Anda di halaman 1dari 25

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt. Berkat rahmat


hidayah-Nya makalah yang berjudul “Pengaruh Jumlah Penduduk Terhadap
Masalah-Masalah yang Dialami” ini dapat diselesaikan. Salawat dan salam
semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw., keluarganya, para
sahabatnya, dan kepada umatnya yang senantiasa taat sampai akhir zaman.
Kependudukan atau demografi berasal dari Bahasa Yunani, demos yang
berarti rakyat dan grafein yang berarti menulis. Demografi adalah tulisan-tulisan
tentang rakyat/penduduk. Ilmu kependudukan menurut Donald J Boque adalah
ilmu yang mempelajari secara statistik dan matematik tentang besar, komposisi
dan distribusi penduduk beserta perubahannya sepanjang masa, melalui
bekerjanya lima komponen demografi yaitu kelahiran (fertilitas), kematian
(mortalitas), migrasi, perkawinan dan mobilitas sosial.
Penulis menyadari bahwa selama penyusunan makalah ini penulis banyak
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, ucapan terima kasih
dan penghargaan yang setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada:
1. Bapak Kasman, Drs., M.M, selaku dosen mata kuliah Perekonomian
Indonesia yang telah membantu penulis selama penyusunan makalah ini;
2. rekan-rekan kelas karyawan A dan B angkatan 2019, yang senantiasa berbagi
ilmu dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya;
3. pihak-pihak lainnya yang tidak dapat penulis tuliskan satu per satu namanya,
terima kasih yang setulus-tulusnya.
Akhirnya, penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi
penulis dan umumnya bagi pembaca serta dapat memberikan sumbangan
pemikiran bagi perkembangan pendidikan.

Ciamis, Juni 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN........................................................................................................1
A. Latar Belakang........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................3
C. Tujuan....................................................................................................................3
BAB 2 LANDASAN TEORI.....................................................................................................4
A. Pengertian Kependudukan.....................................................................................4
BAB 3 PEMBAHASAN..........................................................................................................6
A. Pertumbuhan Penduduk Indonesia........................................................................6
B. Masalah Kependudukan.......................................................................................10
C. Pemecahan Masalah Kependudukan...................................................................17
BAB 4 SIMPULAN DAN SARAN..........................................................................................22
A. Simpulan..............................................................................................................22
B. Saran....................................................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................23

ii
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dilansir dari BPS (Badan Pusat Statistik), jumlah penduduk Indonesia
menurut hasil sensus penduduk September 2020 adalah 270,20 jiwa. Angka
ini membawa Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk terbanyak
keempat di dunia, di bawah Cina, India dan Amerika. Laju pertumbuhan
penduduk per tahun 2010-2020 adalah 1,25%.
Menurut Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 26 ayat 2, penduduk adalah
warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di indonesia.
Penduduk suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua, yaitu
orang yang tinggal di daerah tersebut dan orang yang secara hukum berhak
tinggal di daerah tersebut. Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan
manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu.
Penduduk dan warga negara adalah orang yang menjadi dirinya pribadi
maupun menjadi anggota keluarga, warga negara maupun anggota
masyarakat yang memiliki tempat tinggal di suatu tempat di wilayah negara
tertentu dan juga pada waktu tertentu (Jonny Purba).
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk di suatu
wilayah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan waktu sebelumnya.
Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi
jumlah penduduk di suatu wilayah pada masa yang akan datang. Dengan
diketahuinya jumlah penduduk di masa yang akan datang, diketahui pula
kebutuhan dasar penduduk ini, tidak hanya di bidang sosial dan ekonomi,
tetapi juga di bidang politik. Akan tetapi, prediksi jumlah pertumbuhan
penduduk dengan cara seperti ini belum dapat menunjukkan karakteristik
penduduk di masa yang akan datang. Untuk itu, diperlukan proyeksi
penduduk menurut umur dan jenis kelamin yang membutuhkan data yang
lebih rinci. Kelahiran dan perpindahan penduduk di suatu wilayah
menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk di wilayah yang bersangkutan,

1
sedangkan kematian menyebabkan berkurangnya jumlah penduduk di
wilayah tersebut.
Kependudukan atau demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika
kependudukan manusia. Meliputi di dalamnya ukuran, struktur dan distribusi
penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat
kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat
merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang
didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama atau entitas
tertentu.
Pertumbuhan penduduk yang makin cepat, mendorong perkembangan
aspek-aspek kehidupan yang meliputi aspek sosial, ekonomi, politik dan
kebudayaan. Kebijakan kependudukan ditujukan untuk memengaruhi besar,
komposisi, distribusi dan tingkat perkembangan penduduk sebagai tindakan-
tindakan pemerintah untuk mencapai suatu tujuan dimana didalamnya
termasuk pengaruh dan karakteristik penduduk.
Pada dasarnya masalah kependudukan merupakan suatu sumber masalah
sosial yang penting, oleh karena pertambahan penduduk dapat menjadi
penghambat dalam pelaksanaan pembangunan, terutama jika pertambahan
tersebut tidak terkontrol secara efektif. Masalah sosial sebagai akibat
pertambahan penduduk tidak hanya dirasakan oleh masyarakat-masyarakat
pada daerah tertentu, melainkan dirasakan pula oleh masyarakat secara
menyeluruh dalam suatu negara. Akibat pertambahan penduduk biasanya
ditandai oleh kondisi yang serba tidak merata, terutama mengenai sumber-
sumber penghidupan masyarakat yang semakin terbatas. Di Indonesia telah
melakukan berbagai usaha dalam rangka pengaturan pertambahan jumlah
penduduk melalui program Keluarga Berencana. Tujuannya adalah untuk
meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat secara
menyeluruh. Akan tetapi, pemecahan masalah kependudukan dengan
pengendalian kelahiran saja tidak menjamin bahwa hasilnya secara otomatis
akan meningkatkan kualitas hidup penduduk yang bersangkutan atau generasi
yang akan datang.

2
Dari latar belakang di atas, makalah ini akan menjelasakan mengenai
kependudukan beserta masalah-masalah yang hadir di dalamnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian penduduk dan kependudukan?
2. Bagaimana pertambahan penduduk di Indonesia?
3. Apa saja masalah kependudukan di Indonesia?

C. Tujuan
Tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian penduduk dan kependudukan
2. Mengetahui pertambahan penduduk di Indonesia.
3. Mengetahui masalah kependudukan

3
BAB 2
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Kependudukan
Kependudukan atau demografi berasal dari Bahasa Yunani, demos yang
berarti rakyat dan grafein yang berarti menulis. Demografi adalah tulisan-
tulisan tentang rakyat/penduduk. Ilmu kependudukan menurut Donald J
Boque adalah ilmu yang mempelajari secara statistik dan matematik tentang
besar, komposisi dan distribusi penduduk beserta perubahannya sepanjang
masa, melalui bekerjanya lima komponen demografi yaitu kelahiran
(fertilitas), kematian (mortalitas), migrasi, perkawinan dan mobilitas sosial.
Sedangkan menurut Hawthorn (1970) demografi adalah studi tentang
interaksi tingkat perkembangan dari tiga komponen (kelahiran, kematian dan
migrasi) dan studi tentang dampak dari perubahan komposisi dan
perkembangan dari penduduk.

Menurut AH Pollard, Farhat Yusuf dan GN Pollard (1974) demografi


adalah ilmu yang mempelajari dan menggumuli hal-ikhwal penduduk, kata
demos (penduduk, rakyat) dan grafein (menguraikan, mencitrakan). Ilmu
penduduk lebih sempit tebanya dari ilmu kependudukan karena terbatas pada
fakta penduduk; pengumpulan data; pengolahan dan analisis statistik, dan
penyajian data; biasa disebut demografi, atau demografi formal, yang
menuntut pengetahuan dan keterampilan matematik yang cukup tinggi. Ilmu
kependudukan (population study) atau demografi dalam arti luas merupakan
studi secara sistematik tentang gejala-gejala dan arah perkembangan
penduduk di dalam kerangka sosialnya, sehingga banyak banyak hubungan
dengan sosiologi, ekonomi, geografi dan disiplin ilmu-ilmu lainnya.

Dari uraian diatas maka penulis dapat menyimpulkan pengertian


kependudukan atau demografi adalah ilmu yang mempelajari persoalan dan
dinamika kependudukan manusia, meliputi di dalamnya ukuran, struktur dan

4
distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu
akibat kelahiran, kematian, migrasi, perkawinan dan mobilitas sosial.

Para ahli kependudukan memperkirakan penduduk dunia sekitar 250 juta


pada saat kelahiran Nabi Isa A.S. Sedangkan kapan manusia mendiami bumi
ini, diperkirakan sejak 2 juta tahun yang lalu. Penduduk dunia berkembang
secara lambat sampai pertengahan abad ke-17. Pada sekitar 1665 penduduk
dunia kemudian menjadi dua kali lipat dalam jangka waktu 200 tahun yaitu
pada tahun 1850. Dalam jangka waktu 80 tahun kemudian penduduk dunia
bertambah dua kali lipat lagi, yaitu pada tahun 1930. Sedangkan untuk
mencapai 4 milyar kemudian, hanya diperlukan waktu 45 tahun.

Pertumbuhan penduduk yang makin cepat ini dapat dimengerti karena


program kesehatan masyarakat yang semakin meningkat sejak tahun 1960-an.
Dengan perkembangan teknologi obat-obatan maka angka kematian menurun
sementara angka kelahiran masih tetap tinggi sehingga selisih kedua angka
tersebut semakin membesar. Dengan kata lain pertumbuhan penduduk makin
cepat.

