Anda di halaman 1dari 14

Bunga: Para Peronda Malam

5 Februari 2008 oleh shusaku


Namaku adalah Bunga Putri Laura, umurku baru saja menginjak 19 tahun, aku memiliki wajah
yang dibilang cukup lumayan karena banyak cowok yang melirikku dari yang wajahnya tampan
sampai yang wajahnya biasa-biasa saja. Aku sering merawat tubuhku mulai dari menyabuninya
dengan sabun khusus, selalu ke spa, fitness, luluran, dan lain-lain sehingga sekarang aku bisa
menuai hasil dari kerja kerasku untuk merawat tubuh, kini aku mempunyai kulit yang putih halus,
payudara berukuran 34C, dan pantatku yang kencang dan kenyal. Aku memiliki hobi yang aneh
sejak kecil, aku suka sekali jika bagian tubuhku terbuka sedikit sehingga para laki-laki melihatku
dengan pandangan buas, entah darimana hobiku itu berasal, yang hobiku itu muncul ketika
tubuhku sudah mulai berkembang yaitu ketika aku duduk di kelas 2 SMP.Di kampusku juga aku
selalu menjadi pusat perhatian, sebetulnya aku tidak menjadi pusat perhatian di kampusku saja,
tapi setiap tempat yang kudatangi, para pria langsung melirikku. Aku mempunyai adik
perempuan yang bernama Rini. Dia masih duduk di kelas 2 SMP, dia selalu mengikuti gayaku, yah
bisa dibilang dia mengidolakanku, maklum namanya juga anak SMP. Suatu hari, Rini sudah
selesai ulangan dan hari Sabtu besok dia bagi rapor tengah semester (sistem pendidikan yang
sekarang), tapi Sabtu besok kedua orangtuaku ada urusan bisnis jadi terpaksa aku yang disuruh
mengambil rapor adikku.
“ah,, yah,, males ah,, aku kan mau jalan-jalan besok”.
“ntar papa kasih duit deh”.
“nah,, kalau itu baru ada pertimbangan, tapi berapa yah?”.
“seceng,,”, kata ayahku sambil tersenyum.
“yee,, kalo gitu gak jadi”.
“cuma be’canda,, ntar papa kasih 200 ribu,, kamu mau gak?”.
“ok,, thank’s yah”.
Hari Jum’atnya ayah dan ibuku sudah berangkat ke Bandung untuk urusan bisnis, di rumah
tinggal aku dan adikku.
“kak Bunga, besok kakak jadi kan ke sekolahku?”.
“iya,,iya,, bawel,, kenapa sih,, kayaknya kamu seneng banget?”.
“aku seneng soalnya aku bisa nunjukkin ke temen-temen kalau kakakku cantik banget”.
“muji apa ngeledek nih?”.
“ya muji lah,, kakak kan emang cantik”.
“yaudah sekarang kamu mau makan apa?”.
“mau makan pizza!!!”.
“yaudah,, kakak pesen dulu ya”. Lalu aku menelepon salah satu perusahaan pizza yang terkenal.
“halo,,”.
“selamat sore,, bisa saya bantu?”.
“saya mau pesan pizza”.
“oh, maaf Anda salah sambung,, kami tidak menjual pizza,, kami toko bangunan”.
“oh maaf,,”, betapa malunya aku, salah sambung rupanya.
Setelah kupikir-pikir daripada makan di rumah, mendingan makan di luar sekalian, lagipula masih
sore ini.
“Rin,, makan di luar yuk”.
“ayuk, aku juga bosen di rumah”. Aku dan adikku pergi ke kamar masing-masing untuk berganti
baju, aku memakai kaos tanpa lengan yang sangat ketat menempel di tubuhku berwarna putih
dan untuk bawahannya aku memakai celana jeans berwarna biru. Aku keluar dari kamarku
bersamaan dengan adikku yang memakai kaos berlengan dan rok selututnya, yah tipikal pakaian
untuk anak seumuran dia.
“yuk kak”.
“yuk”. Kami menuju garasi, untungnya aku dibelikan mobil ketika aku berulang tahun yang ke 19,
bulan kemarin.
Kami masuk ke dalam mobil dan aku langsung menghidupkan mobilku dan langsung
menjalankannya keluar dari garasi. Setelah sudah di tengah perjalanan kami mengobrol.
“kak Bunga, cantik banget sih”.
“dari tadi bilang cantik mulu,, jangan-jangan kamu suka ama cewek ya,,ihhh”.
“yee,, enak aja,, aku cuma kagum aja ama kakak,, gak pake make-up kakak tetep cantik”.
“makasih,, tapi kamu juga cantik kok,, buktinya kamu selalu dikejar-kejar cowok di sekolah kamu
kan”.
“hehe,,,”. Akhirnya kami sampai juga di sebuah restoran pizza, kami turun dari mobil setelah aku
memakirkan mobilku dengan lancar.
Kami masuk ke dalam restoran. Lalu aku mendekati kasir sementara Rini memilih tempat duduk
yang didekat jendela. Setelah aku memesan, aku mendekati adikku yang sedang melihat ke arah
jalanan.
“heh,, bengong aja,, kesambet setan, baru tau rasa deh”. Kami mengobrol, dan tak lama
kemudian pizza yang kami pesan datang juga, kami langsung menyantap pizza yang tersaji di
meja kami. Setelah selesai, kami langsung mencuci tangan dan setelah beres-beres, kami keluar
dari restoran itu.
“terima kasih,,”, sapa pelayan yang menunggu di pintu. Kami langsung naik ke mobil.
“Rin,, gimana kalau kita jalan-jalan dulu”.
“asik,,yuk ke kak,, kita ke mall,, aku juga pengen beli baju baru nih”.
“bentar dulu, mau beli baju, pake duit siapa nih?”.
“ya duit kakak dong,, masa pake duitku”.
“huu,, untung adek,, kalau gak,, udah kakak jitak”. Kebetulan aku sedang punya banyak duit, dan
aku juga sedang bosan di rumah jadi aku pustuskan untuk menyetujui permintaan adikku, dan
kami pun pergi ke mall yang tidak jauh dari restoran tadi.
Kami menghabiskan sore hingga jam 9 malam di mall itu, biasalah kegiatan cewek, beli baju,
anting, kalung, boneka, dan lain-lain. Kami pulang karena kulihat Rini sudah sangat kecape’an.
Sedangkan mataku masih terbuka lebar karena sudah terbiasa cape’. Setelah sampai di rumah,
aku memakirkan mobilku lalu aku menuntun adikku ke kamarnya, setelah Rini sudah sampai di
kamarnya, dia langsung berbaring di ranjangnya. Aku lepaskan sepatunya dan aku tinggalkan dia
istirahat. Sementara Rini sudah tertidur lelap, aku masih segar bugar, maklum aku baru merasa
ngantuk setelah jam 12 malam.
