Anda di halaman 1dari 5

MATERI 4 : STRUKTUR SOSIAL, STRATIFIKASI SOSIAL, DIFERENSIASI SOSIAL, DAN MASYARAKAT

MULTIKULTURAL

Struktur Sosial

1. Menurut KBBI, struktur sosial adalah konsep perumusan asas hubungan antar individu dalam
kehidupan masyarakat yang merupakan pedoman bagi tingkah laku individu. Supaya lebih jelas,
ayo kita lihat tiga pengertian struktur sosial menurut para ahli.
2. Menurut Soerjono Soekanto, struktur sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi
sosial serta peranan yang dimiliki oleh individu atau kelompok yang ada di dalam struktur
tersebut.
3. Menurut George C. Homans, struktur sosial adalah pokok bahasan dalam sosiologi yang
berhubungan erat dengan kepribadian dasar serta perilaku sosial setiap manusia dalam
menjalankan kehidupannya sehari-hari agar sesuai dengan akomodasi peraturan yang ada.
4. Menurut Coleman, struktur sosial adalah suatu pola hubungan antar manusia dan antar
kelompok manusia. Susunan yang ada dapat bersifat vertikal ataupun horizontal.

Ciri-Ciri Struktur Sosial

Struktur sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

 Bersifat abstrak
 Selalu berkembang dan dapat berubah
 Merupakan realitas sosial bersifat statis dengan kerangka yang dapat membentuk suatu tatanan
 Meliputi semua kebudayaan dalam masyarakat
 Menjadi landasan akan proses sosial dalam masyarakat
 Merujuk pada interaksi sosial pokok yang dapat memberikan bentuk pada masyarakat
 Adanya dimensi vertikal dan horizontal

Fungsi Struktur Sosial

Tentu saja struktur sosial memiliki fungsi dalam penerapannya, Quipperian. Struktur sosial dapat
berfungsi sebagai:

 Pengawas sosial
 Karakteristik suatu kelompok masyarakat
 Rantai sistem yang menghubungkan setiap aspek kehidupan
 Dasar penanaman disiplin bagi setiap individu dalam masyarakat
 Instrumen masyarakat dalam menyelenggarakan penataan kehidupan secara keseluruhan
Bentuk Struktur Sosial

Ada dua bentuk struktur sosial, yaitu:

1. Stratifikasi sosial

Stratifikasi sosial adalah bentuk struktur sosial yang memisahkan masyarakat secara bertingkat. Dalam
stratifikasi sosial, untuk menentukan tingkatan-tingkatan yang ada, pembedanya ialah tingkat
pendidikan, kekayaan, dan/atau kekuasaan. Menurut Max Weber, stratifikasi sosial muncul karena
kekuasaan, hak istimewa, dan prestis. Stratifikasi sosial dapat bersifat tertutup, terbuka, dan campuran.

Stratifikasi sosial tertutup tidak memungkinkan perpindahan posisi antar anggota masyarakat.
Sebaliknya, stratifikasi sosial terbuka memungkinkan adanya perpindahan posisi, naik ataupun turun.
Stratifikasi sosial campuran timbul karena bertemunya dua stratifikasi.

2. Diferensiasi sosial

Diferensiasi sosial adalah bentuk struktur sosial yang menggolongkan masyarakat dengan perbedaan
tertentu yang sifatnya sejajar, yaitu ras, suku bangsa, agama, profesi, dan jenis kelamin.

Bagaimana Struktur Sosial Bisa Terbentuk?

Demi terbentuknya struktur sosial, menurut Charles P. Loomis, unsur-unsur berikut ini harus terpenuhi.
Dalam sebuah struktur sosial, harus dapat ditemukan:

 Pengetahuan dan keyakinan yang dimiliki anggota masyarakat


 Perasaan solidaritas di antara anggota masyarakat
 Tujuan dan cita-cita bersama anggota masyarakat
 Nilai-nilai dan norma sosial sebagai patokan dan pedoman dalam masyarakat
 Kedudukan dan peranan sosial untuk memandu perilaku masyarakat
 Kekuasaan yang mengatur kehidupan sosial
 Tingkatan sosial sesuai dengan status dan peran anggota masyarakat
 Sanksi agar norma yang ada dapat berfungsi
 Pranata dan lembaga sosial
 Konflik dan penyimpangan sosial sebagai bagian dinamika sosial

Contoh Struktur Sosial

Ada beberapa struktur sosial yang dibedakan berdasarkan status, contohnya:

1. Ascribed status yang diberikan otomatis melalui keturunan, tanpa melihat individu tersebut
secara spesifik. Contoh: keturunan kerajaan.
2. Achieved status yang diperoleh karena usaha dari individu yang bersangkutan. Contoh: dokter.
3. Assigned status yang diberikan kepada individu atas jasa yang telah dilakukannya. Contoh:
pahlawan.
4. Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam komunitas
budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu
sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan

Masyarakat Multikultural

Menurut J.S. Furnivall, masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari dua tau lebih
elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu sama lain di dalam satu kesatuan politik.
Selain definisi yang diungkapkan oleh J.S. Furnivall, Nasikun juga mengungkapkan definisi
multikulturalisme. Menurut Nasikun, masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri dari dua
atau lebih dari tatanan sosial, masyarakat, atau kelompok yang secara kultural, ekonomi, dan politik
dipisahkan (diisolasi), dan memiliki struktur kelembagaan dan berbeda satu sama lain. 

