Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA DAN HIDRAULIKA

MODUL 7

PENENTUAN KOEFISIEN ALIRAN DENGAN VENTURIMETER

SEMESTER GANJIL 2021/2022

Kelompok 2B

Nama Mahasiswa/NIM : Lilik Amaliya Putri / 104120003

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS PERENCANAAN INFRASTRUKTUR

UNIVERSITAS PERTAMINA

2021
PENENTUAN KOEFISIEN ALIRAN DENGAN VENTURIMETER

Ardika Budiansyah2, Anggita Ayu Paramita2, Azzura Shavagaizka2, Bagus Rafi Gunoto2, Faisal Aziz2,
Ismail Marosy2, Julyan Fahrezy2, Lilik Amaliya Putri2*, Muh. Adhimmas Fathurrohim. A2,
Muhammad Fajar Kusuma2, Reyhan Akbar Ramadea2, Ruth Lastiar Oktariana BR Sagala2, Timothy
David Anglietan Subay2
2
Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Perencanaan Infrastruktur, Universitas Pertamina

*Corresponding author: amaliyalilik@gmail.com

Abstrak : Debit dan kecepatan aliran penting untuk diketahui besarnya dalam melakukan penelitian fluida.
Venturimeter dalam dunia teknik sipil bisa digunakan untuk mengukur laju alir fluida. Venturimeter adalah
salah satu alat yang menggunakan prinsip bejana berhubungan. Tujuan dari praktikum kali ini diantaranya
adalah menentukan variasi korfisien aliran (Cd) berdasarkan perhitungan debit aliran (Q) menggunakan
venturimeter serta menentukan perbandingan antara tekanan terukur dan ideal sepanjang venturimeter. Nilai
koefisien discharge (cd) yang didapatkan secara berturut-turut adalah 0,901; 0,9; 0,869. Semakin besar debit
yang mengalir pada venturimeter maka akan semakin kecil nilai Cd yang dihasilkan

Kata kunci : Debit, Fluida, Koefisien aliran (Cd), Tekanan, Venturimeter

Abstract : Discharge and flow velocity are important to know the magnitude in
conducting fluid research. Venturimeter in the world of civil engineering can be used to
measure the flow rate of fluid flow. A venturimeter is a device that uses the principle of a
connected vessel. The purpose of this practicum is to determine the variation of the flow
coefficient (Cd) based on the calculation of the flow rate (Q) and determine the ratio
between pressure and ideal along the venturimeter. The discharge coefficient value (cd)
obtained sequentially is 0.901; 0.9; 0.869. The greater the discharge flowing in the
venturimeter, the smaller the value of Cd produced

Keywoards : Discharge, Flow coefficient (Cd), Fluid, Pressure, Venturimeter


I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Debit dan kecepatan aliran penting untuk diketahui besarnya dalam melakukan
penelitian fluida. Untuk itu, digunakan alat untuk mengukur debit cairan dimana salah
satunya adalah menggunakan prinsip-prinsip Bernoulli dan kontinuitas pada pipa tertutup
yang kemudian diaplikasikan melalui alat bernama venturimeter. Venturimeter adalah alat
untuk mengukur debit cairan yang melalui pipa tertutup. Melalui pengamatan pada
venturimeter, dapat dibuktikan pula persamaan Bernoulli dan kontinuitas.
Venturimeter dalam dunia teknik sipil bisa digunakan untuk mengukur laju
alir fluida, misalnya menghitung laju aliran minyak atau air yang mengalir melalui pipa.
Biasanya, venturimeter digunakan untuk mengukur volume fluida misalkan minyak yang
mengalir tiap detik. Adapun manfaat yang bisa diperoleh dalam melakukan praktikum ini
adalah dapat mengetahui karakteristik suatu aliran yang melewati venturimeter sehingga
nantinya menempatkan atau memasang suatu pipa dengan tepat serta meminimalisir
terjadinya kerugian aliran serta dapat merencanakan suatu sistem perpipaan dengan baik.

1.2.Rumusan Masalah
1. Bagaimana menentukan variasi korfisien aliran (Cd) berdasarkan perhitungan debit
aliran (Q) menggunakan venturimeter?
2. Bagaimana perbandingan antara tekanan terukur dan ideal sepanjang venturimeter?

1.3.Tujuan Penelitian
1. Menentukan variasi korfisien aliran (Cd) berdasarkan perhitungan debit aliran (Q)
menggunakan venturimeter.
2. Menentukan perbandingan antara tekanan terukur dan ideal sepanjang venturimeter.

1.4.Teori Dasar
Venturimeter adalah salah satu alat yang menggunakan prinsip bejana
berhubungan. Venturimeter digunakan pada pipa aliran untuk mengukur kelajuan aliran
zat cair. Penelitian mengenai venturimeter penting dilakukan, karena dengan data
penelitian venturimeter dapat diterapkan untuk membuktikan fluida dinamik maupun
statik secara langsung (Widowati, 2017).
Dalam venturimeter, kecepatan fluida bertambah dan tekanannya berkurang di
dalam kerucut sebelah hulu. Penurunan tekanan di dalam kerucut hulu itu lalu
dimanfaatkan untuk mengukur laju aliran. Kecepatan fluida kemudian berkurang lagi dan
sebagian besar tekanan awalnya kembali pulih didalam kerucut sebelah hilir. Agar
pemulihan lapisan batas dapat dicegah dan gesekan minimum. Oleh karena itu pada
bagian yang penampungannya mengecil tidak ada pemisahan, maka kerucut hulu dapat
dibuat lebih pendek dari pada kerucut hilir. Gesekannya pun di sini kecil juga. Dengan
demikian ruang dan bahan pun dapat dihemat. Walaupun meteran venturi dapat
digunakan untuk mengukur gas, namun alat ini biasanya digunakan juga untuk mengukur
zat cair terutama air (Ilhami dkk, 2011).