Kulihat jam menunjukkan baru jam 09.30 malam, aku memutuskan untuk menyalakan tv.
Ternyata tak ada acara yang bagus, makanya aku langsung mematikan tv.
“akh,, acara gak ada yang bagus,, oh iya,, mendingan gue jalan-jalan aje,,”, kataku berbicara
sendiri.
“apa mendingan gue jalan-jalan di sekitar komplek aje yee”, tambahku sendiri. Akhirnya aku
memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kompleks saja. Aku pergi ke kamarku untuk
mengganti bajuku dengan yang lebih santai yaitu tank top berwarna ungu dan celana pendek,
dan karena kupikir sudah malam jadi aku memutuskan untuk tidak memakai bh sehingga
putingku tercetak di tank topku. Aku keluar dari kamarku dan menuju keluar, kemudian aku
mengunci pintu depan dan gerbang, lalu aku mulai berjalan mengelilingi kompleks di sekitar
rumahku yang memang cukup elit.
Agak jauh juga aku berjalan-jalan di sekitar kompleks rumahku. Aku sampai di area dekat pos
ronda, tapi aku lumayan jauh dari pos ronda itu. Kulihat ada 4 bapak-bapak di dalam pos ronda
tersebut. Penyakitku mulai kambuh, terlintas di pikiranku untuk menggoda 4 bapak-bapak itu,
lagipula aku sudah lama tidak bersetubuh semenjak aku putus dengan pacarku 3 minggu yang
lalu. Aku berjalan mendekati pos ronda yang bisa disebut rumah ronda karena pos rondanya
lumayan besar hampir seukuran rumah, namanya juga kompleks elit, jadi pasti pos rondanya
juga elit.
Aku mulai berjalan mendekati pos ronda itu, dimana bapak-bapak itu sedang menonton tv yang
cukup besar.
“tok,,tok,,tok”, aku mengetuk pintu yang terbuka lebar.
“permisi,,bapak-bapak”, kataku sambil berdiri di depan pintu.
“eh,, neng Bunga, mari silakan masuk”, jawab satpam yang posisi duduknya paling dekat dengan
pintu. Akhirnya aku tau siapa saja yang sedang berada di pos ronda tersebut. Bapak yang paling
ujung bernama pak Wawan, orangnya botak & gendut tapi terkenal dengan keramahannya.
Sebelahnya bernama pak Maman, berkulit hitam dengan rambut berwarna putih. Lalu ada pak
Jono, berkulit hitam dan berbadan kurus dibandingkan dengan lainnya. Dan yang terakhir, si
satpam tadi bernama Bara, kumisnya yang tebal menambah kegarangan wajahnya, tapi entah
kenapa dia sangat baik kepadaku, bahkan dia kadang-kadang be’canda hal-hal yang porno
kepadaku, dan karena aku menyukai hal-hal seperti itu, aku menanggapinya.
“neng Bunga, ngapain malem-malem keluar rumah”, sapa pak Wawan.
“bosen di rumah pak”.
“emangnya gak takut diperkosa malem-malem gini, neng?”, tanya pak Bara.
“ah, kan ada bapak-bapak ini, jadi Bunga bisa tenang”, balasku dengan kedua tanganku kutaruh
di belakang sehingga dadaku semakin membusung ke depan agar mereka semakin bernafsu.
Kelihatannya aku berhasil mengundang nafsu mereka, karena kulihat ke 4 bapak itu memandangi
buah dadaku yang membusung itu.
“hayo, pada liatin apa? sampe gak kedip gitu”, kataku menggoda sambil pura-pura menutupi
payudaraku. Mereka langsung salah tingkah dan pura-pura menonton tv lagi.
“oh ya, bapak-bapak, Bunga boleh ikutan nonton gak?”.
“emang neng Bunga suka bola ya?”, tanya pak Maman.
“suka nonton sih, tapi gak t’gila-gila banget”.
“yaudah, yok bareng-bareng nonton ama kita”, balas pak Wawan. Lalu aku mengambil bangku
kosong dan duduk tepat di tengah-tengah mereka. Aku menonton bola bersama mereka sambil
makan kacang tanpa memikirkan mitos kalau kacang dapat menumbuhkan jerawat, dan juga
sambil minum sirup yang dibuatkan pak Bara. Selama menyaksikan bola, tak henti-hentinya
mereka mencuri-curi pandang ke pahaku yang putih mulus, dan juga ke ‘bola’ kembarku yang
menggantung dengan kencang & indah. Kupikir ini saatnya untuk ‘final step’, aku pura-pura
mengantuk lalu akhirnya, aku menutup mataku agar 4 bapak itu merasa lebih leluasa untuk
menggerayangiku kalau aku pura-pura tidur. Benar saja, tidak lama kemudian pak Wawan
menuju ke belakangku setelah mereka yakin kalau aku tertidur.
Aku merasakan tanganku diangkat ke atas, lalu pak Wawan memegangi pergelangan tanganku.
Aku tidak tau siapa, tapi ada 2 buah tangan yang menyusup ke dalam kaosku dan meremas-
remas kedua buah payudaraku serta memainkan kedua putingku. Sementara itu ada yang
menarik celana pendekku dan juga celana dalamku. Lalu aku merasakan benda tumpul, dan
basah yang kuduga itu adalah sebuah lidah. Aku pura-pura terbangun dan membuka mataku.
“aahh,, pak, jangan!!”, seruku agar tidak terlihat seperti aku yang menginginkannya.
“jangg,,,mmmfff!!!”, kataku terputus karena tiba-tiba mulutku dibekap oleh pak Wawan yang ada
di belakangku. Rupanya Maman & Jono yang memainkan kedua buah payudaraku, sedangkan
pak Bara yang sedang ‘membersihkan’ vaginaku.
“pantes aje,, ada rasa geli-gelinye”, pikirku dalam hati karena kumis pak Bara terus menggesek-
gesek klitorisku sehingga menimbulkan sensasi yang luar biasa.
Akhirnya aku benar-benar larut dalam kenikmatan yang sedang melanda diriku. Pak Maman dan
Jono mulai membuka kaosku sehingga kini payudaraku yang putih mulus, kencang dan kenyal
dapat terlihat jelas oleh 4 bapak-bapak itu.
“waah,, toket neng Bunga montok banget, masih kenceng banget lagi”, komentar pak Maman
yang tepat berada di depan payudara kananku.
