Anda di halaman 1dari 11

FORMULASI SEDIAAN KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN PAGODA (Clerodendrum

paniculatum L.) DAN UJI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI


TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN

Susan Sirait1, Ihsanul Hafiz2, Siti Fatimah Hanum3, Mandike Ginting4

1
Mahasiswa S1 Farmasi Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia Medan
2.3.4
Dosen S1 Farmasi, Fakultas dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia Medan

Abstrak

Pendahuluan; Inflamasi merupakan respon yang normal akibat pertahanan tubuh untuk
mengeliminasi patogen, mencegah penyebaran kerusakan jaringan dan memperbaiki jaringan yang
rusak akibat gejala patologi suatu penyakit. Apabila inflamasi tidak terkontrol dan terjadi pada tempat
dan waktu yang tidak tepat, akan mengganggu keseimbangan homeostatis tubuh, berkembang menjadi
inflamasi kronis maupun menimbulkan kerusakan jaringan. Tujuan; Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui formulasi sediaan krim ekstrak etanol daun pagoda (Clerodendrum paniculatum L.) dapat
memiliki aktivitas antiinflamasi terhadap tikus putih jantan sebanyak 25 ekor. Metode; Jenis
penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimental laboratorium. Data dianalisis
dengan menggunakan metode ANOVA. Hasil; Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan krim
ekstrak etanol daun pagoda memenuhi syarat uji evaluasi organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar,
tipe emulsi, viskositas dan iritasi dan pengujian aktivitas antiinflamasi sediaan krim ekstrak etanol
daun pagoda pada konsentrasi 5% dan 10% menunjukkan nilai signifikan (p < 0,05) dimana tidak
terdapat perbedaan yang signifikan dengan kontrol positif. Kesimpulan; Hasil ini menyimpulkan
bahwa sediaan krim ekstrak etanol daun pagoda memberikan khasiat antiinflamasi yang efektif pada
konsentrasi 5% dan 10% dan dikatakan tidak stabil setelah melewati uji stabilitas cycling test. Saran;
Disarankan pada peneliti selanjutnya melakukan pengembangan formula sediaan krim lebih lanjut
agar diperoleh sediaan krim yang stabil dalam penyimpanan dan melakukan penelitian lebih lanjut
menggunakan metode isolasi untuk menghilangkan zat warna pada ekstrak daun pagoda agar
memperbaiki estetika warna dari sediaan krim agar lebih menarik.
Kata Kunci : Sediaan Krim, Daun Pagoda (Clerodendrum paniculatum L.), Tikus Putih
Jantan, dan Aktivitas Antiinflamasi
PENDAHULUAN inflamasi, namun kedua golongan obat ini
Inflamasi merupakan respon yang yang biasa digunakan dalam pengobatan
normal akibat pertahanan tubuh untuk inflamasi seringkali menimbulkan efek yang
mengeliminasi patogen, mencegah penyebaran merugikan dan berbahaya seperti kerusakan
kerusakan jaringan dan memperbaiki jaringan gastrointestinal, nefrotoksik dan hepatotoksik
yang rusak akibat gejala patologi suatu (6). Adapun efek samping yang paling sering
penyakit. Apabila inflamasi tidak terkontrol dijumpai adalah kecenderungan menginduksi
dan terjadi pada tempat dan waktu yang tidak ulser lambung atau usus yang suatu keadaan
tepat, akan mengganggu keseimbangan dapat disertai anemia akibat pendarahan yang
homeostatis tubuh, berkembang menjadi terjadi pada saluran cerna (7). Sehingga perlu
inflamasi kronis maupun menimbulkan pengembangan obat antiinflamasi dari
kerusakan jaringan. Penyakit yang timbul tanaman, yang diduga memiliki efek samping
akibat respon inflamasi yang berlebih seperti yang lebih kecil, yaitu tanaman daun pagoda.
osteoarthritis, asma, rhinitis alergi sering Tanaman pagoda juga dikenal sebagai
menimbulkan masalah yang menganggu etnomedis, karena digunakan sebagai
aktivitas sehari-hari (1). pengobatan untuk terapi penyakit seperti luka,
Salah satu tempat yang dapat tifus, gigitan ular, penyakit kuning, pusing,
mengalami inflamasi adalah kulit sehingga malaria, anemia dan hemoroid. Tanaman ini
pengembangan bentuk sediaan antiinflamasi juga memiliki aktivitas biologis seperti
khususnya yang bersifat lokal telah dilakukan. antimikroba, antiinflamasi, antioksidan,
Keuntungan dari pemberian sediaan obat antelmintik, antidiabetes, antikolesterol,
antiinflamasi secara topikal adalah dapat insektisida dan anti aging (8).
langsung dioleskan pada tempat yang Skrining fitokimia awal menunjukkan
mengalami inflamasi sehingga dapat langsung adanya terpen, flavonoid, tanin, alkaloid, asam
memberikan efek, pelepasan obatnya secara fenolat, sterol dan glikosida (9). Senyawa yang
perlahan-lahan sehingga durasi efeknya bisa berkontribusi dalam efek antiinflamasi dapat
lebih lama dan menurukan frekuensi dipengaruhi oleh adanya senyawa flavoniod,
penggunaan sehingga tingkat kepatuhan glikosida dan tanin (7). Aktivitas antiinflamasi
pasien bisa meningkat (2). tanaman pagoda telah diuji pada tahun 2016,
Terapi topikal merupakan salah satu dimana ekstrak etanol dari daun pagoda
metode pengobatan yang sering digunakan dengan dosis 50 mg/kg memiliki aktivitas
dalam bidang dermatologis (3). Sifat umum antiinflamasi (10).
sediaan krim ialah mampu melekat pada Berdasarkan latar belakang di atas,
permukaan tempat pemakaian dalam waktu peneliti merasa penting untuk melakukan
yang cukup lama sebelum sediaan ini dicuci penelitian dengan judul formulasi sediaan krim
atau dihilangkan. Krim dapat memberikan efek ekstrak etanol daun pagoda dan uji aktivitas
mengkilap, berminyak, melembabkan dan antiinflamasi terhadap tikus putih jantan.
mudah tersebar merata, mudah berpenetrasi
pada kulit, mudah diusap, mudah dicuci air (4). METODE PENELITIAN
Selain itu, krim juga banyak mengandung air Jenis Penelitian
yang dapat memberikan rasa dingin sehingga Jenis penelitian yang digunakan pada
dapat mengurangi panas pada daerah penelitian ini adalah desain penelitian
terjadinya radang (5). eksperimental laboratorium. Pada penelitian ini
Sediaan krim yang biasa digunakan sediaan krim ekstrak etanol daun pagoda
adalah hidrokortison krim. Obat-obat (Clerodendrum paniculatum L.) diformulasi
antiinflamasi nonsteroid (AINS) dan dalam konsentrasi 2,5%, 5% dan 10%. Hewan
kotikosteroid sama-sama memiliki kemampuan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah
untuk menekan tanda-tanda dan gejala-gejala
tikus putih (Rattus noverigicus) jantan, 150- jantan, trietanolamin, parafin liquid, propilen
200 g sebanyak 25 ekor. glikol, sarung tangan.

