Anda di halaman 1dari 26

KELOMPOK :

- Aisyah Nestria Al Falah Ramadhanty 858569415


- Septiana Dewi Al Habbiy 858830254
- Aisyah Al Chumairo’ 858567959

MODUL 1 : KONSEP DASAR PENILAIAN DALAM PEMBELAJARAN

KEGIATAN BELAJAR 1 : KONSEP DASAR PENILAIAN DALAM


PEMBELAJARAN
A. Pengertian Penilaian
Tes = pertanyaan/ tugas.
1. Tes
a. Tes objektif
b. Tes uraian
2. Non Tes, Pengamatan, Skala, Wawancara
Pengukuran, penentuan angka dari objek yang diukur
Asesmen, kegiatan untuk mengumpulkan informasi hasil belajar siswa dari
berbagai jenis tagihan dan mengolah untuk menilai hasil dan perkembangan belajar
siswa
Evaluasi, penilaian keseluruhan program pendidikan mulai perencanaan,
termasuk kurikulum dan asesmen, pelaksanaan, peningkatan kemampuan guru,
manajemen pendidikan, untuk meningkatkan kualitas
Penilaian sebagai asesmen, kegiatan untuk dapat informasi pencapaian hasil
belajar dan kemajuan belajar siswa.
Penilaian sebagai evaluasi, kegiatan untuik mengukur keefektifan sistem
pendidikan secara keseluruhan
B. Kedudukan Tes, Pengukuran, Asesmen, Evaluasi
Tes adalah salah satu bagian dari pengukuran yang termasuk dalam asesmen
dan terhimpun dalam evaluasi
C. Prinsip-Prinsip Penilaian
1. Orientasi pada pencapaian kompetensi
2. Valid
3. Adil
4. Objektif
5. Berkesinambungan
6. Menyeluruh
7. Terbuka
8. Bermakna

D. Pergeseran Paradigma Penilaian Hasil Belajar


Dari penilaian yang hanya tes saja (hasil belajar akhir) berupa UN menjadi
penilaian proses pembelajaran dan hasil belajar akhir yaitu nilai-nilai keseharian dan
UN

KEGIATAN BELAJAR 2 : JENIS DAN FUNGSI PENILAIAN DALAM


PEMBELAJARAN

A. Tes seleksi, untuk menyeleksi pegawai/siswa yang memenuhi syarat


B. Tes penempatan, untuk menyeleksi siswa yang mencapai kompetensi/tujuan
pembelajaran, siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan
C. Pretest-post test, pretest = untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi
post test = untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran
D. Tes diagnostik, untuk mengetahui penyebab kesulitan belajar
E. Tes formatif, hanya untuk memonitor proses pembelajaran
F. Tes sumatif, untuk mengukur keberhasilan siswa dalam menguasai keseluruhan tujuan
pembelajaran.
Manfaat bagi siswa : mengetahui tingkat kemampuan dalam mata pelajaran tertentu
Manfaat bagi guru : menganalisis proses pembelajaran
Manfaat bagi orang tua : mengetahui prestasi anak di sekolah
Manfaat bagi kepala sekolah : mengetahui ketercapaian GBPP
MODUL 2

PENGEMBANGAN TES HASIL BELAJAR

KEGIATAN BELAJAR 1 (Keunggulan dan Kelemahan Tes)


Tes merupakan alat ukur yang tepat digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa
dalam ranah kognitif. Untuk menentukan salah satu jenis tes yang akan digunakan untuk
mengukur hasil belajar siswa, anda harus berpedoman pada tujuan pembelajaran yang akan
anda ukur. Jika tujuan pembelajaran yang akan anda ukur lebih banyak pada ranah kognitif
rendah sampai dengan sedang dan jumlah peserta tesnya banyak maka tes objektif merupakan
pilihan yang tepat. Tetapi jika tujuan pembelajaran yang akan anda ukur berada pada tingkatan
kognitif tingkat tinggi seperti analisis, evaluasi, dan kreasi maka tes uraian merupakan pilihan
yang tepat. Jika anda telah menentukan jenis tes yang akan anda gunakan maka maksimalkan
keunggulan tes tersebut dan tekanlah kelemahan tes tersebut seminimal mungkin.

Keunggulan Tes Objektif


1. Tes objektif tepat digunakan untuk mengukur proses berpikir rendah sampai dengan
sedang. Bukannya tes objektif tidak dapat digunakan untuk mengukur proses berpikir
tingkat tinggi seperti analisis, evaluasi, dan kreasi tetapi untuk menulis future soal yang
seperti itu memerlukan keterampilan tersendiri.
2. Dengan menggunakan tes objektif mata semua atau sebagian besar materi yang telah
diajarkan dapat ditanyakan saat ujian.
3. Dengan dengan menggunakan tes objektif maka pemberian skor pada setiap siswa dapat
dilakukan dengan cepat tepat dan konsisten karena jawaban yang benar untuk setiap butir
soal sudah jelas dan pasti. Kita juga dapat menggunakan fasilitas komputer untuk
memproses hasil ujian sehingga kecepatan, ketepatan, dan kekonsistenan nya dapat lebih
terjamin.
4. Dengan tes objektif khususnya pilihan ganda, akan memungkinkan untuk dilakukan
analisis butir soal. Dari hasil analisis butir soal maka akan dapat diperoleh informasi
tentang karakteristik setiap butir soal seperti tingkat kesukaran, daya beda, efektivitas
pengecoh, serta reliabilitasnya.
5. Tingkat kesukaran butir soal dapat dikendalikan. Dengan menggunakan tes objektif
khususnya pilihan ganda maka kita dapat mengendalikan tingkat kesukaran butir soal
hanya dengan mengubah homogenitas alternatif jawaban.
6. Informasi yang diperoleh dari tes objektif lebih kaya. Jika tes objektif di konstruksi dengan
baik maka kita akan memperoleh informasi yang banyak dari Respon yang diberikan oleh
siswa. Setiap respon siswa terhadap setiap alternatif jawaban akan memberikan informasi
kepada kita tentang penguasaan kognitif siswa terhadap materi yang diujikan. Dengan
demikian kita dapat mengetahui kemampuan dan kelemahan siswa.

Kelemahan Tes Objektif


1. Kebanyakan tes objektif hanya bisa mengukur proses berpikir rendah. Walaupun tujuan
pembelajaran yang akan diukur sebenarnya lebih tinggi dari sekedar ingatan atau
pemahaman.
2. Membuat pertanyaan tes objektif yang baik lebih sukar daripada membuat pertanyaan tes
uraian. Kesulitan dalam membuat tes objektif biasanya muncul di saat menulis soal harus
membuat alternatif jawaban yang memenuhi syarat sebagai tes objektif yang baik.
3. Kemampuan anak dapat terganggu oleh kemampuannya dalam membaca dan menerka.
Jika tes objektif dibuat dengan kurang baik, maka maksud butir soal tersebut akan sulit
dipahami oleh siswa. Jika hal ini terjadi maka kesalahan siswa dalam menjawab butir soal
dapat terjadi bukan karena siswa tidak memahami materi yang ditanyakan tetapi karena
siswa mengalami kesukaran dalam memahami kalimat dalam butir soal.
4. Siswa tidak dapat mengorganisasikan idenya sendiri karena semua alternatif jawaban
untuk setiap pertanyaan sudah diberikan oleh penulis soal. Dalam hal ini siswa hanya dapat
mengingat hidup orang lain yaitu itu penulis soal.

