Anda di halaman 1dari 28

Bailey MCQ (Bab 8)

Pengobatan Gangguan Tidur

1. Accurate diagnosis of obstructive sleep apnea {OSA) can best be made by:?

(Diagnosis akurat dari Obstructive Sleep Apne (OSA) paling baik dibuat dengan:)

A. A carefl history with a complete review of systems (Riwayat perawatan dengan

tinjauan lengkap sistem)

B. Bed partner history (Riwayat pasangan tempat tidur

C. Physical examination of the upper airway (Pemeriksaan fisik jalan nafas bagian

atas)

D. Home sleep study or an in-lab polysomnogram (Studi tidur di rumah atau

polisomnogram di laboratorium

Ket:

Answer: D. The physician's subjective impression of the presence or absence of a

sleep disorder is inaccurate. The gold standard test for OSA is a sleep study. PAG E

2152

Jawaban D. Kesan subjektif dokter tentang ada atau tidaknya gangguan tidur tidak

akurat. Tes standar emas untuk OSA adalah studi tidur HALAMAN 2152
2. Approximately what percentage of patients with obstructive sleep apnea (OSA) have

another coexisting sleep medicine disorder that may be contributing to their

symptoms? (Kira-kira berapa persentase pasien dengan Obstructive Sleep Apnea

(OSA) yang memiliki gangguan tidur lain yang mungkin berkontribusi terhadap

gejala mereka?)

A. 2%

B. 10%

C. 20%

D. 33%

E. 67%

Ket:

Answer: D. Restless leg syndrome and insomnia are commonly associated with OSA;

about one-third of patients may have one of these sleep disorders. These and other

sleep pathologies may contribute to symptoms. PAGE 21 86

Jawaban: D. Restless leg syndrome dan insomnia biasanya berhubungan dengan

OSA; sekitar sepertiga dari pasien mungkin memiliki salah satu dari gangguan tidur

ini. Ini dan patologi tidur lainnya dapat menyebabkan gejala. HALAMAN 2186
3. What is the estimated prevalence of snoring in middle-aged men? (Berapa perkiraan

prevalensi mendengkur pada pria paruh baya?)

A. 10%

B. 20%

C. 30%

D. 50%

Ket:

Answer: D. The Wisconsin Sleep Cohort Study reported 5 1 % of middle-aged men

snore.

For middle-aged women, it is 3 1 %. PAG E 2191

Jawaban: D. The Wisconsin Sleep Cohort Study melaporkan 5 1% pria paruh baya

mendengkur. Untuk wanita paruh baya, 3 1%. PAG E 2191

4. In patients with obstructive sleep apnea who have a deviated nasal septum and

symptomatic nasal obstruction, nasal surgery has been shown to consistently improve

all of the following except: (Pada pasien dengan Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang

memiliki deviasi septum nasi dan gejala obstruksi hidung, operasi hidung telah

terbukti secara konsisten memperbaiki semua hal berikut kecuali:)

A. Subjective sleep quality (Kualitas tidur subyektif)


B. Daytime sleepiness (Kantuk di siang hari)

C. Snoring (mendengkur)

D. Apnea-hypopnea index (AHI)

E. Disease-specifc and general health quality-of-life measures (Pengukuran kualitas

hidup berkaitan dengan penyakit spesifik dan kesehatan secara umum)

Ket:

Answer: D. Improved nasal airway reportedly results in objective improvement in all

parameters except a statistically signifcant reduction in the AHI. PAGE 2193

Jawaban: D. Perbaikan jalan nafas nasal dilaporkan menghasilkan perbaikan obyektif

pada semua parameter kecuali penurunan AHI yang signifikan secara statistik.

HALAMAN 2193

5. In obstructive sleep apnea patients, the most effective method of assessing and

following adherence to positive pressure therapy is: (Pada pasien apnea tidur

obstruktif, metode yang paling efektif untuk menilai dan mengikuti terapi tekanan

positif adalah:)

A. Patient self-report.(Laporan diri pasien)

B. Asking the bed partner (Meminta pasangan tidur)

C. Asking the bed partner (Perangkat lunak pemantauan kartu data)


D. Epworth Sleepiness scale (ESS)

E. Sleep diary (Buku harian tidur)

Ket:

Answer: C. Data card monitoring with the use of smart cards or Web-based

technology provides the most accurate information on compliance. (PAGE 2178) The

ESS is diagnostic and does not provide information about compliance. Answers A, B,

and E are not reliable information compared to the information from continuous

positive airway pressure machine usage report.