Venturimeter menggunakan prinsip Bernoulli dan kontinuitas dengan


mengandalkan perbedaan luas penampang yang dapat mengakibatkan perbedaan
kecepatan. Perbedaan luas penampang dari diameter yang lebih besar menjadi lebih kecil
kemudian membesar lagi dilakukan seperlahan atau seideal mungkin untuk menghindari
terjadinya kehilangan tinggi tekan akibat ekspansi atau kontraksi tiba-tiba. Jika dipasang
piezometer pada bagian-bagian penampang yang berbeda-beda, akan terlihat perbedaan
ketinggian sebagai wujud dari perbedaan tekanan air yang melewati penampang.
Penerapan teori dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :

Untuk meninjau penampang a1 dan a2:

Gambar 3.1. Kondisi Ideal Venturimeter. Sumber: Panduan Pratikum ITB, 2016

Penampang pada bagian upstream akan dinamakan a1, pada leher disebut a2, dan
pada bagian selanjutnya (bagian ke-n) disebut an. Ketinggian atau head pada pembuluh
piezometer akan disebut h1, h2, hn. Dalam kasus ini diasumsikan tidak terjadi kehilangan
energi sepanjang pipa, dan kecepatan serta head piezometrik (h) konstan sepanjang
bidang tertentu.

Berdasarkan Hukum Bernoulli (persamaan 3.1) dan hukum kontinuitas (persamaan 3.2),
akan didapat persamaan untuk menghitung debit Q (pers 3.3) dengan koefisien pengaliran
pada alat venturimeter adalah c. Nilai c berbeda-beda pada setiap alat venturimeter.

Persamaan Bernoulli:

𝑃1 𝑉1 2 𝑃2 𝑉2 2 𝑃𝑛 𝑉𝑛 2
𝑍1 + + = 𝑍2 + + = 𝑍𝑛 + + 1.1
𝛾 2𝑔 𝛾 2𝑔 𝛾 2𝑔

Persamaan Kontinuitas :

𝐴1 𝑉1 = 𝐴2 𝑉2 1.2

Hasil dari gabungan persamaan Bernoulli dan kontinuitas akan menghasilkan persamaan
perhitungan debit pada venturimeter, sebagai berikut : (Sreeter, Victor L., and Wylie,
Benjamin E, 1975)

2𝑔(ℎ1 − ℎ2 )
𝑄 = 𝑐𝐴2 1.3
√ 𝐴 2
1 − ( 𝐴2 )
1

II. METODE PENELITIAN


2.1. Alat dan Bahan
1. Venturimeter.
2. Bangku Hidraulik
3. Stopwatch.
4. Gelas ukur
5. Label
6. Penggaris

2.2. Cara Kerja


1. Pompa pada hydraulic bench dipancing hingga aliran konstan.
2. Setelah aliran konstan, hydraulic bench dimatikan dan diganti selang pancing dengan
selang apparatus.
3. Setelah itu, kran output dipastikan dalam keadaan tertutup terlebih dahulu.
4. Hydraulic bench dinyalakan dan bukaan katup disesuaikan untuk menghasilkan aliran
lambat melalui pipa
5. Lalu, kran output dibuka dan ketinggian manometer diamati setelah aliran didalam
pipa konstan.
6. Volume dan waktu diukur serta ketinggian air pada piezometer dicatat
7. Langkah 4-6 diulangi dengan debit yang berbeda, dengan syarat besar debit masih
dapat memberikan perbedaan ketinggian yang jelas pada pembacaan piezometer
8. Kemudian, hasil pengamatan dicatat pada masing-masing perlakuan yang berbeda.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil

Tabel 3.1. Nilai Cd dari eksperimen

Pembacaan
Debit Aktual
Waktu (t) Skala h1 – h2
Test (Q)
Piezometer (h1 – h2)0.5 Nilai Cd
No.
D
s A (h1) m3/s m
(h2)
1. 10,35 0,29 0,22 9,66 × 10−5 0,07 0,264575131 0,901
2. 7,55 0,278 0,146 0,00013245 0,132 0,363318042 0,9
3. 6,99 0,265 0,1 0,000143062 0,165 0,40620192 0,869

Tabel 3.1. Pembacaan ketinggian pada skala piezometer

Tabung Pembacaan Skala Piezometer (mm)


Volume (mL)
Piezometer
1 2 3
A (1) 1000 290 278 265
B 1000 278 244 215
C 1000 247 196 160
D (2) 1000 220 146 100
E 1000 186 104 50
F 1000 200 155 120

Tabel 3.2. Distribusi tekanan ideal sebagai fraksi kecepatan tabung piezometer

Tabung Jarak dari Diameter Area (A) (A2/An)2 (A2/A1)2 -


Piezometer datum (mm) penampang (A2/An)2
melintang dn
(m)
(m)
A (1) 76.08 0,025 0,000490 0,033556378 0
B 15.80 0,0139 0,00015175 0,351136446 -0,31758007
C 7.40 0,0118 0,00010936 0,676094 -0,64253762
D (2) 2.90 0,0107 8,992× 10−5 1 -0,96644362
E 5.00 0,01 7,854× 10−5 1,31079601 -1,27723963
F 65.46 0,025 0,00049087 0,033556378 0

