Anda di halaman 1dari 9

EVALUASI ATAS

IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN PARIWISATA BERKELANJUTAN PADA


DESTINASI PARIWISATA PRIORITAS KEK MANDALIKA
Eko Adityo Ananto

Ringkasan Eksekutif
 Pengembangan destinasi pariwisata berkelanjutan merupakan sebuah
keniscayaan untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia untuk
menarik minat kunjungan wisatawan khususnya wisatawan mancanegara
 Pengembangan destinasi pariwisata berkelanjutan di Indonesia masih
terkendala pada pemenuhan Aspek 3A (Atraksi, Amenitas, Aksesibilitas) dan
ketahanan lingkungan
 Hasil pemeriksaan BPK atas Kinerja Pengembangan Pemasaran Pariwisata
Tahun 2015 s.d. Semester I 2016 menunjukkan bahwa pada KEK Mandalika
sebagai salah satu destinasi pariwisata prioritas yang disiapkan oleh
pemerintah pusat masih belum optimal dalam pemenuhan Aspek 3A. Selain
itu juga masih terdapat permasalahan ketahanan lingkungan dalam bentuk
timbunan sampah plastik.
 Terdapat rekomendasi BPK dalam LHP tersebut yang belum ditindaklanjuti.
Rekomendasi tersebut adalah memasukkan Menteri Pariwisata ke dalam
struktur Dewan KEK Nasional.
 Kemenparekraf/Baparekraf bersama pemerintah daerah harus merumuskan
langkah-langkah strategis untuk mengatasi potensi kerusakan
alam/lingkungan yang terjadi sebagai dampak atas belum dipenuhinya aspek
pembangunan destinasi berkelanjutan.

Latar Belakang
Apabila melihat daya saing pariwisata Indonesia saat ini, berdasarkan survei
Travel & Tourism Competitiveness Report dari World Economic Forum menyatakan
bahwa Indonesia pada tahun 2019 berada di peringkat 40 dunia. Capaian tersebut
masih dibawah negara-negara ASEAN lainnya seperti Singapura yang berada pada
peringkat 17, Malaysia pada peringkat 29 dan Thailand pada peringkat 31. Salah
satu kelemahan yang signifikan bagi pariwisata Indonesia berdasarkan survei tersebut
adalah dalam hal ketahanan lingkungan yang meliputi kebersihan air, ketersediaan
hutan/ruang terbuka hijau, dan kelangsungan ekosistem maritim.
Kelemahan tersebut mengindikasikan perlunya pembaharuan atas pengembangan
destinasi pariwisata berkelanjutan di Indonesia agar daya saing pariwisata berkelanjutan di
Indonesia dapat meningkat. Adapun definisi pengembangan pariwisata yang berkelanjutan
adalah pariwisata yang memperhitungkan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan
saat ini dan masa depan, memenuhi kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan dan
masyarakat setempat serta dapat diaplikasikan ke semua bentuk aktifitas wisata di semua

PUSAT KAJIAN AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA


BADAN KEAHLIAN DPR RI 1
jenis destinasi wisata, termasuk wisata masal dan berbagai jenis kegiatan wisata lainnya
(Kemenparekraf, 2017).
Pedoman mengenai destinasi pariwisata berkelanjutan diatur dalam Peraturan
Menteri Pariwisata (Permenpar) Nomor 14 Tahun 2016 Tentang Pedoman Destinasi
Pariwisata Berkelanjutan. Dalam peraturan tersebut, Kriteria destinasi pariwisata
berkelanjutan secara garis besar terbagi menjadi empat bagian yakni :
a. pengelolaan destinasi pariwisata berkelanjutan;
b. pemanfaatan ekonomi untuk masyarakat lokal;
c. pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung; dan;
d. pelestarian lingkungan.

