Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENGANTAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Pendahuluan
Dalam BAB I, bahan ajar ini akan membahas tentang Pengantar Pendidikan
Kewarganegaraan dan secara spesifik membahas tentang Landasan Pendidikan
Kewarganegaraan, Hakikat, Visi, Misi, Tujuan dan Kompetensi Pendidikan
Kewarganegaraan.
Tujuan Instruksional Khusus
Diharapkan Mahasiswa Dapat :
1. Menjelaskan Landasan Pendidikan Kewarganegaraan.
2. Memahami hakikat Pendidikan Kewarganegaraan
3. Memahami Visi dan Misi Pendidikan Kewarganegaraan.
4. Menjelaskan Tujuan dan Kompetensi Pendidikan Kewarganegaraan.

A. Landasan Pendidikan Kewarganegaraan


1. Landasan Filosofi
Salah satu tujuan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Cerdas dalam
arti luas, bukan hanya intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional dan spiritual yang
diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang didasari oleh
Pancasila. Sebagai Ideologi nasional, Pancasila merupakan kekuatan pemersatu dalam
pembangunan karakter bangsa yang salah satunya ialah semangat kebangsaan atau
semangat persatuan yang multikultur dalam Bhineka Tunggal Ika.
Membangun semangat kebangsaan dalam mengisi kemerdekaan dalam segala
aspek tidaklah mudah, ia memerlukan penyadaran sikap hidup warga Negara yang
menghargai nilai-nilai demokrasi, kemanusiaan, keadilan sosial, cinta tanah air, memiliki
kesadaran hukum, dan kemampuan bela Negara. Nilai-nilai tersebut harus disemai,
ditanam, dipupuk dan dibesarkan secara terencana, teratur dan terarah pada seluruh
lapisan masyarakat agar tumbuh warga Negara yang cerdas menghadapi zamannya.
2. Landasan Historis
Setiap Negara dan bangsa mempunyai perjalanan hidup yang membentuk
eksistensi Negara dan warganya. Tak terkecuali Indonesia. Bangsa Indonesia telah
mengalami berbagai tantangan untuk menjadi sebuah Negara yang diakui oleh dunia.
Kolonialisme yang menyebabkan bangsa Indonesia, yang mendiami wilayah nusantara

1
menjadi bodoh, hina dan miskin. Di balik itu, penjajahan juga telah menjadi pelajaran
bagi bangsa Indonesia tentang demokrasi, ilmu dan teknologi, serta ekonomi.
Pada masa itu muncul keberanian bangsa Indonesia untuk melawan kolonial
dengan penuh semangat walaupun dengan teknologi yang sangat sederhana dan
bersahaja. Perjuangan bangsa Indonesia dimulai pada masa kerajaan sriwijaya (abad ke-
7) dan kerajaan Majapahit (abad XIII) sebagai upaya menyatukan wilayah nusantara.
Upaya ini belum berhasil karena belum ada pemahaman tentang konsep Negara
kesatuan. Adanya pemahaman baru tentang Negara kesatuan pasal 1908, melahirkan
gerakan Kebangkitan Nasional (Budi Utomo) sebagai perintis yang menyatukan semua
warga yang mendiami kepulauan nusantara.
Keberhasilan gerakan ini, memunculkan sikap pemuda Indonesia yang gagah
berani dan dengan tegas mengikrarkan Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928) yang
mengakui bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia,
berbahasa satu bahasa Indonesia. Sumpah pemuda mencerminkan wawasan geografi
(tanah air), wawasan kebangsaan (bangsa) wawasan budaya (bahasa) yang hakikatnya
adalah awal tumbuhnya wawasan kebangsaan Indonesia. Keberanian pemuda Indonesia
berjuang yang tak kenal lelah dan penuh semangat ini akhirnya membawa bangsa
Indonesia pada kemerdekaan bangsanya, sebagai penentu eksistensi bangsa Indonesia
yang mengikrarkan dan memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus
1945.
3. Landasan Sosiologis
Bangsa Indonesia memiliki budaya yang beragam dan multikultur berdasarkan
etnis dan bahasa. Masyarakat Indonesia mengakui dan menghargai lintas budaya,
betapapun kecilnya. Perbedaan ini harus dipandang sebagai potensi kekuatan bangsa.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, keragaman ini diikat dalam norma dan aturan
untuk menjaga harmoni kehidupan untuk mewujudkan kesadaran moral dan hukum.
Arus informasi yang berdampak pada goyahnya jati diri bangsa, diperlukan
komitmen kebangsaan untuk mewujudkan cinta tanah air, kesadaran bela Negara,
persatuan nasional dalam suasana saling menghargai keberagaman. Persatuan dalam
keberagaman budaya, adat istiadat, tradisi harus dibina dan ditingkatkan secara
demokrasi, terpola dan terus menerus.

2
4. Landasan Yuridis
(a) Pendidikan Kewiraan berdasarkan SK Bersama Menteri Pertahanan dan
Keamanan, dan menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1973 merupakan
realisasi pembelaan Negara melalui jalur Pengajaran di PT sebagai Pendidikan
Kewiraan dan Pendidikan Perwira Cadangan.
(b) UU N0.20/1982 tentang Pokok-pokok Penyelenggaraan Pertahanan Keamanan
Negara menentukan Pendidikan Kewiraan warga adalah pendidikan Pendahuluan
Bela Negara (PPBN) di PT yang tidak terpisahkan dari Sistem Pendidikan Nasional
dan wajib diikuti oleh setiap warga negara (mahasiswa).
(c) UU N0.2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa Pendidikan
Kewiraan termasuk Pendidikan Kewarganegaraan merupakan kurikulum wajib
pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.
(d) SK DIRJEN DIKTI 1993 menyatakan bahwa Pendidikan Kewiraan termasuk Mata
Kuliah Dasar Umum (MKDU) bersama-sama dengan Pendidikan Agama,
Pendidikan Pancasila, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar, dan Ilmu Alamiah
Dasar bersifat wajib di PT.
(e) SK DIRJEN DIKTI N0.151/2000 menyatakan bahwa Pendidikan Kewiraan
bermuatan Pendidikan Kewarganegaraan termasuk Mata Kuliah Pengembangan
Kepribadian (MPK) wajib ditempuh oleh mahasiswa.
(f) SK DIRJEN DIKTI N0.267/2000 menyatakan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan
dan PPBN termasuk MPK yang merupakan kurikulum inti di PT serta wajib diikuti
oleh setiap mahasiswa.
(g) SK DIRJEN DIKTI N0.232/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum
Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa menetapkan Pendidikan
Agama, Pendidikan Pancasila, dan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan
kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) sedangkan Mata Kuliah
yang lain termasuk dalam Mata Kuliah Keilmuan dan Ketrampilan (MKK), Mata
Kuliah Keahlian Berkarya (MKB), Mata Kuliah Perilaku Berkarya (MPB), dan
Mata Kuliah Kehidupan Bermasyarakat (MKB).

3
(h) SK DIRJEN DIKTI RI N0.38/DIKTI/Kep/2002 tentang rambu-rambu Pelaksanaan
Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di PT yang mencantumkan
mata kuliah Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, Pendidikan
Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia.
(i) UU N0.20/203 tentang sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa kurikulum
wajib di PT ialah Pendidikan Bahasa, Pendidikan Agama, dan Pendidikan
Kewarganegaraan. Dalam hal ini Pendidikan Pancasila termaktub di dalam
pendidikan kewarganegaraan.
(j) SK DIRJEN DIKTI Departemen Pendidikan Nasional RI N0.43/DIKTI/Kep/2006
tentang rambu-rambu Pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan
Kepribadian di PT.

B. Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan


Pendidikan adalah proses perubahan pola pikir, pola sikap dan pola tindak kearah
yang di kehendaki. Pendekatan pendidikan, seperti yang dicetuskan dalam deklarasi
UNESCO (1998) bahwa pendidikan diwujudkan dalam pilar learning to know (belajar
mengetahui), learning to do (belajar melakukan), learning to be (belajar menjadi diri
sendiri), learning to life together (belajar hidup dalam kebersamaan). Hal ini sesuai
dengan tujuan pendidikan nasional untuk mengembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Pendidikan (UU N0.20/203 tentang Sisdiknas)adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spriritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan membekali dan memantapkan
mahasiswa dengan pengetahuan dan kemampuan dasar hubungan warga Negara
Indonesia yang Pancasilais dengan Negara dan sesama warga Negara. Dengan
kemampauan dasar, diharapkan mahasiswa mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila

4
dalam kehidupan sehari-hari, memiliki kepribadian yang mantap, berpikir kritis, bersikap
rasional, etis, estetis dan dinamis, berpandangan luas, bersikap demokratis dan
berkeadaban.

C.Visi dan Misi Pendidikan Kewarganegaraan


1.Visi
Menjadi sumber nilai dan pedoman penyelenggaraan dan pengembangan program
studi dalam mengantarkan mahasiswa memantapkan kepribadiannya sebagai manusia
Indonesia seutuhnya.
2. Misi
Membantu mahasiswa memantapkan kepribadiannya agar secara konsisten
mampu mewujudkan nilai-nilai dasar Pancasila, rasa kebangsaan, dan cinta tanah air
sepanjang hayat dalam menguasai, menerapkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni dengan rasa tanggung jawab.

D. Tujuan dan Kompetensi Pendidikan Kewarganegaraan


1. Tujuan
(a) Menguasai kemampuan berfikir, bersikap rasional, dan dinamis, berpandangan
luas sebagai manusia intelektual, serta mengantarkan mahasiswa selaku warga
Negara Indonesia yang memiliki :
 wawasan kesadaran bernegara untuk bela Negara dengan perilaku cinta tanah
air.
 wawasan kebangsaan, kesadaran berbangsa demi ketahanan Nasional
 pola pikir,sikap yang komprehensif integral pada seluruh Aspek kehidupan
nasional.
(b) Mendidik mahasiswa memiliki motivasi bahwa pendidikan kewarganegaraan
yang diberikan berkaitan erat dengan peranan dan kedudukan serta kepentingan
mereka sebagai individu, anggota keluarga, anggota masyarakat dan sebagai WNI
yang terdidik serta bertekat dan bersedia untuk mewujudkannya.

5
(c) Memberikan pemahaman akan hubungan antara warga Negara dan negaranya,
harus terus ditingkatkan agar mahasiswa dapat menjawab tantangan masa depan
sehingga memiliki etos bela Negara dalam profesinya masing-masing.PT sebagai
institusi ilmiah juga harus dapat mengembangkan ilmu dan teknologi (iptek)
untuk mencetak kader pimpinan bangsa yang dapat diharapkan berperan dalam
pembangunan.
2. Kompetensi Pendidikan Kewarganegaraan
Standar kompetensi yang wajib dikuasai oleh mahasiswa ialah mampu berfikir
rasional, bersikap dewasa dan dinamis, berpandangan luas dan bersikap demokratis yang
berkeadaban sebagai warga Negara Indonesia. Dengan berbekal kemampuan intelektual
ini diharapkan mahasiswa mampu melaksanakan proses belajar sepanjang hayat,
menjadi ilmuan dan professional yang berkepribadian dan menjunjung tinggi nilai-nilai
falsafah bangsa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kompetensi dasar yang diharapkan mahasiswa menjadi ilmuan yang memiliki
rasa kebangsaan dan cinta tana air, demokratis yang berkeadaban menjadi warga Negara
yang memiliki daya saing, berdisiplinan, berpartisipasi aktif dalam membangun
kehidupan yang damai berdasarkan Pancasila.
Pendidikan kewarganegaraan yang berhasil akan membuahkan sikap mental yang
cerdas, penuh rasa tanggung jawab dari peserta didik. Sikap tersebut antara lain :

• beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME dan menghayati nilai-nilai falsafah
bangsa

• berbudi pekerti luhur, berdisiplin dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

• rasional, dinamis, dan sadar akan hak dan kewajiban sebagai WNI.

