Anda di halaman 1dari 40

ASUHAN KEBIDANAN

Pada Ny......G...P.....UK.....dengan.....
Inpartu kala I -IV

OLEH :
SEMESTER III / REGULER

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKHNIK KESEHATAN SURABAYA
PRODI KEBIDANAN BANGKALAN
TAHUN AJARAN 2009
ASUHAN KEBIDANAN
Pada Ny......G...P.....UK.....dengan.....
Inpartu kala I -IV

Tanggal :
Jam :
No. Register :
Oleh :

I. PENGKAJIAN
A. Data Subjektif
• Biodata
1. Nama
a.Nama yang jelas dan lengkap bila perlu ditanyakan nama panggilan
sehari-hari.
(Depkes RI, 1995 : 13)
b. Nama pasien dan suaminya, ditanyakan untuk dapat mengenal atau
memanggil pasien dan tidak keliru dengan pasien lain.
(Ibrahim, CS,1993 : 83)
c.Untuk identitas pasien.
(Winata, SS : 155)
2. Umur
a. Umur penting ditanyakan karena ikut menentukan prognosa kehamilan
kalau umur terlalu lanjut atau terlalu tua maka persalinan lebih banyak
resikonya.
b. Seorang primi gravida yang muda ialah yang umurnya 20-30 tahun
persalinan pada umumnya berlangsung seperti biasa
c. Seorang yang pertama hamil pada umur lebih dari 35 tahun ada
kemungkinan persalinan berlangsung lebih panjang disebabkan serviks
yang kaku atau insertia uteri ( kelemahan his ).
(Bagian obstetric dan Genikologi, 1983 : 84)
3. Agama
a. Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap
kebiasaan kesehatan pasien/klien. Sehingga memudahkan bidan untuk
melakukan pendekatan di dalam melaksanakan Asuhan kebidanan.
(Depkes RI, 1995 : 14)
b. Ditanyakan karena berhubungan dengan perawatan dan pantangan
larangan agamanya.
(Ibrahim, CS,1993 : 84)

4. Pendidikan
Ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya, karena tingkat
pendidikannya mempengaruhi sikap dan perilaku kesehatan seseorang.
(Depkes RI, 1993 : 30)
5. Pekerjaan
a. Pekerjaan ibu yang berat, baik fisik maupun tekanan mental
membahayakan kehamilan.
(Depkes RI, 1993 : 30)
b. Ditanyakan untuk mengetahui bagaimana taraf hidup sosial ekonomi
pasien/klien, agar nasehat yang diberikan sesuai,selain itu untuk
mengetahui apakah pekerjaan itu menggangu kehamilan atau tidak.
(Ibrahim, CS,1993 : 85)
6. Alamat
a. Untuk mempermudah hubungan, bila keadaan mendesak bidan dapat
mengetahui tempat tinggal pasien/klien dalam lingkungannya.
(Depkes RI, 1995 : 14)
b. Untuk mengetahui ibu tinggal dimana, menjaga kemungkinan bila ada
ibu yang namanya sama, selain itu alamat juga diperlukan bila
mengadakan kunjungan.
(Ibrahim, CS,1993 : 83)
• Keluhan utama
Kala I:
1. Ibu mengatakan perutnya terasa sakit ( mules ) yang semakin lama
semakin kuat dan semakin sering
2. Ibu mengatakan telah mengeluarkan lendir bercampur darah
3. Ibu mengatakan sudah atau belum mengeluarkan air ketuban
4. Ibu mengatakan nyeri melingkar dari punggung menjalar ke perut depan
Kala II
1. Ibu mengatakan adanya dorongan ingin mengejan
2. Ibu mengatakan serasa ingin buang BAB
3. Ibu mengatakan perutnya terasa mules yang semakin kuat,
semakin lama dan semakin sering
Kala III
Ibu mengatakan perutnya mules
Kala IV
1. Ibu mengatyakan bahagia dengan kelahiran anaknya
2. Ibu merasa lelah

