Anda di halaman 1dari 10

1.

Reflek batang otak

a. Reflek cahaya pupil : tidak respon terhadap cahaya bilateral

b. Reflek okulosefalik(doll eye’s movement) : membuat gerakan cepat, memindahkan

posisi kepala dari posisi ditengah ke 900 pada kedua sisi

c. Reflek kornea : tidak ada kedipan mata dengan menggores mata dengan kapas

d. Reflek vestibulo-okular( tes kalori) : masukan air 10 cc, irigasi tiap 1 menit pada tiap

telinga

e. Reflek orofaringeal : tidak ada reflek muntah

2. Reflek fisiologis

Refleks Fisiologis Ekstremitas Atas

1. Refleks Bisep

Reflek biseps didapat melalui peregangan tendon biseps pada saat siku pada

keadaan fleksi. Pemeriksaan:

a. Pasien duduk di lantai.

b. Lengan rileks, posisi antara fleksi dan ekstensi dan sedikit pronasi, lengan

diletakkan di atas lengan pemeriksa.

Stimulus : ketokan pada jari pemeriksa pada tendon m.biceps brachii, posisi lengan

setengah ditekuk pada sendi siku. Respon : fleksi lengan pada sendi siku.

Afferent : n.musculucutaneus (C 5-6); Efferent : idem.

2. Refleks Trisep

a. Pasien duduk dengan rileks.

b. Lengan pasien diletakkan di atas lengan pemeriksa.

1
c. Pukullah tendo trisep melalui fosa olekrani.

Stimulus : ketukan pada tendon otot triceps brachii, posisi lengan fleksi pada sendi

siku dan sedikit pronasi .Respon : ekstensi lengan bawah disendi siku .

Afferent : n.radialis (C6-7-8); Efferent : idem.

3. Reflesk Brakhioradialis

a. Posisi Pasien sama dengan pemeriksaan refleks bisep.

b. Pukullah tendo brakhioradialis pada radius distal dengan palu reflex.

c. Respon: muncul terakan menyentak pada lengan.

4. Refleks Periosteum radialis

a. Lengan bawah sedikit di fleksikan pada sendi siku dan tangan sedikit

dipronasikan.

b. Ketuk periosteum ujung distal os. Radialis.

c. Respon: fleksi lengan bawah dan supinasi lengan.

5. Refleks Periosteum ulnaris

a. Lengan bawah sedikit di fleksikan pada siku, sikap tangan antara supinasi dan

pronasi.

b.Ketukan pada periosteum os. Ulnaris.

c. Respon: pronasi tangan.

2
Refleks Fisiologis Ekstremitas Bawah

1. Refleks Patela

a. Pasien duduk santai dengan tungkai menjuntai.

b. Raba daerah kanan-kiri tendo untuk menentukan daerah yang tepat.

c. Tangan pemeriksa memegang paha pasien.

d. Ketuk tendo patela dengan palu refleks menggunakan tangan yang lain.

e. Respon: pemeriksa akan merasakan kontraksi otot kuadrisep, ekstensi tungkai

bawah.

Stimulus : ketukan pada tendon patella.

Respon : ekstensi tungkai bawah karena kontraksi m.quadriceps femoris.

Afferent : n.femoralis (L 2-3-4) Efferent :idem

2. Refleks Kremaster

a. Ujung tumpul palu refleks digoreskan pada paha bagian medial.

b. Respon: elevasi testis ipsilateral.

3. Reflesk Plantar

a. Telapak kaki pasien digores dengan ujung tumpul palu reflex.

b. Respon: plantar fleksi kaki dan fleksi semua jari kaki.

4. Refleks Gluteal

a. Bokong pasien digores dengan ujung tumpul palu reflex.

b. Respon: kontraksi otot gluteus ipsilateral.

3
5. Refleks Anal Eksterna

a. Kulit perianal digores dengan ujung tumpul palu reflex.

b. Respon: kontraksi otot sfingter ani eksterna

` 6.  Klonus

Bila terjadi rileks yang sangat hiperaktif, maka keadaaan ini di sebut klonus.