Tempat dan Waktu Penelitian Prosedur Penelitian


Tempat penelitian akan dilakukan di Ekstraksi Sampel
Laboratorium Kosmetika Fakultas Farmasi dan Metode ekstraksi yang digunakan
Kesehatan Institut Kesehatan Helvetia Medan adalah metode maserasi selama 7 hari dengan
dan di Laboratorium Farmakologi Fakultas pelarut etanol 96%. Serbuk simplisia
Farmasi Universitas Sumatera Utara. Waktu ditimbang sebanyak 500 gram, dimasukkan ke
penelitian dilakukan pada bulan Agustus dalam wadah maserasi, kemudian direndam
sampai September 2021. dengan pelarut etanol 96% selama 5 hari
sebanyak 3,75 liter pada suhu ruangan sesekali
Bahan Penelitian diaduk. Kemudian disaring menggunakan
Bahan yang digunakan dalam kertas saring. Lalu ampas dimaserasi kembali
penelitian ini adalah asam stearat, aquadest, dengan etanol 96% sebanyak 1,25 liter selama
daun pagoda (Clerodendrum paniculatum), 2 hari. Kemudian disaring kembali, maserat I
etanol 96%, gliseril monostearat, gliserin, dan maserat II digabungkan lalu diuapkan
hidrokortison krim 2,5% (Kimia Farma), pelarutnya menggunakan vacuum rotary
karagenan, lanolin, metil paraben, masker, evaporator pada suhu 40˚C. (11).
NaCl 0,9%, tikus putih (Rattus novergicus)