• Bersifat profesional yang dijiwai kesadaran bela Negara

• Aktif memanfaatkan iptek serta seni untuk kepentingan kemanusiaan, bangsa dan
Negara.

Pertanyaan :
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pendidikan Kewarganegaraan.

6
2. Uraikan landasan historis pendidikan kewarganegaraan yang juga merupakan sejarah
perjuangan bangsa Indonesia dalam bela Negara.
3. Jelaskan sifat bela Negara sebelum dan sesudah proklamasi.
4. Bagaimana sifat bela Negara terhadap perbedaan budaya dalam mewujudkan
persatuan dan kesatuan.
5. Jelaskan dengan singkat visi dan misi pendidikan kewarganegaraan
6. Kemukakan Tujuan dari Pendidikan Kewarganegaraan
7. Jelaskan perbedaan standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam pendidikan
kewarganegaraan.

7
BAB II
IDENTITAS NASIONAL

Pendahuluan
Dalam Bab II ini akan membahas tentang Identitas Nasional dan secara spesifik
membahas Pengertian Identitas Nasional,Proses Pembentukan Identitas
bersama,Simbol-simbol Kenegaraan sebagai Identitas Nasional,
Tujuan Pembelajaran
Diharapkan Mahasiswa Dapat
1. Memahami pengertian Identitas Nasional
2. Memahami proses pembentukan identitas Nasional.
3.Memahami simbol-simbol Kenegaraan sebagai Identitas Nasional.

A.Pengertian Identitas Nasional


Identitas Nasional berasal dari kata “identitas “dan kata “nasional”. Kata
“identitas” dapat diartikan sebagai ciri khas yang menandai tentang sesuatu. Sedangkan
“nasional” berarti memiliki sifat kebangsaan. Identitas nasional adalah ciri khas yang
menandai keberadaan suatu bangsa. Setiap bangsa yang menegara memiliki identitas
nasionalnya sendiri-sendiri, yang berbeda dengan identitas nasional bangsa lain.
Identitas nasional Bangsa Indonesia berasal dari sejarah panjang pembentukan
Bangsa Indonesia dan kondisi sosio-kultural yang melingkupi Bangsa Indonesia. Bangsa
Indonesia merupakan bentukan bangsa yang pernah menjadi bangsa terjajah. Sejarah
panjang penjajahan ini telah menumbuhkan rasa kebangsaan (nasionalisme) yang
membedakan wujud identitas Bangsa Indonesia dengan bangsa lain di dunia. Rasa
kebangsaan tersebut misalnya kebangkitan nasional yang dipelopori oleh Budi Utomo
tahun 1908, semangat sumpah pemudah 1928, dan wujud kemerdekaan Negara Indonesia
tahun 1945 serta semangat untuk mengisi kemederkaan. Demikian juga adanya realitas
bangsa yang bersifat majemuk, yang bhinneka tunggal Ika, baik dari sisi suku, agama,
ras, budaya, dan tempat tinggal.

8
Wujud identitas nasional Bangsa Indonesia berupa lambang atau simbol
kenegaraan yang sudah diterima dalam kehidupan Negara Indonesia. Identitas nasional
itu berupa Bahasa Indonesia, Bendera Negara, Lagu Kebangsaan, Lambang Negara dan
Pancasila sebagai Dasar Negara.

B.Proses Pembentukan Identitas Nasional


Proses pembentukan bangsa membutuhkan identitas-identitas untuk menyatukan
masyarakat bangsa yang bersangkutan. Faktor-faktor yang diperkirakan menjadi identitas
nasional meliputi primordial, sakral, tokoh, bhinneka tunggal ika, sejarah, perkembangan
ekonomi dan kelembagaan (Ramlan Subakti,1999).
1. Primordial
Primordial ini meliputi ikatan kekerabatan (darah dan keluarga), kesamaan suku
bangsa, daerah asal, bahasa dan adat istiadat. Primordial merupakan identitas yang
menyatukan masyarakat sehingga mereka dapat membentuk bangsa.
2. Sakral
Sakral dapat berupa kesamaan agama yang dipeluk masyarakat yang diakui oleh
masyarakat yang bersangkutan. Agama dan ideologi merupakan faktor yang dapat
membentuk bangsa. Misalnya, Negara uni Soviet diikat oleh kesamaan ideologi komunis.
3. Tokoh
Kepemimpinan dari para tokoh yang disegani dan dihormati oleh masyarakat
dapat pula menjadi faktor yang menyatukan bangsa. Pemimpin dibeberapa Negara
dianggap sebagai penyambung lidah rakyat, pemersatu rakyat dan simbol persatuan
bangsa yang bersangkutan. Misalnya; Mahatma Ghandi di India, Nelson Mandella di
Afrika selatan dan Soekarno di Indonesia.
4. Bhinneka Tunggal Ika
Prinsip Bhinneka Tunggal Ika pada dasarnya adalah kesediaan warga bangsa
untuk bersatu dalam perbedaan (unity in diversity). Yang disebut bersatu dalam
perbedaan adalah kesediaan warga bangsa untuk setia pada lembaga yang disebut Negara
dan pemerintahnya, tanpa menghilangkan keterkaitannya pada suku bangsa, adat, ras, dan
agamanya.
5. Sejarah

9
Persepsi yang sama di antara warga masyarakat tentang sejarah mereka dapat
menyatukan diri dalam satu bangsa. Persepsi yang sama tentang pengalaman masa lalu
seperti sama-sama menderita karena penjajahan tidak hanya melahirkan solidaritas tetapi
juga melahirkan tekad dan tujuan yang sama antar warga masyarakat itu.

6. Perkembangan Ekonomi
Perkembangan ekonomi (industrialisasi) akan melahirkan spesialisasi pekerjaan
dan profesi sesuai dengan aneka kebutuhan masyarakat. Semakin tinggi mutu dan variasi
kebutuhan masyarakat, semakin saling bergantung di antara jenis pekerjaan. Setiap orang
akan saling bergantung dalam memenuhi kebutuhan hidup. Semakin kuat saling
ketergantungan anggota masyarakat karena perkembangan ekonomi, akan semakin besar
solidaritas dan persatuan dalam masyarakat. Solidaritas yang terjadi karena
perkembangan ekonomi oleh Emile Dirkhiem disebut solidaritas organis. Faktor ini
berlaku di masyarakat industri maju, seperti Amerika Utara dan Eropa Barat.
7. Kelembagaan
Faktor lain yang berperan dalam mempersatukan bangsa berupa lembaga-lembaga
pemerintahan dan politik.Lembaga-lembaga itu seperti birokrasi,angkatan
bersenjata,pengadilan dan partai politik. Lembaga itu melayani dan mempertemukan
warga tanpa membeda-bedakan asal-usul dan golongannya dalam masyarakat. Kerja dan
prilaku lembaga politik dapat mempersatukan orang lain sebagai satu bangsa.

C. Simbol-Simbol Kenegaraan sebagai Identitas Nasional


1. Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia pada awalnya merupakan bahasa Persatuan, artinya bahasa yang
digunakan untuk mempersatukan keberadaan Bangsa Indonesia melalui pergaulan
bersama secara nasional. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional diangkat dari Bahasa
Melayu. Alasan diangkatnya Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia ada beberapa
pertimbangan, Seperti :
(a) Bahasa Melayu telah lama dipakai sebagai bahasa pergaulan di antara suku-suku
bangsa di Indonesia;

10
(b) Bahasa Melayu banyak digunakan dalam berbagai prasasti yang tersebar di wilayah
Indonesia;
(c) Bahasa Melayu telah lama digunakan dalam buku-buku bacaan yang tersebar di
seluruh Indonesia.
Bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan diakui keberadaannya dengan
dinyatakan dalam Sumpah Pemuda tahun 1928. Kemudian dengan ditetapkannya UUD
1945 pada tanggal 18 Agustus 1945, Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Negara (pasal 36
UUD 1945). Penggunaan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara berarti bahasa resmi
yang berlaku di Indonesia adalah Bahasa Indonesia dengan tidak menghilangkan
keberadaan bahasa daerah yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia.
2. Bendera Negara
Pasal 35 UUD 1945 menetapkan, bahwa BENDERA Negara Indonesia ialah Sang
Merah Putih. Warna Merah melambangkan sifat keberanian dari Bangsa Indonesia,
sedangkan warna Putih melambangkan sifat kesucian atau kebenaran dari Bangsa
Indonesia. “Merah Putih” adalah simbol perbuatan yang berani karena benar. Penggunaan
warna merah dan putih sudah dikenal dalam sejarah kehidupan Bangsa Indonesia sejak
lama dan turun menurun, misalnya adanya budaya pembuatan bubur merah-putih untuk
upacara pemberian nama seorang bayi atau pengibaran kain merah putih dalam
mendirikan rumah. Dengan demikian Sang Merah-Putih adalah bagian dari identitas
nasional Bangsa Indonesia.
3. Lagu Kebangsaan
Lagu kebangsaan Indonesia ialah Indonesia Raya. Lagu tersebut diciptakan oleh
W.R Soepratman. Penggunaan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya diatur dalam Peraturaan
Pemerintah N0.44/1958. Lebih lanjut setelah UUD 1945 diamandemen, Lagu
Kebangsaan ialah Indonesia Raya, ditegaskan dalam Pasal 36B UUD 1945.
4. Lambang Negara
Lambang Negara Indonesia ialah Garuda Pancasila. Lambang Negara tersebut
diatur dalam Peraturan Pemerintah N0.66/1951 tentang Bentuk dan Ukuran Lambang
Negara dan tata cara penggunaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah N0.43/1958.
Setelah UUD 1945 diamandemen , lambang Negara ditegaskan dalam Pasal 36A UUD

11
1945, bahwa Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan Semboyan Bhinneka
Tunggal Ika.
Burung Garuda sebagai Lambang keperkasaan Bangsa Indonesia dengan
berpedoman pada kebenaran (kepala burung yang menghadap ke kanan), Negara
proklamasi 17 Agustus 1945 (jumlah burung adalah 17, 18, 19 dan 45), negara yang
berdasar kepada Pancasila, dan prinsip ber-bhinneka tunggal Ika (berbeda dalam
kesatuan). Lambang Negara dalam bentuk Garuda Pancasila tersebut menjadi salah satu
identitas nasional.
5. Dasar Falsafah negrara yaitu Pancasila
Pancasila yang berisi lima nilai dasar yang dijadikan dasar filsafat dan ideologi
dari Negara Indonesia. Pancasila merupakan identitas nasional yang berkedudukan
sebagai dasar Negara dan ideologi nasional Indonesia.
6. Konstitusi (Hukum Dasar) Negara yaitu UUD 1945
Merupakan hukum dasar tertulis yang menduduki tingkatan tertinggi dalam tata
urutan perundangan dan dijadikan sebagai pedoman penyelenggaraan bernegara.

