semua kasus ini, dua pelaku ekonomi berusaha
untuk menggunakan sumberdaya yang sama.

EKSTERNALITAS DAN KETIDAKEFISIENAN PASAR


Pada bagian ini, kita akan menunjukkan bagaimana eksternalitas
menyebabkan pasar mengalokasikan sumber daya secara tidak efisien. Di samping
hal tersebut kita juga menguraikan berbagai cara yang dapat ditempuh pelaku-
pelaku swasta dan pembuat kebijakan publik untuk memperbaiki kegagalan pasar.
a. Eksternalitas Negatif
Pertama-tama, mari kita berasumsi bahwa industri tambang penghasil
nikel menghasilkan polusi. Untuk setiap kilogram nikel yang dihasilkan, sejumlah
asap memasuki atmosfer. Asap tersebut menciptakan risiko kesehatan bagi siapa
saja yang menghirup udaranya. Asap menghasilkan eksternalitas negatif.
Bagaimana eksternalitas tersebut memengaruhi efisiensi pasar?
Eksternalitas negatif menyebabkan biaya masyarakat untuk memproduksi
nikel lebih besar dari biaya produksi bagi prousen nikel, untuk setiap kilogram
nikel yang diproduksi. Biaya sosial industri tambang nikel tersebut meliputi biaya

196
swasta dari para produsen nikel ditambah biaya bagi orang-orang lain yang
terkena dampak buruk polusinya.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana perusahaan mencapai hasil yang
optimal. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengenakan pajak
kepada produsen nikel untuk setiap kilogram nikel yang diproduksi. Manfaat
pajak yang dikenakan semacam ini disebut internaliasi eksternalitas (internalizing
an externality) karena pajak tersebut memberi intensif kepada konsumen dan
penjual di pasar untuk memperhitungkan dampak eksternal atas tindakan-tindakan
mereka. Produsen nikel akan memperhitungkan danpak dan biaya atas polusi pada
saat memutuskan berapa banyak nikel yang harus diproduksi karena mereka harus
membayar biaya-biaya eksternal tersebut melalui pajak.
b. Eksternalitas Positif
Sudah diuraikan bahwa bebrapa jenis kegiatan dapat menimbulkan biaya-
biaya bagi pihak lain, namun beberapa kegiatan yang lain menghasilkan manfaat.
Contoh kegiatan yang menghasilkan eksternalitas positif adalah pendidikan.
Pendidikan menghasilkan eksternalitas yang positif karena dengan pendidikan
membuat masyarakat lebih terdidik. Pendidikan akan menciptakan kehidupan
yang lebih baik dan dapat menguntungkan semua orang. Misalnya manfaat
pendidikan terhadap produktivitas tidak dengan sendirinya menciptakan
eksternalitas. Konsumen pendidikan mendapatkan manfaat dalam bentuk upah
yang tinggi, dan apabila sebagian dari manfaat produktivitas atas pendidikan
tersebut menguntungkan pihak-pihak lain, maka dampak tersebut juga disebut
sebagai eksternalitas positif.
Dalam kondisi semacam ini, pemerintah dapat mengintervensi untuk
memperbaikinya dengan mendorong semua pihak yang terlibat dalam pasar untuk
menginternalisasikan eksternalitas ini. Tindakan yang wajar atas kasus
eksternalitas positif ini adalah kebalikan atas kasus eksternalitas negatif. Untuk
menggeser keseimbangan pasar agar mendekati titik optimum secara sosial, maka
eksternalitas positif harus disubsidi. Dalam kenyataannya, pemerintah melakukan
subsidi untuk pendidikan. Subsidi pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah
Indonesia dewasa ini antara lain pembangunan sekolah-sekolah negeri, beasiswa
pendidikan di dalam maupun di luar negeri.

197
Tujuan pembelajaran 1.2:
1.2 Menganalisis solusi perusahaan untuk eksternalitas.

SOLUSI PERUSAHAAN UNTUK EKSTERNALITAS


Kita sudah memahami mengapa eksternalitas membuat pasar tidak mampu
mengalokasikan sumberdaya dengan efisien, tapi baru sedikit menjelaskan
mengenai ketidakefisienan itu dapat ditanggulangi. Pada praktiknya, para pelaku
swasta maupun pemerintah dapat menanggapi eksternalitas dalam berbagai cara.
Pada dasarnya, semua penanggulangan tersebut sama-sama bertujuan mengubah
alokasi sumberdaya agar pasar mendekati titik optimal secara sosial. Pada bagian
ini, kita akan menjelaskan solusi-solusi yang dapat dilakukan oleh perusahaan
dalam menanggulangi eksternalitas tersebut.

Jenis-Jenis Solusi Perusahaan


Dalalm menyelesaikan persoalan eksternalitas yang menyebabkan pasar
tidak efisien, pemerintah tidak selamanya perlu turun tangan dalam
menyelesaikan kasus tersebut. Pada kondisi tersebut, perusahaan dapat
mengembangkan solusi tertentu untuk menyelesaikannya. Kadang-kadang
eksternalitas dapat diselesaikan dengan pertimbangan moral dan hukuman-
hukuman sosial. Walaupun telah ada aturan yang melarang membuang sampah di
sembrang tempat, namun aturan tidak dijalankan dengan baik. Kebanyakan di
antara kita membuang sampah di sembarang tempat adalah tidak benar. Perihal
moral memberi tahu kita bahwa tindakan-tindakan yang kita lakukan pasti
mempengaruhi orang lain. Dalam istilah ekonomi aturan yang ada,
memerintahkan kita untuk menginternalisasi eksternalitas.
Solusi lain yang dapat dilakukan adalah beramal. Kebanyakan program
amal yang ada ditujukan untuk menangani eksternalitas. Misalnya organisasi
lingkungan dengan tujuan melindungi lingkungan, kebanyakan dari mereka
didanai oleh donasi-donasi swasta. Bantuan beasiswa pendidikan dari swasta
dengan alasan bahwa perguruan tinggi menghasilkan eksternalitas positif.

