Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN ANALISA JURNAL PENELITIAN (KELOMPOK)

INSTITUT KESEHATAN DAN TEKNOLOGI PKP DKI JAKARTA

Nama Mahasiswa: Stase atau mata kuliah: keperawatan


1. Nadela Dwi Nofitri, S. Kep gawat darurat dan kritis
2. Nurwati Rettob, S. Kep
3. Raden Nur Hawa I., S. Kep Nama Jurnal, volume, isu, dan tahun
4. Rai Adhi Tami, S. Kep terbit:
5. Rosa Amelia, S, Kep
6. Saepul, S. Kep
7. Sielvia Febriyani, S. Kep
8. Sita Ayurana Husna, S. Kep
9. Siti Rahmadini, S. Kep
10. Suryandini Hermawan, S. Kep

Judul Artikel Penelitian:

Relationship of the Severity of Maxillofacial Trauma Based on Facial Injury Severity Scale
(FISS) Against the Severity of Head Injury

Penulis (Author):
1. Ary Rachmanto
2. Abda Arif

Lokasi dan Tahun Penelitian:


Tahun 2019 dilakukan di RS Mohammad Hoesin Palembang

(Baca dan lampirkan satu judul penelitian tentang kegawatdaruratan yang memiliki ISSN dan buatlah
resume hasil penelitian dan aplikasinya dalam meningkatkan mutu asuhan keperawatan)

A. Analisa Kualitas Penelitian:


1. Masalah dan tujuan penelitian
Fraktur tulang wajah akibat trauma merupakan kejadian yang paling sering menyebabkan
kerapuhan pada tulang wajah. Fraktur tulang wajah juga dapat disertai dengan berbagai
komplikasi lain yang mengancam nyawa seperti cedera kepala. Kecelakaan lalu lintas
merupakan kasus yang paling dominan di negara berkembang. Kecelakaan lalu lintas
lebih banyak ditemukan pada laki-laki daripada perempuan. Insiden trauma maksilofasial
terus meningkat dari waktu ke waktu. Sistem penilaian trauma maksilofasial yang paling
banyak digunakan adalah MFISS (Maxillofacial Injury Severity Score) dan FISS (Facial
Injury Severity Score). Ada banyak laporan tentang hubungan trauma maksilofasial dan
cedera kepala. Letak tulang wajah yang dekat dengan kepala meningkatkan risiko cedera
kepala selai itu semakin parah cedera maksilofasial, semakin tinggi kejadian cedera
kepala. Fraktur maksilofasial sering dikaitkan dengan 47-56% cedera otak.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara derajat keparahan trauma
maksilofasial dengan derajat keparahan cedera kepala.

2. Metode Penelitian

a. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan desain cross
sectional menggunakan data sekunder melalui rekam medis pasien

b. Populasi dan Sampel


Populasi dan sampel adalah seluruh pasien trauma maksilofasial yang pernah dirawat
di RSUP dr. Moehammad Hoesin Palembang dari Januari-September 2018 yaitu
sebanyak 95 pasien.

1) Kriteria Inklusi dan Eklusi


Kriteria inklusi dalam jurnal adalah semua pasien dengan trauma maksilofasial,
berusia di atas 14 tahun sedangkan untuk kriteria eksklusi adalah pasien yang
disertai komplikasi lain seperti cedera dada dan perut, pasien diketahui menderita
kelainan otak, pasien diketahui menderita keganasan tulang, pasien dengan
kelainan tulang wajah.

c. Instrumen
Instrument yang digunakan dalam penelitian adalah skoring system facial injury
severity scale (FISS). Skor FISS adalah skor yang digunakan untuk menilai beratnya
trauma maksilofasial berdasarkan kelainan yang diperoleh pada pemeriksaan fisik
dan penunjang. Skor FISS dihitung dalam 24 jam pertama dengan menghitung poin
berdasarkan kelainan atau fraktur yang ditemukan, skor <5 dinyatakan tidak parah,
sedangkan jika > 5 dinyatakan parah.

d. Analisis Data Yang Digunakan


Analisis data meliputi analisis deskriptif dan pengujian hipotesis. Dalam analisis
deskriptif, data yang ditampilkan berupa skala kategoris seperti umur, jenis kelamin,
mekanisme trauma, domisili dan tingkat pendidikan yang dinyatakan sebagai
distribusi frekuensi dan proporsi. Deskripsi data menggunakan tabel dan diagram.
Analisis data bivariat dilakukan dengan pengujian FISS Scoring of the Glasgow
Coma Scale (GCS) dan adanya lesi intrakranial, yang kemudian ditampilkan
hubungannya pada tabel 2 x 2. Nilai p dianggap signifikan jika p < 0,05 dengan 95 %
interval kepercayaan.

3. Hasil Penelitian
Dari total 95 pasien trauma maksilofasial pada bulan Januari hingga September 2018,
didapatkan usia pasien terbanyak pada rentang usia 0-30 tahun, yaitu sebanyak 59
(62,1%) dan usia lebih dari 30 tahun adalah sebanyak 36 (37,9%). Jenis cedera
maksilofasial yang paling umum adalah tulang maksila-zygomatica yaitu sebanyak 43
kasus (45,3%). Pasien trauma maksilofasial dengan jenis kelamin terbanyak adalah laki-
laki yaitu 81 pasien (85,3%). Etiologi terbanyak adalah karena kecelakaan lalu lintas
yaitu 85 pasien (89,5%). Dari total 95 pasien trauma maksilofasial, terdapat 21 pasien
yang melakukan prosedur bedah saraf (22,1%). Dalam penelitian ini, nilai FISS tertinggi
adalah <5 yaitu 70 pasien (73,684%). Cedera kepala terbanyak berdasarkan skor GCS
(Glasgow Coma Scale) adalah 67 pasien (71,23%) mengalami cedera kepala ringan.

