Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH AKUNTANSI KEUANGAN SYARIAH

AKUNTANSI WAKAF

Untuk memenuhi tugas individu Mata Kuliah Akuntansi Keuangan Syariah

Dosen Pengampu: Muliadi, S.E.I., M.E.I.

Disusun oleh :

Tantri Pratiwi (200200654)

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MUHAMMADIYAH ASAHAN

PROGRAM STUDI AKUNTANSI SEMESTER III

TAHUN 2021

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’a lamin, puji dan syukur kepada allah Subhanallahu wa


Ta’ala atas segala rahmat dan karunia-Nya saya penulis makalah dapat
menyelesaikan makalah ini yang merupakan tugas dari mata kuliah Akuntansi
Syari’ah yang membahas tentang Akuntansi Wakaf Syari’ah.
Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu saya terutama kepada keluarga saya dan rekan-rekan yang telah
membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini.
saya berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak, kritik dan
saran diharapkan dapat diberikan agar berguna untuk perbaikan dan penyempurnaan
makalah ini.

Kisaran, 14 Desember 2021

Penulis

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .............................................................................................. i


Daftar Isi ....................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
1.1. Latar Belakang........................................................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah................................................................................... 1
1.3. Tujuan Masalah......................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN................................................................................. 3
2.1. Pengertian dari Wakaf............................................................................... 3
2.2. Dasar Hukum atau Dalil Tentang Wakaf................................................... 5
2.3. Syarat dan Rukun Wakaf........................................................................... 6
2.4. Macam-Macam Wakaf.............................................................................. 8
2.5. Keutamaan atau manfaat seseorang yang berwakaf.................................. 9

BAB III PENUTUP......................................................................................... 11


3.1.Kesimpulan ................................................................................................ 11
3.2.Saran ......................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 12

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Akuntansi syariah yang berlandaskan nilai Al-Qur’an dan Al-Hadist
membantu manusia untuk menyelenggarakan praktik ekonomi yang berhubungan
dengan pengakuan, pengukuran dan pencatatan transaksi dan pengungkapan hakhak
dan kewajiban-kewajiban secara adil. Hak dan kewajiban ini bisa terjadi karena
manusia diutus oleh Allah SWT untuk mengelola dan menjaga bumi secara
amanah.Akuntansi Islam memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan
akuntansi dunia. Islam adalah rahmat bagi sekalian alam ini berarti juga dapat
memberikan ide dan konsepnya untuk menciptakan kedamaian, keadilan di bumi ini.
Wakaf merupakan salah satu tuntunan ajaran agama Islam yang menyangkut
kehidupan bermasyarakat dalam rangka ibadah itjima’iyah (ibadah sosial). Karena
wakaf adalah ibadah, maka tujuan utamanya adalah pengabdian kepada Allah SWT
dan ikhlas karena mencari ridho-Nya. Wakaf dilaksanakan dengan lillahi ta’ala.
Perbuatan tersebut murni dilandasi oleh rasa iman dan ikhlas semata-mata
pengabdian kepada Allah SWT. Selama ini perwakafan belum diatur secara tuntas
dalam peraturan perundang-undangan yang ada. Wakaf mengalir begitu saja seperti
apa adanya, kurang memperoleh penanganan yang sungguh-sungguh baik ditinjau
dari pemberian motivasi maupun pengelolaannya. Akibatnya dapat dirasakan hingga
kini, yaitu terjadi penyimpangan pengelolaan wakaf dari tujuan wakaf sesungguhnya.

1.2. Perumusan Masalah


Adapun perumusan masalah dari makalah ini sesuai dengan latar belakang di atas
adalah:
1. Apa pengertian dari Wakaf ?
2. Bagaimana Dasar Hukum atau Dalil tentang Wakaf?
3. Sebutkan Syarat dan Rukun Wakaf?
4. Sebutkan Macam-Macam Wakaf?
5. Bagaimana keutamaan seseoang yang berwakaf ?