198
Pasar sering kali dapat menyelesaikan eksternalitas dengan mengandalkan
kepentingan-kepentingan pribadi dari pihak-pihak yang terkait. Kadangkala solusi
ini berbentuk integrasi dari berbagai jenis bisnis. Sebagai contoh, seorang petani
apel dan peternak lebah hidup bertetangga. Masing-masing bisnis memberikan
eksternalitas positif bagi yang lain. Lebah membantu menyerbukkan bunga dari
pohon-pohon apel. Dengan demikian, maka lebah tersebut membantu petani apel
dalam menghasilkan apel, dan pada saat yang bersamaan lebah-lebah ersebut
menggunakan sari bunga dari pohon apel tersebut untuk menghasilkan madu.
Ketika petani apel menentukan berapa banyak pohon yang akan ditanam dan
peternak lebah menentukan berapa banyak lebah yang harus dipelihara, mereka
mengabaikan eksternalitas positif ini. Dampaknya adalah petani apel menanam
apel terlalu sedikit dan peternak lebih memelihara lebah terlalu sedikit.
Eksternalitas ini pada dasarnya dapat diinternalisasi seandainya si peternak lebih
memilih membeli kebun apel tersebut atau petani apel membeli peternakan lebah
tersebut. Kedua kegiatan ini akan berjalan dalam satu perusahaan dan perusahaan
tunggal yang ada dapat menentukan jumlah pohon apel yang harus dipelihara dan
jumlah lebah yang harus diternak agar hasil yang diperoleh optimal. Internalisasi
eksternalitas ini menjadi alasan bagi banyak pengusaha terlibat dalam banyak
bisnis yang berbeda.
Cara lain perusahaan dalam menghadapi dampak eksternalitas adalah
pihak-pihak yang mempunyai kepentingan menandatangani suatu kontrak.
Misalnya petani apel dan peternak lebah dapat menyelesaikan masalah jumlah
pohon dan lebah. Dalam kontrak dapat dinyatakan dengan jelas jumlah tanaman
apel dan laba serta mungkin jumlah harus dibayarkan antara pihak petani apel dan
pihak peternak lebah. Dengan mengatur jumlah pohon apel dan jumlah lebah yang
diternak dengan tetap, maka kontrak tersebut dapat menyelesaikan masalah
ketidakefisienan yang umumnya muncul dari eksternalitas tersebut dan membuat
keduanya lebih diuntungkan.

Mengapa Solusi Perusahaan tidak selalu Bekerja dengan Baik


Tidak jarang terjadi pihak-pihak yang berkepentingan gagal
menyelesaikan persoalan eksternalitas karena adanya biaya transaksi (transaction

199
cost) yng harus dikeluarkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk
melakukan tawar-menawar dan mencapai kesepakatan. Dalam contoh yang
realistis, biaya-biaya transaksi adalah pengeluaran untuk membayar para
pengacara.
Dalam kondisi yang lain, tawar-menawar tidak dapat dilakukan. Dilakukan
pemogokan oleh serikat buruh, menunjukkan bahwa untuk mencapai kesepakatan
adalah sesuatu yang sulit dilakukan, dan kegagalan dalam mencapai kesepakatan
dapat menjadi sesuatu yang sangat merugikan bagi pihak-pihak yang
berkepentingan. Dalam kenyataannya, seringkali masing-masing pihak saling
menahan diri guna memperoleh kesepakatan yang lebih baik dari sudut pandang
mereka.
Mencapai kesepakatan yang efisien sangatlah sulit dilakukan terutama
apabila jumlah yang berkepentingan sangat banyak karena mengoordinasikan
orang-orang dalam jumlah besar membutuhkan biaya yang tidak sedikit, misalnya
pabrik gula membuang polusinya pada sungai yang ada di sekitarnya. Polusi
tersebut menghasilkan eksternalitas negatif bagi semua warga yang ada di hilir
sungai tersebut. Akan tetapi, apabila jumlah masyarakat di hilir sangat banyak,
maka mengoordinasikan mereka untuk melakukan tawar-menawar dengan pabrik
tersebut mungkin tidak dapat dilakukan.
Apabila tawar menawar antara swasta tidak berhasil dilakukan, maka
pemerintah dapat memainkan satu peran. Pemerintah dapat bertindak atas nama
masyarakat. Oleh karena itu, bagian berikutnya akan menguraikan peranan
pemerintah dalam mengatasi masalah eksternalitas.
Tujuan pembelajaran 1.3:
1.3 Menganalisis campur tangan pemerintah atas eksternalitas.

CAMPUR TANGAN PEMERINTAH ATAS EKSTERNALITAS


Berbagai kasus eksternalitas ini, menyebabkan harga-harga yang
ditetapkan pengusaha menjadi tidak mencerminkan kelangkaan faktor produksi.
Dalam kasus pabrik yang menimbulkan polusi sungai, kalkulasi harga output
tidak memperhitungkan eksternalitas yang diderita oleh penduduk yang
menggunakan air. Dengan demikian, biaya produksi internal (private cost)

200
menjadi lebih kecil daripada biaya masyarakat (social cost), sehingga output
pabrik menjadi terlalu besar.
Dalam perhitungan biaya produksinya, pabrik tersebut tidak memasukkan
kerugian masyarakat yang diakibatkan karena pencemaran udara yang
ditimbulkan. Karena itu, harga output pabrik tersebut menjadi terlalu rendah,
karena tidak memperhitungkan kerugian masyarakat. Polusi udara yang
ditimbulkan tidak hanya merugikan masyarakat selaku konsumen, tetapi juga
terhadap masyarakat selaku produsen barang lainnya. Misalnya, menurunnya
produksi madu di peternakan lebah di sekitar pabrik, yang diakibatkan oleh
kotornya udara.
Dengan demikian, biaya-biaya pribadi (private cost), yang dihitung oleh
pabrik, untuk membayar semua faktor produksi yang digunakan, menjadi terlalu
kecil karena tidak memperhitungkan kerugian masyarakat. Akibatnya, volume
barang yang dihasilkan oleh pabrik tersebut cenderung terlalu banyak.
Dalam kasus semacam ini, peranan pemerintah adalah mengatur produksi
pabrik tersebut, dengan membuat regulasi, agar biaya internal yang dikalkulasikan
pabrik sama dengan biaya yang dikeluarkan masyarakat. Regulasi tersebut
misalnya, pemerintah mengharuskan pembangunan pengolah limbah (water
treatment) kepada pabrik yang akan membuang limbahnya ke sungai. Implikasi
dari peraturan ini adalah, biaya internal menjadi lebih tinggi, sehingga jumlah
output yang dihasilkannya pun menjadi lebih kecil.
Dalam kasus eksternalitas negatif, biaya produksi yang dikalkulasikan
oleh pengusaha (internal cost) yang lebih kecil daripada biaya yang diderita
masyarakat (social cost). Sedangkan dalam kasus eksternalitas positif, biaya
internal lebih besar daripada biaya sosial, sehingga output yang dihasilkan lebih
kecil daripada volume yang dianggap efisien oleh masyarakat.
Campur tangan pemerintah dalam perekonomian dimaksudkan untuk
menyamakan biaya internal dengan biaya sosial, sehingga alokasi sumber-sumber
ekonomi menjadi efisien. Kadar polusi berada pada tingkat di mana biaya marjinal
pengurangan polusi sama dengan manfaat marjinal masyarakat atas pengurangan
polusi.

201
Untuk mengendalikan eksternalitas negatif tersebut, maka pemerintah
dapat menanggapinya dengan dua cara, yaitu kebijakan pemerintah dan
kendalikan (command and control policy), yaitu kebijakan mengatur perilaku
secara langsung dan kebijakan yang berorientasi pasar (market based policy),
yaitu pemerintah menyediakan insentif sehingga pimpinan perusahan memilih
untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Pengendalian Langsung
Kebijakan pengendalian langsung merupakan bentuk kebijakan
lingkungan yang paling sering digunakan oleh pemerintah pada beberapa Negara
dewasa ini. Standar emisi kendaraan bermotor merupakan pengendalian langsung
yang dikenal baik di kalangan pemerhati lingkungan. Standar ini harus dipenuhi
oleh semua kendaraan bermotor baru yang dijual. Standar ini mensyaratkan bahwa
emisi per mil atas sejumlah gas beracun dan pencemaran lain lebih rendah
daripada jumlah tertentu. Standar ini berlaku di mana pun kendaraan dijalankan.
Manfaat marjinal mengurangi emisi di pedesaan sama di mana terdapat
pencemaran udara relative kurang, dibanding dengan manfaat marjinal di kota-
kota besar, di kawasan gas emisi sudah sangat banyak di udara. Akan tetapi,
standar ini berlaku sama untuk kota besar dan desa.

