Anda di halaman 1dari 10

BUKU JAWABAN UJIAN (BJU)

UAS TAKE HOME EXAM (THE)

SEMESTER 2021/2022.2 (2020.1)

Nama Mahasiswa : riska rizki utami

Nomor Induk Mahasiswa/NIM : 042627937

Tanggal Lahir : 23 agustus 2000

Kode/Nama Mata Kuliah : ESPA4111 / pengantar ekonomi makro

Kode/Nama UPBJJ : malang

Hari/Tanggal UAS THE : selasa , 28 desember 2021

Tanda Tangan Pesrta Ujian

Riska rizki utami


Surat Pernyataan Mahasiswa

Kejujuran Akademik

Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : riska rizki utami

NIM : 042627937

Kode/Nama Mata Kuliah : ESPA4111 / pengantar ekonomi makro

UPBJJ-UT : malang

1. Saya tidak menerima UAS THE dari siapapun selain mengunduh dari aplikasi THE pada
laman https://the.ut.ac.id.
2. Saya tidak memberikan naskah UAS THE kepada siapapun
3. Saya tidak menerima dan memberikan bantuan dalam bentuk apapun dalam pengerjaan
soal ujian UAS THE.
4. Saya tidak melakukan plagiasi atas pekerjaan orang lain (menyalin dan mengakuinya
sebagai pekerjaan saya).
5. Saya memahamibahwa segala tindakan kecurangan akan mendpatkan hukuman sesuai
dengan aturan akademik yang berlaku di Universitas Terbuka.
6. Saya bersedia menjunjung tinggi ketertiban, kedisiplinan, dan integritas akademik dengan
tidak melkukan kecurangan, joki, menyebarluaskan soal dan jawaban UAS THE melalui
media apapun, serta tindakan tidak terpuji lainnya yang bertentangan dengan peraturan
akademik Universitas Terbuka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari terdapat
pelanggaran atas pernyataan diatas, saya bersedia bertanggung jawabdan menanggung sanksi
akademik yang ditetapkan oleh Universitas Terbuka.

selasa, 28 desember 2021

Yang Membuat Pernyatan

(Riska rizki utami)

________________

Assalamualaikum wr.wb
Salam sejahtera untuk kita semua

Tutor yang saya hormati dan bnaggakan, ijinkan saya memaparkan uraian jawaban saya pada
kegiatan ujian akhir semester pada akhir semester ini

1. Faktor-faktor penentu tingkat konsumsi nasional


Konsumsi agregat suatu negara karena konsumsi merupakan komponen utama perhitungan
pendapatan nasional dari sisi pengeluaran. Selain itu, apa yang menjadikannnya sebuah
investasi yang merupakan daya dorong dalam pertumbuhan ekonomi jangka panjang
Faktor penentu tingkat konsumsi nasional terdiri dari :

 Pendpaatan diposabel
Terori konsumsi yang paling sederhana hanya menggunakan pendapatan pada tahun
tertentu untuk memprediksi pengeluaran konsumsi. Studi lebih lanjut menyatakan
bahwa pengeluaran konsumsi seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh pendapatan saat
tertentu saj, tetapi pendapatan di masa lalu dan masa yang akan datang, atau
kecenderungan pendapatan yang akan diperoleh dalam jangka panjang. Itulah mengapa
seorang konsumen dapat melakukan pengeluaran konsumsi yang melampaui
pendapatannya pendapatan jangka panjang memungkinkan ia melakukannya.