4
1.3. Tujuan Masalah
Adapun tujuan masalah dari makalah ini sesuai dengan latar belakang di atas
adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian pengertian dari Wakaf .
2. Untuk mengetahui Dalil tentang Wakaf.
3. Untuk mengetahui Syarat dan Rukun dari Wakaf.
4. Untuk mengetahui Macam-Macam Wakaf.
5. Untuk mengetahui keutamaan seseorang yang berwakaf.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian dari Wakaf


Wakaf secara bahasa berasal dari bahasa Arab waqafa. Asal kata waqafa berarti
menahan, berhenti, diam di tempat, atau tetap berdiri. Kata waqafa-yaqifu-waqfan
sama artinya dengan habasa-yahbisu-tahbisan (menahan). Wakaf dalam bahasa Arab
mengandung pengertian menahan, menahan harta untuk diwakafkan, tidak
dipindahmilikkan. Dengan kata lain, wakaf adalah menyerahkan tanah kepada orang-
orang miskin untuk ditahan, karena barang milik itu dipegang dan ditahan oleh orang
lain, seperti menahan hewan ternak, tanah, dan segala sesuatu. Dalam istilah syara’
secara umum wakaf adalah sejenis pemberian dengan pelaksanaannya dengan cara
menahan (pemilikan) kemudian menjadikan manfaatnya berlaku umum. Yang
dimaksud kepemilikan adalah menahan barang yang diwakafkan agar tidak
diwariskan, dijual, dihibahkan, didagangkan, digadaikan, maupun disewakan.
Sedangkan cara pemanfaatannya adalah menggunakan sesuai dengan kehendak sang
pemberi wakaf tanpa imbalan.
Menurut Mundzir Qahaf, wakaf adalah memberikan harta atau pokok benda
yang produktif terlepas dari campur tangan pribadi, menyalurkan hasil dan
manfaatnya secara khusus sesuai dengan tujuan wakaf, baik untuk kepentingan
perorangan, masyarakat, agama atau umum. Al-Minawi mendefinisikan wakaf
dengan: “Menahan harta benda yang dimiliki dan menyalurkan manfaatnya dengan
tetap menjaga pokok barang dan keabadiannya yang berasal dari para dermawan atau
pihak umum selain dari harta maksiat semata-mata karena ingin mendekatkan diri
kepada Allah”. Dalam terminologi Hukum Islam, wakaf didefinisikan sebagai suatu
tindakan penahanan dari penggunaan dan penyerahan aset di mana seseorang dapat
memanfaatkan atau menggunakan hasilnya untuk tujuan amal, sepanjang barang
tersebut masih ada.
Menurut peraturan perundang-undangan di Indonesia, rumusan definisi wakaf
adalah Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1977, wakaf adalah perbuatan hukum
seseorang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari harta kekayaannya
yang berupa tanah milik dan kelembagaannya untuk selamalamanya untuk

6
kepentingan atau keperluan umat lainnya sesuai ajaran Islam. Kompilasi Hukum
Islam (KHI), wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau
badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan kelembagaannya
untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadah atau keperluan umum lainnya sesuai
ajaran Islam.
Dari segi fiqh, para fuqaha berbeda pendapat dalam mendefinisikan wakaf.
berikut ini beberapa rumusan atau penjelasan tentang wakaf dari para ulama:
1) Menurut Abu Hanifah yang disadur oleh Wahbah al-Zuhaili; “Wakaf
adalah penghentian benda tidak bergerak dari pemilikan waqif secara
hukum dan penyedekahan manfaatnya untuk kepentingan umum”.
2) Menurut Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan, golongan
Syafi’iyyah dan golongan Hanabilah; “Wakaf adalah menahan harta
yang memungkinkan diambil manfaatnya, tetapi bukan untuk dirinya,
dibelanjakan waqif untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.”
Dengan diwakafkan itu, harta keluar dari pemilikan waqif dan harta
tersebut secara hukum milik Allah SWT. Bagi waqif terhalang untuk
memanfaatkannya dan wajib mendermakan hasilnya untuk tujuan
kebaikan.
3) Menurut likiyah Golongan Ma “Wakaf mempunyai arti bahwa pemilik
harta memberikan manfaat harta yang dimiliki bagi mustahiqq”.
Menurut mereka harta tersebut dapat berupa benda yang disewa
kemudian hasilnya diwakafkan. Kelebihan dari pendapat Malikiyah ini,
yakni orang yang berwakaf tidak harus menunggu yang bersangkutan
memiliki benda yang diwakafkan, akan tetapi cukup menyewa benda,
yang akan diwakafkan adalah hasilnya. Di sisi lain pendapat ini akan
menyebabkan lemahnya lembaga wakaf dan tidak sesuai dengan
pendapat Jumhur Ulama; bahwa benda yang diwakafkan itu harus tetap
zatnya dan dapat dimanfaatkan terus menerus.

