Anda di halaman 1dari 49

Laporan pendahuluan

Asuhan Keperawatan Gangguan Rasa Nyaman Nyeri


Pada Ny.R dengan DX Medis Tumor Otak

DISUSUN OLEH :

Nama : LYDIA PUTRI AYU NINGSIH


NIM : 19022

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
DR. SISMADI TA 2020/2021
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Mahakuasa karena telah memberikan
kesempatan pada penulis untuk menyelesaikan laporan pendahuluan ini. Atas
rahmat dan hidayah-Nya lah penulis dapat menyelesaikan laporan pendahuluan
yang berjudul “Tumor otak“ tepat waktu.
Laporan pendahuluan “Tumor Otak“ disusun guna memenuhi tugas
Praktek Klinik di STIKes dr.Sismadi. Selain itu, penulis juga berharap agar
makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca tentang “Tumor Otak“.
Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak/Ibu
selaku dosen mata kuliah. Tugas yang telah diberikan ini dapat menambah
pengetahuan dan wawasan terkait bidang yang ditekuni penulis. Saya juga
mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu proses
penyusunan makalah ini.
Saya menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang membangun akan penulis terima demi kesempurnaan
makalah ini.

Lydia Putri Ayu Ningsih

i
BAB   I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tumor disebabkan oleh mutasi DNA di dalam sel. Akumulasi dari
mutasi-mutasi tersebut menyebabkan munculnya tumor. Sebenarnya sel
tubuh memiliki mekanisme perbaikan DNA (DNA repair) dan mekanisme
lainnya yang menyebabkan sel merusak dirinya dengan apoptosis jika
kerusakan DNA sudah terlalu berat. Apoptosis adalah proses aktif
kematian sel yang ditandai dengan pembelahan DNA kromosom,
kondensasi kromatin, serta fragmentasi nukleus dan sel itu sendiri. Mutasi
yang menekan gen untuk mekanisme tersebut biasanya dapat memicu
terjadinya tumor atau kanker.
Tumor otak terjadi karena adanya proliferasi atau pertumbuhan sel
abnormal secara sangat cepat pada daerah central nervous system (CNS).
Sel ini akan terus berkembang mendesak jaringan otak yang sehat di
sekitarnya, mengakibatkan terjadi gangguan neurologis (gangguan fokal
akibat tumor dan peningkatan tekanan intrakranial). Tumor Otak adalah
sebah lesi yang terletak pada intrakranial yang menempati ruang didalam
tengkorak. Tumor-tumor ini tidak hanya akan selalu berkembang sebagi
sebuah massa yang berbentuk bola (jinak) tetapi juga dapat tumbuh
menyebar (ganas). Tumor intracranial meliputi lesi benigna dan maligna.
Tumor intracranial dapat terjadi pada beberapa struktur area otak dan pada
semua kelompok umur.
Penderita Tumor Otak mengalami trias gejala Tumor Otak yaitu
nyeri kepala, muntah dan ditemukannya edema papil pada pemeriksaan
fundus. Tetapi sebenarnya gejala klinis Tumor Otak sering tidak sejelas
itu, apalagi pada fase dini. Tumor Otak bisa memberikan gejala klinis
beragam tergantung kepada lokasi dan ukurannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi Tumor Otak?
2. Apa etiologi Tumor Otak ?
3. Bagaimana patofisiologi Tumor Otak?
4. Apa saja tanda dan gejala Tumor Paru?
5. Bagaimana prosedur diagnostik penyakit Tumor Otak
6. Bagaimana penatalaksanaan penyakit Tumor Otak?
7. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan Tumor Otak?

C. Tujuan
1. Mengetahui definisi Tumor Otak
2. Mengetahui etiologi Tumor Otak
3. Mengetahui patofisiologi Tumor Otak
4. Mengetahui tanda dan gejala penyakit Tumor Otak
5. Mengetahui penatalaksanaan penyakit Tumor Otak
6. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan Tumor Otak
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Penyakit Tumor Otak


A. Definisi Tumor Otak
Tumor intrakranial (termasuk lesi deask ruang bersifat jinak maupun
ganas, dan timbul dalam otak, meningen, dan tengkorak. Tumor otak
berasl dari jaringan neuronal, jaringan otak penyokong, system
retikuloendotelial, lapisan otak, dan jaringan perkembangan residual,
atau dapat bermetastasis dari karsinoma sistemik. Metastasis otak
disebabkan oleh keganasan sistemik dari kanker paru, payudara,
melanoma, limfoma, dan kolon.
Tumor otak dapat terjadi pada setiap usia, dapat terjadi pada anak usia
kurang dari 10 tahun, tetapi paling sering terjadi pada dewasa usia
dekade kelima dan enam. Pasien yang bertahan dari tumor otak ganas
jumlahnya tidak berubah banyak selama 20 tahun terakhir. (Silvia A.
Price : 1183)
Sebuah tumor otak merupakan sebuah lesi yang terletak pada
intrakranial yang menempati ruang di dalam tengkorak. Tumor-tumor
selalu bertumbuh sebagi sebuah massa yang berbentuk bola tetapi juga
dapat tumbuh menyebar, masuk ke dalam jaringan. Neoplasma terjadi
akibat dari kompresi dan infiltrasi jaringan. Akibat perubahan fisik
bervariasi, yang menyebabkan beberapa atau semua kejadian
patofisiologi sebagai berikut.
• Peningkatan tekanan intracranial (TIK) dan edema serebral
• Aktivitas kejang dan tanda-tanda neurologis fokal
• Hidrosefalus
• Gangguan fungsi hipofisis
(Brunner & Suddarth : 2167)
B. Etiologi
Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti
walaupun telah banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-
faktor yang perlu ditinjau, yaitu:
1. Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan
kecuali pada meningioma, astrocytoma dan neurofibroma dapat
dijumpai pada anggota-anggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau
penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai manifestasi
pertumbuhan baru memperlihatkan faktor familial yang jelas.
Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-bukti yang
kuat untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang kuat
pada neoplasma.
2. Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-
bangunan yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi
dalam tubuh. Ada kalanya sebagian dari bangunan embrional
tertinggal dalam tubuh menjadi ganas dan merusak bangunan di
sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada
kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.
3. Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat
mengalami perubahan degenerasi namun belum ada bukti radiasi
dapat memicu terjadinya suatu glioma. Meningioma pernah
dilaporkan terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.
4. Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan
besar yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran
infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma tetapi hingga saat
ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan
perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.
5. Substansi-substansi karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas
dilakukan. Kini telah diakui bahwa ada substansi yang
karsinogenik seperti methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini
berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan.
6. Trauma Kepala
Cedera kepala dapat menimbulkan tumor otak jika mengenai
neuron dan tidak bisa diperbaiki lagi. Kerusakan otak yang
dijumpai pada trauma kepala dapat terjadi melalui 2 cara:
a. Efek segera dari trauma pada fungsi otak
b. Efek lanjutan dari respons sel-sel otak terhdap trauma.

