Anda di halaman 1dari 2

Menyoal Istighatsah

Barangkali anda pernah mendengar sebagian orang yang menyoal perihal amaliyah
istighatsah. Mereka beranggapan bahwa praktik istighatsah yang banyak dilakukan itu
merupakan praktik yang mengandung unsur kesyirikan. Karena didalamnya terdapat unsur
meminta pertolongan kepada selain Allah Swt. Mereka biasanya bertendensi pada hadis:

َ ‫إِ َذا َسأ َ ْلتَ َفاسْ أ َ ِل‬


ِ ‫هللا َوإِ َذا اسْ َت َع ْنتَ َفاسْ َتعِنْ ِبا‬
( ّ‫هلل (رواه الترمذي‬
“Ketika engkau hendak meminta sesuatu, maka mintalah kepada Allah. Dan Apabila engkau
meminta pertolongan, maka minta tolonglah kepada Allah” (HR. Turmudzi)
Dalam memahami hadis ini, mereka hanya berfokus pada makna letterlijk dari hadis
tersebut. Tidak boleh meminta tolong selain kepada Allah Swt. tentu pemahaman seperti ini,
sangatlah rawan dan membahayakan. Jika seperti itu, maka kita tidak boleh meminta
pertolongan kepada manusia secara mutlak. Padahal dalam realita kehidupan, seringkali
kita lebih sering meminta bantuan mereka. Dalam hal apapun. Tentu yang dimaksud hadis
ini tidaklah demikian.
Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitab Mafahim yang
dikehendaki dalam hadis tersebut adalah peringatan agar manusia tidak lalai kepada Allah.
Pada hakikatnya semua bantuan dan pertolongan manusia pada hakikatnya adalah
pertolongan dari Allah. Sehingga ketika kita hendak meminta tolong kepada manusia, kita
juga mesti ingat semua itu berasal dari Allah Swt.
Tidak cukup sampai disitu, biasanya mereka juga mengutip dan memaknai
sesukanya hadis nabi. Tepatnya ketika para sahabat mendapatkan intimidasi dan ancaman
yang cukup serius dari orang munafik. Merasa terancam Abu Bakar berinisiatif mengajak
para sahabat untuk meminta pertolongan kepada Nabi Muhammad Saw.
“Marilah bersama-sama kita memohon pertolongan kepada Nabi SAW dari si
munafik itu,” ajak Abu Bakar. Nabi pun menjawab:
‫إنه ال يستغاث بي وإنما يستغاث باهلل‬
“Sesungguhnya saya tidak bisa dijadikan tempat untuk memohon. Hanya Allah lah
yang menjadi tempat memohon.” (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir)
Dari sini mereka menjadikan pedoman bahwa yang patut dijadikan tenpat
pertolongan hanya Allah Swt. Tentu yang dikehendaki hadis tersebut tidaklah demikian.
Dalam melihat hadis ini kita harus melihatnya secara utuh. Memang secara tekstual, nabi
secara jelas melarang para sahabat untuk meminta pertolongan kepada beliau. Namun,
bukan berarti beliau melarang meminta tolong kepada beliau secara mutlak. Buktinya dalam
lain kesempatan ketika para sahabat memohon do’a kepada beliau dan meminta hujan
lewat beliau, Nabi mengabulkan dan mendoakannya.
Kalau dilihat dari konteksnya, mengapa nabi melarang Abu Bakar dan sahabat untuk
meminta tolong kepada beliau? jawabannya adalah dalam situasi tersebut beliau sudah
tidak mampu. Artinya yang bisa menolong sahabat pada saat itu hanyalah Allah Swt. Nah,
hal-hal yang sudah diluar kemampuan nabi itulah yang hendaknya kita langsung meminta
pertolongan kepada Allah Swt. Seperti memohon diselamatkan dari neraka, dimasukkan
surga.
Pengertian Istighatsah
Istighatsah sendiri berasal dari suku kata al-Ghauts yang berarti pertolongan. Lantas
menjadi istighatsah yang dalam gramatika arab mempunyai arti meminta pertolongan. Jika
kita tilik pada praktek istighatsah yang berkembang dimasyarakat secara umum. Istighatsah
adalah suatu doa yang dilakukan untuk meminta pertolongan kepada Allah Swt ketika
kondisi susah atau sulit baik dilakukan secara individu maupun kolektif.
Dalam prakteknya masyarakat dalam berdoa, bacaan yang dibaca pun beragam.
Mulai al-asma'ul husna, istighfar, shalawat, takbir, tahlil, hawqalah, hingga tawassul kepada
para Wali dan Nabi Muhammad.
Jika dimuka telah disinggung perihal argumen yang menolak istighotsah sangatlah
tidak tepat dan lemah. Lantas apa dalil yang memperbolehkan kita untuk melakukan
istighatsah. Dan bagaimana hukumnya beristighatsah atau meminta pertolongan kepada
selain Allah Swt?
Beristighatsah kepada selain Allah Swt hukumnya boleh, dengan meyakini bahwa
makhluk yang dimintai pertolongan adalah sekadar sebab atau lantaran.
Istighotsah sebenamya sama dengan berdoa akan tetapi bila disebutkan kata
istighotsah konotasinya lebih dari sekedar berdoa, karena yang dimohon dalam istighotsah
adalah bukan hal yang biasa biasa saja. Oleh karena itu, istighotsah sering dilakukan secara
kolektif dan biasanya dimulai dengan wirid-wirid tertentu, terutama istighfar, sehingga Allah
Swt berkenan mengabulkan permohonan itu.
Nabi Muhammad Saw pun dalam suatu kesempatan pernah beristighatsah.

