Anda di halaman 1dari 7

Nama : Rafa Tartila

Kelas : B
NPM : 170610200034

Resume PPh Pasal 26 dan PPh Pasal 29


Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 26 adalah PPh yang dikenakan/dipotong atas
penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak (WP)
luar negeri selain bentuk usaha tetap (BUT) di Indonesia. Subjek pajak dari PPh Pasal 26
adalah Badan Pemerintah, Subjek Pajak Dalam Negeri (Badan Dalam Negeri maupun Orang
Pribadi Dalam Negeri), Penyelenggara Kegiatan, Bentuk Usaha Tetap dan Perwakilan
Perusahaan Luar Negeri Lainnya. Objek pajak dari PPh Pasal 26 adalah Wajib Pajak Luar
Negeri (Badan dan Pribadi) selain badan usaha tetap (BUT) di Indonesia. Objek penghasilan
yang dikenakan pemotongan PPh Pasal 26, diantaranya:
 Dividen
 Bunga, termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan
pengembalian utang.
 Royalti,sewa,danpenghasilanlainsehubungandenganpenggunaanharta.
 Imbalansehubungandenganjasa,pekerjaan,dankegiatan.
 Hadiahdanpenghargaan.
 Pensiundanpembayaranberkalalainnya.
 Premiswapdantransaksilindungnilailainnya.
PPh Pasal 26 memiliki tarif 20% dari Dasar Pengenaan Pajak dengan ketentuan sebagai
berikut :
 Tarif20%daripenghasilanbruto
 Tarif20%dariperkiraanpernghasilanneto
 Tarif20%daripenghasilankenapajaksetelahdikurangiPPhterutang
Ketentuan tarif 20% mengikuti kriteria sebagai berikut :
 Tarif 20% (final) dari laba bersih juga berlaku atas penjualan atau pengalihan
saham perusahaan yang didirikan atau bertempat di negara yang memberikan
perlindungan pajak, termasuk dalam BUT di Indonesia.
 Tarif 20% yang dipungut dari penghasilan kena pajak setelah dikurangi dengan
pajak termasuk di dalamnya dalam BUT di Indonesia. Tidak berlaku bagi Wajib
Pajak yang penghasilannya tersebut ditanamkan kembali di Indonesia.
 TaxTreaty atau P3B antara Indonesia dan negara negara lain yang berada dalam
perjanjian bisa saja berbeda satu sama lain. Tarifnya biasanya untuk mengurangi
tingkat dari tarif biasa yang sebesar 20% dan beberapa mungkin memiliki tarif
0%.
Adapun batas waktu pembayaran PPh Pasal 26 dan batas waktu pelaporan PPh Pasal
26. PPh Pasal 26, batas waktu pembayaran pajak adalah tanggal 10 bulan berikutnya.
Sedangkan batas waktu pelaporan Surat Pemberitahuan Masa-nya adalah tanggal 20 bulan
berikutnya.
Pajak Penghasilan Pasal 29 (PPh Pasal 29) merupakan PPh Kurang Bayar (KB) yang
tercantum dalam SPT Tahunan PPh. PPh Kurang Bayar yaitu sisa dari PPh yang terutang
dalam
tahun pajak yang bersangkutan dikurangi Kredit Pajak PPh Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, dan
Pasal 24 dan PPh Pasal 25. Hal tersebut tercantum dalam Pasal 28 UU Nomor 36 Tahun 2008
Tentang Pajak Penghasilan. Peraturan PPh Pasal 29 melingkupi Wajib Pajak Orang Pribadi
Pengusaha Tertentu (WP OPPT) dan Wajib Pajak badan (WPB). Kedua pihak Wajib Pajak ini
bertanggung jawab untuk melunasi pajak kurang bayar sebagaimana diatur dalam PPh Pasal
29 itu tadi. Untuk WP OPPT, kekurangan pajak tersebut harus sudah dilunasi selambat-
lambatnya pada tanggal 31 Maret setiap tahunnya. Ini dilakukan jika tahun buku sesuai
dengan tahun kalender. Sementara jika tahun buku tidak sama dengan tahun kalender,
yakni dimulai sekitar tanggal 1 Agustus dan berakhir di 31 Juli untuk periode satu tahun,
maka tanggal jatuh temponya adalah 31 Oktober. Penerapan tanggal jatuh tempo
pelunasan pajak kurang bayar ini berbeda untuk WPB. Dengan sistem kalender pembukuan
yang sama dengan tahun kalender, maka pajak harus sudah dilunasi sebelum 30 April.
Sebaliknya, jika kalender buku berbeda dengan tahun kalender, maka pelunasan paling
lambat dilakukan sebelum tanggal 30 November.
Dari penjelasan singkat pada poin sebelumnya, Anda bisa menyimpulkan bahwa tarif
PPh Pasal 29 ini sebenarnya berbeda dengan dua tarif pajak lainnya yang diatur dalam pasal
ini. Pertama, untuk WP OPPT, PPh Pasal 25 yang harus dilunasi sebesar 0,5% dari jumlah
omzet setiap bulannya. Sementara untuk PPh Pasal 29 yang wajib dilunasi adalah selisih dari
PPh terutang dan PPh Pasal 25 yang sudah dilunasi tadi. Kedua, untuk WPB, dikenakan tarif
pajak yang berbeda sesuai dengan besar pendapatan dalam masa satu tahun pajak. Berikut
beberapa jenis tarif tersebut:
o Pendapatan bruto mencapai Rp 4,8 miliar per tahun — Dikenakan tarif pajak PPh
final dengan mengambil 0,5% dari seluruh pendapatan bruto tersebut.
o Pendapatan bruto lebih dari Rp50miliar per tahun — Dikenakan tarif pajak
tunggal sebesar 22% dari laba bersih sebelum terkena pajak.
o PendapatanbrutolebihdariRp4,8miliardankurangdariRp50miliarpertahun—Tarif
pertama sebesar 11% untuk pendapatan bruto hingga Rp4,8 miliar. Tarif kedua
sebesar 22% untuk pendapatan bruto yang tidak mencapai Rp4,8 miliar – Rp50
miliar.
Adapun cara membayar PPh Pasal 29. Sebelum menyetor/membayar pajak kurang
bayar PPh Pasal 29, Anda harus mendapatkan Kode Billing terlebih dahulu dari DJP sebagai
syarat membayar pajak yang disetor menggunakan SSP. Setelah mendapat Kode Billing dari
DJP, selanjutnya membayarkan pajak kurang bayar tersebut melalui ATM (Anjungan Tunai
Mandiri), internet banking atau teller bank/pos persepsi. Perlu diingat, dalam pembuatan
Kode Billing untuk jenis setoran PPh Pasal 29 ini, WP Badan harus menggunakan kode jenis
setoran 411126-200. Sedangkan bagi WP Pribadi, kode jenis setoran PPh Pasal 29 adalah
411125-200.
Pelaporan SPT tahunan PPh akan selalu dilakukan setelah Tahun Pajak berakhir pada
akhir bulan ketiga (Maret) untuk WP Orang Pribadi dan akhir bulan keempat (April) bagi WP
Badan. Anda dapat melaporkan semua jenis SPT, mulai dari SPT Tahunan Pajak Badan, SPT
Masa (bulanan) pajak, dan SPT Tahunan Pajak Pribadi. Setelah menyampaikan SPT PPh,
Anda akan memperoleh bukti lapor dalam bentuk elektronik, yakni Bukti Penerimaan
Elektronik (BPW) dari DJP, yang berisi informasi nama WP, Nomor Pokok Wajib Pajak
(NPWP), tanggal pembuatan BPE, jam pembuatan BPW, dan Nomor Tanda Terima Elektronik
(NTTE).
PDJP telah menentukan kapan batas waktu pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT)
Pajak Penghasilan (PPh) maupun PPN. WP yang tidak lapor atau terlambat melakukan
pelaporan pajak, harus bersiap menghadapi sanksi atau denda keterlambatan. Sebelumnya,
pengenaan sanksi terlambat dan kurang bayar pajak sebesar 2% per bulan dalam Undang-
Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) No. 6/1983 yang diubah
dengan UU 16/2009. Namun ketentuan diubah dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2020 tentang Cipta Kerja, menjadi disesuaikan dengan tingkat atau tarif suku bunga acuan
per bulan.

Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 29:


1. Perhitungan PPh Pasal 29 Orang Pribadi
Pak Rudi adalah pengusaha restoran (UMKM) di Bandung yang termasuk ke
dalam Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu dan memakai pencatatan
di dalam penghitungan besarnya PPh. Berikut adalah perhitungan pajak tersebut:
o Jumlah peredaran usaha/omzet dalam setahun adalah Rp200.000.000
o PPh Pasal 25 (WPOPPT) yang telah dilunasi adalah (0,75% x Rp200.000.000) =
Rp1.500.000.
o Setelah dihitung kembali, pajak yang seharusnya dibayar Pak Rudi yang
terutang selama setahun ialah Rp2.000.000
o PPh Pasal 29 yang wajib dilunasi Pak Rudi adalah Rp2.000.000 – Rp1.500.000
= Rp500.000
2. Perhitungan PPh Pasal 29 Badan
Koperasi Unit Desa Maju Jaya setelah menghitung jumlah PPh terutang tahun
pajak 2011, diketahui PPh terutangnya dalam setahun sebesar Rp12.000.000.
Pada 2012, koperasi memperoleh laba yang lebih banyak. Sesudah dihitung
kembali, pajak terutang pada 2012 adalah Rp15.000.000.
o Angsuran dari PPh Pasal 25 selama tahun 2012 (12 bulan) adalah
Rp1.000.000 x 12 = Rp12.000.000 (asumsi pembayaran tahun berjalan).
o PPh Pasal 29 tahun 2012 yang wajib dilunasi KUD Maju Jaya adalah: PPh yang
terutang – Angsuran PPh Pasal 25 atau Rp15.000.000 – Rp12.000.000 =
Rp3.000.000

Praktik perhitungan PPh Pasal 26:


