Anda di halaman 1dari 11

JURNAL

SINTESIS NANOPARTIKEL MANGANESE FERRITE (MnFe2O4) BERBASIS PASIR


BESI DAN MANGAN ALAM DENGAN METODE REAKSI PADATAN

OLEH :

RAJAB
NIM. G2K1 14005

PROGRAM STUDI S2 FISIKA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2017

1
2
Sintesis Nanopartikel Manganese Ferrite (MnFe2O4) Berbasis Pasir Besi dan Mangan
Alam dengan Metode Reaksi Padatan

Rajab1), La Agusu2), dan La Ode Ngkoimani2)


1)
Mahasiswa Program Studi Fisika, Program Pascasarjana UHO, Kendari
1)
Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Halu Oleo, Kendari
2)
Program Studi, Teknik Geofisika FITK Universitas Halu Oleo, Kendari
Email: rajab_rian@yahoo.co.id

ABSTRAK
Sintesis nanopartikel manganese ferrite (MnFe2O4) berbasis pasir besi dan mangan
alam dengan metode reaksi padatan telah dilakukan dengan komposisi bahan 70% Fe 2O3 dan
30% MnO dalam persen massa. Bahan baku tersebut diperoleh dari pasir besi dan mangan di
alam. XRD, SEM dan VSM masing-masing digunakan untuk karaterisasi struktur dan ukuran
partikel, bentuk permukaan morfologi serta sifat magnetik MnFe 2O4 yang dihasilkan. Hasil
karaterisasi menunjukan sampel MnFe2O4 dengan struktur kristal kubik spinel. Sedangkan
ukuran butir kristal yang dihitung menggunakan persamaan Scherrer menunjukan bahwa
ukuran butir kristal meningkat seiring dengan peningkatan suhu sintering. Ukuran kristal dari
MnFe2O4 adalah 15,59 nm, 17,60 nm, 19,36 nm dan 19,86 nm masing-masing pada suhu
800oC, 900oC, 1000oC dan 1100oC. Bentuk morfologi permukaan nanopartikel MnFe2O4
hasil foto SEM menunjukan struktur yang mulai menyatu seiring dengan kenaikan suhu
sinteringnya. Kurva histerisis menunjukan nilai magnetisasi saturasi dan magnetisasi
remanent serta nilai suseptibilitas magnetik sampel meningkat seiring dengan peningkatan
suhu sintering dan ukuran partikelnya. Kondisi ini menunjukan prilaku magnetik nanopartikel
MnFe2O4 yang cenderung mendekati sifat superparamagnetik.
Kata kunci: Fe2O3, MnO, Manganese Ferrite, XRD, SEM, VSM dan Reaksi Padatan.

ABSTRACT
Synthesis of nanoparticles manganese ferrite (MnFe2O4) based on natural iron sand and
manganese using solid state reaction method has been with the material compositions 70% of
Fe2O3 and 30% of MnO in percent of mass. Iron sand and natural manganese are used as
raw materials. XRD, SEM and VSM are used to charazterised the crystal structure and
particle size, surfacae morphology and magnetic properties of the desired MnFe2O4. The
result charaterization showed that the samples have the crystal structure of spinel spinel. The
grain size is calculated using Scherrer equation shows that the grain size increases with the
increasing of sintering temperature. The crystal sizes of MnFe2O4 are 15.59 nm, 17.60 nm,
19.36 nm and 19.86 nm for coresponding temperature of 800oC, 900oC, 1000oC and 1100oC
respectively. The SEM images of surface morphology of the structure which begins to fuse
with increasing of sintering temperature. The curve hysteresis shows that the value of
saturated magnetization and remanent magnetization and also magnetic suseptibility
increase with increasing of sintering temperature and particle size. This condition the
behavior of MnFe2O4 magnetic nanoparticles which is close to superparamagnetic condition.
Keywords : Fe2O3, MnO, Manganese Ferrite, XRD, SEM, VSM and Solid State Reaction.

1. Pendahuluan

Pasir besi merupakan sumber salah Bahan oksida mangan ini memiliki sifat–sifat
satu material magnetik yang banyak fisis dan kimia yang khas sehingga memiliki
digunakan dalam berbagai bidang seperti potensi aplikasi yang sangat banyak,
elektronika, energi, kimia, ferofluida, katalis, misalanya digunakan dalam baterai isi ulang,
dan diagnose medik. Begitu pula dengan katalis, sensor, kapasitor elektrokimia dan
bahan berbasis oksida mangan merupakan perangkat magneto-elektronik (Zainuddin,
kelompok bahan yang sangat banyak diteliti 2014).
dan diaplikasikan pada berbagai bidang.