• Riwayat penyakit
1. Riwayat penyakit ibu
− Penyakit menurun
• Diabetes Militus
Penyakit DM dapat mempengaruhi pertumbuhan janin
dalam rahim, salah satunya bayi yang tumbuh besar sehingga
dapat menyebabkan gangguan pada kontraksi otot rahim.
(Rustam Mochtar,1998: 170-171)
• Asma
Dikhawatirkan ibu akan mengalami sulit
bernafas dan cepat lelah sehingga akan kehilangan
tenaga untuk meneran.
(Rustam Mochtar, 1998: 172)
• Hypertensi
Diwaspadai ibu ibu mengalami PEB atau eklampsi yang
dapat mengakibatkan perdarahan dan gangguan pernafasan.
Penanganan dalam persalinan:
- Kala I akan berlangsung tanpa gangguan
- Kala II memerlukan pengawasan yang cermat dan teliti.
Bila ada tanda-tanda penyakit bertambah berat sedangkan
pembukaan semakin lengkap,ibu dilarang mengedan dan
kala II diperpendek dengan melakukan ekstraksi
vakum/vorcep
(Rustam Mochtar,1998:143)
− Penyakit Menahun
• Jantung
Pertambahan denyut jantung dapat menguras
cadangan energi kekuatan jantung sehingga pada
persalinan ibu akan cepat lelah dan kehilangan
kekuatan untuk meneran
(Depkes RI,1992: 66)
Pengaruh penyakit jantung pada persalinan pada
kala II, dimana wanita mengerahkan tenaga untuk
mengejan dan memerluka kerja jantung yang berat.
Kala II yaitu kala yang kritis bagi wanita. Bila tidak
timbul tanda-tanda payah jantung, persalinan dapat
ditunggu, diawasi dan ditolong secara spontan
(Rustam Mochtar, 1998: 137-140)
− Penyakit kronis
• TBC
Karena TBC merupakan penyakit menular dan
menjadikan kondisi ibu lemah sehingga akan
mempengaruhi persalinan dan harus dikaji.
(Rustam Mochtar, 1998: 140)
- Penyakit Menular
• Hepatitis
Pengaruh dalam persalinan
 Penghentian kehamilan tidak mengubah
jalannya penyakit, baik dengan jalan abortus
buatan, maupun induksi persalinan
 Bila tidak ada indikasi penyelesaian persalinan,
kelahiran per vagina diawasi dengan baik
 Boleh diperpendek dengan ekstraksi
vakum/Vorcep bila janin hidup dan embriotomi
bila janin mati.
(Rustam Mochtar, 1998: 161)
• HIV/AIDS
Bagi Ibu positif HIV kelahiran bayi bisa merupakan
kejadian yang sangat emosional, kemungkinan bayinya
dilahirkan postif HIV. Perdarahan intrapartum, kelahiran
instrumental atau trauma saluran genetal berat diperkirakan
meningkatkan resiko penularan pada bayi dan petugas
(Vicky Champman, 2006: 23-24)
2. Riwayat penyakit keluarga
 Hypertensi
Kemungkinan bahwa kehamilan yang disertai
hypertensi, sewaktu-waktudapat terjadi pre eklampsia
dan bahkan berlanjut ke eklampsia.
(Rustam Mochtar,1998:143)
 DM
Berpengaruh pada kehamilan dan dapat menganggu
pertumbuhan janin, keguguran, prematur, lahir besar,
lahir mati. Jika janin terlalu besar, dapat menyebabkan
perdarahan post partum dan infeksi karena perdarahan,
serta adanya gangguan kontraksi rahim.
(Rustam Mochtar,1998: 170-171)
 Ashma
Penyakit yang berat dapat mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan janin dalam rahim melalui
ganggguan pertukaran O2 dan CO2.
(Rustam Mochtar, 1998: 172)
 Keturunan kembar
Untuk mengidentifikasi adanya kemungkinan janin
kembar karena riwayat kehamilan kembar dapat
menurun.
(Manuaba IBG, 1998: 265)

• Riwayat Menstruasi
1. Menarche
Untuk mengetahui kapan ibu pertama kali menstruasi. Hal ini penting
untuk mengetahui status kesehatan reproduksi ibu
(Manuaba IBG, 1998: 275)
2. Siklus Haid
Siklus haid pada setiap wanita tidak sama . Siklus haid yang normal
atau dianggap sebagai siklus adalah 28 hari . Tetapi siklus ini bisa maju
dua sampai tiga hari atau mundur sampai tiga hari. Siklus haid penting
untuk menentukan tafsiran persalinan
( Sarwono,1998: 155)

3. HPHT: Hari Pertama Haid Terakhir


i. Bila HPHT diketahui, maka dapat memperhitungkan usia
kehamilan dan kapan perkiraan persalinannya.
ii. HPHT dapat dijabarkan untuk memperhitungkan tanggal
tafsiran persalinan. Bila siklus haid + 28 hari, rumus yang
dipakai adalah rumus neagle, yaitu hari +7, bulan -3, dan tahun
+1.
iii. Untuk siklus 35 hari, perkiraan partus adalah +14, bulan -3,
tahun +1.
(Manuaba IBG, 1998: 125)
4. Disminorhae.
Untuk mengetahui adanya dismenorhae primer maupun
sekunder. Dismenorhae sekunder merupakan tanda/gejala dari
endometriosis yang nantinya berpengaruh terhadap jalan lahir.
(Obstetri dan Ginekologi,1983 :155)

5. Flour Albus
Untuk mengetahui adanya infeksi. Apabila diketahui ada infeksi di
daerah jalan lahir,dianjurkan ibu tidak melahirkan per vaginam karena
akan berpengaruh terhadap bayi yang dilahirkan nantinya.
( Sarwono,1999)
6. HPL
Merupakan perkiraan lahir yang dapat diketahui dari HPHT dengan
menggunakan Rumus Neagle
(Sarwono, P, 1999 : 155)

• Riwayat kehamilan Sekarang


1. Gravida
Untuk mengetahui kehamilan yang keberapa yang sedang dialami ibu
2. Usia Kehamilan
Untuk mengatahui pertumbuhan dan perkembangan janin sesuai
dengan usia kehamilannya.
Untuk mengklasifikasikan termasuk kehamilan preterm atau aterm.
(Manuaba IBG, 1995 : 120 )
3. ANC
− Tempat
Untuk mengetahui dimana ibu pernah memeriksakan
kehamilannya
− Berapa kali
Untuk mengetahui berapa kali ibu pernah memeriksakan
kehamilannya
− Imunisasi TT
Imunisasi TT diberikan sekurang-kurangnya 2 kali dengan
interval minimal 4 minggu, kecuali bila sebelumnya ibu pernah
mendapat TT 2kali pada kehamilannya yang lalu atau pada saat
calon pengantin. Maka TT cukup diberikan satu kali.
Pemberian TT pada ibu hamil tidak membahayakan walaupun
diberikan pada kehamilan muda.
− Terapi
Untuk mencapai teraf kesehatan yang setinggi-setingginya
menjelang persalinan. Obat-obatan  diberikan apabila ada
suatu kelainan, selain itu juga pemberian tablet Fe,kalsium dan
vitamin C
− Keluhan hamil muda
Untuk mengetahui masalah-masalah yang dialami ibu pada saat
hamil muda, sehingga bidan dapat menilai keadaan ibu
− Keluhan Hamil Tua
Untuk mengidentifikasikan adanya masalah-masalah saat hamil
tua menjelang persalinan.
( Manuaba, 1995 : 129)