“iya nih,, udah cantik,, toketnya sekel banget,, udah gitu putih banget kayak susu”, tambah si
Jono. Karena yakin sudah menguasaiku, Wawan melepaskan bekapannya sehingga aku bisa
berbicara lagi.
“yaudah, kalau gitu jilatin aja”.
“hah,, neng Bunga gak marah kalau kita perkosa?”, tanya Wawan keheranan mendengar
perkataanku.
“nggak kok, tadi aku cuma kaget aja”.
“wah, Man, yang punya udah ngijinin,,”, kata Jono ke Maman.
“ok,, kalo gitu neng Bunga,, bang Maman ‘n bang Jono jilatin toket neng dulu ya”.
“yaudah silakan”. Mereka tak menyia-nyiakan kesempatan, Maman langsung mengenyot
payudara kananku, sedangkan Jono mengenyot payudara kiriku. Pak Bara sama sekali tak
mengindahkan pembicaraan kami bertiga, dia terus menerus menyapu sekitar vaginaku dan
rongga dalam vaginaku serta menggesek-gesekkan kumisnya ke klitorisku.
Pak Maman, Jono, dan Bara sudah mendapat jatah mereka masing-masing, pak Wawan juga
tidak mau ketinggalan, kepalaku ditarik ke belakang dengan perlahan sehingga kepalaku agak
mendongak ke atas. Pak Wawan langsung mencumbu serta melumat bibirku, lalu dia
menyelipkan lidahnya masuk ke dalam mulutku, yang bisa kulakukan hanyalah membuka
mulutku dan membiarkan pak Wawan memainkan lidahnya di dalam mulutku. Kini, tubuhku
sudah menjadi boneka bagi mereka, karena mereka bisa berbuat sesuka mereka terhadap
tubuhku. Mereka menikmati jatah mereka dengan maksimal, pak Maman & pak Jono terus
menjilati kedua buah payudaraku serta menggiti kedua putingku. Pak Wawan terus menerus
memainkan lidahnya, dan aku membalasnya dengan memainkan lidahku juga sehingga lidah
kami saling membelit, dan aku yakin kalau ludah kami sudah saling bercampur karena kami
berciuman lama sekali.
Pak Bara lebih membenamkan kepalanya di antara kedua pahaku, dan karena agak geli akupun
merapatkan kedua pahaku sehingga kepala Pak Bara terhimpit oleh kedua paha putihku.
Menerima 4 serangan birahi dari 4 pria yang berbeda di daerah sensitifku, aku jadi tidak kuat
menahan lama-lama sehingga dalam waktu 7 menit saja, tubuhku sudah seperti tersengat arus
listrik yang menandakan kalau sebentar lagi aku akan orgasme. Benar, tak lama kemudian aku
orgasme, tapi tiba-tiba pak Bara mengambil sebuah gelas dan menaruhnya tepat di depan lubang
vaginaku.
“syuurrr,,,”, cairanku menyemprot keluar dari vaginaku dan langsung menuju gelas. Karena pak
Maman & pak Jono terus menjilati payudaraku, cairanku jadi mengalir bagai sungai hingga gelas
itu penuh dengan cairanku. Setelah cairanku sudah habis, ke 3 bapak yang masih
menggerayangiku menghentikan aktivitas mereka dan langsung mendekati pak Bara yang
memegang gelas penuh dengan cairanku. Mereka bergantian meminum cairanku yang ada di
gelas, hingga mereka berempat kebagian semua.
“wuih neng Bunga,, cairan neng,, manis ‘n gurih banget”, komentar pak Bara.
“ahh,, nambah ahhh”, tambah pak Bara. Lalu dia menunduk lagi dan menjilati sisa-sisa cairan
vaginaku yang masih ada di sekitar bibir vaginaku.
“akh,, curang lo!!”, komentar pak Wawan.
“hehehe,,,”, balas pak Bara dengan tawa.
“udah,,udah,, gak usah berantem bapak-bapak,, mau nyobain punya Bunga gak?”, tanyaku sambil
menunjuk vaginaku.
“oh ya,, mau dong Neng”, jawab pak Jono. Lalu mereka langsung buka baju dengan terburu-buru,
mungkin karena mereka sudah tak sabar ingin merasakan kehangatan tubuhku yang sudah
kupasrahkan untuk mereka berempat. Akhirnya mereka semua sudah telanjang bulat di
hadapanku, 4 orang bapak-bapak telanjang dengan penis yang sudah mengacung tegak dan
keras di hadapan seorang gadis muda & cantik yang sepantasnya jadi anak mereka.
“wah, gede-gede,,”, kataku sambil manja untuk lebih menggoda.
“neng Bunga,, kita ke sofa aja yuk, biar lebih enak”, ajak pak Maman.
“bapak-bapak,, siapa yang mau duluan nyobain punya Bunga?”, tanyaku.
“bapak aja neng”, teriak pak Jono.
“bapak dong neng Bunga”, teriak pak Wawan tak mau kalah. Mereka saling berebutan ingin
menjadi yang pertama kali mencobloskan penis mereka masing-masing ke dalam vaginaku yang
masih merah merekah dan masih sangat sempit.
“udah,, udah,, jangan berantem mulu dong,, tar Bunga gak jadi kasih nih”.
“jangan marah dong neng Bunga,, iya deh kami gak bakal ribut lagi,,”, jawab Pak Wawan.
“yaudah,, kalo gitu,, biar Bunga aja yang milih”.
“boleh juga idenya neng Bunga”, kata pak Jono. Aku melihat ke arah selangkangan mereka dan
aku menemukan kalau penis pak Bara-lah yang paling besar di antara yang lain, maka dari itu aku
memilih pak Bara untuk mengisi liang vaginaku, lalu aku memilih pak Wawan untuk ditanamkan
di dalam anusku karena penisnya yang gemuk seperti badannya. Pak Bara langsung duduk di
sofa, aku mendekat ke arahnya dan menaiki sofa, kemudian aku membimbing penis pak Bara ke
dalam vaginaku dengan susah payah karena lubang vaginaku masih sempit.
Kini penis pak Bara sudah amblas ditelan vaginaku, untungnya tidak terlalu perih sehingga aku
bisa menikmatinya. Beberapa detik kemudian, pak Wawan mendorong tubuhku sehingga
tubuhku tertekan ke depan dan payudaraku menempel di wajah pak Bara yang tentu saja
langsung menjilati payudaraku dan menggesek-gesekkan kumisnya ke putingku membuat
birahiku semakin meledak.Pak Wawan memaksakan penis gemuknya masuk ke dalam lubang
anusku, aku hanya bisa menggigit bibir bawahku saja untuk menahan rasa pedih, karena dibalik
rasa pedih itu mulai muncul rasa nikmat yang tiada tara. Tapi, untungnya pak Wawan dan pak
Bara membiarkanku agar terbiasa dengan penis mereka, tapi tetap saja lidah pak Bara tak henti-
hentinya bermain di kedua buah payudaraku.