 Teori pendapatan permanen dan teori siklus konsumsi


Pada umumnya konsumen dalam menentukan anggraan belanja tidak hanya bergantung
pada pendapatan tetap, tetapi juga mempertimbangkan prospek pendapatan yang akan
diteriamnya dalam jangka panjang. Teori pendapatan tetap dan hipotetis siklus-hidup
serta analisis lainnya yang telah dikembangkan berupaya menjelaskan tentang kaitan
antara konsumsi dengan kecenderungan pendapatan dalam jangka panjang.
Pendapatan tetap dapat difesinikan sebagi rata-rata tingkat pendapatan yang akan
diterima oleh rumah tangga dalam jangka panjang, ketika ada kemungkinan terjadi
fluktuasi dalam jangka pendek. Intinya bahwa rumah tangga akan membelanjakan
uangnya untuk konsumsi secara relatif konstan (sesuai dengan ekspekatsi pendapatnnya
dalam jangka panjang). Penting bagi kita untuk memperhatikan pendapatan tetap yang
diterima, karena hal ini memebrikan sedikit gambaran bahwasanya konsumen tidak
akan melakukan fluktuasi konsumen secara drastis.
Saat perubahan pendapatan terjadi secara permanen, semisal kenaikan gaji, maka
konsumen akan kecenderungan untuk menaikkan pula tingkat konsumsinya proposional
dengan kenaikkan pendapatan. Laij halya jika perubahan pendpaatan hanya bersifat
semnetara pula. Oleh karena itulah, ekspektasi konsumen tentang guncangan
pendapatan, baik bersifat permanen ataupun sementara, tetap harus diperhatikan dan
dianalisis dampaknya terhadap pola konsumsi.

 Tingkat kekayaan
Lebih jauh lagi, tingkat konsumsi dapat pula ditentukan oleh tingkat kekayaan. Sebagai
contoh dua orang yang sama-sama mempunyai pengahsilan sebesar 24jt/tahun.
Konsumen yang mempunyai deposit di bank sebesra 200jt, sedangkan ynag lain tidak
mempunyai tabungan, maka konsumen pertama dapat mengkonsumsi lebih banyak
tanpa harus takut bangkrut dibandingkan dengan konsumen kedua. Hal ini
mengidikasikan bahwasanya telah terjadi efek ekkayaan pada konsumen peratama.
Normalnya bahwasannya kekayaan tidak dapat berubah secara cepat dari tahun ke
tahun, oleh karenannaya jarang sekali hal ini dapat menyebabkan pergeraakan yang
cepat dalam tingkat kosnumsi. Sebagai pengingat, kekayaan adalah konsep stok,
sedangkan pendapatan konsep aliran (flow). Kekayaan bisa bertambah tergantung dari
besarnya aliran pendapatan yang diterima.

Sumber : ESPA411

2. Pergeseran pada kurva permintaan agregat


Ketika terjadi perubahan harga, jumlah barang/jasa yang diminta dalam perekonomian akan
mengalami perubahan jika tingkat harga naik jumlah barang/ jasa yang diminta akan
mengalami penurunan, sementara jika tingkat harga turun, jumlah barang/jasa yang diminta
akan mengalami peningkatan. Analisis ini mengarah pada terjadinya perubahan jumlah
permintaan agregat sepanjang kurva permintaan agregat.
 Perubahan ekspor neto
Kejadian yang menyebabkan perubahan tingkat ekspor neto suatu negara pada tingkat
harga berapa pun pasar merupakan faktor lain pendorong terjadinya pergeseran pada
kurva permintaan aggregat. Krisis ekonomi amerika serikat yang dimulia sejak 2007
kejadian yang sangat memengaruhi tingkat ekspor neto suatu negara. Akibat krisis
ekonimii ini, permintaan amerika serikat terhadap produk-produk dari negara lain
menurun, termasuk yang berasal dari Indonesia. Implikasi dari hal ini bagi indinesia
adlah terjadinya penurunan volume ekspor Indonesia ke negara amerika serikat.
Penurunan ini temntu berkontribusi terhadap terjadinya penurunan permintaan agregat
Indonesia. Dalam kurva permintaan agregat, penurunan ini dintandai dengan pergeseran
kurva ke kiri