Kerusakan neurologic segera disebabkan oleh suatu benda


atau serpihan tulang yang menembus dan merobek jaringan otak,
oleh pengaruh kekuatan atau energi yang diteruskan ke otak dan
oleh efek akselerasi- deselerasi pada otak.
Derajat kerusakan yang terjadi disebabkan pada kekuatan
yang menimpa, makin besar kekuatan, makin parah kerusakan.
Cedera menyeluruh yang lebih lazim dijumpai pada trauma kepala
terjadi setelah kecelakaan mobil. Kerusakan terjadi waktu energi
atau kekuatan diteruskan ke otak. Banyak energi yang diserap olwh
lapisan pelindung yaitu rambut, kulit kepala dan tengkorak, tetapi
pada trauma hebat penyerapan ini tidak cukup untuk melindungi
otak. Sisa energi diteruskan ke otak, menyebabkan kerusakan otak.
Kekuatan akselerasi dan deselerasi menyebabkan bergeraknya isi
dalam tengkorak yang keras sehingga memaksa otak membentur
permukaan dalam tengkorak pada tempat yang berlawanan dengan
benturan.
C. Patofisiologi
Tumor otak menyebabkan timbulnya gangguan neurologic
progresif. Gejala-gejala timbul dalam rangkaian kesatuan sehingga
menekankan pentingnya anamnesis dalam pemeriksaan penderita.
Gangguan neurologic pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan
oleh 2 faktor: gangguan fokal akibat tumor dan kenaikan tekanan
intracranial.
Gangguan fokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan
otak, dan infiltrasi atau invasi langsung pada parenkin otak dengan
kerusakan jaringan neural. Tentu saja difungsi terbesar terjadi pada
tumor infiltrasi yang tumbuh paling cepat (yaitu glioblastoma
multiforme).
Perubahan suplai darah akibat tekanan tumor yang bertumbuh
menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri
pada umumnya bermanifestasi sebagai hilangnya fungsi secara akut
dan mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan serebrovaskuler
primer.
Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuron
dihubungkan dengan kompresi, invasi dan perubahan suplai darah ke
jaringan otak. Beberapa tumor membentuk kista yang juga menekan
parenkin otak sekitarnya sehingga memperberat gangguan neurologis
fokal.
Peningkatan ICP dapat disebabkan oleh beberapa factor:
bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya edema sekitar
tumor, dan perubahan sirkulasi cairan serebrospinal. Pertumbuhan
tumor menyebabkan bertambahnya massa karena tumor akan
mendesak ruang yang relatif tetap pada ruangan tengkorak yang kaku.
Tumor ganas menimbulkan edema dalam jaringan otak sekitarnya.
Mekanisme belum begitu dipahami, tetapi diduga disebabkan oleh
selisih osmotic yang menyebabkan penyerapan cairan tumor. Beberapa
tumor dapat menyebabkan perdarahan. Obstruksi vena dan edema
akibat kerusakan sawar darah otak, semuanya menimbulkan
peningkatan volume intracranial dan ICP. Obstruksi sirkulasi CSF dari
ventrikel lateralis ke ruangan subaraknoid menimbulkan hidrosafalus.
Peningkatan ICP akan membahanyakan jiwa bila terjadi cepat
akibat salah satu penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya.
Mekanisme kompensasi memerlukan waktu berhari-hari atau berbulan-
bulan untuk menjadi efektif sehingga tidak berguna bila tekanan
intracranial timbul cepat. Mekanisme kompensasi ini antara lain
bekerja menurunkan volume darah intracranial, volume CSF,
kandungan cairan intrasel, mengurangi sel-sel parenkin. Peningkatan
tekanan yang tidak diobati meningkatkan terjadinya herniasi unkus
atau serebelum. Herniasi unkus timbul bila girus mediasis lobus
temporalis tergeser ke inferior melalui insisura tentorial oleh massa
dalam hemisfer otak. Herniasi menekan mesensefalon menyebabkan
hilangnya kesadaran dalam menekan syaraf otak ketiga. Pada herniasi
serebelum, tonsil serebelum, tergeser ke bawah melalui foramen
magnum oleh suatu massa posterior. Kompresi medulla oblongata dan
henti nafas terjadi dengan cepat. Perubahan fisiologis lain yang terjadi
akibat peningkatan ICP yang cepat adalah bradikardia progresif,
hipertensi sistemik (pelebaran tekanan nadi).
D. Pathway


E. Manifestasi Klinik
1. Sakit kepala (nyeri)
Nyeri dapat digambarkan bersifat dalam, terus-menerus,
tumpul, dan kadang-kadang hebat sekali. Nyeri ini paling hebat
saat pagi hari dan menjadi lebih hebat saat beraktivitas yang
biasanya meningkatkan TIK, seperti membungkuk, batuk, atau
mengejan sewaktu buang air besar.
Nyeri kepala akibat tumor otak disebabkan oleh traksi dan
pergeseran struktur peka nyeri (arteri, vena, sinus-sinus vena, dan
saraf otak) dalam rongga intrakranial. Nyeri kepala oksipital
merupakan gejala pertama dalam tumor fosa posterior. Bila
keluhan nyeri kapala terjadi menyeluruh maka kurang dapat
ditentukan lokasinya dan biasanya menunjukkan pergeseran
aktensif kandungan intracranial akibat peningkatan ICP.

2. Mual Muntah
Gejala ini terjadi akibat rangsangan pusat muntah di medulla
oblongata. Muntah paling sering terjadi pada anak dan
berhubungan dengan peningkatan ICP disertai pergeseran batang
otak. Muntak dapat terjadi tanpa didahului mual dan dapat bersifat
proyektil.
3. Papiledema
Papilla edema adalah penumpukan cairan yang berlebih
pada pupil. Disebabkan oleh statis vena yang menimbulkan
pembengkakan dan perbesaran diskus optikus. Bila terlihat pada
pemeriksaan funduskopi, tanda ini mengisyaratkan peningkatan
ICP.
Dapat terjadi gangguan penglihatan yang berkaitan dengan
papilledema. Gangguan ini adalah perbesaran bintik dan amaurosis
fugaks (ketika pengihatan berkurang). (Silvia A. Price : 1187-
1188)
4. Lokalisasi gejala
Karena fungsi-fungsi dari bagian-bagian berbeda dari otak yang
tidak diketahui, lokasi tumor dapat ditentukan, pada bagiannya,
dengan mengidentifikasi fungsi yang dipengaruhi oleh adanya
tumor.
a) Tumor korteks motorik : menyebabkan gerakan seperti
kejang yang terletak pada satu sisi tubuh, yang disebut
kejang jacksonian.
b) Tumor lobus oksipital : menyebabkan hemianopsia
homonimus kontralateral (hilangnya penglihatan pada
setengah lapang pandangan, pada sisi yang berlawanan dari
tumor) dan halusinasi penglihatan (pandangan kabur atau
double)
c) Tumor serebelum : menyebabkan pusing, ataksia
(kehilangan keseimbangan) atau gaya berjalan yang
sempoyongan dengan cenderung jatuh ke sisi yang lesi,
otot-otot tidak terkoordinasi (gerakan mata berirama tidak
sengaja) biasanya menunjukkkan gerakan horizontal.
d) Tumor lobus frontal : menyebabkan gangguan kepribadian,
perubahahan status emosional dan tingkah laku, dan
disintegrasi perilaku mental, pasien sering menjadi ekstrim
yang tidak teratur dan kurang merawat diri, dan
menggunakan bahasa yang cabul.
e) Tumor sudut serebelopontin : biasanya diawali pada sarung
asraf akustik dan memberi gejala yang timbul dengan
semua karakteristik pada tumor otak.
(1).Pertama : tinnitus dan kelihatan vertigo, segera
diikuti perkembangan saraf-saraf yang mengarah
terjadinya tuli (saraf ke 8).
(2).Berikutnya kesemutan dan rasa gatal-gatal pada
wajah dan lidah (saraf ke 5).
(3).Terjadi kelemahan (saraf ke 7)
(4).Abnormalitas fungsi motorik.
f) Tumor intracranial : menyebabkan gangguan kepribadian,
konfusi, gangguan fungsi bicara dan gaya berjalan (Brunner
& Suddart : 2170)