“mmmhhhh,,,,”, desahku pelan menerima jilatan demi jilatan pak Bara. Akhirnya setelah beberapa
detik, pak Bara dan pak Wawan mulai menggerakkan penisnya keluar masuk vagina dan anusku
hampir secara bersamaan. Ritmenya pun hampir sama, sudah 3 minggu aku tidak pernah
dimasuki 2 penis sekaligus sejak putus dari pacarku karena ketika aku masih berpacaran dengan
mantanku, dia selalu mengundang teman-temannya untuk menikmati tubuhku, tapi aku tidak
menolaknya karena aku juga ketagihan dengan yang namanya dikeroyok seperti ini.
“oohhh,,,aaahhhh,,,yeeaaahhh,,,terrussss”, erangku menerima 2 sodokan di vagina dan anusku
secara bersamaan. Tiba-tiba pak Joni dan Maman mendekat dan berjalan ke depanku lalu
mereka menyodorkan penis mereka masing-masing ke arahku.
Karena tubuhku terdorong ke depan, sudah pasti wajahku berada agak ke depan sehingga aku
bisa menggenggam satu penis dan mengulum penis yang satunya lagi.
“aaahhh,,,oohhh,,, terruusss neng”, desah pak Maman ketika aku mengemut kepala penisnya
serta menyentil-nyentilkan lidahku ke lubang kencingnya. Sementara aku melayani batang
kejantanan pak Maman dengan mulutku, aku mengocok penis pak Jono dengan tangan kananku
secara perlahan sehingga tanganku yang halus mengelus-elus penis pak Jono.
“ooohh,,aaahhh,,,ooohhhh,,,teruusss,,entotin Bunga seepppuuaasssnnyyyaaa”, desahku karena
tidak kuat merasakan sensasi luar biasa yang ditimbulkan dari pompaan 2 penis di vagina dan
anusku. Menerima serangan dari dua arah, aku pun cepat mencapai orgasme hanya dalam
waktu 14 menit, aliran cairan vaginaku tertahan oleh penis pak Bara yang sedang keluar masuk
vaginaku sehingga berbunyi kecipak air setiap kali, pak Bara memompa penisnya masuk ke
dalam vaginaku. Untungnya, aku masih kuat biarpun sudah mengalami 2 kali orgasme.
Sementara itu, pak Maman dan pak Jono menarik penis mereka jauh-jauh dari mulutku karena
mereka tidak ingin keluar cepat-cepat.
Karena tidak ada lagi penis yang harus kukulum, aku jadi bisa mendesah sepuas hati.
“mmhhhh,,,aahhhhh,,,,!!!”. Akhirnya 6 menit setelah aku mencapai orgasmeku yang kedua tadi,
aku merasakan penis pak Wawan yang sedang mengisi anusku berdenyut-denyut menandakan
kalau pak Wawan akan orgasme. Pak Wawan mempercepat sodokan penisnya terhadap anusku
yang membuatku ngos-ngosan karena penis gemuknya itu keluar masuk dengan cepat dan kuat,
padahal lubang anusku sangat sempit, tapi akhirnya aku menemukan rasa nikmat dibalik rasa
ngilu itu. Seolah tak mau kalah, pak Bara pun mempercepat genjotannya terhadap vaginaku
sehingga sekarang aku hanya bisa menutup mata sambil merasakan sensasi nikmat. Sementara
pak Bara sedang asik menikmati hangat dan sempitnya vaginaku, dan pak Wawan juga sedang
menikmati himpitan lubang anusku terhadap penisnya, aku melihat pak Jono dan pak Maman
sedang berdiri di hadapanku sambil mengocok penis mereka sendiri, sepertinya mereka sudah
tidak sabar ingin mencicipi tubuhku juga.
“aahhhh,,,nenggg,,Bunngaaa,,,bapaaakkk,,,kkkellluu aarrrr,,,,!!!”, teriak pak Bara. Dan tak lama
kemudian, pak Bara sudah menyemburkan larva putihnya yang hangat ke dalam rahimku, lalu
nafas pak Bara tersengal-sengal sehingga dia memutuskan untuk ‘merawat’ payudaraku dengan
mulutnya sambil menunggu penisnya memuntahkan semua isinya ke dalam vaginaku. Tak lama
kemudian, pak Wawan menghujamkan penisnya dalam-dalam ke anusku, dan terasa lah rasa
hangat dari sperma yang keluar dari penis pak Wawan.
“hhhh,,,neng Bunga,,,hhheebbaattt”, komentar pak Wawan yang sedang beristirahat juga
sekaligus menunggu penisnya menyemburkan sperma ke dalam anusku hingga tetes terakhir.
Setelah 2 menit beristirahat, aku bisa mengatur nafasku dan tenagaku untuk menghadapi ronde
ke dua yaitu dengan pak Maman dan pak Jono.
Pak Wawan mencabut penisnya dari anusku, begitu juga pak Bara, dia membiarkan aku berdiri.
Ternyata mereka ada maunya, aku disuruh bersimpuh di hadapan mereka dan bertumpu dengan
kedua lututku. Aku mengerti maksud mereka, maka dari itu aku langsung mengambil dua penis
yang ada di hadapanku yang berlumuran sperma dan cairan vaginaku. Aku memutuskan untuk
membersihkan penis pak Bara terlebih dahulu. Setelah penis pak Bara sudah selesai
kubersihkan, aku langsung membersihkan penis pak Wawan hingga kinclong.
Rupanya, pak Jono dan Pak Maman menyiapkan kasur dan bantal untuk menjadi tempat
pergumulan kami nanti.
“pak Bara, pak Wawan, Bunga udah bersihin ampe kinclong nih, Bunga main ama pak Jono ‘n pak
Maman dulu ya,,”, kataku.
“makasih ya neng Bunga, yaudah bapak juga mau istirahat dulu”, jawab pak Wawan. Kulihat pak
Maman sudah tidur terlentang di kasur kapuk tersebut, dan pak Jono berdiri di dekatnya. Aku
pun langsung mendekati mereka yang sudah setia menantiku.
“ayo neng Bunga, sini”, ajak pak Maman licik. Aku pun langsung berdiri di atas tubuh pak Maman
yang sudah kelihatan bernafsu sekali melihat kemolekan tubuhku yang semakin terlihat seksi
karena aku berkeringat sehabis disetubuhi oleh pak Wawan dan Pak Bara. Aku menurunkan
tubuhku sambil membimbing penis pak Maman yang sudah tak sabar ingin masuk ke dalam
vaginaku.