3
Aplikasi pasir besi dan mangan berbasis pasir besi dan mangan alam dimana
tersebut ternyata tidak terlepas dari bahan-bahan tersebut sangat melimpah di
perkembangan kajian nanomaterial yang Sulawesi Tenggara salah satunya terdapat di
menuntut agar berada dalam orde nanometer kabupaten Buton dan Buton Utara.
(Taufiq, 2008). Berdasarkan analisis Petografi pasir besi
Pesatnya pengembangan magnetic Indonesia pada umumnya mengandung
nanoparticles (MNPs) sebagai alat atau magnetit (Fe3O4), hematite (Fe2O3), dan
device dalam perangkat elektronika, ilmenit (FeTiO3) (Edi, 2008 dan Linda, dkk.,
biomedis, industri telekomunikasi dan 2014). Begitu juga dengan mangan alam
rekayasa elektronik lainnya saat ini sebagian besar sebagai pyrolusite (MnO2)
dikarenakan multifungsinya sifat kemagnetan dan MnO yang stabil. Mangan yang terdapat
yang dimilikinya. Sebagian besar device dikawasan pertambangan mangan Kecamatan
yang ada menggunakan nanopartikel Siotapina Kabupaten Buton, memiliki kadar
berbahan ferrit lunak, salah satunya adalah (MnO2) sebesar 56,46 % (Rohmana, 2009)
manganese ferrite (MnFe2O4). MnFe2O4 yang MnO 35,19% (La Sawaludin, 2015).
termasuk dalam kelompok soft ferrite Pembuatan manganese ferrite
memiliki sifat magnetik khas dan struktur dilakukan dengan metode reaksi padatan
spinel kubik (Uma, dkk., 2014). MnFe2O4 yaitu sampel dibuat dengan proses cetak
secara spesifik diaplikasikan dalam kering, dengan bahan aditif polyvinil alkohol
perangkat elektronik seperti microwave (PVA) sebagai perekatnya dan kemudian
devices, chip memori komputer, radio tanpa dilakukan orientasi partikel dengan
frequency coil fabrication, drug delivery menggunakan medan magnet (Istiqomah,
media penyimpanan data, dan transformer 2014).
cores (Rosita, dkk., 2014).
Pengunaannya dalam perangkat 2. Metodelogi Penelitian
elektronik disebabkan oleh permeabilitas
kemagnetannya yang tinggi (Ahmed, dkk., Pembuatan sampel dilakukan
2008), resistivitasnya yang jauh lebih rendah beberapa tahapan yaitu pertama sampel pasir
dari pada CoFe2O4 dan NiFe2O4, besi terlebih dahulu diekstrak dengan magnet
biokompabilitas yang tinggi, dibandingkan permanen sebanyak 5 kali untuk memisahkan
dengan Fe3O4 , γ-Fe2O3, CoFe2O4 dan NiFe2 pasir biasa dan pasir besi. Sedangkan sampel
jika diaplikasikan untuk magnetic resonance mangan alam dihancurkan menggunakan
imaging (MRI). Selain itu MnFe2O4 pada palu untuk memperoleh ukuran sampel yang
suhu ruang (20°C) memiliki energi anisotropi lebih kecil. Selanjutnya sampel tersebut
yang rendah, kondisi ini akan menyebabkan dilakukan pengeringan, penggerusan,
energi termal pada suhu ruang akan pengayakan dan pencucian sampel dengan
menghalangi energi anisotropi untuk kembali etanol untuk mengurangi zat-zat pengotor
berada pada statenya yang terendah. yang terdapat pada sampel. Kedua sintesis
Fenomena ini kemudian memunculkan sifat material Fe2O3 dari pasir besi dan MnO dari
superparamagnetik pada nanopartikel mangan alam yaitu masing-masing sampel
tunggal, salah satu fungsinya ketika ditimbang 20 gram pasir besi dan mangan
digunakan untuk mengobati hyperthermia dilarutkan dalam HCL 37% sebanyak 80 mL
cancer dengan pemberian medan eksternal dan 50 mL sambil distirer selama 3 jam pada
pada frekuensi yang sangat tinggi pada sel- suhu 70oC. Larutan hasil stirer tersebut
sel kanker yang sebelumnya telah disaring dengan kertas saring dan diambil
terlokalisasi (Rosita, dkk, 2014). Dalam filtratnya dan residu larutan dibuang,
perkembanganya juga nanopartikel MnFe2O4 selanjutnya larutan tersebut diendapkan
telah digunakan secara efektif untuk dalam larutan NH4OH 8 M sebanyak 50 mL
menghilangkan zat warna azo Acid Red B dengan pH larutan 12 kemudian dimasukan
(ARB) dari air juga sebagai ferrofluid, dalam gelas kimia sambil distirer dan
biosensor, dan sebagai katalis. diteteskan filtrat sampel tersebut sampai pH
Namun kebanyakan peneliti selama larutan turun menjadi 8. Larutan hasil
ini belum ada yang mensitesis MnFe2O4 pengadukan tersebut dicuci dengan aquades

