Anda di halaman 1dari 46

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di era yang sudah sangat modern seperti ini, perkembangan teknologi
semakin berkembang pesat. Tentunya pada dunia indstri sudah banyak
menggunakan teknologi yang canggih. Dengan adanya perkembangan teknologi
yang semakin canggih tentu saja sangat membantu mempermudah dan
mempercepat pekerjaan manusia. Dengan demikian Politeknik Negri Sriwijaya
memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat langsung perkembangan
teknologi yang berada di industry dan meningkatkan skill dan pengetahuan
melalui program Kerja Praktek.
Kerja Praktek merupakan salah satu mata kuliah wajib dalam perkuliahan.
Dengan Kerja Praktek mahasiswa akan mendapat pengetahuan dan gambaran
tentang dunia kerja itu sendiri. Kerja praktek sendiri merupakan salah satu sarana
melatih diri ketika memasuki dunia kerja, Kerja Praktek ini diharapkan
mahasiswa mampu menerapkan ilmu yang didapatkan ketika Kerja Praktek.
Pemilihan Kerja Praktek di PT PLN (PERSERO) UPDK Keramasan
ULPLTD/G Merah Mata. Perusahaan ini merupakan perusahaan milik negara
yang bergerak di bidang ketenagalistrikan baik dari mulai mengoperasikan
pembangkit listrik sampai dengan melakukan transmisi kepada masyarakat di
seluruh wilayah Indonesia.
PT PLN (Persero) UPDK Keramasan ULPLTD/G Merah Mata merupakan
salah satu unit pembangkit listrik milik BUMN yang ada di Sumatera Selatan.
Total kapasitas yang mampu dibangkitkan adalah ± 75 MW terdiri dari 3 Unit
Pembangkit yaitu PLTG LM 6000 Borang 1, PLTG LM 6000 Borang 2, PLTG
LM 2000 Borang 3. Untuk menyediakannya tentu dibutuhkan suatu pembangkit
listrik yang memiliki kehandalan yang sangat tinggi Suatu sistem pembangkit
terdiri dari beberapa sistem dan subsistem yang saling menopang. Kehandalan
sistem tersebut dipengaruhi oleh peralatan-peralatan pendukung (auxiliary) yang
menyusunnya.
Politeknik Negri Sriwijaya

Masing masing peralatan mempunyai fungsi tertentu yang mewakili setiap


tahapan proses dari siklus produksi energi listrik.Salah satunya Generator Lube
Oil system merupakan suatu sistem yang mengatur untuk pelumasan komponen-
komponen yang bergerak dalam generator. Sistem ini mengatur agar fungsi
pelumasan secara kontinyu pada gas turbine di bagian generator dapat berjalan
dengan maksimal.
Pada Generator Lube oil system terdapat tangki Generator Lube oil yang
mana merupakan tempat penampungan oli generator. Pada Generator Lube oil
system terdapat instrument yang berfungsi mengukur level oli dan memberikan
indikasi Alarm/ trip jika level oli pada tangki Generator Lube oil Low atau High
yang menggunakan Level Transmitter Rosemount 3301. Sehingga pada
kesempatan ini penulis dapat mengambil judul “LEVEL TRANSMITTER
SEBAGAI MONITORING KETINGGIAN OIL PADA TANGKI
GENERATOR LUBE OIL DI PT PLN (PERSERO) UNIT LAYANAN
PUSAT LISTRIK MERAH MATA (BORANG)”

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang pembuatan laporan kerja praktek ini, rumusan
masalah dari laporan kerja praktek ini yaitu mengetahui bagaimana sistem
monitoring dan cara kalibrasi dari level transmitter pada perangkat Generator
Lube Oil.

1.3 Batasan Masalah


Agar pembahasan masalah yang dilakukan dapat terarah baik dan tidak
menyimpang dari pokok permasalahan, maka penulis membatasi permasalahan
yang akan dibahas, yakni blok diagram sistem monitoring dan cara kalibrasi dari
level transmitter pada perangkat Generator lube oil.

3
Politeknik Negri Sriwijaya

1.4 Tujuan dan Manfaat


1.4.1 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan laporan ini adalah sebagai berikut :
1. Mempelajari sistem kerja level transmitter pada Generator Lube Oil.
2. Mempelajari cara mengkalibrasi level transmitter Rosemount 3301

1.4.2 Manfaat
Beberapa manfaat yang dapat diambil melalui pembuatan laporan kerja
praktek adalah sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui sistem kerja level transmitter pada Generator Lube
Oil.
2. Dapat mengetahui cara mengkalibrasi level transmitter Rosemount 3301

1.5 Metode Penyusunan Laporan


Metode penyusunan Laporan Kerja Praktek di PLTG BORANG dilakukan
dengan menggunakan metode – metode berikut :
1. Metode Observasi
Metode pengumpulan data ini dilakukan dengan cara melakukan
pengamatan dan kunjungan langsung di area generator lube oil di PLTG
BORANG 1 dengan dibimbing oleh pembimbing atau teknisi yang berada di PT
PLN (persero) ULPLTD/G Merah Mata.
2. Metode Wawancara
Metode pengumpulan data ini dilakukan dengan cara penulis mengadakan
wawancara ataupun Tanya jawab dengan dengan pembimbing kerja praktek di PT
PLN (persero) ULPLTD/G Merah Mata.
3. Metode Studi Pustaka/ Literatur
Melalui metode ini penulis mencari bahan untuk melengkapi data-data dari
hasil observasi dan wawancara dengan cara mempelajari buku-buku manual, dan
berkas-berkas lain yang terdapat di ruang HMI (Human Machine Interface) di PT

4
Politeknik Negri Sriwijaya

PLN (persero) ULPLTD/G Merah Mata, serta mencari sumber referensi di


internet

1.6. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Kerja praktek ini dilaksanakan :
Waktu : 24 September 2020 – 24 November 2020.

Tempat : PT. PLN (Persero) UPDK Keramasan ULPL Merah Mata


Alamat : Jl. KR. Rozali Desa Balai Makmur Merah Mata, Banyuasin I,
Banyuasin

1.7. Sistematika Penulisan


Agar lebih sistematis dan mudah di mengerti dalam penulisan, maka
penulis membagi dalam beberapa bagian bab sebagai berikut :
 BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini akan diuraikan tentang Latar Belakang, Perumusan Masalah,
Batasan Masalah, Tujuan dan Manfaat Kerja Praktek, Metode Penyusunan
Laporan, Waktu dan Tempat pelaksanaan, Judul Tugas Khusus dan Sistematika
Penulisan.
 BAB II TINJAUAN UMUM
Dalam bab ini berisikan tentang profil perusahaan mulai dari Sejarah
Perusahaan, arti logo perusahaan, lokasi perusahaan, ruang lingkup perusahaan,
struktur organisasi perusuahaan, dan sebagainya.
 BAB III TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini berisi tentang yang landasan teori yang berhubungan dengan
judul pada laporan ini, yaitu tentang perangkat Generator lube oil dan level
transmitter.
 BAB IV PEMBAHASAN

5
Politeknik Negri Sriwijaya

Pada bab ini berisikan penjelasan tentang pembahasan mulai dari blok
diagram sistem monitoring level transmitter, data pemantauan level oil pada
generator lube oil, dan cara mengkalibrasi level transmitter.
 BAB V PENUTUP
Pada bab ini menyimpulkan hasil dari pembahasan dan memberikan saran
apa yang dapat diberi.

6
Politeknik Negri Sriwijaya

BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1 Sejarah singkat PT. PLN (Persero) UIK Sumbagsel Sektor Pembangkit
Keramasan
Perusahaan Listrik Negara atau yang sering dikenal dengan nama resminya
adalah PT PLN (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang
mengurusi semua aspek kelistrikan yang terjadi di Indonesia. Terkhusus bagi
masyarakat di daerah Sumatera bagian Selatan telah mengenal listrik sejak zaman
penjajahan Kolonial Belanda tetapi yang dapat menikmati listrik pada saat itu
tidak semua orang, tidak seperti saat ini yang telah dinikmati oleh hampir setiap
rumah tangga di Indonesia. Pada saat itu hanya sebagian orang-orang tertentu saja
yang dapat menikmati listrik dengan baik.
Pada zaman kolonial Belanda hanya sebagian masyarakat yang dapat
menikmatinya, hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain
ketersediaan bahan baku primer, sistem penyaluran yang belum sebanyak seperti
pada saat ini, sistem kehandalan yang belum sehandal dengan sistem
ketenagalistrikan saat ini, maupun faktor ekonomi lainnya seperti kemiskinan
maupun harga transaksi listrik yang masih mahal pada zaman penjajaan tersebut.
Faktor monopoli perusahaan listrik juga dapat menjadi alasan mengapa hanya
beberapa rumah tangga saja yang dapat menikmati energi listrik.
Sistem ketenagalistrikan di Indonesia dimulai pada akhir abad ke-19, ketika
beberapa perusahaan Belanda mendirikan pembangkit tenaga listrik untuk
keperluannya sendiri. Pengusahaan tenaga listrik untuk kepentingan umum
dimulai sejak perusahaan swasta Belanda yaitu N.V. NIGM memperluas usahanya
di bidang tenaga listrik, yang semula hanya bergerak di bidang gas. Kemudian
meluas dengan berdirinya perusahaan swasta lainnya.
Tanggal 1 Januari 1975, setelah pembangunan dan uji coba operasi PLTU
Unit 1 dan unit 2 selesai dilaksanakan dibentuk satuan organisasi dengan nama

7
Politeknik Negri Sriwijaya

PLN Sektor Pembangkitan Keramasan dibawah pengendalian perum PLN wilayah


iv Palembang.
Sejak tanggal 9 Agustus 1996, berkaitan dengan perubahan bentuk
organisasi PLN dari Perum menjadi Persero serta dibentuk PT PLN (Persero)
Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan, maka pengendalian PLN Sektor
Pembangkitan Keramasan berada di bawah PT.PLN (Persero).
Sampai saat ini PT PLN (Persero) Sektor Keramasan terdiri dari tiga pusat
listrik yang terdiri dari sepuluh unit pembangkitan termasuk pembangkitan sewa,
adapun pusat listrik tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pusat Listrik Keramasan : PLTU/G
2. Pusat Listrik Indralaya : PLTG/U
3. Pusat Listrik Borang : PLTD/G

2.2 Profil PT. PLN (Persero) UIK Sumbagsel Sektor Pembangkit Keramasan
– Unit Layanan Pusat Listrik Merah Mata (Borang)

GAMBAR 2.1 PT. PLN (Persero) ULPL Merah Mata


(sumber: Doc. PT. PLN (Persero) ULPL Merah Mata)

Pada Unit Layanan Pusat Listrik Merah Mata merupakan salah satu bagian
unit pembangkit PT. PLN (Persero) Pembangkit Sumatera Bagian Selatan Sektor
Pembangkit dan Pengendalian Keramasan yang mengemban tugas melaksanakan

8
Politeknik Negri Sriwijaya

penyediaan dan pelayanan supply tenaga listrik di kota Musi Banyuasin


khususnya dan Sumbagsel pada umumnya
Unit Layanan Pusat Listrik Merah Mata dioperasionalkan pada tahun 2013
dan bekerja sama dengan perusahaan PT. Wijaya Karya yaitu LM6000 (2×30
MW) dan Gas untuk operasional pada pembangkit di suplai oleh PT. Medco
Energi Internasional Tbk. Sebelum tahun 2013 di operasionalkan oleh PT.
Sewatama dan PT. Wijaya Karya tepatnya pada tahun 2004 PLTG tersebut
menggunakan jenis pembangkit LM2500 (2 × 14 MW) dan PLTG Apung (30
MW). Pada tahun 2018 LM2500 dialokasikan ke PLTG jakabaring untuk
menyuplai daya listrik demi keperluan ASEAN GAMES. Namun pada tahun 2010
PLTG Apung terjadi gangguan (reverse power/generator menjadi motor) dan
mengakibatkan kebakaran
pada system operasionalnya. Sehingga pada tahun 2010-2011 di datangkannya
LM2000 (12 MW) dari Talang Betutu. .
Unit Layanan Pusat Listrik Borang merupakan jenis Pembangkit Listrik
Tenaga Gas (PLTG). Pada PLTG ini terdapat 2 sistem pembangkit yaitu LM2000
(12 MW) dan LM600 (2×30 MW). Namun, system yang dipakai hanya LM6000
dikarenakan LM2000 belum siap untuk beroperasi disebabkan turbin masih
mengalami kendala dimana kendala tersebut vibration dan noise melebihi batas
maksimal yang di tentukan.
Unit Layanan Transmisi dan Gardu Induk (ULTG) Borang membawahi 2
(dua) Gardu Induk Tegangan Tinggi dan 8 (delapan) Gardu Induk antara lain:
1. Gardu Induk Tegangan Tinggi 275kV Betung
2. Gardu Induk Tegangan Tinggi 275kV Sungai Lilin
3. Gardu Induk 150kV Betung
4. Gardu Induk 150kV Sekayu
5. Gardu Induk 150kV Tanjung Api-api
6. Gardu Induk 150kV Talang Kelapa
7. Gardu Induk 150kV Gandus
8. Gardu Induk 70kV Borang

9
Politeknik Negri Sriwijaya

9. Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang bertumbuh kembang, Gardu


Induk 150kV Borang
10. Gardu Induk 150kV Kenten

2.3 Visi, Misi, dan Motto


2.3.1 Visi Misi PT PLN (Persero)
unggul dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi Insani.
 Ciri Perusahaan Kelas Dunia :
1. Merupakan barometer standar kualitas pelayanan dunia.
2. Memiliki cakrawala pemikiran yang mutakhir.
3. Terdepan dalam pemanfaatan teknologi.
4. Haus akan kesempurnaan kerja dan perilaku.
5. Merupakan perusahaan idaman bagi pencari kerja.
 Tumbuh kembang :
1. Mampu mengantisipasi berbagai peluang dan tantangan usaha.
2. Konsisten dalam pengembangan standar kinerja.
 Unggul :
1. Terbaik, terkemuka dan mutakir dalam bisnis kelistrikan.
2. Fokus dalam usaha mengoptimalkan potensi insane.
3. Peningkatan kualitas input, proses dan output produk dan jasa pelayanan
secara berkesinambungan.
 Terpercaya :
1. Memegang teguh etika bisnis.
2. Konsisten memenuhi standar layanan yang dijanjikan.
3. Menjadi perusahaan favorit para pihak yang berkepentingan.
 Potensi Insani :
1. Berorientasi pada pemenuhan standar etika dan kualitas.
2. Kompeten, professional dan berpengalaman.

10
Politeknik Negri Sriwijaya

2.3.2 Misi PT PLN (Persero)


Untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan oleh manajemen perushaan,
PT PLN (Persero) juga mempunyai misi yang sangat penting yaitu :
1. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi
pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham.
2. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat.
3. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.
4. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

2.3.3. Motto PT PLN (Persero)


Listrik untuk kehidupan yang lebih baik.

2.4. Makna Logo PT PLN (Persero)


Bentuk, warna dan makna lambang Perusahaan resmi yang digunakan
adalah sesuai yang tercantum pada Lampiran Surat Keputusan Direksi Perusahaan
Umum Listrik Negara No. : 031/DIR/76 Tanggal : 1 Juni 1976, mengenai
Pembakuan Lambang Perusahaan Umum Listrik Negara. Logo PT. PLN (Persero)
dapat dilihat pada Gambar 2.1

Gambar 2.2 Logo PT PLN. (Persero)

(sumber: Doc. PT. PLN (Persero) ULPL Merah Mata)

11
Politeknik Negri Sriwijaya

2.4.1. Bidang Persegi Panjang Vertikal


Menjadi bidang dasar bagi elemen-elemen lambang lalnnya,
melambangkan bahwa PT PLN (Persero) merupakan wadah atau organisasi yang
terorganisir dengan sempurna. Berwarna kuning untuk menggambarkan
pencerahan, seperti yang diharapkan PLN bahwa listrik mampu menciptakan
pencerahan bagi kehidupan masyarakat. Kuning juga melambangkan semangat
yang menyala-nyala yang dimiliki tiap insan yang berkarya di perusahaan ini.

Gambar 2.3 Bidang Persegi Panjang Vertikal


(sumber: Doc. PT. PLN (Persero) ULPL Merah Mata)

2.4.2. Petir atau Kilat


Petir atau Kilat melambangkan tenaga listrik yang terkandung di dalamnya
sebagai produk jasa utama yang dihasilkan oleh perusahaan. Selain itu petir pun
mengartikan kerja cepat dan tepat para insan PT PLN (Persero) dalam
memberikan solusi terbaik bagi para pelanggannya. Warnanya yang merah
melambangkan kedewasaan PLN sebagai perusahaan listrik pertama di Indonesia
dan kedinamisan gerak laju perusahaan beserta tiap insan perusahaan serta
keberanian dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman. Gambar Petir
atau Kilat dapat dilihat pada Gambar 2.3.

12
Politeknik Negri Sriwijaya

Gambar 2.4 Petir atau Kilat


(sumber: Doc. PT. PLN (Persero) ULPL Merah Mata)

2.4.3. Tiga Gelombang


Tiga gelombang memiliki arti gaya rambat energi listrik yang dialirkan
oteh tiga bidang usaha utama yang digeluti perusahaan yaitu pembangkitan,
penyaluran dan distribusi yang seiring sejalan dengan kerja keras para insan PT
PLN (Persero) guna memberikan layanan terbaik bagi pelanggannya. Diberi
warna biru untuk menampilkan kesan konstan (sesuatu yang tetap) seperti halnya
listrik yang tetap diperlukan dalam kehidupan manusia. Di samping itu biru juga
melambangkan keandalan yang dimiliki insan-insan perusahaan dalam
memberikan layanan terbaik bagi para pelanggannya. Gambar Tiga Gelombang
dapat dilihat pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5 Tiga Gelombang


(sumber: Doc. PT. PLN (Persero) ULPL Merah Mata)

13
Politeknik Negri Sriwijaya

14
Politeknik Negri Sriwijaya

2.5. Kegiatan Usaha


2.5.1. Pemasaran
PT. PLN (Persero) Unit Layanan Pusat Listrik Merah Mata menyalurkan
listriknya keseluruh wilayah kota Palembang.
Dalam penyalurannya, 4,4% dari listrik tersebut dimanfaatkan sendiri oleh
pihak industr untuk pemkaian power supply sekitar 1,5MV sedangkan sisanya
dialirkan ke sistem interkoneksi sebesar 150kV . Sehingga yang didistribusikan
pada konsumen saat ini sebesar 95.6%.

2.5.2. Sasaran Perusahaan


Sasaran Perusahaan merupakan bagian komitmen perusahaan berkaitan
dengan mutu, lingkungan dan K3 ditetapkan pada fungsi dan tingkat yang relevan
dalam organisasi sasaran ini konsisten dengan kebijakan perusahaan dan
peningkatan berkelanjutan, yang pencapaiannya dapat diukur, sehingga dapat
berdampak positif pada mutu produk, keefektifan operasional, dan kinerja
keuangan sehingga dapat memberikan kepuasan dan keyakinan kepada pelanggan
maupun pihak-pihak yang berkepentingan.
Secara umum sasaran perusahaan PT. PLN (Persero) Pembangkitan
Sumatera Bagian Selatan meliputi perspektif bisnis internal, perspektif pelayanan
pelanggan, perspektif keuangan, perspektif pembelajaran, perspektif administrasi,
dan perspektif pengawasan dan komitmen terhadap pengelolaan dan pengendalian
lingkungan serta keselamatan dan kesehatan kerja sesuai aturan dan ketentuan
yang berlaku.

Pencapaian sasaran perusahaan ini dipantau secara periodik untuk


memastikan kesesuaiannya terhadap target yang telah ditetapkan.

15
Politeknik Negri Sriwijaya

2.6 Letak Geografis PT. PLN (Persero) ULPL Merah Mata


PLTG Unit Layanan Pusat Listrik Merah Mata terletak di Jl K.R Rozali
Desa Balai Makmur Merah Mata Banyuasin 1 Kabupaten Banyu Asin Sumatera
Selatan. Terletak lebih kurang 14 km dari pusat kota Palembang dengan
ketinggian 30 meter diatas permukaan laut. Letak Geografis PT. PLN Merah Mata
dapat dilihat pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Letak Geografis PT. PLN Merah Mata


(sumber: Doc. Pribadi)

16
Politeknik Negri Sriwijaya

2.7. Struktur Organisasi dan Uraian Tugas


2.7.1Struktur Organisasi ULTG Borang
Kantor ULTG Borang berlokasi di Jalan KR. Rozali Dusun 1 Balai
Makmur Desa Merah Mata Banyuasin 1 Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan.
Gambar Struktur Organisasi PT. PLN dapat dilihat pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Struktur Organisasi PT. PLN


(sumber: Doc. PT. PLN (Persero) ULPL Merah Mata)

2.7.2Uraian Tugas
Uraian fungsi dan tugas pokok pada Unit Layanan Transmisi dan Gardu
Induk, adalah:
1. Manager ULTG
a. Mengkoordinir program kerja bidang pemeliharaan jaringan, GI, dan PMO
untuk mencapai target kinerja yang optimal.
b. Mengkoordinir pelaksanaan perbaikan instalasi penyaluran meliputi
instalasi jaringan, gardu induk dan PMO.

17
Politeknik Negri Sriwijaya

c. Mengelola pelaksanaan pemeliharaan rutin dan korektif jaringan, gardu


induk, proteksi, meter, dan otomasi.
d. Mengelola penggunaaan alat kerja untuk optimalisasi utilitas alat kerja.
e. Memastikan terlaksananya CBM inspeksi level 1,2, dan 3 serta CBM
Transmisi, pelaporan pekerjaan rutin dan no-rutin di group (rencana dan
realisasi).
2. Spv. Pemeliharaan Gardu Induk
a. Bertanggung jawab atas pemeliharaan rutin dan non rutin (Shutdown
testing) peralatan gardu induk beserta laporannya.
b. Perbaikan anomaly peralatan gardu induk.
c. Penggantian peralatan gardu induk, update data peralatan gardu induk.
d. Pelaporan pekerjaan rutin dan non rutin di group (rencana dan realisasi).
e. Mengelola fungsi pemeliharan gardu induk yang meliputi perencanaan,
pelaksanaan, dan pemantauan hasil pemeliharaan gardu induk.
f. Merencanakan dan mengkooridnasikan pelaksanaan pemeliharaan rutin
dan korektif gardu induk.
3. Spv. Pemeliharaan Jaringan
a. Bertanggung jawab untuk pemeliharaan rutin dan non rutin peralatan
jaringan beserta laporannya.
b. Perbaikan anomaly peralatan jaringan serta investigasi gangguan
penyaluran,
c. Update data peralatan jaringan, pelaporan pekerjaan rutin dan on rutin di
group (rencana dan realisasi).
4. Spv. Pemeliharaan Proteksi, Metering dan Otomasi (PMO)
a. Bertanggung jawab atas pemeliharaan rutin dan non rutin (Shutdown
testing) peralatan proteksi, metering dan otomasi beserta laporannya.
b. Perbaikan anomaly peralatan proteksi, metering dan otomasi.
c. Penggantian peralatan proteksi, metering dan otomasi.
d. Update data peralatan proteksi, metering dan otomasi.
e. Pelaporan pekerjaan rutin dan non rutin di group (rencana dan realisasi).

18
Politeknik Negri Sriwijaya

f. Mengelola fungsi pemeliharan proteksi, metering dan otomasi yang


meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan hasil pemeliharaan
proteksi, metering dan otomasi.
g. merencanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan pemeliharaan rutin
dan korektif proteksi, metering dan otomasi.
5. Spv. Jaringan dan Gardu Induk
a. Bertanggung jawab untuk melakukan monitoring dan validasi Srintami.
b. Melakukan pengoperasian dan monitoring peralatan instalasi SUTT dan
Gardu Induk.
c. Pelaporan operasi dan kondisi peralatan.
d. Memonitor peralatan gardu induk dan membuat laporan ketidaknormalan
peralatan gardu induk dan transmisi.
e. Membuat berita acara transaksi KWH.
f. Mendata peralatan terpasang GI dan transmisi.
g. Mendata material, peralatan kerja dan perbaikan instalasi, pelaporan
pekerjaan rutin dan non-rutin di group (rencana dan realisasi).
6. Junior Engineering Pemeliharaan
a. Menyiapkan prosedur, instruksi kerja, peralatan kerja, material, format
laporan, untuk melaksanakan pekerjaan dan pemeliharaan preventive,
corrective, breakdown/predictive transmisi dan gardu induk.
b. Melaksanakan pekerjaan dan pemeliharaan preventive, corrective,
breakdown/predictive transmisi dan gardu induk sesuai dengan prosedur /
instruksi kerja.
c. Membuat laporan hasil pekerjaan preventive, corrective,
breakdown/predictive transmisi pada gardu induk.
d. Memelihara peralatan kerja / uji pemeliharaan transmisi dan GI.
7. Operator Gardu Induk
a. Menyusun jadwal kerja operasional dan petugas keamanan.
b. Memeriksa dan membuat rekap laporan operasional pada gardu induk dan
transmisi.

19
Politeknik Negri Sriwijaya

c. Memeriksa hasil monitoring peralatan gardu induk dan membuat laporan


ketidak normalan peralatan gardu induk dan transmisi.
d. Melaksanakan dan membuat laporan pemeliharaan mingguan, bulanan,
dan baterai.
e. Memeriksa dan mengawasi pekerjaan mandor line (ROW), Cleaning
service.
f. Membina dan membuat penilaian (SMUKI) bawahan.
g. Membuat data peralatan yang terpasang di Gardu Induk dan transmisi.

2.6. Ruang Lingkup


Sebagai salah satu BUMN, PT PLN (Persero) memegang peranan penting
bagi kehidupan manusia. Secara tidak langsung perusahaan ini mengalami 3
penumpukan dalam ruang lingkup pekerjaannya yang meliputi:
1. Usaha Penyediaan Tenaga Listrik, diataranya pembangkitan, penyaluran,
distribusi, perencanaan, pembangunan sarana penyediaan tenaga listrik dan
pengembangan penyediaan tenaga listrik.
2. Usaha Penunjang Tenaga Listrik, diantaranya konsultasi yang berhubungan
ketenagalistrikan, pembangunan dan pemasangan peralatan
ketenagalistrikan, pemeliharaan peralatan ketenagalistrikan dan
pengembangan teknologi peralatan yang menunjang penyediaan tenaga
listrik.
3. Usaha lain, diantaranya kegiatan usaha dan pemanfaatan sumber daya alam
dan sumber energi terkait penyediaan ketenagalistrikan, jasa operasi dan
pengaturan bidang pembangkit, penyaluran, distribusi dan retail tenaga
listrik, kegiatan perindustrian perangkat keras dan luas bidang
ketenagalistrikan, kerjasama dengan badan lain dan usaha lain

20
Politeknik Negri Sriwijaya

2.8. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K2 dan K3)


2.8.1 Maksud dan Tujuan
Agar setiap pekerjaan pada instalasi listrik tegangan tinggi / ekstra tinggi
dapat terlaksana dengan aman dan lancer serta selamat sehingga tercapai zero
accident. Penetapan prosedur K3 pada pekerjaan yang berlaku pada instalasi
listrik, meliputi :
a. Manuver pembebasan tegangan
b. Pelaksana pekerjaan pada instalasi dalam keadaan tidak bertegangan
c. Manuver pemberi tegangan

2.8.2 Personel yang Berwenang dalam Pekerjaan Penerapan K2 dan K3


1. Penanggung Jawab Pekerjaan
a. Bertanggung jawab terhadap seluruh rangkaian pekerjaan yang akan
dilaksanakan.
b. Penanggung jawab pekerjaan adalah Manager ULTG / UPT
c. Melakukan koordinasi dengan unit lain terkait.
d. Mengelola seluruh kegiatan meliputi : personil, peralatan kerja,
perlengkapan K3 dan material.
2. Pengawas Manuver
a. Sebagai pengawas proses pembebasan dan pengisian tegangan.
b. Mengawasi pelaksana maneuver.
c. Mengawasi pemasangan tagging di panel control serta tambu pengaman
lainnya.
d. Mengawasi pemasangan dan pelepasan sistem pentanahan.
3. Pelaksana Manuver
a. Bertindak selaku eksekutor atau pelaksanna pada maneuver peralatan
instalasi.
b. Pelaksana operato gardu induk.
c. Melakukan pemasangan dan pelepasan PMS tanah.
4. Pengawas Pekerjaan

21
Politeknik Negri Sriwijaya

a. Mengawasi pemasangan dan pelepasan pentanahan local.


b. Menjelaskan metode pelaksanaan pekerjaan.
c. Mengatur pelaksana pekerjaan.

5. Pelaksana Pekerjaan
a. Bertugas menjalankan pekerjaan instalasi listrik TT / TET.
b. Melakukan pengetesan tegangan pada lokasi yang dipasang grounding
local.
c. Memasang dan melepas petanahan local.
6. Pendelegasian Tugas
Pendelegasian tugas dapat diberikan kepada pejabat atau personil yang
mempunyai kemampuan (formulir 8), dalam hal :
1. Personil yang ditunjuk berhalangan melaksanakan tugasnya.
2. Dalam satu pekerjaan diperlukan beberapa pengawas.
7. Pengawas K3
a. Memberikan penjelasan mengenai penggunaan alat pengaman kerja atau
alat pelindung (APD) diri yang harus dikenakan (formulir 1).
b. Memberikan penjelasan pengamanan instalasi yang akan dikerjakan.
c. Menjelaskan tempat-tempat atau lokasi-lokasi yang berbahaya dan rawan
kecelakaan terhadap pelaksana pekerjaan baik di gardu induk maupun
jaringan.
d. Melakukan doa sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan.

2.8.3 Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan / Penerapan Prosedur K3 pada


Instalasi TT/TET
1. Persiapan.
2. Izin pembebasan instalasi untuk dikerjakan.
3. Pelaksanaan maneuver pembebasan tegangan.
4. Pernyataan bebas tegangan.
5. Pelaksanaan pekerjaan.

22
Politeknik Negri Sriwijaya

6. Pekerjaan selesai.
7. Pernyataan pekerjaan selesai.
8. Pernyataan instalasi siap diberi tegangan.
9. Pelaksanaan maneuver pemberian tegangan.

23
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Instrumentasi

Instrumentasi adalah alat-alat dan piranti (device) yang dipakai untuk


pengukuran dan pengendalian dalam suatu system yang lebih besar dan lebih
kompleks. Instrumentasi bisa berarti alat untuk menghasilkan efek suara, seperti
pada instrument musik. Namun secara umum instrumentasi mempunyai 3 fungsi
utama yaitu :

1. Sebagai Alat Pengukuran


Instrumentasi sebagai alat pengukuran meliputi instrumentasi survei/
stastik, instrumentasi pengukuran level, suhu, dll.
2. Sebagai Alat Analisis
Instrumentasi sebagai alat analisis banyak dijumpai di bidang kimia dan
kedokteran.
3. Sebagai Alat Kendali
Instrumentasi sebagai alat kendali banyak ditemukan dalam bidang
elektronika industry dan pabrik-pabrik. Suatu system pengendalian proses terdiri
atas beberapa unit komponen antara lain :
a. Sensor yang berfungsi menghasilkan informasi tentang besaran yang diukur.
b. Tranduser adalah piranti yang berfungsi untuk mengubah satu bentuk energi
menjadi energi bentuk lainnya atau unit pengalih sinyal. Suatu contoh
mengubah sinyal gerakan mekanis menjadi energi listrik yang terjadi pada
peristiwa pengukuran getaran. Terkadang antara transmitter dan tranduser
dirancukan, keduannya memang mempunyai fungsi serupa. Tranduser lebih
bersifat umum, namun transmitter pemakaiannya pada sistem pengukuran.

24
Politeknik Negri Sriwijaya

c. Transmitter yang memproses informasi atau sinyal yang dihasilkan oleh


sensor/ tranduser agar sinyal tersebut dapat ditransmisikan.
d. Controller yang berfungsi membandingkan sinyal pengukuran dengan nilsi
besaran yang diinginkan (set point) dan menghasilkan sinyal komando
berdasarkan strategi kontrol tertentu secara actuator yang berfungsi mengubah
masukan proses sesuai dengan sinyal dari pengontrol.

3.2. Dasar Proses Instrumentasi


3.2.1 Level
Level dalam arti umum adalah ketinggian, sedangkan dalam arti
khusus pada instrumentasi adalah ketinggian suatu fluida dalam suatu
wadah (tanki, drum, dll)
Satuan level adalah : Inch H20, Milimeter, Persen(%) dll.
Macam-macam system sensor level : Diaphragm (differential pressure),
Ultrasonic, Displacer, Radioaktif,Rode (Guide wave radar),Float
Macam-macam type level : Level Gauge, Level Switch, Level Trasnmitter

3.2.2. Pressure
Pressure atau tekanan adalah gaya per satuan luas bidang yang
ditekan secara tegak lurus. Satuan Pressure adalah : Pascal
(N/m2),PSI,PSIG,Bar,Barg.
Macam-macam system sensor pressure : Bourdon, Diaphragm.
Macam-macam type pressure : Pressure Gauge, Pressure Switch, Pressure
Transmitter.

3.2.3. Flow
Flow adalah aliran suatu fluida / cairan, satuan Flow adalah : MMSCFD,
BPD, dll.
Macam-macam Flow Sensor : Orifice Plate, Venturi, Turbine, Ultrasonic.

25
Politeknik Negri Sriwijaya

Macam-macam tipe Flow : Flow Transmitter, Flow Gauge, (inch H2O),


Rotameter.

3.2.4. Temperature
Temperature adalah ukuran panas dinginnya suatu benda. Satuan
Temperature adalah : Fahrenheit, Celcius, Reamur, Kelvin, Rankie.
Macam-macam Temperature sensor : Bimetallic.
Macam-macam tipe temperature : Thermocouples, RTD, Temperature Gauge,
Thermowell, Temperature Transmitter.

3.3. Dasar fungsi dalam Instrumentasi


3.3.1 Indicator
Indicator adalah sebuah peralatan instrumentasi yang menampilkan
secara langsung nilai suatu pengukuran didalam proses line.
Bagian-bagian indicator terdiri dari :
1. Pressure Indicator.
2. Flow Indicator.
3. Temperature Indicator.

3.3.2. Recorder
Recorder adalah sebuah peralatan instrumentasi yang berfungsi
sebagai pencatat setiap kejadian di dalam proses berdasarkan input yang
diterima (misalnya dari Transmitter).
Bagian dan macam Recorder
1. Pressure Recorder
2. Flow Recorder
3. Temperature Recorder

26
Politeknik Negri Sriwijaya

3.3.3. Controller
Controller adalah sebuah peralatan instrumentasi yang berfungsi sebagai
pemroses data yang diterima dan mengambil keputusan tentang tindakan yang
akan dilakukan, sesuai program yang telah dibuat untuk pengontrol tersebut.

Macam-macam Controller :
1. PLC
2. DCS
3. Field Bus
4. SCADA

3.3.4. Transmitter
Transmitter adalah sebuah peralatan instrumentasi yang mampu mengolah
signal dari sebuah sensor dan merubahnya kedalam bentuk arus (biasanya
memiliki nilai antara 4 mA s/d 20 mA).
Macam-macam Transmitter :
1. Level Transmitter
2. Pressure Transmitter.
3. Flow Transmitter.
4. Temperature Transmitter.

3.3.5. Switch Control


Switch Control adalah sebuah peralatan instrumentasi yang bekerja sesuai
setting yang diberikan.
Macam-macam Switch Control
1. Pressure Switch.
2. Level Switch.
3. Limit Switch.

27
Politeknik Negri Sriwijaya

3.3.6. Control Valve


Control Valve adalah sebuah peralatan instrumentasi yang didalam system
control berfungsi sebagai pengendali akhir.
Macam-macam Control Valve :
1. HSV
2. LCV
3. FCV
4. ESV

3.4. Level Tansmitter


Level transmitter adalah suatu alat ukur elektronik yang berfungsi
untuk mengukur ketinggian suatu medium baik itu liquid,gas ataupun solid
dimana alat ini terdiri atas dua bagian yaitu blok sensor dan transmitter. 

3.4.1. Jenis-jenis Level Transmitter


Pengukuran level transmitter terbagi atas beberapa metode antara lain:
1. Level Transmitter dengan metode konductif
Pengukuran level secara konduktifitas adalah metode sederhana dari
pendeteksi level yang dapat dipakai untuk material yang konduktif secara listrik di
dalam pipa, tangki atau container, yang berarti bahwa setiap bagian yang terpisah
melakukan pengukuran konduktifitas.
2. Level Transmitter dengan metode kapasitif
Sensor kapasitif merupakan sensor elektronika yang bekerja
berdasarkan konsep kapasitif. Sensor ini bekerja berdasarkan perubahan
muatan energi listrik yang dapat disimpan oleh sensor akibat perubahan
jarak lempeng, perubahan luas penampang dan perubahan volume
dielektrikum sensor kapasitif tersebut.
3. Level transmitter dengan metode diffrensial pressure
Alat ukur ini memanfaatkan Prinsip kerjanya  pendeteksian
perbedaan tekanan medium dalam tank dimana perbedaan tekanan tersebut

28
Politeknik Negri Sriwijaya

dipengaruhi oleh ketinggian tangki dan spesifik gravity suatu medium


yang diukur dalam tanki dengan metode cell membran/diafragma dengan
memanfaatkan sensor kapasitif.
4. Level transmitter dengan metode radar
Radar merupakan singkatan dari Radio Detection and Ranging.
Level transmitter dengan metode radar  adalah alat instrument yang
berfungsi untuk melakukan pengukuran ketinggian medium dalam tangki
dengan memanfaatkan  gelombang elektromagnetik untuk
mengidentifikasi keberadaan suatu benda (arah dan kecepatan dari objek).
5. Level transmitter dengan metode guide radar
Level Transmitter dengan metode guide radar  mempunyai prinsip
pengukuran hampir sama dengan level radar tetap memanfaatkan sinyal
gelombang elektromaknetik untuk mengidentifikasi keberadaan suatu
medium (arah dan kecepatan dari objek) tetapi pada guide radar memiliki
rode atau rope sebagai antena sensor yang langsung bersentuhan langsung
medium dalam tangki. Tinggi level yang dapat diukur sama dengan
panjang stik rode atau rope level tersebut dimana panjang stik rode atau
rope level mewakili panjang LN pada level transmitter.
Level  guide radar pada sistem pengukuran lebih unggul dari pada
pada level radar karena memiliki sensitifitas lebih tinggi. Pada level guide
radar sinyal gelombang elektromagnetik dipancar melalui stik rode atau
rope dengan sistem guide sehingga vapour,bubbling dan foaming yang
terjadi dalam medium tangki tersebut dapat diabaikan sehingga
pengukuran level  menjadi baik dan mendekati aktulnya.
6. Level transmitter dengan metode ultrasonic
Metode pengukuran level dengan menggunakan gelombang
ultrasonic atau gelombang suara yang memiliki prinsip kerja yang sama.
Suatu sumber gelombang ultrasonic diletakkan pada bagian atas suatu
vessel atau tangki. Gelombang ultrasonic ini akan merambat dan terpantul
kembali ketika mengenai batas/interface dua fluida yang berbeda. Waktu

29
Politeknik Negri Sriwijaya

tempuh yang digunakan oleh gelombang ultrasonic tersebut dapat


dikonversikan untuk mengetahui atau mengukur level fluida.

3.5. Generator Lube Oil System


Generator Lube Oil System adalah suatu system yang mengatur
untuk pelumasan komponen-komponen yang bergerak dalam generator
serta peralatan pendukung lainnya. Sistem ini mengatur agar fungsi
pelumasan secara kontinyu pada gas turbine di bagian generator agar dapat
berjalan dengan maksimal.
Komponen Generator Lube Oil System terdiri dari:
1. Oil Tank (Generator Lube Oil Reservoir)
2. Generator Lube Oil Pump
3. Generator Lube Oil Heat Exchanger
4. Lube Oil Filter
5. Pressure Control Valve
6. Generator Supply Relief Valve
7. Gearbox
8. Rundown Tank
9. Jacking Oil Pump
10. Generator Lube Oil Tank Demister
11. Instrumen untuk oil

3.5.1. Fungsi Generator Lube Oil System


Pada PLTG Borang pelumas yang dipakai jenis Mobil DTE-32.
Fungsi pelumasan adalah untuk melumasi bagian-bagian yang berputar
agar tidak terjadi gesekan langsung dan memperpanjang usia komponen
mesin.
Demikian juga pada PLTG, pelumasan berfungsi untuk :
1. Mencegah keausan dari adanya gesekan langsung antara poros dan tumpuan
bearing.

30
Politeknik Negri Sriwijaya

2. Mengambil panas yang ditimbulkan karena gesekan, radiasi dan lain-lain serta
mengeluarkannya melalui alat penukar panas (Heat Exchanger) yang
seterusnya didinginkan oleh udara atau air.
3. Sebagai Perapat, pelumas dapat difungsikan sebagai perapat, misalnya untuk
mencegah bocornya hydrogen dari poros generator ke udara luar serta juga
merapatkan celah antara rumah bantalan dan poros turbin gas agar gas panas
dari turbin tidak keluar.
4. Sebagai Pencegah Korosi, pelumas dapat mengurangi laju korosi, karena
membentuk lapisan pelindung pada permukaan logam (bantalan dan poros),
sehingga kontak langsung antara zat penyebab korosi dengan permukaan
logam dapat dihindari atau dikurangi.
5. Sebagai Peredam Getaran, getaran dapat terjadi pada komponen mesin saat
beroperasi, di antaranya pada roda gigi. Lapisan minyak pelumas akan
memperkecil benturan di antara permukaan roda gigi yang saling
bersinggungan, sehingga dapat meredam getaran dan mengurangi kebisingan.

3.6. Generator Lube Oil Reservoir


Generator Lube Oil Reservoir adalah tangki yang menampung
sejumlah besar minyak pelumas. Level minyak pelumas dalam reservoir
harus dijaga agar suplai minyak pelumas terpenuhi dan discharge dari
pompa pelumas tidak berkurang serta proses pelumasan dapat berjalan
dengan baik. Tangki Generator Lube Oil berkapasitas 3000 gallon US
atau dalam satuan liter yaitu 11356 ltr.

3.7. Level Transmitter Rosemount 3301


Rosemount 3301 Radar Transmitter adalah pemancar level kontinu
dua kabel yang cerdas yang didasarkan pada prinsip Time Domain
Reflectometry (TDR). Pulsa nano detik berdaya rendah dipandu di
sepanjang probe yang dibenamkan dalam media proses. Saat pulsa
mencapai permukaan materi yang diukurnya, sebagian energi dipantulkan

31
Politeknik Negri Sriwijaya

kembali ke pemancar, dan waktu perbedaan antara pulsa yang dihasilkan


dan dipantulkan diubah menjadi jarak dari mana total level atau level
antarmuka dihitung. Reflektifitas produk adalah parameter kunci untuk
kinerja pengukuran. Tinggi konstanta dielektrik media memberikan
refleksi yang lebih baik dan rentang pengukuran yang lebih lama. Tenang
permukaan memberikan pantulan yang lebih baik daripada permukaan
yang bergejolak. Level Tansmitter Rosemount 3301 dapat dilihat pada
Gambar 3.1

Gambar 3.1. Level Tansmitter Rosemount 3301

3.7.1. Manfaat Level Transmitter Rosemount 3301


- Level dan antarmuka transmitter bertenaga loop pertama. Keluaran
multivariabel dari satu perangkat mengurangi penetrasi proses dan biaya
pemasangan.
- Pengukuran level langsung berarti tidak kompensasi untuk perubahan suhu,
tekanan, kepadatan, dielektrik, atau konduktivitas.
- Hampir tidak terpengaruh oleh debu, uap, gangguan rintangan, dan
turbulensi. Itu bahkan cocok untuk tangki kecil atau berbentuk aneh.
- Aman secara intrinsik atau Bukti Ledakan sertifikasi membuatnya cocok
untuk bahan berbahaya daerah.

32
Politeknik Negri Sriwijaya

- Perangkat lunak pengaturan PC dengan wizard penginstalan menyediakan


konfigurasi yang mudah.
- Rumah pemancar kompartemen ganda (elektronik dan kabel dipisahkan)
yang bisa dilepas tanpa membuka tangki.
- Probe Suhu Tinggi dan Tekanan Tinggi tersedia untuk kondisi proses yang
menuntut.

3.7.2. Level Transmitter metode Guided Wave Radar


Dalam instalasi Guided Wave Radar (GWR) dipasang di atas tangki
atau ruang, dan probe biasanya meluas hingga kedalaman penuh kapal.
Gelombang mikro berenergi rendah, bergerak dengan kecepatan cahaya,
dikirim ke probe. Pada titik ketinggian cairan (antarmuka udara / air) pada
probe, sebagian besar energi gelombang mikro dipantulkan kembali ke
probe ke transmitter.

Gambar 3.2. Radar Level Transmitter

Transmitter mengukur waktu tunda antara sinyal gema yang dikirim


dan diterima dan mikroprosesor yang terpasang. Menghitung jarak ke
permukaan cairan menggunakan rumus :
Jarak = (Kecepatan cahaya x waktu tunda) / 2

33
Politeknik Negri Sriwijaya

Setelah Transmitter diprogram dengan ketinggian pengukur referensi aplikasi -


biasanya bagian bawah tangki atau ruang - level cairan dihitung oleh
mikroprosesor.
Persamaan dasar untuk mengukur level tangki adalah
Level = Tinggi Tangki – Jarak
Karena proporsi pulsa akan terus menuruni probe melalui cairan dielektrik rendah,
gema kedua dapat dideteksi dari antarmuka antara dua cairan pada titik di bawah
level cairan awal.
Karakteristik ini membuat Guided Wave Radar menjadi teknik yang
baik untuk mengukur antarmuka cairan / cairan seperti minyak dan air dan
mengukur melalui beberapa busa. Radar gelombang terpandu dapat
digunakan di kapal dengan geometri sempit, di ruang, dan di tangki
dengan semua ukuran. Level transmitter Guided Wave Radar tingkat
lanjut juga bekerja dengan baik pada aplikasi dielektrik dan turbulen
rendah. Karena tidak bergantung pada pemantulan dari permukaan "datar",
ia bekerja dengan baik dengan banyak bubuk dan butiran serta cairan
dengan permukaan miring yang disebabkan oleh pusaran.
Agar transmitter Guided Wave Radar (GWR) bisa bekerja dengan
benar, setelah dipasang pada tangki, transmitter harus dikonfigurasi, ada
beberapa parameter utama yang harus ada pada setiap transmitter Guided
Wave Radar (GWR) diantaranya adalah :
1. Bentuk daripada tangki ( kotak, silinder, bulat, dome dll)
2. Ketinggian tangki dari dasar tangki hingga atap tangki.
3. Jarak nol persen level dari dasar tangki
4. Jarak seratus persen level dari dasar tangki.
5. Konstanta dielektrika media proses yang diukur ketinggiannya.
Parameter diatas adalah parameter inti yang harus ada pada setiap level
transmitter Guided Wave Radar (GWR), adapun pada prakteknya di lapangan
masih banyak parameter lain yang harus diatur berkaitan dengan kontruksi tangki
dan kondisi media prosesnya, seperti misalnya apakah pada tangki ada agitator

34
Politeknik Negri Sriwijaya

pengaduknya, apakah media prosesnya mengandung uap panas, apakah


permukaan cairan yang diukur mengandung riak gelombang dan lain-lain.

3.7.2.1. Metode pengukuran level dengan Guided Wave Radar.


Gelombang radar yang berupa nano-second pulsa berenergi rendah 
dipancarkan oleh perangkat elektronik dibagian transmitter lalu merambat
menyusuri batang transmitter(probe), ketika terhadap rambatan gelombang
tersebut terjadi gangguan atau hambatan maka akan terbentuk kurva,
ketika terjadi kurva maka sebagian energy dari gelombang  akan merambat
balik ke bagian pemancar, adanya perbedaan sepersekian detik antara
waktu gelombang terpancar dengan waktu gelombang kembali kemudian
dimanfaatkan sebagai sinyal pengukur jarak, metode pengukuran ini yang
dinamakan Time Domain Reflectory (TDR) Principle, dari hasil
pengukuran jarak dengan metode TDR tersebut lalu dikonversikan
menjadi pengukuran level dalam unit jarak atau persen.

3.8. DCS (Distributed Control Systems)


Distributed Control Systems (DCS) adalah suatu pengembangan system
control dengan menggunakan computer dan alat elektronik lainnya agar didapat
pengontrol suatu loop system yang lebih terpadu dan dapat dikendalikan oleh
semua orang dengan cepat dan mudah. Alat ini dapat digunakan untuk mngontrol
proses dalam skala mencegah sampai besar. Proses yang dikontrol dapat berupa
proses yang berjalan secara kontinyu atau proses yang berjalan secara batching.
DCS secara umum terdiri dari digital controller terdistribusi yang mampu
melakukan proses pengaturan 1-256 loop atau lebih dalam satu control bos.
Peralatan I/O dapat diletakkan menyatu dengan kontroler atau dapat juga
diletakkan secara terpisa kemudian dihubungkan dengan jaringan.
System DCS dirancang dengan prosesor redundant untuk meningkatkan
kehandalan system. Untuk mempermudah dalam penggunaan, DCS sudah
menyertakan tampilan atau grafis kepada user dan software untuk konfigurasi

35
Politeknik Negri Sriwijaya

kontrol. Hal ini akan memudahkan user dalam perancangan aplikasi. DCS dapat
bekerja untuk satu atau lebih workstation dan dapat dikonfigurasi di workstation
atau dari PC secara offline. Komunikasi local dapat dilakukan melewati jaringan
melalui kabel atau fiber optic.
Adapun fungsi DCS sebagai berikut :
1. DCS berfungsi sebagai alat untuk melakukan control suatu loop system
dimana satu loop dapat mengerjakan beberapa proses control.
2. Berfungsi sebagai pengganti alat control manual dan otomatis yang terpisah-
pisah menjadi suatu kesatuan sehingga lebih mudah untuk pemeliharaan dan
penggunaannya.
3. Saran pengumpul dan pengolah data didapat agar output proses yang tepat.

36
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Blok Diagram

Input (oil) Output


Level
DCS
Transmitter

Gambar 4.1. Blok Diagram Sistem Monitoring Level Transmitter

Gambar 4.1 merupakan blok diagram system monitoring ketinggian oil


pada tangki Generator Lube Oil. Dari blok diagram diatas sistem monitoring
ketinggian oil pada tangki Generator Lube Oil, dimulai dari level transmitter
sebagai pengolah data sensor membaca inputnya yaitu oil. Lalu level Transmitter
akan mengolah data input dan mengirimkan data yang telah dibaca oleh level
transmitter ke DCS (Distributed Control System). Level transmitter mengirim data
ke DCS menggunakan electric wire yang berupa sinyal analog 4-20mA. Lalu data
yang telah diterima DCS akan ditampilkan di control room HMI (Human
Machine Interface) sehingga operator dapat memonitor ketinggian oil pada tangki
Generator Lube Oil.