Karena vaginaku sudah banjir dari cairanku sendiri dan juga sperma pak Bara, penis pak Maman
jadi dengan mudah masuk melesat ke dalam vaginaku. Setelah penis pak Maman sudah hilang
ditelan oleh vaginaku, aku langsung merundukkan tubuhku agar pak Jono yang sudah menunggu
di belakangku bisa melihat letak lubang anusku dengan jelas. Tentu saja payudaraku yang
tertekan ke wajah pak Maman yang tiduran di bawah tubuhku langsung dimainkan oleh pak
Maman dengan mulut dan lidahnya.
“mmmm,,,”, desahku pelan menikmati sapuan lidah pak Maman. Sementara itu, pak Jono mulai
menyiapkan dan menaruh penisnya di depan lubang anusku yang sudah belepotan sperma dari
pak Wawan. Penis pak Jono secara perlahan tapi pasti, mulai masuk ke dalam anusku senti demi
senti yang kurasakan dengan penuh penghayatan sampai-sampai dengan tidak sadar, aku
menutup mataku. Akhirnya, kini aku sudah diisi oleh 2 penis sekaligus untuk yang kedua kalinya.
Lalu mereka mulai menggerakkan penis mereka keluar masuk tubuhku, karena vagina dan
anusku sudah dilumasi sperma, jadinya penis pak Maman dan pak Jono dengan mudah keluar
masuk vagina dan anusku.
“aahhh,,oouuummhh,,mmmhhh,,,hhhhh”, desahku karena tidak bisa menahan kenikmatan yang
sedang menyerangku. Pak Jono menghentakkan penisnya masuk ke dalam lubang anusku
dengan cepat dan kuat hingga mulai dari kepala penisnya sampai pangkal penisnya tertanam di
dalam lubang anusku, lalu dia mengeluarkan penisnya secara perlahan sehingga menimbulkan
sensasi tersendiri. Sementara itu, pak Maman menggerakkan penisnya ke dalam vaginaku
dengan sangat perlahan dan mencabutnya dengan cepat. Variasi gerakan yang berbeda dari 2
penis yang sedang keluar masuk vagina dan anusku mengantarkanku ke gerbang pintu
orgasmeku yang ketiga. Kejutan listrik alias gelombang orgasme mengalir lagi di sekujur
tubuhku untuk ketiga kalinya. Beberapa menit ke depan, yang terdengar hanya suara pompaan
penis, suara nafas pak Maman dan pak Jono yang saling memburu, dan desahanku. Sementara
itu, kulihat pak Wawan dan pak Bara sudah duduk memakai celana panjang mereka sambil
menghisap rokok dan meminum kopi dengan tontonan mereka yaitu aku yang sedang diapit 2
lelaki berkulit hitam alias pak Maman dan pak Jono.
5 menit kemudian, akhirnya pak Maman, dan pak Jono serta aku sendiri saling berlomba menuju
orgasme, dan yang paling pertama mencapai orgasme adalah pak Jono, dia menyemprotkan
spermanya ke dalam anusku sampai meleleh keluar dari anusku dan mengalir menuju lubang
vaginaku, setelah itu pak Jono beristirahat dengan penisnya masih berada di dalam anusku. 2
menit kemudian, aku sudah tidak tahan lagi sehingga aku melepaskan orgasmeku yang keempat
bersamaan dengan pak Maman yang menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku. Kini daerah
sekitar vagina dan anusku sudah banjir sperma sampai terbentuk aliran seperti aliran sungai
yang menghubungkan lubang anusku dan lubang vaginaku.
“hh,,,hhhh,,hh”, nafasku tersengal-sengal, begitu juga dengan pak Maman dan pak Jono yang
sudah menuntaskan nafsu setan mereka kepadaku. Sambil mengatur nafas, pak Jono menciumi
tengkuk leherku dengan lembut, dan pak Maman ingin melumat bibirku tapi aku menolaknya
karena aku mau mengatur nafasku dulu sehingga dia jadi menjilati leherku yang jenjang.
Setelah nafas kami bertiga sudah normal kembali, pak Jono mencabut penisnya yang sudah
lemas dari anusku, kemudian dia berdiri dan berjalan untuk mengambil bajunya. Sedangkan aku
berdiri dan mengambil pakaianku yang berserakan di depan tv yang sudah tidak menayangkan
acara bola lagi.
“udah ya bapak-bapak, Bunga pulang ya”.
“jangan dong neng Bunga”.
“kenapa? Emang bapak-bapak mau nambah?”.
“iya,,”, jawab mereka serempak.
“tapi kan anu bapak-bapak udah pada lemes kayak gitu,, lagian Bunga udah capek banget nih”.
“kalo gitu doang mah gampang, di rumah bapak punya obat kuat, gimana neng Bunga?”.
“bapak-bapak doang yang minum obat kuat, Bunga gimana? Ntar Bunga lemes dong?”.
“bapak juga punya obat kuat buat cewek, gimana neng Bunga?”.
“gimana ya?”.
“ayo dong, neng Bunga, bapak mohon, mau ya”, pinta pak Wawan pura-pura memelas.
“iya neng Bunga, temenin kita dong”, ujar pak Jono.
“iya, kan dingin kalau kita cuma berempat,, kalau ada neng Bunga kan, bisa menghangatkan diri”,
tambah pak Maman.
“huu, dasar,, yaudah deh, boleh, asal bapak-bapak mau menuhin syarat dari Bunga”.
“apaan tuh neng Bunga?”, tanya pak Bara penasaran.
“bapak-bapak jangan bilang-bilang ama orang lain ya, biar jadi rahasia kita berlima aja, gimana?”.
“yah, itu mah gak usah disuruh neng, masa’ kami bilang-bilang”, jawab pak Wawan.
“yaudah, kalo gitu, pak Bara ambil obatnya”.
“ok neng, bapak ambil obatnya dulu ya”. Pak Bara pun langsung bergegas memakai pakaiannya
yang belum dipakai, lalu secepat kilat dia menuju motornya dan memacunya kencang.
Sementara aku masih telanjang bulat dan berada di dalam pos bersama pak Wawan, pak
Maman, dan pak Jono yang sudah mulai terangsang lagi melihat tubuhku yang putih dan montok
belepotan sperma.
“eiit,, jangan,,biar adil, kita mulainya tunggu pak Bara dulu ya”.
“yah neng, kami udah gak tahan pengen ngentotin neng Bunga lagi”, kata pak Jono dengan agak
kecewa.
“yaudah, disini ada kamar mandi gak?”.
“ada tuh neng, di belakang”, jawab pak Wawan.
“yaudah, Bunga mandi dulu ya, ntar kalau udahan, Bunga panggil atu-atu ya”.
