Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KASUS

TINEA KRURIS ET KORPORIS

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Program Pendidikan Profesi

Kedokteran Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran


Universitas Trisakti

Di RSU Kardinah Tegal

Pembimbing :

Dr. Sri Primawati Indraswari, Sp.KK

Disusun oleh :

DANIA QISTI

030.04.050

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARDINAH TEGAL

PERIODE 29 NOVEMBER 2010 – 01 JANUARI 2011

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI


LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS

TINEA KRURIS ET KORPORIS

Oleh:

Dania Qisti

030.04.050

Telah diterima/disetujui oleh pembimbing

Dr. Sri Primawati Indraswari, Sp.KK


Pada Desember 2010

Pembimbing Koordinator Kepaniteraan Klinik

Dr. Sri Primawati Indraswari, Sp.KK dr. Erna Khaeriyah


LAPORANKASUS

TINEA KRURIS ET KORPORIS

Pembimbing : Dr. Sri Primawati Indraswari, Sp.KK


Disusun oleh : Dania Qisti

I. PENDAHULUAN

Penyakit infeksi jamur pada kulit mempunyai prevalensi yang cukup tinggi di
Indonesia. Hal ini disebabkan karena negara Indonesia memiliki iklim tropis dan
kelembaban yang tinggi.1 Dermatofitosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh
golongan jamur dermatofit. Golongan jamur dermatofit bersifat keratolitik yang
artinya menyerang lapisan kulit yang mengandung keratin (zat tanduk) yaitu mulai
dari stratum korneum sampai dengan stratum basalis, rambut dan kuku. Golongan
Jamur dermatofit antara lain adalah adalah Trichophyton, Epidermophyton dan
Microsporum.2 Berdasarkan habitatnya dermatofit digolongkan sebagai antropofilik
(manusia), zoofilik (hewan), dan geofilik (tanah). Dermatofit yang antropofilik paling
sering sebagai sumber infeksi tinea, tetapi sumber yang zoofilik di identifikasi (jika
mungkin) untuk mencegah reinfeksi manusia.3 Nama penyakit akibat jamur
dermatofit ini sesuai dengan lokasi yang diserang oleh jamur tersebut. Penyakit
dermatofitosis dapat menyerang seluruh bagian dari tubuh.2
Tinea korporis adalah penyakit dermatofit pada kulit glabrosa , selain kulit
kepala, wajah, kaki, telapak tangan dan kaki, janggut dan lipatan paha. Manifestasinya
akibat infiltrasi dan proliferasinya pada stratum korneum dan tidak berkembang pada
jaringan yang hidup. Metabolisme dari jamur dipercaya menyebabkan efek toksik dan
respon alergi.3

Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur dan paling sering terjadi pada
iklim yang panas (tropis dan subtropis). Ada beberapa macam variasi klinis dengan
lesi yang bervariasi dalam ukuran derajat inflamasi dan kedalamannya. Variasi ini
akibat perbedaan imunitas hospes dan spesies dari jamur. Tricophyton rubrum
merupakan infeksi yang paling umum diseluruh dunia dan sekitar 47 % menyebabkan
tinea korporis.3
Tinea kruris adalah penyakit infeksi jamur dermatofita di daerah lipat paha,
genitalia dan sekitar anus yang dapat meluas ke bokong dan perut bagian bawah.
Tinea kruris disebut juga eczema marginatum, dhobie itch, ringworm of groin.
Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat merupakan penyakit
yang berlangsung seumur hidup. Tinea kruris merupakan salah satu bentuk klinis
yang sering di lihat di Indonesia.2

Infeksi dermatofit tidak menyebabkan mortalitas yang signifikan tetapi mereka


bisa berpengaruh besar terhadap kualitas hidup. Tinea korporis prevalensinya sama
antara pria dan wanita. Tinea kruris dan korporis mengenai semua orang dari semua
tingkatan usia. Secara geografi lebih sering pada daerah tropis daripada subtropis.
Biasanya mudah terjadi pada lingkungan dan daerah yang kotor dan lembab. Pakaian
ketat dan cuaca panas dihubungkan dengan banyaknya frekuensi dan beratnya erupsi.3

Pada tinea korporis yang menahun, tanda radang mendadak biasanya tidak
terlihat lagi. Kelainan ini dapat terjadi pada tiap bagian tubuh dan bersama-sama
dengan kelainan pada sela paha, anogenital atau bahkan meluas ke daerah bokong.
Dalam hal ini di sebut tinea korporis et kruris atau sebaliknya tinea kruris et
korporis.2
Angka kejadian tinea kruris et korporis di poliklinik kulit dan kelamin RSUD
Kardinah Tegal pada periode Januari- November 2010 sebanyak 309 dari keseluruhan
899 kasus baru.

