Anda di halaman 1dari 13

LUAS MINIMUM

Disusun oleh :

Nama : Yusvita Anggreeni B1J008175

Dwi Yuliani B1J008176

Maryam Muji Lestari B1J008180

Dwi Sekar Putri B1J008181

Kelompok : 17

Asisten : Catur Nur Mardianto

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2011
I. PENDAHULUAN

Komunitas tumbuhan atau sering disebut asosiasi tumbuhan, dapat disebut


juga satuan dasar dunia tumbuh-tumbuhan atau vegetasi. Komunitas tumbuhan
mungkin mempunyai jumlah jenis tumbuhan yang relatif sedikit atau banyak.
Tumbuhan pada umumnya menyukai hidup berkelompok. Berbagai jenis tumbuhan
yang hidup dalam suatu habitat dan saling berinteraksi sesamanya maupun dengan
lingkungannya. Secara individu asosiasi tumbuhannya disebut formasi atau tipe
vegetasi. Biasanya formasi atau tipe vegetasi juga memiliki nama yang khas sesuai
dengan jenis tumbuhan yang terdapat di dalamnya yang bersifat menonjol atau
predominan (Suwena, 2005).
Komponen ekosistem tumbuhan dapat diartikan variasi jenis flora yang
menyusun suatu komunitas. Komposisi jenis tumbuhan merupakan daftar floristil
dari jenis tumbuhan yang ada dalam suatu komunitas. Jenis tumbuhan yang ada dapat
diketahui dengan pengumpulam atau koleksi secar periodik dan identifikasi
lapangan. Secara garis besar struktur vegetasi dibatasi leh 3 komponen, yaitu :
1. Stratifikasi yang merupakan diagram profil menggambarkan lapisan (strata)
pohon, tihang, sapihan, semai, perdu, dan herba sebagai penyusun vegetasi
tersbut.
2. Penyebaran horisontal dari jenis penyusun vegetasi tersebut, yang
menggambarkan letak dan kedudukan dari satu anggota terhadap anggota lain.
Bentuk penyebaran tersebut dapat digolongkan menjadi 3 tipe yaitu acak
(random), berkelompok (aggegrated), dan teratur (regular).
3. Kelimpahan atau banyaknya individu dari jenis penyusun tersebut.
Seorang peneliti/surveyor dapat memperoleh informasi/data yang diinginkan
lebih cepat dan lebih teliti dengan biaya dan tenaga lebih sedikit bila dibandingkan
dengan inventarisasi penuh (metode sensus) pada anggota suatu populasi. Supaya
data penelitian yang akan diperoleh bersifat valid, maka sebelum melakukan
penelitian dengan metode sampling kita harus menentukan terlebih dahulutentang
metode sampling yang akan digunakann, jumlah, ukuran dan peletakkan satuan-
satuan unit contoh. Pemilih metode samplingyang akan digunakan bergantung pada
keadaan morfologi jenis tumbuhan dan penyebarannya, tujuan penelitian dan biaya
serta tenaga yang tersedia (Latifah, 2000).
Data yang paling diperlukan untuk penelitian atau pemantauan lingkungan
adalah mengenai vegetasi dengan informasi variabelnya, misalnya pengelompokan
vegetasi pada ekosistem hutan. Untuk mengetahui vegetasi tersebut secara detail,
maka perlu adanya cara untuk menganalisis vegetasi tersebut (Fachrul, 2007).
Analisis vegetasi hutan merupakan studi untuk mengetahui komposisi dan
struktur hutan. Analisis vegetasi bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis
(susunan) tumbuhan dan bentuk (struktur) vegetasi yang ada di wilayah yang
dianalisis. Caranya adalah dengan deskripsi komunitas tumbuhan. Analisis vegetasi
dapat juga digunakan untuk mengetahui pengaruh dampak lingkungan yang
merupakan suatu cara pendekatan yang khas, karena pengamatan berbagai aspek
vegetasi yang dilakukan harus secara mendetail dan terdiri atas vegetasi yang belum
terganggu (alamiah) (Fachrul, 2007). Kegiatan analisis vegetasi pada dasarnya ada
dua macam metode dengan petak dan tanpa petak. Salah satu metode dengan petak
yang banyak digunakan adalah kombinasi antara metode jalur (untuk risalah pohon)
dengan metode garis petak (untuk risalah permudaan).
Krebs (1989) menyatakan bahwa untuk menghitung setiap individu yang
terdapat dalam populasi ataupun komunitas biasanya dilakukan dengan cara
mengambil sampel (contoh) atau sebagian kecil individu dari populasi atau
komunitas tersebut. Kemudian dari sampel itu, akan dapat ditarik suatu kesimpulan
tentang populasi atau komunitas yang sedang dipelajari. Menurut Fachrul (2007),
aspek-aspek vegetasi yang perlu diketahui adalah Ada atau tidak adanya jenis
tumbuhan tertentu, luas basal area, luas daerah penutup, frekuensi, kerapatan,
dominasi dan nilai penting (Fachrul, 2007)
Analisis vegetasi yang dilakukan pada area tertentu umumnya berbentuk
segi empat, bujur sangkar atau lingkaran serta titik-titik. Untuk menganialisis
vegetasi tingkat pohon, tiang, dan serpihan digunakan metode kuadrat antar lain
lingkaran, bujur sangkar, atau segi empat. Adapun untuk tingkat semai serta
tumbuhan bawah yang rapat digunakan petak contoh titik sedangkan untuk tumbuhan
yang tidak rapat digunakan bentuk kuadrat. Variasi ukuran petak contoh tergantung
pada homogenitas vegetasi yang ada (Fachrul, 2007).
Inventarisai vegetasi darat pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui
komposisi jenis tumbuhan dan dominansinya. Inventarisasi tumbuhan dilakukan pada
areal proyek dengan mencatat jenis-jenis yang terdapat di areal tersebut. Parameter
populasi yang berkaitan dengan vegetasi terdiri dari beberapa kategori, yaitu sebagai
berikut:
1. Perhitungan atau observasi yang berkaitan dengan individu
a. Biomassa rata-rata
b. Ketinggian rata-rata
c. Berat rata-rata
d. Luas penutupan rata-rata
2. Perhituangan atau observasi yang berkaitan dengan populasi
a. Biomassa relatif
b. Kerapatan
c. Jumlah keseluruhan
d. Biomassa total
e. Dominansi
3. Pengukuran atau observasi yang berkaitan dengan komunitas
a. Komposisi jenis
b. Keannekaragaman
c. Kekayaan jenis
d. Kurva jenis atau kekayaan jenis (Fachrul, 2007)
Deskripsi vegetasi adalah cara untuk mempelajari komposisi dan struktur
vegetasi yang disajikan secara kuantitatif dengan parameter kerapatan frekuensi dan
penutupan tajuk ataupun luas bidang dasar. Apabila sudah didapatkan suatu data
kemudian dilakukan pembedaan kelompok berdasarkan beberapa sifat yang ada pada
individu tumbuhan, yakni data kualitatif dan kuantitatif. Dengan demikian, dalam
mempelajari analisis vegetasi diperlukan adanya teknik-teknik penunjang antara lain,
sampling plot (misalnya petak tunggal), petak ganda, jalur (transect), atau tanpa plot,
misalnya cara bitterlich, individu terdekat, kuadrat dan cara berpasangan (Fachrul,
2007).
II. TUJUAN

