Anda di halaman 1dari 20

TUGAS FISIKA FARMASI

KELARUTAN DAN UKURAN PARTIKEL

OLEH :

SULISTYO DWI ARFIANI

KELAS REGULER SORE

AKADEMI FARMASI PUTERA INDONESIA

MALANG

1
DAFTAR ISI

Judul ……………………………………………………… 1

Daftar isi ……………………………………………………… 2

Kata pengantar ……………………………………………………... 3

Bab I Pendahuluan ……………………………………………………... 4

Bab II Tinjauan Pustaka ……………………………………………………... 5

Bab III Metodologi ……………………………………………………... 7

Bab IV Pembahasan ……………………………………………………... 11

Bab V Kesimpulan ……………………………………………………... 17

Bab VI Penutup ……………………………………………………… 19

Daftar Pustaka ……………………………………………………… 20

2
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat
dan rahmat – Nya sehingga kami dapat menyusun portofolio ini.

Harapan kami dengan adanya portofolio ini setiap pembaca dapat memahami proses
kelarutan suatu zat dan ukuran partikel pada sediaan farmasi secara lebih detail.

Kami menyadari dalam portofolio ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami
mohon kritik dan saran yang membangun.

Tidak lupa kami sampaikan terimakasih kepada bapak dosen pembimbing kami, teman –
teman yang telah memberi dukungan dalam tersusunnya portofolio ini.

Dan akhir kata semoga portofolio ini bermanfaat bagi semua. Amien.

Penulis

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kelarutan adalah kemampuan suatu zat untuk melarut dalam sejumlah pelarut tertentu.
Secara kuantitatif kelarutan adalah jumlah ml pelarut yang larut dalam 1 gram zat terlarut.
Misalnya 1 gram acetaminophen larut dalam 70 bagian air.

Ukuran partikel atau mikromeritika adalah ilmu dan tekhnologi yang berhubungan dengan
partikel kecil. Ukuran dan luas permukaan partikel berhubungan dengan sifat fisika, sifat kimia
dan sifat – sifat farmakologi pada sediaan obat.

1.2. Tujuan

• Kelarutan

1. Mampu menjelaskan sifat zat cair murni ( jarak antar molekul, energi molekul dan
gerakan molekul )

2. Mampu menjelaskan komponen larutan

3. Mampu menjelaskan interaksi zat terlarut dan pelarut dalam proses pelarutan

4. Mampu memperkirakan kelarutan suatu zat melalui sifat kimia yang dimiliki zat
tersebut

5. Mampu menjelaskan factor – factor yang mempengaruhi besarnya kelarutan suatu zat

• Ukuran partikel

1. Mampu menjelaskan berbagai jenis diameter partikel

2. Mampu menjelaskan besaran luas permukaan dan volume partikel

3. Mampu menjelaskan adanya porositas dan volume suatu zat

4
BAB II

TINJAUN PUSTAKA

2.1. Kelarutan

Kelarutan adalah jumlah maximum zat terlarut ( solute ) dalam sejumlah tertentu zat
pelarut ( solvent ). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut dalam
suatu pelarut pada kesetimbangan. Secara kuantitatif kelarutan adalah jumlah ml pelarut yang
dapat melarutkan 1 gram zat terlarut. Misalnya 1 gram asam salisilat larut dalam 550 ml air.

Larutan terdiri atas dua komponen yaitu zat terlarut ( solute ) dan pelarut ( solvent ).
Larutan yang terdiri dari dua macam zat dikenal sebagai larutan biner. Zat terlarut terbagi dalam
dua kelompok utama yaitu nonelektrolit dan elektrolit. Nonelektrolit adalah zat yang tidak
menghasilkan ion apabila dilarutkan dalam air, misalnya larutan yang mengandung zat – zat
organik. Elektrolit adalah zat yang menghasilkan ion apabila dilarutkan dalam air, sehingga
dapat menghantarkan muatan listrik, misalnya larutan asam hidroklorida, natrium sulfat dll.