Berikut ini dilaporkan satu kasus tinea korporis pada seorang wanita berusia
70 tahun.

II. LAPORAN KASUS


Seorang wanita berusia 70 tahun, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga,
Menikah, pendidikan terakhir SD, beragama Islam, , datang berobat ke
Poliklinik Kulit dan Kelamin RSU Kardinah Tegal pada tanggal 30 November
2010 dengan keluhan utama bruntus-bruntus kemerahan bersisik yang terasa
gatal pada lipat paha kiri ,lengan kanan atas, ketiak kiri yang meluas ke
payudara kiri, punggung kiri dan pinggang bagian kiri

ANAMNESA KHUSUS
Dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 30 November 2010, di
Poliklinik Kulit dan Kelamin RSU Kardinah Tegal.
Sekitar 1,5 tahun yang lalu mulai muncul bruntus-bruntus kemerahan
bersisik halus di bagian lipat paha kiri yang dirasakan gatal dan semakin
hebat apabila berkeringat. Bruntus kemerahan tersebut awalnya hanya sebesar
koin logam, Karena tidak dapat menahan gatalnya, pasien menggaruk sampai
lecet dan perih. Semakin lama bruntus kemerahan tersebut semakin melebar
dan menghitam. Sekitar 7 bulan yang lalu, daerah sekitar lengan kanan atas
pun mulai timbul bruntus-bruntus kemerahan bersisik halus yang serupa
dengan yang pertama muncul di sela paha kiri, terasa gatal terutama saat
pasien beraktifitas dan mengeluarkan banyak keringat. Bruntus ini pun
dirasakan makin melebar dan menjadi hitam karena garukan saat gatal.
6 bulan yang lalu muncul bruntus-bruntus di tempat lain yaitu ketiak
kiri yang meluas ke payudara kiri, punggung kiri dan pinggang bagian kiri.
Saat itulah pasien mulai berobat ke puskesmas dan diberi obat salep berwarna
putih yang harus dioles 3 kali sehari dan pil kecil berwarna putih yang harus
diminum 3 kali sehari dan bedak dingin. Setelah 1 minggu memakai obat dari
puskesmas, pasien merasa gatal berkurang, namun 3 minggu kemudian gatal
dirasa kembali terutama saat berkeringat. Lalu, pada tanggal 30 november
2010 pasien datang berobat ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSU Kardinah
Tegal dengan keluhan utama bruntus-bruntus kemerahan bersisik yang terasa
gatal pada lipat paha kiri ,lengan kanan atas, ketiak kiri yang meluas ke
payudara kiri, punggung kiri dan pinggang bagian kiri.
Pasien mengaku mudah berkeringat saat aktifitas dan tidak langsung
mengganti bajunya. Pasien mandi dan berganti pakaian dan pakaian dalam 1
kali dalam sehari. Pasien mandi menggunakan air sumur dan sabun mandi
yang dipakai bersama dengan anggota keluarga lainnya. Handuk dipakai
sendiri-sendiri dan dicuci 3 minggu sekali. Anak pasien sempat mengalami
keluhan yang sama dengan pasien sekitar 3 minggu yang lalu, namun sudah
berobat ke puskesmas dan gejala mereda.
Pasien menyangkal adanya riwayat konsumsi obat tertentu dalam
jangka waktu lama, riwayat sesak nafas,darah tinggi,kencing manis, keputihan
pun disangkal.

II.3.Pemeriksaan Fisik

Status Generalis
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Nadi : 88 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : Afebris
Tinggi Badan : 153 cm
Berat Badan : 63 kg
Status gizi : Gizi berlebih
Kepala : Normocephali
Mata : Konjungtiva hiperemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Hidung : Deviasi septum (-), sekret (-), mukosa hiperemis (-)
Telinga : Normotia, serumen (-/-), sekret (-/-)
Mulut : Kering (-), faring hiperemis (-), tonsil hiperemis (-)
Leher : Tidak terdapat pembesaran KGB
Thoraks :
Inspeksi : Bentuk simetris, gerak nafas simetris
Perkusi : Tidak diperiksa
Palpasi : Tidak diperiksa
Auskultasi : Tidak diperiksa
Abdomen : Datar, supel, terdapat kelainan kulit ( lihat status
dermatologikus)
Genitalia : Tidak diperiksa
Extremitas : Akral hangat, tidak oedem.