F. Pemeriksaan Penunjang
a. Pencitraan CT (CT Scan) untuk memberikan informasi spesifik
yang menyangkut jumlah, ukuran dan kepadatan jejas tumor
dan meluasnya edema serebral sekunder, juga memberi
informasi tentang system ventrikuler.
b. MRI untuk menghasilkan deteksi jejas yang kecil. Umumnya
untuk mendeteksi tumor didalam batang otak didaerah
hipofisis.
c. Biopsi stereotaktik bantuan computer (tiga dimensi) untuk
mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk
memberikan dasar-dasar pengobatan dan imformasi prognosis.
d. Angiografi serebral memberikan gambaran pembuluh darah
serebral dan letak tumor serebral.
e. Elektroensefalogram(EEG)untuk mendeteksi gelombang otak
abnormal pada daerah yang ditempati tumor dan dapat
memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu
kejang
f. Penelitian sitologis pada cairan serebrospinal (CSF) dapat
dilakukan untuk mendeteksi sel-sel ganas, karena tumor-tumor
pada SSP mampu menggusur sel-sel kedalam cairan
serebrospinal.

G. Penatalaksanaan Medis
Tumor yang tidak terobati dapat menyebabkan kematian, salah satu
peningkatan TIK (Tekanan Intra Kranial) atau dari kerusakan otak.
Pasien dengan tumor otak harus diobati segera bila memungkinkan
sebelum kerusakan neurologis tidak dapat diubah.
Tujuannya adalah mengangkat dan memusnakan semua tumor atau
banyak kemungkinan tanpa meningkatnya neurologic (kebutaan) atau
tercapainya gejala–gejala dengan mengangkat sebagian. Salah satu
variasai dapat digunakan pendekatan spesifik bergantung tipe tumor
bergantung pada tipe tumor, lokasinya dan kemampuannya untuk
dicapai dengan mudah.
1. Pembedahan
Tumor jinak seringkali dapat ditangani dengan eksisi
komplet dan pembedahan merupakan tindakan yang kuratif. Untuk
tumor primer maligna atautumor sekunder biasanya sangat sulit
disembuhkan.
Pembedahan tumor primer seringkali diindikasikan untuk
mencapai diagnosis histologis, dan jika mungkin untuk
meringankan gejala dengan mengurangi massa tumor. Pemeriksaan
histologist dari biopsy tumor dapat mengkonfirmasi apakah lesi
merupakan suatu glioma dan bukan neoplasma lainnya, misalnya
limfoma, atau bahkan kondisi non neoplasia, misalnya abses.
Kadang – kadang pembedahan tidak disarankan, misalnya pada
pasien dengan kecurigan gioma derajat rendah dengan gejala
epilepsy. Pembedahan juga tidak tepat dilakukan pada metastasis
otak multiple, dimana diagnosannya jelas, walaupun beberapa
metastasis soliter dapat ditangani dengan reseksi.
2. Radioterapi
Glioma dapat diterapi dengan radioterapi yang diarahkan
pada sebagian tumor sementara metastasis diterapi dengan radiasi
seluruh otak. Radioterapi juga dapat digunakan dalam tatalaksana
beberapa tumor jinak, misalnya tumor hipofisis.
3. Radiografi tengkorak
Memberikan informasi : struktur tulang, penebalan, dan
kalsifikasi; posisi kelenjar pinealis; posisi sela tursika.
4. EEG (echoensefalogram)
Memberikan informasi perubahan kepekaan neuron, pergeseran
kandungan intraserebral.
5. Scan otak radioaktif
Memperlihatkan daerah akumulasi abnormal dari zat radioaktif.
6. Terapi medikamentosa
Antikonvulsan untuk epilepsy
Kortikosteroid (dekstametason), untuk peningkatan TIK.
Steroid juga dapat memperbaiki deficit neurologis fokal sementara
dengan mengobati oedema otak. Kortikosteroid boleh digunakan
sebelum pengobatan sesuai dengan diperkenankannya penggunaan
obat ini yang didasari melalui evaluasi dignostik dan kemudian
menurunkan oedema serebral dan meningkatkan kelancaran serta
pemulihan lebih cepat.
7. Kemoterapi
Diindikasikan pada beberapa kasus glioma, sebagian ajuvan
pembedahan dan radioterapi, dengan penganasan unit spesialitik
neuro onkologi. Terapi radiasi, meupakan dasar pada beberapa
tumor otak, juga menurunkan timbulnya kembali tumor yang tidak
lengkap. (Silvia A. Price : 1189)

H. Pelaksanaan Komplementer
1. Akupuntur
Akupuntur adalah pengobatan tradisional Tiongkok yang
menggunakan penyisipan jarum tipis ke kulit pada titik-titik
tertentu di tubuh Anda. Pengobatan ini paling sering digunakan
untuk mengurangi nyeri karena menstimulasi penghilang rasa sakit
alami yang ada pada tubuh. Contohnya, nyeri akibat kemoterapi,
sakit kepala, nyeri punggung dan leher, serta nyeri saat menstruasi.
Akupunktur yang digunakan pada terapi kanker bukan
ditujukan untuk mengobati penyakit kankernya karena penusukan
pada lesi merupakan kontraindikasi. Hal ini dilakukan untuk
pengobatan paliatif yaitu mengurangi nyeri kronis, mengurangi
efek samping kemoterapi ataupun radioterapi seperti nyeri, mual,
muntah, serta mengurangi dosis obat anti-nyeri sehingga kualitas
hidup penderita dapat ditingkatkan. Penelitian Chen S et.al pada
tahun 2012 mengenai efek terapi elektroakupunktur terhadap sel
T, sel natural killer, hitung leukosit dan imunitas humoral pada
pasien 36 tumor ganas yang mendapat kemoterapi rutin
menunjukkan bahwa elektroakupunktur yang dilakukan sekali
sehari selama 30 menit merupakan terapi tambahan yang efektif
untuk meringankan disfungsi imunitas yang disebabkan kemoterapi
pada pasien tumor ganas. Pemberian akupuntur diterapkan pada
titik-titik yang merefleksikan fungsi tubuh terhadap imunitas
seperti yang dilampirkan dalam gambar, akupuntur digunakan
untuk mengurangi resiko penurunan daya tahan tubuh yang drastis.