Jawaban: C. Pemantauan kartu data dengan menggunakan kartu pintar atau teknologi

berbasis web memberikan informasi kepatuhan yang paling akurat. (HALAMAN

2178) ESS bersifat diagnostik dan tidak memberikan informasi tentang kepatuhan.

Jawaban A, B, dan E bukanlah informasi yang dapat diandalkan dibandingkan dengan

informasi dari laporan penggunaan mesin CPAP

6. In patients with poor continuous positive airway pressure (CPAP) compliance and

nasal obstruction, lowering nasal resistance with surgical therapy has been shown to:

(Pada pasien dengan pematuhan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) yang

buruk dan obstruksi hidung, menurunkan resistensi hidung dengan terapi bedah telah

terbukti:)
A. Improve CPAP compliance (Meningkatkan kepatuhan CPAP)

B. Lower the apnea-hypopnea index (Menurunkan indeks apnea-hipopnea)

C. Lower CPAP pressure requirements (Kebutuhan tekanan CPAP lebih rendah)

D. Both A and C (A dan C benar)

E. All of the above (Semua hal di atas benar)

Ket:

Answer: D. Multiple studies demonstrate the potential of nasal airway surgery to

improve comfort and reduce required pressure for CPAP users. PAGE 2194

Jawaban: D. Berbagai penelitian menunjukkan potensi operasi saluran napas hidung

untuk meningkatkan kenyamanan dan mengurangi tekanan yang diperlukan bagi

pengguna CPAP. HALAMAN 2194.

7. A 56-year-old man with excessive daytime sleepiness and loud snoring is diagnosed

with severe obstructive sleep apnea (OSA) (respiratory disturbance index = 65) by

polysomnography. Best first-line treatment is: (Pria 56 tahun dengan kantuk

berlebihan di siang hari dan menggorok yang keras didiagnosis dengan OSA berat (

indeks gangguan nafas = 65) pada polisomnografi. Pilihan terapi awal yang paling

baik adalah)?)

A. Positional therapy (Terapi posisi)


B. Positive airway pressure treatment (Pengobatan tekanan jalan nafas positif)

C. Surgical intervention (Intervensi bedah)

D. Oral appliance therapy (Terapi alat oral)

Ket:

Answer: B. Positive airway pressure such as continuous positive airway pressure is

the frst-line therapy in the care of severe OSA. PAGES 2170-21 71

Jawaban: B. Tekanan jalan nafas positif seperti tekanan jalan nafas positif terus

menerus merupakan terapi lini pertama dalam perawatan OSA berat. HALAMAN

2170-2171.

8. Rounding of the inferior rectus on CT imaging is predictive of: (Inferior rectus yang

membulat pada pemeriksaan CT menunjukan?)

A. It is primarily used as adjunct therapy for patients with failed adenotonsillectomy

(Ini terutama digunakan sebagai terapi tambahan untuk pasien dengan

adenotonsilektomi yang gagal)

B. The delivery system in children is usually an oral mask (Sistem penyampaian pada

anak-anak biasanya menggunakan masker oral)

C. The delivery system in children is usually an oral mask (Banyak anak

menghentikan CPAP karena tidak efektif.)


D. Titration of the CPAP should not be performed during polysomnography. (Titrasi

CPAP sebaiknya tidak dilakukan selama polisomnografi.)

Ket:

Answer: A. The treatment of choice for most children with obstructive sleep apnea

(OSA) is adenotonsillectomy. CPAP is used adjunctively with persistent OSA. PAGE

2224

Jawaban: A. Perawatan pilihan untuk kebanyakan anak dengan obstructive sleep

apnea (OSA) adalah adenotonsilektomi. CPAP digunakan sebagai tambahan dengan

OSA persisten. HALAMAN 2224

9. Clinical outcomes in the assessment of obstructive sleep apnea (OSA) treatment

include: (Tanda klinis dalam penilaian pengobatan obstructive sleep apnea (OSA) meliputi:

A. Apnea-hypopnea index (Indeks apnea-hipopnea)

B. Daytime sleepiness (Kantuk di siang hari)

C. Airway collapsibilit (Kolapsibilit jalan nafas)

D. Oxygen desaturation (Desaturasi oksigen )

Ket:
Answer: B. OSA is a chronic disease and is rarely "cured. " Obviously, continuous

positive airway pressure relieves, but does not cure, OSA. Resolution of symptoms

after surgery is the most important outcome. PAGE 2210

Jawaban: B. OSA adalah penyakit kronis dan jarang “disembuhkan.” Jelas, CPAP

mengurangi, tetapi tidak menyembuhkan, OSA. Resolusi gejala setelah hasil operasi

adalah hal yang paling penting. HALAMAN 2210

10. What is considered the gold standard for treatment of obstructive sleep apnea in

adults? (Apa yang dianggap sebagai standar emas untuk pengobatan obstructive sleep apnea

pada orang dewasa?)

A. Nasal septoplasty (Septoplasti hidung)

B. Positive airway pressure therapy (Terapi tekanan jalan nafas positif)

C. Uvulopalatopharyngoplasty (Uvulopalatopharyngoplasty)

D. Tongue base reduction therapy (Terapi pengurangan dasar lidah)

Ket:

Answer: B. Surgery has been considered an alternative for patients unable or

unwilling to use positive pressure. PAGE 2192


Jawaban: B. Pembedahan telah dianggap sebagai alternatif bagi pasien yang tidak

mampu atau tidak mau menggunakan tekanan positif. HALAMAN 2192

11. Medical and surgical treatments of symptomatic nasal obstruction in obstructive sleep

apnea (OSA} patients can often lead to? (Perawatan medis dan bedah untuk gejala obstruksi

hidung pada pasien Obstructive Sleep Apnea (OSA) seringkali dapat menyebabkan:)

A. Increased mask leak (Meningkatnya kebocoran masker)

B. Improved continuous positive airway pressure (CPAP) compliance

(Peningkatan kepatuhan CPAP)

C. Resolution of the sleep apnea (Resolusi apnea tidur)

D. Reduced success with oral appliance therapy (Mengurangi keberhasilan dengan terapi

alat oral)

E. Increased CPAP requirements (Peningkatan kebutuhan CPAP)

Ket:

Answer: B. Treatment of nasal obstruction may result in reduced pressure

requirements and more comfortable use of CPAP. Answers A, D, and E are incorrect

since they denote negative results fom nasal obstruction treatment in OSA patients.

PAGES 2179, 2183


Jawaban: B. Pengobatan obstruksi hidung dapat mengurangi kebutuhan tekanan dan

penggunaan CPAP yang lebih nyaman. Jawaban A, D, dan E salah karena

menunjukkan hasil negatif dari pengobatan obstruksi hidung pada pasien OSA.

HALAMAN 2179, 2183

12. Potential major complications afer palatal surgery, such as nasopharyngeal stenosis

and velopharyngeal insufciency, can be best avoided by: (Potensi komplikasi mayor

setelah operasi palatal, seperti stenosis nasofaring dan insufisiensi velofaringeal, dapat dihindari

dengan cara terbaik)

A. Employing mucosal-sparing reconstructive modifcations(Menggunakan

modifikasi rekonstruktif hemat mukosa)

B. Administering perioperative corticosteroids (Pemberian kortikosteroid perioperative)

C. Using cold steel instruments rather than electrocauter (Menggunakan instrumen baja

dingin daripada elektrokauter)

D. Performing nasal surgery at a separate time (Melakukan operasi hidung pada waktu

terpisah)

E. Advancing to a reglar diet as soon as possible postoperatively (Meningkatkan ke diet

reguler sesegera mungkin pasca operasi)

Ket:
Answer: A. Complications are largely attributable to excessive sof tissue removal.

When circumferential sof tissue is removed, stenosis due to contraction may ensue.

PAGE 2197

Jawaban: A. Komplikasi sebagian besar disebabkan oleh pengangkatan jaringan lunak

yang berlebihan ketika jaringan lunak melingkar diangkat, stenosis akibat kontraksi

dapat terjadi. HALAMAN 2197

13. Chronic nasal obstruction and mouth breathing, compared to the normal nasal route

of breathing, are associated with:? (Obstruksi hidung kronis dan pernapasan mulut,

dibandingkan dengan jalur pernapasan hidung normal, berhubungan dengan:)

A. Abnormal sleep architecture (Arsitektur tidur yang tidak normal)

B. Abnormal sleep architecture (Kontinuitas tidur yang tidak normal)

C. Abnormal sleep architecture (Peningkatan kejadian pernapasan obstruktif )

D. Maladaptive craniofacial changes in children (Perubahan maladaptif kraniofasial pada

anak-anak)