Pertanyaan.
1. Perlunya kasih sayang dalam kehidupan keluarga dan kekerabatan karena adanya
……..
a. Kesadaran akan pentingnya kemanusiaan
b. Tugas mulia sebagai insan yang bertaqwa
c. Kebutuhan emosional pada setiap manusia
d. Perwujudan rasa saling menyayangi antar sesama
2. Kerjasama antara Bangsa Indonesia dan bangsa lain di dunia mutlak diperlukan dan
Dikembangkan. Adapun salah satu yang menjadi alasannya adalah :
a. Bangsa Indonesia sangat ramah dan jujur dalam bekerja sama
b. Bangsa Indonesia cinta damai dan suka bekerja sama
c. Karena kita bangga sebagai bangsa yang besar di dunia
d. Agar Indonesia mendapat simpati dari Negara lain

12
3. Nasionalisme Indonesia telah berhasil membangkitkan semangat berjuang merebut dan
mempertahankan kemerdekaan. Sebagai embrio rasa persatuan dan kesatuan dalam
mencapai kemerdekaan adalah adanya peristiwa :
a. Proklamasi Kemerdekaan
b. Lahirnya Budi Utomo 20 Mei 1908
c. Dekrit Presiden 5 Juli 1959
d. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

4. Kita bangga berbangsa dan bertanah air Indonesia dengan alasan ………………
a. Memiliki aneka budaya dan kesenian yang tersebar di berbagai wilayah
b. menghidupkan kesenian daerah agar tak punah
c. mengadakan pertunjukan kesenian daerah di luar negeri
d. menggali kesenian daerah untuk dikembangkan
5. Sikap mental yang memperlemah kita sebagai pelopor pembangunan adalah ……….
a. Korupsi, kolusi, dan nepotisme
b. Merasa diri paling besar
c. Perampokan dan penjarahan
d. Keinginan luhur bengsa Indonesia

Kunci jawaban :
1. D
2. B
3. B
4. A
5. A

13
BAB III
DEMOKRASI

Pendahuluan
Dalam Bab III ini membahas tentang Demokrasi dan secara spesifik membahas
Pengertian Demokrasi,Visi,misi pendidikan Demokrasi,Demokrasi sebagai bentuk
Pemerintahan,Nilai dan Prinsip Demokrasi,Pendidikan Demokrasi dan Demokrasi
Konstitusional.
Tujuan Pembelajaran
Diharapkan Mahasiswa dapat :
1.Menjelaskan pengertian Demokrasi
2.Memahami visi,misi pendidikan Demokrasi
3.Menjelaskan Demokrasi sebagai Bentuk Pemerintahan
4. Memahami Demokrasi sebagai sistem politik
5. Mengemukakan nilai dan prinsip demokrasi
6. Menjelaskan Pendidikan Demokrasi
7. Menjelaskan Demokrasi Konstitusional

A. Pengertian Demokrasi
1. Secara Etimologis
Dari sudut bahasa (Etimologis), Demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu
“Demos” yang berarti rakyat dan Cratos atau cratein yang berarti pemerintahan atau
kekuasaan. Secara Bahasa demos-cratein atau demos-cratos berarti pemerintahan rakyat
atau kekuasaan rakyat.
Konsep demokrasi lahir dari Yunani Kuno yang dipraktekkan dalam hidup
bernegara antara abad ke4 SM – abad ke 6 M. Demokrasi yang dipraktekkan pada waktu
itu adalah demokrasi langsung, artinya hak rakyat untuk membuat keputusan-keputusan

14
politik dijalankan secara langsung oleh seluruh rakyat atau warga Negara. Hal ini dapat
dilakukan karena Yunani pada waktu itu berupa Negara kota (polis) yang penduduknya
terbatas pada sebuah kota dan daerah sekitarnya yang berpenduduk sekitar 300.000
orang. Meskipun ada keterlibatan seluruh warga, namun masih ada pembatasan, misalnya
para anak, wanita dan para budak tidak berhak berpartisipasi dalam pemerintahan.
Bila kita tinjau keadaan di Yunani pada saat itu, tampak bahwa “rakyat ikut
secara langsung “. Karena keikut sertaannya yang secara langsung maka pemerintahan
pada waktu itu merupakan pemerintahan dengan demokrasi secara langsung.
Dengan perkembangan zaman dan jumlah penduduk yang terus bertambah maka
keadaan seperti yang dicontohkan dalam demokrasi secara langsung yang diterapkan
seperti diatas mulai sulit dilaksnakan, dengan alasan :
(a) tidak ada tempat yang menampung seluruh warga yang jumlahnya banyak
sulit dilakukan
(b) hasil persetujuan secara bulat mufakat sulit tercapai, karena sulitnya memungut suara
dari peserta yang hadir
(c) masalah yang dihadapi Negara semakin kompleks dan rumit sehingga
membutuhkan orang-orang yang secara khusus berkecimpung dalam penyelesaian
masalah tersebut
Untuk menghindari kesulitan seperti diatas dan agar rakyat tetap memegang
kedaulatan tertinggi, dibentuklah badan perwakilan rakyat. Badan inilah yang
menjalankan demokrasi. Namun pada prinsipnya rakyat tetap merupakan pemegang
kekuasaan tertinggi sehingga mulailah dikenal “demokrasi tidak langsung” atau
demokrasi perwakilan.
Demokrasi atas dasar penyaluran kehendak rakyat ada dua macam, yaitu :
1) Demokrasi Langsung
Paham demokrasi yang mengikutsertakan setiap warga negaranya dalam
permusyawaratan untuk menentukan kebijaksanaan umum dan UU.
2) Demokrasi tidak langsung
Paham demokrasi yang dilaksanakan melalui system perwakilan. Demokrasi tidak
langsung atau demokrasi perwakilan biasanya dilaksanakan melalui pemilihan umum.

15
Untuk Negara-negara modern, penerapan demokrasi tidak langsung dilakukan
karena berbagai alasan, antara lain :
(a) penduduk yang selalu bertambah sehingga pelaksanaan musyawarah pada suatu
tempat tidak dimungkinkan
(b) masalah yang dihadapi semakin kompleks karena kebutuhan dan tantangan hidup
semakin banyak
(c) setiap warga Negara mempunyai kesibukan sendiri-sendiri di dalam mengurus
kehidupannya sehingga masalah pemerintahan cukup diserahkan pada orang yang
berminat dan memiliki keahlian di bidang pemerintahan Negara.
2. Secara Terminiologis
Dari sudut terminologi, banyak sekali definisi demokrasi yang dikemukakan oleh
beberapa ahli dari sudut pandang yang berbeda :
a. Menurut Henry B. Mayo.
Sistem politik demokrasi adalah sistem yang menunjukkan bahwa kebijaksanaan.
Umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh
rakyat dalam pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan
diselenggarakan dalam suasana terjaminnya kebebasan politik.
b. Menurut Harris Soche
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan rakyat, karena itu kekuasaan
pemerintahan itu melekat pada diri rakyat, diri orang banyak dan merupakan hak bagi
rakyat atau orang banyak untuk mengatur, mempertahankan, dan melindungi dirinya dari
paksaan dan pemerkosaan orang lain atau badan yang diserahi untuk memerintah.
c. Menurut C.F Strong
Suatu sistem pemerintahan dalam mana mayoritas anggota dewasa dari
masyarakat politik ikut serta atas dasar sistem perwakilan yang menjamin bahwa
pemerintah akhirnya mempertanggungjawabkan tindakan-tindakan kepada mayoritas.
d. Menurut Alamudi mengemukakan soko guru demokrasi adalah :
Kedaulatan rakyat. pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah,
kekuasaan mayoritas, hak-hak minoritas, jaminan hak asasi manusia, pemilihan yang
bebas dan jujur, persamaan didepan hukum, proses hukum yang wajar, pembatasan

16
pemerintah secara konstitisional, pluralisme sosial, ekonomi dan politik, nilai-nilai
toleransi, pragmatisme, kerjasama dan mufakat.
Ada satu pengertian mengenai demokrasi yang dianggap paling popular di antara
pengertian yang ada. Pengertian tersebut dikemukaan pada tahun 1863 oleh Abraham
Lincoln yang mengatakan demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan
untuk rakyat.
Pemerintahan dari rakyat berarti pemerintahan Negara itu mendapat mandat dari
rakyat untuk menyelenggarakan pemerintahan.Rakyat adalah pemegang kedaulatan dan
kekuasaan tertinggi dalam Negara demokrasi.
Pemerintahan oleh rakyat berarti pemerintahan Negara itu dijalankan oleh rakyat.
Meskipun dalam praktek yang menjalankan penyelenggaraan bernegara itu pemerintah,
tetapi orang-orang itu pada hakekatnya yang telah dipilih dan mendapat mandat dari
rakyat dan diawasi oleh rakyat.
Pemerintahan untuk rakyat berarti pemerintahan itu menghasilkan dan
menjalankan kebijaksanaan yang diarahkan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

B. Visi,Misi Pendidikan Demokrasi


Sejalan dengan tujuan pendidikan yang bermuara pada pembentukan pola pikir,
pola sikap, dan pola tindak peserta didik, dan berdasarkan perkembangan lingkungan
strategis serta tuntutan reformasi di Indonesia, Pendidikan demokrasi mengarah pada
kemampuan warga negara dalam melaksanakan hak dan kewajiban dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Berdemokrasi dapat dilakukan melalui kegiatan di masyarakat
dalam pemilihan ketua rukun tetangga, disekolah dalam bentuk organisasi
ekstrakurikuler, OSIS atau lembaga ekstrakurikuler di PT.
Pendidikan demokrasi dapat dilaksanakan dengan cara :

• Formal diselenggarakan di sekolah; dengan metode pembekalan/tatap muka,


diskusi, presentasi, studi kasus yang memberikan gambaran kepada peserta didik
agar memiliki kemampuan bela negara.

• Informal diselenggarakan melalui pergaulan di rumah dan masyarakat sebagai


bentuk aplikasi berdemokrasi.

17
• Non Formal diselenggarakan secara makro melalui interaksi di luar sekolah
sebagai pembentukan jiwa demokrasi.
Visi pendidikan demokrasi menjadi wahana substansi, pedagogis dan sosial kultural
untuk membangun cita-cita, nilai, konsep, prinsip, sikap hidup, dan ketrampilan
demokrasi dalam diri warga negara melalui pengalaman hidup dan berkehidupan
demokrasi dalam berbagai konteks.
Misi pendidikan demokrasi :

• Manifestasi warga negara untuk mendapatkan berbagai akses dan menggunakan


secara cerdas berbagai sumber informasi tentang demokrasi dalam teori dan
praktik untuk berbagai konteks kehidupan sehingga memiliki wawasan yang luas
dan memadai.

• Memfasilitasi warga negara untuk dapat melakukan kajian konseptual dan


operasinal secara cermat dan bertanggung jawab terhadap berbagai cita-cita,
instrumentasi praksis demokrasi guna mendapatkan keyakinan dalam melakukan
pengambilan keputusan individu dan atau kelompok dalam kehidupan sehari-hari
serta beragumentasi atas keputusannya.

