Anda di halaman 1dari 14

Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Pengaturan Corporate Social Responsibility

dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 40 tahun 2007 tentang Perseroan


Terbatas

“Revitalisasi Hukum- jalan utama- Demokratisasi korporasi”

Oleh: Trisoko Sugeng S/081244/PS/MIH

SOSIOLOGI HUKUM

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA


2008
I PENDAHULUAN

Sebelum diundangkannya Undang-Undang Republik Indonesia No 40 tahun 2007

tentang Perseroan Terbatas (UU PT) banyak korporasi mengklaim kegiatan

philantropik/kedermawanan serta Community Development yang dilakukan, sebagai

Corporate Social Responsibility (CSR)1. Padahal berbarengan dengan klaim CSR yang

mereka lakukan. Banyak indikasi Perusahaan-Perusahaan tersebut melakukan

pelanggaran hukum dan merugikan masyarakat secara luas seperti pelanggaran terhadap

1
Sebagai contoh : PT. KEM (Kelian Equatorial Mining) diantaranya PT KEM melakukan
kegiatan-kegiatan lingkungan khusus seperti: Berpartisipasi aktif dalam Hari Kebersihan Dunia.
Bersamaan dengan Kampanye Kebersihan Dunia. tahun 2004 yang dilaksanakan pada 24-27
September 2004, PT KEM melakukan kerjasama dengan Dinas Lingkungan dan Dinas
Pendidikan Kutai Barat., mengadakan kampanye gerakan kebersihan, dan kegiatan kebersihan
seperti: membersihkan lingkungan sekitar, mengumpulkan sampah dan membuangnya ke tempat-
tempat pembuangan yang sudah ditentukan. Lokasi-lokasi yang dibersihkan antara lain lokasi
tambang KEM, sekolah-sekolah, pasar-pasar dan kampung-kampung di Kecamatan Damai, Kutai
Barat. www.keliangold.com, anonym, laporan tanggung jawab sosial perusahaan, tahun 2004
diakses tanggal 3 januari 2008 pukul 09.00
• PT Kaltim Prima Coal (KPC) diantaranya mengadakan pengembangan agribisnis seperti jeruk,
durian, coklat dan tanaman pangan. PT KPC mengadakan budi daya ikan air tawar dengan dihadiri
kepala dinas dan kelautan beserta Staff, setelah itu PT KPC memberikan 1000 ekor benih ikan
mas pada setiap masyarakat. www.kaltimprimacoal.com, laporan pembangunan keberlanjutan
2006, diakses tanggal 3 januari 2008 pukul 9.30
• PT NMR (Newmont Minahasa Raya) diantaranya pada tahun 1995 menyanangkan program
beasiswa. Program ini telah membantu lebih dari 500 pelajar sekolah dasar, menengah pertama
dan menengah atas serta universitas untuk menyelesaikan pendidikan mereka.
• PT Freeport diantaranya membiayai sebuah rumah sakit besar setempat, berkapasitas 101 tempat
tidur. Rumah sakit itu pada akhirnya dimiliki masyarakat setempat, serta dikelola oleh organisasi
pelayanan kesehatan Yayasan Caritas Timika. Rumah sakit itu melayani warga dari tujuh suku asli
yang menghuni daerah itu. PT freport juga mendirikan sejumlah klinik yang terdapat di lokasi
terpencil sekitar, melayani ribuan pasien setiap minggunya. Untuk memerangi malaria dan
penyakit menular seperti TBC dan HIV/AIDS diadakan program pendidikan HIV/AIDS yang
ditujukan bagi karyawan maupun masyarakat setempat. www.ptfi. co.id , anonym , Working
Toward Sustainable Development, diakses pada tanggal 6 januari 2008 pukul 22.00
tenaga kerja, pencemaran dan perusakan lingkungan, serta pelangaran Hak Asasi