Menyadari akan adanya kelemahan yang ada pada tes objektif, maka sebagai seorang
guru kita harus berupaya untuk meminimalkan kelemahan tersebut. Berbagai upaya yang dapat
ditempuh untuk meminimalkan kelemahan tes objektif antara lain sebagai berikut :
1. Upaya untuk mengatasi agar butir soal yang ditulis tidak cenderung mengukur proses
berpikir rendah caranya adalah membuat soal harus selalu berorientasi pada kisi-kisi soal.
Tulislah butir soal sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan diukur.
2. Upaya untuk mengatasi lamanya waktu penulisan butir soal adalah dengan cara menguasai
materi yang baik dan latihan membuat soal yang terus-menerus maka Masalah ini tidak
akan menjadi hambatan lagi. Semua butir soal yang telah ditulis dan diujikan sebaiknya
tidak dibuang tetapi terus dikumpulkan dalam suatu kumpulan butir soal.
3. Upaya untuk mengatasi agar kemampuan siswa tidak terganggu oleh kemampuan
membaca dan menerka, caranya adalah dengan menulis butir soal yang baik sesuai dengan
kaidah penulisan butir soal objektif yang telah ditentukan. Sedangkan untuk mengatasi
masalah tebakan dapat diatasi dengan memperbanyak jumlah alternatif jawaban menjadi
4 atau 5. Dengan bertambahnya jumlah alternatif jawaban maka kemungkinan menebak
akan semakin kecil.
4. Dengan tes objektif siswa tidak dapat mengemukakan ide yang sendiri tetapi harus
mengikuti ide orang lain dalam hal ini ide penulisan. Caranya adalah dengan menggunakan
tes uraian dan objektif secara bergantian selama proses penilaian hasil belajar.

Keunggulan Tes Uraian


1. Tepat digunakan untuk mengukur proses berpikir tinggi.
2. Tepat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks yang tidak dapat diukur
dengan tes objektif.
3. Waktu yang digunakan untuk menulis satu set tes uraian untuk satu waktu ujian lebih cepat
daripada waktu yang digunakan untuk menulis satu set tes objektif.
4. Menulis tes uraian yang baik relatif lebih mudah dari pada menulis tes objektif (pilihan
ganda) yang baik

Kelemahan Tes Uraian


1. Terbatasnya sampel materi yang ditanyakan
2. Kesukaran dalam memeriksa jawaban siswa terletak pada sulitnya memberikan skor yang
objektif dan konsisten

Menyadari akan adanya kelemahan yang ada pada tes uraian, maka sebagai seorang guru kita
harus berupaya untuk meminimalkan kelemahan tersebut. Berbagai upaya yang dapat ditempuh
untuk meminimalkan kelemahan tes uraian antara lain sebagai berikut :
1. Upaya untuk meningkatkan jumlah sampel materi yang ditanyakan saat ujian
2. Upaya untuk mengurangi unsur subjektifitas pemeriksa
3. Upaya untuk mengatasi kesulitan dalam memeriksa hasil tes siswa.
4. Upaya untuk mengurangi Hallo effect
5. Upaya untuk menghindari carry over effect
6. Upaya untuk menghindari order effect.

KEGIATAN BELAJAR 2 (Mengembangkan Tes)

Ketrampilan menulis tes yang baik (tes uraian dan tes subjektif) sangat diperlukan agar
dapat menghasilkan tes yang baik. Secara garis besar tes objektif dibedakan menjadi tes benar-
salah, tes menjodohkan, dan tes pilihan ganda. Sedangkan tes uraian dapat dikelompokkan
menjadi dua yaitu tes uraian terbuka dan tes uraian terbatas. Kedua jenis tes tersebut hendaknya
digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa yang sesuai dengan karakteristik kedua jenis tes
tersebut.

Beberapa hal yang perlu anda perhatikan dalam mengkonstruksi tes objektif adalah
sebagai berikut:
1. Inti permasalahan yang akan ditanyakan harus dirumuskan dengan jelas pada pokok soal
2. Hindari pengulangan kata yang sama pada pokok soal.
3. Hindari penggunaan kalimat yang berlebihan pada pokok soal
4. Alternatif jawaban yang dibuat harus logis, homogen, dan pengecoh menarik untuk dipilih
5. Dalam merumuskan pokok soal, hindari adanya petunjuk kearah jawaban yang benar
6. Setiap butir soal hanya mempunyai satu jawaban yang benar.
7. Hindari penggunaan ungkapan negatif pada pokok soal
8. Hindari alternatif jawaban yang berbunyi semua jawaban benar atau semua jawaban salah
9. Jika alternatif jawaban berbentuk angka, urutkan mulai dari yang besar atau yang kecil.
10. Hindari penggunaan istilah yang terlalu teknis pada pokok soal
11. Upayakan agar jawaban butir soal yang satu tidak tergantung soal yang lain.

Beberapa hal yang perlu anda perhatikan dalam mengkonstruksi tes uraian adalah
sebagai berikut:
1. Tulislah tes uraian berdasarkan perencanaan tes (kisi-kisi) yang ada
2. Gunakan tes uraian untuk mengukur hasil belajar yang kurang tepat atau tidak dapat diukur
dengan tes objektif
3. Gunakan tes uraian terbatas untuk menambah sampel yang dapat ditanyakan dalam satu
waktu saat ujian
4. Gunakan tes uraian untuk mengungkap pendapat, tidak hanya sekedar menyebutkan fakta.
5. Rumuskan butir soal dengan jelas sehingga tidak menimbulkan salah tafsir
6. Usahakan agar jumlah butir soal dapat dikerjakan dalam waktu yang telah ditentukan
7. Jangan menyediakan sejumlah pertanyaan yang dapat dipilih oleh siswa
8. Tuliskan skor maksimal yang dapat diperoleh siswa pada setiap butir soal

Setelah menulis butir soal, penulis diwajibkan untuk membuat pedoman penskoran
sebagai berikut :
1. Apa jawaban terbaik dari pertanyaan tersebut? Jika ada jawaban lain maka jawaban
tersebut harus ditulis
2. Tandai butir, kata kunci atau konsep penting yang harus muncul pada jawaban tersebut
3. Adakah butir, kata kunci, atau konsep yang lebih penting dari yang lain?
4. Beri skor pada setiap butir, kata kunci, atau konsep yang harus muncul pada jawaban
tersebut
5. Butir, kata kunci, atau konsep yang lebih penting dapat diberi skor lebih dari yang lain
Sebelum digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa maka tes uraian yang selesai
ditulis harus ditelaah terlebih dahulu
KEGIATAN BELAJAR 3 (Perencanakan Tes)