• Memfasilitasi warga negara untuk memperoleh dan memanfaatkan kesempatan


berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam praktis kehidupan demokrasi di
lingkungannya, seperti mengeluarkan pendapat, berkumpul, berserikat, memilih,
serta memonitor dan mempengaruhi kebijaksanaan publik.
Pendidikan demokrasi merupakan proses untuk melaksanakan demokrasi yang benar
sehingga sasaran yang akan dicapai, yaitu mengajar warga negara, terutama mahasiswa
untuk melaksanakan pendidikan ini dengan benar dan bertanggung jawab. Pendidikan
memerlukan sarana, strategi pengajaran dan dilakukan dengan memanfaatkan aneka
media, sumber belajar berupa kajian interdisipliner, masalah sosial, aksi sosial, studi
kasus dsb.

C. Demokrasi sebagai Bentuk Pemerintahan


Demokrasi pada masa lalu dipahami hanya sebagai bentuk pemerintahan. Tetapi
sekarang ini demokrasi dipahami lebih luas lagi sebagai sistem pemerintahan atau

18
politik. Konsep demokrasi sebagai bentuk pemerintahan berasal dari para filsuf Yunani.
Dalam pandangan ini, demokrasi merupakan salah satu bentuk pemerintahan .
Secara klasik, pembagian bentuk pemerintahan menurut plato, dibedakan menjadi
:
1. Monarki,yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh seseorang sebagai
pemimpin tertinggi dan dijalankan untuk kepentingan rakyat banyak.
2. Tirani, yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh seseorang sebagai
pemimpin tertinggi dan dijalankan untuk kepentingan pribadi.
3. Aristokrasi, yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok orang
yang memimpin dan dijalankan untuk kepentingan rakyat banyak.
4. Oligarki, yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok dan
dijalankan untuk kelompok itu sendiri.
5. Demokrasi, yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh rakyat dan
dijalankan untuk kepentingan rakyat.
6. Mobokrasi/okhlokrasi, yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh rakyat
tetapi rakyat tidak tahu apa-apa, rakyat yang tidak berpendidikan, dan rakyat tidak
paham tentang pemerintahan, yang akhirnya pemerintahan yang dijalankannya tidak
berhasil untuk kepentingan rakyat banyak.

D. Demokrasi Sebagai Sistem politik


Pada masa sekarang demokrasi dipahami tidak semata suatu bentuk pemerintahan
tetapi sebagai sistem politik. Sistem politk cakupannya lebih luas dari bentuk
pemerintahan.
Henry B. Mayo, menyatakan demokrasi sebagai system politik merupakan suatu
sistem yang menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh
wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan yang berkala yang
didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya
kebebasan politik.
Samuel Huntington, menyatakan bahwa sistem politik sebagai demokratis sejauh
para pembuat keputusan kolektif yang paling kuat dalam sistem itu dipilih melalui
pemilihan umum yang adil, jujur dan berkala dan didalam sistem itu para calon bebas

19
bersaing untuk memperoleh suara dan hampir semua penduduk dewasa berhak memberi
suara.
Dari sudut sejarah dan perkembangannya, sistem politik ada bermacam-macam :
1. Sistem politik otokrasi tradisional
ciri-cirinya adalah :
(a) kurang menekankan persamaan tetapi lebih menekankan pada stratifikasi ekonomi.
(b) kebebasan politik individu kurang dijamin dan lebih menekankan pada perilaku yang
menuruti kehendak kelompok kecil penguasa
(c) kebutuhan moril dan nilai-nilai moral lebih menonjol dari kebutuhan materiil.
(d) lebih menekankan pada kolektivisme yang berdasarkan kekerabatan dari pada
individualisme (Ramlan Subakti,1992;222)
2. Sistem politik totaliter yang
ciri-cirinya :
(a) kekuasaan tak terbatas
(b) tidak menerima adanya oposisi
(c) melakukan control yang sangat ketat terhadap warga negaranya
Sistem ini menekankan consensus total di dalam masyarakatnya,dan untuk
mencapainya dilakukan dengan indoktrinasi ideologi serta dengan pelaksanaan kekuasaan
paksaan yang luas dan mendalam (Ramlan Subakti,1992;225). Negara menganut sistem
ini mis.RRC, Vietnam, Korea Utara, Kuba.
3. Sistem politik Otoriter
ciri-cirinya :
(a) rakyat dijauhkan dari proses politik
(b) oposisi tidak dibolehkan
(c) pemerintah mempunyai kepentingan yang sangat kecil terhadap kehidupan
masyarakat sehari-hari. Kebanyakan dianut oleh Negara kerajaan.
4. Sistem politik oligarki
ciri-cirinya :
a. kekuasaan ada ditangan sejumlah orang (kelompok elit)
b. mengusahakan agar rakyat dapat dikendalikan dan dikuasainya
c. negara dijadikan alat untuk mencapai tujuannya kelompok elit.

20
d. kesejahteraan rakyat, keadilan dan kemerdekaan perorangan tidak dapat diwujudkan
5. Sistem politik Demokrasi
Sistem politik demokrasi adalah sistem politik yang mendasarkan pada nilai-nilai
dan prinsip-prinsip demokrasi dimana warga Negara dapat berpartisipasi dalam setiap
pengambilan keputusan yang dibuat oleh pemerintah. Sistem yang memelihara
keseimbangan antara konflik dan konsensus, artinya demokrasi memungkinkan
perbedaan pendapat, persaingan dan pertentangan diantara individu, diantara berbagai
kelompok, individu dan kelompok, individu dan pemerintah dsb.
E. Nilai dan Prinsip Demokrasi
Nilai-nilai dasar yang melekat pada pengertian demokrasi (Muladi,1997,73)
adalah :
1. keterlibatan warganegara di dalam pengambilan keputusan politik.
2. kebebasan atau kemerdekaan dan perlindungan terhadap manusia.
3. sistem perwakilan
4. pemerintahan berdasarkan hukum
5. sistem pemilihan yang menjamin pemerintahan oleh mayoritas
6. pendidikan yang memadai dari rakyat, baik yang bersifat umum maupun pendidikan
Politik
Di dalam melaksanaklan nilai-nilai demokrasi perlu diselenggarakan beberapa
lemabaga sebagai berikut (Miriam Budiardjo.1963;63-64) :
1. Pemerintahan yang bertanggung jawab
2. DPR yang mewakili golongan-golongan dan kepentingan-kepentingan dalam
masyarakat yang dipilih dengan pemilu yang langsung, bebas, rahasia, jujur dan adil.
DPR melakukan pengawasan.
3. Suatu organisasi politik yang mencakup satu atau lebih partai politik
4. Pers dan media massa yang bebas untuk menyatakan pendapat
5. Sistem peradilan yang bebas untuk menjamin hak-hak asasi dan mempertahankan
keadilan.
Nurcholis Majid dalam team ICCE UIN Jakarta (2003) menyatakan adanya 7
norma atau pandangan hidup demokrasi adalah :
1. kesadaran akan pluralisme

21
2. prinsip musyawarah
3. adanya pertimbangan moral
4. permufakatan yang adil dan jujur
5. memenuhi segi-segi ekonomi
6. kerjasama antara warga
7. pandangan hidup demokrasi sebagai unsur yang menyatu dengan sistem pendidikan.
Nilai-nilai demokrasi menjadi sikap dan kebudayaan demokrasi yang perlu dimiliki
warga Negara. Nilai-nilai demokrasi merupakan nilai yang perlu untuk mengembangkan
pemerintah yang demokratis. Nilai-nilai yang dikembangkan dan dibiasakan dalam
kehidupan warga akan menjadi budaya demokrasi.
Nilai-nilai demokrasi yang terjabar dari nilai-nilai pancasila tersebut :
1. kedaulatan rakyat
Pembukaan UUD 1945 alinea IV, yaitu “ …. Yang terbentuk dalam suatu susunan
Negara RI yang berkedaulatan rakyat ….”kedaulatan rakyat adalah esensi dari
demokrasi.
2. Republik
Hal ini didasarkan pada pembukaan UUD 1945 alinea ke IV yang berbunyi “…. Yang
terbentuk dalam suatu susunan Negara RI ….” Republik berarti res publika Negara untuk
kepentingan umum..
3. Negara berdasar atas hukum
Hal ini didasarkan pada kalimat “ ….. Negara Indonesia yang melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…” negara
hukum Indonesia menganut hukum arti luas atau materil.
4. Pemerintahan yang Konstitusional
Berdasarkan pada kalimat “…maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan bangsa itu
dalam suatu Undang-undang Dasar negara Indonesia…” UUD Negara Indonesia 1945
adalah konstitusi Negara.
5. Sistem Perwakilan

22
Berdasarkan sila keempat Pancasila, yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dan permusyawaratan/perwakilan.
6. Prinsip Musyawarah
Berdasarkan sila keempat Pancasila, yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dan permusyawaratan/perwakilan.
7. Prinsip Ketuhanan
Demokrasi di Indonesia harus dapat dipertanggungjawabkan kebawah, kepada
masyarakat dan keatas dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan.
Demokrasi pancasila dapat diartikan secara luas maupun sempit sebagai berikut.
1. Secara luas demokrasi Pancasila berarti kedaulatan rakyat yang didasarkan pada nilai-
nilai pancasila dalam bidang politik, ekonomi dan sosial.
2. Secara sempit demokrasi pancasila berarti kedaulatan rakyat menurut hikmat
kebijaksanaan dan permusyawaratan/perwakilan.

F. Pendidikan Demokrasi
Berdasarkan pada uraian-uraian sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa
sistem politik demokrasi suatu Negara terkait dengan dua hal, yaitu institusi (struktur)
demokrasi dan prilaku (kultur) demokrasi.meminjam analisis Gabrielle Almond dan
Didney Verba bahwa kematangan budaya politik akan tercapai bila ada keserasian antara
struktur dan kultur maka pembangunan masyarakat demokratis berarti usaha menciptakan
keserasian antara struktur yang demokratis dengan kultur yang demokratis. Masyarakat
demokratis akan terwujud bila negara tersebut terdapat institusi demokratis dan sekaligus
berjalannya perilaku demokratis.
Institusi atau struktur demokrasi menunjukkan pada tersedianya lembaga-
lembaga politik demokrasi yang ada disuatu negara. Suatu negara dikatakan negara
demokrasi bila didalamnya terdapat lembaga-lembaga politik demokrasi. Lembaga itu
antara lain; pemerintahan yang terbuka dan bertanggung jawab, parlemen, lembaga
pemilu, organisasi politik, lembaga swadaya masyarakat, dan media massa. Membangun
institusi demokrasi berarti menciptakan dan menegakkan lembaga-lembaga politik
tersebut dalam Negara.