Tabel 3.3. Pengukuran distribusi tekanan sepanjang venturimeter sebagai ujung fraksi
kecepatan pada tabung piezometer

Pengulangan
Tabung
Q1=
Piezometer Q2=0,00013245 Q3=0,000143062
9,66 × 10-5
hn-h1 hn-h1 hn- hn-h1
hn hn-h1 hn hn-h1 hn
v22 v22 h1 v22
(mm) (m) (mm) (m) (mm)
2g 2g (m) 2g
A (1) 290 0 0 278 0 0 265 0 0
-
B 278 -0,012 -0,204 244 -0,309 215 -0,05
0,034 -0,388
- -
C 247 -0,043 -0,731 196 -0,746 160
0,082 0,105 -0,815
- -
D (2) 220 -0,07 -1,19 146 -1,201 100
0,132 0,165 -1,28
- -
E 186 -0,104 -1,769 104 -1,583 50
0,174 0,215 -1,669
- -
F 200 -0,09 -1,53 155 -1,119 120
0,123 0,145 -1,125

Perhitungan :

 Percobaan 1
 Debit (Q)
𝑉 0,001
= 𝑡 = 10,35 = 9,66 × 10−5 𝑚3 /𝑠
 ℎ1 − ℎ2
= 0,29 − 0,22 = 0,07 m

 (ℎ1 − ℎ2 )0,5 =
= (0,29 − 0,22)0,5 = 0,2466 m

 Nilai Cd
1 1
𝐴1 = 4 𝜋𝑑 2 𝐴2 = 4 𝜋𝑑 2
1 1
𝐴1 = 4 (3,14)0,0252 𝐴2 = 4 (3,14)0,01072
𝐴1 = 0,00049 𝑚2 𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2
𝑄1
𝐶𝑑 = 2𝑔 (ℎ1−ℎ2)
𝐴2×√
𝐴2 2
1−( )
𝐴1
9,66×10−5
𝐶𝑑 =
2(9,81) (0,07)
8,992×10−5 × 2
√ 8,992×10−5
1−( )
0,00049

𝐶𝑑 = 0,901

 Percobaan 2
 Debit (Q)
𝑉 0,001
=𝑡 = = 1,32 × 10−4 𝑚3 /𝑠
7,55
 ℎ1 − ℎ2
= 0,278 − 0,146 = 0,132 m

 (ℎ1 − ℎ2 )0,5 =
= (0,278 − 0,146)0,5 = 0,3633 m

 Nilai Cd
1 1
𝐴1 = 4 𝜋𝑑 2 𝐴2 = 4 𝜋𝑑 2
1 1
𝐴1 = 4 (3,14)0,0252 𝐴2 = 4 (3,14)0,01072
𝐴1 = 0,00049 𝑚2 𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2

𝑄2
𝐶𝑑 = 2𝑔 (ℎ1−ℎ2)
𝐴2×√
𝐴2 2
1−( )
𝐴1
1,32×10−4
𝐶𝑑 =
2(9,81) (0,132)
8,992×10−5 × 2
√ 8,992×10−5
1−( )
0,00049

𝐶𝑑 = 0,9
 Percobaan 3
 Debit (Q)
𝑉 0,001
= = = 1,43 × 10−4 𝑚3 /𝑠
𝑡 6,99

 ℎ1 − ℎ2
= 0,265 − 0,1 = 0,165 m

 (ℎ1 − ℎ2 )0,5 =
= (0,265 − 0,1)0,5 = 0,4062 m

 Nilai Cd
1 1
𝐴1 = 4 𝜋𝑑 2 𝐴2 = 4 𝜋𝑑 2
1 1
𝐴1 = 4 (3,14)0,0252 𝐴2 = 4 (3,14)0,01072
𝐴1 = 0,00049 𝑚2 𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2

𝑄3
𝐶𝑑 = 2𝑔 (ℎ1−ℎ2)
𝐴2×√
𝐴2 2
1−( )
𝐴1
1,43×10−4
𝐶𝑑 =
2(9,81) (0,165)
8,992×10−5 × 2
√ 8,992×10−5
1−( )
0,00049

𝐶𝑑 = 0,869

Perhitungan :

 Tabung Piezometer A (1)


 Area (A)
1
= 4 𝜋𝑑 2
1
= 4 (3,14)(0,025)2
= 0,00049087 𝑚2

 (A2/An)2
𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2

2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴𝑛) = ( 0,00049087 ) = 0,033556

 (A2/A1)2 - (A2/An)2
2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴1) = ( ) = 0,03356
0,00049

(A2/A1)2 - (A2/An)2 = 0,03356 − 0,0335 = 0


 Tabung Piezometer B
 Area (A)
1
= 4 𝜋𝑑 2
1
= 4 (3,14)(0,0139)2
= 0,00015175 𝑚2

 (A2/An)2
𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2

2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴𝑛) = ( 0,00015175 ) = 0,351136

 (A2/A1)2 - (A2/An)2
2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴1) = ( 0,00049
) = 0,03356

(A2/A1)2 - (A2/An)2 = 0,03356 − 0,351136 = −0,31758

 Tabung Piezometer C
 Area (A)
1
= 4 𝜋𝑑 2
1
= 4 (3,14)(0,0118)2
= 0,00010936 𝑚2

 (A2/An)2
𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2

2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴𝑛) = ( 0,00010936 ) = 0,676094

