Anda di halaman 1dari 3

Bioplastik dari pati jagung dan nanoselulosa

Bioplastik dengan penggunaan bahan baku pati jagung, plasticizer gliserol, dan
penguat nanoselulosa dari kenaf ini akan dibandingkan dengan plastik konvensional
yang berbahan dasar PET dan PP. Proses yang dibutuhkan dalam pembuatan bioplastik
ini meliputi persiapan nanoselulosa, dan pembuatan bioplastik (Babaee et al, 2015).

Tahap pertama yaitu, pembuatan nanoselulosa yang diawali dengan isolasi


selulosa. Isolasi selulosa dilakukan dengan memasak kenaf menggunakan larutan NaOH
15% dan 0,1% AQ (anthraquinone) pada suhu maksimal 160oC selama 60 menit
dilanjut pada proses bleaching dengan memasaknya menggunakan larutan NaOH 1%
dan H2O 1% pada suhu 70oC selama 90 menit. Selulosa yang didapatkan dicampur
dengan air suling menggunakan high shear mixing dengan kecepatan 5000 rpm selama
10 menit sehingga terbentuk slurry dengan konsentrasi serat 0,5 wt% dan kemudian
digiling menggunakan alat ultra-fine grinder selama 16 menit dengan kecepatan putar
3500 rpm. Hasil penggilingan tersebut didapatkan nanofiber selulosa dengan diameter
10-90 nm (Babaee et al, 2015).

Tahap kedua yaitu, pembuatan bioplastik dengan metode solution casting. Pati
jagung dan gliserol sebanyak 37% (dari berat pati) dicampur dengan akuades sambil
diaduk dan dipanaskan pada suhu 80oC selama 30 menit agar pati jagung tergelatinisasi.
Kemudian Nanofiber selulosa sebanyak 10% (dari berat kering pati) ditambahkan dan
campuran diaduk selama 30 menit pada suhu 80oC. Selanjutnya, campuran dikeringkan
dalam oven pada suhu 40oC selama 3 hari. Film memiliki ketebalan 0,4 mm dan
dikondisikan pada suhu 23oC dan kelembaban 75% selama 3 hari untuk memastikan
kesetimbangan.

Berdasarkan penelitian (Babaee et al, 2015), bioplastik yang dibuat dilakukan


karakterisasi seperti pengujian sifat mekanik berupa kuat tarik dan elongasi, serapan air,
dan biodegradasi. Dari hasil karakteriasasi didapatkan nilai kuat tarik sebesar 38 MPa
dan elongasi 27%. Dari nilai kuat tarik tersebut telah memenuhi salah satu karakteristik
plastik berbahan dasar PP yaitu, kuat tarik sebesar 20-40 MPa dan mendekati nilai kuat
tarik plastik berbahan dasar PET yaitu, 45-70 MPa. Selanjutnya untuk elongasi
bioplastik masih jauh dari plastik plastik berbahan dasar PP dan PET yaitu, PP dikisaran
60-500% dan PET dikisaran 30-70%. Lalu dilihat dari kemampuan bioplastik dalam
menyerap air yaitu, 65% dalam 70 menit, nilai tersebut masih terlalu jauh bila
dibandingkan dengan plastik PP dan PET yaitu, untuk PP berada dikisaran 0,01-0,1%
dan PET dikisaran 0,1-0,2% dalam waktu 24 jam. Dan untuk yang terakhir yaitu,
biodegradasi yang menunjukkan bahwa bioplastik dapat terdegradasi penuh dalam
waktu 40 hari. Hal ini menunjukkan bahwa bioplastik dari pati jagung dengan
penambahan plasticizer gliserol dan penguat nanoselulosa dapat terdegradasi dengan
cepat bila dibandingkan dengan plastik berbahan dasar PP dan PET.