23
Perilaku atau kultur demokrasi menujukkan pada berlakunya nilai-nilai demokrasi
di masyarakat. Masyarakat demokratis adalah masyarakat yang perilaku hidup baik
keseharian dan kenegaraannya dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi. Mengutip
pendapatnya Hendry B. Mayo, nilai-nilai demokrasi meliputi: damai dan sukarela, adil,
menghargai perbedaan, menghormati kebebasan, memahami keanekaragaman, teratur,
paksaan yang minimal dan menajukan ilmu membangun kultur demokrasi berarti
mengenalkan, mensosialisasikan dan menegakkan demokrasi pada masyarakat.
Ternyata membangun kultur demokrasi jauh lebih sulit dari pada membangun
struktur demokrasi. Indonesia sendiri secara struktur dapat dikatakan sebagai negara
demokrasi yang terbukti dengan telah adanya lembaga-lembaga politik demokrasi. Akan
tetapi, mengapa demokrasi sekarang ini cenderung pada sikap kebebasan yang semakin
liar, kekerasan, bentrok fisik, konflik antar ras dan agama, brutalitas, ancaman bom,
terror, rasa tidak aman, dsb. Jawabannya adalah karena kultur demokrasi yang belum
tegak dimasyarakat. Boleh jadi negara telah meiliki institusi demokrasi sedangkan
masyarakat belum sepenuhnya bersikap demokratis. Institusi demokratis yang tidak
didukung perilaku demokratis jelas amat membahayakan bagi kelangsungan demokrasi
itu sendiri. Kemudian yang terjadi adalah demokrasi akan jatuh pada anarki atau
demokrasi akan mengundang lawannya sendiri; tampilnya seorang diktator.
Jadi, demokrasi tidak hanya memerlukan institusi, hukum, aturan ataupun
lembaga-lembaga negara lainnya. Demokrasi sejati memerlukan sikap dan perilaku hidup
demokratis masyarakat. Demokrasi ternyata memerlukan syarat hidupnya yaitu waraga
Negara yang memiliki dan menegakkan nilai-nilai demokrasi. Tersedianya kondisi ini
membutuhkan waktu yang lama, berat, dan sulit. Oleh karena itu, secara substansif
berdimensi jangka panjang guna mewujudkan masyarakat demokratis, pendidikan
demokratis mutlak diperlukan. Pendidikan demokrasi pada hakikatnya adalah sosialisasi
nilai-nilai demokrasi supaya bisa diterima dan dijalankan oleh warga negara. Pendidikan
demokrasi bertujuan mempersiapkan warga negara berperilaku dan bertindak demokratis,
melalui aktifitas menanamkan pada generasi muda akan pengatahuan, kesadaran, dan
nilai-nilai demokrasi. Pengetahuan dan kesadaran akan nilai-nilai demokrasi itu meliputi
tiga hal. Pertama, kesadaran bahwa demokrasi adalah sebuah pola hidup yang paling
menjamin hak-hak warga negara itu sendiri, demokrasi adalah pilihan terbaik tentang

24
pola hidup bernegara. Kedua, demokrasi adalah sebuah learning process yang lama dan
tidak sekedar meniru dari masyarakat lain. Ketiga, kelangsungan. Demokrasi bergantung
pada keberhasilan mentransformasikan nilai-nilai demokrasi pada masyarakat.
(Samroni,2001)

G. Demokrasi Konstitusional
Budiardjo (1988) mengidentifikasi demokrasi konstitusional sebagai suatu
gagasan pemerintahan demokratis yang kekuasaannya terbatas dan pemerintahnya tidak
dibenarkan bertindak sewenang-wenang. Ketentuan dan peraturan hukum yang
membatasi kekuasaan pemerintah ini ada dalam konstitusi sehingga demokrasi
konstitusional sering disebut ”pemerintahan berdasarkan konstitusi”. Seperti yang
dikemukakan Loard Action, ”Power tennds to corrupt,but absolute power corrupts
absolutely” (setiap orang yang mempunyai kekuasaan cenderung untuk
menyalahgunakan kekuasannya, tetapi orang yang mempunyai kekuasaan tak terbatas
sudah pasti akan menyalahgunakan kekuasaannya).
Sanusi (1999) mengidentifikasi Sepuluh pilar demokrasi konstitusionil Indonesia
yang dikenal dengan ”The ten Pilars of Indonesian Constitutional Democcracy”
berdasarkan Berdasarkan Pancasila dan Konstitusi Negara RI UUD 1945 :
1. Demokrasi berdasarkan ketuhanan yang maha esa
2. Demokrasi berdasarkan Hak Asasi Manusia
3. Demokrasi berdasarkan kedaulatan Rakyat
4. Demokrasi berdasarkan Kecerdasan Rakyat
5. Demokrasi berdasarkan Pemisahan Kekuasaan Negara
6. Demokrasi berdasarkan Otonomi Daerah
7. Demokrasi berdasarkan Suprtemasi Hukum
8. Demokrasi berdasarkan Peradilan yang bebas
9. Demokrasi berdasarkan kesejahteraan Rakyat
10. Demokrasi berdasarkan keadilan sosial
Di Indonesia dapat dilihat di dalam Penjelasan Umum UUD 1945 topik sistem
Pemerintahan Negara. Pada bagian tersebut dinyatakan :

25
• Indonesia ialah negara yang berdasarkan atas hukum, tidak berdasarkan
kekuasaan belaka

• Sistem Konstitusional

Pemerintahan berdasarkan atas Sistem Konstitusi (hukum dasar), tidak bersifat


Absolutisme ( Kekuasaan yang tidak terbatas )
Dari ketentuan tentang Sistem Pemerintahan Negara di atas jelaslah bahwa
Indonesia menganut demokrasi konstitusionil. Lebih jelas lagi ditegaskan pada bagian
pembukaan UUD 1945 alinea keempat dan sekaligus menjadi bunyi sila keempat
Pancasila yang merupakan ciri khas demokrasi di Indonesia, yakni ” kerakyatan yang
dipimpin oleh hikma kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”.
Bahmueller (1996) mengemukakan bahwa ada tiga faktor yang dapat
mempengaruhi penegakkan demokrasi konstitusionil di suatu negara, yakni faktor
ekonomi, sosial politik, dan faktor budaya kewarganegaraan dan akar sejarah.
Pertama, faktor ekonomi. Tingkat pertumbuhan ekonomi menunjukkan faktor
yang sangat penting dalam pelaksanaan demokrasi di negara tertentu. Hal ini tidak berarti
bahwa negara-negara miskin tidak dapat menerapkan demokrasi atau negara kaya akan
selalu demokrasi. Kekayaan bukanlah indikator suatu negara demokrasi. Pengalaman
sejarah menunjukkan bahwa negara yang kuat ekonominya justru terjadi di negara
otoriter dan sebaliknya. Misalnya Afrika, Gambia tahun 1992 dengan perkapita GNP
$390 menunjukkan sistem pemerintahan dan masyarakat demokratis, sedangkan Gabon
dengan pendapatan per capita $4.480 terutama pendapatan dari minyak malah terkenal
sebagai negara otoriter. Namun, kesejahteraan masyarakat umumnya menjadi faktor
utama untuk menentukan suatu negara itu demokratis atau tidak. Dengan kata lain,
apabila suatu negara ingin hidup demokratis, maka negara tersebut dapat melewati dari
status negara miskin dalam pertumbuhan ekonomi.
Mengapa ekonomi menjadi faktor utama bagi status negara demokrasi? ada
beberapa alasan :

• bahwa pertumbuhan ekonomi akan dapat mencerdaskan masyarakat dan


masyarakat yang cerdas merupakan salah satu kriteria bahkan syarat suatu
masyarakat demokratis.

26
• Pertumbuhan ekonomi juga dapat menimbulkan urbanisasi.

Ada beberapa kategori atau kelompok negara demokrasi dilihat dari aspek
pertumbuhan ekonomi atau dari rentang besarnya per capita (GNP). Kategori ini dapat
dibagi atas 3 :

• Kategori rendah, berkisar antara $1000,00 - $3500,00 per capita

• Kategori sedang, berkisar antara $3500,00 – 10.000,00 per capita

• Kategori tinggi, berkisar antara $12.00,00 – lebih per capita.

Negara yang pertumbuhan ekonominya lebih dari $12.000,00 (tinggi) umumnya


adalah negara demokratis yang telah lama dan stabil, serti AS, Inggris, Jepang,
Singapura, Jerman, Perancis dan negara lain yang umumnya adalah negarqa industri
maju.
Negara kategori sedang pertumbuhan ekonominya adalah negara kecil, Yunani,
Israel, dan Irlandia. Di Negara ini sudah ada kehidupan demokrasi hanya belum stabil.
Sedangkan negara yang kategorinya rendah adalah negara-negara yang sedang
berkembang dan berada pada masa transisi menuju demokrasi. Negara yang paling
miskin di dunia adalah Mali di Afrika dengan GNP $280,00 dan Bangladesh di Asia
dengan GNP $220,00. Menurut Bahmueller dua negara ini tidak mungkin hidup secara
demokratis kecuali mereka dapat meningkatkan pertumbuhan ekonominya.
Kedua, faktor sosial dan politik. Faktor penting yang berkaitan dengan pembangunan
demokrasi di suatu negara dan mungkin sering diabaikan adalah masalah perasaan
kesatuan nasional atau identitas sebagai bangsa. Namun, perasaan nasionalisme dalam
konteks ini bukan nasionalisme sempit atau nasionalisme berlebihan. Semangat
kebangsaan dan bernegara dari setiap individu dalam suatu negara untuk menegakkan
pemerintahan sendiri dan menjalankan demokrasi.
Suatu pemikiran penting yang perlu diantisipasi adalah apakah batas-batas antara
kelompok-kelompok etnis itu kuat atau lemah. Apakah satu golongan dapat menembus
dinding batas itu sehingga tidak ada kelompok eksklusif sehingga satu kelompok dengan
kelompok lain dapat berkomunikasi dan bekerja sama. Keberhasilan dalam membangun

27
masyarakat demokratis, misalnya di AS, karena batasan antara kelompok sangat lemah,
hal ini berbeda dengan kondisi di Sri Langka, rasa permusuhan antara kelompok
minoritas Tamil dan mayoritas Sinhala mengakibatkan munculnya kelompok
pemberontak Tamil. Di Negeria terjadi praktek diskriminasi terhadap minoritas Ibo yang
mengakibatkan perang Biafrican tahun 1960 dan kehilangan ribuan jiwa penduduk. Di
Fiji, muncul kebencian penduduk asli Fiji terhadap kemenangan imigran India. Perang
berdarah antar etnis dan agama di negara-negara pecahan Yugoslavia antara Serbia,
Bosnia, dan Kroatia. Jiwa manusia sudah tidak berharga lagi dalam situasi perang antar
etnis. Oleh karena itu faktor sosial dan politik, khususnya upaya pembangunan bangsa
sangat penting dalam mewujudkan suatu masyarakat dan negara demokratis.
Ketiga, faktor budaya kewarganegaraan dan sejarah. Akar sejarah dan budaya
kewarganegaraan suatu bangsa ternyata dapat memberikan kontribusi yang besar
terhadap pembentukan dan pembangunan masyarakat demokratis. Bahmueller (1996),
mengungkap hasil temuan Robert Putnam yang mengadakan penelitian di Italia selama
lebih dari 20 tahun yang menyimpulkan bahwa daerah-daerah yang memiliki tradisi kuat
dalam nilai-nilai kewarganegaraan menunjukkan tingkat efektivitas paling tinggi dalam
upaya pembangunan demokrasi. Beberapa wilayah di Italia yang banyak dipengaruhi
oleh tradisi faham republik dalam hidup bernegara kemudian dilahirkan kembali pada
masa renaissance dan dibawah kewilayah Inggris dan Amerika Utara pada abad ke-17
dan 18 hingga sekarang nilai-nilai hidup bernegara sacara demokratis dapat berkembang
dengan baik di wilayah-wilayah tersebut. Wilayah yang berhasil menerapkan sistem
pemerintahan demokratis”. Masyarakat demikian memiliki ciri-ciri adanya keterkaitan
berkewarganegaraan, berpartisipasi secara aktif, dan tertarik dengan masalah-masalah
publik.

