Anda di halaman 1dari 50

c c





  

Berdasarkan „  
    kekuatan (power) dalam konteks hubungan
internasional dapat dideskripsikan sebagai sebuah tingkata sumber kapabilitas dan pengaruh
dalam hubungan internasional. Biasanya kekuatan dibedakan menjadi dua konsep, yakni
dan  Salah ahli politik internasional, Ray S. Cline (1975), mampu
mengemukakan metode efektif kekuasaan, yaitu:

Pp = (C+E+M) x (S+W)

Keterangan:
Pp =    ; C =   (populasi dan wilayah); E=   ,
M = ; S =  (Tujuan-tujuan strategis), W = (keinginan untuk mencapai
tujuan nasional)

Dalam perkembangan modern, istilah kekuatan negara mengindikasikan kedua kekuatan


militer dan ekonomi yang yang kemudian akan menghasilkan perbedaan kapabilitas
kekuatan-kekuatan negara dalam sistem internasioal. Kemudian akan muncullah negara
dengan kekuatan rendah, menengah, dan tinggi (superpower). Terdapat kecenderungan
bahwa ini akan memegang kendali sebagai seorang hegemon. Pada era kejayaan
pemikiran kaum realis, hegemon dianggap sebagai sebuah ancaman bagi negara-negara
lainnya. Dapat dikatakan teori  „  (Keseimbangan kekuatan) muncul dengan
asumsi dasar bahwa ketika sebuah negara atau aliansi negara meningkatkan atau mengunakan
kekuatannya secara lebih agresif, negara-negara yang merasa terancam akan merespon
dengan meningkatkan kekuatan mereka. Hal ini dikenal dengan istilah     
 Contoh kasus seperti munculnya kekuatan Jerman menjelang Perang Dunia I (tahun
1914-1918) yang memicu formasi koalisi anti-Jerman yang terdiri dari Uni Sovyet, Inggris,
Perancis, Amerika Serikat, dan beberapa Negara lain.

Secara teoritis,   menganggap bahwa perubahan status dan kekuatan
internasional khususnya upaya sebuah negara yang hendak menguasai sebuah kawasan
tertentu akan dapat menstrimulir aksi  !    dari satu Negara atau lebih. Dalam
keadaan yang demikian, proses perseimbangan kekuatan dapat mendorong terciptanya dan
terjaganya stabilitas hubungan antar negara yang beraliansi. Kita dapat menilik bagaimana
Amerika Serikat dan Uni Soviet yang secara bersamaan melakukan peningkatan kapabilitas
militer untuk saling bersaing memperoleh posisi terkuat di dunia saat Perang Dingin
berlangsung.

Kelemahan dari konsep   adalah karena ia terlalu sempit dalam menilai
kekuatan sebuah negara sebagai ukuran dari sebuah proses perseimbangan kekuatan. Meski
dapat dikatakan secara sederhana, seperti yang dipaparkan oleh Morgenthau, penggagas
 , bahwa kekuatan nasional diukur dari ukuran geografi wilayah, populasi
penduduk yang dimiliki, serta tingkat kemajuan teknologi sebuah negara atau aliansi sebuah
kekuatan. Adapun kapasistas ekonomi masih dilihat kabur oleh Morgenthau sendiri karena
ekonomi diterjemahkan lebih kepada bagaimana kapabilitas militer dapat terbangun olehnya.
Dan dengan runtuhnya Uni Soviet di akhir Perang Dingin, beberapa kelemahan teori yang
terlalu fokus pada kapabilitas militer ini mulai dianggap " .
Secara historis, kepemimpinan hegemoni dan munculnya ekonomi dunia liberal hanya terjadi
dua kali. Pertama adalah era    hingga berlangsung hingga perang Napoleon dan
berakhir hingga pecahnya Perang Dunia I. Sejalan dengan bangkitnya negara kelas menengah,
menyetujui ideologi liberalisme, Inggris Raya membangkitkan era dengan cara
mereduksi tarif dan membuka pada pasar dunia (Kindleberger, 1978b, ch. 3). Hampir
sama ketika AS mengambilalih aturan internasional liberal setelah Perang Dunia II melalui
GATT (General Agreement Tariffs and Trade) dan IMF (International Monetary Fund).

Berdasarkan teorinya, hegemon atau pemimpin memegang tanggung jawab untuk menjamin
kondisi  " sistem perdagangan terbuka dan kestabilan pertukaraan mata uang.
Hegemon memegang beberapa peran penting bagi operasi ekonomi dunia. Ia digunakan
untuk mempengaruhi pembentukan rezim internasional (Krasner, 1982a, p. 185). Hegemon
juga harus mencegah adanya negara lain dengan kekuatan monopoli mengeksploitasi lainnya
agar mencegah negara tersebut keluar dari (H. Johnson, 1976, pp. 17, 20).
Hegemon juga harus mengatur, dalam suatu tingkatan, struktur  !  dan
menyediakan kooperasi kebijakan moneter domestik (Kindleberger, 1981, p. 247), jika tidak,
pasti akan ada serangan dari nasionalisme. Meskipun terdapat beberapa keuntungan dari
sistem ini, muncul beberapa kritik sebagaimana Hirschman (1945, p. 16) bahwa hegemoni
dapat mengeksploitasi posisi dominannya.

Analysis

Akhirnya, konsep    ditujukan untuk menciptakan stabilitas keamanan
dengan mengedepankan aspek menentang hegemoni dan membatasi ruang geraknya supaya
tidak mendesak negara lain yang lebih lemah maupun secara signifikan-insignifikan terancam,
bukan lagi untuk menciptakan distribusi power secara paralel antarnegara sebagaimana
pengertian tentang   sebelumnya. Alur yang demikian sesuai dengan
pemikiran realis di mana balance of power menjadi strategi keamanan yang secara inheren
efektif untuk menciptakan stabilitas keamanan yang toleran dan favor bagi negara-negara
yang berkonflik.

Sementara itu dengan berakhirnya perang Dingin relevansi konsep ini menjadi dipertanyakan.
Kemudian muncullah konsep stabilitas hegemoni yang mana memandang hegemon bukan
sebagai makhluk monster yang kemudian akan mencaplok dunia. Teori ini memandang
bahwa hadirnya suatu hegemon akan menjamin stabilitas sistem internasional dengan
menyediakan pelbagai norma, nilai, dan sokongan bagi keberlangsungan sistem internasional
yang tertuang dalam rezim internasional (sesuai dengan pemikran Krasner, 1982a, p. 185).
Hegemon, kendati memiliki peluang untuk mengekploitasi kedudukan hegemoninya (sesuai
dengan pemikiran Hirschman, 1945, p. 16), telah meresikokan dirinya pada suatu tanggung
jawab dalam menjamin berlangsungnya seluruh sistem internasional.

a  a 


Rezim internasional berkembang pesat sejak perang dunia kedua. Sampai saat ini pun rezim
sudah meliputi hampir seluruh aspek hubungan internasional yang membutuhkan koordinasi
antar , mulai dari isu pertahanan (misalnya pembatasan pengembangan senjata atau
pertahanan kolektif), perdagangan, keuangan dan investasi, informasi dan komunikasi, hak
asasi manusia, dan lingkungan; merupakan contoh dari sekian banyak urusan dalam sebuah
rezim internasional.
Stephen Haggard dan Beth A. Simmons (1987) mengatakan bahwa rezim internasional
muncul sebagai fokus penting dari riset empiris dan debat teoritis di dalam hubungan
internasional[1]. Perbedaaan signifikan antara kompetitif, Î! -   dari hubungan
antarnegara dan ³kewenangan´ dari politik domestik terlihat terlalu banyak mengambil
penjelasan dari perilaku diantara negara industri maju. Padahal dilemma kebijakan diciptakan
dari tumbuhnya rasa saling ketergantungan sejak perang dunia yang menghasilkan sebuah
bentuk koordinasi dan organisasi baru yang sama sekali tidak sesuai dengan kerangka
berpikir realis±yang menganggap kerjasama antarnegara tidak mungkin akan terjadi.
Permintaan rezim timbul karena adanya ketidakpuasan dengan konsep dominan dari tata
aturan internasional, kewenangan, dan organisasi.

Definisi rezim dapat pula dikutip dari Donald Puchala dan Raymond Hopkins yang
berargumen bahwa sebuah rezim ada di dalam setiap  hubungan internasional
dimana terdapat keteraturan perilaku, seperti prinsip-prinsip, norma-norma atau aturan-aturan
harus ada untuk dipertanggungjawabkan. Seperti yang dikutip di bawah ini:

    "   " !     #" 


  "$     $        
(Puchala, 1982: 356)

Definisi luas akan beresiko mencampuradukan pola perilaku teratur dengan aturan, dan
hampir pasti terlalu jauh memprediksikan level kesepakatan " dalam politik
internasional. Mengurangi rezim dari pola perilaku akan membuatnya sulit untuk
memutuskan bagaimana mereka bermediasik, berlawanan, atau mempengaruhi perilaku. Kata
³rezim´ seringkali digunakan sebagai cara paling murni menggambarkan kelompok dari
rangkaian perilaku-perilaku negara di dalam isu-isu tertentu, tetapi pendekatan ini sudah
banyak ditinggalkan.

Pertama-tama akan diuraikan mengenai pengertian rezim internasional menurut beberapa ahli
beserta pendekatan-pendekatan teoritisnya. Kedua, pengaruh hegemoni dalam tumbuh dan
berkembangnya sebuah rezim. Keempat, akan dijelaskan kondisi-kondisi ( ) dimana
rezim menjadi sangat signifikan meski hegemon penyuplai mereka telah mengalami   

à     


       à 

Menurut Stephen D. Krasner, rezim internasional adalah suatu tatanan yang berisi kumpulan
prinsip, norma, aturan, proses pembuatan keputusan±baik bersifat eksplisit maupun implisit±
yang berkaitan dengan ekspektasi atau pengharapan aktor-aktor dan memuat kepentingan
aktor itu sendiri dalam hubungan Internasional[2].

Robert Jervis menyatakan rezim tidak hanya mempunyai implikasi terhadap norma-norma
yang memfasilitasi terciptanya kerjasama semata, melainkan suatu bentuk kerjasama yang
juga lebih dari sekedar kepentingan internal dalam jangka pendek[3].

Oran R. Young berpendapat bahwa rezim internasional adalah seperangkat aturan, prosedur
pembuatan keputusan, dan atau program yang membutuhkan praktek sosial, menetapkan
peranan bagi partisipan dalam praktek tersebut dan kemudian mengelola interaksi-interaksi
mereka. Raymond Hopkins dan Donald Puchala juga sependapat dengan Young bahwasanya
tidak ada yang dapat membuat sebuah negara dapat bertahan selama waktu tertentu jika tidak
didukung oleh keberadaan sebuah rezim. Artinya, rezim secara mutlak diperlukan[4].

Sedangkan rezim menurut Robert O. Keohane merupakan suatu perangkat peraturan


pemerintah yang meliputi jaringan-jaringan peraturan, norma-norma dan cara-cara yang
mengatur serta mengawasi dampaknya. ³Norma´ dalam konteks tersebut adalah nilai-nilai
yang didalamnya terkandung fakta tepercaya, penyebab dan  (keadilan/ kejujuran)
Sedangkan yang dimaksud dengan ³nilai-nilai´ adalah perilaku standar yang terbentuk karena
adanya kewajiban dan keharusan. ³Peraturan´ sendiri mengandung anjuran untuk bertindak
secara spesifik yang sifatnya membatasi Sedangkan ³   !  %(prosedur
membuat keputusan) merupakan praktek berlaku untuk membuat dan mengimplementasikan
pilihan kelompok[5].

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pengertian rezim secara kontekstual merupakan
gabungan dari keempat nilai-nilai dasar tersebut di atas yang secara keseluruhan
memfasilitasi lahir dan bertahannya sebuah rezim.

Sementara itu Strange (1982) membantah, ia menekankan bahwa rezim merupakan


miskonsepsi di mana sebenarnya tidak ada kepentingan bagi norma-norma, prinsip,
peraturan-peraturan dan    !   X . Strange berpendapat rezim masih
cenderung bersifat !   $ artinya rezim internasioal sesungguhnya tak lebih dari sebuah
bentuk multilateralisme antar negara semata. Teori rezim dianggap masih terlalu bernuansa
 dan menjadi kurang relevan dalam studi hubungan internasional kontemporer ±
terutama setelah berkembangnya pemikiran tentang dan    Kelemahan
kedua teori rezim ini berasal dari konsentrasinya pada regulasi-regulasi yang sangat spesifik:
rezim internasional tidak selalu berupa bangun atau tatanan politik yang bersifat
komprehensif. Artinya, teori rezim memang berhasil melepaskan diri dari asumsi anarkhi
dalam hubungan internasional, tetapi hanya dalam kerangka spesifik tersebut.

Aliran liberal±yang menyatakan bahwa rezim mutlak diperlukan demi menjaga kooperasi
antar Negara±juga mendapatkan perlawanan berupa kritik yang mengatakan bahwa rezim
justru merupakan sumber penambah konflik atau inefisiensi dalam politik dunia[7]. Kritik
terhadap rezim mengekpresikan ketidaksepahaman mereka terhadap rezim yang berpengaruh
sebagai sumber penambah konflik atau inefisiensi dalam politik dunia. Seperti halnya rezim
keamanan yang diorganisasikan oleh & '  ( (Dewan Keamanan
PBB) seringkali disebutkan sebagai sumber konflik negara-negara di dunia. Beberapa ahli
lain mengatakan bahwa rezim hanya membuat kontrol demokratis lemah. Walaupun
demikian rezim sangat berpengaruh terhadap aspek kehidupan penting anggota penyusunnya
kendati pada prakteknya mereka tidak mengindahkan prinsip-prinsip demokratis yang
diterapkan dalam lingkup domestik anggotanya.

Kritik lain menyatakan bahwa kebanyakan rezim hadir untuk mewakili pandangan
teknokratif dari birokrat yang bekerja di rezim internasional tersebut, dengan
mengatasnamakan perjanjian internasional, mereka memberikan pengaruh mereka terhadap
perumusan perjanjian tersebut di belakang layar secara tertutup. WTO misalnya telah
menciptakan situasi )   %atau defisit demokrasi dengan membangun suatu
departemen mengurusi masalah kerakyatan ( "   ) yang semestinya
mereka bertindak sebagai   dari kehendak orang banyak bukan sebaliknya mencampuri
urusan orang.
Sebagian besar rezim masih menutup diri dari politik demokrasi langsung yang banyak
dipraktekkan di berbagai negara. Akan tetapi ada anggapan bahwa penutupan diri tersebut
penting, karena banyaknya koordinasi internasional membutuhkan spesialisasi tenaga ahli
yang harus dikumpulkan oleh para teknokrat.

  àà   


   
  

Sebagian besar studi rezim berasal dari aliran pemikiran berikut ini[8]:

Πp  


Pendekatan ini mengatakan bahwa kondisi alamiah negara-negara di dalam sistem


internasional adalah anarkis. Hal tersebut karena negara-negara berpikiran untuk
mendapatkan perolehan keuntungan relatif saja, seperti posisi mereka terhadap negara lain di
dalam sistem. Akibatnya negara-negara merasa enggan untuk memasuki perjanjian yang akan
membuat posisi mereka relatif lebih buruk dibandingkan dengan yang lain, merasakan akibat
yang harus ditanggung bersama untuk memelihara sebuah rezim. Walaupun terdapat resiko
potensial dalam memasuki perjanjian kerjasama, realis percaya bahwa keberadaan rezim
adalah wajar adanya.

Πp    

Pendekatan ini beranjak dari pemikiran realis ± yang menyatakan kondisi alamiah sistem
internasional adalah anarkis. Akan tetapi berlawanan dengan pandangan realis, mereka
berpendapat bahwa negara-negara sebenarnya sangatlah mempertimbangkan untuk
memperoleh keuntungan absolut. Pada akhirnya ketika mereka memutuskan untuk
melakukan bekerjasama atau tidak, negara-negara tersebut akan mengevaluasi µapa manfaat
yang dapat diberikan kepada mereka¶ daripada memikirkan µapa keuntungan yang dapat
mereka berikan secara relatif terhadap yang lain¶. Oleh karena itu, pertimbangan utama bagi
negara-negara seperti itu adalah bagaimana mereka mendapatkan keuntungan paling
maksimal dan rezim alat yang efektif untuk menjamin keberlangsungan keuntungan seperti
itu.

Πp    
 cognitivismÔ

Pendekatan ini memberikan kontribusi pada pemahaman kita tentang rezim dengan
memahami bagaimana perilaku aktor yang tidak dibentuk oleh kepentingan material terlalu
banyak, akan tetapi oleh peran mereka di masyarakat. Mempelajari rezim tanpa
memerhatikan saling ketergantungan antar pandangan akan menjadi kurang lengkap.

Tidak semua pendekatan pada teori rezim bersifat liberal atau neoliberal. Beberapa ilmuwan
berdisiplin realis seperti Joseph Grieco membangun teori  berdasarkan pada
pendekatan realis terhadap teori liberal fundamental (realis tidak pernah berkata kerjasama
tidak akan pernah terjadi, hanya saja hal tersebut bukanlah norma karena kerjasama ada pada
tingkatan derajat yang lain).

Seperti telah disebutkan di atas, sebuah rezim didefinisikan oleh Stephen D. Krasner sebagai
satu rangkai ekplisit atau implisit dari prinsip, norma, aturan, dan prosedur pengambilan
keputusan dimana terdapat perbedaan harapan aktor berbeda-beda dalam satu wilayah isu
(  $  $ $             
 " "  !). Definisi tersebut ditujukan luas, dan melingkupi interaksi
manusia mulai dari organisasi formal (misal: OPEC) sampai kelompok informal (misal:
bank-bank besar di masa krisis ekonomi), mulai aktor sampai  ! 

       


  p

³Teori u   -Neorealis´ berbicara tentang eksistensi kekuatan aktor dominan
yang menentukan dan mempengaruhi  $  $ dan  struktur internal suatu
rezim dan sekaligus bersifat memaksa ( ) terhadapanggotanya agar patuh pada
peraturan dengan penyesuaian-penyesuaian dari kekuatan hegemoni tersebut. Terdapat
beberapa rezim yang sangat tergantung pada kekuatan hegemoni, misalnya rezim moneter
(contoh: IMF), rezim perdagangan (contoh : GATT&EEC), dan rezim minyak (contoh:
OPEC).

Aktor hegemoni cenderung mendapat  dengan menginduksi rezim yang ada


meskipun pada kondisi tertentu kekuatan hegemoni dituntut berperan besar untuk
menyediakan   bagi semua   dengan konsekuensi adanya  
Sebagai akibatnya, ketika aktor hegemoni tersebut mengalami   , ia membawa
perubahan dan dampak signifikan terhadap rezim yang disokongnya.