Dari hasil karakterisasi bioplastik yang ditunjukkan, pengaplikasiannya sebagai


pengganti plastik berbahan dasar PP dan PET belum bisa sepenuhnya menggantikan
plastik PP dan PET hanya sebagiannya. Karena sifat dari bioplastik tersebut yang
memiliki kemampuan menyerap air yang tinggi yaitu, 65% tidak cocok digunakan
sebagai media penyimpanan air seperti botol minum plastik yang berasal dari PET, dan
gelas plastik yang berasal dari PP yang memiliki kemampuan menyerap air yang
rendah. Tetapi, bioplastik ini dapat diaplikasikan sebagai pengganti sedotan plastik yang
berbahan dasar PP karena sedotan digunakan dalam kurun waktu yang sebentar dan
tidak digunakan sebagai media penyimpan air.

Bioplastik dari Pati dan PBS (polybutykene succinate)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan (Zeng et al, 2011) terkait dengan


pembuatan bioplastik dengan campuran anatra pati jagung dengan PBS modifikasi
yaitu, reactive poly(butylene succinate) (RPBS). Proses yang dilakukan yaitu, meliputi
pembuatan RPBS dan pembuatan bioplastik.

Tahap pertama, pembuatan RPBS melalui dua Langkah proses yaitu, HO-PBS-
OH (hydroxyl terminated PBS) disintesis dengan cara esterifikasi campuran bahan 1,2
mol 1,4-butanadiol dan 1 mol asam suksinat pada suhu 190 oC selama 4 jam dan
ditambahkan katalis tetrabutyl titanate 0,1%. HO-PBS-OH diperoleh setelah
polikondensasi vakum pada 220oC di bawah 30 Pa selama 45 menit. Lalu RPBS
didapatkan dengan mereaksikan 1 mol HO-PBS-OH dengan 1,7 mol TDI (toluene-2,4-
diisocyanate) dengan pada suhu 140oC selama 1 jam. Hasilnya didinginkan dalam
desikator.

Tahap kedua yaitu, pembuatan bioplastik dengan menggunakan alat twin-screw


extruder. Hal pertama yang dilakukan yaitu, ekstrusi pati dan gliserol 30%
menggunakan alat twin-screw extruder dengan suhu 1300C dan kecepatan ulir 100 rpm
sehingga didapatkan pati termoplastik. Pati termoplastik akan dicampurkan dengan
RPBS dengan ekstrusi kembali seperti pada ekstrusi pati dengan ratio pati termoplastik
dan RPBS yaitu, 50:50. Campuran tersebut dicetak dengan metode injeksi molding.
Dengan suhu zona dipertahankan pada 150oC dan suhu cetakan 40oC. Penggunaan alat
twin-screw extruder dalam pembuatan bioplastik ini agar proses pembuatan berlangsung
dengan cepat karena suhu yang digunakan tinggi. Penggunaan suhu yang tinggi
dimaksudkan agar PBS mencapai titik lelehnya yaitu 115oC. Bila pembuatan tidak
menggunakan alat ini seperti metode blending maka proses pembuatan harus dilakukan
secara terpisah karena pada metode ini bahan harus ditambahkan pelarut seperti air dan
untuk PBS tidak larut dengan air tetapi larut dengan pelarut kloroform.

Karakterisasi bioplastik yang dilakukan yaitu, sifat mekanik seperti kuat tarik
dan elongasi, penyerapan air. Kuat tarik yang bioplastik dari pati dan RPBS ini yaitu,
30,1 MPa dan elongasi 74,4%. Dilihat dari sifat mekanik bioplastik yang terbuat dari
pati dan RPBS ini sudah sesuai dengan sifat mekanik dari plastik berbahan dasar PP dan
PET. Selanjutnya, kemampuan bioplastik dalam menyerap air yaitu, 23% dalam waktu
60 menit dan hingga menit ke 120 tidak ada perubahan nilai daya serap air dari
bioplastik tersebut. Dari daya serap air bioplastik tersebut jika dibandingkan dengan
plastik berbahan dasar PET dan PP mendekati.

Berdasarkan karakteristik bioplastik yang terbuat dari pati dan RPBS ini secara
keseluruhan sudah mendekati dari karakteristik plastik berbahan dasar PET dan PP
sehingga bioplastik ini dapat menjadi alternatif plastik ramah lingkungan pengganti
PET dan PP.