Interaksi antara pelarut dan zat terlarut dalam proses pelarutan dinyatakan dalam like
dissolves like. Dimana kelarutan bergantung pada interaksi antara zat terlarut dengan pelarut. Hal
ini disebabkan oleh factor yang mempengaruhi besarnya kelarutan suatu zat yaitu :

- Polaritas

- Tetapan dielektrik

- Asosiasi

- Solvasi

- Tekanan

- Reaksi asam – basa

- pH larutan

- Suhu atau temperatur

5
- Jenis pelarut

- Bentuk dan ukuran partikel zat

- Adanya zat-zat lain, misalnya surfaktan pembentuk kompleks, ion sejenis dll.

2.2. Ukuran Partikel

Ukuran partikel adalah luas permukaan spesifik partikel. Ukuran partikel mempengaruhi
pelepasan obat dari sediaanya yang diberikan baik secara oral, parenteral, rektal dan topikal. Hal
ini dikarenakan karakteristik dari partikel yang bersifat tidak teratur atau heterogen, sehingga
pada serbuk lebih mudah untuk dituang.

Pada sekumpulan partikel yang heterogen, ada dua sifat yang penting untuk diketahui,
yaitu : pertama bentuk dan luas permukaan dari masing – masing partikelnya, dan kedua, jarak
ukuran dan jumlah atau bobot partikelnya atau luas permukaan totalnya.

Banyak metode yang bisa digunakan untuk menentukan ukuran partikel. Di antaranya yaitu

mikroskopi, pengayakan ( sieving ), pengenapan ( sedimentasi ) dan penentuan volume partikel adalah

beberapa metode yang biasa digunakan. Pada metode mikroskopi memungkinkan orang untuk melihat

partikel – partikel, tetapi hasil yang diperoleh tidak lebih tepat dari metode –metode yang lain,karena

pada metode ini hanya dua atau tiga dimensi partikel yang bisa dilihat. Metode pengenapan

( sedimentasi ) menghasilkan ukuran partikel relative melalui penerapannya melalui suspensi dan emulsi,

hal ini dipengaruhi oleh laju endap dari dua model bentuk sediaan tersebut. Pada metode penentuan

volume partikel menggunakan alat yaitu Coulter counter, digunakan untuk menghitung suatu diameter

volume ekivalen. Tetapi, pada tekhniknya tidak memberikan informasi tentang bentuk partikel.

6
BAB III

METODOLOGI

3.1. Kelarutan

Alat dan Bahan

Alat :

- Mixer - Labu ukur - Pipet tetes

- Buret - Corong - Pipet gondok

- Erlenmeyer - Breaker glass - Cawan

Bahan :

- Air - Asetosal - NaOH

- Asetosal - Tween 80 - Indikator fenolftalein p

- Propilen glikol - Asam benzoate - Kertas saring

Cara kerja

1. Pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat

Dibuat campuran pelarut - pelarut seperti yang tertera pada tabel di bawah ini :

Air (% Alkohol (% Propilen glikol (%


v/v) v/v) v/v)

60 0 40

60 5 35

60 10 30

60 15 25

60 20 20

60 25 15

60 30 10

7
60 35 5

60 40 0

Dilarutkan asetosal sedikit demi sedikit dalam masing-masing campuran pelarut sampai didapat
larutan yang jenuh. Dikocok larutan dengan mixer selama 30 menit, jika ada endapan yang larut
selama pengocokan tambahkan lagi asetosal sampai didapat larutan yang jenuh kembali. Larutan
disaring. Tentukan kadar asetosal yang larut dengan cara titrasi asam basa.

2. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat

- Dibuat 50 ml larutan tween 80 dengan konsentrasi : 0; 0,1; 0,5; 1; 5; 10; 50; dan 100 mg/100 ml
air

- Ditambahkan asam benzoat sedikit demi sedikit sampai diperoleh larutan yang jernih

- Dikocok larutan selama 30 menit dengan mixer. Kalau ada endapan yang larut selama
pengocokan, tambahkan lagi asam benzoat sampai didapat larutan yang jenuh kembali

- Disaring dan tentukan kadar asam benzoat yang terlarut dalam masing-masing larutan

- Dibuat grafik antara kelarutan asam benzoat dengan konsentrasi tween 80 yang digunakan

- Ditentukan konsentrasi isel kritik tween 80

3.1.2. Analisis data

Elektrolit dapat bersifat seperti elektrolit kuat dan seperti non elektrolit dalam larutan.
Apabila larutan berada pada pH di mana obat seluruhnya berbentuk ion, maka larutan tersebut
berbentuk ion, maka larutan tersebut bersifat sebagai larutan elektrolit kuat dan kelarutan tidak
merupakan masalah yang serius. Tetapi, apabila pH disesuaikan pada harga pH di mana molekul
tidak terdisosiasi diproduksi dalam konsentrasi yang cukup untuk mencapai kelarutan dalam
bentuk ini, terjadilah pengendapan.

Seringkali zat terlarut lebih lebih larut dalam campuran pelarut daripada dalam satu
pelarut saja. Gejala ini dikenal dengan melarut bersama (cosolvency), dan pelarut yang dalam
kombinasi menaikkan kelatutan zat disebut cosolvent. Cairan propelienglikol memiliki sifat yang
lebih kental cairannya dibandingkan air dan alkohol. Pada saat pencampuran ketiga cairan,
propilenglikol tidak bisa cepat larut dalam air jadi harus diperlukan bantuan pengocokan untuk

8
menghomogenkan ketiga campuran tersebut, setelah itu masing-masing cairan yang telah dibuat
dengan kadar yang berbeda-beda dimasukan asetosal sedikit demi sedikit karena bentuk asetosal
merupakan serbukan jadi diperlukan mixer untuk menjenuhkan asetosal tersebut dalam cairan
campuran, kocok selama 30 menit apabila ada endapan yang larut tabahkan kembali asetosal
sampai didapat larutan yang benar-benar jenuh. Setelah itu saring dan lakukan titrasi dari hasil
yang didapat campuran antara air dan propilen glikol akan didapat kadar asetosal yang lebih
tinggi dibandingkan apabila dibandingakan dengan campuran antara air, alkohol dan
propilengliko. Tetapi kadar propilenglikol lebih sedikit dibandingkan dengan kadar kedua cairan
lainnya.

3.2. Ukuran partikel

Pengamatan terhadap suatu sampel serbuk menghasilkan data – data sebagai berikut : ( sumber :
Moechtar , 1990 )

Jarak Purat Jmlh Prose Frek.% nd Nd2 Nd3 % nd3 Frek.%


uk.dlm a Jrk Partikel nn kumulatif (bobot kumulatif
mikron Uk. dlm bwh Uk. ) bwh
(d) setiap (jumlah) Ukuran
dlm Jrk Uk. (bobot)
mikro (n)
n

2.0-4.0 3.0 2 1.0 1.0 6 18 54 0.03 0.03

4.0-6.0 5.0 32 16.0 17.0 160 800 4000 2.31 2.34

6.0-8.0 7.0 64 32.0 49.0 448 3136 21952 12.65 14.99

8.0-10.0 9.0 48 24.0 73.0 432 3888 34992 20.16 35.15

10.0-12.0 11.0 30 15.0 88.0 330 3630 39930 23.01 58.16

12.0-14.0 13.0 14 7.0 95.0 182 2366 30758 17.71 75.88

14.0-16.0 15.0 6 3.0 98.0 90 1350 20250 11.67 87.55

16.0-18.0 17.0 3 1.5 99.5 51 867 14739 8.49 96.04

18.0-20.0 19.0 1 0.5 100.0 19 361 6859 3.95 99.99


9
Pada data dijelaskan bahwa partikel mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda. Untuk
menyatakan dimensi partikel – partikel tersebut digunakan diameter bola ekivalen, diameter
volume, dan diameter terproyeksi.