• Riwayat Perkawinan
1. Status (menikah/tidak)
Untuk mengetahui status ibu sekarang yang mempengaruhi psikologi
ibu dan untuk mengetahui kehamilan tersebut diinginkan atau tidak
diinginkan
2. Lama perkawinan
Untuk mengetahui fertilitas ( tingkat kesuburan) dan kesehatan
reproduksinya. Selain itu apabila wanita yang sudah lama kawin nilai
anaknya pasti mahal dan hal ini harus diperhitungkan dalam persalinan
(anak mahal)
3. Usia saat menikah
Untuk menentukan / mengetahui kematangan alat – alat reproduksinya
pada saat menikah
4. Berapa Kali (Jumlah pernikahan )
Untuk menentukan bagaimana keadaan alat kelamin dan organ
kandungan ibu serta hubungannya dengan penularan Penyakit Menular
Seksual dengan sering berganti – ganti pasangan
( Obstetri dan Ginekologi, 1983 : 155)

• Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas


1. Riwayat Kehamilan
Untuk mengetahui apakah kehamilan yang lalu bermasalah, seperti
hypertensi, eklampsi, dan anemia
2. Riwayat Persalinan
Untuk mengetahui persalinan yang lalu, apakah persalinan normal,
SC, vacum, abortus, bahkan prematur.
3. Riwayat nifas
Untuk mengetahui adanya masalah pada masa nifas, seperti infeksi
(Cristina 1993 : 83)

• Riwayat KB
Untuk mengetahui riwayat KB ibu
1. Jenis KB yang digunakan
2. Seberapa lama pakai KB
3. Keluhan – keluhan saat pakai KB
4. Berhentinya kapan
5. Alasan barhenti pakai KB

• Riwayat Psikososial dan Spiritual


1. Psikososial
 Respon ibu dan keluarga tentang kehamilan
 Dukungan kelurga tentang kehamilan
 Pengambil keputusan dalam keluarga
 Pihak keluarga yang mendampingi persalinan
2. Psikospiritual
 Doa bersama demi kelancaran persalinan
( Obstetri, 1983 : 210)

ADL
1. Nutrisi
Untuk mengetahui pola nutrisi yang dikonsumsi ibu, yang mana jika
nutrisinya kurang dapat berpengaruh pada persalinan yaitu anemi yang
dapat mengakibatkan perdarahan.
( Obstetri, 1983 : 279 )

2. Eliminasi
Untuk mengetahui kapan terakhir kali ibu melakukan eliminasi yang dapat
berpengaruh pada penurunan kepala janin
( Ibrahim Cristina, 1993 : 171 )
3. Istirahat
Untuk mengetahui kapan terakhir kali ibu beristirahat sehingga kita dapat
mengidentifikasi kesiapan ibu menghadapai persalinan.
( Manuaba, 1998 :140 )
4. Aktivitas
Untuk mengetahui aktifitas apa saja yang terakhir kali dilakukan ibu saat
menjelang persalinan, sehingga kita tahu seberapa besar energi / tenaga
yang dimiliki ibu untuk persalinannya.
(Manuaba, 1998 : 140 )
5. Personal hygiene
Untuk mengetahui kebiasaan ibu mengenai personal hygiennya.
Personal hygiene yang buruk dapat menyebabkan infeksi jalan lahir.
( Manuaba, 1998 : 140 )
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : ( Baik, sedang, cukup )
Untuk mengetahui bagaimana KU ibu selama persalinan
b. Kesadaran : ( Composmentis, Samnolen, Apatis, Koma )
c. Tanda-tanda vital
1. Tekanan darah
Untuk mengetahui perkembangan tekanan darah ibu.
Tekanan darah dikatakan tinggi bila lebih dari 140/90 mmHg. Bila
tekana darah meningkat yaitu 30 mmHg atau lebih dan atau diastolik
15 mmHg atau lebih, kelainan ini dapat berlanjut menjadi pre eklamsia
dan eklamsiakalau tidak ditangani dengan tepat.
(Depkes RI, 1994:11)
Batas tekanan darah yang memerlukan kewaspadaan 130/90 mmHg.
(Sarwono prawirohardjo,1999:160)
Desakan darah yang normal rata-rata pada wanita hamil yang berumur
20 tahun 120/76 mmHg, antara 20-30 tahun 110/70 mmHg. Bila dalam
pemeriksaan terdapat desakan darah 130/8 mmHg keatas maka
penderita harus mendapat pengawasan.
(Christina, 1993:94)
2. Nadi
Untuk mengetahui nadi ibu apakah ada ketidaknormalan.
Nadi yang normal adalah sekitar 80x/menit. Bila nadi lebi 120x/menit,
maka hal ini menunjukkan adanya kelainan.
(Depkes RI, 1994:11)
Kecepatan denyut nadi secara normal menurut usia adalah: lebih 14
tahun: 60-100x/menit dengan irama yang teratur dan amplitudo yang
kuat serta mudah dipalpasi.
(Robert Prihardjo, 1996:91)
Dalam keadaan santai denyut nadi ibu sekitar 60-80x/menit. Denyut
nadi 100x/menit atau lebih dalam keadaan santai merupakan pertanda
buruk. Jika denyut nadi ibu 100x/menit atau lebih, mungkin ibu
mengalami salah satu atau lebih keluhan sebagai berikut:
− Tegang, ketakutan atau cemas akibat masalah tertentu
− Perdarahan berat
− Anemia
− Sakit atau demam
− Gangguan tiroid
− Gangguan jantung
(Buku Ajar, 2005 : 40 )
3. Pernafasan
Untuk mengetahui pernafasan ibu apakah ada ketidaknormalan.
Pernafasan normal: 16-24x/menit. Bila pernafasan lebih dari 24x/menit
bahkan lebih dari 30 x/ menit menandakan adanya taciphnea. Hal ini
merupakan tanda gejala syok sehingga perlu pengawasan yang lebih
intensif dalam persalinan. Jumlah dan kekuatan kontraksi mengetahui
pola dan kedalaman pernafasan selama persalinan.
(Buku Ajar, 2005 : 70 )
4. Suhu
Untuk mengetahui suhu tubuh ibu apakah ada ketidaknormalan .
Suhu tubuh normal 37 c atau 98,6 F.
Pertanda buruk: suhu tubuh diatas 37,2 C atau 99 C menandakan
demam, tubuh ibu merasa panas.
(Pusdiknas, 2000:1-67)
Suhu tubuh normal: 90 F-99,6 F (36,1 C-37,6 C)
(Marilynn E. Doenges, 2001:43)
Suhu tubuh ibu hamil lebih dari 37,5 C dikatakan demam berarti ada
infeksi dalam kehamilan. Hal ini merupakan penambahan beban bagi
ibu dan harus dicari penyebabnya.
(Depkes RI, 1994:11)