Agar tes objektif yang akan ditulis tidak melenceng dari materi yang telah diajarkan
selama proses pembelajaran maka tes tersebut harus ditulis berdasarkan kisi-kisi. Kisi-kisis
inilah yang harus menjadi pedoman bagi penulis dalam menulis setiap butir soal.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat kisi-kisi antara lain :
1. Pemilihan sampel materi yang akan diujikan. Pemilihan sampel materi harus diupayakan
serpresentatif mungkin
2. Penentuan jenis tes yang akan digunakan. Penentuan jenis tes yang akan digunakan apakah
akan menggunakan tes pilihan ganda, tes uraian, atau gabungan antara keduanya harus
diperhitungkan terutama terkait dengan materi, jumlah butir soal, dan waktu tes yang
disediakan.
3. Jenjang kemampuan berfikir yang akan diujikan. Jenjang kemampuan berfikir yang
ditanyakan harus sesuai dengan jenjang kemampuan berfikir yang dilatihkan selama
proses pembelajaran.
4. Ragam tes yang digunakan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ada beberapa
ragam tes yang dapat digunakan sebagai alat ukur hasil belajar siswa baik itu berupa tes
objektif maupun tes uraian.
5. Sebaran tingkat kesukaran. Penentuan sebaran tingkat kesukaran butir soal sebenarnya
tergantung pada interpretasi skor yang akan digunakan. Jika akan digunakan pendekatan
penilaian acuan kriteria maka sebaran tingkat kesukaran butir soal tidak perlu dipikirkan
tetapi jika akan digunakan pendekatan penilaian acuan norma maka sebaran tingkat butir
soal harus diperhatikan
6. Waktu ujian yang disediakan. Waktu ini akan membatasi jumlah butir soal yang akan
ditanyakan
7. Jumlah butir soal. Jumlah butir soal yang akan ditanyakan tergantung pada waktu ujian
yang disediakan.
Untuk membantu mempermudah pengisian format kisi-kisi, maka lakuakan langkah-
langkah berikut:
1. Siapkan format kisi-kisi dan buku materi yang akan anda gunakan sebagai sumber dalam
pembuatan kisi-kisi.
2. Tentukan pokok bahasan dan sub-pokok bahasan yang akan dipilih sebagai sampel materi
yang akan diujikan.
3. Tentukan beberapa jumlah butir soal yang layak ditanyakan dalam satu waktu ujian
tersebut. Penentuan jumlah butir soal harus diperhatikan tingkat kesukaran butir soal dan
proses berfikir yang ingin diukur.
4. Sebarkan jumlah butir soal tersebut perpokok bahasan. Penentuan jumlah butir soal
perpokok bahasan hendaknya dilakukan secara proporsional berdasarkan kepantingan atau
keluasan pokok bahasan. Jadi jumlah butir soal perpokok bahasan tidak harus sama
5. Distribusikan jumlah butir soal perpokok bahasan tersebut kedalam sub-pokok bahasan.
Pendistribusian jumlah butir soal ini juga harus dilakukan secara proporsional sesuai
dengan kepentingan atau keluasan sub-pokok bahasan tersebut.
6. Distribusikan jumlah butir soal per sub-pokok bahasan tersebut kedalam kolom-kolom
proses berfikir dan tingkat kesukaran butir soal. Pendistribusian ini harus berpedoman
pada tujuan pembelajaran yang akan diukur ketercapaiannya dan proses berfikir yang
dikembangkan selama proses pembelajaran
MODUL 3
PENGEMBANGAN ASESMEN ALTERNATIF

KEGIATAN BELAJAR 1
KONSEP DASAR ASESMEN ALTERNATIF

A. Latar Belakang

Asesmen alternatif dalam penilaian hasil belajar siswa muncul pada tahun 1980-an,
sebagai akibat banyaknya kritik terhadap asesmen tradisional yang hanya menggunakan tes
tertulis.
Grant P. Wiggins (1998) membedakan antara antara asesmen tradisional dan asesmen
alternatif, yaitu :
a. Asesmen tradisional (tes)
1. Penilaian dilakukan untukmenilai kemampuan siswa dalam memberikan jawaban yang
benar.
2. Tes yang diberikan tidak berhubungan dengan realitas kehidupan siswa
3. Tes terpisah dari pembelajaran yang dilakukan siswa
4. Dapat diskor dengan realibilitas tinggi
5. Hasil tes diberikan dalam bentuk skor
b. Asesmen Alternatif
1. Penilaian dilakukan untuk menilai kualitas produk dan unjuk kerja siswa.
2. Tugas yang diberikan berhubungan dengan relitas kehidupan siswa
3. Ada integrasi antara pengetahuan dengan kinerja atau produk yang dihasilkan
4. Sulit diskor dengan reabilitas tinggi
5. Hasil asesmen alternatif diberikan dengan bukti kinerja

B. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Portofolio

Penilaian (arti asesmen) adalah kegiatan untuk memperoleh informasi untuk


pencapaian dan kemajuan belajar siswa, sedangkan penilaian dalam arti evaluasi merupakan
kegiatan yang dirancang untuk mengukur keefektifan sistem pendidikan secara keseluruhan.
Beberapa istilah yang berkaitan dengan asesmen yaitu :
1. Traditional Assessment (Asesmen Tradisional), mengacu pada tes tertulis.
2. Performance Assessment (Asesmen kinerja), merupakan asesmen yang menghendaki siswa
untuk mendemonstrasikan
3. Autentic Assessment, merupakan asesmen yang menuntut siswa mampu menerapkan
pengetahuan dan keterampilannya dalam kehidupan nyata di luar sekolah.
4. Portfolio Assessment (Asesmen portofolio), merupakan hasil karya siswa.
5. Achievement Assessment, merupakan pengertian umum terhadap semua usaha untuk
mengukur, mengetahui dan mendeskripsikan hasil kerja siswa.
6. Alternative Assessment

C. Landasan Psikologis
Beberapa teori belajar yang digunakan sebagai landasan dalam pelaksanaan asesmen
alternatif adalah :
1. Teori Fleksibilitas Kognitif dari R. Spiro (1990)
Teori ini beranggapan bahwa hakikat belajar adalah kompleks.
2. Teori Belajar Bruner (1966)
Menurut Bruner, belajar merupakan suatu proses aktif yang dilakukan siswa dengan cara
mengkontruksi sendiri gagasan baru atau konsep baru atas dasar konsep, pengetahuan dan
kemampuan yang telah dimiliki.
3. Generative Learning Model dari Osborne dan Wittrock (1983)
Inti dari teori ini adalah bahwa otak tidak hanya pasif menerima informasi tetapi aktif
membentuk dan menginterpresentasikan informasi serta menarik kesimpulan dari
informasi-informasi tersebut.
4. Eksperiential Learning Theory dari C. Rogers (1969)
Teori ini membedakan dua jenis belajar yaitu cognitive learning yang berhubungan dengan
pengetahuan dan experiental learning yang berhubungan dengan pengalaman.
5. Multiple Intelegent Theory dari Howard Gardner (1983)
Menurut Gardner, ada deapan kemampuan pada setiap individu, yaitu :
(1) Linguistic; (2) Logical-mathematic; (3) Visual-spattial; (4) Bodily-kinesthetic; (5)
Musical; (6) Intrapersonal; (7) Interpersonal; (8) Naturalist.