Formulasi Sediaan Krim


Formulasi sediaan krim yang digunakan dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Formulasi Sediaan Krim
Formula
Bahan Fungsi Bahan
F0 (%) F1 (%) F2 (%) F3 (%)
Ekstrak etanol daun pagoda Zat aktif 0 2,5 5 10
Asam stearat Pengemulsi 8,0 8,0 8,0 8,0
Parafin liquid Pelarut 3,0 3,0 3,0 3,0
Lanolin Pelembab 2,0 2,0 2,0 2,0
Gliseril monostearat Pengemulsi 1,3 1,3 1,3 1,3
Trietanolamin Pengemulsi 0,5 0,5 0,5 0,5
Gliserin Humektan 3,0 3,0 3,0 3,0
Propilen glikol Pengemulsi 3,0 3,0 3,0 3,0
Metil paraben Pengawet 0,1 0,1 0,1 0,1
Aquadest ad Pelarut 100 100 100 100
terbentuk dasar krim digerus sampai homogen
Pembuatan Sediaan Krim (12).
Ditimbang semua bahan yang akan
digunakan. Di dalam cawan porselin Evaluasi Terhadap Sediaan Krim
dimasukkan asam stearat, paraffin liquid, Pemeriksaan Organoleptis
lanolin, dan gliseril monostearat dilebur di atas Pemeriksaan organoleptis sediaan krim
penangas air pada suhu 85-86ºC (massa I). yang diamati secara visual meliputi bentuk
Metil paraben dilarutkan dalam air panas, lalu fisik, warna dan bau krim (13).
ditambahkan trietanolamin, gliserin dan
propilen glikol diaduk sampai larut (massa II). Pemeriksaan Homogenitas
Di dalam lumpang panas ditambahkan massa I Sebanyak 0,5 g sediaan krim dioleskan
dan massa II digerus terus-menerus hingga di atas kaca objek dan ditutup rapat dengan
kaca objek lain, selanjutnya homogenitas krim
diamati. (13).
Pembuatan Suspensi Karagenan 1%
Pemeriksaan pH Di timbang karagenan sebanyak 100
Sampel dibuat dalam konsentrasi 1% mg, kemudian dilarutkan dalam 10 ml larutan
yaitu ditimbang 1 gram sediaan dan dilarutkan NaCl 0,9% fisiologis dan diaduk sehingga
dalam 100 ml air suling. Penentuan pH sediaan diperoleh kosentrasi 1% (19).
dilakukan dengan menggunakan alat pH meter
(14). Perlakuan Terhadap Hewan Uji
Tikus putih jantan sebanyak 25 ekor
Pemeriksaan Stabilitas dibagi menjadi 5 kelompok secara acak, yaitu:
Uji stabilitas menggunakan metode a. Kontrol negatif (F0) diberi basis krim
cycling test dilakukan dengan menyimpan b. Kontrol positif (F+) diberi hidrokortison
sediaan krim pada suhu 4ºC selama 24 jam lalu krim 2,5%
dipindahkan ke dalam oven bersuhu 40ºC ± c. Kelompok uji 1 (F1) diberi krim ekstrak
2ºC selama 24 jam (satu siklus) (15). etanol daun pagoda dengan konsentrasi
2,5%
Pemeriksaan Tipe Emulsi d. Kelompok uji 2 (F2) diberi krim ekstrak
Sebanyak 0,5 g sediaan krim dioleskan etanol daun pagoda dengan konsentrasi 5%
di atas kaca objek ditambahkan pewarna e. Kelompok uji 3 (F3) diberikan krim ekstrak
methylene blue. Pengamatan dilakukan untuk etanol daun pagoda dengan konsentrasi
melihat krim yang dibuat memiliki tipe air 10%
dalam minyak atau minyak dalam air (16). Hewan uji ditimbang dan diberi tanda
pada kaki kirinya, diukur volume awal (Vo)
Pemeriksaan Daya Sebar kaki tikus sebelum perlakuan dengan
Sebanyak 0,5 g sediaan krim menggunakan pletismometer. Setelah satu jam
diletakkan di atas kaca berskala, dan bagian telapak kaki tikus disuntik secara intraplantar
atasnya diberi kaca yang sama dengan beban dengan 0,1 ml suspensi karagenan 1%. Setelah
yang berbeda-beda (50g, 100g, dan 150g) dan satu jam setiap kelompok diberi perlakukan
dibiarkan dengan lama waktu tidak lebih dari 1 secara topikal sesuai dengan kelompoknya.
menit (14). Setelah 30 menit volume kaki kiri tikus diukur
kembali. Dicatat perubahan tingkat
Pemeriksaan Viskositas pembengkakan sebagai volume telapak kaki
Sebanyak 100 gram sediaan krim tikus (Vt). Pengukuran dilakukan setiap 1 jam
dimasukkan ke dalam beaker glass, kemudian selama 6 jam dan 24 jam setelah pemberian.
dipasang spindel no 4 dan rotor dijalankan Rumus pengukuran nilai persen udema
dengan kecepatan 12 rpm (17). dan persen inhibisi udema adalah sebagai
berikut (20). :
Pemeriksaan Iritasi
Vt- V o
Percobaan ini dilakukan terhadap 12 % Udema = X
Vo
orang sukarelawan. Sebanyak 500 mg sediaan
krim dioleskan di belakang telinga dengan Vc 0 - V s
diameter 3 cm, kemudian biarkan selama 24 % Inhibisi udema = X
Vc 0
jam dan lihat perubahan yang terjadi berupa
kemerahan, gatal, dan pembengkakan pada Keterangan:
kulit (18). V₀ = Volume kaki normal
Vt = Volume inflamasi setelah waktu (t)
Vc₀ = Volume inflamasi kontrol negatif
Vs = Volume inflamasi sampel uji Hasil Pemeriksaan Organoleptis
Analisis Data Pengujian organoleptis pada sediaan
Analisis data menggunakan program krim dilakukan sebelum dan setiap siklus
SPSS dengan metode One Way ANOVA untuk cycling test. Pada F0 memiliki warna putih,
menentukan perbedaan rata-rata diantara tidak berbau dan bentuk semi solid. Pada F1
kelompok. Jika terdapat perbedaan, dilanjutkan memiliki warna hijau muda, bau khas ekstrak
dengan menggunakan uji Post Hoc Tukey HSD dan bentuk semi solid. Pada F2 memiliki
untuk melihat perbedaan nyata antar warna hijau tua, bau khas ekstrak dan bentuk
perlakuan. semi solid. Pada F3 memiliki warna hijau
kecoklatan, bau khas ekstrak dan bentuk semi
HASIL solid.
Hasil Evaluasi Stabilitas
Pembuatan krim dilakukan variasi Hasil Pemeriksaan Homogenitas
konsentrasi dari zat aktif dimana F0 0%, F1 Uji homogenitas krim bertujuan untuk
2,5%, F2 5% dan F3 10%, setelah terbentuk melihat penyebaran zat aktif dari sediaan,
krim dilakukan pemeriksaan fisik meliputi pengujian homogenitas dilakukan sebelum dan
pengamatan organoleptis berupa warna, bau setiap siklus cycling test. Hasil pemeriksaan
dan bentuk, homogenitas, pH, daya sebar, tipe homogenitas pada F0, F1, F2, dan F3 pada
emulsi, viskositas dan iritasi. siklus 0 sampai siklus 6 menunjukkan hasil
yang homogen.

