Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Vitamin B3 (Niasinamida)

Gambar 2.1 Struktur Kimia Niasinamida


Sumber : (DepKes RI, 2014)

Niasinamida, juga dikenal sebagai nikotinamida dan nikotinik amida,


adalah suatu amida dari asam nikotinat. Niasinamida merupakan vitamin yang
sangat larut dalam air dan bagian dari kelompok vitamin B. Niasinamida dikenal
memiliki efektivitas pada kulit pucat, kerutan, dan bintik-bintik hiperpigmentasi
pada penuaan kulit (Kawada, 2008).

Tabel II.1 Monografi Niasinamida (DepKes RI, 2014)

Sinonim Nikotinamida, Niasinamida, Niacinamide


Nama kimia Piridin 30-karboksamida (C6H6N2O)
BM 122,12
Pemerian Serbuk hablur; putih; tidak berbau atau praktis
tidak berbau; rasa pahit. Larutan bersifat netral terhadap
kertas lakmus.
Kelarutan Mudah larut dalam air dan dalam etanol; larut
dalam gliserin.
Jarak jauh Antara 128° dan 131°.
pH 6.0-7.5

4
5

Niasinamida banyak digunakan dalam kosmetik dan produk perawatan


kulit. Vitamin ini telah terbukti mampu mengurangi pigmentasi kulit dan untuk
meningkatkan biosintesis lipid di lapisan korneum (Hakozaki et al, 2002; Tanno
etal, 2000). Niasinamida berfungsi sebagai prekursor untuk kelompok enzim
endogen co-faktor, khususnya nicotinamide adenin dinukleotida (NAD),
turunannya mengalami fosforilasi (NADP), dan mengurangi bentuk (NADH,
NADPH) yang terlibat dalam reaksi enzimatik di kulit, sehingga memiliki potensi
untuk mempengaruhi banyaknya proses di kulit (Draelos dan Thaman, 2006).
Niasinamida yang digunakan topikal bermanfaat untuk meratakan struktur
permukaan untuk kulit putih. Penelitian Matts dan Solechnik menunjukkan bahwa
jangka panjang penerapan emulsi yang mengandung 2,5% niasinamida dapat
memperbaiki kerusakan pada permukaan kulit akibat penuaan. Bissett et al. juga
menunjukkan bahwa aplikasi produk krim tipe M/A yang mengandung 5%
niasinamida selama 8 minggu mengalami penurunan keriput halus. Pada
penelitian Chiu et al. menunjukkan efek anti kerut pada produk topikal dengan
kinetin 0,03% ditambah 4% niasinamida pada subjek orang Taiwan (Kawada A.,
2008).
Niasinamida dapat bekerja sebagai anti kerut atau antiaging dengan cara
meningkatkan produksi fibroblast untuk merangsang sintesis kolagen yang dapat
mengurangi munculnya kerutan pada kulit wajah, dan mengurangi kelebihan
produksi glikosaminoglikan pada kulit yang merupakan ciri khas dari penuaan
atau kerutan pada kulit (Salvador dan Chisvert 2007; Draelos dan Thaman, 2006).
Niasinamida juga memberikan efek pencerah pada kulit, membantu
mencegah masuknya sinar UV terhadap kulit, antimikroba dan anti inflamsi
(Wohlrab, 2014). Sebagai pencerah kulit, Niasinamida bekerja dengan cara
menghambat transfer melanosom, dari melanosit ke keratinosid yang
menyebabkan pengurangan hiperpigmentasi kulit (Draelos dan Thaman, 2006).
Hasil studi klinis menggunakan sediaan topikal mengandung Niasinamida telah
menunjukkan penurunan reversibel pada lesi hiperpigmentasi dan meningkatkan
kecerahan kulit dibandingkan dengan sediaan dengan pembawa tunggal setelah
empat minggu penggunaan (Gehring et al., 2004). Niasinamida merupakan
senyawa hidrofilik sehingga sulit untuk menembus ke dalam kulit karena struktur
6

lipid bilayer dari stratum korneum (Hakozaki et al., 2006; Nicoli et al., 2008).
Niasinamida dapat menembus lapisan epidermal, tetapi sulit untuk menembus
lapisan epidermal. Sehingga dibutuhkan penetration enhancer untuk membantu
Niasinamida menembus stratum korneum (Gehring et al., 2004).