D. Keunggulan dan Kelemahan Asesmen Alternatif

1. Keunggulan asesmen alternatif yaitu :


a. Menilai hasil belajar yang kompleks dan keterampilan-keterampilan yang tidak dapat
dinilai dengan asesmen tradisional.
b. Menyajikan hasil penilaian yang lebih hakiki, langsung dan lengkap.
c. Meningkatkan motivasi siswa.
d. Mendorong pelajaran dalam situasi yang nyata.
e. Memberi kesempatan kepada siswa untuk self evalution.
f. Membantu guru untuk menilai efektifitas pembelajaran yang telah dilakukan
g. Meningkatkan daya transferabilitas hasil belajar.
2. Kelemahan asesmen alternatif yaitu :
a. Memerlukan banyak wakttu.
b. Adanya unsur subjektifitas dalam pen-skoran.
c. Ketetapan pen-skoran rendah.
d. Tidak tepat untuk kelas besar.
KEGIATAN BELAJAR 2
BENTUK ASESMEN KINERJA

Bentuk utama dari asesmen kinerja terdiri dari dua yaitu tugas (task) dan criteria
penskoran (rubric).

A. Tugas (Task)
Jenis-jenis tagihan tentang keberhasilan siswa dalam unjuk kerja yaitu :
1. Computer adaptive testing
2. Tes pilhan ganda yang diperluas
3. Tes uraian terbuka (open ended question)
4. Tugas individu
5. Tugas kelompok
6. Proyek
7. Interview
8. Pengamatan

B. Kriteria Penilaian (Rubric)


Kriteria pen-skoran pada tes adalah jawaban yang benar harus ada pada jawaban
siswa. Asesmen kinerja tidak menggunakan kriteria pen-skoran yang berisi konsep kata kunci
yang merupakan jawaban benar atas pertanyaan.
Menurut Donna Szpyrka dan Eliyn B Smith yang dikutip oleh Zainul. A (2001)
terdapat beberapa langkah-langkah yang perlu diperhatikan :
1. Menentukan konsep
2. Merumuskan atau mengidentifikasikan dan menentukan urutan konsep yang akan dinilai.
3. Menentukan tugas yang akan dinilai
4. Menentukan skala yang akan digunakan
5. Mendeskripsikan kinerja yang diharapkan
6. Melakukan uji coba
7. Melakukan revisi berdasar hasil uji coba.
Menurut Chicago Public School (CPS) menjelaskan langkah-langkah dalam
pengembangan rubric yaitu :
1. Guru bersama teman sejawat menentukan dimensi kerja yang dinilai
2. Mengidentifikasi adanya dimensi kerja yang belum tercantum
3. Merevisi dimensi-dimensi kerja menjadi tepat
4. Membuat definisi setiap dimensi kerja
5. Menentukan skala dan dimensi yang dinilai
6. Melakukan penilaian terhadap rubric
7. Melakukan uji coba untuk mengetahui rubric
8. Melakukan sosialisasi dengan melibatkan pihak terkait.
Kegunaan rubric dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
a) Holistic Rubric
Holistic rubric adalah rubric yang deskripsi dimensi kinerjanya dibuat secara umum.
b) Analitic Rubric
Analytic Rubric adalah rubric yang dimensi atau aspek kinerjanya dibuat lebih rinci setiap
aspek kinerjanya.
KEGIATAN BELAJAR 3
ASESMEN PORTOFOLIO

A. Pengertian dan Tujuan Portofolio

Portofolio adalah kumpulan hasil karya siswa yang disusun secara sistematis yang
menunjukkan upaya, proses, hasil dan kemajuan belajar yang dilakukan siswa dari waktu ke
waktu.
Secara lebih rinci karakteristik portofolio adalah :
1. Asesmen portofolio adalah asesmen yang menuntut adanya kerja sama antara murid dengan
guru.
2. Asesmen portofolio tidak hanya sekedar kumpulan hasil karya siswa tetapi yang terpenting
adalah adanya proses seleksi yang dilakukan berdasar criteria tertentu untuk dimasukkan
ke dalam kumpulan hasil karya siswa.
3. Hasil karya siswa dikumpulkan dari waktu ke waktu.
4. Kritertia penilaian yang digunakan harus jelas baik bagi guru ataupun bagi siswa dan
ditetapkan secara konsisten.
Menurut Jon Mueller tujuan penggunaan portofolio adalah :
1. Portofolio yang bertujuan untuk menunjukkan perkembangan hasil belajar siswa.
2. Menunjukkan kemampuan siswa secara langsung
3. Menilai secara keseluruhan pencapaian belajar siswa.
Portofolio tidak dimaksudkan untuk membandingkan hasil kerja siswa tetapi
portofolio dimaksudkan untuk member gambaran terhadap hasil kerja keras yang telah
dilakukan siswa untuk mencapai standar penilaian yang telah disepakati bersama antara siswa
dengan guru.
Ada beberapa komponen penting yang harus diperhatikan dalam menggunakan
portofolio sebagai asesmen :
1. Portofolio hendaknya memiliki criteria penilaian yna gjelas, spesifik dan berorientasi pada
research based criteria.
2. Untukmenilai kemampuan dan keterampilan siswa dapat digunakan berbagai sumber
informasi yang mengenal dengan baik kemampuan dan keterampilan siswa.
3. Untuk mendesain portofolio perlu diperhatikan berbagai cara yang digunakan untuk
mengumpulkan bukti-bukti yang dikontribusi terhadap portofolio.
4. Portofolio dapat terdiri dari berbagai bentuk informasi.
5. Kualitas portofolio harus ditingkatkan dari waktu ke waktu.
6. Setiap mata pelajaran mungkin mempunyai bentuk portofolio yang berbeda.
7. Portofolio harus dapat diakses secara langsung.

B. Perencanaan Portofolio

Shakle et.al (1977) memberikan delapan pedoman yang harus diperhatikan pada saat
merencanakan portofolio :
1. Menentukan criteria dan atau standar yang akan digunakan sebagai dasar asesmen
portofolio.
2. Menerjemahkan standar atau kriteria tersebut ke dalam rumusan-rumusan hasil belajar
yang dapat diamati.
3. Menggunakan kriteria, memeriksa ruang lingkup dan urutan materi dalam kurikulum
untuk menentukan perkiraan waktu yang diperlukan.
4. Menentukan orang-orang yang berkepentingan secara langsung dengan portofolio siswa.
5. Menentikan jenis-jenis bukti yang harus dikumpulkan.
6. Menentukan cara yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan berdasar bukti yang
dikumpulkan.
7. Menentukan system yang akan digunakan untuk membahas hasi portofolio.
8. Mengatur bukti-bukti portofolio berdasarkan umur, kelas atau isi agar kita dapat
membandingkan.