Salah satu hegemoni dunia yang utama dalam ekonomi global adalah Amerika, dengan
kapabilitas ekonomi dan politik yang mampu membentuk ekonomi politik internasional yang
cenderung kapitalis dan menyediakan insentif bagi negara pengikut kapitalisme globalnya$
Amerika sukses menjadi satu-satunya negara dengan potensi hegemon terbesar di dunia.
Sebagai respon, Amerika pun melakukan peran hegemoninya selama beberapa dekade dan
seiring berjalannya waktu mempengaruhi perubahan pada rezim-rezim yang dibentuknya:
perubahan pada rezim moneter internasional yang mengarah pada pembentukan IMF
berdasarkan naskah Bretton Woods; penurunan tarif dan     pada GATT memicu
terjadinya  dan industri yang berkembang pesat. Dan berbeda dengan rezim
moneter dan rezim perdagangan yang dirumuskan melalui µkesepakatan konferensi
internasional¶, rezim minyak tetap eksis karena ada harapan-harapan dan   
  di antara produsen minyak Timur Tengah. Namun kegagalan Amerika dalam
menstabilkan dollarnya(1971) serta mengatasi krisis minyak di tahun 1970, membuktikan
bahwa hegemoni Amerika tidak lagi mampu membuat penyesuaian-penyesuaian yang
diperlukan masyarakat dunia. Hal ini mengakibatkan hegemoni Amerika pelan-pelan
melemah dalam ekonomi politik internasional, sehingga rezim internasional pun harus
bekerja keras menggantikan fungsi fundamental hegemoni. Beberapa diantara fungsi
fundamental tersebut dapat terpenuhi dan beberapa lainnya gagal. Hal tersebut menyebabkan
penurunan tak lengkap rezim-rezim internasional seperti yang dijabarkan oleh Robert O.
Keohane dalam µThe Incomplete Decline of Hegemonic Regimes¶. Walaupun demikian,
kooperasi internasional masih mungkin terjadi selama tersedia     
 [9]. Dengan demikian teori      menjadi µsebagian salah¶.
       


Berbeda dengan teori     $     lebih fokus pada
  ±permintaan±ketimbang suplai, sebagaimana teori     menyatakan
hegemon sebagai suplai utama sebuah rezim internasional.

Dalam artikel ³The Demand of The International Regimes´, Robert Keohane


mengungkapkan bahwa rezim dianggap efektif selama  *permintaan adanya rezim
dalam politik internasional ± tersedia. Namun hal itu bukan merupakan hal yang mutlak
karena terdapat beragam perbedaan kondisi dimana   rezim semakin berkurang atau
kondisi lain dimana rezim menjadi lebih signifikan meski tanpa kekuatan aktor dominan.

Rezim lebih dari sesuatu yang independen dalam politik internasional yang berperan sebagai
fasilitator terciptanya   dengan cara menyediakan seperangkat norma, peraturan dan
prinsip sekaligus menyediakan informasi yang   , mengurangi   
  (mencakup Î*penyimpangan moral) serta mengurangi    
Rezim lahir guna menciptakan solusi tersebut untuk menyelesaikan masalah di dalam
kompleksitas perilaku anggotanya secara spesifik.

Rezim internasional terkadang muncul sebagai reaksi terhadap adanya kebutuhan untuk
melakukan koordinasi perilaku berbagai negara tentang suatu isu tertentu. Di tengah-tengah
absennya suatu rezim yang dominan, perjanjian-perjanjian bilateral yang ada dapat
menggantikan pola pengaturan di seluruh dunia. Kehadiran suatu rezim berisikan perjanjian
multilateral dapat menggantikan perjanjian bilateral, berisikan standar yang dapat diterapkan
secara efisien dalam berbagai bentuk seperti +    , (IMF),  
 ( "  , dan -  (Protokol Kyoto).

Rezim menjalankan fungsi penting yang dibutuhkan dalam hubungan antarnegara dan
merupakan aktor independen dalam politik internasional. Rezim ketika dilembagakan akan
dijaga keutuhannya sehingga kehadirannya dapat memberikan pengaruh politik melebihi
independensi negara-negara yang menciptakannya. Sebagai contoh +   . 
 . (IAEA), memiliki hak-hak yang diberikan oleh negara-negara pembentuknya
untuk memonitor aktivitas penggunaan energi nuklir di negara-negara dunia.

Sebuah rezim diorganisasikan dengan perjanjian antarnegara, sehingga dapat menjadi sumber
utama hukum internasional formal. Rezim sendiri dapat juga bertindak sebagai subyek dari
hukum internasional. Lebih jauh lagi rezim dapat membentuk perilaku dari negara-negara
penyusunnya. Rezim paling berpengaruh dapat menjadi kaidah dalam hukum internasional±
merupakan pandangan para ahli aliran liberal yang melihat rezim sebagai awal terciptanya
tata dunia damai. Hal tersebut sejalan dengan nafas sang filsuf, Immanuel Kant, tentang ide
kedamaian berkelanjutan ( ) melalui federasi negara-negara dunia.

Rezim lahir ketika ada kekuatan aktor dominan di dalamnya (teori u   ), hal
ini sesuai dengan pernyataan seorang pakar ekonomi, Charles Kingleberger (dalam Great
Depression 1929-1939), ³     Î$    Î$
   γ.

Beberapa ahli menekankan pentingnya kehadiran sebuah hegemon (penguasa tak terkalahkan
atau ) untuk menciptakan sebuah rezim dan memberikan arti kepadanya. Seperti
contohnya Amerika Serikat yang diyakini telah memberikan kontribusi besar terhadap
lahirnya sistem  /  ), dengan organisasi turunannya, seperti
IMF dan World Bank. Kehadiran sebuah hegemon diperlukan karena aktor dominan dalam
ekonomi dan politik internasional diperlukan untuk menciptakan standar global. Ketika
negara-negara lain mungkin mendapatkan manfaat dari rezim, perusahaan AS seperti
  $& "  , dan Î akan mendapatkan keuntungan paling besar dari
rezim hak cipta intelektual (  ) yang memiliki standar baku. Hegemon
akan menggunakan kekuatan mereka semaksimal mungkin untuk menciptakan rezim.
Penarikan diri hegemon dari rezim justru akan membuat keefektifan rezim akan berkurang.

Teori      menyatakan pula bahwa konsentrasi  pada sebuah   
mempermudah perkembangan rezim agar menjadi kuat dan pemecahan 
diasosiasikan sebagai rezim yang kolaps. Namun teori ini gagal menjelaskan hubungan antara
perubahan dalam struktur dan perubahan dalam rezim internasional ± ia tidak
memperhitungkan perbedaan kekekalan dari institusi serta tidak mampu menjelaskan
mengapa rezim internasional menjadi sangat meluas saat ini daripada sebelum periode
kepemimpinan hegemonis (akhir abad 19).

Keohane dalam ³Cooperation and Discord in The World Political Economy´ tidak
megingkari peran penting kekuatan aktor dominan dalam pembentukan rezim, walaupun
demikian dijelaskan pula bahwa rezim bisa tumbuh dan berkembang tanpa kekuatan
hegemoni[10]. Bahkan suatu contoh rezim bisa diciptakan tanpa kekuatan hegemoni yang
dominan, contohnya terciptanya rezim International Energy Agency pada tahun 1973 setelah
kiris minyak (pada rentang waktu 1960-1970). Namun ketika kekuatan aktor dominan rezim
tersebut berkurang atau berangsur menghilang, maka   yang berperan untuk
menjaga agar rezim terpelihara.  tersebut dapat dijelaskan menggunakan
beberapa pendekatan, antara lain:

Πp Systemicconstraint-choice analysis

Analisis ini menjelaskan perilaku anggota rezim yang tetap tergabung dalam suatu rezim
kendati terdapat beberapa    (dapat berupa pengaruh lingkungan geografi,
keterpaksaan oleh yang lebih kuat, dan lain sebagainya)Namun mereka menganggap hal
yang demikian merupakan       yang dapat mereka dapatkan dalam
   ± yangmana setiap aktor, baik yang kuat maupun yang lemah selalu
memiliki pilihan dengan sejumlah tertentu²     Pendekatan ini menggambarkan
jawaban dari pertanyaan µmengapa para aktor yang tidak diuntungkan tetap mengikuti rezim
kendati mereka menerima keuntungan yang jauh lebih sedikit dari lainnya.

Œ p å Function of international regimes

Fungsional rezim internasional antara lain:   !" $       ,
dapat menanggulangi serta mencegah   !  $ serta menyediakan   ,
aturan, asas kerjasama, dan lain sebagainya. Hal tersebut karena rezim mengijinkan
anggotanya untuk saling mengkontrol perilaku   lainnya. Oleh karena itu melalui
rezim, konflik kepentingan dapat dikurangi dengan cara mengkoordinasikan tingkah laku
para  . Fungsi utama dari rezim sebenarnya adalah untuk mengfasilitasi penciptaan
    "!   dan pengganti hegemon dominan yang mengalami   
dalam beberapa fungsinya. Oleh karena fungsional-fungsional tersebut, rezim akan selalu
dipertahankan keutuhannya.
Œ p · Elements of demand of international regimes

Rezim, seperti yang dijelaskan sebelumnya, mengfasilitasi dalam pembuatan persetujuan


substansif dengan menyediakan tatanan  $prinsip, norma, dan prosedur negosiasi. Ada
kalanya sebuah rezim menjadi tidak berguna, menurut Ronald Coase (dalam artikel Robert O.
Keohane: 0 +   1 ), yakni ketika terjadi harmoni dan tiap-tiap
aktor menerima solusi „$ yakni: (a)   *terdapat tatanan legal yang
menekankan pertanggungjawaban aksi, misalya didukung oleh sebuah otoritas pemerintahan;
(b)     ; (c) Î     . Saat ketiga kondisi tersebut
terpenuhi, rezim tidak diperlukan lagi. Namun jika satu saja tidak terpenuhi, maka akan
terjadi hal yang sangat berkebalikan.

Πp r Information, communication, and openness

Pertama, rezim dengan tingkat keteraturan prosedur dan juga  yang tinggi akan
menyediakan informasi yang jauh leih baik dan mendapat permintaan yang lebih besar dari
partisipannya. Adanya ketidakseimbangan informasi antara aktor satu dengan yang lain akan
menyebabkan     . Kedua, rezim yang mengembangkan norma-norma yang
diinginkan oleh partisipan akan lebih diinginkan ketimbang rezim-rezim yang gagal
mengembangkan norma-norma tersebut. Ketiga, rezim dengan tatanan yang terbuka dan
terkarakteristik dengan hubungan  !"  yang luas akan lebih diminta dan
bermakna ketimbang rezim yang jangkauannya sebatas ikatan !! 

Œ p Ñ Coping with uncertainties

Yang dimaksud dengan ketidakpastian-ketidakpastian adalah sesuatu yang menyebabkan


suatu rezim menjadi efektif atau bahkan hampir mutlak diperlukan. Jika rezim dapat
mengendalikan ketidakpastian maka rezim akan terus dipelihara meskipun keadaan-keadaan
yang "  ± seperti yang disediakan oleh hegemon mereka pada awal pembentukan
rezim ± sudah tidak lagi ada. Jika pendekatan  ! yang lebih ambisius dan keras
tidak memiliki kekuatan efektif untuk mengatur anggotanya maka    Xakan
menjadi pilihan terbaik. Di bawah pengikisan hegemoni    dapat diharapkan.

 à 

Kehadiran hegemon memang sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sebuah


rezim. Namun ia gagal menjelaskan mengapa rezim internasional minyak tidak didirikan
sebelum tahun 1974 (ketika kekuatan hegemon masih berkuasa) sebagaimana gagal
menyediakan cukup penjelasan tentang perubahan pada rezim moneter internasional(IMF)
yang masih mampu bertahan hingga sekarang kendati hegemon Amerika telah melemah
paska runtuhnya Bretton Woods di tahun 1971 ± ketika terjadi  dan kemudian
Amerika memutuskan untuk melepas jaminan dollar terhadap emas pada 15 Agustus 1971.
Salah satu alasannya adalah karena teori ini merupakan teori sistemik yang tidak mampu
memperhitungkan adanya tekanan politik (merupakan suatu hal yang muncul dan
berkembang dalam ekonomi politik dunia dan dipengaruhi oleh    
 dan koalisi-koalisi[11]. Teori ini juga gagal menjelaskan mengapa rezim-rezim masih
mampu bertahan kendati kondisi sebenarnya dari hegemon mereka telah hilang sama sekali.
Sementara itu   atas rezim akan selalu eksis, berdasar pada realitas bahwa kondisi
terciptanya kooperasi yang harmoni sangatlah langka[12]. Pertama, rezim internasional dapat
diinterpretasikan sebagai sarana untuk memfasilitasi penyusunan   dalam dunia
politik antarnegara dengan menyediakan peraturan, norma, prinsip, dan prosedur yang
menolong para aktor mengatasi dinding penghalang dalam sebuah kooperasi. Kedua, masalah
   yang mempengaruhi suplai rezim internasionalNamun mereka juga
memunculkan  terhadap rezim internasional guna menyelesaikan masalah tersebut.
Ketiga, fungsi utama dari rezim sebenarnya adalah untuk memfasilitasi penyusunan
  dalam kepentingan   "!     dan pengganti hegemon dominan
yang mengalami    dalam beberapa fungsinya. Keempat, rezim menjadi tidak bermakna
ketika  tidak tersedia, yakni ketika harmoni terjadi dalam hubungan internasional
(kendati hal tersebut sangat jarang terjadi). Kelima, ada dua macam  !  :
meningkatnya isu akan meningkatkan pula  atas rezim dan yang kedua adalah
 atas rezim akan menjadi bagian dari fungsi keefektifan rezim dalam
mengembangkan norma komitmen umum dan dalam menyediakan informasi berkualitas
terhadap    . Keenam, berdasarkan    $rezim terbagi dalam dua
golongan, yakni:  ! dan    

à à

Menurut saya, pada dasarnya rezim adalah sebuah reaksi atas adanya konflik kepentingan
antarsesama aktor. Sebab rezim merupakan sebuah sarana yang menyediakan keempat unsur
penting dalam melakukan sebuah kolaborasi maupun koordinasi, yakni prinsip, norma,
peraturan, dan prosedur pembuatan keputusan. Kehadiran sebuah hegemoni memang
seringkali mempermudah dan memperlancar tumbuh dan berkembangnya sebuah rezim
internasional, tetapi patut kita sadari bahwa tidak selamanya hegemon tempat kita bersandar
akan terus berdiri selamanya. Oleh karenanya, ada baiknya masing-masing rezim
mempersiapkan kekuatan sendiri dalam mempertahankan eksistensi mereka.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, teori     memiliki beberapa kelemahan


dimana ia tidak bisa menjelaskan mengapa rezim-rezim terus bertahan hingga sekarang
kendati negara hegemon penyokong mereka telah mengalami   $hal tersebut telah
dijawab oleh Robert O. Keohane dalam ³The Demand of international Regimes´ bahwasanya
teori     hanya memfokuskan diri pada suplai/ pemenuhan rezim
internasional, tapi fluktuasi/ naik turunnya permintaan terhadap adanya sebuah rezim tidak
diperhitungkan dalam teori tersebut. Kemudian dalam artikel tersebut Keohane menjelaskan
lima prinsipal (telah disebutkan sebelumnya) dalam permintaan-permintaan terhadap rezim
untuk menyediakan dasar pada sebuah penafsiran yang lebih komprehensif dan seimbang[13].
Begitulah«

  !"#!$!   % 


#!% !  #
dalam struktur yang terhieraki yang mana negara-negara  semakin lama bertambah kaya.
Hierarki tersebut bisa diidenfikasikan macam-macam misal pembangunan tidak seimbang
antara negara-negara maju (Utara) dan Selatan. Manakala terjadi perubahan negara periphery
menjadi negara core, maka otomatis tatanan ekonomi politik internasional berubah. Misal
kehadiran kekuatan ekonomi Jepang pada 1980an.
Teori stabilitas hegemoni, isu keamanan dan politik menjadi subjek utama yang
mengakibatkan dinamika pada ekonomi internasional. Kedua hal tersebut saling
mempengaruhi satu sama lain dimana ekonomi internasional tidak bisa dipisahkan dari
politik dan kebijakan suatu negara apalagi yang berkaitan dengan isu keamanan. Suatu
hegemoni mutlak diperlukan untuk menjaga kestabilan politik dan keamanan. Secara
langsung keamanan dan politik menjadi lingkungan tempat berkembangnya ekonomi
internasional. Sehingga bisa juga ditarik kesimpulan ekonomi dan lingkungan saling
berhubungan, jika lingkungan berubah maka ekonomi juga mengikutinya.

Pertanyaan berikutnya, teori manakah yang paling relevan? Secara pribadi saya ingin
berpendapat bahwa tidak ada teori yang benar-benar 100% relevan terhadap tatanan ekonomi
internasional sekarang. Ketiganya saling komplementer dari pada kontradiktif. Dalam hal
tertentu, ekonomi internasional bergerak berdasarkan   aktor-aktor
ekonomi di luar state. Yang membuat integrasi ekonomi terjadi pada level yang sangat
signifikan. Hal ini seolah menyiratkan bahwa perekonomian itu bergerak sesuai dengan
 "   -nya Adam Smith. Artinya tidak ada faktor lain yang diikutsertakan dalam
telaah dinamika ekonomi politik internasional. Akan tetapi seolah teori ini menjadi
ketinggalan jaman, ketika faktor politik dan lingkungan dilibatkan. Negara tetap menjadi
aktor utama dan influensial dalam mempengaruhi dan mengarahkan tatanan dunia sesuai
dengan yang diinginkan, dalam hal ini disebutkan oleh seorang hegemon. Hegemon berperan
untuk menciptakan  "   yang " buat ladang subur perekonomian. Negara
tetap secara politis berperan mengurangi batasan-batasan ekonomi yang mesti dicapai dalam
suatu insitusi bersama dimana persaingan negatif akibat konflik kepentingan bisa
dinegosiasikan. Teori sistem dunia modern memegang peran lainnya dalam menyediakan
bukti bahwa perekonomian cenderung menciptakan sistem hierarki antara negara yang
terklasifikasi dalam negara dan negara periphery. Menurutnya ini adalah hal yang terjadi
secara natural, ada yang tergantung dan ada yang menggantungkan diri. Inilah yang
membentuk sistem secara utuh dan dinamis. Manakala salah satu variabel diatas mengalami
pergeseran dan perubahan        ", maka dinamika itu merupakan
suatu yang abadi.