Faktor-faktor yang bisa mempengaruhi jumlah penduduk adalah proses-


proses vital, yaitu: kelahiran, kematian, migrasi, perkawinan, perceraian.
Dengan adanya faktor-faktor tersebut jumlah penduduk dapat berkurang atau
bertambah. Dengan adanya pertumbuhan, pengurangan atau tetapnya jumlah
penduduk ini dapat menciptakan keseimbangan yang memadai. Hubungan
sederhana yang terjalin atas faktor-faktor diatas ini merupakan salah satu
faktor demografi yang sangat penting.

5
BAB 3
PEMBAHASAN
A. Pertumbuhan Penduduk Indonesia

Hasil Sensus Penduduk (SP2020) pada September 2020 mencatat


jumlah penduduk sebesar 270,20 juta jiwa. Jumlah penduduk hasil SP2020
bertambah 32,56 juta jiwa dibandingkan hasil SP2010. Dengan luas daratan
Indonesia sebesar 1,9 juta km2, maka kepadatan penduduk Indonesia

6
sebanyak 141 jiwa per km2. Lalu pertumbuhan Penduduk per Tahun selama
2010-2020 rata-rata sebesar 1,25 persen, melambat dibandingkan periode
2000-2010 yang sebesar 1,49 persen.

Hasil Sensus Penduduk (SP2020) pada September 2020 penduduk usia


kerja 15-64 tahun meningkat dari 53,39 persen menjadi 70,72 persen atau
sebanyak 191,1 juta. Angka ini menjadi yang paling tinggi sepanjang sensus
penduduk yang pertama kali dilaksanakan pada 1971. Jumlah penduduk usia kerja
yang sangat tinggi tapi tidak dibarengi dengan jumlah lapangan kerja yang
disediakan dan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) yang tidak kompeten
tentunya akan menimbulkan masalah sosial seperti kemiskinan dan
penganggguran. Sementara penduduk usia 65 tahun ke atas naik dari 2,49 persen
menjadi 5,95 persen atau sebanyak 16,1 juta. Semakin berkembangnya teknologi
dan obat-obatan banyak penduduk yang hidupnya bisa bertahan lama akibat sakit
yang dideritanya dapat disembuhkan atau diperlambat. Lalu jumlah penduduk
usia 0-14 tahun turun dari 28,87 persen menjadi 23,33 persen atau sebanyak 63
juta.

7
8
Jumlah penduduk tertinggi tercatat di Provinsi Jawa Barat sebesar
48,27 orang. Tidak mengeherankan karena jumlah Indonesia terkonsentrasi di
Pulau Jawa. Pusat pemerintahan dan bisnis ada di Pula Jawa. Universitas
terbaik ada di Pulau Jawa. Sementara Kalimantan Utara menempati peringkat
paling buncit dengan jumlah penduduk sebanyak 700 ribu jiwa. Jika
pemindahan ibu kota negara rampung sebelum 2030, kemungkinan besar
pertumbuhan penduduk di Kalimantan Utara akan bertambah pesat akibat
banyak penduduk yang bertransmigrasi ke sana.

9
Dari grafik di atas sudah sangat jelas penyebaran penduduk Indonesia
sangat tidak merata, yang mana akan menimbulkan berbagai masalah sosial,
ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Jumlah penduduk Jawa Barat bahkan
sampai 9 kali lipat lebih banyak dari jumlah penduduk Pulau Maluku-Papua
padahal luasnya Jawa Barat tidak seluas Pulau Maluku-Papua.

D. Masalah Kependudukan
1. Masalah Akibat Angka Kelahiran
a) Total Fertility Rate (TFR)
Angka Kelahiran Total atau Total Fertility Rate yang sering
disingkat TFR adalah jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh
seorang wanita selama masa usia suburnya (antara umur 15-49 tahun).
Indikator ini penting dan strategis untuk mengetahui sejauh mana
keberhasilan suatu negara ataupun seluruh negara dalam
mengendalikan jumlah penduduknya melalui program Keluarga
Berencana. Dalam hal ini, TFR sebesar 2,1 merupakan angka standar
capaian ideal bagi seluruh negara (penduduk tumbuh seimbang).
Program Keluarga Berencana di Indonesia dimulai secara
intensif sejak tahun 1970 sejalan dengan berdirinya lembaga BKKBN
(Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional). Dibawah
pemerintahan Orde Baru, program KB menjadi prioritas dan unggulan
yang dilaksanakan dengan gempita. Sebagai hasilnya, angka TFR
yang sebelumnya mencapai 5,6 tahun 1970 menurun menjadi 2,8
(SDKI tahun 1997). Lalu laju pertumbuhan penduduk juga menurun
dari  2,32 persen menjadi 1,3 persen. Akibatnya  menurut perkiraan
para ahli program KB masa Orde Baru bisa menghidari pertambahan
sekitar 80 juta penduduk, karena seharusnya pada tahun 2000
Indonesia diproyeksikan akan memiliki 285 juta, tetapi bisa ditekan
menjadi 205 juta jiwa.