2. Bekam
Terapi bekam merupakan salah satu terapi alternatif yang
berasal dari Tiongkok. Terapi ini melibatkan pemanasan dan
cangkir yang ditempel pada permukaan kulit agar terjadi
penyedotan pada kulit. Terapi bekam biasanya dijadikan sebagai
pelengkap perawatan bagi orang-orang yang mengalami sejumlah
penyakit dan kondisi tertentu. Pengobatan bekam merupakan
pengobatan alternatif yang menjadi salah satu sunah Rasul selain
rukiyah. Pengobatan ini akan menggunakan metode menghisab
darah kotor melalui kulit yang diberi sayatan halus. Darah yang
keluar berupa darah kental yang berwarna merah pekat hampir
menghitam. Terapi bekam bisa dilakukan untuk mengeluarkan
racun tersebut serta mengobati berbagai penyakit ringan sampai
penyakit kronis. Tapi bukan sembarang orang bisa melakukan
bekam, hanya mereka yang tahu dimana titik bekam yang
diperbolehkan melakukan pembekaman.Titik bekam, yaitu :
a. Titik Al-Khaahil
Nabi SAW pernah melakukan bekam di titik ini
yang terletak di bagian punuk atau di ujung atas tulang
belakang yang terdapat diantara dua pundak. Titik bekam
ini akan mengobati berbagai penyakit yang ada disekitar
kepala serta gangguan syaraf seperti stres dan depresi.

3. Terapi Pijat dan Refleksiologi


Terapi pijat dan refleksiologi diyakini dapat membantu
mengontrol rasa nyeri, otot kaku, sesak napas, dan stres atau rasa
cemas yang berlebihan, yang mungkin muncul selama menjalani
pengobatan di rumah sakit. Selalu konsultasikan dengan dokter
mengenai jenis terapi atau obat alami yang dapat membantu Anda
mengatasi kanker otak.

4. Terapi herbal
Secara medis terdapat empat metode konvensional standar
untuk pengobatan kanker yaitu pembedahan, kemoterapi, terapi
radiasi, dan hormone terapi atau terapi biologis (Oemiati dkk,
2011) Akan tetapi, pada kenyataannya dengan 4 modalitas utama
ini saja seringkali kanker belum bisa diatasi. Beberapa pasien yang
dalam pengobatannya dikombinasikan dengan tanaman obat, sel
darah merah dan putihnya tidak mengalami penurunan seperti yang
terjadi pada pasien yang hanya menjalani terapi konvensional.
Pasien yang menjalani terapi konvensional terutama
kemoterapi, umumnya daya tahan tubuhnya akan menurun drastis.
Ketika daya tahan menurun karena adanya efek samping dari
proses pengobatan kemoterapi, radiasi maupun hormon dalam
beberapa kasus menyebabkan sel-sel kanker lebih mudah menyebar
dan sisa-sisa sel kanker yang tidak terangkat akan menyebar
kembali (Mangan, 2009). Dengan demikian, obat tradisional ini
tidak bisa dijadikan sebagai pengobatan utama dalam mengatasi
kanker otak. Berikut daftar obat herbal yang dapat Anda gunakan
untuk membantu mengatasi penyakit tersebut:
a. Indigofera
Tanaman indigofera atau dengan nama latin Indigofera
tinctoria merupakan tanaman tropis yang telah dikenal di
berbagai penjuru negara. Jenis tanaman ini mengandung
senyawa indirubin, yang sering dijadikan sebagai bahan
aktif dalam pengobatan herbal Cina dan di Indonesia
indigofera juga sudah sering ditemui dan beberapa orang
menyebutnya dengan nama lain, seperti tarum, nila, atau
indigo. Selain sering dijadikan sebagai bahan pakan ternak,
tanaman indigofera juga diketahui memiliki khasiat untuk
membantu mengatasi kanker otak.
Studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Ohio
State University Comprehensive Cancer Center
menemukan fakta bahwa senyawa indirubin di dalam
tanaman indigofera dapat memblokir migrasi sel
glioblastoma (salah satu jenis tumor otak ganas), mencegah
penyebarannya ke area lain di otak, dan mencegah migrasi
sel endotel dalam membentuk pembuluh darah baru yang
dibutuhkan tumor untuk tumbuh.
b. Kunyit
Senyawa kurkumin yang ditemukan dalam rimpang kunyit
disebut bisa menjadi salah satu obat herbal untuk
membantu mengatasi kanker otak. Dari studi yang
dipublikasikan oleh Oxidative Medicine and Cellular
Longevity, kurkumin dalam rimpang kunyit memiliki sifat
antioksidan, antiinflamasi, dan antiproliferatif, sehingga
bisa mengobati tumor otak, termasuk glioblastoma.
Senyawa ini pun diyakini dapat meningkatkan kemanjuran
pengobatan kemoterapi yang dilakukan.
B. Konsep Kebutuhan Dasar Manusia
A. Definisi Gangguan Rasa Nyaman Nyeri
Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan
bersifat sangat subyektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap
orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang tersebutlah
yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya
(Aziz Alimul, 2006).
Sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional
yang muncul secara aktual atau potensial kerusakan jaringan atau
menggambarkan adanya kerusakan. Serangan mendadak atau pelan
intensitasnya dari ringan sampai berat yang dapat diantisipasi dengan
akhir yang dapat diprediksi dan dengan durasi kurang dari 6 bulan
(Asosiasi Studi Nyeri Internasional); awitan yang tiba-tiba atau lambat
dari intensitas ringan hingga berat hingga akhir yang dapat diantisipasi
atau di prediksi. (NANDA, 2015). Nyeri kronis serangan yang tiba-tiba
atau lambat dari intesitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat
diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung > 3 bulan (NANDA,
2012).
Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosional tidak
menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan actual atau
potensial yang di gambarkan sebagai kerusakan (Internalional
Associatron for the study of poin); awita yang tiba-tiba atau
lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan berakhirnyadapat
diantisipasi atau di prediksi (Nanda International INC, 2015-2017).
Perasaan kurang senang, lega dan sempurna dalam
dimensi fisik psikospiritual, lingkungan dan social. (SDKI, 2016).
Jadi dapat disimpulkan bahwa nyeri adalah suatu rasa yang tidak
nyaman, baik ringan maupun berat
B. Anatomi dan Fisiologi
Reseptor nyeri adalah organ yang berfungsi untuk menerima
rangsangan nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri
adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap
sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang
berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak.
Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomi reseptor nyeri
(Nosireceptor) ada yang bermielien da nada juga yang tidak bermielin
dari syaraf perifer.