7
2.2. Dasar Hukum atau Dalil Tentang Wakaf
A. Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menganjurkan untuk
menunaikan wakaf, beberapa diantaranya adalah QS. Ali ‘Imran: 92:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu
nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”
Ayat lain yang menjadi rujukan mengenai wakaf adalah al-Baqarah: 261 dan
267: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orangorang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh
bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa
yang dia kehendaki, dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil
usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk
kamu, dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan
daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan
memincingkan mata terhadapnya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha
Terpuji.

B. Hadits
Selain Al-Qur’an yang dijadikan sebagai rujukan dalam mengamalkan wakaf,
terdapat pula hadits yang dijadikan dasar mengamalkan wakaf:
“Dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda : Apabila
manusia mati, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah,
ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya. (HR. Muslim).
Hadits Nabi yang secara tegas menyinggung dianjurkannya ibadah wakaf, yaitu
perintah Nabi kepada Umar untuk mewakafkan tanahnya yang ada di Khaibar :
“Dari Ibnu Umar ra. Berkata, bahwa sahabat Umar Ra. Memperoleh sebidang
tanah di Khaibar kemudian menghadap kepada Rasulullah untuk memohon petunjuk
Umar berkata: Ya Rasulullah, saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, saya
belum pernah mendapatkan harta sebaik itu, maka apakah engkau perintahkan

8
kepadaku? Rasulullah menjawab: Bila kamu suka, kamu tahan (pokoknya) tanah itu,
dan kamu sedekahkan (hasilnya). Kemudian Umar menyedekahkannya kepada
orang-orang fakir, kaum kerabat, budak belian, sabilillah, ibnu sabil dan tamu. Dan
tidak mengapa atau tidak dilarang bagi yang menguasai tanah wakaf itu
(pengurusnya) makan dari hasilnya dengan cara yang baik (sepantasnya) atau makan
dengan tidak bermaksud menumpuk harta”. (HR. Muslim).

2.3. Syarat dan Rukun Wakaf


A. SYARAT- WAKAF SYARAT
Syarat wakaf yang menjadi syarat utama agar dapat sahnya suatu akad wakaf
adalah seorang wakif telah dewasa, berakal sehat, tidak berhalangan membuat
perbuatan hukum, dan pemilik utuh dan sah dari harta benda yang diwakafkan.Akad
wakaf yang diikrarkan seorang wakif harus disaksikan oleh dua orang saksi dan
pejabat pembuat akta wakaf. Ikrar akad wakaf dilaksanakan dengan ikrar dari wakif
untuk menyerahkan harta benda yang dimiliki secara sah untuk diurus oleh nadzir
(orang yang mengurus harta wakaf) demi kepentingan ibadah dan kesejahteraan
masyarakat.
Adapun syarat-syarat sahnya makna wakaf , diperlukan syarat-syarat sebagai
berikut:
a) Wakaf tidak dibatasi dengan waktu tertentu , sebab amalan wakaf berlaku
untuk selamanya, tidak untuk waktu tertentu. Dengan demikian, bila
seseorang mewakafkan tanah untuk pasar dibatasi waktu selama lima
tahun, wakafnya dipandang tidak sah.
b) Tujuan wakaf harus jelas. Jika seorang mewakafkan tanah tanpa
menyebutkan tujuan sama sekali, dipandang tidak sah, kecuali jika wakaf
itu diserahkan kepada badan hukum maka dapat dipandang sebagai wakaf.
c) Wakaf harus segera dilaksanakan setelah dinyatakan oleh wakif
( pewakaf ), tanpa digantungkan pada terjadi nya peristiwa yang akan
dating, sebab pernyataan wakaf berakibat lepasnya hak milik seketika itu
setelah waqif menyatakan wakafnya.
d) Wakaf merupakan hal yang mesti dilaksanakan tanpa syarat khiyar