Status Dermatologikus
Distribusi : Regional
Ad regio : lipat inguinal Sinistra, brachii dextra, axilla sinistra,mamae
sinistra dan thorax posterior sinistra
Jumlah lesi : multipel
Penyebaran : konfluens, bilateral
Batas : berbatas tegas
Bentuk dan susunan : polisiklik, tidak teratur
Ukuran : plakat
Efloresensi : Pada lipat inguinal Sinistra, brachii dextra, axilla
sinistra,mamae sinistra dan thorax posterior sinistra tampak
makula eritema tepi aktif dan penyembuhan sentral ,bagian tepi
lesi terdapat papul-papul eritematosa dan vesikel,
,hiperpigmentasi, skuama halus berwarna putih, dan eksoriasi.

Gambar Lokasi Dermatologi


II.4. Pemeriksaan penunjang
Pada pemeriksaan mikologik kerokan kulit dengan KOH 10 % didapat
Hifa panjang bersepta dengan spora

II.5. Resume

Wanita berusia 70 tahun, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, Menikah,


pendidikan terakhir SD, beragama Islam, , datang berobat ke Poliklinik
Kulit dan Kelamin RSU Kardinah Tegal pada tanggal 30 November
2010 dengan keluhan utama bruntus-bruntus kemerahan bersisik yang
terasa gatal pada lipat paha kiri ,lengan kanan atas, ketiak kiri yang
meluas ke payudara kiri, punggung kiri dan pinggang bagian kiri.
Pada anamnesa didapatkan. Sejak1,5 tahun yang lalu terdapat papul
eritromatosa sebesar koin pada bagian lipat paha kiri yang dirasakan
gatal dan semakin hebat apabila berkeringat. Berobat sekali ke
puskesmas, namun tidak sembuh. Lesi menghitam dan meluas ke lengan
kanan atas, ketiak kiri , payudara kiri, punggung kiri dan pinggang
bagian kiri .
Anak pasien mengalami gejala serupa 3 minggu yang lalu namun
gejala sudah mereda, riwayat konsumsi obat ( - ), sesak nafas ( - ), DM
( - ), Hipertensi ( - ), Leukorea ( - )
Pada pemeriksaan fisik didapatkan status generalis : status gizi berlebih
dan yang lain dalam batas normal
Pada pemeriksaan dermatologi didapatkan :
o Distribusi : Regioner
o Ad Regio : lipat inguinal kiri, brachii dextra, axilla
sinistra,mamae sinistra dan thorax
posterior sinistra
o Lesi : Multipel, konfluens, bilateral,
ukuran plakat ( 3 cm x 4 cm hingga 20 cm x 15 cm ), batas
tegas, tidak menimbul dari
permukaan kulit, kering.
o Efloresensi : Skuama, eritema, papul, scratch
effect, hiperpigmentasi , tepi
aktif disertai eksoriasi ,
Pada pemeriksaan penunjang dengan kerokan kulit dan KOH 10 %
didapatkan hifa panjang bersepta dengan spora.

II.6. Diagnosis Pasti

- Tinea kruris et korporis

II.7. Usulan Pemeriksaan Anjuran


1. Kerokan kulit pada lesi aktif dengan KOH 20% dan biakan agar
saboroud
2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT

II.8. Penatalaksanaan
UMUM
 Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit dan cara
pengobatannya
 Menyarankan agar pasien selalu menjaga kebersihan diri dan
lingkungannya ( mandi minimal dua kali perhari, pakaian harus sering di
ganti bila berkeringat, serta rutin mencuci seprei dan selimut).
 Menyarankan agar pasien menurunkan berat badannya secara
bertahap.
 Bila terasa gatal, sebaiknya jangan menggaruk terlalu keras
karena dapat menyebabkan luka dan infeksi sekunder.
KHUSUS
 Sistemik :
Anti jamur golongan imidazol : ketokonazol 200mg/hari selama 2
minggu
 Topikal :
Anti jamur golongan imidazol : mikonazol krim 2x/hari selama 2
minggu dioleskan tipis pada lesi

II.9. Prognosis
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
Quo ad cosmetican : dubia ad bonam
III. PEMBAHASAN