2.2. Kulit
Kulit adalah lapisan jaringan yang terdapat pada bagian luar menutupi dan
melindungi permukaan tubuh, berhubungan dengan selaput lendir yang melapisi
rongga-rongga, lubang-lubang masuk. Pada permukaan kulit (Syaifuddin, 2006).
Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan
dan kehidupan. Kulit juga bervariasi pada keaadaan iklim, umur, seks, ras, dan
juga bergantung pada lokasi tubuh (Wasitaatmadja, 1999).

Gambar 2.2 Anatomi Kulit


Sumber : (Preeti et al., 2013)

2.2.1 Anatomi kulit


Kulit adalah lapisan atau jaringan yang menutupi seluruh tubuh dan
melindungi tubuh dari bahaya yang datang dari luar. Kult merupakan bagian
tubuh yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk memperindah kecantikkan,
selain itu kulit dapat membantu menemukan penyakit yang diderita pasien. Kulit
mencakup kulit pembungkus permukaan tubuh berikut turunannya termasuk kuku,
rambut, dan kelenjar. Kulit berhubungan dengan selaput lendir yang melapisi
rongga lubang masuk. Pada permukaan kulit bermuara kelenjar keringat dan
kelenjar mukosa. Secara hispatologis kulit tersusun atas 3 lapisan utama yaitu:
lapisan epidermis atau kutikel, dermis dan subkutis (hipodermis).
7

1. Lapisan Epidermis
Di dalam epidermis paling banyak mengandung sel keratinosit yang
mengandung protein keratin. Secara histologis, epidermis dibagi menjadi lima
lapisan yaitu, lapisan tanduk (stratum korneum), lapisan lusidum, lapisan
granulosum, lapisan spinosum, dan lapisan basal. Dari sudut kosmetik,
epidermis merupakan bagian kulit yang menarik karena kosmetik dipakai pada
epidermis itu. Meskipun ada beberapa jenis kosmetik yang digunakan sampai
ke dermis, namun tetap penampilan epidermis menjadi tujuan utama.
Ketebalan epidermis berbeda-beda pada berbagai tubuh, yang paling tebal
berukuran 1 milimeter, misalnya ada telapak kaki dan telapak tangan, dan
lapisan yang tipis berukuran 0,1 milimeter terdapat pada kelopak mata, pipi,
dahi, dan perut (Tranggono dan Latifah, 2007).

2. Lapisan Dermis
Di dalam dermis terdapat banyak pembuluh-pembuluh darah, serabut
saraf, kelenjar keringat, kelenjar minyak, dan folikel rambut. Di dalam dermis
terdapat adneksa-adneksa kulit seperti folikel rambut, papila rambut, kelenjar
keringat, saluran keringat, kelenjar sebasea, otot penegak rambut, ujung
pembuluh darah dan ujung saraf, juga sebagai serabut lemak yang terdapat
pada lapisan lemak bawah (subkutis/ hipodermis) (Tranggono dan Latifah,
2007).

3. Lapisan Subkutis
Subkutis terdiri dari kumpulan-kumpulan sel-sel dan diantara gerombolan
ini berjalan serabut-serabut jaringan ikat dermis. Sel-sel lemak ini bentuknya
bulat dengan intinya terdesak kepinggir, sehingga membentuk seperti cincin.
Lapisan lemak ini disebut penikulus adiposus, yang tebalnya tidak sama pada
tiap-tiap tempat dan juga pembagian antara laki-laki dan perempuan tidak sama
(berlainan). Guna penikulus adiposus adalah sebagai shok breker = pegas /bila
tekanan trauma mekanis yang menimpa pada kulit, Isolator panas atau untuk
mempertahankan suhu, penimbunan kalori, dan tambahan untuk kecantikan
tubuh. (Syaifuddin, 2006).
8

2.2.2 Fungsi Kulit


Fungsi kulit secara umum (Djuanda, 1999) :

1. Fungsi proteksi
Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisik, misalnya
tekanan; gesekan; tarikan; zat-zat kimia terutama yang bersifat iritan; gangguan
yang bersifat panas, misalnya radiasi, sengatan UV; gangguan infeksi luar
terutama kuman maupun jamur.

2. Fungsi absorpsi
Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan dan benda padat, tetapi
cairan yang mudah menguap lebih mudah diserap, begitu pun yang larut lemak.
Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit, hidrasi,
kelembaban, metabolisme dan jenis vehikulum. Penyerapan dapat berlangsung
melalui celah antara sel, menembus sel-sel kelenjar, tetapi lebih banyak melalui
sel-sel epidermis daripada melalui muara kelenjar.