ُ ‫ يا حيُّ يا قيّوم ِبرحْ متِك اسْ تغي‬:‫ُ َكان ال ّنبي إذا َكربه أم ٌر قال‬
‫ْث‬
Artinya, "Rasulullah SAW itu jika menemukan kesulitan berdoa,’Wahai Allah Zat
Yang Maha Hidup, Wahai Zat Yang Maha Mengurus Segala Sesuatu, dengan rahmat-Mu
aku memohon pertolongan," (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan Al-Bazzar).
Hadis lain yang menunjukkan keabsahan melakukan istighatsah atau meminta
pertolongan kepada selain Allah Swt adalah Hadis Al-Bukhori:

ُ ‫ َف َب ْي َن َما ُه ْم َك َذل َِك اسْ َتغ‬,‫ف اأْل ُ ُذ ِن‬


‫َاث ْوا ِبآ َد َم ُث َّم ِبم ُْو َسى ُث َّم ِبم َُح َّم ٍد‬ َ ْ‫مْس َت ْد ُن ْو َي ْو َم ْالقِ َيا َم ِة َح َّتى َي ْبلُغَ ْال َع َر ُق نِص‬
rَ ‫إنَّ ال َّش‬

Matahari akan mendekat ke kepala manusia di hari kiamat, sehingga keringat


sebagian orang keluar hingga mencapai separuh telinganya, ketika mereka berada pada
kondisi seperti itu mereka beristighotsah (meminta pertolongan) kepada Nabi Adam,
kemudian kepada Nabi Musa kemudian kepada Nabi Muhammad. (H.R.al Bukhari)
Dari hadis ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa meminta pertolongan kepada
selain Allah Swt adalah boleh. Asalkan dengan keyakinan bahwa seorang nabi atau wali
hanya sebab dan semua pertolongan itu murni berasal dari Allah. Terbukti ketika manusia di
padang mahsyar terkena terik panasnya sinar Matahari mereka meminta tolong kepada para
Nabi. Kenapa mereka tidak berdoa kepada Allah Swt saja dan tidak perlu mendatangi para
nabi tersebut? Seandainya perbuatan ini adalah syirik niscaya mereka tidak melakukan hal
itu dan jelas tidak ada dalam ajaran Islam suatu perbuatan yang dianggap syirik.