Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH DIABETES INSPIDUS

Disusun guna memenuhi Tugas Keperawatan Medikal Bedah I

Dosen Pengampu : Muh.Sowwam, S.Kep., Ns.,M.Kes

Disusun oleh :

Disusun Oleh Kelompok 4 :

1. Kharisma Ismi Sabila (20012)


2. Pramita Ran Lestari (20014)
3. Raesha Ajeng Prasiwi (20016)
4. Rosita Anjani (20018)
5. Bagas Trianggono (20022)

Karisma Ismi S.(20012)


2. Pramita Ran L. (20014)
3. Raesha Ajeng P. (20016)
4. Rosita Anjani. (20018)
5. Bagas Tri A. ( 20021)
AKADEMI KEPERAWATAN YAPPI SRAGEN
TAHUN 2021

BAB I
TINJUAN PUSTAKA

A. Definisi
Diabetes insipidus adalah suatu penyakit yang disebabkan oeh kekurangan ADH yang
ditandai oleh jumlah urine yang besar. (Purnawan Junadi, 1992). Diabetes insipidus
adalah suatu penyakit yang diakibatkan oleh berbagai penyebab yang dapat mengganggu
mekanisme Neurohypophyseal-rena reflex sehingga mengkibatkan kegagalan tubuh
dalam mengkonvensi air. (Sjaefoellah, 1996)
Diabetes insipidus adaah suatu penyakit yang ditandai oleh penurunan produksi
sekresi dan fungsi dari ADH. (Corwin, 2000).Diabetes insipidus adalah kelainan yang
disebabkan oeh ginjal yang tidak berespon terhadap kerja ADH fisiologis. Diabetes
insipidus adalah kelainan lobus posterior dari kelenjar hipofisis akibat defisiensi
vasopresin yang merupakan hormone anti deuretik/ADH.

B. Etiologi
Diabetes insipidus disebabkan oleh penurunan produksi ADH baik total maupun parsial
oeh hipotalamus atau penurunan pelepasan ADH dari hipofisis anterior.
Berdasarkan etiologinya, diabetes insipidus dibagi menjadi dua yaitu :
1. Diabetes insipidus sentral
Penyebabnya antara lain :
a. Bentuk idiopatik
a) Bentuk non familiar.
b) Bentuk familiar
b. Pasca hipofisektomi
c. Trauma
Fraktur dasar tulang tengkorak
d. Granuloma
a) Sarkoid
b) Tuberkulosis
c) Sifilis
d) Infeksi
e) Meningitis
f) Ensefalitis
g) Landry-Guillain-Barre’s syndrome
e. Vascular
a) Trombosis atau perdarahan serebral
b) Aneurisma serebral
c) Post-partum necrosis
f. Histiocytosis
a) Granuloma eosinofilik
b) Penyakit Schuller-Christian
2. Diabetes insipidus nefrogenik
a. Penyakit ginjal kronik
a) Penyakit ginjal polikistik
b) Medullary cystic disease
c) Pielonefritis
d) Obstruksi ureteral
e) Gagal ginajl lanjut
b. Gangguan elektrolit
a) Hipokalemia
b) Hiperkasemia
c. Obat-obatan
a) Litium
b) Demeklosiklin
c) Asetoheksamid
d) Tolazamid
e) Glikurid
f) Propoksifen
g) Amfoarisin
h) Vinblastin
i) Kolkisin
d. Penyakit Sickle Cell
e. Gangguan diet
a) Intake air yang berlebihan
b) Penurunan intake NaCl
c) Penurunan intake protein
f. Lain-lain
a) Multipel mieloma
b) Amiloidosis
c) Penyakit Sjogren’s
d) Sarkoidosis

C. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala umum dari diabetes insipidus adalah:

 Dehidrasi

 Rasa haus yang berlebihan (polidipsia)

 Volume urine yang terlalu banyak, terutama pada malam hari (poliuria). Tergantung
dari beratnya kondisi, pengeluaran urine dapat mencapai 15 liter/hari jika
mengonsumsi banyak cairan. Orang dewasa biasanya mengeluarkan urine <3
liter/hari.