“wah, jadi kita satu per satu ngentotin neng Bunga di kamar mandi?”, tanya pak Maman.
“yee,,enak aja,, bapak-bapak cuma jilatin punya Bunga doang, tadi kan pak Bara doang”.
“yaudah,, gitu juga asik tuh”.
“tapi awas ya, kalau ada yang coba-coba mulai ronde, Bunga gak kasih jatah ntar”, ancamku.
“siip,,neng Bunga”. Lalu aku masuk dan mulai mengguyur dan membersihkan seluruh bagian
tubuhku yang sudah belepotan dengan keringat, air liur juga sperma. Lalu aku mulai memanggil
mereka satu per satu dan membiarkan vaginaku menjadi bulan-bulanan lidah mereka, bahkan
ketika masing-masing mereka bertiga sudah mendapatkan jatah untuk mencicipi rasa cairan
vaginaku, mereka bertiga masuk kembali dan menjilati seluruh tubuhku sehingga tubuhku
berlumuran air liur mereka lagi.
“aduh,, bapak-bapak bandel banget sih,, badan Bunga kan jadi kotor lagi”.
“maap deh neng Bunga”.
Lalu aku mendengar suara motor dari arah luar.
“tuh, pak Bara udah pulang, udah sana bapak-bapak keluar dulu, Bunga mau mandi lagi, biar
fresh lagi”. Pak Wawan, pak Maman, dan pak Jono keluar dari kamar mandi sehingga aku bisa
melanjutkan membersihkan tubuhku lagi. Setelah kurasa tubuhku sudah bersih dan fresh lagi,
aku keluar dari kamar mandi.
“wah, neng Bunga udah seger lagi”, komentar pak Bara.
“iya dong, buat bapak-bapak, Bunga harus segar selalu”.
“yaudah, ni neng Bunga, obatnya diminum”. Lalu aku meminum obat yang disodorkan pak Bara,
tubuhku menjadi ringan sekali setelah meminum obat itu.
“yaudah, neng Bunga mulai yuk”.
“yuk,, silakan bapak-bapak entot Bunga sepuasnya”. Lalu dimulailah ronde demi ronde
pelampiasan nafsu bejat 4 orang pria tua terhadap seorang gadis cantik dan masih muda belia
yaitu aku. Aku disetubuhi oleh 4 bapak-bapak itu di semua sudut pos ronda, juga mereka
menikmati tubuhku dengan berbagai posisi.
Karena mereka sangat ketagihan dengan himpitan vagina dan anusku, mereka mencoba ide gila
mereka yaitu aku dibawa berkeliling kompleks tanpa menggunakan sehelai benang pun,
untungnya kompleksku jika sudah lebih dari jam 2 malam lewat, benar-benar sepi. Tapi, tetap
saja aku merasa sangat kedinginan. Selama perjalanan, mereka berempat menanamkan penis
mereka ke dalam vaginaku secara bergantian sampai satu per satu dari mereka menyemburkan
benihnya ke dalam vaginaku. Kami berlima mengelilingi kompleks sebanyak 3 kali, selama
perjalanan itulah, vaginaku terus menerus disodok penis dan juga disemprot sperma oleh
mereka berempat. Selain itu, aku tidak bisa menghitung lagi sudah berapa kali aku mengalami
orgasme. Setelah kami sudah lelah, kami pun kembali ke pos ronda. Sambil beristirahat, kami
mengobrol.
“neng Bunga, dari tadi dikeluarin di dalem, apa neng gak takut hamil?”, tanya pak Bara yang
paling sering menyemprotkan spermanya ke dalam vaginaku.
“emang, bapak-bapak pada gak mau tanggung jawab kalau Bunga hamil?”.
Muka mereka terlihat pucat dan khawatir mendengar pertanyaanku itu.
“hahaha,, tenang aja bapak-bapak,, Bunga udah minum obat pencegah hamil kok”. Aku melihat
sudah jam 4.30 pagi.
“bapak-bapak, Bunga pulang dulu ya, mau tidur nih”.
“tapi, neng Bunga mau gak nemenin kami lagi?”, tanya pak Maman.
“boleh aja asal yang ngeronda bapak-bapak berempat”.
“itu mah, bisa diatur”, jawab pak Wawan yang mengatur jadwal ronda.
“iyah, tapi jangan setiap malam ya, ntar lama-lama Bunga bisa hamil”.
“gimana kalau seminggu 3 kali?”, tanya pak Jono.
“yaudah, hari Senin, Rabu, ama Sabtu malem aja ya”.
“sip neng”.
“yaudah Bunga pulang dulu ya”. Aku memakai pakaianku lagi.
“dah,,”.
“dah neng Bunga”. Aku langsung pulang ke rumah, begitu sampai di rumah, aku masuk ke dalam
dan mengunci gerbang serta pintu rumah. Akhirnya aku bisa merebahkan tubuhku yang habis
dinikmati oleh 4 pria tua, untungnya aku langsung tertidur karena besok aku harus ke sekolah
adikku untuk mengambil rapor.

Share this:

Akibat Berenang Bugil


Hari itu, sekitar jam 12 siang, aku baru saja tiba di vilaku di puncak. Pak Joko, penjaga vilaku
membukakan pintu garasi agar aku bisa memarkirkan mobilku. Pheew.. akhirnya aku bisa
melepaskan kepenatan setelah seminggu lebih menempuh UAS. Aku ingin mengambil saat
tenang sejenak, tanpa ditemani siapapun, aku ingin menikmatinya sendirian di tempat yang jauh
dari hiruk pikuk ibukota. Agar aku lebih menikmati privacy-ku maka kusuruh Pak Joko pulang ke
rumahnya yang memang di desa sekitar sini. Pak Joko sudah bekerja di tempat ini sejak papaku
membeli vila ini sekitar 7 tahun yang lalu, dengan keberadaannya, vila kami terawat baik dan
belum pernah kemalingan. Usianya hampir seperti ayahku, 50-an lebih, tubuhnya tinggi kurus
dengan kulit hitam terbakar matahari. Aku daridulu sebenarnya berniat mengerjainya, tapi
mengingat dia cukup loyal pada ayahku dan terlalu jujur, maka kuurungkan niatku.
“Punten Neng, kalau misalnya ada perlu, Bapak pasti ada di rumah kok, tinggal dateng aja”
pamitnya.
Setelah Pak Joko meninggalkanku, aku membereskan semua bawaanku. Kulempar tubuhku ke
atas kasur sambil menarik nafas panjang, lega sekali rasanya lepas dari buku-buku kuliah itu.