3. Fungsi ekskresi
Kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna atau sisa
metabolisme dalam tubuh berupa NaCl, urea, asam urat dan ammonia.

4. Fungsi pengaturan suhu tubuh


Kulit melakukan peranan ini dengan cara mengeluarkan keringat dan
mengerutkan (otot berkontraksi) pembuluh darah kulit.

5. Fungsi pembentukan pigmen


Sel pembentuk pigmen (melanosit) terletak di lapisan basal dan sel ini
berasal dari rigi syaraf.

6. Fungsi keratinisasi
Lapisan epidermis dewasa mempunyai 3 jenis sel utama yaitu keratinosit,
sel Langerhans dan melanosit. Keratinosit dimulai dari sel basal mengadakan
oembelahan, sel basal yang lain akan berpindah keatas dan berubah bentuknya
menjadi sel spinosum, semakin keatas sel menjadi making gepeng dan
bergranula menjadi sel granulosum. Makin lama inti menghilang keratinosit ini
menjadi sel tanduk yang amorf.
9

7. Fungsi pembentukan vitamin D


Dengan mengubah 7 hidroksi kolesterol dengan bantuan sinar matahari.
Tetapi kebutuhan tubuh akan vitamin D tidak cukup hanya dari hal tersebut,
sehinnga pemberian vitamin D sistematik masish tetap diperlukan.

2.2.3 Hiperpigmentasi
Warna kulit seseorang terutama ditentukan oleh jumlah melanin. Fungsi
utama melanin yaitu proteksi terhadap radiasi UV. Peningkatan sintesis melanin
atau distribusi melanin yang tidak merata dapat menyebabkan kelainan
hiperpigmentasi. (Sudharmono, 2005). Melanin dibentuk oleh melanosit dengan
enzim tirosinase memainkan peranan penting dalam proses pembentukannya.
Sebagai akibat dari kerja enzim tironase, tiroksin diubah menjadi 3,4
dihidroksiferil alanin (DOPA) dan kemudian menjadi dopaquinone, yang
kemudian dikonversi, setelah melalui beberapa tahap transformasi menjadi
melanin. Enzim tirosinase dibentuk dalam ribosom, ditransfer dalam lumer
retikulum endoplasma kasar, melanosit diakumulasi dalam vesikel yang dibentuk
oleh kompleks golgi (Junquiera, 2003).

2.2.4 Penuaan kulit


Proses menua pada kulit dibedakan atas (Ardhie, A.M., 2011):

1. Proses menua intrinsik yakni proses menua alamiah yang terjadi sejalan dengan
waktu. Proses biologis/genetik clock yang berperan dalam menentukan jumlah
multiplikasi pada setiap sel sampai sel berhenti membelah diri dan kemudian
mati, diyakini merupakan penyebab penuaan intrinsik.
2. Proses menua ekstrinsik yakni proses menua yang dipengaruhi faktor eksternal
yaitu pajanan sinar matahari berlebihan (photoaging), polusi, kebiasaan
merokok, dan nutrisi tidak berimbang. Pada penuaan ekstrinsik, gambaran akan
lebih jelas terlihat pada area yang banyak terpajan matahari.

Proses penuaan ekstrinsik berbeda dengan proses penuaan intrinsik secara


klinis maupun secara histologis. Secara klinis pada penuaan ekstrinsik (terutama
akibat radiasi sinar UV), kulit menjadi kering, kasar, warna tidak merata
(hipo/hiperpigmentasi), terjadi kerutan yang dalam atau atrofi yang parah, timbul
10

teleangiektasis, pembentukan lentigo solaris, timbulnya lesi kulit premalignant,


tidak elastis dan kaku, serta leathery appearance (Helfrich et al., 2008)

2.3. Krim
2.3.1 Definisi Krim
Salah satu bentuk sediaan kosmetik yang sering digunakan adalah krim.
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan
obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai (DepKes RI, 2014).
Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang
mempunyai konsistensi relatif cair diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak
atau minyak dalam air. Keuntungan penggunaan krim yakni memiliki nilai
estetika yang cukup tinggi dan tingkat kenyamanan dalam penggunaan yang
cukup baik. Disamping itu, sediaan krim ini merupakan sediaan yang mudah
dicuci, bersifat tidak lengket, memberikan efek melembabkan kulit serta memiliki
kemampuan penyebaran yang baik (Harun, 2014).

