Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

TEKNIK PENGAWETAN TANAH DAN AIR


Pengukuran Erosi Menggunakan Metode Petak Percobaan

Kelompok : 1

Voky AIT 240110080050 Pratiwi I.N.F 240110080078


Frans B. Surbakti 240110080054 Wica Elvina 240110080082
Gandheswari .P 240110080057 Yeti Yuli Astuti 240110080083
Mohamad N. Umam 240110080063 Citra Pratiwi 240110080088
Mardhika 240110080064 Oky S. Wibowo 240110080089
Gilar Hadimulya 240110080071 Tiwi 240110080096
Wony A.B 240110080075

JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2011
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Erosi adalah hilangnya sejumlah tanah karena adanya pengaruh air


maupun angin baik yang terjadi secara alami ataupun yang terjadi sebagai akibat
tindakan manusia (erosi yang dipercepat). Erosi yang dipercepat muncul sejak
manusia mengenal budidaya pertanian dan menjadi masalah sejak pengelolaan
lahan dilakukan secara lebih intensif untuk memenuhi kebutuhan sandang,
pangan, papan dan lainnya yang sejalan dengan pesatnya pertambahan jumlah
penduduk. Sejak beberapa dekade yang lalu erosi diakui secara luas sebagai suatu
permasalahan global yang serius. United Nations Environmental Program dalam
Lal (1994) menyatakan bahwa produktivitas lahan seluas ± 20 juta ha setiap tahun
mengalami penurunan ke tingkat nol atau menjadi tidak ekonomis lagi disebabkan
oleh erosi atau degradasi yang disebabkan oleh erosi.
Intensitas penggunaan lahan pada daerah-daerah berlereng dan diperparah
oleh model pengelolaan tanah yang menyimpang dari teknik konservasi yang
semestinya akan mempercepat proses terjadinya kerusakan lahan akibat erosi.
Untuk mengetahui jumlah kehilangan tanah yang hilang akibat erosi. maka
dilakukan perhitungan erosi. berbagai cara dapat digunakan untuk mengukur
besarnya atau tingkat erosi. salah satu metodenya adalah dengan metode petak
percobaan lapangan
Pada metode ini perhitungan erosi dilakukan secara langsung di lapangan
dengan membuat plot erosi dengan ukuran panjang 22 m , lebar 2 m untuk
tanaman pertanian, atau lebar 4 m untuk tanaman kehutanan. Peletakan plotnya
searah dengan lereng. Model ini jarang digunakan karena membutuhkan biaya
yang besar dan juga waktu yang tepat yaitu pada saat musim hujan. Akan tetapi,
model ini memberikan data yang akurat karena dilakukan pengukuran langsung di
lapangan. Untuk lebih mendalam mengenai metode pengukuran erosi dengan
petak percobaan maka disusunlah makalah ini.

1.2 Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah:
 Mahasiswa dapat memahami cara pengukuran erosi dilapangan.
 Mahasiswa dapat mengerti dan memahami pengukuran erosi dengan
menggunakan metode petak percobaan
 Mahasiswa dapat melakukan pengukuran erosi dengan menggunakan
metode petak percobaan.

BAB II
ISI

2.1 Pengukuran Erosi dilapangan


Pengukuran erosi dilapangan dapat dikelompokan menjadi 2 golongan, yaitu
permanen dan tidak permanen. Permanen artinya pengukuran dilakukan pada
tempat yang tetap sedangkan yang tidak permanen pengukuran dilakukan pada
sejumlah lokasi yang meliputi areal yang sangat luas.
Pengukuran erosi dilapangan dapat dilakukan dengan cara:
1) Mengukur seluruh erosi yang terjadi dalam massa yang cukup lama
(accumulated erosion)
2) Pengukuran erosi yang terjadi untuk satu atau sekali kejadian erosi disebut
juga metode Petak percobaan lapangan.
3) Mengukur pelepasan atau penghancuran agregat tanah (Sitorus dan Tirtohadi-
Suryo, 1978)

2.2 Metode petak percobaan lapangan

Metode petak percobaan lapangan dibagi menjadi dua yaitu:

2.2.1 Petak percobaan ukuran 1 m² (Petak kecil)


Metode ini digunakan untuk mendapatkan hubungan antara besarnnya
erosi dengan sifat-sifat fisik tanah atau penutup tanah untuk suatu tipe tanah
dengan tanaman penutup tertentu. Dengan cara ini juga dapat ditentukan factor
atau tingkat erodibilitas tanah. Diperlukan pengamatan erosi pada setiap kejadian
hujan.