4
hingga pHnya netral (pH 7), selanjutnya hasil Sedangankan hasil karaterisasi dengan alat
pencucian tersebut dipanaskan dalam oven XRF pada sampel pasir besi dan mangan
selama 24 jam dengan suhu 105 oC, kemudian yang telah dilakukan dengan sintesis secara
sampel hasil pemanasan tersebut digerus kopresipitas dan kalsinasi pada suhu 800 oC
kembali dan dilakukan kalsinasi pada tanur selama 3 jam menunjukan komponen
dengan suhu tanur 800oC selama 3 jam penyusun unsur dan senyawa yang terdapat
kemudian hasilnya digerus kembali dan siap pada sampel pasir besi didominasi oleh Fe
disintesis menjadi nanopartikel MnFe2O4. 65%, Cr 1,57%, Fe2O3 94,19%, Cr2O3
Ketiga sintesis nanopartikel MnFe2O4 2,30% dan Mn 65,43%, Cl 12,48 %, MnO
dengan metode reaksi padatan dengan 84,48% pada sampel mangan.
mencampurkan serbuk Fe2O3 sebanyak 70 %
dan MnO 30 % yaitu 3,5 gram Fe2O3 dan
1,5 MnO dicampur sambil digerus dengan
mortar dan ditambahkan PVA sebanyak 0,12
gram. Setelah sampel tercampur kemudian
dikompaksi atau dipadatkan dan ditahan
selama 15 menit agar serbuk dapat menenpel
satu sama lain. Pencetakan sampel MnFe2O4
dicetak dalam bentuk pelet berdiameter 1,5
cm dan ketebalan 0,5 cm dengan
Gambar 1. Sampel MnFe2O4 setelah sintering
menggunakan alat pencetak yang berada di pada suhu (1) 800oC, (2) 900oC, (3) 1000oC dan
Laboratorium Jurusan Fisika FMIPA UHO. (4) 1100oC masing-masing selama 4 jam.
Proses pencetakan sampel dilakukan pada
tekanan 833,33 kPa. Sampel hasil cetak Karakterisasi dengan XRD digunakan
tersebut kemudian dilakukan presintering untuk mengetahui fasa dan struktur kristal
pada tanur dengan suhu 800oC selama 4 MnFe2O4. Hasil pengamatan dengan XRD
tujuanya adalah untuk menghilangkan menunjukan pola grafik sampel MnFe2O4
impuritas (pengotor) dalam sampel seperti ditunjukan pada gambar 2 berikut.
(Setiawan, 2012). Pada proses presintering
berlangsung penyebaran oksigen sehingga
terjadi proses kimia dan terbentuk struktur
kristalografi yang seragam (Nur, dkk, 2014).
Sampel hasil presintering tersebut
kemudian disintering pada tanur dengan suhu
tanur 800oC, 900oC, 1000oC, 1100oC
masing-masing selama 4 jam. Sampel hasil
sintering tersebut kemudian digerus kembali
sampai halus dan menghasilkan sampel yang
siap dikarakterisasi.

3. Hasil dan Pembahasan Gambar 2. Hasil pengujian XRD sampel


MnFe2O4 dengan variasi suhu sintering.
Hasil karaterisasi awal sampel pasir Gambar 2 menunjukan pola difraksi
besi dan mangan dengan alat XRF Protable XRD dari sampel MnFe2O4 dengan variasi
sebelum ada perlakuan pada sampel suhu sintering. Warna hitam, merah, biru dan
kandungan unsur-unsur yang dominan dalam pink masing-masing merupakan pola difraksi
sampel pasir besi adalah Bal, Fe, Cr, dan Ti sampel yang disintesis pada suhu 800 oC,
secara berturut-turut sebesar 39,93%, 900oC, 1000oC dan 1100oC yang umumnya
47,18%, 10,01%, dan 1,79% sedangkan memiliki pola yang sama tetapi terdapat
kandungan unsur yang terdapat dalam sampel perubahan tinggi puncak pada masing-
mangan adalah Bal, Mn, dan Fe berturut- masing sampel. Pola difraksi XRD pada
turut sebesar 42,93%, 54,63% dan 0,95%. sampel MnFe2O4 dengan suhu sintering