 Nokturia, istilah medis untuk bangun di malam hari karena harus buang air kecil

 Lemah dan lesu

 Nyeri otot

 Gampang tersinggung
Bayi dan anak kecil yang mengalami diabetes insipidus akan mengalami tanda dan gejala,
seperti:

 Pusing yang tidak dapat dijelaskan

 Sulit tidur

 Rewel

 Demam

 Muntah

 Diare

 Pertumbuhan yang terhambat

 Penurunan berat badan

D. Manifestasi Klinis
Tanpa kerja vasopressin pada nefron distal ginjal, maka akan terjadi pengeluaran
urine yang sangat encer seperti air dengan berat jenis 1,001 hingga 1,005 dalam jumlah
setiap harinya. Urine tersebut tidak mengandung zat-zat yang biasa tedapan di dalamnya
seperti glukosa dan albumin. Pada diabetes insipidus herediter,gejala primernya dapat
berawal sejak lahir.kalau keadaan ini terjadi padat usia dewasa ,biasanya gejala poliuria
memiliki awitan yang mendadak atau terhadap (insidious). Penyakit ini tidak dapat
dikendalikan dengan membatasi asupan cairan karena kehilangan urin dalam jumlah besar
akan terus terjadi sekalipun untuk penggantian cairan.

E. Patofisiologi
Ada beberapa keadaan yang dapat mengakibatkan Diabetes Insipidus, termasuk
didalamnya tumor-tumor pada hipotalamus, tumor-tumor besar hipofisis di sela tursika,
trauma kepala, cedera operasi pada hipotalamus.
Gangguan sekresi vasopresin antara lain disebabkan oleh Diabetes Insipidus dan
sindrom gangguan ADH. Pada penderita Diabetes Insipidus, gangguan ini dapat terjadi
sekunder dari destruksi nucleus hipotalamik yaitu tempat dimana vasopressin disintetis
(Diabetes Insipidus Sentral) atau sebagai akibat dari tidak responsifnya tubulus ginjal
terhadap vasopresin (Diabetes Insipidus nefrogenik).
Diabetes Insipidus sentral (DIS) disebabkan oeh kegagalan pelepasan hormone
antideuretik (ADH) yang secara fisiologis dapat merupakan kegagalan sintesis atau
penyimpanan, selain itu DIS juga timbul karena gangguan pengangkutan ADH akibat
kerusakan pada akson traktus supraoptiko hipofisealis dan akson hipofisis posterior
dimana ADH disimpan untuk sewaktu-waktu dilepaskan ke dalam sirkulasi jika
dibutuhkan.
Istilah Diabetes Insipidus Nefrogenik (DIN) dipakai pada Diabetes Insipidus yang
tidak responsive terhadap ADH eksogen. Secara fisiologis DIN dapat disebabkan oleh:
1. kegagalan pembentukan dan pemeliharaan gradient osmotic dalam medulla renalis.
2. kegagalan utilisasi gradient pada kegagalan dimana ADH berada dalam jumlah yang
cukup dan berfungsi normal.
Kehilangan cairan yang banyak melalui ginjal ini dapatdikompensasikan dengan
minum banyak air. Penderita yang mengalami dehidrasi, berat badan menurun, sertakulit
dan membrane mukosa jadi kering. Karena meminum banyak air untuk mempertahankan
hidrasi tubuh, penderita akan mengeluh perut terasa penuh dan anoreksia. Rasa haus dan
BAK akan berlangsung terus pada malam hari sehingga penderita akan merasa terganggu
tidurnya karena harus BAK pada malam hari.

