Anda di halaman 1dari 2

Logika Priuk Beranak

Syahdan, pada suatu hari, Mulah Nasruddin Hoja, karena suatu keperluan, meminjam priuk kepada
salah seorang tetangganya. Ketika mengembalikan benda itu, seraya mengucapkan terima kasih, ia
memasukkan serta panci kecil ke dalamnya. Si empunya priuk pun merasa heran dengan keberadaan
panci tersebut, dan menanyakannya. “Alhamdulillah,” jawab Mulah Nasruddin. “Priukmu melahirkan
panci itu dengan selamat di rumahku.” Jawaban itu tentu saja tidak dapat menepis keheranan si
tetangga, namun toh orang itu tetap membawa priuk berserta “anaknya” masuk ke dalam rumah, tentu
sembari menertawakan kedunguan Sang Mulah.

Pada kesempatan lain, Mulah meminjam priuk yang sama. Namun, kali ini ia tidak kunjung
mengembalikannya, sampai si tetangga merasa geram dan datang sendiri ke rumah Sang Mulah untuk
mengambilnya. Begitu melihat orang itu di depan pintu, Mulah Nasruddin seketika memasang tampang
sedih. Dengan tangis yang tampak nyata dibuat-buat Sang Mulah meminta maaf, dan mengatakan
bahwa priuk si tetangga telah meninggal dunia. “Sejak kapan priuk bisa mati!” teriak si tetangga, dengan
suara berdesis dan muka merah padam. Sang Mulah pun menghentikan tangis pura-puranya, dan
dengan lugas dan datar menjawab: “Sejak mereka bisa melahirkan.”

Cerita di atas telah masyhur dinisbakan kepada Mulah Nasruddin Hoja. Kisah itu banyak dikutip dalam
buku-buku himpunan kisah humor sufi yang mengambil Sang Mulah sebagai tokoh utama. Kisah yang
sama, barangkali dengan susunan dan narasi berbeda, juga banyak berserak di laman-laman internet.
Mengutipnya, sekali lagi, dalam tulisan ini tentu tidak akan menjadi masalah. Lagi pula dalam situasi kita
sekarang ini humor segar yang lucu menjadi kebutuhan pokok bagi banyak orang, tentu saja, setelah
kiriman jatah sembako, bantuan langsung tunai dan subsidi tarif dasar listrik.

Tak terhitung jumlahnya referensi -dalam buku, jurnal maupun artikel internet -yang menyatakan
pentingnya humor bagi kesehatan dan kewarasan manusia. Satu tambahan referensi lagi dalam tulisan
ini, kiranya, tidak akan menambah kadar asin air laut. Dikutip dari ceramah Dr. Fachruddin Faiz di
Channel Youtube-nya, Imam Abu Hayyan at-Tauhidy, dalam al-Bashair wa al-Dakhair, mengatakan:

“Jangan engkau jauhkan dirimu dari mendengar sesuatu tentang kejadian sederhana yang lucu, sebab
bila engkau tidak mau memperhatikannya, maka pemahamanmu akan menjadi picik dan watakmu
menjadi kurang tanggap, dan bila engkau tidak mampu menikmati segarnya humor, awan kelabu
kehidupan yang serius bakal menghancurkan dirimu.”

Masih dari Channel yang sama, Dr. Fachruddin menyatakan bahwa humor sufi dapat bekerja pada
mekanisme diri manusia sebagai penggugah pikiran, alat motivasi dan introspeksi diri, kritik terhadap
situasi dan kondisi zaman dan, tentu saja, sebagai dakwah.

Kisah Priuk Beranak di atas masuk dalam katagori humor sufi. Tidak ada khilaf (perbedaan pendapat)
soal itu. Tentang apakah kisah itu lucu dan segar ataukah garing dan basi, itu baru relatif, tergantung
kepada siapa dan dalam situasi apa ia disampaikan.
Kalaupun, misalnya, anda telah membaca atau mendengar kisah itu sebanyak 149 kali dan karenanya
sudah tidak lagi dapat merasakan kelucuan dan kesegarannya, paling tidak, anda dapat memetik hikmah
dan merenungkan makna di balik kisah tersebut. Meskipun begitu, berusahalah untuk tetap rileks dan
tidak sepaneng saat merenung atau mendalami maknanya. Karena, justru akan tampak menggelikan
dan bukan tidak mungkin bakal menjadi cerita lucu lainnya ketika anda membaca kisah humor dengan
paras tegang dan pikiran sepaneng.

Cerita yang baik, anda tahu, akan selalu memperbaharui dirinya sendiri. Ia akan mengonteks dalam
segala situasi dan bertahan dalam lintasan zaman. Kisah-kisah Mulah Nasruddin, kita tahu, telah
membuktikan diri sebagai cerita yang baik. Ia tetap relevan dikisahkan pada masa sekarang, berabad-
abad sejak pertama kali dituturkan. Bahkan kebanyakan kita, yang membaca kisah-kisah itu, barangkali
tidak peduli dan tidak pernah mempersoalkan siapa yang pertama kali merawinya, dan apakah orang itu
telah cukup siqoh dan memenuhi syarat sebagai perawi cerita humor?

Kisah Priuk Beranak diangkat dalam tuisan ini bukan tanpa pertimbangan. Kisah itu relevan untuk
menggambarkan kondisi manusia yang hidup pada masa sekarang. Disadari atau tidak cerita itu adalah
cermin yang menampilkan wajah kebanyakan kita dewasa ini.

Dr. Fachruddin Faiz, dalam ceramahnya, menyampaikan setidaknya ada dua pelajaran berharga yang
dapat kita ambil dari kisah Priuk Beranak. Pertama, kisah itu menggambarkan dengan persis bagaimana
kehidupan kebanyakan kita dibentuk dan mengikuti aturan berdasar suka dan tidak suka, alih-alih oleh
kebenaran yang kita yakini. Bukankah selama ini pertimbangan kebanyakan kita, dalam menilai sesuatu,
cenderung berdasar pada untung dan rugi, dan bukan benar dan salah. Dengan logika apapun orang
tidak mungkin dapat menerima priuk yang dapat beranak sebagai kebenaran. Namun karena hal itu
menguntungkan maka orang dapat dengan mudah dapat menerimanya. Dengan pertimbangan yang
sama kebanyakan kita dapat dengan enteng saja menerima dan kemudian menyebarkan berita palsu
-betapapun mustahilnya -asalkan menguntugkan atau setidaknya merugiakan pihak lain.

Kedua, kisah itu menggabarkan kecenderungan dan watak akal kebanyakan kita. Fungsi akal sehat
kebanyakan kita biasanya datang belakangan untuk menjustifikasi kepentingan kita. Jika akal kita hadir
sejak semula dan mengikuti jalan peristiwa secara tertib tentu kita tidak akan tersinggung dan
memuncak ketika menerima kabar kematian priuk. Sebab, secara logika, priuk yang bisa beranak tentu
bisa juga meninggal dunia. Jika kebanyakan kita dapat menerima dan diam saja ketika ada kabar palsu
yang merugikan orang lain, konsekuensi logisnya kita juga harus menerima dan tidak mencak-mencak
ketika ada kabar palsu yang merugikan pihak kita. Sesederhana itu.