Hasil Pemeriksaan pH
Uji pH bertujuan untuk mengetahui tingkat keasaman dan kebasaan dari sediaan. Hasil uji pH
sediaan krim dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Hasil Uji pH
Siklus ke-±SD
Formula
0 1 2 3 4 5 6
F0 6,42 ± 6,18 ± 6,50 ± 6,28 ± 5,98 ± 5,14 ± 5,66 ±
0,83 0,19 0,10 0,19 0,26 0,26 0,18
F1 6,40 ± 6,36 ± 6,20 ± 5,64 ± 5,08 ± 5,2 ± 5,92 ±
0,70* 0,16* 0,15 0,20 0,23 0,40* 0,08*
F2 6,02 ± 6,22 ± 6,28 ± 5,94 ± 4,99 ± 5,04 ± 5,76 ±
0,17 0,83* 0,08* 0,11* 0,25 0,18* 0,24*
F3 6,00 ± 6,20 ± 5,70 ± 4,90 ± 5,00 ± 5,38 ± 5,17 ±
0,15 0,10* 0,15 0,15 0,12 0,34* 0,26*
*
Keterangan: tidak terdapat perbedaan dengan formula F0
Tabel 3. Hasil Uji Daya Sebar
Hasil Pemeriksaan Tipe Emulsi Formula Sebelum Sesudah
Uji tipe emulsi dilakukan dengan Cycling Test Cycling Test
menggunakan metilen biru. Pengujian tipe ±SD ±SD
*
emulsi dilakukan sebelum dan sesudah cycling F0 5,90 ± 0,37 6,68 ± 0,21
F1 5,50 ± 0,40* 5,84 ± 0,58*
test. Hasil pemeriksaan tipe emulsi Pada F0,
F2 5,18 ± 0,40* 5,72 ± 0,19
F1, F2 dan F3 menunjukkan tipe emulsi
F3 5,06 ± 0,45* 5,60 ± 0,34
minyak dalam air atau m/a. *
Keteranngan: tidak terdapat perbedaan
dengan formula F0
Hasil Pemeriksaan Daya Sebar
Hasil uji daya sebar sediaan krim dapat
Hasil Pemeriksaan Viskositas
dilihat pada tabel 3.
Hasil uji viskositas sediaan krim dapat kemerahan, bengkak, dan gatal. Data hasil uji
dilihat pada tabel 4. iritasi pada F0, F1, F2 dan F3 menunjukkan
Tabel 4. Hasil Uji Viskositas tidak terjadinya iritasi.
Formula Sebelum Sesudah
Cycling Test Cycling Test Hasil Aktivitas Antiinflamasi
±SD ±SD Uji antiinflamasi yang dilakukan
F0 23040,00 ± 3319,40 ± mencakup dua parameter uji yaitu menghitung
2019, 46 1647,71
persen radang dan inhibisi radang.
F1 12681,40 ± 6441,80 ±
1137, 21 1950,78*
F2 13411,21 ± 3023,40 ± Hasil Udema
500,60 1779,34* Pengukuran volume udem telapak kaki
F3 11200,20 ± 4249,20 ± tikus yang setiap selang waktu 1 jam selama 6
652, 16 2094,99* jam dan setiap 24 jam. Hasil volume udem
Keterangan: * tidak terdapat perbedaan dengan menunjukkan pada setiap formula F+, F0, F1,
formula F0 F2 dan F3 menunjukkan kenaikan volume
udem pada setiap jam selama 6 jam dan
Hasil Pemeriksaan Iritasi mengalami penurunan pada jam ke 24.
Uji iritasi dilakukan terhadap 12
sukarelawan dilakukan pengamatan

Hasil Persen Radang


Hasil perhitungan persen radang masing-masing formula dapat dilihat pada tabel 5 dan grafik
1 di bawah ini.
Tabel 5. Persen Radang Telapak Kaki Tikus

Persen radang (%) pada jam ke- ±SD


No Formula
1 2 3 4 5 6 24

4,86 ± 11,23 ± 17,59 ± 13,68 ± 9,21 ± 3,012 ± 0,24 ±


1 F+
1,32 0,29 1,15 0,79 1,28 1,24 0,09

9,49 ± 15,95 ± 25,06 ± 32,32 ± 40,27 ± 36,88 ± 0,64 ±


2 F0
1,37 1,37 0,80 1,72 1,06 1,38 0,09

6,56 ± 11,99 ± 19,22 ± 22,64 ± 19,57 ± 16,95 ± 0,41 ±


3 F1
0,64# 0,97# 2,87# 3,87 3,87 6,35 0,14*#

6,68 ± 12,99 ± 21,67 ± 20,25 ± 14,57 ± 9,05 ± 0,45 ±


4 F2
0,58*# 1,25# 1,46*# 2,51 1,68 1,68# 0,07*#

6,85 ± 13,79 ± 22,12 ± 19,74 ± 14,27 ± 7,81 ± 0,30 ±


5 F3
1,46*# 1,48*# 1,39* 1,57 1,08# 1,31# 0,17#

Keterangan: * tidak terdapat perbedaan dengan formula F0, # tidak terdapat perbedaan dengan formula
F+
45.00
40.00
35.00
30.00 F+
25.00 F0
20.00 F1
15.00 F2
10.00 F3
5.00
0.00
V1 V2 V3 V4 V5 V6 V24