Kriteria dan indikator dalam pengembangan destinasi pariwisata berkelanjutan


dalam permenpar tersebut antara lain adalah aksesibilitas ke destinasi, amenitas
kepariwisataan di dalam dan sekitar destinasi, aktivitas kepariwisataan di dalam dan
sekitar destinasi dengan tetap memperhatikan daya tampung dan daya dukung lingkungan,
pertumbuhan ekonomi, isu sosial, warisan budaya, kualitas, kesehatan, keselamatan, dan
estetika.
Hanya saja regulasi yang ada terkait pembangunan pariwisata berkelanjutan
belum dapat mendefinisikan secara jelas tujuan, serta kriteria dan standar dalam
pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Hal ini berdampak pada sejumlah
temuan dan permasalahan pengembangan destinasi pariwisata berkelanjutan di Indonesia
tersebut sebagaimana diungkap BPK dalam LHP Kinerja Atas Kegiatan Pengembangan
Pariwisata Tahun 2015 s.d. Semester I 2016 (2017). Dalam pemeriksaan yang dilakukan
dari 18 Agustus 2016 hingga 17 Desember 2016 tersebut, BPK memberi catatan bahwa
kegiatan pengembangan sejumlah destinasi pariwisata berkelanjutan belum optimal yang
antara lain dapat dilihat dari adanya potensi kerusakan alam serta belum optimalnya
pemenuhan , atraksi, aksesibilitas, dan amenitas (3A) pada sejumlah destinasi pariwisata.

Maksud dan Tujuan Kajian


Kajian ini bermaksud untuk melihat dengan komprehensif bagaimana tindak lanjut
Kementerian Pariwisata dan juga instansi terkait lainnya terhadap rekomendasi yang
diberikan oleh BPK dalam LHP Kinerja Pengembangan Pemasaran Pariwisata tersebut
khususnya pada pengembangan destinasi pariwisata berkelanjutan yang meliputi apsek 3A
dan ketahanan lingkungan. Dikarenakan adanya keterbatasan untuk melihat langsung
perkembangan pada destinasi pariwisata tersebut, maka kajian ini akan menggunakan data
sekunder berdasarkan penelitian terkini dan juga sumber informasi yang dapat
dipertanggungjawabkan. Adapun sampel destinasi pariwisata yang dipilih dalam kajian ini
adalah KEK Mandalika yang juga masuk sebagai destinasi pariwisata super prioritas.
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika ditetapkan melalui Peraturan
Pemerintah Nomor 52 Tahun 2014 untuk menjadi KEK Pariwisata. Dengan luas area
sebesar 1.035,67 Ha dan menghadap Samudera Hindia KEK Mandalika diproyeksikan
menarik investasi sebesar Rp.40T dan diproyeksikan dapat menyerap tenaga kerja
sebanyak 587.000 tenaga kerja hingga tahun 2025.

PUSAT KAJIAN AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA


BADAN KEAHLIAN DPR RI 2
KEK sendiri adalah kawasan tertentu di Indonesia yang ditetapkan menyelenggarakan
fungsi perekonomian, dan memperoleh fasilitas tertentu sebagaimana diatur dalam
Peraturan Pemerintah RI Nomor 2 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Kawasan
Ekonomi Khusus Pasal 1 ayat 1. KEK Mandalika sendiri dipercaya menghelat event
internasional MotoGP pada 2022 nanti. Dalam kondisi demikian, menjadi sebuah
keniscayaan bahwa pengembangan pariwisata berkelanjutan pada KEK Mandalika dapat
menaikkan citra positif dan daya saing pariwisata Indonesia pada umumnya dan Provinsi
NTB serta Kabupaten Lombok Tengah pada khususnya.
Hasil dari kajian ini diharapkan juga dapat memberikan masukan atau rekomendasi
bagi Komisi X DPR RI terkait RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10
Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