Dampak COVID-19 terhadap Keseimbangan Ekonomi

Penyebaran COVID-19 memiliki dampak langsung terhadap tenaga kerja. Hal tersebut membuat
adanya guncangan pada sisi penawaran dalam perekonomian. Kesehatan dari tenaga kerja akan
berisiko menurun sehingga mengganggu produktivitas dari tenaga kerja tersebut. Selain itu dari sisi
ekonomi, pembatasan mobilitas manusia untuk mengurangi probabilitas meluasnya penularan
COVID-19 seperti yang dilakukan oleh Jepang membuat adanya penurunan produktivitas dari tenaga
kerja. Penurunan produktivitas tersebut tidak terlalu tinggi bagi sektor formal karena adanya
perkembangan teknologi digital. Namun, bagi sektor informal seperti pedagang keliling, pembatasan
mobilitas akan mengurangi jumlah jam kerja produktif mereka. Dengan kondisi tersebut, penurunan
jam kerja produktif akan membuat output menjadi sangat menurun karena sifat produksi yang IRS.
Penurunan proporsi output yang lebih besar daripada penurunan inputnya membuat produktivitas
menjadi menurun.
Selain dari sisi penawaran, guncangan ekonomi akibat penyebaran COVID-19 juga dapat
mengguncang sisi permintaan. Secara agregat, konsumsi masyarakat akan menurun karena adanya
pembatasan dari mobilitas sehingga frekuensi transaksi mengalami penurunan. Selain itu, kelompok
masyarakat yang bekerja pada sektor informal dengan pendapatan harian dan tidak pasti juga akan
mengalami penurunan pendapatannya secara relatif dibanding sebelumnya. Penurunan pendapatan
tersebut pada akhirnya akan membuat konsumsi pada masyarakat yang bekerja di sektor informal
juga akan menurun. Hal tersebut akan mendorong adanya kontraksi dari sisi permintaan agregat.
Dengan menggunakan perangkat model keseimbangan umum yang dijelaskan pada bagian
sebelumnya, guncangan pada sisi penawaran dan permintaan dalam perekonomian akibat adanya
penyebaran COVID-19 dapat digambarkan pada Gambar 2 di bawah ini. Pada Gambar 2 di bawah,
awalnya perekonomian berada pada keseimbangan di titik A.

Kemudian, dampak dari COVID-19 yaitu kontraksi pada sisi penawaran digambarkan pada kurva
produktivitas yang menurun dan kontraksi pada sisi permintaan digambarkan pada kurva
permintaan yang bergeser ke arah kiri. Pada akhirnya, keseimbangan akibat pengaruh COVID-19
adalah pada titik B, yaitu turunnya produktivitas dan output pada perekonomian. Secara simultan,
penurunan pada tingkat produktivitas membuat tingkat harga dalam perekonomian mengalami
peningkatan. Hal tersebut sesuai dengan hukum kelangkaan dimana jika barang yang ada berjumlah
relatif sedikit, maka harga barang tersebut akan relatif tinggi. Dengan demikian, model tersebut
memprediksikan bahwa perekonomian akan mengalami kondisi stagflasi, yaitu saat terjadi
penurunan output yang disertai dengan kenaikan harga.

Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan

Kondisi akhir dalam jangka pendek yang terjadi pada perekonomian akibat adanya penyebaran
COVID-19 adalah terjadinya stagflasi. Dengan kondisi tersebut, pemerintah dan bank sentral dapat
mengambil kebijakan yang bersifat ekspansif untuk menstimulasi sisi permintaan dan penawaran
agar kembali pada titik keseimbangan awal sebelum terjadinya stagflasi akibat COVID-19. Dari sisi
fiskal, kebijakan ekspansif dapat dilakukan dengan mengurangi pajak langsung atau menambah
pengeluaran pemerintah. Dalam jangka pendek, pengurangan pajak langsung akan membuat insentif
bagi masyarakat yang bekerja pada sektor formal untuk meningkatkan konsumsinya. Sedangkan
pengeluaran pemerintah, dapat digunakan untuk cash transfer atau in-kind transfer terhadap
masyarakat yang bekerja pada sektor informal sehingga bisa memastikan konsumsi terjaga dalam
jangka pendek.

Pada sisi moneter, kebijakan ekspansif dapat dilakukan dengan menurunkan tingkat suku bunga di
pasar uang. Tingkat suku bunga merupakan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan saat akan
melakukan investasi. Hal tersebut karena saat perusahaan akan melakukan investasi, salah satu
caranya jika perusahaan tidak memiliki modal adalah dengan melakukan pinjaman ke pasar uang.
Pinjaman di pasar uang akan memiliki biaya sebesar suku bunga yang berlaku. Penurunan tingkat
suku bunga memberikan implikasi bahwa biaya investasi akan relatif lebih murah. Kondisi tersebut
akan menjadi insentif bagi perusahaan untuk meningkatkan investasinya. Peningkatan investasi
perusahaan dapat digunakan untuk melakukan ekspansi produksi dan efisiensi dalam perusahaan,
sehingga kapasitas output dapat ditingkatkan. Peningkatan pada kapasitas output pada gilirannya
akan membutuhkan tenaga kerja, sehingga permintaan tenaga kerja akan meningkat dan
produktivitas meningkat karena sifat produksi yang IRS.

