Anda di halaman 1dari 3

Pilihan judul dari editor:

Demi Masa, Jangan Mau Jadi Orang Rugi!


atau
Panduan Berniaga Anti Rugi
atau
Panduan Berkelit dari Pailit

‫اص وْ ا‬ ِّ ‫اص وْ ا بِ ْال َح‬


َ ‫ق َوتَ َو‬ َ ‫ت َوت ََو‬ َّ
ِ ‫الص الِ َحا‬ ْ ‫َو ْال َع‬
‫) إِاَّل الَّ ِذينَ آ َمنُ وا َو َع ِملُ وا‬2( ‫) إِ َّن اإْل ِ ْن َس انَ لَفِي ُخ ْس ٍر‬1( ‫ص ِر‬
]3-1/‫) [العصر‬3( ‫صب ِْر‬ َّ ‫بِال‬
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman,
dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati
supaya menetapi kesabaran. (QS. Al Ashr: 1-3)

Ta’wil Ayat
)‫ص ِر‬ ْ ‫ قوله تع الى ( َو ْال َع‬Ulama berbeda pendapat tentang makna al Ashr. Pertama, Al Ashr bermakna
“masa”, berdasarkan riwayat Ibnu Abbas, beliau berkata: “Al Ashr adalah suatu masa di waktu siang.”
Kedua, berdasarkan riwayat Abu Muslim, ‘Ashr bermakna dua sisi waktu di siang hari. Ketiga, berdasarkan
riwayat Hasan Basri,‘Ashr bermakna al-Asyiy, yaitu waktu sore hari, dimulai dari tergelincirnya matahari
sampai terbenam. Senada dengan itu, Imam Qotadah berkata : “Al ‘Ashr adalah akhir waktu di siang hari.”
Keempat, berdasarkan riwayat Muqotil, al Ashr adalah shalat Ashar, yang disebut juga Shalat Wustho.
Sedangkan pendapat kelima menyatakan al Ashr adalah masa kehidupan Nabi SAW.
Dari sekian pendapat, Ibnu Jarir menyatakan makna al ‘Ashr adalah seluruh waktu, baik sore, siang
maupun malam, dan tidak terkhusus pada waktu tertentu. Lebih luas lagi, Ibnu Katsir berpendapat bahwa al
‘Ashr adalah seluruh waktu di mana bani adam melakukan amal perbuatannya, mulai dari manusia pertama
hingga yang terakhir.
Begitu pentingnya masa, sehingga Allah SWT bersumpah atasnya. Bilangan masa tidak lain adalah
bilangan usia manusia. Setiap detik masa yang terlewat secara pasti akan mengurangi bagian usia manusia,
membawanya semakin dekatnya kepada ajal. Al Qurtubi menyatakan sumpah atas masa adalah pengingat
agar manusia mengolah dan memanfaatkan waktunya hanya unuk hal-hal berguna, sekaligus sebagai
petunjuk yang nyata tentang adanya Sang Maha Pencipta.
)‫ْر‬ٍ ‫ قوله تعالى (إِ َّن اإل ْن َسانَ لَفِي ُخس‬Ibnu Jarir memberikan arti ‫صان‬َ ‫( إِ َّن ا ْبنَ آ َد َم لَفِي هَلَ َك ٍة َونُ ْق‬sesungguhnya
anak cucu Adam selalu dalam kerusakan dan kekurangan). Yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang
kafir. Hal itu ditunjukkan oleh adanya pengecualian pada ayat setelahnya. Arti dari kata Khusr adalah
kerusakan dan kekurangan atau bisa jiga disebut sedang berada dalam kerugian yang besar. Al Baghowi
mengatakan : al Khusron adalah hilangnya harta pokok (modal) yang dimiliki oleh seseorang. Dengan
demikian, orang-orang itu merusak badan dan usianya dengan kemaksiatan. Kita tahu, badan dan usia adalah
dua harta terbesar yang dimiliki oleh manusia. Keduanya menjadi modal utama manusia untuk mendapatkan
keberuntungan dan kebahagiaan yang abadi. Diriwayatkan dari Abu Ishaq, Amr bin Dzimurr mengatakan:
”Aku mendengar Ali RA membaca seperti ini ‫ َوإِنَّهُ فِ ْي ِه إِلَى آ ِخ ِر‬،‫ْر‬ ٍ ‫ إِ َّن ْا ِإل ْن َسانَ لَفِي ُخس‬،‫ب ال َّد ْه ِر‬ ِ ِ‫َو ْال َعصْ ِر َون ََوائ‬
‫( “ ال َّد ْه ِر‬demi masa, dan pengganti masa, sesungguhnya manusia selalu berada pada kerugian dan
dia selalu berada di dalam kerugian itu sampai akhir masa).
)‫ قوله تعالى (إِاَّل الَّ ِذينَ آ َمنُوا‬Kecuali orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang membenarkan Allah,
SWT mengesakan-Nya, mengakui bahwa Allah SWT adalah satu dan taat kepadanya. Mereka juga
mengimani tentang malaikat Allah SWT, para rasul Allah SWT, kitab-kitab suci Allah SWT, hari akhir, dan
qodar Allah SWT, yang baik maupun sebaliknya.
ِ ‫ قوله تعالى ( َو َع ِملُوا الصَّالِ َحا‬dan mereka beramal saleh, melaksanakan kewajiban, menjauhi larangan-
)‫ت‬
larangan, berupa kemaksiatan. Mereka ikhlas hanya karena Allah SWT dalam mengerjakan kebaikan-
kebaikan, bersih dari sifat-sifat tercela, senantiasa mengikuti sunnah Rasul SAW, mereka membeli kehidupan
akhirat dengan mengorbankan dunianya, sehingga mereka menjadi orang-orang yang berbahagia dengan
hidupnya dan mendapatkan kebahagiaan yang abadi.
)‫ق‬ ِّ ‫صوْ ا بِ ْال َح‬
َ ‫ قوله تعالى ( َوتَ َوا‬mereka saling berwasiat tentang perkara yang hak, mengajar dan mengajak
sesamanya untuk taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, dan selalu melaksanakan amar ma’ruf nahi
mungkar. Berkenaan dengan ayat itu, Al Hasan dan Qotadah berkata: “Al-Haq adalah kitab suci Al-Qur’an.
Sedangkan menurut Muqotil, Al Haq adalah iman dan tauhid.
)‫ْر‬
ِ ‫صب‬ َّ ‫اصوْ ا بِال‬َ ‫ قوله تعالى ( َوت ََو‬mereka juga berwasiat tentang kesabararan, yaitu sabar dalam menjalani
ketaatan, dalam menjauhi dan menjaga dirinya dari kemaksiatan serta sabar atas taqdir Allah SWT, yang
menjadi ujian dalam kehidupan. Al Hasan dan Qotadah berkata : as Shobr adalah taat kepada Allah.
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Aun, Ibrahim berkata: “Allah SWT menghendaki ketika seseorang dipanjangkan
usianya di dunia dan dia menjadi pikun, maka orang tersebut akan berada dalam kerugian dan kekurangan,
kecuali orang mukmin, mereka akan tetap diberikan pahala atas kebaikan-kebaikan amal ibadah yang mereka
lakukan ketika masih muda dan sehat. (At Thobari [24]:589-590, Ibnu Katsir [7]:480, al Baghowi [8]:522-
526, ar Rozi [17]:195-197)