Praktikum Ekologi Tumbuhan kali ini bertujuan untuk mengetahui analisis


vegetasi tumbuhan dengan metode luas minimum yang ada di halaman depan
kampus biologi.
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum Ekologi Tumbuhan antara lain tali rafia,
meteran, patok bambu, plastik, label, dan alat tulis. Bahan yang diperlukan adalah
vegetasi tumbuhan yang ada di halaman kampus biologi.

B. Metode

Metode Luas Minimum


- Dibuat petak contoh dengan ukuran 1 x 1 m2 sebagai petak 1
- Jumlah spesies yang ada pada petak tersebut dihitung
- Dibuat petak kembali atau diperluas dengan ukuran 2x lipat petak
pertama untuk melihat ada penambahan jenis atau tidak, seterusnya sampai
besar presentase 10 % artinya pembuatan petakan dihentikan, jika belum
diperluas lagi.
- Dibuat tabel jumlah jenisnya kemudian dibuat kurva luas
minimumnya (pakai kertas millimeter blok).

2m

I II

IV

III
1m
1m

Gambar 1. Bentuk petak-contoh untuk kurva-minimal


Keterangan :
Petak 1 = 0,0625 m2
Petak 2 (1+2) = 0,125 m2
Petak 3 (1+2+3) = 0,25 m2
Petak 4 (1+2+3+4) = 0,5 m2
Petak 5(1+2+3+4+5) = 1 m2

Kurva luas minimum dibuat :


a. Membuat sumbu X dan sumbu Y
Sumbu X = luas petak
Sumbu y = jumlah jenis
b. Membuat garis pertolongan (misal m) yang besarnya 10 % dari luas
petak terakhir dan 10 % jumlah jenis terakhir.
Maka didapatkan statu titik, kemudian dihubungkan dengan titik o dan
dibuat garis m.
c. Membuat garis yang sejajar dengan garis m yaitu yang menyinggung
garis (pertemuan titik-titik luas petak dan jumlah jenis) disebut garis n.
d. Titik singgung garis n diproyeksikan ke sumbu X sehingga didapatkan
luas minimumnya.
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Metode Luas Minimun


No. Petak Jumlah Jenis Presentase
1 I 7 100 %
1
x100% = 14%
2 II 8 7
1
x100% = 12,5%
3 III 9 8
1
x100% = 11,11%
4 IV 10 9
1
5 V 11 x100% = 10%
10

Perhitungan :
a. Luas Petak Pertama
Jumlah spesies = 7
jumlah spesies baru
Presentase Penambahan = jumlah spesies awal
x 100%

7
= x 100 %
7
= 100 %
b. Luas Petak Kedua
Jumlah spesies = 8
jumlah spesies baru
Presentasi Penambahan = jumlah spesies awal
x 100%