Pada akhirnya, kondisi perekonomian setelah adanya stimulus digambarkan secara grafis pada
Gambar 3 dibawah ini

Kebijakan fiskal ekspansif akan membuat permintaan masyarakat meningkat dan menggeser kurva
permintaan pada model ke kanan. Sedangkan kebijakan moneter ekspansif akan membuat kurva
produktivitas bergeser ke atas karena kenaikan produktivitas tenaga kerja dalam produksi. Kedua
stimulus tersebut akan membuat kondisi perekonomian kembali pada kondisi awal di titik A, dimana
output akan kembali meningkat dan tingkat harga akan menurun seperti kondisi keseimbangan
awal.
sumber :

ESPA411

https://medium.com

3. Perubahan pengeluaran pemerintah


Berbagai perubahankebijakan pemerintah terkait dengan perubahan belanja pemerintah
merupakan faktor langsung yang dapat mendorong/menurunkan permintaan agregat.
Misalnya adalah ketika pemerintah menetapkan kebijkan pembaungan infrastruktur jalan
yang memadai di setiap kabupaten/kota di Indonesia. Kebijakan ini tentunya langsung
berkaitan dengan terjadinya peningkatan jumlah barang/jasa yang diminta pada tingkat
harga berapapun yang berlaku dipasar, sehingga akhirnya akan mendorong pergeseran
kurva permintaan agregat ke kanan. Sebaliknya bila pemerintah mengurangi belanja, maka
kurva permintaan agregat akan bergeser kekiri
 Peningkatan belanja pemerintah

Kenaikan belanja pemerintah sebesar ∆G meningkatkan pengeluaran yang direncanakan sebesar


jumlah itu untuk semua tingkat pendapatan. Ekuilibrium bergerak dari titik A ke titik B, dan
pendapatan meningkat dari Y1 ke Y2 Bahwa kenaikan dalam pendapatan ∆Y melebihi kenaikan
belanja pemerintah. Jadi, kebijakan fiskal memiliki dampak pengganda terhadap pendapatan. Y E E
=C +I +G1 E1 = Y1 E =C +I +G2 E2 = Y2 Y Menurunkan persediaan yang tidak direncanakan
menyebabkan pendapatan naik Kenaikan dalam belanja pemerintah menggeser pengeluaran yang

tidak direncanakan Pengeluaran yang direncanakan.

Misalkan terjadi peningkatan government spending sebesar ∆G. Hal ini akan mendorong kenaikan
income (Y) . berdasarkan konsep keynesian multiplier, peningkatan diatas berdampak pada
pergeseran kurva IS sebesar ∆G/(1 – MPC)

Gambar 2 menunjukkan pergeseran ekuilibrium akibat peningkatan grovnment spending


Keterangan :

- Peningkatan grovement spending sebesar ∆G akan mendorong kenaikan income (dari Y1 ke


Y2)
- Hal tersebut secara silmutan menggeser kurva IS kekanan secara sejajar sebesar ∆G/(1 –
MPC) menjadi IS’, diikuti dengan kenaikkan tingkat suku bunga dari r1 menjadi r2.
- Akibatnya, ekuilibrium kurva IS-LM bergeser dari E ke E’.

Pergeseran yang serupa dengan contoh diatas juga terjadi apabila pemerintah mengambil kebijakan
pengurangan pajak (T). Hanya saja mekanisme perubahan terjadi pada instrumen konsumsi (C).