9
( membatalkan atau melangsungkan wakaf yang telah dinyatakan ) sebab
pernyataan wakaf berlaku seketika itudan untuk selamanya.

B. RUKUN WAKAF
Menurut jumhur ulama dari mazhab Syafi‟i, Maliki dan Hanbali, mereka
sepakat bahwa rukun wakaf ada empat, yaitu:
a. Wakif (orang yang berwakaf) Dalam hal ini syarat waqif adalah merdeka,
berakal sehat, baligh (dewasa), tidak berada di bawah pengampuan.
Karena waqif adalah pemilik sempurna harta yang diwakafkan, maka
wakaf hanya bisa dilakukan jika tanahnya adalah milik sempurna waqif
tersebut.
b. Mauqufalaih (orang yang menerima wakaf), orang yang menerima Wakaf
harus Mauquf ‘alayh dimanfaatkan dalam batas-batas yang diperbolehkan
oleh Syariat Islam, karena pada dasarnya wakaf merupakan amal yang
bertujuan mendekatkan manusia pada Tuhan. Untuk menghindari
penyalahgunaan wakaf, maka waqif perlu menegaskan tujuan wakafnya.
Apakah harta yang diwakafkan itu untuk menolong keluarganya sendiri
sebagai wakaf keluarga, atau untuk fakir miskin, dan lainlain, atau untuk
kepentingan umum yang jelas tujuannya untuk kebaikan.
c. Mauquf (harta yang diwakafkan) fDalam Mauquf bih perwakafan, agar
dianggap sah maka harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut : a.
Harta wakaf itu memiliki nilai (ada harganya). Maksudnya adalah dalam
praktiknya harta tersebut dapat bernilai apabila telah dimiliki oleh
seseorang, dan dapat dimanfaatkan dalam kondisi bagaimanapun. b. Harta
wakaf itu jelas bentuknya. Artinya diketahui dengan yakin ketika benda
tersebut diwakafkan, sehingga tidak akan menimbulkan persengketaan. c.
Harta wakaf itu merupakan hak milik dari waqif. d. Harta wakaf itu berupa
benda yang tidak bergerak, seperti tanah, atau benda yang disesuaikan
dengan wakaf yang ada
d. Sighat atau ikrar (pernyataan wakif sebagai suatu kehendak untuk
mewakafkan harta bendanya ), Pernyataan atau ikrar wakaf itu Shighat
harus dinyatakan secara tegas baik lisan maupun tertulis, dengan redaksi

10
“aku mewakafkan” atau kalimat yang semakna dengannya. Namun shighat
wakaf cukup dengan ijab saja dari waqif dan tidak perlu qabul dari mauquf
‘alayh. Ikrar ini penting karena membawa implikasi gugurnya hak
kepemilikan wakaf dan harta wakaf menjadi milik Allah atau milik umum
yang dimanfaatkan sesuai dengan tujuan wakaf itu sendiri.