1
= x 100 %
7
= 14 %
c. Luas Petak Ketiga
Jumlah spesies = 9
jumlah spesies baru
Presentasi Penambahan = jumlah spesies awal
x 100%

1
= x 100 %
8
= 12,5 %
d. Luas Petak Keempat
Jumlah spesies = 10
jumlah spesies baru
Presentasi Penambahan = jumlah spesies awal
x 100%

1
= x 100 %
9
= 11,11 %

e. Luas Petak Keempat


Jumlah spesies = 11
jumlah spesies baru
Presentasi Penambahan = jumlah spesies awal
x 100%

1
= x 100 %
10
= 10 %

B. Pembahasan

Pengambilan contoh untuk analisis komunitas tumbuhan dapat digunakan


menggunakan metode petak (plot), metode jalur (transek), dan metode kuadran
(Soegianto, 1994; Gopal dan Bhardwaj, 1979; Kusmana, 1997 dalam Indriyanto,
2008). Metode petak merupakan prosudur yang paling umum digunakan untuk
pengambilan contoh berbagai tipe organisme termasuk komunitas tumbuhan. Metode
petak terdiri dari dua yaitu petak tunggal dan petak ganda. Metode petak tunggal
hanya dibuat satu petak contoh dengan ukuran tertentu yang mewakili suatu tegakan
hutan atau suatu komunitas tumbuhan (Indriyanto, 2008).
Luas daerah contoh vegetasi yang akan diambil diatasnya sangat bervariasi
untuk setiap bentuk vegetasi mulai dari 1 dm2 sampai 100 m2. Suatu syarat untuk
daerah pengambilan contoh haruslah representatif bagi seluruh vegetasi yang
dianalisis. Keadaan ini dapat dikembalikan kepada sifat umum suatu vegetasi yaitu
vegetasi berupa komunitas tumbuhan yang dibentuk oleh populasi-populasi. Jadi
peranan individu suatu jenis tumbuhan sangat penting. Sifat komunitas akan
ditentukan oleh keadaan individu-individu tadi, dengan demikian untuk melihat suatu
komunitas sama dengan memperhatikan individu-individu atau populasinya dari
seluruh jenis tumbuhan yang ada secara keseluruhan. Ini berarti bahwa daerah
pengambilan contoh itu representatif bila didalamnya terdapat semua atau sebagian
besar dari jenis tumbuhan pembentuk komunitas tersebut (Tjitrosedirdjo, 1984).
Berdasarkan hasil sampling tumbuhan di taman depan Fakultas Biologi
Unsoed dengan metode luas minimum menunjukkan pada petak pertama didapatkan
sebanyak 7 spesies tumbuhan, petak yang kedua adalah sebanyak 8 spesies, petak
ketiga sebanyak 9 spesies, petak keempat sebanyak 10 spesies. Pada petak ke lima ini
pertambahan spesies hanya <10 % sehingga perluasan petak contoh dihentikan.
Setelah itu dibuat kurva luas minimum dengan dan didapatkan Luas minimum
pengambilan petak contoh di Hutan Baturaden adalah m2.
Menurut Suwena (2005), suatu daerah vegetasi umumnya akan terdapat suatu
luas tertentu, dan daerah tadi sudah memperlihatkan kekhususan dari vegetasi secara
keseluruhan. Jadi luas daerah ini disebut luas minimum. Tujuan dari luas minimum
adalah untuk mengetahui luas petak yang paling kecil (minimal) tetapi dapat
mewakili keragaman vegetasi dari semua jenis yang ada dalam komunitas tersebut.
Kerapatan jenis sangat berpengaruh terhadap luas minimum. Jika jenisnya banyak
(rapat) maka luas minimumnya bernilai sebaliknya (rendah).
Menurut prasety et all (2002) dalam Adiastari (2010), vegetasi memiliki
kemampuan atau daya serap terhadap karbondioksida yang berbeda. Tipe vegetasi
tersebut berupa pohon, semak belukar, padang rumput, dan sawah.
V. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa dengan dibuatnya


kurva luas minimum maka diperoleh luas minimum pengambilan petak contoh di
Halaman depan adalah 1 m2.
DAFTAR REFERENSI

Fachrul, M.N. 2007. Metode Sampling Bioekologi. PT. Bumi Aksara, Jakarta.

Indriyanto. 2008. Ekologi Hutan. Bumi Aksara, Jakarta

Krebs, C.J. 1989. Ecological Methodology. Harper & Row Publisher, New York
Latifah, Siti. 2000. Anlisis Vegetasi Hutan. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Suwena, Made. 2005. Keanekaragaman tumbuhan liar edibel pada ekosistem Sawah
di sekitar kawasan hutan gunung salak (Biodiversity of edible wild plants on
paddy ecosystem Of gunung salak forest area). Fakultas Pertanian
Universitas Mataram, Mataram.

Tjitrosedirdjo, Soekisman, Is Hidayat Utomo dan Joedojono Wiroatmodjo. 1984.


Pengelolaan Gulma di Perkebunana. PT. Gramedia, Jakarta.