2.3.2 Penggolongan Krim


Sebuah krim dapat menjadi fase air dalam minyak atau minyak dalam air
tergantung pada agen pengemulsi yang digunakan. Sebuah krim selalu larut
dengan fase terus-menerus (Marriot et al).
1. Krim air dalam minyak (A/M) basis ini diproduksi oleh agen pengemulsi yang
berasal dari alam (misalnya beeswax, alkohol wol atau lemak wol). Basis
tersebut memiliki sifat emolien yang baik. Berwarna krem, putih atau bening
dan agak kaku.
2. Krim minyak dalam air (M/A) basis ini diproduksi oleh lilin sintetis (misalnya
macrogol dan cetomacrogol). Mereka adalah basis terbaik yang digunakan
sebagai basis dengan penyerapan dan penetrasi obat yang cepat. Berwana
putih, lebih tipis dan halus.

2.3.3 Stabilitas Krim


Stabilitas krim akan rusak jika sistem campurannya terganggu oleh
perubahan suhu dan komposisi, misalnya adanya penambahan salah satu fase
secara berlebihan. Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika sesuai dengan
11

pengenceran yang cocok yang harus dilakukan dengan teknik aseptis (Syamsuni,
2005).

2.3.4 Bahan Pengemulsi dan Pengawet


Ada beberapa tipe krim seperti emulsi air dalam minyak dan emulsi
minyak dalam air. Bahan pengemulsi krim harus disesuaikan dengan jenis dan
sifat krim yang dikehendaki (Syamsuni, 2005). Sebagai pengemulsi, dapat
digunakan surfaktan anionik, kationik, dan nonionik. Untuk tipe krim A/M
digunakan sabun monovalen, tween, natrium laurilsulfat, emulgidum, dan lain-
lain. Krim tipe M/A mudah dicuci. Untuk penstabilan krim ditambahkan zat
antioksidan dan zat pengawet (Anief, 2002). Bahan pengawet sering digunakan
umumnya adalah metilparaben (nipagin 0.12-0.18%) dan propilparaben (nipasol
0.02-0.05%) (Syamsuni, 2005).

2.3.5 Reaksi Penyabunan Trietanolamin dan Asam Stearat


Proses penyabunan antara trietanolamina dengan asam stearat yang
menghasilkan sabun stearat terjadi pada suhu ±65oC. Sabun stearat berupa
trietanolamin-stearat yang terbentuk juga berfungsi sebagai emulgator yang
menstabilkan emulsi melalui pembentukan monolayer yang stabil (Kim, 2004).
Reaksi penyabunan yang terjadi ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar 2.3 Reaksi penyabunan trietanolamin-stearat (Puspita, 2012).

Trietanolamin Stearat adalah garam trietanolamin dari asam stearat yang


digunakan sebagai zat pembersih surfaktan dan zat pengemulsi surfaktan dalam
berbagai macam formulasi kosmetik (Andersen, 1995).
12

Tabel II.2 Sifat Fisika dan Kimia TEA Stearat (Andersen, 1995)

Penggunaan emulgator anionik yaitu trietanolamin dan asam stearat,


mengingat bahwa krim yang dibuat ditujukan untuk penggunaan luar. Basis yang
dipilih dalam suatu sediaan krim untuk penggunaan luar pada umumnya dibentuk
dari fase minyak yang tidak terabsorbsi kedalam kulit yaitu dari golongan minyak
mineral, misalnya parafin liquid. Sedangkan asam stearat akan membentuk krim
yang stabil jika digabungkan dengan trietanolamina (TEA) (Hamzah et al., 2014).

2.3.6 Uji Evaluasi Sediaan Krim


Ada beberapa uji evaluasi yang dapat dilakukan pada sediaan krim, antara lain:

1. Uji Organoleptis
Uji organoleptis dimaksudkan untuk melihat tampilan fisik suatu sediaan yang
meliputi bentuk, warna dan bau (Juwita et al., 2013).

2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas bertujuan untuk melihat dan mengetahui tercampurnya bahan-
bahan sediaan krim (Juwita et al., 2013).

3. Uji pH
Uji pH bertujuan mengetahui keamanan sediaan krim saat digunakan sehingga
tidak mengiritasi kulit. Perbedaan nilai pH tidak terlalu berpengaruh selama
masih pada batas 4,5-6,5 (Tranggono dan Latifah, 2007).
13

4. Uji Viskositas
Apabila nilai viskositas sediaan krim dibandingkan terhadap sediaan satu sama
lainnya, maka terlihat perbedaan viskositas (Fitriansyah dan Gozali, 2014).