  
&   
³HEGEMONY AFTER WAR: US¶S ROLE ON INTERNATIONAL POLITIC´

Pembentukan awal rezim internasional mulanya lahir karena keberadaan kekuatan hegemoni
yang merupakan faktor dominan penting dalam menciptakan iklim supaya rezim dipatuhi
oleh anggotanya sebab dilengkapi oleh seperangkat  ,   , dan  dalam
    yang mengijinkan tiap anggota rezim untuk mengontrol perilaku anggota
yang lain. Mengingat pentingnya hegemoni dalam rezim yakni memberi kontribusi positif
bagi terciptanya lebih banyak   yang dipayungi oleh rezim internasional, adanya
kekuatan hegemoni juga menjadi sumber konflik dalam politik internasional yang cenderung
anarkis dan didasarkan pada !   " karena adanya hegemoni justru
menciptakan penyimpangan sehingga membuat rezim menjadi  . Salah satu kekuatan
hegemoni yang   ialah peranan Amerika dalam politik internasional sekaligus
hubungan internasional, salah satu studi kasus penting adalah usaha Amerika dalam
memenuhi kebutuhan minyak industrinya adalah dengan menciptakan rezim internasional
baru[1] dengan mengumpulkan anggotanya yang terdiri dari produsen minyak dunia
sekaligus melakukan kontrol terhadap harga minyak agar selalu stabil dan menguntungkan
pihak dominan sekaligus mengurangi    sekaligus mendorong lebih banyak
kooperasi yang menguntungkan partner Amerika dan mengurangi       . Rentang
tahun 1977, Amerika saat itu memiliki peran penting di daerah Atlantik Utara; menjaga
kestabilan kapitalisme internasional merupakan  yang dianut Amerika sehingga ketika
Amerika membuat rezim sekaligus memaksakan ideologi hegemoni Amerika maka dari itu
Amerika cenderung menanamkan sumberdaya dalam mendirikan    
  2penyusunan internasional dengan peraturan yang telah disepakati dan
diketahui sebelumnya sekaligus formasi dari rezim internasional menjamin legitimasi adanya
perilaku standard yang dimainkan oleh aktor hegemoni dalam menjaga efektivitas rezim.
Tentu saja masuk akal bagi Amerika jika kemudian Amerika mengikatkan diri dalam rezim
sekaligus mendorong   untuk menyetujui dan mengikuti kepemimpinan Amerika.
Setelah perang dunia II Amerika memantapkan perannya sebagai kekuatan dominan utama
dalam ekonomi politik dunia untuk menciptakan hegemoni yakni mendapatkan   
 X dalam memasok bahan baku dari negara-negara lain: (1) sistem moneter
internasional yang stabil²untuk memfasilitasi perdagangan internasional yang liberal, (2)
menyediakan povisi pasar terbuka, (3) kemudahan akses minyak pada harga yang stabil²
perusahaan amerika berusaha untuk menyediakan minyak ke Eropa, Jepang serta Timur
Tengah.

Studi Kasus

Studi kasus penanaman hegemoni Amerika Serikat pada lapangan perdagangan meliputi
empat hal yaitu: usaha amerika untuk mengontrol minyak Arab antara 1943-1948, yang
meliputi Anglo-American Petroleum Agreement di 1943-45; the sterlingdollar oil problem of
1949-50; British dan intervensi Amerika di Iran antara 1951-1954, termasuk pembentukan
Iranian Consortium di tahun berikutnya; Emergency Oil Lift Program yang merupakan
implementasi United States terhadap invasi Anglo-French pada Mesir di 1956. Beberapa
kasus di atas secara langsung maupun tidak telah menunjukkan dominasi Amerika dalam
minyak internasional yang diyakini merupakan produk dari pemerintah amerika bekerja sama
dengan pihak perusahaan besar yang berkepentingan yang biasanya pemerintahlah yang
memegang kendali. lebih jauh, pengawasan kontrol minyak merupakan sumber politik bagi
Amerika bekerjasama dengan Eropa sebagai mitra utama Amerika dalam politik internasional.

SIMPULAN

Barangkali jelas jika Amerika serikat sebenarnya memainkan peran kepemimpinan hegemoni
selama tahun 1950 meskipun Amerika belum sepenuhnya mendikte arah²utamanya dalam
rezim perdagangan dan perjanjian²politik internasional. Walaupun demikian secara tidak
langsung Amerika mempunyai beragam cara dalam menyediakan insentif perdangan dan
moneter utamanya dalam kasus fenomenal dimana Amerika berusaha untuk menanamkan
dominasi pada pasar minyak di Timur Tengah dan beberapa negara lain di dunia. Adanya
rezim merupakan wadah utama bagi pemerintah Amerika untuk memfasilitasi perusahaan
besarnya untuk berkembang dan mendapatkan pasar liberal yang bebas dan kapitalis dalam
politik internasional.

OPINI

Meski pada awal pembentukan rezim mutlak selalu didasari adanya kekuatan hegemoni
dominan yang mempermudah rezim untuk menerapkan beragam peraturan supaya ditaati oleh
member-membernya. Adanya kepentingan hegemoni dalam rezim merupakan hal yang tidak
bisa diabaikan, namun pada dasarnya kekuatan hegemoni bukan merupakan fundamental
utama dalam menjaga eksistensinya karena absennya      tidak menyebabkan
suatu internasional regimes runtuh dikarenakan absennya hegemoni bisa digantikan oleh
   rezim antara lain: menyediakan    $       $
"    dan    "    "
  "

# '( )   !*


'+!,
.01.-

  $      3  " 


               
       $ 3 3   3 
           2 
  $           3 3 2 
           $..'  Î 
 3         
                
      3       
  3 3           

à  

  merupakan ide politik dan strategi kebijakan relevan terhadap kondisi
empiris situasi politik internasional yang anarkis dalam beragam definisi dan pengertian
berbeda yang terus dikembangkan menjadi panduan kebijakan politik luar negeri baik oleh
praktisi hubungan internasional untuk memahami perilaku kolektif  maupun   
sebagai strategi untuk menyusun perjanjian²  dalam usaha membela kepentingan
nasional Secara khusus, ASEAN sebagai rezim regional menjadi ilustrasi adanya pengaruh
faktor   pada perilaku anggotanya yang secara politik saling berseberangan
tetapi masih mempertahankan konsep sekuriti sebagai platform fundamental mendirikan
kelompok kerjasama maupun satuan organisasi regional yang dijanjikan mampu menciptakan
stabilitas dan keamanan. ASEAN bisa saja dianggap sebagai usaha regional yang
menyediakan keamanan dengan cara bergerak di antara  "    
 $yakni dengan menunjukkan maksud, premis, objektif, dan model operasi.
Selanjutnya operasi  cenderung dipandang dari sudut sebuah  Hal
demikian menjadikan    merupakan alat analisis atau panduan terhadap
kebijakan. Dalam uraian singkat di bawah ini pertama akan disinggung pengertian balance of
power dan sejarahnya. Kedua, dibahas pandangan realisme tentang  . Ketiga,
kelemahan dan strategi yang ditawarkan kondisi  dan hubungannya dengan
"  dan  Keempat, pembentukan ASEAN dijelaskan
melalui perspektif  .

SIMPULAN

To conduct FP
To provide penjelasan2 struktur of some pola2 dalam hubungan internasional


?  pp 

Pada beragam pengertian,   merupakan konsep yang telah dipegang
sepanjang sejarah, praktisi, dan negarawan²   ; sehingga perilaku demikian
membawa konsekuensi pada tingkat beragam pengertian pada setiap orang berbeda.
Walaupun demikian tidak terdapat konsesus resmi definisi  secara tepat[1],
beragam pandangan definisi tersebut terletak pada pemahaman pada berbagai istilah yakni
sebagai suatu simbol, situasi, kebijakan, dan sistem[2]. Pengertian yang demikian banyak
dan luas sebagaimana diutarakan oleh Inis Claude (1962: 13) disebabkan konsepnya yang
mudah dipahami serta banyaknya literatur antara lain sebagai berikut[3]:

Πp 


 
   
  àrinces of Europe    


          
Europe͛s
Catechism, 17r1Ô 

Pada Midieval Era di mana masing-masing kerajaan di Eropa berlomba untuk memperkuat
diri; semakin intensnya kompetisi tersebut, makin intens pula adanya ancaman yang memicu
kapabilitas ketenangan negara lain yang secara geografis berdekatan.

Πp 
           
 
   
        
ŒÔ 

Balance of power sebagai reaksi yang bertujuan untuk menciptakan stabilitas keamanan
regional antarnegara yang berdekatan.

Πp  
    
 
        
   
  
     
  
   
ŒÔ 

Balance of power sebagai kolektif reaksi untuk mencegah terbitnya satu kekuatan dominan
yang berpotensi mendesak yang lemah.

Πp  
  
         

 
 
      ŒŒÔ 

Seperti halnya poin ketiga yang mana balance of power sebagai kolektif reaksi karena adanya
kesadaran bersama untuk menghindari munculnya negara yang terkuat di antara yang lainnya.

Œ p ?alance of àower   
  
 
      

       
    
  
     
ŒÔ 

  sebagai strategi untuk menciptakan stabilitator regional melalui


keikutsertaan dalam aliansi maupun kelompok kerjasama keamanan yang kolektif.
Œ p ?alance of àower           
 


    
    ŒÔ 

Balance of power merupakan strategi alternatif melakukan atau mempengaruhi distribusi


power.

Œ p ?alance of àower   


  
 
Ô  
            
  Œ!Ô 

Balance of power sebagai tool efektif untuk melakukan      posisi dan
pemetaan power yang dimiliki masing-masing negara.

Œ p ?alance of àower    



        
  
  
 


   

   
       
 

 
  
 

 
      
 ŒÔ 

Balance of power merupakan efektif tool untuk mendispersi power guna mengurangi potensi
konflik dan perang.

Dari berbagai pengertian di atas, tentunya menimbulkan permasalahan tentang bagaimana


menggunakan konsep dan istilah balance of power dalam hubungan dan politik internasional.
Salah satu permasalahan intelektual disebabkan oleh power sebagai suatu konsep dan istilah,
adalah interprestasi berbeda pada tiap orang yang berbeda pula. Beberapa diantaranya
mengasumsikan ³power´ tidak hanya mengandung arti kekuatan militer, tetapi juga
mengandung implikasi kekuatan politik dan ekonomi²oleh realis disebut tradisional power.
Bagi yang lainnya, power tidak hanya menyangkut aktivitas spesifik seperti tersebut di atas,
tetapi juga kemampuan untuk mempengaruhi perilaku  lain[4]. Berikut penjelasan lebih
luas hubungan   dalam perspektif realis.

SIMPULAN

Many different meanings and long history

?  pp 

  menurut sudut pandang realis: memandang masyarakat internasional


sebagai aksi-reaksi yang tidak ekivalen²  : power berhadapan dengan   
Basis dasar asimetris antar-  tersebut dapat diseimbangkan, yakni dengan cara setiap 
bertindak saling mengawasi terhadap posisi masing-masing²     .

Karena politik internasional yang anarkis berlawanan dengan keamanan dan stabilitas jangka
panjang, maka  !  semestinya memotori terciptanya keseimbangan dalam sistem
power, sehingga dalam jangka absolut, keamanan, stabilitas, power, dan pengaruh dapat
kemudian lebih potensial ditingkatkan. Adalah tugas seorang negarawan²   untuk
mendemonstrasikan dan memprioritaskan kepentingan masing-masing berdasarkan
perubahan-perubahan yang terjadi dengan membuat kebijakan dan penyesuaian berdasarkan
tujuan menciptakan stabilitas yang kondusif. Maka dari itu, Morgenthau berpendapat bahwa
  dan politik luar negeri yang diciptakan untuk diraih dan dipelihara
bukanlah hal yang tidak mungkin, lebih dari itu, merupakan mekanisme penting untuk
menstabilkan komunitas internasional[5].

Berkaitan erat dengan power, di dalam   terdapat konsep    
dan  3 " antara lain tujuan fundamentalnya adalah menolak adanya hegemoni secara
regional maupun global, yang pada intinya untuk mencegah terbitnya hegemoni dengan
mengijinkan semua  untuk memelihara identitas, kesatuan, dan independensinya, hingga
pada level optimal mencegah potensi agresi perang, dan lain sebagainya. Teori  
 maka dari itu erat kaitannya dan kedudukannya selaras dengan pandangan tradisional
realis mengenai hubungan internasional.secara tidak langsung dimaksudkan untuk
menyediakan kondisi internasional yang stabil dan damai[6], sekaligus sebagai faktor
penstabil dalam masyarakat negara-negara yang berdaulat[7]. Dari pengertian di atas, intinya
teori   sebenarnya merupakan konsep penting dalam menciptakan dan
memelihara stabilitas komunitas internasional.

?  pp
 3 p
3pp
 p

Konsep dan ukuran suatu power bersama dengan kemampuan negara menerjemahkan power
tersebut ke dalam    $merupakan karakter fundamental pemikiran realis.
Sebagian besar realis beranggapan bahwa hal tersebut merupakan kepentingan state untuk
mendapatkan power semaksimal mungkin dan guna mendapatkannya, harus mempertahankan
dan memelihara power itu.  akan mempunyai tujuan kebijakan tertentu, beberapa di
antaranya berkonflik dengan kebijakan negara-negara lain. Selama selalu ada kekhawatiran
dan kecemasan pada setiap negara di mana posisinya terancam dengan kekuatan yang lain,
maka   menjadi makin relevan sebagai usaha  untuk kemudian berusaha
berhadapan dengan kekuatan yang sejajar. Artinya, dalam  ,  akan terus
menerus secara praktikal membuat powernya sejajar dengan tandingannya² 
. Salah satunya, adalah untuk menjaga eksistensinya, setiap negara akan mengandalkan
diplomasi yang didukung oleh kekuatan militer utamanya bagi diri sendiri, jika dibutuhkan
dilengkapi oleh aliansi-aliansi[8]. Sebagaimana setiap state pasti berusaha untuk paralel
dengan usaha rival, dengan demikian  akan muncul sebagai stabilitator
sistem, dimana power mesti berhadapan dengan power yang setara²  .

Dalam menciptakan kondisi internasional yang stabil,   menawarkan strategi
diplomasi yang mencakup empat karakterisktik[9], yaitu  "  $  "
 $ "  dan     Dalam pembahasan di bawah ini, akan
dibicarakan mengenai alternatif diplomasi yakni "  sebagai pendekatan
guna menjelaskan perilaku negara-negara di kawasan Asia Tenggara dalam internal rezim
ASEAN dalam usaha meningkatkan stabilitas regional dan menolak timbulnya hegemoni,
utamanya berkaitan dengan     , Indonesia saat itu.

?  pp 
 3 p 3

Asumsi realis yang berkaitan dengan konsep "  dan anarki membuat realis berdebat
bahwa tidak ada otoritas superior yang memerintah di atas kedaulatan± " , kemudian
 yang berdaulat secara independen harus berjuang untuk mengamankan   masing-
masing. Sebagaimana Nicholas Spykman berpendapat bahwa tujuan objektif dari kebijakan
luar negeri suatu negara adalah untuk mengamankan integritas-kesatuan teritorial dan
independensi politik masing-masing. Dari penjelasan tersebut di atas konsep kooperatif
sekuriti² "   menjadi hal penting dan dalam hal ini balance of power
dijelaskan dengan sudut pandang kebijakan:    X

Di samping itu, pandangan realis tentang kondisi politik internasional dan  
sebenarnya telah menjadi prediksi beberapa penulis seiring dengan paradigma keamanan
politik yang kemudian berkembang menjadi    memandang
setiap negara secara signifikan berkompetisi, berkonflik, dan berselisih menyangkut isu
tentang keamanan nasional. Implikasinya adalah bahwa  kemudian harus melakukan
segala cara yang dibutuhkan untuk bertahan dalam lingkungan anarkis dan ancaman.
Menjadikan    menjadi arena untuk menentukan keputusan²    
   , memaksa mereka untuk berperan dalam   supaya
berhasil bertahan² "". Karakteristik yang demikian merupakan penjelasan sentral
mengenai lanjutan   oleh   atau neo-realis seperti Kenneth Waltz
(1979:118).

Secara rasional maupun irrasional, kondisi internasional yang demikian menjadikan state
cenderung saling curiga satu sama lain yang mana sekutu terdekat bisa menjadi ancaman
laten sebagaimana ancaman visibel dari musuh yang sebenarnya. Secara berbeda,
Morgenthau mengungkapkan bahwa teori   hanya menawarkan solusi parsial
bagi permasalahan anarkis dan perubahan dalam sistem internasional. Perilaku  yang
demikian berdasarkan pandangannya karena state mesti mengikuti 
sebagaimana dikutip di bawah ini4

)   ""           $ 5  6
$      X
%(Morgenthau, 1949: 155)

Kelemahan konsep dan teori   secara praktikal antara lain  
sulit untuk dicapai[12] karena  selalu cenderung untuk menjamin secara individual
melawan segala kekuatan yang mengancam dari lawan mereka, dengan cara memperoleh
margin safety²kapasitas maksimal menyaingi atau kapasitas minimal guna mengantisipasi
ancaman dari pihak yang berlawanan.

Konsep balance of power menurut Morgenthau:   menciptakan   
 dalam hubungan antarnegara, suatu yang esensial untuk dikembangkan secara
konstan. Kata ³  % secara khusus mempunyai implikasi ³suatu    produk.´
Realitas hubungan internasional, bagaimanapun juga merupakan kombinasi dari pergerakan
dan perubahan, bukan statis, dimana pergerakan dan perubahan tersebut merupakan fitur
karakteristik utama dari suatu politik internasional. Kekuatan tidak pernah bisa
diseimbangkan, disesuaikan maupun dimanipulasi sebagai suatu respon dari aliran power di
dalam suatu sistem. Dalam hal ini,   bukan menjadi desain tandingan bagi
perubahan yang damai, melainkan influence guna menstabilkan segala perkembangan selama
stabilitas itu berlangsung.
 à !" #$%
&$'()$ &(
 $ 


Teori    sebagian besar muncul secara eksklusif dari pemikir Realis yang
meyakini bahwa    bersandar pada kapabilitas dan kuantitas power suatu
negara, dimana power diasumsikan sebagai akumulasi variabel (komponen-komponen politik,
ekonomi, militer)²disertai    dan    sebagaimana kombinasi 
7 

Artikel Ralf Emmers berjudul ³      "  


4..'7.1,´ menafsirkan konsep    dalam konteks politik
regional berkaitan dengan momen berdirinya ASEAN sebagai organisasi regional yang
memegang nilai "  X.

Awal berdirinya ASEAN semula sebagai konter positif terhadap berkembangnya   
 saat itu, yakni Indonesia. Saat itu Indonesia menjadi ancaman regional yang disegani
oleh negara tetangga di sekitarnya sebab baru merdeka lengkap dengan perangkap susunan
politik dan pengalaman signifikan dalam proses mempertahankan kemerdekaan dari jajahan
Eropa serta barier terhadap perkembangan negara Barat utamanya dalam pengaruh Amerika.
Hal ini sesuai dengan tulisan Emmers:

³8"                


        ´ (Emmers, 2004: 46)

Hal ini kemudian menjelaskan perilaku negara-negara kawasan di sekitar Indonesia untuk
kemudian bergabung dengan aliansi militer²  "  , sepertihalnya Thailand dan
Philipina yang tergabung dalam SEATO (South East Asia Treaty Organization) yang
dipegang oleh Liberal-kapitalis Amerika. Serta kecenderungan Malaysia dan Singapura
bersama dengan Selandia Baru dan Australia, ikut serta ,"  
.   X Sedangkan Indonesia, bersikap berseberangan dengan bergabung dengan
Poros Jakarta-Peking dan Nefo²' ,  yang dimotori oleh China dan
komunisme Uni Soviet. Dua kekuatan yang pada Perang dingin saling berhadapan dan
bertentangan.