C. Pelaksanaan Portofolio

Berdasarkan perencanaan yang telah dibuat dan disepakati dengan siswa maka tugas
guru adalah melaksanakan asesmen portofolio sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
Tugas guru adalah :
1. Mendorong dan memotivasi siswa,
2. Memonitor pelaksanaan tugas,
3. Memberikan umpan balik,
4. Memamerkan hasil portofoio siswa.

D. Pengumpulan Bukti Portofolio

Kumulan karya siswa dapat dikatakan sebagai portofolio jika kumpuan karya tersebut
merupakan representasi dari kumpulan karya terpilih yang menunjukkan pencapaian dan
perkembangan belajar siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

E. Tahap Penilaian

1. Penilaian dimulai dengan menetapkan kriteria penilaian,


2. Kriteria penilaian yang telah disepakati diterapkan secara konsisten,
3. Hasil penilaian selanjutnya digunakan sebagai penentuan tujuan pembelajaran berikutnya
4. Penilaian dalam asesmen portofolio pada dasarnya dilakukan secara terus menerus atau
berkesinambungan
KEGIATAN BELAJAR 4
PENILAIAN RANAH AFEKTIF

A. Konsep Dasar

Kemampuan afektif merupakan bagian dari hasil belajar siswa yang sangat penting.
Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotorik sangat ditentukan oleh
kondisi afektif siswa.
Menurut Krathwohl (dalam Bronlund and Linn, 1990), ranah afektif terdiri atas lima
level yaitu : (1) receiving; (2) responding; (3) valuing; (4) organization; (5) characterization.
Level yang paling rendah adalah receiving dan paling tinggi adalah characterization.
1. Receiving meruakan keinginan siswa untukmemperhatikan suatu gejala atau stimulus
misalnya aktifitas dalam kelas, buku atau musik,
2. Responding merupakan pertisipasi aktif siswa untuk merespon gejala yang dipelajari,
3. Valuing merupakan kemampuan siswa untuk memberikan nilai keyakinan, atau sikap dan
menunjukkan suatu derajat internalisasi dan komitmen,
4. Organization merupakan kemampuan siswa untuk mengorganisasi nilai yang satu dengan
nilai yang lain,
5. Characterization merupakan level tertinggi dalam ranah afektif. Pada level ini siswa sudah
memiliki system nilai yang mampu mengendalikan perilaku sampai waktu tertentu hingga
menjadi poa hidupnya.
Karakteristik yang penting dalam ranah afektif adalah sikap, minat, konsep diri, dan
nilai.
1. Sikap
Menurut Fishbein dan Ajzen seerti dikutip oleh Mardapi (2004), sikap didefinisikan respon
secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep atau orang.
2. Minat
Menurut Getzel (dalam Mardapi, 2004) minat adalah objek khusus, aktifitas, pemahaman
dan keterapilan untuk tujuan perhatian dan pencapaian.
3. Konsep Diri
Konsep diri adalah penilaian yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan
diri sendiri (Smith dalam Mardapi, 2004)
4. Nilai
Nilai merupakan suatu keyakinan yang dalam tentang pembuatan tindakan atau perilaku
yang dianggap baik dan yang dianggap tidak baik (Rokeach dalam Mardapi, 2004)

B. Beberapa Cara Penilaian Ranah Afektif

Menurut Emeson (dalam Nasution dan Suryanto, 2002), penilaian afektif dapat
dilakukan dengan cara :
1. Pengamatan langsung, yaitu dengan memperhatikan dan mencatat sikap dan tingkah laku
siswa terhadap sesuatu, benda, orang, gambar atau kejadian.
2. Wawancara dilakukan dengan memberikan pertanyaan terbuka atau tertutup. Pernyataan
tersebut digunakan sebagai pancingan.
3. Angket atau kuisioner,, meruakan suatu perangkat pertanyaan atu isia,
4. Teknik Proyektil, merupakan tugs atau pekerjaan atau objek yang belum pernah dikenal
siswa.
MODUL 4

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN INFORMASI HASIL BELAJAR

KEGIATAN BELAJAR 1 : MENGUMPULKAN DAN MENGOLAH


INFORMASI HASIL BELAJAR

A. Memeriksa dan Mengolah Hasil Tes


1. Memeriksa hasil tes objektif
 Pemeriksaan manual jika jumlah peserta tes tidak terlalu banyak
 Pemeriksaan menggunakan bantuan mesin pembaca jika peserta tes
terlalu banyak, lembar jawaban siswa harus dapat dibaca oleh scanner
dan alat tulis yang digunakan menjawab pensil 2B.
 Prinsip kerja pemeriksaan jawaban dengan scanner adalah :
a. Semua jawaban siswa discan
b. Memisahkan identitas siswa yang benar dan salah
c. Data yang salah diperbaiki melalui proses up-dating
d. Menghitung jawaban yang benar melalui proses scoring

Untuk meminimalkan kemungkinan siswa menebak jawaban maka


gunakan formula tebakan :
𝑆
Skor = B -
𝑛−1

B = jumlah jawaban benar

S = jumlah jawaban salah

N = banyaknya alternatif jawaban

2. Memeriksa hasil tes uraian


a. Untuk menjaga ketetapan hasil pemeriksaan sebaiknya setiap lembar
jawaban minimal diperiksa oleh 2 orang
b. Pemeriksa harus duduk bersama menyamakan persepsi tentang cara
memeriksa jawaban
c. Setelah sepakat, pedoman penskoran diuji pada 5-10 lembar jawaban siswa
3. Mengolah data hasil tes
a. Untuk tes objektif
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟
Persentase penguasaan = x100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑢𝑡𝑖𝑟 𝑠𝑜𝑎𝑙
b. Untuk tes uraian
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎
Persentase penguasaan = x100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙

B. Pengumpulan dan Pengolahan Informasi Hasil Belajar dari Unjuk Kerja Siswa
Informasi hasil belajar yang diperoleh dari unjuk kerja siswa dikumpulkan dari
tugas yang telah dikerjakan siswa.
Mempersiapkan pedoman pengamatan dilengkapi kriteria penskoran.
Membandingkan skor atau prosentase yang diperoleh siswa dengan standar
keterampilan yang telah ditentukan.