5. Uji Daya Sebar


Uji daya sebar untuk mengetahui kelunakan sediaan krim saat dioleskan kekulit
(Juwita et al., 2013).

2.4 Virgin Coconut Oil (VCO)


Minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil atau VCO) merupakan produk
olahan asli Indonesia yang mulai banyak digunakan untuk meningkatkan
kesehatan masyarakat. VCO memberikan tekstur yang halus dan lembut pada
kulit, membantu menjaga jaringan konektif agar tetap kuat dan longgar sehingga
kulit tidak kendur dan keriput, melembutkan kulit yang kering dan kasar, mampu
menghilangkan sel-sel kulit mati dan memperkuat jaringan kulit, membantu
proses penyembuhan dan perbaikan kulit yang rusak. Selain itu VCO mudah
diserap karena sekitar 80% asam lemak jenuh di dalam VCO adalah asam lemak
rantai pendek dan rantai sedang yang molekulnya berukuran kecil sehingga dapat
diserap ke dalam sel-sel tubuh dengan mudah, tanpa memerlukan berbagai enzim
untuk memutuskan ikatannya. Ketersediaan VCO yang melimpah di Indonesia
membuatnya berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan pembawa sediaan
obat (Lucida et al., 2008).
VCO mengandung 92% asam lemak jenuh yang terdiri dari 48% - 53%
asam laurat (C12), 1,5 – 2,5% asam oleat dan asam lemak lainnya seperti 8%
asam kaprilat (C:8) dan 7% asam kaprat (C:10) (Enig,2007).
VCO diduga dapat berperan sebagai peningkat penetrasi melalui
mekanisme berbeda, yakni melalui peningkatan hidratasi kulit ataupun melalui
pertolongan asam-asam lemak rantai pendek yang dengan mudah melintasi
membran kulit. Adanya peningkat penetrasi disamping meningkatkan jumlah dan
laju zat yang berpenetrasi juga diduga dapat mempengaruhi mekanisme proses
penetrasi atau diffusi obat. Pemanfaatan VCO dalam sediaan setengah padat
dimungkinkan karena memiliki sejumlah sifat yang baik terhadap kulit yaitu
bersifat emolient dan moisturizer. Hal ini membuat kulit menjadi lembut dan
lembab sehingga dapat menurunkan tahanan difusinya. Peningkatan laju penetrasi
14

obat oleh sifat-sifat baik kandungan minyak dalam VCO tersebut akan dapat
meningkatkan efek terapi serta mempercepat penyembuhan (Agero and Verallo-
Rowell, 2004; Lucida et al., 2008).

2.5 Komponen Penyusun Krim


2.5.1 Trietanolamin (TEA) (Rowe et al., 2009)

Gambar 2.4 Struktur kimia Trietanolamin


(Sumber : Rowe et al., 2009)

Trietanolamin, berwarna kuning pucat cairan kental yang memiliki sedikit


abu amoniak. Trietanolamin banyak digunakan dalam formulasi topikal, terutama
dalam pembentukan emulsi .Bila dicampur dengan proporsi yang sama dengan
asam lemak, seperti asam stearat atau asam oleat, triethanolamine membentuk
sebuah sabun anionic dengan Ph sekitar 8, yang dapat digunakan sebagai
pengemulsi untuk sediaan oil-in-water emulsi yang stabil stabil. Konsentrasi yang
biasanya digunakan untuk emulsifikasi adalah 2-4% v/v dari trietanolamina dan 2-
5 kali dari asam lemak. Dalam kasus minyak mineral, 5% v/v dari trietanolamin
akan diperlukan, dengan peningkatan yang tepat dalam jumlah asam lemak yang
digunakan. Persiapan yang berisi sabun trietanolamin cenderung gelap pada
penyimpanan. Namun, perubahan warna dapat dikurangi dengan menghindari
paparan cahaya dan kontak dengan logam dan ion logam.
15

2.5.2 Asam Stearat (Rowe et al., 2009)

Gambar 2.5 Struktur kimia Asam Stearat


(Sumber : Rowe et al., 2009)