5
800oC dan 900oC masih banyak muncul fasa Tabel 1. Hasil karakterisasi dan
Fe2O3 hal ini disebabkan oleh suhu sintering perhitungan data XRD.
yang masing kurang tinggi sehingga reaksi Ukuran Ketinggian
Suhu
yang terjadi masih kurang sempurna. Hasil Butir Intensitas Densitas
Sintering
ini juga dikonfirmasi dengan sifat magnetik Kristal puncak (g/cm3)
(oC)
sampel yang masih kurang. Sedangkan pola (nm) (311) (a.u)
difraksi sampel MnFe2O4 dengan suhu T 800 15,59 978,5 4,961
sintering 1000oC dan 1100oC puncak fasa T 900 17,60 807,3 4,961
Fe2O3 sudah mulai berkurang dan ini juga T1000 19,36 704,4 4,961
dikonfimasi dengan sifat magnetik sampel T 1100 19,86 650,3 4,961
yang semakin baik seperti yang ditunjukan
dengn hasil karakterisasi dengn VSM. Peningkatan nilai FWHM
Perbedaan dari keempat pola difraksi tersebut menyebabkan penurunan ukuran butir kristal
adalah pada ketinggian puncak dan lebar pada sampel MnFe2O4. Peningkatan suhu
puncaknya, tetapi dengan meningkatnya suhu sintering sebagaimana ditunjukan pada (tabel
sintering fasa puncak Fe2O3 semakin 1) menyebabkan ukuran butir kristal
menurun. meningkat dari 15,59 nm, 17,60 nm, 19,36
Hasil karakterisasi dengan XRD nm dan 19,86 nm masing-masing untuk suhu
sampel MnFe2O4 terekam dari puncak 18 o sintering 800oC, 900oC , 1000oC dan 1100oC
hingga 80o dan hasil analisis kualitatif . Peningkatan suhu sintering juga
dengan software origin dan match puncak memberikan pengaruh terhadap fasa kristal
utama sampel MnFe2O4 pada berbagai suhu yang terbentuk yaitu dengan meningkatnya
sintering ditemukan berada pada daerah 2θ fasa MnFe2O4 dan berkurangnya fasa Fe2O3
sekitar 35o yang merupakan pucak bidang sebagai pengotor atau impuritas yang
(311) dari sampel. Analisis dengan software terbentuk. Kenaikan suhu sintering pada
match juga menunjukan bahwa sampel sintesis MnFe2O4, menyebabkan energi gerak
MnFe2O4 memiliki struktur spinel kubik. antara molekul bertambah dan sering terjadi
Secara umum fasa MnFe2O4 sehingga reaksi dapat berlangsung lebih
terbentuk pada bidang (111), (220), (222), sempurna ini dibuktikan pada sampel yang
(400), (311), (331), (422), (511) dan (440) disintering pada suhu 1000 oC dan 1100oC
(Nazeri, 2010., Uma, dkk., 2014 dan Rosita, fasa Fe2O3 sudah berkurang.
dkk., 2014) dan pada penelitian ini sampel Karakterisasi dengan SEM digunakan
MnFe2O4 telah terbentuk pada fasa tersebut. untuk mengetahui morfologi permukaan
Selain memiliki fasa MnFe2O4, pola difraksi sampel, berdasarkan hasil pengamatan
sampel juga menunjukan adanya puncak lain dengan foto SEM morfologi sampel
yang berkaitan dengan impuritas (pengotor). MnFe2O4 dapat dilihat pada gambar 3
Puncak ini merupakan karakter dari fasa 𝛼- berikut.
Fe2O3 (hematite) yang bersifat
antiferromagnetik pada suhu (< 950 K)
(Gubin, 2005).
Ukuran butir kristal (t) sampel
MnFe2O4 berbagai suhu sintering dapat
dilihat pada tabel 3. Ukuran butir kristal
dihitung dengan menggunakan persamaan
Scherrer, pada persamaan 1, berikut
𝑘𝜆
𝑡 = 𝛽 cos 𝜃 (1)
dengan t adalah ukuran butir kristal, k adalah
konstanta Scherrer (0,89), 𝜆 adalah panjang
gelombang sinar-X dan 𝛽 adalah lebar
setengah puncak (dalam radian), dan 𝜃 sudut (a)
difraksi Bragg (dalam radian).