 (A2/A1)2 - (A2/An)2
2
𝐴2 2 8,992×10−5
( ) =( ) = 0,03356
𝐴1 0,00049

(A2/A1)2 - (A2/An)2 = 0,03356 − 0,676094 = −0,642537

 Tabung Piezometer D (2)


 Area (A)
1
= 4 𝜋𝑑 2
1
= 4 (3,14)(0,0107)2
= 8,992 × 10−5 𝑚2

 (A2/An)2
𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2

2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴𝑛) = (8,992×10−5 ) = 1

 (A2/A1)2 - (A2/An)2
2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴1) = ( ) = 0,03356
0,00049

(A2/A1)2 - (A2/An)2 = 0,03356 − 1 = −0,96644

 Tabung Piezometer E
 Area (A)
1
= 4 𝜋𝑑 2
1
= 4 (3,14)(0,01)2
= 7,854 × 10−5 𝑚2

 (A2/An)2
𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2

2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴𝑛) = (7,854×10−5 ) = 1,31079

 (A2/A1)2 - (A2/An)2
2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴1) = ( ) = 0,03356
0,00049

(A2/A1)2 - (A2/An)2 = 0,03356 − 1,31079 = −1,277239

 Tabung Piezometer F
 Area (A)
1
= 4 𝜋𝑑 2
1
= 4 (3,14)(0,025)2
= 0,0004908 𝑚2

 (A2/An)2
𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2
2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴𝑛) = ( 0,0004908 ) = 0,033556

 (A2/A1)2 - (A2/An)2
2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴1) = ( ) = 0,03356
0,00049

(A2/A1)2 - (A2/An)2 = 0,03356 − 0,033556 = 0

Perhitungan :

 Tabung Piezometer A (1)


𝑄1 9,66184×10−5
𝑄1 = 9,66184 × 10−5 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = 8,992×10−5
= 1,07448 ℎ1 =
0,29 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,29 − 0,29 = 0 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 0
 𝑣22
= 1,074482
=0
2𝑔 2(9,81)

𝑄2 0,00013245
𝑄2 = 0,00013245 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = 8,992×10−5 = 1,4729 ℎ1 = 0,278 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,278 − 0,278 = 0 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 0
 𝑣22
= 1,47292
=0
2𝑔 2(9,81)

𝑄3 0,000143062
𝑄3 = 0,000143062 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,59098 ℎ1 = 0,265 𝑚
8,992×10−5

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,265 − 0,265 = 0 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 0
 𝑣22
= 1,590982
=0
2𝑔 2(9,81)

 Tabung Piezometer B
𝑄1 9,66184×10−5
𝑄1 = 9,66184 × 10−5 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,07448 ℎ1 =
8,992×10−5
0,29 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,278 − 0,29 = −0,012 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,012
 𝑣22
= 1,074482
= −0,204
2𝑔 2(9,81)

𝑄2 0,00013245
𝑄2 = 0,00013245 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = 8,992×10−5 = 1,4729 ℎ1 = 0,278 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,244 − 0,278 = −0,034 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,034
 𝑣22
= 1,47292
= −0,309
2𝑔 2(9,81)

𝑄3 0,000143062
𝑄3 = 0,000143062 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,59098 ℎ1 = 0,265 𝑚
8,992×10−5

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,215 − 0,265 = −0,05 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,05
 𝑣22
= 1,590982
= −0,388
2𝑔 2(9,81)

 Tabung Piezometer C
𝑄1 9,66184×10−5
𝑄1 = 9,66184 × 10−5 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,07448 ℎ1 =
8,992×10−5
0,29 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,247 − 0,29 = −0,043 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,043
 𝑣22
= 1,074482
= −0,731
2𝑔 2(9,81)

𝑄2 0,00013245
𝑄2 = 0,00013245 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = 8,992×10−5 = 1,4729 ℎ1 = 0,278 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,196 − 0,278 = −0,082 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,082
 𝑣22
= 1,47292
= −0,746
2𝑔 2(9,81)
𝑄3 0,000143062
𝑄3 = 0,000143062 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,59098 ℎ1 = 0,265 𝑚
8,992×10−5

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,16 − 0,265 = −0,105 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,105
 𝑣22
= 1,590982
= −0,815
2𝑔 2(9,81)

 Tabung Piezometer D (2)


𝑄1 9,66184×10−5
𝑄1 = 9,66184 × 10−5 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,07448 ℎ1 =
8,992×10−5
0,29 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,22 − 0,29 = −0,07 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,07
 𝑣22
= 1,074482
= −1,19
2𝑔 2(9,81)

𝑄2 0,00013245
𝑄2 = 0,00013245 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = 8,992×10−5 = 1,4729 ℎ1 = 0,278 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,146 − 0,278 = −0,132 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,132
 𝑣22
= 1,47292
= −1,201
2𝑔 2(9,81)

𝑄3 0,000143062
𝑄3 = 0,000143062 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,59098 ℎ1 = 0,265 𝑚
8,992×10−5

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,1 − 0,265 = −0,165 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,165
 𝑣22
= 1,590982
= −1,28
2𝑔 2(9,81)