Relevansi dari politik   adalah kerjasama keamanan yang diciptakan oleh
Malaysia dan Singapura, bernama ASEAN. Kala itu Indonesia adalah sebuah hegemon alami
di Asia Tenggara karena skala dan populasinya (baik dalam kekuatan militernya dalam
mencapai kemerdekaan, kondisi geografis, populasi yang besar, posisi yang strategis, dan
sumber daya alamnya yang melimpah). Kepemimpinan baru di Jakarta menyadarkan adanya
ketidakpercayaan yang dikukuhkan di pusat ASEAN lainnya dalam menanggulangi posisi
Indonesia di Asia Tenggara. Kemudian muncullah kesadaran bagi indonesia bahwasanya
ASEAN dapat bekerja sebagai faktor pemaksa dalam menjalankan politik luar negeri dan
secara alami Indonesia pun menjadi pemimpin dalam asosiasi tersebut.

Selanjutnya, ASEAN sebagai jembatan sekaligus barier regional terhadap ancaman


meluasnya ideologi dan pemahaman politik karena pengaruh komunisme di Indochina dan
Uni Soviet yang berimplikasi konflik politis baik secara internal dan eksternal, hal tersebut
adalah konsekuensi terhadap iklim politik antara komunisme Uni Soviet dan liberalisme
Amerika.
Keadaan yang demikian menjadi justifikasi pernyataan   yang berasumsi
bahwa posisi state berangsur-angsur dapat menjadi ancaman bagi eksistensi  yang
lain[15]. Untuk menghindari perang pecah dan instabilitas keamanan regional sekaligus
menjamin pemeliharaan sistem state yang ekivalen sebagai upaya preventif terhadap
hegemoni, maka suatu    menjadi mutlak diperlukan dalam beragam diplomasi
bilateral dan regional, utamanya dalam ASEAN. Salah satu strategi    yang
digunakan ASEAN yakni "   yang melibatkan aksi diplomasi melalui dialog
dan forum regional²misalnya ASEAN Regional Forum, yang di dalamnya membahas
berbagai permasalahan sosial dan ekonomi utamanya.

Sayangnya strategi "  yang demikian memiliki kelemahan. Sebagaimana


yang diungkapkan terdahulu oleh Morgenthau dimana strategi   menawarkan
solusi parsial semata dan mengandung ketidakpastian dan kurang efektif[16] sebagaimana
dikutip:

)          5   $  $  
 6 
% (Emmers, 2004: 47).

Sedangkan pemikir lain, seperti Emmers mengutarakan "   tidak


memberikan aksi secara langsung dan tepat sasaran, disebabkan pertemuan dan diskusi
melalui forum yang terjadi hanya angin semata dan tidak lebih dari ucapan bibir dari
diplomasi politik guna merenggangkan tensi dan ketegangan akibat konflik regional karena
salah paham maupun saling curiga[17].

)# "  $   "  $  "    
   # "            " "
  $    " %(Emmers, 2004: 50)

Dengan demikian strategi "  yang semula dimaksudkan untuk sebagai


kendaraan sosial dan ekonomi menjadi irrelevan karena lemah terhadap pemberian sangsi
militer dan embargo ekonomi yang jelas. Hal tersebut menjadi kelemahan ASEAN yang
cenderung tidak tegas, tidak jelas, dan menjadi tidak netral terhadap berbagai konflik regional.
Sebagaimana konflik yang terjadi antara Kualalumpur-Jakarta mengenai batas teritorial dan
perairan terhadap permasalahan Pulau Sipagan-Ligitan-Ambalat.

 à 

 power menjadi ide politis sekaligus strategi kebijakan dalam menyediakan
alternatif-alternatif yang bertujuan menangkal peluang adanya kekuatan dominan / hegemon
yang berpotensi mendesak dan mengancam eksistensi negara-negara yang secara geografis
berdekatan dan bertetangga.   merupakan panduan perumusan kebijakan
politik luar negeri dan penyusunan perjanjian² dalam kerangka analisis untuk
memprediksi perilaku negara-negara khususnya yang sekawasan dalam melakukan   
  posisi dan kekuatan negara satu dengan yang lain. Konsep    dapat
menjelaskan pendirian ASEAN, sebagai rezim keamanan dalam usaha menjamin kestabilan
kawasan terhadap ancaman luar dan posisi kuat negara lain, dengan cara menggunakan nilai-
nilai   yang berkaitan dengan keamanan, yakni "(ASEAN)$
 "(keikutsertaan negara anggota ASEAN yang lain dalam Nefos, Poros Jakarta-
Peking, SEATO dan ,"  .   )dan  "  
(memperluas area kerjasama dalam bidang sosial dan ekonomi("  rezim
keamanan ASEAN meliputi kewajiban untuk menjaga kestabilan keamanan masing-masing
negara; sementara  "   rezim keamanan merupakan usaha secara kolektif
menjaga kestabilan keamanan kawasan dengan mengembangkan kepercayaan sebagaimana
mengikuti PBB dan organisasi keamanan internasiaonal²SEATO.

à

Akhirnya, konsep    ditujukan untuk menciptakan stabilitas keamanan
dengan mengedepankan aspek menentang hegemoni dan membatasi ruang geraknya supaya
tidak mendesak negara lain yang lebih lemah maupun secara signifikan-insignifikan terancam,
bukan lagi untuk menciptakan distribusi power secara paralel antarnegara sebagaimana
pengertian tentang   sebelumnya. Alur yang demikian sesuai dengan
pemikiran realis di mana balance of power menjadi strategi keamanan yang secara inheren
efektif untuk menciptakan stabilitas keamanan yang toleran dan favor bagi negara-negara
yang berkonflik. Selain itu,   berhasil menawarkan alternatif bagi strategi
politik luar negeri yang efektif walaupun sebenarnya cenderung tidak 6. Sementara
itu, ASEAN hanya menjadi wadah dan tool untuk menjangkar dan membatasi ruang gerak
Indonesia yang saat itu sangat potensial menjadi hegemoni di Asia tenggara dikarenakan
potensi kekayaan alam, populasi dan iklim politis kharismatik Soekarno saat itu sehingga
yang demikian membuat posisi Indonesia dalam catur politik internasional, utamanya
regional, menjadi ancaman bagi tumbuh kembangnya iklim politik bilateral dan regional
negara tetangga. Oleh karena itu, di Asia Tenggara   melahirkan upaya
preventif yang sukses dalam menghambat terbitnya hegemoni sebagaimana tujuan
fundamental awal teori  $ meskipun di sisi lain tidak diimbangi dengan
kekuatan untuk menjalankan sangsi ekivalen terhadap negara satu sama lain dan kurangnya
     yang ideal.


 &

Review : Words can hurt you; or, who said what to whom about regimes by Ernst Haas

³Words can hurt you: the studying of regimes´

Pengertian tentang regimes yang diberikan oleh sarjana-sarjana hubungan internasional


banyak yang mengambil dari berbagai perspektif, contohnya pengertian yang didasarkan
pada paham Marxist, neomercantilist dan berdasarkan beberapa studi secara normatif lainnya.
Sedangkan yang lainnya kemudian mencoba untuk menguraikan pengertian rezim dimana
kemudian berupaya menggabungkan berbagai pandangan serta mengambil benang merah di
antara keduanya. Oleh karena itu, banyak sekali pengertian-pengertian yang kemudian
digunakan untuk menjelaskan sekaligus mempelajari rezim. Namun demikian yang paling
signifikan adalah penulis memperkenalkan pandangannya " 
 $bahwasanya studi rezim lebih dari sekedar studi mengenai kolaborasi
internasional/kerjasama internasional melainkan studi yang juga mengaitkan bagaimana
  berhubungan satu sama lain (saling menjelaskan) dengan dan
9sebagai tambahan yakni juga studi tentang apa-apa yang telah terjadi dan
memprediksikan tentang apa yang akan terjadi.
Rezim kemudian perlu dipahami sebagai sebuah solusi dari permasalahan-permasalahan yang
ada, selain itu rezim juga perlu dipahami sebagai suatu perubahan yang telah terjadi sebagai
respon terhadap hal-hal yang selama ini konstan (menjemukan). Adanya pandangan bahwa
rezim itu dapat dikatakan sebagai perubahan maka tercipta sebuah rezim yang akhirnya
dalam keadaan tertentu (terpaksa) membuat hal-hal lain yang mengikutinya ikut berubah.
Sebagai contoh yang disebutkan dalam artikal Haas, antara lain adanya penetapan peraturan
Law of The Sea (LOS) yang berawal norma ingin menciptakan akses laut terbuka,
menyebabkan hal-hal lain yang berhubungan dengan di atas terpaksa berubah
mengikuti:berubahnya batas-batas laut teritorial, zona-zona konservasi, zona bebas polusi,
     , dan pengawasan terhadap penambangan lepas pantai. Dengan demikian,
pemahaman tentang rezim secara singkat dapat dirumuskan sebagai hal yang membawa
perubahan,mengangkat sesuatu yang benar-benar baru menjadi perihal yang lebih penting,
yang beranjak dari norma tertentu.

Idealnya, rezim lebih dari suatu ide/gagasan yang muncul atau dibentuk dari adanya
ketergantungan yang kompleks atau rumit, lebih lanjut ketergantungan kompleks yang
dimaksud adalah ketergantungan pada pentingnya ada norma, asas-asas, peraturan dan
   !   yang mengatur perihal tertentu, yang semula diabaikan menjadi
hal yang kemudian signifikan. Rezim pula dimengerti tidak hanya sebagai hubungan yang
timbul karena tercipta kerjasama, bahkan ada yang berpendapat bahwa rezim bukan
merupakan ide untuk kemudian mengembangkan suatu kerjasama sehingga rezim kemudian
di mengerti sebagai suatu hubungan permainan koordinasi dalam memainkan kebijakan-
kebijakan, entah kebijakan yang bersifat  (berdasarkan pandangan realism) ataupun
menghindari hubungan konfliktual sebaliknya menjalin kerjasama (secara ideal).

MEMPELAJARI REZIM

Adapun cara yang digunakan untuk mempelajari rezim adalah dengan melakukan analisa
terhadap perkembangan (" : dari variabel-variabel: kepentingan, kepentingan yang
sama, kerugian-kerugian, keuntungan-keuntungan, dan serta kebutuhan publik. Selain itu,
secara singkat juga diuraikan asas struktural yang menjelaskan tentang rezim. Asas-asas
struktural dan menjelaskan bahwasanya ada kepentingan yang melekat dengannya sehingga
artinya rezim bekerja berdasarkan asas-asas struktural. Yang kemudian dengan jalan menjalin
koordinasi kebijakan dan kemudian merumuskan kerjasama yang berdasarkan atas ketentuan-
ketentuan yang biasanya disepakati bersama. Sedangkan perkembangan rezim yang lebih
jauh, kemudian akan menjelaskan secara spesifik terbentuknya organisasi internasional dan
lembaga-lembaga lainnya yang secara keseluruhan atau pada umumnya menggunakan prinsip
ketergantungan, melekat di dalamnya asas-asas untung rugi. Sebagaimana jika dianalogikan
ke dalam prinsip ekonomi; karena ada ketergantungan maka digunakan prinsip-prinsip
ekonomi: rezim diibaratkan sebagai sebuah produk/jasa, sedangkan pendekatan-pendekatan
dalam hubungan internasional:liberalis, merkantilis, realis dan marxis; mewakili masing-
masing firma dalam prinsip dan ketentuan yang berlaku pada pasar tidak sempurna. Karena
dilihat dari sudut adanya pertukaran rezim maka dikenal adanya pendekatan menggunakan
teori keseimbangan, sudut pandang yang diperkenalkan antara lain:     dan  


KESIMPULAN

Pertama, tidak cukup mempelajari rezim hanya pengertian-pengertian yang spesifik dan
begitu pula sebaliknya tidak cukup pula jika mengandalkan gabungan dari kesemua
pengertian tersebut lalu menyimpulkannya berdasarkan pada persamaan maupun perbedaan
yang dapat dijelaskannya. Hal ini kemudian mendorong untuk menggunakan pendekatan lain
dimana berusaha memahami asal rezim dengan menganalagokikannya dengan prinsip dan
dasar-dasar pendekatan ekonomi. Dinilai, cara tersebut sangat membantu yang kemudian
muncul pendekatan secara (menyerupai) liberalis, merkantilis, marxist:   
(cenderung bersifat sebagai  menyediakan solusi bagi permasalahan-permasalahan
karena pandangannya² ! "  $   dan  ;) dan    
 (cenderung berpandangan pesimis: dunia bersifat stabil, dengan sistem tertutup²
   dimana tindakannya dikendalikan oleh ketentuan yang mengatur mereka).

 & 
 
  
Review : Regime dynamic: the rise and fall of int¶l regimes by Oran Young

³Regime Dynamic: the rise and fall of int¶l regimes´

Dalam artikel Oran Young: Regime Dynamic: The Rise & Fall of Int¶l Regimes, dinyatakan
bahwa rezim merupakan institusi sosial sekaligus bentuk struktur sosial yang bergerak
berdasarkan spesifik kegiatan tertentu. Karena berupa institusi sosial maka dapat dikenali
dengan menganalisa   "!nyaNamun demikian istilah rezim tidak terlalu
sering digunjingkan dalam sistem dan dunia internasional dan tidak berdiri karena ada
perjanjian tertulis tertentu sepertihalnya PBB yang lahir dari Piagam Atlantik, bahkan dalam
sistem internasional rezim merupakan bentuk akumulasi kepentingan-kepentingan
anggotanya. Oleh karena itu, rezim memiliki bentuk sebagai struktur sosial. Sepertihalnya
organisasi internasional memiliki peraturan yang mesti ditaati oleh anggotanya, rezim juga
memiliki ,  ,  $   dalam pembuatan keputusannya yang disepakati
bersama. Seperangkat tersebut, oleh O Young diistilahkan dengan  ;
terdiri dari    X$ X7 Xdimana setiap
order memiliki karakteristik yang membedakan satu sama lain. Hal ini memberi kontribusi
pada penjelasan selanjutnya yakni tentang 5formasi rezim¶. Selain mengalami formasi, rezim
juga mengalami transformasi, ditekankan disini bahwasanya rezim bersifat fleksibel artinya
berubah secara dinamis menyesuaikan dengan perubahan kepentingan aktor-aktor di
dalamnya serta mengikut pengaruh perubahan pada situasi politik, ekonomi dan sosial;
sedangkan norma dan asas-asasnya tidak mengalami perubahan adapun jika berubah hal itu
berdasarkan kondisi/ syarat-syarat tertentu. Berdasarkan uraian di atas dapat diambil garis
besar bahwa rezim bersifat fleksibel karena perubahan-perubahan internal.

„  dalam artikel Oran Young terdiri dari dua hal utama:      $
 7   Berikut review singkat:

Pengertian     : bahwa rezim memiliki arti erat dengan perilaku
kelompok individual yang ada di dalamnya; berfungsi sebagai insitusi sosial, rezim
merupakan konvergensi antara harapan-harapan dan pola perilaku dan praktik anggotanya.
Oleh karena itu, kelompok individual tersebut cenderung merupakan bagian dari sistem
sosial daripada sistem natural, menyebabkan rezim memiliki penyimpangan[4] sebagaimana
intitusi sosial pada umumnya. Oleh karena tidak ada yang sesuatu yang sempurna, maka
dapat dikatakan bahwasanya rezim itu mirip dengan perilaku manusia, dalam hal ini disebut
dengan istilah    
Pengertian regime dalam  : bahwa rezim dibentuk oleh   
Pertanyaan berikutnya: order mana yang paling signifikan di atas yang lain? Order mana
yang mesti dianut lebih dulu dalam rezim? Baik spontaneous order mengarah pada batasan-
batasan formal pada kebebasan aktor-aktor individual, meskipun di sisi lain
memberikan dorongan pada bentuk tekanan-tekanan sosial yang effektif. Sebaliknya,
negotiated order identik dengan kerugian dan pengenalan yang progresif terhadap
pembatasan pada kebebasan individual. Sedangkan imposed orders dibuat untuk keuntungan
kekuatan hegemoni yang dominan, menghasilkan output pada kondisi yang berangsur-angsur
mengarah pada   yang tidak efisien, misalnya kelahiran merkantilis, sistem guild pada
feodalisme, kolonialis dan lainnya. Berdasarkan uraian di atas, simpulanny: types of order
bisa saling berbenturan satu sama lain. Setiap order memberikan  berbeda bagi setiap
kelompok individual, maka manakah yang paling effektif untuk diterapkan adalah tergantung
pada keputusan setiap kelompok individu. Oleh karena itu, tidak membuat perbedaan order
manakah yang mesti dianut.

Pengertian tentang   4 bahwa transformasi rezim ditentukan oleh


perubahan pada tiap-tiap order daripada perubahan pada struktur sistem internasional itu
sendiri.