Pengendalian langsung sering kali mengharuskan teknik tertentu untuk


mengurangi pencemaran. Oleh karena itu, sebelum diizinkan beroperasi, suatu
pabrik diharuskan menggunakan alat tertentu untuk mengurangi polusi, meskipun
terkadang terdapat teknologi lain atau alat lain yang dapat menghasilkan
pengurangan pencemaran yang sama dengan biaya yang lebih rendah.
Oleh karena itu, pengendalian langsung terkadang tidak efisien secara
ekonomis dalam kebanyakan hal, dalam arti lebih banyak pencemaran yang
seharusnya dapat dihilangkan dengan biaya ekonomis yang sama dengan
pengendalian langsung. Misalkan pencemaran pada saluran air akan dihilangkan
sampai batas tertentu. Biasanya pemerintah akan membagi beban pencemaran
secara adil, beban pengurangan pencemaran yang diinginkan kepada semua
perusahaan yang melakukan pencemaran menurut kriteria yang kurang adil.

202
Pemerintah dapat menetapkan bahwa setiap perusahaan yang melakukan
pencemaran harus mengurangi pencemarannya dengan persentase yang sama.
Atau setiap perusahaan diperintahkan untuk memastikan bahwa setiap liter air
yang dibuang ke saluran air memenuhi mutu tertentu. Meskipun ketentuan-
ketentuan tersebut kelihatannya wajar, namun apabila perusahaan-perusahaan
yang melakukan pencemaran tidak menanggung biaya pengurangan pencemaran
yang sama, ketentuan-ketentuan tersebut menjadi tidak efisien.
Masalah lain yang timbul dalam pengendalian langsung dalam praktik ini
yaitu cara semacam ini sangat mahal untuk dipantau dan dilaksanakan. Lembaga
yang mengurus harus memeriksa begitu banyak pabrik demi pabrik dan
banyaknya jenis pencemaran yang dilepaskan. Di samping itu, lembaga tersebut
membutuhkan suatu mekanisme untuk menghukum perusahaan yang melanggar.
Pemantauan yang akurat atas semua sumber pencemaran yang potensial
membutuhkan sumberdaya yang jauh lebih besar disbanding sumberdaya yang
dimiliki oleh lembaga tersebut. Dewasa ini sistem denda dan hukuman
diberlakukan oleh pemerhati lingkungan untuk membuat para pelanggar jera.
Misalkan apabila perusahaan yang melakukan pencemaran diwajibkan membatasi
emisi pencemaran sampai batas tertentu per hari, perusahaan tersebut akan
memperhitungkan biaya untuk memenuhi standard an biaya apabila mereka
dipergoki dan denda apabila ditemukan melanggar ternyata relative kecil. Maka
pengendalian langsung tidak banyak berdampak.

Kebijakan yang Berorientasi Pasar


Pajak Emisi
Selain metode langsung, pemerintah dapat pula mengendalikan
pencemaran dengan mengenakan pajak atas perusahaan yang membuang emisi.
Metode ini pada dasarnya adalah menginternalisasi eksternalitas pencemaran
sehingga keputusan-keputusan terdesentralisasi dapat memberi hasil yang lebih
efisien.
Kelebihan dari sistem pengenaan pajak emisi adalah bahwa tidak
mengharuskan lembaga yang menangani pencemaran untuk menetapkan
bagaimana perusahaan harus menggunakan teknologi tertentu dalam mengurangi

203
pencemaran dari usahanya. Jadi dalam konteks ini perusahaan sendiri yang harus
mencari teknik pengurangan yang paling efisien. Dengan tujuan memaksimalkan
keuntungan akan membuat perusahaan berusaha mengurangi pencemaran yang
ditimbulkan karena mereka tidak ingin menanggung pajak pencemaran yang
besar.
Efektivitas pengenaan pajak emisi hanya dapat berjalan dengan baik
apabila jumlah emisi dapat diukur dengan tetap. Dalam beberapa jenis
pencemaran, alat pengukur pencemaran yang akurat untuk dipasang dengan biaya
yang wajar belum ditemukan. Dengan demikian pengenaan pajak emisi masih
sulit dilakukan. Misalkan kasus pencemaran yang ditimbulkan oleh mobil. Akan
sangat mahal untuk memasang alat pemantau yang baik pada setiap mobil dan
menetapkan pajak terutang berdasarkan data yang terekam oleh alat tersebut.
Masalah lain dari pengenaan pajak emisi adalah penetapan besarnya tarif
pajak. Secara ideal lembaga yang menangani pencemaran mendapatkan perkiraan
tentang besarnya kerusakan sosial marjinal yang ditimbulkan per unit bahan
pencemar, dan menetapkan jumlah pajak sama dengan jumlah tersebut. Apabila
hal tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka dengan sendirinya internalisasi
eksternalitas berjalan dengan baik. Akan tetapi, informasi yang dibutuhkan untuk
menentukan kerusakan sosial marjinal umumnya sulit dilakukan.
Apabila pemerintah menetapkan tarif pajak emisi yang terlalu tinggi, maka
terlalu banyak sumber daya yang disediakan untuk mengendalikan pencemaran.
Sebaliknya apabila tarif pajak yang dikenakan terlalu rendah, maka akan
menimbulkan pencemaran yang terlalu besar. Dalam praktiknya, lembaga yang
bertugas menangani pencemaran mungkin memiliki pengetahuan yang jauh lebih
baik mengenai tingkat pencemaran yang dapat diterima, dibanding besarnya tarif
pajak yang dikenakan, terutama apabila teknologi pengurangan pencemaran
berubah, maka tarif pajak juga harus diubah, dan pemerintah umumnya sangat
lambat untuk menyesuaikan tarif pajak yang sudah ditetapkan.

Standar dan Biaya Emisi


Dewasa ini beberapa negara menetapkan standar emisi bagi perusahaan,
yaitu batas legal jumlah polusi yang dapat dikeluarkan oleh perusahaan. Apabila

204
suatu perusahaan melampaui batas tersebut, maka perusahaan tersebut akan
dikenakan hubungan dalam bentuk denda uang atau pidana. Standar emisi yang
dibuat bertujuan untuk memastikan bahwa perusahaan berproduksi dengan efisien
karena dalam beroperasi perusahaan menggunakan alat pengendali polusi.
Kenaikan biaya untuk mengurangi polusi akan menyebabkan biaya rata-rata
produksi perusahaan naik. Perusahaan akan memperoleh keuntungan apabila
harga jual produk mereka berada di atas biaya rata-rata setelah memperhitungkan
biaya polusi. Sementara yang dimaksud dengan biaya emisi adalah biaya yang
dikenakan terhadap setiap unit polusi yang ditibulkan oleh suatu perusahaan.