 Tabung Piezometer E
𝑄1 9,66184×10−5
𝑄1 = 9,66184 × 10−5 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,07448 ℎ1 =
8,992×10−5
0,29 𝑚
 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,186 − 0,29 = −0,104 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,104
 𝑣22
= 1,074482
= −1,769
2𝑔 2(9,81)

𝑄2 0,00013245
𝑄2 = 0,00013245 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = 8,992×10−5 = 1,4729 ℎ1 = 0,278 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,104 − 0,278 = −0,174 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,174
 𝑣22
= 1,47292
= −1,583
2𝑔 2(9,81)

𝑄3 0,000143062
𝑄3 = 0,000143062 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,59098 ℎ1 = 0,265 𝑚
8,992×10−5

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,05 − 0,265 = −0,215 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,215
 𝑣22
= 1,590982
= −1,669
2𝑔 2(9,81)

 Tabung Piezometer F
𝑄1 9,66184×10−5
𝑄1 = 9,66184 × 10−5 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,07448 ℎ1 =
8,992×10−5
0,29 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,2 − 0,29 = −0,09 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,09
 𝑣22
= 1,074482
= −1,53
2𝑔 2(9,81)

𝑄2 0,00013245
𝑄2 = 0,00013245 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = 8,992×10−5 = 1,4729 ℎ1 = 0,278 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,155 − 0,278 = −0,123 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,123
 𝑣22
= 1,47292
= −1,119
2𝑔 2(9,81)
𝑄3 0,000143062
𝑄3 = 0,000143062 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,59098 ℎ1 = 0,265 𝑚
8,992×10−5

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,12 − 0,265 = −0,145 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,145
 𝑣22
= 1,590982
= −1,125
2𝑔 2(9,81)

3.2. Pembahasan
Hubungan antara diameter dengan tinggi tekan yaitu semakin besar diameter
tabung venturimeter maka akan semakin kecil/pendek tinggi tekan yang dihasilkan.
Berlaku sebaliknya, semakin kecil diameter tabung maka akan semakin panjang tinggi
tekan yang dihasilkan nantinya. Hal ini berarti bahwa diameter venturimeter dan tinggi
tekan berbanding terbalik. Hal tersebut terjadi karena adanya kontraksi atau ekspansi
yang terjadi secara tiba-tiba akibat pipa yang kecil.
Pengaruh tinggi penampang terhadap tinggi tekan pada venturimeter akan
mengakibatkan tinggi tekan pada pipa tidak sesuai dengan nilai cd pada pipa venturimeter
serta menyebabkan range nilai yang sudah ditentukan melewati nilai tersebut. Perlu
diperhatikan supaya tidak ada gelembung di pipa pada kondisi awal karena gelembung
tersebut akan menyebabkan kenaikan beda tekanan yang menyebabkan tidak
terjadi perubahan tekanan pada kondisi awal. Untuk menghilangkan gelembung pada
saluran perpipaan adalah dengan memperbesar laju alir. Perubahan penampang pada
venturimeter dapat mempengaruhi tinggi garis hidraulik pada masing-masing piezometer.
Hal tersebut berarti bahwa semakin besar diameter penampang piezometer, maka
tinggi garis hidraulik pada masing- masing piezometer akan lebih tinggi.
Koefisien discharge (Cd) digunakan untuk memperhitungkan efek dari suatu
ketidakidealan dari alat. Efek ketidakidealan terjadi karena terjadinya aliran yang
berpusar yang menyebabkan suatu kerugian head yang tidak dapat dihitung secara
teoritis. Koefisien discharge (Cd) dapat ditentukan dengan membandingkan debit
eksperimental (Qeksperimental) dengan debit teoritis (Qteoritis).

Grafik 3.1. Hubungan debit terhadap Cd


Hubungan Q terhadap Cd
0.94
0.928271799
0.93

0.92 0.9152909

0.91
Cd

0.9

0.89 0.884247649

0.88

0.87

0.86
9.66184E-05 0.00013245 0.000143062
Q

Dari grafik dapat dianalisis bahwa, walaupun besarnya debit yang dihasilkan selalu
berubah dari percobaan satu ke percobaan lainnya, namun besarnya koefisien discharge
(Cd) relatif tak mengalami perubahan yang signifikan (besarnya c<1). Pada praktikum
aliran fluida bertujuan untuk menentukan variasi korfisien aliran (Cd) berdasarkan
perhitungan debit aliran (Q) menggunakan venturimeter serta menentukan perbandingan
antara tekanan terukur dan ideal sepanjang venturimeter. Nilai koefisien discharge (Cd)
venturimeter tabung piezometer berdasarkan tiga kali percobaan yang telah dilakukan
secara berturut-turut yaitu sebesar 0,928; 0,915; 0,884. Dari grafik diatas diketahui bahwa
semakin besar debit yang mengalir pada venturimeter maka akan semakin kecil nilai Cd
yang dihasilkan, sebaliknya semakin kecil debit yang mengalir pada venturimeter maka
akan semakin besar nilai Cd yang dihasilkan. Dapat diketahui bahwa debit air dan nilai
Cd pada venturimeter berbanding terbalik.