SIMPULAN

Rezim lebih cenderung dilihat merupakan intitusi sosial yang meskipun berdiri dan bergerak
secara independen,tetapi harus tetap berada dalam area yang diawasi oleh intitusi di atasnya,
misal organisasi internasional. Berbeda dengan organisasi internasional pada umumnya yang
didirikan berdasarkan perjanjian tertulis dihadiri oleh sejumlah negara-negara dunia, tidak
demikiannya dengan rezim: rezim tidak lahir dari perjanjian besar; oleh karena itu, hal ini
pula menyebabkan rezim bertindak secara spesifik. Perilaku suatu rezim membentuk rezim;
ditentukan oleh adanya  . Types of order tersebut, merupakan sumber dari
transformasi yang terjadi secara internal di dalam rezim itu sendiri. Tranformasi inilah yang
menciptakan konflik dan permasalahan sehingga terkadang rezim itu harus bersifat fleksibel:
berubah secara dinamis supaya tetap bertahan. Bagi rezim yang tidak dapat melakukan
penyesuaian dengan iklim politik, ekonomi dan sosial yang dinamis, mesti harus
ditanggalkan karena sudah tidak dibutuhkan.

opini: melakukan analisa terhadap bagaimana rezim itu lahir dan kemudian runtuh, tidak
hanya diperlukan satu sudut pandang. Jika organisasi internasional dapat dipandang sebagai
sebuah rezim, maka tidak demikian halnya dengan rezim: rezim tidak bisa dipandang sebagai
sebuah organisasi internasional. Hal ini yang membuat rezim berbeda dengan rezim,
dikarenakan rezim identik dengan institusi sosial yang independen tapi tetap berada dalam
area konvensi-konvensi sosial. Hal ini selaras dengan kutipan: ³( )  "  Î
" "     Î     "  ´. Menurut saya lebih mudah
memberikan pengertian bahwasanya rezim tidak bisa dicampuradukkan dengan bentuk
organisasi internasional dikarenakan ruang gerak rezim yang cenderung masih terbatas pada
restriksi-restriksi internal yang dibuat dan disepakati bersama. Oleh karena itu, akan lebih
mudah memahaminya dengan memandang rezim merupakan bentuk institusi sosial yang
bersifat fleksibel dan dinamis, dimana gerakannya dapat disesuaikan dengan perubahan
(pengaruh) iklim politik, ekonomi dan sosial faktor-faktor lingkungannya.[5]
[1] Spontaneous order:yang terjadi begitu saja karena koordinasi yang tidak
direncanakan antarpelakunya; muncul karena semakin intensenya interaksi yang terjadi di
antara pelakunya

[2] Negotiated order: dibuat karena direncanakan untuk mendukung provisi mayoritas

[3] Imposed order: (biasanya) dibuat oleh kekuatan dominan; membuat pelaku lain mengikuti
melalui keterpaksaan disebabkan karena tidak ada opsi lain kecuali tunduk, koersi, kooptasi
dll

[4] Penyimpangan yang dimaksud: bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna; disebabkan oleh
adanya konflik dan problem antarkepentingan anggota-anggotanya sehingga sering kali rezim
memberikan keuntungan pada kelompok individual yang dominan dan sebaliknya membawa
 "  pada sisa anggota yang lainnya: yang tidak dominan

³HEGEMONY AFTER WAR: US¶S ROLE ON INTERNATIONAL POLITIC´

Pembentukan awal rezim internasional mulanya lahir karena keberadaan kekuatan hegemoni
yang merupakan faktor dominan penting dalam menciptakan iklim supaya rezim dipatuhi
oleh anggotanya sebab dilengkapi oleh seperangkat  ,   , dan  dalam
    yang mengijinkan tiap anggota rezim untuk mengontrol perilaku anggota
yang lain. Mengingat pentingnya hegemoni dalam rezim yakni memberi kontribusi positif
bagi terciptanya lebih banyak   yang dipayungi oleh rezim internasional, adanya
kekuatan hegemoni juga menjadi sumber konflik dalam politik internasional yang cenderung
anarkis dan didasarkan pada !   " karena adanya hegemoni justru
menciptakan penyimpangan sehingga membuat rezim menjadi  . Salah satu kekuatan
hegemoni yang   ialah peranan Amerika dalam politik internasional sekaligus
hubungan internasional, salah satu studi kasus penting adalah usaha Amerika dalam
memenuhi kebutuhan minyak industrinya adalah dengan menciptakan rezim internasional
baru[1] dengan mengumpulkan anggotanya yang terdiri dari produsen minyak dunia
sekaligus melakukan kontrol terhadap harga minyak agar selalu stabil dan menguntungkan
pihak dominan sekaligus mengurangi    sekaligus mendorong lebih banyak
kooperasi yang menguntungkan partner Amerika dan mengurangi       . Rentang
tahun 1977, Amerika saat itu memiliki peran penting di daerah Atlantik Utara; menjaga
kestabilan kapitalisme internasional merupakan  yang dianut Amerika sehingga ketika
Amerika membuat rezim sekaligus memaksakan ideologi hegemoni Amerika maka dari itu
Amerika cenderung menanamkan sumberdaya dalam mendirikan    
  2penyusunan internasional dengan peraturan yang telah disepakati dan
diketahui sebelumnya sekaligus formasi dari rezim internasional menjamin legitimasi adanya
perilaku standard yang dimainkan oleh aktor hegemoni dalam menjaga efektivitas rezim.
Tentu saja masuk akal bagi Amerika jika kemudian Amerika mengikatkan diri dalam rezim
sekaligus mendorong   untuk menyetujui dan mengikuti kepemimpinan Amerika.
Setelah perang dunia II Amerika memantapkan perannya sebagai kekuatan dominan utama
dalam ekonomi politik dunia untuk menciptakan hegemoni yakni mendapatkan   
 X dalam memasok bahan baku dari negara-negara lain: (1) sistem moneter
internasional yang stabil²untuk memfasilitasi perdagangan internasional yang liberal, (2)
menyediakan povisi pasar terbuka, (3) kemudahan akses minyak pada harga yang stabil²
perusahaan amerika berusaha untuk menyediakan minyak ke Eropa, Jepang serta Timur
Tengah.
Studi Kasus

Studi kasus penanaman hegemoni Amerika Serikat pada lapangan perdagangan meliputi
empat hal yaitu: usaha amerika untuk mengontrol minyak Arab antara 1943-1948, yang
meliputi Anglo-American Petroleum Agreement di 1943-45; the sterlingdollar oil problem of
1949-50; British dan intervensi Amerika di Iran antara 1951-1954, termasuk pembentukan
Iranian Consortium di tahun berikutnya; Emergency Oil Lift Program yang merupakan
implementasi United States terhadap invasi Anglo-French pada Mesir di 1956. Beberapa
kasus di atas secara langsung maupun tidak telah menunjukkan dominasi Amerika dalam
minyak internasional yang diyakini merupakan produk dari pemerintah amerika bekerja sama
dengan pihak perusahaan besar yang berkepentingan yang biasanya pemerintahlah yang
memegang kendali. lebih jauh, pengawasan kontrol minyak merupakan sumber politik bagi
Amerika bekerjasama dengan Eropa sebagai mitra utama Amerika dalam politik internasional.

SIMPULAN

Barangkali jelas jika Amerika serikat sebenarnya memainkan peran kepemimpinan hegemoni
selama tahun 1950 meskipun Amerika belum sepenuhnya mendikte arah²utamanya dalam
rezim perdagangan dan perjanjian²politik internasional. Walaupun demikian secara tidak
langsung Amerika mempunyai beragam cara dalam menyediakan insentif perdangan dan
moneter utamanya dalam kasus fenomenal dimana Amerika berusaha untuk menanamkan
dominasi pada pasar minyak di Timur Tengah dan beberapa negara lain di dunia. Adanya
rezim merupakan wadah utama bagi pemerintah Amerika untuk memfasilitasi perusahaan
besarnya untuk berkembang dan mendapatkan pasar liberal yang bebas dan kapitalis dalam
politik internasional.

OPINI

Meski pada awal pembentukan rezim mutlak selalu didasari adanya kekuatan hegemoni
dominan yang mempermudah rezim untuk menerapkan beragam peraturan supaya ditaati oleh
member-membernya. Adanya kepentingan hegemoni dalam rezim merupakan hal yang tidak
bisa diabaikan, namun pada dasarnya kekuatan hegemoni bukan merupakan fundamental
utama dalam menjaga eksistensinya karena absennya      tidak menyebabkan
suatu internasional regimes runtuh dikarenakan absennya hegemoni bisa digantikan oleh
   rezim antara lain: menyediakan    $       $
"    dan    "    "
  "

  

&

 
  
Review : A Functional Theory of International Regimes by Robert O Keohane

³A Functional Theory of International Regimes´

Artikel Robert Keohane: A Functional Theory of International Regimes, menyatakan rezim


internasional sangat fungsional untuk memfasilitasi terjadinya tawar menawar serta
mengantarkan terjadinya negosiasi kepentingan-kepentingan dimana rezim merupakan
 " supaya perjanjian antaraktor state lebih mudah diciptakan melalui adanya
koordinasi kolektif dan kerjasama yang efektif. Dalam koordinasi dan kerjasama tersebut,
tentunya, tidak ada   suatu rezim yang diuntungkan sepenuhnya, begitupun sebaliknya
tidak ada yang benar-benar dirugikan karena selalu tersedia alternatif yang pada tingkat
minimum, tidak mengakibatkan terlalu banyak kerugian/ keuntungan bagi salah satu pihak.
Karena itu rezim berfungsi mengurangi kerugian dan ketidakpastian transaksi
sekaligus meningkatkan keuntungan transaksi sehingga dicapai kesepakatan yang
pada tingkat paling minimum terdapat   . Hal ini sejalan dengan pernyataan
Coase: ³        "      ´
Dengan demikian, rezim dapat dijelaskan dengan bantuan pendekatan Coase (Coase
Theorem) yang berbunyi: permasalahan dalam politik internasional dapat diatasi melalui
tawar-menawar dan penyesuaian mutual. Hal ini mengarah pada penciptaan beberapa kondisi
tertentu, yang paling   antara lain "  ,    danÎ
      X. Meski demikian, dalam beberapa kondisional (  mengarah
pada simpulan bahwa tidak sebegitu mudahnya menerapkan (  pada situasi
politik dunia.[2] (  menarasi beberapa isu yang berkaitan dengan fungsional
rezim internasional, isu-isu tersebut antara lain  $      $  
7  dengan beberapa kesulitan yang mengikutinya yaitu   
  X$ÎXdan   X   tidak diciptakan oleh
"  , tapi hal ini tidak menghalangi rezim berkembang meskipun pada
kenyataannya bahkan   dibelokkan oleh aksi sovereign states. Rezim
memberikan alternatif       dari suatu kerjasama yang ditawarkan apakah
membuatnya jadi lebih sulit atau lebih mudah dalam menghubungkan isu-isu dalam politik
internasional. Rezim mengurangi   7memberi   dalam menjalin
kesepakatan internasional. &   bersifat merugikan, disebabkan karena perbedaan
distribusi informasi yang tidak seimbang, biasanya terjadi       ";
irresponsibilty: member rezim bisa berperilaku inkonsisten dengan komitmen yang tidak
mampu mereka beban. Oleh karena itu, diperlukan satu kekuatan dominan untuk membuat
member-member tunduk pada prinsip, norma dan  . Gagalnya sistem pasar merupakan
akumulasi dari ketidakseimbangan distribusi informasi termasuk teknologi di dalamnya,
rezim dalam hal ini berposisi untuk membuat ketidakseimbangan tersebut berkurang.
Idealnya, rezim internasional merupakan "      untuk meraih keuntungan
yang semula mustahil, karena itu dalam hal ini rezim menjadi  " untuk
"  . Jelas ini merupakan penjelasan bahwa rezim berfungsi secara fungsional untuk
memfasilitasi dan memberi solusi dalam mengatasinya penyimpangan²"  "2
yang bisa menyebabkan kondisi ideal berdirinya rezim bisa sama sekali berubah dengan
kondisi kontemporer. Dalam hal ini, rezim internasional mutlak diperlukan dan mengandung
beberapa nilai dalam dunia internasional antara lain: mengurangi hambatan-hambatan yang
disebabkan oleh transaksi internasional dan ketidakpastian di dalamnya, rezim lebih mudah
dipelihara daripada diciptakan oleh sebab itu ketika rezim kali pertama diciptakan
memberikan keuntungan-keuntungan²yang secara ideal, berlevel simetris[6]. Problem
dalam konflik politik internasioal merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan begitu pula
dalam rezim itu sendiri. Namun, dalam posisi demikian rezim selalu ditempatkan sebagai
penengah , dibuatlah berbagai macam rezim yang mengatur sangsi serta peraturan
antarmembernya dimana setiap rezim dan rezim yang lainnya merupakan korelasi yang utuh
sehingga dapat menciptakan iklim kerjasama yang kolektif dan    .

SIMPULAN

Rezim dianalogikan sebagai suatu institusional sosial yang terdesentralisasi[7], memiliki


fungsional sebagai tempat tawar-menawar²   ²antaraktor state. Dalam kegiatan
tersebut, rezim diposisikan untuk memberikan 6    yang fair dimana tidak
terjadi ketimpangan distribusi informasi, ketimpangan moral serta ketidaktanggungjawaban
di antara membernya. Rezim lebih dari sekedar merupakan "     , rezim juga
memiliki nilai-nilai fungsional untuk mempermudah terjadinya  yang pada tingkat
minimum disepakati oleh kedua pihak[8].

PENDAPAT

Keohane membuat jelas bahwasanya rezim bergerak dan beroperasi di bawah prekondisi
situasi yang spesifik: state yang memiliki kepentingan hampir serupa dalam spesifik isu
tertentu, selayaknya aktif secara sadar dalam suatu  . Dalam beberapa kondisi,
state memang memiliki   , artinya politik internasional bukan lagi praktik Î!
. Namun juga tidak menutup kemungkinan, meskipun state memiliki mutual
interest masihkah akan bekerjasama? State berperilaku independen, meskipun keberadaan
dari mutual interest tersebut adalah esensial, namun tidak cukup untuk menjadi fondasi
pondasi menjalin kooperasi.[9]

[1] Namun, dalam konteks politik internasional yang real dan anarkis, kondisi ini sulit
dijelaskan dalam perspektif tersebut.

[2] Karena (  gagal menjelaskan dasar  dengan lebih dari dua aktor
dan oleh karena itu tidak menjamin     yang berlangsung terus menerus karena
pada dasarnya akan selalu timbul konflik yang bersumber pada    " 

[3] Ketidakseimbangan distribusi informasi yang sangat potensial untuk menciptakan


kooperasi yang cenderung tidak fair

[4] Kecendurungan untuk berperilku menyimpang dari  yang ada

[5] Kecenderungan untuk tidak konsisten dengan komitmen yang disepakati bersama

[6] tidak sepihak/ sepenuhnya menguntungkan maupun merugikan

[7] Meski cenderung independent, berdiri sendiri, fleksibel dan spesifik; tetapi merupakan
suatu kolektivitas yang utuh antara rezim yang satu dan yang lainnya. Sehingga dapat
gabungan rezim dapat memberikan solusi bagi konflik kepentingan antaranggotanya

[8] Sesuai dengan Coase theorem

  
 
  
Review : The Demand of International Regimes by Robert O Keohane

³The Demand of The International Regimes´

Dalam artikel: The Demand of The International Regimes, Robert Keohane menarasikan
bahwa rezim dianggap efektif selama  2permintaan adanya rezim dalam politik
internasional²diperlukan. Namun, hal itu bukan merupakan hal yang mutlak karena
disamping itu juga terdapat beragam perbedaan kondisi di mana   rezim semakin
berkurang sebagaimana juga eksis kondisi lain dimana rezim menjadi lebih signifikan meski
tanpa kekuatan aktor dominan. Rezim lebih dari suatu yang independen dalam politik
internasional yang berperan sebagai fasilitator terciptanya   dengan cara
menyediakan seperangkat norma, peraturan dan prinsip sekaligus menyediakan informasi
yang sufficient, mengurangi aymmetris information, mencakup ÎÎ serta
mengurangi ketidakpastian²   Rezim lahir guna menciptakan solusi tersebut
untuk menyelesaikan masalah di dalam kompleksitas perilaku anggotanya yang spesifik.
Rezim lahir ketika ada kekuatan aktor dominan di dalamnya (teori u   2
yang diisukan oleh teori internasional rezim oleh Neorealism[1]), hal ini sesuai dengan
pernyataan seorang pakar ekonomi, Charles Kingleberger dalam Great Depression 1929-1939,
³     Î$    Î$ 
 γ. Selanjutnya ketika kekuatan aktor dominan rezim tersebut berkurang atau
berangsur menghilang, maka terdapat   yang berperan untuk menjaga agar
rezim terpelihara.  tersebut dapat dijelaskan menggunakan beberapa
pendekatan, antara lain:

1.p     !     2sistem (selalu ada) pilihan-(namun dengan)
batasan: menjelaskan perilaku anggota rezim yang tetap bergabung (mereka
menganggap hal demikian merupakan minimum     yang dapat mereka
dapatkan dalam membership regime) dalam suatu rezim dimana setiap aktor baik
yang kuat maupun yang lemah selalu memiliki pilihan meskipun mereka sedikit sekali
diuntungkan (istilah µsedikit sekali diuntungkan¶ inilah yang dimaksud adanya
sejumlah batasan tertentu²    4constrains dapat didikte dari banyak pengaruh
lingkungan baik geografi, keterpaksaan oleh yang lebih kuat);
2.p å,      X

Fungsional rezim internasional antara lain:   !" $       ,
dapat memaksakan restriksi sekaligus mengurangi ketimpangan informasi²  !
  sehingga rezim mengijinkan anggotanya untuk saling kontrol perilaku member
yang lain. Regime merupakan   jika hegemon dominan mulai    dalam beberapa
fungsinya (mengurangi ketidakpastian, mengurangi      , dan menyediakan
principles²aturan , asas kerjasama dll);

1.p ·  X    

Agreement bisa terbentuk dengan atau µtanpa¶ adanya rezim internasional, maka  
yang lahir karena rezim internasional sebenarnya merupakan produk dan konsekuensi
kooperasi yang harmoni: Î     $     $   .
Sehingga jika keadaan harmoni tersebut terpenuhi, keberadaan rezimpun tidak lagi
dibutuhkan karena rezim menjadi hal yang tidak efektif[4];

1.p r+    

Adanya ketidakseimbangan informasi antara aktor satu dengan yang lain akan menyebabkan
    . Selain itu, studi behavioral aktor-aktor rezim mungkin menghasilkan
bahwasanya salah satu aktor bisa saling tidak loyal satu sama lain sekaligus tidak berkenan
untuk bersikap kooperatif²ÎÎ, sehingga rezim menjadi tidak efektif dan efisien.
Adapun nilai moral yang mesti atau sering dianut biasanya adalah realitas. Selain itu, rezim
bukan hanya sebagai instrumen yang mengurangi transaction cost, melainkan pula
merupakan   untuk menciptakan    ;

1.p Ñ(    4 memanajemen ketidakpastian

yang tersebut di atas merupakan ketidakpastian-ketidakpastian yang menyebabkan suatu


rezim menjadi efektif sekaligus hampir mutlak diperlukan. Jika rezim dapat mengendalikan
(memanage) ketidakpastian yang lain tentu rezim akan terpelihara meskipun keadaan-
keadaan yang favorable seperti pada awal pembentukan rezim tidak lagi ada.

KESIMPULAN

Demand rezim akan selalu eksis; jika bersandar pada moral rezim yang berdasar pada realitas,
maka kondisi terciptanya kooperasi yang harmoni adalah jarang. Kondisi yang banyak
mempengaruhi sehingga rezim selalu diperlukan dalam politik internasional adalah : supply
demand yang  6 Sebaliknya, politik internasional tidak lagi membutuhkan rezim
jika terjadi pemerataan informasi serta absenny    yang diikuti oleh distribusi
sumber power secara adil pada sesama member rezim.

PENDAPAT

Uraian di atas menjelaskan sedikit dari sekian banyak variabel-variable penting yang
mempengaruhi efektivitas rezim dalam politik internasional. Namun, satu hal yang belum
disentuh dalam artikel adalah tentang    4rezim menjadi perihal yang tidak
efektif lagi jika terjadi       6    . Hal ini
merupakan analysis dari Olsen¶S Collective Action Theory: µHegemonic stability dapat
menjadi    terjadinya kooperasi, tetapi terjadinya cooperation tidak selalu memerlukan
peran satu kekuatan aktor dominan dalam International regime¶. Rezim internasional idealnya
mesti memiliki fondasi moral serta nilai-nilai²" yang tidak terbatas pada
keinginan dan kepentingan aktor yang lebih kuat.

SUMBER

Keohane, Robert. 2004. 0 +   1 New Jersey: Cambridge
University Press. Ch. VI.

Keohane, Robert. 2004. .u 4(      
   New Jersey: Princeton University Press

[1] OPINI: Pada akhirnya dibantah Keohane (lihat After Hegemony: Cooperation and
Discord in The World Political Economy): Keohane tidak megingkari peran penting kekuatan
aktor dominan dalam pembentukan rezim, walaupun demikian dijelaskan pula bahwa rezim
bisa tumbuh dan berkembang tanpa kekuatan hegemoni. Bahkan suatu contoh rezim bisa
diciptakan tanpa kekuatan hegemoni yang dominan: terciptanya rezim International Energy
Agency pada tahun 1973 setelah kiris minyak dimana pada rentang waktu 1960-70, Amerika
telah pelan-pelan mengurangi perannya sebagai hegemoni politik internasional

[2] OPINI: Selain itu rezim memiliki peran fungsional yang lain: (1) 1  &
: bagaimana suatu rezim membuat aktor dalam membernya untuk kemudian terpaksa
melakukan modifikasi pada beberapa kebijakannya agar sesuai dengan kesepakatan bersama
atau pun sesuai dengan common aversions yang diyakini bersama;(2) Regime as a Learning
facilitators: rezim gives rise to individual actor khususnya sebagai social institution;(3)
1  .: rezim memiliki otoritas untuk menetapkan peraturan
yang menuntut ditaati oleh membernya;(4) 1     ( : rezim
membuat membernya sepakat untuk menjalin kerjasama pada tingkat minimum keduanya
mendapat keuntungan dan tidak dirugikan atas keuntungan dari pihak lain±kondisi pareto
optima±sepakat untuk menciptakan equilibrium yang ditawarkan atau yang menjadi alternatif
yang diberikan oleh rezim (SUMBER: Young, Oran R and Marc A Levy. 1999. 0
 "  +    "  1 . Massachusetts: Massachusetts Institute
of Technology.)