Acidum Stearicum, Cetylacetic Acid. Pemerian berupa kristal tajam, putih


kekuningan, agak mengkilap. Larut dalam 1:2 kloroform; 1:5 carbon
tetrachloride; 1:15 etanol; praktis larut air. Suhu lebur pada 66–69°C. Asam
stearat tidak kompatibel dengan sebagian besar logam hidroksida dan mungkin
tidak sesuai dengan basa, zat pereduksi, dan oksidator. Dalam formulasi topikal,
asam stearat digunakan sebagai pengemulsi dan pelarut agen. Ketika sebagian
dinetralkan dengan alkali atau trietanolamin, asam stearat digunakan dalam
penyusunan krim. Asam stearat membentuk krim dasar bila dicampur dengan 5-
15 kali sendiri berat cairan berair, penampilan dan plastisitas krim yang
ditentukan oleh proporsi alkali yang digunakan. Konsentrasi penggunaan pada
krim adalah 1-20%.

2.5.3 Cera alba (Rowe et al., 2009)


Memiliki sinonim white beeswax. Tidak berasa, serpihan putih dan sedikit
tembus cahaya. Larut dalam kloroform, eter, minyak menguap; Sedikit larut
dalam etanol (95%); praktis tidak larut dalam air. Suhu lebur pada 61 - 65oC.
Inkompatibilitas dengan bahan pengoksidasi. Penggunaan sebagai bahan
pembentuk basis 5-20%. Cera alba digunakan untuk meningkatkan konsistensi
dari krim dan salep, dan untuk menstabilkan air dalam minyak. Bahan ini juga
dapat menambah laju absorbsi obat-obat yang digunakan secara topikal. Cera alba
tidak berasa (tawar), berwarna putih atau sedikit kuning. Cera alba larut dalam
kloroform, eter, minyak tertentu, minyak mudah menguap, dan carbon disulfide
panas, sukar larut dalam etanol (95%), dan praktis tidak larut dalam air.
Inkompatibel dengan agen pengoksidasi.
16

2.5.4 Vaselin putih (Rowe et al., 2009)


Memiliki nama lain White soft paraffin, White Petrolatum. Dengan
pemerian massa lunak putih, translucent, dan tidak berasa. Praktis tidak larut
dalam air, gliserin, etanol (95%) dan aseton. Penggunaan dalam formulasi
sediaaan salep dengan fungsi utama sebagai emolient. Vaselin adalah campuran
hidrokarbon jenuh setengah padat yang dimurnikan, diperoleh dari minyak bumi.
Vaselin putih adalah vaselin yang telah dihilangkan seluruh atau hampir seluruh
warnanya, sehingga mengurangi reaksi hipersensitivitas dan lebih dipilih untuk
penggunaan kosmetik dan sediaan farmasetika lain. Vaselin putih digunakan
dalam formulasi sediaaan salep dengan fungsi utama sebagai emolient. Vaselin
banyak digunakan dalam formulasi sediaan topikal sebagai basis yang bersifat
emolient. Vaselin album digunakan sebagai emolien krim, topikal emulsi, topikal
ointments dengan konsentrasi antara 10-30%.

2.5.5 Propilenglikol (Rowe et al., 2009)

Gambar 2.6 Struktur kimia Propilenglikol


(sumber: Rowe et.al, 2009)

Memiliki nama lain yaitu 1,2-Dihydroxypropane; E1520; 2


hydroxypropanol; methyl ethylene glycol; methyl glycol; propane-1,2-diol;
propylenglycolum. Tidak berwarna, kental, praktis tidak berbau, cair, dengan rasa
manis, rasa sedikit pedas menyerupai gliserin. Larut dengan aseton, kloroform,
etanol (95%), gliserin, dan air; larut pada 1 : 6 bagian eter; tidak larut dengan
minyak atau tetap minyak mineral ringan, tetapi akan larut beberapa minyak
esensial. Suhu lebur pada -59oC. Inkompatibilitas dengan bahan pengoksidasi
seperti kaliuum permanganat. Penggunaan sebagai humektan humektan dengan
persentase kadar 1- 15%. Propilenglikol telah banyak digunakan sebagai pelarut,
17

ekstraktan, dan pengawet dalam berbagai parenteral dan nonparenteral formulasi


farmasi. Ini adalah pelarut umum lebih baik dari gliserin dan melarutkan berbagai
macam bahan, seperti kortikosteroid, fenol, obat sulfa, barbiturat, vitamin (A dan
D), yang paling alkaloid, dan banyak anestesi lokal. Propilenglikol digunakan
dalam berbagai macam formulasi farmasi dan umumnya dianggap sebagai bahan
yang tidak beracun.

