Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR ILMU LINGKUNGAN

BOD ( Biochemical Oxygen Demand )

Pembimbing : Ibu Endang. K

Kelompok 8

Suci Yasinta 091431029

Yayu Mulya 091431031

Yuliani Sartika 091431032

Tanggal Percobaan : 07 Januari 2011

Tanggal Penyerahan : 18 Januari 2011

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

Jurusan Teknik Kimia

Program Studi Kimia Analis

Tahun Ajaran 2010 / 2011


A. TUJUAN

• Mengukur banyaknya oksigen dalam sejumlah sampel tertentu, sebelum maupun


sesudah diinkubasi pada temperatur 20oC selama 7 hari dengan menggunakan metoda
Winkler.

B. DASAR TEORI

BOD (Biochemical Oxygen Demand) merupakan sejumlah oksigen yang diperlukan


oleh mikroorganisme (bakteri) untuk menguraikan zat organik yang terkandung dalam
satu liter contoh air limbah secara biokimia pada keadaan aerobik dan pada kondisi
tertentu. Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup
untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan
energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Untuk menjaga keseimbangan air terhadap
lingkungannya diperlukan standar parameter yang perlu mendapat perhatian, yaitu :

• BOD < 75 ppm

• COD < 100 ppm

• DO > 3 ppm

• SS (Suspended solid) < 100 ppm

• pH 6 – 9 (idealnya 6,5 – 7,5)

Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung sari beberapa faktor, seperti
kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang dan
pasang surut. Kadar oksigen dalam air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya
suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas. Kandungan oksigen terlarut (DO)
minimum adalah 2 ppm dalam keadaan nornal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun
(toksik). Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan
organisme . Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidakboleh kurang dari 1,7 ppm selama
waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 %. KLH menetapkan
bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk kepentingan wisata bahari dan
biota laut.
Analisis oksigen terlarut

Oksigen terlarut dapat dianalisis atau ditentukan dengan 2 macam cara, yaitu :

a) Metoda titrasi dengan cara WINKLER

Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri. Sampel yang akan dianalisis


terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl2 dan NaOH - KI, sehingga akan terjadi
endapan MnO2. Dengan menambahkan H2SO4 atau HCl maka endapan yang terjadi
akan larut kembali dan juga akan membebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen
dengan oksigen terlarut.

Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar natrium
tiosulfat (Na2S203) danmenggunakan indikator larutan amilum (kanji). Reaksi kimia
yang terjadi dapat dirumuskan :

• MnCI2 + NaOH à Mn(OH)2 + 2 NaCI

• 2 Mn(OH)2 + O2 à 2 MnO2 + 2 H2O

• MnO2 + 2 KI + 2 H2O à Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH

• I2 + 2 Na2S2C3 à Na2S4O6 + 2 NaI

b) Metoda elektrokimia

Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda elektrokimia adalah cara


langsung untuk menentukan oksigen terlarut dengan alat DOmeter. Prinsip kerjanya
adalah menggunakan probe oksigen yang terdiri dari katoda dananoda yang direndam
dalam larutan elektrolit. Untuk menentukan BOD, terlebih dahulu diukur DO nya (DO
0 hari), sementara sampel yang lainnya diinkubasi selama 5 hari pada suhu 20°C,
selanjutnya setelah 5 hari diukur DO nya (DO 5 hari). Kadar BOD ditentukan dengan
rumus :

5 X [ kadar { DO(0 hari) - DO (5 hari) }] ppm


Selama penentuan oksigen terlarut, baik untuk DO maupun BOD, diusahakan
seminimal mungkin larutan sampai yang akan diperiksa tidak berkontak dengan udara
bebas. Khusus untuk penentuan BOD, sebaiknya digunakan botol sampel BOD dengan
volume 250 ml dan semua isinya dititrasi secara langsung.

Perhitungan kadar DO nya :

DO ml/L = B/B -2 x 5,6 x 10 x N x V

Dimana :

N = normalitas tiosulfat.

V = volume tiosulfat yang dibutuhkan untuk titrasi.

B = volume botol sampel BOD = 250 ml.

B - 2 = volume air dalam botol sampel setelah ditambah 1 ml larutan MnCl2 dan 1 ml
NaOH - KI.

5,6 = konstanta yang sama dengan ml oksigen ~ 1 mgrek tiosulfat.

10 = volume K2Cr2O7 0,01 N yang ditambahkan.


C. DATA PENGAMATAN

a. Penetapan Angka KMnO4

Diketahui : Volume KMnO4 (a mL ) = 2,8 mL

Volume KMnO4 untuk f mL = 9,3 mL

Faktor ketelitian ( f ) =

= 1,07 mL

Ditanya : mg/L KMnO4 ?

Jawab :

Mg/L KMnO4 = x { ( 10,0 + a ) f – 10,0 } 0,01 x 31,6

= x { ( 10,0 + 2,8 ) 1,07 – 10,0 } 0,01 x 31,6

= 100 x {13,696 – 10,0 } 0,01 x 31,6

= 100 x 3,70 x 0,01 x 31,6

= 116,92 mg/L KMnO4

b. Pengenceran

o P2 = 116,92/5 = 23,38 ≈ 23

Artinya bahwa 1 bagian sampel + 22 bagian pengencer

o Volume sampel yang diambil = x kapasitas volume botol BOD

= x 331 mL
= 14,4 mL

o Volume pengencer yang diambil = kapasitas vol. botol BOD – Volume sampel

= 331 mL – 14,4 mL

= 316,6 mL

c. Penetapan Oksigen Terlarut Metoda Winkler

Data :

0 hari setelah 7 hari


sampel 12,5 mL 13,1 mL
blanko 12,1 mL 10,8 mL

PERHITUNGAN

a. DO

Diketahui : Kosentrasi Na2S2O3.5H2O = 0,0125 N

2 mL = 1 mL MgSO4 + 1 mL larutan pereaksi O2

Rumus : DO = 1000 x mL tiosulfat x N tiosulfat x

• Untuk hari ke-0

o Sampel

Mg/L sampel = 1000 x mL tio x N x

= 1000 x 12,5 mL x 0,0125 N x

= 1,8997 ppm ( A )

o Blanko

mg/L blanko = 1000 x mL tio x N x

= 1000 x 12,1 mL x 0,0125 N x


= 1,8168 ppm ( C )

• Untuk hari ke-7

o Sampel

Mg/L sampel = 1000 x mL tio x N x

= 1000 x 13,1 mL x 0,0125 N x

= 1,9670 ppm ( B )

o Blanko

mg/L blanko = 1000 x mL tio x N x

= 1000 x 10,8 mL x 0,0125 N x

= 1,6718 ppm ( D )

b. BOD

BOD7 = P (A-B) - (C-D)

BOD7 = 23,38 ( 1,8997 ppm – 1,9670 ppm ) – ( 1,8168 ppm – 1,6718 ppm )

= 23,38 ( -0,0673 ppm ) – ( 0,145 )

= - 1,5735 – 0,145

= -1,7185

Nama : Suci Yasinta

NIM : 091431029

PEMBAHASAN

Praktikum penentuan BOD ( Biochemical Oxygen Demand) atau Kebutuhan Oksigen


Biokimia dalam suatu sampel air merupakan praktikum yang menentukan jumlah oksigen
terlarut yang dibutuhkan oleh organisme untuk mengoksidasi bahan-bahan buangan dalam
air. Pada praktikum BOD ini merupakan suatu parameter untuk menentukan zat
polutan/tingkat pencemaran dalam sampel air tersebut dengan prinsip penetapan BOD adalah
mengukur banyaknya oksigen dalam sejumlah air tertentu baik sebelum maupun sesudah
diinkubasi pada temperatur 200C pada hari ke nol dan hari ke x. Praktikum dilakukan pada
hari ke-0 dan hari ke-7. Tingkat BOD ditentukan dengan membandingkan tingkat DO dari
sampel air yang diambil langsung dengan tingkat DO dari sampel air yang telah diinkubasi
selama 7 hari.

Langkah pertama, yaitu dilakukan pembebasan reduktor pada labu erlenmeyer yang
bertujuan untuk menghilangkan zat-zat pereduksi yang dapat berpengaruh pengukuran pada
percobaannya. Labu ini akan digunakan dalam penetapan angka KMnO4 terhadap sampel.
Dalam pembebasan reduktor pada labu erlenmeyer menggunkan air kran yang bertujuan
sebagai pelarut yang sangat mungkin masih mengandung zat pengotor lain yang dapat
mereduksi permanganat menjadi mangan dioksida, jadi dengan timbulnya mangan dioksida
ini akan mempercepat reaksi reduksi permanganate. Lalu ditambahkan larutan H2SO4 6 N
yang bertujuan untuk membuat suasana asam karena dalam suasana tersebut ion permanganat
mengalami reduksi menjadi ion mangan (II), ion mangan (II) ini dalam larutan akan
mempercepat reduksi permanganat menjadi mangan dioksida, dan dititrasi dengan larutan
KMnO4 0,01 N yang merupakan oksidator kuat sehingga mampu bereaksi dengan reduktor
pada labu erelenmeyer sehingga labu dapat terbebas dari reduktor. Pada proses ini mengalami
reaksi yang berlangsung cepat dalam suasana asam dan panas. Reaksi yang terjadi :

MnO4- + 8H+ + 5e ↔ Mn2+ + 4H2O

Setelah pembebasan reduktor pada labu erlenmeyer, lalu dilakukan penetapan angka KMnO4
yang bertujuan sebagai perkiraan kebutuhan oksigen untuk mendapatkan pengenceran yang
mendekati. Dan dalam prinsipnya yaitu zat organik yang terkandung dalam sampel dioksidasi
oleh KMnO4 berlebihan dalam suasana asam dan panas. Kelebihan KMnO4 direduksi oleh
asam oksalat berlebihan, lalu kelebihan asam oksalat dititrasi kembali oleh larutan KMnO4.
Sehingga reaksi yang terjadi adalah :
Zat organik + KMnO4 → CO2 + H2O
2KMnO4 + 5H2C2O4 + 3 H2SO4 → 2MnSO4 + 10 CO2 + K2SO4
Lalu dilakukan penetapan faktor ketelitian KMnO4 0,01 N yang menggunakan cairan bekas
pemeriksaan yang ditambah 10 mL larutan asam oksalat 0,01 N dan dititrasi dengan KMnO4
0,01 N sampai cairan berwarna merah muda. Dalam titrasi ini volume KMnO4 yang
digunakan sebanyak 9,3 mL dan memperoleh faktor ketelitian sebesar 1,07. Sehingga
memperoleh angka KMnO4 sebesar 116,92 mg/L dari data yang diperoleh.

Pembuatan larutan pengencer ini terdiri dari 3 L aqudest, larutan buffer fosfat 3 mL,
larutan CaCl2 3 mL, larutan FeCl3 3 mL, larutan MgSO4 3 mL, dan cairan bibit seed/mikroba
sebanyak 3 mL. bahan semua itu dicampurkan lalu dilakukan aerasi selama 30 menit, hal ini
dilakukan untuk mengaktifkan kembali mikroba atau untuk memberikan asupan oksigen
terhadap mikroba sehingga dapat aktif atau hidup kembali sampai hari ke-7.

Dilakukan Kelarutan oksigen di dalam air limbah diencerkan terlebih dahulu, ini
bertujuan untuk menjamin agar kebutuhan oksigen mencukupi selama proses penetapan
berlangsung. Lalu pengenceran dilakukan pada P2 (angka KMnO4/5). Angka KMnO4 yang
diperoleh sebesar 116,92 mg/L KMnO4, maka nilai P2 sebesar 23 mL, artinya 1 bagian
sampel + 22 bagian pengencer.

Kemudian dilakukan penetapan oksigen terlarut dalam metode Winkler, dalam hal ini
menggunakan empat botol BOD dimana digunakan untuk sampel maupun blanko hari ke-0
dan untuk sampel maupun blanko hari ke-7. Prinsip penetapan oksigen terlarut dengan
Metoda Winkler yaitu dengan menggunakan titrasi iodometri. Dalam penentuannya, sampel
dan blanko diperlakukan yang sama yaitu sebelum di titrasi sampel maupun blanko yang
terdapat dibotol ditambahkan larutan MnSO4 dan pereaksi O2 (KI + Na3N), sehingga terjadi
endapan MnO2. Setelah itu botol ditutup, dikocok dan dibiarkan selama 10 menit untuk
pengendapan dan penyempurnaan reaksi. Setelah didiamkan 10 menit sampel dan blanko
dibagi 2 agar lebih mudah dalam menentukan nilai DO, baik nilai DO hari ke-0 dan DO hari
ke-7. Lalu ditambahkan H2SO4 akan melarutkan endapan dan juga akan membebaskan iodin
(I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut (hasil oksidasi I- oleh MnO2 dalam suasana asam).
Iodin yang dibebaskan ini akan dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na2S203)
hingga warna cairan berwarna kuning jerami, kemudian ditetesi dengan indikator larutan
amilum (kanji), dan titrasi dilanjutkan kembali hingga warna larutan menjadi biru hilang.
Itulah titik akhir titrasinya. Sehingga reaksi yang terjadi sebagai berikut :

3 MnSO4 + 2 Na3N → Mn3N2 + 3 Na2SO4


Mn3N2 + 7/2 O2 → 3 MnO2 + N2O
MnO2 + 2 KI + 2 H2O → Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH
I2 + 2 Na2S2O3 → Na2S4O6 + 2 NaI
Blanko digunakan sebagai pembanding dengan menggunakan larutan pengencer
sebagai pengganti sampel. Selain itu sampel dan blanko yang hari ke-7 tersebut dilakukan
inkubasi pada suhu 200C selama 7 hari. Suhu inkubasi tersebut merupakan suhu standar
mikroorganisme tetap hidup, jika suhunya lebih rendah maka aktivitas bakteri pengurai juga
lebih rendah dan tidak optimal sebagaimana yang diharapkan.
Berdasarkan hasil pengukuran, telah diperoleh nilai DO baik pada hari ke-0 maupun
hari ke-7. Pada hari ke-0 nilai DO yang terkadung dalam larutan sampel sebesar …… ppm
dan blanko sebesar …… ppm. Sedangkan pada hari ke-7 nilai DO yang terkadung dalam
larutan sampel sebesar …… ppm dan untuk blanko sebesar …… ppm. Berdasarkan nilai-
nilai DO tersebut, dapat dihitung nilai BOD7 yang terkandung dalam larutan sampel sebesar
…… ppm. Sedangkan berdasarkan parameter limbah cair, nilai BOD yang terkandung harus
kurang dari 75 ppm. Dari hasil yang didapat berarti bahwa nilai BOD 7 larutan sampel masih
normal atau memenuhi baku mutu, tapi sebaliknya, bila nilai BOD telah cukup tinggi dan
melebihi baku mutu, maka sudah dapat diduga ada indikasi pencemaran bahan organik.

KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum diperoleh nilai BOD yang terkandung dalam larutan sampel sebesar
….. ppm, hal ini membuktikan bahwa……………..

DAFTAR PUSTAKA
Tim pengajar pengolahan limbah industri. 2001. petunjuk praktikum pengolahan limbah
industri,Jurusan Teknik Kimia. POLBAN : Bandung.
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/instrumen_analisis/titrasi-volumetri/penetapan-
angka-permanganat/ (13 Januari 2011)
http://www.scribd.com/doc/28700514/24944178-Laporan-Praktikum-Laboraturium-
Lingkungan-6-Zat-Organik. (13 Januari 2011)

http://www.scribd.com/doc/39511106/BOD-COD. (13 Januari 2011)