Cuaca hari itu sangat cerah, matahari bersinar dengan diiringi embusan angin sepoi-sepoi
sehingga membuat suasana rileks ini lebih terasa. Aku jadi ingin berenang rasanya, apalagi
setelah kulihat kolam renang di belakang airnya bersih sekali, Pak Joko memang telaten
merawat vila ini. Segera kuambil perlengkapan renangku dan menuju ke kolam.
Sesampainya disana kurasakan suasanya enak sekali, begitu tenang, yang terdengar hanya
kicauan burung dan desiran air ditiup angin. Tiba-tiba muncul kegilaanku, mumpung sepi-sepi
begini, bagimana kalau aku berenang tanpa busana saja, toh tidak ada siapa-siapa lagi disini
selain aku lagipula aku senang orang mengagumi keindahan tubuhku. Maka tanpa pikir panjang
lagi, aku pun melepas satu-persatu semua yang menempel di tubuhku termasuk arloji dan segala
perhiasan sampai benar-benar bugil seperti waktu baru dilahirkan. Setelah melepas anting yang
terakhir menempel di tubuhku, aku langsung terjun ke kolam. Aahh.. enak sekali rasanya
berenang bugil seperti ini, tubuh serasa lebih ringan. Beberapa kali aku bolak-balik dengan
beberapa gaya kecuali gaya kupu-kupu (karena aku tidak bisa, hehe..)
20 menit lamanya aku berada di kolam, akupun merasa haus dan ingin istirahat sebentar dengan
berjemur di pinggir kolam. Aku lalu naik dan mengeringkan tubuhku dengan handuk, setelah
kuambil sekaleng coca-cola dari kulkas, aku kembali lagi ke kolam. Kurebahkan tubuhku pada
kursi santai disana dan kupakai kacamata hitamku sambil menikmati minumku. Agar kulitku
yang putih mulus ini tidak terbakar matahari, kuambil suntan oilku dan kuoleskan di sekujur
tubuhku hingga nampak berkilauan. Saking enaknya cuaca di sini membuatku mengantuk,
hingga tak terasa aku pun pelan-pelan tertidur. Di tepi kolam itu aku berbaring tanpa sesuatu
apapun yang melekat di tubuhku, kecuali sebuah kacamata hitam. Kalau saja saat itu ada maling
masuk dan melihat keadaanku seperti itu, tentu aku sudah diperkosanya habis-habisan.
Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus
pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh bibir kemaluanku tiba-tiba
mataku terbuka dan aku langsung terkejut karena yang kurasakan barusan ternyata bukan
sekedar mimpi. Aku melihat seseorang sedang menggerayangi tubuhku dan begitu aku bangun
orang itu dengan sigapnya mencengkram bahuku dan membekap mulutku dengan tangannya,
mencegah agar aku tidak menjerit. Aku mulai dapat mengenali orang itu, dia adalah Taryo, si
penjaga vila tetangga, usianya sekitar 30-an, wajahnya jelek sekali dengan gigi agak tonggos,
pipinya yang cekung dan matanya yang lebar itu tepat di depan wajahku.
“Sstt.. mendingan Neng nurut aja, di sini udah ga ada siapa-siapa lagi, jadi jangan macam-
macam!” ancamnya
Aku mengangguk saja walau masih agak terkejut, lalu dia pelan-pelan melepaskan bekapannya
pada mulutku
“Hehehe.. udah lama saya pengen ngerasain ngentot sama Neng!” katanya sambil matanya
menatapi dadaku
“Ngentot ya ngentot, tapi yang sopan dong mintanya, gak usah kaya maling gitu!” kataku sewot.
Ternyata tanpa kusadari sejak berenang dia sudah memperhatikanku dari loteng vila majikannya
dan itu sering dia lakukan daridulu kalau ada wanita berenang di sini. Mengetahui Pak Joko
sedang tidak di sini dan aku tertidur, dia nekad memanjat tembok untuk masuk ke sini.
Sebenarnya aku sedang tidak mood untuk ngeseks karena masih ingin istirahat, namun
elusannya pada daerah sensitifku membuatku BT (birahi tinggi).
“Heh, katanya mau merkosa gua, kok belum buka baju juga, dari tadi pegang-pegang doang
beraninya!” tantangku.
“Hehe, iya Neng abis tetek Neng ini loh, montok banget sampe lupa deh” jawabnya seraya
melepas baju lusuhnya.
Badannya lumayan jadi juga, walaupun agak kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup
besar, seukuran sama punyanya si Wahyu, tukang air yang pernah main denganku (baca Tukang
Air, Listrik, dan Bangunan).
Dia duduk di pinggir kursi santai dan mulai menyedot payudaraku yang paling dikaguminya,
sementara aku meraih penisnya dengan tanganku serta kukocok hingga kurasakan penis itu
makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai vaginaku dan menggosok-
gosok bibirnya.
“Eenghh.. terus Tar.. oohh!” desahku sambil meremasi rambut Taryo yang sedang mengisap
payudaraku.
Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di kemaluanku. Aku mendesah
makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang
bergerak keluar masuk. Aku sampai meremas-remas payudara dan menggigit jariku sendiri
karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang
dan vaginaku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut si
Taryo yang sedang menyeruput vaginaku. Perasaan itu berlangsung terus sampai kurasakan
cairanku tidak keluar lagi, barulah Taryo melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya
basah oleh cairan cintaku.
Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas.
Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak
kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalahnya nafasnya agak bau,
entah bau rokok atau jengkol. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas
permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami
berpagutan, dia juga menjilati wajahku yang halus tanpa jerawat sampai wajahku basah oleh
liurnya.
“Gua ga tahan lagi Tar, sini gua emut yang punya lu” kataku.
Si Taryo langsung bangkit dan berdiri di sampingku menyodorkan penisnya. Masih dalam posisi
berbaring di kursi santai, kugenggam benda itu, kukocok dan kujilati sejenak sebelum
kumasukkan ke mulut.
Mulutku terisi penuh oleh penisnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk
3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala penisnya yang mirip helm itu, terkadang
juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga tubuh pemiliknya bergetar dan mendesah-desah
keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga
aku gelagapan.
“Eemmpp.. emmphh.. nngg..!” aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun
tidak dipedulikannya. Kepala penis itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku.
Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan cairan itu, tapi
karena banyaknya cairan itu meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik
keluar penisnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku, kacamata hitamku
juga basah kecipratan maninya.
Kulepaskan kacamata hitam itu, lalu kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa sperma yang
menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu terbuka dan Pak Joko muncul
dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil. Aku sendiri sempat kaget dengan
kehadirannya, aku takut dia membocorkan semua ini pada ortuku.