Gambar 1. Grafik Persen Radang (%) Kaki Tikus


Hasil Persen Inhibisi Radang
Hasil perhitungan persen inhibisi radang masing-masing formula dapat dilihat pada tabel 6
dan grafik 2 di bawah ini.
Tabel 6. Persen Inhibisi Radang Kaki Tikus Setelah Perlakuan
Persen Inhibisi Radang (%) pada jam ke- ± SD
No Formula
1 2 3 4 5 6 24
48,11 ± 29,18 ± 29,76 ± 57,67 ± 77,07 ± 91,83 ± 62,42 ±
1 F+
6,87 6,44 5,17 1,30 3,61 3,40 15,78
29,54 ± 24,29 ± 22,84 ± 29,56 ± 51,23 ± 53,85 ± 18,23 ±
2 F1
9,99# 5,90# 13,82# 13,77 9,94 17,65 14,23
29,06 ± 17,95 ± 13,56 ± 37,33 ± 63,87 ± 75,45 ± 43,11 ±
3 F2
5,49# 10,77# 4,52# 7,12 3,31# 4,35# 11,25#
27,17 ± 13,49 ± 11,64 ± 38,92 ± 64,58 ± 78,88 ± 53,78 ±
4 F3 # # # # # #
17,45 5,90 6,59 3,46 2,20 2,92 15,00#
#
Keterangan: tidak terdapat perbedaan dengan formula F+