Diagnosis Tinea corporis et cruris pada pasien ini ditegakkan


berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Pada penyakit Tinea kruris et korporis adalah dermatofitosis pada


daerah kulit tak berambut pada wajah, badan, lengan dan tungkai. Sedangkan,
tinea kruris adalah dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum, dan
sekitar anus. Lesi kulit dapat terbatas pada daerah genitor-krural saja, atau
meluas ke daerah sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah, atau
bagian tubuh yang lain. Terdapat pada semua umur tetapi lebih sering
menyerang orang dewasa. Tinea corporis bisa ditularkan langsung dari
manusia atau binatang, melalui autoinokulasi. Anak – anak lebih sering
melalui patogen zoofilik. Pakaian yang terlalu tertutup, lingkungan yang kotor,
kontak kulit yang sering dan trauma minor menciptakan lingkungan yang
subur untuk dermatofita. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun,
bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup.(1,2)

Gejala subjektif berupa keluhan gatal terutama jika berkeringat. (3)


Kelainan yang dilihat dalam klinik merupakan lesi bulat atau lonjong, berbatas
tegas terdiri atas eritema, skuama, kadang – kadang dengan vesikel dan papul
di tepi. Lesi dengan tepi aktif dengan penyembuhan sentral. Daerah tengahnya
biasanya lebih tenang. Kadang – kadang terlihat erosi dan krusta akibat
garukan. Lesi – lesi pada umumnya merupakan bercak – bercak terpisah satu
dengan yang lain. Oleh karena gatal dan digaruk, maka lesi akan semakin
meluas, terutama pada daerah kulit yang lembab. Sehingga kelainan kulit
dapat pula terlihat sebagai lesi-lesi dengan pinggir yang polisiklik, karena
beberapa lesi kulit menjadi satu. Teori ini sesuai dengan hasil yang ditemukan
pada pasien ini. Pada tinea corporis yang menahun, tanda radang mendadak
biasanya tidak terlihat lagi.(1) Infeksi dermatofita 5 kali lebih sering pada pria
dibandingkan wanita.(2)

Pada kasus ini, pasien mengeluh adanya bruntus-bruntus kemerahan


bersisik yang terasa gatal pada lipat paha kiri ,lengan kanan atas, ketiak kiri
yang meluas ke payudara kiri, punggung kiri dan pinggang bagian kiri.
Pada anamnesa didapatkan. Sejak1,5 tahun yang lalu terdapat papul
eritromatosa sebesar koin pada bagian lipat paha kiri yang dirasakan gatal dan
semakin hebat apabila berkeringat. Berobat sekali ke puskesmas, namun tidak
sembuh. Lesi menghitam dan meluas ke lengan kanan atas, ketiak kiri ,
payudara kiri, punggung kiri dan pinggang bagian kiri .
Anak pasien mengalami gejala serupa 3 minggu yang lalu namun
gejala sudah mereda, riwayat konsumsi obat ( - ), sesak nafas ( - ), DM ( - ),
Hipertensi ( - ), Leukorea ( - )
Pada pemeriksaan fisik didapatkan status generalis : status gizi berlebih
dan yang lain dalam batas normal
Pada pemeriksaan dermatologi didapatkan distribusi regioner pada ad
regio : lipat inguinal kiri, brachii dextra, axilla sinistra,mamae sinistra dan
thorax posterior sinistra. Lesi : Multipel, konfluens, bilateral, ukuran plakat
( 3 cm x 4 cm hingga 20 cm x 15 cm ), batas tegas, tidak menimbul dari
permukaan kulit, kering. Efloresensi: Skuama, eritema, papul, scratch effect,
hiperpigmentasi , tepi aktif disertai eksoriasi ,
Pada pemeriksaan penunjang dengan kerokan kulit dan KOH 10 %
didapatkan hifa panjang bersepta dengan spora

Pemeriksaan fisik diatas sesuai dengan kepustakaan mengenai tinea


korporis et kruris. Hal ini dapat didiagnosis banding dengan Dermatitis
seboroik. Menurut kepustakaan, predileksi dermatitis seboroik pada daerah
yang banyak mengandung kelenjar palit, misalnya kulit kepala, dahi, leher,
interskapula dan lipat paha atau lipatan kulit. Klinis dermatitis seboroik berupa
eritema dan skuama berminyak agak kekuningan, batasnya kurang tegas.(1)
Dermatitis seboroik terjadi pada bayi namun biasanya menghilang pada usia 6
bulan dan bisa muncul kembali pada pubertas.(4) Insidens dermatitis seboroik
mencapai puncak pada umur 18 – 40 tahun. Dengan demikian dermatitis
seboroik dapat disingkirkan.