Manusia.2

Tahun 2007 dibentuklah UUPT dimana salah satu pasalnya mengatur tentang

CSR. Dari proses perancangan hingga disahkan UU tersebut, Pengaturan CSR

2
PT Freeport menghasilkan limbah tailing yang sekiranya diekspor ke Jawa, bisa menenggelamkan
Jakarta, Depok, dan Bekasi sekaligus. Masing-masing dengan kedalaman lima meter.Sementara
suku-suku yang hidup disekitar pertambangan Freeport hidup tanpa rasa aman, terus di intimidasi,
mengalami ketegangan serta pelanggaran HAM. Selain itu PT Freeport Indonesia juga menutup
kawasan pertambangan dari pihak yang tidak memiliki kepentingan sehingga masyarakat
Amungme sebagai pemegang hak adat gunung Esteberg tidak bisa pergi ke gunung Estbreg yang
merupakan tempat pemujaan atau dugu-dugu bagi orang disana.( www.watchterminal.net,jatam,
salamatkan asset bangsa, selamatkan rakyat Papua dan Anonim, Tanggung Jawab Bisnis pada
Ham: mempertanyakan peran negara,CSR review, Edisi VII/Tahun /1/November-Desember 2006.
serta Yusuf wibisono , Membedah konsep dan Aplikasi CSR, (Gresik : fascho Publising ,
2007,hlm 52-53)
• Media Massa di Indonesia pada tahun 2004 gencar memberitakan pencemaran yang dilakukan PT
Minahasa Raya (NMR). PT NMR yang mulai beroprasi pada tahun 1996 tercatat membuang 2000
ton lumpur tailing setiap harinya ke perairan teluk Buyat. Tailing inilah yang diperkirakan
mengandung berbagai logam berbahaya seperti: Hg, Mn, As, dan sebagainya. Pencemaran di teluk
Buyat telah terindikasi mengakibatkan bencana ekologis seperti rusaknya ekologi laut dan
hilangnya puluhan spesies ikan yang menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Buyat.
Penduduk lokal, juga mengalami berbagai gejala penyakit yang tidak pernah mereka alami
sebelumnya. Henry Heyneardhi, Kritis Memahami CSR, (Surakarta : 2005 ) BWI , hlm 15-18
• Pengerusakan yang dilakukan oleh Kalitim Prima Coal (KPC) terhadap wilayah yang diklaim
menjadi bagian dari wilayah kuasa pertambangan meyebabkan konflik antara kelompok Tani
Bersatu dea Sepaso di Kecamatan Bengalon Kabupaten Kutai Timur dengan KPC. Konflik yang
telah berlangsung lebih kurang selama 2 tahun telah memberikan penderitaan yang cukup berat
terhadap kehidupan keluarga petani kelompok tani bersatu, dimana pihak KPC telah menggunakan
tangan-tangan pemerintah dan aparat keamanan telah menekan dan mengintimidasi bahkan
beberapa orang pengurus kelompok tani bersatu telah di panggil ke POLRES KUTIM dengan
tuduhan melakukan pemerasan dan penganiayaan yang tidak pernah mereka lakukan.
http://www.jatam.org
• PT Kelian Equatorial Mining (KEM) beroperasi di sebuah kawasan terpencil di Kabupaten Kutai
Barat, Kalimantan Timur, Indonesia. Dalam operasinya, PT KEM teridentifikasi telah
menyebabkan beberapa hal, yaitu: menggunakan bahan Sianida dan drainase batu asam yang
berakibat pada tersumbatnya saluran air sungai di Sangatta. Dampaknya, masyarakat lokal tidak
bisa menangkap ikan di sungai, kasus penggusuran paksa penduduk setempat yang melibatkan
aparat militer dan polisi untuk mengusir paksa sekitar kurang lebih empat ratus keluarga dari
tempat tinggalnya tanpa persetujuan terlebih dahulu terkait prosedur penutupan tambang, Rio
Tinto telah mengabaikan kewajiban untuk memperbaiki kembali atau mereklamasi 450 hektar
lubang tambang dan penumpukan limbah, tujuh belas kasus dari dua puluh satu kasus yang
dilaporkan sebagai pelecehan seksual, perkosaan, atau hubungan seksual di bawah tekanan
psikologis tercatat, 16 kasus. Diduga pelakunya adalah karyawan PT. KEM, enam kasus yang
terjadi, pelakunya adalah orang dengan inisial AH, pimpinan PT. KEM tertinggi saat
ituwww.jatam.org
menimbulkan pro dan kontra. Ada pihak yang menanggapi secara optimis 3 maupun

pesimis.4 Kontra yang dilancarkan antara lain bahwa pengaturan CSR akan menghambat

investasi dan pengaturan CSR adalah sesuatu yang tidak tepat karena CSR ada dalam

ranah etika/self regulation. Sedangkan bagi pihak yang Pro terhadap pengaturan CSR

berpendapat bahwa pengaturan CSR merupakan salah satu cara menyelesaikan berbagai

permasalahan di Indonesia

III RUMUSAN MASALAH

Bagaimana Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Pengaturan Corporate Social


Responsibility dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 40 tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas ?