KEGIATAN BELAJAR 2 : PENDEKATAN DALAM PEMBERIAN NILAI

A. Pengorganisasian Informasi Hasil Belajar Siswa


Cara membuat daftar distribusi frekuensi adalah :
1. Menentukan rentang yaitu selisih data terbesar dan data terkecil
2. Menentukan banyak kelas interval
Banyak kelas = 1 + 3,3 log n  n=banyak data
3. Tentukan panjang kelas interval (p)
P = rentang/banyak kelas
4. Tentukan ujung bawah kelas interval
5. Masukkan semua data ke dalam kelas interval
B. Pendekatan Dalam Penilaian
1. Pendekatan Penilaian Acuan Norma (PAN)
Adalah pendekatan untuk menginterpretasikan hasil belajar siswa di mana hasil
belajar yang diperoleh dibandingkan dengan hasil belajar yang diperoleh
kelompoknya
a. harga rata-rata mean
M = jumlah seluruh data / jumlah data
b. simpangan baku
1 1
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟6𝑝𝑒𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎 𝑘𝑒𝑙𝑜𝑚𝑝𝑜𝑘 𝑎𝑡𝑎𝑠−𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟6𝑝𝑒𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎 𝑘𝑒𝑙𝑜𝑚𝑝𝑜𝑘 𝑏𝑎𝑤𝑎ℎ
SB = 1
2
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎

c. penggunaan kurva normal


2. Pendekatan Penilaian Acuan Kriteria (PAK)
Keberhasilan anak dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya,
berorientasi pada pencapaian kompetensi atau tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan.
3. Penilaian
4. Penyajian Hasil Penilaian
a. penilaian menggunakan angka
b. penilaian menggunakan kategori
c. penilaian dengan uraian atau narasi
d. penilaian kombinasi
5. Proses Pemberian Nilai
Jenis alat ukur dan jenis tagihan yang dapat digunakan :
a. Kuis
b. Pertanyaan lisan
c. Ulangan harian
d. Tugas individu atau kelompok
e. Ulangan semester
f. Laporan tugas atau laporan kerja
g. Ujian praktek
MODUL 5

KUALITAS ALAT UKUR (INSTRUMEN)

KEGIATAN BELAJAR 1 (Validitas Dan Reliabilitas Hasil Pengukuran)

Validitas adalah bagaimana peneliti berbicara tentang sejauh mana hasil mewakili
kenyataan. Metode penelitian, kuantitatif atau kualitatif, adalah metode untuk mempelajari
fenomena nyata, sehingga validitas data mengacu pada seberapa banyak fenomena yang akan
ukur ataupun seberapa banyak informasi tidak terkait yang turut serta pada hasil. Reliabilitas
adalah ukuran stabilitas atau konsistensi nilai tes. Kita juga dapat menganggapnya sebagai
kemampuan untuk mengulang hasil tes atau temuan penelitian. Perlu juga kita ketahui ada
istilah koefisien reliabilitas, yaitu ukuran seberapa baik tes mengukur pencapaian.

Untuk mengukur sesuatu anda dapat memilih alat ukur yang sesuai agar dapat
memperoleh hasil pengukuran yang tepat. Ketepatan hasil pengukuran inilah yang dinamakan
validitas. Validitas dapat dibedakan mejadi tiga macam yaitu validitas isi, validitas konstrak,
dan validitas yang dikaitkan dengan kriteria lain.

Validitas isi mengacu pada sejauh mana materi yang seharusnya diukur. Validitas
konstruk mengacu sejauh mana alat ukur tersebut dapat mengukur konstrak-konstrak yang
digunakan sebagai dasar penyusunan tes tersebut. Sedangkan validitas yang dikaitkan dengan
kriteria lain mengacu pada sejauh mana alat ukur tersebut dapat dengan tepat memprediksi
kesesuaian antara pengetahuan yang dimiliki sekarang dengan keberasilan pada masa yang
akan datang atau kesesuaian antara penguasaan suatu pengetahuan dengan ketrampilan
penggunaan pengetahuan tersebut. Dari ketiga macam validitas tersebut validitas istilah yang
paling penting dipahami dalam rangka mempersiapkan tes hasil belajar yang baik.

Ada dua masalah yang harus diperhatikan dalam rangka mempersiapkan tes hasil
belajar yang baik yaitu masalah validitas (dalam hal ini validitas isi) dan reliabilitas. Agar tes
hasil belajar mempunyai validitas isi yang tinggi dapat ditempuh dengan cara membuat
perencanaan tes (kisi-kisi tes). Disamping tes harus memiliki validitas isi yang tinggi dapat
dipertanggungjawabkan maka tes tersebut harus reliabel artinya jika tes tersebut digunakan
lebih dari satu kali pada kelompok yang sama maka tes tersebut harus dapat memberikan hasil
pengukuran yang tetap.

Ketetapan hasil pengukuran (reliabilitas) sangat diperlukan untuk memperoleh alat ukur
yang dapat memberikan hasil pengukuran yang tepat (valid). Walaupun demikian alat ukur
yang mempunyai reliabilitas yang tinggi belum tentu secara otomatis mempunyai validitas
yang tinggi. Karena tingginya reliabilitas yang dihasilkan oleh suatu alat ukur jika tidak
dibarengi dengan tingginya validitas dapat memberikan informasi yang salah tentang apa yang
ingin diukur.

Reliabilitas suatu tes dapat ditingkatkan dengan cara menambah jumlah butir soal,
dengan catatan bahwa soal yang ditambahkan dengan cara menambahkan jumlah butir soal,
dengan catatan bahwa soal yang ditambahkan harus homogen dengan butir soal yang sudah
ada. Yang dimaksud dengan butir soal yang homogen adalah butir soal-soal yang mengukur
hal yang sama dengan butir soal yang sudah ada. Penambahan butir soal tidak akan menaikkan
reliabilitas tes jika butir soal yang ditambahkan tidak homogen dengan butir soal yang telah
ada.

KEGIATAN BELAJAR 2 (Analisis Dan Perbaikan Instrumen)

Analisis item merupakan suatu proses pengambilan dan penggunaan informasi tentang
tiap-tiap butir terutama informasi tentang respons siswa terhadap setiap butir soal. Informasi
dari hasil analisis item sangat bermanfaat bagi guru dan siswa. Bagi guru, hasil analisis item
dapat memberi informasi kepada guru tentang kualitas butir soal itu sendiri dan untuk
mengetahui materi yang sudah atau belum dikuasai oleh siswa. Bagi siswa, hasil analisis item
dapat menunjukkan sampai sejauh mana tingkat penguasaan materi ang telah dicapai. Analisis
item dilakukan pada tes pilihan ganda dan dapat pula dilakukan pada tes uraian khususnya
uraian terbatas. Dua karakteristik butir soal yang perlu diketahui dalam analisis butir soal
adalah tingkat kesukaran dan daya beda.

Butir soal yang baik adalah butir soal yang mempunyai tingkat kesukatan sedang
dengan daya beda beda positif tinggi. Butir soal yang perlu diperbaiki adalah butir soal yang
pengecohnya mempunyai daya beda positif atau kuncinya mempunyai daya beda negatif.
Perbaikan butir soal dapat dilakukan pada pokok soal atau pada alternatif jawaban.