Izin Transfer Emisi


Mari kita perhatikan kembali kasus dua perusahaan yang terletak pada
suatu tempat sehingga biaya sosial marjinal emisinya sama, tidak peduli
perusahaan mana yang mengurangi emisinya karena kedua perusahaan tersebut
mempunyai biaya pengurangan emisi yang berbeda dalam arti biaya marjinal
pengurangan emisi kedua perusahaan tidak sama.
Dengan sistem izin transfer emisi, maka perusahaan yang tidak sanggup
menurunkan emisi mereka harus membeli izin emisi. Apabila terdapat cukup
banyak perusahaan dan izin, maka akan terbentuk suatu pasar untuk izin emisi.
Dalam keseimbangan pasar, maka harga suatu izin sama dengan biaya marjinal
pengurangan untuk seluruh perusahaan, kalau tidak, suatu perusahaan akan
merasa diuntungkan dengan membeli lebih banyak izin.

Tujuan pembelajaran 1.4:


1.4 Menganalisis kegagalan pasar.

Faktor Penyebab Kegagalan Pasar


Banyak masalah ekonomi dapat dicarikan solusinya hingga tercapai
efisiensi optimal, bila didukung prasyarat dipenuhinya bentuk pasar persaingan
sempurna. Namun kenyataannya, pasar persaingan sempurna hanya dapat
diwujudkan pada kasus-kasus yang sangat terbatas. Bentuk pasar yang lebih
sering ditemui adalah pasar persaingan tidak sempurna. Hal ini terjadi karena

205
adanya distorsi-distorsi yang menyebabkan kegagalan mekanisme pasar
menjalankan fungsinya, yakni mengalokasikan sumber-sumber ekonomi secara
efisien dalam menghasilkan barang dan jasa. Penyebab kegagalan pasar adalah
hal-hal berikut ini:
(1) Ketidaksempurnaan pasar
(2) Barang pubik
(3) Pasar tidak lengkap (incomplete market)
(4) Kegagalan informasi
(5) Eksternalitas

1. Ketidaksempurnaan Pasar
Dalam bentuk pasar persaingan sempurna, mekanisme harga dapat
berfungsi secara efisien dalam mengalokasikan sumber-sumber ekonomi. Dalam
bentuk pasar persaingan tidak sempurna, misalnya monopoli, alokasi yang efisien
tidak pernah terjadi, karena tidak ada keserasian antara keinginan produsen (yaitu
keuntungan maksimal) dengan efisiensi produksi. Volume produksi pada pasar
monopoli lebih kecil dibandingkan pada pasar persaingan sempurna, namun pada
tingkat harganya lebih tinggi.
Dalam beberapa kasus tertentu, ada jenis barang yang hanya efisien bila
diproduksi oleh satu produsen, karena pasarnya terlalu kecil atau investasinya
sangat besar. Dalam kasus ini, skala ekonomi yang efisien (economies of scale)
baru akan terjadi pada tingkat produksi yang besar. Contohnya, jasa kereta api,
telepon, listrik. Keadaan ini disebut monopoli alamiah (natural monopoly).
Biaya rata-rata dalam kasus monopoli alamiah selalu menurun. Situasi
semacam ini banyak dialami oleh perusahaan-perusahaan yang melayani
kepentingan umum (oublic utilities), misalnya perusahaan air minum, listrik,
telepon, jasa pos. untuk jenis-jenis perusahaan ini, adanya persaingan (sempurna)
hanya akan menyebabkan inefisiensi karena investasi mahal di sini tidak banyak
membuka peluang melakukan “perang harga”. Secara alamiah, adanya persaingan
pada akhirnya menyebabkan hanya ada satu perusahaan yang tetap mampu
bertahan. Perusahaan yang tetap survive ini merupakan monopolis alamiah.

206
Konsekuensinya, usaha seperti ini memerlukan pengaturan pemerintah, agar tidak
merugikan konsumennya.
2. Barang Pubik
Barang publik (public goods) dalam banyak hal sangat dibutuhkan oleh
masyarakat, namun tidak seorang pun yang bersedia menghasilkannya. Kalaupun
ada pihak swasta yang menyediakannya, jumlah tertentu terbatas.
Suatu jenis barang dinamakan barang publik murni, bila mengandung dua
karakteristik utama, yaitu penggunaannya tidak menimbulkan persaingan (non-
rivalry), serta tidak dapat diterapkannya prinsip pengecualian (non-excludability).
Biasanya, pihak swasta enggan untuk menghasilkan barang publik murni, dengan
demikian tugas ini harus dibebankan kepada pemerintah.
Ketika pihak swasta memproduksi mobil, maka otomatis yang diperlukan
adalah tersedianya prasarana jalan raya yang dibangun oleh pemerintah. Kalau
prasyarat ini tidak dipenuhi, maka kesejahteraan masyarakat pun tidak mencapai
titik optimal.
3. Pasar Tidak Lengkap (Incomplete Market)
Pasar dikatakan lengkap apabila menghasilkan semua barang dan jasa,
dengan biaya produksi yang lebih kecil daripada harga yang sanggup dibayar oleh
masyarakat. Ada beberapa jenis jasa yang tidak dapat diusahakan oleh pihak
swasta dalam jumlah yang cukup, meskipun biaya penyediaannya lebih kecil
daripada kemauan membayar masyarakat. Kondisi seperti inilah yang disebut
pasar yang tidak lengkap (Incomplete Market). Yang termasuk dalam ketegori ini,
misalnya asuransi khusus untuk menghadapi suatu resiko tertentu yang sangat
berat. Dalam kasus ini, maka biasanya pemerintahlah yang harus menyediakan
jasa ini.
4. Kegagalan Informasi
Dalam beberapa kasus, masyarakat sangat membutuhkan informasi yang
tidak dapat disediakan oleh pihak swasta, misalnya informasi prakiraan cuaca.
Para petani, pelaut, sangat membutuhkan informasi tersebut, tetapi masih jarang
ada pihak swasta yang menyediaknnya, karena pertimbangan komersial. Maka
dalam hal ini, pemerintahlah yang harus menyediakannya.
5. Eksternalitas

207
Masalah lain yang menyebabkan terjadinya kegagalan pasar dalam alokasi
faktor produksi secara efisien, adalah timbulnya dampak baik positif maupun
negatif yang disebut dengan eksternalitas. Eksternalitas timbul karena tindakan
konsumsi (atau produksi) dari satu pihak, yang berpengaruh terhadap pihak yang
lain tanpa adanya kompensasi pembayaran. Jadi, dalam hal ini ada dua syarat bagi
terjadinya eksternalitas:
(1) Adanya dampak tertentu dari suatu tindakan
(2) Tidak adanya kompensasi yang dibayarkan atau diterima oleh pihak-pihak
yang bersangkutan.