Gambaran Permasalahan Pengembangan Destinasi Pariwisata Berkelanjutan Di


Indonesia

Program Pengembangan Destinasi Pariwisata Berkelanjutan atau Sustainable Tourism


Destination (STD), secara umum bertujuan untuk dapat mempertahankan kondisi ekologis
destinasi pariwisata dalam waktu yang lama, mendapatkan kelayakan secara ekonomi, adil
secara etika dan sosial bagi masyarakat setempat. Untuk melihat apakah STD ini telah
terealisasi, pemerintah merancang Sustainable Tourism Observatory (STO) dan
Sustainable Tourism Certification (STC) agar destinasi-destinasi di Indonesia dapat
terpantau dan tersertifikasi dengan memenuhi prinsip-prinsip atau kriteria pembangunan
pariwisata yang berkelanjutan (BPK, 2017). Adapun landasan hukum untuk mencapai
STD tersebut, diatur dalam Peraturan Menteri Pariwisata (Permenpar) Nomor 14 Tahun
2016 Tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan. Dalam implementasinya BPK
(2017) menemukan adanya dampak negatif akibat tidak diperhatikannya pembangunan
destinasi wisata berkelanjutan dengan contoh sebagai berikut:
a. Kerusakan alam/destinasi pariwisata Tanah Lot pada Kabupaten Tabanan
Provinsi Bali

Tingkat kunjungan yang tinggi dan beberapa masukan serta penilaian kondisi
lingkungan alam yang sudah tergerus mengharuskan pemerintah Provinsi Bali
khususnya Kabupaten Tabanan mempunyai strategi untuk memitigasi kerusakan alam.
b. Potensi kerusakan alam pada Kawah Ijen Kabupaten Banyuwangi Provinsi
Jawa
Timur
Tingginya kunjungan wisatawan ke Kawah Ijen yang melampaui kapasitas/daya
tampung memunculkan potensi kerusakan alam.
c. Usaha wisata di daerah Sempadan Pantai pada Kabupaten Badung Provinsi Bali
dan
Kabupaten Lombok Utara Provinsi NTB
Sempadan pantai adalah adalah daratan sepanjang tepian pantai, yang lebarnya
proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal 100 (seratus) meter dari
titik pasang tertinggi ke arah darat. Dalam Perpres Nomor 51 Tahun 2016 diatur
penetapan batas sempadan pantai untuk melindungi dan menjaga kelestarian fungsi
ekosistem dan segenap sumber daya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

PUSAT KAJIAN AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA


BADAN KEAHLIAN DPR RI 3
Konfirmasi BPK kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Badung dan Kasi Usaha Jasa dan
Sarana Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata Kabupaten Lombok Utara diketahui
banyak usaha wisata tidak berizin yang berlokasi di sempadan pantai untuk pantai
dimana lokasi tersebut adalah zona terlarang untuk usaha wisata.
Selanjutnya, ketika permasalahan ini dikonfirmasi oleh BPK kepada Kemenpar
diketahui bahwa Kemenpar belum melakukan sosialisasi dan diseminasi secara khusus
mengenai pembangunan destinasi berkelanjutan pesan dan tujuan dari pengembangan
destinasi yang berkelanjutan.
Pemerintah sendiri telah melakukan upaya internalisasi pembangunan pariwisata
berkelanjutan dengan membentuk Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) yang
dimulai pada tahun 2017 sebagai tindak lanjut atas Permenpar No. 14 Tahun 2016 tentang
Pedoman Destinasi Pariwisata Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan Pasal 9 ayat 8.
Hal ini tentu layak diapresiasi, namun untuk menilai pengembangan pariwisata telah
berkelanjutan atau tidak hanya dapat diketahui setelah melalui waktu yang panjang,
dan diasumsikan bahwa kebutuhan saat ini diasumsikan sama pada masa itu (Suardana,
2013).
Apabila melihat dampak dari kebijakan tersebut, terlihat bahwa pariwisata Indonesia
masih tertinggal dalam hal ketahanan dan kelestarian lingkungan. Hal ini
dikonfirmasi pada survei Travel & Tourism Competitiveness Report dari World Economic
Forum pada tahun 2019 yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke 135 dari 140
negara dalam aspek ketahanan lingkungan. Sebelumnya pada survei yang sama pada tahun
2017, Indonesia berada pada peringkat 131 dari 136 negara.