Hasil penelitian berdasarkan karakteristik subjek penelitian menunjukan dari total 95


pasien trauma maksilofasial pada bulan Januari hingga September 2018, didapatkan usia
pasien terbanyak pada rentang usia 0-30 tahun, yaitu sebanyak 59 (62,1%) dan usia lebih
dari 30 tahun adalah sebanyak 36 (37,9%). Jenis cedera maksilofasial yang paling umum
adalah tulang maksila-zygomatica yaitu sebanyak 43 kasus (45,3%). Pasien trauma
maksilofasial dengan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki yaitu 81 pasien (85,3%).
Etiologi terbanyak adalah karena kecelakaan lalu lintas yaitu 85 pasien (89,5%). Dari
total 95 pasien trauma maksilofasial, terdapat 21 pasien yang melakukan prosedur bedah
saraf (22,1%). Dalam penelitian ini, nilai FISS tertinggi adalah <5 yaitu 70 pasien
(73,684%). Cedera kepala terbanyak berdasarkan skor GCS (Glasgow Coma Scale)
adalah 67 pasien (71,23%) mengalami cedera kepala ringan. Hasil penelitian tabulasi
silang cedera kepala dan FISS menunjukan hasil nilai p (0,063) yang berarti nilai FISS
tidak memiliki nilai signifikansi dengan tingkat keparahan/tingkat cedera kepala (α
<0,05)

4. Diskusi

Pada uji skor FISS dengan derajat/tingkat cedera kepala dengan uji Chi Square tidak
terdapat hubungan yang bermakna (p 0,063). Menurut Rahman dan Chandrasala,
semakin berat tingkat trauma maksilofasial, semakin rendah trauma kepala karena tulang
wajah mengeluarkan energi yang dapat melukai kepala. Sedangkan struktur pada tulang
wajah bagian tengah disusun oleh banyak ligament, sehingga jika terjadi trauma energi
akan teredam pada tulang wajah bagian tengah, sehingga jarang menyebabkan cedera
kepala (Arthur K Adamo, 2013). Namun, Keenan dkk menyatakan bahwa energi yang
diterima oleh tulang penyangga wajah yang melebihi kemampuannya, maka letak tulang
wajah bagian tengah dan atas yang dekat dengan intrakranial akan menyebabkan
kerusakan pada fossa anterior, fossa media, dan duramater sehingga menyebabkan kepala
cedera. Penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Patil SG dkk, Anda N dkk,
Tanuhendrata dkk, Manalu dkk, dan Siber S, yang mendapatkan penelitian hubungan
antara skor FISS trauma maksilofasial pada cedera kepala. Hasil ini juga berbeda dengan
hasil yang diperoleh Nasser F yaitu nilai FISS dari GCS memiliki hubungan dengan (p =
0,041).
5. Kesimpulan dan rekomendasi

Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian dalam jurnal adalah tidak terdapat hubungan
yang bermakna antara derajat keparahan trauma maksilofasial berdasarkan Facial Injury
Severity Scale (FISS) dengan tingkat cedera kepala pada pasien di RSUD Dr. dr.
Mohammad Hoesin Palembang.

6. Keterbatasan

Peneliti tidak menjabarkan hasil diskusi dari penelitian dalam jurnal mengenai argument
terkait tidak adanya hubungan antara tingkat keparahan trauma maksilofasial dengan
tingkat keparahan cedera kepala. Peneliti tidak menjelaskan teknik sampling yang
digunakan dan tidak ada rekomendasi dari penulis untuk melakukan penelitian
selanjutnya

B. Level Artikel
Level artikel penelitian menurut Johns Hopkins Nursing Evidence-Based Practice,
penelitian ini termasuk kedalam level 5 karena di dalam jurnal, peneliti hanya membahas
data kasus yang ada di RSUP dr. Moehammad Hoesin Palembang pada tahun 2019

Kesimpulan Kualitas Artikel


□ Kualitas sangat baik
 Kualitas baik
□ Kualitas rendah

Manfaat Bagi Keperawatan


Penelitian ini dapat dijadikan sumber bagi perawat untuk mengenali secara dini untuk
menentukan prognosis dan penangana awal dengan cepat dan tepat dalam memberikan
asuhan keperawatan di rumah sakit
Daftar Pustaka

https://www.hopkinsmedicine.org/evidence-based
practice/_docs/appendix_c_evidence_level_quality_guide.pdf

Rachmanto, A., & Arif, A. (2019). Relationship of the Severity of Maxillofacial Trauma
Based on Facial Injury Severity Scale (FISS) Against the Severity of Head Injury. Sriwijaya
Journal of Surgery, 2(1), 9-21.

Laporan Analisa Jurnal Penelitian ini telah diperiksa:


Tanda Tangan Nama Preseptor Akademik: Catatan dan Penilaian Preseptor:

Hari/Tanggal: