Anda di halaman 1dari 3

Filsafat Komunikasi Secara Ontologi, Epistemologi, Dan Aksiologi

Ontologi merupakan studi tentang ada yang universal, dengan mencari


pemikiran semesta universal. Ontologi berusaha mencari inti yang termuat dalam setiap
keyataan atau menjelaskan yang ada dalam setiap bentuknya. Ontologi merupakan studi
yang terdalam dari setiap hakekat kenyataan, seperti dapatkah manusia sunguh-sungguh
memilih, apakah ada Tuhan, apakah nyata dalam hakekat material ataukah spiritual,
apakah jiwa sungguh dapat dibedakan dengan badan. Ontolgi sendiri berarti memahami
hakikat jenis ilmu pengetahuan itu sendiri yang dalam hal ini adalah Ilmu Komunikasi.

Secara ontologi ilmu komunikasi adalah Ilmu yang dipahami melalui objek
materi dan objek formal, Ilmu komunikasi ini dijadikan sebagai objek dari materi yang
dipahami. sebagai sesuatu yang monoteistik pada tingkat yang paling abstrak atau yang
paling tinggi sebagai sebuah kesatuan dan kesamaan sebagai makhluk atau benda.
Sementara objek forma melihat Ilmu Komunikasi sebagai suatu sudut pandang, yang
selanjutnya menentukan ruang lingkup studi itu sendiri. Misalnya penjelasan ontologi,
ilmu komunikasi massa berfokus pada berita yang mempengaruhi minat masyarakat
untuk mengetahui berita tersebut. Ilmu komunikasi antarpribadi berfokus pada pesan
yang akan disampaikan pada orang lain, apakah pesan tersebut dapat memberikan efek
yang sesuai dengan tujuan atau tidak, dan lain-lain.

Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode


dan batasan pengetahuan manusia. Epistemologi juga disebut teori pengetahuan.
Epistemologi dapat didefmisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula
atau sumber, struktur, metode dan sahnya sebuah pengetahuan. Persoalan utama
epsitemologis Ilmu Komunikasi adalah mengenai persoalan apa yang dapat ita ketahui
dan bagaimana cara mengetahuinya, dan apa saja hal-hal yang berkaitan.

Epistemologi dalam ilmu komunikasi adalah Secara sederhana sebetulnya


perdebatan mengenai epistemologi Ilmu Komunikasi sudah sejak kemunculan
Komunikasi sebagai ilmu. Perdebatan apakah Ilmu Komunikasi adalah sebuah ilmu atau
bukan sangat erat kaitannya dengan bagaimana proses penetapan suatu bidang menjadi
sebuah ilmu. Dilihat sejarahnya, maka Ilmu Komunikasi dikatakan sebagai ilmu tidak
terlepas dari ilmu-ilmu social yang terlebih dahulu ada. pengaruh Sosiologi dan
Psikologi sangat berkontribusi atas lahirnya ilmu ini. Bahkan nama-nama seperti
Laswell, Schramm, Hovland, Freud, sangat besar pengaruhnya atas perkembangan
keilmuan Komunikasi. Komunikasi memang telah ditelaah lebih jauh menjadi sebuah
ilmu baru pada abad ke-19 di daratan Amerika yang sangat erat kaitannya dengan aspek
aksiologis ilmu ini sendiri. Contoh konkret epistemologis dalam Ilmu Komunikasi dapat
dilihat dari proses perkembangan kajian keilmuan Komunikasi di Amerika. Kajian
Komunikasi yang dipelajari untuk kepentingan manusia pada masa peperangan semakin
meneguhkan Komunikasi menjadi sebuah ilmu.

Aksiologi ialah menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas
nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai-
nilai budaya dan moral suatu masyarakat, sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat
dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan
sebaliknya malahan menimbulkan bencana. aspek aksiologis sangat terkait dengan
tujuan pragmatik filosofis yaitu asas kebermanfaatan dengan tujuan kepentingan
manusia itu sendiri. Perkembangan ilmu komunikasi erat kaitannya dengan kebutuhan
manusia akan komunikasi.

Aksiologi dalam ilmu komunikasi adalah Kebutuhan memengaruhi (persuasive),


retoris (public speaking), spreading of information, propaganda, adalah sebagian kecil
dari manfaat Ilmu Komunikasi. Secara pragmatis, aspek aksiologis dari Ilmu
Komunikasi terjawab seiring perkembangan kebutuhan manusia. Dalam hubungan
filsafat komunikasi, Laginan menjelaskan bahwa aksiologi merupakan study etika dan
estetika. Hal ini berkaitan dengan betapa pentingnya seseorang komunikator dalam
mengemas pemikirannya menjadi suatu isi pesan dengan bahasa sebagai lambang, untuk
terlebih dahulu melakukan pertimbangan nilai apakah pesan itu etis atau tidak dan
estetis atau tidak.

Ilmu komunikasi jika dipandang secara aksiologi berfokus pada fungsi


komunikasi. Apabila komunikasi massa maka yang dilihat dari fungsi media yaitu
hiburan, informasi, mempengaruhi, dan mendidik. Sehingga para praktisi media harus
memiliki kemampuan untuk membuat ide agar bisa menarik para komunikan atau
audiens dalam menerima pesan yang akan disampaikan oleh media tersebut.

Filsafat bermula dari pertanyaan dan berakhir pada pertanyaan. Hakikat filsafat
adalah bertanya terus-menerus, karenanya dikatakan bahwa filsafat adalah sikap
bertanya itu sendiri. Dengan bertanya, filsafat mencari kebenaran. Namun, filsafat tidak
menerima kebenaran apapun sebagai sesuatu yang sudah selesai. Yang muncul adalah
sikap kritis, meragukan terus kebenaran yang ditemukan. Dengan bertanya, orang
menghadapi realitas kehidupan sebagai suatu masalah, sebagai sebuah pertanyaan, tugas
untuk digeluti, dicari tahu jawabannya.
DAFTAR PUSTAKA

IMAM, D. H. (2012). Filsafat Ilmu Komunikasi. Journal of Chemical Information and


Modeling, 53(9), 1689–1699.

KARISNA, N. N. (2019). Komponen Filsafat Dalam Ilmu Komunikasi. Indonesian


Journal of Islamic Communication, 1(2), 22–35.
https://doi.org/10.35719/ijic.v1i2.156

Kriyantono, R. (2014). Kajian Filsafat pada Ilmu Komunikasi.


http://rachmatkriyantono.lecture.ub.ac.id/files/2014/10/2.-Kajian-Filsafati-pada-
Ilmu-Komunikasi-baru.pdf

Noppi, I. K., & Jaya, A. (2020). Filsafat Ilmu dalam IPTEK. Fakultas Teknologi
Informasi Dan Sains, 5.

Vardiansyah, D. (2017). Ontologi Ilmu Antarmanusia Komunikasi : Usaha


Penyampaian Pesan Antar Manusia. Jurnal Komunikologi, 14(2), 82–88.