Langkah-langkah dalam menganalisis butir soal secara sederhana


1. Hitunglah jumlah jawaban yang benar untuk seluruh siswa
2. Berdasarkan jumlah jawaban yang benar dari seluruh siswa tersebut susunlah skor siswa
mulai dari skor tertinggi ke skor terendah
3. Berdasarkan urutan skor tersebut tentukan siswa yang termasuk dalam kelompok atas dan
siswa yang masuk dalam kelompok bawah
4. Hitunglah jumlah siswa dalam kelompok atas yang memilih tiap-tiap alternatif jawaban
yang disediakan
5. Dengan cara yang sama huting jumlah siswa dalam kelompok bawah yang memilih tiap-
tiap alternatif jawaban ang disediakan
6. Hitung jumlah seluruh peserta tes (kelompok atas, tengah dan bawah) ang menjawab benar
7. Hitung tingkat kesukaran butir soal dan daya beda dengan menggunakan rumus yang telah
disediakan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memperbaiki butir soal sebagai berikut :
1. Perhatikan tingkat kesukaran butir soal. Butir soal dianggap baik jika mempunai tingkat
kesukaran antara 0,25 sampai dengan 0,75 atau yang mendekati angka tersebut
2. Perhatikan daya beda butir soal. Butir soal dianggap baik jika kunci atau jawaban
mempunyai daya beda positif tinggi dan pengecohnya mempunai daya beda negatif.
MODUL 6
PEMBERIAN NILAI DAN TINDAK LANJUT HASIL PENILAIAN
KEGIATAN BELAJAR 1
PRINSIP-PRINSIP PEMBERIAN NILAI

A. Tujuan Penilaian Kelas


Penilaian kelas dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar
siswa, guna menetapkan sampai sejauhmana siswa telah menguasai kompetensi yang
telah ditetapkan dalam kurikulum.
1) Penilaian kelas hendaknya diarahkan pada empat tujuan berikut
2) Penelusuran (keeping track) yaitu bahwa penilaian bertujuan untuk menulusuri agar
proses pembelajaran anak didik tetap sesuai dengan rencana
3) Pengecekan (checking up) yaitu bahwa penilaian bertujuan untuk pengecekan
apakah siswa sudah benar-benar paham dengan pelajarannya.
4) Pencarian (finding-out) yaitu untuk mencari kelemahan dan kesalahan dalam
proses pembelajaran
5) Penyimpulan (summing up) atau disebut juga pelaporan tentang hasil proses
pembelajaran pada orang tua di akhir semester atau tahun pelajaran
B. Fungsi Penilaian Kelas
1) Fungsi Motivasi yaitu penilaian harus mampu mendorong siswa untuk makin
semangat belajar
2) Fungsi belajar tuntas, penilaian kelas harus mampu untuk mengarahkan dalam
ketuntasan belajar siswa
3) Fungsi sebagai indikator efektivitas pengajaran, berarti disamping untuk
memantau kemajuan belajar siswa, penilaian kelas juga digunakan untuk
melihat seberapa jauh proses KBM telah berhasil.
4) Fungsi Umpan Balik , hasil penilaian harus dianalisis oleh guru sebagai bahan
umpan balik bagi siswa dan guru
C. Prinsip-Prinsip Penilaian Kelas
1) Proses penilaian merupakan bagian dari pembelajaran
2) Penilaian mencerminkan masalah dunia nyata
3) Menggunakan berbagai ukuran, metode, dan kriteria
4) Penilaian harus bersifat holistik yaitu kemampuan dibidang aspek koknitif,
afektif, dan psikomotorik
5) Penilaian kelas mengacu kepada kemampuan sesuai standar yang ditetapkan
(competency Referenced)
6) Berkelanjutan (continuous) dalam rangkaian proses belajar mengajar guru
dalam satu semester
7) Didaktis untuk mendorong dan membina siswa dalam meningkatkan hasil
belajar
8) Menggali informasi, untuk memberi informasi yang cukup bagi guru untuk
mengambil keputusan dan umpan balik
9) Melihat yang benar dan yang salah.
D. Metode Penilaian Penilaian Kelas
Metode tersebut meliputi :
1. Penilaian tertulis (paper-pencil test)
2. Tes praktek (performance test)
3. Penilaian produk
4. Penilaian proyek
5. Peta perkembangan
6. Evaluasi diri siswa
7. Penilaian afektif
8. Portofolio

KEGIATAN BELAJAR 2
PENILAIAN DIBERBAGAI JENJANG PENDIDIKAN
A. Pedoman Pelaksanaan dijenjang Pendidikan dasar dan Menengah
Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan
pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
 sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang
diukur.
 objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak
dipengaruhi subjektivitas penilai.
 adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena
berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat
istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
 terpadu, berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak
terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
 terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan
keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.
PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 63 menyebutkan bahwa
penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:
1. Penilaian hasil belajar oleh pendidik
2. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan
3. Penilaian hasil belajar oleh pemerintah
Bentuk Penilaian :
1. Ulangan Harian
2. Tugas-tugas
3. Ulangan Tengah Semester
4. Ulangan Akhir Semester
5. Ulangan Kenaikan Kelas
6. Pengamatan terhadap perubahan pelaku/sikap dan psikomotorik
7. Bentuk penilaian lain yang sesuai dengan karakteristik materi yang dinilai
8. Ujian Sekolah
9. Ujian Nasional
B. Pedoman pelaksanaan penilaian di perguruan tinggi
UU Sistem Pendidikan Nasional tahun 1989, PP No. 60 tahun 1999, SK Mendiknas No.
233/U/2000 tahun 2000.
1) Penilaian Terhadap kegiatan dan kemajuan belajar mahasiswa dilakukan penilaian
secara berkala yang dapat berbentuk ujian, pelaksanaan tugas, dan pengamatan oleh
dosen.
2) Ujian dapat diselenggarakan melalui ujian tengah semester, ujian akhir semester, ujian
akhir program studi, ujian skripsi, ujian tesis, dan ujian disertasi.
3) Penilaian hasil belajar dinyatakan dengan huruf A, B, C, D, dan E yang masing-
masing bernilai 4, 3, 2, 1, dan 0.
4) Predikat kelulusan terdiri atas 3 tingkat yaitu : memuaskan, sangat memuaskan, dan
dengan pujian, yang dinyatakan pada transkrip akademik.
5) IPK sebagai dasar penentuan predikat kelulusan program sarjana dan program
diploma adalah:
a) IPK 2,00 – 2,75 : memuaskan
b) IPK 2,76 – 3.50 : sangat memuaskan
c) IPK 3.51 – 4,00 : dengan pujian.
6) Predikat kelulusan untuk program magister:
a) IPK 2,75 – 3,40 : memuaskan;
b) IPK 3.41 – 3,70 : sangat memuaskan:
c) IPK 3,71 – 4,00 : dengan pujian.
7) Predikat kelulusan dengan pujian ditentukan juga dengan memperhatikan masa studi
maksimum yaitu n tahun (masa studi minimum) ditambah 1 tahun untuk program
sarjana dan tambah 0,5 tahun untuk program magister.
8) Predikat kelulusan untuk program doktor diatur oleh perguruan tinggi yang
bersangkutan.
KEGIATAN BELAJAR 3
PEMANFAATAN HASIL TES UNTUK MENINGKATKAN PROSES
PEMBELAJARAN
Tes adalah pemberian sejumlah pertanyaan yang jawabannya dapat benar atausalah.
Tes dapat berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja. Tes tertulis adalah tes
yang menuntut peserta tes memberi jawaban secara tertulis berupa pilihan dan/atau isian.
Tes yang jawabannya berupa pilihan meliputi pilihan ganda, benar-salah, dan menjodohkan.
Sedangkan tes yang jawabannya berupa isian dapat berbentuk isian singkat dan/atau uraian.
Tes lisan adalah tes yang dilaksanakan melalui komunikasi langsung (tatap muka) antara
peserta didik dengan pendidik. Pertanyaan dan jawaban diberikan secara lisan. Tes praktik
(kinerja) adalah tes yang meminta peserta didik melakukan perbuatan / mendemonstasikan /
menampilkanketerampilan.
Dalam rancangan penilaian, tes dilakukan secara berkesinambungan melalui
berbagai macam ulangan dan ujian. Ulangan meliputi ulangan harian, ulangan tengah
semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Sedangkan ujianterdiri atas
ujian nasional dan ujian sekolah. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur
pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk
melakukan perbaikan pembelajaran, memantau kemajuan dan menentukan keberhasilan
belajar peserta didik.
Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk
mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu kompetensi
dasar (KD) atau lebih. Ulangan tengah semester adalah kegiatan yangdilakukan oleh
pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8
– 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan
tengahsemester meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode
tersebut. Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk
mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester. Cakupan ulangan akhir
semester meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester
tersebut.
Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik padaakhir
semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik padaakhir
semester genap pada satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket.Cakupan ulangan
kenaikan kelas meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester
genap. Ujian adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi
peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajardan/atau penyelesaian dari suatu satuan
pendidikan. Ujian nasional adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta
didik pada beberapa mata pelajarantertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan.
Ujian sekolah adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi pesertadidik yang
dilakukan oleh satuan pendidikan untuk memperoleh pengakuan atasprestasi belajar dan
merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuanpendidikan. Mata pelajaran yang
diujikan pada ujian sekolah adalah mata pelajaranpada kelompok mata pelajaran ilmu
pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikanpada ujian nasional, dan aspek kognitif
dan/atau psikomotorik
A. Memanfaatkan hasil Pre Test dan Post test
1) Pre-Test adalah tes yang dilaksanakan pada awal proses pembelajaran untuk
mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa tentang pelajaran yang akan
disampaikan oleh guru.
2) Post-Test adalah tes yang dilaksanakan pada akhir proses pembelajaran untuk
mengetahui daya serap pelajaran yang telah disampaikan kepada siswa dalam proses
belajar mengajar.
B. Memanfaatkan Hasil Tes formatif
Tes formatif adalah tes yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa
telah terbentuk setelah mengikuti suatu program tertentu (Arikunto, 2002:36). Dalam
kedudukannya seperti ini tes formatif dapat dipandang sebagai tes diagnostic pada akhir
pelajaran. Teknik pre-test dan post-test memiliki manfaat baik bagi guru, siswa, maupun
program itu sendiri.
1) Manfaat Bagi Guru
a) Mengetahui sejauh mana bahan yang diajarkan sudah diterima oleh siswa
b) Mengetahui bagian-bagian mana dari bahan pelajaran yang belum menjadi
milik siswa
c) Dapat meramalkan sukses dan tidaknya seluruh program yang telah diberikan
2) Manfaat Bagi Siswa
a) Digunakan untuk mengetahui apakah siswa sudah menguasai bahan program
yang menyeluruh
b) Merupakan penguatan (reinforcement) bagi siswa