III PEMBAHASAN

A Keberadaan (kekuasaan) Korporasi di dalam Masyarakat

Didalam masyarakat terdapat berbagai kekuasaan. Ada 3 kekuasaan terbesar yang ada

didalam masyarakat yaitu kekuasaan Negara, privat (korporasi) dan juga kekuasaan

Komunitas. Kekuasaan tersebut bersifat poli-sentris dan asimetres, akan tetapi beberapa

pusat kekuasaan jauh lebih digdaya (powerfull) dibanding lainnya(powerless)5.

Saat ini beberapa perusahaan kekuatan financialnya melebihi dari suatu Negara. Pada

tahun 2001 exxon mobil dengan kekayaan 1991,58 juta USD melebihi kekayan ekonomi

Turki, kekayaan Shell Group melebihi ekonomi Norwegia, kekayaan Mitsubishi Jepang

3
www.hukum online.com, Membedah Jeroan RUU Perseroan Terbatas diakses pada tanggal 26 agustus
2007 pukul 23.00
4
www.hukum online.com , 'Pencangkokan Konsep yang Kurang Matang' RUU PT diakses pada tanggal 26
agustus 2007 pukul 23.30.
5
Demokratisasi Kekuasaan Korporasi,Widya sari press, Surakarta:2003 hal 30
lebih besar dari ekonomi Finlandia dll.6 Kekuatan financial Perusahaan terlebih TNC.

(Trans national corporation) dan MNC (multinational Corporation) menyebabkan negara,

terlebih negara berkembang membuka ruang investasi. Investasi yang dilakukan

diharapkan membantu ekonomi negara. Melalui ketersediaan lapangan kerja, tranfer

teknologi, pembayaran pajak kepada negara asal, serta efek domino dari perputaran uang

yang dipicu aktivitas usaha. Investorpun mengambil banyak keuntungan dengan

ketersediaan tenaga kerja yamg murah, ketersediaan bahan baku produksi dan akses pasar

yang lebih luas. Keuntungan yang diterima negara tujuan, melalui investasi asing adalah

akibat yang wajar dari aktivitas korporasi untuk memperoleh keuntungan. Tetapi patut

disayangkan, untuk memancing investasi, Negara tidak hanya memberi insentif dalam

bentuk instrument ekonomi seperti fiscal dan bea, tetapi juga memperlemah regulasi

seperi, peraturan yang memberi perlindungan terhadap buruh dan lingkungan7 Karenanya

wajar apabila dunia internasional saat ini kurang ”menghormati” hukum negara dan

berakibat munculnya beberapa inisiatif CSR/standar-standar. Baik yang berdasarkan

Inisiator Seperti dari bisnis, yaitu (FSC), dari NGO ( fair trade, IfOAM) dari

Multistakeholders Forum ( AA 1000, RSPO ) dari Badan Multilateral (OECD guidlines),

dari UN ( UN Global Compact ) Maupun Berdasarkan Issue Seperti, SA 8000

( perburuhan ) ISO 14000 ( Lingkungan), Berdasarkan Sektor Industri: Equator

principles (Keuangan/Perbankan) FSC ( Hutan/kayu / mebel) dan lain-lain.

B. Corporate Social Responsibility / Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan


6
John cavanagh,The rise of corporate power, Institute for policy studies,2002 dan Yanuar
Nugroho,Demokratisasi Kekuasaan Korporasi,Widya sari press, Surakarta:2003
7
http://www.foodfirst.org/en/node/57, Moude Barlow,water as commodity-the wrong prescription-
Backgrounder, summer 2001 , vol 7, no 3
Pasal 1 ayat 3 UUPT mengatur Tanggung jawab Sosial dan lingkungan adalah komitmen

Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna

meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan

sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.” definisi ini seirama

dengan definisi yang di berikan oleh The World Business Council for Sustainable

Development (WBCSD) yang mendifinisikan CSR sebagai Komitmen dunia usaha untuk

terus menerus bertindak etis, beroprasi secara legal, dan berkontribusi untuk peningkatan

ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya

sekaligus, juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara luas.

European Union (EU) sebagai organisasi yang memberikan perhatian khusus

terhadap CSR mendefinisikan CSR sebagai suatu konsep, yang menyatakan bahwa

perusahaan bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkannya pada semua

stakeholders terkait. CSR adalah komitmen terus-menerus dari bisnis untuk berperilaku

adil dan bertanggung jawab dan meningkatkan kualitas hidup pekerja dan keluarga serta

masyarakat setempat pada umumnya.