Tujuan pembelajaran 1.5:


1.5 Menganalisis teori penyediaan barang publik.

TEORI PENYEDIAAN BARANG PUBLIK


Salah satu kewajiban pemerintah adalah menyediakan barang dan jasa
yang tidak dapat dihasilkan oleh pihak-pihak swasta. Masalah selanjutnya adalah,
seberapa besar pemerintah harus menyediakan barang publik, karena keterbatasan
kemampuan anggaran pemerintah. Penyediaan barang publik dalam jumlah yang
terlalu besar akan menyebabkan terjadinya pemborosan sumber-sumber ekonomi,
sebaliknya penyedia barang dan jasa publik yang terlalu sediki akan menimbulkan
ketidakpuasan masyarakat.
Beberapa teori telah dikemukakan oleh para ahli ekonomi, seperti Pigou,
Bowen, Lindahl, Samuelson, dan teori anggaran.
A.C. Pigou berpendapat, bahwa penyediaan barang publik akan
memberikan manfaat (utility) bagi masyarakat, sebaliknya pajak yang dikenakan
akan menimbulkan ketidakpuasan masyarakat (disutility). Semakin banyak barang
dan jasa publik disediakan pemerintah, maka tambahan manfaat yang dirasakan
oleh masyarakat akan semakin menurun. Hal ini analog dengan fenomena law of
diminishing marginal utility returns. Misalnya, pada kasus segelas air yang
diberikan terus menerus kepada seseorang. Gelas pertama akan memberi kepuasan
yang besar, gelas ketiga memberikan kepuasan yang lebih kecil, dan akhirnya

208
gelas keenam, ketujuh, dan seterusnya, mungkin sudah tidak memberi kepuasan
sama sekali.
Sebaliknya, semakin banyak barang dan jasa publik, semakin besar biaya
yang dibutuhkan, dan konsekuansinya semakin besar pula pajak yang dipungut
dari masyarakat. Keadaan ini menyebabkan meningkatnya ketidakpuasan
masyarakat. Secara teoretis, penyediaan barang dan jasa publik akan optimal,
apabila kepuasan masyarakat yang diperolehnya sama dengan ketidakpuasan
masyarakat dari pemungutan pajak.
Kesulitan dari analisis ini adalah, bahwa kepuasan dan ketidakpuasan
merupakan sesuatu yang tidak dapat diukur secara kuantitatif, karena analisisnya
didasarkan pada rasa ketidakpuasan marginal masyarakat dalam membayar pajak,
dan rasa kepuasan marginal terhadap barang publik.
Teori yang dikemukakan oleh Bowen, Lindahl, Samuelson dan teori
anggaran, berusaha memberi jawaban mengenai beberapa jumlah barang publik
yang harus disediakan pemerintah, sehingga kepuasan masyarakat terhadap
alokasi sumber ekonomi antara barang publik dan barang swasta mencapai tingkat
optimal. Teori yang dikemukakan Bowen mengenai penyediaan barang publik,
didasarkan pada teori harga seperti dalam penentuan harga pada barang swasta.
Lindahl mengemukakan analisisnya yang mirip dengan Bowen, dengan
perbedaan pada bentuk harga yang digunakannya. Bowen menggunakan harga
absolut, sementara Lindahl menggunakan harga relatif, yaitu persentase dari
pembiayaan pemerintah total.
Sedangkan Samuelson juga mengemukakan teorinya dengan
menggunakan pendekatan keseimbangan umum (general equilibrium). Ia
menyimpulkan, bahwa adanya barang publik tidak menghambat masyarakat untuk
mencapai kesejahteraan masyarakat yang optimal (pareto optimality).
Teori Samuelson mengenai pengeluaran pemerintah merupakan teori yang
paling baik, karena sederhana, jelas, dan komprehensif. Namun, ini pun juga
mengandung beberapa kelemahan, misalnya pada anggapan bahwa konsumen
dapat mengemukakan kesukaan mereka terhadap barang publik, yang menjadi
dasar pengenaan biaya untuk menghasilkan barang publik. Hal ini merupakan
kelemahan yang mendasar dari analisis pengeluaran pemerintah, karena masalah

209
utamanya adalah, bagaimana pemerintah memungut pembayaran dari konsumen
barang publik. Tidak seorangpun yang mau dengan suka rela mengemukakan
kesukaannya akan barang sosial, karena kesukaan ini akan menjadi dasar bagi
pemerintah dalam mengenakan tarif. Selain itu, apabila barang publik sudah
tersedia, mereka tidak dapat dikecualikan dari penggunaan barang tersebut.
Kelemahan berikutnya adalah, barang publik yang dibahas memiliki sifat
kebersamaan, yang dapat digunakan konsumen dalam jumlah yang sama. Barang-
barang publik yang memiliki sifat tersebut praktis sangat terbatas, misalnya
pertahanan, kehakiman. Sementara itu, sebagian besar dari barang publik tidak
mengandung sifat-sifat itu, seperti misalnya rumah sakit, dan sekolah.
Teori lain yang menerangkan tentang penyediaan barang-barang publik
adalah teori alokasi barang sosial melalui anggaran. Teori ini didasarkan pada
suatu analisis, bahwa setiap orang harus membayar penggunaan barang publik
dalam jumlah yang sama, sesuai dengan sistem harga untuk barang swasta.
Semua teori ekonomi mengenai penyediaan barang publik di atas, secara
konseptual sangat baik. Sayangnya, semua itu kurang bermanfaat untuk
diterapkan dalam praktek. Oleh karena itu, untuk mendapatkan cara mengenai
penentuan jumlah barang publik, perlu “meminjam” teori yang dikembangkan
dalam ilmu politik, yaitu pemungutan suara (voting).
Pemungutan suara dapat dilakukan dengan berbagai cara, tetapi cara yang
terbaik adalah dengan aklamasi, di mana suatu program pemerintah akan
dilaksanakan hanya apabila semua orang menyatakan setuju. Hasil yang diperoleh
dengan cara aklamasi, akan sama dengan mekanisme pasar, sehingga bisa dicapai
hasil yang terbaik.
Namun demikian, cara aklamasi ini pun dalam praktek juga sering sulit
direalisasikan, sehingga muncul alternatif lain mengenai jumlah suara minimal
yang diperlukan dalam suatu pemungutan suara. Pada awalnya, teori ini
dikemukakan oleh Knut Wickell. Ia berpendapat, bahwa sistem yang baik adalah
apabila 2/3 suara menyatakan persetujuannya. Yang menjadi pertanyaan, mengapa
2/3? Buchanan-Tulock kemudian mencoba memberikan jawaban, bahwa
pemungutan suara harus dilakukan dengan cara meminimalkan biaya pemungutan
suara.

210
Dalam sistem pemungutan suara dengan siste mayoritas sederhana (simple
majority), dalam memilih dua atau lebih program pemerintah, dapat menjadi
kegagalan dalam mencapai kesepakatan, karena adanya Arrow’s Paradox. Untuk
menghindarinya, maka dapat ditempuh dengan beberapa cara alternatif, misalnya,
plural voting, point voting, dan sebagainya.
Pemungtan suara dengan cara pemilihan langsung sulit dilakukan di
negara-negara yang berpenduduk sangat banyak, kerena faktor pembiayaan. Maka
dalam hal ini, pemungutan suara untuk memilih program pemerintah dilakukan
secara demokratis melalui perwakilan rakyat. Tapi masalahnya adalah, apakah
dengan cara ini dapat dijamin bahwa suara wakil rakyat selaras dengan kehendak
rakyat yang diwakilinya? Schumpeter dan A. Down menunjukkan, bahwa karena
adanya motivasi dan rasa individualistik dari rakyat dan wakil rakyat, maka akan
ada jaminan keserasian antara pilihan wakil rakyat dan kehendak rakyat.