Gambaran Terkini Atas Pengembangan Destinasi Pariwisata Berkelanjutan Pada


KEK Mandalika
Penetapan status KEK Mandalika ini seharusnya menjadi sebuah momentum untuk
meningkatkan multiplier effect yang lebih tinggi sehingga kesejahteraan masyarakat yang
tinggal di sekitar KEK meningkat (Aulia, 2018). Pemerintah sendiri mentargetkan menarik
1.000.000 wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun 2019 khususnya untuk KEK
Mandalika yang berlokasi di Kabupaten Lombok Tengah. Adapun untuk kunjungan
wisman ke Lombok Tengah dapat diuraikan sebagai berikut:

Kunjungan Wisman Ke Objek Wisata Lombok Tengah 2014-


2019
563,247 552,177
480,154
436,901

145,515
53,786

2014 2015 2016 2017 2018 2019


Sumber: Satudata Lombok Tengah

PUSAT KAJIAN AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA


BADAN KEAHLIAN DPR RI 4
Terlihat dari uraian data diatas, target yang ditetapkan pemerintah untuk menarik 1juta
wisman ke Lombok Tengah sejak ditetapkannya Mandalika sebagai KEK pada tahun
2014 hingga 2019 belum tercapai. Bahkan kunjungan wisman menunjukkan tren
yang menurun secara signifikan dari tahun 2017 sebanyak 552.177 wisman menjadi
hanya 53.786 wisman pada tahun 2019.
Permasalahan pengembangan pariwisata berkelanjutan di KEK Mandalika
dinyatakan oleh BPK (2017) pada LHP Kinerja Atas Kegiatan Pengembangan
Pariwisata Tahun 2015 s.d. Semester I 2016. Dalam rentang waktu pemeriksaan
tersebut ditemukan permasalahan sebagai berikut:
a. Aksesibilitas yang belum memadai dimana jalan yang digunakan untuk memasuki
Kawasan KEK Mandalika pada waktu itu sempit dan hanya cukup dilewati untuk
satu kendaraan;
b. Amenitas yang belum memadai dimana belum banyak hotel berbintang (pada
waktu itu hanya ada Hotel Novotel). masyarakat sekitar juga menyewakan
homestay namun tidak resmi/tidak berijin sehingga tidak terstandarisasi.
c. Untuk menuju KEK Mandalika juga belum didukung dengan transportasi umum,
sehingga untuk dapat mencapainya harus menggunakan kendaraan pribadi
ataupun sewaan.
d. Dari aspek atraksi, toko-toko yang menjual souvenir untuk menarik wisatawan
juga belum ada. Hanya dijumpai masyarakat dari desa sekitar yang berjualan kain,
sarung dan asesoris yang menunjukkan sikap yang tidak ramah dan tidak
menyenangkan kepada wisatawan mancanegara maupun wistawan lokal.
Ketahanan lingkungan di KEK Mandalika juga perlu mendapat perhatian. Hal
ini didasarkan pada kajian yang dilakukan oleh UNDP yang menunjukkan bahwa,
timbunan sampah di KEK Mandalika mencapai 215,7 ton/tahun pada tahun 2020 ketika
terjadi penurunan kunjungan wisata karena pandemi Covid-19. Adapun jumlah sampah
plastik pada 5 pantai di KEK Mandalika adalah 36 ton/ tahun (selama pandemi).
Sampah plastik tersebut bersumber dari kegiatan pariwisata dan pembangunan
prasarana akomodasi.
Disamping itu, terdapat pula potensi ancaman ketahanan lingkungan dalam
bentuk bencana alam di KEK Mandalika. Hal ini terkait dengan Indeks Risiko Bencana
Indonesia yang dirilis oleh BNPB tahun 2020 yang menyebutkan bahwa Kabupaten
Lombok Tengah berada dalam kategori “resiko tinggi” terhadap ancaman bencana
alam. Adapun resiko bencana alam yang dihadapi adalah:
a. Risiko bencana kebakaran hutan dan lahan (peringkat 137 dari 506
Kabupaten/Kota);
b. Risiko bencana tsunami (peringkat 49 dari 265 Kabupaten/Kota);
c. Risiko bencana tanah longsor (peringkat 159 dari 514 Kabupaten/Kota);
d. Risiko bencana cuaca gelombang ekstrim dan abrasi (peringkat 30 dari 326
Kabupaten/Kota);
e. Risiko bencana kekeringan (peringkat 350 dari 511 Kabupaten/Kota);
f. Risiko bencana cuaca ekstrim (peringkat 293 dari 506 Kabupaten/Kota).
Untuk melihat bagaimana kondisi pemenuhan aspek Atraksi, Amenitas, dan
Aksesibilitas pada KEK Mandalika setelah pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK

PUSAT KAJIAN AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA


BADAN KEAHLIAN DPR RI 5
tersebut, digunakan penelitian oleh Amir et al (2020) dari Pusat Penelitian dan
Pengembangan, Balilatfo, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan
Transmigrasi yang berjudul “Identifikasi Potensi dan Status Pengembangan Desa
Wisata di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat”. Penelitian tersebut
dilakukan pada bulan September–Desember 2019 pada 12 Desa Wisata di KEK
Mandalika. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder dengan
pendekatan penelitian menggunakan mix methods, yaitu metode kualitatif untuk
mengkaji aspek kebijakan, kesiapan masyarakat dan pengelola desa wisata Adapun
dalam peneilitian tersebut diungkapkan permasalahan sebagai berikut
a. Kendala pengembangan Atraksi Wisata
Atraksi wisata budaya banyak ditemukan di desa-desa yang masih dihuni oleh Suku
Sasak yang mempertahankan kearifan lokal dan budaya dengan baik secara turun
temurun. Variasi kegiatan pada tujuan destinasi dianggap masih kurang baik. Seperti
halnya di pantai, sebagian besar wisatawan mancanegara hanya berjemur dan
berjalan menyusuri pantai. Begitu halnya atraksi budaya kesenian dan kerajinan,
variasi kegiatan juga dianggap kurang. Hal yang pelu diperhatikan adalah pelibatan
peran masyarakat dalam pengembangan kegiatan wisata yang perlu dilakukan untuk
menghasilkan pendapatan ekonomi. Sebagai contoh Desa Kuta sebagai pusat
kawasan Mandalika, warga desa kurang diberdayakan sebagai tenaga kerja sektor
pariwisata.
b. Kendala pengembangan Amenitas
Hasil tinjauan oleh Amir et al (2020) menunjukkan bahwa nilai amenitas Desa
Wisata di Lombok Tengah pada masih rendah. Salah satu hal yang perlu mendapat
perhatian adalah kurangnya ketersediaan homestay sebagai penginapan murah
dengan fasilitas yang memadai. Hasil FGD diketahui bahwa kebutuhan pada
homestay cukup tinggi dan agar dapat bersaing dengan hotel berbintang perlu
dilakukan renovasi pada rumah warga untuk dijadikan penginapan layak bagi
wisatawan.
c. Kendala Pengembangan Aksesibilitas
Peninjauan aksesibilitas oleh Amir et al (2020) menunjukkan bahwa belum ada
trayek transportasi umum untuk mengangkut wisatawan ke desa wisata. Meskipun
demikian, nilai aksesibilitas desa wisata di Lombok Tengah sudah cukup baik
dimana sebagian besar jalan sudah diaspal.
Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat kendala atraksi, aksesibilitas dan
amenitas yang masih belum terselesaikan sejak dilakukannya pemeriksaan oleh BPK
pada LHP Kinerja Pengembangan Pemasaran Pariwisata (2017) di KEK Mandalika.
Namun, dibalik sejumlah tantangan tersebut KEK Mandalika juga menyimpan
potensi dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan yang kiranya dapat dijadikan
percontohan bagi daerah lain. Berdasarkan penelitian dari Estriani (2019), ITDC selaku
pihak BUMN sebagai pengembang dan pengelola KEK Mandalika berupaya
menerapkan konsep ecotourism dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan dalam
bentuk:
a. Pengolahan untuk air bersih dan air minum di KEK Mandalika berasal dari instalasi
pengolahaan air laut yang disebut dengan Sea Water Resource Osmosi (SWRO);

PUSAT KAJIAN AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA


BADAN KEAHLIAN DPR RI 6
b. Pemanfaatan lahan di bawah panel surya sebagai greenhouse atau rumah kaca akan
digunakan untuk menumbuhkan tanaman secara organik. Perkembangan terbaru,
panel surya ini juga digunakan untuk mendukung kebutuhan listrik pada event
World Super Bike (WBS).