C. Patofisiologi
Pada saat sel saraf rusak akibat trauma jaringan, maka terbentuklah
zat-zat kimia seperti Bradikinin, serotonin dan enzim proteotik.
Kemudian zat-zat tersebut merangsang dan merusak ujung saraf
reseptor nyeri dan rangsangan tersebut akan dihantarkan ke
hypothalamus melalui saraf asenden. Sedangkan di korteks nyeri akan
dipersiapkan sehingga individu mengalami nyeri. Selain dihantarkan
ke hypothalamus nyeri dapat menurunkan stimulasi terhadap reseptor
mekanin sensitif pada termosensitif sehingga dapat juga menyebabkan
atau mengalami nyeri (Wartonah, 2006).

D. Manifestasi Klinik dan Faktor-faktor yang mempengaruhi


1. Tanda dan gejala nyeri
a. Gangguam tidur
b. Posisi menghindari nyeri
c. Gerakan meng hindari nyeri
d. Raut wajah kesakitan (menangis,merintih)
e. Perubahan nafsu makan
f. Tekanan darah meningkat
g. Pernafasan meningkat
h. Depresi
2. Factor-faktor yang mempengaruhi nyeri
Pengalaman nyeri pada seseorang dapat di pengaruhi oleh beberapa
hal, di antaranya adalah:
a. Arti Nyeri.
Nyeri bagi seseorang memiliki banyak perbedaan
dan hampir sebagian arti nyeri merupakan arti yang negatif,
seperti membahayakan, merusak, dan lain-lain. Keadaan ini
di pengaruhi lingkungan dan pengalaman.
b. Persepsi Nyeri.
Persepsi nyeri merupakan penilaian yang sangat
subjektif dari seseorang yang merasakan nyeri.
Dikarenakan perawat tidak mampu merasakan nyeri yang
dialami oleh pasien.
c. Toleransi Nyeri.
Toleransi ini erat hubungannya dengan intensitas
nyeri yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang
menahan nyeri. Faktor yang dapat mempengaruhi
peningkatan toleransi  nyeri  antara lain alcohol, obat-
obatan, hipnotis, gerakan atau garakan, pengalihan
perhatian, kepercayaan yang kuat dan sebagainya.
Sedangkan faktor yang menurunkan toleransi antara lain
kelelahan, rasa marah, bosan, cemas, nyeri yang kunjung
tidak hilang, sakit, dan lain-lain.
d. Reaksi terhadap Nyeri.
Reaksi terhadap nyeri merupakan bentuk respon
seseorang terhadap nyeri, seperti ketakutan, gelisah, cemas,
menangis, dan menjerit. Semua ini merupakan bentuk
respon nyeri yang dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor,
seperi arti nyeri, tingkat perspepsi nyeri, pengalaman masa
lalu, nilai budaya, harapan sosial, kesehatan fisik dan
mental, rasa takut, cemas, usia, dan lain-lain (Muhammad,
2007).

BAB III
Proses Keperawatan Pada Gangguan Rasa Nyaman Nyeri

A. Pengkajian
Dalam NANDA, 2015, Nyeri di bedakan menjadi 2, yaitu:
1. Nyeri akut
a. Mengkaji perasaan klien
b. Menetapkan respon fisiologis klien terhadap nyeri dan
lokasi nyeri
c. Mengkaji keparahan dan kualitas nyeri
2. Nyeri kronis
Pengkajian difokuskan pada dimensi perilaku afektif dan
kognitif. Selain itu terdapat komponen yang harus di perhatikan
dalam memulai mngkaji respon nyeri yang di alami pasien.
Pengkajian status nyeri dilakukan dengan pendekatan P,Q,R,S,T
yaitu
a. P (Provocate)
Faktor paliatif meliputi faktor pencetus nyeri,terasa setelah
kelelahan,udara dingin dan saat bergerak.
b. Q (Quality)
Kualitas nyeri meliputi nyeri seperti di tusuk-tusuk,dipukul-
pukul dan lain-lain.
c. R (Region)
Lokasi nyeri,meliputi byeri abdomen kuadran bawah,luka
post operasi,dan lain-lain.
d. S (Skala)
Skala nyeri ringan,sedang,berat atau sangat nyeri.
e. T (Time)
Waktu nyeri meliputi : kapan dirasakan,berapa lama, dan
berakhir.
3. Respon Nyeri
a. Respon simpatik
1) peningkatan frekuensi pernafasan
2) dilatasi saluran bronkiolus
3) peningkatan frekuensi denyut jantung
4) dilatasi pupil
5) penurunan mobilitas saluran cerna
b. Respon parasimpatik
1) Pucat
2) ketegangan otot
3) penuru nan denyut jantung
4) mual dan muntah
5) kelemahan dan kelelahan
4. Respon perilaku
Respon perilaku yang sering di tunjukan oleh pasien antara
lain perubahan postur tubuh, mengusap, menopong wajah bagian
nyeri yang sakit mengertakan gigi, ekspresi wajah meringis,
mengerutkan alis.

B. Diagnosa Keperawatan Menurut SDKI


1. Gangguan Rasa Nyaman
a. Defenisi
Perasaan kurang senang, lega dan sempurna dalam dimensi
fisik, psikospritual, lingkungan dan sosial
2. Penyebab
a. Gejala penyakit
b. Kurang pengendalian situasional/lingkungan
c. Ketidak adekuatan sumberdaya (mis. Dukungan finansial,
sosial dan pengetahuan)
d. Kurangnya prifasi
e. Gangguan stimulus lingkungan
f. Efeksamping terapi (mis. Medikasi, radiasi, kemoterapi)
g. Gangguan adaptasi kehamilan
3. Gejala dan tanda mayor
a. Subjektif
Mengeluh tidak nyaman
b. Objektif
Gelisah
4. Gejala dan tanda minor
a. Subjektif
1) Mengeluh sulit tidur
2) Tidak mampu rileks
3) Mengeluh kedinginan/kepanasan
4) Merasa gatal
5) Mengeluh mual
6) Mengeluh lelah