6
Gambar 4. Kurva histerisis sampel MnFe2O4
pada berbagai suhu sintering warna (hijau)
(b) 800oC, (merah) 900oC, (biru) 1000oC dan
Gambar 3. Foto SEM sampel MnFe2O4 hasil (pingk) 1100oC.
sintering pada suhu (a) 800oC pada perbesaran
1000x dan (b) 1100oC pada perbesaran 1000x. Berdasarkan gambar 4 dapat
diketahui bahwa sampel MnFe2O4 bersifat
Gambar 3 menunjukan foto SEM soft magnetic karena memiliki nilai
sampel MnFe2O4 yang memberikan koersifitas yang kecil yang menyebabkan
informasi tentang morfologi permukaannya. kurva histerisis sampel menjadi lebih
Foto SEM tersebut menunjukan morfologi ramping dan atau karena dari kurva histerisis
permukaan sampel yang disintering pada mempunyai urut balik yang simetris ketika
suhu 800oC dan 1100oC masing-masing pada dikenai medan magnet maupun ketika medan
perbesaran 1000x yang memiliki morfologi magnet ditiadakan. Atau dapat dilihat dari
permukaan dengan distribusi partikel yang luasan kurva histerisis yang sempit. Pada
acak dari ukuran partikel yang paling kecil magnet lunak, untuk magnetisasi
hingga ukuran partikel yang paling besar. memerlukan energi yang sangat kecil. Dari
Pada sampel T 800 masih banyak terdapat kurva histerisis gambar 4 juga diperoleh
partikel serbuk yang masih berbentuk informasi tentang nilai magnetisasi saturasi
serpihan halus tidak beraturan. Seiring (Ms), magnetisasi remanent (Mr) dan medan
dengan kenaikan suhu sintering sampel T koersifitas (Hc) sampel MnFe2O4 yang
1100 serpihan halus serbuk berkurang dan ditunjukan pada tabel 2.
sudah banyak terlihat serbuk partikel yang Data yang diperoleh dari hasil
menyatu. Pada sampel T 1100 juga telah karakterisasi VSM dapat dilihat pada tabel 2.
terjadi penggumpalan atau aglomerasi pada
Tabel 2. Data hasil karakterisasi denganVSM
sampel tersebut, hal ini ditandai dengan
T Ukuran Ms Mr Hc Mr/
adanya gumpalan warna hitam pada sampel.
Sinter kristal (emu (emu (Oe Ms
Karakterisasi suatu bahan magnetik
ing (nm) /g) /g) )
dapat dilihat dari kurva histerisis sampel o
( C)
yang menggambarkan hubungan medan
magnet luar H dan magnetisasi M (Nazeri, 800 15,59 2,37 1,26 130 0,53
2010). Berdasarkan karakterisasi sampel 900 17,60 3,27 1,97 150 0,60
dengan VSM diperoleh kurva histerisis 1000 19,36 14,3 5,43 91 0,37
hubungan magnetisasi dengan medan magnet 1100 19,86 27,3 8,18 95 0,29
luar yang ditunjukan pada gambar 4.
Tabel 2 menunjukan nilai besaran
magnetik yang berbeda dari masing-masing
sampel sesuai suhu sinteringnya. Dari hasil
karaterisasi dengan VSM memperlihatkan
nilai koersivitas yang berbeda pada sampel
dengan variasi suhu sintering diperoleh nilai
130, 150, 91, dan 95 Oersted masing-masing
untuk sampel T 800, T 900, T 1000 dan T