Permasalahan Koordinasi Lintas Instansi Terkait Pengembangan Destinasi


Parwisata Berkelanjutan Pada KEK Mandalika
BPK pada LHP Atas Kegiatan Pengembangan Pariwisata Tahun 2015 s.d.
Semester I 2016 (2017) menyoroti permasalahan koordinasi antar
Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah terkait penyiapan aksesibilitas dan amenitas
dimana hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa KEK Mandalika masih berupa
daerah kosong yang belum tergarap meskipun telah ditetapkan sebagai KEK sejak tahun
2014. Pada waktu pemeriksaan tersebut dilakukan, koordinasi pembangunan KEK tidak
berjalan dengan lancar dimana pembangunan yang dilaksanakan oleh PT. ITDC sebagai
kontraktor yang ditunjuk masih sangat lambat. Pemkab Lombok Tengah dan Pemprov
NTB telah berupaya untuk membantu percepatan pembangunan dengan mengajukan
proposal bantuan penyediaan sarana dan prasarana untuk mendukung pembangunan KEK
Mandalika, namun proposal tersebut ditolak.
Ketika hal ini coba untuk difasilitasi oleh Kementerian Pariwisata untuk dilaporkan
kepada Dewan Nasional KEK, hal ini tidak dapat dilakukan karena Kementerian
Pariwisata pada waktu itu bukan termasuk ke dalam keanggotaan Dewan Nasional KEK.
Atas permasalahan tersebut, BPK merekomendasikan kepada Menteri Pariwisata pada saat
itu agar mengusulkan keanggotaan Menteri Pariwisata ke dalam Dewan Nasional KEK,
dengan merivisi Keppres No. 8 Tahun 2010. Namun, hingga saat ini ( 6 Desember
2021), Keppres No. 8 Tahun 2010 belum direvisi dan jabatan Menteri Pariwisata
yang sekarang berganti nama menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/
Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif belum masuk sebagai anggota
Dewan Nasional KEK.

Kesimpulan dan Saran


Pariwisata Indonesia memang menjadi andalan dalam mengumpulkan devisa
terlebih destinasi pariwisata Indonesia dikaruniai keindahan alam yang menjadi
keunggulan dibandingkan negara lain. Hanya saja ketahanan lingkungan masih menjadi
masalah tersendiri yang membuat daya saing Pariwisata Indonesia masih tertinggal apabila
dibandingkan dengan negara tetangga di ASEAN seperti Malaysia, Thailand, dan
Singapura. Pembangunan destinasi parwisata yang mengabaikan aspek ketahanan
lingkungan dikonfirmasi oleh temuan dalam LHP BPK RI dalam bentuk potensi kerusakan
lingkungan. KEK Mandalika sebagai salah satu destinasi prioritas termasuk dalam daerah
dengan risiko tinggi rawan bencana dan kerusakan alam sehingga perlu mendapat
perhatian khusus. Disamping itu, masih belum tertanganinya pemenuhan 3A dan sampah
plastik yang bersumber dari kegiatan pembangunan prasarana akomodasi juga harus
segera disikapi dengan serius oleh pemerintah pusat dan daerah. Permasalahan koordinasi
antar kementerian/Lembaga juga dapat menghambat pembangunan destinasi pariwisata.