IV. KESIMPULAN

Dari hasil praktikum ini dapat disimpulkan bahwa nilai koefisien discharge (cd) yang
didapatkan secara berturut-turut adalah 0,901; 0,9; 0,869. Hasil tersebut didapatkan dengan
𝑄1
rumus 𝐶𝑑 = .
2𝑔 (ℎ1−ℎ2)
𝐴2×√
𝐴2 2
1−( )
𝐴1
Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa jika diameter pipa diperbesar, maka
kecepatan aliran menjadi kecil, ketinggian permukaan air menjadi lebih besar, dan tekanan
juga menjadi lebih besar. Hal ini sesuai dengan Persamaan Bernoulli. Sementara itu,
perbandingan distribusi tekanan ideal di sepanjang pipa secara teoritis (A2/A1)2 - (A2/An)2
ℎ𝑛−ℎ1
dengan eksperimen 𝑣22
. Perbandingan tekanan yang dihasilkan bisa dilihat pada tabung
2𝑔

piezometer B dimana debitnya adalah 9,66 × 10−5 dan didapatkan nilai teoritis sebesar
−0,31758 serta secara eksperimen sebesar −0,204.

V. DAFTAR PUSTAKA

Ilhami, dkk. (2011). Aliran Fluida. Bandung : Politeknik Negeri Bandung

Streeter, Victor L., and Wylie, Benjamin E. (1975). Fluid Mechanics. Tokyo: McGraw
Hill Kogakusha, Ltd.

Widowati, W. (2017). Pengembangan Alat Praktikum Venturimeter Untuk Pembelajaran


Materi Fluida di SMA/MA kelas XI. Yogyakarta : Program Studi Pendidikan
Fisika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga
FORMULIR PENGAMATAN

MODUL 7: PENENTUAN KOEFISIEN ALIRAN DENGAN VENTURIMETER

Mekanika Fluida dan Hidraulika-Universitas Pertamina No. Kelompok: CV2-B

Nama NIM Asisten


1 Lilik Amaliya Putri 104120003

TANGGAL PENGUMPULAN LAPORAN:


16 Desember 2021
(............................)

Tabel 7.1. Nilai Cd dari eksperimen

Pembacaan
Debit Aktual
Waktu (t) Skala h1 – h2
Test (Q)
Piezometer (h1 – h2)0.5 Nilai Cd
No.
D
s A (h1) m3/s m
(h2)
1. 10,35 0,29 0,22 9,66 × 10−5 0,07 0,264575131 0,901
2. 7,55 0,278 0,146 0,00013245 0,132 0,363318042 0,9
3. 6,99 0,265 0,1 0,000143062 0,165 0,40620192 0,869

Perhitungan :

 Percobaan 1
 Debit (Q)
𝑉 0,001
= 𝑡 = 10,35 = 9,66 × 10−5 𝑚3 /𝑠

 ℎ1 − ℎ2
= 0,29 − 0,22 = 0,07 m

 (ℎ1 − ℎ2 )0,5 =
= (0,29 − 0,22)0,5 = 0,2466 m

 Nilai Cd
1 1
𝐴1 = 4 𝜋𝑑 2 𝐴2 = 4 𝜋𝑑 2
1 1
𝐴1 = 4 (3,14)0,0252 𝐴2 = 4 (3,14)0,01072
𝐴1 = 0,00049 𝑚2 𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2
𝑄1
𝐶𝑑 =
2𝑔 (ℎ1−ℎ2)
𝐴2×√
𝐴2 2
1−( )
𝐴1
9,66×10−5
𝐶𝑑 =
2(9,81) (0,07)
8,992×10−5 × 2
√ 8,992×10−5
1−( )
0,00049

𝐶𝑑 = 0,901

 Percobaan 2
 Debit (Q)
𝑉 0,001
=𝑡 = = 1,32 × 10−4 𝑚3 /𝑠
7,55

 ℎ1 − ℎ2
= 0,278 − 0,146 = 0,132 m

 (ℎ1 − ℎ2 )0,5 =
= (0,278 − 0,146)0,5 = 0,3633 m

 Nilai Cd
1 1
𝐴1 = 4 𝜋𝑑 2 𝐴2 = 4 𝜋𝑑 2
1 1
𝐴1 = 4 (3,14)0,0252 𝐴2 = 4 (3,14)0,01072
𝐴1 = 0,00049 𝑚2 𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2

𝑄2
𝐶𝑑 = 2𝑔 (ℎ1−ℎ2)
𝐴2×√
𝐴2 2
1−( )
𝐴1
1,32×10−4
𝐶𝑑 =
2(9,81) (0,132)
8,992×10−5 × 2
√ 8,992×10−5
1−( )
0,00049

𝐶𝑑 = 0,9

 Percobaan 3
 Debit (Q)
𝑉 0,001
=𝑡 = = 1,43 × 10−4 𝑚3 /𝑠
6,99

 ℎ1 − ℎ2
= 0,265 − 0,1 = 0,165 m

 (ℎ1 − ℎ2 )0,5 =
= (0,265 − 0,1)0,5 = 0,4062 m

 Nilai Cd
1 1
𝐴1 = 4 𝜋𝑑 2 𝐴2 = 4 𝜋𝑑 2
1 1
𝐴1 = 4 (3,14)0,0252 𝐴2 = 4 (3,14)0,01072
𝐴1 = 0,00049 𝑚2 𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2

𝑄3
𝐶𝑑 = 2𝑔 (ℎ1−ℎ2)
𝐴2×√
𝐴2 2
1−( )
𝐴1
1,43×10−4
𝐶𝑑 =
2(9,81) (0,165)
8,992×10−5 × 2
√ 8,992×10−5
1−( )
0,00049

𝐶𝑑 = 0,869

Tabel 7.4. Pembacaan ketinggian pada skala piezometer

Tabung Pembacaan Skala Piezometer (mm)