d. Antropometri
1. Tinggi badan
Ibu hamil dengan tinggi badan kurang dari rata-rata (diperkirakan
kurang dari 145 cm) kemungkinan panggulnya sempit.
(Depkes RI, 1994:10)
2. Berat badan
Selama kehamilan trimester II dan III pertambahan berat badan kurang
lebih 0,5 kg setip minggunya. Pertambahan lebih dari 0,5 kg per
minggu pada trimester III harus diwaspadai kemungkinan megalami
pre eklamsi. Hingga akhir kehamilan pertambahan berat badan yang
normal sekitar 9-13,5 kg.
(Pusdiknas, 1993: 67)
3. LILA (Lingkar Lengan Atas)
LILA kurang dari 23,5 cm merupakan indikator kuat untuk status gizi
ibu yang kurang/buruk, sehingga dia beresiko untuk melahirkan BBLR
dan beresiko untuk rerjadinya PPH (Post Partum Haemorraghie) pada
saat persalinan
(Depkes RI, 1994: 10)
2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Tujuan pemeriksaan pandang adalah untuk melihat keadaan umum ibu yang
menghadapi persalinan
- Muka
Ada cloasma gravidarum Nampak oedem/tidak, pucat/tidak
- Mata
konjungtiva normal warna merah muda , bila pucat menandakan anemia.
Sklera normal berwarna putih , bila kuning menandakan ibu mungkin
terinfeksi hepatitis, bila merah kemungkinan ada konjungtivitis , kelopak mata
yang bengkak kemungkinan adanya pre-eklamsi.
( Depkes RI, 2000:19)
- Mamae
Simetris/ tidak, Puting susu menonjol / tidak, Sudah tampak pengeluaran ASI/
tidak (apabila ada pengeluaran ASI merupakan akibat menurunnya PIH
(Prolaktin Inhibiting Hormone)
( Ida Bagus Gede Manuaba, 1998 :108)
- Abdomen
Nampak penurunan TFU karena kepala bayi sudah memasuki PAP (Pintu Atas
Panggul)
( Sarwono Prawiroharjo , 1999 :89)
Bersihatau tidak, ada atau tidak ada luka bekas operasi
( Sarwono Prawiroharjo , 1999 : 97-98)
- Genetalia eksterna ( vulva vagina )
Tidak oedem, tidak varices, nampak blood show.
( Sarwono Prawiroharjo , 1999 : 94-95)
- Ekstremitas
Cari varices , oedema, luka pada lipatan paha
( Sulaiman sastrawinata , 1983 :160)
Tungkai : oedema / tidak
Sama panjang / tidak
Ada varices / tidak
( Pusdiknakes , 1993 : 71 )
Varices merupakan pembesaran dan pelebaran pembuluh darah vena yang
sering dijumpai pada ibu hamil di sekitar vulva , vagina dan tingkat bawah
varices disebabkan oleh ( pada wanita hamil ):
• Faktor bakat / keturunan
• Faktor multipara sampai grade multipara
• Terdapat peningkatan hormon estrogen dan progesteron selama hamil
( Ida Bagus Gede Manuaba, 1998 :208)
Oedema tungkai terjadi akibat sirkulasi vena yang terganggu serta tekanan
yang meningkat di dalam tungkai bawah. Hal ini terjadi karena tekana uterus
yang membesar pada vena-vena panggul.
( Pusdiknakes , 2000 : 3-38)
b. Palpasi
Adalah periksa raba untuk menetukan besarnya rahim, tua kehamilan, letak
anak dalam rahim, bagian-bagian janin dalam rahim, sampai dimana bagian terendah
janin masuk dalam panggul, ada atau tidak keseimbangan antara ukuran kepala janin
dengan panggul, janin kembar atau tunggal.
( Pusdiknakes, 1999 : 71)
- Leher
 Ada pembesaran kelenjar tyroid atau tidak
( Pembesaran tyroid merupakan tanda bahwa ibu kekurangan yodium.
Hal ini nantinya akan berpengaruh pada proses meneran ibu)
 Ada bendungan vena jugularis atau tidak
Bendungan Vena Jugularis akan berpengaruh pada peredaran darah ibu
yang menuju jantung. Gangguan ini akanmenyebabkan masalah pada
saat persalinan
 Ada pembesaran limfe atau tidak.
Pembesaran limfe menandakan adanya infeksi karena kelenjar limfe
merupakan sistem pertahanan tubuh
- Axila
Adakah pembesaran kelenjar limfe atau tidak
- Mammae
Adakah nyeri tekan atau tidak, adakah kolostrum atau tidak, simetris atau
tidak.
- Abdomen
 TFU Mc Donald
Diukur dengan menggunakan metlin
Rumus Mc Donald
Usia Kehamilan (dalam bulan) = TFU : 3,5
( Sulaiman Sastrawinata, 1983 : 164 )
Saat persalinan terjadi penurunan TFU karena kepala bayi sudah memasuki
PAP
( Sarwono Prawiroharjo , 1999 :89)
- TBJ ( Tafsiran Berat Janin )
( TFU dalam cm – 12 ) x 155 = TBJ
( Pusdiknakes , 1933 : 92 )
Cara menentukan tafsiran berat badan janin adalah
Rumus Jhonson-Tausak : BB = ( MD – 12 ) x 155
BB = Berat Badan janin
MD = jarak symphisis dengan Fundus uteri
- Pemeriksaan Leopold
Leopold I
Untuk menetukan Tinggi Fundus Uteri (TFU) dan bagian apa yang terletak di fundus
uteri
Leopold II
Menentukan dimana letak punggung janin
- Letak membujur dapat ditetapkan punggung anak yang terasa bagian keras dan
memanjang seperti papan dan sisi yang berlawanan teraba bagian hasil janin.
- Normal : teraba punggung disebelah Ka/Ki
Leopold III
Menetapkan bagian apa yang terdapat di atas sympisis pubis
- Kepala akan terasa bulat, keras dan melenting sedangkan bokong teraba tidak
keras dan tidak bulat
- Pada letak lintang sympisis pubis akan kosong
- Normal \; teraba kepala , bagian yang bulat keras dan melenting
Leopold IV
Bila divergent berarti bagian depan sudah masuk PAP
Bila sejajar berarti separoh bagian depan sudah masuk PAP
Seberapa jauh bagian terbawah janin masuk ke PAP
(Obstetri dan Ginekologi, 1983 : 162 -166 )
- Kontraksi uterus
Untuk memantau kontraksi uterus
 Lama : kontraksi berlangsung 45 detik – 75 detik
 Kekuatan : Secara klinis ditentukan dengan mencoba apakah jari
kita dapat menekan dinding rahim ke dalam
 Interval : Pada permulaan persalinan his timbul sekali dalam 10
menit, pada pengeluran sekali dalam 2 menit.
( Obstetri dan Ginekologi 1983 : 226)
c. Auskultasi
Untuk menentukan keadaan janin dalam rahim, dengan DJJ dapat
ditentukan janin hidup atau tidak, sehat atau tidak, atau bahkan perlu tindakan
khusus.
Mendengarkan denyut jantung janin bayi meliputi frekuensi dan keteraturan
DJJ dihitung dengan cara menghitungt 5 detik pertama , interval 5 detik dilanjutkan
menghitung 5 detik kedua , interval 5 detik dilanjutkan menghitung 5 detik ketiga.
Jumlah perhitungan selama 3 kali setiap kali dikalikan 4 , sehingga DJJ selama 1
menit dapat ditetapkan.
Jumlah DJJ normal antara 120 sampai 140X/menit
( Ida Bagus Gede Manuaba, 1998 :136)
Diterjemahkan dengan periksa dengar. Dengan melalui dinding perut Ibu dapat di
dengarkan detak jantung anak. Detak jantung anak yaitu menentukan letak punggung
anak
(Chistina I. S, hal 137 – 140 ).
Cara menghitung bunyi jantung ialah mendengar 3 x 5 detik kemudian jumlah bunyi
jantung dalam 3 x 5 detik x 4.
Anak keadaan sehat bunyi jantung teratur dan frekuensinya antara 120 – 140 x/ menit.
d. Perkusi
- Reflek patella
Untuk mengidentifikasi kemunggkinan terjadinya eklampsi pada ibu
Bila reflek berlebihan atau cepat, kemungkinan pre eklampsi