E. All of the above (Semua hal di atas)

Ket:

Answer: E. Chronic nasal obstruction impacts sleep in many ways. PAGES 2193-

2194
Jawaban: E. Obstruksi hidung kronis mempengaruhi tidur dalam banyak hal.

HALAMAN 2193-2194

14. Which of the following is a necessary component ofhypopharyngeal airway

evaluation in obstructive sleep apnea? (Manakah dari berikut ini yang merupakan komponen

penting dalam evaluasi jalan napas hipofaring pada Obstructive Sleep Apnea?)

A. Drug-induced sleep endoscopy

B. Magnetic resonance imaging

C. Lateral cephalography

D. Awake fberoptic larngopharyngoscopy

Ket:

Answer: D. All evaluations may contribute to the surgeon's abilit to identif the site of

obstruction during apneic events. Fiberoptic endoscopy is essential. The other testing

may also help plan treatment; however, the flexible endoscopy allows three-

dimensional evaluation. The value of sleep endoscopy and MR remains controversial.

PAG E 2207

Jawaban: D. Semua evaluasi dapat berkontribusi pada kemampuan ahli bedah untuk

mengidentifikasi lokasi obstruksi selama kejadian apnea. Endoskopi fiberoptik sangat

penting. Pengujian lainnya juga dapat membantu merencanakan pengobatan; namun,


endoskopi yang fleksibel memungkinkan evaluasi tiga dimensi. Nilai dari endoskopi

tidur dan MR tetap kontroversial. PAG E 2207.

15. Which of the following is true regarding maxillomandibular advancement for

treatment of obstructive sleep apnea (OSA)? Manakah dari pernyataan berikut yang

benar mengenai kemajuan maxillomandibular untuk pengobatan Obstructive Sleep

Apnea (OSA)?)

A. Studies have only reported short-term outcomes (Penelitian hanya melaporkan

hasil jangka pendek.)

B. Better outcomes have been reported afer greater degrees of advancement

(Hasil yang lebih baik telah dilaporkan setelah tingkat kemajuan yang lebih

tinggi)

C. It is supported by evidence fom a randomized trial. (Didukung oleh bukti dari uji

coba secara acak.)

D. It should never be used as a primary surgical treatment for OSA. (Tdak boleh

digunakan sebagai perawatan bedah utama untuk OSA)

Ket:
Answer: B. Skeletal advancement can improve the airway. Greater advancement is

associated with better results. Studies suggest results are maintained unless there is

weight gain. PAGE 2216.

Jawaban: B. Kemajuan skeletal dapat meningkatkan jalan napas. Kemajuan yang

lebih besar dikaitkan dengan hasil yang lebih baik. Studi menunjukkan hasil

dipertahankan kecuali ada penambahan berat badan. HALAMAN 2216

16. Which of the following is a tongue reduction procedure? (Manakah dari berikut ini

yang merupakan prosedur pengecilan lidah?)

A. Genioglossus advancement (Kemajuan Genioglossus)

B. Hyoid suspension (Suspensi Hyoid)

C. Midline glossectomy (Glosektomi garis tengah)

D. Epiglotoplasti

Ket:

Answer: C. Glossectomy results in tongue reduction. The other procedures reposition

without reducing the sof tissue. PAGES 2210-2214

Jawaban: C. Glossektomi menghasilkan pengurangan lidah. Prosedur lain

memposisikan ulang tanpa mengurangi jaringan lunak. HALAMAN 2210-2214


17. Long-term adherence patterns for continuous positive airway pressure (CPAP) use are

often best predicted and determined: (Pola kepatuhan jangka panjang untuk

penggunaan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) sering kali paling baik

diprediksi dan ditentukan oleh:)

A. By the patient's age, gender, and other demographic information (Berdasarkan

usia pasien, jenis kelamin, dan informasi demografis lainnya)

B. By the patient's body mass index (Dengan indeks massa tubuh pasien)

C. In the sleep laboratory during the CPAP titration (Di laboratorium tidur selama

titrasi CPAP)

D. In the frst week afer initiating CPAP at home (Pada minggu pertama setelah

memulai CPAP di rumah)

E. Afer one year of persistent use (Setelah satu tahun penggunaan terus-menerus)

Ket :

