Anda di halaman 1dari 3

ANALISA TEMPERATUR TINGGI PADA PIPA PEMBAKAR UNTUK

PENGUMPANAN GAS ALAM

Krisis energy meningkatkan hargaminyak karena pertumbuhan biaya produksi khususnya


pabrik yang memiliki kegiatan produksi yang tinggi. Oleh karena itu dipilihlah gas alam sebagai
bahan bakar alternative yang relative lebih murah.

Kegagalan yang dibahas dalam jurnal ini yaitu tentang kegagalan pada pipa dan nosel
yang digunakan sebagai pengumpan gas alam. Pipa ini terbuat dari baja stainless tahan panas
AISI 310 yang merupakan sebuah baja austenitic. Baja ini memiliki ketahanan korosi dan panas
yang baik. Kromium yang tinggi dan kandungan nikel pada material ini memberikan ketahanan
karburasi dan korosi gas panas.

Keadaan awal pipa baja ini adalah :

1. Memiliki diameter luar 34 mm


2. Memiliki ketebalan 3.5 mm
3. Memiliki panjang 1 m
4. Kandungan gas alam mengandung CH4 (75%), CO2 (13%), dan mengandung beberapa
hidrokarbon yang melalui pipa dengan tekanan 100 mbar diatas tekanan atmosfer.
5. Temperatur awal di dalam pipa antara 313-323 K
6. Design pipa baja ini hanya mampu menahan suhu sebesar 1173 K

Dari keadaan awal diatas kita bisa tahu apa saja yang mengalami kegagalan dan
disebabkan oleh apa. Untuk menginvestigasinya kita menggunakan 5 pengujianya itu secara
visual, analisa komposisi kimia, mikro analisis menggunakan SEM dan EDS, cross-sectional dan
mikrostruktural analisis, dan pengukuran mikro hardness.

A. Visual Examination

Selama investigasi material selama beroperasi memiliki warna jingga kekuningan dan itu
menandakan bahwa pipa digunakan lebih dari batas normalnya (1173 K). Setelah mengeluarkan
pipa dari furnace chamber suhu pada permukaan sekitar 1323-1373 K, dan dengan menggunakan
infrared pyrometer suhu di dalam kamar menunjukkan 2003 K. Terjadi degradasi pada pipa yang
menunjukkan bahwa pipa bekerja pada lingkungan karburasi. Terdapat kerak yang memiliki
ketebalan 0,4-0,5 mm. Ketebalan pada pipa yang gagal diukur kembali dan hasilnya ketebalan
berkurang sebesar 3,5-2,8 m.

B. Chemical Composition Analysis


Dengan menggunakan spark emission spectrometer didapatkan hasil pipa baja yang akan
digunakan dengan standar AISI 310 pada table 1. Mengidentifikasi spalling scale, XRD dengan
Cu Kα sebagai sumber radiasi.Terlihat pada scale mengandung chromium oxide dan chromium-
iron carbide.

C. Microanalysis using SEM and EDS


Morfologi dari spalling scale diteliti pada bagian scale/ base material (bagian scale yang
menyentuh langsung material dasar) dan scale/ gas (bagian scale yang terkena langsung gas alam
dengan SEM. Pada scale/ base material terlihat matrix pori hitam bersamaan dengan berbagai
macam endapan senyawa (white deposits) gambar 4a. Analisa EDS pada matrix pori hitam
mengandung karbon yang tinggi, dan pada white deposit mengandung chromium yang tinggi dan
sedikit karbon dan oksigen sehingga timbul senyawa baru yaitu chromium oxide dan chromium
carbide.
Morfologi pada scale/ gas terlihat coke deposition atau pengendapan karbon. EDA
menunjukan campuran karbon tinggi dan sedikit oksigen yang memunculkan terjadinya kokas/
coke. Perpindahan partikel karbon (coke) mengindikasikan bahwa material bekerja pada
pengurangan suhu lingkungan yang terlalu tinggi. Hadirnya pori pada spalling scale
mengindikasikan ketidak mampuan campuran logam untuk membentuk continuous protective
layer (lapisan pelindung alami yang dimiliki stainless steel). Sehingga karbon masuk sampai
kebagian dalam dari material pipa yang digunakan.

D. Cross-sectional dan Microstructural Analysis


Pipa yang gagal dibagi menjadi 3 bagian yaitu : ujung pipa, bagian tengah pipa, dan bagian
yang tidak rusak dibandingkan dengan pipa yang tidak digunakan sebagai contoh referensi.
Cross-sectional analysis pada bagian luar dinding menunjukan pengerasan logam dan
pembentukan senyawa baru pada batas butir begitu juga pada butir. Batas butir yang teroksidasi
ditemukan pada bagian luar pipa yang gagal. Microstructual analysis pada semi-thickness pipa
menunjukan ukuran butir yang lebih kecil dibandingkan pada permukaan bagian luar dan jumlah
besar pembentukan senyawa baru pada batas butir semakin besar begitu juga didalam butir.
Investigasi bagian dalam pipa yang terkena langsung gas menunjukkan sangat banyak
pembentukan senyawa baru di batas butir maupun di butir. Dan ini berarti degradasi pada bagian
permukaan dalam pipa lebih banyak dibanding bagian yang lainnya. Terjadi lapisan yang
terdegradasi dan penumpukan material. Diperbesar dengan SEM terjadi segresi pada carbon.
Karbida tersebut terdiri dari iron-rich matrix yang mengandung konsentrasi Cr yang kecil
sekitar 12,38wt%. Pembentukan senyawa dari chromium-rich phase menyebabkan penipisan
chromium.
Mikrostruktural pada bagian tengah dan area tidak gagal menunjukkan sedikit degradasi
dibandingkan bagian ujung pipa. Mikrostruktural pipa yang tidak digunakan menunjukkan
struktur austenitic yang merupakan cirri dari AISI 310 stainless stell. Pembentukan karbida tidak
terjadi di batas butir maupun di butirnya. Dari mikrostruktural analisis menunjukan bahwa
temperature tinggi pada lingkungan berkarbon sangat berpengaruh pada terjadinya pembentukan
senyawa baru pada internal carbides.
E. Microhardness Measurements
Pengujan kekerasan salah satu teknik yang digunakan untuk menggambarkan kebiasaan
karburisasi, dilakukan beberapa pengukuran di berbagai macam lokasi sepanjang cross-section
dari pipa burner yang diteliti. Kekerasan pada bagian permukaan dalam yang lapisannya
terdegradasi ditemukan lebih besar dibandingkan dengan bagian tengah dan bagian luar
permukaan pipa burner. Tingginya nilai kekerasan dari area yang terdegradasi menunjukkan
bahwa tingginya pembentuka nsenyawa karbida pada batas butir austenite dan bagian dalam
butir yang berasal dari karbon pada lingkungan carburizing.

KESIMPULAN
AISI 310 stainless
pipabajagagalkarenakarburisasidanlogamdebupadapermukaanbagiandalamkarenasuhukerjameleb
ihibatasdesainsekitar 1173 K di lingkunganberkarbon.Hal inimengakibatkanperpanjangan area
spalasi,percepatanoksidasidankarburisasidaripipa burner, yang
secarasignifikanmengurangiumurmaterial.Suhu burner dalamoksidasi /
karburasilingkungancampurandianjurkanuntukberada di bawah 1173 K
dalamrangkauntukmelindungipembentukanlapisanoksidaprotektifterusmenerus.Jikahalinitidakda
patdicapai, dibutuhkankelas material logamcampuran yang lebihtinggiuntukmenahanpanas.