3.Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Dalam
1. Vulva / vagina:
Oedema/Tidak oedema, normal/tidak normal, tidak terdapat benjolan
abnormal/ tidak, dan pengeluaran lendir darah
2. Pembukaan : ...cm
Untuk mengetahui sejauh mana pembukaan servik
3. Effecement :-%
Untuk mengetahui penipisan portio
4. Ketuban : (+/-)  utuh/tidak, jernih/tidak
5. Presentasi : (Kepala/Bokong/Bahu)
Untuk menetapkan bagian terendah janin. Apakah bokong/kepala / bahu.
6. TBJ : 155 x ( TFU – 12 )
7. Pemeriksaan Panggul
 Apakah promontoriumnya teraba dan berapa panjang konjugata
diagonalis
 Apakah linia inominata teraba seberapa bagian
 Apakah os sacrum konkaf
 Spina isciadica menonjol atau tidak
 Keadaan os pubis dan arcus pubis ( apabila bisa di masuki 2 jari
dianggap luas)
8. Denominator : UUK/UUB/Sacrum/bagian lainnya
9. Penurunan : HI HII HIII HIV
(Obstetri dan Ginekologi, 1983 : 277)
II. INTERPRETASI DATA DASAR
Kala I
1. Pengumpulan data
Data Subyektif
Data yang diperoleh dari anamnesa klien
- Ibu mengatakan perutnya terasa mules yang semakin lama semakin kuat dan
semakin sering
- Ibu mengatakan telah mengeluarkan lendir bercampur darah
- Ibu mengatakan sudah / belum mengeluarkan air ketuban
Data Objektif
Data Objektif
Data yang diperoleh dari pemeriksaan yang dilakukan oleh bidan :
pemeriksaan umum , pemeriksaan fisik , pemeriksaan penunjang yang dapat
mendukung dan menegakkan diagnosa sesuai dengan standart nomenklatur
kebidanan. Pemeriksaan TTV
TD :
Nadi :
Suhu :
Rr :
2. Interpretasi data dasar
Dx : Ny....G... P...A... dengan UK ... Inpartu Kala I, Fase Aktif
Ds : Ibu mengatakan perutnya mules yang semakin lama semakin kuat
Terdapat cairan lendir bercampur darah
Do : Terdapat penipisan dan pembukaan serviks
: Adanya kontraksi
: Pengeluaran pervagina
Inpartu Kala I
Fase Aktif
Untuk mengetahui pembukaan serviks pada ibu ( 4 – 10 cm )
Masalah
Digunakan untuk mengidentifikasi jika ada tambahan yang menggunakan
kajian
a. Kala I
^ Rasa nyeri / mules
- Adanya HIS yang disebabkan oleh kontraksi dan relaksasi otot-otot
uterus
^ Rasa cemas dan rasa takut