10
Setelah otonomi daerah di tahun 2001 TFR Indonesia bisa
diturunkan menjadi 2,6 yaitu hasil dari Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002. Akan tetapi sampai dengan
SDKI 2007 dan SDKI 2012, TFR tetap bertahan (stagnan) pada posisi
2,6 (bertahan sekitar 15 tahun). Padahal visi BKKBN 2010 – 2014
adalah menuju penduduk tumbuh seimbang tahun 2015.
Baru pada SDKI 2017, TFR bisa turun lagi ke posisi 2,4. Angka
inipun terjadi perbedaan yang mencolok, dimana TFR pedesaan masih
2,6 lalu TFR perkotaan sudah 2,3 anak per wanita usia subur. Berikut
angka TFR Indonesia per provinsi dari terendah hingga tertinggi
berdasarkan hasil SDKI 2017 serta proyeksi tahun 2025; Dari data
TFR hasil SDKI 2017 diatas terlihat tidak ada satu provinsipun yang
sudah berada dibawah TFR 2,1. Provinsi yang memiliki TFR sebesar
2,1 adalah Jawa Timur dan Bali. Kemudian dari data diatas juga
terlihat provinsi yang TFR-nya sama dan dibawah rata-rata nasional
yaitu TFR 2,4 adalah sebanyak 15 provinsi. Sehingga sisanya 19
provinsi berada pada posisi TFR diatas 2,4.
Seluruh provinsi yang memiliki penduduk besar di pulau Jawa,
memiliki TFR sama serta dibawah rata-rata nasional 2,4. Hanya satu
provinsi yaitu Sumatra Utara yang memiliki penduduk besar
(14.415.000) masih berada pada TFR 2,9.
Ditargetkan pada 2025 yang akan datang (sebagaimana RPJP
2000 – 2025) Indonesia akan diupayakan untuk memiliki TFR 2,1.
Sementara untuk 3 kali pelaksanaan SDKI berikutnya BPS sudah
melakukan proyeksi besaran TFR yaitu pada SDKI 2022; 2,212, SDKI
2027; 2,096 dan SDKI 2035; 1,990.
Akan tetapi target ini disangsikan pencapaiannya kalau melihat
pelaksanaan SDKI 1991 sampai 2017 yaitu dalam 26 tahun
perjalanan, ternyata TFR turun hanya 0,6 point dari 3,0 menuju 2,4.
Sehingga dalam kurun waktu 5 tahun kedepan (2020 -2025) untuk
turun dari 2,4 menjadi 2,1 (0,3 point) sepertinya akan cukup berat.

11
Selanjutnya rangking Indonesia dalam hal pencapaian TFR di
lingkup global terlihat Indonesia berada di posisi tengah. Dari data
200 negara yang dirangking yang dimuat di halaman web;
worldpopulationreview.com (Fertility Rate By Country 2019), yang
mengacu pada data UN DESA, Indonesia berada pada posisi ke-94
(dari besar ke kecil) dengan TFR sebesar 2.32 anak per wanita usia
subur.
Kalau TFR ini disetujui sebagai indikator dalam keberhasilan
dalam pelaksanaan program KB maka Indonesia termasuk kalah oleh
Banglades yang sudah berhasil meraih TFR sebesar 2.05 dengan
rangking 117 di tahun 2019.

b) Age Spesific Fertility Rate (ASFR)


Pada tahun 2020, angka kelahiran pada usia 15-19 tahun adalah
47,37 kelahiran per 1000 wanita di Indonesia. Angka tersebut
menunjukan penurunan dari 129,45 kelahiran per 1000 wanita pada
1975 ke 47,37 kelahiran per 1000 wanita di 2020. Berikut data Angka
Spesifik Usia Kelahiran dari 1965 sampai dengan 2020.

Tahun Nilai Perubahan, %


2020 47,37 -6,14%
2015 50,48 -2%
2010 51,51 -0,99%
2005 52,02 8,72%
2000 47,85 -24,18%
1995 63,11 -13,46%
1990 72,93 -24,24%
1985 96,27 -17,89%
1980 117,24 -9,43%
1975 129,45 -15,93%
1970 153,98 4,45%
1965 147,41

2. Masalah Akibat Angka Kematian

12
Angka Kematian Bayi (AKB) Per 1000 Kelahiran Hidup Menurut
Umur Ibu Saat Melahirkan 2012-2017
Pembangunan yang telah dicapai oleh Indonesia selama ini
memberikan dampak positif dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat,
salah satunya tercermin dari peningkatan usia harapan hidup penduduk
Indonesia. Konsekuensi dari meningkatnya usia harapan hidup penduduk
Indonesia adalah terjadinya peningkatan persentase penduduk lanjut usia
atau lansia (60 tahun ke atas). Persentase penduduk lansia Indonesia
meningkat menjadi 9,78 persen di tahun 2020 dari 7,59 persen pada 2010
berdasarkan hasil SP2010. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada 2020
Indonesia berada dalam masa transisi menuju era ageing population yaitu
ketika persentase penduduk usia 60 tahun ke atas mencapai lebih dari 10
persen. Semakin bertambahnya Angka Harapan Hidup itu berarti perlu
adanya peran pemerintah di dalam menyediakan fasilitas penampungan.