2.5.6 Gliserin (Rowe et al., 2009)

Gambar 2.7 Struktur kimia Gliserin


(Sumber: Rowe et.al, 2009)

Memiliki sinomin glycerol, glycerin, croderol. Dengan rumus molekul


C3H8O3 dan berat molekul 92,09. Tidak berwarna, tidak berbau, viskos, cairan
yang higroskopis, memiliki rasa yang manis, kurang lebih 0,6 kali manisnya dari
sukrosa .Gliserin praktis tidak larut dengan benzene, kloroform, dan minyak, larut
dengan etanol 95%, methanol dan air. Stabil pada suhu 20°C. Gliserin sebaiknya
ditempat yang sejuk dan kering. Digunakan pada berbagai formulasi sediaan
farmasetika, pada formulasi farmasetika sediaan topikal dan kosmetik, gliserin
utamanya digunakan sebagai humektan dan pelembut. Rentang gliserin yang
digunakan sebagai humektan sebesar ≤30%.

2.5.7 Nipagin (Rowe et al., 2009)


18

Gambar 2.8 Struktur kimia Nipagin


(Sumber: Rowe et.al, 2009)

Bahan ini mudah larut dalam etanol, eter dan propilenglikol sedikit larut
pada air, dan praktis tidak larut dalam minyak mineral. Metil paraben digunakan
secara luas sebagai pengawet antimikroba dalam kosmetik, produk makanan, dan
sediaan farmasetika. Dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan golongan
paraben yang lain atau dengan antimikroba yang lain. Metil paraben efektif pada
rentang pH yang luas yaitu pH 4-8 dan memiliki spektrum yang luas terhadap
mikroba dan jamur. Metil paraben mempunyai karakteristik berupa kristal
berwarna atau sebuk kristalin putih, dan tidak berbau dengan rasa seperti pada
sediaan topikal, metil paraben digunakan pada kadar 0,02-0,3%. Efikasi dari
pengawet dapat ditingkatkan dengan penambahan 2-5% propilenglikol. Dalam
formula ini digunakan metil paraben dengan kadar 0.03%.

2.5.8 Nipasol (Rowe et al., 2009)

Gambar 2.9 Struktur kimia Nipasol


(Sumber: Rowe et.al, 2009)

Propil paraben mempunyai karakteristik serbuk kristalin berwarna putih,


tidak berbau dan tidak berasa. Bahan ini sangat mudah larut dalam aseton, eter,
dan minyak; mudah larut dalam etanol dan methanol; sukar larut dalam air.
Propil paraben digunakan secara luas sebagai pengawet antimikroba dalam
kosmetik, produk makanan, dan sediaan farmasetika. Pengawet ini dapat
digunakan sendiri atau dikombinasi dengan golongan paraben yang lain atau
dengan antimikroba yang lain. Metil paraben efektif pada rentang pH yang luas
19

yaitu pH 4-8 dan memiliki spectrum yang luas terhadap mikroba dan jamur. Pada
sediaan topikal, propil paraben digunakan pada kadar 0,01-0,6%. Dalam formula
ini digunakan propil paraben dengan kadar 0.01%.

2.5.9 BHT (Rowe et al., 2009)

Gambar 2.10 Struktur Kimia BHT


Sumber : (Pubchem, 2005)

Memiliki nama lain Butylated Hydroxytoluene, Agidol, BHT, 2,6-bis(1,1


dimethylethyl)-4-methylphenol, 2,6-di-tert-butyl-p-cresol, Embanox BHT;
Impruvol, Nipanox BHT, Tenox BHT, Topanol, Vianol, butylhydroxytoluenum.
Mempunyai rumus molekul C15H240 dan berat molekul 220,35. Serta titik lebur
70oC. Pemerian serbuk kristal atau padat kuning putih atau pucat dengan aroma
fenolik yang samar. Praktis tidak larut dalam air, gliserin, propilen glikol, larutan
alkali hidroksida, dan asam mineral encer. Bebas larut dalam aceton, benzen
etanol 95%, eter metanol, toluen, berbagai minyak dan minyak mineral. BHT
digunakan sebagai anti oksidan dalam kosmetik, makanan, dan obat-obatan, dapat
digunakan juga sebagai anti virus. Pada sediaan topikal, BHT digunakan sebagai
anti oksidan dengan kadar 0,0075-0,1%. Inkompatibilitas dengan agen
pengoksidasi kuat seperti peroksida dan permanganat dapat menyebabkan
pembakaran spontan. Garam ferri dapat menyebabkan perubahan warna dan
hilangnya aktifitas. Pemanasan dengan katalitik asam menyebabkan dekomposisi
cepat dengen pelepasan gas isobutena yang mudah terbakar.
20