2.4. Macam-Macam Wakaf


Wakaf dapat dibedakan menjadi beberapa klasifikasi yaitu berdasarkan
tujuannya, waktunya, penggunaannya dan jenis hartanya.
a. Wakaf berdasarkan tujuannya
Ada tiga macam wakaf berdasarkan tujuannya yaitu :
 Wakaf sosial untuk kebaikan masyarakat (khairi),wakaf yang diberikan untuk
kepentingan umum. Wakaf khairi adalah wakaf dimana pihak pewakaf
memberikan syarat penggunaan wakafnya untuk kebaikan-kebaikan yang
terus menerus seperti pembangunan masjid, sekolah, rumah sakit dan lain-
lain. Wakaf khairi adalah jenis wakaf untuk mereka yang tidak memiliki
hubungan seperti hubungan keluarga, pertemanan atau kekerabatan antara
pewakaf dan orang penerima wakaf.
 Wakaf keluarga (dzurri) atau wakaf ahli, yaitu wakaf yang dilakukan kepada
keluarganya dan kerabatnya. Wakaf ahli dilakukan berdasarkan hubungan
darah atau nasab yang dimiliki antara wakif dan penerima wakaf. Di beberapa
negara, amalan wakaf ahli ini sudah dihapus seperti di Turki, Lebanon, Syria,
Mesir, Irak dan Libya. Wakaf ahli ini dihapus karena beberapa faktor seperti
tekanan dari penjajah, wakaf ahli dianggap melanggar hukum ahli waris,
selain itu wakaf ahli dianggap kurang memberi manfaat yang banyak untuk
masyarakat umum.Di Indonesia, wakaf ahli masih berlaku, begitu juga di
Singapura, Malaysia dan Kuwait. Hal ini dianggap karena bisa mendorong
orang-orang untuk berwakaf. Di Indonesia, wakaf ahli juga tertulis dalam
Undang-Undang nomor 42 tahun 2006 Pasal 30.
 Wakaf gabungan (musytarak), yaitu apabila tujuan wakafnya untuk umum
dan keluarga secara bersamaan,serta wakaf yang mana penggunaan harta
wakaf tersebut digunakan secara bersama-sama dan dimiliki oleh si pewakaf.

11
Wakaf musytarak ini masih diterapkan oleh beberapa negara seperti di
Malaysia dan Singapura.

b. Wakaf Berdasarkan batasan waktunya


Berdasarkan batas waktunya, wakaf terbagi menjadi dua yaitu :
 Wakaf abadi, yaitu wakaf berbentuk barang yang bersifat abadi seperti tanah
dan bangunan atau barang bergerak yang ditentukan oleh wakif sebagai
wakaf abadi.
 Wakaf sementara, yaitu apabila barang yang diwakafkan berupa barang yang
mudah rusak ketika dipergunakan tanpa memberi syarat untuk mengganti
bagian yang rusak.

c. Wakaf Berdasarkan Penggunaannya


Berdasarkan penggunaannya wakaf terbagi menjadi dua yaitu :
 Wakaf langsung, yaitu wakaf yang pokok barangnya digunakan untuk
mencapai tujuannya seperti masjid untuk shalat, sekolah untuk kegiatan
belajar mengajar dan sebagainya.
 Wakaf produktif, wakaf yang pokok barangnya digunakan untuk kegiatan
produksi dan hasilnya diberikan sesuai dengan tujuan wakaf.s
d. Wakaf berdasarkan jenis hartanya
Berdasrkan jenis hartanya wakaf dibagi menjadi dua yaitu :
 wakaf benda tidak bergerak, harta-harta yang dimaksud adalah bangunan, hak
tanah, tanaman dan benda-benda yang berhubungan dengan tanah.
 wakaf benda bergerak selain uang yaitu benda-benda yang bisa berpindah
seperti kendaraan. Selain itu ada juga benda yang bisa dihabiskan dan yang
tidak, air, bahan bakar, surat berharga, hak kekayaan intelektual dan lain-lain.