3. Masalah Komposisi Jumlah Penduduk


Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus penduduk tahun
2020 adalah 270,20 juta jiwa. Dari jumlah tersebut terlihat komposisinya
tidak berimbang yang menyebabkan berbagai masalah. Kategori
berdasarkan usia adalah sebagai berikut.

13
Berdasarkan struktur umur di atas terlihat yang paling besar
persentasenya adalah Generasi Z, yaitu 27,94 persen. Perkiraan usia
sekarang 9-24 tahun. Di rentang usia tersebut mereka sedang menempuh
pendidikan di SD, SMP, SMA dan Universitas. Sebagian lagi baru saja
lulus kuliah dan mungkin sudah berkerja. Pada usia 9-24 tahun sebagian
besar tergolong belum produktif dan masih bergantung kepada orang lain
terutama keluarga.
Masalah-masalah yang dapat timbul dari keadaan yang demikian
adalah:
1) Aspek ekonomi dan pemenuhan hidup keluarga
Banyaknya beban yang harus dipenuhi biaya hidupnya oleh sejumlah
manusia produktif yang lebih sedikit akan mengurangi pemenuhan
kebutuhan ekonomi dan hayat hidup. Umur yang termasuk produktif
adalah sebagian Generasi Z, Milenial, Generasi X dan sebagian Baby
Boomer.
2) Aspek pemenuhan gizi
Kemampuan ekonomi yang kurang dapat pula berakibat pada
pemenuhan makanan yang dibutuhkan baik jumlah makanan
(kuantitatif) sehingga dampak lebih lanjut adalah adanya rawan atau
kurang gizi (malnutrition). Pada masanya nanti, bila kekurangan gizi
terutama pada usia muda (0-5 tahun) akan mengganggu
perkembangan otak bahkan dapat terbelakang mental (mental
retardation. Ini artinya mengurangi mutu SDM di masa yang akan
datang.
3) Aspek pendidikan
Pendidikan membutuhkan biaya yang tidak sedikit sehingga
diperlukan dukungan kemampuan ekonomi semua termasuk orang tua.
Apabila kemampuan ekonomi kurang mendukung maka fasilitas
pendidikan juga sukar untuk dipenuhi yang juga mengakibatkan mutu
SDM di masa yang akan datang.
4) Lapangan kerja

14
Penumpukan jumlah usia muda atau produktif memerlukan persiapan
lapangan kerja masa mendatang lebih luas. Hal ini merupakan bom
waktu pencari kerja atau penyedia kerja. Apabila tidak dipersiapkan
SDMnya dan lapangan kerja akan berdampak lebih buruk pada semua
aspek kehidupan.

4. Masalah Kependudukan dan Angkatan Kerja


Penduduk usia kerja didefinisikan sebagai penduduk yang berumur 15
tahun keatas. Mereka terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.
Penduduk yang tergolong angkatan kerja dikenal dengan Tingkat
Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK).
TPAK menurut umur mengikuti pola huruf “U” terbalik. Angkatan
rendah pada usia-usia muda karena sekolah, kemudian naik sejalan
kenaikan umur sampai mencapai 25-29 tahun, kemudian turun secara
perlahan pada umur-umur berikutnya (antara lain karena pensiun).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatat Jumlah angkatan kerja pada
Agustus 2020 sebanyak 138,22 juta orang, naik 2,36 juta orang dibanding
Agustus 2019. Sejalan dengan kenaikan jumlah angkatan kerja, Tingkat
Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga naik sebesar 0,24 persen poin.
Tingkat pengangguran terbuka (TPT) Agustus 2020 sebesar 7,07 persen,
meningkat 1,84 persen poin dibandingkan dengan Agustus 2019.
Penduduk yang bekerja sebanyak 128,45 juta orang, turun sebanyak 0,31
juta orang dari Agustus 2019. Lapangan pekerjaan yang mengalami
peningkatan persentase terbesar adalah Sektor Pertanian (2,23 persen
poin). Sementara sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu Sektor
Industri Pengolahan (1,30 persen poin). Sebanyak 77,68 juta orang (60,47
persen) bekerja pada kegiatan informal, naik 4,59 persen poin dibanding
Agustus 2019. Dalam setahun terakhir, persentase pekerja setengah
penganggur dan persentase pekerja paruh waktu naik masing-masing
sebesar 3,77 persen poin dan 3,42 persen poin. Terdapat 29,12 juta orang
(14,28 persen) penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19, terdiri dari

15
pengangguran karena Covid-19 (2,56 juta orang), Bukan Angkatan Kerja
(BAK) karena Covid-19 (0,76 juta orang), sementara tidak bekerja karena
Covid-19 (1,77 juta orang), dan penduduk bekerja yang mengalami
pengurangan jam kerja karena Covid-19 (24,03 juta orang).