- Ibu tampak gelisah , kadang menangis yang disebabkan oleh rasa sakit
yang dilami ibu
- Ibu biasanya minta pendamping keluarga.
Kebutuhan
- Anjurkan ibu untuk makan atau minum
- ajari teknik relaksasi / distraksi
3. Identifikasi masalah potensial
- Prolong laten / aktive phase
Penyebab:
- serviks kaku yang dapat memberikan tekanan yang jauh lebih besar
- inersia uteri
- makrosomi penyebab perpanjangan kala I
- power ibu yang kurang
Antisipasi
Terapi valium dan petida, jika tidak berhasil maka lakukan SC
SC
Anjurkan ibu ntuk makan atau minum
Ajari teknik relaksasi atau distraksi
4. Kebutuhan segera
Lakukan relaksasi dan berikan support
5. Intervensi
− Observasi To tiap 4 jam, nadi tiap 30 menit, urine reduksi tiap
2-4 jam
− Pemeriksaan DJJ tiap 30 menit
− Pemeriksaan dalam, pendataran pembukaan ketuban, persentasi
denominator, keadaan abnormal
− Berikan dukungan moral pada ibu
− Anjurkan ibu untuk makan dan minum
− Anjurkan ibu untuk mobilisasi
− Anjurkan ibu untuk mengejan disaat perutnya terasa mules dan
istirahan disaaat perutnya tidak mules lagi, disaat pembukaan sudah lengkap.
6.Implementasi
Disesuaikan dengan intervensi yang dilaksanakan oleh bidan dan kondisi pasien
7.Evaluasi
Langkah ini merupakan langlah / evaluasi dari tindakan antara keberhasilan dari
planning dan implementasi. Tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui sejauh mana
keberhasilan tindakan yang dilakukan, hasil evaluasi dapat digunakan untuk kegiatn
asuhan lebih lanjut bila diperlukan / sebagai bahan peninjauan terhadap langkah –
langkah dalam proses menejemen kebidanan.
S: Ibu mengatakan nyeri berkurang
Ibu mengatakan sudah tidak terlalu cemas
O: pemeriksaan TTV
TD :
Nadi :
Suhu :
Rr :
A: Ny..., G.....Inpartu Kala I, Fase Aktif
P: Lanjutkan pada kala 2
Kala II
2. Interpretasi Data Dasar
Dx: Kala II
Ds: Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi
Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rectum dan vagina
Perinium menonjol
Vulva vagina dan sfingter vagina terbuka
Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah
Do: perinium menonjol
DJJ terdengar atau tidak, berapa frekuensinya
Pembukaan serviks telah lengkap
Terlihatnya kepala bayi melalui introitus vagina
Masalah
- Ibu mengatakan terasa ingin BAB
- Ibu mengatakan perutnya terasa mules yang semakin mules yang semakin kuat
, semakin sering
- Rasa takut dan khawatir
Kebutuhan
- Ajari tekhnik relaksasi
- Berikan dukungan moral pada ibu

3. Interpretasi masalah potensial


- Distocia bahu
Karena kelainan bentuk dan ukuran panggul
Antisipasi:
- atur posisi dalam terlentang
- buatlah episiotomi untuk memperlebar jalan lahir

4. Kebutuhan Segera
- Ajari ibu cara meneran yang baik dan benar
- Anjurkan ibu untuk tarik nafas diantara dua kontraksi

5. Intervensi
- Observasi nadi tiap 30 menit, frekuensi dan lama kontraksi tiap 30 menit, hodge
- Pengamatan DJJ tiap selesai meneran
- Dukungan moral
- Memecahkan ketuban bila ketuban masih utuh
- Anjurkan ibu untuk meneran disaat ada his dan istirahat disaat tidak ada his
- Lakukan penatalaksanaan bayi sesuai APN

6. Implementasi
Disesuaikan dengan intervensi yang dikerjakan oleh bidan dan sesuai dengan
kondisi pasien

7. Evaluasi
S: Ibu mengatakan terasa semakin ingin BAB
Ibu mengatakan rasa mules semakin kuat dan semakin sering
Ibu masih takut dan khawatir
O: Bayi lahir normal
A: P1 masuk kala III persalinan normal
P: Lanjutkan kala 3
Kala III
2. Interpretasi data dasar
Dx: kala III
Ds: perubahan bentuk dan tinggi uterus
Tali pusat memanjang
Semburan darah mendadak dan singkat
Do: terdapat semburan darah
Terdapat perubahan tinggi fundus
Tali pusat jadi memanjang
Masalah:
^ Mules yang dialami ibu
Dasarnya : adanya kontraksi di uterus akibat pelepasan placenta
Kebutuhan: Anjurkan ibu untuk relaksasi
Berikan kompres hangat
3. Interpretasi masalah potensial
 HPP
penyebab
- Atonia uteri
- ruptur
Antisipasi
-Masase uteri