37
Politeknik Negri Sriwijaya

4.2. Data pemantauan Level tank pada Generator Lube Oil

Gambar 4.2. Tampilan Generator Lube Oil System di HMI (Human


Machine Interface)
Pada Gambar 4.2. terlihat bagaiamana tampilan DCS di HMI dari
Generator Lube Oil System di Unit BORANG 1. Di PT. PLN (persero)
ULPLTD/G Merah Mata pada Generator Lube Oil tank di Unit Borang 1 terdapat
Level Transmitter Rosemount 3301. Fungsi Level transmitter pada Generator
Lube Oil untuk mengukur Level Oli pada tanki Genarator Lube Oil dan
memberikan indikasi Alarm/ trip jika Level oil pada Tangki Generator Lube Oil
(GLO) Low atau High. Yang mana jika level oil pada tangki GLO low dapat
menyebabkan suplai dari pompa berkurang dan tekanan pelumas menurun.

38
Politeknik Negri Sriwijaya

Tabel 4.1. Tabel spesifikasi titik ketinggian oli

NO Level oli ketinggian oli (mm)


1 0 - 10% 0 – 114
2 11 - 20% 125,4 – 228
3 21 - 30% 239,4 – 342
4 31 - 40% 353,4 – 456
5 41 - 50% 467,4 – 570
6 51 - 60% 581,4 – 684
7 61 - 70% 695,4 – 798
8 71 - 80% 809,4 – 912
9 81 - 90% 923,4 – 1026
10 91 - 100% 1037,4 – 1140

Tabel 4.1. merupakan tabel spesifikasi titik ketinggian oil pada tangki
Generator Lube oil . Pada Gambar 4.3. terlihat titik ketinggian level oli pada
tangki Generator Lube oil yaitu 66%, jika kita ubah menjadi satuan mm yaitu
752,4 mm ini dapat diartikan kondisi level oli pada tangki Generator Lube oil
dalam keadaan normal dan suplai dari pompa tidak berkurang dan tekanan
pelumas tidak menurun. Alarm pada level transmitter akan menyala jika levelnya
dalam kondisi rendah (alarm glo level low/ low-low) atau levelnya tinggi (alarm
glo level high/ high-high).

39
Politeknik Negri Sriwijaya

Tabel 4.2. Tabel Laporan harian level tank pada Generator Lube Oil
Laporan Harian level tank pada Generator Lube Oil System Unit 1
03.0 09.0 11.0 14.0 17.0
Deskripsi Tanggal UNIT ALARM 00.00 06.00 21.00
0 0 0 0 0
mm 1051.1 746 746 746 747 750 747 744
Tank 13 Nov
MO 65,4 65,4 65,4 65,5 65,4
Level 2020 % 91/97 65,41 65,27
1 1 9 7 9
mm 1051.1 743 745 744 749 745 746 744 744
Tank 14 Nov
65,3 65,1 65,3 65,4 65,3
Level 2020 % 91/97 65,16 65,28 65,24
1 2 5 4 0
mm 1051.1 744 744 743 745 745 743 744 743
Tank 15 Nov
65,2 65,3 65,3 65,1 65,2
Level 2020 % 91/97 65,28 65,20 65,23
5 9 3 6 9
mm 1051.1 744 745 745 747 746 745 744 743
Tank 16 Nov
65,3 65,5 65,4 65,3 65,2
Level 2020 % 91/97 65,29 65,39 65,16
9 1 0 3 5
mm 1051.1 744 743 743 744 744 746 744 744
Tank 17 Nov
65,2 65,2 65,3 65,5 65,3
Level 2020 % 91/97 65,27 65,23 65,24
3 5 1 2 0

Tabel 4.2 merupakan tabel laporan harian level tank pada Generator Lube
Oil. Dilakukan pengecekan level langsung pada display level transmitter di
Generator Lube Oil. Pengecekan dilakukan tiap 3 jam sekali yaitu pada jam
00.00, 03.00, 06.00, 09.00, 11.00, 14.00, 17.00, dan 21.00. Berdasarkan laporan
harian level tank pada Generator Lube Oil system pada tanggal 13 – 17
November 2020 kondisi level tank dalam kondisi normal dan tidak terjadi indikasi
alarm/trip karena level pada tangki Generator Lube Oil tidak dalam kondisi Low
ataupun High
.
4.3 Kalibrasi Level Transmitter
Kalibrasi merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk mengukur
keluaran atau indikasi transmitter sehingga parameter yang diukur (level, flow,

40
Politeknik Negri Sriwijaya

temperature, pressure, dan lain-lain) dapat sesuai yang diharapakan. Tindakan


kalibrasi ini dilakukan pada transmitter yang masih baru dikarenakan setiap
instrument memiliki set point untuk menentukan hasil yang sesuai dan akurat.
Kalibrasi instrument melibatkan pengecekan bahwa keluaran instrument yang
diberikan sesuai dengna masukan yang diberikan pada titik sepanjang rentang
instrument kalibrasi. Untuk pemancar nilai analog level transmitter, nilai
outputnya harus dikalibrasi untuk mendapatkan nilai keluaran 0% (4 mA) sampai
100% (20 mA), dikarenakan nilai tersebut merupakan nilai masukan set point
yang harus didapat.
Adapun yang harus dilakukan ketika mengkalibrasi level transmitter yaitu :
1. Persiapkan tools, Cleaning & Cek Visual Level transmitter LT-0001
Generator / GB Lube Oil Tank level brand Rosemount.
2. Buka cover Level Transmitter Connect ke LT-0001 Generator / GB Lube Oil
Tank level menggunakan HART Communicator 375 merk Emerson.
3. Cek dan ukur arus (mA) menggunakan multimeter merk FLUKE 771.
4. Inject Current menggunakan HART Communicator, Generator / GB Lube Oil
Tank level.
5. Monitor Level Transmitter LT-0001 Generator / GB Lube Oil Tank level
menggunakan HART Communicator, multimeter, dan HMI serta pengambilan
data.
6. Inject Current pada LT-0001 Generator / GB Lube Oil Tank level selesai.

Tabel 4.1. Tabel Kalibrasi Level Transmitter


Current
Level GAP
inject (mA) ERROR
PV (%)
current OFFSE (%)
AO (mm) GAIN
T
4 0% 3,93 mA 0 mm 0,00 1,00 0
8 25 % 7,99 mA 255 mm 0
12 50 % 12,05 mA 570 mm 0
16 75 % 16,09 mA 855 mm 0

41
Politeknik Negri Sriwijaya

20 100 % 20,15 mA 1140 mm 0


16 75 % 16,09 mA 855 mm 0
12 50 % 12,05 mA 570 mm 0
8 25 % 7,99 mA 285 mm 0
4 0% 3,91 mA 0 mm 0

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari kerja praktek yang di lakukan di Pembangkit Listrik
Tenaga Gas (PLTG) Borang PT. PLN (Persero) UPDK Keramasan ULPLTD/G
Merah Mata, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Indikasi alarm pada level transmitter akan menyala jika kondisi level oil
pada tangki Generator Lube Oil Low (55%) atau oil high (97%).
2. Pada saat level oil 100% atau maksimal sinyal analog dari level
transmitter yaitu 20,0015 mA dan pada saat 0 atau minimal sinyal analog
yang didapat pada level transmitter yaitu 4,0008 mA, dalam hal ini sinyal
output yang dihasilkan pada level transmitter yaitu 4 – 20 mA

5.2 Saran
Berikut ini beberapa saran yang perlu dipertimbangkan kedepannya :
1. Agar tidak terjadi kesalahan ketika level transmitter sedang beroperasi,
sebaiknya sering dilakukan perawatan pada level transmitter agar
pemakaian level transmitter dapat digunakan dalam jangka panjang.

42
Politeknik Negri Sriwijaya

43
DAFTAR PUSTAKA

44
LAMPIRAN

45
LAMPIRAN 1

46

Anda mungkin juga menyukai