PRINSIP PENGENAAN PAJAK


Pada prinsipnya, pajak yang dikenakan kepada masyarakat adalah
sumbangan terhadap pemerintah yang telah menyediakan barang publik. Barang
publik memiliki dua karakteristik, yaitu non-exclusionary dan non-rivalry. Dari
dua sifat utama barang publik tersebut, masyarakat seringkali bersikap sebagai
free-riders atau “penumpang gelap”. Non-exclusionary dapat diartikan, bahwa
bila barang publik sudah tersedia, maka setiap orang dapat memanfaatkannya
tanpa ada yang mencegahnya. Misalnya, dalam kasus prasarana jalan. Kecuali
jalan tol yang bersifat exclusionary, maka pemerintah tidak dapat mencegah setiap
orang berniat menggunakan prasarana jalan yang sudah disediakannya itu.
Ini berbeda dengan barang swasta (private goods) yang dihasilkan oleh
masyarakat. Seorang produsen roti dapat mencegah orang lain yang berniat
mengkonsumsi rotinya, tanpa membayar harga yang sudah ditentukan
produsennya.
Sedangkan non-rivalry berarti, penggunaan suatu barang oleh seorang
tidak akan mengurangi kepuasan orang lain, yang juga menikmatinya dalam
waktu bersamaan. Misalnya, jalan raya yang tidak padat lalu lintasnya,

211
penggunaan oleh seseorang tidak akan mengurangi kenikmatan orang lain yang
juga sedang memanfaatkannya pada saat bersamaan.
Hal ini berbeda dengan barang swasta, misalnya saksofon. Apabila
seseorang sedang memainkan saksofon, maka pada saat itu orang lain tidak
mungkin memainkan saksofon yang sama. Barang yang mempunyai kedua sifat di
atas, disebut barang swasta. Sedangkan barang yang hanya mempunyai saah satu
sidat saja, disebut barang kuasi publik.
Dalam kasus barang swasta, seorang konsumen akan membeli suatu
barang dengan harga yang sesuai dengan kepuasannya. Misalnya, bila Bambi
membeli pensil dengan harga Rp 500, berarti kepuasannya atas pensil tersebut
sebesar Rp 500. Dalam kasus barang publik, karena semua ingin menjadi free
riders, maka tidak terjadi harga yang dapat ditetapkan oleh pemerintah.
Apabila pemerintah akan membangun jalan raya dengan biaya Rp 3
milyar, bagaimana cara mengalokasikannya kepada masyarakat? Jawabannya, tetu
dengan pajak. Tetapi bagaimana dengan prinsip alokasi beban barang publik
tersebut? Pengenaan beban pajak untuk membiayai barang publik didasarkan pada
dua prinsip, yaitu prinsip manfaat (benefit principle), dan prinsip pengorbanan
(sacrifice principle). Menurut prinsip manfaat, pajak sebagai pembayaran atas
penyediaan barang publik harus didsarkan pada besar kecilnya manfaat yang
diterima masyarakat. Orang yang menikmati manfaat besar harus membayar
dalam jumlah yang besar, demikian pula sebaliknya.
Selanjutnya, bagaimana cara mengukur utilitas seseorang dari adanya
barang publik? Inilah yang menjadi masalah, karena tidak pada semua barang
publik dapat diterapkan prinsip manfaat. Kesulitan dalam mengukur utilitas
(manfaat) pemakaian barang dan jasa publik merupakan hal yang sering terjadi.
Yang dapat diukur manfaatmya, biasanya adalah barang kuasi publik, misalnya
rumah sakit, sekolah, dan sebagainya. Sedangkan barang publik murni, yang
mempunyai karakteristik non-exclusionary dan non-rivalry, tidak dapat diterapkan
prinsip manfaat, sehingga harus digunakan prinsip pengorbanan.
Dengan asumsi adanya penurunan utilitas marginal bagi semua orang,
maka ketiga pendekatan ini di atas semuanyamemberi kesimpulan, bahwa orang
kaya harus membayar pajak dalam jumlah lebih besar daripada orang miskin.

212
Namun demikian, hal tersebut tidak otomatis berarti bahwa struktur pajak yang
dikenakan pemerintah harus bersifat progresif.

INTERVENSI PEMERINTAH
Banyak ahli ekonomi, terutama dari Negara-negara barat, yang
menyebutkan bahwa peranan pemerintah dalam mengatur jalannya perekonomian
sangatlah besar. Bahkan di Amerika Serikat, yang selalu menjadi kiblat
pandangan ekonomi klasik, peran pemerintah Federal jauh lebih besar
dibandingkan dengan konsep yang dulu dikemukakan oleh Adam Smith.
Para ekonom pada umumnya bisa melakukan kesalahan dalam
mengintepretasikan pandangan Smith, sehingga seolah-olah peranan pemerintah
teramat sempit dalam mengatur perekonomian. Di satu sisi, Smith memang
berpendapat bahwa peranan pemerintah hanya sebatas pelengkap kegiatan yang
tidak dilaksanakan oleh pihak swasta. Berikut ini ada kutipan dari bukunya yang
terkenal, Wealth of Nations (1776).
The role of the state must be minimal in a system which depends
wholly on the self-regarding actions of individuals. The sovereign is
expected to refain from interfering with the individual enterprise. The state
must provide exact administration of justice. The state must provide
defense. The state should provide such public works as may be necessary
to facilitate economic activity… 1
Dari sini dapat disimpulkan, bahwa dalam hal penyediaan barang publik,
sikap Smith terlihat sangat konservatif.
The state has a responsibility for reform, a responsibility for for
removing various institutional and legal impediment to the system of
natural liberty, such as the laws of successions and entail, the privilege of
corporations…
Pandangan Smith mengenai peranan pemerintah, tidak sebatas
menyediakan barang dan jasa publik semata-mata, tetapi memiliki perspektif yang
lebih luas.
Sementara Musgrave dan Musgrave (1984), mengelompokkan aktivitas
Negara ke dalam tiga fungsi, yaitu alokasi, stabilisasi, dan distribusi sumber-

213
sumber ekonomi. Tidak ada seorang ekonom pun yang meragukan peranan
Negara dalam mengatasi masalah stabilisasi dan distribusi pendapatan. Teori-teori
ekonomi misalnya mikro, makro, dan pembangunan telah menerangkan,
bagaimana pemerintah mampu mengatasi kedua masalah tersebut. Peranan
pemerintah dalam alokasi inilah yang sering kali kurang dipahami, terutama bagi
mereka yang tidak mendalami ekonomi publik. Dalam beberapa teks ekonomi
mikro, secara eksplisit telah diketengahkan analisis terhadap masalah-masalah
yang memerlukan campur tangan pemerintah.