Jika kaki dibuat dorsi fleksi dengan tiba-tiba, dapat mengakibatkan dua atau tiga kali

“gerakan” sebelum selesai pada posisi istirahat. Kadang-kadang pada penyakit SSP

terdapat aktivitas ini dan kaki tidak mampu istirahat di mana tendon menjadi longgar

tetapi aktivitas menjadi berulang-ulang. Tidak terus-menerus klonus dihubungkan

dengan keadaan normal tetapi reflek hiperaktif tidak dipertimbangkan sebagai keadaan

patologis. Klonus yang teru-menerus indikasi adanya penyakit SSP dan membutuhkan

evaluasi dokter.

3. Reflek Patologis

1. Hoffmann Tromer

Tangan pasein ditumpu oleh tangan pemeriksa. Kemudian ujung jari tangan

pemeriksa yang lain disentilkan ke ujung jari tengah tangan penderita. Reflek positif

jika terjadi fleksi jari yang lain dan adduksi ibu jari

2. Rasping

Gores palmar penderita dengan telunjuk jari pemeriksa diantara ibujari dan

telunjuk penderita. Maka timbul genggaman dari jari penderita, menjepit jari

4
pemeriksa. Jika reflek ini ada maka penderita dapat membebaskan jari pemeriksa.

Normal masih terdapat pada anak kecil. Jika positif pada dewasa maka kemungkinan

terdapat lesi di area premotorik cortex

3. Reflek Palmomental

Garukan pada telapak tangan pasien menyebabkan kontraksi muskulus mentali

ipsilateral. Reflek patologis ini timbul akibat kerusakan lesi UMN di atas inti saraf

VII kontralateral

4. Reflek Snouting

Ketukan hammer pada tendo insertio m. Orbicularis oris maka akan menimbulkan

reflek menyusu. Menggaruk bibir dengan tongue spatel akan timbul reflek menyusu.

Normal pada bayi, jika positif pada dewasa akan menandakan lesi UMN bilateral

5. Mayer Reflek

Fleksikan jari manis di sendi metacarpophalangeal, secara halus normal akan

timbul adduksi dan aposisi dari ibu jari. Absennya respon ini menandakan lesi di

tractus pyramidalis

6. Reflek babinski

Reflek yang diketahui jelas, sebagai indikasi adanya penyakit SSP yang

mempengaruhi traktus kortikospinal, disebut respon babinski. Bila bagian lateral

5
telapak kaki seseorang dengan SSP utuh digores, maka terjadi kontraksi jari kaki dan

menarik bersama-sama. Pada pasien yang mengalami penyakit SSP pada sistem

motorik, jari-jari kaki menyebar dan menjauh. Keadaan ini normal pada bayi tetapi

bila ada pada orang dewasa keadaan ini abnormal. Beberapa variasi refleks-refleks

lain memberi informasi. Dan yang lainnya juga perlu diperhatian tetapi tidak memberi

informasi yang teliti.

Lakukan goresan pada telapak kaki dari arah tumit ke arah jari melalui sisi lateral.

Orang normal akan memberikan resopn fleksi jari-jari dan penarikan tungkai. Pada

lesi UMN maka akan timbul respon jempol kaki akan dorsofleksi, sedangkan jari-jari

lain akan menyebar atau membuka. Normal pada bayi masih ada.

7. Reflek oppenheim

Lakukan goresan pada sepanjang tepi depan tulang tibia dari atas ke bawah,

dengan kedua jari telunjuk dan tengah. Jika positif maka akan timbul reflek seperti

babinski

8.  Reflek gordon

Lakukan goresan/memencet otot gastrocnemius, jika positif maka akan timbul

reflek seperti babinski

9. Reflek schaefer

6
Lakukan pemencetan pada tendo achiles. Jika positif maka akan timbul refflek

seperti babinski

10. Reflek caddock

Lakukan goresan sepanjang tepi lateral punggung kaki di luar telapak kaki, dari

tumit ke depan. Jika positif maka akan timbul reflek seperti babinski.

11. Reflek rossolimo

Pukulkan hammer reflek pada dorsal kaki pada tulang cuboid. Reflek akan terjadi

fleksi jari-jari kaki.

12. Reflek mendel-bacctrerew

Pukulan telapak kaki bagian depan akan memberikan respon fleksi jari-jari kaki.

4. GCS

Glasgow Coma Scale (GCS) adalah skala yang dipakai untuk menentukan/menilai tingkat
kesadaran pasien, mulai dari sadar sepenuhnya sampai keadaan koma. Teknik penilaian dengan
ini terdiri dari tiga penilaian terhadap respon yang ditunjukkan oleh pasien setelah diberi
stimulus tertentu, yakni respon buka mata, respon motorik terbaik, dan respon verbal. Setiap
penilaian mencakup poin-poin, di mana total poin tertinggi bernilai 15.