Volume (mL)
Piezometer
1 2 3
A (1) 1000 290 278 265
B 1000 278 244 215
C 1000 247 196 160
D (2) 1000 220 146 100
E 1000 186 104 50
F 1000 200 155 120

Tabel 7.5. Distribusi tekanan ideal sebagai fraksi kecepatan tabung piezometer

Tabung Jarak dari Diameter Area (A) (A2/An)2 (A2/A1)2 -


Piezometer datum (mm) penampang (A2/An)2
melintang dn
(m)
(m)
A (1) 76.08 0,025 0,000490 0,033556378 0
B 15.80 0,0139 0,00015175 0,351136446 -0,31758007
C 7.40 0,0118 0,00010936 0,676094 -0,64253762
D (2) 2.90 0,0107 8,992× 10−5 1 -0,96644362
E 5.00 0,01 7,854× 10−5 1,31079601 -1,27723963
F 65.46 0,025 0,00049087 0,033556378 0

Perhitungan :

 Tabung Piezometer A (1)


 Area (A)
1
= 4 𝜋𝑑 2
1
= 4 (3,14)(0,025)2
= 0,00049087 𝑚2

 (A2/An)2
𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2

2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴𝑛) = ( 0,00049087 ) = 0,033556

 (A2/A1)2 - (A2/An)2
2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴1) = ( ) = 0,03356
0,00049

(A2/A1)2 - (A2/An)2 = 0,03356 − 0,0335 = 0

 Tabung Piezometer B
 Area (A)
1
= 4 𝜋𝑑 2
1
= 4 (3,14)(0,0139)2
= 0,00015175 𝑚2

 (A2/An)2
𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2

2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴𝑛) = ( 0,00015175 ) = 0,351136

 (A2/A1)2 - (A2/An)2
2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴1) = ( ) = 0,03356
0,00049

(A2/A1)2 - (A2/An)2 = 0,03356 − 0,351136 = −0,31758

 Tabung Piezometer C
 Area (A)
1
= 4 𝜋𝑑 2
1
= 4 (3,14)(0,0118)2
= 0,00010936 𝑚2

 (A2/An)2
𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2
2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴𝑛) = ( 0,00010936 ) = 0,676094

 (A2/A1)2 - (A2/An)2
2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴1) = ( ) = 0,03356
0,00049

(A2/A1)2 - (A2/An)2 = 0,03356 − 0,676094 = −0,642537

 Tabung Piezometer D (2)


 Area (A)
1
= 4 𝜋𝑑 2
1
= 4 (3,14)(0,0107)2
= 8,992 × 10−5 𝑚2

 (A2/An)2
𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2

2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴𝑛) = (8,992×10−5 ) = 1

 (A2/A1)2 - (A2/An)2
2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴1) = ( ) = 0,03356
0,00049

(A2/A1)2 - (A2/An)2 = 0,03356 − 1 = −0,96644

 Tabung Piezometer E
 Area (A)
1
= 4 𝜋𝑑 2
1
= 4 (3,14)(0,01)2
= 7,854 × 10−5 𝑚2

 (A2/An)2
𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2

2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴𝑛) = (7,854×10−5 ) = 1,31079

 (A2/A1)2 - (A2/An)2
2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴1) = ( ) = 0,03356
0,00049

(A2/A1)2 - (A2/An)2 = 0,03356 − 1,31079 = −1,277239

 Tabung Piezometer F
 Area (A)
1
= 4 𝜋𝑑 2
1
= 4 (3,14)(0,025)2
= 0,0004908 𝑚2

 (A2/An)2
𝐴2 = 8,992 × 10−5 𝑚2

2
𝐴2 2 8,992×10−5
( ) =( ) = 0,033556
𝐴𝑛 0,0004908

 (A2/A1)2 - (A2/An)2
2
𝐴2 2 8,992×10−5
(𝐴1) = ( ) = 0,03356
0,00049

(A2/A1)2 - (A2/An)2 = 0,03356 − 0,033556 = 0

Tabel 7.6. Pengukuran distribusi tekanan sepanjang venturimeter sebagai ujung fraksi
kecepatan pada tabung piezometer

Pengulangan
Tabung
Q1=
Piezometer Q2= 0,00013245 Q3=0,000143062
9,66 × 10-5
hn-h1 hn-h1 hn- hn-h1
hn hn-h1 hn hn-h1 hn
v22 v22 h1 v22
(mm) (m) (mm) (m) (mm)
2g 2g (m) 2g
A (1) 290 0 0 278 0 0 265 0 0
-
B 278 -0,012 -0,204 244 -0,309 215 -0,05
0,034 -0,388
- -
C 247 -0,043 -0,731 196 -0,746 160
0,082 0,105 -0,815
- -
D (2) 220 -0,07 -1,19 146 -1,201 100
0,132 0,165 -1,28
- -
E 186 -0,104 -1,769 104 -1,583 50
0,174 0,215 -1,669
- -
F 200 -0,09 -1,53 155 -1,119 120
0,123 0,145 -1,125
Perhitungan :

 Tabung Piezometer A (1)


𝑄1 9,66184×10−5
𝑄1 = 9,66184 × 10−5 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,07448 ℎ1 =
8,992×10−5
0,29 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,29 − 0,29 = 0 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 0
 𝑣22
= 1,074482
=0
2𝑔 2(9,81)

