Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN JURNAL PPRAKTIKUM ALDEHID DAN KETON

OLEH
Aditya Cahya Ariadi;2113091029

PROGRAM SUDI BIOLOGI


JURUSAN BIOLOGI DAN PERIKANAN KELAUTAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITASI PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2021
LAPORAN PRAKTIKUM
ALDEHID DAN KETON

I.PENDAHULUAN
Aldehid adalah suatu senyawa yang mengandung sebuah gugus karbonil yang terikat pada sebuah
atau dua buah atom hidrogen. Nama IUPEC dari aldehida diturunkan dari alkana dengan
mengganti akhiran “ana“ dengan “al“. Nama umumnya didasarkan nama asam karboksilat
ditambahkan dengan akhiran dehida (Petrucci, 1987). Aldehid dinamakan menurut nama asam
yang mempunyai jumlah atom C sama pada nama alkana yang mempunyai jumlah atom sama.
Pembuatan aldehida adalah sebagai berikut: oksidasi alkohol primer, reduksi klorida asam, dari
glikol, hidroformilasi alkana, reaksi Stephens dan untuk pembuatan aldehida aromatik (Fessenden,
1997). Salah satu reaksi untuk pembuatan aldehid adalah oksidasi dari alkohol primer.
Kebanyakan oksidator tak dapat dipakai karena akan mengoksidasi aldehidnya menjadi asam
karboksilat. Oksidasi khrompiridin komplek seperti piridinium khlor kromat adalah oksidator yang
dapat merubah alkohol primer menjadi aldehid tanpa merubahnya menjadi asam karboksilat
(Petrucci, 1987).
Keton adalah suatu senyawa organik yang mempunyai sebuah gugus karbonil terikat pada dua
gugus alkil, dua gugus alkil, atau sebuah alkil. Keton juga dapat dikatakan senyawa organik yang
karbon karbonilnya dih ubungkan dengan dua karbon lainnya. Keton tidak mengandung atom
hidrogen y ang terikat pada gugus karbonil (Wilbraham, 1992). Pembuatan keton ynag paling
umum adalah oksidasi dari alkohol sekunder. Hampir semua oksidator dapat dipakai. Pereaksi
yang khas antara lain khromium oksida (CrO3), phiridinium khlor kromat, natrium bikhromat
(Na2Cr2O7) dan kalium permanganat (KMnO4) (Respati, 1986). Reaksi-reaksi pada aldehida dan
keton adalah reaksi oksidasi dan reaksi reduksi. Reaksi oksidasi untuk membedakan aldehida dan
keton. Aldehid mudah sekali dioksidasi, sedangkan keton tahan terhadap oksidator. Aldehida dapat
dioksidasi dengan oksidator yang sangat lemah. Sedangkan reaksi reduksi terbagi menjadi tiga
bagian yaitu reduksi menjadi alkohol, reduksi menjadi hidrokarbon dan reduksi pinakol
(Wilbraham, 1992).
II. TUJUAN
Tujuan percobaan praktikum ini adalah mempelajari reaksi kimia aldehid dan keton dan
penggunaan aldehid dan keton untuk identifikasi senyawa.
III. ALAT DAN BAHAN
Alat
a) Gelas piala
b) Tabung reaksi
c) Kaki tiga
d) Rak tabung
e) Lampu spirtus
f) Pipet tetes
Bahan
Sedangkan untuk bahan yang harus disiapkan adalah sebagai berikut:
a) AgNO3 0,2 N
b) Pereaksi fehling (A dan B)
c) Aldehid (formaldehid)
d) NH4OH 0,5 N
e) Keton (aseton)
f) KMnO4 0,1 N
IV. PROSEDUR KERJA
1. Melarutkan Senyawa dalam Air
Hal pertama yang harus disiapkan adalah dua tabung reaksi. Tabung reaksi ini kemudian
dipipet dengan larutan formaldehid dan aseton berkadar 0,5 mL. Isilah tabung pertama dengan
larutan formaldehid. Sedangkan pada tabung kedua diisi dengan larutan aseton. Pada kedua
tabung ini, masing-masing harus ditambahkan aquadest sebanyak 10 tetes pada pada tiap proses
tetes penambahannya. Amati dan catat hasilnya.
2. Oksidasi Menggunakan Pereaksi KMnO4
Pada proses ini, larutan sebelumnya diambil dan ditambah bahan KMnO44 0,1 N
sebanyak 1 hingga 2 tetes. Hal ini dilakukan untuk masing-masing tabung. Perhatikan dengan
seksama perubahan warna yang terjadi pada KMnO4, lalu catat hasilnya.
3. Oksidasi Menggunakan Pereaksi Tollens
Siapkan 2 tabung reaksi, kemudian masukkan larutan AgNO3 pada masing-masing
tabung tersebut. Pada tiap tabung, tambahkan bahan NH4OH 0,5 N setetes demi setetes secara
perlahan. Berikan tetesan hingga endapan pada tabung kembali terlarut.
Setelah endapan terlarut lagi, tambahkan formaldehid pada tabung satu, sebanyak 0,5
mL. Sedangkan pada tabung dua, ditambahkan aseton dengan kadar 0,5 mL. Panaskan kedua
tabung tersebut dalam beberapa menit, amati dan catat apa yang terjadi.