Pertanyaan .
1. Secara etimologis, pengertian demokrasi berasal dari kata Yunani,demos dan kratos
atau kratein, yang artinya ........................
a. pemerintahan terbatas
b. rakyat berkuasa
c. pemerintahan berdasarkan konstitusi

28
d. pemerintahan berdasarkan hukum
2. Demokrasi yang pernah dipraktekkan pada awal kelahirannya di kota Athena, Yunani,
ialah demokrasi .............................
a. perwakilan
b. tidak langsung
c. langsung
d. parlementer
3. ”Power tends to corrupt,but absolute power corrupts absolutely“. Hal ini
dikemukakan oleh …………….
a. Alamudi
b. Abraham Lincoln
c. Lord Acton
d. Seymour M.Lipset
4. Indonesia menganut Demokrasi konstitusionil. Kenyataan ini dikemukakan dalam
dokumen Negara ………………………….
a. Pembukaan UUD 1945
b. Batang Tubuh UUD 1945
c. Bagian penjelasan umum UUD 1945
d. Tap MPR tentang GBHN
5. Pilar demokrasi yang sejalan dengan tujuan Pendidikan Kewarganegaraan untuk saat
ini adalah ......................
a. kecerdasan rakyat
b. pemisahan kekuasaan
c. kesejahteraan rakyat
d. keadilan sosial
6. Bahmueller (1996) mengemukakan bahwa ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi
penegakan demokrasi konstitusionil di suatu negara, kecuali faktor-faktor ................
a. ekonomi
b. sosial politik
c. budaya kewarganegaraan dan akar sejarah
d. keturunan dari suatu bangsa

29
7. Ciri negara demokrasi antara lain .............
a. Ditegakkannya Hak Asasi Manusia
b. Terdapat pembagian kekuasaan dalam negara
c. Dilakukan pemilihan umum untuk memilih anggota legislatif
d. a, b dan c benar
8. Dalam masyarakat demokratis, kekuasaan berada ditangan rakyat. Oleh karena itu
kedudukan dan kondisi rakyat hendaknya memiliki karakteristik sebagai berikut,
kecuali ............
a. secara ekonomis sudah kuat
b. berpendidikan yang layak
c. berpikir dan bersikap cerdas
d. kebebasan tanpa batas
9. Dalam demokrasi, penguasa pada hakekatnya mendapat kekuasaan dari rakyat.
Konsekkuensinya penguasa memiliki wewenang dalam .................
a. memperlakukan seseorang sesuai dengan kedudukannya
b. bertindak dengan dalih atas nama rakyat
c. menegakkan aturan yang dibuatnya
d. bertindak mengutamakan kaum minoritas
10. Dalam negara demokratis, keputusan diambil berdasarkan suaru mayoritas karena
suara mayoritas ...................................
a. sudah pasti memiliki kebenaran
b. memiliki kekuasaan mutlak terhadap minoritas
c. memiliki sifat demokratis
d. memiliki dukungan yang lebih banyak

Petunjuk jawaban
1. B
2. C
3. C
4. C
5. A

30
6. D
7. D
8. D
9. A
10. D

BAB IV
LEMBAGA PENEGAKAN HUKUM

Pendahuluan
Dalam Bab IV ini membahas tentang Lembaga-Lembaga Penegakan Hukum
Dan secara spesifik membahas tentang Kepolisian,Kejaksaan,Kehakiman dan lembaga
– lembaga peradilan.
Tujuan Pembelajaran
Diharapkan Mahasiswa dapat :
1.Menjelaskan Lembaga-lembaga Penegakan Hukum
2. Menjelaskan Lembaga-lembaga peradilan dilingkungan pengadilan.

A. Kepolisian
Kepolisisan negara adalah alat penegak hukum yang terutama bertugas
memelihara keamanan di dalam negeri. Dalam kaitannya dengan hukum, khususnya
Hukum acara Pidana, Kepolisian negara bertindak sebagai penyelidik dan penyidik.
Menurut pasal 4 UU nomor 8 tahun 1981 tentang Undang-undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP), Penyelidik adalah setiap pejabat polisi negara RI. Penyelidik mempunyai
wewenang untuk :
1. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;
2. mencari keterangan dan barang bukti;

31
3. menyuruh berhenti seorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda
pengenal diri;
4. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

Atas perintah penyelidik, penyelidik dapat melakukan tindakan berupa :


1. penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan penyitaan;
2. pemeriksaan dan penyitaan surat;
3. mengambil sidik jari dan memotret seseorang;
4. membawa dan menghadapkan seorang pada penyidik.

Setelah itu, penyelidik berwenang membuat dan menyampaikan laporan hasil


pelaksanaan tindakan tersebut di atas kepada penyidik.
Selain penyelidik, polisi bertindak pula sebagai penyidik. Menurut pasal 6 UU
No. 8 thn 1981 yang bertindak sebagai penyidik yaitu :
1. pejabat Polisi negara Republik Indonesia;
2. pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-
undang.

Pejabat polisi yang dapat bertindak sebagai penyidik ternyata harus memenuhi
persyaratan kepangkatan tertentu yaitu sekurang-kurangnya berpangkat Pembantu Letnan
Dua (Pelda). Sedangkan bagi pejabat pegawai negeri sipil sekurang-kurangnya
berpangkat Pengatur Muda Tingkat I (Golongan II b) atau disamakan dengan itu.

Penyidik, karena kewajibannya mempunyai wewenang sebagai berikut :


1. menerima laporan dan pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;
2. melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian;
3. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka;
4. melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan;
5. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;
6. mengambil sidik jari dan memotret seseorang;
7. memenggil seseorang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

32
8. mendatangkan orang ahli yang dibutuhkan dalam hubungannya dengan pemeriksaan
perkara;
9. mengadakan penghentian penyidikan;
10. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
Dalam melakukan penyidikan, penyidik diberi kewenangan oleh UU (KUHP) untuk
melakukan penangkapan ,penahanan, penggeledahan, penyitaan, dan pemeriksaan surat,
dan dalam menjalankan tugas dan kewenangannya itu penyidik harus memenuhi syarat-
syarat yang ditentukan oleh UU(KUHP),seperti misalnya :
a. dalam melakukan penangkapan,penyidik harus membawa surat perintah penangkapan
dengan menunjukkan identitas dirinya, dan lamanya penangkapan paling lama 1 X 24
jam.
b. dalam melakukan penahanan juga harus membawa surat perintah penahanan, dan
penahanan dilakukan terhadap tersangka yang diduga keras melakukan tindak pidana
berdasarkan bukti yang cukup, adanya kekhawatiran tersangka akan melarikan diri,
merusak atau menghilangkan barang bukti dan mengulangi tindak pidana. Penyidik
hanya dapat melakukan penahanan terhadap tersangka untuk jangka waktu 20 (dua
puluh) hari, dan dapat diperpanjang untuk waktu paling lama 40 (empat puluh ) hari.
c. dalam melakukan penggeledahan badan, penyidik harus mengindahkan kesopanan,
sedangkan dalam melakukan penggeledahan rumah harus disertai surat izin ketua
pengadilan negeri setempat dan disaksikan oleh dua orang saksi. Apabila penghuni rumah
menolak, maka penggeledahan tetap dapat dilakukan disamping harus dengan surat izin
ketua pengadilan negari setempat juga harus disaksikan oleh dua orang saksi dan kepala
desa/lurah atau ketua lingkungan.
d. dalam melakukan penyitaan, penyidik harus membawa surat izin dari ketua pengadilan
negari setempat.
e. demikian pula dalam melakukan pemeriksaan surat, penyidik harus membawa surat
izin dari ketua pengadilan negari setempat..
Namun syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam melakukan tindakan
penangkapan,penggeledahan, penyitaan dan pemeriksaan surat sebagaimana tersebut di
atas dapat dikecualikan bilamana dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak
penyidik harus segera bertindak.

33
B. Kejaksaan
Tahap penuntutan ini dilakukan oleh jaksa sebagai penuntut umum atas perkara
pidana yang telah selesai dilakukan penyidikan oleh penyidik..Penyidik setelah selesai
melakukan penyidikan menyerahkan perkaranya( berkas perkara beserta tersangkanya )
kepada penuntut umum untuk dilakukan penuntutan.Penuntutan adalah tindakan penuntut
umum untuk melimpahkan perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dalam
hal dan menurut cara yang diatur dalam UU(KUHP) dengan permintaan supaya diperiksa
dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan. Dalam tahap penuntutan ini penuntut
umum menyususn surat dakwaan untuk perkara pidana yang bersangkutan berdasarkan
hasil penyidikan yang diterimanya dari penyidik. Selama melaksnakan penuntutan,
penuntut umum berwenang melakukan penahanan terhadap tersangka untuk waktu paling
lama 20 hari (duapuluh) hari dan dapat diperpanjang untuk waktu paling lama 30 hari.
Baik dalam tahap penyidikan maupun tahap penuntutan, pejabat yang
bersangkutan dalam menjalankan tugas dan kewenangannya harus hati-hati, cermat dan
profesional, karena kesalahan yang dilakukannya akan berakibat tuntutan ganti kerugian
dan rehabilitasi dari pihak tersangka melalui lembaga Praperadilan.
Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang untuk bertindak sebagai penuntut
umum serta melaksanakan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap. Jadi, Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan
kekuasaan negara di bidang penuntutan. Sedangkan yang dimaksud dengan penuntutan
adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri yang
berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Hukum Acara Pidana dengan
permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang Pengadilan. Berdasarkan
penjelasan tersebut, maka Jaksa (Penuntut Umum) berwewenang antara lain untuk :
a. menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan;
b. membuat surat dakwaan;
c. melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri sesuai dengan peraturan yang berlaku;
d. menuntut pelaku perbuatan pelanggaran hukum (tersangka) dengan hukuman tertentu;
e. melaksanakan penetapan hakim, dan lain-lain.

34
Yang dimaksud penetapan hakim adalah hal-hal yang ditetapkan baik oleh hakim
tunggal maupun majelis hakim dalam suatu putusan pengadilan. Putusan tersebut dapat
berbentuk penjatuhan pidana, pembebasan dari segala tuntutan, atau pembebasan
bersyarat.
Dalam kaitannya dengan pelaksanaan atau penegakan hukum, Kejaksaan
berkedudukan sebagai lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara
dibidang penuntutan. Berdasarkan pasal 3 UU No.5 thn 1991 tentang ”Kejaksaan
Republik Indonesia” pelaksanaan kekuasaan negara di bidang penuntutan trsebut
diselenggarakn oleh :
1. Kejaksaan Negeri yang berkedudukan di ibukota Kabupaten atau di kotamadya atau
di kota administratif dan daerah hukumnya meliputi wilayah kabupaten atau
kotamadya atau di kota administratif. Misalnya: Kejaksaan Negeri Kabupaten
Bandung, Kejaksaan Negeri Jakarta Utara, dan sebagainya.
2. Kejaksaan Tinggi yang berkedudukan di ibukota Propinsi dan daerah hukumnya
meliputi wilayah propinsi. Misalnya: Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Kejaksaan
Tinggi Jawa Barat, dan sebagainya.
3. Kejaksaan Agung yang berkedudukan di ibukota negara RI dan daerah hukumnya
meliputi wilayah kekuasaan negara Republik Indonesia.