𝑄2 0,00013245
𝑄2 = 0,00013245 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = 8,992×10−5 = 1,4729 ℎ1 = 0,278 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,278 − 0,278 = 0 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 0
 𝑣22
= 1,47292
=0
2𝑔 2(9,81)

𝑄3 0,000143062
𝑄3 = 0,000143062 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,59098 ℎ1 = 0,265 𝑚
8,992×10−5

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,265 − 0,265 = 0 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 0
 𝑣22
= 1,590982
=0
2𝑔 2(9,81)

 Tabung Piezometer B
𝑄1 9,66184×10−5
𝑄1 = 9,66184 × 10−5 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,07448 ℎ1 =
8,992×10−5
0,29 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,278 − 0,29 = −0,012 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,012
 𝑣22
= 1,074482
= −0,204
2𝑔 2(9,81)

𝑄2 0,00013245
𝑄2 = 0,00013245 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = 8,992×10−5 = 1,4729 ℎ1 = 0,278 𝑚
 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,244 − 0,278 = −0,034 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,034
 𝑣22
= 1,47292
= −0,309
2𝑔 2(9,81)

𝑄3 0,000143062
𝑄3 = 0,000143062 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,59098 ℎ1 = 0,265 𝑚
8,992×10−5

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,215 − 0,265 = −0,05 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,05
 𝑣22
= 1,590982
= −0,388
2𝑔 2(9,81)

 Tabung Piezometer C
𝑄1 9,66184×10−5
𝑄1 = 9,66184 × 10−5 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,07448 ℎ1 =
8,992×10−5
0,29 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,247 − 0,29 = −0,043 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,043
 𝑣22
= 1,074482
= −0,731
2𝑔 2(9,81)

𝑄2 0,00013245
𝑄2 = 0,00013245 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = 8,992×10−5 = 1,4729 ℎ1 = 0,278 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,196 − 0,278 = −0,082 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,082
 𝑣22
= 1,47292
= −0,746
2𝑔 2(9,81)

𝑄3 0,000143062
𝑄3 = 0,000143062 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,59098 ℎ1 = 0,265 𝑚
8,992×10−5

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,16 − 0,265 = −0,105 𝑚

ℎ𝑛 − ℎ1 −0,105
2 = = −0,815
𝑣2 1,590982
2𝑔 2(9,81)

 Tabung Piezometer D (2)


𝑄1 9,66184×10−5
𝑄1 = 9,66184 × 10−5 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,07448 ℎ1 =
8,992×10−5
0,29 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,22 − 0,29 = −0,07 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,07
 𝑣22
= 1,074482
= −1,19
2𝑔 2(9,81)

𝑄2 0,00013245
𝑄2 = 0,00013245 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = 8,992×10−5 = 1,4729 ℎ1 = 0,278 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,146 − 0,278 = −0,132 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,132
 𝑣22
= 1,47292
= −1,201
2𝑔 2(9,81)

𝑄3 0,000143062
𝑄3 = 0,000143062 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,59098 ℎ1 = 0,265 𝑚
8,992×10−5

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,1 − 0,265 = −0,165 𝑚

ℎ𝑛 − ℎ1 −0,165
2 = = −1,28
𝑣2 1,590982
2𝑔 2(9,81)

 Tabung Piezometer E
𝑄1 9,66184×10−5
𝑄1 = 9,66184 × 10−5 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,07448 ℎ1 =
8,992×10−5
0,29 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,186 − 0,29 = −0,104 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,104
 𝑣22
= 1,074482
= −1,769
2𝑔 2(9,81)

𝑄2 0,00013245
𝑄2 = 0,00013245 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = 8,992×10−5 = 1,4729 ℎ1 = 0,278 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,104 − 0,278 = −0,174 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,174
 𝑣22
= 1,47292
= −1,583
2𝑔 2(9,81)
𝑄3 0,000143062
𝑄3 = 0,000143062 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,59098 ℎ1 = 0,265 𝑚
8,992×10−5

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,05 − 0,265 = −0,215 𝑚

ℎ𝑛 − ℎ1 −0,215
2 = = −1,669
𝑣2 1,590982
2𝑔 2(9,81)

 Tabung Piezometer F
𝑄1 9,66184×10−5
𝑄1 = 9,66184 × 10−5 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,07448 ℎ1 =
8,992×10−5
0,29 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,2 − 0,29 = −0,09 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,09
 𝑣22
= 1,074482
= −1,53
2𝑔 2(9,81)

𝑄2 0,00013245
𝑄2 = 0,00013245 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = 8,992×10−5 = 1,4729 ℎ1 = 0,278 𝑚

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,155 − 0,278 = −0,123 𝑚

ℎ𝑛−ℎ1 −0,123
 𝑣22
= 1,47292
= −1,119
2𝑔 2(9,81)

𝑄3 0,000143062
𝑄3 = 0,000143062 𝑣2 = 𝐴(𝐷) = = 1,59098 ℎ1 = 0,265 𝑚
8,992×10−5

 ℎ𝑛 − ℎ1 = 0,12 − 0,265 = −0,145 𝑚

ℎ𝑛 − ℎ1 −0,145
2 = = −1,125
𝑣2 1,590982
2𝑔 2(9,81)

Grafik 7.1. Hubungan debit terhadap Cd


Hubungan Q terhadap Cd
0.94
0.928271799
0.93

0.92 0.9152909

0.91
Cd

0.9

0.89 0.884247649

0.88

0.87

0.86
9.66184E-05 0.00013245 0.000143062
Q

Anda mungkin juga menyukai