2.5. Keutamaan atau manfaat seseorang yang berwakaf


Tidak hanya amal bersedekah saja, amal wakaf juga memiliki manfaat di dunia
dan kehidupan akhirat. Berikut adalah manfaat dari wakaf yaitu:

12
1. Mendapatkan amal jariah
Orang yang berwakaf pahalanya akan mengalir terus menerus selama
hidupnya sampai ia meninggal dunia. Hal ini dijelaskan dalam hadits riwayat Muslim
yang berbunyi,
ُ‫ح يَ ْدعُو لَه‬ َ ‫اريَ ٍة َو ِع ْل ٍم يُ ْنتَفَ ُع بِ ِه َو َولَ ٍد‬
ٍ ِ‫صال‬ َ ‫إِ َذا َماتَ اإْل ِ ْن َسانُ ا ْنقَطَ َع َع َملُهُ إِاَّل ِم ْن ثَاَل ثَ ٍة ِم ْن‬
ِ ‫ص َدقَ ٍة َج‬
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputus lah amalannya kecuali tiga perkara
(yaitu): sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”
2. Mempererat tali persaudaraan
Dengan mewakafkan harta yang bisa digunakan oleh masyarakat umum
tentunya akan mempererat tali persaudaraan, karena sama-sama bisa menikmati
sarana dari wakaf tersebut.
3. Membantu pembangunan negara
Harta yang diwakafkan untuk membangun sarana umum seperti masjid,
sekolah, fasilitas kesehatan atau jalanan tentunya akan bisa dinikmati oleh orang-
orang yang membutuhkan. Hal ini tentunya sangat berpengaruh dalam pembangunan
negara.
4. Membangun jiwa sosial yang tinggi
Tidak hanya bersedekah, mewakafkan harta benda juga menjadi salah satu
sarana untuk membangun jiwa sosial yang ada di diri manusia. Dengan berwakaf
tentunya akan meringankan beban orang yang lebih membutuhkan.

13
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang
memisahkan sebagian dari harta kekayaannya yang berupa tanah milik dan
kelembagaannya untuk selamalamanya untuk kepentingan atau keperluan umat
lainnya sesuai ajaran Islam. Akan tetapi Tidak sah hukumnya, apabila seseorang
yang melakukan wakaf berada dibawah pengampuan. Karena orang yang melakukan
wakaf harus memiliki kecakapan hukum. Tetapi berdasarkan metode istihsan wakaf
orang yang berada dibawah pengampuan terhadap dirinya sendiri selama hidupnya,
hukumnya adalah sah.
Dasar hukum wakaf tanah adalah berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan
Sunnah Rsulullah SAW dan juga berdaarkan Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 41 Tahun 2004 dan juga berdasarkam Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun
1991 tentang Kompilasi Hukum Islam. Wakaf harus memenuhi beberapa unsur yang
disebut rukun wakaf beserta syarat-syaratnya yaitu adanya wakif atau orang yang
mewakafkan, adanya harta yang diwakafkan, adanya tujuan wakaf.

3.2.Saran
Seharusnya Undang-Undang wakaf yang ada di indonesia, khususnya yang
berkenaan dengan wakaf wasiat ini hendaknya dioptimalkan secara profesional dan
porposional. Sehingga diharapkan dengan adanya Undang-Undang ini akan dapat
menyelesaikan kemungkinan-kemungkinan terjadinya penyelewengan dalam
pengolahan harta dari Undang-Undang wakaf.

14
DAFTAR PUSTAKA

Ezril. (2019). Akuntansi Pengelolaan Wakaf Produktif Pada Usaha Perkebunan


Lembaga Nazir Wakaf (LNF) Ibadurrahman Duri. Journal of Chemical
Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.
Hazami, B. (2016). MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN UMAT Salah satu dari
bentuk ibadah untuk mendekatkan diri wakaf . Amalan wakaf sangat besar
artinya bagi kehidupan ibadah yang amat digembirakan . 1 Wakaf merupakan
salah Islam yaitu mewujudkan kehidupan yang sejahtera . Negara- s. Analisis,
XVI, 173–204.
Latifah, N. A., & Jamal, M. (2019). Analisis Pelaksanaan Wakaf di Kuwait.
ZISWAF : Jurnal Zakat Dan Wakaf, 6(1), 1.
https://doi.org/10.21043/ziswaf.v1i1.5607
Rapcewicz, Z. P. P. (2016). Bab I Pendahuluan. URTI - From Quantum Mechanics
to Technology, 1–23. https://link-springer-
com.proxy.libraries.uc.edu/content/pdf/10.1007%2F978-3-642-19199-2.pdf

15