100.00

80.00

60.00
F
40.00 +
F
20.00 1

0.00
V1 V2 V3 V4 V5 V6 V24

Gambar 2. Grafik Persen Inhibisi Radang (%) Kaki Tikus


PEMBAHASAN bentuk dari sediaan yang dihasilkan.
Pengujian cycling test dilakukan Organoleptis akan berpengaruh pada
dengan tujuan untuk menguji kestabilan emulsi kenyamanan pengguna, oleh sebab itu sediaan
dalam sediaan krim uji ini dilakukan untuk yang dihasilkan harus memiliki warna yang
melihat adanya kristalisasi atau berawan dan menarik, bau yang menyenangkan dan tekstur
untuk menguji emulsi krim sebagai indikator yang lembut dikulit (21). Berdasarkan hasil
kestabilan emulsi. pengamatan organoleptis didapat pada siklus 0
Pengamatan organoleptis dilakukan sampai siklus 6 menunjukkan bahwa F0,F1,F2
secara subjektif dengan menilai warna, bau dan
dan F3 tidak mengalami perubahan warna, bau Semakin besar konsentrasi ekstrak yang
dan bentuk. ditambahkan, maka konsistensi dari sediaan
Pengamatan homogenitas bertujuan krim akan semakin pekat sehingga
untuk melihat penyebaran zat aktif dalam berpengaruh terhadap penurunan daya sebar
sediaan (22). Hasil pemeriksaan homogenitas dari sediaan krim (22). Berdasarkan hasil
pada F0, F1, F2 dan F3 pada siklus 0 sampai sedian krim memenuhi syarat yaitu berkisar 5-
siklus 6 menunjukkan hasil yang homogen. 7 cm (22).
Sediaan krim ekstrak daun pagoda Pengukuran viskositas sebelum uji cycling
menunjukkan bahwa seluruh sediaan krim test pada tabel 4 menunjukkan bahwa
tidak memperlihatkan adanya butir-butir kasar viskositas F0 adalah yang paling tinggi
yang tersebar merata pada saat sediaan dibanding sediaan krim yang lain karena
dioleskan pada kaca objek serta terlihat konsentrasi air yang ditambahkan pada basis
persamaan warna yang merata. lebih tinggi. Pada pengujian setelah
Pengukuran pH bertujuan untuk dilakukannya cycling test keempat sediaan F0,
mengetahui tingkat keasaman dan kebasaan F1, F2 dan F3 mengalami penurunan nilai
dari sediaan agar tidak mengiritasi kulit. Nilai viskositas. Hal ini diduga karena adanya
pH kulit normal berkisar antara 4,5-6,5 (21). pengaruh dari beberapa faktor yaitu
pH dari formula F0, F1, F2 dan F3 sediaan penyimpanan, suhu dan eksipien. Semakin
krim pada siklus 0 sampai siklus 6 berkisar lama penyimpanan pada sediaan maka daya
4,90-6,42. Pada tabel 2 menunjukkan nilai ikat bahan pengental menurun. Krim ekstrak
rata-rata pH pada F3 lebih asam dibanding F1 etanol daun pagoda memiliki nilai viskositas
dan F2 dimana semakin tinggi konsentrasi yang memenuhi syarat, baik pada saat sebelum
ekstrak etanol daun pagoda maka pH sediaan uji stabilitas maupun setelah uji stabilitas.
krim semakin asam hal ini disebabkan karena Menurut SNI 16-4399-1996 syarat nilai
ekstrak daun pagoda mengandung senyawa viskositas adalah berada pada antara 2,000-
metabolit sekunder yaitu flavonoid yang 50,000 cP (25).
bersifat asam (23). Salah satu cara untuk menghindari
Penentuan tipe emulsi suatu sediaan terjadinya efek samping pada pemakaian
dapat dilakukan dengan menggunakan metilen kosmetika adalah dengan melakukan uji iritasi.
biru. Jika metilen biru terlarut ketika diaduk Uji iritasi selain berguna untuk mencegah
maka tipe emulsi m/a. Pemeriksaan tipe emulsi terjadinya efek samping juga dapat digunakan
sediaan krim dengan menggunakan metilen untuk menentukan kebenaran dari sangkaan
biru didapat F0, F1, F2 dan F3 dapat terlarut adanya efek samping tersebut (18).
dengan metilen biru dengan baik. Hal ini Berdasarkan hasil uji iritasi yang dilakukan
menandakan bahwa tidak ada perubahan tipe terhadap 12 sukarelawan pada F0, F1, F2 dan
emulsi pada saat setelah cycling test. F3 menunjukkan bahwa semua sukarelawan
Berdasarkan hasil daya sedian krim memenuhi memberikan hasil negatif pada parameter
syarat yaitu berkisar 5-7 cm (22). reaksi iritasi.
Daya sebar merupakan bagian dari Dalam penelitian ini metode yang
psikoreologi yang dapat dijadikan sebagai digunakan adalah pembentukan udem buatan
parameter aseptabilitas (24). Data daya sebar pada telapak kaki tikus dengan menggunakan
dari sediaan yang dihasilkan menunjukkan karagenan sebagai penginduksi udem (26).
bahwa daya sebar sebelum cycling test Prinsip dalam metode ini adalah mengukur
mengalami penurunan daya sebar. Dimana volume bengkak telapak kaki dari hewan uji
daya sebar paling tinggi adalah F0 yaitu 5,90 ± yang telah diinduksi suatu agen inflamasi (27).
0,37 cm dan yang paling rendah adalah F3 Pengukuran volume udem pada telapak kaki
yaitu 5,06 ± 0,45 cm. Hal ini dikarenakan oleh
konsentrasi ekstrak yang ditambahkan.
tikus dengan menggunakan alat pletismometer Data yang telah diuji normalitasnya kemudian
digital. dilanjutkan dengan uji One Way ANOVA
Pada penelitian ini yang digunakan sebagai kemudian dilanjutkan dengan uji Post Hoc
objek (hewan uji) penelitian adalah tikus putih Tukey HSD untuk melihat perbedaan yang
jantan yang telah diadaptasikan dengan signifikan antar kelompok perlakuan.
lingkungan selama 1 minggu. Penggunaan Dari tabel 5 di atas dapat dilihat persen
tikus putih jantan sebagai binatang percobaan radang pada jam ke-1 sampai jam ke-24