PERANAN PEMERINTAH DALAM BIDANG ALOKASI


Para ekonom klasik selalu berpendapat, bahwa peranan pemerintah di
bidang alokasi hanyalah sebagai “pelengkap” aktivitas sector swasta, yaitu
melaksanakan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh swasta. Filosofi yang
mendasari konsep ini sangat sederhana, yaitu adanya anggapan bahwa hanya
dirinya sendirilah yang mengetahui persis, mengenai apa yang terbaik bagi
dirinya. Karena itulah, maka setiap usaha yang bertujuan untuk mencapai
kemakmuran pribadi, secara keseluruhan akan menyebabkan kemakmuran
masyarakat. Dalam teori welfare economics disebutkan, bahwa apabila terdapat
pasar persaingan sempurna (perfect competition) di semua pasar baik pasar input
maupun pasar output, maka pihak swasta akan mampu menyediakan barang dan
jasa, serta mengalokasikannya secara efisien. Pada gilirannya, hal ini akan
menyebabkan tercapainya kesejahteraan masyarakat yang optimal, yang ditujukan
dengan kondisi pareto optimality.
Oleh karena itu, peranan pemerintah di sini adalah untuk hal-hal berikut:
(1) Menyediakan barang dan jasa yang tidak dihasilkan oleh pihak swasta.
(2) Menjamin bahwa tujuan swasta tidak terhambat.
Seiring dengan berkembangnya perekonomian, hal ini telah menyadarkan
para ahli ekonomi, bahwa dalam alokasi sumber-sumber ekonomi, peranan
pemerintah jauh lebih penting dari hanya sekedar sebagai “pelengkap” aktivitas
swasta.

214
C. LATIHAN/TUGAS
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar:
1. Menurut anda, kapan eksternalitas membutuhkan intervensi dari pemerintah
dan kapan suatu eksternalitas tidak perlu adanya campur tangan pemerintah?
2. Analisis ketersediaan barang publik tempat tinggal anda masing-masing.
Bagaimana pendapat anda tentang intervensi pemerintah dalam penyediaan
barang publik tersebut?
3. Seiring dengan berkembangnya perekonomian, dalam alokasi sumber
ekonomi peranan pemerintah jauh lebih penting dari hanya sekedar
“pelengkap” aktivitas swasta. Jelaskan mengapa demikian!
4. Amati tempat disekitar anda, berikan contoh eksternalitas positif maupun
negatif. Analisis penyebab dampak dan solusi bagi eksternalitas negatif!
5. Terdapat lima perusahaan yang berlokasi pada titik yang berbeda di sepanjang
sungai Walanae dan mereka membuang limbah cair dengan jumlah yang
berbeda-beda ke dalamnya. Limbah cair tersebut telah merugikan masyarakat
di hilir sungai. Perusahaan yang ada pada prinsipnya dapat membeli alat
menyaring untuk menghilangkan zat kimia berbahaya pada limbah yang
dibuang pada sungai tersebut. Misalkan anda sebagai penasihat kebijakan di
daerah tersebut, bagaimana anda membandingkan dan mencari perbedaan
pilihan berikut untuk mengatasi dampak yang merugikan dari limbah cair
tersebut?
a. Mengenakan biaya limbah dengan tingkat yang sama bagi perusahaan
yang berlokasi pada pinggir sungai tersebut.
b. Standar yang sama per perusahaan untuk tingkat limbah cair yang dibuang
oleh masing-masing perusahaan.
c. Sistem izin limbah cair yang dialihkan, di mana tingkat keseluruhan
limbah cair ditetapkan oleh semua perusahaan penerima izin yang sama.

215
D. DAFTAR PUSTAKA
Abdulrasul, Agung. 2013. Ekonomi Mikro. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Adiwarman A.Karim. 2010. Ekonomi Mikro Islam, Jakarta: PT. Raja Gerafindo
Persada.
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Joesron, Tati Suharti dan M. Fathorrazi. 2012. Teori Ekonomi Mikro.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Lukman Hakim. 2012. Prinsip-prinsip Ekonomi Islam. Jakarta: Erlangga.
Mai, Candra dan Fitria Amalia. 2011. Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Esis.
Mandala Manurung & Pratama Raharja, 2000, Teori Ekonomi Mikro Suatu
Pengantar, Edisi Kedua, Lembaga Penerbit FE UI.
Murni, Asfia. 2013. Ekonomika Mikro Edisi Kedua. Bandung: PT Refika
Aditama.
Raharja, Pratama dan Manurung Mandala. 2010. Teori Ekonomi Mikro Suatu
Pengantar Edisi Keempat. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sadjono, Sigit. 2010. Pengantar Teori Ekonomi Mikro. Surabaya: Tiga N.
Samuelson P.A and Nordhaus W.D., Economics, Eighteenth Edition, Mc.Graw
Hill Company, Irwin 2001.
Sarnowo, Henry. Sunyoto, Danang. 2013. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro (Teori
& Soal) Edisi Terbaru. Yogyakarta: CAPS (Center for Academic Publishing
Service).
Sukirno, Sadono.2012. Mikro Ekonomi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sumarsono, Sonny. 2012. Pengantar Ekonomi Mikro. Jember: Laboratorium
Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Jember.
Sunarwo, Hendri. 2013. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta: Caps.

216
GLOSARIUM

Economic Agents:
Konsumen, produser, dan pemerintah.
Produksi Padat Karya (Labour Intensive):
Kegiatan pembangunan proyek yang lebih banyak menggunakan tenaga manusia
jika dibandingkan dengan tenaga mesin.
Cateris Paribus:
Hal-hal lainnya tetap sama.
Barang Komplemen/ Komplementer (Complement):
Barang yang kegunaannya saling melengkapi satu sama lain.
Surplus (Surplus):
Istilah bisnis yang sering dipakai untuk melukiskan situasi berbeda.
Barang Normal:
Semua barang yang permintaannya akan bertambah ketika pendapatan masyarakat
bertambah (yang juga berarti bahwa barang tersebut memiliki elastisitas
permintaan positif.
Barang Inferior:
Barang yang jumlah permintaannya akan turun seiring dengan peningkatan
pendapatan masyarakat.
Hipotesis:
Jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih
harus dibuktikan kebenarannya.
Preferensi:
Sebuah konsep, yang digunakan pada ilmu sosial, khususnya ekonomi. Ini
mengasumsikan pilihan realitas atau imajiner antara alternatif-alternatif dan
kemungkinan dari pemeringkatan alternatif tersebut, berdasarkan kesenangan,
kepuasan, gratifikasi, pemenuhan, kegunaan yang ada.
Absolute:
Sesuatu yang tidak dibatasi oleh pembatasan atau pengecualian.

