Anda di halaman 1dari 16

ASKEP CA MAMAE PALLIATIVE CARE

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Palliative Care

Dosen pengampu Tri Antika,M.Kep.,Sp.KMB

Disusun Oleh:

Annisa Nur Fadhilah (217096)

Cindio Vega Meylany (217100)

Elah Eliawati (217105)

Indah Reni Stiyani (217112)

Lucky Putra Pamungkas (217116)

Neng Sahar Solihat (217121)

Riapul Purba (217128)

Vina Oktavina (217135)

Siti Mardiah (043315161061)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN PPNI JABAR

S1 KEPERAWATAN

BANDUNG

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkah dan
rahmatnya kami dapat menyelesaikan tugas makalah " Askep Palliative
care" dengan baik dan lancar.

Pada kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih


kepada dosen pengajar mata kuliah keperawatan palliative care yang telah
memberikan tanggung jawab kepada kami untuk menjelaskan masalah ini
sebagai bentuk pemenuhan tugas yang diberikan.

Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak


kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami
sangat membutuhkan kritik serta saran dari dosen dan para pembaca demi
perbaikan dan kesempurnaan makalah - makalah selanjutnya. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Bandung, 30 Juni 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................................ii
BAB I...................................................................................................................................1
PENDAHULUAN..............................................................................................................1
A. Latar Belakang....................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..............................................................................................4
C. Tujuan Penelitian................................................................................................4
D. Manfaat Penelitian.............................................................................................4
BAB II..................................................................................................................................6
PEMBAHASAN................................................................................................................6
2.1. Analisa Data....................................................................................................6
2.2 Diagnosa Keperawatan.................................................................................10
2.3 Intervensi......................................................................................................10
BAB III...............................................................................................................................12
PENUTUP......................................................................................................................12
1.4 Kesimpulan...................................................................................................12
1.5 Saran............................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................13

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien (dewasa dan anak-anak) dan keluarga
dalam menghadapi penyakit yang mengancam jiwa, dengan cara
meringankan penderita dari rasa sakit melalui identifikasi dini, pengkajian
yang sempurna, dan penatalaksanaan nyeri serta masalah lainnya baik
fisik, psikologis, sosial atau spiritual (World Health Organization (WHO),
2016).
Menurut WHO (2016) penyakit-penyakit yang termasuk dalam
perawatan paliatif seperti penyakit kardiovaskuler dengan prevalensi
38.5%, kanker 34%, penyakit pernapasan kronis 10.3%, HIV/AIDS 5.7%,
diabetes 4.6% dan memerlukan perawatan paliatif sekitas 40-60%.Pada
tahun 2011 terdapat 29 juta orang meninggal di karenakan penyakit yang
membutuhkan perawatan paliatif. Kebanyakan orang yang membutuhkan
perawatan paliatif berada pada kelompok dewasa 60% dengan usia lebih
dari 60 tahun, dewasa (usia 15-59 tahun) 25%, pada usia 0-14 tahun yaitu
6% (Baxter, et al., 2014).
Prevalensi penyakit paliatif di dunia berdasarkan kasus tertinggi
yaitu Benua Pasifik Barat 29%, diikuti Eropa dan Asia Tenggara masing-
masing 22% (WHO,2014). Benua Asia terdiri dari Asia Barat, Asia
Selatan, Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara.Indonesia
merupakan salah satu negara yang termasuk dalam benua Asia Tenggara
dengan kata lain bahwa Indonesia termasuk dalam Negara yang
membutuhkan perawatan paliatif.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2013)
prevalensi tumor/kanker di Indonesia adalah 1.4 per 1000 penduduk, atau
sekitar 330.000 orang, diabete melitus 2.1%, jantung koroner (PJK)