Sejalan dari kedua definisi tersebut. Business for social responsibility

memberikan suatu definisi yang lebih luas dan mendalam. Menurut Business for social

responsibility“CSR adalah menjalankan bisnis dengan cara yang memenuhi atau

melampaui ekspetasi etis, legal, komersial maupun ekspetasi publik dari masyarakat atau

bisnis. CSR lebih dari sekedar praktek terpisah-pisah atau respon sewaktu-waktu, maupun

prakarsa yang didorong oleh keuntungan marketing, kehumasan, atau keuntungan bisnis

lainnya.Lebih dari itu CSR adalah seluruh rangkaian kebijakan, praktek dan program
yang terintegrasi dalam keseluruhan operasi bisnis serta proses pengambilan keputusan

yang didukung dan diarahkan manajemen puncak. 8

Sedangkan di Indonesia terdapat berbagai definisi, diantaranya yang dikeluarkan

oleh CSR Indonesia dan BWI (The Business Wacth Indonesia). CSR Indonesia

mendefinisikan CSR sebagai “Upaya sungguh-sungguh dari entitas bisnis untuk

meminimumkan dampak negatif dan memaksimumkan dampak positif operasinya

terhadap seluruh pemangku kepentingan dalam ranah ekonomi, sosial, dan lingkungan

untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.9 Sedangkan dalam salah satu

makalahnya, Bisnis Wacth Indonesia mendefinisikan CSR sebagai komitmen perusahaan

pada perilaku etis. Etis yang dimaksud adalah adil (fair) dan bertanggung jawab pada

stakeholders (pemangku kepentingan), berkontribusi pada masyarakat. Dengan demikian

CSR juga berarti mengurangi dampak negatif pada masyarakat dan mengupayakan

dampak positif pada masyarakat.10

Dari beberapa difinisi diatas nampak bahwa CSR memiliki unsur-

unsur penting yaitu:

1. Komitmen Perusahaan

2. Perilaku etis perusahaan yang terdiri atas :

a.. Mengurangi dampak negatif:

1) Menaati hukum

8
BWI , Menuju praktek CSR , Surakarta , September 2007 (non Publikasi )
9
www.csrindonesia.com diakses 5 april 2007
10
BWI .op.cit. hlm 6.
2) Bertindak etis sehingga tidak merugikan masyarakat maupun

lingkungan, walaupun hal itu belum diatur oleh regulasi ( perusahaan

berkomitmen tidak mencari celah hukum )

b.. Memberikan dampak positif pada masyarakat dengan cara

melakukan kegiatan yang bersifat Charity yang berbentuk

Community Development ataupun kegiatan karikatif

Sehingga jelas bahwa CSR yang dimaksud dalam UU PT tidaklah sama dengan

kegiatan philantropik ataupun community development yang sekedar mengalokasikan

laba perusahaan untuk membatu masyarakat yang membutuhkan. Baik dengan cara

memberi ikan secara langsung atau memberi kail” terkebih apabila kita mengacu pada

pasal 74 UU PT

74 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas. Dalam

ketentuan itu mengatur sebagai berikut:

1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan /


atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab
sosial dan lingkungan.
2. Tanggung jawab Sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan
diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaanya dilakukan dengan
memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
3. Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab sosial dan
lingkungan diatur dengan Peraturan pemerintah.

Sedangkan Penjelasan pasal 74 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 Tentang

Perseroan Terbatas, menyatakan:

Ayat (1)
Ketentuan ini bertujuan untuk tetap menciptakan hubungan
perseroan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan,
nilai, Norma dan masyarakat setempat.
Yang dimaksud dengan “perseroan yang menjalankan kegiatan usaha
dibidang sumber daya alam”adalah Perseroan yang kegiatan
usahanya mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam.Yang
dimaksud dengan “ Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya
yang berkaitan dengan sumber daya alam “adalah Perseroan yang
tidak mengelola dan tidak memanfaatkan sumber daya alam, tetapi
kegiatannya berdampak pada fungsi kemampuan sumber daya alam.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3) Yang dimaksud dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan “adalah dikenai segala bentuk sanksi
yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang terkait.
Ayat (4)
Cukup jelas

C. Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Pengaturan Corporate Social


Responsibility dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 40 tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas

Klaim ”CSR” yang dilakukan oleh korporasi. Memiliki implikasi buruk atas

wacana masyarakat terhadap keberadaan korporasi. Kekuasaan korporasi yang tidak

diikuti kontrol kuat11 membuat korporasi bertindak tanpa kendali. Terlebih ketika klaim