Menurut kohnke dan Bertrand (1959), petak kecil yang biasanya empat
persegi panjang dipergunakan untuk mendapatkan besarnya erosi yang disebabkan
oleh pengaruh faktor-faktor tertentu untuk suatu tipe tanah dan derajat lereng
tertentu. petaknya yang digunakan umumnya demikian kecilnya sehingga semua
aliran permukaan yang terjadi pada suatu hujan dapat di tampung dalam suatu
tangki (bak penampung)yang dipasang diujung dibagian bawah petak tersebut.
(borst,et al., 1945; Hays, et. al,. 1949; Meyer dan Harmon,1979). penguna petak
kecil dilapangan biasanya dilakukan dengan menggunakan hujan tiruan atau
simulator hujan. dilaboratorium juga sering digunakan petak kecil berupa bak
berbingkai untuk tempat tanah yang akan diteliti. pengukuran erosi mengunaakan
petak kecil ini ditunjukan untuk mengukur erosi setiap kejadian hujan.
Saifuddin Sarief (1980) dalam bukunya yang berjudul .Beberapa Masalah
Pengawetan Tanah dan Air., penelitian yang telah dilakukan untuk menentukan
pengikisan dan penghanyutan tanah menggunakan metode pengukuran besarnya
tanah yang terkikis dan aliran permukaan (run-off) untuk satu kali kejadian hujan.
Metode ini disebut .Pengukuran Erosi Petak Kecil., metode ini ditujukan untuk
mendapatkan data-data sebagai berikut:
1. Besarnya erosi.
2. Pengaruh faktor tanaman.
3. Pemakaian bahan pemantap tanah (soil conditioner).
4. Pemakaian mulsa penutup tanah, dan
5. Pengelolaan tanah.
Dengan berpegangan pada pendapat Konhke dan Bertrand (1959). Bahwa
petak kecil yang biasanya berbentuk persegi panjang dipergunakan untuk
mendapatkan besarnya pengikisan dan penghanyutan yang disebabkan oleh
pengaruh faktor-faktor tertentu untuk suatu tipe tanah dan derajat lereng tertentu
(Kartasapoetra, 1990).
Metode pengukuran erosi dengan petak kecil memiliki beberapa
kelemahan, antara lain:
1. Aliran permukaan (run off) sering mengalir pada satu tempat sepanjang sekat-
sekat, sehingga menimbulkan erosi parit, hal ini disebabkan aliran permukaan
alami dari daerah sekitarnya ditiadakan. (Gully Erosion)
2. Setelah terjadi beberapa kali hujan yang deras maka petak-petak akan menjadi
lebih rendahdari plat seng bak penampung bagian atas yang dipasang
segarisdengan sudut kemiringan lereng, sehingga akan mengubah besarnya
meskipun sedikit.
3. Dikarenakan ukuran petak kecil, dengan demikian pengolahan tanah dan
perlakuan lainya harus dilakukan lebih hati-hati dan cermat lagi. sehingga
tidak sesuai dengan cara bertani yang biasa dilakukan (Khonke dan Bertran,
1959).
2.2.2 Petak percobaan dengan ukuran panjang 22,1 m dan lebar 2 – 4 m
Petak yang lebih besar, yang memungkinkan proses erosi yang lengkap
seperti erosi alur dan lembar terjadi sehingga lebih menyerupai keadaan
sebenarnya. panjang petak adalah 22,1 m(72,6 kaki) dengan lebar bervareasi
antara 2 sampai 4 meter. di ujung bawah petak dipasang tangki penampung air
dan tanah yang tererosi (wisdchmeier dan smith, 1978). penggunaan petak yang
lebih besar ini mempunyai keuntungan lebih dari petak kecil, yaitu dapat
menghilangkan pengaruh tepian meliputi berbagai bentuk erosi. pengukuran erosi
menggunakan petak percobaan demikian ini ditunjukan untuk mengukur erosi
setiap kejadian hujan, yang kemudian dijumlahkan untuk waktu satu tahun
sehingga didapatkan data erosi tahunan.