F. Komplikasi
a. Dehidrasi berat dapat terjadi apabila jumah air yang diminum tidak adekuat.
b. Ketidakseimbangan elektrolit, yaitu hiperatremia dan hipokalemia.
Keadaan ini dapat menyebabkan denyut jantung menjadi tidak teratur dan dpat terjadi
gagal jantung kongesti.
G. Pemeriksaan Penunjang
Setelah dapat ditentukan bahwa poliuria yang terjadi adalah diuresis air murni, maka
langkah selanjutnya adalah untuk menentukan jenis penyakit yang menyebabkannya.
Untuk itu tersedia uji-uji coba berikut :
1. Hickey-Hare atau Carter-Robbins test
Pemberian infuse larutan garam hipertonis secara cepat pada orang normal akan
menurunkan jumlah urine, sedangkan pada Diabetes Insipidus urine akan menetap
atau bertambah.
Pemberian pitresin akan menyebabkan turunnya jumlah urine pada pasien DIS dan
menetapnya jumlah urine pada pasien DIN.
Kekurangan pada pengujuian ini adalah :
a. Pada sebagian orang normal, pembebanan larutan garam akan menyebabkan
terjadinya diuresis solute yang akan mengaburkan efek ADH.
b. Interpretasi pengujicobaan ini adalah all or none sehingga tidak dapat
membedakan defect partial atau komplit.
2. Fluid deprivation
a. Sebelum pengujian dimulai, pasien diminta untuk mengosongkan kandung
kemihnya kemudian ditimbang BBnya, diperiksa volume dan berat jenis atau
osmolalitas urine pertama. Pada saat ini diambil sample plasma untuk mengukur
osmolalitasnya.
b. Pasian diminta BAK sesering mungkin paling sedikit setiap jam.
c. Pasien ditimbang tiap jam apabia diuresis lebih dari 300ml/jam, atau setiap 3 jam
sekali bia diuresis kurang dari 300ml/jam.
d. Setiap sample urine sebaiknya diperiksa osmoalitasnya dalam keadaan segar atau
kalau hal itu tidak mungkin dilakukan semua sample harus disimpan dalam botol
yang tertutup rapat serta disimpan dalam lemari es.
e. Pengujian dihentikan setelah 16 jam atau berat badan menurun 3-4% tergantung
mana yang lebih dahulu.
Pengujian dilanjutkan dengan:
3. Uji nikotin
a. Pasien diminta untuk merokok dan menghisap dalam-dalam sebanyak 3 batang
dalam waktu 15-20 menit.
b. Teruskan pengukuran volume, berat jenis dan osmolalitas setiap sample urin
sampai osmolalitas/ berat jenis urin menurun bidandingkan dengan sebelum
menghisap nikotin.
Kemudian uji coba dianjutkan dengan :
4. Uji vasopressin
a. Berikan pitresin dalam minyak 5u, intramuskular.
b. Ukur voume, berat jenis dan osmolalitas urin pada diuresis berikutnya atau satu
jam kemudian

H. Penatalaksanaan
Tujuan terapi adalah
1. Untuk menjamin penggantian cairan yang adekuat
2. Mengganti vasopressin (yang biasanya merupakan program teurapetik jangka
panjang)
3. Untuk meneliti dan mengoreksi kondisi patologis intracranial yang mendasari.

Bentuk terapi yang lain adlah penyuntikan intramuskuler ADH,yaitu vasopressin tannat
dalam minyak ,yang dilakukan bila pemberian intranasal tidak dimungkinkan
.penyuntikan dilakukan pada malam hari agar hasil yang optimal dicapai pada saat tidur .
kram abdomen merupakan efek samping obat tersebut. Rotasi lokasi penyuntikan harus
dilakukan untuk menghindari lipodistrofi.
Penyebab nefrogenik .jika diabetes insipidus tersebut disebabda,kan oleh
gangguan ginjal ,terapi ini tidak akan efektif. Preparat tiazida,penurunan garam yang
ringan dan penyekat prostaglandin (ibuprosen ,indometasin,serta aspirin)digunakan untuk
mengobati bentuk nefrogenik diabetes insipidus .
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Anamnesa
Anamnesis merupakan tahap awal dalam pemeriksaan untuk mengetahui riwayat
penyakit dan menegakkan diagnosis. Anamnesis harus dilakukan dengan teliti,
teratur dan lengkap karena sebagian besar data yang diperlukan dari anamnesis
untuk menegakkan diagnosis. Sistematika yang lazim dalam anamnesis, yaitu
identitas, riwayat penyakit, dan riwayat perjalanan penyakit.
b. Keluhan Utama
Keluhan utama yang menyebabkan pasien dibawa berobat. Keluhan utama tidak
harus sejalan dengan diagnosis utama.
c. Riwayat kesehatan
a) Adanya riwayat infeksi sebelumya.
b) Pengobatan sebelumnya tidak berhasil.
c) Riwayat mengonsumsi obat-obatan tertentu, mis., vitamin; jamu.
d) Adakah konsultasi rutin ke Dokter.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi : membrane mukosa kering
b. Palpasi : kulit kering, turgor kulit kurang.
c. Auskultasi : kardiovaskuler takikardi
d. Data subyektif
1. Asal idiopatik
2. Poliuria
3. Polidipsia
4. Nocturia
5. Kelelahan
6. Konstipasi
e. Data obyektif
1. Trauma kepala
2. Bedah syaraf
3. Tumor hipotaamus
4. Trauma
5. Infeksi
6. Penurunan BB
7. Hipotensi ortostatik
8. Penurunan CVP
9. EKG mungkin terdapat takikardi
10. Penggunaan obat-obatan
Misalnya : litium karbonat, penitoin (dilatin), demeklosiklin, aminoglikosida.