PUSAT KAJIAN AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA


BADAN KEAHLIAN DPR RI 7
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata Ekonomi Kreatif
(Kemenparekraf/Baparekraf) sebagai leading sector di bidang parwisata ternyata tidak
dimasukkan sebagai anggota Dewan Nasional KEK. Dibalik tantangan tersebut, terdapat
sejumlah peluang yang dimanfaatkan oleh KEK Mandalika dengan penerapan konsep
ecotourism dengan penyiapan panel surya untuk mendukung pertanian dan kebutuhan
listrik serta pengolahan air bersih dengan teknologi SWRO.
Adapun hal yang kiranya dapat menjadi perhatian bagi Komisi X DPR RI dalam
RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang
Kepariwisataan yang masuk ke dalam Program Legislasi Nasional adalah bagaimana RUU
baru tersebut nantinya dapat mengatur aspek ketahanan lingkungan dalam sebuah
destinasi pariwisata agar tercipta pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Selain itu
perlu diperhatikan bagaimana konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan secara jelas
dan spesifik yang sejalan dengan protokol kesehatan pada masa pandemi Covid-19.
RUU tersebut dan juga peraturan turunan didalamnya nantinya perlu
mengakomodir rekomendasi BPK untuk pengembangan destinasi pariwisata
berkelanjutan yaitu agar Kemenparekraf/Baparekraf bersama pemerintah daerah
merumuskan langkah-langkah strategis untuk mengatasi potensi kerusakan
alam/lingkungan yang terjadi sebagai dampak atas belum dipenuhinya aspek
pembangunan destinasi berkelanjutan.
Selain itu perlu dikaji lagi mengenai belum ditindaklanjutinya rekomendasi BPK
untuk memasukkan Menparekraf/Kabaparekraf ke dalam anggota Dewan Nasional KEK
dengan merevisi Keppres Nomor 8 Tahun 2010.

Daftar Pustaka
Amir, Azhar., Sukarno, Taufan Daniarta., & Rahmawati, Fauzi. 2020. Identifikasi Potensi
dan Status Pengembangan Desa Wisata di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara
Barat. Jurnal Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Juni 2020 Vol 4 No 2: hal
84-98.
Aulia, S.S. 2018. Pariwisata Indonesia Di Masa New Imperialism Atau Imperialisme
Modern: Sebuah Kritik Dan Refleksi Terhadap Perencanaan Pengembangan Pariwisata Di
Borobudur Dan Mandalika. Jurnal Wilayah dan Kota: Vol 05 No 01.
BNPB. 2021. Indeks Resiko Bencana Indonesia Tahun 2020. Jakarta: BNPB.
BPK RI. 2017. Laporan Hasil Pemeriksaan Kinerja Kegiatan Pengembangan Pemasaran
Pariwisata. Tahun 2015 s.d. Semester I 2016. Jakarta: BPK RI.
Estriani, Heavy Nala. 2019. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Dalam
Implementasi Konsep Pariwisata Berbasis Ecotourism: Peluang Dan Tantangan. Jurnal
Hubungan Internasional Mandala Vol 2 No 1 Januari-Juni 2019.
Kabupaten Lombok Tengah. 2021. Dataset Diakses dalam
https://satudata.lomboktengahkab.go.id/ pada 3 Desember 2021.

PUSAT KAJIAN AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA


BADAN KEAHLIAN DPR RI 8
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 2017. Buku Pedoman Indonesia Sustainable
Tourism Award (ISTA) – 2017. Jakarta: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Suardana, I Wayan. 2013. Analisis Kebijakan Pengembangan Pariwisata: Intervensi Melalui
Kebijakan Pariwisata Berkelanjutan di Bali. Seminar Nasional Pariwisata Berlanjutan. Bali:
Universitas Udayana, 2 Mei 2013.
UNDP. 2020. Temukan Masalahnya. Diakses dalam
http://plasticchallenge.undp.org.vn/id/discover-the-problem/ pada 3 Desember 2021.
World Economic Forum. 2017. The Travel & Tourism Competitiveness Report 2017.
Geneva: World Economic Forum.
World Economic Forum. 2019. The Travel & Tourism Competitiveness Report 2019.
Geneva: World Economic Forum.

PUSAT KAJIAN AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA


BADAN KEAHLIAN DPR RI 9