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1. Kelarutan

10
Kelarutan secara kuantitatif adalah sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh
pada temperatur tertentu. Sedangkan secara kualitatif adalah sebagai interaksi sepontan dari dua
atau lebih zat untuk membentuk disperse molekuler yang homogen.

Larutan terdiri dari dua komponen yaitu solute sebagai komponen minor dan solvent
sebagai komponen utama. Larutan mempunyai dua reaksi yang disebut reaksi eksoterm dan
reaksi endoterm. Reaksi eksoterm adalah proses melepasnya panas dari system atau larutan ke
lingkungan. Sedangkan reaksi endoterm adalah proses penyerapan panas oleh system atau
larutan dari lingkungan. Berdasarkan bentuk larutan, larutan dibagi menjadi tiga yaitu larutan
jenuh, larutan tidak jenuh / hampir jenuh dan larutan lewat jenuh. Hal ini disebabkan pada
setiap larutan mengandung sedikit atau banyaknya suatu zat terlarut pada sebuah larutan.

Pada sebuah larutan, zat terlarut bereaksi secara kimia dengan pelarut dan membentuk
suatu zat yang baru. Zat terlarut membentuk zat tersolvasi dengan pelarut. Dalam hal ini
terbentuknya larutan berdasarkan disperse. Dikarenakan zat terlarut harus larut sempurna dalam
pelarutnya dalam bentuk disperse molekuler.

Interaksi yang terjadi antara zat terlarut dan zat pelarut dalam proses pelarutan adalah like
dissolves like. Di mana kelarutan suatu zat bergantung pada pelarutnya. Hal ini disebabkan suatu
pelarut harus mampu memisahkan partikel zat terlarut dan menempati ruang intervensi. Pada
molekul pelarut yang polar efektif terhadap zat yang polar. Pada pelarut polar ini pada umumnya
zat yang terlarut bersifat ion. Dimana ion positif pada zat yang terlarut berikatan atau tertarik
dengan ion negative pelarut. Pada pelarut yang non polar lebih efektif pada zat terlarut yang non
polar. Pada pelarut yang semi polar maka dapat bersifat lebih polar atau lebih non polar.

Elektrolit dapat bersifat seperti elektrolit kuat dan seperti non elektrolit dalam larutan.
Apabila larutan berada pada pH di mana obat seluruhnya berbentuk ion, maka larutan tersebut
berbentuk ion, maka larutan tersebut bersifat sebagai larutan elektrolit kuat dan kelarutan tidak
merupakan masalah yang serius. Tetapi, apabila pH disesuaikan pada harga pH di mana molekul
tidak terdisosiasi diproduksi dalam konsentrasi yang cukup untuk mencapai kelarutan dalam
bentuk ini, terjadilah pengendapan.

Seringkali zat terlarut lebih lebih larut dalam campuran pelarut daripada dalam satu
pelarut saja. Gejala ini dikenal dengan melarut bersama (cosolvency), dan pelarut yang dalam
11
kombinasi menaikkan kelatutan zat disebut cosolvent. Cairan propelienglikol memiliki sifat yang
lebih kental cairannya dibandingkan air dan alkohol. Pada saat pencampuran ketiga cairan,
propilenglikol tidak bisa cepat larut dalam air jadi harus diperlukan bantuan pengocokan untuk
menghomogenkan ketiga campuran tersebut, setelah itu masing-masing cairan yang telah dibuat
dengan kadar yang berbeda-beda dimasukan asetosal sedikit demi sedikit karena bentuk asetosal
merupakan serbukan jadi diperlukan mixer untuk menjenuhkan asetosal tersebut dalam cairan
campuran, kocok selama 30 menit apabila ada endapan yang larut tabahkan kembali asetosal
sampai didapat larutan yang benar-benar jenuh. Setelah itu saring dan lakukan titrasi dari hasil
yang didapat campuran antara air dan propilen glikol akan didapat kadar asetosal yang lebih
tinggi dibandingkan apabila dibandingakan dengan campuran antara air, alkohol dan
propilengliko. Tetapi kadar propilenglikol lebih sedikit dibandingkan dengan kadar kedua cairan
lainnya.