a. Analisa Data
No. DATA ETIOLOGI MASALAH
1. DS : Pasien menyatakan Diuresis Osmotic Defisit volume cairan
sering buang air kecil tubuh
DO :
- Penurunan status mental
- Penurunan tekanan darah
- Penurunan volume nadi
- Penurunan tekanan nadi
- Penurunan turgor kulit
- Penurunan turgor lidah
- Penurunan turgor
haluaran urin
- Penurunan pengisian
vena
- Kulit kering
- Membrane mukosa
kering
- Hematokrit meningkat
- Suhu tubuh meningkat
- Frekuensi nadi
meningkat
2. DS : Pasien mengatakan Anoreksia Ketidakseimbangan
tidak nafsu makan. nutrisi kurang
DO :
- Berat badan 20 % atau
lebih di bawah ideal
- Dilaporkan adanya
asupan makanan yang
kurang dari
RDA (Recomended
Daily Allowance)
- Membran mukosa dan
konjungtiva pucat
- Kelemahan otot yang
digunakan untuk
menelan/mengunyah
- Luka, inflamasi pada
rongga mulut
- Mudah merasa
kenyang, sesaat setelah
mengunyah makanan
- Dilaporkan atau fakta
adanya kekurangan
makanan
- Dilaporkan adanya
perubahan sensasi rasa
- Perasaan
ketidakmampuan untuk
mengunyah makanan
- Miskonsepsi
- Kehilangan berat badan
dengan makanan cukup
- Keengganan untuk
makan
- Kram pada abdomen
- Tonus otot jelek
- Nyeri abdominal
dengan atau tanpa
patologi
- Kurang berminat
terhadap makanan
- Pembuluh darah kapiler
mulai rapuh
- Diare dan
atau steatorrhea
- Kehilangan rambut
yang cukup banyak
(rontok)
- Suara usus hiperaktif
- Kurangnya informasi,
misinformasi

3. DS : Paien mengatakan Nocturia Gangguan pola tidur


tidak bisa tidur
DO :
- Penurunan kemempuan
fungsi
- Penurunan proporsi
tidur REM
- Penurunan proporsi
pada tahap 3 dan 4
tidur.
- Peningkatan proporsi
pada tahap 1 tidur
Jumlah tidur kurang dari
normal sesuai usia
4. DS : Pasien merasa cemas Perkembangan penyakit Anxietas
tentang kondisi yang
dialaminya
DO :
- Insomnia
- Kontak mata kurang
- Kurang istirahat
- Berfokus pada diri sendiri
- Iritabilitas
- Takut
- Nyeri perut
- Penurunan TD dan denyut
nadi
- Diare, mual, kelelahan
- Gangguan tidur
- Gemetar
- Anoreksia, mulut kering
- Peningkatan TD, denyut
nadi, RR
- Kesulitan bernafas
- Bingung
- Bloking dalam
pembicaraan
- Sulit berkonsentrasi
5. DS : Paien menyatakan Kurang terpapar Kurang pengetahuan
tidak mengetahui tentang informasi
informasi.
DO :
ketidakakuratan mengikuti
instruksi, perilaku tidak
sesuai