7
1100. Gambar 4 juga menunjukan adanya emu/g serta Hc 316 Oe dan 195 Oe.
perubahan bentuk kurva histerisis yang Sedangkan yang dilaporkan (Iranmanesh,
mengindikasikan terjadinya perubahan sifat 2016) Ms dari MnFe2O4 adalah 60,8 emu/g
magnet (Hidayatuloh, 2014). Bentuk kurva dan yang dilaporkan (Zhanhu, 2015) Ms dari
pada sampel T 800 dan T 900 dengan ukuran MnFe2O4 sebesar 1,84, 4,21, 31,68 dan 40
butir kristal paling kecil yaitu 15,59 nm dan emu/g. Sedangkan untuk sampel MnFe2O4
17,60 nm memiliki kurva magnetisasi huruf pada penelitian ini nilai magnetisasi saturasi
S landai menunjukan sifat feromagnetik yang diperoleh adalah 2,37, 3,27, 14,3 dan
sementara sampel pada T 1000 dan T 1100 27,3 emu/g masing-masing pada suhu
dengan ukuran butir kristal paling besar yaitu sintering 800oC, 900oC, 1000oC dan 1100oC.
19,86 nm dan 19,86 nm memiliki kurva Nilai magnetisasi tersebut meningkat seiring
magnetisasi S agak tegak atau berbentuk dengan peningkatan suhu sintering. Hal ini
garis vertikal atau berdomain tunggal dengan dapat berkaitan dengan spin canting dan
magnetisasi yang tinggi dan koersifitasnya gangguan perputaran lapisan magnetik pada
kecil menunjukan sifat yang mendekati permukaan nanopartikel (Gu, dkk., 2006)
superparamagnetik. Hal tersebut juga atau karena interaksi antara kisi A dan B
dikonfirmasi dengan hasil XRD dimana pada dalam sistem kisi spinel (AB2O4) terdiri dari
sampel 800oC dan 900oC fasa Fe2O3 yang interaksi sub-kisi (A-B) interaksi sub-kisi (A-
bersifat sebagai pengotor (impuritas) pada A) dan interaksi sub-kisi (B-B). Interaksi
sampel masih banyak. Sedangkan sampel antar sub-kisi kation pada (A-B) jauh lebih
yang disintering pada suhu 1000 oC dan kuat dari sub-kisi (A-A) dan (B-B) (Nazeri,
1100oC fasa Fe2O3 sudah berkurang. 2009).
Semakin kecil ukuran kristal pada Meningkatkan suhu sintering dari
nanopartikel maka momen magnetik pada nanopartikel MnFe2O4 menyebabkan ion Fe3+
nanopartikel cenderung tidak stabil. dari site B oktahedral ditransfer ke site A
Ketidakstabilan momen magnetik pada tetrahedral, jadi akibatnya, akumulasi ion
partikel dengan ukuran butir lebih kecil Fe3+ meningkat di site A. Namun, interaksi
disebabkan oleh energi anisotropi yang antara FeA3+ - FeB3+ meningkat dua kali lebih
dimiliki oleh partikel tersebut jauh lebih kecil kuat sebagai interaksi MnA2+ - FeB3+, dan ini
dengan partikel yang berukuran besar, dapat menyebabkan peningkatan magnetisasi
akibatnya bila diberikan medan magnet saturasi pada sampel MnFe2O4 (Jianjun,
eksternal maka momen magnetik dengan 2010). Aslibeiki, dkk., 2010 menunjukkan
ukuran butir yang lebih kecil akan lebih bahwa magnetisasi saturasi meningkat
reaktif dalam merespon medan eksternal dengan meningkatnya suhu sintering dan
yang diberikan. Hasil penelitian menunjukan ukuran partikel pada nanopartikel MnFe2O4
nilai koersivitas berbanding terbalik dengan hal ini sesuai juga dengan penelitian yang
magnetisasi saturasi. Rasio sisa (Mr/Ms) dilakukan.
dapat dilihat pada (tabel 2), rasio sisa Nilai magnetisasi saturasi sampel
(Mr/Ms) merupakan indikasi kemudahan MnFe2O4 yang diperoleh lebih rendah dari
orientasi arah magnetisasi pada sumbu arah nilai magnetisasi saturasi MnFe2O4 bulknya
magnetisasi terdekat setelah medan magnet yaitu sekitar 80 emu/g (Morales, 1999 dan
dihilangkan. Nilai-nilai rasio sisa sampel Brabers, 1995). Penurunan magnetisasi
MnFe2O4 merupakan indikasi dari sifat saturasi dari semua sampel dibandingkan
isotropiknya. Bahan-bahan ini dapat dengan Ms dari MnFe2O4 keadaan bulknya
digunakan dalam biomedis dan sebagai memberikan gambaran perilaku tersebut
bahan penyerap (Toksha, 2010). dianggap berasal dari efek permukaan pada
Gambar 4 juga menunjukkan kurva nanopartikel, efek permukaan pada
magnetisasi dari sampel MnFe2O4 nanopartikel terdapat adanya lapisan
nanopartikel yang memperlihatkan perilaku magnetik tidak aktif atau lapisan yang teratur
superparamagnetik dari nilai-nilai pada permukaan nanopartikel dan/atau
magnetisasi saturasinya seperti yang tingkat pemanasan suhu sintering (Nogues,
dilaporkan (Carta, 2009 dan Zipare, 2015) 2005., dan Maaz, 2007). Jelas bahwa dengan
MnFe2O4 memiliki Ms 11,2 emu/g dan 69 meningkatnya suhu sintering, rasio