Tugas dan wewenang Kejaksaan bukan hanya dalam bidang Pidana, tetapi juga di
bidang perdata dan Tata usaha negara, di bidang ketertiban dan kepentingan umum, serta
dapat diberikan pertimbangan dalam bidang hukum kepada instansi pemerintah lainnya.
Khusus dalam bidang Pidana, kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang untuk :
a. melakukan penuntutan dalam perkara pidana;
b. melaksanakan penetapan hakim dan keputusan pengadilan;
c. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan lepas bersyarat (yaitu
keputusan yang dikeluarkan oleh menteri kehakiman);
d. melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan
tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pelaksanaannya
dikoordinasikan dengan penyidik.

35
C. Kehakiman
Pemeriksaan di sidang pengadilan dilakukan setelah tahap penuntutan selesai
dilakukan oleh penuntut umum. Penuntut umum melimpahkan berkas perkara kepada
ketua pengadilan negeri yang berwenang, dengan memohon perkara yang bersangkutan
untuk diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan.
Untuk pemeriksaan di sidang pengadilan dengan acar pemeriksaan biasa
prosedurnya secara garis besar adalah :
1. hakim membuka sidang terbuka untuk umum, kecuali untuk perkara kesusilaan atau
terdakwa anak-anak.
2. yang pertama kali diperiksa adalah terdakwa
3. kemudia hakim ketua sidang mempersilahkan penuntut umum membacakan surat
dakwaan
4. pemeriksaan terhadap saksi-saksi, baik saksi yang memberatkan dakwaan maupun
saksi yang meringankan dakwaan,demikian saksi ahli.Bilamana perlu dalam pemeriksaan
terdakwa dan saksi-saksi, hakim ketua sidang dapat memperlihatkan kepada mereka
segala barang bukti dan menanyakan apakah mereka mengenal benda itu.
5. setelah pemeriksaan dinyatakan selesai, penuntut umum mengadukan tuntutan pidana.
6. kemudia terdakwa dan penasehat hukumnya mengajukan pembelaan.
7. penuntut umum dapat mengajukan jawaban atas pembelaan terdakwa dan terdakwa
dapat mengajukan jawaban atas jawaban penuntut umum.
8. jika acara tersebut selesai, hakim ketua sidang menyatakan pemeriksaan ditutup (untuk
musyawarah hakim mengambil keputusan) dengan ketentuan dapat dibuka kembali untuk
pembacaan putusan hakim.
9. setelah sidang dibuksa kembali dan terbuka untuk umum, hakim ketua membacakan
putusannya.
Kehakiman merupakan suatu lembaga yang diberi kekuasaan untuk mengadili.
Sedangkan Hakim adalah pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh undang-
undang untuk mengadili. Menurut pasal1 UU nomor 8 thn 1981 mengadili adalah
serangkaian tindakan hakim untuk menerima, memeriksa, dan memutuskan perkara
pidana berdasarkan asas bebas, jujur, dan tidak memihak di sidang pengadilan dalam hal
dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang tersebut.

36
Dalam upaya menegakkan hukum dan keadilan serta kebenaran, hakim diberi
kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan. Artinya, hakim tidak boleh
dipengaruhi oleh kekuasaan-kekuasaan lain dalam memutuskan perkara. Apabila hakim
mendapat pengaruh dari pihak lain dalam memutuskan perkara, maka cenderung
keputusan hakim itu tidak adil, yang pada akhirnya akan meresahkan masyarakat dan
wibawa hukum dan hakim akan pudar. Oleh karena itu, dalam pasal5 UU nomor 14 thn
1970 ditegaskan bahwa pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membedakan
orang. Demikian pula dalam pasal 1 disebutkan bahwa kekuasaan kehakiman adalah
kekuasaan Negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan
hukum RI. Dalam penjelasan pasal 1 tersebut ditegaskan bahwa ”kekuasaan kehakiman
yang merdeka ini mengandung pengertian bahwa kekuasaan kehakiman itu bebas dari
campur tangan pihak kekuasaan negara lainnya, dan kebebasan dari paksaan, direktiva
atau rekomendasi yang datang dari pihak ekstra yudisial, kecuali dalam hal-hal yang
diizinkan oleh undang-undang”. Kebebasan dan kemerdekaan yang dimiliki kekuasaan
kehakiman tersebut tidak bersifat mutlak atau sewenang-wenang dalam memutuskan
suatu perkara, karena hakim bertugas untuk menegakkan hukum dan keadilan sehingga
keputusan-keputusannya wajib menjunjung hukum dan mencerminkan perasaan keadilan
masyarakat.
Penyelesaian perbuatan-perbuatan yang melawan hukum, dapat dilakukan dala
berbagai badan peradilan sesuai dengan masalah dan pelakunya. Dalam berbagai badan
peradilan sesuai dengan masalah dan pelakunya. Dalam pasal 10 ayat 1 Undang-undang
no. 14 thn 1970 tentang Pokok-pokok Kekuasaan Kehakiman ditegaskan bahwa
kekuasaan kehakiman dilaksanakan oleh badan pengadilan dalam empat lingkungan
yaitu: 1) Peradilan Umum; 2) Peradilan Agama; 3) Peradilan Militer; 4) Peradilan Tata
Usaha Negara.
Keempat lingkungan peradilan tersebut, masing-masing mempunyai lingkungan
wewenang mengadili tertentu dan meliputi badan peradilan secara bertingkat.
Peradilan militer, peradilan agama, dan peradilan Tata Usaha Negara merupakan
peradilan khusus, karena mengadili perkara-perkara tertentu atau mengadili golonga
tertentu. Sedangkan peradilan umum merupakan peradilan bagi rakyat pada umumnya
baik mengenai perkara Perdata maupun perkara Pidana.

37
1. Peradilan Agama
Peradilan agama diatur dalam Undang-undang no.7 thn 1989. berdasar undang-
undang tersebut, peradilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa perkara-perkara di
tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang:
a) perkawinan;
b) kewarisan, wasiat, hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam;
c) wakaf dan shodaqah.
Kekuasaan kehakiman dalam lingkungan peradilan agama dilaksanakan oleh :
1) Pengadilan agama sebagai badan peradilan tingkat pertama, dibentuk dan bertempat
tinggal di ibu kota kabupaten atau kotamadya. Daerah hukumnya meliputi wilayah
kabupaten atau kota yang bersangkutan.
2) Pengadilan Tinggi agama sebagai badan peradilan tingkat banding, dibentuk dan
bertempat tinggal di ibu kota propinsi dan daerah hukumnya meliputi wilayah propinsi
bersangkutan.
2. Peradilan Militer
Peradilan militer yang merupakan pelaksanaan kekuasaan kehakiman khusus di
lingkungan Angkatan bersenjata saat ini diatur oleh UU N0.31 Tahun 1997. Pelaksanaan
kekuasaan kehakiman di lingkungan Angkatan bersenjata berpun cak pada MA sebagai
pengadilan militer.
Pengadilan dalam lingkungan peradilan militer berwenang :
a. mengadili tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang pada waktu itu
melakukan tindak pidana adalah :
* prajurit
* yang berdasarkan undang-undang dipersamakan dengan prajurit
* anggota suatu golongan atau badan yang dipersamakan atau dianggap sebagai
Prajurit berdasarkan undang-undang
b. memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Angkata Bersenjata
c. menggabungkan perkara gugatan ganti rugi dalam perkara pidana yang bersangkutan
atas permintaan dari pihak yang dirugikan sebagai akibat yang ditimbulkan oleh tindak

38
pidana yang menjadi dakwaan, dan sekaligus memutus kedua perkara tersebut dalam satu
putusan (UU N0.31 tahun 1997,pasal 9).
3. Peradilan Tata Usaha Negara
Peradilan Tata Usaha Negara disebut juga peradilan administrasi negara (UU
N0.5 tahun 1996, pasal 144). Peradilan tata usaha negara adalah peradilan khusus yang
memeriksa dan memutuskan sengketa tata usaha negara. Sengketa tata usaha negara
adalah ” sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara antara orang atau badan
hukum perdata dengan badan atau pejabat tata usaha negara, baik di pusat maupun di
daerah, sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha negara,termasuk segketa
kepegawaian berdasarkan perundang-undangan yang berlaku ” (pasal 1 angka 3)
Dalam pasal 1 ayat 1 Undang-undang no. 5 thn 1986 disebutkan bahwa Tata
Usaha Negara adalah administrasi negara yang melaksanakan fungsi untuk
menyelenggarakan urusan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah.
Peradilan Tata Usaha Negara bertugas untuk mengadili perkara atas perbuatan
melawan hukum yang dilakukan oleh pegawai tata usaha negara.
Dalam Peradilan Tata Usaha Negara ini yang menjadi tergugat bukan orang atau
pribadi, tetapi badan atau pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan keputusan
berdasarkan wewenang yang ada padanya atau dilimpahkan kepadanya. Sedangkan pihak
penggugat dapat dilakukan oleh orang atau badan hukum perdata. Misalnya: beberapa
waktu yang lalu Penerbit Tempo menggugat Menteri Penerangan atas pencabutan SIUP
majalah Tempo.
Badan peradilan tata usaha negara tersusun dari :
1. pengadilan tata usaha negara sebagai badan kekuasaan kehakiman tingkat pertama,
dibentuk dan bertempat tinggal di ibukota kabupaten atau kotamadya, dan darah
hukumnya meliputi wilayah kabupaten atau wilayah kotamadya.
2. pengadilan tinggi tata usaha negara merupakan badan peradilan tingkat banding,
dibentuk dengan undang-undang, bertempat kedudukan di ibukota propinsi dan daerah
hukunya meliputi seluruh daerah hukum propinsi yang bersangkutan

4. Peradilan Umum

39
Peradilan umum adalah salah satu pelaksanaan kekuasaan kehakiman bagi
rakyat pencari keadilan pada umumnya. Rakyat (pada umumnya) apabila melakukan
suatu pelanggaran atau kejahatan yang menurut peraturan dapat dihukum, akan diadili
dalam lingkungan peradilan umum.
Saat ini, Peradilan umum diatur dalam Undang-undang no. 2 thn 1986, yang
dituangkan dalam Lembaran Negara no. 30 thn 1986. Adapun tugas peradilan Peradilan
umum adalah mengadili perkara sipil (bukan militer) mengenai penyimpangan-
penyimpangan dari aturan hukum Perdata material dan hukum Pidana material.

Untuk menyelesaikan perkara-perkara yang termasuk wewenang Peradilan umum,


digunakan beberapa tingkat atau badan pengadilan yaitu:
a. Pengadilan Negeri
Pengadilan Negeri dikenal pula dengan istilah pengadilan tingkat pertama yang
wewenangnya meliputi satu daerah kabupaten atau kota. Misalnya: Pengadilan Negeri
Bekasi, Pengadilan Negeri Tasikmalaya, Pengadilan Negeri Bogor, dan sebagainya.
Dikatakan pengadilan tingkat pertama karena pengadilan negeri merupakan badan
pengadilan yang pertama (permulaan) dalam menyelesaikan perkara-perkara hukum.
Oleh karena itu, pada dasarnya setiap perkara hukum harus diselesaikan terlebih dahulu
oleh pengadilan negeri sebelum menempuh pengadilan tingkat banding. Untuk
memperlancar proses pengadilan, di pengadilan negeri terdapat beberapa unsur yaitu:
Pimpinan, Hakim Anggota, Panitera, Sekertaris, dan Juru Sita.
Adapun fungsi Pengadilan Negeri adalah memeriksa dan memutuskan serta
menyelesaikan perkara dalam tingkat pertama dari segala perkara perdata dan perkara
pidana sipil untuk semua golongan penduduk.

b. Pengadilan Tinggi
Putusan hakim Pengadilan Negeri yang dianggap oleh salah satu pihak belum
memenuhi rasa keadilan dan kebenaran dapat diajukan banding. Proses banding tersebut
ditangani oleh Pengadilan Tinggi yang berkedudukan di setiap ibukota Propinsi. Dengan
demikian, Pengadilan Tinggi adalah pengadilan banding yang mengadili lagi pada tingkat
kedua (tingkat banding) suatu perkara Perdata atau perkara Pidana, yang telah diadili atau

40
diputuskan oleh pengadilan negeri. Dalam Pengadilan Tinggi, hanya memeriksa atas
dasar pemeriksaan berkas perkara saja, kecuali bila Pengadilan Tinggi merasa perlu untuk
langsung mendengarkan para pihak yang berperkara.
Daerah hukum Pengadilan Tinggi pada asasnya adalah meliputi satu daerah
Propinsi. Menurut Undang-undang no. 2 thn 1986, tugas dan wewenang Pengadilan
Tinggi adalah :
1. memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara Pidana dan Perdata di tingkat
banding;
2. mengadili di tingkat pertama dan terakhir sengketa kewenangan mengadili antar
Pengadilan Negeri di daerah hukumnya.