Gambar 1. Penampang sebuah petak percobaan erosi dilapangan

2.3 Penempatan dan ukuran petak percobaan


Penempatan stasiun percoban erosi ini seyogyanya pada tanah yang
keadaanya homogen dengan kemiringan lereng tertentu dan masih cukup dalam
atau tebal solum tanahnya 0,5 m atau lebih. Pengukuran kemiringan tanah
dilakukan dengan Abney level atau dengan menggunakan metode “differential -
leveling “. jarak horizontal di hitung dengan pytagoras . kemiringan tanah
dinyatakan sebagai perbandingan antara jarak vertikal dan jarak horizontal
dikalikan dengan 100 %. 
Adapun ukuran petak-petak percobaan yang akan dipakai untuk
mengetahui pengaruh tanaman setahun atau tanaman umur pendek dan pengaruh
pengolahan tanah adalah 22 meter panjang dan 2 meter lebar. Sedangkan untuk
tanaman berumur panjang (tahunan) maka panjang lereng tetap 22 meter, tetapi
lebarnya 4 meter.
Aliran air dipermukaan yang mengandung partikel-partikel tanah yang
tererosi di tamping kedalam suatu bak penampung yang disebut water soil
collector. Yang ditempatkan dilereng bagian bawah dari petak tersebut. Bak
penampung ini terbuat dari pahan seng tebal atau plat baja tipis, yang berukuran
panjang 2 meter, lebar 0,3 meter dan tingi 0,3 meter pada ujung satu sedang pada
ujung lainya 0,25 m. pada bagian sisi luar dibuat tujuh buah lubang saluran
pembuangan kelebihan air yang letaknya horizontal, dengan pipa lubang yang
paling tengah disambung dengan pipa pplastik yang langsung dihubungkan
kedalam drum penampung air. Drum ini ditanam kedalam tanah sehingga
permukaan drum lebih tinggi sedikit dari permukaan tanah. Keenam pipa lubang
pembuangan air tadi terbuka, sehingga dapat meluapkan air begitu saja, namun
demikian volume keseluruhan dapat diketahui dari volume air yangmelalui pipa
yang dihubungkan dengan drum penampungan dikali tujuh. Drum penampungan
tadi dilengkapi dengan penutup.

2.4 Cara pengukuran banyaknya air dan tanah dari aliran permukaan
Pengukuran bnyaknya air sebagai aliran permukaan (run off) dilakukan
setiap pagi , yaitu jam 7.00 apabila sebelumnya terjadi huja yang dapat
menimbulkan erosi. Pada waktu penakaran air, baik dalam bak penampungan
maupun dalam drum penampungan, diusahakan agar tanahnya tidak banyak yang
terbawa bersama air.
Untuk mengukur jumlah aliran permukaan diperlukan penakar dan
penggaris. Penakar digunakan untuk mengukur banyaknya air dalam bak,
sedangkan penggaris digunakan untuk mengukur banyaknya air dalam drum.

Prosedur Pengukuran
a. Pengukuran Jumlah Tanah Tererosi
Cara menentukan banyaknya tanah tererosi dari suatu kejadian hujan dapat
dilakukan sebagai berikut :
1. Air yang masuk ke dalam bak dan drum penampung diendapkan.
2. Tanah yang mengendap dipisahkan masing-masing dikering udarakan.
selama 1 hari kemudian ditimbang beratnya, misal berat tanah pada bak
(A1) kg dan pada drum (A2) kg.
3. Dari masing-masing tanah tersebut diambil sampel sebanyak berat tertentu
(B1) kg dari (A1) dan (B2) kg dari (A2), kemudian dikeringkan dalam oven
pada suhu 1050C sampai beratnya konstan, missal (C1) dari (B1) dan (C2)
dari (B2).
4. Berat tanah tererosi dalam bak (E1) dan berat tanah tererosi dalam drum
(E2) dengan jumlah lubang sebanyak n adalah:
E1 = (C1/B1)x A1 (kg/plot)..............................................................(1)
E2 = (C2/B2)x A2 (kg/plot)..............................................................(2)
5. Berat total tanah tererosi pada kejadian hujan tersebut adalah :
Et = E1+ (n x E2) (kg/plot)..............................................................(3)

b. Pengukuran Volume Aliran Permukaan (Run Off)


Volume aliran permukaan diukur dari setiap kejadian hujan yang
menimbulkan aliaran permukaan. Dari setiap petak ditetapkan dengan
mengukur volume air dalam bak penampung (V 1) dan drum (V2) dengan
volume tanah yang mengendap (V1). Volume aliran permukaan dapat
ditentukan sebagai berikut :
V = V1 + (n x V2)- V1 ..........................................................................(4)
Berat tanah( gram)
Vt = ......................................................................(5)
BD tanah(gram/cm3 )
V1 = (tinggi air di bak) x (luas penampang bak) .................................(6)
V2 = (tinggi air di drum) x (luas penampang drum) ............................(7)

c. Pengukuran BD tanah ( gram/cm3)


1. Ambil seberat tanah kering mutlak,missal beratnya adalah A gram
2. Masukan kedalam gelas ukur berisi air sehingga terbaca perubahan volume
air (ΔV)
A
3. BD tanah = (gram/cm3)
ΔV