8
pendudukan ion besi di situs B oktahedral pengaruh suhu sintering terhadap ukuran
berkurang karena itu, momen magnetik partikel MnFe2O4 yang berbentuk spinel
nanopartikel ferit meningkat (Uma, dkk., kubik meningkat dari 15,59 nm, 17,60 nm,
2014). 19,36 nm dan 19,86 nm pada suhu sintering
Tabel 3. Suseptibilitas magnetik hasil 800oC, 900oC, 1000oC dan 1100oC. Bentuk
VSM dan MS2B. morfologi permukaan sampel yang semakin
Suhu Suseptibilitas Magnetik (10-8 homogen dan nilai magnetisasi saturasi,
Sintering m3/kg) magnetisasi remanet dan suseptibilitas
o
( C) VSM MS2B magnetik sampel meningkat seiring dengan
800 55,31 2950,75 kenaikan suhu sintering dan ukuran
900 79,10 6033,367 partikelnya. Sedangkan nilai koersifitasnya
1000 255,6 25620,73 yang bervariasi dari 130 Oe, 150 Oe, 91 Oe
1100 421,5 35104,83 dan 95 Oe untuk suhu sintering 800oC,
900oC, 1000oC dan 1100oC hal ini
Dari tabel 3 terlihat bahwa relasi memberikan gambaran bahwa sifat magnetik
antara nilai suseptibilitas hasil pengukuran sampel nanopartikel MnFe2O4 dari
VSM dan MS2B berbanding lurus seiring feromagnetik yang cenderung mendekati
dengan kenaikan suhu sintering. Nilai sifat superparamagnetik.
suseptibilitas magnetik hasil karaterisasi
dengan VSM dan MS2B pada suhu sintering Ucapan Terimakasih
800oC, 900oC, 1000oC dan 1100oC secara
berturut-turut adalah 55,31, 79,10, 255,6 dan Ucapan terimaksh penulis sampaikan
421,5 dalam (10-8 emu/g) serta 2950,75, kepada bapak Dr. Eng. La Agusu, M.Si dan
6033,36, 25620,73 dan 35104,83 dalam (10 -8 bapak Dr. La Ode Ngkoimani, M.Si serta
m3/kg). Nilai suseptibilitas magnetik teman-teman yang telah membantu dalam
MnFe2O4 semakin baik seiring dengan penelitian ini, terkhusus kepada kedua orang
peningkatan suhu sinteringnya. Nilai tua saya dan keluarga yang telah membantu
suseptibilitas MnFe2O4 pada suhu sintering biaya penelitian saya.
800oC sekitar 3840-6033,367 x 10-8 m3/kg
mengindikasikan nilai suseptibilitas magnetik Daftar Pustaka
dari hematite perilaku ini memberikan
informasi bahwa pada sampel T 800 masih 1. Brabers, V.A.M. (1995). In Handbook of
banyak terdapat kehadiran fasa pengotor dari Magnetic Materials. Vol.8. New York.
Fe2O3 (Trilismana, 2015). Amerika Serikat.
2. Carta. D., Casula M. F., Falqui. A., Loche
4. Kesimpulan M. F., Mountjoy. G., Sangregorio. C., and
Corrias. A. 2009. A Structural and
Sintesis nanopartikel dengan reaksi Magnetic Investigation of the Inversion
padatan telah berhasil dilakukan dengan Degree in Ferrite Nanocrystals MFe2O4
menghasilkan ukuran butir kristal antara (M = Mn, Co, Ni). J. Phys. Chem. C 2009,
15,59 nm sampai 19,86 nm. Sintesis dengan 113, 8606–8615.
reaksi padatan ini terdiri dari berbagai 3. Gubin, S.P., Koksharov, Y.A., Khomutov,
tahapan yaitu penggerusan atau milling, G.B. dan Yurkov, G.Y., 2005. Magnetic
peletisasi atau kompaksi, kalsinasi atau nanoparticles: preparation, structure and
presintering dan sintering. Fasa kristal yang properties, Russian Chemical Reviews,
terbentuk adalah MnFe2O4 yang memiliki 6,489-520.
struktur spinel kubik, morfologi permukaan 4. Hidayatuloh, A., Effendi, M., Wahyu,
sampel seiring dengan kenaikan suhu T.C., Widanarto, W. 2014. Pengaruh
sintering serpihan halus serbuk berkurang Konsentrasi MnO2 Terhadap Struktur
dan sudah banyak terlihat serbuk partikel Kristal dan Sifat Magnetic Zinc Ferrite.
yang menyatu serta sifat magnetik Jurusan Fisika, Universitas Jendral
feromagnetik yang cenderung mendekati Soedirman. Jateng. Prosiding Pertemuan
sifat superparamagnetik. Sedangkan
9
Ilmiah XXVIII Jateng dan DIY, 13. Nur, A.F., Widarnato, W., dan Cahyanto,
Yogyakarta. ISSN:0853-0823. W.T. 2014. Karakterisasi Struktur dan
5. Iranmanesh. P., Saeednia. S., Mehran. M., Sifat Magnetik Manganese Ferrite
Rashidi. D.S. 2016. Modified Structural sebagai Bahan Magnet Permanen
and Magnetic Properties of Isotropik. Program Studi Fisika,
Nanocrystalline MnFe2O4 by pH in Universitas Jenderal Soedirman.