1
dengan bertambahnya umur, tertinggi pada kelompok umur 65 -74 tahun
yaitu 3.6%.Kementrian kesehatan (KEMENKES, 2016) mengatakan kasus
HIV sekitar 30.935, kasus TB sekitar330.910. Kasus stroke sekitar
1.236.825 dan 883.447 kasus penyakit jantung dan penyakit diabetes
sekitar 1,5% (KEMENKES, 2014).
Pelayanan perawatan paliatif memerlukan keterampilan dalam
mengelola komplikasi penyakit dan pengobatan, mengelola rasa sakit dan
gejala lain, memberikan perawatan psikososial bagi pasien dan keluarga,
dan merawat saat sekarat dan berduka (Matzo & Sherman, 2015).Penyakit
dengan perawatan paliatif merupakan penyakit yang sulit atau sudah tidak
dapat disembuhkan, perawatan paliatif ini bersifat meningkatkan kualitas
hidup (WHO,2016). Perawatan paliatif meliputi manajemen nyeri dan
gejala; dukungan psikososial, emosional, dukungan spiritual; dan kondisi
hidup nyaman dengan perawatan yang tepat, baik dirumah, rumah sakit
atau tempat lain sesuai pilihan pasien. Perawatan paliatif dilakukan sejak
awal perjalanan penyakit, bersamaan dengan terapi lain dan menggunakan
pendekatan tim multidisiplin untuk mengatasi kebutuhan pasien dan
keluarga mereka (Canadian Cancer Society, 2016).
Selain itu Matzo & Sherman (2015) juga menyatakan bahwa
kebutuhan pasien paliatif tidak hanya pemenuhan atau pengobatan gejala
fisik, namun juga pentingnya dukungan terhadap kebutuhan psikologi,
sosial dan spiritual yang dilakukandengan pendekatan yang dikenal
sebagai perawatan paliatif. Romadoni (2013) menyatakan bahwa
kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan beribadah, rasa nyaman,
motivasi dan kasihsayang tehadap sesama maupun sang penciptanya.
Spiritual bertujuan untuk memberikan pertanyaan mengenai tujuan akhir
tentang keyakinan dan kepercayaan pasien (Margaret & Sanchia, 2016).
Spiritual merupakan bagian penting dalam perawatan, ruang lingkup dari
pemberian dukungan spiritual adalah meliputi kejiwaan, kerohanian dan
juga keagamaan.
Kebutuhan spiritual tidak hanya dapat diberikan oleh perawat,
melainkan dapat juga diberikan oleh kelompok agama ataupun keluarga

2
(Balboni dkk, 2013). Hidayat (2009) mengatakan keluarga memiliki peran
yang cukup strategis dalam memenuhi kebutuhan spiritual, karena
keluarga memiliki ikatan emosional yang kuat dan selalu berinteraksi
dalam kehidupan sehari-hari. Dukungan keluarga adalah suatu bentuk
hubungan interpersonal yang meliputi sikap, tindakan dan penerimaan
terhadap anggota keluarga, sehingga anggota keluarga yang sakit merasa
ada yang memperhatikan (Friedman, 2010). Dukungan ini merupakan
sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit.
Susilawati (2015) mengatakan anggota keluarga memandang
bahwa orang yang bersifat mendukung akan selalu siap memberi
pertolongan dan bantuan yang diperlukan (Susilawati, 2015). Adanya
dukungan keluarga mempermudah penderita dalam melakukan
aktivitasnya berkaitan dengan persoalan-persoalan yang dihadapinya juga
merasa dicintai dan bisa berbagi beban, mengekspresikan perasaan secara
terbuka dapat membantu dalam menghadapi permasalahan yang sedang
terjadi serta adanya dukungan keluarga akan berdampak pada peningkatan
rasa percayadiri pada penderita dalam menghadapi proses penyakitnya
(Misgiyanto & Susilawati, 2014). Morris dkk (2015) menyatakan lebih
dari 200.000 orang setiap tahun tidak mati di tempat yang mereka
inginkan. Selain itu terdapat 63% pasien paliatif menyatakan ingin di
rawat oleh keluarganya.
Aoun dkk (2015) mengatakan jika dukungan yang diberikan
keluarga terhadap pasien paliatif tidak terpenuhi pasien akan merasa
kesepian, tidak berharga dan merasa tidak dicintai maka dari itu peran dari
keluarga sangat dibutuhkan bagi pasien sehingga pasien merasa
diperhatikan, nyaman dan damai. Harrop dkk (2014) mengatakan pasien
paliatif lebih nyaman mendapatkan perawatan ataupun bantuan dari
keluarganya. Dimana bantuan ataupun dukungan yang didapatkan dari
keluarga dapat mengurangi beban psikososial dan spiritual pada pasien
dengan perawatan paliatif (Hudson dkk, 2014).
Hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan peneliti pada bulan
Januari 2017 di RS PKU Muhammadiyah gamping berdasarkan hasil