[3] Elements of international regimes: supply&demand of International regimes; transaction


cost²which highly depends on the dense of issues²as has been said the denserà the higher
of interdependence and result is the high demand of agreement. The less dense of issueàless
interdependence and then less on agreement, or adequate; demand on norms&principles and
demand on specific information become less. It is therefore the demand of aggreement is
reverse against demand on international regimes.

[4] Oleh karena itu, ketika supply for aggreement, meningkat maka demand for international
regime menjadi berkurang²Î" Begitupun sebaliknya jika kondisi kooperasi harmoni
tidak tercapai:      $    and    $maka
demand for regime meningkat karena supply aggreement tidak memenuhi± 6;

†# ' )  !*'+!,-


³Balance Power in Cooperative Security Regimes´

Artikel yang ditulis oleh Ralf Emmers mendiskusikan konsep    dalam politik
internasional dan regional terutama berkaitan dengan momen berdirinya ASEAN sebagai
organisasi regional yang mengusung konsep "  .

  memiliki pengertian dengan aspek yang terlalu luas dan berisi banyak
penjelasan dari beragam pandangan praktisi hubungan internasional; antara lain menyebutkan
bahwa    dalam konteks politik mencakup: (1)kondisi dan situasi terciptanya
distribusi power (Inis Claude)*, (2)kebijakan untuk menciptakan keseimbangan supaya tidak
tercipta satu kekuatan tunggal di atas lainnya²   (Michael Sheehan)* sekaligus
mempelajari   2     , (3)proses membuat seimbang
kekuatan yang ada pada beberapa kelompok negara dalam politik internasional, regional
maupun bilateral bahkan secara global. Meskipun pengertian   demikian luas,
namun kesemuanya memiliki kesamaan dasar dengan prinsipel dan nilai-nilai tertentu yakni
  muncul karena adanya ancaman dan kebutuhan untuk mempertahankan
  yang stabil. Sebagai tambahan,    juga dimaksudkan sebagai
pengertian dari upaya kolektif untuk mencegah adanya hegemoni berdasarkan pada politik
internasional yang cenderung bipolar daripada unipolar.

Teori    sebagian besar muncul secara eksklusif dari pemikir Realis yang
meyakini bahwa    bersandar pada kapabilitas dan kuantitas power suatu
negara, dimana power diasumsikan sebagai akumulasi variabel (komponen-komponen politik,
ekonomi, militer)²             7 
    Walaupun demikian, teori    mengandung
sejumlah ketidakpastian yang mengakibatkan teori    gagal menjadi
barometer efektif untuk mengukur power yang dimiliki oleh negara.

BALANCE POWER OF POLITICS:

  7( " 

   bukan merupakan ide yang sama sekali baru, karena pada awal abad 19,
konsep    telah tertuang dalam kesepakatan-kesepakatan politik, pasca perang
dan konflik, yang disimbolkan oleh aliansi-aliansi dan kooperasi dan untuk jangka waktu
tertentu konsep   terbukti menyediakan stabilitas regional bahkan
internasional. Namun, kelemahannya adalah sistem politik internasional yang selalu dinamis;
meski   berkesempatan untuk menciptakan stabilitas (produk legitimasi
  X), bukan berarti   terus menerus berpotensi melahirkan
kondisi nonkonflik, terbukti PD II merupakan produk gagal ide    Jika
demikian, maka konsep   sebenarnya hanya berfungsi melahirkan opsi
alternatif bagi terciptanya kerjasama keamanan yang lebih komprehensif. Namun adapula
yang membuat persamaan konsep   dengan konsep  "  ,
persamaan tersebut terletak pada keduanya yang merupakan usaha untuk menyeimbangkan
kebijakan-kebijakan negara. Sedangkan perbedaannya berpijak pada alasan dari kegiatan
menyeimbangkan kebijakan tadi.   4berasal dari keyakinan bahwa setiap
negara bertanggung jawab penuh dengan keamanan masing-masing;  "  4
berasal dari satu alasan untuk menghindari satu ancaman yang sama.

  7( "  

Comprehensive security merupakan seperangkat usaha untuk menciptakan keamanan kolektif


dengan memperluas area isu politik internasional, lebih dari sekedar aspek militer melainkan
juga meliputi fokus pada politik, ekonomi dan permasalahan sosial pada semua level analisis
dan kerjasama. Hal ini kali pertama dipromotori oleh Jepang, untuk kemudian berusaha
disesuaikan dengan konsep  "dan  "  ASEAN dimana berdirinya
ASEAN pertama kali berasal dari ide untuk menciptakan kemanan kawasan yang stabil
dengan mengadakan kerjasama secara kolektif antarnegara sekawasan. Adapun kerjasama
tersebut tidak terbatas pada isu militer dan keamanan secara fisik, melainkan mencontoh
 "  Jepang yang mengusung ide: keamanan kawasan dapat dijaga dengan
stabil dengan memperluas area isu politik regional kawasan. Hal ini yang menciptakan
perlunya suatu rezim keamanan untuk merealisasikan tujuan tersebut, sehingga  
menjadi faktor relevan untuk mendukung rezim keamanan.

01"    1(" 

Rezim keamanan menyediakan norms, principles dan rules bagi anggotanya.  
akan menjadi relevan selama komponen-komponen rezim keamanan di atas tidak
mengungguli pertimbangan-pertimbangan   

SIMPULAN
Konsep Balance of Power menjelaskan pendirian ASEAN, sebagai rezim keamanan guna
menjamin kestabilan kawasan terhadap ancaman luar, dengan cara menggunakan nilai-nilai
keamanan yakni "$  "dan  "  ("  
rezim keamanan Asean meliputi kewajiban untuk menjaga kestabilan keamanan masing-
masing negara;  "   rezim keamanan merupakan usaha secara kolektif menjaga
kestabilan keamanan kawasan dengan mengembangkan kepercayaan sebagaimana nilai yang
dianut Asean. Sedangkan  "  berkaitan dengan perluasan area isu politik
regional untuk menjamin keamanan kawasan yang lebih komprehensif dari sekedar hanya
memiliki militer dan hardpower.

OPINI

Akhirnya, konsep    ditujukan untuk menciptakan stabilitas keamanan, bukan
lagi untuk menciptakan distribusi power secara paralel antarnegara sebagaimana pengertian
tentang   sebelumnya. Dengan demikian,    
   ""

SUMBER

Emmers, Ralf. 2004. ("     ..' 0.1,
New York: Routledge Curzon

*Teori Balance of Power, definition

[WEAKNESS AND ALTERNATIVES OF BALANCE OF POWER]

*Perbedaan teori Balance of Power sebagai kebjikan²policy dan sistem

*Asas-asas yang dianut oleh teori Balance of Power

*Teori balance of power berasal dari pemikiran Realis

*Power refers to? Sum of power components: realist and « mainstream?

*Balance of Power dimaksudkan untuk menolak adanya hegemoni berdasarkan pada politik
internasional yang cenderung bipolar daripada unipolar

*Balance of power mengandung perngertian ketidakpastian dalam mengukur power

*Balance of power: power balancing between groups of states nor in bilateral relationship

*Kesamaan balance of power dengan cooperative security, collective security and


comprehensive security

Relevansi Balance of Power faktor bagi rezim untuk cooperative security


  .
  
Devania Annesya
070810535

devania.annesya@gmail.com

Salah satu pemikir kaum neorealisme kontemporer terkemuka yang tidak diragukan lagi
adalah Kenneth Waltz (1979). Ia mengambil beberapa elemen realisme klasik dan neoklasik
sebagai titik awal pemikirannya. Ia percaya bahwa negara-negara berdaulat tumbuh dan
bergerak dalam suatu sistem anarki internasional dengan mengabaikan pertimbangan
normatif dan menyediakan teori HI yang ilmiah. Tidak seperti Morgenthau (1985), Waltz
tidak memberikan pertimbangan pada sifat dasar manusia dan mengabaikan etika kenegaraan.
Jika dalam realisme klasik para pemimpin negara dan penilaian subjektifnya tentang
hubungan internasional merupakan pusat perhatiannya, neorealisme lebih memfokuskan
sistem struktur terkait distribusi kekuatan relatif sebagai fokus analitis utama. Aktor-aktor
dianggap kurang begitu penting lagi sebab strukturlah yang memaksa mereka melakukan
aksi-aksi dengan cara tertentu. Struktur pada dasarnya menentukan tindakan para aktor
(Waltz 1979: 97). Dengan kata lain, perubahan internasional terjadi ketika negara-negara
berkekuatan besar muncul dan tenggelam dan dengan demikian perimbangan kekuatan
bergeser. Alat-alat yang khas dari perubahan tersebut adalah perang antarnegara berkekuatan
besar.

Baik realisme strategis (Schelling 1980: 1996) maupun neorealisme (Waltz 1979) sangat erat
hubungannya dengan Perang Dingin. Keduanya kemudian merupakan teori HI yang
merespon situasi sejarah saat itu. Waltz menyatakan bahwa sistem bipolar bersifat superior
dari sistem multipolar sebab menyediakan stabilitas internasional yang lebih besar dan oleh
karena itu keamanan dan perdamaian lebih baik pula. Ada tiga alasan dasar mengapa kondisi
ini dianggap lebih menyediakan kestabilitasan internasional: pertama, jumlah negara
berkekuatan besar hanya sedikit sehingga mengurangi resiko peperangan negara-negara
besar; kedua, sedikitnya negara-negara berkekuata besar akan mempermudah sistem
pemusatan; dan ketiga adalah dengan adanya dua kekuatan besar tersebut akan meminimalisir
kesalahan perhitungan dan prediksi. Singkatnya dua yang bersaing dapat terus
menerus mengoreksi satu sama lain.

Sementara itu, kaum neorealis yang gencar menyerang pemikiran liberalisme pada akhirnya
menerima perlawanan dari pemikiran neoliberalisme. Liberalisme klasik yang tidak bisa
menjelaskan mengenai eksistensi anarki dalam sistem internasional dan mengapa negara tetap
mau bekerja sama dalam kondisi tersebut, menjadikan asumsi dasar kaum neorealis sebagai
titik awal analisis kaum neoliberalis.

Kaum neoliberalis menjelaskan realitas anarki internasional tidak perlu menjadi ³anarki
mentah´ dengan dasar rasa takut dan ketidakamanan dari lingkungan sekitar. Menurutnya ada
elemen lain yang cukup signifikan untuk diperhitungkan dari kekuatan internasional yang
legal dan efektif. Ia percaya perdamaian dapat tercipta dalam sebuah bentuk kerjasama yang
nantinya akan member efek interdependensi. Dan sistem internasional akan menyediakan
sebuah institusi yang menyediakan norma dan nilai umum.

Dengan berakhirnya Perang Dingin beberapa isu tradisional menyangkut agenda riset kaum
liberal mendapat urgensi baru. Misalnya tentang bagaimana demokrasi menuju perdamaian
dan memahami tingkat yang tepat di mana negara-negara demorasi perlu digabung dalam
upaya menjamin perdamaian demokratis. Konsep ³komunitas keamanan´ yang diajukan Karl
Deutsch membutuhkan pengembangan yang lebih jauh. Pemikiran ini membantu dalam
menekankan bahwa perdamaian lebih dari sekedar ketiadaan perang melainkan mengenai
keberadaan ³perdamaian hangat´, sebagaimana ³perdamaian dingin´ di era Perang Dingin.
Dengan demikian akan meningkatkan intensitas kerjasama antarnegara (Mueller 1990; 1995)

Analysis

Neoliberalisme tidak menolak adanya anarki,   $dan sebagai aktor utama di
sistem internasional serupa dengan pemikiran neorealisme. Ia bahkan berangkat dari kritikan
neorealisme dalam menjelaskan eksistensi anarki dalam sistem internasional. Jika
neorealisme percaya bahwa kerjasama antarnegara hampir tidak mungkin dan sulit terjadi
karena tidak adanya kepercayaan, neoliberalisme sebaliknya meyakini seberapa besar
kontribusi kerjasama internasional dalam menjamin perdamaian sebagai akibat dari
interdependensi di antara mereka. Namun jika diteliti dengan benar kedua teori ini tidak ada
yang benar-benar ³benar´ dalam artian perlu  diantara keduanya untuk menciptakan
sebuah formula terbaik dalam menciptakan situasi damai dalam sistem internasional.


Devania Annesya

070810535

devania.annesya@gmail.com

Breaking with the powerful bond among manly men, states and war, feminist theories of
international relations have proliferated since the early 1990s. These theories have introduced
 as a relevant empirical category and analytical tool for understanding global power
relations as well as a normative position from which to construct alternative world orders. the
political rupture created by the magnitude and significance of the events of September 11,
2001 has given new impetus to feminist perspectives on international relations. With their
focus on non-state actors, marginalized peoples and alternative conceptualizations of power,
feminist perspectives bring fresh thinking and action in the post-9/11 decentred and uncertain
world. It differentiates three overlapping forms of feminist International Relations that
represent a useful heuristic for discussing the varied contributions to the field. These are: (1)
    , that focuses on women and/or explores gender as an empirical dimension
of international relations; (2)     , that uses gender as a theoretical category to
reveal the gender bias of International Relations concepts and explain constitutive aspects of
international relations; and (3) "  , that reflects on the process of theorizing
as part of a normative agenda for social and political change. These forms do not prefigure or
suggest any particular feminist epistemology.

Focusing on politics at the margins dispels the assumption that power is what comes out of
the barrel of a gun or ensues from the declarations of world leaders. Indeed, feminist efforts
to reinterpret power suggest that International Relations scholars have underestimated the
pervasiveness of power and precisely what it takes, at every level and every day, to reproduce
a grossly uneven and hierarchical world order (Enloe 1997). A first generation of feminist
International Relations in the late 1980s sought to challenge the conventional ontological and
epistemological focus of the field by engaging in what was called the µthird debate¶ among
positivist and post-positivist. In this debate, feminist scholars contested the exclusionary,
state-centric and positivist nature of the discipline primarily at a meta-theoretical level. Often
implicit in their concern with gender relations was the assumption of a feminist standpoint
epistemology. Such a standpoint maintains that women¶s lives on the margins of world
politics afford us a more critical and comprehensive understanding of international relations
than the objectivist view of the realist theorist or foreign policy lens of the statesman since
they are less complicit with and/or blinded by existing institutions and elite power (Keohane
1989a: 245; Sylvester 1994a: 13; see also Harding 1986; Tickner 1992; Zalewski 1993). A
second generation of feminist research promises a new phase in the development of feminist
International Relations. This emerging body of scholarship seeks to make gender a central
analytic category in studies of foreign policy, security, global political economy through an
exploration of particular historical and geographic contexts (Moon 1997; Chin 1998; Hooper
2000; Prugl 2000; True 2003; Whitworth 2004; Stern 2005).

'#( 

   turns our attention to women and gender relations as empirical aspects of
international relations. Feminist challenges to International Relations contend that women¶s
lives and experiences have been, and still are, often excluded from the study of international
relations. This sexist exclusion has resulted in research which presents only a partial,
masculine view in a field in which the dominant theories claim to explain the reality of world
politics (Halliday 1988b). Since the 1990s, empirical feminist research has taken a variety of

methodological and substantive forms in International Relations. Studies under the rubric of
µwomen in international development¶ (WID), and more recently gender and development
(GAD), have documented how male bias in the development process has led to poor
implementation of projects and unsatisfactory policy outcomes in terms of eradicating
poverty and empowering communities (Newland 1988; Goetz 1991; Kardam 1991; Kabeer
1994; Rathergeber 1995).

 #,!'#( 

Analytical feminism deconstructs the theoretical framework of International Relations,


revealing the gender bias that pervades key concepts and inhibits an accurate and
comprehensive understanding of international relations. The feminist concept of gender refers
to the asymmetrical social constructs of masculinity and femininity as opposed to ostensibly
µbiological¶ male±female differences (although feminist postmodernists contend that both sex
and gender are socially constructed categories, see Butler 1990; Gatens 1991). International
Relations¶ key concepts are neither natural nor genderneutral: they are derived from a social
and political context where masculine hegemony has been institutionalized. Feminist scholars
argue that notions of power, sovereignty, autonomy, anarchy, security and the levels of
analysis typology in International Relations are inseparable from the gender division of
public and private spheres institutionalized within and across states.

!*( 

'"  reflects on the process of International Relations theorizing as part of a


normative agenda for global change. µAll forms of feminist theorising are normative, in the
sense that they help us to question certain meanings and interpretations in IR theory¶
(Sylvester 2002: 248). Feminists are self-consciously explicit about the position from which
they are theorizing, how they enter the International Relations field and go about their
research. They view their social and political context and subjectivity as part of theoretical
explanation. Empirical feminism and gender analysis are important contributions, but they
are only starting points for feminist goals of transforming global social hierarchies (Persram
1994; Ship 1994; Hutchings 2000; Robinson forthcoming). Feminist theorists bring the
insights of feminist   ± for instance, care ethics and Third World women¶s social
activism ± to bear on debates about international ethics, humanitarian aid and intervention
and human rights instruments (Cochran 1999; Robinson 1999; Hutchings 2000; Ackerly
2000).

 #,

The three forms of feminism (empirical feminism, analytical feminism and normative
feminism) all suggest that the theory and practice of international relations has suffered from
its neglect of feminist perspectives. Feminists argue that conventional International Relations
theories distort our knowledge of both µrelations¶ and the ongoing transformations of the
µinternational¶. These International Relations theories overlook the political significance of
gendered divisions of public and private institutionalized within and by the state and state-
system and, as a result, ignore the political activities and activism of women: whether they
are mobilizing for war, protesting state abrogation of their rights or organizing for the
international recognition of women¶s human rights. Moreover, the objectivist approach of
much International Relations theory produces relatively superficial knowledge and tends to
reproduce the dichotomies which have come to demarcate the field. These dichotomies are
gendered: they define power as power-over µothers¶, autonomy as reaction rather than
relational, international politics as the negation of domestic, µsoft¶ politics and the absence of
women, and objectivity as the lack of (feminized) subjectivity.