Answer: D. An individual's acceptance and adherence to therapy may be established

shortly afer initiating treatment. Therefore, provision of education with

knowledgeable staff is a key to success. PAGE 2179


Jawaban: D. Penerimaan dan kepatuhan individu terhadap terapi dapat dibentuk

segera setelah memulai pengobatan. Oleh karena itu, penyediaan pendidikan dengan

staf yang berpengetahuan luas merupakan kunci keberhasilan. HALAMAN 2179

18. The most commonly recommended method for diagnosing obstructive sleep apnea

(OSA) in the pediatric patient is?. (Metode yang paling sering direkomendasikan

untuk mendiagnosis Obstructive Sleep Apnea (OSA) pada pasien anak adalah?.)

A. Physical examination (pemeriksaan fisik)

B. Polysomnography (PSG)

C. Cine MRI

D. Multiple sleep latency test (Tes latensi tidur ganda)

Ket:

Answer: B. Physical examination may alert the physician to the possibilit of OSA.

PSG remains the traditional and gold standard for diagnosis. PAGES 2221 -2222

Jawaban: B. Pemeriksaan fisik dapat mengingatkan dokter akan kemungkinan OSA.

PSG tetap menjadi standar tradisional dan emas untuk diagnosis. HALAMAN 2221-

2222
19. For most patients, the preferred and most effective oral appliance currently used in the

management of obstructive sleep apnea is a:? (Untuk kebanyakan pasien, alat oral

pilihan dan paling efektif yang saat ini digunakan dalam pengelolaan apnea tidur

obstruktif adalah:

A. Mandibular repositioning appliance (Alat reposisi mandibular)

B. Mandibular repositioning appliance (Alat penahan lidah)

C. Sof palate advancement device (Alat memajukan palatum mole)

D. Palatal expander (Ekspander palatal)

E. Prefabricated thermoplastic splint

Answer: A. The mandibular repositioning appliance is by far the most commonly

employed. Data suggest these appliances to be most effective. PAGES 21 80-21 81

Jawaban: A. Alat reposisi mandibula adalah yang paling umum digunakan. Data

menunjukkan bahwa peralatan ini paling efektif. HALAMAN 2180-2181


20. In the population of patients with obstrctive sleep apnea (OSA), what is the most

common site of obstruction? (Pada populasi pasien dengan Obstructive Sleep Apnea

(OSA), di mana lokasi obstruksi yang paling umum?

A. Nasals (hidung)

B. Retropalatal (retropalatal)

C. Retrolingual (retrolingual)

D. Multilevel (bertingkat)

Ket:

Answer: D. Multilevel obstruction, including retropalatal and retrolingual is present in

70% to 80% of patients with OSA. PAGE 2191

Jawaban: D. Obstruksi multilevel, termasuk retropalatal dan retrolingual terjadi pada

70% sampai 80% pasien OSA. HALAMAN 2191

21. Which of the following most accurately describes cine MRI? (Manakah dari berikut

ini yang paling akurat menggambarkan cine MRI?)

A. It provides a high-resolution view of the static airway (Memberikan tampilan

resolusi tinggi dari jalan napas statis.)

B. It produces only a small amount of radiation exposure (Menghasilkan sejumlah

kecil paparan radiasi.)


C. It is particularly helpfl for multiple sites of obstruction. (Sangat membantu

untuk beberapa situs obstruksi.)

D. It is routinely performed on children without sedation (Prosedur ini rutin

dilakukan pada anak-anak tanpa sedasi)

Ket:

Answer: C. The cine MRI displays the airway like a "real-time movie, " allowing for

evaluation ofobstruction. It requires sedation and, ofcourse, has no radiation exposure.

PAGE 2227

Jawaban: C. MRI cine menampilkan jalan napas seperti "film real-time," yang

memungkinkan untuk evaluasi obstruksi. Ini membutuhkan sedasi dan, tentu saja,

tidak memiliki paparan radiasi. HALAMAN 2227

22. In the majority of obstructive sleep apnea patients who fail to improve afer traditional

uvulopalatopharyngoplasty (UPPP), which is the primary anatomical location of the

persistent obstruction? (Pada sebagian besar pasien Obstructive Sleep Apnea yang gagal

membaik setelah uvulopalatofaringoplasti (UPPP) tradisional, manakah lokasi

anatomi utama dari obstruksi persisten?)