dapat memberikan hasil penelitian yang lebih terdapat perbedaan antara F0 dengan F+, F1,
stabil karena tidak dipengaruhi oleh adanya F2 dan Persen radang pada jam ke-1 dan jam
siklus menstruasi dan kehamilan seperti pada ke-2 tidak terdapat perbedaan yang signifikan
tikus putih betina. antara formula F+ dengan F0, F1, F2 dan F3 (p
Tiap kelompok perlakuan diinduksi > 0,05). Persen radang pada jam ke-6 tidak
karagenan dengan cara disuntikkan secara terdapat perbedaan yang signifikan antara F+
intraplantar pada bagian kaki kiri tikus. Setelah dengan F2 dan F3 (p > 0,05). Persen radang
diinduksi karagenan ditunggu selama 1 jam pada jam ke-24 tidak terdapat perbedaan yang
lalu diberikan secara topikal sediaan krim signifikan antara F0 dengan F1, F2 dan F3 (p >
ekstrak etanol daun pagoda dengan konsentrasi 0,05), sedangkan pada F1, F2 dan F3 tidak
F1 2,5%, F2 5% dan F3 10%, hidrokortison terdapat perbedaan dengan formula F+ (p >
krim sebagai kontrol positif dan blanko tanpa 0,05).
ekstrak sebagai kontrol negatif sesuai Hasil dari uji statistik yang dilakukan
kelompok perlakuannya. Diukur volume terhadap nilai persen inhibisi radang yang
penurunan udem tiap 1 jam selama 6 jam dan terjadi pada kaki tikus dari masing-masing
per 24 jam untuk melihat penurunan volume formula menunjukkan pada jam ke-1 sampai
udem dari tiap kelompok. jam ke-3 tidak terdapat perbedaan yang
Dari hasil pengamatan grafik volume signifikan antara F+ dengan F1, F2 dan F3 (p >
udem tikus dapat dilihat terjadi pembengkakan 0,05). Pada jam ke-4 persen inhibisi radang F+
pada kaki tikus yang ditandai dengan naiknya tidak berbeda signifikan dengan formula F3 (p
volume udem dari kaki tikus. Pembengkakan > 0,05). Pada jam ke-5, jam ke-6 dan jam ke-
kaki tikus paling lama terjadi pada F0 dimana 24 persen inhibisi radang menunjukkan tidak
pembengkakan terjadi pada jam ke-1 dengan terdapat perbedaan yang signifikan antara F+
nilai rata-rata udem sebesar 5,42 sampai jam dengan F2 dan F3 (p < 0,05).
ke-5 pengukuran dengan nilai rata-rata udem Berdasarkan hasil dari perhitungan
sebesar 6,94 dan mengalami penurunan pada persen inhibisi radang dan setelah dilakukan
jam ke-6 dengan nilai rata-rata udem sebesar uji statistik didapatkan hasil yang sama
6,78. terhadap nilai udem yang terjadi. Persen
Penurunan volume udem kaki tikus inhibisi radang dari hidrokortison krim sebagai
paling cepat terjadi pada F3 dimana penurunan kontrol positif menjadi acuan standar dalam
terjadi pada pengukuran jam ke-4 dengan nilai melihat potensi senyawa obat dalam menekan
rata-rata udem sebesar 5,57 diikuti dengan F+ radang yang akan terjadi setelah hewan uji
dengan nilai rata-rata udem sebesar 5,73 dan diinduksi keragenan.
dengan pemberian F2 dengan nilai rata-rata Hasil dari uji statistik menunjukkan
udem sebesar 5,81. bahwa F1 menunjukkan adanya aktivitas
Hasil dari pengukuran persen radang dalam menekan udem yang terjadi, namun
tikus diuji secara statistik dengan belum dapat mendekati nilai dari hidrokortison
menggunakan program SPSS (Statistical krim pada tiap pengukuran. Formula F2 dan F3
Product and Service Solutions) dimana data menunjukkan hasil yang sangat baik, dimana
yang diperoleh diuji terlebih dahulu kedua formula ini mampu mendekati nilai dari
normalitasnya menggunakan uji Shapiro-Wilk. hidrokortison krim berdasarkan dari uji
statistik yang menyatakan bahwa hasil kedua menuju eikosanoid seperti prostaglandin dan
formula ini tidak berbeda secara signifikan tromboksan (29).
terhadap kontrol positif.
Salah satu metabolit sekunder yang KESIMPULAN DAN SARAN
diduga memiliki aktivitas antiinflamasi yaitu Berdasarkan hasil dan pembahasan
flavonoid, mekanisme kerja flavonoid sebagai dalam penelitian ini dapat ditarik kesimpulan
antiinflamasi dapat melalui beberapa jalur sediaan krim ekstrak etanol daun pagoda
dengan penghambatan aktivitas (Clerodendrum paniculatum L.) memiliki
siklooksigenase (COX) dan lipooksigenase. aktivitas antiinflamasi terhadap tikus putih
Mekanisme flavonoid dalam menghambat jantan pada konsentrasi 5% dan 10% dimana
terjadinya radang melalui dua cara yaitu tidak berbeda secara signifikan terhadap
menghambat asam arakidonat dan sekresi kontrol positif dan sediaan krim ekstrak etanol
enzim lisosom dan endothelial sehingga daun pagoda pada F0, F1, F2 dan F3 dapat
proliferasi dan eksudasi dari proses radang. dikatakan tidak stabil setelah melewati
Terhambatnya pelepasan asam arakidonat dari evaluasi serta uji stabilitas dan telah memenuhi
sel inflamasi akan menyebabkan kurang syarat uji.
tersediaannya substrat arakidonat bagi jalur Disarankan pada peneliti selanjutnya
siklooksigenase dan jalur lipooksigenase (28). melakukan pengembangan formula sediaan
Flavonoid dapat menghambat krim lebih lanjut agar diperoleh sediaan krim
siklooksigenase sehingga kemungkinan besar yang stabil dalam penyimpanan dan
efek antiinflamasi disebabkan karena melakukan penelitian lebih lanjut
penghambatan siklooksigenase yang menggunakan metode isolasi untuk
merupakan langkah pertama pada jalur yang menghilangkan zat warna pada ekstrak daun
pagoda agar memperbaiki estetika warna dari
sediaan krim agar lebih menarik.