“Eehh.. maaf Neng, Bapak cuma mau ngambil uang Bapak di kamar, ga tau kalo Neng lagi
gituan” katanya terbata-bata.
Karena sudah tanggung, akupun nekad menawarkan diriku dan berjalan ke arahnya.
“Ah.. ga apa-apa Pak, mending Bapak ikutan aja yuk!” godaku.
Jakunnya turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke
payudaraku. Aku mengelus-elus batangnya dari luar membuatnya terangsang.
Akhirnya dia mulai berani memegang payudaraku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu
melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.
“Neng, tetek Neng gede juga yah.. enak yah diginiin sama Bapak?” Sambil tangannya terus
meremasi payudaraku.
Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka celana panjangnya, setelah itu saya
turunkan juga celana kolornya. Nampaklah kemaluannya yang hitam menggantung, jari-jariku
pun mulai menggenggamnya. Dalam genggamanku kurasakan benda itu bergetar dan mengeras.
Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi
kumasukkan batang di genggamanku itu ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga pemiliknya
mengerang keenakan
“Wah, Pak Joko sama majikan sendiri aja malu-malu!” seru si Taryo yang memperhatikan Pak
Joko agak grogi menikmati oral seks-ku.
Taryo lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kemaluannya. Secara
bergantian mulut dan tanganku melayani kedua penis yang sudah menegang itu. Tidak puas
hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian Taryo pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya
bertumpu pada lutut dan kedua tanganku. Aku mulai merasakan ada benda yang menyeruak
masuk ke dalam vaginaku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi
inci demi inci penisnya memasuki vaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok,
kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudaraku. Aku
menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada
penis Pak Joko makin bersemangat.
Rupanya aku telah membuat Pak Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku
dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya
dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku
hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya
menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Perasaan ini sungguh sulit
dilukiskan, ketika penis si Taryo menyentuh bagian terdalam dari rahimku dan ketika penis Pak
Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan payudara atau
meremasi pantatku. Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku
mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Joko.
Bersamaan dengan itu pula genjotan si Taryo terasa makin bertenaga. Kami pun mencapai
orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari
selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan.
Setelah mencapai orgasme yang cukup panjang, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti
keadaanku dan menghentikan kegiatannya.
“Neng, boleh ga Bapak masukin anu Bapak ke itunya Neng?” tanya Pak Joko lembut.
Saya cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi, “Tapi Neng istirahat aja dulu, kayanya Neng masih
cape sih”.
Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka
berdua juga ikut turun ke kolam, Taryo duduk di sebelah kiriku dan Pak Joko di kananku. Kami
mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau
mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya. Yang satu ditepis yang lain hinggap di bagian
lainnya, lama-lama ya aku biarkan saja, lagipula aku menikmatinya kok.
“Neng, Bapak masukin sekarang aja yah, udah ga tahan daritadi belum rasain itunya Neng” kata
Pak Joko mengambil posisi berlutut di depanku.
Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala merestuinya, dia arahkan penisnya
yang panjang dan keras itu ke vaginaku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi
menggesekannya pada bibir kemaluanku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas penis
Taryo yang sedang menjilati leher di bawah telingaku.
“Aahh.. Pak cepet masukin dong, udah kebelet nih!” desahku tak tertahankan.
Aku meringis saat dia mulai menekan masuk penisnya. Kini vaginaku telah terisi oleh benda
hitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak keluar masuk memberi sensasi nikmat ke
seluruh tubuh.
“Wah.. seret banget memeknya Neng, kalo tau gini udah dari dulu Bapak entotin” ceracaunya.
“Brengsek juga lu, udah bercucu juga masih piktor, gua kira lu alim” kataku dalam hati.
Setelah 15 menit dia genjot aku dalam posisi itu, dia melepas penisnya lalu duduk berselonjor
dan manaikkan tubuhku ke penisnya. Dengan refleks akupun menggenggam penis itu sambil
menurunkan tubuhku hingga benda itu amblas ke dalamku. Dia memegangi kedua bongkahan
pantatku yang padat berisi itu, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami.
Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak
terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua payudaraku yang terguncang-guncang
tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Pak Joko memperhatikan penisnya sedang keluar
masuk di vagina seorang gadis 21 tahun, anak majikannya sendiri, sepertinya dia tak habis pikir
betapa untungnya berkesempatan mencicipi tubuh seorang gadis muda yang pasti sudah lama
tidak dirasakannya.
Goyangan kami terhenti sejenak ketika Taryo tiba-tiba mendorong punggungku sehingga
pantatku semakin menungging dan payudaraku makin tertekan ke wajah Pak Joko. Taryo
membuka pantatku dan mengarahkan penisnya ke sana
“Aduuh.. pelan-pelan Tar, sakit tau.. aww!” rintihku waktu dia mendorong masuk penisnya.
Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua batang penis besar. Kami kembali
bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat yang
menjalari tubuhku. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika Taryo menyodok pantatku dengan kasar,
kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, Taryo malah makin buas
menggenjotku. Pak Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku
tidak terlalu ribut.
Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau
meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Joko erat-erat sampai
kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya
melemas kembali dalam dekapan Pak Joko. Namun mereka masih saja memompaku tanpa
peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak
bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas,
serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Joko, dan Taryo
menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan
anusku, di air nampak sedikit cairan putih susu itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai
lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap.
Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil
mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Eh.. ternyata mereka
mengikutiku dan memaksa ikut mandi bersama. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka
senang. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku
tentunya sambil menggerayangi. Bagian kemaluan dan payudaraku paling lama mereka sabuni
sampai aku menyindir
“Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih” disambut
gelak tawa kami.
Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi,
akupun kembali digarap di kamar mandi.
Hari itu aku dikerjai terus-menerus oleh mereka sampai mereka menginap dan tidur denganku di
ranjang spring bed-ku. Sejak itu kalau ada sex party di vila ini, mereka berdua selalu diajak
dengan syarat jangan sampai rahasia ini bocor. Aku senang karena ada alat pemuas hasratku,
mereka pun senang karena bisa merasakan tubuhku dan teman-teman kuliahku yang masih
muda dan cantik. Jadi ada variasi dalam kehidupan seks kami, tidak selalu main sama teman-
teman cowok di kampus. Lain hari aku akan menceritakan bagaimana jahilnya aku mengerjai
teman-teman kuliahku sehingga mereka jatuh ke tangan Pak Joko dan Taryo dan juga
pengalaman-pengalamanku lainnya, harap sabar yah, soalnya kan aku juga sibuk, tidak bisa
terus-terusan menulis di 17Tahun.com.
END
###########################
Kunjungi lapak Shusaku di tempat baru  di sini
Share this:

Anda mungkin juga menyukai