Capping Agent Free Co-Precipitation Purwokerto.
Method. Journal of Magnetism and 14. PARKER, RJ. 1990. Advances in
Magnetic Materials. Contents Lists permanent magnetism. A Wiley-
Available at Science Direct. journal Interscience Publication, John Wiley &
homepage:www.elsevier.com/locate/jmm Sons, New York.
m 15. Qu, Y., Yang, Haibin, Yang, N., Fan, Y.,
6. Istiqomah, M., Anif, J., dan Iriani, M. Zhu, H., and Zhou, G. 2006. The Effect of
2014. Pembuatan Material Foroelektrik Reaction Temperature on the Particle
Barium Titanat (BaTiO3) Menggunakan Size, Structure and Magnetic Properties
Metode Solid State Reaction. Jurusan of Coprecipitated CoFe2O4
Fisika FMIPA Univeritas Sebelas Maret. Nanoparticles. Materials. Letters, 60 :
Surakarta. Jurnal Fisika Indonesia No: 53, 3548-3552.
Vol XVIII, Edisi Agustus 2014. ISSN: 16. Rohmana, Mulyana. T, Nining. W. 2009.
1410-2994. Penelitian Mineral Lain dan Mineral
7. Jianjun, L., Hongming, Y., Guadong, L., Ikutan Pada Wilayah Pertambangan Di
Liu, Y., and Leng J. 2010. Cation Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi
Distribution Dependence of Magnetic Tenggara. Kelompok Penyelidikan
Properties of Sol-gel Prepared MnFe2O4 Konservasi, Pusat Sumber Daya Geologi.
Spinel Ferrite Nanoparticles. Journal of Jakarta.
Magnetism and Magnetic Materials, 17. Rosita, D. T., Yuni, R., Rusliana, F.,
322(21):3396-3400. Amelliya, Takeshi, K., Satoshi, I., dan
8. La Sawaludin. 2015. Analisis Mineral Edi, S. 2014. Sintesis Nanopartikel
Penyerta Dan Sifat Magnetik Bijih Manganese Ferrite (MnFe2O4) dengan
Mangan Dikawasan Pertambangan Metode Kopresipitasi dan Karakterisasi
Mangan Desa Kumbewaha Kecamatan Sifat Kemagnetannya. Jurusan Fisika.
Siotapina Kabupaten Buton. Skripsi S-1 FMIPA, Universitas Gadjah Mada,
Jurusan Fisika, FKIP Universitas Halu Yogyakarta, Indonesia. Jurnal Aplikasi
Oleo. Kendari. Fisika Indonesia No : 52 Vol XVIII,
9. Maaz, K., Mumtaz, A., Hasanain, S.K., Edisi April 2014. Prosiding Pertemuan
and Ceylan, A. 2007. Synthesis and Ilmiah XXVIII HFI Jateng dan DIY,
Magnetic Properties of Cobalt Ferrite Yogyakarta. ISSN : 0853-0823.
(CoFe2O4) nanoparticles Prepared by Wet 18. Taufiq, Ahmad. 2008. Sintesis Partikel
Chemical Route. Journal of Magnetism Nano Fe3-xMnxO4 Berbasis Pasir Besi
and Magnetic Materials, 308(2):289-295. dan Karakterisasi Struktur serta
10. Moroles, M.P., Veintemillas, V.S., Kemagnetannya. Tugas Akhir, Institut
Montero, M.I., and Serna, C.J. 1999. Teknologi Sepuluh Nopemeber.
Surface and Spin Coating in Fe2O3 Surabaya.
Nanoparticles. Chemistry of Materials, 19. Toksha B.G, Sagar E.S, Patange S.M,
11(11):3058. Jadhaw K.M. 2008. Solid State Commun.
11. Nazeri, M.G., Saion, E.B. 2010. 147, 2008 .
Crystalization in Spinel Ferrite 20. Trilismana, H., Budiman, A. 2015.
Nanoparticles. University Putra Malaisya. Analisis Suseptibilitas Magnetik Hasil
Kuala Lumpur. Malaisya. Oksidasi Magnetit Menjadi Hematit
12. Nogues, J., Short, J., Langlias, V. 2005. Pasir Besi Pantai Sanur Kota Pariaman
Exchange Bias in Nanostructures. Sumatra Barat. Jurusan Fisika FMIPA
Physical Reports, 422(3):65-117. Universitas Andalas. Padang. Jurnal

10
Fisika Unand Vol. 4, No. 2, April 2015.
ISSN: 2302-8491.
21. Uma, S.S., Sharma, R.N., dan Rashmi, S.
2014. Physical and Magnetic Properties
of Manganese Ferrite Nanoparticles.
International Journal of Engineering
Research and Applications. ISSN : 2248-
9622, Vol. 4, Issue 8( Version 2), August
2014, pp.14-17.
22. Zainuddin, A., Subaer, Haris Abdul,
2014, Pengaruh Konsentrasi Prekursor
Terhadap Sifat Optoelektronik M𝑛3 𝑂4 ,
Jurnal Sains dan Pendidikan Fisika. Jilid
8, Nomor 3, hal 308-313.
23. Zipare, K., Dhumal, J., Bandgar, S.,
Mathe, S., Shahane, G. 2015.
Superparamagnetic Manganese Ferrite
Nanoparticles: Synthesis and Magnetic
Properties. Journal of Nanoscience and
Nanoengineering Vol. 1, No. 3, 2015, pp.
178-182
http://www.aiscience.org/journal/jnn.

11

Anda mungkin juga menyukai