 Retentio placenta
Penyebab
- placenta yang melekat kuat pada dinding uterus
antisipasi
-rujuk
- heading , rujuk
- eksplorasi dan evalusi
- berikan uterotonika
4. Interpretasi kebutuhan segera
- Pemberian suntikan oksitosin
- Penegangan tali pusat terkendali
5. Intervensi
- Periksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada bayi lagi dalam uterus
(hamil tunggal)
- Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus berkontraksi baik.
- Dalam waktu satu menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin 10 UI / IM 1/3
paha atas bagian distal lateral.
- Setelah 2 menit pasca persalinan , jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm
dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat kearah distal (ibu) dan jepit kembali
tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.
- Dengan satu tangan pegang tali yang telah dijepit (lindungi perut bayi) , dan
lakukan pengguntingan tali pusat diantara dua klem tersebut. Ikat tali pusat
dengan benang DTT atau steril pada satu sisi klem kemudian melingkarkan
kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi
lainnya. Lepaskanklem dan masukkan dalam wadah yang telah disediakan.
- Letakkan bayi tengkurap didada ibu. Luruskan bahu bayi sehingga bayi
menempel di dada / perut ibu.Usahakan kepala bayi berada diantara payudara
ibu dengan posisi lebih rendah dari puting payudara ibu.
- Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi dikepala bayi.
- Pindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva.
- Letakkan satu tangan diatas kain pada perut ibu , ditepi atas sympisis ,untuk
mendeteksi .tangan lain menegangkan tali pusat.
- Setelah uterus berkontraksi ,tegangkan tali pusat kearah bawah sambil tangan
yang lain mendorong uterus kearah belakang atas ( dorso kranial ) secara hati-
hati ( untuk mencegah invertio uteri). Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40
detik, hentikan penegangan tali pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi
berikutnya dan ulangi prosedur diatas. Jika uterus tidak segera berkontraksi
minta ibu, suami, anggota keluarga untuk melakukan stimulasi puting susu.
- Lakukan penegangan dan dorongan dorso kranial hingga plasenta terlepas ,
minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar
lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir.
- Saat plasenta muncul diintroitus vagina, lahirkan plasenta dengan kedua
tangan. Pegang dan putar plasenta dengan kedua tangan.Pegang dan putar
plasenta selaput ketuban terpilin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta
pada wadah yang telah disediakan.
- Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan masase uterus,
letakkan telapak tangan difundus dan lakukan masase melingkar dengan
lembut hingga uterus berkontraksi (fundus teraba keras)
- Periksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun bayi dan pastikkan selaput
ketuban lengkap dan utuh.Masukkan plasenta kedalam kantung plastik atau
tempat khusus.
- Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perinium.Lakukan penjahitan
bila laserasi menimbulkan pendarahan.
- Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan
pervaginam.
- Biarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1
jam.
- Setelah 1 jam, lakukan penimbangan atau pengukuran bayi,beri tetes mata
antibiotik profilaksis dan vitamin K I 1 mg intra muskular di paha kiri
anterolateral.
- Setelah 1 jam pemberian vit K I ,berikan suntikkan imunisasi hepatitis B di
paha kanan anterolateral.
- Lanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.
- Ajarkan ibu dan keluarga untuk melakukan masase uterus dan menilai
kontraksi.
- Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
- Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandungan kemih setiap 15 menit selama 1
jam pertama pasca persalinan .
- Periksa kembali bayi untuk pastikan bahwa bayi bernafas dengan baik ( 40-60
kali/ menit ) serta suhu tubuh normal (36,5-37,5)
- Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5 % untuk
dekontaminasi (10 menit) cuci dan bilas peralatan setelah dekontaminasi.
- Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ketempat sampah yang sesuai.
- Bersihkan iibu dengan menggunakan DTT.bersihkan sisa cairan ketuban ,
lendir dan darah. Bantu ibu memakai pakaian bersih dan kering.
- Pastikkan ibu merasa nyaman . Bantu ibu memberikan ASI .Anjurkan
keluarga untuk memberi ibu minuman dan makanan yang diinginkan.
- Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%
- Celupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5%, balikkan bagian
dalam keluar dan rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
- Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.
- Lengkapi partograf.

6. Implementasi
Disesuaikan dengan intervensi yang dilaksanakan oleh bidan dan kondisi klien

7. Evaluasi
S :Ibu mengatakan perutnya mulas karena kontraksi akibat pengeluaran plasenta
O :Adanya pengeluaran plasenta
A : P1 masuk kala IV.
P :Lanjutkan Kala IV
KALA IV
2. Interpretasi data dasar
Dx : Kala IV
Ds : - Ibu mengatakan bahagia dengan kelahirannya
- Ibu merasa lelah
Do : Ibu nampak bahagia
Ibu nampak letih
Masalah
^ Rasa lelah
Dasarnya : proses persalinan Kala I, Kala II , Kala III memerlukan energi
yang banyak
Kebutuhan
Pemberian penanganan pada ibu terhadap masalah-masalah yang dihadapi
3. Interpretasi masalah potensial
 Perdarahan
Penyebab:
- Sisa placenta
- robekan jalan lahir
Antisipasi:
- eksplorasi sisa placenta
- heating
4. Interpretasi kebutuhan segera
Anjurkan ibu untuk istirahat
5. Intervensi
- Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan
pervaginam.
- Biarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1
jam.
- Setelah 1 jam , lakukan penimbangan atau pengukuran bayi,beri tetes mata
antibiotik profilaksis, dan vitamin K I 1 mg intramuskular di paha kiri
anterolateral.
- Lanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.
- Ajarkan ibu dan keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai
kontraksi.
- Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
- Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam
pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca
persalinan.
- Periksa kembali bayi untuk pastikan bahwa bayi bernafas dengan baik (40-60
kali / menit )serta suhu tubuh normal (36,5-37,5)
- Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam laruan klorin 0,5% untuk
dekontaminasi (10 menit) cuci dan bilas peralatan setelah didekontaminasi.
- Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ketempat sampah yang sesuai.
- Bersihkan ibu dengan menggunakan air DTT. Bersihkan sisa cairan ketuban ,
lendir dan darah. Bantu ibu memakai pakaian bersih dan kering.
- Pastikan ibu merasa nyaman . Bantu ibu memberikan ASI . Anjurkan keluarga
untukmemberi ibu minuman dan makanan yang diinginkan.
- Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%
- Celupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5% balikkan bagian
dalam keluar dan rendam dalam larutan klorin 0.5% selama 10 menit.
- Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.
- Lengkapi partograf.
6. Implementasi
Disesuaikan dengan intervensi yang dilakukan oleh bidan dan kondisi pasien
7. Evaluasi
S : Ibu mengatakan bahagia dengan kelahiran bayinya
O : Ibu nampak bahagia dan bayi nampak sehat
Tidak terjadi perdarahan
A : Ny. “A”, G.....P.....
KU: Lemas dengan bayi sehat.
P : Dokumentasikan semua asuhan selama persalina