b. Objektif
1) Menunjukkan gejala distres
2) Tampak merintih/menangis
3) Pola eliminasi berubah
4) Postur tubuh berubah
5) Iritabilitas
5. Kondisi klinis terkait
a. Penyakit kronis
b. Keganasan
c. Distres psikologis
d. kehamilan
6. Nausea
a. Definisi
Perasaan tidak nyaman pada bagian belakang tenggorokan atau
lambung yang dapat mengakibatkan muntah
b. Penyebab
1) Gangguan biokimiawi (mis.uremia, ketoasidosis diabetik)
2) Ganggaun esofagus
3) Distensi lambung
4) Iritasi lambung
5) Gangguan prankeas
6) Peregangan kapsul limpa
7) Tumor terlokalisai (mis. Neuroma akustik, tumor otak
primer atau sekunder, mesastasis tulang di dasar
tengkorak)
8) Peningkatan tekanan intraabdominal (mis. Keganasan
intraabdomen)
9) Peningktan tekanan intrakranial
10) Penignkatan tekanan intraorbital (mis. Glaukoma)
11) Mapuk perjalan
12) Aroma tidak sedap
13) Rasa makanan/minuman yang tidak enak
14) Stimulus penglihatan tidak menyenangkan
15) Faktor psikologia (mis. Kecemasan, ketakutan, stress)
16) Efek agen farmakologi
17) Efek toksin
c. Gejala dan tanda mayor
1) Subjektif
a) Mengeluh mual
b) Merasa ingin muntah
c) Tidak berminat makan
2) Objektif
(tidak tersedia)
d. Gejala dan tanda minor
1) Subjektif
a) Merasa asam dimulut
b) Sensasi panas/dingin
c) Sering menelan
2) Objektif
a) Saliva meningkat
b) Pucat
c) Deaforesis
d) Takikardia
e) Pupil dilatasi
e. Kondisi klinis terkait
1) Meningitis
2) Labirinitas
3) Uremia
4) Ketoasidosis diabetik
5) Ulkus peptikum
6) Penyakit esofagus
7) Tumor intraabdomen
8) Penyakit miniere
9) Neuroma akustik
10) Tumor otak
11) Kanker
12) Glaukoma
7. Nyeri akut
a. Defenisi
Pengelaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan

kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset

mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat.

b. Penyebab

1) Agen pencedera fisiologis (mis. Inflamasi, iskemia,

neoplasma)

2) Agen pencedera kimiawi ( mis. Terbakar, bahan kimia

iritan)

3) Agen pencedera fisik (mis. Abses, amputasi, trauma, latihan

fisik berlebihan)

c. Gejala dan Tanda Mayor

1) Subjektif,

pasien mengeluh nyeri

2) Objektif

a) Tampak meringis

b) bersikap protektif (mis. Waspada, posisi menghindari

nyeri)

c) gelisah

d) frekuensi nadi meningkat

e) Sulit tidur.

d. Gejala dan Tanda Minor


a) Subjektif
(tidak tersedia)
b) Objektif
(1) Tekanan darah meningkat

(2) pola nafas berubah

(3) nafsu makan berubah

(4) proses berpikir terganggu

(5) menarik diri

(6) berfokus pada diri sendiri

(7) diaforesis.

e. Kondisi klinis terkait

a) Kondisi pembedahan

b) Cedera traumatis

c) Infeksi

d) Sindrom koroner akut

e) glaukoma

8. Nyeri Kronis
a. Defenisi

Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan

kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset

mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat dan

konstan.

b. Penyebab

1) Kondisi dan muskuloskeletal kronis

2) Kerusakan sistem saraf

3) Penekanan saraf

4) Infiltrasi tumor
5) Ketidak seimbangan neurotransmiter, neuromodulator, dan

reseptor

6) Gangguan imunitas (mis. Neuropati terkait HIV, virus

varicella-zoster)

7) Gangguan fungsi metabolik

8) Riwayat posisi kerja statis

9) Peningkatan indeks massa tubuh

10) Kondisi pasca trauma

11) Tekanan emosional

12) Riwayat penganiayaan (mis. Fisik, psikologis seksual)

13) Riwayat penyalahgunaan obat/zat

c. Gejala dan Tanda Mayor

1) Subjektif

a) Mengeluh nyeri

b) merasa depresi (tertekan).

2) Objektif

a) Tampak meringis,

b) gelisah

c) tidak mampu menuntaskan aktivitas.

d. Gejala dan Tanda Minor

1) Subjektif

Merasa takut mengalami cedera berulang.

2) Objektif
a) Bersikap protektif (mis. Posisi menghindari nyeri)

b) Waspada

c) pola tidur berubah

d) anoreksia, fokus menyempit

e) berfokus pada diri sendiri.

e. Kondisi klinis terkait

1) Kondisi kronis (mis. Arthritis reumatoid)

2) Infeksi

3) Cedera medula spinalis

4) Kondisi paca trauma

5) Tumor
Terapi Komplementer
AKUPUNTUR
Tindakan Rasional
1. Memeriksa riwayat 1. Untuk mengetahui riwayat
kesehatan kesehatan klien
2. Menjelaskan tujuan dan 2. Memberikan pengetahuan
proses bekam manfaat dari terapi
3. Mengidentifikasi akupuntur
kontraindikasi akupuntur 3. Memastikan pasien aman
4. Menentukan titik untuk dilakukan terapi
akupuntur akupuntur
4. Memastikan lokasi
akupuntur
5. Memaksimalkan proses
akupuntur

HERBAL
Tindakan Rasional
1. Menanyakan riwayat 1. Memastikan kondisi aman
alergi bagi pasien
2. Jaga privacy pasien 2. Memastikan obat yang
3. Menyiapkan sesuai dipilih tepat
dengan keluhan 3. Memberikan dan
4. Jika obat berbentuk meningkatkan
tablet/kapsul bantu pengetahuan pasien
menuangkan obat kedalam
tempof of st

DAFTAR PUSTAKA

Baughman, D.C. & Hackley, J.C. (2000). Keperawatan medikal bedah: buku saku
untuk Brunner & Suddarth. EGC: Jakarta.

Doenges M.E., Moorhouse M.F. & Geissler A.C., (2000). Rencana asuhan
keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian
perawatan pasien. EGC: Jakarta.
Doenges E Marilynn dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.

Juall Carpenito, lynda RN. 1999. Diagnosa dan Rencana Keperawatan Edisi 3.
Jakarta : Media Aesculappius.

Price, A. Sylvia & Lorraine M. Wilson. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis


Proses-Proses Penyakit. Alih Bahasa : Brahm. U. Pendit. Jakarta : EGC

Smelzer, Suzanne C dkk. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth; alih bahasa: Agung Waluyo. Jakarta: EGC

Syaifuddin.(1997). Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat Edisi 2. Jakarta :


EGC.

Guyton & Hall, (2005). Buku ajar fisiologi kedokteran, ed.11. EGC: Jakarta.
Muttaqin, A., (2009). Buku ajar asuhan keperawatan dengan gangguan sistem
kardiovaskuler dan hematologi. Penerbit Salemba Medika: Jakarta.

Hari/Tanggal : Jumat, 3 Desember 2021


Lokasi : Klinik Sehat Serpong
Nama pasien (initial) :
Alamat pasien :
Nama/NIM mahasiswa : Lydia / 19022

Pukul Kegiatan Hasil


08.00 Datang ke Klinik Sehat Serpong

08.00 /d Serah terima mahasiswa dari pihak prodi /


s

11.00 Kampus Ns. Fahmi Hidayat DW,S.Kep


kepada pihak klinik Dr. Adis dan
perkenalan Mahasiswa serta orientasi
Klinik.