c) Usaha perbaikan

d) Sebagai diagnosis

3) Manfaat Bagi Program


a) Apakah program yang telah diberikan merupakan program yang tepat dalam
arti sesuai dengan keakapan anak
b) Apakah program tersebut membutuhkan pengetahuan-pengetahuan
prasyarat yang belum diperhitungkan
c) Apakah diperlukan alat, sarana, dan prasarana untuk mempertinggi hasil yang
akan dicapai
d) Apakah metode, pendekatan, dan alat evaluasi yang digunakan sudah tepat.

C. Memanfaatkan Hasil Tes diagnostic


Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-
kelemahan siswa sehingga hasil tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk
memberikan tindak lanjut berupa perlakuan yang tepat dan sesuai dengan kelemahan yang
dimiliki siswa.
1) Fungsi Tes Diagnostik?
Tes diagnostik memiliki dua fungsi utama, yaitu:
(a) Mengidentifikasi masalah atau kesulitan yang dialami siswa,
(b) Merencanakan tindak lanjut berupa upaya-upaya pemecahan sesuai masalah atau
kesulitan yang telah teridentifikasi
2) Karakateristik Tes Diagnostik
Tes diagnostik memiliki karakteristik:
a) dirancang untuk mendeteksi kesulitan belajar siswa, karena itu format dan respons
yang dijaring harus didesain memiliki fungsi diagnostik,
b)dikembangkan berdasar analisis terhadap sumber-sumber kesalahan atau kesulitan
yang mungkin menjadi penyebab munculnya masalah (penyakit) siswa,
c) menggunakan soal-soal bentuk supply response (bentuk uraian atau jawaban
singkat), sehingga mampu menangkap informasi secara lengkap. Bila ada alasan
tertentu sehingga mengunakan bentuk selected response (misalnya bentuk pilihan
ganda), harus disertakan penjelasan mengapa memilih jawaban tertentu sehingga
dapat meminimalisir jawaban tebakan, dan dapat ditentukan tipe kesalahan atau
masalahnya, dan
d) disertai rancangan tindak lanjut (pengobatan) sesuai dengan kesulitan (penyakit)
yang teridentifikasi.
D. Memanfaatkan Hasil Penilaian Nontes
1) Observasi
Observasi merupakan suatu pengamatan langsung terhadap siswa dengan
memperhatikan tingkah lakuya. Secara umum observasi adalah cara menghimpun
bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan
dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang
dijadikan sasaran pengamatan. Observasi dapat dilakukan pada berbagi tempat
misalnya kelas pada waktu pelajaran, dihalaman sekolah pada waktu bermain,
dilapangan pada waktu murid olah raga, upacara dan lain-lain.
2) Wawancara (Interview)
Wawancara adalah suatu tehnik penilain yang dilakukan dengan jalan percakapan
(dialog) baik secara langsung (face to pace relition), apabila wawancara itu
dilakukan kepada orang lain misalnya kepada orang tuannya atau kepada temanya.
Keberhasilan wawancara sebagai alat penilaian sangat dipengaruhi oleh beberapa
hal :
a) Hubungan baik pewawancara dengan anak yang diwawancarai. Dalam hal ini
hendaknya pewawancara dapat menyesuikan diri dengan orang yang
diwawancarai
b) Keterampilan pewawancara

Keterampilan pewawancara sangat besar pengaruhnya terhadap hasil


wawancara yang dilakukan, karena guru perlu melatih diri agar meiliki
keterampilan dalam melaksanakan wawancara.
c) Pedoman wawancara
Keberhasilan wawancara juga sangat dipengaruhi oleh pedoman yang dibuat
oleh guru sebelum guru melaksanakan wawancara harus membuat pedoman-
pedoman secara terperinci, tentang pertanyaan yang akan diajukan.
3) Angket (Questionave)
Pada dasarnya angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang
yang akan diukur (responden). Pada umumnya tujuan penggunaan anngket atau
kuesioner dalam proses pembelajaran terutama adalah untuk memperoleh data
mengenai latar belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam menganalisis
tingkah laku dan proses belajar mereka.