5. Masalah Mobilitas Penduduk di Indonesia


a) Mobilitas Antar Pulau
Mobilitas antar pulau didominasi mobilitas penduduk di Pulau Jawa.
Dari hasil sensus penduduk 2020, dari total penduduk Indonesia pada
September 2020 yang sebanyak 270,20 juta jiwa, sebanyak 151,59
juta pendudukyang tinggal di Pulau Jawa mencapai 59,1 persen, di
2010 57,5 persen, dan pada 2020 hanya turun tipis menjadi 56,10
persen.
Dapat dimaklumi bahwa Pulau Jawa sebagai tujuan utama para
migran, karena di Pulau Jawa merupakan pusat perekonomian, pusat
pendidikan, pusat pemerintahan dan pusat kegiatan sosial ekonomi
lainnya. Migran terbesar yang masuk ke Pulau Jawa berasal dari
Sumatera, karena Pulau Sumatera secara geografis berdekatan dengan
Pulau Jawa dan sistim transportasi yang menghubungkan kedua pulau
ini lebih bervariasi dan lebih banyak frekuensinya dibandingkan
dengan pulau-pulau lainnya.
b) Mobilitas Penduduk dari Desa ke Kota
Urbanisasi pada dasarnya adalah pertumbuhan penduduk perkotaan
yang disebabkan perpindahan dari desa ke kota, dari kota ke kota,
serta akibat proses perluasan wilayah perkotaan (Reklamasi).
Permasalah yang Timbul :
Pertumbuhan penduduk perkotaan selalu menunjukan
peningkatan yang terus menerus, hal ini disebabkan pesatnya
perkembangan ekonomi dengan perkembangan industri,
pertumbuhan sarana dan prasarana jalan perkotaan.

16
6. Masalah Kepadatan Penduduk di Indonesia
Dilihat dari jumlah penduduknya, Indonesia termasuk negara
terbesar keempat setelah Cina, Amerika dan India. Hasil pencacahan
lengkap sensus penduduk 2020, penduduk Indonesia berjumlah 270,20
juta jiwa. Berdasarkan hasil proyeksi penduduk, jumlah penduduk pada
tahun 2045 mencapai 319 juta jiwa.
Kepadatan di 34 provinsi masih belum merata. Berdasarkan sensus
penduduk tahun 2020 sekitar 56,10% penduduk tinggal di Pulau Jawa,
padahal luas Pulau Jawa hanya sekitar 7% dari seluruh wilayah daratan
Indonesia. Dilain pihak, Kalimantan yang memiliki 28% dari luas total,
hanya dihuni oleh 6,5% penduduk Indonesia. Dengan demikian
kepadatan penduduk secara regional juga sangat timpang, sementara
kepadatan per kilometer persegi di Pulau Jawa mencapai 1171 orang, di
Papua hanya 10,68 orang.

7. Masalah Perkawinan dan Perceraian


Perkawinan bukan merupakan komponen yang langsung
mempengaruhi pertumbuhan penduduk akan tetapi mempunyai pengaruh
yang cukup besar terhadap fertilitas, karena dengan adanya perkawinan
dapat meningkatkan angka kelahiran. Sebaliknya perceraian adalah
merupalkan penghambat tingkat fertilitas karena dapat menurunkan
angka kelahiran.

E. Pemecahan Masalah Kependudukan


1. Akibat Angka Kelahiran dan Kematian
Pemecahan masalah angka kelahiran dan kematian
a. Kelahiran
Angka kelahiran perlu ditekan melalui:
1) Partisipasi wanita dalam program KB

17
2) Tingkat pendidikan wanita. Tingkat pendidikan wanita
berpengaruh terhadap umur kawin pertama dan tingkat
penggunaan kontrasepsi
3) Partisipasi dalam angkatan kerja mempunyai hubungan negatif
dengan fertilitas
4) Peningkatan ekonomi dan sosial
b. Kematian
Angka kematian perlu ditekan melalui:
1) Pelayanan kesehatan yang lebih baik
2) Peningkatan gizi keluarga
3) Peningkatan pendidikan (kesehatan masyarakat)

2. Masalah Komposisi Jumlah Penduduk


Alternatif pemecahan yang diperlukan:
a. Pengendalian angka kelahiran melalui KB
b. Peningkatan masa pendidikan
c. Penundaan usia perkawinan

3. Masalah Kependudukan dan Angkatan Kerja

Melihat rasio TPAK dan Non TPAK tampaknya jauh tidak


seimbang hal ini kemungkinan dapat menyebabkan masalah antara lain:
a. Produktifitas yang dihasilkan oleh sebagian kecil manusia
kemungkinan bisa habis dikonsumsi sebagian besar penduduk.
b. Pendapatan perkapita akan rendah sehingga berpengaruh pada
sektor ekonomi masyarakat.
Alternatif Pemecahan Masalah :
a. Penyediaan lapangan kerja
b. Peningkatan mutu SDM melalui pendidikan dan keterampilan.

