Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM VII

PEMERIKSAAN KUALITAS AIR MINUM

Oleh :

Nama : Timothy Herman Laning


NIM : 0908305018
Tanggal Praktikum : Rabu, 20April 2011
Kelompok :I
Asisten : I Dewa Ketut Sahisma Dewa

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2011
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Air di alam tidak pernah dalam keadaan murni, selalu ditambahi faktor x, sehingga rumus
kimianya menjadi : H2O + x, dimana dapat berbentuk faktor biotik dan abiotik (Waluyo, 2007).
Mikroorganisme dalam air berasal dari pencemaran tanah, udara, air buangan yang berasal dari
manusia yang disebut domestic sewage atau dari limbah industri (industri sewage) (Suriawiria,
1996).
Pemerikasaan air secara mikrobiologi sangat penting dilakukan, bahwa air merupakan
substansi yang penting dalam menunjang kehidupan mikroorganisme. Pemeriksaan secara
mikrobiologi, baik secara kuantitatif maupun kualitatif dapat dipakai sebagai pengukuran derajat
pencemaran. Penelitian derajat pencemaran air secara mikrobiologi umumnya ditunjukkan pada
kehadiran bakteri indikator (coliform dan fecal coliform) (Ramona, dkk., 2007).

Metode yang digunakan untuk mengetahui jumlah bakteri indikator didalam sampel yaitu
metode MPN dengan seri tabung 3-3-3 atau 5-5-5, yang terdiri atas tiga tahap yaitu uji dugaan,
uji penetapan dan uji pelengkap (Volk dan Wheeler, 1998).

1.2. Tujuan
1. Untuk mengetahui total coliform dan total bakteri Eschericia coli pada masing-masing
sampel air.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas air.
II. MATERI DAN METODE

2.1 Bahan dan Cara Kerja


Pada percobaan ini dilakukan uji dugaan dengan menyiapkan tabung reaksi yang berisi
media Lactose Broth dan tabung Durham. Dipipet masing-masing 10 ml air sampel ke dalam 3
seri tabung reaksi yang berisi medium Lactose Broth dengan konsentrasi ganda. Dipipet masing-
masing 1 ml air sampel ke dalam 3 seri tabung reaksi yang berisi medium Lactose Broth dengan
konsentrasi normal. Dipipet masing-masing 0,1 ml air sampel ke dalam 3 seri tabung reaksi yang
berisi medium Lactose Broth dengan konsentrasi normal. Diinkubasi pada temeratur 370 C
selama 24 jam. Hasil positif akan ditunjukkan oleh adanya gas dalam tabung Durham.
Dilakukan uji penetapan dengan menyiapkan tabung reaksi yang berisi media Brilliant
Green Bile 2% Broth dengan tabung Durham. Diinokulasikan tabung yang menunjukkan hasil
positif ke dalam media BGBB dengan cara mengambil 1 tetes dengan menggunakan ose.
Diinkubasi media BGBB yang telah diinokulasi dengan suspensi bakteri yang tumbuh pada
media Lactose Broth selama 48 jam pada suhu 370 C. Hasil positif ditunjukkan dengan adanya
gas dalam tabung Durham. Digesekkan tabung yang menunjukkan hasil positif pada media
BGBB dalam media EMBA dengan menggunakan ose. Diinkubasi pada suhu 370 C selama 24
jam.
Diamati setelah 24 jam inkubasi. Dilihat adanya koloni berwarna hijau metalik sebagai
tanda adanya bakteri Escherichia coli dalam sampel. Dicatat hasil yang diperoleh sebagai data
kelas. Ditentukan jumlah bakteri dalam sampel berdasarkan tabel Most Probable Number
(MPN). Ditentukan kualitas air sampel berdasarkan acuan yang digunakan.