217
Produksi Primer:
Kegiatan atau proses menghasilkan bahan-bahan baku atau bahan mentah dengan
cara mengambil langsung dari alam.
Produksi Sekunder:
Kegiatan yang dilakukan untuk memproses bahan mentah atau bahan baku
menjadi bahan setengah jadi. contohnya: bijih besi diolah menjadi frofil-frofil besi
atau lembaran-lembaran baja, benang diolah menjadi kain.
Stock (Inventory):
stock bahan yang digunakan untuk memudahkan produksi atau untuk memuaskan
pelanggan yang meliputi bahan baku (raw materials), barang dalam proses (in-
process goods), dan barang jadi (finished goods).
Skills:
Kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang sifatnya spesifik, focus
namun dinamis yang membutuhkan waktu tertentu untukmempelajarinya dan
dapat dibuktikan.
Least Cost Combination:
Menentukan kombinasi input mana yang memerlukan biaya terendah apabila
jumlah produksi yang ingin dihasilkan telah ditentukan.
Capital Intensive:
Sebuah proses atau industri yang membutuhkan sumber daya financial dalam
jumlah besar untuk menghasilkan produk yang bagus.
Law of Diminishing Marginal Utility Returns:
Setiap penambahan barang yang sama dan sejenis, akan memberikan tambahan
kepuasan (marginal) yang diperoleh dari penggunaan barang tersebut (utility)
dimana penambahan kepuasan tersebut akan terus menurun nilainya
(diminishing).
Kondisi Pareto Optimality:
Sebuah kondisi di manasudah tidak mungkin lagi mengubah alokasi sumber daya
untuk meningkatkan kesejahteraan pelaku ekonomi (better off) tanpa
mengorbankan pelaku ekonomi yang lain (worse off). Dengan kata lain, kondisi
pareto terjadi ketika semua pelaku ekonomi dalam kondisi kesejahteraan yang
optimum.

218
DAFTAR PUSTAKA

Abdulrasul, Agung. 2013. Ekonomi Mikro. Jakarta: Mitra Wacana Media.


Adiwarman A.Karim. 2010. Ekonomi Mikro Islam, Jakarta: PT. Raja Gerafindo
Persada.
Ahmad. 2005. Mata Uang Islami. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Aicholas, Walter. 1995. Teori Mikro Ekonomi. Jakarta Barat: Bima Pusara
Aksara.
Akhmad. 2014. Ekonomi Mikro Teori dan Aplikasi di Dunia Usaha. Yogyakarta:
CV Andi Offset.
Alam, S. 2007. EKONOMI. Jakarta: Erlangga.
Eko Suprayitno. 2008. Ekonomi Mikro Perspektif Islam. Malang: UIN-
MALANG PRESS.
Fatoni Siti Nur. 2014. Pengantar Ilmu Ekonomi. Bandung: Pustaka Setia Hasan.
Gaspersz, Vincent. 1999. Ekonomi Manajerial : Pembuatan Keputusan Bisnis
Edisi Revisi dan Perluasan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Gilarso, T. 2003. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro Edisi Revisi. Yogyakarta :
Kanisius.
Joesron, Tati Suharti dan M. Fathorrazi. 2012. Teori Ekonomi Mikro.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Lipsey, R. G, dkk. 1987. Economics 8th Edition. Mc Graw Hill, Inc. (L)
Lukman. 2007. Pengantar Teori Mikro Ekonomi. Jakarta: UIN Jakarta Press.
Lukman Hakim. 2012. Prinsip-prinsip Ekonomi Islam. Jakarta: Erlangga.
Mai, Candra dan Fitria Amalia. 2011. Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Esis.
Mandala Manurung & Pratama Raharja. 2000. Teori Ekonomi Mikro Suatu
Pengantar Edisi Kedua. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI.
Mankiw, N. Gregory. 2000. Teori Makro Ekonomi Edisi Kelima. Jakarta:
Erlangga.
Mankiw, Gregory. 2002. Principles of Economics: Pengantar Ekonomi
Mikro. Jakarta : Penerbit Salemba Empat
Mankiw N, Gregory. 2003. Pengantar Ekonomi Edisi Kedua Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.

219
Murni, asfia. 2013. Ekonomika Makro Edisi Revisi. Bandung: Refika Aditama.
Nicholson, Walter. 2004. Mikro Ekonomi Intermediate dan aplikasinya Edisi
Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Nopirin. 2000. Pengantar Ekonomi Makro dan Mikro. Yogyakarta : BPFE UGM.
Nuraini, Ida. 2001. Pengantar Ekonomi Mikro. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang.
Parkin, Michael. 2008. Economics 8th Edition. Perason Education, Inc (P)
Paul A.Samuelson dan William D.Nordhaus. 1992. Economics, Fourteenth
Edition, McGraw-Hill., Inc, Singapore.
Prathama Rahardja dan Mandala Manurung. 2004. Teori Ekonomi Mikro: suatu
pengantar, Buku Seri Teori Ekonomi, Edisi ketiga. Jakarta: Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.
Putong, Iskandar. 2013. Economics: Pengantar Mikro dan Makro: Edisi 5.
Jakarta: Mitra Wacana Media.
R. Abdul Maqin dan Lili Masli. 2002. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Bandung:
Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan Bandung.
Raharja, Pratama dan Manurung Mandala. 2010. Teori Ekonomi Mikro Suatu
Pengantar Edisi Keempat. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Rosyidi, Suherman. 2005. Pengantar Teori Ekonomi. Surabaya: PT Raja
grafindo Persada.
Sadjono, Sigit. 2010. Pengantar Teori Ekonomi Mikro. Surabaya: Tiga N.
Samuelson P.A and Nordhaus W.D., Economics, Eighteenth Edition, Mc.Graw
Hill Company, Irwin 2001
Salvatore, Dominick. 1994. Mikro Ekonomi. Jakarta: Erlangga.
Sarnowo, Henry & Danang Sunyoto. 2011. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro.
Jakarta: CAPS.
Soeratno. 2003. Ekonomi Mikro Pengantar. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi YKPN.
Sudarman, Ari. 2000. Teori Ekonomi Mikro Buku 1. Yogyakarta: BPFE.
Sudarso. 2010. Pengantar Ekonomi Makro, Jakarta: Badan Penerbit P4M STIE
IPWIJA.

220
Suherman Rosyidi, 1984, Pengantar Teori Ekonomi, Edisi Pertama Jakarta -
Erlangga.
Sukirno, Sadono. 1994. Pengantar Teori Ekonomi, Edisi Pertama Jakarta, FE UI.
Sukirno, sadono. 1998. Pengantar Teori Mikroekonomi Edisi Kedua. Jakarta: PT
Raja Grafindo.
Sukirno, Sadono. 2002. Pengantar Teori Mikro Ekonomi, Edisi Ketiga. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Sukirno, Sadono. 2005. Mikro Ekonomi teori pengantar/Sadono Sukirno- Ed 1, -
21. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sukirno, Sadono. 2008. Mikro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada
Sukirno, Sadono. 2010. Pengantar Teori Ekonomi Mikro. Jakarta : Lembaga
Penerbit FE UI.
Sukirno, Sadono. 2011. Mikro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Sukirno, Sadono.2012. Mikro Ekonomi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sukirno Sadono. 2013. Mikroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Sumarsono, Sonny. 2012. Pengantar Ekonomi Mikro. Jember: Laboratorium
Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Jember.
Sunarwo, Hendri. 2013. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta: Caps.
Tri Kunawangsih Pracoyo dan Antyo Pracoyo. 2006. Aspek Dasar Ekonomi
Mikro. Jakarta: PT Grasindo.
Widjajanta, B. dan A. Widyaningsih. 2009. Mengasah Kemampuan Ekonomi 1:
Untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas/Mandrasah Aliyah Program Ilmu
Pengetahuan Sosial. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan
Nasional.

221