18
4. Masalah Mobilitas Penduduk di Indonesia

Pertumbuhan penduduk di perkotaan periode 1971-1980 jauh


lebih pesat dibandingkan dengan periode 1980-1990, hal ini
disebabkan periode 1971-1980 pertumbuhan ekonomi masih terpusat
didaerah perkotaan, sehingga penduduk banyak pindah ke perkotaan
untuk memperoleh penghidupan yang lebih layak.
Pada periode 1980-1990 pemeratan pembangunan mulai terasa
sampai ke daerah pedesaan. Keadaan ini memungkinkan penduduk
tidak lagi membangun daerah perkotaan, akan tetapi cendrung
menciptakan lapangan pekerjaan sendiri di pedesaan. (BPS 1994: 18).
Sejalan dengan arah pembangunan yang diharapkan persentase
penduduk perkotaan cendrung meningkat. Proyeksi yang diharapkan
ada peningkatan dari 31,10 persen tahun 1990 menjadi 41,46 % pada
tahun 2000.
Menurut Prigno Tjiptoheriyanto upaya mempercepat proses
pengembangan suatu daerah pedesaan menjdadi daerah perkotaan
yang disesuaikan dengan harapan dan kemampuan masyarakat
setempat. Untuk itu diperlukan upaya peningkatan jumlah penduduk
yang berminat tetap tinggal di desa. Yang perlu diusahakan perubahan
status desa itu sendiri, dari desa "desa rural" menjadi "desa urban".
Dengan demikian otomatis penduduk yang tinggal didaerahnya
menjadi "orang kota" daalam arti statistik (Surabaya Post, 23
September 19996). Guna menekan derasnya arus penduduk dari desa
ke kota, maka pola pembangunan yangeroreantasi pedesaan perlu
digalakan dengan memasukan fasilitas perkotaan ke pedesaan,
sehingga merangsang kegiatan ekonomi pedesaan.

5. Masalah Kepadatan Penduduk di Indonesia

Ketidakseimbangan kepadatan penduduk ini mengakibatkan


ketidakmerataan pembangunan baik phisik maupun non phisik yang

19
selanjutnya mengakibatkan keinginan untuk pindah semakin tinggi.
Arus perpindahan penduduk biasanya bergerak dari daerah yang agak
terkebelakang pembangunannya ke daerah yang lebih maju, sehingga
daerah yang sudah padat menjadi semakin padat.
Untuk memecahkan masalah kepadatan penduduk di Indonesia
ini dilaksanakan program pepindahan penduduk dari daerah padat ke
daerah kekurangan penduduk, yaitu program transmigrasi.
Sasaran utama program transmigrasi semula adalah untuk
mengurangi kelebihan penduduk di Pulau Jawa. Tetapi ternyata
jumlah penduduk yang berhasil di transmigrasikan keluar Jawa sangat
kecil jumlahnya. Pada tahun 1953 direncanakan 100.000 penduduk,
tetapi hanya sebanyak 40.000 orang yang berhasil dipindahkan (BPS
1994:90)
Walaupun demikian, program transmigrasi sudah menunjukan
hasilnya dimana penduduk yang tinggal di Pulau Jawa turun dari 60%
pada tahun 1990, diproyeksikan menjadi 57,7% pada tahun 2000.
Sebaliknya diluar Jawa diproyeksikan akan terjadi kenaikan tahun
1990-2000. Di Pulau Sumatera naik dari 21% pada tahun 1990
menjadi 21,65 % pada tahun 2000 (BPS 1990:6-7).
Transmigrasi dewasa ini tertuang dalam target Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, pemerintah
menetapkan 144 kawasan transmigrasi, yang terfokus pada 72 satuan
pemukiman (SP) dan 20 kawasan perkotaan baru (KPB).

6. Masalah Perkawinan dan Perceraian

Di Indonesia status perkawinan (kawin) masih jauh lebih tinggi


dibandingkan dengan status perceraian hal ini dapat dilihat pada tabel
berikut:

20
2018
Jenis Kelamin Kawin Cerai Hidup Cerai Mati
Laki-laki 58,97 1,43 2,47
Perempuan 60,00 2,58 10,15

Dari data di atas memberikan gambar bahwa jumlah perkawina


baik pia maupun wanita sebesar 59,49 persen, masih jauh lebih besar
bila dibandingkan dengan jumlah perceraian baik cerai hidup sebesar
2,01 persen maupun cerai mati sekitar 6,31 persen.
Masalah yang timbul akibat perkawinan antara lain:
1. Perumahan
2. Fasilitas kesehatan
Masalah yang timbul akibat perceraian meningkat adalah :
1. Sosial Ekonomi
2. Nilai agama yang lemah

Alternatif Pemecahan :
Perkawinan
1. Menambah masa lajang.
2. Meningkatkan masa pendidikan.
Peceraian :
1. Konsultasi Keluarga.
2. Pendalaman Agama.