In sum, approaches to international relations that fail to take gender seriously overlook
critical aspects of world order and abandon a crucial opening for effecting change. Feminist
International Relations contributes to expanding and strengthening existing theories and
analyses including liberal, critical theory, postmodern, constructivist and green theories of
international relations. For example, International Relations feminists advance constructivist
International Relations approaches by uncovering the processes through which identities and
interests, not merely of states but of       , are shaped at the global level.
Elisabeth Prugl (2000) exemplifies this feminist constructivist approach in her study of home-
workers in the global political economy (Locher and Prugl 2001; Kardam 2004). Prugl (2000)
shows how transnational rules and regimes of gender in international organizations such as
the ILO and global solidarity networks have been powerful forces in determining the plight of
these workers around the world.

 
Devania Annesya

070810535

devania.annesya@gmail.com

As one of the two great philosophical products of the European Enlightenment, liberalism has
had a profound impact on the shape of all modern industrial societies. It has championed
limited government and scientific rationality, believing individuals should be free from
arbitrary state power, persecution and superstition. It has advocated political freedom,
democracy and constitutionally guaranteed rights, and privileged the liberty of the individual
and equality before the law. Liberalism has also argued for individual competition in civil
society and claimed that market capitalism best promotes the welfare of all by most
efficiently allocating scarce resources within society. To the extent that its ideas have been
realized in recent democratic transitions in both hemispheres and manifested in the
globalization of the world economy, liberalism remains a powerful and influential doctrine.
The journal will begin with an analysis of the revival of liberal thought after the Cold War. It
will then explain how traditional liberal attitudes to war and the importance of democracy and
human rights continue to inform contemporary thinking.

The end of Soviet Communism at the beginning of the 1990s improved the influence of
liberal theories of international relations within the academy, a theoretical tradition long
thought to have been discredited by perspectives which emphasize the recurrent features of
international relations. Fukuyama claimed in the early 1990s that the collapse of the Soviet
Union proved that liberal democracy had no serious ideological competitor: it was µthe end
point of mankind¶s ideological evolution¶ and the µfinal form of human government¶ (1992:
xi±xii). For Fukuyama, the end of the Cold War represented the triumph of the µideal state¶
and a particular form of political economy, µliberal capitalism¶, which µcannot be improved
upon¶: there can be µno further progress in the development of underlying principles and
institutions¶ (1992: xi±xii).

For liberals, peace is the normal state of affairs: in Kant¶s words, peace can be perpetual. The
laws of nature dictated harmony and cooperation between peoples. War is therefore both
unnatural and irrational, an artificial contrivance and not a product of some peculiarity of
human nature. (Gardner 1990: 23±39; Hoffmann 1995: 159±77; Zacher and Matthew 1995:
107±50). According to Paine in 01  , the µwar system¶ was contrived to
preserve the power and the employment of princes, statesmen, soldiers, diplomats and
armaments manufacturers, and to bind their tyranny ever more firmly upon the necks of the
people¶(Howard 1978: 31). Wars provide governments with excuses to raise taxes, expand
their bureaucratic apparatus and increase their control over their citizens. The people, on the
other hand, were peace-loving by nature, and plunged into conflict only by the whims of their
unrepresentative rulers.

Fukuyama also believes that progress in human history can be measured by the elimination of
global conflict and the adoption of principles of legitimacy that have evolved over time in
domestic political orders. It also leads to Doyle¶s important claim that µliberal democracies
are uniquely willing to eschew the use of force in their relations with one another¶, a view
which rejects the realist contention that the anarchical nature of the international system
means states are trapped in a struggle for power and security (Linklater 1993: 29).

Although his µhypothesis remains correct¶, the events of 9/11 have subsequently caused
Fukuyama to reflect on resistance to political and economic convergence in the modern world
and the reaction in many societies against the dominance of the West (Fukuyama 2002: 28).

In the 1990s Fukuyama revived a long-held view among liberals that the spread of legitimate
domestic political orders would eventually bring an end to international conflict. This neo-
Kantian position assumes that particular states, with liberal-democratic credentials, constitute
an ideal which the rest of the world will emulate (Fukuyama 1992: xx). This approach is
rejected by neo-realists who claim that the moral aspirations of states are dissatisfied by the
lack of an overarching authority which regulates their behaviour towards each other. The
anarchical nature of the international system tends to homogenize foreign policy behaviour
by socializing states into the system of power politics.

Analysis

Fukuyama had reason to be optimistic. The spread of liberal democracies and the zone of
peace was an encouraging development, as is the realization by states that trade and
commerce is more closely correlated with economic success than territorial conquest. The
collapse of Marxism as a legitimate alternative political order removes a substantial barrier to

the spread of liberal democracies, and there can be little doubt that the great powers are now
much less inclined to use force to resolve their political differences with each other. It
appears that liberal democracies are in the process of constructing a separate peace.

The globalization of the world economy means that there are few obstacles to international
trade. Liberals want to remove the influence of the state in commercial relations between
businesses and individuals, and the decline of national economic sovereignty is an indication
that the corrupting influence of the state is rapidly diminishing. Globalization has undermined
the nation-state in other ways that have pleased liberals. The capacity of each state to direct
the political loyalties of its citizens has been weakened by an increasing popular awareness of
the problems faced by the entire human species. The state cannot prevent its citizens turning
to a range of sub-national and transnational agents to secure their political identities and
promote their political objectives. Sovereignty is no longer an automatic protection against
external interference called µhumanitarian intervention¶. And

decision making on a range of environmental, economic and security questions has become
internationalized, rendering national administration often much less important than
transnational political cooperation.

But, as Scott Burchill (2005) written in 0 +   1 $realists would
argue that liberals such as Ohmae are premature in announcing the failure of the nation-state.
Realists cite a number of important powers retained by the state despite globalization,
including monopoly control of the weapons of war and their legitimate use, and the sole right
to tax its citizens. They would argue that only the nation-state can still command the political
allegiances of its citizens or adjudicate in disputes between them. And it is still only the
nation-state which has the exclusive authority to bind the whole community to international
law. They would question the extent to which globalization today is an unprecedented
phenomenon, citing the nineteenth century as period when similar levels of economic
interdependence existed. They would also point to the growing number of states which reject
the argument that Western modernity is universally valid or that political development always
terminates at liberal-capitalist democracy. More recently realists have highlighted the
expanding power and reach of the state as a result of the latest wave of anti-Western Islamic
militancy ± a significant reversal for liberals who anticipated the imminent decline of the
nation-state in modern life. Islamism is a direct challenge to liberal assumptions about
economics and politics terminating at a liberal capitalist consensus.
Unpredictable challenges of this kind have left liberalism on the back foot, questioning
whether the linear path to improving the human condition is as straight and as inexorable as
they thought only a few short years ago.

/
Devania Annesya

070810535

devania.annesya@gmail.com

In the mid-1840s Marx and Engels wrote that capitalist globalization was seriously eroding
the foundations of the international system of states. Conflict and competition between
nation-states had not yet ended in their view but the main fault-lines in future looked certain
to revolve around the two principal social classes: the national bourgeoisie, which controlled
different systems of government, and an increasingly cosmopolitan proletariat. The outline of
a radically new social experiment was already contained within the most advanced political
movements of the industrial working class. Through revolutionary action, the international
proletariat would embed the Enlightenment ideals of liberty, equality and fraternity in an
entirely new world order which would free all human beings from exploitation and
domination (Marx and Engels 1977).

Many traditional theorists of international relations have pointed to the failures of Marxism or
µhistorical materialism¶ as an account of world history. As Martin Wight maintained that
Lenin¶s + 40u ( (1916) might seem to be a study of
internationalpolitics but it was far too preoccupied with the economicaspects of human
affairs to be taken seriously as a contribution to thefield (Wight 1966). Marxists had
underestimated the crucial importanceof nationalism, the state and war, and the significance
of the balanceof power, international law and diplomacy for the structure ofworld politics.

For some, the collapse of the Soviet Union and the triumph of capitalism over socialism
marked the death of Marxism as social theory and political practice. In the 1990s, some
argued that the relevance of Marxism had increased with the passing of the age of bipolarity
and the rapid emergence of a new phase of economic globalization (Gamble 1999). A
biography of Marx which appeared in the late 1990s argued that, following the collapse of the
Soviet Union, his analysis of how capitalism breaks down Chinese Walls and unifies the
human race had finally come of age (Wheen 1999). For others, the resurgence of national
security politics since the terrorist attacks of µ9/11¶ is a simple reminder that Marxism has
little grip on the most fundamental realities of international politics.

For Marx, human history has been a laborious struggle to satisfy basic material needs, to
understand and tame the physical world, to resist class domination and exploitation and to
overcome fear and distrust of the rest of the human race. Marx thought that capitalism had
made massive advances in reducing feelings of estrangement between societies. Nationalism,
he believed, had no place in the hearts and minds of the most advanced sections of the
proletariat which were committed to a cosmopolitan political project. But capitalism was a
system of largely unchecked exploitation in which the bourgeoisie controlled the labour-
power of members of the proletariat and profited from their work. It was the root cause of an
alienating condition in which the human race ± the bourgeoisie as well as the proletariat ±
was at the mercy of structures and forces which it had created. Marx wrote that philosophers
had only interpreted the world whereas the real point was to change it (Marx 1977b: 158). An
end to alienation, exploitation and estrangement was Marx¶s main political aspiration and the
point of his efforts to understand the laws of capitalism and the broad movement of human
history. This was his chief legacy to thinkers in the Marxist tradition.

Realists such as Waltz have argued that members of the proletariat concluded during the First
World War that they had more in common with their own national bourgeoisie than with the
working classes of other countries. For realists, the failure to anticipate this outcome
demonstrates the central flaw in Marxism ± its economic reductionism, as manifested in the
belief that understanding capitalism would explain the mysteries of the modern world and its
unprecedented political opportunities (Waltz 1959: Chapter 5). This is one of the most
famous criticisms of Marxism within the study of international relations. There are three
points to make about it.

First, although Marx and Engels were clearly aware of the globalization of economic and
social life, they believed that class conflict within separate, but not autonomous, societies
would trigger the great political revolutions of the time (Giddens 1981). Their assumption
was that revolution would quickly spread from the society in which it first erupted to all other
leading capitalist societies. According to this view of the world, burgeoning transnational
capitalist activity shattered the illusion of apparently separate societies ± an illusion created
by geographical boundaries separating peoples governed by different political systems.
Marxism largely ignored geopolitics, nationalism and war. Second, Marx and Engels were
forced to reconsider their ideas about the nation because of the importance of nationalism in
the 1848 revolutions and its growing political influence later in the century. They wrote that
the Irish and the Poles were the victims of national domination rather than class exploitation,
and added that freedom from national dominance was essential if subordinated peoples were
to become allies of the international proletariat (Marx and Engels 1971; see also Benner
1995). These remarks indicate that while Marx and Engels were primarily concerned with the
class structure of capitalist societies, they were well aware of the persistence of ancient
animosities between national groups ± but they almost certainly continued to believe that
national differences would eventually decline in importance and might even disappear
altogether (Halliday 1999: 79). Third, as Gallie (1978) has noted, those intriguing comments
about nationalism, the state and war did not lead Marx and Engels to rework their early
statements about the explanatory power of historical materialism. Marx and Engels¶ political
writings revealed growing subtlety but the main statements of their theoretical position
continued to privilege class and production, to regard economic power as dominant form of
power and to regard the revolutionary project as fundamentally about promoting the
transition from capitalism to socialism (Cummins 1980).

Analysis

Despite its weaknesses, Marxism contributes to the theory of international relations in at least
four respects. First, historical materialism with its emphasis on production, property relations
and class is an important counter-weight to realist theories which assume that the struggle for
power and security determines the structure of world politics. This leads to two further points
which are that Marxism has long been centrally concerned with capitalist globalization and
international inequalities and that, for Marxism, the global spread of capitalism is the
backdrop to the development of modern societies and the organization of their international
relations. A fourth theme, which first appeared in Marx¶s critique of liberal political economy,
is that explanations of the social world are never as objective and innocent as they may seem.
Applied to international politics, the argument is that the analysis of basic and unchanging
realities can all too easily ignore relations of power and inequality not between states but
between  " . Dominant strands of Marxist thought have taken the view that one of the
main functions of scholarship is to understand the principal forms of domination and to
imagine a world order which is committed to reducing material inequalities. This critical
orientation to world politics can no longer be simply µMarxist¶ in the largely superseded
sense of using the paradigm of production to analyze class inequalities. But it can
nevertheless remain true to the µspirit of Marxism¶ by combining the empirical analysis of the
dominant forms of power and inequality with a moral vision of a more just world order. This
critical approach can extend beyond the analysis of capitalist globalization and rising
international inequalities to the ways in which states conduct national security politics. One
of the failings of Marxism as a source of critical international theory is its ingrained tendency
to focus on the former at the expense of the latter field of inquiry. Later chapters discuss
whether other strands of critical international theory have succeeded in overcoming this
limitation.


  .
  
Devania Annesya

070810535

devania.annesya@gmail.com

Salah satu pemikir kaum neorealisme kontemporer terkemuka yang tidak diragukan lagi
adalah Kenneth Waltz (1979). Ia mengambil beberapa elemen realisme klasik dan neoklasik
sebagai titik awal pemikirannya. Ia percaya bahwa negara-negara berdaulat tumbuh dan
bergerak dalam suatu sistem anarki internasional dengan mengabaikan pertimbangan
normatif dan menyediakan teori HI yang ilmiah. Tidak seperti Morgenthau (1985), Waltz
tidak memberikan pertimbangan pada sifat dasar manusia dan mengabaikan etika kenegaraan.
Jika dalam realisme klasik para pemimpin negara dan penilaian subjektifnya tentang
hubungan internasional merupakan pusat perhatiannya, neorealisme lebih memfokuskan
sistem struktur terkait distribusi kekuatan relatif sebagai fokus analitis utama. Aktor-aktor
dianggap kurang begitu penting lagi sebab strukturlah yang memaksa mereka melakukan
aksi-aksi dengan cara tertentu. Struktur pada dasarnya menentukan tindakan para aktor
(Waltz 1979: 97). Dengan kata lain, perubahan internasional terjadi ketika negara-negara
berkekuatan besar muncul dan tenggelam dan dengan demikian perimbangan kekuatan
bergeser. Alat-alat yang khas dari perubahan tersebut adalah perang antarnegara berkekuatan
besar.

Baik realisme strategis (Schelling 1980: 1996) maupun neorealisme (Waltz 1979) sangat erat
hubungannya dengan Perang Dingin. Keduanya kemudian merupakan teori HI yang
merespon situasi sejarah saat itu. Waltz menyatakan bahwa sistem bipolar bersifat superior
dari sistem multipolar sebab menyediakan stabilitas internasional yang lebih besar dan oleh
karena itu keamanan dan perdamaian lebih baik pula. Ada tiga alasan dasar mengapa kondisi
ini dianggap lebih menyediakan kestabilitasan internasional: pertama, jumlah negara
berkekuatan besar hanya sedikit sehingga mengurangi resiko peperangan negara-negara
besar; kedua, sedikitnya negara-negara berkekuata besar akan mempermudah sistem
pemusatan; dan ketiga adalah dengan adanya dua kekuatan besar tersebut akan meminimalisir
kesalahan perhitungan dan prediksi. Singkatnya dua yang bersaing dapat terus
menerus mengoreksi satu sama lain.

Sementara itu, kaum neorealis yang gencar menyerang pemikiran liberalisme pada akhirnya
menerima perlawanan dari pemikiran neoliberalisme. Liberalisme klasik yang tidak bisa
menjelaskan mengenai eksistensi anarki dalam sistem internasional dan mengapa negara tetap
mau bekerja sama dalam kondisi tersebut, menjadikan asumsi dasar kaum neorealis sebagai
titik awal analisis kaum neoliberalis.

Kaum neoliberalis menjelaskan realitas anarki internasional tidak perlu menjadi ³anarki
mentah´ dengan dasar rasa takut dan ketidakamanan dari lingkungan sekitar. Menurutnya ada
elemen lain yang cukup signifikan untuk diperhitungkan dari kekuatan internasional yang
legal dan efektif. Ia percaya perdamaian dapat tercipta dalam sebuah bentuk kerjasama yang
nantinya akan member efek interdependensi. Dan sistem internasional akan menyediakan
sebuah institusi yang menyediakan norma dan nilai umum.

Dengan berakhirnya Perang Dingin beberapa isu tradisional menyangkut agenda riset kaum
liberal mendapat urgensi baru. Misalnya tentang bagaimana demokrasi menuju perdamaian
dan memahami tingkat yang tepat di mana negara-negara demorasi perlu digabung dalam
upaya menjamin perdamaian demokratis. Konsep ³komunitas keamanan´ yang diajukan Karl
Deutsch membutuhkan pengembangan yang lebih jauh. Pemikiran ini membantu dalam
menekankan bahwa perdamaian lebih dari sekedar ketiadaan perang melainkan mengenai
keberadaan ³perdamaian hangat´, sebagaimana ³perdamaian dingin´ di era Perang Dingin.
Dengan demikian akan meningkatkan intensitas kerjasama antarnegara (Mueller 1990; 1995)

Analysis

Neoliberalisme tidak menolak adanya anarki,   $dan sebagai aktor utama di
sistem internasional serupa dengan pemikiran neorealisme. Ia bahkan berangkat dari kritikan
neorealisme dalam menjelaskan eksistensi anarki dalam sistem internasional. Jika
neorealisme percaya bahwa kerjasama antarnegara hampir tidak mungkin dan sulit terjadi
karena tidak adanya kepercayaan, neoliberalisme sebaliknya meyakini seberapa besar
kontribusi kerjasama internasional dalam menjamin perdamaian sebagai akibat dari
interdependensi di antara mereka. Namun jika diteliti dengan benar kedua teori ini tidak ada
yang benar-benar ³benar´ dalam artian perlu  diantara keduanya untuk menciptakan
sebuah formula terbaik dalam menciptakan situasi damai dalam sistem internasional.


     
   
&  
Devania Annesya

070810535

devania.annesya@gmail.com
Deterrence is a conditional commitment to retaliate or to exact retribution if anoter party fails
to behave in a desire, compliant manner (Penguin, 1998). It is about relationships between
individuals or groups. It is possible to identify this relationship in its simplest two-person
version by speaking of an imposer and a target. Hence imposer seeks to deter the target from
behaving in an unacceptable fashion by threatening punishment.

Deterrence as a policy is about maintaining a large military force and arsenal to discourage
any potential aggressor from taking action (states commit themselves to punish an aggressor
states). The goal of deterrence (like that of balance of power) is to prevent the outbreak of
war. Deterrence theory posits that war can be prevented by the threat of the use of the force.
We can see this policy in 2002 National Security Strategy of United States. There is a very
explicit threat for those who may pursue terrorism. The United States writes ³the US, the
American people, our interest at home and abroad by identifying and destroying the threat
before it reaches our border« We will not hesitate to act alone, if necessary, to exercise our
right of self-defense by acting preemptively against such terrorist, to prevent them from doing
harm against our people and our country´

Deterrence theory as initially developed based on three assumption (Snyder, 1961). First,
decision makers are rational who is assumed to avoid resorting to war in those situations in
which the anticipated cost of aggression is greater than the gain expected. Second, the threat
of destruction from warfare is large. We used to know since the advent of nuclear weapon in
1945, deterrence has taken on a special meaning. Nuclear weapons pose an unacceptable
level of destruction and thus that decision makers will not resort to armed aggression against
a nuclear state. Third, there are alternatives to war available.