b. Diagnosa Keperawatan
1. Defisit volume cairan tubuh berhubungan dengan diuresis osmotic
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia.
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nocturia.
4. Anxietas berhubungan dengan perkembangan penyakit
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi.
c. Rencana Asuhan Keperawatan
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1. Defisit volume cairan NOC : Fluid balance NIC : Fluid management
tubuh berhubungan Criteria hasil : Intervensi :
dengan diuresis osmotic 1. Mempertahankan 1. Pertahankan catatan
Tujuan : setelah urin output sesuai intake dan output yang
dilakukan tindakan dengan usia dan BB, akurat
keperawatan diharapkan BJ urin normal 2. Monitor status hidrasi
kebutuhan cairan pasien 2. TTV dalam batas (kelembaban membrane
terpenuhi. normal. mukosa, nadi adekuat, TD
3. Tidak ada tanda- ortostatik)
tanda dehidrasi, 3. Monitor Vital sign
elastisitas turgor kuit 4. Monitor masukan
baik, membrane makanan/cairan dan
mukosa lembab, hitung intake kalori harian
tidak ada rasa haus 5. Kolaborasikan
yang berlebihan. pemberian cairan IV
Skala penilaian NOC : 6. Dorong masukan oral
1. Tidak pernah
menujukan.
2. Jarang menunjukan
3. Kadang menunjukan
4. Sering menunjukan
5. Selalu menunjukan
2 Ketidakseimbangan NOC : Status nutrisi NIC : Nutrition
nutrisi kurang dari Indicator : monitoring
kebutuhan tubuh 1. Stamina Intervensi :
berhubungan dengan 2. Tenaga 1. BB dalam batas
anoreksia. 3. Tidak ada kelelahan normal
Tujuan : setelah 4. Daya tahan tubuh 2. Monitor adanya
dilakukan tindakan Skala penilaian NOC : penurunan BB
keperawatan diharapkan 1. Tidak pernah 3. Monitor kulit
kebutuhan nutrisi pasien menujukan kering dan
terpenuhi. 2. Jarang menunjukan perubahan
3. Kadang menunjukan pigmentasi
4. Sering menunjukan 4. Monitor turgor
5. Selalu menunjukan kulit
5. Monitor kalori dan
intake nutrisi
6. Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk
menentukan
jumlah kalori dan
nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
3 Gangguan pola tidur NOC : Sleep NIC : Peningkatan tidur
berhubungan dengan Criteria hasil : Intervensi :
nocturia. 1. Jam tidur cukup 1. Jelaskan
Tujuan : seteah diakukan 2. Pola tidur baik pentingnya tidur
tindakan keperawatan 3. Kualitas tidur baik yang adekuat
diharapkan pola tidur 4. Tidur tidak selama sakit.
pasien tidak terganggu. terganggu 2. Bantu pasien untuk
5. Kebiasaan tidur. mengidentifikasi
Skala penilaian NOC : factor yang
1. Tidak pernah menyebabkan
menujukan kurang tidur.
2. Jarang menunjukan 3. Dekatkan pispot
3. Kadang menunjukan agar pasien lebih
4. Sering menunjukan mudah saat BAK
5. Selalu menunjukan pada malam hari.
4. Anjurkan pasien
untuk tidur siang.
5. Ciptakan
lingkungan yang
nyaman.
4 Anxietas berhubungan NOC : Control cemas NIC : Penurunan
dengan perkembangan Indikator : kecemasan
penyakit 1. Monitor intensitas Intervensi :\
Tujuan : setelah diakukan cemas 1. Tenangkan klien
tindakan keperawatan 2. Menyingkirkan 2. Jelaskan seluruh
diharapkan rasa cemas tanda kecemasan prosedur tindakan
pasien dapat berkurang. 3. Merencanakan kapada kien dan
strategi koping perasaan yang
4. Menggunakan mungkin muncul
strategi koping yang pada saat
efektif dilakukan
5. Menggunakan tehnik tindakan.
relaksasi untuk 3. Berikan informasi
mengurangi tentang diagnosa,
kecemasan prognosis dan
Skala penilaian NOC : tindakan.
1. Tidak pernah 4. Kaji tingkat
dilakukan kecemasan dan
2. Jarang dilakukan reaksi fisik pada
3. Kadang dilakukan tingkat kecemasan
4. Sering dilakukan (takikardi,
5. Selalu dilakukan takipneu, ekspresi
cemas non verbal)
5. Instruksikan pasien
untuk
menggunakan
tehnik relaksasi.
5 Kurang pengetahuan NOC : Pengetahuan tentang NIC : Mengajarka proses
berhubungan dengan proses penyakit penyakit
kurang terpapar Indicator : Intervensi :
informasi.  1. Mendeskripsikan 1. Mengobservasi
Tujuan : setelah proses penyakit kesiapan klien
dilakukan tindakan 2. Mendeskripsikan untuk mendengar
keperawatan diharapkan factor penyebab (mental,
penegtahuan pasien 3. Mendeskripsikan kemampuan untuk
menjadi adekuat. factor resiko melihat,
4. Mendeskripsikan mendengar,
tanda dan gejala kesiapan
5. Mendeskripsikan emosional, bahasa
komplikasi dan budaya)
Skala penilaian NOC : 2. Menentukan
1. Tidak pernah tingkat
dilakukan pengetahuan klien
2. Jarang dilakukan sebelumnya.
3. Kadang dilakukan 3. Menjelaskan
4. Sering dilakukan proses penyakit
5. Selalu dilakukan (pengertian,
etiologi, tanda dan
gejala)
4. Diskusikan
perubahan gaya
hidup yang dapat
mencegah atau
mengontrol proses
penyakit.
5. Diskusikan tentang
terapi atau
perawatan.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Diabetes Insipidus adalah suatu kelainan dimana terdapat kekurangan hormon
antidiuretik yang menyebabkan rasa haus yang berlebihan (polidipsi) dan pengeluaran
sejumlah besar air kemih yang sangat encer (poliuri). Diabetes insipidus dapat timbul
secara perlahan maupun secara tiba-tiba pada segala usia. Seringkali satu-satunya gejala
adalah rasa haus dan pengeluaran air kemih yang berlebihan.
Gejala utama diabetes insipidus adalah poliuria dan polidipsia. Jumlah produksi urin
maupun cairan yang diminum per 24 jam sangat banyak. Selain poliuria dan polidipsia,
biasanya tidak terdapat gejala-gejala lain, kecuali bahaya baru yang timbul akibat
dehidrasi yang dan peningkatan konsentrasi zat-zat terlarut yang timbul akibat gangguan
rangsang haus