3
wawancaran dengan perawat bahwa perawatan paliatif yang diberikan ke
pasien lebih berfokus pada masalah fisik, terkait spiritual pasien yang
melakukan adalah bina rohani dan untuk asuhan keperawatan terkait
dengan dukungan keluarga terhadap spiritual pasien belum ada. Selain itu
peneliti juga mewancarai 6 pasien dengan penyakit palliative dan
didapatkan hasil 5 pasien mengatakan selalu melaksanakan kegiatan
spiritual walaupun tidak semua kegiatan spiritual terlaksana dan untuk
memenuhi kebutuhan spiritual terkait ibadah terkadang pasien sulit dan
tidak dapat melakukan kegiatan spritual dikarenakan keadaan mereka yang
sakit dan sangat membutuhkan pertolongan orang lain terutama dari
keluarga dan 1 pasien non muslim yang dirawat atau di damping selama
sakit oleh keluarganya yang muslim, anggota keluarga mengatakan bahwa
kegiatan beribadah pasien berupa berdoa dan kebutuhan beribadah pasien
di fasilitasi sebisa mungkin oleh anggota keluarga sesuai dengan agama
pasien.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian berbasis perawatan paliatif yaitu dukungan keluarga terhadap
pemenuhan kebutuhan spiritual pada pasien paliatif.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana Asuhan Keperawatan CA Mamae Palliative Care.

C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui gambaran dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan
spiritual pasien paliatif.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar dalam
pengembangan ilmu keperawatan paliatif.

2. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat menjadi
pembelajaran bagi peneliti terkait perawatan paliatif yaitu

4
dukungan keluarga terhadap pemenuhan kebutuhan
spiritual.
b. Bagi Praktek Keperawatan Sebagai sumber informasi dan
masukan untuk memberikan asuhan keperawatan terkait
dukungan keluarga terutama pemenuhan kebutuhan
spiritual pasien.
c. Bagi Peneliti Lain Sebagai data dasar untuk penelitian
selanjutnya dan sebagai sumber referensi untuk melakukan
penelitian di bidang dukungan keluarga terutama terkait
pemenuhan kebutuhan spiritual pasien.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Analisa Data


No Data Analisis Diagnosa
1 Ds: -pasien mengatakan Neoplasma Nyeri
ada benjolan di 
payudara sebelah kiri Menekan jaringan normal
semakin lama semakin 
membesar. Mendesak sel saraf
- Pasien 
mengatakan Interupsi sel saraf
tidak bisa tidur 
karena nyeri Nyeri
- P: -
- Q: seperti
tertusuk-tusuk
- R: payudara kiri
- S: 9 (0-10)
- T: ± 10 – 15
menit

Do:
- pasien tampak
sakit berat
- Pasien tampak
berbaring lemah
- Wajah pasien
tampak cemas
dan gelisah
- Pasien tampak

6
meringis
- Terdapat massa
dan luka di
payudara kanan
- Kesadaran: CM
- Ttv: N:
100x/menit; TD:
110/70 mmHg;
RR: 25x/menit;
S: 36°C