4. Oksidasi Menggunakan Pereaksi Fehling


Pertama, siapkan 2 tabung reaksi yang masing-masing diisi dengan fehling A dan B sebanyak 1
mL. Selanjutnya, setiap tabung perlu ditambah larutan formaldehid sebanyak 0,5 mL pada
tabung pertama. Sedangkan pada tabung kedua, perlu ditambah aseton sebanyak 0,5 mL.
V. HASIL

1. Pelarutan Senyawa dalam Air

2. Oksidasi Menggunakan Pereaksi KMnO4


3. 3. Oksidasi Menggunakan Pereaksi Tollens
4. Oksidasi Menggunakan Pereaksi Fehling

VI, PEMBAHASAN

Aldehid tergolong sebagai senyawa karbon dengan gugus karbonil. Senyawa ini sifatnya
lebih reaktif dibanding alkohol. Aldehid dapat melakukan reaksi adisi dan oksidasi. Pada reaksi
oksidasi, aldehid dalam menjadi asam dan polimerisasi. Sedangkan keton tergolong menjadi
senyawa organic. Senyawa ini juga memiliki gugusan karbonil terikat dengan dua gugus alkil.
Pada percobaan yang telah dilakukan, senyawa formaldehid dan aseton bisa larut ke dalam air
dengan warna yang sama-sama bening. Namun keduanya tetap memiliki perbedaan. Perbedaan
pertama ada pada baunya. Bau aseton cenderung lebih tajam dibanding formaldehid.
Selanjutnya, terjadi perubahan warna juga pada percobaan oksidasi menggunakan pereaksi
KMnO4. Warna perubahan formaldehid yang tadinya bening, menjadi coklat. Sedangkan warna
aseton yang tadinya bening, menjadi ungu. Proses percobaan oksidasi menggunakan pereaksi
tollens, kedua senyawa ini warnanya bening saat ditambah bahan AgNO3. Saat ditambah
NH4OH, keduanya menjadi endapan larut. Kedua senyawa ini lantas dipanaskan dan terjadilah
perubahan lagi.
Formaldehid yang dipanaskanpun menjadi endapan cermin perak. Sedangkan asetonnya
tidak mengalami perubahan, alias tetap berwarna bening. Saat menggunakan percobaan oksidasi
fehling, kedua senyawa tersebut berubah warna. Ketika kedua senyawa ditambah fehling A,
perubahan warna yang terjadi adalah dari bening menjadi biru muda. Sedangkan saat ditambah
fehling B, perubahan warnanya menjadi biru terang. Kemudian kedua senyawa tersebut
dipanaskan dan mengalami perubahan lagi. Saat dipanaskan, perubahan yang terjadi pada
formaldehid adalah endapan berwarna merah bata. Sedangkan pada aseton, perubahannya
menjadi endapan coklat tua. Penambahan KMnO4 ini dilakukan karena aldehid yang berpotensi
oksidasi menjadi asam karboksilat dengan oksidator kuat. Sedangkan penambahan AgNO3
sebagai reagen pada uji tollens adalah untuk oksidasi sampel. Perubahan bentuk menjadi cermin
perak, disebabkan oleh ion Ag+ yang tereduksi menjadi perak. Sedangkan penambahan NH4OH,
memiliki tujuan agar endapan awal tidak terbentuk dan Ag dapat terlepas. Selain itu, basa juga
jadi tidak mudah teroksidasi.
VII. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari serangkaian praktikum ini, dapat dijelaskan dalam poin-poin sebagai
berikut:
a) Baik itu formaldehid maupun aseton, keduanya dapat terlarut dalam air secara sempurna.
b) Senyawa formaldehid dapat teroksidasi dengan pereaksi KMnO4, Tollens, dan Fehlling.
c) Senyawa aseton tidak dapat teroksidasi menggunakan pereaksi KMnO4, Tollens, dan
Fehling.
d) 4. Percobaan pembentukan garam karboksilat didapatkan asam propionat yang bereaksi
positif pada pembentukan garam karboksilat, ditunjukkan dengan munculnya gelembung.
e) 5. Percobaan esterifikasi, dengan etanol diketahui sampel asam propionat lebih reaktif
dari pada sampel yang lain, karena menghasilkan bau yang sangat menyengat. Asam
asetat yang paling tidak bereaksi.
f) 6. Percobaan oksidasi dengan KMnO4 didapatkan asam asetat dan asam propionat lebih
reaktif dari pada asam format dalam reaksi Oksidasi dengan KMnO4.
g) 7. Percobaan reaksi garam karboksilat terjadi reaksi positif dari Na-asetat karena terjadi
perubahan pada saat pemanasan, dengan terbentuknya warna orange tua.

DAFTAR PUSTAKA
Fessenden, Ralph J, dan Fessenden, Joan S. 1997. Dasar-dasatr Kimia Organik. Bina Aksara.
Jakarta.
Riawan, S. 1990. Kimia Organik Edisi 1. Binarupa Aksara. Jakarta.
Wilbraham, Antony C. 1992. Pengantar Kimia Organik 1. ITB. Bandung.
Fessenden, R. J. dan Joan, S. Fessenden, 1997, Dasar-Dasar Kimia Organik, Erlangga, Jakarta.
Petrucci,R. H, 1999, Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern, Erlangga, Jakarta.
Pine, Stanley. H, 1988, Kimia Organik I, Penerbit ITB, Bandung.
Riawan, S, 1989, Kimia Organik, Bina Rupa Aksara, Jakarta.
Wilbraham, A. C. dan Michael S, Matta, 1992, Pengantar Kimia Organik dan Hayati, ITB,
Bandung

Anda mungkin juga menyukai