Pada data diatas dimana suatu zat terlarut bergantung pada pelarutnya, disebabkan oleh
faktor - faktor mempengaruhi kelarutannya :

1. Polaritas

Suatu zat yang terlarut dalam pelarutnya harus mempunyai polaritas yang sama

2. Tetapan dielektrik

Pelarut polar mempunyai konstanta dielektrik yang tinggi dapat melarutkan zat-zat non polar
sukar larut di dalamnya, begitu pula sebaliknya. Besarnya tetapan dielektrik ini menurut
moore dapat diatur dengan penambahan pelarut lain. Tetapan dielektrik suatu campuran
pelarut merupakan hasil penjumlahan dari tetapan dielektrik masing-masing yang sudah
dikalikan dengan % volume masing-masing komponen pelarut.

Adakalanya suatu zat lebih mudah larut dalam pelarut campuran dibandingkan pelarut
tunggalnya. Fenomena ini dikenal dengan istilah co-solvency dan pelarut yang mana dalam
bentuk campuran dapat menaikkan kelarutan suatu zat diseut co-solvent. Etanol, gliserin dan
propilen glikol adalah co-solvent yang umum digunakan dalam bidang farmasi untuk
pembuatan eliksir.

3. Asosiasi
12
4. Solvasi

5. Tekanan

Pada zat terlarut cair, perubahan tekanan praktis tidak terlarut, untuk zat terlarut berupa gas
peningkatan kelarutan meningkatkan tekanan dan penurunan tekanan kelarutan berkurang.

6. Reaksi asam – basa

Pada reaksi ini terjadi penetralan antara pelarut yang mengandung basa dan zat terlarut yang
mengandung asam.

7. pH larutan

Zat aktif yang sering digunakan di dalam dunia pengobatan umumnya adalah zat organik yang
bersifat asam lemah, dimana kelarutannya sangat dipengaruhi oleh pH pelarutnya. Kelarutan
asam-asam organik lemah seperti barbiturat dan sulfonamida dalam air akan bertambah
dengan naiknya pH karena terbentuk garam yang mudah larut dalam air. Sedangkan basa-basa
organik lemah seperti alkoholida dan anastetika lokal pada umumnya sukar larut dalam air.
Bila pH larutan diturunkan dengan penambahan asam kuat maka akan terbentuk garam yang
mudah larut dalam air.

8. Suhu atau temperature

Semakin tinggi suhu maka kelarutan akan semakin meningkat, kecuali gas dalam air. Tetapi,
apabila gas dilarutkan dalam pelarut organik akan cepat karut apabila suhu dinaikkan. Hal ini
dikarenakan pada suhu tinggi partikel – partikel akan bergerak lebih cepat dibandingkan
dengan pada suhu rendah, yang mengakibatkan kontak antara zat terlarut dengan pelarut akan
menjadi lebih efektif.

9. Jenis pelarut

Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut. Pelarut polar akan melarutkan
lebih baik zat-zat polar dan ionik, begitu pula sebaliknya. Kelarutan juga bergantung pada
struktur zat, seperti perbandingan gugus polar dan non polar dari suatu molekul. Makin
panjang rantai gugus non polar suatu zat, makin sukar zat tersebut larut dalam air. Menurut

13
Hilderbrane : ‘kemampuan zat terlarut untuk membentuk ikatan hidrogen lebih penting dari
pada kemolaran suatu zat.’ Senyawa polar (mempunyai kutub muatan) akan mudah larut
dalam senyawa polar. Misalnya gula, NaCl, alkohol, dan semua asam merupakan senyawa
polar sehingga mudah larut dalam air yang juga merupakan senyawa polar. Sedangkan
senyawa nonpolar akan mudah larut dalam senyawa nonpolar, misalnya lemak mudah larut
dalam minyak. Senyawa nonpolar umumnya tidak larut dalam senyawa polar, misalnya NaCl
tidak larut dalam minyak tanah.