Contoh perhitungan besarnya atau banyaknya air dan tanah dari aliran permukaan
(run off) adalah sebagai berikut:
1. Mengukur banyaknya air dalam bak penampungan, missal 125 liter
2. Menghitung banyaknya air dalam drum penampungan:
- Tinggi air di ukur dengan penggaris , misalnya 20 cm .
- Jika diameter drumnya = 56 cm, maka luas permukaan drum = 2463
cm2. Maka volume air dalam drum = 20 cm x 2463 cm 2= 49.260 cm3 =
49,26 liter/satu lubang. apabila bak penampung mempumyai 7 lubang ,
maka jumlah air yang meluap = 7 x 49,26 liter = 344,82 liter. Jadi
jumlah air yang mengalir di permukaan petak tanah = 125 + 344,82 =
469,82 liter.
Cara mengukur berat tanah . 
Untuk mengukur berat tanah tererosi di lakukan dua tahap :
1. Menimbang seluruh tanah basah. caranya : tanah dari bak di keluarkan dan di
keringkan sehari dalam tampah lalu di timbang . demikian juga tanah dalam
drum di ambil dan di keringkan sehari dalam tampah yang lain di timbang.
2. Diambil contoh tanah dengan berat tertentu kemudian dikeringkan (kering
mutlak) untuk menghitung berat total tanah kering.
Contoh perhitungan:
Berat total tanah dari bak = 50 kg
Dari drum = 3 kg. karena ada 7 lubang pengeluaran maka: 7 x 3 kg = 21 kg
Berat total tanah basah menjadi : 50 kg + 21 kg = 71 kg (A)
Berat sampel tanah basah misalnya 20 gram (B) .
Berat sampel tanah kering misalnya 10 gram (C) . 
Jadi berat total tanah kering = (A gram/B gram) x C gram
= (71.000 gram/20 gram) x 10 gram = 35.500 gram
= 35,5 kg
Alat-alat yang digunakan dalam pengukuran adalah:
- Kantong Plastik Kecil - Timbangan
- Tali (Benang / Rafia) - Oven
- Label - Cawan Aluminium.

Caranya :
1. Tanah dari tampah di aduk aduk dulu kemudian diambil contohnya + 25 gram.
masukan ke dalam kantong plastik lalu diikat kuat dan diberi label. dari tiap
perlakuan di ambil 3 contoh tanah.
2. Timbangan bobot cawan kosong sebanyak 3 buah cawan.
3. Tanah dari kantong plastik di masukan dalam cawan lalu di timbang.
4. Masukan cawan berisi tanah ke dalam oven 
5. Panaskan 24 jam (sampai beratnya tetap )
6. Setelah pemanasan selesai , cawan berisi tanah di keluarkan lalu di timbang. 
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa besarnya erosi


untuk satu kali kejadian erosi atau satu kejadian hujan pada masa tertentu saja
dapat diukur dengan menggunakn metode petak percobaan. Dengan cara
menghitung volume air limpasan dan berat tanah tererosi. Selain hal tersebut
metode petak percobaan digunakan untuk menentukan data-data lainya seperti;
Pengaruh faktor tanaman, Pemakaian bahan pemantap tanah (soil conditioner),
menentukan besarnya pemakaian mulsa penutup tanah, dan pengelolaan tanah.
Dengan berpegangan pada pendapat Konhke dan Bertrand (1959). Bahwa petak
kecil yang biasanya berbentuk persegi panjang dipergunakan untuk mendapatkan
besarnya pengikisan dan penghanyutan yang disebabkan oleh pengaruh faktor-
faktor tertentu untuk suatu tipe tanah dan derajat lereng tertentu (Kartasapoetra,
1990).
DAFTAR PUSTAKA

Sarief, Saefudin. 1985. Konservasi Tanah Dan Air. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah
Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Bandung
Arsyad, sitanala . 2006. Konversi Tanah Dan Air. Bogor: IPB Press
Suriyana, linda. 2009. Tingkat Erosi dan Kalibrasi Nilai Faktor Tanaman Pada
Pertanaman Pinus. [http://lindasuriyana.blogspot.com/]. Diakses pada
tanggal 28 Maret 2011. Pukul 13.30 wib
http://blog.unila.ac.id/kes_manik/files/2010/06/BHN-KLH-KTA-S11.pdf. diakses
pada tanggal 28 Maret 2011 pukul 13.20 WIB
http:// repository. usu.ac.id / bitstream/ 123456789/ 20126/ 3 / Chapter %20II.
pdf. diakses pada tanggal 28 Maret 2011 pukul 13.30 WIB