”CSR” yang dilakukan oleh korporasi. Di ”besar-besarkan” dengan aneka reportase

sepihak yang membuat wacana bahwa korporasi yang melakukan ”CSR” merupakan

11
Sebagai contoh penelitian yang pernah di lakukan di Amerika menunjukkan hasil yang mengejutkan.
Pada tahun 1973 sampai dengan tahun 1991, 1.527 juta orang kehilangan nyawa akibat dari tindakan secara
langsung Pemerintah Federal dan negara bagian, kematian tersebut diakibatkan oleh penjatuhan hukuman
mati karena kejahatan serius dan kehilangan nyawa dalam konflik militer. Sedangkan dalam periode yang
sama dalam bidang industri, menyebabkan korban kematian sebanyak 156 kali jumlah diatas, yaitu
sebanyak 239.300 korban nyawa. Kematian tersebut terjadi ditempat kerja. Masih ada tambahan sejumlah
kematian yang tidak diketahui akibat polusi industri, makanan, obat beracun, peralatan dan perlengkapan
berbahaya.Akan tetapi 239.300 korban nyawa akibat praktek buruk perusahaan swasta tidak menyebabkan
gejolak publik, tak ada demonstrasi nasional, dan tidak ada kecaman politis. Padahal sejumlah 1527 orang
kehilangan nyawa akibat tindakan pemerintah menyebabkan perlawanan oleh warga secara besar-besaran,
demonstrasi masa menentang perang di Vietnam dan penerapan hukuman mati mampu menjadi isu besar
dalam pemilihan Gubernur.( Ralp estes, tyranny of the bottom line (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama,
2005), hlm, 108)
korporasi yang baik, peduli pada lingkungan dan sosial. Apabila kita comparasikan

dengan data atau reportase yang disampaikan pihak independen, terlebih dari NGO

hasilnya akan berbanding terbalik.

Apabila kita kaji lebih jauh, sebenarnya kegiatan yang dilakukan oleh korporasi

”bukanlah CSR” melainkan Community Development ataupun kegiatan philantropik.

Selain itu, secara konseptual apa yang dilakukan oleh korporasi, Tidaklah rasional dan

cenderung melakukan apa yang disebut dengan tindakan lipservice. Mereka mengklaim

peduli pada masyarakat dan lingkungan. Tetapi diwaktu yang bersamaan mereka

melakukan pelanggaran hukum, ataupun melakukan tindakan yang tidak etis. Tetapi yang

disampaikan kemasyarakat hanyalah dampak positif yang dilakukan oleh korporasi.

Padahal yang harus dilakukan korporasi adalah meminimalisir dampak negatif dan

mendorong korporasi. Inilah konsep CSR yang benar.

Dalam penyusunan RUU PT , klausul tentang CSR baru muncul saat pembahasan

ditingkat panja dan pansus DPR. Pada konsep awal yang diajukan pemerintah, tidak ada

pengaturan soal CSR. Begitu juga waktu rapat dengar pendapat DPR dengan sejumlah

pelaku usaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan Asosiasi

Pengusaha Indonesia (Apindo)12. Hal ini menunjukan adanya manuver politik yang

melibatkan anggota DPR RI13 untuk memasukan klasul yang ”PRO terhadap kepentingan

minor”

Wajar apabila UU PT tidak memiliki naskah akademik . Hal ini dikarenakan

penyusunan UU PT kental sekali dengan aspek politis dan sosiologis. Dimana pihak-

pihak yang memiliki power. Ingin mempengaruhi isi dari UU PT. Ada yang menolak dan

12
www.hukumonline.com anaonym. CSR kegiatan sukarela yang wajib diatur.
13
ingin mengubah klausul tentang CSR. Tetapi klausul tentang CSR tetap terumus seperti

yang kita lihat didalam pasal 1 ayat 3 dan pasal 74 UU PT..

Penulis beranggapan bahwa pengaturan CSR memiliki ”nilai” yang kuat dalam

memberikan perlindungan bagi pihak-pihak minor dan menuju demokratisasi korporasi.

Dan memiliki landasan teori yang cukup kuat yaitu ingin mengkover kelemahan hukum

akibat keinginan negara ingin menarik investasi dari suatu korporasi, seperti yang

dikatakan maude barlow dalam journalnya. Selain itu sebagai langkah jitu sebagai

tindakan awal dalam melakukan demokratisasi sentral kekuasaan saat ini.