A. Nose (hidung)

B. Palate (palatum)
C. Tonsils

D. Tongue (lidah)

E. Epiglotis

Ket:

Answer: B. Studies have reported that residual retropalatal obstruction was observed

in over 80% following traditional UPPP. PAGES 21 95-2196

Jawaban: B. Penelitian telah melaporkan bahwa obstruksi retropalatal sisa diamati

pada lebih dari 80% setelah UPPP tradisional. HALAMAN 21 95-2196

23. Which of the following is the best predictor of the presence of obstructive sleep apnea

(OSA) in an adult? (Manakah dari berikut ini yang merupakan prediktor terbaik dari

adanya Obstructive Sleep Apnea (OSA) pada orang dewasa?)

A. Epworth sleepiness score > 1 0

B. Neck circumference > 17 inches (Lingkar leher> 17 incH)

C. A history of snoring (Riwayat mendengkur)

D. A history of frequent nighttime awakening (Riwayat sering terbangun di malam

hari)

Ket:
Answer: B. The diagnosis of OSA is best made with a polysomnogram (PSG) . Neck

circumference > 1 7 inches (or 14.5 inches in women) is the best prediction in this

question. Other problems such as insufcient sleep may influence the Epworth score.

PAGES 2151-21 52

Jawaban: B. Diagnosis OSA paling baik dilakukan dengan polisomnogram (PSG).

Lingkar leher> 1 7 inci (atau 14,5 inci pada wanita) adalah prediksi terbaik dalam

pertanyaan ini. Masalah lain seperti kurang tidur dapat memengaruhi skor Epworth.

HALAMAN 2151-2152

24. The American Academy of Pediatrics recommends postoperative admission for

patients in the "at-risk" group. Which of the following patients should be admitted

overnight postoperatively? (American Academy of Pediatrics merekomendasikan

perawatan pasca operasi untuk pasien dalam kelompok "berisiko". Manakah dari

pasien berikut yang harus dirawat inap setelah operasi?)

A. Children who had a previous postpartum neonatal intensive care unit stay for

jaundice (Anak-anak yang pernah menjalani perawatan di unit perawatan intensif

neonatal postpartum karena ikterik)

B. Children with moderate obstructive sleep apnea on polysomnography (Anak-anak

dengan Obstructive Sleep Apnea sedang pada polisomnografi)


C. Children with medication-controlled asthma (Anak-anak dengan asma yang

terkontrol pengobatan)

D. Children under the age of 3 years (Anak di bawah usia 3 tahun)

Ket:

Answer: D. The guidelines call for monitoring in hospital ofhigh-risk groups, such as

morbidly obese children and those with craniofacial disorders, including those under

age 3. PAGE 2226

Jawaban: D. Pedoman tersebut menyerukan pemantauan di rumah sakit terhadap

kelompok-kelompok berisiko tinggi, seperti anak-anak dengan obesitas yang tidak

sehat dan mereka yang mengalami gangguan kraniofasial, termasuk mereka yang

berusia di bawah 3 tahun. HALAMAN 2226

25. The mechanisms by which increased body weight plays an important role in

hypopharyngeal obstruction include: (Mekanisme peningkatan berat badan

memainkan peran penting dalam obstruksi hipofaring meliputi:)

A. Increase in sof tissue mass (Peningkatan massa jaringan lunak)

B. Enlargement of lingual tonsils (Pembesaran tonsila lingualis)

C. Enlargement of palatine tonsils (Pembesaran tonsila palatine)

D. Change in mandible position (Perubahan posisi mandibular)


Ket:

Answer: A. There is good evidence that weight gain results in fat deposits in the

tongue and pharnx. This appears to exacerbate the problem of sof tissue collapse.

PAGE 2206

Jawaban: A. Ada bukti kuat bahwa penambahan berat badan menyebabkan timbunan

lemak di lidah dan faring. Hal ini tampaknya memperburuk masalah kolaps jaringan

lunak. HALAMAN 2206

26. What factors correlate with relief of obstructive sleep apnea (OSA) afer

uvulopalatopharyngoplasty (UPPP)? (Faktor-faktor apa yang berkorelasi dengan

meredakan Obstructive Sleep Apnea (OSA) setelah uvulopalatopharyngoplasty

(UPPP)?)