1. Kasus 1 Pembayaran Asuransi
PT Mary mempunyai wakil di luar negeri yang mengasuransikan gedung
bertingkat kepada perusahaan di negeri tersebut dan melakukan pembayaran
sejumlah premi di tahun 2020 dengan bayaran Rp 1 Miliar.
o Perkiraan Penghasilan: 50% x 1.000.000.000 = Rp.500.000.000
o PPh 26: 20% x Rp.500.000.000 = Rp.100.000.000
Walau tak jarang juga jika perusahaan Mary mengasuransikan gedung ke perusahaan
Indonesia, dengan melakukan pembayaran premi sejumlah Rp1 Miliar. Perusahaan dapat
melakukan reasuransi ke perusahaan di negeri tersebut dan hanya perlu membayar Rp 500
juta.
o Perkiraan Penghasilan: 10% x Rp.500.000.000 = Rp.50.000.000
o PPh 26: 20% x Rp.50.000.000 = Rp10.000.000

2. Kasus 2 Pemindahan Saham


Kendall Jenner merupakan seorang warga negara Amerika yang memiliki 25%
saham atas PT Melly Indonesia. Tahun ini Kendall menjual seluruh sahamnya
senilai Rp.8 miliar kepada Harry seorang warga negara Inggris. Asumsikan tidak
ada P3B antara Indonesia dan Inggris serta Amerika sehubungan dengan
transaksi tersebut. Hitunglah PPh Pasal 26 dari transaksi tersebut?
o Penghasilan Neto= 25% dari harga jual
o PPh 29= 20% x Penghasilan Neto
o 20% x 25% x Rp8.000.000.000 = Rp400.000.000 (bersifat final).

Jika ada P3B antara negara yang terkait transaksi tersebut (penjual berstatus sebagai
wajib pajak luar negeri), pemotongan PPh Pasal 26 hanya dilakukan apabila hak pemajakan
berdasarkan P3B berada pada pihak Indonesia. Penting bagi wajib pajak yang akan
memotong pph pasal 26 kepada wajib pajak luar negeri untuk mengetahui apakah wajib
pajak luar negeri tersebut berasal dari negara yang mempunyai tax treaty atau P3B dengan
Indonesia atau tidak. Sebab ketentuan tarif pajaknya akan berbeda.
3. Kasus 3 Pendapatan
Seorang atlet dari China yang ikut mengambil bagian dari perlombaan lari
maraton di Indonesia berhasil meraih juara dan memperoleh hadiah uang tunai
sebesar Rp100.000.000. Atas penghasilan dari hadiah tersebut dikenakan PPh
Pasal 26. Hitunglah PPh Pasal 26?
o 20% x Rp 100.000.000 = Rp 20.000.000
Atas penghasilan yang diterima oleh atlet dari China tersebut akan dipotong PPh
Pasal 26 sebesar Rp 20.000.000. yang artinya atlet tersebut hanya mendapat total hadiah
Rp. 80.000.0000.
Praktik perhitungan PPh Pasal 29:
1. Kasus 1 Pribadi
Pak Tony adalah pengusaha restoran (UMKM) di Bandung yang termasuk ke
dalam Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu dan memakai pencatatan di
dalam penghitungan besarnya PPh. Berikut adalah perhitungan pajak tersebut:
o Jumlah peredaran usaha/omzet dalam setahun adalah Rp200.000.000
o PPh Pasal 25 (WPOPPT) yang telah dilunasi: (0,75% x Rp200.000.000) =
Rp1.500.000.

Setelah dihitung kembali, pajak yang seharusnya dibayar Pak Tony yang terutang
selama setahun ialah Rp2.000.000. PPh Pasal 29 yang wajib dilunasi Pak Rudi adalah?
o Rp2.000.000 – Rp1.500.000 = Rp500.000

2. Kasus 2 Badan
Koperasi Unit Desa Kembang bergerak dibidang simpan pinjam. Pada tahun 2019
memiliki penerimaan bruto dalam setahun sebesar Rp 500.000.000,- dan seluruh
biaya-biaya yang berkaitan dengan usaha (sesuai ketentuan perpajakan) sebesar Rp
4.250.000.000,-.
o Penghasilan Neto = Rp 500.000.000 – Rp 425.000.000 = Rp 75.000.000
o Pajak Penghasilan yang terutang = Rp75.000.000 x 25% x 50% = Rp9.375.000

PPh Pasal 25 (angsuran) yang harus dibayar KUD Kembang setiap bulan:
Rp9.375.000,- : 12 = Rp 781.250,-
Koperasi Unit Desa Kembang, setelah menghitung PPh terutang tahun pajak 2010
diketahui PPh terutang setahun sebesar Rp 12.000.000,-.
o Angsuran PPh Pasal 25 selama tahun 2010 (12 bulan)= Rp 781.250,- x 12 = Rp
9.375.000,-

o PPh Pasal 29= PPh yang terutang – angsuran PPh Pasal 25= Rp12.000.000, –
Rp9.375.000,- = Rp2.625.000,00

Anda mungkin juga menyukai