Tetapi dalam prespektif hukum. Penyusunan Pasal 74 UU PT lemah dalam

memberikan kepastian hukum. Secara redaksional amburadul dan secara substansi ingin

mengkover ranah yang cukup luas, menyangkut kriteria etis dan melingkupi seluruh

aktifitas bisnis. Beberapa kelemahan sebagai berikut.

1. definisi CSR dalam UU PT merupakan komitment dan komintmen bukanlah

konsep hukum hal ini bertrentangan UU PT

2. redaksional ayat 2 pasal 74 diantaranya ”Perseroan yang dianggarkan dan

diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaanya dilakukan dengan

memperhatikan kepatutan dan kewajaran.” Biaya pelaksanaan CSR diambil dari

biaya perseroan , menunjukkan bahwa CSR yang dimaksud dalam UU PT adalah

CSR yang dilaksanakan dalam core business bukan merupakan kekitan

philantropik ataupun community development. Penggunaan istilah kepatutan dan

kewajaran, memberikan ketidak jelasan pada pelaksanaan kegiatan CSR


3. Dan yang paling irasional dalam prespektif hukum adalah pengaturan CSR sesuai

konsep sebenarnya ( sesuai unsur-unsur yang di uraikan penulis) bagaimana

mungkin mengatur segala kegiatan etis yang belum diatur hukum dalam satu

pasal. Secara posivistik penulis berpendapat, ini aturan yang tidak bermuatkan

kepastian hukum.

Memandang Pengatur CSR dalam UU PT dalam prespektif lain, terlebih dalam

konteks sosiologi hukum. Akan memberikan penilaian yang berbeda terhadap pasal

yang mengatur klausul UU PT. Secara sosiologis Pengaturan CSR dibutuhkan untuk

mengimbangi wacana tentang CSR yang selama ini didominasi sektor bisnis,

mengkritisi aktivitas yang dilakukan oleh bisnis, serta melindungi masyarakat dan

lingkungan dari aktivitas perusahaan. Masyarakat membutuhkan peraturan ini.

Walaupun dalam prespektif hukum ”positivistik” pengaturan CSR memiliki

kelemahan yang fatal.

UU PT terlebih klasul tentang CSR belum dapat di jalankan karena masih bersifat

umum (belum ada peraturan pelaksana) dan dan ada beberapa pihak yang ingin

mengajukan uji materil ke Mahkamah konstitusi. Tetapi pada kenyataannya

pengaturan CSR memiliki Side effect dan memberikan ruang bagi pihak-pihak yang

ingin melakukan advokasi terhadap aktivitas negatif perusahaan.

Side effet ini, tidak akan pernah ada tanpa pengaturan CSR. Dimana banyak pihak

menyelenggarakan diskusi tentang CSR, seminar, penulisan artikel, buku dan lain-

lain.14 Sehingga ada beberapa kalangan bisnis yang mulai mengerti makna CSR

sebenarnya.15

14
Penulis melakukan pengamatan sebelum dan sesudah UU PT disahkan.
15
Seminar yang diadakan oleh the Business Watch Indonesia ““MENGAKOMODASI KEPENTINGAN
PARA PIHAK DALAM IMPELEMENTASI CSR “HOTEL CEMARA . JAKARTA ( 25 Februari 2008)
Selain itu, pengaturan CSR memberikan ruang bagi kelompok tertentu lebih-lebih

melalui LSM/NGO untuk melakukan tekanan terhadap korporasi walaupun

pengadilan telah memutuskan suatu korporasi yang memberikan dampak negatif

pada masyarakat, tidak bersalah. Karena korporasi dapat membangun Isu-Isu CSR

yang didasarkan atas pengaturan CSR didalam UU PT.

IV. KESIMPULAN

Talcott Person pernah menyampaikan bahwa hukum tidak berada di ruang hampa,

tetapi hukum dipengaruhi faktor lain, seperti politik, ekonomi maupun budatya. Hal

itu nampak pada pengaturan klausul tentang CSR. Melalui manuver politik dan

tidakan yang dilakukan pihak tertentu. Klausul tentang CSR berhasil dimaukkan

dalam UU PT. Walaupun secara positivitik pengaturan CSR ”amburadul”,

”mengada-ada” dan tidak memberikan kepastian hukum. Tetapi keberadaan klausul

ini tetap dibutuhkan oleh masyarakat (minor) karena memberikan kemanfaatan dan

keadilan. Dan merupakan jalan utama untuk menuju demokratisasi sektor bisnis di

Indonesia.