.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil data kelas yang diperoleh menunjukkan semua sampel air tercemar oleh bakteri
coliform. Pada air sungai, air limbah, dan air sumur kemudian air PAM, dan air isi ulang..
Banyaknya pencemaran coliform ini disebabkan karena pada waktu pengambilan sampel
disekitar lingkungan tersebut disebabkan karena aktivitas manusia dan agak padatnya rumah
penduduk yang mengakibatkan terjadinya tercemaran.
Pada air sumur coliformnya ada dalam jumlah 7 sel/100 ml. Mungkin ini disebabkan
karena adanya pencemaran air. Pencemaran air dapat berupa mikroorganisme yang patogen dan
non patogen (Pelczar dan Chan, 1986). Pada air permukaan biasanya mengandung
mikrooganisme yang berasal dari pencemaran oleh tanah, udara, atau dari buangan yang berasal
dari air buangan. Pada air sumur umumnya lebih bersih dari pada air permukaan, karena air yang
merembes dari tanah yang tersaring oleh lapisan tanah atau sedimen. (Volk dan Wheeler, 1998).
Hal ini kemungkinan disebabkan adanya kontaminasi pada saat pengambilan atau juga
disebabkan kondisi lingkungan disekitar pengambilan sampel sudah tercemar karena padatnya
rumah penduduk (Kompri, 2008).
Pada air PAM ditemukan 3 sel/100 ml coliform dan tidak ada E. coli ini Berarti bahwa pada
air PAM tidak tercemar oleh mikroba dan kemungkinan besar bacteria tersebut berasal dari
saluran-saluran air yang terkotoro karena ada kebocoran pada pipa atau pada saat pengambilan
sampel.
Pada air sungai ditemukannya coliform sebanyak 1100 sel/100 ml hal ini menunjukkan
bahwa air tersebut pencemarannya cukup tinggi karena air sungai mudah terkontaminasi oleh
bacteria dari organisme sekitarnya. Pada uji lanjutannya ditemukan E.coli sebanyak 43 sel/100
ml, ini menunjukkan bahwa air tersebut tercemar. Banyaknya koliform pada air sungai ini,
karena sudah tercemar akibat limbah rumah tangga, air got yang mengalir kesungai, air sawah
yang mengalir kesungai, beserta kototan-kotoran yang lain mengalir kesungai, yang
mengakibatkan banyaknya coliform dam bakteri.
Untuk air limbah ditemukan coliform sebanyak 1100 sel/100 ml dan tidak ada E. coli
karena pada iir ini terkandung zat-zat kimia yang berasal dari deterjen yang digunakan untuk
mencuci perabotan rumah tangga sehingga mikroba yang ada di air tersebut mati dan hanya
beberapa saja yang masih ada.
Pada air isi ulang coliform ditemukan dalam jumlah kecil karena pada air isi ulang sudah
dilakukan sterilisasi dan dijaga kebersihannya sehingga tidak terlalu tercemar. Dari uji penetapan
(EMBA) yang dilakukan diperoleh hasil yang negatif dari seluruh sampel, karena tidak
ditemukan adanya bakteri yang berwarna merah kehijauan yang mengkilat yang menunjukkan
bahwa seluruh sampel air tidak tercemar oleh bakteri Eschericia coli. Hal ini kemungkinan
disebabkan oleh pengambilan sampel yang kurang tepat atau memang air tersebut tidak tercemar
oleh bakteri Eschericia coli (Pelczar dan Chan, 1986). Sedangan sampel air aqua tidak
ditemukan bakteri Eschericia coli, kemungkinan disebabkan oleh adanya zat-zat tambahan yang
terkandung pada air tersebut dan mengakibatkan bakteri Eschericia coli tidak dapat tumbuh
(Kompri, 2008). Tetapi hanya pada air sungai ( tukad badung ) yang kami temui warna kehijauan
mengkilat ( hijau metalik ).
Pada praktikkum untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam pemeriksaan kualitas air
diperlukan pengambilan sampel yang tepat yaitu : sampel air harus ditempatkan didalam botol
steril, sampel tersebut harus dapat mewakili sumbernya, sampel air tidak boleh terkontaminasi
selama dan setelah pengambilan, sampel air harus diuji segera setelah pengambilan dan apabila
ada penundaan pemeriksaan maka sampel tersebut harus disimpan pada suhu 0-10 oC (Pelczar
dan Chan, 1986).
IV. PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Air yang paling bagus kualitasnya setelah pemeriksaan yaitu air PAM, air isi
ulang, air sumur, air limbah dan air sungai
2. Faktor yang mempengaruhi kualitas air seperti : temperatur, cahaya, salinitas,
kekeruhan, pH, kandungan zat organik dan zat anorganik dan tekanan hidrostatik.
DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 2003. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djabamtan. Jakarta.

Pelczar, M.J. dan Chan, E. C.S. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi 1. Universitas Indonesia.
Jakarta.

Ramona, Y., R. Kawuri., I.B.G. Darmayasa. 2007. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum
Untuk Program Studi Farmasi F MIPA UNUD. Laboratorium Mikrobiologi Jurusan
Biologi F MIPA Universitas Udayana. Denpasar.

Suriawiria, U. 1996. Mikrobiologi Umum. Alumni. Bandung.

Waluyo, L. 2007. Mikrobiologi Umum edisi revisi. UMM Press. Malang.

Wesley dan Margaret. 1990. Mikrobiologi Dasar. Cetakan kedua. Jakarta. Erlangga.

Volk dan Wheeler.1998. Mikrobiologi Dasar. Erlangga. Jakarta.