Serta Pembagian dan penentuan judul LP


(Laporan Pendahuluan) individu. Judul LP
yang ditentukan :
1) Hipertensi
2) Asam Urat
3) DM
4) HNP
5) Gastritis
6) Kanker Payudara
7) Tumor Otak

Serta Pembagian Penentuan judul


Presentasi kelompok, judul yang ditentukan
yaitu:
1) Hipertensi
2) Kanker Payudara
3) Gastritis
4) DM

Hari/Tanggal : Sabtu, 4 Desember 2021


Lokasi : Klinik Sehat Serpong
Nama pasien (initial) :-
Alamat pasien :-
Nama/NIM mahasiswa : Lydia / 19022

Pukul Kegiatan Hasil


Penyuluhan materi tentang :
09.00 – 1) Sejarah Bekam dan titik-titik bekam
11.00 2) 5 Titik Pijat Refleksi

Oleh ibu Rini Barokah

Hari/Tanggal : Minggu, 5 Desember 2021


Lokasi : Klinik Sehat Serpong
Nama pasien (initial) : Ny. Tri Lestari
Alamat pasien : Kamp. D
Nama/NIM mahasiswa : Lydia / 19022

Pukul Kegiatan Hasil


09.00 – Akupresur dengan keluhan nyeri pada kaki,
11.00 menggunakan titik yaitu:
 Titik P40 untuk bagian otot
 Titik area sekrum untuk area rahim
atau bagian perut lama
 Titik BL untuk bagian rahim
atauperut bagian bawah
 Titik LU untuk bagian paru

Hari/Tanggal : Senin, 6 Desember 2021


Lokasi : Klinik Sehat Serpong
Nama pasien (inisial) :-
Alamat pasien :-
Nama/NIM mahasiswa : Lydia/19022

Pukul Kegiatan Hasil


09.00 Bimbingan LP dan askep dengan Pak Ns.
Fahmi Hidayat DW,S.Kep

Penyuluhan / Pengisian materi tentang


09.50 –
”Formula obat herbal asli Indonesia” oleh
10.30
dr. Agus

Pelepasan / penutupan Praktek Klinik


11.00 – Sehat Serpong oleh Bu Ns. Rogayah,S.Kep
11.30 dan Bu Ns.Hernida Dwi Lestari,S.Kep

Hari/Tanggal : Selasa, 7 Desember 2021


Lokasi : Klinik Sehat Serpong
Nama pasien (inisial) :-
Alamat pasien :-
Nama/NIM mahasiswa : Lydia/19022

Pukul Kegiatan Hasil


08.00 – Penyuluhan / seminar tentang akupuntur
11.00 oleh dr.Dias

A. Identitas Klien
1. Nama pasien : Ny. R
2. Nama PJ pasien : Tn.s
3. Agama : Islam
4. Pendidikan : SMA
5. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
6. Alamat : Kamp. D

B. Keluhan Utama
1. Keluhan utama saat mengunjungi klinik :
Nyeri pada bagian kepala, mual
2. Keluhan utama saat pengkajian :
Nyeri pada bagian kepala

C. Diagnosa Medis
Tumor Otak

D. Riwayat Kesehatan
1. Riwayat penyakit sekarang
Klien mengeluh sakit kepala sejak kurang lebih 6 bulan yang lalu, klien
muntah-muntah ketika mengalami sakit kepala dan trauma. Klien berjalan
tidak seimbang sejak satu bulan terakhir, nafsu makan menurun, penurunan
berat badan satu bulan terakhir.
2. Riwayat kesehatan yang lalu
Klien pernah mengalami pembedahan kepala atau trauma kepala
3. Riwayat kesehatan keluarga
Tidak ada

E. Riwayat Pola Pemeliharaan Kesehatan Klien


1. Pola aktivitas sehari-hari
a. Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan
 Frekuensi makan : 2x / hari
 Nafsu makan : ( ) Baik
( ) Tidak nafsu makan (alasan : mual, muntah,
sariawan)
 Makanan yang tidak disukai / alergi / pantangan
( ) Ada ( ) Tidak ada
Bila ada, sebutkan : Makanan yang berlemak, makanan daging
olahan, kopi
b. Pola eliminasi (b.a.k/b.a.b)
1) BAK
 Frekuensi : 4x/hari
 Warna : Jernih
2) BAB
 Frekuensi : 1x/hari
 Waktu : Tidak tentu

c. Pemenuhan istirahat tidur


 Lama tidur : 4 jam / hari
 Kebiasaan sebelum tidur / pengantar tidur :
 Keluhan / masalah : Sulit tidur
d. Pemenuhan kebersihan diri
1) Mandi
 Frekuensi : 1x / hari
 Sabun : ( )Ya ( ) Tidak
2) Cuci Rambut
 Frekuensi : 1x / minggu
e. Aktifitas mengisi waktu luang
Klien mengatakan mengisi waktu luang dengan mengaji / pembacaan
alquran

2. Riwayat psikologi
a. Status emosi: eksprresi hati dan perasaan klien sedih, cemas dan gelisah
b. Pola komunikasi
Apakah klien hati-hati dalam berbicara (ya / tidak)
Apakah berbicara secara (spontan /
lambat)
Apakah klien diajak komunikasi ( ya / tidak )
Apakah klien berkomunikasi dengan jelas ( ya / tidak )
Apakah klien menggunakan bahasa isyarat ( ya / tidak )
Apakah klien memiliki tipe kepribadian terbuka atau tertutup?

3. Pola Pertahanan
Mekanisme kopping klien dalam mengatasi masalahnya : memilih diam

4. Dampak menerima perawatan di klinik


Klien mengatakan rasa nyeri kepala berkurang

5. Kondisi emosi / perasaan klien


Suasana hati yang menonjol pada klien ( sedih / gembira )
Emosinya sesuai dengan ekspresi wajahnya ( ya / tidak )

6. Pola interaksi klien:


Kepada siapa klien berespon : Keluarga
Orang yang dekat dan dipercaya klien : Anak
Klien dalam berinteraksi ( aktif / pasif )
Kegiatan sosial apa yang selama ini diikuti oleh klien :Pengajian

7. Riwayat Spiritual
Kebutuhan untuk beribadah ( terpenuhi / tidak terpenuhi )

F. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum
 Penampilan fisik klien secara umum saat pengkajian :
Tampak lemah, lemas dan tampak cemas
 Kualitas kesadaran klien :
composmentis
2. Pemeriksaan tanda-tanda vital
Pengkajian Tanda-tanda vital sebelum pasien sakit (berdasarkan
wawancara pada klien atau catatan kesehatan sebelumnya) dan tanda-tanda
vital saat pengkajian.
Tanda-tanda vital (TTV) yang diperiksa meliputi:
 Tekanan Darah (TD) : 140/80 mmHg
 Nadi : 80 x/menit
 Suhu : 36 0C
 Respiratory Rate (RR) : 20x/menit
 TB : - cm
 BB : 50 Kg.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TINDAKAN PEMENUHAN