Pengadilan Tinggi mempunyai susunan sebagai berikut :


a. Pimpinan
b. Hakim Anggota
c. Panitera
d. Sekertaris
Sedangkan pembentukan Pengadilan Tinggi dilakukan melalui Undang-undang.
c. Pengadilan Tingkat Kasasi
Apabila putusan hakim Pengadilan Tinggi dianggap belum mengetahui rasa
keadilan dan kebenaran oleh salah satu pihak, maka pihak yang bersangkutan dapat
meminta kasasi kepada Mahkamah Agung. Pengadilan tingkat Kasasi dikenal pula
dengan sebutan pengadilan mahkamah Agung. Di negara kita, Mahkamah Agung
merupakan Badan Pengadilan yang tertinggi, dengan berkedudukan di ibukota negara RI.
Oleh karena itu, daerah hukumnya meliputi seluruh Indonesia.
Pemeriksaan tingkat Kasasi hanya dapat diajukan jika permohonan terhadap
perkaranya telah menggunakan upaya hukum banding, kecuali ditentukan lain oleh
Undang-undang. Sedangkan permohonan Kasasi itu sendiri hanya dapat diajukan 1 (satu)
kali.
Kewajiban pengadilan Mahkamah Agung terutama adalah melakukan
pengawasan tertianggi atas tindakan-tindakan segala pengadilan lainnya di seluruh
Indonesia, dan menjaga agar hukum dilaksanakan dan ditegakkan dengan sepatutnya.

41
Dalam pasal 24 ayat 1 UUD 1945 ditegaskan bahwa ”Kekuasaan kehakiman
dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut
Undang-undang. Untuk mengatur lebih lanjut pasal tersebut, telah dikeluarkan Undang-
undang no. 14 thn 1970 tentang Pokok-pokok Kekuasaan Kehakiman. Dalam Undang-
undang tersebut dikemukakan 4 (empat) lingkungan Peradilan sebagai pelaksana
kekuasaan kehakiman seperti telah di ungkapkan diatas. Mengenai ”Mahkamah Agung”
diatur dalam Undang-undang no.14 thn 1985 (Lembar Negara no. 73 thn 1985). Dalam
kaitannya dengan masalah pengadilan, dalam Undang-undang tersebut dijelaskan bahwa
mahkamah Agung bertugas dan berwenang memeriksa dan memutuskan :
1. permohonan kasasi;
2. sengketa tentang kewenangan mengadili;
3. permohonan peninjauan kembali keputusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap.

Dalam kaitannya dengan pengujian terhadap produk hukum, Mahkamah Agung


mempunyai wewenang :
1. untuk menguji secara materil hanaya terhadap peratuaran perundang-undangan di
bawah Undang-undang;
2. untuk menyatakan tidak syahnya peratuaran perundang-undangan dari tingkat yang
lebih rendah dari Undang-undang atas alasan bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi. Pernyataan tentang tidak syahnya peraturan
perundang-undangan tersebut dapat diambil berhubung dengan pemeriksaan tingkat
Kasasi.

Dalam menegakkan hukum dan keadilan, hakim berkewajiban untuk memeriksa dan
mengadili setiap perkara yang diajukan. Oleh karena itu, hakim atau pengadilan tidak
boleh menolak untuk memeriksa dan mengadili perkara yang diajukan dengan alasan
hukumnya tidak atau kurang jelas. Untuk itu, hakim diperbolehkan untuk menemukan
atau membentuk hukum melalui penafsiran hukum dengan tetap memperhatikan perasaan
keadilan dan kebenaran.

42
d. Penasehat Hukum
Penasehat Hukum merupakan istilah yang ditujukan kepada pihak atau orang
yang memberikan bantuan hukum. Yang dimaksud Penasehat Hukum menurut KUHAP
adalah seorang yang memenuhi syarat yang ditentukan oleh atau berdasar Undang-
undang untuk memberi bantuan hukum. Diperbolehkannya menggunakan penasehat
hukum bagi tertuduh/terdakwa merupakan realisasi dari salah satu asas yang berlaku
dalam Hukum Acara Pidana, yang menyatakan bahwa ”Setiap orang yang tersangkut
perkara wajib diberi kesempatan untuk mendapatkan bantuan hukum yang semata-mata
diberikan untuk melaksanakan kepentingan pembelaan atas dirinya”.
Yang menjadi persoalan kita sekarang adalah sejak kapan seorang
tertuduh/terdakwa mendapat bantuan hukum? Berdasarkan pasal 69 KUHAP ditegaskan
bahwa ”Penasehat hukum berhak menghubungi tersangka sejak saat ditangkap atau
ditahan pada semua tingkat pemeriksaan menurut tata cara tertentu yang telah ditetapkan
didalam Undang-undang”. Penasehat hukum tersebut berhak menghubungi dan berbicara
dengan tersangka pada setiap tingkat pemeriksaan dan setiap waktu untuk kepentingan
pembelaan perkaranya. Hak lain yang dimiliki Penasehat Hukum sehubungan dengan
pembelaan terhadap kliennya (tersangka) adalah mengirim dan menerima surat dari
tersangka setiap kali dikehendaki olehnya. Dalam melaksanakan bantuan hukum, ada
beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh semua pihak yaitu :
1. penegak hukum yang memeriksa tersangka/terdakwa wajib memberi kesempatan
kepada terdakwa untuk memperoleh bantuan hukum;
2. bantuan hukum tersebut merupakan usaha untuk membela diri;
3. tersangka/terdakwa berhak dan bebas untuk memilih sendiri penasehat hukumnya.

Penasehat hukum yang berdiri sendiri dan ada pula yang berhimpun dalam organisasi
seperti: Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN), Ikatan
Penasehat Hukum Indonesia (IPHI), dan sebagainya.

Pertanyaan
1. Keterlibatan lembaga-lembaga penegak hukum dalam proses peradilan secara penuh
dalam berperkara :

43
a. tata usaha negara
b. pidana
c. perdata
d. administrasi
2. Penuntutan dilakukan oleh suatu lembaga yang disebut :
a. pengadilan
b. kepolisian
c. kejaksaan
d. pemasyarakatan
3. Bagi pihak yang beperkara pidana yang merasa dirugikan oleh keputusan hakim
pengadilan negeri dapat menggunakan upaya hukum :
a. grasi
b. peninjauan kembali
c. banding
d. kasasi
4. Inisiatif untuk berperkara perdata berasal dari :
a. polisi
b. jaksa
c. negara
d. para pihak
5. Dalam melakukan penangkapan, penyidik harus membawa surat perintah penangkapan
dan lamanya penangkapan paling lama :
a. 1 X 24 Jam
b. 1 X 12 Jam
c. 2 X 24 jam
d. 1 minggu

Jawaban
1. B
2.C
3. C

44
4.D
5.A

DAFTAR PUSTAKA

Afan Gaffar. 1999. Politik Indonesia ; Transmisi Menuju Demokrasi.


Yogyakarta,Pustaka Pelajar.

Asyukuri Ibn Chamin, dkk. Civic Education, Pendidikan Kewarganegaraan.


Yogyakarta : Dilitbang Muhammadiyah dan LPP UMY.

Andeng Muchtar Ghazali. 2004. Civics Education ; Pendidikan Kewarganegaraan


Perspektif Islam. Bandung : Benang Pers.

Azumardi Azra. Rejuvenasi Pancasila dan Kepemimpinan Nasional, dalam kompas 17


Juni 2004.

Cholisin. 2000. IKN-PKN. Modul Universitas Terbuka. Jakarta.

David Beetham & Kevin Boyle. 2000. Demokrasi dalam 80 tanya jawab. Yogyakarta :
Penerbit Kanisius.

Deden Faturahman & Wawan Sobari. 2002. Pengantar Ilmu Politik. Malang : UMM
Press.

Deliar Noer. 1999. Pemikiran Politik di negara Barat. Jakarta : Mizan.

Depiknas. 2002. Kapita Selekta Pendidikan Kewarganegaraan. Bagian I. Jakarta :


Proyek Peningkatan Tenaga Akademik, Dirjen Dikti, Depdikas.

45
Eman Hermawan dan Umarudin Masdar. 2000. Demokrasi Untuk Pemula. Yogyakarta :
KLIK.

Endang Zaelani Zukaya, dkk. 2000. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan


Tinggi. Yogyakarta : Paradigma.

Franz Magnis Suseno. 1997. Mencari Sosok Demokrasi. Jakarta : Gramedia.

Kaelan MS. 2000. Pendidikan Pancasila. Edisi Reformasi. Yogyakarta : Paradigma.

Maswadi Rauf. 1997. Demokrasi dan Demokratisasi. Pidato pengukuhan Guru Besar
FISIP UI tanggal 1 November 1997 di Salemba, Jakarta.

Mirriam Budiardjo. 1994. Demokrasi di Indonesia : Demokrasi Parlementer dan


Demokrasi Pancasila. Jakarta : Gramedia.

Mustafa Kemal Pasha. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta : Citra Karsa


Mandiri.
Padmo Wahyono. “Demokrasi Politik Indonesia” dalam Rusli Karim dan Fauzi Rizal.
1991. Dinamika Budaya dan Politik dalam Pembangunan. Jakarta : Tiara
Wacana.

Pamudji S. 1994. Perbandingan Pemerintahan. Jakarta : Grasindo.

Sobirin Malian dan Suparman Marzuki (Ed). 2002. Pendidikan Kewarganegaraan dan
Hak Asasi Manusia. Yogyakarta : UII Press.

Suriah Kusumah, dkk. 1986. Kewarganegaraan Negara. Modul Universitas Terbuka.


Jakarta : Penerbit Karunika.

Syahrial Syarbani. 2003. Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. Jakarta : Ghalia


Indonesia.

Tim ICCE UIN Jakarta. 2003. Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education). Jakarta :
Prenda Media.

Udin S. Winataputra. 2001. Paradigma Pendidikan Kewaranegaraan sebagai Wahana


Sistematik Pendidikan Demokrasi. Pendidikan untuk Demokrasi. Makalah.
Tidak diterbitkan.

Zamroni. 2001. Pendidikan untuk Demokrasi. Yogyakarta : Bigraf Publishing.

46