2.5.10 BHA (Rowe et al., 2009)

Gambar 2.11 Struktur Kimia BHA


Sumber : (Pubchem, 2005)

Memiliki nama lain Butylated Hydroxyanisole, BHA, tert-butyl-4-


methoxyphenol, butylhydroxyanisolum, Nipanox BHA, Nipantiox 1-F, Tenox BHA.
Dengan rumus molekul C11H1602 dan berat molekul 180,25. Serta titik lebur 47oC.
Serbuk kristal atau padatan lemah agak berminyak, putih kekuningan, putih atau
hampir putih. Berbau aromatik yang khas. Praktis tidak larut dalam air, larut
dalam metanol. Bebas larut dalam ≥ 50% etanol encer, propilen glikol, kloroform,
eter, heksana, minyak biji kapas, glyceryl monooleat, lemak babi, dan larutan
alkali hidroksida. BHA digunakan sebagai antioksidan dengan beberapa sifat anti
mikroba. Digunakan dalam berbagai kosmetik, makanan, dan obat-obatan. BHA
sering dikombinasi dengan BHT, alkyl gallate, dan asam sitrat. Pada sediaan
topikal, BHA digunakan sebagai anti oksidan dengan kadar 0,005-0,02% yang
tercantum dalam peraturan FDA dan USDA. Inkompatibilitas dengan agen
pengoksidasi dan garam ferri. Paparan cahaya dan banyaknya jumlah logam
menyebabkan perubahan warna dan hilangnya aktifitas.

2.5.11 Na-EDTA (Rowe et al., 2009)

Gambar 2.12 Struktur Kimia Na-EDTA


Sumber : (Pubchem, 2005)
21

Memiliki nama lain Edetate sodium, edetic acid tetrasodium salt; EDTA
tetrasodium, N,N0-1,2-ethanediylbis[N-(carboxymethyl)glycine] tetrasodium salt,
ethylenediaminetetraacetic acid tetrasodium salt, (ethylenedinitrilo) tetraacetic
acid tetrasodium salt, Sequestrene NA4, tetracemate tetrasodium, tetracemin,
tetrasodium edetate, Versene. Dengan rumus molekul C10H12N2Na4O8 dan berat
molekul 380,20. Serta titik lebur > 300oC. Memiliki pH 11,3 dalam 1% w/v dalam
air. Pemerian serbuk kristal putih. Larut dalam air. Na EDTA digunakan
sebagai Chellating agent dan juga sebagai pengawet anti mikroba. Pada sediaan
topikal, Na EDTA digunakan sebagai chellating agent dengan kadar 0,01-0,1%.
Inkompatibilitas dengan agen pengoksidasi kuat, basa kuat, dan logam polivalen.

2.5.12 Oleum Rosae (Depkes RI, 1979)


Cairan tidak berwarna atau kuning, bau menyerupai bunga mawar, rasa
khas, pada suhu 25oC kental, dan jika didinginkan perlahan-lahan berubah
menjadi massa hablur bening yang jika dipanaskan mudah melebur. Llarut dalam
kloroform. Penggunaan sebagai pemberi aroma pada sediaan krim, odoris.
Minyak mawar adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan penyulingan uap
bunga segar Rosa gallica L., Rosa damascena Miller, Rosa alba L., dan varietas
Rosa lainnya.

2.5.13 Aquadest (Rowe et al., 2009).


Memiliki nama lain yaitu Aqua, Aqua purificata, Hydrogen Oxide. Dengan
rumus molekul C3H8O3 dan berat molekul 92,09. Jernih, tidak berwarna, tidak
berasa. Inkompakbilitas dengan metal alkali, dan oksidanya seperti kalsium
oksida, dan magnesium oksida, garam anhidrat, bahan organik dan kalsium
karbid. Penggunaan sebagai Pelarut. Air banyak digunakan sebagai bahan baku,
bahan dan pelarut dalam pengolahan, formulasi dan pembuatan produk farmasi,
bahan aktif farmasi dan intermediet, dan reagen nalitis. nilai spesifik dari air yang
digunakan untuk aplikasi tertentu dalam konsentrasi hingga 100%.
22

Anda mungkin juga menyukai