B. Saran
Jika penderita penyakit neurogenic diabetes insipidus, maka segeralah berobat ke
dokter atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan yang intensif. Perawatan
pasien diabetes insipidus  menggunakan obat sebagai pengganti hormon. Misal jika
pasien mengalami buang air kecil secara berlebihan dan berlangsung terus menerus, maka
diberikan terapi obat desmopressin sebagai pengganti vasopressin sehingga frekuensi
buang air kecil menjadi berkurang.
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Eizabeth J. 2003. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.


Cotran, Robbin. 1996. Dasar Patologi Penyakit Edisi 5. Jakarta : EGC.
Johnson, Marion, dkk. 2000. IOWA Intervention Project Nursing Outcomes
Classifcation (NOC), Second edition. USA : Mosby.
Junadi, Purnawan, dkk. 1982. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 2. Jakarta : Media
Aesculapius Fakultas Kedoteran UI.
McCloskey, Joanne C. dkk. 1996. IOWA Intervention Project Nursing Intervention
Classifcation (NIC), Second edition. USA : Mosby.
Oswari, E. 1985. Penyakit dan Penangguangannya. Jakarta : PT Gramedia.
Talbot, Laura, dkk.1997. Pengkajian Keperawatan Kritis, Edisi 2. Jakarta : EGC.
Waspadji, Sarwono. 1996. Imu Penyakit Dalam Jilid I. Jakarta : FK UI