ASUHAN KEBIDANAN
PADA Ny. “ “ G P Usia kehamilan Minggu
DENGAN PERSALINAN NORMAL

Hari / tanggal :
Jam :
No Register :
Oleh :

I. PENGKAJIAN
A. DATA SUBJEKTIF
Biodata
Nama Ibu : Nama Suami :
Umur : Umur :
Agama : Agama :
Pendidikan : Pendidikan :
Pekerjaan : Pekerjaan :
Alamat : Alamat :

Keluhan Utama

Riwayat Penyakit
a. Riwayat Penyakit Ibu
b. Riwayat Penyakit keluarga

Riwayat obstetri
a. Menarche :
b. Siklus/lama :
c. Dishminorrhae :
d. Flour Albus :
e. HPHT :
f. HPL :

Riwayat Kehamilan Sekarang

a. G dengan inpartu :
b. usia kehamilan :
c. ANC : Tempat :
Berapa kali :
Imunisasi TT :

B. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan umum
a. K/U
b. Kesadaran
c. TTV : TD :
N :
S :
R :
d. Antoprometri
BB :
TB :
LILA:
2. Pemeriksaan khusus
a. Inspeksi
− Muka:
− Mata:
− Mammae :
− Abdomen :
− Genetalia Eksterna:
− Ekstremitas atas:
− Ekstremitas bawah :

b. Palpasi
− Leher :
− Axila :
− Mamae :
− Abdominal :
 Leopold I :
 Leopold II :
 Leopold III :
 Leopold IV :
c. Auskultasi
− DJJ :

3. Pemeriksaan penunjang
Tanggal :
Jam :
a. Pemeriksaan Urine:
b. Pemeriksaan Dalam
− Vulva Vagina :
− Pengeluaran :
− Pembukaan :
− EFF :
− Ketuban :
− Presentasi :
− Denominator :
− Turunnya kepala :
− His :
− TBJ :

KALA I
II . INTREPRETASI DATA DASAR
Dx
Ds
Do :
− K/U :
− Kesadaran :
− TTV : TD : mmHg N: x/menit
O
Rr : x/menit S : C
Palpasi
 Leopold I :
 Leopold II :
 Leopold III :
 Leopold IV :
Auskultasi
Laboratorium
Pemeriksaan dalam
Tgl : Jam :
 Vulva vagina :
 Pembukaan :
 Pengeluaran :
 Ketuban :
 Presentasi :
 Denominator :
 Turunnya Kepala :
 His :
 TBJ :
Masalah :
Dasar :
Kebutuhan :

III . IDENTIFIKASI DIAGNOSA

IV . IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA

V . INTERVENSI

VI . IMPLEMENTASI

VII . EVALUASI

Tgl : Jam :
KALA II
II. INTREPRETASI DATA DASAR
Ds :
Do :
Dx :
Mx :
Dasar :
Kebutuhan :

III . IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA

V. INTERVENSI

VI . IMPLEMENTASI

VII . EVALUASI
Tgl : Jam :
KALA III

II . INTREPRETASI DATA DASAR


Ds :
Do :
Dx :
Mx :
III . IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL

IV . IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA

V . INTERVENSI

VI . IMPLEMENTASI

VIII . EVALUASI

Tgl : Jam :
KALA IV
II . INTREPRETASI DATA DASAR
Ds :
Do :
Dx :
Mx :
Dasar :
Kebutuhan :
III . IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL

IV . IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA

V . INTERVENSI

VI . IMPLEMENTASI

VII . EVALUASI

Tanggal : Jam :
Penanggung jawab Penolong Persalinan

(Yang bertanggung jawab atas persalinan) (Bidan yang menolong persalinan)

LEMBAR OBSERVASI

Masuk kamar bersalin


Tgl : Jam :
Anamnesis : HIS mulai tgl: Jam :
Darah :
Lendir :
Ketuban pecah/belum : Jam :
Keluhan lain :

KU : Tensi :
Suhu :
Nadi :
Oedema :
Lain-lain :

Pemeriksaan Obstetri :
1. Palpasi :
2. DJJ :
3. His 10” :............x, ..............lama..........detik
4. VT tgl :
5. Hasil :
6. Pemeriksaan:
Observasi kala I (Fase Laten pembukaan <4 cm)
His 10”
Tgl Jam DJJ TD Suhu Nadi VT Ket
Berapa Lamanya
kali

Selanjutnya lengkapi partograf