Pelarut polar bertindak sebagai pelarut dengan mekanisme sebagai berikut :

- Mengurangi gaya tarik antara ion yang berlawanan dalam Kristal.

- Memecah ikatan kovalen elektrolit-elektrolit kuat, karena pelarut ini bersifat amfiprotik.

- Membentuk ikatan hidrogen dengan zat terlarut.

Pelarut non polar tidak dapat mengurangi daya tarik-menarik antara ion-ion karena konstanta
dielektiknya yang rendah. Iapun tidak dapat memecahkan ikatan kovalen dan tidak dapat
membentuk jembatan hidrogen. Pelarut ini dapat melarutkan zat-zat non polar dengan tekanan
internal yang sama melalui induksi antara aksi dipol. Pelarut semi polar dapat menginduksi
tingkat kepolaran molekul-molekul pelarut non polar. Ia bertindak sebagai perantara
( Intermediete Solvent ) untuk mencampurkan pelarut non polar dengan non polar.

10. Bentuk dan ukuran partikel

Semakin besar luas penampang partikel zat terlarut maka akan semakin mudah pelarut untuk
membasahi zat terlarut tersebut.

11. Adanya zat – zat lain misalnya surfaktan, ion sejenis dll

Pada penambahan suatu surfaktan pada suatu zat maka dapat menaikkan kelarutan dari zat
tersebut. Hal ini dikarenakan surfaktan mempunyai dua bagian yang bersifat polar atau non
polar. Dan surfaktan juga dapat berasosiasi membentuk suatu agregat yang disebut dengan
misel.

14
4.2. Ukuran partikel

Ukuran partikel yang dapat diartikan sebagai luas permukaan spesifik partikel. Pada
sediaan farmasi ukuran partikel mempengaruhi pelepasan obat dan sifat alir serbuk. Sifat alir
serbuk dipengaruhi oleh bentuk partikel dan diameter partikel. Untuk menentukan bentuk dan
ukuran sebuah partikel sangat sulit dikarenakan pada sekumpulan partikel bersifat heterogen.

Untuk mengetahui dimensi partikel dapat dilakukan dengan menghitung diameter bola
ekivalen, diameter volume, dan diameter terproyeksi. Di mana pada penentuan diameter
tergantung pada dua faktor yaitu bentuk data pengujian yang digunakan, dan penggunaan serbuk
digunakan sebagai apa.

Pada pengukuran partikel dapat dilakukan dengan metode mikroskopik, sedimentasi dan
pengayakan. Dalam hal ini Edmundson memberikan persamaan untuk mengukur diameter rata –
rata dan jenis diameter purata atau geometric atau harmonik, yaitu

dpurata= ( ∑ndp+f / ∑ndf)1/p

dimana

n = jumlah partikelyang berada dalam jarak ukuran

d = titik tengah atau rata – rata dari jarak ukuran yang merupakan salah satu dari diameter
ekivalen

p = suatu indeks yang berhubungan dengan ukuran partikel secara individual

karena d dipangkatkan dengan p, maka p = 1, p = 2 atau p = 3 merupakan suatupernyataan


dari berturut – turut panjang partikel, luas partikel, atau volume partikel. Nilai dari indeks
p juga menentukan apakah harga putaran itu berdifat arithmetic ( p positif ), geometric ( p
nol ), atau harmonik ( p negative )

f = indeks frekwensi

untuk sekumpulan partikel, frekwensi dimana suatu partikel terdapat dalam suatu jarak
ukuran tertentu dinyatakan dengan ndf.

15
Bilamana indeks frekwensi , f, mempunyai nilai – nilai 0, 1, 2, atau 3, maka distribusi
frekwensi ukuran dinyatakan dengan istilah jumlah total, panjang, luas, atau volume dari
partikel.