Dalam konteks Indonesia, corak masyarakat Indonesia yang “Bhinneka Tunggal Ika” bukan lagi hanya
berkutat pada keanekaragaman suku bangsa, melainkan keanekaragaman kebudayaan yang ada dalam
masyarakat Indonesia. Acuan utama bagi terwujudnya masyarakat Indonesia yang multikultural
adalah multikulturalisme, yaitu sebuah pandangan yang mengakui dan mengagumkan perbedaan dalam
kesederajatan, baik secara individual maupun secara kebudayaan. Multikulturalisme dapat berkembang
ketika didukung adanya toleransi dan kesediaan untuk saling menghargai. Oleh karena itu, kita harus
saling menghargai satu sama lain.

Karakteristik Masyarakat Multikultural

Menurut Van Den Berghe, ada 6 karakteristik yang dimiliki oleh masyarakat multikultural yaitu :

1. Terjadinya segmentasi ke dalam bentuk-bentuk kelompok sosial

Keberagaman yang terdapat dalam masyarakat dapat membuat masyarakat membentuk kelompok
tertentu berdasarkan identitas yang sama sehingga menghasilkan sub kebudayaan berbeda satu dengan
kelompok lain. Misalnya, di pulau Jawa terdapat suku Jawa, Sunda, dan Madura di mana ketiga suku
tersebut hidup di pulau Jawa dan memiliki kebudayaan yang berbeda.

2. Memiliki pembagian struktur sosial ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat non komplementer

Masyarakat yang beragam membuat struktur masyarakat pun mengalami perbedaan antara masyarakat
satu dengan masyarakat lain. Perbedaan struktur masyarakat itu  dapat dilihat melalui lembaga-lembaga
sosial yang bersifat tidak saling melengkapi. Misalnya, pada lembaga agama di Indonesia yang menaungi
beberapa agama memiliki stuktur yang berbeda. Lembaga-lembaga agama tersebut tidak saling
melengkapi karena karakteristik dari keberagaman masyarakat (agama) pun berbeda.

3. Kurang mengembangkan konsensus (kesepakatan bersama)


Masyarakat yang beragam memiliki standar nilai dan norma berbeda yang diwujudkan melalui perilaku
masyarakat. Hal itu disebabkan karena karakteristik masyarakat yang berbeda kemudian disesuaikan
dengan kondisi lingkungan fisik dan sosial. Karena kondisi masyarakat yang beragam tersebut,
kesepakatan bersama cenderung susah untuk dikembangkan. 

4. Relatif sering terjadi konflik

Perbedaan-perbedaan yang ada di masyarakat menjadi salah satu pemicu terjadinya konflik. Konflik
yang terjadi bisa sangat beragam, mulai dari konflik antar individu sampai konflik antar kelompok. Hal ini
bisa disebabkan oleh minimnya toleransi satu sama lain, baik antar individu maupun antar kelompok. 

5. Secara relatif, integrasi sosial tumbuh karena paksaan dan saling ketergantungan di bidang ekonomi

Jika masyarakat multikultural bisa terkoordinasi dengan baik, maka integrasi sosial sangat mungkin
terjadi. Akan tetapi, integrasi sosial di masyarakat timbul bukan karena kesadaran, melainkan paksaan
dari luar diri atau luar kelompok. Contoh : aturan tentang anti-diskriminasi dalam penggunaan fasilitas
publik. Selain itu, masyarakat memiliki ketergantungan dalam bidang ekonomi yang dapat mendorong
terjadinya integrasi karena kebutuhannya. Contohnya adalah individu yang bekerja pada individu atau
perusahaan lain membuat dirinya harus mematuhi segala aturan yang dibuat. Terjadinya kondisi patuh
dan integrasi timbul karena adanya aturan yang mengikat individu dalam melaksanakan pekerjaannya
dan hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.

6. Adanya dominasi politik

Kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat multikultural dapat memiliki kekuatan politik yang
mengatur kelompok lain. Hal ini menjadi bentuk penguasaan (dominasi) dari suatu kelompok kepada
kelompok lain yang tidak memiliki kekuatan politik.

Perilaku – Perilaku Yang Sesuai Dalam Masyarakat Multikultural

1. Bersikap Kritis

Yaitu sebuah sikap yang tidak mudah begitu saja menerima suatu sebagai bentuk kebenaran, melainkan
berusaha terlebih dahulu untuk menemukan kekeliruan yang mungkin ada dalam pengamatan.

Adapun sikap kritis yang harus dikembangkan, antara lain

- Mengembangkan sikap saling menghargai terhadap sebuah nilai – nilai dan norma sosial yang berbeda
dari anggota masyarakat yang kita temui.

- Meninggalkan sikap primordialisme yang berlebihan.

- Mengembangkan rasa nasionalisme.


- Menegakkan suatu peraturan formal yang berlaku pada semua masyarakat tanpa adanya memandang
suatu kedudukan sosial, etnis, dan agama.

- Menyelesaikan sebuah konflik dengan cara akomodatif, melalui mediasi, kompromi, dan adjudikasi.

- Mengembangkan suatu kesadaran sosial dan menyadari peran setiap perorangan.

2. Bersikap Toleransi

Yaitu suatu sikap yang bersedia menghargai, membiarkan, atau membolehkan terhadap suatu pendirian,
pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan pihak lain yang berbeda dari pendirian sendiri.

3. Memiliki Rasa Empati Sosial

Yaitu suatu keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasikan dirinya dalam
sebuah keadaan fikiran atau perasaan yang sama dengan orang lain.

Anda mungkin juga menyukai