DAFTAR PUSTAKA Antiinflamasi Krim Ekstrak Etanol


Rimpang Kencur dengan Variasi
1. Maria U. Formulasi Gel Ekstrak Daun Konsentarsi Enhancer Propilenglikol.
Kelor (Moringa oleifera Lam.) Sebagai Sainstech. 2013;23(2):95–101.
Anti Inflamasi Topikal Pada Tikus 6. Ifora, Arifin H, Silvia R. Efek
(Rattus novergicus). J Pharmacetical Antiinflamasi Krim Ekstrak Etanol
Medicial Sci. 2016;1(2):30–5. Daun Kirinyuh (Chromolaena odorata
2. Sugihartini N, Jannah S, Yuwono T. (L) R.M. King & H. Rob) Secara
Formulasi Gel Ekstrak Daun Kelor Topikal dan Penentuan Jumlah Sel
(Moringa oleifera Lamk) Sebagai Leukosit Pada Mencit Putih Jantan. J
Sediaan Antiinflamasi. Pharm Sci Res. Farm Higea. 2017;9(1):68–76.
2020;7(1):9–16. 7. Hikmah N, Astuti KI. Efek
3. Fauzia RR, Wangi SP, Sulastri I. Uji Antiinflamasi Infusa Bunga Asoka
Efektivitas Anti Inflamasi Salep (Ixora coccinea I) pada Tikus Jantan
Ekstrak Rimpang Kencur (Kaempferia yang Diinduksi Karagenan. J Sains dan
galanga L) Terhadap Luka Sayat Pada Kesehat. 2(4):355–9.
Tikus Putih Jantan. Pharma Xplore J 8. Pertiwi D, Hafiz I, Leny. Potential
Ilm Farm. 2017;2(3):104–14. Bioactivities of Ethanol, Ethyl Acetate
4. Juwita AP, Yamlean PVY, Edy HJ. and N-hexane Extracts From Pagoda
Formulasi Krim Ekstrak Etanol Daun Leaves (Clerodendrum paniculatum l.).
Lamun (Syringodium isoetifolium). Rasayan J Chem. 2020;13(4):2313–6.
Parmachon. 2013;2(02):8–13. 9. Joseph J, Bindhu AR, Aleykutty NA. In
5. Indrawati T, Hutabarat R, Yulianti W. vitro and In Vivo Antiinflammatory
Formulasi dan Uji Effektivitas Activity of Clerodendrum paniculatum
Linn. Leaves. Indian J Pharm Sci. Stabilitas Fisik Sediaan Gel Ekstrak
2013;75(3):376–9. Daun Ketepeng Cina (Cassia alata L.). J
10. Hafiz I, Ginting M. Antiinflammatory Kefarmasian Indones. 2015;5(2):74–82.
Activity of Pagoda Flower 22. Lumentut N, Jaya H, Melindah E.
(Clerodendrum Paniculatum L.) Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik
Ethanol Extract Using Paw Edema Sediaan Krim Ekstrak Etanol Kulit
Method. Asian J Pharm Res Dev. Buah Pisang Goroho (Musa acuminafe
2019;7(6):43–5. L.) Konsentrasi 12.5% Sebagai Tabir
11. Departemen Kesehatan RI. Farmakope Surya. J MIPA. 2020;9(2):42–6.
Indonesia. Edisi III. Jakarta: 23. Puspita G, Sugihartini N,
Departemen Kesehatan Republik Wahyuningsih I. Formulasi Sediaan
Indonesia; 1979. Krim A/M Dengan Variasi Konsentrasi
12. Flick EW. Cosmetic And Toiletry Ekstrak Etanol Daging Buah (Carica
Formulations. Second Edi. America: papaya) Menggunakan Emulgator
Noyes Publications; 1992. Tween 80 dan Span 80. Media Farm.
13. Fay DL. Uji Aktivitas Penyembuhan 2020;16(1).
Luka Bakar Ekstrak Etanol Umbi Talas 24. Elcistia R, Zulkarnain AK. Optimasi
Jepang (Colocasia esculenta (L.)) Formula Sediaan Krim o/w Kombinasi
Schott var. antiquorum) Pada Tikus Oksibenzon dan Titanium Dioksida
Putih (Rattus novergicus) Jantan Galur Serta Uji Aktivitas Tabir Suryanya
Sprague Dawley. Angew Chemie Int Secara In Vivo. Maj Farm.
Ed 6(11), 951–952. 1967; 2019;14(2):63.
14. Rezqiyah I. Formulasi Dan Uji 25. Armadany FI, Ode W, Musnina S,
Efektifitas Pelembaban Sediaan Krim Wilda U. Formulasi dan Uji Stabilitas
Daun Botto-botto (Chromolena Lotion Antioksidan dari Ekstrak Etanol
odorata(L.) king & h.e robins) Kering Rambut Jagung ( Zea mays L .) Sebagai
Dan Pecah-pecah. Skripsi. 2016;26. Antioksidan Dan Tabir Surya. Farm
15. Dewi R, Anwar E, S YK. Uji Stabilitas Sains, dan Kesehat. 2019;5(April):1–5.
Fisik Formula Krim yang Mengandung 26. Fitriyani A, Winarti L, Muslichah S,
Ekstrak Kacang Kedelai (Glycine max). Nuri D. Uji Antiinflamasi Ekstrak
Pharm Sci Res. 2014;1(3):194–208. Metanol Daun Sirih Merah (Piper
16. Suri BT. Pengaruh Lama Penyimpanan crocatum Ruiz & Pav ) Pada Tikus
Terhadap Sediaan Fisik Daun Alpukat Putih. Maj Obat Tradis.
(Persea Americana Mill) Dan Daun 2011;16(1):2011.
Sirih Hijau (Piper betle Linn). Indones 27. Fereidoni M, Ahmadiani A, Semnanian
J Pharm Nat Prod. 2019;02(1):10–7. S, Javan M. An Accurate And Simple
17. Azkiya Z, Ariyani H, Setia Nugraha T. Method For Measurement Of Paw
Evaluasi Sifat Fisik Krim Ekstrak Jahe Edema. J Pharmacol Toxicol Methods.
Merah (Zingiber officinale Rosc. var. 2000;43(1):11–4.
rubrum) Sebagai Anti Nyeri. Curr 28. Siregar RAS. Uji Aktivitas Antibakteri
Pharmaccutica Sci. 2017;1(1):12–8. Dari Ekstrak Etanol Daun Seroja
18. Wasitaatmaja SM. Penuntun Ilmu (Nelumbo nucifera Gaertn.) Terhadap
Kosmetik Medik. Jakarta: Universitas Pertumbuhan Escherichia coli Dan
Indonesia (UI-Press); 1997. 3,57. Streptococcus mutans Secara In-vitro.
19. Apridamayanti P, Sanera F, Rubiyanto 2003;4–16.
R. Antiinflammatory Activity of 29. Timur WW, Wijayanti R, Kamil TA.
Ethanolic Extract from Karas Leaves Uji Aktivitas Ekstrak Daun Srikaya
(Aquilaria malaccensis Lamk.). Pharm (Annona squamosa) Sebagai
Sci Res. 2018;5(3):152–8. Antipiretik Pada Tikus Jantan Galur
20. Hafiz I. Uji Aktivitas Antioksidan Dan Wistar Secara Invivo. ad-Dawaa’ J
Antiinflamasi Ekstrak Etanol Daun Pharm Sci. 2018;1(1):1–7.
Pagoda (Clerodendrum Paniculatum L.)
Terhadap Tikus Putih Jantan (Rattus
Novergicus). 2016. 1–137 p.
21. Sayuti NA. Formulasi Dan Uji