21
BAB 4
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menurut jumlah
penduduknya, Indonesia termasuk negara yang besar dan menduduki urutan
terbesar keempat setelah Cina, Amerika dan India.
Menurut hasil sensus penduduk tahun 2020 penduduk Indonesia
berjumlah 270,20 juta jiwa. Jumlah tersebut meningkat sekitar 1,98% per
tahunnya. Berdasarkan hasil proyeksi penduduk tahun 2045 adalah 319 juta
jiwa. Dari kondisi semacam ini timbul berbagai masalah kependudukan
antara lain: Tidak meratanya penyebaran penduduk di setiap Provinsi. Di
Indonesia berdasarkan SP 2020 kurang lebih 56,6% penduduk Indonesia
tinggal di Pulau Jawa yang luasnya hanya 7% dari luas seluruh wilayah
Indonesia. Sebaliknya Kalimantan yang mempunyai luas 28 persen dari
seluruh daratan Indonesia hanya dihuni oleh lebih kurang lebih 6,15%
penduduk sehingga secara regional kepadatan penduduk sangatlah timpang.

B. Saran
Dari hasil Sensus Penduduk 2020, pemerintah Indonesia masih
mempunyai banyak PR untuk diselesaikan secepat mungkin terkait jumlah
penduduk, penyebaran penduduk, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK),
fertility rate dan lain-lain. Fertility rate misalnya, dari 34 provinsi di
Indonesia hanya Jawa Timur dan Bali yang angka fertility ratenya ideal, yaitu
2,4. Sementara 32 provinsi lainnya masih di atas angka tersebut. Dengan
adanya pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur, menurut
penulis itu akan sangat membantu masalah-masalah kependudukan yang saat
ini sedang kita alami. Akan ada transmigrasi besar-besaran. Fasilitas
pendidikan yang oke, kesehatan yang canggih dsb tidak melulu hanya Jakarta
yang punya. Jika proses perpindahan ibu kota ini rampung sebelum sensus
penduduk yang akan datang, penulis berharap akan sangat berdampak
terhadap masalh-masalah kependudukan yang saat ini sedang kita alami.

22
DAFTAR PUSTAKA

Bidarti, Agustina TEORI KEPENDUDUKAN. Lindan Bestari, Bogor. ISBN


978-623-94601-0-5

BPS. 2020. Hasil Sensus Penduduk 2020. Badan Pusat Statistik : Jakarta

Faqih, Achmad. Kependudukan Teori, Fakta dan Masalah. Yogyakarta : Dee


Publish

Hendarti dkk. 2013. Permasalahan Kependudukan. Fakultas Kesehatan


Masyarakat. Universitas Diponegoro Semarang.

Herman. 2021. Minim Kesempatan Kerja, Penyebab Pergeseran Penduduk ke


Luar Jawa Lambat. Berita Satu : Jakarta

INDRASWARI, Risa Ruri; YUHAN, Risni Julaeni. FAKTOR-FAKTOR YANG


MEMENGARUHI PENUNDAAN KELAHIRAN ANAK PERTAMA DI
WILAYAH PERDESAAN INDONESIA: ANALISIS DATA SDKI
2012. Jurnal Kependudukan Indonesia, [S.l.], v. 12, n. 1, p. 1-12, june
2017. ISSN 2502-8537. Available at:
<http://ejurnal.kependudukan.lipi.go.id/index.php/jki/article/view/274>.
Date accessed: 10 july 2021. doi:https://doi.org/10.14203/jki.v12i1.274.

Mubarok, Z., 2016. Validasi buku teks geografi" Menganalisis Dinamika dan


Masalah Kependudukan serta Sumber Daya Manusia di
Indonesia" (Doctoral dissertation, Universitas Negeri Malang).

Netral, Agus. 2019. Melihat TFR Inonesia dalam Konteks Global. BKKBN :
NTB

Rahayu, Sri. 2003. Masalah Kependudukan di Negara Indonesia. Fakultas


Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatra Utara

Ratriani, Virdita. 2021. Sensus Penduduk 2020 : Usia Harapan Hidup Naik di
Indonesia. Konttan.co.id : Jakarta

Sudarmi. Upaya Peningkatan Kualitas Penduduk Melalui Program


Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga
(KKBPK)

Sutejo, Denny, et al. "Implementasi Undang-Undang Tentang Administrasi


Kependudukan Di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten
Aceh Timur." Strukturasi: Jurnal Ilmiah Magister Administrasi Publik 2.2
(2020): 162-167.

23