Meanwhile compellence is the policy of threatening or intimidating adversary in order to get


it to either take or refrain from taking a particular action. With the strategy of compellence, a
state tries, by threatening to use force, to get another state to do something or to undo an act
that it has undertaken. The prelude to the 1991 Gulf war serves an excellent example: The
U.S, the U. N, and coalition members tried to get Saddam Hussein to change his actions with
the compellence strategy of escalating threat. During each step of the compellence strategy of
escalation, one message was communicated to Iraq to withdraw from Kuwait or more
coercive actions will follow. Similarly, the Western alliance sought to get Serbia to stop
abusing the human rights of Kosovar Albanians and to withdraw its military forces from the
region. Compellence was also used before the 2003 Iraq war when the United States and
others threatened Saddam Husein that if certain actions were not taken, then war would
follow. Threat began when George W. Bush labeled Iraq a member of the ³axis of evil´, they
escalated when the United Nations found Iraq to be in material breach of a U. N. resolution.
And in March 2003, Great Britain, one of the coalition partners, gave Iraq ten days to comply
with the UN resolution. And on March 17, the last compellent threat was issued: Bush gave
the Baathist regime only forty eight hours sary to resort to an invasion because compellence
via an escalation of threats failed. And the compellence end once the use of force begins.
Liberal theorists are more suitable with compelling strategies, moving cautiously to
deterrence whereas realists promote deterrence.

Analysis

The conclusion is force (and the threat of force) is another critical instrument of statecraft and
is central realist thinking. Force or its threat may be used either to get a target state to do
something or to undo something it has done (compellence) or to keep and adversary from
doing something (deterrence) (Schelling, 1966). For either compellence or deterrence to be
effective, states have to lay the groundwork. They must clearly and openly communicate their
objectives and capabilities, be willing to make a good on the threats or to fulfill the promises
and have the capacity to follow through with their commitment. In short, a state¶s credibility
is essential for compellence and deterrence. It is a strategic interaction where the behavior of
each is determined not only by one¶s own behavior but by the actions and responses of the
other. If ompellence and deterrence fail sates my got to war but they have choices. They
choose that type of weaponry (nuclear or nonnuclear, strategic or tactical, conventional or
chemical and biological), the kind of target (military or civilian, city or country), and the
geographic locus (city, state, region) to be targeted. They able chose to respond in kind, to
escalate or de-escalate. In war, both explicit and implicit negotiation takes place, over both
how to fight the war and how to end it.

 
&
Devania Annesya

070810535

devania.annesya@gmail.com

Critical theory¶ it is the idea that the study of international relations should be oriented by an
emancipatory politics. The terrorist attacks of September 11, 2001 and the subsequent µwar
on terrorism¶ showed, among other things, that unnecessary human suffering remains a
central fact of international life. For critical theory, any assessment of the degree to which
September 11 changed world order will depend on the extent to which various forms of
domination are removed and peace, freedom, justice and equality are promoted.

Critical theory has its roots in a strand of thought which is often traced back to the
Enlightenment and connected to the writings of Kant, Hegel, and Marx. In the twentieth
century critical theory became most closely associated with a distinct body of thought known
as the Frankfurt School (Jay 1973; Wyn Jones 2001). It is in the work of Max Horkheimer,
Theodor Adorno, Walter Benjamin, Herbert Marcuse, Erich Fromm, Leo Lowenthal and,
more recently, Jürgen Habermas that critical theory acquired a renewed potency and in which
the term  came to be used as the symbol of a philosophy which questions
modern social and political life through a method of immanent critique.

Essential to the Frankfurt School¶s critical theory was a concern to comprehend the central
features of contemporary society by understanding its historical and social development, and
tracing contradictions in the present which may open up the possibility of transcending
contemporary society and its built-in pathologies and forms of domination. it is always
µsituated knowledge¶. Since critical theory takes society itself as its object of analysis, and
since theories and acts of theorizing are never independent of society, critical theory¶s scope
of analysis must necessarily include reflection on theory. By drawing attention to the
relationship between knowledge and society, which is so frequently excluded from
mainstream theoretical analysis, critical theory recognizes the political nature of knowledge
claims.
It was not until the 1980s, and the onset of the so-called µthird debate¶, that questions relating
to the politics of knowledge would be taken seriously in the study of international relations.
Epistemological questions regarding the justification and verification of knowledge claims,
the methodology applied and the scope and purpose of inquiry, and ontological questions
regarding the nature of the social actors and other historical formations and structures in
international relations, all carry normative implications that had been inadequately addressed.
One of the important contributions of critical international theory has been to widen the
object domain of International Relations, not just to include epistemological and ontological
assumptions, but to explicate their connection to prior political commitments. Robert Cox
(1981) succinctly and famously said, µtheory is always for someone and for some purpose¶.
As a consequence, critical international theorists reject the idea that theoretical knowledge is
neutral or non-political. Whereas traditional theories would tend to see power and interests as
 factors affecting outcomes in interactions between political actors in the sphere
of international relations, critical international theorists insist that they are by no means
absent in the formation and verification of knowledge claims.

In his pioneering 1981 article, Robert Cox followed Horkheimer by distinguishing critical
theory from traditional theory ± or, as Cox prefers to call it, problem-solving theory.
Problem-solving or traditional theories are marked by two main characteristics: first by a
positivist methodology; second, by a tendency to legitimize prevailing social and political
structures.

Heavily influenced by the methodologies of the natural sciences, problem-solving theories


suppose that positivism provides the only legitimate basis of knowledge. Problem-solving
theory, as Cox (1981: 128) defines it, µtakes the world as it finds it, with the prevailing social
and power relationships and the institutions into which they are organised, as the given
framework for action.

By contrast, critical international theory starts from the conviction that because cognitive
processes themselves are contextually situated and therefore subject to political interests, they
ought to be critically evaluated. Theories of international relations, like any knowledge,
necessarily are conditioned by social, cultural and ideological influence, and one of the main
tasks of critical theory is to reveal the effect of this conditioning. As Richard Ashley (1981:
207) asserts, µknowledge is always constituted in reflection of interests¶, so critical theory
must bring to consciousness latent interests, commitments, or values that give rise to, and
orient, any theory.

Analysis

To summarize, critical theory draws upon various strands of Western social, political and
philosophical thought in order to erect a theoretical framework capable of reflecting on the
nature and purposes of theory and revealing both obvious and subtle forms of injustice and
domination in society. Critical theory not only challenges and dismantles traditional forms of
theorizing, it also problematizes and seeks to take apart fixed forms of social life that
constrain human freedom. Critical international theory is an extension of this critique to the
international domain.

There are some contributions of critical theory to the study of international relations. One of
these contributions has been to heighten our awareness of the link between knowledge and
politics. Critical international theory rejects the idea of the theorist as objective bystander.
Instead, the theorist is enmeshed in social and political life, and theories of international
relations, like all theories, are informed by prior interests and convictions, whether they are
acknowledged or not. A second contribution critical international theory makes us to rethink
accounts of the modern state and political community. Traditional theories tend to take the
state for granted, but critical international theory analyses the changing ways in which the
boundaries of community are formed, maintained and transformed.

Critical international theory¶s aim of achieving an alternative theory and practice of

international relations rests on the possibility of overcoming the exclusionary dynamics


associated with modern system of sovereign states and establishing a cosmopolitan set of
arrangements that will better promote freedom, justice and equality across the globe. It is thus
an attempt radically to rethink the normative foundations of global politics.

   


Devania Annesya

070810535

devania.annesya@gmail.com

µThe English School¶ is a term coined in the 1970s to describe a group of predominantly
British or British-inspired writers for whom international society is the primary object of
analysis (Jones 1981; Linklater and Suganami 2006). Its most influential members include
Hedley Bull, Martin Wight, John Vincent and Adam Watson whose main publications
appeared in the period between the mid-1960s and late 1980s (see Bull 1977; Bull and
Watson 1984; Wight 1977, 1991; Vincent 1 986; Watson 1982). Since the late 1990s, the
English School has enjoyed a renaissance in large part because of the efforts of Barry Buzan,
Richard Little and a number of other scholars (Buzan 2001, 2003; Little 2000). The English
School remains one of the most important approaches to international politics although its
influence is probably greater in Britain than in most other societies where International
Relations is taught.

The foundational claim of the English School is that sovereign states form a society, albeit an
anarchic one in that they do not have to submit to the will of a higher power. The fact that
states have succeeded in creating a society of sovereign equals is for the English School one
of the most fascinating dimensions of international relations. This is not to suggest that the
English School ignores the phenomenon of violence in relations between states. Its members
regard violence as an endemic feature of the µanarchical society¶ (the title of Hedley Bull¶s
most famous work, 1977) but they also stress that it is controlled to an important extent by
international law and morality.

Members of the English School are attracted by elements of realism and idealism, yet
gravitate towards the middle ground, never wholly reconciling themselves to either point of
view. In short, members of the English School maintain that the international political system
is more civil and orderly than realists and neo-realists suggest. However, the fact that
violence is ineradicable in their view puts them at odds with utopians who believe in the
possibility of perpetual peace. There is no expectation among its members that the
international political system will come to enjoy levels of close cooperation and the relatively
high level of security found in the world¶s more stable national societies. There is, they argue,
more to international politics than realists suggest but there will always be much less than the
cosmopolitan desires. This is why it makes sense to argue that members of the English
School belief there has been a limited degree of progress in international politics.

The English School is interested in the processes which transform systems of states into
societies of states and in the norms and institutions which prevent the collapse of civility and
the re-emergence of unbridled power. It is also concerned with the question of whether
societies of states can develop means of promoting justice for individuals and their immediate
associations. Bull in particular distinguished between international societies and international
systems, but he also identified different types of international society in order to cast light on
the relationship between order and justice in world affairs.

In an early essay (1966a), Bull distinguished between the µsolidarist¶ or µGrotian¶ and
µpluralist¶ conceptions of international society. He maintained that the µcentral Grotian
assumption is that of the solidarity, or potential solidarity, of the states comprising
international society, with respect to the enforcement of the law¶ (Bull 1966a: 52). Solidarism
is apparent in the Grotian conviction that there is a clear distinction between just and unjust
wars, and in the assumption µfrom which [the] right of humanitarian intervention is derived«
that individual human beings are subjects of international law and members of international
society in their own right¶ (1966a: 64). Pluralism, as expounded by the eighteenth-century
international lawyer, Vattel, rejects this approach, arguing that µstates do not exhibit
solidarity of this kind, but are capable of agreeing only for certain minimum purposes which
fall short of that of the enforcement of the law¶ (1966a: 52). A related argument is that states
rather than individuals are the basic members of international society (1966a: 68). Having
made this distinction, Bull asked whether there was any evidence that the pluralist
international society of the post-Second World War era was becoming more solidarist. His
answer in 0.    was that expectations of greater solidarity were seriously
µpremature¶ (Bull 1977: 73).

Bull argued that the goal of preserving the sovereignty of each state has often clashed with
the goal of preserving the balance of power and maintaining peace. Polish independence was
sacrificed on three occasions in the eighteenth century for the sake of international
equilibrium. The League of Nations chose not to defend Abyssinia from Italian aggression
because Britain and France needed Italy to balance the power of Nazi Germany. In such cases,
order took priority over justice which requires that each sovereign state should be treated
equally. Contemporary international society contains other examples of the tension between
order and justice. Order requires efforts to prevent further additions to the nuclear club, but
justice suggests all states have an equal right to acquire weapons of mass destruction (1977:
227±8).

The development of English School thinking about human rights is fascinating in this regard.
Bull (1977: 83) argued that in the recent history of international society pluralism has
triumphed over solidarism. In recent centuries, the solidarist belief in the primacy of
individual human rights had survived albeit µunderground¶. In addition, most states ± and
Europe¶s former colonies since the end of the Second World War ± have feared that human
rights law might be used as a pretext for interfering in their domestic affairs. Bull was
concerned that Western arrogance and complacency about human rights might damage the
delicate framework of international society. He also noted that relative silence on the
importance of human rights had produced a strong counterreaction, and that states in the
twentieth century had come under increasing pressure to ensure their protection (Bull 1984a).

In fact, two very different tendencies have appeared in the English School in recent years.
Dunne and Wheeler (1999) argued in the late 1990s that the end of bipolarity made it possible
that states could agree on how to introduce new principles of humanitarian intervention into
the society of states. They added that the aspiring µgood international citizen¶ should be
prepared to intervene in societies where there was a µsupreme humanitarian emergency¶ even
though their action was in breach of international law. This argument has been rejected by
Jackson (2000: 291ff.) who stresses, citing the example of Russia¶s long-standing affinity
with Serbia, the danger that humanitarian intervention might disturb order between the great
powers. Jackson (2000) argues that the greatest violations of human rights take place in times
of war, and so preserving constraints on violence between states should have priority over the
use of force to safeguard human rights, whenever it is necessary to choose between them.

Analysis

In 00 <
(  =>=>*=>·>, E. H. Carr (1939/1945/1946: 12) argued that
international theory should avoid the µsterility¶ of realism and the µnaivety¶ of idealism. The
English School can claim to have passed this test of a good international theory. They have
analysed elements of society and civility which have been of little interest to realists.
Although they have been principally concerned with understanding international order, they
have also considered the prospects for global justice and some have made the moral case for
creating a more just world order. Members of the English School are not convinced by
utopian or revolutionist arguments which maintain that states can settle their most basic
differences about morality and justice. The idea that the English School is the "
between realism and revolutionism rests on such considerations.

The English School argues that international society is a precarious achievement but the only
context within which more radical developments can take place. Advances in the global
protection of human rights, they argue, will not occur in the absence of international order. It
is to be expected that there will always be two sides to the English School: the side that is
quick to detect threats to international society and the side that identifies ways in which that
society might become more responsive to the needs of individuals and their various
associations.



 
Devania Annesya

070810535

devania.annesya@gmail.com

Postmodernism remains among the most controversial of theories in the humanities and
social sciences. It has regularly been accused of moral and political delinquency. Indeed, after
the terrorist attacks of September 11, some commentators went so far as to blame
postmodernism. In a time when moral certitude appeared to be necessary, postmodernism
was charged with a dangerous tendency towards moral equivocation or even sympathy
towards terrorism. Moreover, as James Der Derian (2002: 15) has provocatively argued,
despite everything that differentiates America¶s president, George W. Bush, from the terrorist
leader behind the attacks, Osama bin Laden, they are united in their moral and
epistemological certitude. It is precisely this conviction that their moral and epistemological
claims are beyond question that postmodernism challenges.

The meaning of postmodernism is in dispute not just between proponents and critics, but also
among proponents. Indeed, many theorists associated with postmodernism never use the term,
sometimes preferring the term µpost-structuralism¶, sometimes µdeconstruction¶, sometimes
rejecting any attempt at labelling altogether.

) c )#

Rather than treat the production of knowledge as simply a cognitive matter, postmodernism
treats it as a normative and political matter (Shapiro 1999: 1). According to Foucault, there is
a general consistency, which cannot be reduced to an identity, between modes of
interpretation and operations of power. Power and knowledge are mutually supportive; they
directly imply one another (Foucault 1977: 27). The task therefore is to see how operations of
power fit with the wider social and political matrices of the modern world. For example, in
      (1977), Foucault investigates the possibility that the evolution of the
penal system is intimately connected to the human sciences. His argument is that a µsingle
process of ³epistemologico-juridical´ formation¶ underlies the history of the prison on the
one hand, and the human sciences on the other (1997: 23). In other words, the prison is
consistent with modern society and modern modes of apprehending µman¶s¶ world.

One of the important insights of postmodernism, with its focus on the power±knowledge
nexus and its genealogical approach, is that many of the problems and issues studied in
International Relations are not just matters of epistemology and ontology, but of and
; they are struggles to impose authoritative interpretations of international relations.
As Derrida (2003: 105) himself says in an interview conducted after September 11: µWe must
also recognize here the strategies and relations of power. The dominant power is the one that
manages to impose and, thus, to legitimate, indeed to legalize « on a national or world stage,
the terminology and thus the interpretation that best suits it in a given situation¶. The
following section outlines a strategy which is concerned with destabilizing dominant
interpretations by showing how every interpretation systematically depends on that for which
it cannot account.

It is important to grasp the notion of genealogy, as it has become crucial to many postmodern
perspectives in International Relations. Genealogy is, put simply, a style of historical thought
which exposes and registers the significance of power±knowledge relations. It is perhaps best
known through Nietzsche¶s radical assault on the concept of origins. As Roland Bleiker
(2000: 25) explains, genealogies µfocus on the process by which we have constructed origins
and given meaning to particular representations of the past, representations that continuously
guide our daily lives and set clear limits to political and social options¶. It is a form of history
which historicizes those things which are thought to be beyond history, including those things
or thoughts which have been buried, covered, or excluded from view in the writing and
making of history.

0!+#!!
Der Derian (1989: 6) contends that postmodernism is concerned with exposing the µtextual
interplay behind power politics¶. It might be better to say it is concerned with exposing the
textual interplay  power politics, for the effects of textuality do not remain behind
politics, but are intrinsic to them. Textuality is a common postmodern theme. It stems mainly
from Derrida¶s redefinition of µtext¶ in „8(1974). µTextual interplay¶ refers to
the supplementary and mutually constitutive relationship between different interpretations in
the representation and constitution of the world. In order to tease out the textual interplay,
postmodernism deploys the strategies of     and   .

Deconstruction is a general mode of radically unsettling what are taken to be stable concepts
and conceptual oppositions. Its main point is to demonstrate the effects and costs produced by
the settled concepts and oppositions, to disclose the parasitical relationship between opposed
terms and to attempt a displacement of them. To summarize, deconstruction is concerned
with both the constitution and deconstitution of any totality, whether a text, theory, discourse,
structure, edifice, assemblage, or institution.

As expressed by Derrida (1981: 6), double reading is essentially a duplicitous strategy which
is µsimultaneously faithful and violent¶. The first reading is a commentary or repetition of the
dominant interpretation ± that is, a reading which demonstrates how a text, discourse or
institution achieves the stability-effect. The point here is to demonstrate how the text,
discourse, or institution appears coherent and consistent with itself. the second, counter-
memorializing reading unsettles it by applying pressure to those points of instability within a
text, discourse, or institution. It exposes the internal tensions and how they are (incompletely)
covered over or expelled.

Analysis

Postmodernism makes several contributions to the study of international relations. First,


through its genealogical method it seeks to expose the intimate connection between claims to
knowledge and claims to political power and authority. Secondly, through the textual strategy
of deconstruction it seeks to problematize all claims to epistemological and political
totalization. This holds especially significant implications for the sovereign state. Most
notably, it means that the sovereign state, as the primary mode of subjectivity in international
relations, must be examined closely to expose its practices of capture and exclusion.
Moreover, a more comprehensive account of contemporary world politics must also include
an analysis of those transversal actors and movements that operate outside and across state
boundaries. Thirdly, postmodernism seeks to rethink the concept of the political without
invoking assumptions of sovereignty and reterritorialization. By challenging the idea that the
character and location of the political must be determined by the sovereign state,
postmodernism seeks to broaden the political imagination and the range of political
possibilities for transforming international relations. These contributions seems more
important than ever after the events of September 11.