7
2 Ds: Neoplasma Gangguan Citra
- Pasien  Tubuh
mengatakan Perubahan bentuk payudara
tidak bisa 
bekerja Terdapat luka pada
- Pasien payudara
mengatakan 
kurang percaya Merasa malu
diri dengan 
penampilannya Gangguan citra tubuh
- Pasien
mengatakan
malu dengan
kondisi
penyakitnya
- Pasien
mengatakan
merasa
keluarganya
menjauhinya
karena bau dan
takut melihat
luka di
payudaranya.
- Pasien
mengatakan
merasa tidak
berguna karena
selama sakit
perannya
sebagai istri dan
ibu tidak bisa

8
dilakukan
- Pasien
mengatakan
terjadi
perubahan pada
kontur/bentuk
payudara klien
- Pasien
mengatakan
merasa tidak
percaya diri
dekat dengan
suami
- Pasien enggan
keluar rumah
bertemu orang-
orang karena
malu dan
khawatir orang-
orang tidak
menerimanya
Do:
- Terdapat luka
pada payudara
kanan
- terdapat
benjolan pada
payudara kiri

9
2.2 Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri b.d kurangnya pengetahuan keluarga terhadap perawatan kanker
payudara
2. Gangguan citra tubuh b.d perubahan lingkungan sosial karena penyakit
yang dialami

2.3 Intervensi
No Dx Tujuan Intervensi
1 Dx 1 Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji nyeri
keperawatan selama …x24 jam 2. Edukasi pasien dan
diharapkan keluarga mampu keluarga penyebab nyeri
merawat anggota keluarga 3. Edukasi pasien dan kelurga
dengan kanker payudara, dengan teknik meredakan nyeri
kriteria hasil: 4. Edukasi pasien dan
1. Keluarga mampu keluarga cara penggunaan
menyebutkan penyebab nyeri obat anti nyeri dengan
2. Keluarga dapat menggunakan benar dan teratur
obat untuk meredakan nyeri
secara teratur
3. Keluarga dapat menggunakan
teknik pereda nyeri secara
mendiri

2 Dx 2 Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji pengetahuan pasien


keperawatan selama …x24 jam mengenai proses
diharapkan citra tubuh pasien terjadinya penyakit
meningkat dengan kriteria hasil: 2. Edukasi pasien dan
1. Penyesuaian terhadap keluarga mengenai proses
tampilan fisik (5) terjadinya penyakit
2. Penyesuaian terhadap 3. Berikan informasi faktal
perubahan fungsi tubuh (5) mengenai diagnosis,
3. Penyesuaian terhadap status pengobatan, dan prognosis

10
kesehatan (5) 4. Tentukan harapan citra
tubuh pasien
5. Bantu pasien menentukan
pengaruh lingkungan
sosial pada persepsi pasien
terhadap citra tubuh

11
BAB III
PENUTUP

1.4 Kesimpulan
Setelah melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien ca mamae
(kanker payudara) dan merawat menggunakan metode pendekatan asuhan
keperawatan yang dilakukan secara sistematis dan terorganisir, dapat
disimpulkan bahwa mahasiswa telah mampu menerapkan asuhan
keperawatan dengan diagnosa ca mamae.

1.5 Saran
Diharapkan mahasiswa pada mahasiswa untuk lebih aktif mencari
informasi dan ilmu - ilmu kesehatan guna mendapatkan pengetahuan lebih
dan bisa diterapkan saat praktek (memberikan asuhan keperawatan) dan
hal tersebut akan memudahkan dalam penulisan makala.

12
DAFTAR PUSTAKA

Siti Nurmawan Sinaga, SKM, M.Kes. Dosen AKBID Mitra Husada. Kebijakan
Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Di Indonesia. Medan. Hal 1-
4
Departemen Kesehatan RI. (2005).Pedoman tatalaksana klinis infeksi dengue di
sarana pelayanan kesehatan.p.19-34.
Nainggolan L. (2008).Reagen pan-E dengue early capture ELISA (PanBio) dan
platelia dengue NS1 Ag test (BioRad) untuk deteksi dini infeksi dengue.
Hadinegoro SRH, et al. (2004). Tata laksana demam berdarah dengue di
Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI dan Direktorat Jenderal
Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan.
http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/16227/BAB%20I.pdf?
sequence=5&isAllowed=y

13