Jenis Pemeriksaan Nilai

Respon buka mata (Eye Opening, E)


·      Respon spontan (tanpa stimulus/rangsang) 4
·      Respon terhadap suara (suruh buka mata) 3
·      Respon terhadap nyeri (dicubit) 2
·      Tida ada respon (meski dicubit) 1
Respon verbal (V)
·         Berorientasi baik 5
·         Berbicara mengacau (bingung) 4
·         Kata-kata tidak teratur (kata-kata jelas dengan substansi tidak jelas dan non- 3
kalimat, misalnya, “aduh… bapak..”)
·         Suara tidak jelas (tanpa arti, mengerang) 2
·         Tidak ada suara 1

7
Respon motorik terbaik (M)
·      Ikut perintah 6
·      Melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang 5
nyeri) 4
·      Fleksi normal (menarik anggota yang dirangsang) 3
·      Fleksi abnormal (dekortikasi: tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas
dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri) 2
·      Ekstensi abnormal (deserebrasi: tangan satu atau keduanya extensi di sisi
tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri) 1
·      Tidak ada (flasid)
no Jenis pemeriksaan Nilai Respon
1 Eye (mata)

a. spontan 4 Mata terbuka secara spontan


b. rangsangan suara 3 Mata terbuka terhadap perintah
verbal
c. rangsangan nyeri 2 Mata terbuka terhadap rangsangan
nyeri
d. tidak ada 1 Tidak membuka mata terhadap
rangsangan apapun

2 Respon verbal
a. orientasi baik 5 Orientasi baik dan mampu
berbicara
b. bingung 4 Disorientasi dan bingung

c. mengucapkan kata” yang tidak tepat 3 Mengulang kata-kata yang tidak


tepat secara acak
d. mengucapkan kata-kata yang tidak 2 Mengeram atau merintih
jelas
e. tidak ada 1 Tidak ada respon

3 Respon motorik
a. mematuhi perintah 6 Dapat bergerak  mengikuti perintah

b. melokalisasi 5 Dapat melokalisasi nyeri  (gerakan


terarah dan bertujuan ke arah
rangsang nyeri)
c. menarik 4 Fleksi  atau menarik saat di
rangsang nyeri contoh: menarik
tangan saat kuku di tekan

8
d. fleksi abnormal 3 Membentuk posisi dekortikasi.
Contoh: fleksi pergelangan tangan
e. ekstensi abnormal 2 Membentuk posisi
deserebrasi.contoh : ekstensi
pergelangan tangan
f. tidak ada 1 Tidak ada respon, hanya berbaring
lemah, saat di rangsang apapun

5. Pemeriksan sensorik nervus fasialis

Pemeriksaan fungsi sensorik :

 2/3 bagian depan lidah : Pasien disuruh untuk menjulurkan lidah, kemudian pada sisi kanan

dan kiri diletakkan gula, asam,garam atau sesuatu yang pahit. Pasien cukup menuliskan apa

yang terasa diatas secarik kertas. Bahannya adalah: glukosa 5 %, NaCl 2,5 %, asam sitrat 1

%, kinine 0,075 %.

 Sekresi air mata : Dengan menggunakan Schirmer test (lakmus merah). Ukuran : 0,5 cm x

1,5 cm. Warna berubah jadi biru; normal: 10–15 mm (lama 5 menit).

6. Phalen test dan tinel test

a. Phalen's test : Penderita diminta melakukan fleksi tangan secara maksimal. Bila dalam

waktu 60 detik timbul gejala seperti CTS, tes ini menyokong diagnosa. Beberapa

penulis berpendapat bahwa tes ini sangat sensitif untuk menegakkan diagnosa CTS.

(+) : timbul nyeri

9
b. Tinel's sign : Tes ini mendukung diagnosa bila timbul parestesia atau nyeri pada

daerah distribusi nervus medianus jika dilakukan perkusi pada terowongan karpal

dengan posisi tangan sedikit dorsofleksi.

Pemeriksaan : menahan pergelangan tangan yang mengalami keluhan , lakuaka tetukan

/ tekanan pada area pergelangan tangan

(+) : rasa kesemutan yang di rasakan pada ibu jari, jari telunjuk jari tengah

7. Nervus medianus

10

Anda mungkin juga menyukai