Keutamaan Surat al Ashr


Diriwayatkan dari Al Baidlowi, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa membaca Surat al Ashr,
Allah SWT akan mengampuni dan mencatatnya sebagai bagian dari orang-orang yang saling berwasiat
tentang perkara hak dan sabar.”
Diriwayatkan dari Imam Ats Tsa’labi, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa membaca al Ashr,
maka Allah SWT memberikan kepadanya stempel kesabaran dan mengumpulkannya, pada hari kiamat,
dengan para Sahabat yang mulia.”
Imam at Thobroni, dalam al Ausath, dan al Baihaqi, dalam Syu’abul Iman, meriwayatkan dari jalur
Abu Mulaikah ad Damiri, salah seorang Sahabat, dia berkata: “Ketika ada dua sahabat Rasulullah SAW
bertemu, mereka tidak akan berpisah kecuali mereka saling membacakan Surat al Ashr sampai akhir,
kemudian mereka saling mengucapan salam.”
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Maimun, dia berkata: “Aku melihat Umar ketika ditikam, lalu
Abdurrohman bin Auf mengimami kami dan membaca dua surat yang paling pendek dalam Alquran yaitu al
Ashr dan an Nashr dalam Shalat Fajar.”
Imam as Syafi’i, tentang Surat Al-Ashr, berkata:“Andaikan orang-orang mau menghayati kandungan
surat ini, maka itu saja sudah cukup bagi mereka.”
Sebagian ulama menyatakan, Surat Al-Ashr merupakan surat yang agung, yang mengandung petuah-
petuah yang tinggi nilainya. Allah SWT mengumpulkan, dalam surat ini, seluruh urusan agama.” (Ibnu
Katsir [8]:479, al Baidlowi [5]:416, at Tashil fi Tadabburi Juz Amma: 161)

Kandungan Surat
Surat ini menjelaskan dan memberi peringatan tentang hal yang paling pokok dalam kehidupan
manusia, agar mereka tidak jatuh dalam kerusakan dan kerugian. Secara umum kebahagiaan manusia
terdapat dalam hubbul akhirat (cinta akhirat), dan sebaliknya kerugian dan kerusakan berpangkal dari
hubbub dunya (cinta dunia).
Masalahnya, hal-hal yang menarik manusia untuk masuk ke dalam cinta akhirat terasa begitu sangat
samar dan tersembunyi. Sebaliknya, yang menarik ke dalam cinta dunia begitu jelas di depan mata. Karena
itulah banyak manusia menghabiskan jatah usianya untuk hal-hal yang merusak dan merugikan. Kebanyakan
manusia terjebak dalam dalam jerat cinta dunia. Mereka selalu sibuk mencarinya dan melupakan kehiduapa
akhirat.
Ketika manusia menghabiskan jatah usianya untuk kemaksiatan, maka sesungguhnya dia telah
menjatuhkan dirinya dalam kerugian. Sebenar-benarnya kerugian. Sama halnya dengan mereka yang
berjibaku dalam kemakruhan, juga mereka yang tidak menyempurnakan ibadah padahal memiliki
kesempatan untuk melakukannya. Kerugian besar bagi manusia, ketika mereka terhalang untuk berkhidmah
dan menghambahkan dirinya kepada Tuhannya.
Dalam surat ini Allah SWT telah menegaskan kerugian bagi semua manusia, kecuali mereka yang
beriman, beramal sholeh, dan saling berwasiat untuk berpegang pada kebenaran dan bersabar. Dengan itu,
sebagai seorang hamba, mereka telah melunasi hak Allah Swt dan hak sesama manusia. Selanjutnya,
keuntungan besar dan kebahagiaan abadi menanti di depan mata. (ar Rozi [17]:199, al al Lubab li Ibnu Adil
[16]:446, at Tashil fi Tadabburi Juz Amma 162, Shofwatut Tafasir [3]:601)