A. Small tonsils, small tongue (Tonsil kecil, lidah kecil)

B. Small tonsils, large tongue(Tonsil kecil, lidah besar)

C. Large tonsils, large tongue (Tonsil besar, lidah besar)

D. Large tonsils, small tongue (Tonsil besar, lidah kecil)

Ket:
Answer: D. The Mallampati and Friedman systems emphasize how removal of large

tonsils in the setting of a normal (small) tongue is a highly reliable predictor ofUPPP

success.

The presence of a large tongue or OSA in a patient with small tonsils suggests a

retrolingual site of obstruction. PAGE 2196

Jawaban: D. Sistem Mallampati dan Friedman menekankan bagaimana pengangkatan

tonsil besar dalam keadaan lidah normal (kecil) adalah prediktor yang sangat andal

untuk keberhasilan UPPP.

Adanya lidah besar atau OSA pada pasien dengan tonsil kecil menunjukkan adanya

obstruksi retrolingual. HALAMAN 2196

27. The most common cause of excessive daytime sleepiness in the United States is:

(Penyebab paling umum dari kantuk di siang hari yang berlebihan di Amerika Serikat

adalah:yang benar?)

A. Obstructive sleep apnea

B. Restless leg syndrome

C. Insomnia

D. Insufcient sleep (kurang tidur)

Ket:
Answer: D. There are over 80 specifc sleep disorders currently classifed. The most

common cause of daytime sleepiness remains basic sleep deprivation. PAGE 2152

Jawaban: D. Ada lebih dari 80 gangguan tidur spesifik yang saat ini diklasifikasikan.

Penyebab paling umum dari kantuk di siang hari adalah kekurangan tidur dasar.

HALAMAN 2152

28. Which type of palatal surgery is uniquely suited to address an obliquely oriented

palate with a large lateral wall component and a circumferential patern of obstruction?

(Operasi palatal manakah yang secara unik cocok untuk mengatasi palatum yang

berorientasi miring dengan komponen dinding lateral yang besar dan pola obstruksi

melingkar?)

A. Traditional uvulopalatopharyngoplast (UPPP)

B. Uvulopalatal flap modification

C. Expansion sphincter pharyngoplasty

D. Anterior palatoplasty

E. Transpalatal advancement

Ket:

Answer: C. Expansion pharyngoplast is specifcally tailored to patients with an

obliquely oriented palate who may fail UPPP. PAGE 2199


Jawaban: C. Faringoplasti ekspansi secara khusus dirancang untuk pasien dengan

orientasi langit-langit miring yang mungkin gagal UPPP. HALAMAN 2199

29. Portable or home sleep testing for the diagnosis of obstructive sleep apnea is most

appropriate for which of the following adult patients? (Apakah tes tidur portabel atau

rumah yang paling sesuai untuk diagnosis Obstructive Sleep Apnea pada pasien

dengan kondisi ?)

A. Patient with a recent cardiovascular accident (Pasien dengan kecelakaan

kardiovaskular baru-baru ini)

B. Patient with a history of snoring and hypertension (Pasien dengan riwayat

mendengkur dan hipertensi)

C. Patient with severe congestive heart failure (Pasien dengan gagal jantung

kongestif berat)

D. Patient with severe chronic obstructive pulmonary disease (Pasien dengan

penyakit paru obstruktif kronik berat)

Ket:

Answer: B. A monitored sleep study measures more parameters and allows for

intervention during the study. Portable evaluation is best suited to assessment in the

nonacute setting. PAGE 2170


Jawaban: B. Studi tidur yang dipantau mengukur lebih banyak parameter dan

memungkinkan adanya intervensi selama studi. Evaluasi portabel paling cocok untuk

penilaian dalam pengaturan nonakut. HALAMAN 2170

30. The frst-line treatment for obstructive sleep apnea {OSA) in the pediatric patient with

moderate OSA should be? (terapi utama untuk OSA pada pasien anak dengan OSA

sedang adalah?)

A. Weight loss (Penurunan berat badan)

B. Continuous positive airway pressure

C. Adenotonsillectomy

D. Medical therapy (Terapi medis)

Ket:

Answer: C. Adenotonsillectomy is the treatment of choice for most children. Morbid

obesity and craniofacial anomaly represent a more difcult-to-treat population. PAGE

2225.

Jawaban: C. Adenotonsilektomi adalah pengobatan pilihan bagi kebanyakan anak.

Obesitas morbid dan anomali kraniofasial mewakili populasi yang lebih sulit diobati.

HALAMAN 2225.