PEMENUHAN GANGGUAN RASA NYAMAN NYERI

A. Data dari Form Pengkajian


1. Diagnosa
2. Analisis data
Data Masalah Keperawatan Etiologi

DS :
 Klien mengatakan
nyeri di kepala
 Klien mengeluh
sakit kepala
DO :
Nyeri Pembesaran massa tumor
Skala Nyeri 5
Hasil TTV
 TD : 120/80
mmHg
 N : 80x/Menit
 RR : 20X/menit
 Suhu : 36oC

DO :
 Klien tampak
sesak
DS :
Hasil TTV Pola nafas tidak efektif Penekanan medula
oblongata
 TD : 140/80
mmHg
 N : 100x/Menit
 RR : 30X/menit
 Suhu : 36oC

3. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan nyeri kronik b.d pembesaran tumor
2. Pola napas tidak efektif b.d penekanan medula oblongata

B. Rencana Keperawatan

Diagnosa Tujuan Intervensi Rasionalisai


Keperawata
n
Observasi : 1) Memastikan
Nyeri kronik Setelah kondisi pasien
b.d dilakukan 1. Indentifikasi
lokasi, aman
pembesaran asuhan 2) Memastika
tumor keperawatan karakteristik,
durasi, titik sesuai
komplementer dengan
1x20 menit frekuensi,
kualitas, keluhan
diharapkan rasa
intensitas nyeri 3) Memberi dan
nyeri kronik
berkurang 2. Identifikasi meningkatkan
skala nyeri pengetahuan
3. Identifikasi klien
respons non
verbal
4. Monitor
keberhasilan
terapi
komplementer
yang sudah
diberikan

Terapeutik :
1. Berikan teknik
non
farmakologis
untuk
mengurangi
rasa nyeri
dengan
akupuntur

Terapi Akupuntur:
1. Jelaskan tujuan,
manfaat,
prosedur dan
lamanya
tindakan pada
pasien dan
keluarga
2. Jaga privasi
klien dengan
menutup tirai
3. Atur posisi
pasien dengan
telentang,
duduk, berbaring
atau tengkurap
dan berikan alas
4. Cari titik-titik
ransangan
akupuntur untuk
nyeri pada tumor
yang ada di
tubuh,
menekannya
hingga masuk ke
sistem saraf.

Observasi :
1. Identifikasi
durasi,
frekuensi,
1) Memastikan
Pola nafas karakteristik,
intensitas sesak kondisi pasien
tidak efektif Setelah aman
b.d dilakukan 2. Indentifikasi
non verbal 2) Memastikan
penekanan asuhan
3. Monitor obat yang
medula keperawatan
oblongata komplementer keberhasilan dipilih tepat
diharapkan rasa terapi 3) Memberikan
sesak pada komplementer dan
pasien yang sudah meningkatkan
berkurang diberikan pengetahuan
Terapeutik: pasien
1. Berikan teknik
non
farmakologis
untuk
mengurangi
rasa sesak
dengan terapi
herbal
Terapi Herbal
1. Menanyakan
riwayat alergi
klien
2. Menyiapkan
obat sesuai
dengan keluhan
klien
3. Jika obat
berbentuk
kapsul/tablet
bantu
menuangkan
obat ke dalam
tempof op St

C. Implementasi dan Evaluasi


Implementasi Evaluasi
Tanggal/P Tindakan Paraf Tanggal Evaluasi Paraf
ukul /Pukul
04 1. Mengobservasi tanda- 04 S:
Desember tanda vital Desemb  Pasien
2021 Hasil : er 2021 mengatakan
TD : 120/80 mmHg rasa nyeri
N : 80x/menit berkurang
RR : 20x/menit
 Pasien
S : 36oC
mengatakan
2. Mengkaji skala nyeri
Hasil: sudah lebih
Nyeri berkurang, tenang dan
skala nyeri 5 rileks
3. Mengobservasi terapi
Akupuntur dengan
titik, yaitu: O:
 GV20
 LV3  Klien tampak
nyaman/rileks
 BL14
 Skala nyeri 2
 BL15
 BL 18
A : Masalah teratasi
Hasil : Klien tampak
nyaman
P : Lanjut terapi
herbal

PENCAPAIAN KOMPETENSI

Nama Mahasiswa : Lydia Putri Ayu Ningsih


NIM : 19022
TK/Semester : 3/5

No Kompetensi Target Observasi/ Melakukan Melakukan Pencapaian


(didampingi)
Menyaksikan (Mandiri)

.1 Mengaplikasikan melakukan
peran perawat sebagai
caregiver (memberi
pelayanan langsung kepada
pasien dalam terapi
komplementer):

a. Masase

b. Terapi musik

c. Diet 2

d. Teknik relaksasi 2

e. Pemberian vitamin 1

f. Pemberian produk herbal 3

2 Mengaplikasikan melakukan
peran perawat sebagai
educator (memberikan
informasi tentang terapi
komplementer kepada
pasien)

 Penyuluhan kesehatan
tentang terapi
komplementer.
2

3 Mengaplikasikan melakukan
peran perawat sebagai
konselor (perawat dapat
menjadi tempat bertanya
untuk pasien)

 Konsultasi sebelum
mengambil keputusan
tentang terapi
komplementer yang akan
dipilih
 Diskusi sebelum 1
mengambil keputusan
tentang terapi
komplementer yang akan
dipilih

4 Mengaplikasikan melakukan
peran perawat sebagai
koordinator

 Mendiskusikan terapi
komplementer dengan 2
profesional /dan manajer
terkait yang merawat)

5 Mengaplikasikan melakukan
peran advokat

 Memberikan rasa aman


dan nyaman kepada pasien
memenuhi permintaan 2
kebutuhannya tentang
perawatan komplementer

6 Mengaplikasikan melakukan
peran konsultan

 Diskusi dengan pasien


memecahkan masalah
yang dialami pasien. 3

7 Mengaplikasikan melakukan
peran Kolaborator :

 Melakukan kolaborasi
dengan
professional/tenaga 3
kesehatan lainnya
memberikan terapi
komplementer

8 Mengaplikasikan melakukan
terapi alternative:

 Akupuntur
 Yang lain (ditentukan CI)
1

1
9 Mengaplikasikan
melakukan pengobatan
berbasis sentuhan dan teknik
tubuh:

 Pijat Refleksi
 Bekam
 Akupresure 1

10 Mengaplikasikan
melakukan:

 Pengobatan berbasis diet


1
dan herbal (Ditentukan CI)

11 Mengaplikasikan safe
community melakukan:

 Pengobatan berbasis
1
pengendalian
pikiran(Ditentukan CI)

Tanggal

Paraf Pembimbing (CI)