Adapun pergeseran pada kurva IS adalah sebesar ∆T x (MPC/(1 – MPC))

Sumber:

ESPA411

https://www.ajarekonomi.com/2019/03/kurva-is-lm-ekuilibrium-di-pasar-barang.html?m=1

4. Pemerintah terus berupaya mengurangi defisit neraca perdagangan, sehingga membuat


neraca transaksi berjalan menjadi lebih baik dibanding tahun lalu.
berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, neraca perdagangan mengalami defisit
sebesar US$25 miliar pada kuartal I 2019.Berkaitan dengan itu, Kepala Ekonom Bank Nasional
Indonesia (BNI)mengungkapkan pemerintah dapat memperbaiki kinerja neraca perdagangan pada
bulan-bulan mendatang dengan melakuka langkah strategis. Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang
PS Brodjonegoro juga menuturkan, setidaknya ada langkah-langkah yang disiapkan untuk menekan
defisit neraca perdagangan, yang intinya adalah kebijakan fiskal yang bisa digunakan untuk
mendorong ekspor dan menekan impor

- Pertama, tingkatkan ekspor nonmigas berasal dari hasil industri dan diversifikasinya ke pasar
tradisional (Tiongkok, AS, dan Jepang) dan negara-negara tujuan ekspor yang baru.

- kedua pemerintah harus segera mengurangi impor bahan baku atau penolong dengan mencari
substitusinya dari dalam negeri.

- Ketiga, terus kurangi impor migas seiring kenaikan harga minyak dunia dengan mengoptimalkan
program B20 dan seterusnya

- keempat, pemerintah harus mengembangkan diplomasi perdagangan bilateral dan multilateral


(termasuk international roadshow) untuk mengenalkan produk-produk buatan Indonesia disertai
keaktifan mengikuti pameran-pameran internasional.Untuk diketahui, meningkatnya defisit pada
neraca perdagangan dipicu oleh anjloknya ekspor 10,80% (month to month) atau 13,10% year on
year). Total ekspor sebesar US$12,60 miliar, bersumber dari ekspor migas US$0,74 miliar (turun
34,95% mtm), dan ekspor nonmigas US$ 11,86 miliar (turun 8,68% mtm).Anjloknya ekspor migas
tersebut kemudian menekan ekspor secara keseluruhan. Selain itu, ekspor hasil industri pengolahan
yang selama ini jadi andalan ekspor anjlok 9,04% mtm atau 11,82% yoy.

padahal ekspor nonmigas tersebut menyumbang 94,11% dari total ekspor.Ekspor hasil industri
berkontribusi 74,77%; tambang 17,35%; migas 5,89% dan pertanian 1,99%. Di sisi impor, volume di
kuartal I 2019 mencapai US$15,10 miliar atau naik 12,25% mtm atau turun 6,58% yoy.Di sisi lain,
impor migas melonjak 46,99% mtm dari US$1,52 miliar menjadi US$2,24 miliar. Sejalan dengan itu,
impor nonmigas pun tak mau kalah, melonjak jadi 7,82% mtm dari US$11,93 miliar menjadi
US$12,86 miliar.

Angka impor didominasi oleh impor bahan baku atau penolong, yakni sebanyak 75,03%. Sementara
impor barang modal hanya 15,55% dan sisanya impor barang konsumsi 9,42%. (A-3)

- kelima, pemerintah segera akan menerapkan Bea Masuk Anti-Dumping Sementara dan Bea Masuk
Tindak Pengamanan Sementara untuk mengurangi derasnya arus impor komoditas dari negara luar.

- keenam, pemerintah mendorong ekspor dengan memberikan fasilitas tax allowance kepada
perusahaan yang melakukan ekspor minimal 30 persen dari total produksinya. Ada empat jenis tax
allowance, yakni pengurangan pajak penghasilan selama enam tahun, percepatan depresiasi dan
amortasi, diskon tarif dividen menjadi 10 persen, serta lost carry forward dari 5 tahun menjadi 10
tahun.
- ketuju, pemerintah tengah menyelesaikan Peraturan Pemerintah yang mengatur pembebasan
Pajak Pertambahan Nilai untuk industri galangan kapal. Bambang menuturkan, diharapkan insentif
ini dapat mendorong tumbuhnya industri kapal dalam negeri, dan mengurangi impor kapal.

- kedelapan, mendorong kebijakan biodiesel untuk mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM).
Dia bilang, pemerintah setelah tidak lagi disubsidinya premium, selanjutnya akan fokus melakukan
konversi ke energi baru terbarukan

Sumber:

https://m.mediaindonesia.com/ekonomi/235722/

https://money.kompas.com