Menurut kepustakaan, pitriasis rosea ialah penyakit kulit yang belum


diketahui penyebabnya, ada yang mengemukakan bahwa penyebabnya virus,
karena penyakit ini self limiting disease, dimulai sebuah lesi inisial berbentuk
eritema dan skuama halus. Pitriasis rosea didapati pada semua umur, terutama
antara 15-40 tahun, pada wanita dan pria sama banyaknya. Umumnya di
badan, solitar, berbentuk oval dan anular, diameter 3 cm. Kemudian disusul
oleh lesi-lesi yang kecil di badan, lengan dan paha atas yang tersusun sesuai
dengan lipatan kulit dan biasanya sembuh dalam waktu 3-8 minggu. Faktor
yang mungkin mempengaruhi timbulnya penyakit dari lingkungan lebih sering
pada cuaca dingin, banyak pada musim hujan. Kebersihan tidak berpengaruh.
(1,3)
Dengan begitu pitriasis rosea tersingkir.

Menurut kepustakaan, morbus hansen merupakan penyakit infeksi


mikobakterium yang bersifat kronik progresif, mula-mula menyerang saraf
tepi, dan kemudian terdapat manifestasi kulit. Penyebabnya Mycobacterium
leprae, basil tahan asam. Kelompok umur terbanyak adalah 25-35 tahun;
dibawah itu jarang. Frekuensi yang sama pada pria dan wanita. Pada ras kulit
hitam insidens bentuk tuberkuloid lebih tinggi dibandingkan tipe lepromatosa
yang cenderung pada ras kulit putih. Banyak pada negara-negara berkembang
dan golongan ekonomi rendah. Lingkungan yang kurang bersih. Lesi diawali
dengan bercak putih bersisik halus pada bagian tubuh, tidak gatal, kemudian
membesar dan meluas. Jika saraf sudah terkena, penderita mengeluh
kesemutan/baal pada bagian tubuh tertentu, ataupun kesukaran menggerakkan
anggota badan yang berlanjut dengan kekakuan sendi. Rambut alispun dapat
rontok. Lokalisasi dapat seluruh tubuh. Pada tipe TT efloresensi makula
eritematosa bulat atau lonjong, permukaan kering, batas tegas, anestesi, bagian
tengah sembuh; bakteriologi(-); tes lepromin positif kuat.(3) Maka Morbus
hansen tersingkir.

Penatalaksanaan umum pada pasien adalah menghilangkan faktor


predisposisi penting, misalnya mengusahakan daerah lesi selalu kering dan
memakai baju yang menyerap keringat. Terapi yang diberikan berupa anti
jamur sistemik dan topikal. Anti jamur sistemik yang diberikan yaitu anti
jamur golongan imidazol (ketokonazol 200 mg/hari) selama 2 minggu. Selain
itu juga diberikan anti jamur topikal yaitu anti jamur golongan imidazol
(mikonazol 2x/hari) selama 2 minggu. Diberikan golongan imidazol untuk
terapi sistemik maupun topikal karena umumnya berkhasiat fungistatik dan
pada dosis tinggi bekerja fungisid terhadap fungi tertentu. Imidazol memiliki
efektivitas klinis yang tinggi dengan angka kesembuhan berkisar 70-100%.
Mikonazol berkhasiat fungisid kuat dengan spectrum kerja yang lebar sekali.
Sedangkan ketokonazol adalah fungistatikum imidazol pertama yang
digunakan per oral. Spektrum kerjanya mirip dengan mikonazol. Selain itu,
golongan imidazol efektif untuk yang resisten terhadap griseofulvin terutama
dengan penyakit yang menahun seperti pada kasus ini.

Prognosis dari tinea corporis et cruris ini akan baik dengan tingkat
kesembuhan 70-100% setelah pengobatan dengan obat jamur golongan
imidazol sistemik dan topikal secara teratur dan juga dengan menjaga
kebersihan diri dan lingkungannya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda. A, Hamzah. M, Aisah. S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi


keempat, cetakan pertama, Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2005 ; 92 – 99.

2. Gerd P, Thomas J. Dermatophyte. Terdapat Dalam : Firtzpatirchk’s Dermatology


In General Medicine 6th ed [ebook]. New York : McGraw-Hill; 2003. p 205.

3. Siregar RS. Atlas berwarna. Saripati Penyakit Kulit. Edisi kedua. Jakarta EGC.
2002 ; 17 – 20, 29 – 31.

4. Hall et al. Seborrheic Dermatitis. Terdapat Dalam : Sauer’s Manual of Skin


Diseases 8th ed [ebook]. New York : Lippincott Williams & Wilkins; 2000. Ch
13.