Sifat alir/fluiditas serbuk tidak dapat dinilai atas karakter individu partikel. Paramer
fluiditas serbuk bersifat empiris dan tidak merupakan harga yang pasti yang dapat dihitung
dengan persamaan matematis yang dijabarkan dari sifat individual serbuk. Fakor-faktor yang
berpengaruh pada fluiditas serbuk :

- Ukuran partikel dan distribusi ukuran partikel (particle size and size distribution)

- Bentuk partikel (particle shape) dan tekstur (texture)

- Kerapatan jenis (bulk density)

- Porositas (porosity)

- Kandungan lembab (MC)

- Kondisi percobaan (handling and processing conditions)

- Ukuran partikel dan distribusi ukuran partikel (particle size and size distribution)

Porositas adalah persentase formasi yang terisi oleh ruang berpori. Porositas mempengaruhi
fluiditas atau daya alir serbuk hal ini dikarenakan jarak tumbukan antara partikel semakin sempit
yang mengakibatkan serbuk akan lebih mudah mengalir.

BAB V

KESIMPULAN

5.1. Kelarutan

Kelarutan adalah jumlah maximum zat terlarut ( solute ) dalam sejumlah tertentu zat pelarut
( solvent ). Larutan terdiri atas dua komponen yaitu solute dan solvent. Faktor – faktor yang
mempangaruhi kelarutan suatu zat yaitu :

- Polaritas

- Tetapan dielektrik
16
- Asosiasi

- Solvasi

- Tekanan

- Reaksi asam – basa

- pH larutan

- Suhu atau temperature

- Jenis pelarut

- Bentuk dan ukuran partikel zat

- Adanya zat-zat lain, misalnya surfaktan pembentuk kompleks, ion sejenis dll.

Interaksi antara pelarut dengan zat terlarut berdasarkan pada like dissolves like, antara zat pelarut
dengan pelarut. Dengan berdasarkan sifat polar dan non polar zat terlarut terhadap pelarutnya.

Dalam bidang farmasi sifat kelarutan dapat digunakan untuk membantu memilih medium pelarut
yang baik untuk obat atau kombinasi obat, membantu mengatasi kesulitan – kesulitan tertentu yang
timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetis dan lebh jauh lagi dapat bertindak sebagai standart
atau uji kelarutan suatu zat.

5.2. Ukuran partikel

Ukuran partikel berarti luas permukaan spesifik partikel. Metode yang digunakan untuk menentukan
diameter tergantung pada faktor :

- Bentuk data dari prosedur pengujian yang digunakan

- Untuk apa serbuk digunakan

Partikel mempunyai sifat heterogen, maka metode yang digunakan untuk menentukan ukuran partikel
adalah metode mikroskopi, pengayakan ( sieving ), pengenapan ( sedimentasi ), dan penentuan
volume partikel.

17
Untuk menentukan bentuk partikel dan luas permukaannya digunakan metode bentuk partikel, sifat
alir, dan susunan dari serbuk yang mempunyai pengaruh terhadap luas permukaan.

Dalam bidang farmasi ukuran partikel digunakan untuk menentukan daya alir serbuk, daya adsorbs.
Dan pada formulasi yang memiliki segi stabilitas fisika maupun respon biologinya pada berbagai
macam sediaan.

BAB VI

PENUTUP

Demikian portofolio ini kami buat semoga bermanfaat dan dapat meningkatkan pengetahuan dan
dapat menambah wawasan kita mengenai kelarutan dan ukuran partikel suatu zat.

18
DAFTAR PUSTAKA

Alfred Martin, Farmasi Fisika Edisi I : Dasar – Dasar Kimia Fisik, Jakarta

Farmakope Indonesia Edisi IV

Moechtar, Farmasi fisika : Zat Padat dan Mikromeritika, Yogyakarta

signaterdadie.wordpress.com/2009/10/08/mikromeritika/
http://www.scribd.com/doc/33257665/FARMASIFISIK-UKURANPARTIKEL

http://agusgeoits.wordpress.com/2007/03/02/perkenalan-terhadap-perhitungan-logging-while-
drilling/

19
20